Monthly Archives: June 2018

Ketupat Merang Sukabumi.

Standard

Ketupat! Secara umum identik dengan hari raya Idul Fitri. Walaupun di beberapa daerah di Indonesia, ketupat memiliki makna adat yang lain.

Kali ini saya cuma ingin menuliskan bagaimana orang di Sukabumi menyiapkan ketupatnya untuk hari raya Lebaran. Sedikit berbeda dengan kebiasaan membuat ketupat di kampung halaman saya di Bali. Karena itu saya ingin menuliskannya.

1. Pembuatan Kulit Ketupat (Cangkang)

Ini bisa dilakukan sendiri dari janur. Tapi jaman sekarang, hanya sedikit orang yang bisa dan punya waktu untuk membuat sendiri. Kebanyakan membeli kulit ketupat yang sudah jadi di pasar.

2. Menyiapkan Beras.

Beras dicuci bersih, ditiriskan lalu dicampur dengan sedikit garam dan air kapur sirih. Garam ditambahkan agar ada rasa dan berfungsi sebagai pengawet. Kapur berfungsi agar textur ketupat menjadi kenyal.

3. Memasukkan beras ke dalam kulit ketupat.

Kulit ketupat diisi dengan beras bersih yang sudah dicampur dengan garam dan air kapur. Setiap kulit ketupat diisi setengah lebih sedikit ( sekitar 60%) dari ruang ketupatvyang tersedia, untyk memastikan agar ketupat memiliki kepadatan yang tepat dan tidak mudah basi. Jika kurang dari 60% umumnya ketupat akan terlalu lembek dan mudah rusak. Sebaliknya jika lebih dari 60% ketupat akan menjadi terlalu padat dan keras texturnya sehingga kenikmatannya berkurang.

4. Merang.

Untuk mendapatkan ketupat dengan warna coklat yang menarik, maka ketupat direbus dengan air merang padi. Selain itu air merang padi juga memberikan aroma wangi khas pada ketupat.

Cara menyiapkannya, merang padi dibakar . Setelah dibungkus dengan kain kasa, lalu dimadukkan ke dalam air untuk merebus ketupat.

5. Merebus Ketupat.

Ketupat direbus sekitar 8 jam lamanya dengan api sedang. Baru diangkat dan digantung gantung agar airnya tiris dan ketupat kering.

Selamat menyambut hari raya Idul Fitri teman teman!. Mohon maaf lahir dan bathin.

Advertisements

S O L I T A I R E.

Standard

Solitaire! Sebagian besar pembaca seumuran saya tentu masih ingat games kartu ini. Games sederhana yang umum diawal awal kita mengenal gadget.Karena di jaman itu tak banyak ada games, sehingga yang saya mainkan ya games yang itu itu saja. Yang paling sering adalah Tetris dan Solitaire ini.

Tentu agak beda dengan games yang lebih complex yang umum dikenal anak anak jaman sekarang. Sehingga ketika anak saya melihat saya memainkan games ini ia ikut tertarik dan bertanya gimana cara mainnya?.

Saya tidak serta merta menjawab, karena hanya dengan melihatnya saja dengan mudah ia mengerti bagaimana cara memainkannya. Tetapi setelah ia pergi saya jadi mikir sendiri….

Bermain games ini sebenarnya mirip dengan nenjalani kehidupan. Kita bisa sukses memainkan games ini sebagian karena faktor keberuntungan, namun sebagian lagi tak lepas dari upaya kita memikirkan dan mengatur strategy untuk memenangkannya.

Ketika mesin mengocok kartu dan menempatkannya secara acak, kita hanya bisa pasrah menerima kartu kartu yang telah diatur acak untuk kita. Kadang kita beruntung mendapatkan kartu kartu yang berurutan sehingga dengan sendirinya games berakhir dengan cepat dan score yang tinggi untuk kita. Kita tidak bisa memilih kartu dan urutannya.

Ini serupa dengan hidup kita. Kita tidak bisa memilih siapa ibu bapak kita, saudara kita, sepupu kira dan keadaan ekonomi mereka saat kita dilahirkan. Mau nggak mau harus kita terima. Beruntung jika kita lahir di lingkungan keluarga bahagia, secara finansial oke dan mensupport perkembangan kita dengan baik. Secara umum, kemungkinan kita untuk meraih sukses peluangnya menjadi lebih besar. Sebaliknya jika kita terlahir di lingkungan keluarga miskin, serba kekurangan, tentunya effort kita untuk meraih sukses secara umum harus ditingkatkan.

Nah kembali lagi ke urusan games. Diluar kartu yang diacak dari sononya, sebenarnya masih ada celah celah yang bisa kita mainkan untuk meningkatkan peluang kita meraih sukses dalam permainan. Kita bisa menunda click pada suatu kartu atau memoercepatnya. Jika kita kelewatan atau kelupaan ngeclick sebuah kartu yang berpotensi berurutan nomernya, bisa jadi peluang kita untuk sukses jadi hilang. Atau bisa juga sebaliknya, ngeclick suatu kartu yang tepat bisa mengakibatkan kita berpeluang untuk menyocokkan nomer dengan kartu yang akan datang berikutnya.

Ini juga serupa dengan dalam kehidupan. Di luar faktor nasib tadi, seberapa besar usaha kita dan bagaimana upaya kita memecahkan permasalahan juga sangat menentukan sukses gagalnya kita.