Monthly Archives: September 2017

Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Standard
Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Hi! Saya mau berbagi cerita lagi nih. Cerita menarik hasil saya ikut nguping dari lapangan panahan minggu lalu πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Teman-teman pembaca pernah nguping nggak? Mendengarkan pembicaraan orang lain diam-diam. Ihhh….itu kan tidak sopan ya?. Ya memang. Tetapi kadang-kadang kita terjebak dalam situasi dimana kita terpaksa jadi ikut nguping juga karena kepepet πŸ˜€.

Itu terjadi pada saya. Bukan karena niat nguping sih… tapi ya…awalnya nggak sengaja, tapi karena percakapan itu sungguh menarik, saya pun meneruskan kegiatan menguping itu hingga selesai.

Hari Sabtu yang lalu saya menemani anak-anak saya yang ingin mencoba bermain panahan di BSD Archery. Dikasih kontak oleh Mbak Pimpim, seorang teman baik, sayapun bertemu dengan Pak Azmi dan Pak Heidar yang mengelola tempat latihan panahan itu.

Anak-anak ikut berlatih 🎯🎯🎯dan mencoba dengan penuh semangat. Saya sendiri hanya menonton dan sesekali mengabadikan kegiatan anak saya dengan kamera hape. Mereka belajar meletakkan anak panah, merentangkan busur dan membidik sasaran. Mulanya meleset banyak. Tapi karena dicoba dan dicoba terus, anak-anak kelihatannya mulai dapat ‘feels’ nya.

Ini adalah kali pertama saya melihat peralatan panah yang benar dari dekat. Sebelumnya yang pernah saya lihat hanyalah panah mainan saja πŸ˜€. Jadi saya tertarik juga untuk memperhatikannya.

Serupa dengan panah mainan, peralatan panah terdiri atas Anak Panah dan Busur.

Kalau anak panah sih sudah sangat jelas ya. Terdiri atas batang, mata panah yang tajam dan pangkal panah yang mirip bulu ayam.

Busur, jika diperhatikan terdiri atas bagian yang melengkung ke atas dan bawah yang disebut dengan limb dan tali panah.

Lalu di bagian tengah limb, saya melihat ada bagian dari bahan kayu tempat pegangan tangan yang disebut dengan riser.

Di atas lekuk pegangan tangan, rupanya terdapat celah kecil tempat meletakkan anak panah. Dan sedikit lagi di atasnya terdapat celah bidik atau visir.

Saya memperhatikan Pak Azmi dan Pak Heidar memperagakan bagaimana cara memegang busur panah yang benar. Para peserta pun mulai mencoba, berlatih dan terus berlatih membidik ke sasaran yang sudah ditetapkan.

Latihan berjalan santai ditingkahi obrolan kiri kanan dan curhatan oleh peserta lain tentang kerjaan kantor yang entah bagaimana awalnya, kemudian berakhir dengan topik ‘Leadership’. Semakin seru karena tiba tiba Pak Heidarpun ikut nimbrung dan membagikan ilmu dan pengalamannya dalam hal ‘Leadership’ kepada sekelompok peserta latihan itu.

Sayangnya saya belum kenal dengan kelompok itu, jadi nggak bisa ikut nimbrung ya. Selain itu anak-anak saya masih meneruskan latihan walaupun panas makin terasa menghentak. Jadi sambil mengawasi dan memotret anak-anak, sebelah telinga saya ikut mendengar dan saya ikut menyimak pembicaraan Pak Heidar yang menarik itu. Begitulah asal muasalnya mengapa saya jadi ikut menguping *mencari pembenaranπŸ˜€.

Menurut Pak Heidar, menguasai ilmu memanah, juga membuat kita memperbaiki kemampuan leadership kita. Bagaimana?. Nah ternyata ada ceritanya nih teman-teman pembaca….

Jika kita perhatikan bagaimana orang memanah, kita akan mengetahui sang pemanah akan menggenggam busurnya tepat di tengah pada riser.

Saya melirik sekilas, Pak Heidar menjelaskan bahwa bagian riser dari tengah ke bawah berfungsi sebagai pengendali. Bagian ini kurang lebih porsinya 60%.

Sedangkan bagian riser dari tengah ke posisi celah bidik berfungsi sebagai pembidik. Kurang lebih porsinya 40%.

Jika sebagai seorang pemanah, kita memfokuskan diri pada bagian “Pengendali” yang porsinya 60 % tadi, maka kita akan cepat merasa lelah dan hasil bidikanpun belum tentu tepat mengenai target.

