Monthly Archives: March 2019

Tiga Cara Menikmati Avocado.

Standard

Saya lagi sangat doyan Avocado. Entah kenapa, rasanya kurang kenyang kalau belum makan Avocado. Selain dijus atau dijadikan campuran es buah, Avocado sangat enak buat teman makan dengan sayuran ataupun dengan telor dan sebagainya.

1/. Avocado dengan Telor Dadar, Tumis Selada Air dan Kol serta Singkong goreng.

Kombinasi makanan ini sungguh sangat enak. Telor saya pilih untuk memastikan asupan protein yang cukup untuk saya (selain saya memang doyan telor juga ha ha πŸ˜€πŸ˜€). Di sini saya memilih telor dadar. Karena kalau didadar, telor bisa ditambahin irisan bawang, cabe atau daun seledri. Lalu saya tambahkan dengan tumis kol dan selada air.

Nah… yang selada air ini saya sangat suka, karena menurut kepercayaan traditional, selada air sangat bagus dikonsumsi untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap normal.

Dan terakhir singkong goreng. Saya pikir saya harus sering sering makan singkong. Karena menurut berita, singkong bagus untuk mencegah pertumbuhan sel sel kanker. Jadi ini judulnya makanan sehat.

2/. Avocado Shrimp.

Nah ini makanan sungguh favorit saya. Gabungan rasa Avocado yang lembut dan enak berpadu dengan rasa udang yang kenyal dan bernuansa laut sungguh maknyus. Saya tambahkan dengan salad dressing Thousand Island (beli jadi dalam botoh nih ) dan sedikit taburan daun Oregano kering. Mantap dah.

Pertama kali saya makan Avocado Shrimp di sebuah restaurant di Sanur. Diajak dan dibayarin makan teman saya. Sumpah!. Enak bangeeeet. Tapi mau nambah malu. Wong dibayarin orang lain. Waktu itu saya masih mahasiswa. Dan kantong saya terlalu kempes untuk makan di restaurant yang pembelinya kebanyakan bule-bule. Tapi sejak itu saya ingat rasanya.

Sekarang setelah saya bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya beberapa kali bikin sendiri dan makan Avocado dengan udang ini.

3/. Avocado Telor Panggang.

Nah ini… saya baru nyontek hari ini. Seorang teman mengupload Avocado panggang dengan Telor Ceplok di Facebook. Miih… kelihatannya enak. Jadi saya cobainlah.

Tapi dibanding telor ceplok, saya lebih suka telor dadar diaduk aduk dengan irisan bawang merah bawang putih dan cabe serta sedikit garam lalu dituangkan ke dalam mangkok avocado.

Lalu panggang sekitar 30 menit di suhu 280Β° C. Wah…. ternyata rasanya mantap banget. Nggak rugi nyontek.

Nah itulah teman teman, 3 cara yang asyik menikmati Avocado. Teman pembaca ada yang punya resep lain?. Silakan dishare.

Advertisements

Memilih Tanaman Dapur Hidup Buat Si Penyuka Salad?.

Standard

Salad, adalah sayuran segar bergizi yang sangat populer belakangan ini. Kebanyakan dimakan mentah, seperti kita memakan lalapan. Bedanya hanya didressingnya. Salad semakin populer ketika tubuh ramping dan sehat menjadi impian setiap orang.
Melihat saya sering memposting tanaman dapur hidup, seorang teman bertanya tanaman apa saja yang sebaiknya ditanam biar kebutuhan akan saladnya bisa dipenuhi setiap hari?.

Sebenarnya jawabannya sangat kondisional tergantung jenis sayuran yang disukai. Walaupun demikian saya akan coba menceritakan mix tanaman sayuran yang enak buat campuran salad. Menurut saya tapi lho…

Buat saya, untuk membuat salad setidaknya kita harus punya daun selada (lettuces). Jadi, tanaman pertama yang perlu kita pilih untuk ditanam adalah dari jenis selada. Selada ada banyak jenisnya. Ada yang hijau, ada yang keputihan, ada yang merah atau campuran darinya. Ada yang bulat seperti kol, ada yang berdaun lonjong mirip sawi. Ada yang keriting, ada yang bergerigi. Semuanya enak. Jadi pilihlah jenis selada yang kita sukai. Kita juga bisa mencampurkan beberapa jenis daun selada sekaligus.

