Monthly Archives: September 2016

Menyimak GEISHA. Kumpulan Puisi Ersa Sasmita. 

Standard

​Suatu kali mata saya tertumbuk pada sebuah prosa kecil di timelinenya Pak Ersa Sasmita di Facebook. Judulnya “Lukisan Yang Cemburu“. Entah kenapa saya tergelitik untuk menguntit kata demi kata, kalimat demi kalimat yang nenyusunnya hingga cerita berakhir. Semua dengan hati dag dig dug, antara rasa takut dan ingin tahu. Akhirnya berakhir dengan satu desahan kagum akan kepiawaian Pak Ersa merangkai kalimat dan mempermainkan emosi pembacanya. 
Kali berikutnya, saya mengintip lagi sebuah tulisannya yang lain. Kali ini berjudul “Sepasang KunangKunang Mati Di Matanya“. Melalui perjalanan emosi yang berbeda, namun berujung sama yakni ‘decak kekaguman akan kepiawaian Pak Ersa merangkai kalimat dan menorehkan cerita’. Plus kali ini saya salut, bagaimana perjalanan hubungan dari sepasang kekasih Ray-Liana  bisa terangkum hanya dengan menggunakan satu setting saja, yakni di Stasiun Kereta. 

Gara-gara membaca dua prosa itu, membuat saya penasaran akan karya-karya Ersa Sasmita yang lain. Maka berupayalah saya agar bisa membaca buku “GEISHA”kumpulan puisi dari Pak Ersa Sasmita. Sepemahaman saya, buku ini belum lama diterbitkan. Dan saya mendapatkannya melalui pemesanan online.

Nah minggu yang lalu buku ini datang. Dan membuat saya begadang saking penasarannya. Lalu apa komentar saya? 

Terus terang kata pertama yang bisa saya tuliskan adalah “Terkejut”.  Sungguh. Saya sangat terkejut dengan apa yang saya temukan di dalamnya. Di luar dugaan saya. 

Biarlah saya bercerita sedikit di sini…

Buku ini mengandung 95 buah puisi yang terbagi dalam 3 kantung penuh. 

Kantung pertama diberi judul ‘Nyanyian Kehidupan‘. Jika saya perhatikan, puisi-puisi di dalam kantung pertama ini memang bercerita tentang kehidupan, tetapi lebih fokusnya lagi tentang kehidupan tokoh perempuan yang tercetak dalam catatan sejarah maupun dalam cerita-cerita yang mengalir di masyarakat dunia. Dimulai dengan Wang Qiang, Xi Shi, lalu ada Geisha, Al Khayzuran Binti Atta, Malahayati, Inggit, Banowati, Arimbi, Dedes dan masih banyak lagi. Semuanya ada 22 buah puisi. 

Membaca puisi-puisi ini bagi saya jadi seperti membaca sejarah. Terus terang, tidak semua tokoh yang disebutkan di sini saya ketahui. Ada beberapa (bahkan cukup banyak) yang saya tidak tahu sebelumnya:  sama sekali tidak tahu, belum pernah membaca kisahnya atau pernah dengar tetapi tidak tahu ceritanya. Sangat jelas tertangkap di sini, jika pengarangnya memberikan tambahan pengetahuan tentang tokoh yang dimaksud kepada pembacanya melalui puisi. 

Hmmm… dimana ya saya menemukan  approach dengan content penulisan puisi serupa ini?  Tidak umum dalam puisi-puisi modern. Apa dalam kesusatraan kuno ya? Atau justru dalam modern Science poetry?  Rasa kenal, tapi sulit buat saya nge’recall’. Yang jelas, setelah membaca puisi ini saya merasa sedikit lebih ‘pandai’ dari sebelumnya. Yang tentunya itu tidak terjadi saat saya membaca puisi-puisi lain. 

Hal lain yang unik dari puisi-puisi di kantong pertama ini adalah gaya penuturannya. Aneh dan nyeleneh buat sebuah puisi. 

