Category Archives: Baby, Kids & Motherhood

Corat -Coret Dua Generasi.

Standard

image

Malam minggu kemarin tak punya acara khusus. Paling enak melewatkan waktu dengan anak-anak. Ngapain ya?
Aha!. Ada kertas gambar, pensil dan drawing pen. Bakalan seru juga nih…
Nah, apa jadinya jika ibu dan anak disodorin kertas gambar dan drawing pen? Ya..pasti corat -coretlah!. Saya dan anak saya sama sama senang mencorat coret. Tentunya corat coret yang sehat -bukan corat coret tembok orang.

Menghabiskan waktu beberapa menit bersama-sama, untuk mencoret suka -suka yang ada di pikiran kita, ternyata hasilnya jauh berbeda…
Begini nih jadinya.

image

Gambar saya…generasi lawas.
Corat coret saya dipenuhi bunga dan kupu-kupu.

image

Gambar anak saya…generasi anyar.
Corat coretnya dipenuhi dengan hal-hal yang menjadi kesukaannya: Anime, Dota, uang untuk nembeli burger, sleep, impiannya untuk menjadi “the maker”, kucing, dan lain sebagainya. Saya tercengang melihat apa yang ia coretkan di atas kertas.
Kreatifitas grafis yang baru. Yang sangat ekspresif dan berbeda alirannya dengan saya yang datang dari generasi di mana Titiek Puspa dan Mak Wok masih bermain operette.

Kegiatan mencorat coret, sebenarnya adalah kegiatan  memindahkan “drama” yang terjadi di pikiran kita ke atas kertas. Apa saja yang melintas di kepala. Tanpa harus khawatir coretannya bagus atau tidak. Mau diapresiasi orang lain atau tidak. Wong judulnya hanya menyenang-nyenangkan hati kita sendiri saja.

Daripada bengong. Yuk kita corat coret..

Advertisements

Tips: Jeruk Nipis Menghilangkan Cegukan Dengan Cepat.

Standard

20151129_124002.jpgAnak saya keluar dari kamar dan mengeluh “Mama..aku cegukan. Obatin Ma” katanya sambil diselingi suara ceguk ceguk. Kalau dulu saya sering panik tiap kali anak saya cegukan. Biasanya saya kasih air minum hangat. Atau kalau tidak saya suruh dia memaksakan diri untuk bersendawa guna mengeluarkan gas dari lambungnya. Biasanya sih hilang, tapi memakan waktu yang cukup lama.Tapi kemudian, saya tahu cara yang paling cepat menghilangkan cegukan yaitu dengan jeruk nipis atau lemon.

Caranya, pertama saya cuci bersih jeruk nipis atau lemon. Iris tipis. LALU Saya minta anak saya untuk memejamkan maranya, mendongakkan kepala dan nembuka mulutnya. Saya teteskan air perasan jeruk nipis ke dalam mulut anak saya dengan hati-hati agar mendekati kerongkongannya. Biasanya anak-anak bereaksi kaget karena kekecutan. SIM SALABIM ABRAKADABRA!!!. Cegukannya hilang!. Anak anakpun kembali riang. Anak saya yang kecil yang suka sekali rasa air perasan lemon malah teriak “Lagi Ma! Lagi Ma!”.

Saya pikir mungkin ada baiknya saya ceritakan di sini. Walaupun sudah banyak yang tahu rahasia sederhana ini tetapi barangkali masih berguna bagi mereka yang belum tahu sebelumnya.

Sangat perlu untuk menyediakan stock jeruk nipis di dapur.

Klappertart Sederhana Buatan Rumah.

Standard

wpid-20151114_201904.jpgTinggal di negeri dengan salah satu lagu wajibnya berjudul “Rayuan Pulau Kelapa” membuat saya sangat menyukai kelapa muda.  Terutama airnya. Demikian juga anak anak. Tapi sayangnya kadang-kadang airnya saja yang diminum, sementara daging kelapa mudanya tidak. Sayang banget ya kalau dibuang-buang?
Bagaimana kalau kita olah jadi makanan kesukaan anak anak? Bisa dibikin apa ya biar anak-anak suka?
Aha!. Coba buat klappertart sendiri saja. Bisa mengopimalkan kelapa muda yang tersisa. Selain itu kalau beli lumayan mahal kan?
Lalu lihat-lihat bahan lain yang ada di dapur. Masih punya stock telor beberapa butir, ada sedikit margarin, ada sedikit sisa tepung maizena dan tepung terigu. Vanili dan raisin juga ada di kulkas. Yang nggak ada cuma susu. Hmm..barangkali saya juga perlu sedikit rhum, coklat bubuk dan kacang almond. Lalu pergi ke ruko beli susu dan coklat bubuk. Sayangnya rhum dan kacang almond tak dijual di sini. Nggak apa-apalah.Tapi saya punya sedikit kacang mede.

