Monthly Archives: July 2021

SEPATU BOOTS UNTUK TUKANG SAYUR.

Standard

Penampilan diri di depan publik adalah suatu hal yang penting bagi setiap orang. Ya, setidaknya kita perlu tampil rapi, bersih dan terawat, agar kita merasa nyaman dan orang lain yang bertemu kitapun ikut nyaman.

Berangkat dari sini, banyak orang kemudian melakukan usaha lebih untuk mengoptimalkan penampilannya seperti memakai make up, hair do, menggunakan parfum dan sebagainya. Lebih jauh lagi, menyesuaikan pakaian, tas dan sepatu sesuai dengan kondisi, trend masa kini dan menggunakan merk-merk terkenal untuk meningkatkan image dan prestise-nya.

Secara umum, saya sendiri tentunya serupa. Berupaya agar bisa tampil dengan baik di depan umum. Bersih dan terawat. Tetapi saya kadang rapi, kadang kurang rapi. Dibanding wanita lain, secara relatif saya memiliki ketertarikan yang kurang terhadap pakaian.

Saya jarang membeli pakaian. Apalagi tas dan sepatu. Kalaupun lemari pakaian saya kelihatan penuh, tetapi sebagian sudah tak bisa dipakai dan usang, karena semua itu adalah koleksi sejak puluhan tahun lalu. Saya jarang membuang atau menghibahkan pakaian saya. Karena setiap pakaian memiliki kenangan.

Daster atau pakaian lainnya jika robek, biasanya saya jahit dan pergunakan lagi. Demikian juga sepatu. Saya biasanya menggunakan sepatu untuk jangka waktu yang panjang. Hanya setelah benar-benar sobek atau butut, barulah saya membeli yang baru.

Suami saya menganggap saya bukanlah wanita yang modis atau berpenampilan keren. Karena itu kadang-kadang ia membantu saya membelikan baju-baju, tas dan sepatu. Tentu dengan maksud agar penampilan istrinya bisa lebih keren dan kece. Atau mengikhlaskan baju-baju kemejanya saya pakai jika perlu.

Bekakangan ini entah kenapa dia hobby banget membelikan saya barang-barang yang menurut dia adalah kebutuhan saya. Mungkin karena kemudahan memilih dengan belanja online.

Tiba-tiba saja dia membelikan saya dompet baru dan mengatakan dompet yang saya pakai sudah tua dan layak diganti. Emang sih umurnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Lalu ia membelikan saya tas, karena dilihatnya saya sering menggunakan ransel anak saya yang tidak terpakai untuk ke kantor. Terakhir ia merasa sepatu saya sudah usang dan itu-itu saja.

Ya sih. Saya suka menggunakan boots yang ringkas dan nyaman di kaki. Sudah saya pakai sejak 5 tahun yang lalu dan tak pernah saya ganti. Saya pakai ke kantor, ke mall, ke pasar, ke mana saja. Kecuali jika perlu banget berpakaian resmi, misalnya pakai kain kebaya, barulah saya ganti dengan high-heels.


Sesekali saya lap, bersihkan dan saya semir. Menurut saya sih masih layak banget dipakai. Karena bahannya kulit dan tidak ada kerusakan sama sekali. Jadi saya tidak merasakan urgensi dalam membeli sepatu baru.

Suami saya menunjukkan beberapa model sepatu boots yang dijual di toko-toko online. Barangkali ada yang saya sukai. Hm.. sebenarnya tidak ada yang cocok banget. Saya menggeleng.

Beberapa bulannya kemudian, dia menunjukkan kembali katalog sepatu boots di toko online. Kali ini modelnya cukup mirip dengan sepatu usang saya, tetapi kelihatannya agak ribet. Ada strap, tali dan restleting. Sedangkan sepatu usang saya cukup hanya restleting samping saja. Walaupun harganya cukup mahal, tapi ini lagi ada promo. Jadinya harganya miring. Setengah harga. Okey. Jadi saya setuju dengan pilihannya.

