Daily Archives: July 2, 2021

GPS & Otak Yang Tak Terlatih Lagi.

Standard

Saat ini GPS alias Global Positioning System sudah sangat umum digunakan untuk membantu kita menentukan arah ke tujuan ataupun memahami di mana posisi kita berada.  System ini sangat mudah kita temukan di telpon genggam yang kita pakai, di pesawat, dan bahkan banyak kendaraan generasi baru juga sudah memiliki GPS yang terpasang di dalamnya. Ini tentu sangat memudahkan kita, terutama saat sedang dalam perjalanan.

Kapan hari saya juga menggunakan GPS ini untuk mencari lokasi Agen pengiriman barang terdekat. Saat itu sedang bepergian ke Denpasar bersama adik saya yang nomer tiga. Kami berada di area Renon. Di sekitar jalan Badak Agung. Di tengah jalan saya keingetan jika perlu mengirim  paket. Jadi saya bilang ke adik, untuk mencari agen pengiriman terdekat , entah itu JNE, JNT, Sicepat dan sejenisnya.
“Coba search saja” kata adik saya. Sayapun melakukan searching dan dengan cepat bisa menemukan lokasi Agen perjalanan yang saya cari.
Saya langsung memberi tahu adik saya alamat Agen itu.

“Coba bantu dengan GPS,” kata adik saya. Oh.. padahal dekat. Kenapa harus pakai GPS, pikir saya. Selain itu juga ia tumbuh dan besar di Denpasar. Harusnya sangat mudah baginya untuk mencari lokasinya.

Demikian juga setelah selesai dengan urusan pengiriman barang dan kami bermaksud pulang ke Bangli. Lagi-lagi kami mengandalkan GPS.

Adik saya lalu bercerita, jika ia sudah terlalu sering menggunakan GPS belakangan ini, sehingga jadi terbiasa dan males juga mikir jika harus mencari sebuah lokasi. Kalau dulu sebelum ada GPS ia hapal dan tahu persis peta area Renon, Denpasar dan sekitarnya. Karena tak punya pilihan, harus menghapal dan mengingat setiap jalan yang dilalui. Sejak ada GPS, ia tak perlu banyak berpikir lagi, karena GPS yang sudah memikirkan, dimana lokasi yang mau dituju dan bagaimana cara terdekat menuju ke sana.

GPS di satu sisi sangat membantunya menjadi cepat dalam mencari sebuah lokasi, tapi di sisi lain juga membuatnya malas berpikir, manja dan bisa dibilang… menjadi bodoh akan peta area, karena kemampuan alias Orientation skill-nya tidak lagi terasah dengan baik.

Bener juga ya. Saya jadi ikut merenungkan cerita adik saya itu.

Teori evolusi mengatakan, mahluk hidup cenderung akan menghilangkan organ-organ dan kemampuannya yang tidak dipergunakan lagi.

Contohnya nih, jaman dahulu manusia dikatakan memiliki ekor. Tetapi karena manusia sudah berhasil berdiri dengan seimbang dan bahkan berjalan dan berlari stabil dengan dua kaki , maka ia tidak lagi membutuhkan ekor sebagai organ penyeimbang. Demikian juga fungsi ekor sebagai alat komunikasi. Tidak lagi dibutuhkan, karena kemampuan manusia berkomunikasi dg organ lain sudah sangat berkembang. Akibatnya , lama kelamaan ekornya  menghilang. Karena tak berguna. Tinggal sisa-sisa tulang ekor yang mengalami rudimenter.

Demikian juga Ular memiliki kaki jaman dulu. Tapi gara-gara keseringan ngesot, kakinya tidak dibutuhkan lagi akhirnya mengalami rudimenter dan menghilang. Sesekali kita masih menemukan sisa-sisa tulang kaki pada ular tertentu.

Pada kenyataannya kemampuan lain manusia juga mengalami hal yang sama.  Saya ingat jaman dulu belum ada kalkulator. Menghitung tambah, kurang, kali, bagi, kwadrat, rasanya bisa kita lakukan dalam hitungan detik saat SD dan SMP. Begitu guru menyelesaikan kalimat pertanyaannya, secepat itu juga kita bisa mengangkat jari telunjuk ke atas agar bisa ditunjuk Guru untuk menjawab. Tapi sekarang ?

Bahkan hitungan yg mudahpun terkadang saya butuh waktu panjang untuk menjawab. Kenapa?. Ya itu. Karena saya sudah menggantungkan diri pada kalkulator atau Excel. Tidak pernah lagi mengasah otak saya untuk berhitung. Dan ibaratnya pisau, jika tak diasah ya lama -lama tentu semakin tumpul. Kemampuan berhitung saya mengalami rudimenter wk wk wk .

Nah sekarang datang lagi GPS. Jika suatu saat kita menjadi sangat tergantung padanya, maka kemampuan kita memetakan area di sekitar akan menjadi semakin kurang dan kurang.

Pada suatu ketika nanti, manusia akan menjadi terlalu manja, terlalu bergantung atau bahkan mungkin akan disetir oleh benda ciptaannya sendiri.