MURID YANG TAK MENGERJAKAN PR.

Standard

Diantara sedemikian banyaknya orang yg berduka atas kepergian Pak Umbu Landu Paranggi, mungkin saya adalah salah satu yang sesungguhnya tidak memiliki kontak sangat intens dengan beliau, tetapi merasakan keterhubungan yang sangat kuat. Sehingga kepergian beliau, meninggalkan rasa kehilangan yang sangat mendalam pada diri saya.

Pertama kali saya mengenal beliau sekitar tahun 1985. Saat itu saya sedang senang-senangnya membaca puisi dan beberapa kali berinteraksi dg beliau berkaitan dg urusan baca-membaca puisi ini. Beliau banyak berkomentar positive dan mengapresiasi, serta menyemangati saya, yang membuat saya selalu merasa nyaman dengan dunia sastra, walaupun saya ini bukan siapa-siapa. Penyair bukan, penulis novelpun bukan. Hanya seorang penggemar dan penikmat tulisan-tulisan orang lain.

Puisi yg paling memberi kenangan pada Pak Umbu adalah puisinya Pak Taufiq Ismail yang berjudul “Beri Daku Sumba”. Saya membacanya berulang-ulang, tidak hanya saat di kamar, saat kerja di Lab, di Klinik Hewan, hingga saat di toiletpun saya juga membacanya. Sampai-sampai saat itu saya sangat hapal di luar kepala. Pernah saya ditanya, mengapa saya sangat menyukai puisi itu.

Karena puisi itu memberi saya inspirasi. Puisi itu membuat saya berangan-angan. Setelah lulus, saya akan bekerja sebagai Dokter Hewan di Pulau Sumba, tempat dari mana Pak Umbu berasal. Tempat dimana padang-padang terbuka dan matahari membusur api di atasnya – kata Pak Taufik.

Namun entah kenapa, setelah beneran saya lulus menjadi Dokter Hewan, cita-cita saya untuk ke Sumba itu malah buyar. Saya malah hijrah ke Jakarta, gara-gara cinta. Sementara, sebaliknya kakak saya Putu Sri Andari (beliau juga kenal Pak Umbu) yg tidak pernah bercita-cita ke Sumba, malah mendapat tugas di pulau itu sebagai dokter PTT. Dari sana ia memberi berita tentang langit yang super biru, padang-padang yang luas dengan bukit-bukit yang jauh, dan ternak yang banyak memenuhi bukit.

Pak Umbu juga mendorong saya agar rajin menulis dan mengirimkan karya-karya saya ke koran atau majalah. Menurut beliau jika tidak dikirim ke media, maka hanya kita yang tahu. Hanya sastra di dalam laci.

Ya, sebenarnya sesekali saya menulis, tapi tulisannya tak pernah saya kirimkan kemana-mana. Paling-paling hanya saya kirim dan untuk dimuat di majalah kampus saja.

Oh ya…pernah sih ikut lomba penulisan cerpen di Majalah Femina dan nggak menang 🤣🤣. Pernah sekali menang dalam lomba penulisan cerpen yg berthemakan “perempuan”, saya lupa penyelenggaranya siapa, saking sudah lamanya. Selebihnya tidak ada karya saya yg layak dibanggakan.

Saya pikir tentu Pak Umbu agak kecewa atas usaha saya yang ala kadarnya dan angin-anginan dalam belajar menulis. “Menulislah dan publikasikan. Jangan hanya sekedar menjadi pembaca”. Saya sangat ingat dengan nasihat beliau itu. Tetapi ya angan-angan tetaplah angan-angan. Saya sangat malas dan tidak produktif.

Saat itu, jika bertemu Pak Umbu, saya merasa seperti anak sekolahan yang takut bertemu Guru karena tidak mengerjakan PR. Walaupun beliau sebenarnya tidak pernah nge-push gimana-gimana juga sih. Jadi mungkin itu cuma perasaan saya saja.

