Author Archives: Ni Made Sri Andani

About Ni Made Sri Andani

A marketer and a mother of 2 children. Having passion on gardening, art and jewellery. Her professional background is Veterinary Medicine.

MENYAPA WANITA BALI.

Standard

Seorang teman bertanya, bagaimana sebaiknya jika kita ingin memberi sapaan untuk Wanita Bali dalam Bahasa Bali.

Baiklah saya share sepintas di sini ya.

Memanggil seorang wanita di Bali, secara umum sama dengan di daerah lain. Kita lihat-lihat dan perkirakan usianya. Seumuran dengan kita ? Jauh lebih tua dari kita? Jauh lebih muda dari kita? Jika tidak tahu, dikira-kira saja.

Jika memanggil wanita yang SEUMURAN dengan kita, umumnya kita boleh meMANGGIL NAMAnya saja, atau NANA URUT dalam keluarganya (Wayan, Putu, Made, Kadek, Nengah, Nyoman, Komang, Ketut)

Misalnya nama saya Ni Made Sri Andani, maka bisa saja panggil saya Andani, Dani atau Sri.
Boleh juga memanggil saya dg nama urut dalam keluarga saya. Karena saya anak ke dua, saya boleh dipanggil Made, Ade atau Kadek.

Jika memanggil wanita yang kira-kira UMURnya DI ATAS kita, maka untuk sopannya kita tambahkan kata “MBOK” di depan nama nomor urut keluarganya. Kata “Mbok” ini kira-kira setara dengan kata ” Mbak” kalau di Jawa.
Misalnya jika nama saya Ni Made Sri Andani, maka saya bisa dipanggil dengan Mbok Made , Mbok Ade atau Mbok Kadek.

Jika wanita itu tidak ada nama nomor urutnya, maka kita panggil dengan Mbok + namanya. Misalnya Mbok Sri, Mbok Andani.

Bagaimana jika wanita itu LEBIH MUDA dari kita? Kalau wanita yang akan kita panggil itu lebih muda dari kita, cukup PANGGIL NAMAnya saja.

Misalnya nama saya Ni Made Sri Andani, maka jika yg memanggil merasa umurnya lebih tua dari saya, cukup panggil nama saya saja. Andani, Dani, Sri, atau nama nomor urut saya saja, Made, Ade, Kadek.

Jika kita sudah cukup akrab dengannya, maka untuk memanggil wanita yg usianya lebih muda dari kita, kita bisa memanggilnya dengan sebutan GEG atau GEK (aslinya berasal dari kata ‘Jegeg’ yang artinya Cantik) yang jika diterjemahkan setara dengan kata “Dik” dalam bahasa Indonesia.

Misalnya jika nama saya Ni Made Sri Andani, orang-orang yang lebih tua dari saya bisa memanggil saya Geg Made, Gek Ade, Gek Sri, Geg Andani.

Demikianlah kira-kira.

Jangan terbalik ya.
Jangan memanggil wanita yang lebih tua dari kita dengan sebutan “GEG!”. Karena itu sama saja dengan memanggilnya ‘Dik!’. Kecuali jika kita memang ingin mengatakan Mbak Cantik, maka kita boleh memanggilnya ‘Mbok Gek’. Tetap ada kata ‘Mbok’ nya.

Dan sebaliknya jangan memanggil wanita yang lebih muda dari kita dengan sebutan “MBOK”.

Kebalik itu 😀.

Atau jika kita ingin memanggil wanita itu dengan kata ‘IBU’ di dalam Bahasa Indonesia, maka dalam Bahasa Balipun panggilan itu masih ok. Misalnya Bu Made. Bu Andani , dst.

Demikianlah kurang lebih.

Mari mengenal BALI dengan lebih baik.

BERTENGKAR UNTUK APA?

Standard
Pertengkaran Kucing

Sepulang dari berjalan pagi, di dekat lapangan olah raga sebelah rumah saya melihat seekor kucing cukup besar berwarna orange sedang duduk di pojok lapangan yang ketinggiannya sekitat 1 meter dari jalanan. Terlihat santai dan sangat menikmati hari. Enjoy life!

Belum sempat memperhatikan lebih banyak, tiba-tiba saya melihat seekor kucing orange lain yang lebih muda dan kecil, mengintip dan mengendap-endap bersiap untuk menyerang Kucing orange yang sedang bersantai itu. Astaga! Kucing besar yang lebih tua itu tidak sadar dirinya akan diserang.

Belum sempat saya berpikir, kucing muda itu sudah melompat dengan sigap, berdiri depan kucing yang tua dan langsung mengerang mengancam. Mau tidak mau ia terpaksa bangkit dari duduknya dan menghadapi penyerangnya yang lebih muda itu.

