Category Archives: Art & Handicraft

Menyimak Art Fusion Di Buku “Gajah Mina”.

Standard

Saya diperkenalkan dengan buku Gajah Mina ini, oleh Mas Hartanto, yang rupanya adalah salah satu penggerak terbitnya buku ini. Buku yang merupakan kumpulan puisi, lukisan dan sketsa karya Dokter Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan ini, memang sudah terlihat istimewa di mata saya, bahkan hanya dengan melirik covernya saja.

KONSEP & INTERPRETASI.

Konsep. Sebagai sebuah konsep penerbitan, kolaborasi seni lukis dan puisi dalam buku ini sangat menarik dan bermanfaat. Mengintegrasikan dua jenis karya seni yang berbeda, memang bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi jika itu bisa terintegrasi dengan baik, maka upaya ini akan berhasil meng-enhance idea atau pesan yang ingin disampaikan oleh senimannya kepada audience. Pembaca akan jauh lebih mudah mengerti, karena bisa menangkapnya secara audio dan visual sekaligus.

Jikapun objective itu tak tercapai, setidaknya upaya ini akan mampu menambah jumlah audience. Karena yang tertarik, bukan hanya mereka yang berminat pada seni sastra saja, tetapi penyuka seni lukispun akan ikut tertarik juga.

Saya lihat, kolaborasi ini telah terjadi, dan tereksekusi di buku ini dengan sangat indah.

Interpretasi. Seorang pembaca atau penikmat karya seni, baik puisi, sketsa ataupun lukisan, tentunya tidak mampu memahami 100% apa yang ada di benak penulis atau pelukisnya saat menciptakan karyanya. Paling banter hanya bisa menebak atau menginterpretasikan sesuai dengan signal-signal yang tertangkap dari karya itu, plus latar belakang dan pengalaman personal dari penikmat karya seni itu masing-masing. Demikian juga saya.

Saya menuliskan pendapat saya tentang karya-karya di buku ini, tentu berdasarkan apa yang saya tangkap saat membaca puisi dan menonton gambar-gambar buku ini, bercampur dengan latar belakang dan pengalaman hidup saya secara pribadi, yang kemudian membentuk tafsir alias interpretasi. Jadi belum tentu juga sesuai dengan apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis atau pelukisnya πŸ˜€

GAJAH MINA.

Sesuai dengan judulnya, cover buku ini bergambar mahluk mitology yang bernama Gajah Mina, yakni seekor Mina (Ikan) yang berkepala Gajah. Di dalam kepercayaan Hindu, Gajah Mina adalah tunggangan Sang Hyang Baruna sang penguasa lautan. Lukisan akrilik di atas kanvas ini sungguh menawan hati saya. Gajah Mina digambarkan dengan sangat bagus dan representative. Terlihat bagai raksasa berwarna krem keemasan diantara ikan-ikan lainnya di lautan biru. Sepintas lalu, lukisan ini terlihat seperti umumnya lukisan traditional Bali bergaya Kamasan, dengan penggunaan elemen-elemen klasik dan warna broken white yang dieksekusi pada wajah gajah, sirip dan ekornya. Tapi jika ditelisik lebih jauh, ada elemen-elemen baru yang tidak umum ada pada lukisan traditional Bali menyelusup di sini. Dan entah mengapa, ajaibnya elemen asing ini terasa membaur, dan berfusi di dalamnya tanpa ada pemberontakan yang berarti. Asyik-asyik saja. Saya mulai berpikir, mungkin di sinilah letak kepiawaian Made Gunawan dalam mengekspresikan gagasannya. Keren euy!

Selain sangat terkagum pada lukisannya, tentu saja saya sangat tertarik akan apa yang kira-kira diceritakan penulisnya tentang Gajah Mina yang menjadi judul dari buku ini. Namun rupanya puisi dan lukisan Gajah Mina ini baru muncul di halaman 82-83. Tak apalah.

