Monthly Archives: April 2022

KISAH TUPAI & BUAH MATOA.

Standard
Buah Matoa

Di taman perumahan tempat saya tinggal, ditanam 2 batang pohon matoa. Walaupun saya sering berada di rerumputan di bawah pohon matoa itu untuk memungut jamur liar, saya kurang nemperhatikan jika pohon matoa itu sedang berbuah.

Hingga suatu pagi saya melihat remah-remah kulit buah matoa berceceran di rumput taman. Wow! Saya mendongakkan kepala saya dan  melihat ternyata pohon itu sedang  berbuah. Masih muda-muda sih. Saya pikir mungkin itu perbuatan tupai. Barangkali tupai bisa menemukan buah yang tua diantara buah-buah muda itu, dan memakannya.

Aah ya. Sangat jelas itu perbuatan tupai. Saya menjadi sangat bersemangat. Bukan karena buah matoa itu. Tetapi karena kemungkinan saya akan bertemu dengan tupai. 

Tupai! Tupai! Sejak kecil saya senang sekali melihat tupai. Di Bali ada banyak tupai.  Tapi sayang, saya jarang melihat tupai sejak tinggal di TangSel. Melihat ada jejak gigitan tupai pada remah-remah  kulit buah matoa bertebaran di sana sini, rasanya sekarang saya jadi sangat bersemangat.

Bangun pagi, setelah matikan lampu taman dan sedikit persiapan  saya langsumg lari ke taman. Mata saya selalu tertuju ke pohon-pohon, berharap menemukan  tupai. Tak usah banyak lah. Seekor saja , sudah bakalan senang hati saya. 

Setiap pohon yang ada di taman saya periksa dengan mata saya. Saya teliti dari batang, cabang  ranting, hingga ke pucuk-pucuk daunnya. Saya tak berhasil menemukan tupai seekorpun. Tapi saya tidak berputus asa.

Esoknya saya datang lagi ke taman. Menemukan lagi remah – remah kulit buah matoa di remputan. Saya makin bersemangat mencari tupai. Tapi tidak ada hasilnya. Demikian setiap pagi….

Akhirnya pencarian saya berhenti, ketika suatu pagi, saya menemukan buah-buah matoa berserakan di rerumputan di bawah pohonnya. Seseorang pasti telah memukul-mukul buah matoa itu agat berjatuhan dari pohonnya.  Banyak banget.

Saya ambil sebuah dan saya buka.  Memang tidak sepat, tetapi masih muda.  Hmm… sayang banget jika buahnya disia-siakan begini ya.

Mungkin orang itu tidak paham. Mungkin ia menyangka buahnya sudah matang. Tetapi setelah dicoba ternyata masih muda. Jadi dibiarkan berserakan begini jadi sampah.  Sekarang saya tahu, pelakunya ternyata bukan tupai. Tetapi manusia .

Sayang banget. Memang pohon ini ada di taman. Bisa dibilang milik umum. Siapapun anggota perumahan boleh ngambil asal mau. Tetapi jika dipetik saat masih muda begini, dan dibiarkan berserakan di rerumputan kan sayang banget ya.

Waktu berlalu. Kembali saya jalan di taman. Kembali saya melihat ada banyak sekali buah matoa berserakan di rerumputan. Tentu semalam atau kemarin sore ada orang yang menggoyang-goyangkan pohon matoa ini lagi dengan galah. Sehingga buahnya berjatuhan sangat banyak.

Kali ini ukurannya sudah lebih besar-besar. Barangkali buah yang matang telah diambil. Sedangkan yang masih hijau dibiarkan berserakan di rerumputan. 

Seorang anak kecil turun dari sepeda. Ia bertanya, “Buah apa ini?”.
“Buah matoa” jawab saya.
“Bisa dimakan?”
“Bisa” kata saya.
“Coba,” katanya lagi.
“Kamu puasa nggak?”
“Nggak” jawabnya 

Saya ambil beberapa buah. Anak itu menunggu dan melihat ke arah saya. Barangkali ingin tahu apakah saya akan baik-baik saja setelah mencicipi buah itu. Saya buka dan manis juga rasanya. 

