Category Archives: Bali

Warna-Warni Dalam Bahasa Bali.

Standard

Gara gara seorang teman berkomentar pada sebuah post di timeline facebook, saya jadi kepikiran untuk mengajak teman-teman pembaca untuk bersama-sama mengenal warna-warni dalam Bahasa Bali. Dan sekaligus mengenal bagaimana masyarakat Bali memandang warna.

Dalam kehidupan sehari-hari di Bali, warna memegang peranan yang sangat penting, bukan saja dalam kaitannya dengan seni, misalnya warna warni pada lukisan, pakaian, namun juga pada warna warni makanan dan sebagainya.

Bahkan warna warni juga erat hubungannya dengan konsep keTuhanan, misalnya diterapkan dalam konsep Dewata Nawa Sanga, di mana Tuhan Yang Maha Esa diberikan nama tertentu sesuai dengan peranan Beliau, lokasi dalam mandala/ arah mata angin dan diberi kode warna tertentu juga.

Untuk diketahui, Warna dalam Bahasa Balinya sama saja dengan Bahasa Indonesia, yaitu “Warna” juga (dibaca “warne” . A dibaca e seperti membaca e dlm kata “dengan”). Tetapi apa saja jenis warna yang ada dalam perbendaharaan Bahasa Bali? Yuk kita simak bersama.

1/. Hitam.

Ireng, Cemeng (halus). Selem (standard). Badeng (kasar).

Contoh pemakaiannya; Tebu Ireng = tebu hitam/ tebu guak. Miana Cemeng = Miana hitam. Kayu Selem = kayu hitam. Kulitne badeng senged = kulitnya hitam legam.

Masyarakat Bali menempatkan warna hitam di utara. Dan hitam juga merupakan lambang Tuhan yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pemelihara (Wisnu)

2/. Biru.
Nila (halus). Pelung ( standard). Beru (standard).

Warna Biru ditempatkan di Timur Laut. Merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pencipta Kebahagiaan (Shambu).

3/. Putih.

Petak ( halus). Putih (standard).

Untune petak sekadi gamet = giginya putih seperti kapas.

Warna Putih ditempatkan di Timur. Juga merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penguasa Dunia (Iswara).

4/. Pink

Dadu (Halus/ Standard).

Warna Pink di tempatkan di Tenggara. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Besar (Maheswara).

5/. Merah.

Bang (halus). Barak (standard).

Contoh pemakaian:

Mesumpang nganggen Pucuk Bang = menghias rambut/telinga dengan menggunakan bunga kembang sepatu merah.

Warna merah ditempatkan di selatan. Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Sang Maha Pencipta (Brahma).

6/. Orange.

Kudrang (halus). Jingga (standard). Nasak Gedang (standard).

Warna Orange diletakkan di Barat Daya. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penghancur Kejahatan (Rudra).

7/. Kuning.

Jenar (halus). Kuning ( standard).

Kuning ditempatkan di Barat. Merupakan lambang Tuhan dalam fungsinya sebagai Sang Penguasa Tertinggi Alam Semesta (Mahadewa).

8/. Hijau

Wilis. Gadang. Ijo (standard).

Hijau ditempatkan di Barat Laut. Meruoakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penjaga Keharmonisan (Shangkara).

9/. Ungu.

Tangi (Halus/Standard).

10/. Coklat

Gading.

Contoh pemakaiannya :

– Bokne gading (rambutnya coklat/pirang).

– Kepundunge nasak gading (buah kepundung/menteng matang dan coklat muda).

– Nyuh Gading= kelapa ukuran kecil yang berwarna merah kecoklatan.

11. Abu.

Kelawu.

Itu adalah warna warna umum. Bagaimana jika kita ingin mengatakan ” ke….an”?. Misalnya nih… kecoklatan (brownish) kebiruan (bluish), kekuningan (yellowish)?. Dalam bahasa Bali, kecoklatan disebut dengan “lumlum gading”. Keputihan = lumlum petak. Jadi untuk mengatakan sesuatu yang ke+warna+an, cukup tambahkan kata “lumlum” di depan kata warna (lumlum+warna).

Cara lainnya adalah menambahkan kata “mesawang” di depan kata warna. Mesawang arti aslinya adalah terlihat/tampak. Contoh, “warnan ambarane pelung mesawang barak” artinya, warnanya langit biru agak kemerahan.