Saat membaca puisi “Gajah Mina”, entah mengapa saya merasa seakan puisi ini mengundang kita untuk ikut dalam perjalanan pencarian rahasia kehidupan dan alam semesta yang tak terjangkau oleh orang biasa, melalui Gajah Mina tunggangan Dewa Baruna, Sang Penguasa Laut. Dan dalam konteks Hindu, Dewa adalah percikan sinar suci dari Brahman, Tuhan Yang Maha Tunggal. Menarik!. Ajakan untuk meneruskan pencarian manusia tentang Tuhan dan Alam Semesta hingga bertemu diri sendiri. Mencapai kesadaran diri yang tertinggi. Siwoham!.

LUKISAN DAN SKETSA.

Ada sebanyak 43 lukisan dan sketsa Made Gunawan yang ditampung buku ini. Didominasi oleh thema ikan tentunya, yang in-line dengan tajuk buku ini.

Yang nenarik dari lukisan-lukisan Made Gunawan ini adalah selalu menempatkan pemeran utamanya, baik itu ikan ataupun kayon sebagai sebuah rumah, daratan ataupun bumi yang berada diantara lautan ataupun benda lain di alam semesta.

Dalam lukisan Gajah Mina atau Raja Ikan ataupun misalnya Tree of Life, kita melihat bahwa Ikan ataupun Kayon itu sebagai sebuah dunia, tempat kita beraktifitas sehari-hari, duduk-duduk merenung, bermain ayunan, menari ataupun beemain barong. Itulah dunia sehari-hari kita. Dunia yang harmonis dengan kehidupan bahagia, tentram dan damai. Dan di luar itu adalah semesta yang maha luas yang tanpa batas, tapi terpaksa dibatasi oleh akhir dari kanvas itu sendiri.

Di luar thema ikan, thema Kayon juga kelihatannya nyaris ikut mendominasi dalam buku ini. Entah sebuah kebetulan, atau memang pelukisnya memiliki ketertarikan mendalam terhadap Kayon. Saya pikir ya. Seperti yang dituliskan dalam pengantarnya, beliau adalah putra seorang Dalang dari Apuan. Dan tentunya setiap orang di Bali tahu, jika Kayon memiliki peranan penting dalam sebuah pagelaran Wayang. Tak heran jika Made Gunawan mengambil Kayon dalam banyak lukisannya. Kayon adalah perwujudan Kalpataru, atau Dewa Daru, alias pohon kehidupan yang dalam kisah-kisah Dewata dalam Bhagawata Purana, digambarkan sebagai pohon yang memberikan kehidupan bagi manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Pohon kehidupan alias Tree of Life ini diyakini muncul dari ekstraksi Lautan Susu (Samudera Mantana) beserta dengan para apsara, Kamandhanu, Aerawata, Onceswara, berbagai jenis permata, serta pohon pohon ajaib lainnya. Sumber inspirasi yang sangat baik.

Jika kita telaah dari sudut gaya lukisannya, secara umum Made Gunawan mencampurkan unsur modernitas dan barat ke dalam basic lukisan traditional Bali. Sedangkan sketsa-sketsanya totally sangat berbeda dari sketsa traditional dimana ia cenderung menggunakan pendekatan kanak-kanak dalam tarikan garisnya.

Yang menarik bagi saya, ia juga tanpa segan menggunakan media apa saja yang tersedia, seperti amplop bekas, bekas mailer Super Market, toko unggas, label Starbucks dan sebagainya, tanpa harus conflicting dengannya. Ini membuatnya unik.

PUISI DAN PUISI.

Saya mencoba membayangkan bagaimana Dokter Sahadewa mencoba merenung dan berdialog setelah melihat lukisan dan sketsa-sketsa dari Made Gunawan dan menuangkan isi alam pikirnya itu ke dalam bentuk puisi.

Jadi puisi-puisi di sini adalah hasil tafsir Dokter Sahadewa terhadap lukisan dan Sketsa Made Gunawan. Dan sebagai pembaca, saya pun mencoba menafsirkan kembali tafsir -tafsir itu. Jadi sebuah tafsir on tafsir, ha ha πŸ˜€.

Tentang sketsa-sketsa serial ikan itu, Dokter Sahadewa menulis tentang bagaimana Made Gunawan telah memberi jiwa pada ikan-ikan itu. Membuatnya menjadi hidup dan berperan besar dalam kehidupan ini.