Lalu berikutnya kita pilih tanaman pelengkap salad. Misalnya Mint, Basil, Kemangi, kol, seledri, parsley, rosemarry, dsb.

Daun daun tanaman ini memperkaya rasa dari selada yang kita buat. Daun mint memberikan rasa segar dan bersih di mulut. Sweet Basil memberikan rasa nyaman. Parsley dan Seledri ada sedikit rasa pengah tapi enak juga. Rosemerry memberi rasa hangat. Dan sebagainya. Jadi tidak rugi jika kita tanam di halaman.

Sayuran buah atau umbi, misalnya tomat, timun, wortel atau bawang bombai dan sebagainya juga merupakan pilihan menarik untuk ditanam.

Dengan menanam tanaman yangvsaya sebut di atas kita bisa membuat summer Salad hasil petik dari halaman kita sendiri.

Selamat Hari Nyepi!.

Standard

Seorang teman bertanya kepada saya, bagaimana cara orang Bali me”raya”kan Nyepi?. Kan katanya Nyepi ?. Terus gimana perayaannya?. Ada kue kue atau makanan enak nggak di rumahnya?. Saya tertawa.

Iya betul. Hari Nyepi sesuai dengan namanya memang tidak ada perayaan dalam artian pesta pora raya penuh acara, tidak ada makanan melimpah, pakaian baru dan suasana gemerlap, seperti hari raya pada umumnya. Apalagi kembang api. Sama sekali tidak ada. Yang ada hanya sepi. Kesunyian. Setiap orang berusaha menyepikan diri. Berusaha membawa pikirannya ke dalam dirinya masing -masing, sehingga yang ada hanyalah kesunyian. Sungguh tidak ada perayaan.

Walaupun tidak semua orang melakukannya dengan penuh, pada umumnya warga Bali melakukan Catur Brata Penyepian, yaitu melakukan tapa brata tidak melakukan 4 hal ini, sejak jam 6 pagi hingga jam 6 pagi keesokan harinya. Apa saja?

Pertama adalah Amati Geni, alias tidak menyalakan api maupun cahaya. Umumnya orang tidak masak, tidak menyalakan kompor. Tidak juga menyalakan lampu/ listrik di malam hari. Sehingga malam hari biasanya gelap gulita.

Kedua adalah Amati Karya, alias tidak bekerja. Orang orang beristirahat total. Tidak kerja kantoran, dan juga tidak msngerjakan pekerjaan lainnya. Tidak menyapu, tidak mengepel, tidak nemasak, tidak mencuci dan sebagainya.

Ketiga adalah Amati Lelungan, alias tidak bepergian. Orang orang umumnya tidak keluar rumah. Tidak berjalan kaki, tidak naik sepeda, motor, mobil dan sebagainya.

Keempat adalah Amati Lelanguan, alias tidak bersenang -senang. Misalnya tidak pesta pesta, tidak minum minuman keras, tidak menari nari dan sebagainya. Sebagian orang mungkin melakukan puasa penuh dari jam 6 pagi ke jam 6 pagi keesokan harinya. Sebagian mungkin melakukan puasa partial.

Karena tidak melakukan 4 hal yang disebut di atas, dengan sendirinya orang orang akan terarah untuk diam. Hening. Kosong.

Dan hal terbaik yang mungkin dilakukan orang saat terdiam adalah merenungkan diri. Entah mengingat ingat dan mengevaluasi diri, entah melakukan perjalanan pikiran ke dalam diri sendiri, memikirkan masa depan diri dan sebagainya. Dalam keheningan dan kesunyian, pemahaman tentang diri, sekitar dan semesta akan sangat mungkin tergali. Dan hanya dalam kekosongan, kita mungkin mengisi ulang kembali jiwa kita agar lebih baik lagi ke depannya.