Membuatnya dengan cara sederhana saja.
1/. Margarin sekitar 150 g dicairkan di atas kompor.
2/. Ambil 3 butir kuning telor. Dikocok sampai halus.Tuang ke mentega cair. Aduk aduk di atas api kecil.
3/. Tambahkan 1 kaleng susu kental manis. Aduk aduk terus.
4/. Tepung terigu sekitar 300g dilarutkan dalam air. Diaduk aduk lalu disaring dimasukkan ke dalam mentega cair. Diaduk-aduk.
5/.  Tambahkan tepung maizena yang telah dilarutkan ke dalam air. Aduk aduk terus sampai kental. Pastikan adonan tidak gosong  di bagian bawah panci.
6/. Setelah adonan kental. Masukan serutan kelapa muda. Aduk aduk kembali di atas api kecil.  Lalu angkat.
7/. Ambil adonan masukkan ke dalam gelas atau mangkok kertas timah.
8/. Taburkan coklat bubuk di atasnya. Tambahkan beberapa butir raisin. Biar seru ditambahkan serpihan kacang mede. Simpan dalam lemari pendingin.
Dihidangkan dalam keadaan dingin. Enak deh.

Crispy Cheesy Garlic Bread.

Standard

image

Sarapan pagi buat anak -anak bisa jadi membosankan jika kita emaknya nggak cukup  kreatif mencoba-coba bikin hidangan variasi baru.(eh…ini yang bosen anaknya apa emaknya ya? He he…).
Bagaimana kalau pagi ini kita coba memanggang roti dengan bawang putih dan keju? Jadi judulnya nih Roti Renyah Bawang Putih Berkeju. Biar keren kita kasih nama :  Crispy Cheesy Garlic Bread!
image

Bahannya tentu saya tidak mau repot bikin roti sendiri. Jadi rotinya beli di tukang roti yang lewat, di toko ataupun supermarket terdekat. Pilih roti tawar yang panjang yang biasanya dipakai untuk hot dog. Bahan untuk toping Sup krim instant dalam kemasan, 1 siung bawang putih besar, 1 batang sosis ayam, seledri secukupnya. Dan tentunya keju Cheddar.
1/. Cincang halus sosis dan seledri.
2/. Parut bawang putih.
3/. Seperti biasa masak sup krim bersama sama dengan sosis ayam cincang dan seledri cincang.
4/. Masukkan parutan bawang putih. Aduk hingga rata dan mengental.
5/ Ambil roti. Potong-potong melintang.
6/. Oleskan sup krim bawang putih di atasnya.
7/. Parut keju cheddar.
8/. Taburkan parutan keju cheddar di atasnya.
9/. Panggang dengan api 200 derajat selama 20 menit.
image

Roti panggang renyah dengan rasa keju bawang putih kini siap dihidangkan buat sarapan keluarga.
Mantap untuk menemani teh hangat.
Coba yuk!!!.

Menonton Andri Concert Di Indonesia Young Musician Performance 2015.

Standard

Indonesia Young Musician Performance 2015 - AndriSaya hampir melupakan moment ini untuk ditulis. Padahal ini moment yang penting buat anak saya yang besar. Dan tentunya moment yang sangat penting juga bagi saya sebagai seorang Ibu yang selalu mengharapkan pertumbuhan positif anaknya. Jadi nggak apa apa ya..  agak telat sedikit , tapi tetap saya tulis  sekarang di sini buat catatan bagi saya sendiri dan anak saya tentang apa yang telah ia lakukan dalam kehidupan masa kecilnya.

Ini ceritanya Sabtu, 19 September yang lalu. Andri Titan Yade, anak saya yang besar mendaftarkan diri untuk ikut Concert Bersama Nasional  ini yang diselenggarakan  oleh Majalah Stacatto di Yamaha Concert Hall Jakarta. Kebetulan kakak saya sedang ada di Jakarta juga. Jadi sekalianlah saya ajak ikut menonton keponakannya konser.

Saya senang melihat anak-anak bisa tampil dalam panggung seperti ini, di mana mereka bisa bermain dengan optimal tanpa perasaan tertekan. Karena panggung ini bukan panggung kompetisi. Jadi mereka bisa mengambil benefits dari performance dengan baik, sehingga bisa lebih berani dan percaya diri menghadapi sorotan penonton. Itulah sebabnya, walaupun kali ini anak saya sebenarnya kurang punya waktu untuk latihan – berhubung jam sekolahnya sekarang sangat panjang – saya tetap mengijinkannya untuk ikut concert. Saya pikir nggak apa-apalah jika misalnya ia kurang hapal atau ada salah-salah sedikit karena kurang latihan. Yang penting berani tampil saja dulu, menurut saya itu sudah bagus. Jadi saya harus memberikannya dukungan.

Anak saya masuk di umur yang sesuai untuknya. Walaupun karena postur tubuhnya yang sangat bongsor, rasanya penonton hari itu sulit untuk mempercayai jika umurnya baru mau akan masuk 15 tahun.

Indonesia Young Musician Performance 2015

Andri bermain Solo Piano membawakan “Reverie” yang artinya a state of dreamy meditation karya composer Perancis Claude-Achille Debussy. Bagi saya yang awam, musik ini terdengar indah. Tapi belakangan saya mendengar komentar dari penyelenggara yang mengulas permainan anak saya, bahwa karya-karya Debussy, termasuk Reverie ternyata adalah karya-karya yang terkenal sangat sulit dimainkan. Sangat terkenal karena sensory content-nya dan sering menggunakan atonality.  Itulah sebabnya menurut penyelenggara, mengapa tidak banyak musician yang percaya diri memainkan karya composer itu. Dan saya mendengar penyelenggara mengucapkan terimakasih kepada anak saya atas keberaniannya memainkan karya itu di panggung Indonesia Young Musician Performance 2015. Wah.. terharu juga saya mendengar ulasan itu.