Wajahnya terlihat lega melihat saya ternyata baik-baik saja. Seolah berkata, buah matoa ini beneran tidak beracun .

Ia ikut mengambil sebuah dan memakannya. Ia mengacungkan jempolnya ke saya. Lalu ia mengambil beberapa buah lagi dan dimasukkan ke saku celananya.

Saya melanjutkan langkah saya. Olah raga jalan kaki pagi itu. Ketika kembali melewati jalan setapak di bawah pohon matoa itu, saya lihat sudah ada beberapa anak lain yang ikut memunguti buah itu dan memasukkannya ke kantong celananya.  Mungkin sebagian besar dari mereka itu sedang puasa. Tidak ikut makan.  Hanya sibuk memungut buah yang ukurannya besar-besar  untuk dibawa pulang.

Sebenarnya masih banyak juga sih yang berserakan  di rerumputan itu. Tapi entah kenapa hati saya merasa senang. Setidaknya sebagian dari buah yang sudah jatuh  berserakan itu ada yang memanfaatkan.

Pemberian alam. Sayang jika dibiarkan tersia-sia.

ALAM SEKITAR : JAMUR SIKEP.

Standard

EDIBLE WILD MUSHROOM

Kalau nyapu halaman, paling senang sambil melihat-lihat rerumputan, barangkali ada jamur Bulan yang muncul. Apalagi di mudim penghujan seperti ini.

Ooi… tapi kali ini yang muncul bukan Jamur Bulan. Tapi Jamur Sikep alias Jamur Prajapati yang juga bisa dimakan. Mirip Jamur Bulan, tai kecil kecil dan bergerombol. Payungnya berwarna lebih gelap.

Kata Jagat Bumi Banten sahabat saya, saat saya memastikan bahwa Jamur ini bisa dimakan, konon jika kita menemukan jamur ini, kita harus menari- nari 💃💃💃 Biasanya jamur jamur ini akan bermunculan.

Coba saya praktekan. Heee…bener aja. Masih ada yang muncul lagi setelah saya menari 🤣🤣🤣.

Mungkin hanya sebuah kebetulan. Menari adalah ungkapan rasa gembira menemukan jamur- jamur yang bisa dimakan ini. Rasa syukur bahwa alam pun memberikan kita sumber makanan dengan gratis.

YANG PATAH TERJUNGKAL

Standard
Elang Bondol dan Salak Pondoh

Belakangan ini saya sering lewat di jalan tol Jakarta -Tangerang. Dan melihat ada sebuah landmark menarik di sisi jalan tol, yakni patung seekor Burung Elang yang terjungkal.

Awalnya saya bingung dengan patung burung itu, mengingat saya melihatnya pertama kali saat kendaraan melaju dengan cukup cepat. Saya pikir itu menggambarkan burung yang sedang menyambar sesuatu sambil terbang miring-miring. Dan apa pula benda yang disambar itu ya?

Setelah melihat kembali, barulah saya ngeh… oh itu rupanya patung Burung Elang Bondol yang sedang membawa buah Salak Pondoh, yang merupakan maskot DKI Jakarta. Kenapa miring?

Oooh… bagian patung yang bertugas menunjang agar Burung Elang Bondol itu bisa di posisi terbang yang enak, rupanya patah. Terjungkal miringlah burung itu. Kenapa ya bisa patah?

Entahlah.

Melihat patung burung yang patah itu, kok hati saya jadi terasa patah dan dunia jadi terlihat sendu kelabu ya ?

Sesuatu yang patah itu rasanya memang tidak ada yang nyaman. Entah itu tangkai bunga yang patah, semangat yang patah atau hati yang patah. Semua tak ada yang nyaman.

Semoga segera mendapatkan perbaikan.

BHINEKA TUNGGAL IKA.

Standard


Living Free In Harmony.

