Dapur Hidup: Mengenal Si Penambang Daun.

Standard

Salah satu keuntungan dari kegiatan Dapur Hidup yang saya tekuni setahun terakhir ini adalah mendapatkan banyak pelajaran dan pengetahuan baru. Berhubung saya tidak memiliki latar belakang pendidikan Pertanian, pengetahuan tentang tanam menanam saya dapatkan satu persatu dengan cara “learning by doing” plus membaca buku serta memanfaatkan internet. Salah satu pengetahuan baru yang ingin saya share kali ini adalah tentang si Penambang Daun. 

Penambang Daun!. Kedengarannya aneh ya? . Ya memang. Karena saya menterjemahkannya langsung dari bahasa Inggris “Leaf Miners”. Saya tidak tahu apa nama hama tanaman yang menyerang daun ini dalam Bahasa Indonesianya, jadi saya terjemahkan saja menjadi Penambang Daun. 

​Sebenarnya sudah cukup lama saya melihat kejadian ini pada daun daun tanaman sayuran saya. Saya melihat ada jejak putih kadang lurus, kadang melingkar bahkan zigzag di daun cai sim yang saya tanam di polybag. Awalnya saya pikir itu jejak keong kecil yang kadang suka terlihat di tanah dekat tanaman. Tapi kenapa daunnya tidak bolong bolong ya? Jika ada keong yang melintas di sana, tentu sekalian ia nenggerogoti daun daun sayuran itu. Tapi ini tidak.

​Berikutnya saya lihat lagi jejak spiral di daun tomat. Lalu di daun kangkung.Saya mulai berpikir, apa jangan jangan itu bekas pupuk yang saya kasih ya. Saya tidak terlalu memikirkannya lagi. Hanya memotong daun yang terkena dan membuangnya. Tidak seberapa. Paling 1-max 2 lembar daun. Itupun jarang. 
​Sampai kemudian minggu yang lalu, saya menemukan jejak serupa pada daun benih Kailan yang saya tanam dengan system hydroponik. Nah… ini penyebabnta apa ya? Yang jelas bukan jejak keong karena tidak ada keong di situ. Dan juga bukan bekas pupuk. Wong benihnya masih kecil belum saya kasih pupuk sama sekali. Akhirnya saya penasaran dong, bongkar bongkar buku dan cari bantuan internet. 

Nah sekarang saya tahu. Rupanya jejak di daun tomat ini ditinggalkan oleh larva sejenis lalat (Liriomyza sativae). Larva ini menggali terowongan di dalam daun yang dari luar terlihat seperti jejak berkelok kelok. 

Apakah penyakit ini berbahaya? Saya lihat jawababnya di buku sih tidak. Tetapi jika banyak tentu saja akan membuat tanaman jadi kelihatan kurang cantik.  Selama ini apa yang saya lakukan dengan memetiki daun yang terinfestasi sudahlah benar. Karena jumlahnya sedikit. 

Nah bagaimana jika serangannya banyak? Dan kita tak punya waktu untuk memetikinya satu per satu?. Disarankan untuk menyemprot dengan pestisida alami daun Nem atau bisa juga dengan memanfaatkan serangga tertentu yang suka memangsa larva. Wah… mudah-mudahan serangannya tidak sering terjadi dan tidak banyak. 

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s