Ada pula ia menulis tentang Sang Raja Ikan, yang bertugas membawa bahtera ke ujung samudera, agar anak-anak terus bahagia. Sayangnya, kita para orang dewasa, sudah lama sekali tak bertemu dengan Raja Ikan ini, karena ia bermukim sangat jauh di samudera rahasia bersama anak-anak. Terus terang, saya merenung agak lama untuk memahami content puisi ini. Apakah itu, sesuatu yang membahagiakan anak-anak dan tetap bersama anak-anak, tetapi sudah menghilang dari kehidupan orang dewasa? Apakah itu maksudnya “Permainan?” Karena waktu kecil kita sering bermain, tapi setelah dewasa kita sangat jarang atau bahkan mungkin tak pernah bermain lagi?. Ataukah yang dimaksud kepolosan kanak-kanak? Keluguan?. Entahlah

Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah puisi tentang “Sop Kepala Ikan”. Sebuah puisi ironis, yang membuat saya merasa ingin tertawa sekaligus haru dan ingin menangis. Terutama pada bagian, “Maka seluruh ikan pagi ini/ berkerumun berdoa/ agar cukup/ semangkuk sop kepala ikan/ yang panas berasap/bagi siapa saja/ yang lapar//. Ooh sungguh puisi yang mengaduk-aduk peri ke-ikanan, tentang ikan yang tahu takdirnya adalah untuk memuaskan hasrat manusia yang tak pernah habis.

Di luar puisi-puisi tentang Ikan, mengikuti thema lukisan yang ada, maka Dokter Sahadewa pun berbicara tentang pohon-pohon. Tentang pohon tua yang hitam, memanggil rohnya untuk pulang, namun yang datang justru mesin-mesin penggergaji. Habislah kedamaian. Juga ada tulisan tentang pohon kehidupan, tentang sang pemburu yang menggigil melihat bayang wajahnya sendiri di air kolam, walau sesungguhnya ia tak mendengar auman seringai taring sang macan.

Di luar itu ada juga puisi khusus Ciwaratri terinspirasi dari kisah Lubdaka yang diskets oleh Made Gunawan.

Tentunya masih ada banyak puisi-puisi yang lain yang menarik untuk disimak. Ada 27 puisi totalnya. Saya rasa pembaca yang lainpun akan sangat menyukai puisi-puisi ini.

Setelah melihat dan membaca isi dari buku ini, komentar saya cuma satu yakni Buku ini sungguh sangat menarik untuk dibaca dan disimak. Saya pikir pelukis, penulis dan penerbit sudah melakukan tugas yang luar biasa untuk menggabungkan unsur seni sastra dan seni lukis dengan baik dan proporsional, sehingga tercipta sebuah hidangan fusion yang nikmat bagi audience.

Saya ucapkan selamat kepada Dokter Dewa Putu Sahadewa, Made Gunawan dan Mas Hartanto atas penerbitan buku ini. Salam kreatif dan semoga sukses selalu.

Membuat Masker Sendiri.

Standard

MAKE YOUR OWN MASK.

Masker buatan sendiri. Photo pribadi nimadesriandani.


Kain perca

Malam malam saya teringat punya sisa kain perca. Bekas prakarya anak saya. Bagaimana jika kita jadikan Masker?. Ada beberapa warna dan motif sebenarnya. Tapi saya ambil yg motif bulatan mirip Chakra ini.

Langkah pertama yang diambil adalah membuat potongan kain masker. Kain masker yang say pilih adalah yang bermotif chakra sesuai dengan selera saya. Bagaimana cara menentukan ukuran dan bentuk potongan?. Agar mudah, ambil saja ukurannya dari masker yang ada lalu tambahkan kurang lebih 1 cm untuk jarak jahit. Bisa dengan menempelkan masker yang ada lalu menggunting kain di sekeliling masker dg jarak plus min 1 cm di luarnya. Tapi jika masker yang kita miliki kurang sesuai bentuk atau ukurannya. Kita bisa melakukan penyesuaian.

Setelah mendapatkan potongan kain masker, kita perlu membuat potongan kain pelapis. Nah kain pelapis ini berguna untuk menambah daya saring masker terhadap udara ysng kita hirup. Usahakan membuat potongan yang sama antara bahan masker dan bahan pelapisnya.

