Category Archives: Art & Handicraft

Coretanku: Bentangkan Sayapmu. 

Standard

*pencils on paper.

Bentangkan sayapmu lebar lebar, sayang. 
Laksana kupu-kupu, hanya jika sayapmu kau bentangkan kau akan merasa ringan, hilang letih duka nestapa. Hanya jika sayapmu kau bentangkan, jantungmu kan segera memompakan semangat, yang membuatmu siap menghadapi kehidupan.Dan hanya jika sayapmu terbentang, kau akan bisa terbang. Menari diantara bunga-bunga di taman, melintasi savana dan mencium lidah awan. 

Bentangkanlah sayapmu. Karena hanya jika sayapmu terbentang,  dunia ikut tersenyum bahagia bisa menyaksikan keindahan pernak pernik warnamu. 

Coretanku: Mushroom In The Wild.

Standard

image

Tantangan dalam kehidupan, laksana jamur di alam. Ada yang enak dimakan, tapi ada juga yang beracun. Banyak yang tertarik untuk menghadapinya, tapi lebih banyak lagi yang tak mau mengambil resiko bahkan hanya untuk sekedar mencobanya.

Sang penjawab tantangan akan belajar memahami agar bisa  berhasil dan mengambil resiko berdiri di garda depan. Untuknya hanya ada kata sukses yang gemilang. Karena jika ia gagal, maka ia telah gugur dan tak sempat lagi merasakan kegagalannya.

Sedangkan sang pengekor menunggu di belakang. Untuknya tidak pernah ada kata sukses, karena jikapun ia sukses karena mengekor, kesuksesan itu sesungguhnya diakibatkan oleh orang lain yang berdiri di garda depan.

*pencils on paper.

Coretanku: Urban Garden with Limited Space.

Standard

image

Urban Garden.
There are many good reasons for growing food, no matter how small the scale of production.

Keterbatasan, tidak akan jadi halangan berarti jika ada niat dan kesungguhan hati untuk mengerjakannya.
* Pencils on paper.

Coretanku: Massed Flowers Tumbling Down The Slope.

Standard

image

Tangga yang sama untuk mendaki atau menurun, tergantung dari arah mana kita memandangnya.

Jika kita pikirkan jumlah anak tangga dan kesulitannya, maka hanya kelelahan yang kita dapatkan sepanjang perjalanan.

Tapi jika sambil berjalan kita perhatikan keindahan bunga-bunga liar di kiri kanannya, maka kebahagiaan akan selalu menyertai perjalanan kita.

*pencils on paper.

Centerpiece Crochet Untuk Meja Teras Belakang.

Standard

“Bikin apa itu, Mama?” Anak saya bertanya melihat saya memegang benang dan jarum renda. “Mau bikin centerpiece” jawab saya sambil menunjuk meja pendek di teras belakang yang tampak kusam tak bertaplak.

Taplaknya entah kemana. Mungkin sudah dibuang sama si Mbak karena barangkali sudah terlalu tua dan kurang layak dipakai lagi.

“Mana designnya?” tanya anak saya lagi. “In my mind” jawab saya tertawa. Ha ha. 
Tapi serius!. Saya belum punya designnya. Harus mikir dulu sambil mengerjakannya. Ntar biasanya ide datang sendiri begitu tangan mulai merenda. Anak saya melongo. Ia heran bagaimana saya bisa merenda sesuatu yang gambarnya masih di kepala. Tidak di sketsa dulu, tidak didrawing dulu.

Tapi ia tidak berkata apa apa lagi selain hanya memperhatikan saya mulai bekerja. Satu rantai,  dua rantai, tiga rantai. Jarum dan benang saya bergerak mengikuti gerakan tangan saya.

“Sekarang Mama kelihatan seperti grandma beneran”. Komentar anak saya. Hah?!. Saya tidak setuju dibilang grandma. “Cara Mama membuat centerpiece itu lho!.Masih pakai tangan dan jarum. Sekarang orang pasti lebih senang mengerjakannya dengan mesin. Lebih cepat” sambung anak saya. Yap!.Mungkin saja.  Dan sudah pasti lebih cepat jika membuat dengan mesin. Tapi saya pikir saya bisa mengerjakan centerpiece ini dalam waktu beberapa jam saja.  Walaupun sambil ngurusin tanaman, sambil ke dapur dan juga sambil nganter si kecil ke toko buku. Pokoknya bisalah selesai dalam sehari ini.

image

Pukul  16.28 , centerpiece yang saya kerjakan sudah berdiameter 17 cm. tinggal seikit lagi selesai.

image

Pukul 18.40 akhirnya selesai. Yihaa!!!. Centerpiece crochet dengan diameter 29 cm dengan desain dadakan yang ada di kepala saja. Segera saya tunjukkan hasilnya ke anak saya.  Not bad!.

