Monthly Archives: March 2022

MEMBACA “LUKISAN KABUT”Karya GM SUKAWIDANA

Standard
Lukisan Kabut ‘ karya GM Sukawidana

Saya dikirimin buku “Lukisan Kabut”, sukumpulan puisi karya Pak GM Sukawidana, yang dilahirkan sekitar tahun 2020 -21.  Tadi pagi seusai olah raga  saya berkesempatan membaca-baca isinya.

Begitu membuka sampulnya, saya langsung berpikir, waaah…tumben nih Pak Guru kita melepaskan diri dari magnet upacara-upacaranya. Judulnya Lukisan Kabut dengan cover berwarna kelabu dengan ilustrasi sepasang manusia berlindung dan berdoa di bawah pohon kehidupan, dengan latar belakang malam yang walau kelam namun tetap ada cahaya purnama yang terang, karya Gung Man Wied.  Ada bayangan kelabu menghampiri perasaan saya.

Tetapi setelah membuka-buka halaman buku ini, ternyata Pak GM tak sepenuhnya meninggalkan upacara- upacaranya. Bahkan masih tetap terasa sangat kuat. Beliau salah satu penulis yang saya kagumi, atas kecintaan dan konsistensinya menunjukkan warna Bali yang tak pernah pudar. Setitikpun tak tergerus oleh waktu ataupun dipengaruhi oleh sekitar.

Yang sedikit berbeda mungkin seperti pengakuan beliau, di buku Lukisan Kabut ini ada cukup banyak puisi-puisi yang mencerminkan dan mengekspresikan berbagai peristiwa “muram”. Ya .. terasa. Sebetulnya kurun waktu 2020-21 itu adalah kurun waktu di mana sang Covid-19 merajalela dan sungguh membuat wajah Bali menjadi bermuram durja.
Puisi “Upacara Api” misalnya. Tanpa menuliskan secara explisit tentang Corona, tetapi suasana Corona sangat terasa di sini.

“….. tabuh lesung di halaman/ halau gerhana/wabah sudah merebak/mengapa matahari kehilangan kendali? /orang-orang penuh dengan kecemasan/ menangkar diri dalam kabut ketidakpastian…. “

Mdmbaca penggalan ini, saya merasakan situasinya. Merasakan bagaimana kecemasan telah menguasai  dan kita semua berusaha melindungi diri, memakai masker dan tidak keluar rumah jika tidak penting-penting amat, entah kapan Corona ini akan berakhir,  yang digambarkan dengan sangat menarik oleh Pak GM srbagai “menangkar diri dalam kabut ketidakpastian”.


Wabah ini sungguh membawa kemuraman. Padahal sebelum wabahpun sudah banyak terbentuk kemuraman-kemuraman lain yang mengabu-abukan wajah Bali. Mulai dari soal sengketa muara  hingga tanah sawah dan tegalan yang menghilang dicaplok mulut investor yang mengancam kelestarian dan keberadaan adat, budaya dan upacara di Bali. 

Keresahan ini masih terasa sangat kental di puisi-puisi tentang seputaran denpasar, tukad badung  teluk benia dan sekitarnya. Seperti misalnya potongan baris puisi “Menangkar Kunang-Kunang di Tukad Badung” ini

“…dengan pelepah pisang/dibuat perahu/pada bagian tiangnya/ada bendera merah putih kecil/dihanyutkan menuju muara/ “sampaikah nanti berlabuh di muara teluk benoa/setelah teluk benoa ditimbun oleh para investor”/ begitu penuh harap….”

Perut saya terasa kelu membaca ini.

Ada satu hal lagi yang menarik hati saya, Pak GM ini adalah seorang penyair yang sangat setia kawan, sering bermurah hati menuliskan kenangan untuk para sahabatnya. Ada banyak puisi yang beliau dedikasikan untuk nama -nama tertentu yang pastinya adalah para sahabat maupun orang dekat beliau. Saya perhatikan hal ini juga pada buku-buku beluau di terbitan sebelumnya.

Salah satu contohnya adalah puisi yang ditulis  oleh Pak GM untuk menziarahi almarhumah penyair Agustina Thamrin. Kebetulan saya juga cukup mengenal baik almarhumah. Membaca ini tentu saja saya merasa tersambungkan. Merasakan dan membayangkan kesunyian itu, merasuk ke dalam pikiran saya hingga tak kuasa membendung air mata.

Demikian juga pada puisi yang didedikasikan untuk mahaguru Umbu Landu Paranggi. Ada beberaa nama lain lagi dan diantaranya ada yang saya kenal juga.

Ini buku yang sangat menarik untuk dibaca dan disimak.