Berikutnya kita mulai menjahit jelujur pada sisi masker. Tempelkan kedua sisi tengah kain masker yang kiri dan yang kanan lalu jahit pada bagian tengah. Jahit jelujur dua kali agar kuat. Jangan lupa, kita menjahit pada bagian buruk dari kain. Lakukan hal yang sama pada kain pelapis. Nah…sekarang kita punya bagian kain masker yang sudah diambung kiri kanan. Demikian juga kain pelapis masker yang sudah disambung.

Berikutnya. Kita menempelkan bagian dalam kain masker dengan kain pelapis. Lalu mulai jahit bagian atas bawahnya.

Setelah ke dua bagian kain masker dan kain lapis terjahit. Pasang karet elastis untuk pegangan telinga di ujung kain. Pasang dengan baik dan jahit berulang ulang agar kuat.

Sekarang balikkan kain. Sehingga terlihat sisi luar kain masker yang bagus. Tinggal memasang karet elastis di ujung yang satunya lagi. Jadi deh maskernya.

Kreatifitas Barang Bekas Di Kantor.

Standard
Kreatifitas Barang Bekas Di Kantor.

Sebenarnya ini sudah agak lewat sedikit. Baru sempat menceritakannya. Ini tentang lomba kebersihan antar Department yang diadakan di kantor saya, Wipro Unza, dalam rangka memperingati Hari Bumi yang sebetulnya jatuh pada tanggal 22 April yang lalu. Tapi kegiatannya masih tetap terasa hingga bulan Mei ini. Saya bangga sih dengan apa yang dilakukan di kantor.

Sungguh tidak menyangka antusias dari teman teman sangat tinggi. Selain tentunya kesadaran untuk berbersih -bersih, ternyata teman-teman juga pada kreatif memanfaatkan barang barang bekas. Yuk kita lihat :

1. Box Tanaman Dari Kardus Bekas.

Sebagai petusahaan yang memproduksi roduk Fragrance dan perawatan kulit, tentunya kardus adalah salah satu limbahnya. Nah gimana caranya memanfaatkan dus bekas ini?.

Tanaman Ginseng Jawa dalam box kardus bekas.

Salah satunya adalah dengan memanfaatkannya sebagai box tanaman.

Kardus bekas untuk menutup pot tanaman.

Selain untuk menutupi pot hitam yang jelek tampangnya, menempatkan tanaman di dalam box juga memudahkan pengangkutan tanaman.

Pot tanaman dalam kardus bekas.

Misalnya jika ingin dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain.

2. Frame Photo Dari Kardus Bekas.

Frame Photo Team Marketing PT Unza Vitalis saat 17 Agustusan, te4buat dari kardus bekas.

Kardus tak terpakai , selain bisa digunakan untuk menutup pot tanaman, bisa juga dipakai untuk Frame Photo.

Frame Photo dari barang bekas.

Dengan sedikit kreatifitas gunting gunting dan tempel, kita bida memanfaatkan kardus bekas yang tak terpakai untuk mem- framing foto foto team kita di kantor. Tentu tambah seru ya…

3. Daur Ulang Tatakan Parcel.

Walaupun agencies, suppliers atau rekanan kerja perusahaan selalu dihimbau agar tidak mengirimkan Parcels, namun pada hari-hari tertentu misalnya Idul Fitri, Natalan dan Tahun Baru, tetap saja ada Parcel yang diterima oleh karyawan atau perusahaan.

Enchanteur dan Izzi

Nah, kalau sudah kepalang diterima lalu bagaimana?.

Romano

Biasanya parcel parcel itu kami kumpulkan di HRD, isinya dipecah lalu diundi dan dibagikan ke seluruh karyawan.

Vitalis

Beberapa tempat Parcel yang bentuknya menarik, digunakan ulang untuk keperluan display di acara-acara yang diselenggarakan oleh kantor atau brand.

Sumber Ayu

Nah…kali ini team Marketing pun ikut memanfaatkan bekas tatakan parcel dan barang bekas lainnya untuk mendisplay produknya masing masing.

Doremi

Tetap kelihatan cantik dan menarik.

Safi

BioEssence

Walaupun begitu, ada juga brand kami yang ikut didisplay, walaupun kehabisan tatakan parcel bekas πŸ˜€.

