Jerit Hati Seorang Ibu.

Standard
Induk bebek

Saya mendengarkan sebuah video pengumuman dari Menteri Luar negeri kita tentang kebijakan menutup lalu lintas masuk ke negara Indonesia. Saya mendengarkan dengan seksama ketika ibu mentri menyarankan warga yang sedang berada di luar agar segera pulang sebelum transportasi semakin memburuk. Tak terasa air mata saya menetes ke pipi.

Saya teringat akan anak saya yang sedang menempuh pendidikan di Ankara. Kampusnya sendiri sebenarnya sudah libur untuk 3 minggu lamanya. Dan Universitas juga sudah membatasi lalu lintas yang masuk ke kampus. Ia sendiri sudah melakukan self quarantine sejak itu. Sebenarnya sudah cukup baik usaha yang dilakukan.

Tetapi ketika saya melihat data lonjakan penderita Covid-19 di Turki secara tiba-tiba, hati saya mulai ketar ketir.

Jauh di dalam hati saya menginginkan anak saya pulang. Saya ingin ia ada di rumah dan berada dalam pantauan saya. Tetapi saya pikir-pikir lagi, jika saya minta dia pulang, mungkin resikonya malah lebih besar. Karena sekarang ia harus keluar dari karantinanya sendiri, berjalan menuju bandara yang mungkin berkontak dengan banyak orang, lalu duduk bersebelahan dengan entah siapa di pesawat, lalu harus transit lagi di bandara International lainnya. Aduuuh… panjang dan malah mungkin saja anak saya mendapat penularan dalam perjalanannya.

Akhirnya setelah diskusi, kami sepakat lebih baik ia jangan pulang dulu. Tetap di dormitorinya saja dulu hingga wabah berlalu. Saya berusaha tegar dengan kenyataan ini, walau hati saya menjerit. Ingin menangis rasanya. Yang bisa saya lakukan hanya memantau saja dan meminta agar ia disiplin mengupdate keadaannya. Saya menguatkan hati saya, ia pasti bisan dan terhibdar dari virus itu.

Hari ini, ketika saya membuka Face Book, seorang sahabat saya menulis status di timelinenya, tentang dirinya yang sedang bekerja dari rumah (sahabat saya ini adalah seorang dosen Fak. Kedokteran), tetapi kedua orang anaknya yang dokter tetap harus bekerja melayani para pasien Corona.

Walaupun tidak ada keluhan yang explisit dari statusnya itu, tetapi saya menangkap nada trenyuh dalam kalimat kalimatnya itu. Kepedihan, kekhawatiran yang dalam, walaupun bercampur kebanggaan karena anaknya mengabdi dan mempertaruhkan nyawanya untuk masyarakat. Sebuah kepahlawanan. Tetapi auranya tetap terlihat murung.

Saya membayangkan jika saya yang berada di posisinya. Mengikhlaskan anak kita berada di garda depan dalam oerang melawan Corona ini, di mana nyawa taruhannya. Air mata saya menetes memikirkan kedua anak teman saya itu. Saya mengenal mereka sejak masih kecil, hingga keduanya kini sudah menjadi dokter.

Para pelaku medis dan para medis adalah mereka yang berada di garda depan. Mereka yang berjuang dan bekerja keras untuk kesembuhan masyarakat dari Corona. Saya pikir, cobaan yang dihadapi teman saya ini lebih berat dari cobaan yang saya hadapi. Jadi harusnya saya tak perlu secengeng itu.

Ini saatnya kita bersama-sama memberantas Corona. Cengeng tidak memecahkan masalah. Dibutuhkan keberanian, ketegaran dan keikhlasan. Oleh karenanya mari kita lakukan apapun yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk memberantas penyakit virus ini. Di manapun posisi kita. Jika posisi kita sebagai masyarakat awam, berdiam dirilah di rumah, jauhilah tempat kerumunan. Jika posisi kita sebagai karyawan perusahaan yang memproduksi masker atau hand sanitiser., dimana bekerja dari rumah tidak memungkinkan, ya ikutilah peraturan perusahaan bekerja dengan ikhlas, tetapi berusaha terus menjaga diri. Jika kita berada di garda depan misalnya sebagai tenaga medis, sabar dan ikhlaslah – saat ini bangsa kita membutuhkanmu.

Sayapun teringat kepada kakak saya yang setiap hari bergelut dengan pasien gigi. Bermain dengan gusi dan gigi dan pastinya bersentuhan dengan air liur pasien. Siapa yang bisa menjamin bahwa diantara pasiennya itu sehat semua dan tidak ada yang terpapar virus Corona. Berdegup jantung saya. Betapa rawannya posisinya saat ini. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu melindunginya.

Semoga wabah virus Corona ini segera berlalu. Dan saya berdoa untuk kesehatan dan keselamatan para team medis yang sedang berjuang di garda depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s