Monthly Archives: April 2020

Nama Binatang Peliharaan Dalam Bahasa Bali. Part 2.

Standard

Sebelumnya saya sudah nenuliskan nama nama binatang (Ubuhan) dalam Bahasa Bali Part 1. Tetapi dalam tulisan itu hanya memuat 10 nama Binatang saja, yaitu Ayam, Anjing, Kucing, Bebek, Babi, Sapi, Kuda, Kerbau, Burung dan Kambing. Sementara jumlah bintang yang umum dipelihara manusia kebih dari 10.

Nah berikutnya adalah 10 nama bintang peliharaan lagi dalam Bahasa Bali.

1/. ANGSA / SOANG = ANGSA. Angsa dianggap sebagai binatang yang indah di Bali. Sering dianggap sebagai mahluk suci symbol dari ilmu pengetahuan.

2/. KIRIK/ KUIR = ENTHOK. Ini adalah sejenis bebek yang pendek dan lehernya pun rendah. Ketika berjalan pantatnya egal egol ke kiri dan ke kanan.

3/.KELINCI = KELINCI.

4/ PUUH = BURUNG PUYUH. Banyak ditemukan liar di ladang, tetapi banyak juga yang dipelihara/ diternakkan manusia.

5/. MARMUT = MARMUT.

6/.KAKUA = KURA KURA.

7/.KEKER = AYAM LIAR JANTAN.Yang betina disebut dengan Kiuh.

8/. LANDAK = LANDAK.

9/. SEMAL = TUPAI.

10/. OMANG – OMANG = KELOMANG

Resep Masakan : Tum Be Siap.

Standard

Tum Be Siap adalah bahasa Bali untuk pepes ayam. Di Bali, pepes yang dibungkus pipih disebut dengan Pesan. Sedangkan yang dibungkus segitiga disebut dengan Tum.

Mari kita bikin Tum Be Siap yang enak ala Bali.

Bahan bahanya: dada ayam, bawang putih, kencur, kunyit, cabe, bawang merah, asam, garam, daun salam, 1 telor ayam, daun pisang untuk membungkus.

Cara membuat:

1/. Cibcang dada ayam yang sudah dibersihkan.

2/. Ulek bumbu bawang merah, bawang putih, kencur, kunyit, asam, garam, cabai.

3/. Aduk cincangan daging ayam dengan bumbu ulek. Aduk aduk hingga rata.

4/. Masukan telor ayam, aduk aduk lagi hingga merata.

5/. Bungkus adonan ayam dalam daun pisang, yang sebelumnya sudah dialasi dengan daun salam.

6/. Kukus tum di atas nyala api sedang hibgga matang.

Tum siap dihidangkan.

Nama Buah- Buahan Dalam Bahasa Bali.

Standard

Seorang teman pernah bercerita “Diantara semua buah-buahan, aku ya paling doyan sama Gedang“.

Tampa pikir panjang, saya berkesimpulan bahwa teman saya itu sangat suka makan buah Pepaya. Penyebabnya karena template berpikir saya adalah Bahasa Bali. Dalam Bahasa Bali, Gedang adalah Pepaya. Begitu mendengar kata “Gedang”, otomatis yang muncul di kepala saya adalah gambar Pepaya.

Sementara yang dimaksudkan dengan Gedang oleh teman saya adalah “Pisang”. Karena Gedang dalsm Bahasa Jawa artinya Pisang .

Hingga akhir percakapan, barulah saya ngeh jika teman saya itu sedang membicarakan buah pisang 😀😀😀. Oh…indahnya Indonesia!! Bhineka Tunggal Ika.

Itu adalah salah satu contoh kejadian yang membuat saya tertarik untuk mendengarkan nama nama buah, sayuran, bumbu dan lain lainnya dalam berbagai Bahasa daerah di Indonesia.

Karena Bahasa Ibu saya adalah Bahasa Bali, maka saya akan sharing apa nama buah- buahan ini dalam Bahasa Bali

1/. Pisang = Biyu.

2/. Pepaya = Gedang.

3/. Jeruk = Juwuk.

4/. Jeruk Bali = Jerungka.

5/. Jeruk Keprok = Sumaga.