Warnanya yang hijau cocoklah jika dipakai sebagai alas pot tanaman. Nyambung dengan kehijauan tanaman Dapur Hidup di sekitarnya. Saya pikir ide bagus juga kalau saya meletakkan pot pohon cabe di atasnya.

Tapi saya baru nyadar, ternyata meja ini sudah lama belum divarnis. Tampak rada rada usang gitu jika centerpiece yang kinclong ini saya letakkan langsung di atasnya. Kebanting banget.

Mungkin ada baiknya saya kasih alas dulu ya. Nah ini ada  kain ulos pemberian kakak saya.

image

Lumayan ya. Jika diberi tanaman, jadi tampaknya seperti ini.

image

Pilihan lainnya adalah kain hijau pemberian seorang teman.

image

Ini kelihatannya yang lebih nyambung warnanya. Jika dikasih pot pohon cabe di atasnya akan nampak seperti ini.

image

Atau  jika diletakkan pot Pakchoi  Sam Hong di atasnya akan tampak keren seperti ini.

image

Tapi baru semenit saya mencoba menata pot tanaman, si kucing tak mau ketinggalan. Ikut mengagumi tanaman cabe yang saya letakkan di atas meja.

image

Tampak ia sangat menikmati taplak meja baru itu.

image

Kursi ini sangat enak untuk bermalas-malasan sambil minum kopi atau minum teh sambil mrmandang segarnya tanaman sayuran yang tumbuh subur di halaman.

Rudraksha

Standard

image

Di rumah kakak sepupu saya di Bangli, Bali, tumbuh sebatang pohon Rudraksha (Elaeocarpus ganitris), salah satu pohon yang dianggap penting karena menghasilkan biji-biji yang dianggap suci dan digunakan sebagai bahan dasar untuk tasbih /japa mala. Masih sekeluarga dengan pohon Rijasa (Elaeocarpus grandiflorus) tanaman yang seingat saya dulu  banyak tumbuh di halaman Fakultas Kedokteran Hewan Unud. Bunga Rijasa ini juga banyak dimanfaatkan untuk upacara keagamaan.

image

Pohon Rudraksha ini sudah tinggi melewati atap rumah dan sudah cukup sering berbuah. Kakak saya dan istrinya mengambil buahnya yang sudah matang dan yang jatuh  karena tua untuk dibersihkan.

image

Buah Rudraksha yang sudah tua berwarna biru terang dan menarik ekali warnanya. Buah ini banyak dimanfaatkan untuk pengobatan beberapa jenis penyakit.

image

Biji biji Rudraksha dibersihkan dari kulit dan daging buahnya, direndam beberapa hari lalu dijemur agar kering. Biji-biji yang disnggap suci inilah yang disebut dengan nama Rudraksha atau Ganitri. Rudraksha sendiri berasal dari 2 kata yakni Rudra (Siwa) dan Aksha (air mata). Jadi artinya airmata Siwa.

Selanjutnya biji-biji Rudraksha ini dilubangi dan dirangkai menjadi japamala.

image

Japamala atau tasbih terdiri atas 108 ganitri digunakan umat untuk membantu melafalkan mantram pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (misalnya Gayatri mantram)  sebanyak 108 x tanpa harus khawatir salah hitung, hanya dengan memindahkan jari tangan kita setiap kali satu bait selesai diucapkan.

Selain untuk japamala, ganitri juga dirangkai menjadi gelang atau kalung yang diyakini dapat memberikan manfaat kesehatan bagi penggunanya.

image

Kakak saya menghadiahkan 2 buah gelang ganitri kepada saya. Tentu saja saya sangat senang dan berterimakasih.

Sedikit tambahan informasi tentang ganitri atau rudraksha ini, menurut kakak saya rata rata biji rudraksha memiliki 6 mukhi (lobus, juring). Tapi ada juga yang memiliki mukhi yang diluar itu, walaupun jarang. Semakin jarang tentu semakin mahal harganya.

Seandainya saja kakak saya atau istrinya mau menyediakan, saya rasa cukup banyak juga orang yang ingin memiliki japamala, gelang atau kalung ganitri.