Mengapa Saya Gendut?

Standard

Kapan hari ketika saya memposting kartu karyawan saya yang lama versus yang baru, beberapa saudara dan teman malah berkomentar kalau sekarang saya lebih kurus.

Astaga!. Saya baru ngeh ternyata di ke dua kartu karyawan itu, foto saya memang sangat berbeda dari tingkat ketebalan badan πŸ˜€. Yang baru, terlihat lebih tipis ketimbang di foto yang lama.

Karena seorang adik saya bertanya, mengapa sekarang saya lebih kurus, maka sayapun bercerita karena saya diet karbohidrat dan step stepnya, mengganti nasi dengan jagung, singkong, talas, dan sebagainya, juga aktif melakukan olahraga, mulai nge-gym, thai boxing, jalan pagi, hingga menggunakan sepeda statik.

O ya… saya lupa cerita jika saya juga sering minum air lemon panas atau air rebusan seledri setiap pagi. Ini yang membuat mengapa ketebalan badan saya jadi berkurang. Dan tak lupa saya bercerita bahwa penurunan ini saya raih setelah melalui usaha sekitar 16 bulan alias setahun 4 bulan.

Tapi tak seorangpun yang bertanya, mengapa saya GENDUT sebelumnya.

Mirip dengan mengapa seseorang bisa kurus, kegendutanpun tidak ada yang bisa diraih dalam semalam πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Ketika belum menikah, berat badan saya sangat sulit mencapai di atas 42 kg. Itu sedikit dibawah berat badan ideal yang harusnya 47kg, mengingat tinggi saya hanya 157 cm. Jadi saya kelihatan kurus.

Setelah menikah berat badan saya berangsur naik. Apa pasal?.

Karena sebelum menikah, saya mengikuti pola makan keluarga yang ditetapkan oleh ibu saya. “Makan nasi 2 x sehari, siang dan malam, dan banyak banyak”. Paginya saya sangat jarang makan nasi. Paling cuma minum teh. Atau paling ditambah pisang goreng.

Anehnya walaupun saya makan banyak banyak, saya nggak pernah gendut, hingga ibu saya pernah bercanda bilang ke saya “Kamu makan banyak banyak, tapi kok nggak gendut gendut???. Apa jangan jangan di kehidupan sebelumnya kamu pernah memirat milik orang (memirat = meminjam uang/barang dan tidak mengembalikan), sehingga yg punya nyumpahin kamu “Semoga apapun yg kamu makan, tidak memberikan sari bagi tubuhmu” ????πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€”.

Tentu saja ibu saya hanya bercanda. Kami orang Bali mempercayai hukum Karma Phala dan Reinkarnasi (kelahiran kembali). Orang akan lahir kembali berulang ulang sampai timbangan dosanya nol dan bisa jadi dalam kehidupannya sekarang ia menerima Pahala dari Karma yang dia buat sendiri di kehidupan- kehidupan sebelumnya.

Setelah menikah, saya terpapar oleh pola makan keluarga suami saya. “Makan nasi 3x sehari. Sedikit sedikit”.

Nah… sayapun beradaptasi dengan keluarga suami saya dong. Jadi pola makan saya yang baru menjadi “3x sehari dan banyak banyak” πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saya mengadopsi 3 x sehari dari keluarga suami, dan mempertahankan “banyak-banyak”nya dari keluarga saya sendiri πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Demikianlah, mengapa saya gendut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s