Monthly Archives: July 2019

Rajapisuna. Fitnah dalam Pandangan Seorang Wanita Bali.

Standard

Beberapa hari terakhir ini, masyarakat Bali dihebohkan oleh pemberitaan tentang seorang wanita bernama Lisa Marlina yang mengatakan lewat account Twitternya @lisaboedi , kalau di Bali itu nggak ada pelecehan sexual, karena kalau dilecehkan ya senang-senang saja. Selain itu ia juga mengatakan kalau di Bali itu pelacur dan pelacurannya available di setiap jengkal.

Sontak kicauan wanita ini membuat para wanita Bali terkejut dan heran.

Wanita Bali senang-senang saja kalau dilecehkan?????

Pelacuran di setiap jengkal tanah Bali?????”.

Dari mana datanya?. Apakah Lisa sudah datang ke tanah Bali dan check faktanya di lapangan?. Dan menemukan bahwa statementnya itu mengandung kebenaran atau tidak?

Keterkejutan dan respon diberikan dari para netizen baik di Bali maupun dari luar Bali. Ujung-ujungnya Ni Luh Djelantik, seorang wanita designer sepatu asal Bali mengadukan kasus ini ke Kepolisian.

Sebagai seorang Wanita Bali, tentu saja saya sama heran dan terkejutnya dengan Wanita Bali yang lain, akan apa yang dikatakan oleh Lisa Marlina di dunia maya. Karena sebagai Wanita Bali yang tumbuh dan besar di Bali (walau sekarang sebagian besar saya tinggal di Jakarta dan hanya bolak balik saja pulang ke Bali), saya tidak setuju jika kami Wanita Bali disebut senang jika dilecehkan. Karena kenyataannya tidak.

Kemudian sebagai orang Bali, saya juga tidak setuju dengan pernyataan Lisa Marlina, jika di Bali ada sedemikian banyaknya pelacur dan pelacuran, saking banyaknya hingga setiap jengkal tanah Bali pun ada. Karena kenyataannya tidak. Dan saya ingin Lisa membuktikan kepada saya ucapannya itu.

Karena menurut saya apa yang dilakukan oleh Lisa Marlina ini termasuk dalam perbuatan fitnah besar, alias RAJAPISUNA dalam Bahasa Balinya.

Rajapisuna (Fitnah, Memfitnah) adalah memberikan sebuah pernyataan buruk tentang orang lain yang tidak terbukti kebenarannya.

Rajapisuna dan Sad Atatayi – Enam Bentuk Kejahatan Manusia.

Rajapisuna ini dalam tatanan masyarakat Bali yang sebagian besar beragama Hindu dan sangat cinta akan kedamaian termasuk salah satu dari enam point SAD ATATAYI (Enam Bentuk Kejahatan, Sad= enam, Atatayi = Kejahatan), yang sangat dilarang untuk dilakukan.

Enam Kejahatan dalam Sad Atatayi itu adalah:

1/. Agnida – membakar, meledakkan, nge- bom milik orang lain.

2/. Wisada – meracuni orang dan mahluk lain.

3/. Atharwa – menggunakan ilmu hitam untuk menyerang /menyengsarakan orang lain.

4/. Sastraghna – mengamuk, membunuh orang dan mahluk lain.

5/. Dratikrama – melecehkan, memperkosa orang lain.

6/. Rajapisuna – memfitnah orang lain.

Sangat jelas, bahwa melakukan Rajapisuna merupakan salah satu kejahatan yang dianggap serius di Bali, karena termasuk di dalam daftar SAD ATATAYI.

Dalam kenyataannya, memang terjadi beberapa kasus pelanggaran dan tindakan kejahatan juga yang dilakukan oleh orang Bali, tetapi jumlahnya relatif sangat kecil dibandingkan dengan yang disiplin mengamalkan pelarangan Sad Atatayi ini. Saya rasa kita juga bisa melihat data di Kepolisian, berapa % yang dilakukan orang Bali dan berapa % yang dilakukan pendatang.

Sad Ripu – Enam Musuh Dalam Diri Manusia.