Saya jadi ingin tahu, apa yang akan terjadi. Mengeluarkan hape dari saku dan merekam.

Mulailah adegan seringai menyeringai dan ancam mengancam dari kedua ekor kucing orange itu. Saya sendiri bingung, apa ya yang dipertengkarkan?

Setelah keduanya saling bentak, saling mengancan dan saling bertahan sambil mengadukan kepalanya, saya melihat kucing yang lebih besar mengalah. Pandangannya beralih ke tempat lain. Perlahan ia memindahkan kakinya, lalu melangkah pergi dengan gagah. Pelan pelan tapi pasti. Sesekali ia menoleh ke belakang ke arah kucing muda itu. Lalu menghilang di balik gardu listrik.

Saya lihat kucing muda itu sekarang mengambil alih pojok lapangan tempat kucing besar itu bersantai. Ia mencium lantai tempat kucing besar itu tadi duduk dan mulai melingkarkan badannya di situ.

Ooh… rupanya memperebutkan pojok lapangan, lokasi untuk bersantai. Saya mulai sedikit paham.

Tapi beberapa detik kemudian, ia bangkit lagi lalu berjalan meninggalkan pojok lapangan itu dengan santai. Kembali saya tidak paham.

Lho??!! Kok ditinggal? Lalu tadi itu bertengkar untuk apa?

Saya heran melihatnya. Kalau memang pojok itu tidak akan dipakai, mengapa harus diperebutkan dan dipertengkarkan? Dasar kucing!

Saya berhenti merekam. Kejadian itu berlangsung sekitar 11 setengah menit. Sungguh saya jadi penasaran , apa sesungguhnya motivasi kucing muda itu mengajak kucing yang lebih tua bertengkar?

Apakah memang ingin memperebutkan lokasi duduk di pojokan lapangan ? Atau ingin menjajal kemampuan bertengkar? Ataukah hanya sekedar mendapat pengakuan, bahwa teritori itu miliknya? Atau mau membuktikan slogan “kecil-kecil cabe rawit?”. Tak paham saya. Untung saja kucing besar itu baik hati dan mengalah. Kalau ia mau, saya yakin dengan mudah ia bisa membanting dan menggigit kucing muda itu hingga babak belur. Tapi tidak ia lakukan.

Apakah kisah serupa begini terdengar familiar diantara kita? Wk wk wk 🤣🤣🤣🤣.

Mempertengkarkan sesuatu, yang sebetulnya nggak benar-benar ingin kita gunakan juga? Yang penting menang. Perkara nanti yang diperebutkan itu kita pakai atau nggak kita pakai, itu urusan belakangan.

Ego, terkadang membuat kita mengedepankan nafsu serakah dan keinginan berkuasa kita dengan tidak menghargai dan menghormati hak-hak orang lain yang sesungguhnya mungkin lebih butuh ketimbang kita.

CELAMITAN

Standard

Salah satu hal paling menarik yang bisa saya nikmati setiap kali berjalan pagi di perumahan adalah melihat-lihat tanaman tetangga. Bunga-bunga yang indah warna warni, buah-buahan yang ranum menggelantung di pohonnya, sayur-sayuran segar hidroponik yang dipajang di luar pagar. Semuanya bikin ngiler.

Seperti pagi ini, pandangan saya tertuju pada deretan kangkung, pakcoy dan bayam singapur, di instalasi hidroponik tetangga yamg dipajang di depan rumahnya. Seger banget. Kebayang segarnya hidangan sayuran hijau di meja makan, yg diolah dari sayuran baru petik.

Lalu berikutnya ada pohon mangga manalagi yang berbuah banyak dan rendah sejangkauan tangan. Tinggal loncat dikit rasanya nyampai itu. Rasanya pengen meminta & pengen memetik.

Manusia memang dibekali bakat “celamitan” dari sononya. Jangankan sayur, buah dan bunga. Wong rumput tetangga saja yg terlihat lebih hijau dipengeni.

Tetapi sebenarnya sadar nggak sih saya , bahwa untuk membuat rumput itu menjadi sedemikian hijau segar dan rapi, juga untuk membuat tanaman hias itu tumbuh subur berbunga warna-warni mewangi, dibutuhkan kerja keras pemiliknya untuk menanam, merawat, menyiram, memupuk, menyiangi???. Itu butuh modal, waktu dan kerja keras woiiii…

Demikian juga sayuran hidroponik dan mangga yang bikin ngeces itu. Semua ditanam dan dirawat oleh pemiliknya dengan sepenuh hati dan sepenuh pengharapan.