Kemarin, sehabis olah raga saya berhenti sejenak di pojok halaman di mana bunga-bunga Thunbergia ungu dan Kembang Sepatu jingga berbunga lebat. Diantara bunga-bunga jingga itu saya melihat tersembul sekuntum bunga Kembang Sepatu berwarna merah. Muncul dari batang yang sama.

Sebenarnya ini bukan kejadian yang pertama. Cukup sering terjadi pokok Kembang Sepatu jingga saya ini mengeluarkan bunga merah. Dan walau warnanya sama-sama jingga, cukup sering juga keluar bunga dengan mahkota yang tidak bertumpuk, karena biasanya mahkota bunganya bertumpuk. Dan tumpukannya pun bervariasi dari yang sangat tebal hingga tipis. Berbeda-bedalah, tetapi tetap dari pohon yang sama. Bukan tempelan atau cangkokan.

Senang saya melihatnya. Sedemikuan damai hidup berdampingan.

Memandangi bunga-bunga yang berbeda walau asalnya dari satu pohon ini, saya jadi teringat dengan carut marutnya situasi berkebangsaan kita belakangan ini.

Kita ini satu bangsa. Bangsa Indonesia. Walaupun dari awalnya kita sudah berbeda-beda. Datang dari berbagai macam adat, budaya, bahasa, suku yang mendiami berbagai wilayah nusantara yang terpisah-pisah pulau dan lautan. Namun para pendahulu kita sudah sepakat dan mengambil keputusan dalam sebuah Sumpah Pemuda untuk berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu yakni Indonesia, bahkan jauh-jauh hari sebelum proklamasi Kemerdekaan. Mereka rela berjuang habis-habisan dengan mengorbankan harta benda, nyawa dan bahkan ego kesukuannya masing-masing demi terbentuknya negara Indonesia yang bersatu dan berdaulat.

Dan tentunya sebagai anak bangsa yang baik, sudah sepantasnya kita memperkuat apa yang telah diperjuangkan oleh para leluhur kita itu untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan bersatu. Bukannya justru memecah belah persatuan dan memporak-porandakan kerukunan, memperkuat eksklusifitas golongan, menganggap golongan kita lebih baik, lebih benar dan lebih berhak ketimbang orang yang di luar golongan kita.

Belakangan kitapun sangat mudah terprovokasi, tersulut amarah tanpa memahami keseluruhan permasalahan yang ada. Bahkan ada juga yang kelepasan menebarkan ujaran-ujaran kebencian dan melakukan kekerasan yang sangat berbahaya dalam usaha kita memperkuat persatuan bangsa. Dan jika dipelajari lebih jauh banyak terkait dengan urusan politik dan kepentingan golongan.

Yuk teman-teman, lebih baik kita perkuat persatuan dan kebangsaan kita. Kita kembangkan sikap saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung dan bertoleransi terhadap sesama anak bangsa  Jangan terprovokasi oleh hal-hal yang menyulut kebencian dan melemahkan persatuan kita sebagai bangsa. Cinta Indonesia ❤❤❤

Bhineka Tunggal Ika.
Bhina ika tunggal ika. Tan hana dharma mangeruwa.

NASI TIM AYAM JAMUR.

Standard
Nasi Tim Ayam Jamur.

Saya melihat sebuah foto Nasi Tim Ayam diunggah oleh salah seorang teman saya ke Facebook. Weeh…jadi ngiler.

Akhirnya saya memutuskan untuk membuatnya sendiri.  Karena kelihatannya mudah dan saya bisa menyesuaikan dengan selera saya.

Bahannya tentu beras yang dimasak jadi Nasi. Lalu untuk toppingnya, saya perlu fillet daging ayam, jamur jenis apa saja, tapi saya paling suka jamur shiitake, bawang bombay, bawang putih, jahe, lada bubuk, minyak wijen, minyak goreng, kecap manis, kecap asin, kaldu ayam/jamur.

Cara bikinnya, daging ayam dan jamur ducuci lalu dicincang kecil kecil. Bawang bombay,bawang putih dan jahe juga dicincang kecil kecil.