4. Wadah dari Botol dan container bekas.

Yang sangat kreatif lagi adalah pemanfaatan botol bekas sisa sisa development yang digarap cantik menjadi berbagai wadah yang menarik oleh team R&D kami.

tempat sampah dari botol bekas yang dirangkai.

Tempat sampah dari jerrycan bekas.

Ada yang menjadi tempat sampah.

tempat pulpen dari botol bekas

Ada yang menjadi tempat pulpen dan pensil.

4. Memisahkan Jenis Sampah.

Selain berkreasi dengan barang bekas, karyawan juga memisahkan jenis jenis sampah berdasarkan bahan dan keamanannya.

Seperti yang kita lihat di gambar gambar ini yang dilakukan oleh teman teman dari HR dan Sales. Sampah dibedakan tempatnya. Ada sampah plastik, sampah kertas, sampah botol dan sebagainya.

Semuanya kelihatan nenarik dan rapi.

Satu lagi…. kalau beli apa apa kan suka ada jantong plastiknya ya. Nah…kantong plastik ini pun disimpan agar bisa digunakan ulang kembali.

Begitulah cerita saya tentang kegiatan Cleaning Day dan Kreatifitas Daur Ulang di kantor kami, Wipro Unza.

Aktifitas yang lain yang juga dilakukan adalah menyumbangkan sampah kertas dan plastik kepada Yayasan yang bisa mengelola sampah ini yang mana hasil olahnya dijual dan uangnya digunakan untuk membantu pendidikan untuk anak-anak jalanan.

Keren kan, tempat saya bekerja? . Saya bangga menjadi bagiannya.

#unzavitalis

#greatplacetobelong

Bertemu Sang Penulis: Satria Mahardika.

Standard

Di hari ketibaan saya di Bali liburan kemarin, sahabat saya mengabarkan bahwa ada kemungkinan sastrawan Umbu Landu Paranggi akan ada di Puri Kilian, Bangli besok. Dan menyarankan saya juga datang ke Puri Kilian agar bisa bertemu, mengingat beberapa minggu sebelumnya Umbu ada menanyakan kabar saya. Saat itu saya sedang berada di Singapore dan untungnya dengan bantuan skype, saya dan Umbu sempat ngobrol juga. Nah sekarang, menurut sahabat saya, ada kesempatan bagi saya untuk benar-benar bisa bertemu langsung dengan beliau lagi di Puri Kilian. Tentu dengan senang hati saya akan datang.

Lalu teman saya juga mengabarkan bahwa jika mau, hari ini saya juga bisa bertemu dengan Satria Mahardika , sang penulis buku Merdeka Seratus Persen-Kapten TNI AAG Anom Muditha yang bukunya saya simak dan tulis di sini https://nimadesriandani.wordpress.com/2018/01/04/menyimak-buku-merdeka-100/

karena hari ini pun beliau ada di Puri Kilian. Wah…sungguh kabar yang baik. Saya mau ke Kilian sekarang kalau begitu. Selain tentunya karena saya juga sudah kangen dengan sahabat saya dan keluarga Puri Kilian.

Dengan senang hati sayapun ke Kilian membawa anak-anak dan keponakan. Sesampai di Kilian, saya disambut oleh Agung Karmadanarta, sahabat yang bagi saya sudah serupa dengan saudara sendiri. Agung Karmadanarta adalah salah seorang keponakan dari pahlawan AAG Anom Muditha. Sahabat saya ini adalah seorang pemusik yang pastinya sebuah kebetulan banget bagi anak-anak saya yang juga lagi getol banget belajar musik. Jadilah kesempatan ini digunakan oleh anak saya buat berguru. Mereka pun bermain gitar dan keyboard bergantian. Bahagia melihatnya.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kurus dengan rambut panjang yang digelung ke atas datang. Duduk dan menyalami saya. Ooh…rupanya beliau inilah sang penulis buku Merdeka Seratus Persen. Kami berbincang sesaat. Berkenalan dan menceritakan sedikit tentang diri kami. Penulis Satria Mahardika alias Saiful Anam ini adalah kelahiran Kroya ( Cilacap). Lalu ngobrol tentang buku. Rupanya buku Merdeka Seratus Persen adalah buku ketiga yang ditulis oleh Satria. Buku pertamanya adalah kumpulan puisi yang cukup tebal berjudul Suluk Mahardika. Wah… produjtif juga ya. Agak sulit untuk mengobrol panjang karenasambil ngobrol kami juga mendengarkan permainan musik Gung Karma dan anak saya. Sayang jika dilewatkan. Tiba tiba Satria Mahardika melemparkan ide. Bagaimana jika kita mengkolaborasikan puisi dengan musik?. Whua…. ide yang sangat bagus!. Satria Mahardika meminta saya membuka “any” halaman di buku Suluk Mahardika itu dan membacakan apapun puisi yang terpampang di halaman yang saya buka.