Menurut saya,  pengalaman manggung sangat penting artinya bagi perkembangan seorang anak. Karena dengan melatih anak berada di atas manggung, di bawah sorotan cahaya lampu dan tatapan mata penonton setidaknya anak akan terbiasa dengan keadaan ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih percaya diri saat kelak harus menghadapi orang banyak.

Selain itu, menurut saya memainkan musik akan membantu melatih kepekaan jiwa anak.  Mengisi jiwa anak dengan keindahan dan keharmonisan akan membantunya mengidentifikasi dan memilah hal-hal yang baik dan harmonis dalam hidup dari hal-hal yang yang kurang baik dan kurang harmonis.

Musik adalah jemari halus yang mengetuk pintu kalbu untuk membangunkan kehangatan dari tidurnya yang lelap”

= Kahlil Gibran =

 

 

 

Inside Out – Gejolak Emosi Dibalik Personality Anak.

Standard
INSIDE OUT

INSIDE OUT

Akhir pekan. Sedang sibuk menata ulang halaman belakang agar bisa memuat lebih banyak tanaman, anak saya merengek minta nonton film “Inside Out”. Kalau menonton, biasanya anak saya pergi bersama teman-temannya atau anak tetangga dan didampingi oleh orang tua salah seorang temannya. Rupanya kali ini tidak ada temannya yang menonton. Jadilah dia menggeret-geret saya. Saya menghentikan pekerjaan saya dan mulai mengGoogle jadwal film XXI di Bintaro Plaza dan Bintaro X-Change. Akhirnya kami sepakat menonton jam 16.40 di Bintaro X-Change setelah saya usai merapikan tanaman.

Saya pikir film yang diproduksi Pixar Animation Studios dan direlease oleh Walt Disney Pictures ini menarik dan beda. Menjelaskan bagaimana emosi berperanan dalam membentuk kepribadian seseorang. Bagaimana  memori terbentuk dan disimpan dalam ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Barangkali sedikit agak berat dicerna untuk ukuran film kanak-kanak – terutama jika saya lihat ternyata ada cukup banyak Ibu-Ibu yang membawa anaknya yang masih balita untuk menonton film ini. Tetapi di satu sisi untuk anak-anak pra remaja, saya pikir film ini, justru sangat membantu memudahkan anak-anak untuk memahami sedikit neuro-science dan pyschology sederhana. Karena semuanya dikemas dengan simple dalam bentuk 3D animasi.

Barangkali ada yang belum sempat nonton filmnya – saya ceritakan garis besarnya.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley seorang anak perempuan kecil, hidup bahagia bersama ke dua orangtuanya. Seperti kita semua, Riley memiliki emosi di dalam dirinya sendiri yang mengendalikan ekspresinya ke dunia luar setiap hari. Ada Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger.  Kalau di “bahasa-gampang”kannya ya  Gembira, Sedih, Takut, Jijik/Muak, Marah. Walaupun semua emosi ini  mengambil peranan dalam hidup Riley, tetapi Joy alias kegembiraanlah yang mendominasi hidup Riley.

Riley banyak mengalami kejadian-kejadian yang menyenangkan dan membahagiakan dengan kedua orangtuanya, dengan teman-temannya, dengan lingkungan alam sekitarnya. Walaupun tentu saja ada juga hal-hal kecil yang menyedihkan, menakutkan, membuat ia jijik ataupun marah pernah melintas dalam kehidupannya.

Inside out3Misalnya nih… ia merasa sangat jijik akan brokoli, marah ketika ayahnya mengancam tidak akan memberikannya hidangan penutup yang manis jika tidak mau makan brokoli. Atau sedih ketika kalah bermain Hoki dan sebagainya. Tetapi secara umum hidupnya sangat bahagia. Semuanya itu disimpan dalam pulau-pulau memori yang hidup dan menyala. Ada pulau Canda, pulau Sahabat, pulau Kejujuran, pulau Keluarga.

Semua itu berubah ketika ayahnya mendapatkan pekerjaan baru dan mereka harus pindah dari Minnesota ke San Fransisco. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Tempat tinggal baru, sekolah baru dan suasana baru. Rumah yang besar dan kosong, tikus yang lewat, toko piza yang hanya menyediakan piza brokoli dan sebagainya. Di sini emosinya silih berganti menguasai dirinya. Joy masih mampu mendominasi.

Inside Out 4Perubahan sangat terasa ketika ia masuk ke Sekolah barunya. Teman-teman asing dan suasana asing. Terlebih ketika gurunya meminta ia menceritakan dirinya dan Minnesota kota kelahirannya. Ia tak mampu membendung kesedihannya dan menangis di depan kelas. Hal ini membuatnya tertekan. Demikian juga ketika berikutnya ia tak mampu bermain Hoki dengan baik. Semakin membuatnya tertekan. Orangtuanya berusaha membantu, tetapi Riley malah didominasi oleh kemarahan yang memicu kemarahan ayahnya. Satu per satu pulau-pulau memori yang indah dalam dirinyapun hancur. Tiada lagi pulau Canda. Pulau Hoki-nya juga hancur. Ia merasa kesepian. Tiada sahabat yang biasa ia ajak bicara. Pulau Sahabatnya pun hancur.