Lha, lalu siapa saya ini yang hanya sekedar seorang tetangga yang kebetulan lewat tanpa pernah berkontribusi apa-apa kok tiba-tiba menginginkan sayuran dan mangga tetangga itu ? Ingin meminta dan memetik…

Tak jauh dari pohon mangga itu, saya lihat ada Mbak asisten rumah tangga di rumah tetangga saya itu sedang menyapu. Sayapun berkomentar,

“Wow. Banyak sekali buah mangganya Mbak” .

Si Mbak dengan nada kurang ramah
“Ya Bu. Tapi masih pada hijau”

Rupanya si Mbak tahu soal jiwa celamitan saya. Langsung ketus. Padahal saya nggak bilang minta lho.

OMBUDSMAN PENSIUN.

Standard

Pengalaman Hidup : Kisah 10 TAHUN Menjadi Ombudsman Perusahaan.

Kemarin saat membuka laman Facebook. Muncul foto lawas saya bersama beberapa teman team promoters saat istirahat dari sebuah Sales & Marketing meeting session di sebuah hotel di tepi pantai Senggigi, Lombok 10 tahun yang lalu.

Foto itu menunjukkan kegembiraan suasana. Tetapi di balik foto itu, ingatan saya melayang pada sebuah hal penting dalam sejarah hidup saya. Karena pada hari itu, 8 Sept 2012, untuk pertama kalinya saya ditetapkan sebagai OMBUDSMAN alias Ombudsperson perusahaan Wipro Unza Indonesia menggantikan Ombudsman sebelumnya yang pindah tugas ke negara lain. Sebuah role tambahan, di luar tanggung jawab saya sebagai Marketing Director saat itu.

Sejak itu saya menjalankan tugas saya sebagai OMBUDSMAN Perusahaan hingga tanggal 15 Agustus 2022 yang lalu. Saya pensiun alias berhenti sebagai Ombudsman setelah menunaikan masa tugas saya selama 10 tahun.

Sepuluh tahun!!! Cukup lama juga ya. Tak terasa. Tentu banyak sekali yang saya alami selama menjalankan fungsi itu. Menangani berbagai kasus pelanggaran terhadap Code of Business Conduct & Ethics, serta Spirit of Wipro Value, nilai-nilai yang ditanamankan oleh perusahaan dan group. Ngapain aja kerjaannya sebagai Ombudsman? Ya banyak. Mulai dari menerima keluhan maupun laporan pelanggaran, menginvestigasi, menganalisa masalah, pembuktian, membuat kesimpulan, memberi rekomendasi kepada komite untuk pemecahan masalah dan penyelesaiannya yang tepat & adil . Jujurnya, pekerjaan seperti ini sangat mirip dengan kerjaan detektif saat menginvestigasi😀.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun, tentu saja jumlah kasus yang saya tangani sangat banyak. Kasus besar, kasus kecil, kasus ringan, sedang hingga pelanggaran berat yang mengakibatkan pemutusan hubungan kerja. Jenis kasusnya juga beragam. Mulai dari kasus pemalsuan bon bensin, kwitansi hotel, pemalsuan data, penggelapan uang, penerimaan hadiah atau kado dari vendors, pelecehan verbal , pelecehan sexual, double job, penyalahgunaan wewenang & jabatan, sikap dan tindakan yang tidak adil /un-fairness, penyogokan, pemerasan, dsb.

Jika saya tengok ke belakang dan napak tilas perjalanan saya sebagai seorang Ombudsman, satu hal ingin saya katakan, saya sangat senang dan bersyukur berada di perusahaan ini, yang memiliki Value alias nilai-nilai baik yang diyakini dan ditanamkan kepada seluruh karyawannya untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai atau value yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang bukan hanya sekedar dicatat dalam buku panduan ataupun plakat yang digantung di dinding.

Dengan guidance yang jelas dan transparant, sosialisasi yang baik tentang mana yang boleh dan tidak boleh, training yang memadai, konsultasi gratis, test & refreshment, membuat kita yang ingin jadi orang baik dalam kehidupan ini, menjadi lebih mudah.

Ibaratnya jika kita ingin tubuh kita bersih, maka jika kita berenang dan mandi di mata air yang bersih dan jernih tentu tujuan kita lebih mudah tercapai, ketimbang jika kita ingin badan kita bersih tapi berenang dan mandi di kolam yang airnya kotor dan keruh.

Berada di lingkungan yang bersih, dimana setiap orang dituntut untuk menerapkan nilai nilai kejujuran /integritas yang tinggi, respek terhadap orang lain/menghormati setiap orang tanpa memandang jabatan, gender, bangsa, agama, suku maupun rasnya, berusaha membantu agar orang lain sukses, tentu jauh lebih mudah. Sangat mudah, karena kita tinggal ikut jalur saja. Dan setiap orang di sekeliling kita itu pun bersih atau setidaknya paham bahwa ia dituntut bersih. Mungkin ada satu dua orang yang tidak bersih, tetapi lingkungan yang waspada tentu akan melaporkan lewat jalur yang disediakan.

