Monthly Archives: December 2021

IN MEMORIAM GURUKU, PAK WAYAN PASEK.

Standard
Guruku Pak Wayan Pasek berdama Buku Karya Tulisku

Kemarin pagi-pagi saya mendengar berita jika Pak Wayan Pasek, Guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA telah berpulang, meninggalkan kami untuk selamanya. Tak bisa dibendung lagi air mata saya jatuh bercucuran.

Saya sangat beruntung pernah diajar oleh Guru-Guru yang berkwalitas sangat bagus sepanjang hidup saya, dan menurut saya Beliau adalah salah seorang Guru terbaik yang pernah mengajar dan mendidik saya hingga menjadi diri saya seperti sekarang ini.

Di luar pelajaran Bahasa Indonesia yg tentunya beliau ajarkan kepada saya sesuai kurikulum yang ditentukan waktu itu, beliau sangat rajin mendorong agar murid-muridnya jangan berhenti hanya di sekedar theory.

Membacalah! Menulislah! Berkaryalah!

Walaupun saat itu saya hanya menulis sebatas di Majalah Dinding Sekolah. Namun tanpa saya sadari, atas dorongan beliau, saya kemudian jadi senang mengikuti kejuaraan-kejuaraan Membaca Puisi, kompetisi Menulis Sastra Cerita Pendek ataupun Cerita Bersambung. Beliau juga mendorong saya untuk berani tampil di ajang Lomba- lomba Pidato kepemudaan.

Kebiasaan Menulis, Membaca dan Ikut berkompetisi ini saya teruskan hingga saya kuliah di Denpasar. Ya…tentunya kadang kalah dan beberapakali menang dan mendapatkan piala atau piagam penghargaan juga sih.

Di sini point saya bukan soal kalah atau menangnya sih, tetapi bagaimana seorang Guru bisa mempengaruhi daya juang anak didiknya untuk selalu percaya diri berkarya dan berkompetisi. Be Confident In Yourself & Fight!!!.

Setelah tamat SMA saya memang tidak bertemu beliau lagi hanya sekali saat reuni sekolah beberapa tahun yang lalu. Tetapi kami berkawan di Sosial Media.

Senang sekali berkawan dg beliau di FB sejak tahun 2012. Itu menandakan bahwa beliau sana sekali tidak outdated. Beliau cukup sering nge-like status saya. Demikian juga saya tentunya. Selama ini saya tetap konsisten menulis terus di blog.

Bulan April lalu saya menerbitkan buku pertama saya “100 CERITA INSPIRATIF” dan saat saya mulai mengupdate status saya tentang buku ini, beliau selalu ngasih jempol. Ooh… saya pikir mungkin beliau senang dengan apa yang muridnya ini lakukan. Mungkin ada baiknya coba saya kirimkan saja buku ini untuk beliau. Saya ingin beliau ikut bangga bahwa setidaknya ada muridnya yang tetap menulis dan menerbitkan buku.

Sayapun menghubungi beliau lewat inbox. Tiba-tiba saya sadari, ada yg tidak biasa dengan Guru saya ini. Percakapan kami seperti kurang nyambung.

Segera saya menghubungi keponakan saya Putu Fanny (kebetulan juga seorang Guru dan pernah mengajar di satu sekolah dg Pak Pasek), untuk bantu check kondisi guru saya itu, sekalian mengantarkan buku. Dari sana saya mengetahui jika beliau kena stroke. Tapi beluau kelihatan senang dan bangga saat menerima buku saya. Kemarin akhirnya beliau berpulang meninggalkan kami semua.

Sebagai orang Bali yang diajarkan untuk selalu taat dan menghormati Catur Guru (Empat guru utama dalam hidup manusia), yakni hormat pada Guru Swadyaya (Tuhan Yang Maha Esa), Guru Wisesa (Pemerintah yang sah), Guru Pengajian (Guru di Sekolah) dan Guru Rupaka (Orang tua kita), tentu saja saya berlaku sama untuk Pak Pasek, salah seorang Guru Pengajian saya.