Sayapun membuka acak halaman buku yang tertutup itu dan mata saya tertumbuk pada puisi ” Satria Mahardika”. Saat itu saya belum ngeh kalau nama Sang Penulis adalah Satria Mahardika. Jadi sayapun membaca puisi itu tanpa ada link di pikiran saya kepada nama Sang Penulis. Belakangan; setelah pulang dari Puri Kilian saya baru terpikir akan hal itu πŸ˜€.

Membacakan puisi dadakan dan berkolaborasi dengan pemusik seperti itu rasanya beda banget. Semua terasa indah. Katrena sekarang, keindahan menjadi terasa berlipat ganda menembus dimensi lain dari panca indera kita.

Setelah itu giliran Satria Mahardika membacakan puisinya yang berjudul Aira. Tentu beda lah ya, jika sang penulis yang sekaligus membacakan sendiri karyanya. Bagai menyusur sebuah fragment perjalanan yang ia hapal betul kontur jalannya. Ia tahu di mana dan kapan harus menurun dan mendaki. Di mana harus berhenti sejenak untuk menarik nafas dan melihat view di sekitarnya untuk menikmati keseluruhan perjalanan dengan holistic. Tepuk tangan untuk Satria Mahardika. Keren ya!.

Di sini saya berhenti sejenak. Memandang anak anak dan para sahabat yang sedang menikmati keindahan yang sedang bergaung dalam jiwanya. Sebagaimana seorang mathematician menghayati keindahan angka-angka dan sang pelukis menghayati bias warna warna, demikianlah sang pemusik menghayati setiap tangga nada dan sang penyair menghayati keindahan setiap kata. Setiap element di alam semesta ini memiliki keindahan tersendiri bagi setiap orang yang mau dan berhasil menangkap esensinya dan menghayatinya.

Ah!. Bali memang tempat di mana seni tak pernah ada matinya. Terimakasih Satria Mahardika, Agung Karmadanarta, Agung Kartika Dewi, Agung Chocho dan anak anak keponakan yang mewujudkan keindahan kolaborasi ini. Liburan mendatang kita bertemu lagi yah..

Menyimak “Motion in Transparancy” Dalam Karya-Karya Hester Van Dapperen.

Standard
Menyimak “Motion in Transparancy” Dalam Karya-Karya Hester Van Dapperen.

Entah suatu kebetulan,  minggu lalu saya menginap di sebuah hotel kecil di pinggiran kota Amsterdam yang sedang menggelar karya seni kontemporer di lobbynya. Dari sekian banyaknya karya-karya yang dipajang, mata saya tertumbuk seketika pada lukisan lukisan karya Hester Van Dapperen. 

Sangat menarik hati saya,  karena karya karya Hester ini di mata saya  terlihat sangat unik dan baru. Saya belum pernah melihat lukisan di atas media transparant seperti ini. Terlebih Double Canvas. Technique lukis baru dimana, dua canvas transparant dilukis dan ditumpuk  jadi satu  dengan jarak tertentu. Teqhnique ini memberikan efek “kedalaman” yang sangat baik. Dimensi yang lebih kaya. 

Memandangnya, entah kenapa saya melihat Hester seolah memotret pergerakan manusia di perkotaan yang riuh, bersosialisasi namun juga  sekaligus dingin dan individualistik. Barangkali juga karena pilihan warna yang dipakai yang terkesan dingin, didominasi hitam, putih dan kelabu dengan sedikit sentuhan pink pucat. Berkesan seakan meninggalkan pesan tersembunyi.  Yuk kita simak beberapa diantaranya. 

1/. Lopen.

Lopen/Walking. Hester Van Dapperen.