Bisa dibayangkan jika kita hidup di lingkungan dimana budaya sogok menyogok , suap menyuap, sikap kasar, merendahkan orang lain, kolusi, nepotisme, korupsi dan berbagai pelanggaran lain dianggap biasa dan normal, walaupun jika kita ingin hidup bersih sendiri dan menolak ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan maksiat itu tentu jauh lebih sulit. Bisa-bisa kita dikata-katain dan dianggap SOK suci, sok bersih, pahlawan kesiangan, dsb.

Dipercaya menjadi seorang Ombudsman, memberi saya banyak pelajaran bagaimana seharusnya saya menempatkan diri saya.

Setidaknya saya harus belajar membuat diri saya terjangkau alias “reachable”. Agar orang-orang mudah menghubungi saya saat mereka butuh, merasa cukup dekat dengan saya sehingga berani curhat, mengeluhkan uneg-uneg dan melaporkan penyimpangan-penyimpangan yang mereka ketahui atau curigai tanpa beban.

Juga memberi saya pelajaran bagaimana agar saya sabar, tabah, teliti, tekun dan hati-hati serta harus melihat segala sesuatu dengan pikiran dan hati yang neutral dan berimbang, agar bisa melihat permasalahan drngan lebih menyeluruh. Ini sangat penting agar berikutnya bisa memberikan rekomendasi keputusan yg tepat dan adil.

Dan juga memberi saya pelajaran agar menjadi orang yang tabah dan berani, tanpa terpengaruh oleh kedudukan atau jabatan orang yang harus saya periksa interview dan interogasi.

Dan pelajaran yang terpenting lagi dalam hidup saya dari menjalankan tigas sebagai Ombudsman ini adalah melakoni apa yang saya katakan. Walk The Talk!

Sekarang saya sudah pensiun dari tugas saya sebagai Ombudsman. Tapi kenangan, pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan tak akan bisa saya lupakan sepanjang hidup saya.

ODAMUN – FILM LAYAR LEBAR.

Standard
Film Odamun. Kisah perjuangan seorang penderita Scleroderma.

ODAMUN – Film Layar Lebar Terbatas.
ODAMUN = Orang Dengan AutoiMUN.

Saya tergerak menulis tentang film Odamun yang disutradarai oleh Harry Ridho ini setelah berkesempatan menontonnya kemarin.

Menurut saya film ini sangat menarik karena berkisah tentang perjuangan seorang penderita Scleroderma -salah satu penyakit Autoimun, mulai saat masa-masa sebelum terkena penyakit ini, masih aktif sebagai model, lalu bagaimana penyakit ini membuatnya menjadi tertekan & putus asa, hingga kemudian ia bangkit dan percaya diri kembali menjalani aktifitasnya sehari-hari dengan normal.

Belum pernah sebelumnya saya tahu ada film lain yang berkisah atau menggunakan kisah penyandang Scleroderma sebagai themanya. Tentu saja ini membuat film ODAMUN menjadi unik. Berbeda.

Menonton film ini juga memberi gambaran tentang penyakit Scleroderma itu sendiri, sebuah penyakit auto-imun dengan gejala kekerasan & kekakuan pada kulit, sehingga tidak jarang mengakibatkan perubahan pada profile wajah penderitanya. Ini penting bagi masyarakat awam untuk mengetahui apa yg harus dilakukan saat mendampingi keluarga jika ada yang mengalami Scleroderma. Perlu banget ditonton.

Film digarap dengan baik oleh Harry Ridho. Scenario & alur ceritanya mengalir dengan cukup baik dengan gambar-gambar yang diambil juga berkwalitas baik. Lighting jyg cukup mendukung, hanya saja sound kelihatannya perlu dirapikan sedikit lagi di beberapa bagian, sehingga musik tidak terasa bertarung dengan suara percakapan.

Film dibintangi oleh antara lain Chindy Imutz Dewi Ayu Mustikasari Bene Java , Denis, dkk.

GANESHA & ME.

Standard

Saya memiliki sebuah gambar Ganesha buatan seniman dari Bali.Gambar itu saya gantung di dinding teras. Lama kelamaan ia mulai pudar termakan waktu & terpapar cahaya. Terlebih ketika beberapa bulan yg lalu ada tukang ngecat tembok, kurang hati-hati, mengakibatkan gambar Ganesha saya semakin rusak. Hati saya sangat sedih. Tapi saya tak pernah menceritakan kesedihan akan gambar Ganesha ini kpd siapapun sebelumnya.