Akhirnya sepatu boots baru itupun datang. Saya mencobanya. Ya seperti diduga, modelnya mirip dengan sepatu yang sekarang tapi agak lebih ribet aja. Tapi saya pakai juga buat ke kantor.
Nggak ada teman saya yang ngeh jika sepatu saya baru 😂😂😂 . Sehari dua hari saya pakai, lama-lama saya jadi ingin memakai sepatu yang lama lagi. Apa pasal?


Saya punya kebiasaan buruk, jika duduk mengeluarkan kaki saya dari sepatu. Lalu memasukkannya lagi jika mau berjalan. Karena kaki saya mudah merasa kepanasan di dalam sepatu. Jadi perlu sepatu yang simple agar mudah memasukkan dan mengeluarkan kaki saya.


Nah…sepatu yang ini ribet banget. Sudah ada restletingnya, ada talinya juga dan ada strapnya lagi. Untuk mengeluarkan kaki, minimal saya harus membuka restleiting dan strapnya.


Lalu untuk memasukkannya pun sama. Minimal harus menutup restleting dan strap. Untung talinya tidak harus selalu dibuka dan diikat ulang.


Diam-diam sayapun mengganti sepatu itu dengan sepatu saya yang usang. Yang lebih nyaman di kaki saya.

Suami saya rupanya mengetahui ini dan kadang-kadang menanyakannya kepada saya. Sayapun kadang-kadang memakainya lagi jika ditegur suami saya. Tetapi berikutnya kembali lagi saya gunakan sepatu butut kesayangan saya itu.

Semalam, suami saya bertanya lagi. Mengapa sepatu pemberiannya tidak pernah saya pakai. Sayapun menjawab jika sepatunya sebenarnya kurang praktis. Kaki saya suka kepanasan dan ribet mengeluarkan-memasukkannya kembali.

Suami saya tersenyum mendengar alasan saya. Lalu ia berkata,

“Baiklah. Kalau begitu besok sepatunya kita kasih ke tukang sayur saja ya. Barangkali ia lebih memerlukannya”.

Saya tertawa dengan gurauan suami saya. Lalu saya menjawab,

“Sepatu Boots Untuk Tukang Sayur. Besok saya tulis di blog. Kelihatannya menarik ini” kata saya.
Sebenarnya ada rasa nggak enak.

Lalu suami saya menjawab dengan tersenyum,


” Tulislah! Agar kamu bisa menyadari dan menghargai pemberian orang lain. Betapa orang yang memberikan sesuatu kepada orang yang disayanginya itu dengan tulus, sesungguhnya ingin agar pemberiannya itu dipakai”.

Saya terdiam. Lalu diam-diam ke kamar mandi. Air mata saya bercucuran. Ooh.. alangkah jahatnya saya pada suami saya selama ini. Ia telah bersusah payah mengumpulkan setiap rupiah penghasilannya agar ada yg bisa dihadiahkannya kepada saya dan anak-anaknya dengan tulus. Tetapi saya kurang menghargai pemberian dan usahanya selama ini.

Semoga Tuhan mengampuni.

MEMAHAMI KEMURNIAN RASA.

Standard

Ini cerita soal kesehatan dikit ya.
Jadi setelah melihat berbagai parameter kesehatan saya yg buruk bulan lalu, (jangan tanya sakitnya apa, karena banyak dan complicated 😂😂😂 – syukurnya mendapatkan penanganan dokter dengan baik dan keluarga yg juga sangat supportive), lalu saya bertekad untuk membuat parameter kesehatan saya ini agar normal kembali. Setidaknya membaiklah.

Saya pikir ini adalah badan, badan saya sendiri. Orang lain bisa kasihan, bersimpati, atau berusaha membantu, tetapi jika kitanya sendiri tidak ada usaha untuk membetulkannya, yaah…sama aja dengan bohong ya. Jadi, saya adalah orang yang harus menyetir kesehatan diri saya sendiri.