Nah, bagaimana seseorang bisa melakukan perbuatan jahat yang termasuk dalam daftar Sad Atatayi ini?. Sebatas apa yang saya pahami dalam agama Hindu, bahwa perbuatan ini terjadi jika kita kurang mampu mengendalikan musuh -musuh yang ada di dalam diri kita sendiri yang disebut dengan SAD RIPU yaitu:

1/. KAMA – nafsu

2/. LOBHA – loba, serakah.

3/. KRODHA – amarah

4/. MADA – mabuk, kegila-gilaan.

5/. MOHA – kebingungan, keangkuhan.

6/. MATSARYA – iri hati, dengki.

Orang Bali, tidak percaya bahwa jika ada orang yang berbuat buruk itu karena dipengaruhi setan (mahluk lain di luar dirinya). Tetapi yakin jika perbuatan jahat itu disebabkan oleh kemampuan diri orang itu sendiri yang rendah dalam menaklukkan sifat sifat buruk yang ada dalam dirinya itu sendiri (Sad Ripu). Jadi tidak menyalahkan Setan.

Nah dalam kasus Rajapisuna di atas, perbuatan memfitnah orang lain bisa terjadi karena kelemahan manusia dalam mengendalikan Sad Ripu, misalnya karena Krodha (Amarah) dalam dirinya, dan atau karena Matsarya (Irihati, dengki), atau mungkin juga karena Moha dan sebagainya.

Itu pandangan saya, sebagai salah seorang Bali tentang kasus Lisa Marlina ini.

Lalu bagaimana kita menanggapinya?.

Menurut saya, karena Ni Luh Djelantik, seorang Wanita Bali telah mengambil inisiatif melaporkannya ke pihak Kepolisian, ya biarkanlah pihak kepolisian yang memprosesnya hingga selesai. Walaupun akhirnya Lisa Marlina telah mengucapkan maaf (- tentu dimaafkan), dan mengaku itu mistypo, tetapi proses hukum tentu tetap berlanjut.

Selain proses hukum duniawi, ada juga Hukum Kharma- Phala yang berlaku. Setiap orang yang melakukan perbuatan (Kharma) baik maupun buruk, pasti akan mendapatkan buah dari perbuatannya itu dengan setimpal (Phala). Hukum Kharma-Phala itu berlaku untuk semua mahluk di seluruh alam semesta, tak peduli di manapun ia sembunyi.

Dan tentunya kita tak perlu ikut marah marah juga, karena jika kita marah, itu artinya Lisa Marlina telah berhasil dan sukses menggeret kita untuk kalah melawan Sad Ripu, yakni membiarkan Krodha (amarah), yang ada di dalam diri kita sendiri menjadi menguat dan menguasai diri kita.

Mari kita sikapi dengan tenang dan damai. Jangan biarkan Sad Atatayi orang lain ikut mencemari kebersihan hati dan pikiran kita. Jangan biarkan Rajapisuna, membuat kita tak mampu mengendalikan Krodha amarah dalam diri kita. Tetaplah tenang, damai dan terkendali.

Ragadi musuh meparo, ri ati ya tonggwaniya tan madoh ring awak….

(Musuh yang sesungguhnya itu ada di dalam diri kita, di hati tempatnya, tak jauh dari tubuh kita sendiri).

Mari kita berdamai dengan diri kita sendiri.

Om Shanti, Shanti, Shanti.

Semoga semua mahluk selalu merasakan damai di hati, damai di bumi dan damai seluruh alam semesta.

Advertisements

Oregano, Rempah Serba Guna.

Standard

Ketika mencicipi Italian Piza, kita selalu merasakan ada bumbu dengan aroma khas di dalamnya. Nah…itulah Oregano. Bumbu masak yang sangat umum digunakan di dapur-dapur Eropa dan Mediterania. Tanpa Oregano, rasa piza ataupun spaghetti yang kita buat terasa ada yang kurang.

Oleh karena itu, bagi yang suka mencoba- coba memasak berbagai jenis resep mancanegara di dapur, keberadaan oregano ini amatlah penting.