Niat saya hanya ingin mengganti gambar Ganesha itu dg yg baru. Barangkali akan saya gambar sendiri jika saya sudah punya waktu.

Sementara itu, pada saat yg bersamaan, di Pune, sebuah kota kecil di India yg jaraknya kurang lebih 4 500 km dari Jakarta, seorang sahabat melihat seorang seniman kaligrafi jalanan sedang melukis. Tiba tiba sahabat saya ini terpikir untuk memesankan buat saya sebuah gambar Ganesha dengan kaligrafi nama saya Ni Made Sri Andani dalam aksara Devanagari – bahasa Marathi. Dan menghadiahkannya untuk saya. Padahal ia tak tahu menahu tentang kesedihan hati saya akan gambar Ganesha saya yg rusak itu.

Apakah itu sebuah kebetulan? Ko- insiden? Entahlah. Yang jelas saya sangat senang menerimanya. Gambar Gabesha ini juga istimewa karena menggunakan beberapa atribut Krishna, seperti hiasan bulu nerak dan seruling.

Bagi saya, selain bisa menggantikan gambar Ganesha saya yg rusak sebelumnya, berarti teman saya ini juga mendoakan segala kebaikan untuk saya dan tidak ada rintangan yang berarti dalam perjalanan hidup saya.

Thanks Chetan Shetty

Buku Resep Rahasia Cinta.

Standard
Buku Resep Rahasia Cinta. Ni Made Sri Andani.

Buku 50 CERITA INSPIRATIF dengan judul RESEP RAHASIA CINTA, adalah buku kumpulan tulisan tentang kejadian sehari-hari yang menarik, menginspirasi, atau memberi pelajaran maupun renungan dalam menjalani kehidupan.

Dengan sengaja saya memilih 50 dari sekitar 1150 tulisan tentang kejadian sehari-hari yang saya catat di blog https://nimadesriandani.wordpress.com/ antara tahun 2010 – 2022. Sebagian besar tulisan yang dipilih adalah yang bercerita tentang Cinta dan Kasih Sayang dan selebihnya adalah tentang hal-hal lain yang menginspirasi, baik dan berguna untuk pengembangan diri dan mental kita.

Mengapa tentang Cinta dan Kasih Sayang? Karena cinta dan kasih sayang adalah perasaan mendasar yang ada di hati mahluk hidup, yang memberi rasa suka, senang dan bahagia, walaupun terkadang melibatkan kesedihan dan pengorbanan di sisi lain. Sangat menarik mengamati sekitar kita, bagaimana rasa cinta itu ditunjukkan lewat perhatian dan kepedulian terhadap yang dicintainya dan memetik hal-hal positive dan intisari pelajarannya.

Di buku ini, kita akan menemukan berbagai kisah cinta dan kasih sayang. Mulai dari kisah kasih sayang dan perhatian anak pada ibunya yang sudah tua, kasih sayang ibu pada anak lewat sentuhan dan pijatan, kasih sayang dan perhatian pada saudara kandung, kasih sayang dan perhatian pada diri sendiri, bagaimana menghilangkan rasa cemburu, ekspresi cinta saat hari Valentine yang berbeda bagi setiap orang, kasih sayang pada sesama manusia dan sebagainya.

Kisah tidak terbatas pada kasih sayang sesama manusia, tetapi juga kasih sayang manusia pada hewan peliharaan dan pada mahluk hidup lain. Juga kisah cinta dan kasih sayang diantara binatang itu sendiri yang menginspirasi. Di buku ini misalnya kita bisa menemukan kisah menarik, bahkan seekor kucingpun rela berkorban demi memperjuangkan cintanya.

Selain cerita-cerita tentang Cinta dan Kasih Sayang, saya juga memasukkan tulisan-tulisan lain yang menginspirasi.

Misalnya saat menonton payung parasails di pantai Sanur, yang memberi saya inspirasi bahwa jika ingin pikiran kita berkembang dan maju, maka kita harus terbuka. Misalnya untuk menerima gagasan-gagasan baru ataupun ide-ide orang lain. Jangan kungkung pikiran dalam ego yang sempit dan picik. Saya tuliskan dalam kisah yang berjudul “Payung Yang Terkembang”.

Juga ada inspirasi tentang dunia tanpa sekat tinggi, tanpa batasan kesukuan, agama maupun status sosial. Dimana kita bisa memandang langit yang tunggal dan maha luas, memahami bahwa dunia tidaklah sesempit yang kita kira, namun selebar semesta tanpa batas. Renungan ini saya dapatkan ketika saya berkunjung ke rumah seseorang, dan saya tuliskan dalam kisah “Adalah Langit Yang Maha Luas”.