Panaskan wajan, tuang minyak kelapa tunggu sampai mendidih, lalu tumis bawang bombay, bawang putih, jahe ayam dan jamur.  Tambahkan minyak wijen, kaldu ayam/ jamur dan kecap manis dan sedikit kecap asin. Aduk-aduk hingga matang.  Angkat.

Sambil menyiapkan tumusan ayan jamur, kira bisa sambil menanak nasi.

Ambil mangkok kecil. Masukkan tumisan ayam jamur ke dasar mangkok. Lalu masukkan nasi yang baru matang ke dalam mangkok porselen/ tahan panas. Agak ditekan sedikit, lalu di tim.

Hidangkan hangat-hangat.

LITTLE PRESSURE TO SPARK UP THE SPIRIT.

Standard
7 Days in a row

Beri Sedikit Tekanan , Untuk Membangkitkan Semangat.

Belakangan ini saya sering mengunggah foto berkeringat habis berolah raga ke  media sosial.

Narsis???? Betul sih. Saya termasuk orang yang rada-rada menyukai diri saya sendiri.

Tetapi selain itu, ada alasan yang jauh lebih penting yang menyebabkan, mengapa saya melakukan itu. Mengupload foto-foto berkeringat itu setiap hari.

Selama berpuluh tahun saya menjalani gaya hidup yang kurang sehat. Pola makan kurang sehat, kurang minum, pola tidur kurang teratur, jumlah jam tidur yang sangat minim, kelebihan berat badan yang tak terkontrol, kurang bergerak dan tidak berolah raga. Akibatnya saya terdiagnosa mengidap beberapa penyakit yang membahayakan diri saya.

Sangat menyedihkan. Terlebih saat ada wabah corona, penyakit seperti yang saya derita sering menjadi faktor penyerta dan pemicu kematian pada pasien.

Setiap kali habis check lab dan konsultasi dengan dokter, saya merasa sangat khawatir. Segera saya rajin minum obat, mengubah pola makan saya dan berolah raga. Wah… hasilnya membaik. Senang hati saya. Namun kebosanan sangat cepat muncul. Saya bosan berolah raga. Tidak disiplin lagi menjaga pola makan dan minum obat. Pas waktunya kontrol lagi, eeeh… hasil labnya memburuk. Tentu saja dokter menasihati saya kembali, dan memberi obat kembali sesuai dengan situasi kesehatan saya yang terakhir.

Saya mulai lagi bersemangat minum obat, atur pola makan dan berolah raga. Syukur setelah kontrol berikutnya, hasilnya membaik. Nah saya mulai santai lagi. Mulai kurang disiplin lagi minum obat dan mengatur pola makan. Berhenti olah raga. Begitu saat kontrol tiba, eeeh… hasil test kesehatan saya memburuk lagi.

Demikian terjadi berulang-ulang. Hingga suatu hari dokter berkata,

“Ibu mesti berolah raga, Bu. Ringan -ringan saja. Tapi usahakan teratur. Pengalaman saya menangani banyak pasien, menunjukkan kalau kesembuhan terbaik terjadi pada pasien yang disiplin minum obat, jaga pola makan dan tidur, dan olah raga teratur”.

Saya mengangguk. Lalu dokter melanjutkan lagi.

“Tapi jika pasiennya bandel, pasien yang rajin berolah raga walau bandel-bandel dikit urusan minum obat dan makan, menunjukkan hasil yang lebih baik ketimbang pasien yang disiplin minum obat dan jaga pola makan, tapi tidak olah raga”.

Saya memikirkan kalimat dokter itu. Kalau gitu saya harus benar-benar berolah raga teratur, disiplin dan konsisten. Tapi bagaimana caranya?

Pertama saya memiliki kelemahan susah tidur cepat dan suka begadang. Jadi susah bangun pagi.
Kedua, jikapun saya bisa bangun pagi, sulit untuk memulai bergerak dan berolah raga. Dan berikutnya jika misalnya saya sudah berolah raga sekali,  susah untuk membuat diri saya disiplin berolah raga teratur. Paling banter 2-3 kali , saya jeda. Dan kalau sudah sempat jeda berolah raga, biasanya langsung berhenti dan nggak olah raga lagi. Memulainya kembali terasa sulit.

