Daily Archives: March 13, 2020

Batun Teep Dan Tubuh Kita.

Standard
Batun Teep.

Waktu saya kecil, ada seorang nenek yang selalu berjualan Batun Teep di pojok lapangan kabupaten dekat rumah saya. Saya ingat akan rasanya yang sangat enak , gurih dan garing. Sayang sekali, belakangan ini sangat sulit menemukan cemilan Batun Teep ini lagi.

Batun Teep. Mungkin sebagian ada yang bingung dengan apa itu Batun Teep?. Nah, buat mereka yang belum tahu, saya ingin cerita sedikit. Batun Teep atau Biji Terap adalah salah satu camilan traditional yang terbuat dari biji-biji buah Teep yang disangrai atau digoreng. Rasanya memang sangat enak dan gurih.

Teep alias Terap, atau Tarap (Artocarpus odoratissimus) sendiri adalah tanaman sekeluarga dengan nangka, yang memiliki buah dengan biji jecil kecil dan banyak.

Sudah lama sekali saya tidak pernah melihat Batun Teep lagi. Mungkin sudah lebih dari 25 tahun. Iya. Memang selama itu. Tapi saya masih ingat banget rasanya yang gurih dan garing itu. Saking hobbynya makan Batun Teep, saya bisa menang jika ada lomba cepat-cepatan makan Batun Teep dengan kakak dan adik-adik saya.

Beberapa waktu lalu saat sedang lihat lihat Facebook saya menemukan seseorang berdagang Batun Teep secara online. Alangkah girang hati saya. Wah…ini saatnya saya menikmati Batun Teep lagi. Harganya Rp 20 000 per bungkus yang isinya 250g. Tak tanggung-tanggung saya order 2 kg. Jarak jauh ini ya. Denpasar -Jakarta. Daripada ntar bolak-balik lagi belinya.

Sayapun mengorder. Kebetulan banget pedagangnya baik dan ramah.

Hari ini sepulang kerja saya menemukan kuriman Batun Teep sudah sampai di rumah. Tak sabar lagi, saya buka kemasannya dengan gunting. Kress!!!. Muncullah biji biji gurih yang disangrai coklat keemasan dan sedikit menghitam itu keluar. Sangat senang melihatnya. Nyam nyam 😋😋😋

Saya ambil sebiji dan saya gigit untuk mengupas kulitnya. Muncul bijinya yang bersih, coklat dan mengkilat. Saya kunyah.

Kruk kruk.. OUCHHHH!!!!!. Oh…..Gigi saya terasa sakit. Rasanya nyaris mau lepas. Ternyata biji Batun Teep ini agak keras. Saya periksa gigi saya hati-hati. Untunglah tidak terjadi gangguan yang serius. Biji ini hanya agak keras saja dibanding biji biji lain.

Ooh ya.. Barulah saya ingat jika biji atau Batun Teep ini dari dulu memang keras. Jadi bukan tiba tiba jafi keras. Tapi mengapa baru terasa?

Ha ha ha… ternyata umur memang tidak bisa dibohongi. Batun Teep dari dulu memang keras. Tapi karena gigi saya waktu kecil masih sangat kuat, kerasnya biji Teep bisa saya abaikan. Enteng saja mengunyahnya. Tidak terasa.

Tapi sekarang, dimana gigi geligi mulai merapuh, gusi juga mulai sensitif, ternyata mengunyah Batun Teep tidaklah semudah dahulu saat masih kecil.

Kejadian ini membuat saya jadi lebih memikirkan kesehatan saya.

Berjalannya waktu, membuat beberapa hal menjadi semakin meningkat dalam diri saya. Seperti misalnya pengalaman saya, intisari pelajaran hidup yang saya tangkap, itu semuanya semakin meningkat.

Tetapi di sisi lain, saya menyadari jika selain mengalami peningkatan, saya juga mengalami penurunan atau kemunduran dalam beberapa hal yang tak bisa saya hindarkan. Misalnya kekuatan anggota tubuh saya, ternyata tidak seperti dulu lagi. Ia melemah. Buktinya mengunyah Batun Teep sekarang jadi tidak semudah dulu lagi.