 Jangan berharap menemukan kata-kata atau kalimat berbunga-bunga yang melambungkan rasa ini ke alam mimpi. Atau kalimat heroik patriotik seperti yang umum kita temukan dalam puisi.   Tidak ada. Saya sendiri terkecoh. Karena gaya bahasa yang dipakai di sini sangat naratif, simple dan mudah. Mirip orang ngobrol. Walaupun masih tetap mengindahkan rhyme dan kepadatan content.

Puisi puisi di kantong pertama ini lahir semuanya di tahun 2016. Jadi masih ‘fresh from the oven’ ya. 

Berikutnya di kantung ke dua yang berjudul “Nyanyian Rimba” ada 16 buah puisi. Isinya tentang hewan semua – lah …memang judulnya Nyanyian Rimba kok. Ya tentang Gagak, Buaya, Srigala, Belalang dan lain sebagainya. 

Masih sama dengan yang di kantong pertama, puisi-puisi di kantung ke dua ini juga menggunakan content approach dan gaya penulisan naratif dan simple serta mudah dimengerti. Dan saya perhatikan kebanyakan diciptakan di tahun 2016. 

Begitu memasuki kantung ke 3 yang diberi tajuk “Nyanyian Cinta“, tiba-tiba saya merasakan suhu yang berbeda. Ibarat memasuki babak kehidupan yang lain, terasa bahwa suasana, warna, desahan nafasnya pun berbeda. 

Untaian kata -kata penuh kerinduan, kenangan dan harapan terjalin sangat indah yang sangat melambungkan imajinasi ke negeri impian. Duhai betapa indahnya. 

Ini puisi seperti dalam pengharapan saya akan karya -karya Pak Ersa. Jumlah puisi paling banyak ada di kantung ke 3 ini dan setelah saya perhatikan lahir dari tahun tahun 2013, 2014 dan 2015. Hanya sedikit yang lahir di tahun 2016. 

Namun beberapa saat setelah mengecap semua keindahan kata kata yang dituangkan oleh Pak Ersa dalam kantung ketiganya, seketika saya menyadari kerinduan untuk kembali membaca ulang  dan menghayati puisi puisi dari kantung yang pertama dan kedua. Begitu berbeda. Dan begitu tidak biasa.Sangat menarik perhatian saya seperti magnet. Disitulah kekuatan Pak Ersa sebagai sastrawan, membuat karya-karyanya berbeda dan tidak kebanyakan. 

Dan sekarang saya mengerti, laksana kehidupan, puisipun bergerak. Ia tumbuh dan dinamis agar bisa tetap hidup di hati penggemarnya. Ia harus terus berubah dan mencari bentuk baru. Dan karenanya, seseorang harus berani memulai. Memulai untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaannya dengan gaya penulisan dan pendekatan content yang berbeda. 

Salut Pak Ersa Sasmita!. 

“….. sebab mati memelukmu, puisi. Bagiku tetaplah indah.” 

=Ersa Sasmita 2014=

Spirit of Wipro Run 2016: Jakarta

Standard

​Musim berlari telah tiba. Musim bagi karyawan Wipro dan keluarga atau teman-temannya untuk ikut dalam event tahunan  Spirit of Wipro Run 2016  yang diadakan pada tanggal 25 September ini serentak di berbagai kota di seluruh dunia antara lain Bangalore, Ottawa, Bucharest, Istambul, Dubai, Pittsburgh, Adelaide, Singapore, Kuala lumpur dan sebagainya. Sementara di Indonesia sendiri Wipro Run diadakan di Jakarta dan Salatiga. Rasanya takjub juga nemikirkan itu. Bayangkan, ada sedemikian banyak orang berlari (karyawan Wipro plus keluarga dan teman-temannya), di sejumlah kota (saya hitung ada 110 kota) seperti yang diprint di bagian punggung  kaos di bawah ini, semuanya berlari  tanpa memandang suku bangsanya, agamanya, gendernya, pangkat dan jabatannya. Semuanya berlari bersama-sama pada tanggal yang sama. As one!.

​​Di Jakarta, acara Wipro Run diadakan di Taman Mini Indonesia Indah dengan mengambil anjungan Taman Budaya Tionghoa sebagai pangkalan berangkat dan garis finish. Lumayan 5 km. 