Selamat Jalan Menuju Sunya Loka, Pak Pasek . Dumogi amor ing Acintya.
Murid-muridmu akan selalu mengenang jasamu.

Guruku membangun Daya Juangku.

Film Inspiratif “Lunas Dalam Keikhlasan”

Standard

Satu hal yang membuat hati saya senang tahun 2021 ini adalah fakta bahwa saya akhirnya berhasil menerbitkan buku “100 Cerita Inspiratif” di bulan April dan pada akhir tahun salah satu dari kisah inspiratif di buku itu yang berjudul “Lunas Dalam Keikhlasan” diangkat menjadi sebuah film pendek.

Berawal dari Sutradara Rudi Rukman yang menghubungi saya dan menyatakan ingin mengangkat tulisan-tulisan saya itu ke dalam film. Wah.. tentu saja saya sangat senang. Tetapi karena kesibukan dan lain hal, saya sempat tidak memproggress permintaan beliau ini.

Selain itu saya juga di posisi tidak menjual tulisan-tulisan saya.

Namun saya lihat Pak Rudi Rukman ternyata memang serius ingin membuat film, saya pun mengijinkan sang sutradara untuk menggunakan tulisan saya dengan free.

Demikianlah akhirnya, persiapan mulai dilakukan oleh Pak Rudi di bulan Oktober, shooting di bulan November dan akhirnya film mulai bisa tayang di bulan Desember.

Bagi yang penasaran, film bisa dilihat di channel youtube FILM CERITA INSPIRATIF.

Kupu-Kupu di Pusara Ibu.

Standard

Kumpulan Cerpen Fanny J Poyk.

Sebenarnya saya telah menerima buku ini langsung dari penulisnya Mbk Fanny Jonathans sejak pertengahan Juli lalu. Akan tetapi baru sekarang selesai membacanya. Belum pula saya mengucapkan terimakasih.

Mengenal penulisnya yang adalah salah satu penulis senior yang sangat aktif menulis sejak remaja di berbagai media nasional Indonesia baik koran maupun majalah, sudah dipastikan tulisan-tulisan di buku ini memiliki kwalitas yang sangat bagus. Beliau adalah salah satu penulis senior favorit saya.

Benar saja. Buku yang cukup tebal ini memuat 32 cerpen yang semuanya sangat menarik, baik dari sisi pemikiran, ide-ide, sudut pandang maupun cara penulisannya.
Terus terang saya banyak tercengang setiap kali pindah dari satu cerpen ke cerpen berikutnya.

Yang dituliskannya adalah kejadian kejadian yang pada dasarnya mungkin sangat umum atau bisa terjadi pada siapa saja, namun dalam perkembangannya, di tangan Mb Fanny kejadian biasa ini kemudian berubah menjadi sebuah kisah dramatis dan luar biasa yang kadang endingnya tak terduga oleh saya. Mmm…menarik sekali.

Cerpen pertama yang sekaligus menjadi judul dari buku ini, “Kupu-Kupu Di Pusara Ibu”, sungguh membuat saya merenung dan menitikkan air mata diam-diam saat usai membacanya.

Berkisah tentang perjuangan seorang ibu yang mengambil alih tugas dan tanggungjawab sepenuhnya untuk menjalankan bahtera rumah tangga sendirian sejak suaminya meninggal, membesarkan, memberi makan, menyekolahkan 3 orang anak-anaknya hingga mereka dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri.

Namun hingga ajalnya tiba, anak-anaknya tidak ada yang paham dan bersimpati dengan kesusahan ibunya, saat ibunya kelelahan menyiapkan kue-kue buat dagangan, saat rentenir menagih utang, atau saat ia mulai mengeluh karena radang sendi dan diabetes mulai menggerogoti tubuh rentanya hingga akhirnya ia tiada.