6/. Semangka = Sumangka.

7/. Apel = Apel.

8/. Melon = Melon.

9/. Duku = Ceroring

10/. Langsat = Langsep.

11/. Menteng = Kepundung

12/. Kecapi /Sentul = Sentul

13/. Salak = Salak.

14/ . Gowok = Kaliasem

15/. Kiwi = Kiwi

16/. Anggur = Anggur.

17/. Markisa = Anggur Bali.

18/. Kemang = Wani.

19/. Mangga = Poh

20/. Bacang/Ambacang = Pakel.

21/. Manggis = Manggis.

22/. Sawo = Sabo.

23/. Sawo Kecik = Sawi Kecik.

24/. Leci = Leci.

25/. Kelengkeng = Kelengjeng.

26/. Rambutan = Buluan.

27/. Durian = Duren.

28/. Nangka = Nangka.

29/. Timbul = Timbul.

30/. Terap = Teep.

31/. Sukun = Sukun.

32/ . Delima = Delima.

33/. Alpukat = Apokat.

34/. Belimbing = Belimbing.

35/. Nenas = Manas.

36/. Jambu = Nyambu.

37/. Jambu Biji = Sotong.

38/. Sirsak = Silik.

39/. Srikaya/Nona = Silik Badung.

40/. Bidara = Bekul.

41/. Kelapa = Nyuh.

42/. Kelapa Muda / Degan = Kuwud.

43/. Buah Naga = Buah Naga.

44/. Kepel = Kepel.

45/. Labu = Tabu.

46/. Labu Siam = Jepang.

47/. Buni = Boni.

48/. Jamblang /Duwet = Juwet

49/. Kweni = Poh Eni.

50/. Buah Kersen = Buah Singapur.

51/. Mundu = Mundu.

52/. Katulampa = Katilampa.

53/. Ara = Aa.

54/. Pear = Pir.

55/. Timun = Timun

Ada beberapa buah yang tidak umum/ tidak pernah saya lihat ada di Bali, misalnya Kesemek, Cempedak. Jadi saya tidak tahu apa Bahasa Balinya. Barangkali memang tidak ada.

Kwalitas Karbitan.

Standard

Saya membeli 2 sisir pisang Raja Sereh di pasar. Tampak sudah kuning. Harganya 15 ribu per sisir. Lebih murah dari biasanya. Karena situasi sedang wabah virus Corona, sayapun cepat cepat membayar tanpa menawar lagi dan langsung pergi.

Sampai di rumah, saya makan pisang itu. Ternyata isi pisang sangat kecil dan kurus. Rasanya agak sepet. Ooh.. sekarang saya sadar kemungkinan ini adalah pisang matang karbitan. Pisang yang masih muda, kecil dan hijau, sudah dipetik lalu diperam dengan menggunakan karbit (Calcium Carbida – CaC2) agar cepat matang.

Buah yang dikarbit, kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan optimal. Begitu dipotong, ukurannya tidak bertambah lagi. Ia tetap kecil. Rasanya masih bisa sedikit bertambah manis, namun sisa sisa rasa sepat terkadang belum hilang semua.

Beda dengan buah yang asli mateng bukan karbitan. Pisang ini akan tumbuh denganukuran dan rasa manis yang optimal. Namun sayang, matangnya biasanya tidak bersamaan. Tapi bertahap.

Sebaiknya jika membeli pisang, perhatikan keseluruhan pisang-pisang yang dipajang. Jika pisang dari satu tandan memiliki warna buah yang beragam, bagian atas kuning dan bagian bawah masih ijo, kemungkinan besar pisang itu matang alami.

Tapi jika keseluruhan buah di tandan itu kuning semua, ada dua kemungkinan. 1/.Buah memang matang alami, jika ukuran buahnya normal, seukuran dengan jenisnya. Misalnya jika pisang Raja Sereh, normal ukurannya memang besar. Tapi jika itu pisang Mas, ukurannya kecil.

2/. Bisa juga karena karbitan. Jika semua kuning tapi kecil kecil dibanding jenisnya, sudah tentu itu matang karbitan. Rasa manisnya juga tidak optimal.

