SARWAÇĀSTRA.

Standard

Saya mendapatkan buku tua yang sangat menarik perhatian saya ini, berjudul “SARWAÇĀSTRA” Djilid I yang disusun oleh Ki Hadiwidjana R.D.S , seorang guru SMA di Jogja pada tahun 1956 (cetakan ke lima). Berarti sudah 65 tahun ya usianya tahun ini. Saya yakin, selain buku ini sudah kuno, juga keberadaannya pasti sudah sangat langka.

Sebenarnya adalah kitab pelajaran dan latihan Bahasa Jawa Kuno (Kawi) untuk SMA kelas 1. Berarti sebenarnya ada jilid II dan jilid III untuk kelas 2 dan kelas 3 yg tidak saya miliki. Saya coba search online barangkali ada yang menjual. Ternyata memang tak ada.

Yang sangat menarik , selain berisi tentang hukum singkat Bahasa Kawi, buku ini berisi petunjuk tentang huruf, sandhi, kata pengganti nama, kata penunjuk, kata tanya, kata ganti orang,sebutan, huruf sengau, contoh contoh kalimat, kata sambung, kata keterangan waktu, keterangan sebab akibat, kakawin dan beberapa contoh cerita dalam Bahasa Kawi untuk latihan.

Cerita-cerita di buku ini sangat menarik. Kebanyakan cerita yang pernah diceritakan Bapak semasa saya kecil, yang mengandung banyak pesan-pesan moral dan pesan kehidupan.

Contohnya adalah cerita “Cakrangga Mwang Durbuddhi”, kisah tentang kura-kura dan angsa yang berniat mengungsi dari telaga tempatnya berdiam selama ini, tetapi akhirnya mati akibat ia tak mampu mengendalikan emosinya.

Lalu ada juga cerita “Patapan” yang berkisah tentang Maharaja Duswanta. Kemudian ada kutipan serat “Pararaton” yang menceritakan riwayat Ken Arok.

Berikutnya ada sedikit cerita-cerita Tantri seperti Wre Mwang Manar (Kera dan Burung Manyar), Pejah Dening Sambeganira (Tewas Akibat Belas Kasihan) Tan Wruh Ing Nitiyoga ( Tak Tahu Akan Sikap Yang Layak), Gagak Mwang Sarpa, Pejah Dening Yuyu (Burung Gagak dan Ular Mati karena Kepiting), Pinakaguna Sang Prajna (Kebajikan Bagi Orang Pandai), Anemu Dukha (Mendapat Kecelakaan), Manuk Baka Mati Denikang Yuyu (Burung Bangau Mati Oleh Ketam).

Lalu ada kutipan cerita “Mandaragiri” dan “Nusa Jawa Ring Açitakala”, dari lontar “Tantu Panggelaran”. Dan yang terakhir adalah cerita Hidimbi yang dikutip dari Adi Parwa.

Wow. Buku ini sungguh keren sekali. Saya sangat senang membacanya dan sedikit sedikit menambah pengetahuan saya tentang Bahasa Jawa Kuno (Kawi). Bangga dan terharu.

Tetapi di sisi lain, hati saya juga terasa teriris. Sungguh sangat disayangkan Bahasa kuno milik bangsa kita ini akhirnya pelan-pelan tergeser oleh bahasa asing. Sedangkan Bahasa Kawi itu sendiri akhirnya menjadi Bahasa Asing di negerinya sendiri 😭😭😭

Mari cintai bahasa leluhur kita
Mari cintai literatur kuno kita.

Terimakasih kepada yang telah berkenan memberikan buku ini untuk saya baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s