Selain itu ada istilah lain lagi yang berkaitan dengan warna.

1. Tri Kona = Tiga Warna = hitam, merah , kuning.

2. Panca Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Kuning.

3. Sanga Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Ungu, Kuning, Jingga, Pink, Hijau.

4. Berumbun = Warna campur-campur.

Nah…demikianlah kurang lebih bahasa Bali untuk mengatakan berbagai jenis Warna.

Advertisements

Bumbu Dapur Dalam Bahasa Bali.

Standard

Setelah sebelumnya saya menulis tentang bahasa balinya wajah dan bagian-bagiannya, kali ini saya ingin mengajak teman pembaca untuk menengok dapur orang Bali dan mengenal bumbu dapur dalam Bahasa Bali.

Dapur dalam bahasa Bali disebut dengan “Paon”. Atau dalam bahasa halusnya disebut dengan kata “Pewaregan“. Dan Bumbu Dapur disebut dengan “Basa-basa” -dibaca Base base – dengan huruf a dibelakang kata dibaca sebagai “e ” seperti huruf e dalam kata “dengan” di bahasa Indonesia.

Oke!. Sekarang kita langsung mengenali apa saja yang ada di dalam nampan Basa -basa ya.

1/. Cabe = tabya.

2/. Garam = uyah (kasar), tasik (halus).

3/. Bawang merah = bawang.

4/. Bawang putih = suna / kesuna.

5/. Jahe = jae.

6/. Lengkuas = isen.

7/. Kencur = cekuh.

8/. Kunyit = kunyit.

9/. Asem = lunak.

10/. Merica = mica.

11/. Ketumbar = ketumbah.

12/. Lada = tabya bun.

13/. Pala = pala.

14/. Terasi = sera

15/. Pekak = Bungan lawang.

16/. Kecombrang = Kecicang.

17/. Kapulaga = kapulaga.

18/. Temu Kunci = kunci/ bekunci.

19/. Daun Salam = janggar ulam.

20/. Jeruk Limau = lemo.

21/. Jeruk nipis = juuk lengis.

22/. Gula Pasir = gula pasir.

23/. Gula Merah = gula barak/ gula ntal/gula Bali.

24/. Kecap = kecap (tidak umum dalam masakan traditional Bali, tetapi untuk masakan kontemporer, terkadang disediakan kecap di dapur).

25/. Bawang Daun = don pre.

26/. Seledri = seladri.

27/. Wijen = lenga.

28/. Pandan Wangi = pandanarum.

29/. Daun Suji = don kayu sugih.

30/. Kemangi = kecarum.

31/. Selasih = sulasih.

32/. Kemiri = tingkih.

33/. Sereh = serai.

34/. Keluwek = pangi.

35/. Kelapa = nyuh.

36/. Minyak kelapa = lengis nyuh.

37/. Tomat = tomat.

38/. Belimbing buluh = belimbing wuluh.

Demikian kurang lebih jenis basa basa yang mungkin ada di dapur orang Bali.

Wajah Dan Bagian-bagiannya Dalam Bahasa Bali.

Standard

Sejak tinggal di rantau, praktis penggunaan Bahasa Daerah saya berkurang frekwensinya. Saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari hari. Karenanya, saya jadi kangen berbahasa Bali.

Mungkin ada teman pembaca yang ingin ikut berbahasa Bali bersama saya?.

Kali ini saya mengambil topik tentang Wajah. Apa sih bahasa Balinya wajah? Dan bagaimana kita mengatakannya? Serta apa bahasa Bali bagian dari wajah seperti hidung, bibir, mulut dan sebagainya.

Sebelum masuk ke topik wajah, sedikit saya jelaskan dulu kalau dalam bahasa Bali, umumnya kita memiliki minimal 2 (terkadang 3, 4 atau 5) tingkatan bahasa berdasarkan kasar halusnya (sor -singgih).

Bahasa Sangat Kasar -untuk binatang/memaki.

Bahasa Kasar – bahasa gaul untuk teman/ adik.

Bahasa Halus – bahasa untuk orang yang kira tuakan/ hormati.

Bahasa Sangat Halus – untuk hal hal niskala dan spiritual.

Nah… dalam hal ini secara umum saya akan membahas bahasa kasar dan halusnya saja.

Wajah.

Wajah dalam bahasa Bali biasa disebut dengan Mua, Prerai.