Nah… karena hal ini lebih banyak merupakan sebuah ajakan ketimbang sebuah keharusan, dalam kenyataannya masyarakat melakukannya sedapat atau sekuat yang bisa dilakukan tanpa unsur pemaksaan. Jika sanggup ya lakukan, jika tidak yaaa sudah.

Misalnya jika kebetulan di rumah itu ada bayi atau anak kecil, dan sang ibu merasa butuh lampu untuk mengurus bayinya, atau anaknya sangat takut kegelapan. Maka mungkin saja di rumah itu tidak semua ruangan dimatikan lampunya. Mungkin ada sebuah ruangan yang dipakai bayi atau anak itu, listrik tetap dinyalakan seperti biasa. Tetapi untuk menghormati yang lain, ruangan itu ditutup rapat, jendela atau kisi kisi ditutup dengan koran atau kain agar cahaya tidak keluar.

Atau misalnya jika ada anggota keluarga yg sedang sakit, yang misalnya perlu makan makanan yang dimasak baru, maka keluarga itu mungkin masak untuk perawatan sang sakit.

Atau misalnya karena keadaan yang sangat mendesak sekali atau yang bersifat darurat, satu dua orang mungkin ada perlu keluar rumah tidak masalah dan tinggal melapor pada pecalang (petugas adat). Tentu diijinkan sepanjang jelas alasannya.

Fasilitas umum yang penting seperti Rumah Sakit umumnya tetap beraktifitas sebagai mana biasa.

Begitulah kurang lebih bagaimana orang Bali menyepi di hari raya Nyepi.

Selamat Nyepi teman teman !.

Ondel-Ondelku Ke Mana?.

Standard

Suatu malam sepulang kantor saya dan seorang teman memutuskan untuk makan di sebuah resto di Melia Walk. Kami parkir. Dari kejauhan saya melihat Ondel-ondel sedang beraksi di depan sebuah restaurant lain agak jauh di sana. Musik Betawi yang mengiringinya terdengar sayup-sayup. Saya hanya melirik sekilas karena jalanan agak gelap, lalu masuk ke dalam resto. Kami pun memesan makanan dan menunggu pesanan dihidangkan.

Tak seberapa lama saya mendengar suara musik Betawi semakin keras. Pertanda bahwa kelompok Ondel-Ondel yang tadi menari di kejauhan itu sekarang semakin mendekat. Benar saja. Terlihat seorang pemuda dari kelompok Ondel-ondel itu masuk ke dalam resto dan mengedarkan plastik untuk menampung sumbangan.

Saya berniat untuk menyumbang bagi pemain Ondel-Ondel ini. Alasannya karena saya adalah salah seorang pencinta Kesenian Tradisional Nusantara. Saya ingin melihat Ondel-ondel beraksi dan menari. Beberapa saat saya menunggu dan suara musik makin bertalu-talu. Tetapi Ondel-ondelnya tiada muncul. “Lho?! Kemana Ondel-ondelnya?” Tanya saya kepada pria peminta sumbangan. Pria itu kelihatan bingung. Matanya mencari-cari sang Ondel-ondel yang tak muncul muncul. Padahal suara musik sudah sedemikian kencang. Ditunggu-tunggu, ternyata Ondel-ondel tiada kunjung datang.

Saya melemparkan pandangan saya keluar. Astaga!!! Ternyata Ondel-ondelnya berjalan sendiri nun jauh di seberang sana!. Terpisah jarak lebih dari 300 meter dengan pemusiknya. Aduuuuh… ini mah judulnya nyaplir. Ondel-ondelnya kemana…, tukang musiknya ke mana🀣🀣🀣. Sungguh tidak sinkron sama sekali.

Melihat saya serius ingin melihat pertunjukan Ondel-ondel, pria itu tampak malu lalu menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya sambil tersenyum cengengesan. Mimiknya sangat lucu mirip topeng anonymous.

Ya sudahlah. Walau tak berhasil menonton pertunjukan Ondel-ondel, saya tetap mengulurkan sejumlah sumbangan juga. Pemain musik dan pengumpul sumbangan Ondel -ondel itupun pergi.