Hal yang sama akan terjadi jika hal itu kita lakukan sebagai seorang pemimpin. Kadang-kadang karena kekhawatiran yang berlebih, sebagai pemimpin kita cenderung sibuk mengawasi, meneriksa, mengontrol semua pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab bawahan kita (bahkan jika perlu membantu) hanya untuk memastikan semua sudah dikerjakan dengan baik. Sebagai akibatnya, kita akan merasa lelah sendiri. Karena bagian ini adalah bagian dengan porsi yang lebih besar yang seharusnya kita lepaskan kepada team untuk mengerjakannya. Sehingga kita bisa lebih fokus pada bagian lain yang lebih penting.

Sebaliknya jika sebagai pemanah kita memfokuskan diri pada bagian “Pembidik” yang porsinya cuma 40% tadi itu, maka kita tidak akan merasa terlalu lelah. Dan kemungkinan terbidiknya target sasaranpun semakin besar.

Sebagai leader pun demikian. Jika kita lebih memfokuskan diri pada membidik target dan mengarahkan team untuk mencapainya, maka kemungkinan untuk tercapainya objective menjadi lebih besar. Dan sebagai leaderpun pekerjaan kita menjadi tidak terlalu berat. Karena bagian detail yang merupakan porsi besar dari pekerjaan itu sendiri, telah kita percayakan pada team kita. Dan mereka akan baik-baik saja.

Wow! Analogi yang sangat bagus. Saya pikir itu sebuah tips yang sangat berguna bagi siapapun yang memegang posisi sebagai leader. Sungguh beruntung saya berada di situ dan jadi ikut mendengar dengan tanpa sengaja (nguping maksudnya πŸ˜€).

Selain itu, memanah juga mengajarkan ketahanan dan spirit yang bagus. Menurutnya lagi, diantara bala tentara kerajan jaman dulu, para pemanah adalah yang dianggap sebagai armada yang paling berbahaya. Karena mereka sangat tangguh dan memiliki mental baja. Itulah sebabnya pula, mengapa jika seseorang ingin menaklukan sebuah kerajaan lain maka armada pemanahnyalah yang dibabat habis untuk memastikan pemberontakan bisa diredam.

Hmm.. obrolan yang sungguh menarik. Terimakasih sharingnya Pak Heidar.

Advertisements

Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Standard
Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Suatu kali saya menghadiri sebuah acara yang diadakan di sebuah Cafe di kawasan Tebet, Jakarta. Di acara itu, selain saya ada beberapa orang rekan kerja dan juga teman teman dari agency periklanan yang datang.

Acara itu cukup panjang dan tanpa terasa malampun tiba. Sementara bergantian mengisi acara dan mensupervisi kegiatan itu, sayapun memesan dan menghabiskan makan malam saya.

Kebiasaan saya jika makan, adalah saya melepas kacamata. Atau saya tenggerkan di atas kepala. Alasannya karena lebih nyaman, dan sebetulnya saya hanya perlu melihat makanan yang jaraknya dekat saja dengan mata saya. Sebagai akibatnya, saya tak begitu jelas jika melihat benda atau object yang letaknya agak jauh.

Seusai makan, masih tetap dengan kacamata di atas kepala saya lanjut bermain hape. Menengok Facebook, Instagram dan WA. Ada banyak chat baru masuk. Saya mulai membaca dan sibuk berkomentar dan membalas chat. Tiba tiba seorang pria berdiri di seberang meja dan mengulurkan tangannya ke saya. “Bu!” Katanya.

Saya yang dari tadi sibuk menenggelamkan diri di hape merasa agak kaget. “Oh, pelayan restaurant” pikir saya. Barangkali mau merapikan meja biar nggak berantakan oleh piring kotor.

Tanpa melihat ke wajah pemilik tangan itu, saya menyodorkan piring kotor saya agar dibawa pergi. Tangan itu tak tampak sigap menyambut piring kotor yang saya ulurkan.

Oops!!!. Saat itulah baru saya sadar bahwa ternyata pemilik tangan itu bukan pelayan restaurant melainkan Vicky, salah satu teman saya dari agency yang rupanya baru datang . Rupanya ia melihat saya, mendekat dan bermaksud menyalami.

