Loksado Writers & Adventure 2017: Empat Jam Menuju Loksado.

Standard

Sekitar pukul 8 pagi kami tiba di bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin. Semua peserta yang berangkat bersama saya pagi itu adalah orang-orang yang baru saja saya kenal subuh tadi di bandara Soetta di Jakarta. Kecuali Aldo, anak saya tentunya. Ada Pak Rachmat Ali beserta Bu Kartini istri beliau, yang tiba paling pagi karena takut terlambat. Lalu ada Pak Adri yang tadi subuhnya membagi-bagikan ticket untuk kami. Lalu Bang Salimi dan Bu Gantina, Pak Trip Umiuki, Bang Yahya, Pak Kurniawan Junaedhi dan Ibu Evi Manalu. Sejak awal pertemuan saya merasakan kekompakan team ini. Walaupun saya dan Aldo baru mengenal mereka. Keramahannya, kesetiaannya untuk  saling menunggu dan saling mengingatkan, juga kebersamaannya, semuanya memberi kesan yang mendalam di hati saya. 

Untuk beberapa saat kami menunggu bagasi keluar. Bang Salimi menyarankan agar saya dan Aldo bergantian saja ke rest room untuk menyegarkan diri. Semua ibu-ibu yang lain juga mengambil kesempatan untuk membersihkan diri. Udara terasa panas. Saya membuka jacket saya.  Tak sabar rasanya ingin cepat cepat bertemu dengan Mbak Agustine Thamrin. Orang yang mengundang saya datang ke Loksado Writers & Adventure 2017 ini. 

Tiba di Banjarmasin -foto Agustine Thamrin

Selepas pemeriksaan bagasi, akhirnya bertemulah saya dengan Mbak Agustine yang menyambut kami semua dengan sangat ramah. Wanita cantik bertubuh tinggi langsing itupun menyalami dan memeluk saya dengan akrab. Seolah kami sudah bersahabat bertahun tahun. Padahal saya baru bertemu dengannya pagi itu. Lega rasanya. Kesan saya Mbak Agustine ini memang memang sangat ramah dan baik, dan rupanya memang sudah mengenal dekat teman teman penyair dalam rombongan saya itu. 
Setelah pintu keluar, saya diperkenalkan dengan Pak Budhi Borneo sang penggagas acara Loksado Writers & Adventure 2017, juga dengan Mbak Lena seorang peserta lain dari Yogya yang rupanya tadi satu pesawat dengan kami dari Jakarta. Juga di luar menunggu  Pak dr Handrawan Nadesul (Pak Hans) yang sudah lebih dulu mendarat dengan pesawat lain. 

Dari sana Pak Budhi lalu mengatur keberangkatan. Saya dan Aldo ikut rombongan Pak Budhi bersama dengan Mbak Lena dan Pak Hans. Kami bermaksud mengisi perut dulu di warung Soto Banjar tak jauh dari airport. Walaupun dekat, ternyata rombongan yang lain sempat agak lewat juga. Ha ha…terlambatlah mereka tiba di tempat sarapan. Memang pekerjaan mengatur orang banyak itu tidaklah mudah. Dan tentunya merepotkan. Tapi saya lihat para peserta dan panitya semangat sekali. Membuat saya merasa senang bertemu dengan mereka. 

Soto Banjar.

Soto Banjar

Warung Soto Banjar dekat bandara itu pada dasarnya menyajikan 2 menu yakni Soto Banjar yang disajikan dengan ketupat, dan Rawon Sapi yang disajikan dengan nasi putih. Saya sendiri memesan Soto Banjar. Alasannya karena selain saya memang tidak mengkonsumsi daging sapi, saya sudah pernah makan Soto Banjar sebelumnya dan saya menyukainya. Lagipula Soto Banjar, sesuai dengan namanya adalah makanan khas Kalimantan Selatan. Ngapain pula sudah jauh-jauh ke sini tidak menikmati masakan khasnya? 
Bagi yang penasaran seperti apakah Soto Banjar? Saya cerita sedikit ya..     

