TEBEKU.

Standard

Kami bertemu di Tebeku.
Tapi di mana dan apa itu Tebeku?

TEBEKU adalah  Teba milik Jro Gde Sujayasa, sahabat kami di desa Tusan, Banjarangkan, Klungkung, BALI.

Tebeku, berasal dari kata Teba + ku = Teba milik saya.  TEBA (dibaca tebe, huruf e dan a dibaca seperti membaca e dalam kata dekat), dalam Bahasa Bali artinya area atau kawasan paling rendah dari halaman rumah, yang berfungsi sebagai tempat cuci-cuci, bersih-bersih dan buang sampah serta kotoran. MCK – Mandi – Cuci – Kakus, istilahnya.

Tempat yang sebenarnya sangat umum dan semua rumah tangga di seluruh dunia pasti memilikinya. Karena aktifitas yang dilakukan penghuni rumah di kawasan Teba adalah aktifitas normal, regular dan manusiawi. Mungkin bedanya hanya di masalah pengaturan tata ruang saja.

Masyarakat Bali secara umum menganut konsep Tata Ruang yang disebut dengan  “Tri Mandala”  alias Tiga Wilayah. Dimana setiap ruang dibagi menjadi 3 mandala (area) yakni Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala. Konsep tata ruang Tri Mandala ini diimplementasikan di mana saja, mulai dari tingkat desa, banjar, pekarangan rumah, bakan kamar tidur maupun tempat tidur.

Utama Mandala, adalah areal yang utama, umumnya bertempat di hulu dan posisinya dibuat lebih tinggi. Area ini digunakan sebagai area suci, tempat memuja dan menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Jika itu pekarangan rumah, maka Utama Mandala adalah area dimana Merajan ataupun Sanggah tempat sembahyang keluarga terletak.

Madya Mandala, adalah areal tengah, di mana aktifitas sehari-hari manusia dilakukan. Di area ini ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, dapur dan ruang aktifitas lainnya terletak.

Nista Mandala, adalah areal yang paling rendah, dimana area TEBA yang saya jelaskan itu berada.

Menurut Jro Gede, walaupun Teba itu ada di wilayah paling nista, sebenarnya keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari Madya dan Utama Mandala. Bahkan peranannya sangat besar untuk mensupport dua mandala di atasnya itu.

Betapa tidak, selain berfungsi sebagai area cuci-cuci bersih-bersih, buang sampah dan kotoran, dan kandang binatang peliharaan, di Teba juga bertumbuh berbagai macam tanaman dan pepohonan yang bisa digunakan untuk keperluan upacara dan kebutuhan sehari-hari.

Mulai dari pohon Bambu, pohon Nangka, pohon Kelapa, pohon Duren, pohon Mangga, pohon Jambu, pohon Jerungka, pohon Manggis, pohon Melinjo, pohon Boni dan sebagainya.  Dan biasanya subur-subur, karena selain banyak pupuk alami, posisi Teba juga seringkali dekat dengan sungai.

Tanpa Teba, pekarangan rumah tidak akan seimbang.

Ya ya…benar juga kata sahabat saya ini. Sebelumnya saya tidak pernah memikirkan fungsi Teba dengan serius seperti ini.

Nah areal Teba di pekarangan JRo Gde Sujayasa inilah yang disulap menjadi Teba yang indah oleh sahabat saya ini. Lalu diberi nama TEBEKU.

Ha! Tempatnya asyik juga. Areal belakang rumah yang kosong. Berbatasan dengan Sungai dan Pangkung (jurang) yang tak terlalu dalam. Ditata rapi sedemikian rupa, dibuat taman, diberi dasar rumput jepang yang halus, ditanami dengan tanaman indah berbunga serta tanaman hias lain. 

Lalu ada Bale Bengong, Bale Lesung- tempat menumbuk Biji Kopi menjadi Bubuk Kopi dan Bale Paruman tempat ngobrol-ngobrol dan melakukan aktifitas lain. Sungguh artistik dan menarik.

“Teba jaman sekarang sudah beda dengan teba jaman dulu. Sekarang WC dan Kamar Mandi sudah dibuat dalam bangunan yang bersih, modern dan rapi. Sehingga Teba tidak lagi terlihat jorok dan kotor”.  Jelas Jro Gde Sujayasa. Ya sih. Jadi sisa lahan Teba yang ada bisa dibuat taman.

Begitulah cerita saya tentang TEBEKU. Teba cantik,  tempat bermain dan bercengkerama bersama para sahabat.

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s