Sebenarnya cukup mudah mendapatkan Oregano kering di supermarket, tetapi saya tetap merasa memiliki pohon Oregano di halaman sendiri tetap merupakan pilihan yang terbaik buat saya. Karena, jika masak saya lebih menyukai bumbu ataupun bahan- bahan yang masih segar ketimbang yang sudah kering.

Apanya yang kita manfaatkan untuk bunbu?. Daunnya. Tapi saya dengar bubganya juga sama, bisa dipakai untuk bumbu. Rasanya pedas lemah sedikit pait.

Oregano (Origanum vulgare), adalah tanaman rempah yang masih berkerabat dengan pohon Mint. Tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan dapur, tetapi juga sebagai obat traditional.

Di Yunani sana, secara turun temurun, Oregano telah dikenal sebagai salah satu natural antiseptic. Umum digunakan untuk mengatasi jerawat ataupun mengurangi ketombe.

Selain itu saya juga menemukan penjelasan bahwa Oregano ini juga dimanfaatkan untuk mengatasi keluhan kesehatan lain seperti batuk, sakit saat haid, sakit perut dan sebagainya.

Bahkan sebuah informasi mengatakan bahwa Oregano mengandung anti cancer property. Waaah… berguna banget ya jika kita tanam di halaman kita.

Sarang Tawon & Fire Rescue.

Standard

Di halaman rumah saya ada sarang Tawon jenis Tabuhan Sirah (Bhs Bali), alias Tawon Endas (Bhs Jawa). Sarang tawon ini membesar dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan, sarangnya sudah seukuran kepala orang dewasa, dan tiga bulan berikutnya sudah seukuran karung beras. Astaga !!!

Sangat mengkhawatirkan. Mengingat di sebelah rumah saya adalah lapangan tempat anak-anak bermain bola. Dan sangat sering anak-anak masuk mengejar bolanya yang tertendang melenceng jatuh ke halaman rumah. Selain itu, yang namanya anak- anak, ada saja yang iseng dan jahil.

Pernah suatu kali saya melihat sebatang batu bata merah nangkring di atas dahan pinus. Besar kemungkinan, ada yang melakukan usaha menimpuk sarang tawon itu dengan batu bata.

Saya sempat mengutarakan permasalahan ini dan meminta ide dari teman teman di sekitar dan juga di Facebook bagaimana cara mengatasi tawon ini. Ada banyak masukan, mulai dari mengasapi, membakar sarang tawon ini di malam hari, meminta bantuan Damkar, ada juga yang membantu dengan doa, agar tawonnya kalem dan tidak menyerang anak-anak. Dan sebagainya.

Bantuan Penyelamatan Tak Berbayar.

Setelah bertanya ke sana kemari, akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kita Tangerang Selatan untuk menangani sarang tawon besar ini. Awalnya saya nggak begitu yakin, takut ribet. Tapi ternyata sangat mudah. Karena respon team Rescue TangSel ini sangat baik dan cepat.

Dan bagusnya lagi, bantuan penyelamatan ini ternyata tidak berbayar. Saya hanya diminta menyiapkan 3 kaleng insektisida dan lakban coklat, setelah saya mengirimkan foto foto sarang tawon itu dan nemperkirakan ketinggiannya dari permukaan tanah, yakni sekitar 6 meter.

Team Resque datang sore hari menjelang gelap. Tetapi sarang tawon tidak langsung dieksekusi, mengingat masih banyak anak-anak yang bermain dan berseliweran di bawahnya. Jadi kami menunggu hari gelap dulu.

Vespa Affinis Yang Mematikan.

Sambil menunggu, saya sempat berbincang dengan Pak Darius dari team Rescue. Tawon Endas atau Vespa affinis, adalah jenis tawon predator yang sangat agresif dan sengatannya berbisa. Dalam beberapa kasus bahkan ada yang menyerang manusia hingga meninggal. Saya merasa gentar memikirkannya.

Untungnya sangat mudah mengenalinya. Karena tawon ini ukurannya relatif cukup besar dengan warna hitam dan bagian pantat memiliki gelang berwarna kuning jingga

Pohon Pinus dan Kebakaran.