Ia sangat merindukan Minnesota dan memutuskan untuk kabur dari rumah dan kembali ke sana. Ia mencuri Credit card ibunya untuk membeli ticket bus ke Minnesota. Pulau Kejujurannya pun hancur juga. Kekacauan emosi semakin menjadi-jadi. Tapi seperti biasanya, sudah bisa ditebak kalau film ini pasti juga berakhir dengan Happy Ending. Sebelum pulau Keluarga hancur,  lima sekawan emosi ini plus Bing Bong, teman khayalan Riley waktu kecil berhasil membantu mengembalikan personality Riley seperti sedia kala.  Dimana Sadness yang selama ini dianggap mengganggu kebahagiaan Riley, justru sukses membawa Riley pulang kembali ke pelukan ayah ibunya.

Pada akhirnya, cinta,kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pada akhirnya, cinta, kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pesan moral yang saya tangkap adalah hidup itu memang penuh warna. Setiap emosi itu penting adanya dalam hidup seseorang – dalam hal ini hidup seorang anak. Ada kalanya emosi-emosi yang lain di luar kegembiraan berperanan juga untuk mengembalikan kebahagiaan anak. Ada kalanya kita perlu membiarkan emosi anak-anak kita disalurkan dengan baik. Dan yang lebih penting lagi adalah peranan keluarga dalam perkembangan emosi dan personality anak.  Betapa pentingnya kita sebagai orangtua membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta, perhatian, kehangatan dan kasih sayang. Karena pada akhirnya itulah fondasi yang sangat kuat yang akan membawa anak-anak kita ke dalam kestabilan emosi dan kejiwaannya. Tontonan yang menarik!.

Selain menarik, Film ini menjadi istimewa karena sudut pandang penceritaan diambil dari sudut internal emosi sang anak (Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger),  dan  bukan si anak itu sendiri (Riley), walaupun film ini berkisah tentang Riley. Jadi yang kita tonton, tokoh utamanya adalah Joy. Ia yang bertindak sebagai Subyek. Sedangkan Riley hanya sebagai obyek. Jadi dari sudut Cinematography-pun memang menarik.

 

School Art: Membangun Kepekaan Rasa, Pikiran Dan Imaginasi.

Standard

Minggu yang lalu, saya berkunjung ke sekolah Ricci II untuk mengurus buku-buku dan seragam anak. Rasanya sudah cukup lama saya tidak ke sekolah. Senang sekali melihat lapangan basket, melintasi kelas demi kelas dan berbincang dengan Ibu dan Bapak Guru. Sambil menunggu, saya sempat juga melihat-lihat ke dinding sekolah.  Ada banyak sekali gambar-gambar yang dipajang di majalah dinding. Gambar anak-anak yang indah-indah dan berwarna warni. Dinding sekolahpun terlihat cantik dari kejauhan.

Saya mendekat dan mengamat-amati gambar-gambar itu satu per satu. Rupanya ada berbagai macam thema yang dipajang . Secara umum berkelompok, tetapi kelihatannya tidak terlalu homogen juga. Sehingga dari kejauhan tampak seperti mozaik. Tak tahan rasanya untuk tidak mengabadikannya.

Kehidupan Bawah Air.

Ada thema tentang  kehidupan dalam air. Sebuah thema yang menurut saya selalu indah. Anak-anak menggambarkannya dengan sangat baik.  Ada banyak sekali gambar yang bercerita tentang kehidupan bawah air ini. Sayang saya tidak bisa memuat gambarnya semua.

Yang paling banyak digambar anak-anak tentunya adalah ikan. Berbagai jenis ikan terlihat di sana. Mulai dari arwana, plati pedang, ikan mas, ikan nemo, tuna, dan sebagainya hingga ke jenis ikan laut dalam seperti ikan lentera pun ada yang menggambar. Lalu ada paus dan juga ada lumba-lumba. Selain itu, banyak juga anak-anak yang menggambar bintang laut, cumi-cumi, gurita, kuda laut, penyu, kepiting dan tentunya ganggang laut dan terumbu karang. Malah ada juga yang menggambar lengkap dengan dua orang penyelam yang berenang dikelilingi ikan dan ubur-ubur. Rupanya masing-masing menggambar sesuai dengan imaginasinya sendiri. Menarik sekali. Saya pikir guru memberikan thema dan membebaskan murid untuk berimaginasi dan menggambarkannya.

Alam dan Lingkungan.

Thema lain yang kelihatannya juga muncul di dinding adalah tentang alam dan lingkungan. Lagi-lagi saya menduga,bahwa guru hanya memberikan thema dan mempersilakan murid untuk menangkap rasa dari alam sekitarnya dan membangun imaginasinya sendiri serta menuangkannya dalam kertas gambar. Terlihat dari beragamnya lukisan yang dibuat. Kreatif sekali murd-murid ini.

Jaman dulu kalau saya melukis pemandangan biasanya standard banget. Ada gunung, ada matahari, ada sawah di lembah dan ada pohon kelapa. Belakangan setelah ngobrol dengan beberapa teman seumuran dari berbagai daerah, ternyata saya baru tahu kalau lukisan begitu rupanya digambar oleh sejuta murid Indonesia dari Sabang sampai Merauke di jaman itu. Seragam semua idenya begitu. Lah?!.

