CERITA TEPI DANAU BATUR: KALIBUNGAH.

Standard
Kalibungah

Selagi ada di rumah Kakek di desa Songan minggu lalu, saya menyempatkan diri berjalan-jalan menyusuri tepian danau Batur. Suasana agak sepi. Udara pegunungan yang dingin membuat saya tidak merasa kepanasan, walau di bawah sinar matahari yang terik. Tetap nyaman-nyaman saja.

Mendekati vegetasi danau yang merimbun di tepian, tampak beberapa ekor Burung Bangau putih terbang dan hinggap di keramba. Oooh dunia yang damai.

Sementara dua orang pria tampak memancing dari tepian. Sayapun mendekat, menyapa dan ikut melihat-lihat hasil pancingannya. Wow. Beberapa ekor ikan Mujair yang cukup besar-besar juga. Ada kira-kira sebesar 2 x telapak tangan saya.

Usai mengobrol tentang ikan di danau, saya teringat pada Kalibungah. Jenis burung air, yang walaupun tidak bersifat endemik danau Batur saja, tetapi jaman saya kecil merupakan burung air yang sangat umum saya temukan disini. Sayapun bertanya kepada dua orang pemancing itu, apakah Kalibungah masih ada dan belum punah dari danau ini.

Tepat setelah saya bertanya itu, seekor Kalibungah menunjukkan dirinya di sela-sela tanaman Eceng gondok, seolah-olah paham jika saya sedang memanggil. Berenang-renang dengan riangnya sambil beberapa kali tampak menyelamkan kepalanya ke dalam air. Hati saya ikut senang bukan alang kepalang. Kalibungah ini masih tetap ada.
Sayang sekali, saya tidak sedang membawa kamera dengan lensa panjang agar bisa memotret dengan lebih dekat. Cuma kamera hape yang ala kadarnya.

Kalibungah alias Swamp Chicken (Galinula chlorophus) adalah burung air yang jika sedang berenang terlihat mirip bebek berwarna hitam, tetapi jika berjalan lebih mirip dengan ayam. Secara keseluruhan bulunya berwarna hitam kebiruan di bagian depan dan hitam kecoklatan di bagian belakang dengan sedikit bercak putih pada sayapnya. Paruhnya sendiri berwarna merah dengan sedikit ujung kuning.
Burung ini membuat sarang di rumpun talang -talang ataupun tanaman air lainnya.

Setelah beberapa saat, saya sadari ternyata populasi Kalibungah di area ini lumayan banyak juga. Ada beberapa ekor saya lihat berenang, bercanda dengan pasangannya dan ada juga yang sedang berjemur di bawah sinar matahari.

Berbagai dongeng tentang Kalibungah diceritakan sebelum tidur oleh nenek saya semasa kecil. Salah satunya adalah dongeng tentang anak Kalibungah yang nakal, yang tidak mendengarkan nasihat induknya agar jangan bermain jauh-jauh dari sarang. Induknya memberi batas pagar rumput talang-talang untuk area yang ia boleh bermain dan belajar berenang.

Tetapi karena bandel, anak Kalibungah ini terus bermain dan mengendap-endap keluar pagar, semakin jauh dan semakin jauh dari sarang dan tanpa disadari seekor ular besar mengintai dan ingin memangsanya. Ia belum bisa terbang dan membela diri. Untunglah induknya segera menyadari dan akhirnya menyelamatkan anak Kalibungah yang nakal ini pulang kembali ke sarangnya.

Kalibungah, membawa lamunan saya pada tempat tidur nenek saya yang hangat, di dekat dapur dimana bara api masih terus memerah di udara malam yang menggigil. Tempat kami menginap berdesak-desakan setiap kali pulang kampung.

Kangen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s