​Acara berlari dimulai dari pukul 7.00 pagi dibuka oleh Mr. Neeraj Khatri, President Director dari PT Unza Vitalis -salah satu perusahaan dari group Wipro yang ada di Indonesia. Saya tidak mendapatkan jumlah pasti pesertanya, tepi saya duga di Jakarta diikuti oleh sekitar 700 orang, dan di Salatiga sekitar 750 orang. 

​Di Jakarta, lari dilakukan dengan jarak 5 km. Ditempuh  dengan melalui 3 check point. Di setiap check point disediakan minuman dan gelang Wipro Run 2016 berbeda warna. Jadi agar bisa sah berlari kita harus melewati ke tiga check point itu dan mengumpulkan ketiga gelang dari setiap  Check point yang berbeda. 

​Sebagai salah seorang Wiproite (karyawan dari group perusahaan Wipro) bangga dong ya saya bisa ikut menjadi pesertanya dan berhasil mencapai garis finish * walaupun barangkali tiba dengan nomer terakhir.. ha ha. 

Tak apa… Dengan keterbatasan kondisi kaki yang saya miliki (bekas keseleo beberapa tahun lalu yang kambuh lagi dan kambuh lagi), memang awalnya membuat saya ragu untuk ikut. Tapi mengingat bahwa moment ini hanya datang setahun sekali maka saya putuskan untuk mencoba dulu lah. Saya pikir seandainya ada hal buruk terjadi pada kaki saya, nanti saya akan berhenti. Anak saya yang besar agak kurang setuju dengan apa yang saya rencanakan dengan menganggap saya agak ambisius menempuh jarak 5km dengan kondisi kaki seperti ini. Saya hanya tersenyum dan menunjuk tajuk dari Wipro Run tahun ini yang tertera di kaosnya “Powered by ambition”. Anak saya tertawa. Dia sudah hapal betul dengan kekerasan kepala ibunya. Ia pun seperti biasa akhirnya  menemani saya juga. Sementara anak saya yang kecil sudah melesat  lari di depan bersama papanya. Anak saya yang besar berlari (eh…kebanyakan berjalannya deh..) di sebelah saya sambil sesekali bertanya. “Mom, are you ok?”. Atau.. “Ayo Mam, istirahat sebentar. Don‘t push yourself!”. Saya pun mengikuti kata katanya. Jika terasa lelah dan kaki saya sakit, maka saya berhenti sejenak. Sambil melihat-lihat ke sekitar. Inilah untungnya mengadakan acara ini di Taman Mini Indonesia Indah. Sambil berlari atau berjalan, kita bisa melihat bagian depan anjungan-anjungan daerah di Indonesia. Mulai dari anjungan yang paling dekat dari garis start yaitu anjungan Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Jambi dan seterusnya anjungan-anjungan daerah lain seluruh Nusantara. Sungguh indah dan mengagumkan melihat arsitek dan lambang-lambang budayanya yang beraneka ragam itu. Rasanya ingin masuk ke setiap anjungan itu lagi (terakhir saya masuk ke semua anjungan-anjungan itu sekitar 33 tahun yang lalu. Setelah itu saya hanya pernah beberapa kali masuk ke anjungan Bali saja -karena kebetulan ada perlu. Dan satu dua dari anjungan daerah lain yang ada). Alangkah kayanya Indonesia. 

​Juga ada berbagai macam tempat ibadah dari agama-agama yang diakui di Indonesia. “Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma Mangeruwa”. 

Check point demi check point saya lalui. Tentu dengan kelelahan dan kehausan.  Serta rasa panas dan sakit yang terasa neningkat di dekat pergelangan kaki kiri. 4 km lagi jarak yang harus saya tempuh. Kemudian 3 km lagi. Dua kilo meter lagi. Semakin dekat. 

​Seorang petugas  yang rupanya melihat saya sangat kelelahan, menawarkan apakah saya masih sanggup berjalan melalui jalur yang seharusnya atau menyerah. Karena di sana ada jalan pintas menuju Taman Budaya Tionghoa.

