Monthly Archives: September 2020

Membuat Masker Sendiri.

Standard

MAKE YOUR OWN MASK.

Masker buatan sendiri. Photo pribadi nimadesriandani.


Kain perca

Malam malam saya teringat punya sisa kain perca. Bekas prakarya anak saya. Bagaimana jika kita jadikan Masker?. Ada beberapa warna dan motif sebenarnya. Tapi saya ambil yg motif bulatan mirip Chakra ini.

Langkah pertama yang diambil adalah membuat potongan kain masker. Kain masker yang say pilih adalah yang bermotif chakra sesuai dengan selera saya. Bagaimana cara menentukan ukuran dan bentuk potongan?. Agar mudah, ambil saja ukurannya dari masker yang ada lalu tambahkan kurang lebih 1 cm untuk jarak jahit. Bisa dengan menempelkan masker yang ada lalu menggunting kain di sekeliling masker dg jarak plus min 1 cm di luarnya. Tapi jika masker yang kita miliki kurang sesuai bentuk atau ukurannya. Kita bisa melakukan penyesuaian.

Setelah mendapatkan potongan kain masker, kita perlu membuat potongan kain pelapis. Nah kain pelapis ini berguna untuk menambah daya saring masker terhadap udara ysng kita hirup. Usahakan membuat potongan yang sama antara bahan masker dan bahan pelapisnya.

Berikutnya kita mulai menjahit jelujur pada sisi masker. Tempelkan kedua sisi tengah kain masker yang kiri dan yang kanan lalu jahit pada bagian tengah. Jahit jelujur dua kali agar kuat. Jangan lupa, kita menjahit pada bagian buruk dari kain. Lakukan hal yang sama pada kain pelapis. Nah…sekarang kita punya bagian kain masker yang sudah diambung kiri kanan. Demikian juga kain pelapis masker yang sudah disambung.

Berikutnya. Kita menempelkan bagian dalam kain masker dengan kain pelapis. Lalu mulai jahit bagian atas bawahnya.

Setelah ke dua bagian kain masker dan kain lapis terjahit. Pasang karet elastis untuk pegangan telinga di ujung kain. Pasang dengan baik dan jahit berulang ulang agar kuat.

Sekarang balikkan kain. Sehingga terlihat sisi luar kain masker yang bagus. Tinggal memasang karet elastis di ujung yang satunya lagi. Jadi deh maskernya.

VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.

Standard

Seekor Capung datang ke halaman. Terbangnya sempoyongan mencari tempat istirahat. Mungkin ia terlalu lelah dan mengantuk. Hinggaplah ia di daun pohon pinus yang tinggi dan segera memejamkan matanya.

Sesaat kemudian angin bertiup kencang dan ranting serta daun pinus itu bergoyang hebat. Si Capung terbangun dengan kepala pusing “Hush!. Pergilahlah. Tempat ini terlalu tinggi untukmu” Usir si Pohon pinus.

Dengan sempoyongan Si Capung mencari tempat istirahat yang lebih rendah. Kali ini ia hinggap di bawah daun rumput teki. Begitu hinggap, daun yang lemah itu pun melengkung dan patah. Si Rumput Teki pun menangis “Tubuhmu terlalu berat bagi daunku untuk menyanggamu”.

Si Capungpun pergi dengan merasa bersalah. Terbangnya makin zig zag dan sempoyongan. Sungguh tak mampu lagi ia menahan kantuknya.


Melihat itu, Si Pohon Cabe memanggil “Wahai saudaraku, hinggaplah di rantingku. Beristirahatlah dengan baik”. Si Capungpun segera hinggap dan menggelayutkan tangannya di ranting pohon Cabe dan tidur dengan lelap. Si Pohon Cabe mengawasi dan menjaganya dengan penuh perhatian.


Setelah beristirahat dengan cukup, Si Capung pun bangun. Ia melihat ke sekeliling. Dan baru menyadari jika ia hinggap di ranting mati sebuah pohon Cabe yang sedang sekarat hampir mati karena kekeringan. Kemarau panjang membuatnya kekurangan air. Sebagian dari ranting pohon cabe itu sudah kering dan mati, termasuk ranting yang dihinggapinya.

Lalu bertanyalah ia kepada Pohon Cabe.
“Wahai pohon Cabe, mengapa engkau menawarkan bantuan untukku padahal dirimu sendiri sedang sekarat?”.


Pohon Cabe menjawab, ” Betul aku sedang sekarat, tetapi rantingku yg matipun masih cukup kuat menjadi tempatmu bergantung saat kelelahan. Dan memberikanmu ijin bergantung di rantingku tidak membuatku semakin sekarat. Karena engkau tidak mengambil apapun dari diriku”.


Si Capung merasa takjub dan sangat kagum akan kemurahan hati si Pohon Cabe.

Lalu ia bertanya lagi, “Tapi aku bukan siapa siapamu. Bukan sanak, bukan pula saudaramu. Bagaimana engkau mau begitu saja memberi pertolongan pada mahluk asing yang tidak engkau kenal sebelumnya?”.


“Secara fisik aku memang bukan siapa siapamu. Tetapi semua mahluk yang lahir, hidup dan mati di bumi yang sama ini adalah bersaudara. Kita makan dari tanah yang sama, kita minum dari air yang sama, kita bernafas dari udara yang sama, kita beraktifitas di bawah sinar matahari yang sama. Vasudhaiva Kutumbakam. Semua mahluk adalah bersaudara. Marilah saling menolong. Saling membantu dan saling mendoakan” kata Pohon Cabe. Si Capungpun berterimakasih lalu pamit terbang membubung ke udara.

Saya mengenang kalimat itu. VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.
Lalu mengambil bekas air minum saya yang belum habis, dan menyiramkannya ke pohon Cabe.


Pohon Cabe ini telah memberi saya banyak buah dan pelajaran. Saya berterimakasih padanya.

TAT TWAM ASI.

Standard

Seekor ngengat hinggap di tangkai bunga rumput. Bunga yang terdiri atas kelopak, mahkota dan benang sari yang kuning indah serta tangkai yang kuat.

Ia mengambil unsur kehidupan dari dalam tanah dan menyerapnya serta memprosesnya dalam tubuhnya. Dan setiap unsur ini terdiri atas atom yang super kecil , dan setiap atompun masih terdiri dari proton, elektron dan neutron, dan merekapun masih dipecah lagi menjadi partikel quark yg jika dilihat lebih jauh terdiri hanya atas energi yang bergetar terus menerus.

Si Ngengat berpikir, lalu apa bedanya dengan aku? Tubuhkupun terdiri atas sel yang tersusun dari unsur yang sama, atom yang sama, elektron, proton dan neutron yang sama, quark yang sama dan juga getaran energy yang sama.


“Tidak ada bedanya aku dengan dirimu wahai rumput yang berbunga”. Lalu dipeluklah tangkai bunga itu oleh Si Ngengat. Jika engkau bahagia, akupun ikut bahagia. Jika engkau sedih, akupun ikut sedih. Demikian juga jika engkau sehat dan sakit. Aku merasakan yang sama. Begitulah Si Ngengat merasa terhubung dengan Si Rumput.


Saya yang memandangi Si Ngengat dan Rerumputan, ikut merasa terhubung. Terhubung dengan segala mahluk yang hidup di padang rumput itu. Dengan burung burung, pepohonan, dan dengan orang orang yang berlalu lalang. Terhubung dengan seluruh isi kota ini, seluruh penghuni bumi dan alam semesta ini.

Apa bedanya diriku dengan dirimu?. Tidak ada.


Tat Twam Asi.
Aku adalah kamu. 🙏🙏🙏