Demikianlah adanya pisang kwalitas karbitan. Tampangnya matang tapi ukuran dan rasanya tidak optimal.

Dan kwalitas karbitan ini sesungguhnya tidak terjadi hanya pada pisang, tetapi juga pada jenis buah- buahan lainnya, termasuk kwalitas manusia. Tentu ada juga manusia yang memiliki kwalitas matang alami dan ada juga yang memiliki kwalitas karbitan. Jabatan tinggi, tetapi kwalitas pemikiran kurang strategis dan mengeksekusi pun kurang proffesional.

Mari berenung diri dan seemoga kita tidak termasuk dalam sumber daya manusia yang berkwalitas karbitan.

Pasar Dan Corona.

Standard

Ini cerita beberapa hari yang lalu. Setelah berdiam diri di rumah beberapa waktu, saya menyadari jika stock makanan dan buah buahan di rumah habis. Kali ini saya harus keluar rumah mengisi persediaan. Sebaiknya ke mana ya?.

Ke Pasar Lembang sajalah, yang dekat rumah. Tukang buahnya lebih banyak dan biasanya harganya juga sedikit lebih miring dibanding di Supermarket. Sekalian pengen tahu sesepi apa pasar hari ini setelah wabah virus Corona melanda. Saya pun berangkat.

Tapi melihat situasi di jalan, saya kok tidak merasakan ada “sense of stay at home” ya di sepanjang jalan setelah keluar dari gerbang perumahan menuju pasar ini. Lalu lintas sangat ramai, dan beberapa kali kendaraan harus berjalan lambat akibat kepadatan lalu lintas. Bukan kendaraan saja, orang yang berjalan kaki juga terlihat banyak. Saya heran. Bukankah pemerintah meminta kita untuk berdiam di rumah saja?.

Apakah memang ini sebuah kebetulan belaka?. Saat saya keluar rumah, kebetulan orang orang juga sama, sedang keluar rumah semua karena kehabisan stock ya?. Ataukah setiap harinya memang begini?. Walaupun pemerintah menghimbau agar tinggal di rumah, tetapi masyarakat tidak memperdulikannya?.

Sesampai di pasar, keramaian makin bertambah. Nyaris tidak ada bedanya dengan hari tanpa Corona. Tempat parkir nyaris penuh. Saya melihat dari balik kaca, seseorang yang baru saja memarkir motornya menghampiri si Tukang Parkir, lalu bersalaman dan …. astaga!!!!! Mereka saling berpelukan seolah sudah lama tidak bertemu. Sungguh. Di sini orang tidak mengenal kata “Social Distancing”. Tambah terheran heran lagi saya.

Demikian juga di tukang buah. Orang orang masih berjejal. Laki perempuan, tua muda, tak ada yang berusaha membuat jarak satu sama lain. Bahkan walaupun ada space yang cukup untuk berdiri terpisah, beberapa orang saya lihat tetap berdiri berdekatan.

Saya terburu buru membeli buah dan segera keluar dari keramaian ini. Sungguh saya kaget akan situasi ini, karena awalnya saya menyangka pasar akan sepi.

Di jalan saya merenung. Mengapa masyarakat di sekitar saya ini banyak yang tidak mengikuti anjuran pemerintah untuk “Diam di rumah”? Apakah mereka belum paham dengan betapa seriusnya wabah Corona ini? Sosialisasi pemerintah belum cukup? Ataukah memang mereka tahu, tapi kebutuhan hidup mendesak mereka tetap keluar. Istilah seorang teman “Gue lebih takut mati kelaperan ketimbang mati karena Corona”.

Semoga setelah Pembatasan Sosial Beerskala Besar (PSBB) efektif diberlakukan per tanggal 10 April, masyarakat bisa lebih berdisiplin dalam melakukannya. Setidaknya menggunakan masker setiap kali keluar rumah.

Semoga wabah Corona cepat berlalu dan kita semua sehat dan selamat.

Nama Binatang Peliharaan Dalam Bahasa Bali – Part 1.

Standard
Anjing Kintamani.

Ada 2 kata dalam Bahasa Bali yang merujuk pada Binatang/Hewan. Yaitu 1/. Ubuhan untuk hewan domestik. 2/ Buron untuk hewan non domestik (hewan liar).