Nah..murid-murid sekarang ternyata jauh lebih kreatif dari murid-murid jaman dulu. Ketika diminta menggambar dengan thema alam, mereka mengeksplorasi  segala kemungkinan concept yang cocok dengan thema alam. Lalu keluarlah berbagai bentuk gambaran alam yang sangat variatif. Tidak lagi terbatas hanya pada gunung, matahari, sawah dan pohon kelapa seperti jaman dulu.  Ada danau yang biru, ada sungai dan tebing, ada yang menggambar hutan rimbun dengan berbagai jenis tanaman,  ada alam yang terkesan gersang dengan pohon coklat entah mau mati atau kebakar, ada kebun bunga dengan unggas, ada lukisan sungai dengan jembatan di atasnya,  ada kebun dengan ayam jago, lalu ada juga halaman rumah yang asri penuh dengan bunga dan pohon rindang dan sebagainya. Banyak variasinya. Hingga gambar alam dengan kincir angin dan bunga-bunga tulip Belandapun ada.

Dan yang sangat menarik buat saya, ternyata aliran lukisnya pun beragam. Bahkan ada yang menggambarkan alam pepohonan dengan gaya lukis bak emroidery dari Skandinavia.  Menarik! menarik banget!.

Unggas & Pottery.

Ada juga gambar-gambar berbagai macam unggas dan pottery yang juga menarik untuk disimak. Disinipun saya melihat keberagaman ekspresi rasa dan imaginary. Walaupun secara umum yang digambar adalah sama dan serupa, ayam (ada yang jantan ada yang betina) dan burung (umumnya adalah burung-burung berparuh bengkok), namun goresan pensil, sapuan warna serta penempatan obyek lukisan membuat setiap lukisan memancarkan jiwanya sendiri yang berbeda. Demikian juga yang terjadi pada pottery. Pot gerabah dan keramik yang digambarkan pun terasa beda jiwanya satu sama lain.

Sebenarnya masih ada banyak lagi gambar-gambar yang dipajang. Saya salut akan apa yang dilakukan sekolah ini, memajang karya gambar murid-muridnya. Bukan saja memperindah dinding sekolah, tetapi sekaligus juga membuat anak-anak bangga akan hasil karya mereka.  Hal ini tentunya akan semakin menambah semangat para murid untuk terus berkreasi. Dan ini penting, karena menurut saya ada banyak manfaat yang didapatkan jika anak-anak dilatih terus untuk berkesian dan berkreasi.

Seni membuat anak mampu melakukan eksplorasi jauh ke alam pikirnya, bahkan hingga ke sudut sudut dan pelosoknya. Hal ini  akan membuatnya penuh dengan ide-ide yang cemerlang dan kreatif  dalam membuat concept, thema, tata ruang, tata gaya, tata warna dan sebagainya yang ingin ia ekspresikan ke dunia luar.

Mengenal seni, akan membuat anak-anak  bisa menerima realitas dan sekaligus menerima keabsurd-an pada saat yang bersamaan. Langit itu biru. Tapi siapa bilang bahwa langit harus selalu biru? Terkadang langit bisa juga merah, pink,  kuning, hitam atau bahkan hijau dan berwarna warni saat pelangi mengembang. Anak-anak akan lebih mudah menerima dan terbuka atas pemikiran dan ide-ide baru dan berbeda.

Tanpa disadari, sebenarnya melakukan pekerjaan seni, juga melatih perhatian dan meningkatkan fokus anak akan sesuatu.  Juga melatih koordinasi antara pikiran, perasaan dan gerakan mata serta tangannya.

Saya pikir masih banyak lagi manfaat lainnya yang pada intinya membangkitkan rasa, pikiran dan imaginasi anak-anak.

Fokus Dan Tidak Fokus.

Standard

Focus & Tidak focusAcapkali kita mendengar entah teman, kenalan ataupun keluarga berkata bahwa kita perlu fokus agar sukses. Karena fokus memegang peranan penting dalam sebuah kesuksesan. Jadi, Fokus! Fokus!. Dan fokus!

Kenapa libur-libur begini saya kok tiba-tiba ngomongin soal Fokus? Nah ini gara-garanya justru karena libur. Saya jadi banyak bermain-main dengan anak-anak saya. Termasuk salah satunya bermain Bayang-Bayang Jemari Tangan dengan anak saya yang kecil. Ia senang membuat bayangan Kelinci, bayangan Srigala, bayangan Buaya, bayangan Gajah dan sebagainya dengan mengatur jari-jari tangannya, lalu membiarkan cahaya lampu jatuh menimpa jemarinya itu, sehingga membentuk bayangan-bayangan  yang unik dan lucu.

Agar bisa bermain dengan baik, kami mematikan lampu listrik, lalu menyalakan lampu senter. Kebetulan lampu senter itu bisa digerak-gerakkan dan diatur fokus cahayanya.  Saat bermain Bayangan, ia mulai dari cahaya yang tidak fokus. Memencar dan lebar dengan diameter cahaya yang lebih besar tapi redup. Lalu setelah bosan, ia menggerakkannya menjadi cahaya yang lebih terfokus, terpusat di tengah, lebih kecil diameternya namun sangat terang di tengah.