Pusing saya memikirkan, gimana caranya agar bisa olah raga secara teratur.

Akhirnya saya terpikir untuk mencoba cara baru untuk memaksa diri saya mau nggak mau harus berolah raga.

Saya membuat statement di SOSMED bahwa saya akan berusaha  berolah raga selama 7 hari berturut-turut tanpa jeda. Saya pikir 7 hari berturut-turut bukanlah target yang sulit banget. Beda jika saya bikin target satu bulan setiap hari berturut-turut. Itu sangat susah. Tetapi, target 7 hari berturut-turut, sejujurnya juga bukan target yang mudah dicapai. Karena rasa malas, lelah, jenuh dan bosan sangat mudah datang mengganggu.

Karena saya membuat statement itu di SOSMED, maka mau tidak mau saya harus melakukannya.

Demikianlah saya mulai berolah raga pagi. Memotret diri seusai olah raga dan berkeringat. Lalu upload ke Sosmed. Sebagai bukti bahwa saya memang sudah berolah raga hari itu.   Hari pertama berhasil. Upload! 
Hari ke dua berhasil, upload! 
Hari ke tiga, hari ke empat dan seterusnya berhasil. Saya upload terus buktinya.

Akhirnya Yes!! Hari ke tujuh! Saya berhasil menyelesaikan berolah raga 7 hari berturut-turut tanpa jeda.  Saya takjub sendiri dengan upaya saya.

Dengan mengupload target dan upaya serta proses saya untuk mencapai target itu ke SOSMED, memberi tekanan sosial kepada diri saya sendiri untuk terus berusaha dan terus berusaha setiap hari. Karena kalau saya tidak berolah raga, tidak ada foto berkeringat hari itu yang bisa saya upload, maka saya harus menanggung malu di depan publik. Berarti saya telah ingkar pada ucapan saya sendiri.

Sekarang tanpa terasa saya sudah berolah raga selama 7 hari berturut -turut selama 8 minggu. Dan sekarang ini sudah di putaran ke 9.

Jika saya tidak membuat statement dan merasa tidak perlu mengupload foto foto berkeringat saya itu ke sosmed, saya yakin pasti saya sudah berhenti berolah raga di hari ke empat atau ke lima, karena toh tidak ada yang tahu. Toh tidak ada yang membuat saya malu jika saya terus meringkuk di tempat tidur dan tidak berolah raga seperti sebelum-sebelumnya.

Memberi sedikit tekanan sosial pada diri sendiri, saya rasa cukup penting untuk membantu kita menjadi lebih disiplin dan lebih semangat.

“Dibutuhkan sedikit tekanan, agar bisa meloncat dengan baik”.

Dan setelah saya pikir-pikir, hukum ini sesungguhnya berlaku di mana-mana. Contohnya pada ayunan jungkat-jungkit. Jika  ingin agar sisi ayunan yang di ujung sana berjungkit ke atas, maka  yang di ujung sini harus diberi beban dan tekanan terlebih dahulu. Dan sebaliknya, sehingga mekanisme jungkat-jungkit terjadi.

Atau mainan kodok loncat dari karet. Anak-anak harus menekan sedikit bagian belakang kodok mainan itu agar si kodok mau meloncat ke depan.

Saya pikir mekanisme alam yang serupa, sesungguhnya bekerja untuk memicu semangat hidup kita.

SMALL TARGET, REACHABLE TARGET.

Standard

Memecah Target Besar Yang Sulit Menjadi Target Kecil-Kecil Yang Mungkin Dicapai.

Tak terasa dua bulan sudah berlalu, sejak pertama kali saya memutuskan untuk berolah raga setiap hari, guna memperbaiki kesehatan saya. Saya mulai berolah raga pagi sejak tanggal 11 Februari tahun ini dan hingga hari ini masih terus berolah raga tiap pagi, hanya pernah jeda sekali pada Hari Raya Nyepi.

