Monthly Archives: February 2022

BUKU: BALI. SENI BUDAJA BALI. BALINESE ARTS AND CULTURE.

Standard
Buku BALI. Karya Dr Moerdowo

Membahas Buku BALI.
SENI BUDAJA BALI.
BALINESE ARTS AND CULTURE
Karya DR. MOERDOWO

Sebenarnya buku tua yang diterbitkan di Surabaya tahun 1960 ini (tua banget ya… mengingat saya aja belum lahir tahun itu) diberikan kepada saya beberapa bulan yang lalu. Saya sempat membuka-buka dan membaca isinya sepintas. Cuma karena saat itu terganggu oleh kesibukan yang lain, saya belum sempat membacanya dengan baik.

Akhir pekan ini saya memeriksa rak buku lagi, dan melihat buku besar ini di tumpukan buku, lalu keingetan jika saya belum tuntas membacanya. Saya lanjutkan baca deh.

Buku ini adalah sebuah buku yang bagus tentang Bali yang pernah saya baca, dan terlihat jika penulisnya yang walaupun bukan orang Bali, cukup menguasai budaya Bali dengan baik.

Beliau menuliskan dengan baik, bahwa bagi orang awam yang tak paham Bali atau pertama kali mengunjungi Bali, kesan pertama yang ditangkap seolah-olah Agama Hindu di Bali tampak sebagai Polytheisme, karena yang terlihat adalah banyaknya Dewa-Dewa, upacara-upacara yang membingungkan mereka yang baru pertama mengetahui Bali. Tetapi begitu mengenal Bali lebih jauh, barulah mereka memahami bahwa orang Bali menganut paham Monotheisme yang absolute, di mana Tuhan adalah yang maha tunggal dan tidak ada duanya. Dan Agama sangat mempengaruhi segala segi kehidupan masyarakat Bali, termasuk kebudayaan dan keseniannya.

Di buku ini juga ada ditampilkan cuplikan-cuplikan dari lontar Whraspati-Tattwa yang merupakan salah satu sastra penting dalam kehidupan religi di Bali.

Pak Moerdowo memaparkan jika masyarakat Bali memiliki konsep berjenjang dalam mencapai pemahaman akan hakikat Tuhan yang disebut dengan Catur Marga (4 Jalan Menuju Tuhan) yakni Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Raja Marga, yang walaupun beliau hanya menyebutkan 3 jalan saja (kurang satu jalan) tetapi menurut saya beliau memaparkannya sudah dengan sangat baik. Dengan membaca buku ini, orang jadi paham, bahwa jika hanya dengan bersembahyang yang rajin saja (Bhakti Marga) tanpa berbuat baik dan benar (Karma Marga) tidaklah cukup. Dan tentunya untuk menjalankan kehidupan religi yang sebenarnya kita juga perlu menjalani Jnana Marga dan Raja Marga.

Selain itu Pak Moerdowo juga ada membahas tentang aspek-aspek lain dari kehidupan orang Bali , seperti Tri Sadhana (tiga jalan yang harus ditempuh jika ingin mencapai kamoksan/melepaskan diri dari kesengsaraan abadi) yakni mengetahui dan memahami segala agama dan pengetahuan suci, melepaskan diri dari pengaruh dan kekuasaan hawa nafsu indriya dan mampu melepaskan ikatan keduniawian.

Dan tentu saja semuanya itu tidak mudah dilakukan, sehingga untuk membantu menjalankannya sehari-haru, orang Bali menggunakan pedoman hidup moral dan ethika yang diantaranya adalah Ahimsa (tidak membunuh/menyakiti); Brahmacarya (hidup dengan kesucian), Satya (dapat dipercaya/tidak bohong); Awyawharika (tidak bertengkar/ribut); Asteya (tidak mencuri, korupsi atau mengambil bukan milik); Akrodha (tidak mudah marah); Guru Sucrusa (sayang/hormat pada Catur Guru); Socha (membersihkan pikiran dan bathin); Aharalegawa(tidak rakus/loba/tamak); Apramada (setia pada kewajiban).

Ada banyak aspek kehidupan lagi yang dibahas di buku ini. Juga tentang hari hari raya dan bagaimana orang Bali menghornati segala bentuk ciptaan Tuhan (sarwa prani), bahkan pohon-pohon dan binatangpun sangat dihormati di Bali dan ada hari rayanya.

