Laptopku Belahan Jiwaku.

Standard

Ini cerita tentang laptop saya. Milik kantor maksudnya. Umurnya sudah lebih  dari 5 tahun. Sudah usang dimakan usia dan compal-compel tampangnya. Beberapa bautnya sudah copot. Demikian juga penutup kabel di lipatannya. Tapi masih bagus fungsinya.Saya sangat sayang kepadanya.  

​Karena sudah tua, tahun yang lalu perusahaan membelikan saya laptop yang baru. Lalu saya ditanya oleh teman saya yang di IT,” Ibu, kapan mau diganti laptopnya? Barangnya sudah ada“. Mmmm… bukan saya tidak ingin laptop baru itu, tapi saat ini sedang terlalu banyak pekerjaan  yang urgent sehingga tidak punya waktu untuk memback up data dari laptop yang lama. Jikapun saya dibantu memback-up data tetap saja saya tak bisa menggunakannya minimal 1 hari. Jadi penukarannya saya tunda. 

Bulan berikutnya, saya ditanya lagi pertanyaan yang sama”Ibu, kapan mau ganti laptopnya?”. Ooh… sudah sebulan ya. Sungguh tak terasa. Tapi kali ini kebetulan saya juga sedang sangat sibuk. Jadi saya minta tunda ke bulan berikutnya. Demikian berkali-kali hingga berbulan-bulan lewat. Saya masih menggunakan laptop saya yang usang. 

Suatu hari, teman saya bertanya apakah boleh memberikan laptop baru yang belum saya ambil-ambil juga itu kepada rekan kerja saya yang lain? Kebetulan laptopnya rusak dan butuh laptop baru dengan spec yang serupa dengan saya. Teman saya itu berkata bahwa laptop penggantinya akan segera dibelikan dan diserahkan kepada saya. Ya saya setuju. 

Ketika laptop baru penggantinya datang, saya ditanya lagi kapan akan menukar laptop saya yang usang dengan yang baru. Sungguh apes, saat ditanya lagi-lagi saya sedang sangat sibuk waktu itu dan benar benar tidak sempat. Jadi saya meminta waktu lagi. Demikianlah sampai teman saya bosan  dan berhenti bertanya. 

Suatu kali ketika saya mengikuti sebuah meeting regional di Malaysia. Duduk di sebelah saya seorang teman yang dulunya pernah bertugas di Indonesia. Jadi ia sudah hapal betul perkara laptop tua saya itu. “Hi, you really love your notebook“, komentarnya neligat komputer saya yang semakin compang camping.  Saya cuma nyengir.Tapi boss saya yang duduk di sisi kanan saya rupanya ikut mendengar. Lalu melirik laptop saya dan berkata”Bukannya sudah ada yang baru?” *rada sensitive, soalnya menyangkut harga diri unit kerja.he he. Ya. Saya pikir setelah balik ke Indo laptopnya akan segera saya ganti dengan yang baru agar tidak malu-maluin.

Setelah pulang, saya lupa lagi dengan urusan menukar laptop ini. Bahkan hingga quarter berikutnya saya harus datang lagi ke meeting regional di negara yang sama, laptop tua saya itu belum juga tergantikan. 

Hingga beberapa minggu yang lalu. Sebuah email masuk menanyakan kapan saya akan menukar laptop. Saya menjanjikan sebuah tanggal tapi ternyata kemudian saya tidak bisa lagi karena persis di tanggal itu, laptop tua itu harus saya bawa dan perlukan untuk urusan pekerjaan di Taiwan. 

Pagi ini saya akan berangkat ke kantor. Semua keperluan sudah masuk ke dalam tas dan saya tinggal berangkat. Tiba tiba mendapat kenyataan kalau pak supir yang biasa mengantar saya kerja tidak datang. Padahal saya ada meeting super penting hari ini. 

Suami saya setuju akan mengantarkan saya ke kantor, tetapi saya harus menunggu sebentar karena ia sedang dalam perjalanan mengantar anak saya ke sekolah. Sementara menunggu, saya membuka laptop untuk membaca-baca materi yang akan dipresentasikan oleh team saya hari ini. Beberapa belas menit kemudian, suami saya datang. Saya bergegas nenutup laptop, memakai sepatu dan berlari menenteng tas saya langsung masuk kendaraan. 

Perjalanan ke kantor memakan waktu kurang lebih 45 menit. Tapi pagi ini sangat macet.Jadi saya nikmati saja sambil ngobrol dengan suami.Tibalah kami di kantor. Saya mengangkat tas saya. Heran. Kok tumben ringan sekali ya?. Sayapun curiga…  Astaga!!!. Komputer saya ketinggalan di rumah. Saya panik. Suami saya menegur keteledoran saya dan mengatakan tidak punya waktu lagi untuk mengambilkan dan mengantarkan laptop saya karena iapun sudah terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya sendiri. Saya sangat mengerti dan melangkah masuk ke kantor dengan lunglai.

Dalam keadaan begitu, saya berpikir akan meminjam laptop cadangan dari IT dan meminta copy semua bahan presentasi hari itu kepada team saya. Teman saya yang di IT mendengarkan cerita saya dan berkata “Ibu pakai saja laptop baru yang memang sudah dibelikan untuk ibu sejak lama“. 

​Ha!. Karena keadaan memaksa,  akhirnya saya terpaksa menggunakan laptop baru yang sudah nangkring berbulan -bulan lamanya di sana.  

Sekarang saya tak punya pilihan, harus mengganti laptop saya yang sudah renta dan compang camping itu dengan yang muda, segar dan lebih kinclong. Tentu saja saya sangat berterimakasih padanya, yang telah merekam perjalanan aktifitas pekerjaan dan pemikiran saya selama lebih dari 5 tahun terakhir ini. 

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Walaupun kita terlalu malas untuk mengikuti perubahan, rupanya selalu ada mekanisme alam yang mendorong kita terpaksa melakukan pembaharuan. 

11 responses »

  1. Saya juga baru-baru ini mengganti laptop saya yang sudah berusia 4 tahun bun.
    Banyak kenangan juga sih menggunakan laptop yang lama, karena sudah menemani saya selama kuliah S1… 😂

  2. Kadang, yang membuat saya berat berubah itu karena malas keluar dari zona nyaman, malas adaptasi.

    Semoga gampang adaptasi dengan laptop barunya Bunda, dan semoga laptopnya makin melancarkan kerjaan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s