Dilukis dengan cat acrylic di atas materi transparant double canvas. Sesuai dengan judulnya “Lopen” alias Walking, kita melihat sosok sosok tinggi yang bergerak serasa di jalan kota. Di latar belakangnya kumpulan burung dara bertengger di kawat listrik dan orang orang yang berjalan dengan arah yang berseberangan. Menarik sekali. 

2/. Mijn Schaduw.

Mijn Schaduw. Hester Van Dapperen.

Dengan materi yang sama, Hester menggambarkan bayangan manusia yang sedang bergerak. Arah sinar entah datang dari mana mana dengan derajat berbeda beda pula, sehingga bayanganpun terlihat berbaring ke beragam arah. Teqhnique double canvas di sini memberikan dampak pluralisme yang semakin membaur dan tak teratur. Tidak seoptimal pada lukisan lain, misalnya pada Lopen. Namun demikian, secara umum lukisan ini tetap tampak menarik dan sesuai dengan judulnya Mijn Schaduw (My Shadow).
3/.Transparant in Roze, Grijs en Zilver.

Transparant in Roze, Grijs en Silver.

Pada lukisan ini  Hester menerapkan warna tambahan rossy pink  dan silver yang membuat overall tampilannya menjadi lebih feminine dan berbahagia ketimbang lukisan-lukisannya  yang lain. Saya suka komposisi warna ini. Keanggunan terpancar keluar tanpa harus dijelaskan. 

4/. Witte Dansers in Het Park.

Witte Dansers in Het Park. Hester Van Dapperen.

Karya ini penuh dengan muatan seni.  Betapa tidak. Selain komposisi dan paduan warnanya yang baik, karya ini seolah  juga menunjukkan gerakan-gerakan yang indah dari para penari dan busananya yang menarik. 

5/. Vroege Vogels

Vroege Vogels. Hester van Dapperen.

Karya yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi berjudul “Early Birds” ini, menceritakan sebuah ketergesaan. Orsng orang yang bergegas ke tempat kerja di pagi hari. 

Demikianlah karya karyanya yang terlihat oleh saya. Terlihat sangat indah dan anggun. Potret dinamika kehidupan urban dengan kehidupan modern. Ua menggambarkannya dengan sangat apik. Belakangan saya tahu bahwa Hester van Dapperen sang Contemporary Visual Artist itu ternyata juga adalah seorang Fashion Designer. Ooh…pantaslah saya seolah menangkap jejak jejak fashion dalam karya-karyanya itu. 

Keren!. 

Garden Art – Koleksi Kebun Dapur Hidup Saya.

Standard

Koleksi Dapur Hidupku.

Berkebun sayuran 🌱🌱🌱menjadi kegiatan favorit saya setahun dua tahun ini. Ya..  membuat Dapur Hidup! Saking senangnya, saya sampai jarang punya waktu untuk melakukan kegiatan favorit lain di luar jam kantor seperti menulis, menggambar, jahit menjahit ataupun mencoba coba resep cemilan untuk anak-anak. Blog sayapun mulai setengah terlantar. Ya..okelah. setiap orang memang cuma diberi jatah waktu 24 jam, nggak kurang dan nggak lebih. Jadi memang harus memilih, bagaimana caranya menghabiskan waktu yang 24 jam itu dengan cara terbaik menurut kita masing-masing. 

Tapi beberapa hari belakangan ini, tiba-tiba saya mendapat ide untuk membuat kumpulan sketsa hitam putih tanaman sayuran  yang ada atau pernah saya tanam di kebun Dapur Hidup saya. Selain menyenangkan hati, juga untuk mengingatkan saya kelak,  eeh…sayuran ini pernah saya tanam lho di kebun saya. Ada di album “My Garden Collection”. Siapa tahu kehabisan ide untuk menanam apa lagi. Karena lahan pekarangan rumah saya sempit, tanaman sayuran itu kebanyakan memang saya tanam silih berganti. 

Alasan lain adalah, saya lihat kebanyakan orang membuat lukisan , gambar ataupun sketsa bunga atau tanaman hias. Lebih jarang orang membuat gsmbar atau sketsa sayuran. Jadi saya pilih untuk menggambar isi kebun sayuran🌱🌱🌱 saja lah kalau begitu. Biar beda πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ.