Pak Moerdowo juga membahas tentang kehidupan sosial dan aktifitas berkesenian di Bali. Mulai dari Seni Pewayangan, Tari-Tarian, Lukisan , Seni Pahat dan sebagainya.

Buku ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah pemaparan dalam Bahasa Indonesia. Bagian ke dua adalah pemaparan dalam Bahasa Inggris. Dan Bagian ke 3 dipenuhi dengan foto- foto jadul hitam putih yang menggambarkan aktifitas sosial, keagamaan dan kebudayaan Orang Bali.

Saya suka dengan buku tua ini. Dan penulisnya tentunya. Karena saya pikir secara umum Pak Moerdowo cukup menguasai Bali, sehingga pemaparannya tentang Bali sesuai dengan apa yang dipahami oleh Orang Bali sendiri.

Setelah saya pelajari, rupanya sebelum menuliskan buku ini, Pak Moerdowo beserta istri pernah tinggal bersama keluarga Bali untuk melakukan research dan study. Ooh… pantesan pemahamannya tentang Bali sangat baik. Bukan hanya sekedar sedalam permukaan kulit saja.

Sungguh. Ini buku yang sangat bagus tentang Bali. Saya sangat berterimakasih sudah diijinkan ikut membaca dan memiliki buku ini.

Love it!

ANTARA PEMBACA DAN PENONTON.

Standard

Sekelebat pikiran dalam proses adaptasi sebuah karya tulis ke dalam bentuk film.

Ketika pengalaman membeli jagung di depan kuburan  saya tuliskan di dalam Blog, Harry Ridho, seorang sutradara film horor menterjemahkannya ke dalam sebuah film
Tentu saja ada sedikit descrepancies di sana-sini dalam proses penterjemahannya, akan tetapi saya pikir itu sangat wajar dan perlu.

Karya saya adalah sebuah TULISAN. Yang merupakan hasil tuangan dari apa yang saya rasakan dan pikirkan ke dalam rangkaian kalimat  dan paragraf, berikut monolog yang terjadi di dalam diri saya.

Dari karya tulis ini, PEMBACA akan menangkap alam pikir dan rasa saya dengan melihat kalimat-kalimat itu dan menginterpretasikannya sendiri sesuai dengan pemahaman dan latar belakang pengalamannya sendiri.

Di sini, semua audio visual yang mentas di panggung pikiran pembaca adalah hasil karangan pembaca sendiri yang distimulasi oleh tulisan saya yang dijadikan referensi. Dan oleh karenanya interpretasi ini bisa berbeda -beda antara satu pembaca dengan pembaca lainnya.

Sedangkan Sutradara Harry Ridho, mengolah apa yang ia tangkap dari membaca tulisan saya itu menjadi sesuatu yang  akan tertangkap oleh PENONTON. Bukan PEMBACA. Sutradara merancang bentuk audio visual yang akan ditampilkan dalam film kepada PENONTON, sesuai dengan interpretasinya sendiri saat membaca tulisan saya.

Jadi di sini penonton tidak perlu lagi mengarang sendiri drama audio visual dalam pikirannya seperti seorang pembaca, karena sudah ada seorang Sutradara Film yang merancang dan menyuguhkannya  langsung kepada penonton.

Disinilah sebuah karya menjadi lebih kaya dan dinamis, karena terjadi penggabungan pengalaman dan imajinasi dari seorang penulis dan seorang sutradara. Walaupun tentu saja ada kelemahannya, yaitu mungkin terjadi descrepancies dengan degree yang beragam antara apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis dengan yang tertangkap oleh penonton pada akhirnya. Karena antara Penulis dengan penonton ada satu penterjemah yakni Sutradara 

Descrepancies tentunya bisa dikurangi dengan komunikasi dan luangkan waktu yang cukup untuk berdiskusi, agar terjadi pemahaman yang sama antara penulis dengan sutradara.

Hanya sekelebat pikiran,  setelah menonton film “Beli Jagung Depan Kuburan”.

KISAH LABU SIAM DARI BANDUNG.

Standard

Seorang ahabat karib saya di Bandung mengontak, apakah saya mau dikirimin bibit Labu Siam. Seketika saya bilang MAU !!!  Sangat senang hati saya.