Masih banyak lagi kisah-kisah menarik lainnya. Semua yang saya tuliskan itu berdasarkan kejadian-kejadian nyata yang saya amati di sekeliling saya. Tentunya sangat menarik dan menginspirasi bagi saya sendiri, sehingga saya tuliskan, agar bisa saya ingat kembali dan ambil pelajarannya.

Semoga sahabat pembaca menemukan kisah-kisah yang saya tuliskan di buku ini juga menarik dan menginspirasi serta bermanfaat.

MEISA RATILAELA, Artis Berbakat Yang Digandrungi Penonton di Film Sedekah Gema Ramadhan.

Standard
MEISA RATILAELA,”Tanpa Netizen, Apalah Artinya Kita”. Artis berbakat yang digandrungi penonton di film Sedekah Gema Ramadhan.

Film Sedekah Gema Ramadhan mendapatkan perhatian yang sangat baik dari netizen. Penonton terkesan dengan cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya, terutama tokoh Ibu Lala yang merupakan tokoh utama di film itu.

Banyak penonton yang merasa gemas dan kesal pada tokoh antagonis yang walaupun ramah dan rajin menjadi koordinator mengumpulkan sedekah Ramadhan dari ibu-ibu kompleks perumahan, tetapi ternyata tidak amanah. Tidak jujur dalam menjalankan tugasnya. Ia mengaku bahwa sedekah yang sesungguhnya adalah sumbangan dari ibu-ibu kompleks itu sebagai sumbangan darinya saja.

Nah siapakah pemeran Ibu Lala yang berhasil mengaduk-aduk emosi penonton ini?

MEISA RATILAELA adalah artis yang memerankan tokoh Ibu Lala ini dengan sukses. Ia berhasil menjiwai tokoh yang walaupun menurutnya sifat tokoh Ibu Lala itu sama sekali tidak sesuai dengan sifatnya sendiri sehari-hari.

Saat ditawarin untuk memerankan tokoh antagonis ini, walau sangat bertolak belakang dengan sifatnya sendiri, tetapi Meisa tetap berpikiran positif. Ia menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Tantangan yang harus ia hadapi dan taklukkan. Dan ternyata, hasilnya memang berkah.

Meisa yang bawaannya selalu periang, ekspresif dan rame, sehari-hatinya adalah karyawati sebuah kantor kelurahan di Lembang, Bandung, yang juga mengisi waktu senggangnya sebagai crew di Triduta Film.

Selain seorang wanita yang bekerja, Meisa juga seorang Ibu rumah tangga dengan 3 anak. Terbayang bagaimana kesibukannya sebagai wanita dengan multi peran ini.

Ditanya tentang kiprahnya di dunia perfilman, MEISA bertutur jika ia memulai karirnya sebagai Ibu kost yang cerewet dalam sebuah film 13 episode pada tahun 2020.

Setelah pandemi, ia sempat vakum dengan kegiatannya di film. Lalu ia kembali mendapatkan peran saat Ramadhan tahun ini sebagai Ibu Lala dalam film Sedekah Gema Ramadhan.

Jadi praktis sebenarnya ia baru bermain sebagai pemeran utama dalam 2 film dan sisanya hanya peran-peran extras saja. Walau demikian, banyak penonton yang memuji kemampuan aktingnya, dan terlihat jika ia sangat menjiwai karakter tokoh yang diperankannya.

Ditanya tentang kiat suksesnya dalam berperan, Meisa bercerita bahwa biasanya ia baca-baca dulu tentang karakter yang akan diperankannya, lalu jalani dan nikmati saja.

Ada rasa tertantang juga, “Bisa nggak sih memerankan tokoh itu?” Dan rasa penasaran saat menunggu filmnya ditayangkan. Ternyata setelah tayang banyak komentar. Berbagai ragam. Ada yang benci, marah kepada tokoh yang ia perankan, walau kebanyakan mendukung dirinya sebagai pemerannya. Itu melegakan, karena itu berarti bahwa Meisa berhasil memerankan tokoh itu dengan baik. Dukungan dari teman-teman dan keluargapun mengalir.

Saat ditanya tentang pengalamannya selama shooting film Sedekah Gema Ramadhan, Meisa bercerita bahwa shootingnya dilakukan benar-benar saat Ramadhan. Tentunya selain harus menahan lelah dan haus, ia dan crew film yang lain juga berusaha menahan kesal, menahan hawa nafsu, misalnya jika ada teman main yang salah-salah sehingga harus ditake ulang. Ia menyatakan enjoy shooting bersama Triduta. Crewnya solid, tidak membeda-bedakan apakah itu crew, talent, atau management. Semua berbaur.