Dari perbincangan ini saya baru sadar bahwa tindakan saya memanggil team Pemadam Kebakaran dan Rescue ini sangatlah tepat.

Sebelumnya saya nyaris mengiyakan ketika ada orang mengajukan penawaran dengan membakar sarangnya di malam hari. Saya lupa kalau sarang tawon itu bergantung di pohon pinus yang menghasilkan getah resin yang sangat mudah sekali terbakar. Nah, kebayang nggak sih kebakaran yang mungkin terjadi jika saya mengiyakan orang itu membakar sarang tawon di pohon pinus?. Lebih parah lagi, di halaman yang sama, saya juga memiliki 3 pohon pinus lain yang sama besarnya tumbuh berdekatan. Whuaa…kebakaran besar bisa merembet kemana mana. Jika kebakaran sampai terjadi, ujung-ujungnya saya juga harus memanggil team Pemadam Kebakaran. Sami mawon. Jadi lebih baik panggil sebelum terjadi kebakaran.

Setelah hari gelap, operasi penurunan sarang tawon dilakukan. Petugas mulai menurunkan peralatannya dari mobil. Lampu lampu dimatikan. Dan petugas meminta penghuni rumah masuk ke dalam dan menutup pintu untuk menghindari amukan tawon. Akibatnya saya tidak bisa meliput dengan baik aktifitas ini 😥. Tapi baiklah, demi keselamatan diri.

Intinya, petugas yang sudah memakai pakaian pelindung memasang tangga di dahan pinus, lalu naik, nenyemprot sarang tawon dengan insektisida dan memasukkan sarang tawon itu ke dalam karung.

Sekarang halaman rumah saya sudah terbebas dari sarang Tawon Endas. Lega rasanya melihat anak anak bermain di lapangan tanpa khawatir disengat Tawon.

Terimakasih Team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan!!!.

Teamnya bagus, handal dan sigap 👏👏👏

O ya bagi yang ingin tahu nomer telpon Dinas Pemadam Kebajkaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan ini ya 0811900074.

Ondel-Ondel,

Standard

Jalur saya dari kantor ke rumah, adalah jalur perkampungan Betawi. Dengan demikian, saya menjadi beruntung karena hampir setiap malam sepulang kerja ada saja Ondel-Ondel yang saya lihat melintas di jalur itu.

Malam kemarin juga. Saat hendak mengisi bensin, saya lihat ada Ondel-Ondel sedang menari-nari di pomp bensin. Karena sangat dekat, saya berniat untuk menonton dan sekalian ngasih sumbangan. Sayapun turun dan mulai memotret sang Ondel-Ondel. Niat saya juga ingin merekam Ondel – Ondel ini. Walaupun gerakannya sederhana dan tanpa pakem, hanya maju, goyang ke kiri, goyang ke kanan atau beputar putar, tarian Ondel-Ondel ini cukup jenaka juga.

Baru saja sempat sekali menjepret sang Ondel-Ondel itu, seorang perempuan berlari sambil menunjukkan kaleng sambil memberi kode kepada saya agar saya segera memberi sumbangan uang.

Saya melihat ke arah perempuan itu dan berpikir, mungkin ini istri dari pria yang berada di balik Ondel Ondel itu. Dan ia setia ikut suaminya berjalan jauh untuk mencari nafkah.

“Ah!. Saya nggak mau ngasih uang sekarang, ntar kalau saya kasih uang pasti Ondel-Ondelnya langsung kabur, Mbak. Wong saya mau memvideokan Ondel Ondel ini” kata saya.

Si Mbak tertawa mendengar komentar saya. Lalu ia memanggil sang Ondel-Ondel dan menyuruhnya menari di dekat saya.

Waah… lumayan leluasa saya memotret dan memvideokannya. Karena sang Ondel Ondel sekarang mau menari dengan baik. Bukan menari ala kadarnya dan kabur.

Setelah cukup, lalu saya memberikan sumbangan kepada si Mbak. Dia tersenyum. Dan betul saja, begitu uangnya diterima, mereka langsung pergi. Berjalan lagi.

Saya tertawa. Nah inilah yang seharusnya disadari oleh teman teman seniman jalanan kita untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah.