Karena sudah lama saya pengen menanam Labu Siam dan nyari bibitnya nggak mudah. Kebanyakan Labu Siam yang dijual di tukang sayur masih muda-muda, sehingga belum bisa dijadikan bibit.

Tak lama kemudian, sampailah bibit itu. Ada tiga buah Labu Siam yang sudah tua. Satu sudah bertunas, tapi sayang saat saya buka, tunas itu  patah. Sayang banget. Tapi tidak apalah. Masih ada dua buah lagi yang tunasnya nanti akan tumbuh.

Karena hari sudah malam, sementara saya letakkan dulu di dapur, di bawah rak piring. Besok pagi akan saya tanam. Esok paginya, saya kerja di kantor seperti biasa dan benar-benar lupa dengan bibit Labu Siam itu.

Pulang  kantor agak malam. Si Mbak sudah masak buat kami. Ada ayam goreng, tahu goreng, sambal terasi  sayur kangkung dan sayur Labu Siam. Enak kelihatannya. Saya pun makan dengan lahap.

Tapi tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Ada yang tidak beres ini. Mengapa kok di atas meja makan dihidangkan Sayur Tumis Labu Siam?

Jangan-jangan…

Cepat-cepat saya pergi ke dapur dan memeriksa bibit Labu Siam saya. Astaga ternyata tinggal 1 buah. Kemana satunya lagi? Waduuuh… jangan-jangan yang barusan saya makan itu.

Benar saja. Si Mbak yang kerja di rumah saya mengakui bahwa ia telah memasak Labu Siam yang di dapur itu, karena tidak tahu itu buat bibit.

“Iya Bu. Saya masak kemarin. Saya lihat ada Labu Siam. Saya pikir ibu lagi pengen makan Sayur Labu Siam”. Katanya dengan wajah polos.

Aduuuh…hancur hati saya..
Mau marah sama siapa? Memang bukan salahnya si Mbak. Saya tahu  sebenarnya ia sangat baik dan perhatian pada saya. Selalu berusaha membuat hati saya senang.

Ini salah saya sendiri. Saya tidak mengkomunikasikannya dengan Mbak. Jadi ia tidak tahu bahwa Labu Siam itu adalah bibit. Dan jauh-jauh dikirim dari Bandung.  Mestinya saya memberi tahu Su Mbak sebelum berangkat ke kantor.

Selain itu, setiap orang yang melihat Labu Siam di Dapur, tentu berpikir bahwa Labu itu untuk dimasak.  Jika untuk bibit, mestinya  saya letakkan terpisah. Entah di teras, di halaman, atau entah di mana, tetapi jangan di dapur.

Saya pandangi satu-satunya bibit Labu Siam yang tersisa itu. Hanya ini yang bisa saya tanam sekarang.

Mengetahui kesedihan saya, akhirnya Si Mbak berkata

“Maaf ya Bu. Saya tidak tahu sebelumnya, kalau itu buat bibit. Tapi saya berjanji, akan saya carikan penggantinya. Saya tahu  di mana bisa membeli Labu Siam yang tua buat dijadikan bibit”.

Besoknya ia datang dengan dua buah Labu Siam yang cukup tua, untuk menggantikan 2 buah labu siam  yang tunasnya patah dan yang terlanjur dimasak.Ketiganya saya tanam di pot dan saya letakkan di halaman. Semoga tumbuh dengan baik.

Tiba-tiba sahabat saya nge-chat.
“Gimana De ? Bibit Labu Siamnya dudah diterima belum?”.

Aduuh…Saya panik. Mesti bilang apa? Dari tiga buah bibit yang dikirim cuma satu yang selamat dan bisa ditanam. Kok say takut mau bilang begitu ya? Ia pasti sedih karena saya tidak memperlakukan pemberiannya dengan baik. 

Akhirnya saya informasikan bahwa salah satu bibit yg tunasnya sudah tumbuh ternyata patah. Tetapi saya tidak bercerita tentang satu bibit lagi yang dimasak itu. Untuk menjaga perasaannya. Agar ia tidak kecewa. Takutnya dia marah. Takut dia sedih. Jauh-jauh ngirim dari Bandung kok bibitnya malah tidak diperlakukan dengan baik, sampai dimasak kok nggak peduli. Jadi saya tidak bercetita soal itu.