Menurutnya kisah di Film Sedekah Gema Ramadhan ini memang nyata karena pada kenyataannya di sekeliling kita juga memang ada orang yang seperti itu. Orang seoerti Ibu Lala tang licik dan tidak amanah.

Semoga dengan dibuatnya film ini, akan banyak menginspirasi penonton, agar jangan berbuat seperti itu. Bagi yang saat ini sedang atau pernah berbuat begitu agar sadar. Melakukan intropeksi diri dan tidak lagi nelakukan berikutnya. Dan bagi yang tidak melakukan juga berguna untuk mencegah agar jangan sampai melakukan. Jadi film ini penuh dengan nilai-nilai moral dan nilai pendidikan, agar jangan melakukan hal yang tidak baik.

Hal yang menarik lagi tentang MEISA adalah ia seorang yang sangat optimis dan positive. Menurutnya, agar kita bisa selalu menikmati pekerjaan kita, ia punya kiat tersendiri. “Cintai dulu, sukai dulu, nyamankan diri dulu dengan pekerjaan, pasti akhirnya kita bisa nikmati pekerjaan kita. Enjoy aja“.

Namun demikian, dibalik aktingnya yang banyak nenuai pujian, ia tetap rendah hati dan mengatakan bahwa “Tanpa netizen, apalah artinya kita”

Itulah Meisa Ratilaela, yang penuh semangat, terus berkarya dan berusaha agar hasilnya bagus dan viewernya banyak. Semoga Meisa semakin sukses ke depannya.

BACAAN SAAT LIBUR : LAKI LAKI LAKU.Antologi Puisi.

Standard

Sebenarnya buku ini sudah saya terima dari Bang Eki Thadan Metaforma  beberapa bulan yang lalu. Baru sempat saya baca.

Judulnya sendiri emang dah unik. LAKI LAKI LAKU. Yang kayak gimana ini ?  Penasaran dong ya?

Rupanya Antologi Bersama 11 Penyair Laki-Laki Indonesia, Wanto Tirta, Tampil Chandra Noor Gultom S.Sos., M.Hum, Sudarmono, Soekoso DM, Sam Mukhtar Chan, Rd Nanoe Anka, Prawiro Sudirjo  Octavianus Masheka, Dian Rusdi, D’Eros Sudarjono dan Aris Nohara.

Hanya khusus laki-laki karena menurut Editornya, Bang Eki  Eki Thadan, puisi-puisi di buku ini mestinya berkisah tentang potensi lelaki yang tidak diketahui kaum hawa.

Sebagai pembaca hawa yang awam, coba saya simak dan petik beberapa ya. Tentu saja semua yang saya tuliskan ini adalah interpretasi saya semata sebagai seorang pembaca.

Ha! Ternyata bermacam-macam gaya kaum adam ini berpuisi. Topiknya pun beda-beda, mulai dari pencarian, hasrat, cinta dan kerinduan, takdir sebagai laki-laki,  berondong, pencarian jati diri, dan sebagainya.

Saya tertarik pada judul “Mamba Hitam” karya Aris Nohara. Black Mamba  adalah sejenis ular berbisa yang sangat mematikan. Dan puisi ini dimulai dengan kalimat ” kata-kata melingkar di tubuh kawanmu/mendekapnya hingga sesak/dan begitu tak berdaya…”. Entahlah… dari judul dan pembukaannya saya merasakan kengerian dan duka yang dalam. Seseorang telah menderita atau binasa akibat   kata-kata beracun orang lain yang diibaratkan sebagai ular mamba. Ngeriii.

Lalu ada puisi yang puitis romantis karya Octavianus Masheka berjudul Orkes Hujan Rindu.  Saya pikir ini puisi yang disukai banyak perempuan. Bikin hati wanita klepek-klepek. Wanita mana  sih yang tak bahagia mendengar kalimat “…. aku berdansa sendiri dalam melody rindu/membayangkanmu dalam pelukanku” oleh kekasihnya ?

Ha! Ini ada yang protes. “Sebuah Tanya” karya Prawiro Sudirjo. “Laki-laki itu ‘letoy’, lemah dan kaku kok laku? Iya  Memang susah untuk memahami mengapa kok laku . Karya-karya Prawiro Sudirjo di buku ini bisa dibilang menohok.

Rd. Nanoe Anka datang dengan puisi-puisi cinta. Ada yang berjudul “Akulah Lanang Ing Jagad. Kelihatannya mantap ini. Kalimat-kalimatnya sangat convincing bagi kaum wanita untuk mengakui ya betul… kamulah arjuna impianku.

Wanto Tirta menuliskan 3 puisi yang saya pikir themanya menyentuh masalah spiritual, sosial dan kemanusiaan. Entahlah apa benar atau salah. Saya menangkap upaya pencarian makna diri yang cukup kuat di sini.