Mengamen di jalanan, menurut saya adalah sebuah pilihan profesi juga. Akan tetapi, untuk meningkatkan minat orang menonton dan mengapresiasi serta membayar, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan:

1/. para seniman jalanan meningkatkan kwalitas pertunjukannya agar lebih baik dan menarik, misalnya dengan menciptakan gerakan baru, melatih gerakan dan lebih menyrimbangkan dengan musik yang dipilih.

2/. Melakukan pertunjukan dengan bersungguh sungguh hingga selesai, barulah meminta sumbangan/ bayaran dari masyarakat yang menonton. Jangan hanya menari ala kadarnya, lalu buru buru minta sumbangan dan segera kabur setelah uang diberi.

Ginkgo Biloba, Sang Fossil Hidup.

Standard

Sudah lama saya menyukai tanaman ini. Bukan saja karena bentuk daunnya yang sangat indah seperti kipas Jepang, tetapi juga karena khasiat luarbiasanya yang banyak diceritakan orang.

Nah saat saya berkunjung ke Jepang, tanaman ini saya lihat sangat banyak tumbuh, baik di tepi jalan, taman -taman ataupun kuil-kuil. Sangat senang melihatnya. Maka saya ceritakan perihal tanaman ini ke anak saya.

“Apakah pernah mendengar atau membaca tentang Ginkgo?. Ginkgo Biloba?” tanya saya. Sangat ajaib, ternyata anak saya tahu tentang tanaman ini. “Tahu!. Yang bagus untuk memperbaiki memory, kan?” tanyanya. “Betul!. Nah, ini dia tanamannya“, kata saya menunjuk sebatang pohon Ginkgo Biloba. Anak saya sangat bersemangat melihat lihat daun Ginkgo yang cantik dan hijau segar, seolah-olah pengen ngelalapnya segera.

Ginkgo Biloba, adalah satu satunya spesies hidup yang tersisa dari keluarga Ginkgophyta, yang sudah ada semenjak jaman Jurasic. Dalam dunia kesehatan. extract daun Ginkgo dipergunakan dalam menangani berbagai kondisi gangguan memori, cardiovascular ataupun gangguan penglihatan.

Ketika memasuki halaman Osaka Castle, di Osaka, saya juga menemukan beberapa batang Ginkgo Biloba yang sedang berbuah. Nah…kesempatan lagi untuk mengajak anak saya mengamati amati buah Ginkgo. Buahnya bulat lonjong berwarna hijau dengan biji tunggal di dalamnya.

Tombori River Walk Experience.

Standard

Hari berikutnya di Osaka, kami berniat mencoba tour sungai dengan arah yang berbeda dan lebih jauh dari yang pernah kami alami di Dotonburi. Nah, ketemulah paket wisata sungai “Tombori River Walk”. Karena kami memiliki Osaka Pass, maka kami datang ke tempat di mana kami bisa mendaftar. Tempatnya di pinggir sungai di dekat jembatan Nipponbashi.

Rupanya kami tiba terlalu pagi. Tempat mendaftar itu masih sangat sepi. Nyaris tak ada orang. Hanya keluarga kami saja. Tapi tempat ini indah sekali. Ada tempat duduk -duduk di situ.

Saya masuk ke sebuah warung kecil yang satu satunya buka pagi itu. Oh, rupanya kami bisa book ticket di sana. Diinformasikan bahwa perahu akan tiba pukul 11.00 . Kamipun menunggu sambil duduk duduk dan minum jus.

Pukul 11 benar saja perahu tiba. Kami akan menyusuri sungai menuju dermaga yang dekat dengan Osaka Castle.

Perjalananpun di mulai.

Saya memandang ke kiri dan ke kanan sungai. Banyak gedung gedung dan bangunan lain. Juga bunga bunga yang cantik.

Sungai di sini sangat bersih. tak ada satupun sampah mengambang. Kesadaran warga akan kebersihan sangatlah tinggi. Tak ada satu orangpun yang membuang sampah sembarangan.

Sesekali burung air bermain di tepian sungai.