Untuk tunas yang patah, ia menghibur dengan mengatakan, tidak apa. Memang sejak awal ragu-ragu mau ngirim yang sudah ada tunasnya, makanya ia kirim juga dua bibit yang belum tumbuh tunasnya sebagai cadangan.

Setelah itu saya jadi kepikiran terus akan bibit Labu Siam itu, sampai sulit tidur.  

Rasanya saya bersalah kepada sahabat saya itu. Memang saya tidak berbohong kepadanya. Tetapi saya tidak mengatakan keseluruhan ceritanya. Sebagian sengaja saya sembunyikan.  Sebenarnya itu sama dengan tidak jujur. Tidak bohong, tetapi tidak jujur!!!

Sebaiknya gimana ya? Ngaku tidak ? Ngaku tidak?  Rasanya kok sulit sekali.

Akhirnya tadi siang, saya memberanikan diri untuk mengaku. Dengan mengambil resiko terburuk, mungkin dia marah. Dia sedih. Dan pastinya kecewa. Daripada saya tidak bisa tidur.
Tanpa saya duga, sahabat saya itu ternyata tidak marah. Ia mentertawakan saya dan menawarkan umtuk memgirim bibit lagi jika saya mau. Ia juga bercerita, jika pernah punya pengalaman serupa dengan perasaan yang sama dengan saya, saat diberi bibit bunga Gemitir oleh temannya. Tapi temannya juga memahami situasinya dan malah menawarkan untuk memberikan bibit baru.  Ooh ?!

Dunia ini ternyata penuh dengan orang baik.

BACAAN MINGGU INI: CINTA TAK KENAL TAKUT.

Standard

Karya Putu Satria Kusuma.

Buku “Cinta Tak Kenal Takut” karya Putu Satria Kusuma.

Sebenarnya buku ini sudah saya terima dari sahabat Putu Satria sejak awal Juli tahun lalu. Hanya karena tertinggal di rumah di Bangli-Bali, dan saya belum sempat pulang lagi hingga awal tahun ini, saya belum membacanya.

Buku yang merupakan Kumpulan Drama Mengenang Soekarno ini diterbitkan pada bulan Mei 21 dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni.

Buku ini terasa istimewa bagi saya, pertama karena dari sekian jumlah buku yang saya terima dari para sahabat penulis, baru kali ini yang berupa kumpulan naskah drama. Paling banyak berupa kumpulan puisi dan kumpulan cerpen. Ini sangat menarik.

Kemudian buku ini mengambil thema tentang Soekarno, Sang Proklamator dari sudut pandang para pencintanya, yang memahami sejarah dan ingin meluruskannya dari carut-marut arus informasi dan pembelokan. Dari ide sentral inilah kemudian 10 naskah drama di buku ini dikembangkan.

Saya menyukai kesepuluh naskah drama yang ada di dalam buku ini. Membacanya seperti menemukan kembali permata yang lama hilang, dalam gaya satire, sedikit ironis dan membuat kita ingin senyum walau nyesek.

Semuanya menarik. Mulai dari Cinta Tak Kenal Takut, Lawan Juga Kawan, Pembuat Teh di Gedung Tyuuoo Sangi In dan seterusnya hingga Tarian Bulan Juni. Tapi tentunya naskah yang pertama “Cinta Tak Kenal Takut”, yang dijadikan judul buku ini memang terasa sangat istimewa.

Naskah drama pendek ini cuma dimainkan oleh Kakek, Nenek & Tetangga sebagai tokoh utamanya – dan mungkin beberapa sosok maut. Bercerita tentang si Kakek yang sudah mulai pikun, si Nenek yang justru sangat tajam ingatannya tentang kejadian seputar 30 September 1965 (he he.. saya lahir beberapa harinya kemudian setelah peristiwa itu). Di saat kondisi chaos seperti itu, ada saja orang yang punya kedekatan dengan penguasa mengambil kesempatan dengan memberikan daftar orang-orang yang perlu dibantai jika tidak sepaham dengannya. Bahkan memfitnahpun dilakoni juga. Sehingga dalam peristiwa itu banyak orang yang kehilangan nyawa tidak jelas. Si busuk hati ini diperankan oleh Si Tetangga yang di akhir hayatnya membuat pengakuan dosa.

Putu Satria Kusuma berhasil mengajak pembacanya ikut merenungkan kembali sejarah yang sebenarnya terjadi, bukan yang selama ini di”brain-wash”kan kepada kita sejak di bangku sekolah.