Gara-gara cahaya lampu senter itulah saya jadi teringat dan memikirkan arti kata “Fokus”.  Jika melihat lampu senter itu, saya akan setuju jika ada seseorang yang mengatakan bahwa fokus  adalah  titik di mana cahaya  terpusat. Karena cahaya terpusat alias mengumpul di sana, maka titik fokus itu terlihat sangat terang melebihi lingkungan sekitarnya yang gelap gulita. Saking terangnya, ibaratnya jika ada seekor semutpun yang melintas di titik fokus cahaya itu hingga antenanyapun tentu kelihatan. Tidak ada yang luput dari pandangan mata kita.

Sebaliknya jika kita tidak memfokuskan cahaya senter itu, maka cahayanya akan menyebar di area yang lebih luas. Cahaya itu terbagi-bagi ke segala penjuru arah, sebagai akibatnya maka akan terlihat lebih redup. Tidak seterang seperti saat cahaya kita fokuskan di satu titik tertentu. Kembali lagi seandainya ada semut yang melintas, barangkali sepintas lalu kita juga tetap akan melihatnya, namun tentunya tidak bisa detail melihat kaki atau antenanya seperti saat kita melihatnya di bawah fokus cahaya.

Sebenarnya sama dengan pikiran dan perhatian kita terhadap sesagla sesuatu.  Jika pikiran dan perhatian kita fokus, dengan sendirinya kita akan memahami segala sesuatu itu dengan detail dan dengan cara yang sangat terang dan jernih.  Kwalitas pemahaman yang terbaik hanya akan bisa kita dapatkan jika kita memang benar-benar fokus akan sesuatu. Sebagai akibatnya, pasti ada yang harus dikorbankan. Kita tidak bisa memecah pikiran dan perhatian kita ke berbagai persoalan yang lain jika kita benar-benar ingin fokus. Tidak bisa multi tasking.

Sebaliknya jika kita ingin memahami berbagai hal yang berbeda pada saat yang bersamaan, maka bisa jadi kita hanya akan mampu memahami permukaannya saja atau garis besarnya saja, tanpa mampu memahami dengan detail kedalaman persoalannya. Kwantitas pemahaman akan mungkin kita kuasai jika kita membiarkan diri kita tidak fokus. Yang pasti, tanpa fokus bukan kwalitas yang bisa kita dapatkan. Tapimulti-tasking sangat mungkin dilakukan.

Apakah fokus selalu lebih baik dibanding tidak fokus?“. Hampir saja saya menjawab “Ya” atas pertanyaan anak saya itu. Tapi kemudian saya menyadari. Sebenarnya tidak begitu juga.  Fokus dan Tidak Fokus sama baiknya. Sama bergunanya. Tergantung dari kebutuhannya dan bagaimana kita menggunakannya untuk keperluan kita.

Sama dengan cahaya lampu senter itu. Ada saat-saat tertentu dimana kita membutuhkan cahaya yang fokus, misalnya saat kita mencari benda-benda kecil di area yang sempit dan terbatas, misalnya mencari jarum yang jatuh. Sudah pasti fokus cahaya lebih dibutuhkan.

Tapi bagaimana jika kita ingin bermain Bayang-Bayang Jemari Tangan? Kita tidak membutuhkan cahaya yang terfokus. Yang kita butuhkan adalah cahaya yang menyebar di area yang lebih luas. Redup sedikit tidak masalah, toh bayangan tetap terlihat juga.

Jadi, tidak selamanya fokus itu lebih baik dari tidak fokus. Atau sebaliknya tidak fokus lebih baik dari fokus. Tergantung apa yang kita butuhkan.

Fokuskanlah pikiran dan perhatian kita  untuk mengejar hasil yang berkwalitas unggul. Pencarkan pikiran dan perhatian kepada beberapa hal sekaligus pada saat yang bersamaan jika kita sedang ingin melakukan scanning  dan mendapatkan gambaran besar sebuah permasalahan dengan cepat.

Saya yakin, otak manusia bekerja dengan sangat fleksibel untuk menghadapi segala permasalahan.

 

Sarang, Adalah Rumah Bagi Burung-Burung.

Standard

Seekor Burung Pipit Di Sarangnya 4Di halaman rumah, ada sebatang pohon bunga Asoka putih (Ixora sp.). Bunganya yang mirip jarum cukup banyak mekar hari ini. Mengundang berbagai jenis kupu-kupu untuk mampir. Dari sela-sela daunnya yang rimbun, saya mendengar suara cericit burung pipit. Saya mendekat. Dua ekor burung pipit (Lonchura leucogastroides) tampak bertengger di dahannya yang agak tinggi. Di dekatnya sebuah sarang tampak tersangkut. Pintu sarang berada tepat di arah saya berdiri. Sehingga saya bisa melihat ke arah pintunya,walaupun posisinya agak tinggi. Kelihatan kosong. Barangkali sarang itu milik ke dua ekor burung pipit itu. Sesaat kemudian kedua ekor burung pipit itupun terbang.