Ibaratnya jika dulu saya menggigit Batun Teep, maka Batun Teepnya lepas dari kulitnya dan bijinya hancur saya kunyah. Tapi jika sekarang saya menggigit Batun Teep, bisa jadi gigi saya yang lepas dan hancur 😀😀😀

Okey. Saya kembali memandang ke Batun Teep di dalam piring ini, seolah ia berkata kepada saya, ” Jangan sok merasa selalu muda!!!”. Ha ha ha.. iya iya.

Tentu saja saya tetap memakan Batun Teep ini satu per satu walaupun kali ini memang harus pelan pelan.

Sambal Matah Yang Tidak Matah.

Standard

Suatu siang sehabis meeting saya tiba-tiba menyadari jika kantin di kantor tutup, semua teman teman yang bawa kendaraan sudah berangkat makan siang. Jadi tidak ada yang bisa saya tebengi. Karenanya teman yang saya ajak meeting menawarkan order makanan lewat Gofood. Ok. Saya pikir itu pilihan praktis dan cepat, mengingat tepat jam 1 siang saya juga ada meeting lain.

Teman saya mengorder Nasi Ikan dengan Sambal Matah. Hah? Sambal Matah? . Hati saya penuh semangat ketika mendengar sambal matah.

Terbayang bawang merah yang diris-iris tipis menggunakan pisau super tajam, cabai muda yang hijau segar juga diris tipis tipis, lalu aroma jeruk limau berbaur dengan harumnya aroma minyak tandusan (minyak kelapa hasil olahan rumah tangga secara traditional) dan sedikit rasa garam dalam campuran sambal matah ini. Apalagi jika ditambahkan irisan Kecombrang. Waduuuh…mantap 😋😋😋

Walaupun secara umum Ikan yang digoreng- tepung bukanlah masakan favorit saya. Tetapi demi kangen dengan Sambal Matah saya order juga.

Beberapa saat kemudian setelah menunggu, pesananpun datang. Saya buka isinya. 1 Nasi, 1 ikan dori ditepungin dan 1 bungkus kecil sambal. Setelah saya buka isinya ternyata Sambal Mateng. Bukan Sambal Matah 😀😀😀.

Matah dalam Bahasa Bali artinya Mentah. Tidak digoreng. Tidak dimasak dengan cara apapun. Tetapi dibiarkan mentah. Jadi Sambal Matah = Sambal Mentah. Sambal mentah, selain rasanya enak dan khas, juga digunakan untuk mengatasi kembung perut dari irisan bawang yang sengaja dibiarkan mentah.

Jika sambel matah/mentah ini digoreng , namanya bukan lagi Sambal Matah, tetapi berubah menjadi Sambal Mateng atau lebih sering disebut dengan nama Sambal Bawang saja.

Atau jika bawangnya digoreng lebih kering lagi, disebut dengan nama Sambal Emba, karena sudah tidak mentah lagi.

Sebagai pembeli saya jadi kecewa. Mana Sambal Matahnya? Tidak ada. Padahal judul menu itu adalah Nasi Ikan Sambal Matah. Tapi yang cukup menghibur adalah Sambal yang diberikan adalah sambal mateng dengan irisan Daun Sereh, yang kalau di Bali disebut dengan Sambak Serai. Lumayan enak juga. Ada miripnya dengan Rasa Sambal Matah.

Kejadian ini mengingatkan saya akan berbagai jenis merk Mie Instant, Keripik Singkong, Keripik Kentang, Keripik Tempe. Kacang dan sebagainya yang beredar di pasaran yang mengklaim Sambal Matah di kemasannya.

Rasanya memang agak tidak mungkin, sebuah makanan dalam kemasan seperti itu memiliki Sambal Matah di dalamnya, mengingat sambal matah tak mungkin bertahan awet. Namanya juga mentah.

Tetapi ada beberapa yang mengklaim “Rasa Sambal Matah”. Ooh….jadi idenya mungkin mengambil rasa dari Sambal Matah itu saja, bukan benar-benar memiliki Sambal Mentah di dalam kemasannya. Boleh juga idenya.