Buat saya ini adalah pencapaian yang luar biasa, walaupun bagi sebagian orang yang memang disiplin dan rajin berolah raga, tentu ini bukan apa-apa. Karena sebelumnya, ngebayangin target berolah raga tiap hari selama sebulan penuh tanpa jeda hari itu kok rasanya berat banget dan nggak mungkin. Saya sangat yakin itu tidak akan tercapai. Apalagi 2 bulan berturut-turut. Sangat sangat sangat berat dan tidak mungkin tercapai rasanya.

Lalu bagaimana saya bisa melewati semua ini selama dua bulan lebih?

Yang saya lakukan adalah memecah target besar yang rasanya sangat berat dicapai menjadi target kecil-kecil yang mungkin tercapai oleh saya.

  1. Lupakan Target Sebulan. Fokus Pada Target Seminggu.

Saat memikirkan target berolah raga pagi selama sebulan penuh saya yakin tidak akan bisa saya capai. Tapi jika hanya 7 hari berturut-turut, kok rasanya saya masih sanggup ya. Soalnya targetnya nggak lama. Hanya 7 hari.

Lalu saya coba jalani. Olah raga setiap hari. Saat ada halangan datang, seperti rasa malas dan enggan, saya membujuk diri saya sendiri. “Targetmu cuma 7 hari. Nggak banyak. Ayo teruskan. Dikit lagi nyampe!!!”. Eeeh…ternyata bisa lho saya berolah raga selama 7 hari berturut-turut. Saya memuji diri saya sendiri.

Dan karena 7 hari pertana sudah lewat, saya jadi percaya diri, berarti jika saya kasih target 7 hari lagi ke depannya, mungkin saya bisa juga. Akhirnya saya jalani 7 hari berikutnya lagi dari nol. Dan bisa!!. Kasih target 7 hari berikutnya lagi. Dan bisa lagi !!. Begitu seterusnya. Akhirnya berolah raga setiap hari selama sebulan tercapai. Dan sekarang dua bulan tercapai.

Ternyata dengan memecah target besar menjadi kecil-kecil membuat kita menjadi lebih percaya diri dan yakin bisa mencapainya.

Ketimbang memikirkan target besar sebulan, lebih baik kita fokus pada target mingguan dan terus fokus setiap minggu. Ujung-ujungnya tercapai juga target sebulan yang terasa besar itu.

  1. Berolah raga tidak lama – lama.

Saya tidak menargetkan diri saya harus berjam-jam berolah raga. Cukup antara 45-60 menit tergantung dari jam bangun dan ada jadwal meeting pagi di kantor atau tidak. Bagi saya 45 menit itu sudah cukup berkeringat banyak dan membuat tubuh saya terasa segar.

  1. Berolah raga seimbang
    Dalam berolah raga saya juga tidak ngoyo ngikutin satu jenis saja. Saya coba campur-campur saja sesuai dengan kenyamanan hati saya.

Yang penting saya ada melakukan sedikit pemanasan (ini saya belajar setelah saat di awal kaki saya sempat keseleo, karena saya langsung berlari tanpa pemanasan), sedikit olah raga ringan, berat dan kardio. Kadang senam, lari kecil, jalan kaki, main bola basket, dsb. Saya tidak memaksa diri untuk melakukan olah raga yang kurang saya sukai.

Semua upaya itu, membuat olah raga menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi diri saya.

Semoga ke depannya, saya masih bisa terus konsisten berolah raga.

KEEMPATAN SEPAKBOLA

Standard

Belajar Fleksibilitas Dari Anak-Anak.

Suatu pagi seusai berolah raga di taman perumahan, saya melanjutkan lari kecil di lapangan di sebelah rumah. Kira kira baru dapat sekitar 500 langkah, dua orang anak kecil datang, memarkir sepedanya lalu ikut masuk ke dalam lapangan. Disusul oleh dua orang temannya lagi. Jadi totalnya sekarang ada empat orang anak kecil. Mereka bermain bola dengan riang.