Soto Banjar  serupa tampilannya dengan soto lain. Terdiri atas soun (glass noodle) yang direbus, suiran daging ayam dengan bumbu kuah. Yang beda, kuahnya agak manis dan biasanya dihidangkan dengan ketupat. Bukan nasi. Sempat saya bertanya kepada tukang warung tentang bumbunya, rupanya selain bawang merah, bawang putih, lada, kapulaga dan pala juga dilengkapi dengan kayu manis dan cengkeh. Oh..pantesan rasanya agak lebih berempah ya. Tapi enak dan segar. 

Di tempat itu kamipun diperkenalkan dengan Isuur dan teman teman penyair dari komunitas Kalimantan Selatan. Bersama sama kami berangkat menuju Loksado. Beriring-iringan. Akan tetapi karena ada rombongan yang  juga menjemput Ibu Sulis Bambang dan Roymon di penginapan maka kamipun berpisah  dan berjanji bertemu di Haur Kuning. 

Haur Kuning & Kemegahan Namanya. 

Di manakah Haur Kuning? Penasaran dong ya. Menurut Pak Budhi Haur Kuning adalah tempat yang biasa untuk janjian jika mau bepergian bersama ke suatu tempat. Sejenis ‘meeting point ‘ begitulah kira kira. Mengapa Haur Kuning? Ya karena lokasi itu mudah dijangkau dan semua penduduk Banjarmasin tahu letaknya. Kami mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Pak Budhi. Saya membayangkan sebuah tempat dengan tugu besar berwarna kuning yang mudah terlihat oleh semua orang. 

Setiba di Haur Kuning ternyata tak terlihat oleh saya adanya  tugu besar berwarna kuning. Sayapun bertanya dalam hati. Tak seberapa lama saya dengar Pak Hans bertanya kepada Pak Budhi, “Yang mana haur kuningnya?”.  Pak Budhi menjawab “Yang itu, Pak” sambil menunjuk dua rumpun bambu kecil di pinggir jalan.  * haur kuning = bambu kuning.  Nyaris tak terlihat oleh mata. Oalah…ya ampuun. Hanya dua rumpun bambu kuning kecil, tapi namanya sangat terkenal. Lalu mengapa bambu sekecil itu bisa menjadi sangat terkenal?. Saya rasa karena bambu kuning tidak umum ditanam di tepi jalan. Dan orang-orang memanfaatkan ketidak-umumannya ini sebagai penanda tempat. Mudah dikenali karena ia berbeda. Namanya lebih tenar dari pohonnya sendiri.  Nah…pelajaran moralnya adalah kecil bukan berarti harus membuat kita minder dan patah arang.  Walaupun kecil, jika kita bisa membuat diri kita unik dan tidak biasa biasa saja, maka akan lebih mudah bagi kita untuk membuat hidup kita menjadi bermakna. 

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya berangkatlah kami menuju Loksado melalui kota Martapura. Sepanjang jalan saya menikmati pemandangan yang indah. Pohon pohon yang hijau, sungai sungai yang mengalir, rumah rumah penduduk yang berdiri macam panggung,  lahan lahan yang luas banyak yang belum tergarap dengan baik. Oh..alangkah luasnya pulau Borneo ini. Dan alangkah kaya rayanya. Hati saya sangat bangga dan terharu. Indahnya tanah airku. 

Sepanjang jalan kami mengobrol. Mulai dari soal durian hingga ke pohon jengkol. Juga tentang sungai sungai yang mengalir dan  intan yang didulang dari sungai tertentu. Lalu tentang jalur khusus pertambangan yang terlihat berliku di bawah sana. Saya menyimak baik-baik cerita Pak Budhi. Juga cerita Pak Hans. Tentang masa mudanya, bagaimana beliau berkarya dan berkumpul dengan penyair penyair senior seperti Putu Wijaya, Sutardji, Pak Adri dan sebagainya. Membuat puisi, prosa dan artikel untuk menghidupi dirinya. Cerita jaman dulu saat semua karya harus diketik dan diserahkan sendiri ke kantor redaksi. Lalu bagaimana beliau menyelenggarakan kegiatan sastra Negeri Poci di Tegal setiap tahunnya. Saya sangat terkesan dengan pengalaman beliau itu. Walaupun menjadi dokter yang terkenal, tetapi beliau tetap mendedikasikan dirinya untuk sastra. Sungguh saya merasa salut. Pak Budhi tetap menyetir sambil sesekali ngobrol. Sementara Mbak Lena sibuk dengan hapenya lalu kemudian tertidur. Demikian juga Aldo yang duduk di belakang. 