Pertama saya menjaga diri agar tetap semangat. Orang bilang semangat itu sendiri sudah merupakan 50% dari proses penyembuhan 😀.

Lalu berbagai upaya saya lakukan, selain mengikuti pengobatan dari dokter dan berolah raga, saya juga mulai memaksa diri saya untuk cukup istirahat, tidak pulang malam-malam lagi dari kantor, kurangi begadang, mengatur pola makan, dan mengurangi level kegendutan saya.

Untuk pola makan, saya mengurangi asupan karbohidrat, mengurangi garam dan gula. Saya lebih banyak memakan sayuran rebus, tahu kukus, putih telur, daging ayam dsb. Sebenarnya apa saja saya makan, yg penting bukan yg berkarbohidrat tinggi, tidak manis dan tidak terlalu asin. Hambar?

Ya kebanyakan rasanya hambar. Terutama di awal-awal ya (kadang saya cocolin ke sambel juga biar lebih ada rasa). Barangkali karena lidah saya agak shock juga. Biasanya makan dengan rasa yang meriah, pedas, asam, manis, asin, kadang sedikit pahit, nah sekarang tiba-tiba berubah menjadi berkurang semua itu. Tidak ada lagi gegap gempitanya rasa di lidah. The party Is over!

Masih untung, saya punya semangat dan keinginan untuk sembuh. Walaupun kebanyakan hambar, saya lakoni saja dan terus lakoni dengan setia. Sehari berlalu, dua hari, 3 hari, seminggu dan seterusnya, hingga suatu hari saya menyadari, sesungguhnya makanan yang tadinya saya bilang hambar itu ternyata ada rasanya. Dan nikmat.

Saya bisa menikmati rasa itu dengan baik. Tahu yang lebih Tahu tanpa ada bumbu lain. Rasa Bayam yang lebih Bayam dalam kemurniannya. Rasa Brokoli dan segala macam rasa makanan lain dalam bentuknya sendiri yang selama ini terkamuflase di dalam polesan rasa asin, manis, pedas dan sebagainyabdari bahan lain.

Jadi hambar itu sesungguhnya bukan benar-benar hambar. Hanya karena ia tidak bisa dimasukkan ke dalam golongan panca rasa yang diklasifikasikan manusia, bukan berarti dia benar-benar hambar.

Betapa banyak sesungguhnya jenis rasa yang tercipta dalam semesta ini. Selama ini kita hanya mengklasifikasikan dengan sangat sederhana, Manis, Asin, Pedas, Pahit, Asam… dan kalau tidak tahu menggolongkannya, kita sebut saja Enak dan Tidak Enak. Padahal rasa itu jauh lebih banyak dari sekedar itu. Rasa Bayam berbeda dengan rasa Tauge. Berbeda dengan rasa Sawi. Berbeda dengan rasa Tahu. Dan seterusnya. Dan bahkan yang disebut dengan rasa asampun sebenarnya jenis asamnya berbeda-beda. Antara asamnya buah asam dengan buah jeruk berbeda. Dan diantara berjenis-jenis buah jerukpun berbeda-beda lagi.

Memakan makanan dalam rasa aslinya, membuat saya merasakan sel-sel lidah saya menemukan fungsinya dengan lebih baik. Ibarat melakukan meditasi ke dalam diri sendiri, melewati setiap sel perasa di lidah. Setiap sentuhan rasa di sel itu, memicu rasa syukur dan ketakjuban akan kebesaranNYA
Saya mulai mampu menikmati dan memahami setiap rasa. Memahami kemurnian.

Dalam waktu sebulan, beberapa parameter kesehatan saya mulai ada yang normal, dan sebagian lagi sudah mendekati normal. Astungkara Tinggal sedikit lagi dan saya harus terus berjuang.

Mudah-mudahan berikutnya semakin membaik.

KETIBAN CECAK.

