Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali -Part II.

Standard

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya “Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Bagian II ini lebih membahas tentang ucapan Salam Umum yang tidak terikat dengan waktu ataupun sebuah kejadian, Ucapan buat sahabat atau kerabat yang sedang sakit atau kesusahan dan ucapan Bela Sungkawa jika ada sahabat atau kerabat yang meninggal dunia.

6/. Ucapan Salam saat Berjumpa

Saat berjumpa, kalimat salam pertama yang diucapkan oleh orang Bali adalah “Om Swasti Astu”. Ucapan ini adalah doa dari yang mengucapkan Salam agar orang yang diajak berbicara berada dalam keadaan baik, sehat dan bahagia. Karena kata Om adalah seruan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Swasti artinya dalam keadaan baik, dan Astu artinya Semoga.

Om Swasti Astu = Ya Tuhan, Semoga (orang yang saya ajak bicara ini) Engkau berikan dalam keadaan baik, sehat dan bahagia.

Ucapan Om Swasti Astu bisa dijawab dengan doa yang sama kembali, Om Swasti Astu. Bisa juga dijawab dengan Om Shanti Shanti Shanti. Shanti = damai.

Diucapkannya kata Shanti sebanyak 3 x adalah merepresentasikan doa pengucap agar kedamaian yang terjadi di 3 Strata mulai dari yang kecil hingga yang terbesar. Yaitu kedamaian di dalam Hati, kedamaian di Bumi dan kedamaian senantiasa di seluruh Alam Semesta.

Salam Om Swasti Astu juga umum digunakan sebagai pembuka pidato, rapat, tulisan. Dan sebagai penutup dari pidato, rapat ataupun tulisan juga diakhiri dengan Om Shanti Shanti Shanti.

Salam ini tidak mengenal waktu. Berlaku untuk kapan saja.

7/. Ucapan Buat Yang Sakit atau yang kena musibah.

Saat mendengar sahabat atau kerabat yang sakit, tentu saja yang kita ucapkan bukanlah selamat tetapi doa agar yang bersangkutan diberi kesembuhan. Jadi ucapannya adalah “Dumogi gelis kenak”. Semoga lekas sembuh. Atau “Dumogi gelis waras” Semoga lekas sehat.

Dan doa yang paling umum diucapkan adalah “Om Sarwa Wighna, Sarwa Klesa, Sarwa Lara Roga, Winasa ya Namah “. artinya “Ya Tuhan, kami mohon agar segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan Engkau binasakan ya Tuhan”.

Tetapi jika kita ingin mendoakan si sakit dalam bahasa atau agama/kepercayaan masing-masing juga tidak masalah. umumnya masyarakat Bali sangat terbuka untuk menerima doa orang lain sepanjang niatnya baik. Jadi tidak ada doa baik yang haram hukumnya, walaupun itu diucapkan oleh orang berbangsa/bersuku/beragama lain ataupun dalam bahasa/ agama lain. Sama saja.

Jika kita mendengar ada berita tentang sahabat atau kerabat yang mengalami musibah lain yang tidak terkait dengan kesehatan tubuh i.e kehilangan, kecurian dsb maka ucapan kita adalah “Dumogi polih kerahayuan”

8/. Ucapan Bela Sungkawa.

Orang Bali mengucapkan kalimat “Dumogi amor ring Acintya” saat mendengar teman atau kerabat meninggal dunia. Yang artinya “Semoga bisa menyatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa”.

Atau mengucapkan doa “Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu. Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha” yang artinya ” Ya Tuhan, semoga atna yang menunggal mencapai surga, lalu menyatu denganMu, mencapai keheningan tanpa suka duka. Ampunilah ia, semoga segalanya disempurnakan atas kemahakuasaanMu.

Ini berkaitan dengan keyakinan bahwa setiap mahluk hidup memiliki Atma (roh) yang merupakan percikan suci dari Tuhan Yang Maha Esa (Paramatma).

Atma ini terlahir ke dunia (dan mungkin berkali kali) untuk membersihkan perbuatan perbuatan buruknya hingga kembali benar-benar bersih dan mampu menyatu kembali denganNYA dan tak perlu dilahirkan kembali lagi.

Ketika mahluk hidup meninggal, maka Atmanya akan lepas meninggalkan tubuh kasarnya. Ia akan melalui proses pengadilan yang membuatnya ke naraka atas perbuatan buruknya atau ke surga atas perbuatan baiknya. Tapi Surga ataupun Neraka bukanlah terminal terakhir. Setelah menjalani masa “rewarding” di surga ataupun neraka, jika Atma / roh belum benar benar bersih dengan perbuatannya maka ia dikasih kesempatan untuk lahir kembali guna memperbaiki dosa dosanya itu hingga ia benar- benar bersih dan menyatu kembali dengan Tuhan. Jadi Tuhan adalah terminal terakhir. Bukan Surga.

Itulah sebabnya mengapa doanya bukan “semoga mendapat tempat di sisiNYA”, karena objectivenya adalah untuk menyatu denganNYA, bukan terpisah dan berada di tempat yang berbeda (di sisiNYA).

Comments are closed.