Saya pikir tinggal 1.5 km lagi. Saya tidak mau menyerah di titik ini. Tanggung!. Walau kaki semakin sakit, tapi saya harus makin semangat. Akhirnya tibalah saya di check point 3. Menerima gelang merah. Dan setelah itu….tiba di titik 1 km lagi.

Bukti saya melewati check point 3 dan 1 km to go.

​Selfie dulu ah… Siapa tahu ada yang mempertanyakan. Benarkah saya bisa sampai di titik ini..ha ha.  

Saya berjalan pelan-pelan. Kali ini kaki saya rasanya sudah mau copot. Tak terperikan sakitnya di bagian yang pernah keseleo dulu itu. Anak saya sangat mengkhawatirkan saya, tapi ia terus mendukung saya. Ia tertawa bagaimana saya berkeras dengan ambisi saya agar bisa mencapai garis finish di jalur yang benar dan tanpa bantuan. 

Anak saya yang besar yang selalu mendukung dan nendampingi saya “berlari”.Big thanks, son!.

​Beberapa saat kemudian sayapun mencapai garis FINISH. Horee!. 

Setiba di sana. Rupanya pengumuman pemenang sudah mulai dibacakan. Pemenang untuk karyawan wanita, karyawan pria, peserta non karyawan pria, non karyawan wanita dan peserta anak-anak pria dan wanita. Ketahuan kan…betapa terlambatnya saya tiba di garis finish? 

Ya. Yang jelas dan pasti, tidak mungkinlah saya yang menjadi juaranya. Pasti para pelari-pekari sejati itu yang akan naik ke panggung, menerima medali, penghargaan dan hadiah. 

Tapi saya pikir saya juga telah memenangkan pertarungan dalam diri saya sendiri. Saya telah menang bertarung dengan rasa malas dan rasa mengasihani diri sendiri dengan alasan kaki sakit akibat bekas keseleo. Saya telah berjuang melawan rasa enggan itu. Rasa menyerah sebelum bertarung. Dan saya berhasil membuktikan, rasa sakit yang terjadi itu sebenarnya tidak sebesar apa yang saya bayangkan sebelumnya.  Saya berhasil menembus batasan yang ada di kepala saya. The excellence emerges when you exceed your limit

Nah..itulah yang membuat Wipro Run ini berbeda dengan tahun yang sebelum-sebelumnya. Selain itu, kali ini Spirit of Wipro Run juga ikut berpartisipasi mendukung Sahabat Anak dengan mengajak karyawan dan keluarganya menyumbang (uang, buku bekas atau mainan anak) agar bisa membantu anak-anak jalanan yang putus sekolah. 

Senang sekali kali ini. Saya mencari tempat duduk untuk berteduh. Dan lamat-lamat saya memandang ke depan…eh… ada anak saya yang kecil sedang berdiri di antara 5 orang pemenang yang di atas panggung itu.  

Anak saya yang kecil. Lumayan menerima hadiah sebagai pemenang Wipro Run. Walaupun nomer 5.

​Rupanya ia menang dalam berlari, walaupun  nomer 5. Lumayanlah. Bangga dong ibunya. 

You’ve Broken My Heart…

Standard

​​​Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

​​Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. ​Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

​Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

​Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

​Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu. 

Mohammad Nasucha: Pemahaman Utuh, Serta Kemandirian Bangsa. 

Standard

Mohammad Nasucha (dok.pribadi milik M. Nasucha).

​Kerapkali kita mendengar pertanyaan sejenis begini dalam obrolan sehari-hari : “Tinggi banget penetrasi mobile phone di Indonesia, tapi kok masih import semua ya?.

Atau, “Pasar kendaraan di Indonesia segitu gedenya, tapi kok merk luar semua ya ?”.  

Terus dilanjutkan dengan statement nyinyir yang tidak menolong macam begini” Ya iya lah. Wong peniti aja masih import, boro boro bisa bikin handphone sendiri

Tentu saja, merupakan suatu hal penting bisa mengidentifikasi kelemahan diri sendiri. Namun jika tidak dibarengi dengan kemampuan melihat kekuatan dan membaca peluang-peluang  yang ada serta resikonya, maka kelemahan akan tetap menjadi kelemahan yang abadi. Oleh karena itu saya lebih senang membicarakan hal-hal positive yang memberi pencerahan, memberi pemecahan masalah dan terobosan baru daripada mengeluh. Juga salut dan bangga bisa mengenal orang-orang yang mau bekerja keras dan terus menerus meletakkan semangatnya untuk perbaikan dan pembaharuan. 

