Kisah Kol Yang Tidak Membulat.

Standard

image

Dalam setahun terakhir ini saya sudah berhasil menanam berbagai macam sayuran kebutuhan dapur seperti tomat, cabe, sawi hijau, pakchoi, timun, dan sebagainya di halaman rumah saya yang sempit. Lumayan.

Tapi ada juga sayuran yang belum pernah saya coba tanam di Jakarta sebelumnya. Yaitu kol. Karena setahu saya agar tumbuh optimal kol butuh temperatur yang dingin. Sedang Jakarta kita tahu lah ya, temperaturnya lumayan tinggi karena berada di dataran rendah dekat laut. Jadi pertumbuhan sayuran daerah dingin mungkin tak akan optimal di Jakarta.

Tapi tak apa apalah, saya tetap ingin coba.

image

Sayapun membeli bibit kol di toko Trubus. Nah… dapat nih. Cabbage. Brassica oleracea capitata.  Offenham 2. For spring greens or hearted cabbages. Dari Mr. Fothergill’s.

Sampai di rumah, mulai dong saya menyemai ya. Saya tebarkan biji biji kol ini dalam pot semai kecil. Seminggu kemudian ia tumbuh. Dan seminggunya kemudian lagi saya pindahkan ke polybag. Saya tidak menanamnya di instalasi hydroponik karena saya pikir yang namanya kol pasti nantinya akan membulat dan berat. Bisa limbung dan menggelundung jika saya paksakan di tanam di sana.

Tanaman kol ini bertumbuh dengan baik. Saya melihatnya setiap pagi. Daunnya yang tadinya cuma 4 lembar bertambah satu per satu. Mulai banyak dan membesar. Hijau royo royo. Tapi masalah saya cuma satu…

Setelah sebulan dua bulan berjalan, mengapa kol ini tidak membulat? Batangnya meninggi tapi tetap tidak mau membulat. Walaupun bentuknya indah seperti bunga besar berwarna hijau. Menggiurkan juga.

Akhirnya karena saya pikir kol ini tidak akan membulat dan saya sudah gagal, akhirnya di akhir bulan ke dua, satu per satu sayuran itu saya panen untuk ditumis, dilalap atau sekedar dicampur dengan mie goreng.

image

Belakangan saya baru ingat untuk mencari informasi mengenai “mengapa kol saya tidak membulat?”. Saya baru ngeh jika ternyata tanaman kol sebaiknya dipanen pada umur 4-5 bulan. Bukan umur 1-2 bulan. Hadeeehhhh!!. Kolnya sudah kepalang dipanen dan dimasak semua deh…

Jadi,  sebenarnya kol itu tidak membentuk bulatan/crops belum tentu karena ia tidak membentuk, tapi karena belum membentuk. Bisa jadi jika saya tunggu dulu dan tidak tergesa-gesa dipanen kol itu ada peluang untuk membentuk bulatan.
Dan kalau begitu, sebenarnya saya gagal karena saya pikir saya gagal. Bukan karena saya benar-benar gagal.

Nah itulah bahayanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang hal seperti itu terjadi juga pada diri kita.  Terkadang kita menyangka diri gagal. Pikiran mengatakan kita gagal, lalu seluruh anggota tubuh dan perasaan kita ikut mengkonfirmasi kegagalan itu. Rasa putus asa datang. Kita merasa tidak ada gunanya lagi meneruskan upaya yang telah kita lakukan sebelumnya. Karena toh gagal juga. Lalu kita berhenti berusaha. Dan mulai mempreteli satu per satu element element pendukungnya hingga rusak dan akhirnya memang benar benar  gagal.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pertama karena kita tidak cukup sabar mengikuti proses yang terjadi. Kita ingin instant sukses. Padahal kita tahu semua butuh proses. Tidak ada shortcut for succes.

Kedua, kita tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang hal yang sedang kita lakukan. Kita pikir apa yang kita lakukan sudah cukup, namun ternyata di luar itu masih ada hal-hal penting lain yang juga harus dilakukan.

Ketika kita menyangka semuanya telah berakhir dan gagal, ternyata ada jalan kesuksesan yang tak terlihat oleh kita, hanya karena kita kurang sabar dan kurang membekali diri dengan pemahaman yang memadai.

5 responses »

  1. Pengalaman memang mahal ya n jadi guru yg paling berharga. Makanya orang2 tua itu mayoritas bijak cos sudah makan asam garam. Orang muda boleh pintar, tapi orng tua menang bijak. Keduanya kalau digabung mjd kekuatan yg hebat. Seperti Ind, kemerdekaan yg diraih karena kerjasama antara yg muda (pinter n semangat) dg yg tua (bijak dan tidak tergesa2 bertindak)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s