Monthly Archives: October 2016

Ghost…

Standard

​Jam 2 pagi. Saya terbangun dan mendapati diri saya sedang memeluk anak saya yang kecil. Rupanya tadi saya ketiduran. Pulang kerja agak malam dan saya merasa sedikit kelelahan. Anak saya yang kecil meminta tolong ingin dipijitin sebelum tidur. Jadilah saya ikut berbaring sambil memijit dan mengusap-usap punggungnya. Juga sambil berdoa dalam hati semoga anak saya kelak tumbuh jadi orang berbahagia, yang mandiri,  yang baik hatinya dan suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuannya. Standardlah itu dilakukan oleh semua ibu ibu di seluruh dunia ya?. 
Tapi rupanya, entah saking khusuknya berdoa atau karena saya memang kelelahan…eh tanpa sadar saya tertidur. Belum mandi, belum ngapa-ngapain. Jadilah akhirnya terbangun jam 2 pagi. 

Yang pertama saya lakukan adalah menyambar handuk dan segera ke kamar mandi. Lalu mengendap-endap ke kamar mengganti baju dengan yang bersih. Suami saya tertidur pulas. Nafasnya naik turun dengan teratur. Saya membetulkan selimutnya agar ia tidak kedinginan. Lalu saya memeriksa ke dua anak saya yang juga tidur dengan nyenyak. Memeriksa sekeliling takut ada nyamuk menggigit kulitnya. Lalu saya ke ruang tengah, memeriksa pintu depan dan belakang untuk memastikan semua terkunci dengan baik. Aneh…mata saya sekarang sulit dipejamkan. Mungkin karena habis mandi jadi terasa segar. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di ruang tengah. Membuka laptop saya dan bekerja. Memeriksa tumpukan e-mail dan proposal yang belum sempat saya baca dan periksa.

 Tak terasa malam semakin larut. suasana sangat sepi dan hening. Hanya ada saya, dan suara laptop yang mendenging sangat halus. Tiba tiba saya mendengar suara kecil kecipak air. Saya kaget. Suara apa ya? Dari arah kamar mandi. Saya diam. Tidak ada apa apa. 

Beberapa menit kemudian, ada suara gerakan air lagi. Kali ini agak lebih panjang. Saya memasang telinga saya baik-baik. Diam lagi. Hening. 

Sebenarnya saya merasa agak takut. Tapi saya berusaha berpikir logis.Saya memberanikan diri untuk bangkit dari tempat duduk.  Berdiri memeriksa kamar mandi. Aneeh!. Semua keran air mati. Baik yang di wastafel, di kucuran air maupun untuk jetwasher. Walaupun basah, tapi kerannya sudah mati semua. Ini sungguh aneh. Akhirnya saya kembali ke ruang tengah. 

Sekarang saya ingin menulis. Saat beberapa kalimat sudah mulai terketik, eh…suara kecipak air itu muncul lagi. Suara apa itu? Kok datang lagi tapi tidak ada kelihatan wujudnya? Saya periksa lagi dan tetap tidak ada apa apa. Tengkuk saya mulai merinding membayangkan sesuatu yang tidak bersahabat. Hantu!!!!. Atau apapun namanya mahluk halus itu. 

Tapi tidak!. Saya tidak mau menyerah sama hantu. Jika ini terjadi pada waktu saya kecil, sudah pasti saya akan ngibrit berlari ke pangkuan bapak saya. Tapi sekarang? Seumur segini? Kemana saya harus ngibrit? Ini tempat saya tinggal. Suami saya tentu tidak percaya akan cerita hantu ini. Alih-alih saya malah bisa ditertawakan dan dianggap nggak logis. Jadi saya memilih untuk tidak membangunkan suami saya. 

Akhirnya karena tak punya pilihan lain,  saya datang kembali ke kamar mandi. Saya berdiri di situ beberapa saat dan  berkata kepada entah siapa “Ayo tunjukan dirimu!. Kalau kamu memang berani“. Tak ada yang menyahut. Hanya keheningan malam. 

Saya bertahan di tempat itu beberapa saat. Menunggu sesuatu mungkin akan terjadi.  Tetap tidak terjadi apa apa. Saya kembali ke tempat duduk. 