Penyair Sudarmono, menuliskan puisi-puisi yang berkaitan dengan pencarian cinta lelaki.

Eros dalam puisinya Seringkih Kristal berkata tentang takdir sebagai laki-laki yang harus terus dijalani. Ooh begitu ya? Saya baru terpikir jika laki-lakipun bisa menganggap bahwa jadi laki-laku itu adalah takdir. Bukan wanita saja yang berpikir begitu.

Ada pesan yang disampaikan oleh Soekoso DM untuk wangsa Hawa se Arcapada, agar tidak mendengarkan bisikan lelaki liar.

Sam Mukhtar berkisah tentang perjalanannya menuju senja . Ya…ketiga puisinya bercerita tentang lelaki di kala senja, yang membuat saya ikut-ikutan teringat bahwa  senjapun sebentar lagi menghampiri diri saya juga.

Lalu Chandra Noor Gultom benar-benar khusuk dengan laki-laki laku itu seperti apa. Dijelaskan dalam puisinya Bukan Kuda Liar  Sutera Pilihan dan juga Ksatria Tak Kan Gagap.

Dian Rusdi menuliskan lelaki sebagai sosok ayah dalam puisinya Senja dan Lelaki Matahari Itu Ayah.

Sekali lagi, ini adalah interpretasi saya sebagai seorang pembaca. Selebihnya, arti dan makna dari tiap -tiap puisi ini tentu hanya penyairnyalah yang tahu.

Film Inspiratif “LEBARAN DAMAI”

Standard

Satu lagi tulisan saya dengan latar belakang bulan Ramadhan & hari raya Idul Fitri dikembangkan menjadi film dengan judul “Lebaran Damai”.

Kali ini digarap oleh Sutradara Harry Ridho menjadi film 2 atau 3 episode (saya belum tahu – tetapi saya sudah dikirimi episode 1-nya).

Film “LEBARAN DAMAI” ini berkisah tentang Bayu dan Rini, sepasang suami istri dengan satu anak yang sesungguhnya harmonis. Saling menyayang dan mencinta. Sayangnya keharmonisan ini mulai terganggu sejak Bayu di-PHK karena perusahaannya terus merugi sejak pandemi. Ia menganggur dan susah mencari pekerjaan kembali. Ia pun menjadi sangat sensitive, mudah marah dan cepat tersinggung.

Rini berusaha menghibur suaminya dan tetap semangat berjualan sambil mengurus anak mereka. Keluh kesah Rini setiap hari, terkadang membuat Bayu merasa tidak nyaman. Saat Rini mengeluh capek dengan pekerjaannya, harga pada naik dan uang tidak cukup untuk menutup kebutuhan dapur, Bayu sering merasa disindir oleh istrinya itu, karena ia merasa diri sedang menganggur, hanya rebahan, tidak bekerja dan tidak mampu memberi uang kepada istrinya.

Semakin hari Bayu semakin perasa dengan keadaannya. Sementara Rini yang kurang peka akan perasaan suaminya tanpa sadar mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat Bayu semakin merasa disudutkan. Puncaknya , mereka bertengkar hebat, yang membuat Bayu keluar dari rumah. Meninggalkan anak dan istrinya. Ia merasa terluka. Merasa tidak berguna dan tidak dihargai.

Rini berusaha mencari tahu keberadaan suaminya. Tapi tidak ketemu. Rini merasa sangat bersalah. Harusnya ia lebih sensitive dan hati-hati berbicara saat suami sedang terpuruk.

Sementara itu Bayu yang meninggalkan rumah, akhirnya memutuskan untuk tidur sementara di sebuah mushola. Disana ia mendapat bantuan dari Marbot dan bertemu dengan Pak Haji yang memberinya pencerahan dan nasihat yang sangat menyejukkan.

Selama Ramadhan, Bayu mendapat pekerjaan, membantu mengurus rumah makannya Pak Haji yang kebetulan pegawai sebelumnya pulang kampung.

Saat bekerja di rumah makan itu, ia mulai menyadari bahwa bekerja berjualan makanan itu memang sangat melelahkan. Ia jadi teringat pada istrinya. Ia rindu pada istri dan anaknya. Merasa bersalah dan ingin kembali pulang. Akankah Lebaran mempersatukan mereka kembali ?

Film ini adalah Episode 1 dari Lebaran Damai, yang menceritakan bagaimana Bayu kena Pemutusan Hubungan Kerja , usahanya mencari pekerjaan baru yang gagal dan perasaannya yang mulai terganggu dan tidak nyaman sejak menjadi pengangguran.

Selamat menyimak. Mohon bantu like, share dan comnent atau subscribe ya. Terimakasih sebelumnya.