Standard

Aduuh…tadi saya ketiban cecak jatuh” cerita Siti kepada saya. “Apa ya Bu kira-kira artinya?” Lanjutnya bertanya dengan wajah agak khawatir. Saya nggak langsung menjawab karena sedang mengunyah buah.

Awalnya saya mau bilang, cecak jatuh kan wajar-wajar saja. Diantara sekian ekor cecak yang merayap di dinding atau di langit-langit sesekali kan pasti ada yang terpeleset dan jatuh juga. Terutama saat berlari atau meloncat mencoba menangkap nyamuk atau serangga kecil lainnya.  Sesuatu yang sangat wajar dan tidak usah terlalu dipikirin.

Tetapi kemudian saya ingat, jika di Bali cecak dipercaya sebagai lambang ilmu pengetahuan. Lambang  berkah dari Sang Hyang Aji Saraswathi, sebutan Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai penguasa Ilmu Pengetahuan.  Jika ketiban cecak ya artinya akan beruntung mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Akan tambah pintar   atau akan mengetahui sesuatu yang bermanfaat untuk kebaikan diri sendiri, keluarga ataupun masyarakat.

Juga sebagai lambang kebenaran informasi. Misalnya jija seseorang sedang menceritakan sesuatu kepada orang lain yang belum jelas kebenarannya dan tiba-tiba seekor cecak berbunyi “cek cek cek cek”, maka seketika bunyi cecak itu meningkatkan level kepercayaan si pendengar akan kebenaran dari cerita itu. Jadi, cecak memiliki posisi yang cukup tinggi di Bali. Tidak ada hal mengkhawatirkan tentang cecak. Semuanya baik.

Sayapun menceritakan kepercayaan Orang Bali tentang cecak ini. Sayangnya Siti tetap murung, walaupun sudah saya ceritakan tentang hal baik ini.
“Tetapi kalau di Jawa, orang percaya kalau kejatuhan cecak itu alamat buruk, Bu. Akan ada musibah yang menimpa” katanya semakin murung.  Saya jadi tertegun mendengarnya. Ooh sedihnya.  Bagaimana cara saya menghibur Siti kalau begini ya?. Saya sendiri bukan orang Jawa yang memahami kebudayaan dan kebiasaannya dengan baik.

Mengapa berbeda banget ya antara kepercayaan masyarakat di Jawa dengan di Bali tentang cecak?. Padahal binatangnya ya cuma itu-itu saja. Sama -sama cecak. Bukan kadal. Bukan buaya.

Cecak, hanyalah seekor binatang kecil pemburu serangga yang bernama latyn Hemidactylus frenatus, masuk ke dalam family Gekkonidae, Ordo Squamata, Class Reptilia dan Phylum Chordata – demikian jika dilihat dari sudut pandang seorang ahli taksonomi hewan. Ia berubah menjadi sebuah lambang ilmu pengetahuan dan kebenaran jika dilihat dari sudut pandang saya yang lahir dan besar di Bali. Dan berubah sebagai pembawa tanda musibah jika dilihat dari sudut pandang Siti, yang lahir dari keturunan Jawa dan besar di Jawa. Weeehhhh… binatang yang sama, tapi bisa beda-beda ya.

Semakin saya mikirin tentang cecak yang memiliki sudut pandang dan kepercayaan yang berbeda-beda ini, semakin banyak saya menemukan hal-hal lain yang juga memiliki perbedaan persepsi dan image, antara di pulau Jawa dengan di pulau Bali.

Contohnya adalah Bunga Kamboja. Jika di Jakarta, Bunga Kamboja sangat erat kaitannya sebagai Bunga Kuburan. Karena pohon Kamboja banyak ditanam di kuburan. Bunga kesedihan. Dan dianggap seram. Siti pun yang besar di Jawa mengatakan sama. “Bunga yang membuat takut”, katanya.