Sekitar pukul dua siang saya menengok sarang burung itu lagi. Tampak seekor induk burung pipit sekarang sedang berada di dalamnya. Kepalanya kelihatan menyembul keluar. Kepalanya hitam, demikian juga paruh atasnya. Paruh bawahnya berwarna kelabu pucat nyaris putih. Dadanya putih. Saya pikir barangkali ia sedang mengerami telornya. Tapi tak lama kemudian saya melihat seekor anak burung pipit mendekati sarang. Ooh… rupanya burung itu tidak sedang mengeram. Anaknya sudah lahir dan bahkan sudah bisa terbang. Walau demikian, ia tetap pulang menemui induknya di sarangnya.

Seekor Burung Pipit Di Sarangnya 1Saya memperhatikan anak-anak burung pipit itu yang terbang jarak pendek. Kadang menclok di dahan bunga Kenanga, kadang di kawat listrik, kadang di dahan pohon Srikaya. Lalu kembali ke dahan pohon Asoka dan masuk ke sarangnya. Demikian saya mengamatinya di pagi hari, siang hari dan sore hari setiap hari selama saya liburan.

Anak saya ingin memasang jaring dan menangkap burung-burung itu.”Untuk apa?” tanya saya. Ia ingin memilikinya dan memasukkannya ke kandang. Sayapun melarang dan memberinya pengertian bahwa burung-burung itu lebih suka hidup di alam bebas. dDn kita tidak punya hak untuk merampas kebebasannya.

Betapapun enaknya makanan yang kita sediakan, betapapun mudahnya ia mendapatkan makanan, gratis dan tinggal suap saja,  burung-burung tetap lebih suka hidup di alam bebas mencari makanannya sendiri,walaupun harus bekerja keras.   Kandang yang kita sediakan mungkin lebih besar dari sarangnya, tetapi burung-burung lebih suka tidur dan bersitirahat di sarangnya sendiri. Walaupun lebih sederhana, walaupun lebih sempit.

Dua ekor anak burung pipit 1Sarang, adalah rumah bagi burung-burung. Adalah tempat untuk berlindung dari hujan, dari terik matahari, dari tiupan angin kencang. Juga tempat berlindung dari dari gangguan pemangsa dan dari orang iseng yang berbuat jahat. Rumah adalah tempat yang paling aman di dunia.

Serupa dengan kita, rumah adalah tempat untuk pulang. Titik di mana kita jadikan pangkalan untuk kembali setelah bepergian ke tempat yang dekat maupun jauh. Tempat di mana kita tidak pernah tersesat, karena kita hapal semua sudut dan bahkan kolong-kolongnya.

Rumah adalah tempat untuk beristirahat dari kelelahan, setelah seharian mencari makan dan mengais rejeki di luar rumah. Rumah memberi suntikan energi yang memulihkan semangat untuk berjuang kembali esok hari.

Sebagaimana sarang yang merupakan tempat bagi burung-burung untuk menetaskan telur dan membesarkan anak-anaknya, rumah bagi kita adalah tempat di mana kita dibesarkan dengan penuh kehangatan dan cinta. Rumah adalah tempat untuk berkumpul dengan keluarga, berbagi suka dan duka.

Sekecil apapun rumah kita, dan sesederhana apapun, rumah yang hangat diselimuti penuh dengan perhatian dan cinta para penghuninya, akan selalu menjadi tempat yang paling nyaman di dunia.

Burung Pipit di sarangnya10Saya mengajak anak saya melihat lebih dekat ke sarang burung itu melalui lensa tele. Tampak 3 ekor burung, seekor induk dan dua ekor anaknya sedang duduk berdesak-desakan di sana. Mereka kelihatan bahagia dan nyaman.  Walaupun sempit, tetapi burung-burung itu tetap lebih suka tinggal berdesak-desakan begitu di sana. Padahal anak-anaknya sebenarnya sudah besar dan bisa terbang, tapi tetap saja mereka lebih suka tinggal bersama di sarang itu. Itu membuktikan bahwa sarang itu bukan saja nyaman dan aman,namun juga hangat karena dipenuhi kasih sayang keluarga burung itu. Kehangatan itulah yang tidak akan pernah bisa kita gantikan sekalipun dengan kandang mewah berharga puluhan juta rupiah. Jadi, biarkanlah burung-burung itu tetap berada di sarangnya sendiri.

Saya mengambil beberapa foto. Anak saya sekarang sibuk mengamat-amati foto-foto burung pipit yang sedang berada di sarangnya itu. Tampak ia senang dan mulai bisa memahami apa yang saya katakan kepadanya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengambil burung-burung itu dari sarangnya. Semoga ia mengerti apa arti rumah bagi setiap mahluk hidup, termasuk artinya bagi dirinya sendiri.

Gaya Kita Berbahasa.

Standard

pink-lotusSaya dan suami serta anak-anak sedang dalam perjalanan pulang sehabis membeli beberapa keperluan rumah.  Di jalan suami saya bercerita bahwa ada seorang temannya yang tinggal di luar kota akan ke Jakarta malam ini. Mereka rupanya sedang terlibat pembicaraan lewat sms. Suami saya menawarkan temannya itu agar menginap di rumah kami saja. Karena sedang menyetir, suami saya meminta tolong saya membalaskan smsnya. Ia yang menentukan isinya. Saya hanya mengetikkan kalimatnya. Sebelum dikirim, saya bacakan dulu kalimatnya, guna memastikan apakah redaksionalnya sudah /belum sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh suami saya. Kalau suami saya setuju, maka segera saya kirim. Jika  belum cocok, segera saya perbaiki dan bacakan ulang kembali.