Dok. milik M. Nasucha.

​Berkaitan dengan pertanyaan seputar “Mengapa kita masih saja mengimport nyaris semua barangbarang teknologi tanpa mampu menciptakan dan memproduksinya sendiri ?”, saya ingat beberapa waktu yang lalu saya pernah terlibat dalam pembicaraan sepintas dengan teman saya Mohammad Nasucha, seorang yang mendalami Digital System termasuk Robotics yang saat ini menjadi lecturer di sebuah Universitas di Jakarta.

Saat itu, sambil makan di foodcourt di Bintaro Xchange, kami sedang mengobrolkan robot. Menurut Pak Nash (panggilan para mahasiswanya), saat ini sudah cukup banyak  orang Indonesia yang memiliki kemampuan merakit robot.  Tetapi sebenarnya, belum ada yang benar-benar mampu membuat robot dalam artian sebenarnya. Mengapa? Karena kita belum mampu membuat sendiri spare parts-nya. Sebagai akibatnya, kita jadi terpaksa mengimport spare part -spare part itu, lalu merakitnya di sini.Kita tergantung pada pihak luar yang menyediakan spare parts. Lho? Mengapa begitu? 

Iya. Menurutnya, itu karena kita memiliki kelemahan  dalam pemahaman fundamental electronics yang utuh dan menyeluruh. Padahal pemahaman yang utuh ini  sangat dibutuhkan dan menjadi syarat bagi seseorang untuk bisa membuat produk termasuk memproduksi spare parts-nya.

Diam-diam saya merasa takjub mendengarkan pemaparannya. Sebagai orang awam di bidang teknologi, saya belum pernah memikirkan aliran hulu-hilir produksi benda-benda teknologi ini. Jadi saat itu saya hanya manggut manggut saja mendengarkan Pak Nash bicara.  

Tersirat dari pembicaraan itu, kalau  Pak Nash memiliki mimpi untuk melihat sebagian dari generasi muda kita suatu saat bisa menjadi ilmuwan dan praktisi sepintar para ilmuwan dan praktisi Jerman atau Jepang yang mampu membuat perangkat-perangkat berbasis IT  berlandaskan penguasaan ilmu yang utuh.

Saya tidak berkomentar apa-apa karena tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, walaupun dalam hati saya merasa seiring dengan pemikiran Bapak ini. 

Pada saat ini, tradisi pengajaran di dinas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah maupun Pendidikan Tinggi di Indonesia  masih berupa pembelajaran dengan materi yang terpotong-potong. Tradisi  seperti ini tidak mampu menjelaskan kepada “students”, tentang hubungan antara satu muatan dengan muatan-muatan lain yang terkandung dalam potongan-potongan pembelajaran itu. Padahal untuk memgembangkan dan memproduksi sebuah perangkat yang baik, seseorang harus memahami  siklus lengkap dari sebuah “product development”. 

Sementara, siklus lengkap dari ‘product development” hanya bisa dikuasai oleh generasi muda kita, jika dalam system pembelajaran ini para students dibimbing olah pengajar yang benar-benar menguasai  bidangnya serta mampu menunjukkan benang merah yang menghubungkan  setiap element yang ada di dalamnya. 

Beliau berharap suatu waktu punya kesempatan membimbing ratusan anak muda yang berdeterminasi tinggi. Dan bagi anak muda yang secara khusus tertarik dengan Digital System, Pak Nash akan membimbing mereka menjadi orang-orang hebat yang mampu berproduksi sendiri, yang akan menjadi role model untuk generasi muda lainnya yang bergerak di bidang lain. 