Apa yang menarik dari perjalanan ini?. Selain pemandangan yang indah, saya memperhatikan jika pemerintahan di Osaka ini sungguh sangat efisien dalam soal tata ruang. Contohnya, memanfaatkan sungai untuk jalur wisata / transportasi sungai, dan diatasnya sekalian ditumpangi dengan jalan raya dan atau rel kereta. Sehingga sarana transportasi tidak banyak memakan space.

Hal bagus lainnya adalah adanya pintu pintu sungai.

Saat menyusuri sungai ini, perahu tiba tiba berhenti. Oooh… mengapa?. Rupanya ada sebuah rintangan di depan. Mirip tembok atau bangunan memanjang yang menutup sungai. Terpaksa kami parkir dulu beberapa menit, menunggj pintu air itu dibuka pelan-pelan. Barulah kapal yang kami tumpangi bisa lewat. Setelah kami lewat, pintu air itu menutup kembali.

Sebenarnya saya tidak tahu persis apa gunanya pintu air ini. Saya pikir mungkin ada hubungannya dengan pengaturan volume air. Tapi apapun itu, saya rasa bagus juga untuk membantu operasi pengawasan lalu lintas sungai. Misalnya nih, jika ada seorang penjahat kabur lewat sungai, maka pintu air ini bisa dimanfaatkan untuk nencegat perjalanan si penjahat (he he…ini mungkin efek kebanyakan menghayal 😀😀😀).

Kami terus berperahu hingga sampai di dermaga yang tak jauh dari stasiun Osaka-jokoen dekat Osaka Castle.

Hokoku Shrine di Osaka.

Standard

Di seberang pintu gerbang Osaka Castle, terdapat sebuah Shrine yang menarik hati saya. Kelihatan sangat simple dan elegan. Rasanya mengundang saya untuk masuk.

Di tengah halaman terdapat patung seorang samurai dengan pedangnya. Rupanya itu adalah Toyotomi Hideyoshi.

Jadi Shrine atau tempat suci ini memang didedikasikan husus untuk Toyotomi Hideyoshi.

Ragam Bunga Pecah Seribu di Negeri Sakura.

Standard

Jepang, sangat terkenal dengan bunga Sakuranya. Saat musim bunga, berbondong- bondong tourist datang untuk menyaksikan keindahannya. Saat saya berkunjung, Sakura telah berhenti berbunga. Bunganya telah gugur dan sebagian menjadi buah cherry kecil kecil. Pertanyaannya, jika bunga Sakura telah gugur apakah tak ada bunga lain yang menarik lagi di Jepang?.

Jawabannya tentu banyak. Setidaknya ada 2 jenis bunga lagi yang sangat dominant di lanskap taman-taman di Jepang, yakni Azalea dan Hydrangea alias Bunga Pecah Seribu.

Di Indonesia kita bisa menemukan Kembang Pecah Seribu ini di berbagai area berudara dingin, seperti misalnya Malang, Puncak, Bedugul, Dieng dan sebagainya. Jenis yang umum di Indonesia adalah yang berwarna biru (paling banyak) , warna pink (jarang).

Nah, saat bermain ke Jepang, saya menemukan banyak sekali jenis jenis Bunga Pecah Seribu. Warnanya memang seputaran biru, pink dan putih, tetapi variantnya ternyata banyak sekali.

Ini adalah sebagian variant bunga Pecah Seribu dalam berbagai warna biru. Semuanya dalam gradasi warna biru. Tapi ada yang biru keputihan, biru kehijauan, ada yang biru keunguan, ada yang biru murni. Lalu ada yang binganya bergerombol, ada yang menyendiri, dan bahkan ada juga yang mempunyai putik dan benang sari terpisah. Orang Jepang mrnyebutnya dengan Hidrangea Pegunungan. Sungguh sangat cantik-cantik.

Ada juga yang berwarna pink. Dan berbagai varisnt warna pink. Sungguh cantik cantik. Pengen rasanya bawa ke Indonesia.

Dan yang baru saya lihat adalah variant yang berwarna putih. Inipun beragam juga. Ada yang benang sarinya benar benar putih, ada yang biru dan ada juga yang campuran.