Sedangkan di Bali, bunga Kamboja dianggap sebagai bunga kebahagiaan hati. Justru ditanam di rumah atau di tempat suci. Bukan di kuburan. Sehingga tidak heran jika kita ke Bali, kita bisa melihat banyak wanita Bali dengan riang gembira menyelipkan bunga Kamboja di telinganya atau untuk menghiasi rambutnya. Selain dipakai sebagai hiasan rambut, bunganya dipakai sembahyang, untuk menari dan juga untuk pengharum ruangan. Bunga yang penuh dengan hal-hal positive.

Contoh lain lagi adalah bunga Kenanga.  Saya sering mendengar teman-teman di Jakarta mengaitkan bunga Kenanga dengan hal-hal yang berbau mistis. Sedangkan di Bali, bunga ini dianggap sebagai perlambang wanita cantik yang bersikap baik sepanjang usianya. “Selayu-layu-layune miyik” -walau selayu/setua apapun tetap cantik dan harum namanya. Tidak ada kaitannya dengan dunia mistik sama sekali. Sedangkan di mata ahli parfum, bunga ini adalah penghasil ekstrak essential oils Cananga Odorata bahan pembuat parfum yang sangat mahal harganya.

Sebaliknya ada hal yang di Bali dihindari, di budaya lain dianggap biasa saja atau normal. Misalnya, orang Bali selalu menghindarkan menjemur pakaian tinggi-tinggi. Apalagi lewat di bawah jemuran. Itu benar-benar dianggap TABU.  Demikian juga meletakkan bantal di kaki, atau menginjak bantal. Itu sangat Tabu. Mengapa? Karena bantal adalah tempat meletakkan kepala. Dan kepala sendiri bagi orang Bali adalah sangat sakral sifatnya. Selain karena pusat pengendali pikiran ada di kepala, kepala dianggap sebagai hulu, dengan cakra Sahasrara di ubun-ubun yang memungkinkan keterhubungan dengan alam semesta dan Sang Maha Pencipta. Karenanya kepala dianggap sangat suci. Jangan sampai kesuluban jemuran. Apalagi jemuran pakaian dalam. BIG NO! NO!

Kalau kita gali, tentunya masih banyak lagi contoh-contoh lain dimana suatu hal/ benda bisa dipersepsikan positive di sekelompok masyarakat tertentu, tetapi dipersepsikan negative di kelompok masyarakat yang lain. Dan sebaliknya. (Tidak hanya terbatas di Jawa & Bali saja, tetapi juga mungkin suku dan bangsa lain yang berbeda). Lalu kelompok manakah yang lebih benar ?

Terus terang saya jadi tidak tahu jawabannya. Karena semua itu hanya kepercayaan saja. Kepercayaan lokal yang dibentuk barangkali oleh pengalaman, pengetahuan ataupun persepsi yang dibentuk oleh masyarakat lokal selama bertahun-tahun, puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun. Bisa jadi berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Kepercayaan. Namanya juga kepercayaan ya, hanya berlaku bagi orang-orang yang mempercayainya saja. Jika tidak percaya, ya otomatis itu bukan kepercayaan lagi namanya. Dan kita ini mahluk bebas merdeka. Boleh percaya boleh tidak. Believe it or not.

Perbedaan tidak harus membuat kita tercerai berai. Cukup kita tahu dan hormati kepercayaan orang lain.
Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangeruwa.

CERITA TEPI DANAU BATUR: KALIBUNGAH.

Standard
Kalibungah

Selagi ada di rumah Kakek di desa Songan minggu lalu, saya menyempatkan diri berjalan-jalan menyusuri tepian danau Batur. Suasana agak sepi. Udara pegunungan yang dingin membuat saya tidak merasa kepanasan, walau di bawah sinar matahari yang terik. Tetap nyaman-nyaman saja.

Mendekati vegetasi danau yang merimbun di tepian, tampak beberapa ekor Burung Bangau putih terbang dan hinggap di keramba. Oooh dunia yang damai.

