Boyolali: Soto Ayam dan Teman-temannya. 

Standard

​Pagi merekah saat saya dan seorang teman tiba di bandara Adi Suwarno. Saya bergegas ke rest room untuk membersihkan dan merapikan diri kembali setelah sebelumnya terkantuk-kantuk akibat tidur nyap-nyap takut ketinggalan pesawat dini hari. Tidak ada bagasi yang perlu saya tunggu karena semuanya sudah saya masukkan ke dalam backpack saya. 

Sambil menunggu seorang teman lain yang berjanji akan menjemput, teman saya berkata “Bu, bagaimana kalau di jalan nanti kita sarapan soto dulu ?”.  Oh…tentu saja saya mau. Kebetulan Soto Ayam adalah salah satu makanan favorit saya. 
Setelah beberapa belas menit berkendara, berhentilah kami di pinggir jalan Boyolali yang mengarah ke Salatiga. Soto Segeer!. Tulisan yang terpampang di warung soto itu. Ada banyak kendaraan yang berderet parkir di depannya. Menandakan jika makanannya pasti enak. 

Benar saja!. Warung makan itu penuh dengan orang. Beruntung masih ada bangku duduk kosong di depan dua orang pria yang sedang menikmati hidangannya. 

“Maaf Pak, boleh kami ikut numpang duduk di sini? “tanya saya meminta ijin agar bisa berbagi meja makan dengan mereka. “Oh njih. Monggo. Monggo” jawab salah satu dari pria itu dengan logat kental Jawa Tengahannya. Sambil mengucapkan terimakasih, saya dan dua orang teman sayapun segera duduk dan memesan makanan. 

Sambil menunggu pesanan datang, saya berpikir-pikir, mengapa Warung Soto ini kok ramai sekali? Bukankah Soto Ayam ya begitu begitu saja rasanya di seluruh Indonesia raya ini? Siapakah para pengunjung rumah makan ini? Dan mengapa mereka berbondong-bondong datang ke tempat ini?  

Menurut pria yang makan di depan saya, bahwa pengunjung kebanyakan warga setempat dan pelalu lalang yang kebetulan melintas di tempat ini dan mampir – macam saya. 

Pertanyaan saya itu segera mendapatkan jawaban seketika melihat apa yang terhidang di atas meja. 

Semangkok Soto Ayam. Yang sudah dicampur nasi di dalamnya. Sotonya mungkin biasa-biasa saja. Tapi teman-temannya itu lho!. Waduuuh!Banyak sekali ragamnya. Semuanya terlihat enak dan menggiurkan.  Yuk kita perhatikan satu per satu apa saja teman-teman soto yang dihidangkan di atas meja. 

Lento.

Aha! cemilan ini yang pertama saya sebutkan karena yang paling sukses menarik perhatian saya. Penganan yang terbuat dari kacang tolo ini sungguh bikin kangen. Mirip perkedel dengan tekstur yang lebih keras dan tentunya berbahan baku kacang tolo (biji kacang panjang yang tua dan dikeringkan). Semakin bikin kangen lagi, karena makanan sejenis begini juga ada di Bali dengan ukuran yang lebih kecil (kira-kira setengah ukuran Lento ini) dan biasanya disebut dengan ‘Sere-serean’. 

Sate Ati dan Rempela. 

​WHua…yang ini juga pasti enak. Potongan hati dan empela yang tentunya sudah dibumbui sebelumnya, dirangkai dengan tusukan sate, lalu digoreng dalam kocokan telor. 

Tahu Goreng. 

​Tahu ini juga digoreng dengan balutan tepung berbumbu yang gurih. 

Sate Udang.

​Nah… ini favorit saya lagi. Serius!. Sate udang di tempat ini sungguh enak sekali. Udangnya juga terasa manis dan segar. 

Sate Ayam. 

​Sate ayam di tempat ini sangat berbeda. Potongan dada dan kulit ayam tampak sangat enak dan menggiurkan. 

Peyek. 

​Krupuk dan Peyek seperti sulit dipisahkan dari prosesi menyantap hidangan orang Jawa. Nyaris selalu ada. Nah di tempat  ini saya menemukan Peyek Jagung. 

Tempe Goreng. 

​Siapa yang tak kenal tempe? Tidak ada kan? Ya…tempe makanan jutaan orang Indonesia ini tentu sayang jika tidak dimasukkan ke dalam daftar. Di tempat ini tempe dipotong agak tebal, diberi bumbu penggurih sebelum digoreng.

Bakwan Sayuran . 

​Bakwan sayuran yang diramaikan dengan udang dan dicetak bundar-bundar ini juga menggiurkan banyak orang untuk mencicip. 

Perkedel Kentang.

Perkedel kentang yang merupakan makanan favorit anak saya yang besar ini ternyata dihidangkan juga di sini. 

Kroket Goreng.

​Kroket isi yang digoreng dalam balutan telor ini juga terlihat sangat menarik untuk diicip. Warnanya kuning keemasan sungguh mengundang. 

Sebenarnya masih banyak lagi lho jenis cemilan teman-temannya soto yang lain yang dihidangkan di tempat itu. Hanya saja tidak sempat saya potretin satu per satu. 

Saya pikir inilah salah satu penyebab, mengapa sedemikian banyaknya orang yang senang mampir di tempat ini. 

​Selain jenis cemilannya yang beragam, suasananya juga dihidupkan dengan hiburan gang musik yang memainkan musiknya dengan sepenuh hati. Bukan seperti pengamen -pengamen yang suka mampir di rumah makan-rumah makan di Jakarta, yang bernyanyi ala kadarnya atau terkadang hanya bernyanyi terburu-buru demi cepat-cepat mendapatkan uang. 

Kalau masalah harga, terus terang saya tidak tahu karena teman saya yang membayarnya ha ha ha.. 

Tapi saya rasa  harganya juga cukup terjangkau. Terimakasih, Bu Mika. 

Dari sini saya memetik pelajaran kembali, bahwa jika apa yang kita tawarkan terlalu standard dan sama dengan penjual lainnya, maka kita harus berusaha meng’create’ sesuatu diluar standard yang kita tawarkan  itu yang membuat kita menjadi berbeda dan dipilih orang. 

Yuk teman-teman kita mampir ke Boyolali di Jawa Tengah. Kita kenali dan cintai makanan traditional kita!. 

12 responses »

  1. Wah makin pengen ke Boyolali. Selain peninggalan sejarahnya yang mak nyuss, kulinernya juga betul-betul bikin lapar di tengah malam ini :haha. Yah meskipun goreng-gorengan (dan jeroan!) sudah tidak boleh terlalu banyak karena kolesterol pasti mengancam, tapi saya pikir saya masih bisa menikmati soto ayamnya yang juga sedap itu :haha.
    Favorit saya lento (karena belum pernah makan), sate ayam, bakwan, dan peyek (ya mana tahu dibelikan :haha).

  2. Kalau orang2 sini biasanya menyebut makanan pendamping itu sebagai “cekelan” (yg dipegang) atau “cokotan” (yang digigit). Kadang saya fan teman2 membuat joke “makan nasinya sih ga seberapa mahal, tapi cokotannya itu yg bikin mahal”. Hehe
    Btw mohon maaf, ibu, namanya “Bandara Adi Sormarmo”. Saya tinggal 30 menit driving dari situ. Lain waktu kalau ibu mendarat di sana lagi, saya akan dengan senang hati untuk menyambut. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s