IN MEMORIAM GURUKU, PAK WAYAN PASEK.

Standard
Guruku Pak Wayan Pasek berdama Buku Karya Tulisku

Kemarin pagi-pagi saya mendengar berita jika Pak Wayan Pasek, Guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA telah berpulang, meninggalkan kami untuk selamanya. Tak bisa dibendung lagi air mata saya jatuh bercucuran.

Saya sangat beruntung pernah diajar oleh Guru-Guru yang berkwalitas sangat bagus sepanjang hidup saya, dan menurut saya Beliau adalah salah seorang Guru terbaik yang pernah mengajar dan mendidik saya hingga menjadi diri saya seperti sekarang ini.

Di luar pelajaran Bahasa Indonesia yg tentunya beliau ajarkan kepada saya sesuai kurikulum yang ditentukan waktu itu, beliau sangat rajin mendorong agar murid-muridnya jangan berhenti hanya di sekedar theory.

Membacalah! Menulislah! Berkaryalah!

Walaupun saat itu saya hanya menulis sebatas di Majalah Dinding Sekolah. Namun tanpa saya sadari, atas dorongan beliau, saya kemudian jadi senang mengikuti kejuaraan-kejuaraan Membaca Puisi, kompetisi Menulis Sastra Cerita Pendek ataupun Cerita Bersambung. Beliau juga mendorong saya untuk berani tampil di ajang Lomba- lomba Pidato kepemudaan.

Kebiasaan Menulis, Membaca dan Ikut berkompetisi ini saya teruskan hingga saya kuliah di Denpasar. Ya…tentunya kadang kalah dan beberapakali menang dan mendapatkan piala atau piagam penghargaan juga sih.

Di sini point saya bukan soal kalah atau menangnya sih, tetapi bagaimana seorang Guru bisa mempengaruhi daya juang anak didiknya untuk selalu percaya diri berkarya dan berkompetisi. Be Confident In Yourself & Fight!!!.

Setelah tamat SMA saya memang tidak bertemu beliau lagi hanya sekali saat reuni sekolah beberapa tahun yang lalu. Tetapi kami berkawan di Sosial Media.

Senang sekali berkawan dg beliau di FB sejak tahun 2012. Itu menandakan bahwa beliau sana sekali tidak outdated. Beliau cukup sering nge-like status saya. Demikian juga saya tentunya. Selama ini saya tetap konsisten menulis terus di blog.

Bulan April lalu saya menerbitkan buku pertama saya “100 CERITA INSPIRATIF” dan saat saya mulai mengupdate status saya tentang buku ini, beliau selalu ngasih jempol. Ooh… saya pikir mungkin beliau senang dengan apa yang muridnya ini lakukan. Mungkin ada baiknya coba saya kirimkan saja buku ini untuk beliau. Saya ingin beliau ikut bangga bahwa setidaknya ada muridnya yang tetap menulis dan menerbitkan buku.

Sayapun menghubungi beliau lewat inbox. Tiba-tiba saya sadari, ada yg tidak biasa dengan Guru saya ini. Percakapan kami seperti kurang nyambung.

Segera saya menghubungi keponakan saya Putu Fanny (kebetulan juga seorang Guru dan pernah mengajar di satu sekolah dg Pak Pasek), untuk bantu check kondisi guru saya itu, sekalian mengantarkan buku. Dari sana saya mengetahui jika beliau kena stroke. Tapi beluau kelihatan senang dan bangga saat menerima buku saya. Kemarin akhirnya beliau berpulang meninggalkan kami semua.

Sebagai orang Bali yang diajarkan untuk selalu taat dan menghormati Catur Guru (Empat guru utama dalam hidup manusia), yakni hormat pada Guru Swadyaya (Tuhan Yang Maha Esa), Guru Wisesa (Pemerintah yang sah), Guru Pengajian (Guru di Sekolah) dan Guru Rupaka (Orang tua kita), tentu saja saya berlaku sama untuk Pak Pasek, salah seorang Guru Pengajian saya.

Selamat Jalan Menuju Sunya Loka, Pak Pasek . Dumogi amor ing Acintya.
Murid-muridmu akan selalu mengenang jasamu.

Guruku membangun Daya Juangku.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s