BACAAN SAAT LIBUR : LAKI LAKI LAKU.Antologi Puisi.

Standard

Sebenarnya buku ini sudah saya terima dari Bang Eki Thadan Metaforma  beberapa bulan yang lalu. Baru sempat saya baca.

Judulnya sendiri emang dah unik. LAKI LAKI LAKU. Yang kayak gimana ini ?  Penasaran dong ya?

Rupanya Antologi Bersama 11 Penyair Laki-Laki Indonesia, Wanto Tirta, Tampil Chandra Noor Gultom S.Sos., M.Hum, Sudarmono, Soekoso DM, Sam Mukhtar Chan, Rd Nanoe Anka, Prawiro Sudirjo  Octavianus Masheka, Dian Rusdi, D’Eros Sudarjono dan Aris Nohara.

Hanya khusus laki-laki karena menurut Editornya, Bang Eki  Eki Thadan, puisi-puisi di buku ini mestinya berkisah tentang potensi lelaki yang tidak diketahui kaum hawa.

Sebagai pembaca hawa yang awam, coba saya simak dan petik beberapa ya. Tentu saja semua yang saya tuliskan ini adalah interpretasi saya semata sebagai seorang pembaca.

Ha! Ternyata bermacam-macam gaya kaum adam ini berpuisi. Topiknya pun beda-beda, mulai dari pencarian, hasrat, cinta dan kerinduan, takdir sebagai laki-laki,  berondong, pencarian jati diri, dan sebagainya.

Saya tertarik pada judul “Mamba Hitam” karya Aris Nohara. Black Mamba  adalah sejenis ular berbisa yang sangat mematikan. Dan puisi ini dimulai dengan kalimat ” kata-kata melingkar di tubuh kawanmu/mendekapnya hingga sesak/dan begitu tak berdaya…”. Entahlah… dari judul dan pembukaannya saya merasakan kengerian dan duka yang dalam. Seseorang telah menderita atau binasa akibat   kata-kata beracun orang lain yang diibaratkan sebagai ular mamba. Ngeriii.

Lalu ada puisi yang puitis romantis karya Octavianus Masheka berjudul Orkes Hujan Rindu.  Saya pikir ini puisi yang disukai banyak perempuan. Bikin hati wanita klepek-klepek. Wanita mana  sih yang tak bahagia mendengar kalimat “…. aku berdansa sendiri dalam melody rindu/membayangkanmu dalam pelukanku” oleh kekasihnya ?

Ha! Ini ada yang protes. “Sebuah Tanya” karya Prawiro Sudirjo. “Laki-laki itu ‘letoy’, lemah dan kaku kok laku? Iya  Memang susah untuk memahami mengapa kok laku . Karya-karya Prawiro Sudirjo di buku ini bisa dibilang menohok.

Rd. Nanoe Anka datang dengan puisi-puisi cinta. Ada yang berjudul “Akulah Lanang Ing Jagad. Kelihatannya mantap ini. Kalimat-kalimatnya sangat convincing bagi kaum wanita untuk mengakui ya betul… kamulah arjuna impianku.

Wanto Tirta menuliskan 3 puisi yang saya pikir themanya menyentuh masalah spiritual, sosial dan kemanusiaan. Entahlah apa benar atau salah. Saya menangkap upaya pencarian makna diri yang cukup kuat di sini.

Penyair Sudarmono, menuliskan puisi-puisi yang berkaitan dengan pencarian cinta lelaki.

Eros dalam puisinya Seringkih Kristal berkata tentang takdir sebagai laki-laki yang harus terus dijalani. Ooh begitu ya? Saya baru terpikir jika laki-lakipun bisa menganggap bahwa jadi laki-laku itu adalah takdir. Bukan wanita saja yang berpikir begitu.

Ada pesan yang disampaikan oleh Soekoso DM untuk wangsa Hawa se Arcapada, agar tidak mendengarkan bisikan lelaki liar.

Sam Mukhtar berkisah tentang perjalanannya menuju senja . Ya…ketiga puisinya bercerita tentang lelaki di kala senja, yang membuat saya ikut-ikutan teringat bahwa  senjapun sebentar lagi menghampiri diri saya juga.

Lalu Chandra Noor Gultom benar-benar khusuk dengan laki-laki laku itu seperti apa. Dijelaskan dalam puisinya Bukan Kuda Liar  Sutera Pilihan dan juga Ksatria Tak Kan Gagap.

Dian Rusdi menuliskan lelaki sebagai sosok ayah dalam puisinya Senja dan Lelaki Matahari Itu Ayah.

Sekali lagi, ini adalah interpretasi saya sebagai seorang pembaca. Selebihnya, arti dan makna dari tiap -tiap puisi ini tentu hanya penyairnyalah yang tahu.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s