Kisah Si Belalang. Dikasih Hati Minta Jantung.

Standard

Kapan hari saya ada bercerita tentang 2 ekor belalang di halaman rumah saya. Saya membiarkannya tinggal di halaman, karena saya pikir ia cuma mengambil sebagian kecil saja dari tanaman sayuran saya. Memberikan sedikit bagian dari yang saya miliki, toh tidak akan membuat saya jatuh miskin juga.

Dan sayapun bukan termasuk ke dalam golongan mahluk yang merasa berderajat tinggi yang tidak mau memakan sisa mahluk lain. Saya tidaklah keberatan untuk memakan sayuran sisa hasil gerogotannya. Yang penting nanti dicuci bersih dan bebas kuman.

Jadi santai-santai saja ya. Relax.

Tapi siang ini, lagi iseng-iseng lihat tanaman sayuran yang hampir habis masanya, tiba-tiba saya melihat puluhan anak belalang menclok di pucuk-pucuk pohon bayam dan kangkung. Astaga!!!. Mereka asyik menggerogoti daun-daun sayuran. Jadi pada bolong dan rusak. Ada beberapa puluh ekor. Sehingga kerusakan tanaman sayuran itu pun mulai terasa. Karena ada 7 ekor merusak di sini, 5 ekor merusak di sana dan di sana, 3 ekor di sana, di sana dan di sini, ada juga yg cuma 2 ekor tapi di mana-mana. Banyaaak sekali.

Saya membayangkan beberapa hari ke depan, setelah puluhan anak-anak belalang ini membesar. Apa yg akan terjadi ?. Mungkin tak cukup sayuran tersedia dari tanaman yang saya tanam di pekarangan yang sempit ini.

Belalang yang tadinya cuma dua ekor, dikasih tinggal di kebun dan disediakan sumber makanan yang cukup, sekarang malah beranak pinak sedemikian banyak dan meninggalkan tanda-tanda kerusakan kebun yang semakin nyata. Belalang ini namanya “dikasih hati malah minta jantung”. Tak sanggup saya menanggung hidup puluhan belalang di kebun halaman saya yang sempit ini.

Kadang jika terlalu baik sama orang lain, bisa jadi masalah “dikasih hati minta jantung” seperti ini menimpa kita juga.

Misalnya nih ya, melihat orang lain kesusahan atau kesulitan keuangan, kita berusaha menyisihkan uang dengan mengirit-irit pengeluaran dan mengorbankan keperluan kita demi bisa membantunya. Sekali kita kasih. Dua kali kita kasih lagi. Lama-lama dia menyangka kita ini banyak duit dan dengan entengnya minta uang lagi untuk ini dan itu dan memberikan list keperluannya pada kita. Lah ?!

Padahal waktu kemarin anak kita minta dibelikan sepatu baru gara-gara jempolnya sudah mentok dan membuat lubang di ujung sepatunya masih kita suruh sabar dulu. Atau saat adik kita minta bantuan kekurangan buat bayar SPP anaknya, kita malah nyuruh sabar nunggu waktu gajian dulu.

Saya jadi merenung. Kembali melihat ke anak-anak belalang yang jumlahnya sangat banyak ini. Mungkin satu-satunya cara adalah memindahkan anak-anak belalang ini ke tanah kosong di belakang rumah. Di mana di sana ada banyak rumput liar yang tumbuh. Biarlah anak-anak belalang ini berusaha mencari penghidupannya sendiri.

Dengan cara ini, tidak saja saya membantu membuat kebun kecil saya tetap sehat, tetapi juga membuat anak-anak belalang itu terlatih mencari rejekinya sendiri.

Seperti orang tua jaman dulu bilang, “Merthane nak mesambeh, Ning.” , artinya sesungguhnya rejeki itu tersebar di mana-mana. Yang dibutuhkan hanya usaha dan kerja keras kita untuk mendapatkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s