Pukul 5 pagi anak saya yang kecil bangun. Saya menyambutnya dengan sapaan pagi. Tak berapa lama suara kecipak air itu terdengar lagi. Anak saya membungkuk di rak depan kamar mandi. Ia melihat ke dalam gelas  berisi air kelapa yang tak habis diminum semalam yang diletakkan di situ. “Ya ampuuuun Mama. Kasihan amat cicak ini kecemplung ke dalam gelas” katanya sambil mengangkat gelas itu. Seekor cicak tampak memberontak, berusaha ingin keluar dari gelas yang berisi air kelapa. Waduuuuh. Ha ha ha… Jadi???

Sambil membantu cicak itu keluar dari gelas, saya pun bercerita kepada anak saya tentang apa yang saya dengar dan sangka sebagai hantu. 

Anak saya hanya nyengir mendengar cerita saya. Ia masuk ke kamar mandi sambil berkata, “Lain kali kalau mama takut, mama bangunin aja aku…” katanya. Oya… bener juga. Anak saya sekarang sudah besar. Bisa juga dijadikan pilihan tempat ngibrit jika ketakutan.  Thanks God. 

Advertisements

Heathens -How To Grab Audience Attention Quickly.

Standard

How to grab audience attention quickly. Memetik salah satu intisari pelajaran memasarkan dari sebuah lagu Twenty One Pilots.

Saya sedang dalam perjalanan dengan anak saya yang menanjak remaja. Seperti biasa ia yang menguasai radio dan memilih channel kesayangannya. Lalu melantunlah lagu lagu yang sedang nge hits di radio itu macam lagunya Shawn Mendez ‘I can treat you better then he can..’ atau lagunya Maroon ‘I don‘t want to know‘, Ariana Grande, maupun lagunya Selena Gomez. “We dont talk anymore…. we dont talk any more….”.

Saya ikut menggoyang goyangkan badan saya dan sesekali ikut bernyanyi. Hingga tiba-tiba radio itu memutar sebuah lagu yang menurut saya aliran musik dan melodynya sangat jauh berbeda dengan lagu lagu lain yang sangat ABG. Sayapun terdiam menyimak.

All my friends are heathens. Let it slowWait for them to ask you who you knowPlease don‘t make any sudden moves.  You don‘t know  half of the abuse….. “.

Karena penasaran sayapun mencari tahu dari anak saya siapa penyanyinya. Anak saya heran.”Mengapa mama suka lagu itu? Itu kan lagunya orang jahat” kata anak saya. Saya tidak paham mengapa itu lagu orang jahat. Ia lalu menjelaskan bahwa lagu itu ada di film film super hero dan dinyanyikan oleh komplotan penjahatnya.  Itu tuh…macam Harley Quinn, musuh musuhnya Batman. Ooh jadi begitu ya… Saya manggut-manggut. Lagu ini dinyanyikan oleh Twentyone Pilots.

Lalu saya coba search sendiri dari youtube dan lihat visual backgroundnya yang dimulai dengan sel-sel penjara. Lalu informasi dari Wikipedia jika lagu ini memang awalnya diciptakan untuk soundtrack film “Suicide Squad” yang baru saja direlease di pasaran. Ooh..

Terlepas dari background lagu ini yang soundtrack sebuah film, lagu ini menurut saya berhasil menarik ‘attention’ dari audience dengan sangat cepat. Mengapa? Karena selain memang melodynya enak – yang tentunya merupakan alasan utama mengapa lagu ini disukai orang – lagu ini keluar dengan genre musik yang totally berbeda. Terutama ketika radio melantunkan lagu lagu Ariana Grande, Selena Gomez, Justin Bieber, Shawn Mendez, dan sebagainya, tiba tiba muncul lagu ini. Sungguh terasa perbedaannya yang membuat pemirsa terdiam. Lain dan tidak biasa.

Jadi poin saya adalah bahwa untuk mendapatkan attention yang cepat dalam kondisi yang super crowded, dibutuhkan sesuatu yang bagus, unik dan berbeda. Ya. Dua kombinasi itu: Bagus dan Beda, merupakan sarat dasar untuk mudahnya mendapat perhatian. Dan itu berlaku dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pemasaran. Memasarkan produk baru, misalnya.

Jika kita datang  dengan sesuatu yang biasa biasa saja. Sama atau serupa dengan apa yang sudah ada di pasaran, akan tidak mudah bagi kita untuk mendapatkan perhatian konsumen. Apalagi jika kita tidak mendapatkan posisi yang mudah terlihat orang lain. Mau tidak mau ya kita harus rajin rajin berkoar-koar memperkenalkan diri. Coba kita datang dengan sesuatu yang baru dan berbeda. Tanpa kita mintapun orang akan melirik  dan penasaran ingin mengenal lebih jauh. Usaha yang harus kita lakukan untuk memperkenalkan diripun menjadi jauh lebih ringan, bukan?