Dari sini saya membayangkan panggung pementasan drama anak-anak sekolah dengan kwalitas penggarapan yang baik dengan menggunakan naskah-naskah yang memberi edukasi dan pelurusan sejarah seperti ini.

Sukses terus untuk Putu Satria Kusuma. Terus aktif dan produktif ya.

SEGENGGAM DAUN KELOR.

Standard

Di sebuah Group Chat di WA, teman-teman saya sedang asyik mengobrol tentang Sate Kambing, dan tukang Sate Kambing yang sangat terkenal enak dekat kantor kami yang lama. Tentu banyak teman yang kangen dan memberikan emoticon ngiler . Tapi ada beberapa orang juga yang bilang nggak tertarik, karena emang nggak doyan daging kambing.

Saya termasuk salah satunya yang tidak ngiler. Selain memang tidak suka, kebetulan tekanan darah saya sedang terdeteksi terlalu tinggi. Tentunya Sate Kambing bukanlah pilihan yang tepat dalam keadaan seperti ini.

Teman-teman kaget mengetahui tekanan darah saya yang memang sedang tinggi-tingginya. Lalu pembicaraanpun beralih ke seputar  Hypertensi. Seorang teman memberi informasi bahwa daun Kelor membantu menurunkan tekanan darah.

Udah makan daun kelor, rebus 300 g, kasih bawang, makan pake sambel, 2 hari pagi siang sore, udah pasti turun.”

Oh ya?  Memang sering denger sih jika Daun Kelor ini bermanfaat. Bahkan kalau di Bali, tanaman ini dipercaya sebagai penolak niat jahat.  Tapi saya baru denger soal manfaat Daun Kelor ini untuk hypertensi. Wah…saya pengen banget nyobain, karena kebetulan saya juga suka rasa daun Kelor.  Tapi nyarinya di mana ya ?

Tidak ada dijual di tukang sayur. Dan saya juga tak punya pohonnya di halaman. Terus terang  ini adalah tanaman yang belum sukses saya tanam. Sudah pernah mencoba 3 x menanam  namun gagal terus. Bahkan pernah dikasih batangnya dari Bali oleh seorang adik sepupu, tetapi tetap saja tidak sukses tumbuh.

Seorang teman menyarankan membeli online saja. Seorang teman yang lain mengatakan jika ibunya pernah menanam pohon Kelor tapi sudah dicabutin Bapaknya. Ooh…sayang sekali. Tapi tak berapa lama teman saya itu japri, mengabarkan jika pohon Kelor di rumahnya masih ada. Dan ia ingin mengirimkan daunnya ke rumah serta minta alamat saya.

Esok paginya, daun -daun Kelor muda itu sampai di rumah saya. Cepet banget. Gratis pula. 

Sayapun memetik daunnya satu per satu, melepas dari tangkainya agar tidak keras saat dimakan. Sambil membersihkan daun Kelor ini saya terkenang akan teman-teman saya di Group Chat itu. Para sahabat yang sangat akrab, bagaikan saudara sendiri.

Para sahabat yang saya ajak dalam suka dan duka saat kami masih bekerja bersama dalam naungan perusahaan yang sama. Para sahabat saat menikmati masa muda, dan juga yang juga akan menua bersama saya. Para sahabat yang sangat peduli akan kesehatan saya, perhatian dan sangat sayang.

Sahabat yang selalu menjapri,
Daaannn…. semoga segera sembuh dan sehat kembali ya…
Jangan stress Dan. Paling gampang memicu tekanan darah. Coba meditasi. Sambil tiduran aja, atur napas. Insya Allah membantu. Aku bantu doa ya. Peluuukkk”.

Tanpa terasa air mata saya meleleh. Terharu dan bahagia berada diantara para sahabat yang peduli dan penyayang.

Daun Kelor mungkin bisa bisa saya dapatkan dengan cara lain. Mungkin bisa memesan dari tukang sayur, atau membeli online.Tetapi persahabatan dan kasih sayang adalah sesuatu yang sangat berharga, tidak bisa diperjualbelikan, dan tidak bisa didapatkan dengan mudah kecuali dengan ketulusan hati.

Saya menghapus air mata saya perlahan. Segenggam Daun Kelor ini sudah siap untuk dimasak Sayur Bening. Semoga menyembuhkan.