Akhir tahun 1994, saya menikah dan meninggalkan Bali, pindah ke Jakarta serta mulai tenggelam dalam kesibukan ibukota. Tak banyak bergaul dengan dunia Sastra di Jakarta dan bahkan dengan teman-teman di Balipun saya kehilangan kontak. Hingga kemudian mulai ketemu satu per satu dengan teman-teman lagi berkat Media Sosial.

Lalu beberapa orang teman menyampaikan ke saya “Hai, dicariin Umbu tuh” atau “Heh. Dikasih salam sama Umbu”, atau “Pulang oi!!. Ditanyain Umbu”. Terus terang saya sangat senang dan terharu. Tidak menyangka, jika seorang Maha Guru spt beliau masih mengingat saya yg sungguh bukan siapa-siapa ini. Murid yang gagal.
Saya lalu mengenang-ngenang beliau. Sungguh seorang guru yang sangat baik dan rendah hati.

Bulan Nov 2014 beliau sempat masuk rumah sakit. Seorang teman menyampaikan ke saya. ” Sri, kamu ditanyain sama Umbu. Beliau ada di RS. Telpon dong”. Saya diminta menelpon oleh teman saya itu, sembari ia memberikan nomer telpon Ana putrinya. Akhirnya saya bisa berbicara dengan beliau lewat telpon saat itu. Sangat berharap beliau sehat kembali. Dan syukurlah, beliau sembuh seperti sediakala.

Di penghujung tahun tahun 2017, saya sedang transit di bandara di Singapore untuk urusan pekerjaan. Tiba-tiba ada panggilan Video Call masuk dari Gung Karmadanarta sahabat saya. Rupanya sedang persiapan sebuah acara di Taman Makam Pahlawan Penglipuran di Bangli, bersamaan dengan diterbitkannya buku “100% Merdeka” karya Satria Mahardika yg menceritakan kisah kepahlawanan Kapten TNI AAG Anom Mudita, serta pertempuran demi pertempuran yang dijalaninya. Lalu Gung Karmadanarta tiba-tiba bilang, “Mbok Ade, nggak pulang? Ditanyain Umbu”, sambil menyerahkan hapenya ke Pak Umbu. Ooh.. rupanya ada Pak Umbu di Bangli. Sedang bersama sahabat saya itu.

Ha… saya sangat senang. Akhirnya saya bisa ngobrol sambil bertatap muka dengan beliau walaupun lewat layar hp dan latar belakang suara pesawat yang sedang take off dan landing dengan bising. Kami bertukar khabar. Beliau menanyakan khabar saya, kegiatan saya dan tentunya apakah saya masih sering membaca puisi dan apakah sudah meluangkan waktu untuk menulis.

Saya mengaku apa adanya. Saya memang nenulis. Tapi di blog. Saya ngeblog. Bukan menulis puisi atau karya sastra yg benar dan grande. Saya hanya menulis tulisan receh, tulisan remeh-temeh tentang kejadian saya sehari-hari 😓😓😓.

Saya lihat beliau tidak terkejut. Tidak terlihat kekecewaan di raut wajahnya. Beliau tetap memberi saya semangat. Tetaplah menulis, apapun bentuk tulisannya.

Sungguh obrolan yang sangat mengharukan. Saya senang melihat beliau sehat dan tetap berenergy. Lalu saya berjanji, jika saya punya kesempatan pulang ke Bali, saya akan mengunjunginya.

Dan sedihnya, setelah itu mungkin saya ada sekitar 8 x pulang ke Bali, namun saya belum memenuhi janji saya untuk bertemu beliau. Hingga dini hari itu, saya membaca pesan dari seorang sahabat, beliau sudah pergi meninggalkan kita semua. Kembali saya menemukan diri saya sebagai si anak sekolah yang tidak mengerjakan PR 😭😭😭

Ketika teman-teman mengupload foto-foto bersama beliau, saya hanya memandanginya dengan bercucuran air mata. Tak satupun foto beliau atau foto dengan beliau yang saya miliki. Walau demikian, saya tetap menyimpan kenangan akan beliau di hati saya.

Selamat jalan Pak Umbu.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s