Selain kata Ubuhan dan Buron, orang Bali memiliki kata “Gumatat-Gumitit” untuk kelompok binatang merayap , serangga dan binatang kecil lainnya.

Di tulisan ini saya hanya akan membahas nama Hewan Domestik alias Ubuhan saja dulu.

Hewan domestik adalah jenis jenis hewan yang merupakan peliharaan manusia, atau biasa hidup dan tinggal bersama manusia. Hewan Domestik dalam Bahasa Bali disebut dengan Ubuhan. Ubuhan berasal dari kata “Ubuh+ an”. Ubuh artinya dipelihara. Jadi Ubuhan = hewan peliharaan.

Apa saja yang termasuk ke dalam Ubuhan? Dan apa nama-nama Ubuhan itu dalam Bahasa Bali?. Yuk simak berikut ini:

1/. SIAP = AYAM.

Siap adalah nama umum untuk Ayam. Tetapi Ayam jantan (Siap Muani) dalam Bahasa Bali disebut dengan Penglumbah atau Manuk. Ayam Betina (Siap Luh) disebut dengan Pengina. Sementara anak ayam disebut dengan Pitik. Ayam hutan disebut dengan Keker.

Selain itu orang Bali memberi nama pada beberapa jenis ayam berdasarkan warnanya, berdasarkan bulunya, berdasarkan tajinya, dan ciri ciri fisik lainnya.

Berdasarkan warnanya, seperti misalnya: Siap Selem (Ayam hitam), Siap Biying (Ayam merah), Siap Buik (warna campur-campur), Siap Brumbun (warna campur merah, putih, hitam), Siap Kelau (warna abu abu).

Berdasarkan jenis bulunya, misalnya : Siap Sangkur (ayam jantan yang bulu ekornya pendek), Siap Srawah (ayam yang bulunya tebal) , Siap Grungsang (ayam yang pertumbuhan bulunya tidak rapi, ada yang mencuat ke atas, ke bawah, ke kiri. Ke kanan. Kelihatan seperti ayam berbulu keriting), Siap Godeg ( ayam yang kakinya tumbuh bulu), Olagan (ayam yang gundul /tidak ada bulunya).

2/. ANJING =CICING.

Cicing adalah nama umum untuk Anjing. Sedangkan anak Anjing disebut dengan Konyong.

Di beberapa daerah di Bali, selain disebut dengan Cicing, Anjing juga disebut dengan Kuluk. Sama artinya. Tetapi di bagian daerah yang lain terkadang Kuluk diartikan sebagai Anak Anjing. Sama dengan Konyong.

Cicing dan Kuluk adalah Bahasa kasar/bahasa umum, sedangkan bahasa Bali halus Anjing adalah Asu.

Cicing Belang Bungkem adalah sebutan untuk anjing yang bulu di sekitar moncongnya berbeda dengan warna bulu tubuhnya. Misalnya Anjing berwarna coklat tetapi di sekitar mulutnya berwarna hitam. Anjing ini sering digunakan sebagai hewan kurban.

3/. MIONG = KUCING.

Miong adalah nama umum untuk Kucing. Kucing jantan disebut Garong. Anak kucing di beberapa wilayah disebut dengan Tai. Tetapi karena namanya yang sama dengan kotoran (tai), kata ini jarang disebut orang. Cukup dengan “Panak Miong” (anak kucing) saja.

Ada lagi nama Salon-Salon untuk mengatakan kucing jantan yang super besar. Nama “Salon-Salon” jaman dulu digunakan oleh ibu-ibu untuk menakuti anaknya yang tidak mau tidur walau malan sudah larut. “Ayo segera tidur, ntar dikejar Salon-Salon”. Sang anakpun terpaksa tidur karena takut akan Salon-salon 😀😀😀.

Selain Miong, kucing juga disebut dengan Meng.

4/. BEBEK = BEBEK.

Sama dalam Bahasa Indobesia, Bebek juga disebut Bebek dalam Bahasa Bali. Anak Bebek disebut dengan Meri. Kalau jamak menjadi Memeri.