Tapi berbeda saja juga nggak cukup. Apa yang kita perkenalkan kepada publik juga harus sesuatu yang bagus. Sesuatu yang menarik dan menyenangkan selera publik. Jika tidak, tentu tidak ada gunanya juga menjadi berbeda. Orang mungkin awalnya tertarik, tetapi setelah itu akan kecewa dan tidak mendapatkan kesan yang baik. Tentu kita tidak ingin itu terjadi juga bukan?

Nah…jadi balik lagi ke intisari pelajaran yang bisa kita petik dari lagu Heathens ini bahwa betapa pentingnya menjadi berbeda dan bagus. Yap!. Berbeda dan bagus. Bukan asal sembarang berbeda.

Catatan: Mohon maaf, sebagian dari pembaca mungkin ada yang membaca tulisan ini  dengan tidak lengkap, karena tanpa sengaja ter’publish’ saat tulisan belum selesai.

Pupuk Guano Untuk Dapur Hidup.

Standard

Tentang Cabe Yang Tak Habis-Habisnya Berbuah. 

​Saya memiliki 12 batang tanaman cabe rawit dalam koleksi Dapur Hidup di pekarangan rumah saya saat ini. Bibitnya saya dapatkan dari cabe di limbah dapur yang tak terpakai lagi karena sudah busuk. 

​Menyemai tanaman cabe dari biji limbah dapur sangatlah mudah. Karena saya hanya menggeletakkannya di pot dan biji biji itupun bertumbuhan. Problemnya hanyalah setelah anakan cabe itu sudah agak besar dan sudah saatnya dipindahkan ke potnya sendiri. Pertama, saya tidak memiliki banyak tempat ataupun pot untuk menanam semua anakan cabe itu. Kedua, ternyata sebagian dari anakan cabe itu terserang virus tanaman yang membuat pucuknya menghitam dan daunnya kering. Jadi terpaksa saya siangi dan buang tanaman yang tidak sehat itu. 

Sisanya yang sehat sekitar 15 batang saya tanam dalam pot. 

Pada awalnya, tanaman ini tumbuh dengan sangat subur. Daunnya hijau dan lebar lebar. Hati saya sangat gembira. Sayang tak lama kemudian, mulai ada banyak kutu daun kecil kecil hinggap di balik daunnya yang lebar lebar itu, meninggalkan lapisan putih mirip bedak. Waduuh… saya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi setelah ini. Tanaman saya bisa mengkeret lalu mati perlahan. 

Sebelum itu terjadi, saya menyikat daun daun tanaman cabe ini satu per satu. Karena saya tidak mau menggunakan pestisida unyuk tanaman saya. Baru lima belas batang saja menyikat daun, membutuhkan waktu yang sangat lama dan rasanya sangat melelahkan. Saya membayangkan bagaimana dengan petani yang tanamannya hingga ribuan. Serangan kutu ini sangat mengganggu. Sekarang saya mulai mengerti mengapa petani menggunakan pestisida. Dan mengapa kadang kadang harga cabe melonjak naik tanpa kira kira. 

Terlepas dari gangguan kutu daun putih ini, tak seberapa lama saya menemukan lagi tanaman cabe saya terserang virus yang membuat daunnya keriting dan pucuknya menghitam seperti terbakar. Ya ampuun. Cobaan datang bertubi-tubi untuk menjegal semangat saya bertanam cabe. Tapi tidak!!!! Saya tidak mau menyerah sedemikian mudah.

Di tengah ketidak berdayaan, saya terpaksa menggunting dan menggunduli tanaman cabe itu. Membuang semua daun dan pucuknya yang bermasalah (nyaris 100%). Tentu sangat sedih. 