Belakangan saya tahu bahwa ternyata Pak Nash bukan saja memotori upaya -upaya pembuatan  robot dan perangkat ekektronik lainnya (bukan hanya sekedar merakit mainan), namun Pak Nash ternyata adalah orang yang berada di balik semangat penciptaan mobil listrik ramah lingkungan  Rinus  C1  yang dibuat anak-anak SMA Pembangunan Jaya di Jakarta -diberitakan di TV pada tahun 2013. *Mudah-mudahan saya punya kesempatan, ingin sekali mengulas tentang mobil listrik ini di tulisan berikutnya suatu saat nanti. 

                     *****

Mohammad Nasucha. Saya mengenal sosok ini melalui proses yang tak pernah saya duga sebelumnya.Bermula dari cerita anak saya bahwa salah seorang guru sekolahnya memperkenalkannya pada seorang  sosok  yang menurut anak saya super keren. Beliau adalah seorang yang mendalami sistem digital termasuk robotics, dan sekaligus juga adalah dosen di sebuah Universitas di Jakarta. “Jago banget, Ma. Namanya Pak Nash“. Saya mendengarkan anak saya dengan khidmat. 

Kali berikutnya ia mengutarakan keinginannya untuk bisa belajar dan mendapat mentoring langsung dari pria yang menyihir perhatiannya itu. “Sebenarnya Pak Nash sangat sibuk. Bener-bener nggak punya waktu.Tapi  masih mau ngasih waktunya yang sudah sangat sedikit itu hanya untuk ngajarin aku. Tidak ada kesempatan lebih baik lagi dari ini, Ma“. Jelas anak saya. Saya hanya mikir, bagaimana mungkin seorang dosen mau membuang waktunya untuk anak saya yang masih baru di SMA ini. Tapi anak saya sangat yakin “I want you to meet him, please…“lanjutnya meminta. Wah..ini mengingatkan saya akan cerita- cerita Kho Ping Ho. Murid dan Suhu yang cocok itu memang mirip jodoh. Mereka saling mencari.  Biasanya karena mereka memiliki persamaan value dan vision dalam hidupnya.

Lalu saya mulai men-search namanya di Google, bermaksud mengenalnya lebih jauh. Saya menemukan sebuah articlenya tentang robot. Cukup memberi indikasi kepada saya tentang sosok yang dimaksudkan oleh anak saya. 

Demikianlah akhirnya saya dan suami bertemu dengan Pak Nash. Kami mengobrol dan beliau banyak bercerita tentang pandangan pandangannya dalam bidang science dan plannya dalam membimbing anak kami. Sebenarnya saya sudah banyak lupanya dan tentunya kurang update lagi di bidang science dan technology. Tapi untungnya kami masih bisa nyambung ngobrol. 

Kemarin, ketika kami jalan berdua, anak saya berkata “Mommy, thanks“. Saya heran “…thanks for what? Tanya saya. “Thanks for your support!. Sudah mengijinkan aku bertemu dan dimentoring sama Pak Nash. Pak Nash itu sangat baik, sangat reasonable dan sangat pintar, Ma. Persis seperti gambaran  guru ideal dalam pikiranku” katanya. Saya terharu mendengar kalimat anak saya. Kemudian saya menepuk punggungnya. Anak yang baik. Selalu ingat bersyukur dan berterimakasih. Anak yang penuh semangat sudah selayaknya mendapat support terbaik. 

Indonesia membutuhkan sosok guru yang membangun mental mandiri pada anak didiknya. Karena mental mandiri pada setiap generasi muda akan mengantarkan bangsa kita menuju pada kemandirian dan tak selalu harus bergantung pada bangsa lain. Dan saya melihat hal ini pada sosok Pak Nash. 

Pak Nash menunjukkan pada kita bahwa complaint saja tidak cukup. Tapi lakukanlah sesuatu. Dalam bentuk apapun!. Walau sekecil apapun!. Untuk membangun kemandirian kita sebagai bangsa.Produksi sendiri dan ajarkan orang lain agar bisa mandiri.

Boyolali: Soto Ayam dan Teman-temannya. 