Sementara dua orang pria tampak memancing dari tepian. Sayapun mendekat, menyapa dan ikut melihat-lihat hasil pancingannya. Wow. Beberapa ekor ikan Mujair yang cukup besar-besar juga. Ada kira-kira sebesar 2 x telapak tangan saya.

Usai mengobrol tentang ikan di danau, saya teringat pada Kalibungah. Jenis burung air, yang walaupun tidak bersifat endemik danau Batur saja, tetapi jaman saya kecil merupakan burung air yang sangat umum saya temukan disini. Sayapun bertanya kepada dua orang pemancing itu, apakah Kalibungah masih ada dan belum punah dari danau ini.

Tepat setelah saya bertanya itu, seekor Kalibungah menunjukkan dirinya di sela-sela tanaman Eceng gondok, seolah-olah paham jika saya sedang memanggil. Berenang-renang dengan riangnya sambil beberapa kali tampak menyelamkan kepalanya ke dalam air. Hati saya ikut senang bukan alang kepalang. Kalibungah ini masih tetap ada.
Sayang sekali, saya tidak sedang membawa kamera dengan lensa panjang agar bisa memotret dengan lebih dekat. Cuma kamera hape yang ala kadarnya.

Kalibungah alias Swamp Chicken (Galinula chlorophus) adalah burung air yang jika sedang berenang terlihat mirip bebek berwarna hitam, tetapi jika berjalan lebih mirip dengan ayam. Secara keseluruhan bulunya berwarna hitam kebiruan di bagian depan dan hitam kecoklatan di bagian belakang dengan sedikit bercak putih pada sayapnya. Paruhnya sendiri berwarna merah dengan sedikit ujung kuning.
Burung ini membuat sarang di rumpun talang -talang ataupun tanaman air lainnya.

Setelah beberapa saat, saya sadari ternyata populasi Kalibungah di area ini lumayan banyak juga. Ada beberapa ekor saya lihat berenang, bercanda dengan pasangannya dan ada juga yang sedang berjemur di bawah sinar matahari.

Berbagai dongeng tentang Kalibungah diceritakan sebelum tidur oleh nenek saya semasa kecil. Salah satunya adalah dongeng tentang anak Kalibungah yang nakal, yang tidak mendengarkan nasihat induknya agar jangan bermain jauh-jauh dari sarang. Induknya memberi batas pagar rumput talang-talang untuk area yang ia boleh bermain dan belajar berenang.

Tetapi karena bandel, anak Kalibungah ini terus bermain dan mengendap-endap keluar pagar, semakin jauh dan semakin jauh dari sarang dan tanpa disadari seekor ular besar mengintai dan ingin memangsanya. Ia belum bisa terbang dan membela diri. Untunglah induknya segera menyadari dan akhirnya menyelamatkan anak Kalibungah yang nakal ini pulang kembali ke sarangnya.

Kalibungah, membawa lamunan saya pada tempat tidur nenek saya yang hangat, di dekat dapur dimana bara api masih terus memerah di udara malam yang menggigil. Tempat kami menginap berdesak-desakan setiap kali pulang kampung.

Kangen.

GPS & Otak Yang Tak Terlatih Lagi.

Standard

Saat ini GPS alias Global Positioning System sudah sangat umum digunakan untuk membantu kita menentukan arah ke tujuan ataupun memahami di mana posisi kita berada.  System ini sangat mudah kita temukan di telpon genggam yang kita pakai, di pesawat, dan bahkan banyak kendaraan generasi baru juga sudah memiliki GPS yang terpasang di dalamnya. Ini tentu sangat memudahkan kita, terutama saat sedang dalam perjalanan.