Kami sempat mampir sebentar di Banuang untuk membeli Neo Remacyl guna berjaga jaga karena kaki saya sering kramp. Agak aneh juga, di provinsi sebesar ini ternyata jumlah Apotik yang kami lihat tidaklah banyak. Selain itu sebagian juga tutup karena kebetulan hari itu tanggal merah, karena hari Waisak. 

Mampir di Kota Kandangan.

Di sebuah rumah makan di kota Kandangan – photo Yulian Manan.

Pukul 2 siang kami tiba di kota Kandangan. Mampir di sebuah rumah makan setelah sempat tersesat dan berputar jalan akibat salah petunjuk. Hari panas terik. Tak heran karena dekat dengan garis katulistiwa. 

Bersama Abah Arsyad, Dr Handrawan Nadesul dan Isuur Loeweng

Di rumah makan ini saya dan Aldo berkenalan dengan Abah Arsyad beserta istri. Menurut cerita teman teman yang lain, Abah ini adalah penyair yang sangat eksentrik dengan penampilannya yang selalu bikin heboh penontonnya. Dulunya juga selalu rajin menghadiri acara temu sastra di manapun di seluruh Indonesia. Hanya saja belakangan ini beliau lebih banyak jaga kandang saja di Kal Sel. Juga di tempat ini saya berkenalan dengan Mbak Cornelia Wulandari yang sajaknya pernah saya baca di timelinenya Mbak Agustine Thamrin. Juga sempat ngobrol panjang lebar dengan penyair Isuur Loeweng tentang usaha penggemukan sapi. Sayang sekali ada satu kendarasn yang membawa rombongan Pak Rahmat Ali dan ibu serta Bang Yahya yang rupanya langsung menuju Loksado tanpa sempat mampir di Kandangan. 

Makanan yang disajikan di rumah makan ini enak sekali. Ada ayam, itik dan ikan yang disajikan dengan sambel lalapan daun ubi rebus, timun dan kacang panjang. Nikmat sekali. 

Setelah kenyang dan beristirahat sebentar, barulah kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Loksado. 

Kali ini udara mulai menyejuk. Kiri kanan mulai tampak pohon pohon besar. Rumah rumah penduduk pun berkurang. Kami mulai memasuki kawasan hutan pegunungan Meratus. Jalanan sangat sepi. 

Salah satu pemandangan Loksado. Hijau royo royo.

Pemandangan yang luarbiasa. Puncak puncak bukit Meratus terkadang tampak dikelilingi kabut. Di sekelilingnya hutan menghampar hijau. Pohon kayu manis, pohon durian, pohon pakis, pohon luwak, pohon jahe jahean melengkapi vegetasi hutan itu. Suara nyanyian cycada menyambut sore ditingkahi suara burung hutan. Alangkah indahnya alam pegunungan Meratus. Hati saya terasa riang dan bahagia berada di tempat itu. Sayang saya hanya bisa memotret dari balik jendela kendaraan yang melaju. 

Amandit River Lodge

Tak terasa setengah jam telah berlalu. Pak Budhi terus menyetir, membawa kami ke jalan yang semakin sepi dan semakin jauh memasuki kawasan hutan Meratus. Akhirnya tibalah kami di Amandit River Lodge, tempat kami menginap di tepi Sungai Amandit. 

Lama perjalanan yang dibutuhkan dari Banjarmasin ke Loksado seharusnya cuma 4 jam. Tetapi rupanya kami menempuhnya dengan lebih lama karena kami singgah singgah untuk sarapan, menunggu di Haur Kuring, lalu mampir di Apotik dan lama ngobrol di Kandangan. Namun demikian perjalanan tetap terasa menyenangkan. 

 

Advertisements

2 responses »

  1. awal perjalanan yg sangat mengesankan mbak, ternyata banyak berkecjmpung di dunka sastra dan bertemu banyak ahli sastra, ditunggu lanjutan ceritanya mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s