Saya tetap berlari mengelilingi lapangan multifungsi yang kadang menjadi lapangan futsal, kadang jadi lapangan bulu tangkis, kadang lapangan basket, lapangan volley dan bahkan arena jogging. Tergantung situasi.  Beberapa kali bola itu tertendang ke arah saya. Mau tidak mau saya jadi meladeni anak-anak dengan ikut menendang bola untuk mengembalikan bola ke arah mereka.

Lama-lama saya jadi ikut memperhatikan apa yang mereka lakukan juga. Sepakbola yang umumnya dimainkan oleh 2 kesebelasan dengan total pemain 22 orang, sekarang ini hanya dimainkan oleh empat orang pemain. Bahkan untuk bermain Futsal dengan jumlah total pemain yang lebih sedikitpun (total 11 orang) tetap tidak cukup.


Yang tentunya jika berhadapan terdiri atas dua orang vs dua orang anak. Lalu bagaimana caranya mereka bermain?

Karena cuma berempat,  semua pekerjaan dirangkap-rangkap. Penjaga Gawang alias Goal Keeper merangkap sebagai  Pemain Belakang dan sekaligus juga sebagai Gelandang dan sesekali juga menjadi Penyerang.  Atau jika di Futsal, pemain anchor merangkap sebagai pemain flank juga sebagai pivot dan keeper.

Demikian juga anak yang awalnya saya lihat menjadi Penyerang,  juga merangkap sebagai Gelandang dan Bek. Hanya jadi Keeper yang tidak dilakukannya. Kelihatannya  untuk posisi Penjaga Gawang memang tidak ditukar-tukar.

Jadi jelas ini bukan “Kesebelasan Sepak Bola”.  Tapi “Ke-empatan Sepak Bola” atau malah “Ke-dua-an Sepak Bola”.

Walau cuma berempat, saya lihat anak-anak itu tetap bermain dengan semangat dan seru. Sesekali bertengkar ringan, berbeda pendapat, lalu berdamai dan bermain kembali dengan riang. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Saya merasa sangat senang melihat anak-anak itu. Semangat dan kecepatannya dalam menyesuaikan diri dengan situasi sangat tinggi.

Yang sangat menarik untuk dipelajari dari anak-anak ini adalah Fleksibilitasnya dalam bermain.

Anak-anak memilih untuk tetap bermain, walaupun jumlah pemain sangat tidak mencukupi. Tidak ada yang merasa keberatan jika harus melakukan tugas rangkap-rangkap, entah jadi keeper, bek, gelandang maupun penyerang, tidak masalah. Fleksibilitas membantu anak-anak bisa tetap bermain. Karena jika harus menunggu teman sejumlah 22 orang untuk bermain bola atau 11 untuk bermain Futsal tentu akan sulit. Bisa-bisa tidak jadi bermain.

Walaupun tidak sempurna, tetapi fleksibilitas juga membuat anak-anak belajar multi tasking dan memahami permainan dengan lebih baik. Anak-anak tidak hanya berlatih di satu posisi, tetapi juga di posisi lain.

Saya rasa dalam kehidupan orang dewasa, fleksibilitas seperti ini sesungguhnya juga sering dibutuhkan. Memahami situasi dan fleksible, mampu menyesuaikan dengan keadaan akan sangat membantu saat kita menghadapi kendala kehidupan, sehingga tidak harus membuat kita semakin terpuruk.

Hal yang menarik lagi adalah cara anak-anak bertengkar dan berbaikan kembali dengan cepat. Seolah-olah tidak mau membuang waktu untuk menyimpan amarah dan dendam. Ada hal lain yang mereka kejar dan anggap lebih penting dari sekedar bertengkar, yaitu kegembiraan, pertemanan dan kebersamaan.

Dunia kanak-kanak, dunia yang indah. Dunua yang fleksibel, tidak kaku dan tidak dicemari dengan amarah dan dendam.