Kapan hari saya juga menggunakan GPS ini untuk mencari lokasi Agen pengiriman barang terdekat. Saat itu sedang bepergian ke Denpasar bersama adik saya yang nomer tiga. Kami berada di area Renon. Di sekitar jalan Badak Agung. Di tengah jalan saya keingetan jika perlu mengirim  paket. Jadi saya bilang ke adik, untuk mencari agen pengiriman terdekat , entah itu JNE, JNT, Sicepat dan sejenisnya.
“Coba search saja” kata adik saya. Sayapun melakukan searching dan dengan cepat bisa menemukan lokasi Agen perjalanan yang saya cari.
Saya langsung memberi tahu adik saya alamat Agen itu.

“Coba bantu dengan GPS,” kata adik saya. Oh.. padahal dekat. Kenapa harus pakai GPS, pikir saya. Selain itu juga ia tumbuh dan besar di Denpasar. Harusnya sangat mudah baginya untuk mencari lokasinya.

Demikian juga setelah selesai dengan urusan pengiriman barang dan kami bermaksud pulang ke Bangli. Lagi-lagi kami mengandalkan GPS.

Adik saya lalu bercerita, jika ia sudah terlalu sering menggunakan GPS belakangan ini, sehingga jadi terbiasa dan males juga mikir jika harus mencari sebuah lokasi. Kalau dulu sebelum ada GPS ia hapal dan tahu persis peta area Renon, Denpasar dan sekitarnya. Karena tak punya pilihan, harus menghapal dan mengingat setiap jalan yang dilalui. Sejak ada GPS, ia tak perlu banyak berpikir lagi, karena GPS yang sudah memikirkan, dimana lokasi yang mau dituju dan bagaimana cara terdekat menuju ke sana.

GPS di satu sisi sangat membantunya menjadi cepat dalam mencari sebuah lokasi, tapi di sisi lain juga membuatnya malas berpikir, manja dan bisa dibilang… menjadi bodoh akan peta area, karena kemampuan alias Orientation skill-nya tidak lagi terasah dengan baik.

Bener juga ya. Saya jadi ikut merenungkan cerita adik saya itu.

Teori evolusi mengatakan, mahluk hidup cenderung akan menghilangkan organ-organ dan kemampuannya yang tidak dipergunakan lagi.

Contohnya nih, jaman dahulu manusia dikatakan memiliki ekor. Tetapi karena manusia sudah berhasil berdiri dengan seimbang dan bahkan berjalan dan berlari stabil dengan dua kaki , maka ia tidak lagi membutuhkan ekor sebagai organ penyeimbang. Demikian juga fungsi ekor sebagai alat komunikasi. Tidak lagi dibutuhkan, karena kemampuan manusia berkomunikasi dg organ lain sudah sangat berkembang. Akibatnya , lama kelamaan ekornya  menghilang. Karena tak berguna. Tinggal sisa-sisa tulang ekor yang mengalami rudimenter.

Demikian juga Ular memiliki kaki jaman dulu. Tapi gara-gara keseringan ngesot, kakinya tidak dibutuhkan lagi akhirnya mengalami rudimenter dan menghilang. Sesekali kita masih menemukan sisa-sisa tulang kaki pada ular tertentu.

Pada kenyataannya kemampuan lain manusia juga mengalami hal yang sama.  Saya ingat jaman dulu belum ada kalkulator. Menghitung tambah, kurang, kali, bagi, kwadrat, rasanya bisa kita lakukan dalam hitungan detik saat SD dan SMP. Begitu guru menyelesaikan kalimat pertanyaannya, secepat itu juga kita bisa mengangkat jari telunjuk ke atas agar bisa ditunjuk Guru untuk menjawab. Tapi sekarang ?

Bahkan hitungan yg mudahpun terkadang saya butuh waktu panjang untuk menjawab. Kenapa?. Ya itu. Karena saya sudah menggantungkan diri pada kalkulator atau Excel. Tidak pernah lagi mengasah otak saya untuk berhitung. Dan ibaratnya pisau, jika tak diasah ya lama -lama tentu semakin tumpul. Kemampuan berhitung saya mengalami rudimenter wk wk wk .