Tak berapa lama hidanganpun keluar. Saya mulai makan. Saat itu tiba tiba suara musik Jawa terdengar mendekat. Seorang pria dengan kostum traditional masuk dan memperagakan tariannya. Saya tidak tahu persis tari apa. Kelihatannya seperti tarian Ngremo – Jawa Timuran. Sang penari menari dengan lincah dan gemulai. Diiringi musik traditional yang walaupun sedikit mendayu tetapi tetap bertenaga. Mereka cuma berdua. Penari dan pemain musik. Kelihatan sangat harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Lalu sayapun merogoh sejumlah uang dan memberikan sumbangan seikhlas saya.

Seni Traditional Yang Kehilangan Panggung.

Melihat dua pertunjukan traditional ini berturut-turut, entah mengapa saya merasa cengeng. Sangat sedih. Memikirkan bahwa betapa Seni Traditional kita pada kenyataannya kini telah kehilangan panggung. Sementara generasi sekarang lebih menghargai seni asing, entah itu hip hop maupun k-pop lebih membuat mereka histeris dan bangga.

Tiada panggung yang bisa dan mau menampung mereka lagi. Hingga terpaksa menjadikan jalanan terbuka sebagai panggungnya. Para seniman traditional harus berjalan berkilo-kilo untuk mengais rejeki.

Pembinaan dan Apresiasi.

Selain itu, karena untuk menghidupi diri sendiri saja sudah sangat sulit, kelihatan sekali jika para seniman jalanan ini tidak ada yang membina. Tidak punya pembina. Mereka berjalan sendiri sendiri. Tidak ada yang mengarahkan. Tidak ada yang nengajarkan bagaimana berkesenian secara profesional. Sebagai contoh misalnya kedua kelompok kesenian yang baru saja saya tonton.

Bagaimana bisa dikatakan professional jika Ondel-ondelnya jalan sendiri dan menghilang jauuuh… sementara musiknya di sini dan meminta upah. Lha? Apanya yang harus dikasih upah, wong Ondel-ondelnya kabur?. Yang terjadi akhirnya masyarakat menyumbang karena rasa belas kasihan. Bukan karena mengapresiasi keindahan seninya. Dengan cara ini, baik seniman maupun masyarakat telah mendorong Seni Traditional ke dalam kegiatan “MENGEMIS lewat seni” , dan bukan “berkesenian” dengan baik.

Demikian juga jika kita perhatikan para pengamen di jalanan Jakarta. Mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan, tidak untuk menunjukkan kemampuannya berkarya seni, tetapi untuk mengemis. Karena baik sang seniman maupun masyarakat sama sama tidak menunggu sebuah lagu dinyanyikan dengan indah hingga selesai baru menerima upah sebagai bentuk apresiasi. Tetapi baru seperempat jalan, atau bahkan baru mulai sudah diburu buru selesai, diusir, atau cepat cepat dikasih uang agar segera pergi. Seniman diperlakukan tak bedanya dengan pengemis.

Apakah patra pengamen itu atau sang Ondel-ondel itu tahu apa artinya berkesenian secara pofessional?.

Syukurnya di beberapa daerah, seperti misalnya di Yogyakarta, Boyolali, dan sekitarnya para pengamen masih terlihat sangat profesional. Bermusik dan bernyanyi dengan tenang dan indah. Tidak tergiur uang atau terprovokasi untuk segera menghentikan musiknya oleh apa yang terjadi di sekitarnya. Uang hanya diterima di akhir pertunjukan sebagai apresiasi atas apa yang telah mereka persembahkan dengan indah. Nah…itu berkesenian dengan lebih profesional.

Saya berharap pemerintah terutama department terkait membina para seniman jalanan ini dengan lebih baik. Agar Kesenian traditional tetap mendapatkan tempat yang penting di hati masyarakat.

Nah…kalau untuk yang ini saya bisa berdoa dengan style-nya Neno Warisman πŸ˜€

Ya Tuhan, mohon bantu kami ikut melestarikan Kesenian Traditional kami. karena jika tidak, maka kami khawatir kesenian traditional kami ini akan semakin punah “.