Menjadi Asing Di Negeri Sendiri.

Standard

Suatu siang, selepas sebuah acara saya bermaksud untuk memperbaiki laptop saya ke pusat komputer di Serpong. Entah kenapa laptop saya itu tiba-tiba tidak bisa connect ke Wifi yang ada. Saya coba periksa sendiri tidak ketemu masalahnya. Yang muncul hanya sebuah notifikasi bahwa ada issue di hardware. Wehhh…terpaksa deh ke tukang service.

Sambil melaju ke pertokoan saya baru ingat jika saya sedang menggunakan baju daerah karena baru pulang dari acara itu. Pakai kain dan kebaya. Waduuh… bagai mana ntar ya jika saya masuk ke mall dengan pakaian daerah begini?. Sudah kebayang nanti orang-orang mungkin akan melihat saya dengan tatapan aneh. Saya bermaksud pulang untuk mengganti pakaian saya dulu. Tapi kata Pak Supir yang mengantarkan saya jika kita pulang sebenarnya jadi muter dan lama. Sementara ini kita bisa cepat lurus ikut jalur tol bisa langsung ke BSD. Ya juga sih. Saya perlu cepat juga karena setelah dari tukang service komputer saya masih ada acara lain lagi.

Berkain, kebaya dan bersanggul, adalah salah satu cara bangsa Indonesia dalam berbusana. Sebenarnya sungguh sayang jika busana ini kemudian tersingkirkan dan hanya dipakai untuk acara acara tertentu saja. Busana sehari-hari digantikan dengan busana asing. Bahkan sebagian bangsa kita juga meninggalkan kain dan kebaya karena dianggap ketat dan mencetak bentuk tubuh. Aah… kalau yang ini menurut saya tentu tergantung dari pikiran ngeres orang itu saja.

Sebenarnya sangat mengenaskan nasib busana kita ini. Hanya gara-gara pikiran buruk segelintir orang, dibuat stigma dan akhirnya beramai-ramai meninggalkannya dan berpindah ke busana asing. Ia menjadi asing di negerinya sendiri.

Akhirnya saya memutuskan untuk tetap ke mall dengan berkain dan kebaya. Betul saya mungkin terlihat aneh di mata orang lain. Sejak saya turun, beberapa orang terlihat menoleh. Biarlah. Saya tidak peduli. Lalu di pintu masuk, saat Satpam mengukur temperatur saya, beberapa orang juga terlihat melirik. Demikian juga ketika saya melintas beberapa toko dan naik ke lantai tiga, beberapa SPG dan pengunjung tampak memperhatikan saya. Dengan tatapan aneh. Biarlah!.

Saya bangga akan busana saya. Saya cinta negeri saya ini. Walau saya tampak asing di negeri saya sendiri.

One response »

  1. Salut banget mbak Made berani berkebaya masuk mall untuk servis laptop. Kebaya itu adalah jati diri gaya berbusana wanita Indonesia bukan…? Saya bisa ngerasain yang mbak rasakan karena saya 20 tahun dari lahir tinggal di Jawa Timur. Jadi kalau selesai sembahyang purnama atau tilem atau bahkan sembahyang hari raya Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Saraswati lalu pulau dari pura mampir makan di depot bakso ya kami berkebaya aja hehehe. Kadang juga pernah kok, sampai bawa baju ganti segala di tas atau taruh di mobil supaya bisa leluasa ngemall selepas bersembahyang 😁. Orang pun ada yang ngeh, sampai mama saya ditanyain, “ibu orang Bali, ya?”

    Lantas mama saya jawab dengan mengiyakan dan balik heran kok bisa tau padahal udah nggak berkebaya (udah ganti baju). Ternyata masih ada bija dan bunga di kepala. Owalah pantesan aja orang ngeh ☺️.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s