Dan bahkan setelah itu, kuburnyapun tidak ada yg menengok. Anak-anaknya hanya bagai melempar batu ke dalam tanah, menguruknya dan melupakan kisah tentang ibunya. Lama setelah sang ibu tiada, barulah penyesalan itu datang.

Rasa penuh dada saya membaca cerita ini. Air mata sayapun menetes. Saya yakin cerita real seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Namun tidak ada yang menuliskannya dengan semenyentuh ini.

Cerita-cerita yang lain di buku ini juga tak kalah menariknya. Banyak menceritakan kisah-kisah perempuan dan deritanya dalam memperjuangkan dirinya ataupun keluarganya.

Misalnya cerpen “Mince Perempuan dari Bakunase”, berkisah tentang Mince yang akhirnya memutuskan keluar dari rumah setelah sekian kali kekerasan dalam rumah tangga menimpanya. Ia perempuan kuat, yang bekerja keras membesarkan anak-anaknya. Namun sayangnya beban dan derita seakan tak kunjung reda, datang silih berganti bahkan hingga ia menjadi nenek pun, beban itu tetap harus ia panggul.

Juga dalam cerpen “Luka Erika”. Kepedihan wanita yang terenggut keperawanannya sementara ekspektasi orang tuanya agar ia menjunjung tinggi kegadisannya tergambarkan dengan sangat jelas di sini.

Juga pada cerpen “Duniaku”, juga pada cerpen “Aku, Um dan Gincu Berwarna Pucat”, dan banyak cerpen-cerpen lainnya lagi hingga ke cerpennyg ke 31 yg berjudul “Aku Tidak Mau Menjadi Ibu” derita dan kepedihan wanita dibuka dan diceritakan oleh Mbak Fanny dengan sangat gamblang yang membuka mata hati kita… bahwa betapa perempuan itu sangat rentan menjadi korban keadaan dan ketidakadilan. Sebagai perempuan, saya jadi ikut merasa geram.

Selain banyak berkisah tentang derita perempuan, cerpen-cerpen di buku ini juga menceritakan kesulitan-kesulitan dan permasalahan hidup yang dialami oleh pelakunya, yang membuat pembaca menjadi lebih terbuka dan terasah kepekaan hatinya saat membaca kisah kisah ini.

Yang menarik dari buku ini, adalah latar belakang NTT dalam beberapa cerpen ini yang membuat saya ikut membaca merekam adat istiadat, suasana dan kata-kata dalam bahasa Timor. Menarik sekali.

Eh…ada juga yang berlatar belakang Bali. Tentu saja, mengingat penulis yang merupakan putri dari Sastrawan besar Indonesia alm Gerson Poyk ini memang berasal dari pulau Rote, NTT dan cukup lama tinggal di Bali.

By the way, jika kita perhatikan, tulisan- tulisan di buku ini juga memang bukan sembarang tulisan lho. Tetapi kumpulan tulisan Mb Fanny yang telah melalui seleksi, saringan dan pilihan media-media nasional.

Contohnya cerpen “Kupu- kupu di Pusara Ibu” ini pernah dimuat di surat kabar Kompas. Cerpen “Aku Tidak Gila” pernah dimuat di Jurnal Nasional. Demikian juga cerpen-cerpen yang lain. Nyaris semuanya pernah dimuat di media nasional seperti, Kompas, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Bali Post, Jurnal Nasional, Sinar Harapan, Suara Karya, Singgalang, Tabloid Alinea, Padang Ekspress, Majalah Horizon, Majalah Sabana.

Pantes saja kwalitasnya bagus- bagus. Saya benar-benar angkat topi untuk Mb Fanny. Sangat menginspirasi. Terimakasih sudah mengijinkan saya ikut membaca.

Selamat dan sukses untuk Mbak Fanny. Semoga semakin sehat dan teruslah berkarya.