Waduuuh… betapa malunya saya. Buru- buru saya minta maaf dan menjelaskan situasinya jika tadi saya tak begitu jelas melihat wajah orang, gegara kacamatanya tidak saya pakai. * sebenarnya alasan lain juga, barangkali saya terlalu tenggelam dalam sebuah chat WA πŸ˜€

Ah…ngggak apa apa kok Bu. Sudah biasa” kata Vicky cengar cengir yang membuat saya makin merasa nggak enak.

Kacamata!.

Bagi pemilik mata rabun seperti saya, kacamata adalah benda mujizat yang saya tak bisa hidup tanpanya. Sungguh!.Jika tak memakai, bumi terasa datar πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Jadi terpaksa harus saya pakai deh setiap saat. Mau di kantor, mau di dapur, mau di jalan dan di mana saja saya perlu kacamata.

Memakai kacamata sebenarnya melelahkan juga. Itulah sebabnya sebagian orang menggantinya dengan softlens atau sekalian dilasik saja biar mata kembali melihat dunia terang benderang. Tapi saya tak memilih 2 pilihan terakhir itu. Softlens dan Lasik. Mengapa? Saya tak bisa memakai softlens karena saya punya kecenderungan mengucek-ucek mata. Dan Lasik juga bukan pilihan saya mengingat biayanya yang tinggi. Jadi ya…lupakan sajalah.

Nah..jadi bertahanlah saya dengan kacamata saya hingga kini. Kalau lelah, biasanya saya angkat saja ke atas kepala sekalian untuk menahan rambut saya terurai ke depan. Jadi mirip bandana gitu.

Cara lain ya saya lepas sekalian dan letakkan di atas meja misalnya. Cuma jika tidak disiplin, kadang jadi merepotkan juga. Karena lebih sulit mencari kacamata dalam keadaan tanpa kacamata πŸ˜€

Rahasia Si Mbak, Bumbu Instant dan Peradaban Manusia.

Standard

Hingga remaja, saya bukanlah tukang masak yang handal. Setelah menikah, saya mulai belajar memasak, dengan tujuan agar suami dan anak-anak bisa makan dengan enak dan nyaman di rumah. Tetapi karena kesibukan dan keterbatasan waktu, belakangan tugas memasak di rumah lebih sering diambil alih oleh si Mbak yang membantu di rumah. Saya hanya sekali sekali saja ke dapur jika ada waktu.

Nah…saya mau cerita sedikit nih tentang urusan masak memasak.

Saya dan suami memiliki selera makan yang berbeda. Tapi sebagai istri, saya berusaha belajar memasak makanan kesukaan suami seperti sayur asem, sayur lodeh, pepes oncom, dsb, di luar upaya saya memperkenalkan juga masakan Bali seperti pelecing kangkung, sate lilit, ayam sisit, dsb di lidahnya. Di luar itu, anak-anak ternyata lebih menyukai masakan modern seperti European food atau Japanese food.

Sebenarnya tidak seruwet yang dibayangkan. Karena di luar itu ada juga jenis masakan yang kami semua menyukainya. Misalnya nasi goreng, bihun goreng, telor dadar, perkedel kentang dan sebagainya.

Jadi perbedaan selera makan itu tak menjadi halangan buat saya. Justru memicu saya untuk terus belajar banyak resep masakan, dan mengenal berbagai jenis bumbu seperti bawang merah putih, bombay, cabe, sereh, lengkuas, kunyit, limau, kencur, jahe, pala, ketumbar, lada, seledri, asem, jinten, kemiri, salam, terasi, kayu manis dan sebagainya serta takarannya, juga termasuk bumbu dapur lain seperti rosemary, parsley, sage, thyme, oregano, wansui, wasabi dan sebagainya. Jika perlu tanaman bumbu itu saya tanam di rumah.

Yang paling penting dari proses memasak adalah di tahap persiapan. Membersihkan bahan dan bumbu, memotong, mengulek dan mencampur. Karena jika tak tahu resep, atau takaran bumbunya kurang tepat, tentu rasa masakan akan jadi amburadul. Karena itu biasanya saya luangkan waktu lebih di stage persiapan ini. Menurut saya, memasak yang benar itu sungguh butuh waktu.

Nah…bagaimana jika tugas masak memasak ini dihibahkan kepada pembantu rumah tangga?.

