Spirit of Wipro Run 2016: Jakarta

Standard

​Musim berlari telah tiba. Musim bagi karyawan Wipro dan keluarga atau teman-temannya untuk ikut dalam event tahunan  Spirit of Wipro Run 2016  yang diadakan pada tanggal 25 September ini serentak di berbagai kota di seluruh dunia antara lain Bangalore, Ottawa, Bucharest, Istambul, Dubai, Pittsburgh, Adelaide, Singapore, Kuala lumpur dan sebagainya. Sementara di Indonesia sendiri Wipro Run diadakan di Jakarta dan Salatiga. Rasanya takjub juga nemikirkan itu. Bayangkan, ada sedemikian banyak orang berlari (karyawan Wipro plus keluarga dan teman-temannya), di sejumlah kota (saya hitung ada 110 kota) seperti yang diprint di bagian punggung  kaos di bawah ini, semuanya berlari  tanpa memandang suku bangsanya, agamanya, gendernya, pangkat dan jabatannya. Semuanya berlari bersama-sama pada tanggal yang sama. As one!.

​​Di Jakarta, acara Wipro Run diadakan di Taman Mini Indonesia Indah dengan mengambil anjungan Taman Budaya Tionghoa sebagai pangkalan berangkat dan garis finish. Lumayan 5 km. 

​Acara berlari dimulai dari pukul 7.00 pagi dibuka oleh Mr. Neeraj Khatri, President Director dari PT Unza Vitalis -salah satu perusahaan dari group Wipro yang ada di Indonesia. Saya tidak mendapatkan jumlah pasti pesertanya, tepi saya duga di Jakarta diikuti oleh sekitar 700 orang, dan di Salatiga sekitar 750 orang. 

​Di Jakarta, lari dilakukan dengan jarak 5 km. Ditempuh  dengan melalui 3 check point. Di setiap check point disediakan minuman dan gelang Wipro Run 2016 berbeda warna. Jadi agar bisa sah berlari kita harus melewati ke tiga check point itu dan mengumpulkan ketiga gelang dari setiap  Check point yang berbeda. 

​Sebagai salah seorang Wiproite (karyawan dari group perusahaan Wipro) bangga dong ya saya bisa ikut menjadi pesertanya dan berhasil mencapai garis finish * walaupun barangkali tiba dengan nomer terakhir.. ha ha. 

Tak apa… Dengan keterbatasan kondisi kaki yang saya miliki (bekas keseleo beberapa tahun lalu yang kambuh lagi dan kambuh lagi), memang awalnya membuat saya ragu untuk ikut. Tapi mengingat bahwa moment ini hanya datang setahun sekali maka saya putuskan untuk mencoba dulu lah. Saya pikir seandainya ada hal buruk terjadi pada kaki saya, nanti saya akan berhenti. Anak saya yang besar agak kurang setuju dengan apa yang saya rencanakan dengan menganggap saya agak ambisius menempuh jarak 5km dengan kondisi kaki seperti ini. Saya hanya tersenyum dan menunjuk tajuk dari Wipro Run tahun ini yang tertera di kaosnya “Powered by ambition”. Anak saya tertawa. Dia sudah hapal betul dengan kekerasan kepala ibunya. Ia pun seperti biasa akhirnya  menemani saya juga. Sementara anak saya yang kecil sudah melesat  lari di depan bersama papanya. Anak saya yang besar berlari (eh…kebanyakan berjalannya deh..) di sebelah saya sambil sesekali bertanya. “Mom, are you ok?”. Atau.. “Ayo Mam, istirahat sebentar. Don‘t push yourself!”. Saya pun mengikuti kata katanya. Jika terasa lelah dan kaki saya sakit, maka saya berhenti sejenak. Sambil melihat-lihat ke sekitar. Inilah untungnya mengadakan acara ini di Taman Mini Indonesia Indah. Sambil berlari atau berjalan, kita bisa melihat bagian depan anjungan-anjungan daerah di Indonesia. Mulai dari anjungan yang paling dekat dari garis start yaitu anjungan Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Jambi dan seterusnya anjungan-anjungan daerah lain seluruh Nusantara. Sungguh indah dan mengagumkan melihat arsitek dan lambang-lambang budayanya yang beraneka ragam itu. Rasanya ingin masuk ke setiap anjungan itu lagi (terakhir saya masuk ke semua anjungan-anjungan itu sekitar 33 tahun yang lalu. Setelah itu saya hanya pernah beberapa kali masuk ke anjungan Bali saja -karena kebetulan ada perlu. Dan satu dua dari anjungan daerah lain yang ada). Alangkah kayanya Indonesia. 