Namun beberapa hari kemudian saya melihat tunas baru yang sehat muncul. Jadi tidak sia-sia pengorbanan saya. Tunas baru itu membesar, meninggi menjadi cabang baru dengan daunnya yang banyak. Hati saya sangat bahagia. Terharu melihat pertumbuhannya. Terlebih-lebih ketika tanaman  ini mulai menunjukkan bunganya. Bermekaran putih kehijauan satu per satu. Namun apa daya, setelah itu ternyata bunganya pada rontok satu per satu. Dan daun serta pucuk dan lengkap dengan putik bunganya semuanya mengkeret seperti hangus. Aduuh… kedukaan kembali melanda hati saya. Tak habis pikir, bagaimana caranya agar sukses membuat cabe ini berbuah. Rasanya tak kurang perawatannya. Semua cukup. Air, sinar matahari dan pemupukan. 

Dengan berat hati kembali saya menggunduli tanaman cabe saya. Seperti sebelumnya, tunas baru kembali muncul Menjadi cabang baru yang sehat dengan batang yang kuat dan daun yang banyak. Mulai berbunga dan akhirnya menjadi calon buah kecil yang hijau. Setiap hari saya memeriksanya, merawat sambil berdoa. Hingga pada bulan Maret 2016, akhirnya untuk pertama kalinya saya melihat cabe saya akhirnya memerah. Akhirnya panen juga, walaupun tidak banyak. Kurang lebih hanya 1 kilo gram semuanya (buah yang pertama memerah tidak saya petik, saya biarkan ia tetap di pohonnya hingga tua dan kering sendiri).

Setelah itu tanaman cabe saya terserang hama virus lagi. Dan kali ini saya nyaris menyerah sampai akhirnya saya pulang ke Bali.

​ Kakak sepupu dan keponakan saya memberikan Guano untuk saya coba  pada tanaman Dapur Hidup saya. 

Pupuk organik berbahan baku kotoran kelelawar  ini saya bawa ke Jakarta dan coba saya taburkan pada tananan cabe saya.

​Tanpa saya duga, hasilnya ternyata luar biasa. Cabe yang tadinya sekarat sudah hampir mati mulai tumbuh dengan baik. Bukan hanya itu, bunganya juga tiba tiba muncul sangat banyak. Membuat saya sungguh terheran heran. 
Bunga dengan cepat menjadi buah. Membesar dan berubah warna menjadi jingga lalu merah.

​ Lalu segera menyusul dengan bunga bunga yang baru, jadi buah dan memerah. Begitu seterusnya. Setiap minggu saya panen. Dan pohon cabe ini terus berbuah lebat sejak bulan Maret hingga kini. 
Sekarang sudah memasuki pertengahan Oktober. Berarti sudah lebih dari 7 bulan cabe ini berbuah terus.  Dan belum ada tanda tanda akan berhenti berbuah karena bunganya masih bermunculan. 

Parsley, Si Keriwil Yang Cantik.

Standard

​Yaiyy!!! Akhir pekan tiba. Saatnya meluangkan waktu untuk tanaman Dapur Hidupku. Nah…Sabtu ini saya mau bercerita tentang Parsley alias Peterselli, tanaman bumbu dapur baru di halaman rumah saya.

​Walaupun bukan tanaman asli Indonesia, sebenarnya Parsley tidaklah terlalu asing bagi kita. Karena daun tanaman ini cukup sering kita temukan dijadikan garnish ataupun hiasan untuk mempercantik hidangan di restaurant-restaurant besar. Selain itu daun tanaman ini lumayan mudah juga kita temukan dijual di rak sayuran di Supermarket. 
Alasan jujur saya menanam Parsley sebenarnya memang hanya sekedar penasaran saja. Ingin tahu apakah saya bisa menumbuhkannya di udara Jakarta atau tidak. Mengingat tanaman ini biasanya ditanam di daerah dingin. 

​Saya membeli bijinya dengan cara online Beberapa bulan yang lalu. Namun karena kesibukan, saya tidak langsung menyemainya. Baru setelah agak senggang kemudian saya menebar bijinya di atas rockwool. Sayang sekali tingkat pertumbuhannya rendah sekali. Saya hanya bisa mendapatkan tanaman parsley ini tidak lebih dari 10 pohon. Beberapa ada yang mati keinjak kucing, sekarang hanya sisa 6 pohon. Tapi tidak apalah. Saya cukup bahagia dengan tanaman saya ini. Lagipula saya tidak akan membutuhkan daun ini banyak-banyak juga. 

Parsley (Peterselinum ) secara fisik tanaman ini sangat menyerupai seledri. Karena memang masih satu keluarga dengan seledri. Menurut beberapa sumber, merupakan tanaman herbal yang sangat baik untuk mencegah tumor paru-paru dan juga penyakit arthritis rhemathoid.