Sejak tinggal di rumah yang saya tempati sekarang, banyak pembantu rumah tangga yang pernah tinggal silih berganti di sini. Dengan ragam kemampuan memasak yang berbeda. Ada yang berbakat memasak dari sononya, ada yang sudah berpengalaman masak dari tempat bekerja sebelumnya, ada yang belum bisa masak, ada yang sama sekali tidak berbakat memasak.

Pembantu rumah tangga terakhir yang bekerja di rumah saya termasuk pintar memasak. Masakannya tergolong enak dan mudah diterima di lidah. Jika saya ajarkan resep masakan baru, dengan cukup cepat ia bisa mengcopynya. Walaupun kadang-kadang kwalitas masakannya juga menurun jika ia telah melakukan berulang-ulang. Misalnya membuat klapper tart, aslinya empuk lama lama menjadi keras. Belakangan saya tahu, penurunan kwalitas itu disebabkan karena ia merubah komposisi bahan dan skipping satu langkah penting dari proses memasak itu dengan tujuan biar cepat selesai.

Tapi ada jenis jenis masakan tertentu yang ia bisa masak dengan cita rasa yang konsisten enak dari waktu ke waktu dan bisa ia hidangkan dalam waktu yang relative singkat juga. Misalnya ayam goreng, nasi goreng, soto ayam, sayur asem dan sebagainya. Untuk hal ini saya harus acungkan jempol lah ya. Karena kita perlu memuji seseorang jika memang pekerjaannya bagus.

Suatu hari apes nasib saya, si Mbak ini confirm bilang mau keluar setelah mengambil cuti beberapa hari. Dan ia meminta saya untuk mencari penggantinya. Ya sudahlah. Karena mencari pengganti juga tidak mudah, maka selama itu saya kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan makan malam keluarga di sela sela kesibukan kantor. Kadang kadang saya beli lauk juga kalau sudah kepepet atau kelelahan dari kantor.

Saat

memeriksa dapur saya menemukan beberapa bungkus bumbu instan. Ada yang masih utuh, ada yang sudah terpakai setengahnya. Ada bumbu ayam, bumbu soto ayam. … wah bumbu nasi goreng juga ada. Semuanya instant. Nggak perlu mikir-mikir berapa banyak tajaran bawang merahnya, bawang putihnya, atau jahenya.

Hmm…. saya mengamatinya. Jadi??????? Selama ini si Mbak yang pinter masak itu rupanya banyak menggunakan bumbu instant ya?. Jadi ini to rahasianya?. Mengapa ya saya tidak ngeh sama sekali. Kalau ke dapur, apa saja yang saya lihat ya? Kok saya belum pernah memperhatikan adanya bumbu-bumbu instant ini?. Pantesan saja rasa masakannya konsisten terus dari waktu ke waktu.

Sebenarnya sudah lama saya tahu tentang bumbu bumbu instant ini dari supermarket atau minimarket. Tapi selama ini saya tak pernah nelirik apalagi membeli. Karena saya lebih yakin akan kesehatan bahan bumbu yang segar, yang diulek sendiri apalagi yang dipetik sendiri dari kebun. Jadi jauh sekalilah pikiran saya untuk menggunakan bumbu bumbu instant ini di dapur saya.

Tapi sekarang?

Saya melihat ke kemasan-kemasan bumbu instant itu dengan hati yang galau.Rasanya sedang berada di persimpangan. Apakah saya perlu menggunakan bumbu bumbu instant ini untuk menolong hidup saya? Atau justru menolaknya karena saya tidak yakin akan dampak baik jangka panjangnya bagi kesehatan anak-anak saya.

Saya adalah wanita bekerja yang sesungguhnya tidak punya kemewahan waktu untuk berlama- lama mempersiapkan bumbu di dapur. Bukankah penemuan ini akan membantu saya untuk menyiapkan masakan dengan lebih cepat?. Jadi saya bisa lebih cepat di dapur & lebih cepat berangkat ke kantor.

Dan bumbu instant begini juga akan menolong para wanita yang tidak menguasai resep masakan jadi bisa memasak tanpa was-was suami akan suka rasanya atau tidak. Sudah tentu bumbu instant itu formulanya diracik oleh ahli masak. Jadi jangan takut tidak bisa memasak.

Tapi di satu sisi, begitu memikirkan ingredientnya, rasanya hati saya mulai mengkeret juga. Bumbu instant ini sudah pasti mengandung preservative. Jika tidak, bagaimana mengawetkannya ? Lalu apa ya dampak jangka panjangnya jika kita menelan preservative terus menerus dalam jangka waktu panjang? Juga mengandung penguat rasa, pwrasa sintetik, pengatur keasaman dan sebagainya. Tega kah saya menberikan ini dalam jangka waktu panjang untuk keluarga saya, untuk orang-orang yang saya cintai?.