Untuk koleksi Dapur Hidup ini, saya memilih menggambar dengan pensil di atas kertas gambar warna putih. Hitam putih saja. Kelihatannya lebih menarik dan klasik. Nah.. ini adalah 6 gambar pertama yang saya buat untuk koleksi Dapur Hidup saya. 

1/. Artemisinin

Artemisinin, alias Kenikir obat  adalah tanaman Dapur Hidup yang sekaligus Apotik Hidup. Karena daun tanaman ini basa digunakan orang untuk pecel, tetapi juga memiliki benefit pengobatan.  Daunnya sangat indah dan keriwil. Sangat menarik untuk digambar. Ukurannya yang kecil memberi tantangan tersendiri saat menggambar, tetapi saya mengakalinya dengan membuatnya menjadi lebih besar.
2/. Sawi Pagoda alias Tatsoi.

Tatsoi adalah ratunya Dapur Hidup di halaman rumah saya. Tampilannya yang cantik dan anggun selalu mendapat komentar dari teman teman yang melihat fotonya ataupun melihat langsung saat berkunjung ke rumah saya “waah.. kalau cantik begini sayang dimasaknya. Jadikan pajangan saja” begitu rata rata komentar teman. Jadi layak banget diabadikan dengan pensil ya. Challengenya adalah bagaimana caranya menggambar  tumpukan daun daunnya yang melingkar membentuk pagoda itu dengan rapi dan tidak tumpang tindih dengan amburadul satu sama lain. 

3/. Sawi Putih alias Pitchay

Pitchay atau Pitsai atau Sawi Putih, tananan sawi jenis lain yang juga sering saya tanam di halaman. Tanaman ini daunnya mengenbang seperti rosette pada awalnya, kemudian menekuk ke dalam dan memadat di tengah pada akhirnya. Terlihat gendut dan lucu. Menarik juga untuk digambar. Challengenya adalah, bagaimana membuat daun-daunnya kelihatan menggelung ke dalam dan terlihat padat.  Yang saya gambar ini adalah tanaman yang masih muda  yang berada di stage baru mulai menggelung daun -daun tengahnya. 

4/. Pare.

Pare adalah tanaman yang dari sononya sudah artistik. Batangnya merambat dengan daun keriting dan sulur sulur yang banyak membuatnya terlihat sangat cantik tanpa diapa-apain. Challengenya seupa dengan menggambar Artemisinin. Bagaimana caranya menggambar bagian kecil kecil kemriwil itu dengan tetap halus. 

5/. Rosemary.

Sekalian keblenger dengan menggambae element tanaman yang kecil kecil, sekalianlah saya menggambar Rosemary. Daunnya kecil kecil banget. Aah…perbesar saja dikit.  Rosemary adalah tanaman bumbu yang baru saya pelihara kurang dari setahun.  Saya sangat suka dengan wangi daunnya. Enak untuk ditabur di atas kentang goreng. 

6/. Sawi Sendok alias Pakchoy

Tanaman ini juga sangat menarik karena pangkal tangkai daunnya yang cekung dan gendut mirip sendok bebek. Juga merupakan tanaman yang paling sering saya tanam di halaman. Karena enak πŸ˜ƒ. Challengenya adalah bagaimana membuat pangkal tangkai daunnya ini benar benar terlihat cekung di dalam dan cembung keluar. 

Tapi apapun challenge-nya, menggambar sayuran selalu menarik dan menyenangkan. 

Coretanku: Bentangkan Sayapmu.Β 

Standard

​

*pencils on paper.

Bentangkan sayapmu lebar lebar, sayang. 
Laksana kupu-kupu, hanya jika sayapmu kau bentangkan kau akan merasa ringan, hilang letih duka nestapa. Hanya jika sayapmu kau bentangkan, jantungmu kan segera memompakan semangat, yang membuatmu siap menghadapi kehidupan.Dan hanya jika sayapmu terbentang, kau akan bisa terbang. Menari diantara bunga-bunga di taman, melintasi savana dan mencium lidah awan. 

Bentangkanlah sayapmu. Karena hanya jika sayapmu terbentang,  dunia ikut tersenyum bahagia bisa menyaksikan keindahan pernak pernik warnamu.