​Juga ada berbagai macam tempat ibadah dari agama-agama yang diakui di Indonesia. “Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma Mangeruwa”. 

Check point demi check point saya lalui. Tentu dengan kelelahan dan kehausan.  Serta rasa panas dan sakit yang terasa neningkat di dekat pergelangan kaki kiri. 4 km lagi jarak yang harus saya tempuh. Kemudian 3 km lagi. Dua kilo meter lagi. Semakin dekat. 

​Seorang petugas  yang rupanya melihat saya sangat kelelahan, menawarkan apakah saya masih sanggup berjalan melalui jalur yang seharusnya atau menyerah. Karena di sana ada jalan pintas menuju Taman Budaya Tionghoa.

Saya pikir tinggal 1.5 km lagi. Saya tidak mau menyerah di titik ini. Tanggung!. Walau kaki semakin sakit, tapi saya harus makin semangat. Akhirnya tibalah saya di check point 3. Menerima gelang merah. Dan setelah itu….tiba di titik 1 km lagi.

Bukti saya melewati check point 3 dan 1 km to go.

​Selfie dulu ah… Siapa tahu ada yang mempertanyakan. Benarkah saya bisa sampai di titik ini..ha ha.  

Saya berjalan pelan-pelan. Kali ini kaki saya rasanya sudah mau copot. Tak terperikan sakitnya di bagian yang pernah keseleo dulu itu. Anak saya sangat mengkhawatirkan saya, tapi ia terus mendukung saya. Ia tertawa bagaimana saya berkeras dengan ambisi saya agar bisa mencapai garis finish di jalur yang benar dan tanpa bantuan. 

Anak saya yang besar yang selalu mendukung dan nendampingi saya “berlari”.Big thanks, son!.

​Beberapa saat kemudian sayapun mencapai garis FINISH. Horee!. 

Setiba di sana. Rupanya pengumuman pemenang sudah mulai dibacakan. Pemenang untuk karyawan wanita, karyawan pria, peserta non karyawan pria, non karyawan wanita dan peserta anak-anak pria dan wanita. Ketahuan kan…betapa terlambatnya saya tiba di garis finish? 

Ya. Yang jelas dan pasti, tidak mungkinlah saya yang menjadi juaranya. Pasti para pelari-pekari sejati itu yang akan naik ke panggung, menerima medali, penghargaan dan hadiah. 

Tapi saya pikir saya juga telah memenangkan pertarungan dalam diri saya sendiri. Saya telah menang bertarung dengan rasa malas dan rasa mengasihani diri sendiri dengan alasan kaki sakit akibat bekas keseleo. Saya telah berjuang melawan rasa enggan itu. Rasa menyerah sebelum bertarung. Dan saya berhasil membuktikan, rasa sakit yang terjadi itu sebenarnya tidak sebesar apa yang saya bayangkan sebelumnya.  Saya berhasil menembus batasan yang ada di kepala saya. The excellence emerges when you exceed your limit

Nah..itulah yang membuat Wipro Run ini berbeda dengan tahun yang sebelum-sebelumnya. Selain itu, kali ini Spirit of Wipro Run juga ikut berpartisipasi mendukung Sahabat Anak dengan mengajak karyawan dan keluarganya menyumbang (uang, buku bekas atau mainan anak) agar bisa membantu anak-anak jalanan yang putus sekolah. 

Senang sekali kali ini. Saya mencari tempat duduk untuk berteduh. Dan lamat-lamat saya memandang ke depan…eh… ada anak saya yang kecil sedang berdiri di antara 5 orang pemenang yang di atas panggung itu.  

Anak saya yang kecil. Lumayan menerima hadiah sebagai pemenang Wipro Run. Walaupun nomer 5.

​Rupanya ia menang dalam berlari, walaupun  nomer 5. Lumayanlah. Bangga dong ibunya. 

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s