Saat membacakan itu, anak saya yang kecil yang sedari tadi diam ikut menyimak pembicaraan kami tiba-tiba nyeletuk ” Ma, kayanya teman Papa pasti tahu kalau yang membalas sms itu bukan Papa deh. Karena gayanya lain kalau Mama yang menulis” kata anak saya. Oohh!?. “Mengapa begitu?” Tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. ” Kalau Mama yang menulis pasti gayanya panjang-panjang” katanya. O ya? Memang begitu ya? Saya takjub karena ternyata anak saya mengamati  gaya menulis saya. Ia juga bisa membedakannya dengan gaya menulis papanya yang menurutnya sangat beda. Pendek-pendek, singkat, padat dan jelas. “Apa? Siapa? Di mana? Ke mana? Kapan?“.

Loh? Memang tulisan Mama sering tidak jelas ya?” tanya saya khawatir. “Bukan tidak jelas, Ma. Malah sangat jelas. Terlalu jelas. Selain ada apa, siapa, kapan dan di mana, pasti selalu pakai tambahan penjelasan dan pendapat. Kenapa begini? Mengapa begitu? Karena begini… Yang ini aja, soalnya begini,  masalahnya begitu. Bagaimana? Oo.. begini aja ya caranya, biar nantinya begini hasilnya…” anak saya nyerocos terus dan membahas dengan panjang lebar kebiasaan saya menulis. Ha ha..saya tertawa.

Juga kalau marahin. Sama juga. Papa pasti marahinnya singkat, padat dan jelas. Kalau Mama biasanya tidak marah. Tapi ngasih tauin, tidak boleh begini begitu, dengan penjelasan kenapa dan mengapa lalu bagaimana, nye nye nye nye…” kata anak saya memberi indikasi kalau saya cerewet.  Dan ujung-ujungnya kembali ke pointnya dia tadi, bahwa teman papanya itu pasti bisa merasakan bahwa yang membalaskan sms itu tadi pasti orang lain dan bukan papanya sendiri. Karena menurutnya gaya bahasa kami sangat obvious memang berbeda.

Ketika saya tanyakan gaya bahasa mana yang lebih ia sukai, anak saya mengatakan tidak menyukai dua-duanya. Ia menyukai gaya bahasanya sendiri yang pas. Tahu kapan perlu singkat , kapan perlu panjang. Menurutnya pesan papanya terlalu singkat, sehingga membuat orang harus bertanya lagi  jika butuh penjelasan tambahan. Sedangkan saya, ia merasa kepanjangan “Kadang-kadang kan sudah tau reasonnya. Nggak perlu dijelasin lagi lah“. Saya hanya tertawa dan tidak berkomentar lagi.  Barangkali memang ada benarnya penilaian anak saya itu.

Anak saya yang besar membela saya dengan mengatakan betapa pentingnya melibatkan 5W+ 1 H (What, Who/Whom, Why, Where,  When + How) dalam setiap penjelasan. Semuanya menjadi jauh lebih jelas dan mudah dimengerti. Lalu seperti biasa kedua anak saya pun larut dalam perdebatan panjang mempertahankan pendapatnya masing-masing dan dengan gaya bahasanya masing-masing.

Seringkali kita tidak menyadari jika gaya bahasa kita ternyata unik dan berbeda dengan orang lain. Terbentuk oleh kebiasaan sehari-hari. Bermula dari cara kita bertanya atau menjawab sebuah pertanyaan orang lain, lalu berikutnya kita kembali menjawab dengan gaya yang sama,  yang akhirnya lama-lama menjadi sebuah kebiasaan yang bisa diingat oleh orang lain yang berinteraksi dengan kita sehari-hari. Demikian juga dengan saya. Barangkali karena waktu kecil saya bercita-cita menjadi seorang guru, saya memiliki kesenangan menjelaskan segala sesuatu dengan detail kepada orang lain. Terutama kepada anak-anak saya. Karena saya ingin anak-anak saya memahami akar setiap permasalahan yang ada, dan mendapatkan gambaran yang menyeluruh dan utuh dari sebuah kejadian dan bukan hanya sepotong-sepotong atau hanya sebatas di permukaannya saja. Dengan demikian,harapan saya kelak ia akan bisa mengambil keputusan yang tepat dan adil sesuai dengan konteks-nya dan bersikap lebih bijaksana dalam menanggapi setiap permasalahan yang ada.

Tetapi hari ini saya mendapatkan masukan yang sangat menarik dari anak saya tentang gaya bahasa itu yang ternyata bisa juga jadi membosankan karena kepanjangan dan sering diulang-ulang. Hmmm…menarik juga!. Barangkali saya perlu memikirkan ulang bagaimana sebaiknya saya menanggapi masukan dari anak saya dan melihat kemungkinan cara memperbaiki diri saya.

Bagaimanapun gaya bahasa kita, mau itu pendek, panjang, halus, kasar, sinis, sopan, jelas, tidak jelas, terstruktur, amburadul, ketus, ragu, dan sebagainya, akan ditangkap orang lain dan disimpan dalam memorinya.

Jadi sebaiknya memang kita perlu membentuk kebiasaan berbahasa yang baik untuk diri kita sendiri dan nyaman bagi orang lain.