Hal lain yang juga melintas di kepala saya tiba tiba adalah, bumbu instant ini nantinya akan sangat memanjakan wanita. Dengan adanya Bumbu instant ini, lama-lama mungkin juga membuat kita akan lupa pada resep resep masakan traditional. Karena tak perlu kita tahu lagi. Seseorang sudah meresepkan dan menyiapkannya. Cukup beli di supermarket dan tersaji eh dengan cepat di meja makan. Jadi untuk apa tahu resepnya?. Lama lama resep masakan akan punah dan hanya dikuasai oleh kaum industri saja.

Ini mirip dengan kalkulator yang membuat kecepatan otak kita berhitung melambat, melemah atau bahkan berhenti. Ketika kita sudah terlalu tergantung pada mesin hitung, kita tak mampu lagi bahkan menghitung tambah- kurang -kali -bagi dalam hitungan detik seperti dulu sering dilombakan oleh guru kita di sekolah dasar.

Hasil peradaban yang sangat jelas membantu manusia untuk menghadapi jaman, tetapi di sisi lain tanpa sadar juga menumpulkan kemampuan lain dari diri manusia.

Sungguh buah si malakama. Saya jadi mikir, jika suatu saat (bahkan sekarang) ketika manusia sudah sedemikian tergantungnya pada produk-produk hasil peradaban, dan tiba-tiba sebuah gangguan system membuatnya tak bisa dipakai lagi…. apakah manusia masih bisa exist? Ataukah species manusia akan jadi lumpuh dan punah pada akhirnya? Whua… pikiran yang kepanjangan.

* catatan siang bolong dari sudut dapur seorang ibu rumah tangga bekerja.

Bertemu Kiki, Penjaja Kue Keliling di Melia Walk.

Standard

Suatu malam saya pulang kemalaman dari kantor. Jadinya telat masak deh. Takut anak-anak kelaparan menunggu, sayapun mampir ke ruko Melia Walk di Graha Raya buat beli lauk. Mau dibungkus dan dibawa pulang saja. Praktis.

Saya memesan dan menunggu antrian. Karena agak lama, sambil menunggu sayapun berjalan-jalan di sekitar ruko itu untuk melihat-lihat barangkali ada cemilan lain yang bisa saya belikan buat anak-anak.

Saat berjalan, seorang anak kecil dengan ransel di punggung melintas tak jauh dari saya. Ia juga menenteng 3 box yang isinya kue. Sambil melangkah masuk ke dalam restirant sebelah, ia menawarkan kuenya kepada pengunjung restoran. Sayang tidak ada yang berminat tampaknya. Anak itu berjalan lagi. Saya memperhatikan langkah kaki kecilnya. Anak itu terlihat tetap optimis, walaupun ditolak.

Merasa iba, akhirnya saya memanggil. “Bawa kue apa, dek?” Tanya saya. Anak itu membuka dagangannya. Rupanya ada donut, dan kue bulat yang isinya coklat. “Berapa harganya?”. “Dua ribu Bu” jawabnya dengan riang. Saya pun memilih kue kue itu.

Saya beli delapan buah ya” kata saya. Anak itu tampak semangat memasukkan kue kue yang saya pilih ke dalam kantong plastik. Wajahnya yang gelap tampak riang penuh harapan.

Saya jadi teringat akan anak saya sendiri. Mengapa ya anak ini masih berkeliaran di luar rumah menawarkan dagangan, padahal malam sudah cukup larut begini?Saya pun jadi ingin tahu.

Anak itu bernama Kiki. Umurnya baru 10 tahun. Kelas 4 SD. Menurut ceritanya, ia sudah berdagang kue setiap malam sejak ia kelas 1 SD. Saya nerasa prihatin mendengarnya.

Lalu kapan belajarnya?” Tanya saya. “Sore, Bu. Sepulang sekolah” jawabnya dengan pasti. Tetap dengan nada riang dan optimist. Entah kenapa, saya merasa menyukai anak itu. Dan semakin penasaran.