Standard

​Pagi merekah saat saya dan seorang teman tiba di bandara Adi Suwarno. Saya bergegas ke rest room untuk membersihkan dan merapikan diri kembali setelah sebelumnya terkantuk-kantuk akibat tidur nyap-nyap takut ketinggalan pesawat dini hari. Tidak ada bagasi yang perlu saya tunggu karena semuanya sudah saya masukkan ke dalam backpack saya. 

Sambil menunggu seorang teman lain yang berjanji akan menjemput, teman saya berkata “Bu, bagaimana kalau di jalan nanti kita sarapan soto dulu ?”.  Oh…tentu saja saya mau. Kebetulan Soto Ayam adalah salah satu makanan favorit saya. 
Setelah beberapa belas menit berkendara, berhentilah kami di pinggir jalan Boyolali yang mengarah ke Salatiga. Soto Segeer!. Tulisan yang terpampang di warung soto itu. Ada banyak kendaraan yang berderet parkir di depannya. Menandakan jika makanannya pasti enak. 

Benar saja!. Warung makan itu penuh dengan orang. Beruntung masih ada bangku duduk kosong di depan dua orang pria yang sedang menikmati hidangannya. 

“Maaf Pak, boleh kami ikut numpang duduk di sini? “tanya saya meminta ijin agar bisa berbagi meja makan dengan mereka. “Oh njih. Monggo. Monggo” jawab salah satu dari pria itu dengan logat kental Jawa Tengahannya. Sambil mengucapkan terimakasih, saya dan dua orang teman sayapun segera duduk dan memesan makanan. 

Sambil menunggu pesanan datang, saya berpikir-pikir, mengapa Warung Soto ini kok ramai sekali? Bukankah Soto Ayam ya begitu begitu saja rasanya di seluruh Indonesia raya ini? Siapakah para pengunjung rumah makan ini? Dan mengapa mereka berbondong-bondong datang ke tempat ini?  

Menurut pria yang makan di depan saya, bahwa pengunjung kebanyakan warga setempat dan pelalu lalang yang kebetulan melintas di tempat ini dan mampir – macam saya. 

Pertanyaan saya itu segera mendapatkan jawaban seketika melihat apa yang terhidang di atas meja. 

Semangkok Soto Ayam. Yang sudah dicampur nasi di dalamnya. Sotonya mungkin biasa-biasa saja. Tapi teman-temannya itu lho!. Waduuuh!Banyak sekali ragamnya. Semuanya terlihat enak dan menggiurkan.  Yuk kita perhatikan satu per satu apa saja teman-teman soto yang dihidangkan di atas meja. 

Lento.

Aha! cemilan ini yang pertama saya sebutkan karena yang paling sukses menarik perhatian saya. Penganan yang terbuat dari kacang tolo ini sungguh bikin kangen. Mirip perkedel dengan tekstur yang lebih keras dan tentunya berbahan baku kacang tolo (biji kacang panjang yang tua dan dikeringkan). Semakin bikin kangen lagi, karena makanan sejenis begini juga ada di Bali dengan ukuran yang lebih kecil (kira-kira setengah ukuran Lento ini) dan biasanya disebut dengan ‘Sere-serean’. 

Sate Ati dan Rempela. 

​WHua…yang ini juga pasti enak. Potongan hati dan empela yang tentunya sudah dibumbui sebelumnya, dirangkai dengan tusukan sate, lalu digoreng dalam kocokan telor. 

Tahu Goreng. 

​Tahu ini juga digoreng dengan balutan tepung berbumbu yang gurih. 

Sate Udang.

​Nah… ini favorit saya lagi. Serius!. Sate udang di tempat ini sungguh enak sekali. Udangnya juga terasa manis dan segar. 

Sate Ayam. 

​Sate ayam di tempat ini sangat berbeda. Potongan dada dan kulit ayam tampak sangat enak dan menggiurkan. 

Peyek. 

​Krupuk dan Peyek seperti sulit dipisahkan dari prosesi menyantap hidangan orang Jawa. Nyaris selalu ada. Nah di tempat  ini saya menemukan Peyek Jagung. 

Tempe Goreng. 

​Siapa yang tak kenal tempe? Tidak ada kan? Ya…tempe makanan jutaan orang Indonesia ini tentu sayang jika tidak dimasukkan ke dalam daftar. Di tempat ini tempe dipotong agak tebal, diberi bumbu penggurih sebelum digoreng.