Ada beberapa jenis Bebek ysng istimewa di Bali, antara lain, Bebek Putih Jambul, yaitu bebek berwarna putih yang memiliki jambul di kepalanya, dianggap sebagai bebek yang indah dan bisa terbang cukup tinggi. Namanya disebut dalam nyanyian ” Bebeke putih jambul mekeber ngaja nganginang. Teked kaja kangin ditu ia tuwun mengindang”. Artinya bebek putih jambul terbang ke arah timur laut. Begitu tiba di timur laut. Bebekpun terbang turun berputar putar.

Bebek Kalung, yaitu bebek yang memiliki tanda lingkaran (biasanya putih/hitam) di lehernya. Bebek Kalung dianggap menghasilkan telor yang banyak.

5/. CELENG = BABI

Babi secara umum disebut dengan Celeng di Bali. Celeng adalah bahasa biasa/kasar, sedangkan bahasa halusnya adalah Bawi. Babi betina disebut dengan Bangkung. Babi jantan disebut dengan Kaung. Anak Babi disebut dengan Kucit.

Sementara, Babi Hutan disebut dengan Celeng Alasan.

6/ . SAMPI = SAPI.

Sampi adalah kata Bahasa Bali yang artinya Sapi. Kata Sampi berlaku untuk kedua jenis kelamin laki dan perempuan. Tetapi Sapi jantan yang sangat kokoh bodinya disebut dengan Jagiran. Anak sapi disebut dengan Godel.

Walaupun orang Bali yang mayoritas beragama Hindu tidak memakan daging Sapi, tetapi Sapi tetap dipelihara di kalangan masyarakat agraris untuk membantu mengolah sawah atau kebun.

7/. JARAN = KUDA.

Jaran adalah kata dalam Bahasa Bali untuk Kuda. Tidak ada nama khusus untuk jenis kelamin jantan atau betina. Tetapi untuk anak kuda, ada namanya yaitu Bedag.

Jaman dulu Jaran memiliki peranan penting dalam transportasi. Mengingat bahwa Jaran sekarang tidak banyak lagi dipelihara orang, maka banyak kaum muda di Bali yang tidak tahu lagi apa arti kata Bedag. Walaupun kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari hari.

Ah cai wak cenik sing nawang bedag!“. Artinya “kamu anak kecil nggak tahu apa itu bedag” , secara tidak langsung kalimat itu mengatakan bahwa lawan bicaranya tidak tahu apa apa. Karena ia tidak tahu apa arti kata Bedag. Sing nawang bedag = tidak tahu apa apa.

Ironisnya terkadang yang ngomong begitupun sebenarnya tidak tahu juga apa arti kata Bedag.

8/. KEBO = KERBAU.

Kebo adalah kerbau. Serupa dengan Sapi , orang memelihara kerbau untuk membantu mengolah tanah.

Saya belum pernah mendengar nama khusus untuk Kerbau jantan dan betina. Tapi anak Kerbau disebut Bedigal. Jika kerbau berwarna putih maka disebut dengan Misa.

9/. KEDIS =BURUNG.

Kedis adalah sebutan untuk segala jenis burung. Dan nama jenisnya tinggal mengikuti. Misalnya Kedis Dara = Burung Dara/Merpati, Kedis Perit = Burung Pipit. Kedis Guak = Burung Gagak, Kedis Celalongan = Burung Kepodang. Dan sebagainya. Bahasa halus untuk Kedis adalah Manuk.

Tidak ada nama khusus untuk jantan dan betina. Juga untuk anak burung biasanya hanta disebut dengan nama Panak Kedis saja atau beberapa orang nenyebutnya dengan nama Piyik atau Pitik. Sama dengan anak ayam.

10/. KAMBING = KAMBING.

Kambing tidak punya nama khusus dalam Bahasa Bali. Namanya ya Kambing saja. Kambing jantan dewasa disebut Bandot. Sedangkan anaknya Kambing bernama Wiwi.

Kata Bandot sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk mengibaratkan anak laki-laki yang sudah dewasa. Misalnya” Ah, suba kanti bandotan, tusing masi bani sirep pedidi“. Artinya” Ah, sudah dewasa (anak laki) begini, kok masih juga tidak berani tidur sendiri”.