Rupanya anak itu mengambil barang dagangan dari bibinya yang sehari-hari membuat kue. Untuk setiap buah kue yang terjual, ia diberikan bibinya Rp 1 000. Kiki bercerita bahwa ia biasanya membawa 4 box kue yang totalnya 60 buah. Rata-rata ia hanya mampu menjual 2 box atau sekitar 30 kue semalam. Jadi untung yang bisa ia dapatkan sehari sekitar Rp 30 000. Lumayan ya.

Semakin ingin tahu, sayapun bertanya lagi untuk apa ia gunakan uang keuntungan itu. “Buat mama belanja dapur. Saya juga kadang ngambil. Lima ribu atau sepuluh ribu kalau ada perlu” katanya dengan muka senang. Oh!. Kerongkongan saya terasa tercekat mendengarnya. Rasa sedih dan tak percaya mendengar ucapannya itu. “Mama saya di rumah saja. Tidak bekerja” katanya saat saya tanya apa pekerjaan mamanya.

Sejenak pikiran sedih melintas di kepala saya. Memang bapak anak ini ke mana ya? Apakah orang tua mereka berpisah?. Atau……?.

Bapak saya di rumah. Sedang tidak punya pekerjaan sekarang. Lagi nyari nyari, Bu. Tapi belum dapat” katanya seolah meralat pikiran saya. Saya tercengang dibuatnya. Anak ini sangat tulus. Tidak sedikitpun ia menyalahkan orangtuanya yang nganggur yang membuat ia terpaksa harus bekerja sampai malam untuk menanggung keluarga. Ia seolah paham, bahwa itu hanya nasib buruk yang sedang menimpa ayahnya, sehingga daripada hanya bisa menyalahkan ia lebih memilih untuk membantu memecahkan masalah.

Saya kasihan sama mama. Jadi saya bantu cari uang dengan jualan kue” katanya. Tak terasa air mata saya mengambang. Dada saya rasanya sesak. Kalimat anak itu sungguh menyentuh hati saya sebagai seorang ibu. Ingin rasanya saya memeluknya saat itu.

Saudaramu ada berapa?” Tanya saya lagi. Dia bercerita jika ia punya satu orang kakak laki yang sekolahnya SMA tapi sudah tidak sekolah lagi saat ini. Dan tiga orang lagi adik-adiknyang masih kecil. “Kakakmu juga berjualan kue?” Tanya saya. Ia menggeleng. “Tidak, Bu. Dia nanti mau bekerja. Sekarang lagi cari -cari pekerjaan”. Saya semakin sedih mendengarnya.

Jadi, nggak ada orang yang bekerja di rumahmu selain kamu?” Tanya saya semakin pilu. Anak sekecil ini harus berjuang seorang diri setiap malam untuk memastikan dapur keluarganya mengepul. Mengapa yang lain tidak ikut berjualan kue juga? Bathin saya meronta. Tapi tentu saja saya tak punya jawaban dan pemecahannya.

Pernahkah kamu merasa sedih? ” tanya saya. “Pernah Bu. Kalau dagangannya nggak laku” jawabnya dengan lirih. Oooh. Rasanya saya benar-benar ingin merangkulnya. Cerita anak ini sangat mengharukan, walaupun belum tentu ia merasa apa yang ia sampaikan semengharukan begitu.

Akhirnya saya usap-usap kepalanya. Saya sampaikan pendapat saya bahwa ia anak yang sangat baik dan berbakti pada orang tua. Sejak kecil sudah berusaha dan bekerja keras. Kelak ia akan terbiasa menghadapi persoalan hidup dengan mudah. Semoga besarnya akan menjadi orang yang sukses dan berhasil dalam hidup. Anak itu mengamini doa saya.

Sayapun membayar harga kue itu dan meninggalkan sedikit tambahan rejeki untuknya malam itu.

Ia sudah melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan di usianya untuk membantu keluarganya. Semoga kelak ia menjadi orang yang sukses dalam kehidupan.

Melia Walk malam itu memenuhi pikiran saya dengan cerita si Kiki. Kiki barangkali hanya salah satu dari anak di Jakarta ini yang harus berjuang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya yang sedang mengalami kesulitan untuk hidup. Entah berapa banyak lagi yang menjalani kehidupan serupa di luar sana.

Spirit of Wipro Run 2017 -Indonesia.

Standard

Musim berlari kembali tiba bagi para Wiproite di seluruh dunia. Di Indonesia, Spirit of Wipro Run kali ini mengambil tempat di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta dan di Salatiga. Di Jakarta sendiri dihadiri oleh kurang lebih 700 orang peserta.

.