Bakwan Sayuran . 

​Bakwan sayuran yang diramaikan dengan udang dan dicetak bundar-bundar ini juga menggiurkan banyak orang untuk mencicip. 

Perkedel Kentang.

Perkedel kentang yang merupakan makanan favorit anak saya yang besar ini ternyata dihidangkan juga di sini. 

Kroket Goreng.

​Kroket isi yang digoreng dalam balutan telor ini juga terlihat sangat menarik untuk diicip. Warnanya kuning keemasan sungguh mengundang. 

Sebenarnya masih banyak lagi lho jenis cemilan teman-temannya soto yang lain yang dihidangkan di tempat itu. Hanya saja tidak sempat saya potretin satu per satu. 

Saya pikir inilah salah satu penyebab, mengapa sedemikian banyaknya orang yang senang mampir di tempat ini. 

​Selain jenis cemilannya yang beragam, suasananya juga dihidupkan dengan hiburan gang musik yang memainkan musiknya dengan sepenuh hati. Bukan seperti pengamen -pengamen yang suka mampir di rumah makan-rumah makan di Jakarta, yang bernyanyi ala kadarnya atau terkadang hanya bernyanyi terburu-buru demi cepat-cepat mendapatkan uang. 

Kalau masalah harga, terus terang saya tidak tahu karena teman saya yang membayarnya ha ha ha.. 

Tapi saya rasa  harganya juga cukup terjangkau. Terimakasih, Bu Mika. 

Dari sini saya memetik pelajaran kembali, bahwa jika apa yang kita tawarkan terlalu standard dan sama dengan penjual lainnya, maka kita harus berusaha meng’create’ sesuatu diluar standard yang kita tawarkan  itu yang membuat kita menjadi berbeda dan dipilih orang. 

Yuk teman-teman kita mampir ke Boyolali di Jawa Tengah. Kita kenali dan cintai makanan traditional kita!. 

Tips Dapur Hidup: Panen Berulangkali Dengan Pengguntingan Yang Tepat.

Standard

​Pada umumnya jaman sekarang ini kita membeli kangkung di pasar sekaligus sak akar-akarnya (Kangkung Cabut/kangkung darat  = sekali tanam langsung cabut, lalu tanam lagi untuk periode berikutnya).

Nah… berhubung waktu saya untuk mengurus tanaman juga sangatlah  sempit (saya mengerjakannya di sela-sela kesibukan  pekerjaan saya yang super padat), saya memilih menghemat waktu dengan cara sekali tanam panen berkali-kali. 

Caranya bagaimana? Saya menggunakan metode yang dilakukan petani kangkung  jaman dulu. Yakni dengan memotong batang kangkung dan menyisakannya sedikit batangnya agar kelak cabang kangkung bisa bersemi kembali. Hasil dari cara memanen seperti ini disebut dengan Kangkung Potong. Biasanya dilakukan pada tanaman kangkung yang dibudidayakan di air.

​Pemotongan harus dilakukan pada ruas batang yang ke dua atau yang ke tiga. Dengan demikian tunas yang baru bisa tumbuh daru ruas oertama tanaman itu dengan kokoh tanpa goyah karena dekat dengan akar. Selain itu, tanaman tidak perlu membuang-buang energi untuk memelihara batang yang panjang, sehingga bisa fokus untuk membesarkan tunas yang baru tumbuh.Yang paling penting, tanaman harus tersuply dengan air dan mendapatkan sinar matahari yang banyak.  Pemberian nutrisi yang cukup seminggu sekali juga sangat membantu membuat tanaman semakin sehat. 

​Dengan cara ini saya bisa melakukan panen 4-5 x sebelum saya ganti dengan tanaman baru lagi. Hasil panen juga tetap sehat-sehat dengan daun yang lebar-lebar dan batang yang gendut. Tidak kalah jika dibandingkan dengan hasil panen perdananya. 

Hemat waktu. Sangat cocok untuk ibu rumah tangga yang juga harus bekerja di luar. 

Mau mencoba?