Nah sekarang datang lagi GPS. Jika suatu saat kita menjadi sangat tergantung padanya, maka kemampuan kita memetakan area di sekitar akan menjadi semakin kurang dan kurang.

Pada suatu ketika nanti, manusia akan menjadi terlalu manja, terlalu bergantung atau bahkan mungkin akan disetir oleh benda ciptaannya sendiri.

CERITA TEPI DANAU BATUR: PANYOROGAN.

Standard
Panyorogan, Desa Songan, Kintamani.

Panyorogan adalah sebuah tempat di Desa Songan yang letaknya persis di tepi Danau Batur. Di sanalah letak rumah kakek saya. Tanah di mana saya bisa membuka jendela dengan pemandangan langsung ke danau.

Halaman belakang rumah kami adalah sebidang tanah pertanian yang langsung bersentuhan dengan air danau, di mana ada sebuah mata air panas muncul di bawah akar Pohon Mangga dan membentuk parit kecil yang mengalir ke danau.

Di lepas danau, tak jauh dari pantainya ada sebuah Batu Besar yang selalu menjadi patokan kedalaman air. Nenek saya selalu bilang, jika anak-anak bermain atau berenang di danau, tidak boleh melewati Batu Besar itu, karena selewat Batu Besar kedalaman danau sudah terlalu dalam. Kami selalu ingat kata-kata Nenek.

Persis di sebelah rumah, ada jalan desa yang digunakan penduduk untuk ke danau. Entah sekedar untuk mengambil air, untuk mandi, atau pintu keluar masuknya penduduk desa yang bepergian dengan menggunakan sampan atau boat. Penyorogan adalah sebuah pelabuhan kampung di masa lalu.

Sejak dibukanya akses jalan aspal ke Desa Songan melalui batu cadas letusan Gunung Batur di tahun 1983-1984, penduduk lebih banyak menggunakan akses darat ketimbang angkutan danau jika ingin keluar desa. Akibatnya, pelabuhan perahu di Panyorogan jarang dipakai dan lama kelamaan tidak terpakai sama sekali.

Hal lain yang membuat Panyorogan berubah, adalah permukaan air danau yang semakin naik. Menenggelamkan Batu besar yang merupakan penanda kedalaman danau dan bahkan menenggelamkan sebagian besar ladang kakek yang di tepi danau. Membuat rumah kami semakin dekat posisinya dengan air.

Dua tahun terakhir ini, pemerintahan Desa mengambil keputusan untuk membuat jalan baru ke Hulundanu untuk membantu menguraikan kemacetan di jalan utama desa, akibat semakin meningkatnya kunjungan orang luar ke Pura Hulundanu Batur. Untuk mewujudkan upaya itu, maka pemilik tanah di tepi danau mesti merelakan sebagian tanahnya untuk dijadikan jalan. Nah.. itu membuat halaman belakang rumah kakek kami semakin habis dan sekarang malah menjadi halaman depan karena menghadap ke jalan baru.

Tak apalah, demi kepentingan masyarakat banyak.

Sisa tanah yang sangat dekat dengan air sekarang tidak terurus dan ditumbuhi semak air, tempat burung-burung air bersarang, bertelur dan membesarkan anaknya. Selain itu sebagian penduduk juga membuat keramba ikan. Membuat danau semakin berkurang keindahannya, tetapi semakin produktif.

Ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di sekitar Panyorogan.

Catatan. Dalam Bahasa Songan, kata Panyorogan sering dilafalkan sebagai “Panyorogang” dengan akhiran “ng” dan bukan “n”. Misalnya dalam percakapan ini.
Tanya : Cang ka jaa lajana jerone? (Memangnya kamu mau ke mana?).
Jawab: Cang ka Panyorogang (Akan ke Panyorogan).

Atau disebut dengan akhiran “i”. Bukan “an”.
Contoh:
A: Jaa lana kecaganga ubadi? (Dimana ketinggalan obatnya?).
B:. Di Panyorogi (Di Panyorogan).