Aduuuh! Saya Kejeblos.

Standard

​​Malam hari sepulang dari kantor saya diantar suami pergi ke apotik di depan perumahan untuk membeli obat demam.Anak saya juga mau ikut. Kami parkir di tepi jalan dekat gerbang perumahan dan bukan di halaman apotik. Karena menurut suami saya, nanti ribet lagi kalau harus muter kendaraan masuk ke perumahan. Mendingan parkir saja di sini dan saya disuruh jalan kaki saja sedikit ke apotik. Toh hujan juga sudah reda. Ya sih. Suami saya ada benarnya juga. Jadi saya patuhlah ya  sama apa kata suami dan lalu segera membuka pintu kendaraan. 

Begitu turun,  saya melihat ternyata ada genangan lumpur di depan saya. Bekas galian kabel listrik PLN. Waduuh… panjang juga ya. Rasanya sulit deh lewat sini untuk beejalanke depan.   Saya bermaksud melompat, tapi takut terpeleset karena licin bekas hujan selain lubangnya cukup panjang juga. Pilihannya ya muter lewat belakang kendaraan. Tapi rasanya kok males ya berkeliling. 

Saya berbalik melihat lubang galian itu sejenak sambil mikir-mikir barangkali  saya bisa melompat saja agar lebih cepat sampai di apotik ketimbang harus muter ke belakang.

Dalam kegelapan malam saya melihat samar-samar ada bagian yang padat di tengah lubang itu yg dikelilingi genangan air dan lumpur. Saya pikir mungkin itu batu, dan jika saya coba meloncat dengan menginjakkan satu kaki saya pada benda padat itu, mungkin saja saya bisa lewat di sana dengan cukup mudah.  Lalu sayapun berjingkat. Hap!. JEBBBB! Aduuuh! Saya kejeblos!.Kaki kiri saya masuk jauh ke dalam lumpur. 

Tak terkira kagetnya. Kejeblos hampir selutut dalamnya.Tak saya sangka. Aduuh. Dan lebih apesnya lagi, saya tak mampu menarik kaki saya dengan mudah dari lumpur itu. Timbunan lumpur di atas kaki saya terasa sangat berat dan lengket. Saya mencoba menarik kaki saya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Berkali kali. Tidak berhasil. 

Anak saya berusaha nembantu menarik tangan saya. Tapi masalah saya bukan di tangan. Tapi di kaki. Kemudian saya sadari kalau saya sulit mengangkat kaki saya karena saya berusaha mengangkat kaki beserta sandal jepit yang saya pakai. Jadi yang susah ditarik itu rupanya si sandal jepit. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menarik kaki saya dan meninggalkan sebelah sandal jepit itu terkubur di dalam lubang galian itu.  Nah!Ternyata memang lebih mudah. Sekarang kaki kiri saya bisa keluar.Tapi tentu saja penuh lumpur hingga ke lutut. 

Esok paginya saya berangkat ke kantor dan melihat jejak kaki saya di dalam lumpur. Ha ha…lucu juga cetakannta. Saya geli atas kebodohan saya sendiri.Apa yang saya pikir batu itu ternyata hanya gundukan tanah gembur, yang akan sangat lembek saat digenangi air hujan. Menjadikannya sebagai tumpuan kaki tentu saja bukan ide yang baik. Tapi itulah yang telah terjadi. 

Saya bertumpu pada benda yang salah. Saya tak mampu melihat perbedaan batu yang memang asli padat dengan tanah yang terlihat padat. Semua terjadi karena saya memaksakan diri untuk melihat dalam kegelapan dan sebenarnya saya tidak sungguh-sungguh memastikan bahwa itu memang batu sebelum saya meloncat.

Lalu saya mencoba untuk bangkit dan menarik kaki saya yang kejeblos (masih untung saya punya semangat). Berusaha menarik kaki beserta sandalnya sekaligus, tanpa berpikir sandal jepit itu justru menjadi beban tambahan yang menyulitkan bagi kaki saya untuk  bergerak naik. 

Hmmm…..sound familiar ya? 

Memang demikianlah adanya perkara kejeblos itu. Kejeblos apapun juga dan di manapun juga. Mau kejeblos dalam lumpur, kejeblos urusan keuangan, kejeblos urusan karir hingga kejeblos urusan asmara dan sebagainya. Urusannya sama saja. Penyebabnya pasti tidak jauh dari hal-hal ini :  Kurang Hati-Hati, Mengikuti Emosi, Kurang Perhitungan, Kurang Waspada, Mata Gelap. 

Lalu jika kita ingin bangkit kembali dari keterpurukan, masalah yang membuat beban berat bagi kita untuk bangkit lagi juga biasanya adalah hal-hal kecil yang sesungguhnya tidak super penting amat untuk dipertahankan. Mungkin sebaiknya kita cut, buang dan ikhlaskan saja, agar tidak mengganduli langkah kita ke depan yang lebih baik. 

4 responses »

  1. Cerita ringkas dengan pengajaran yang teramat dalam. Iya kita sering kejeblos karena kurang hati-hati, tidak begitu yakin tapi harus memutuskan. Dan kalau kalau tahu bahwa kita telah berbuat kesehatan untuk memperbaikinya kita pun masih kurang sadar bahwa ada sesuatu yang menggayut di belakang Mengapa perbaikan sulit dilakukan. Sore yang indah untuk saya dengan pelajaran yang dalam ini mbak Dani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s