Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kami diterima dengan baik oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan beserta ibu, keluarga dan warga setempat. Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu Penghulu adat dan putrinya. Ngalor ngidul tentang banyak hal, terasa sangat menyenangkan. Sementara Bapak bapak mengobrol dengan Bapak Penghulu Adat.

Berbincang dengan Bapak Penghulu Adat Haruyan.

Dari tempat kami ngobrol, saya memandang sekeliling. Senang berada di tempat ini. Pemukiman itu terdiri atas beberapa rumah di halaman yang sangat luas dengan Balai Adat Haruyan terletak di tengah tengahnya. Berupa bangunan persegi terbuat dari kayu. Berada di atas panggung dengan pintu masuk bertangga juga terbuat dari kayu. Di sekelilingnya rumah-rumah penduduk yang sebagian masih berbahan kayu dan sebagian lagi sudah menggunakan material modern. Balai adat itu kelihatan sepi karena pada saat itu sedang tidak ada upacara. 

Balai Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Menurut Ibu Penghulu Adat rata rata mereka mengadakan upacara 2x setahun. Yang pertama adalah saat  padi mulai berisi dan yang ke dua adalah saat panen terakhir tahun itu yang disebut dengan upacara Aruh Ganal. Upacara adat itu merupakan ungkapan rasa terimakasih dan rasa syukur atas keberhasilan panen padi. Hanya setelah diupacarai,  barulah padi hasil panen itu boleh dikonsumsi. 

Semua padi padi hasil panen itu disimpan di lumbung.  Bahkan padi dari hasil panen 10 tahun yang lalu pun masih ada. Luar biasa. Saya mendapat penjelasan, bahwa mereka tidak menjual padi/beras, sekalipun panen nereka melimpah dan mereka memiliki persediaan padi yang banyak. Semua hanya untuk konsumsi warga saja.  Mengapa demikian?. Karena mereka perlu memastikan tetap memuliki bahan pangan bahkan saat panen gagal. Walaupun demikian, mereka tidak keberatan untuk berbagi dengan orang luar, dan bahkan sangat senang jika ada  warga luar kampung yang ikut pesta adat nereka.  Saya kagum dengan prinsip mereka ini dalam memastikan ketahanan pangan. 

Lalu bagaimana caranya menopang keperluan hidup sehari hari jika tidak menjual padi?. Oh..rupanya penduduk masih bisa mendapatkan penghasilan dari usaha lain seperti misalnya dari kayu manis, bertanam cabe, palawija dll. Menarik sekali.

Kami diijinkan melihat ke dalam balai adat dan melihat contoh gerakan tari traditional suku Dayak yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal dilangsungkan. Namun sebelum memasuki balai adat, kami dipersyaratkan untuk memakai tutup kepala yang jika untuk pria disebut dengan Laung, sementara untuk wanita disebut dengan Salungkui. 

Bersama Ibu Penghulu Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Ibu Penghulu Adat memasangkan salungkui di kepala saya. Dibentuk dari kain/tapih yang dilipat dan ujungnya diarahkan ke belakang lalu dirapikan. Saya senang sekali. Praktis dan bentuknya menarik. Salungkui ini tentu sangat berguna untuk melindungi kepala dari panasnya sinar matahari, debu maupun kotoran lainnya.  Ini mirip juga dengan “tengkuluk” yang biasa dipakai di kampung saya. 

Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung.

Sementara saya dipasangkan Salungkui oleh Ibu Penghulu Adat, Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung pada tamu-tamu pria. Setelah itu barulah kami diajak memasuki Balai Adat. 

Balai Adat Haruyan itu ukurannya cukup luas. Saya membayangkan seluruh penghuni kampung itu barangkali bisa ditampung sekaligus jika masuk semuanya. Lantainya terbuat dari papan kayu yang kuat dengan tiang tiang penyangga yang sangat kokoh. 

Di tengah tengah bangunan terdapat tempat upacara bertiang tinggi dengan lantai yang sedikit lebih rendah di selilingnya. Tampak janur mengering sisa perayaan yang telah usai. Ini tempat suci. 

Memanjatkan doa untuk keselamatan kita semua.

Bapak Penghulu Adat dan seorang pemuka adat yang lain memanjatkan doa untuk memohon ijin serta memohonkan keselamatan bagi semua yang hadir di situ,   warga Dayak dan termasuk juga kami yang bertamu ke sana. Saya mendengarkan doa doa itu dengan khidmat dan rasa haru. Betapa jalinan rasa persaudaraan itu dengan mulus menjalar ke hati kami.  Lalu dalam hati saya ikut menyatukan doa saya bersama untuk kesejahteraan, keselamatan dan kemajuan masa depan warga Haruyan. 

Bapak Penghulu Adat menunjukkan gerakan tarian Kanjar

Setelah doa-doa selesai, Bapak Penghulu Adat bersedia menunjukkan kepada kami gerakan gerakan tarian Kanjar yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal. 

Ikut nenari Kanjar.

Para tamu priapun diajak ikut serta bakanjar. Dengan diiringi alat musik tunggal sebagai contoh, semuanya menari mengelilingi tempat upacara. Gerakannya simple dan mudah ditiru, sehingga setiap orang bisa ikut riang gembira menari Kanjar bersama sama. Sebagai refleksi hati yang penuh syukur atas anugerah panen yang luar biasa. 
Seusai para pria menarikan tarian Kanjar, Ibu Penghulu Adat mengajari saya menari Babangsai. Rupanya tari Babangsai ini adalah versi wanita dari tari Kanjar. Saya dan para wanita yang lain pun segera turun ikut menari dengan senang. Mengayunkan tangan dan mengatur gerakan kaki mengikuti ketukan musik. Menariknya, tari Babangsai ini juga ada 2 versi lagi. Yakni versi cepat dan versi lambat. Ibu Penghulu Adat menunjukkan keahliannya menari kedua duanya. Saya hanya mengikuti. 

Tak terasa matahari menanjak naik. Tiba tiba sudah tengah hari. Kami harus segera kembali ke Loksado untuk mengikuti acara berikutnya. Sayapun pamit dan kembali berada di atas motor. Menyusuri jalanan Haruyan -Malaris yang berliku, menanjak dan menukik. 

Haruyan, Loksado. Daerah ini memiliki potensi pariwisata  tinggi yang  belum tergali dengan baik. Alamnya, adat istiadatnya, budayanya, makanannya. Semuanya menarik untuk dilihat dan dikunjungi.

Berharap pemerintah segera membantu memperbaiki akses  yang ada, agar roda perekonomian berputar dengan lebih cepat. Dan tentunya akan lebih mudah lagi bagi para wisatawan untuk datang berkunjung. 

Di seberang desa Malaris, di tepi sungai Amandit saya turun. Membawa kenangan saya akan Haruyan.  Rasanya masih tertinggal hati saya di sana. Suatu saat saya ingin mendapatkan jesempatan untuk berkunjung kembali ke tempat ini. 

Yuk kita berkunjung ke Haruyan! Kita cintai tanah air kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s