KEBERATAN BEBAN.

Standard
Bunga Mawar

Saya punya setangkai pohon Mawar dengan bunga yang sangat indah. Kelopak bunganya banyak bertumpuk-tumpuk, berwarna pink sangat lembut dan halus. Melihatnya saya jadi membayangkan keanggunan dan kelembutan seorang wanita cantik yang simple, namun  kebaikannya selalu menenteramkan orang-orang di sekelilingnya   Sungguh, bunga Mawar ini selalu membuat saya terpesona setiap kali mekar.

Namun ada satu hal yang cukup mengganggu tentang Bunga Mawar ini. Karena kelopaknya bertumpuk-tumpuk, bunganya menjadi besar dan berat. Terlalu berat bagi tangkainya yang kecil dan halus. Sehingga terkadang saya khawatir, ini bisa mematahkan tangkai bunganya sendiri.
Lebih parah lagi, di tangkai yang sama terkadang ada 2 – 3 kuncup bunga lagi yang belum mekar. Rasanya hati saya jadi ketar-ketir. Takut patah.

Sebetulnya segala sesuatu di dunia ini sudah ada takaran dan kapasitasnya. Mengambil beban lebih berat dari kapasitas maksimal yang bisa dilakukan, berpotensi mengganggu.

Contoh yang paling dekat dengan saya itu misalnya soal kesehatan. Soal tekanan darah dan kadar garam yang bisa bermanfaat untuk kesehatan tubuh.  Menurut informasi kesehatan, asupan garam yang bisa ditolerir tubuh adalah max 1600 mg per hari. Pada kenyataannya mungkin saya mengkonsumsi garam jauh lebih banyak dari yang bisa ditolerir.  Satu sendok teh garam saja sudah 2000 mg.

Dan itu terjadi nyaris setiap hari selama bertahun-tahun. Sehingga tubuh saya kelebihan beban garam. Muncullah berbagai penyakit, mulai dari tekanan darah tinggi hingga gangguan fungsi tubuh yang lain.

Dalam bidang Penjualan, kelebihan beban juga sangat mungkin terjadi. Misalnya seorang pemasar yang  hanya mampu menyalurkan barang ke toko-toko langganannya, rata-rata 200 -250 juta per bulan, tetapi memaksa distributor agar menyediakan barang senilai 500 juta  per bulan. Nah jika ia tak mampu mencari toko-toko lain lagi, tentu lama-lama stock akan menumpuk dan tak bisa disalurkan dengan normal lagi. Sebagai akibatnya pembayaran dari distributorpun jadi tersendat. Kelebihan stock. Keberatan beban.

Keberatan beban juga mungkin terjadi pada bidang Politik. Orang yang terpilih menduduki posisi ataupun jabatan tertentu, namun tidak memiliki kompetensi yang memadai.

Ambil contoh, seorang kepala daerah yang menang dalam pilkada karena gencarnya kampanye yang ia lakukan dan bukan karena leadership atau kemampuan managerialnya yang bagus atau kemampuan professionalnya yang lain. 

Sementara lawannya yang sebenarnya lebih berkompeten dan lebih professional, entah karena kekurangan dana atau kurang aggresif dalam melancarkan kampanyenya, jadi kurang dikenal oleh publik dan tidak terpilih.

Yang terjadi berikutnya adalah sang pemimpin terpilih tidak mampu mengelola daerahnya dengan baik dan optimal untuk kepentingan seluruh masyarakat, dan bahkan cenderung hanya mengeluarkan kebijakan dan aturan-aturan yang menguntungkan bisnis personalnya sendiri dan kelompoknya.

Keberatan beban! Dalam bentuk apapun, selalu berpotensi membuat kerusakan. Mau itu dalam bentuk bunga yang lebih berat dari yang bisa ditunjang oleh tangkainya, mau itu murid yang dimasukkan ke dalam kelas percepatan yang kemampuannya sesungguhnya belum di situ, mau itu rumah tangga yang lebih besar pasak dari tiang,  mau itu pejabat yang kurang kompeten, hingga makan yang lebih banyak dari yang bisa diserap tubuh.

Saya memandangi bunga mawar itu.
Banyak isyarat kehidupan yang disampaikan. Saya bepikir untuk membantunya menambahkan tiang penyangga kecil di dekat bunganya.