Kasar = Mua (kata benda), Goba (kata keadaan – terkadang dipakai dalam kalinat teguran/marah)

Halus = Prerai.

Contoh penggunaan sebagai berikut:

Muane I Luh jegeg cara bulan. Wajahnya I Luh cantik bagaikan bulan.

Goban nyaine, judes sajaan!. Mukamu (perempuan), judes sekali.

Tiyang seneng nyingakin Prerain Ida. Saya senang mèlihat wajahnya (orang yang saya hormati i.e ayah, ibu dsb).

Hidung.

Kasar = Cunguh.

Halus = Irung.

Mata

Kasar = Mata

Halus = Penyingakan.

Sangat Halus = Pengaksian, Soca.

Catatan: Soca juga sering digunakan untuk mata cincin dalam bahasa Bali sehari-hari. Socan bungkung = mata cincin.

Alis

Kasar = Alis

Halus = Rarik, Wimba.

Jidat

Kasar = Gidat

Halus = Lelata.

Mulut

Kasar sekali = Bungut.

Halus = Cangkem.

Bibir

Kasar = bibih.

Halus = Lambe.

Dagu

Kasar = Jagut

Halus = Jagut.

Pipi

Kasar = pipi

Halus = pipi.

Bulu mata

Kasar = bulun peningalan.

Halus = bulun penyingakan, ringring

Telinga

Kasar = Kuping.

Halus = Karna.

Leher

Kasar = Baong.

Halus = Kanta.

Janggut

Kasar = Jenggot.

Halus = Cerawis.

Rambut.

Kasar = Bok

Halus = Rambut.

Gigi

Kasar = Gigi

Halus = Untu.

Tumis Pedas Jamur Liar Daun Cemcem.

Standard
Tumis Pedas Jamur Liar Daun Cemcem.

Musim hujan. Membawa berkah dari langit. Berupa titik titik air yang membasuh bumi dan membangunkan biji biji dan benih yang tertidur di dalamnya. Terbangun untuk mewujudkan mimpi-mimpinya agar berkembang. Tak terbilang benih rerumputan, sayuran, perdu dan sebagainya yang tumbuh. Dan termasuk jamur pun bermunculan.

Di sela sela rumput halaman rumah saya pun bermunculan berbagai jenis jamur liar. Diantaranya ada jamur Barat yang bisa dimakan. Lumayan banyak juga, tapi sebagian ada yang sudah mekar kemarinnya. Tidak saya ambil yang begini. Hanya yang masih segar saja saya panen dan bawa ke dapur.

Dimasak apa jamur liar ini? . Karena memetik jamur liar adalah kenangan masa kanak-kanak waktu di kampung halaman di Bali, maka kali ini sayapuningin mengenang masa kecil dengan memasak jamur liar ini dengan bumbu traditional Bali, yakni Daun Cemcem.

Kebetulan banget ada daun Cemcem di halaman. Jadi bisa saya petik sedikit untuk masak.

Bagi teman teman yang belum tahu tentu penasaran, apa itu Daun Cemcem ya. Cemcem adalah tanaman sekeluarga dengan Kedondong. Tapi saya belum pernah melihatnya berbuah. Rasa daunnya asem seger mirip rasa buah Kedondong.

Di Bali orang menggunakan Daun Cemcem sebagai bumbu dapur atau sayuran untuk memberi rasa segar terutama pada masakan jamur, belut, siput , ayam dan sebagainya. Tapi karena pohonnya makin susah dicari, makin jarang orang masak dengan daun Cemcem.

Daun Cemcem juga banyak dijadikan jus ( Loloh Daun Cemcem) karena rasanya yang sangat segar.

Gimana cara memasaknya? Ya …sama seperti menumis sayuran lain.

1/. Bersihkan jamur. Lalu suir suir.

2/. Iris bawang merah, bawang putih dan cabe rawit.

3/. Petik daun Cemcem. Bersihkan.

4/. Masukan minyak untuk menumis ke wajan. Tunggu sampai panas.

5/. Masukkan bumbu iris, dan sefikit terasi, lalu masukkan jamur.

6/. Tambahkan sedikit air. Begitu mendidih, masukkan daun Cemcem. Aduk aduk. Tambahkan garam seperlunya.

7/. Angkat, pindahkan ke piring saji dan hidangkan.

Semangat Pak Ketut Nuadi & Bu Ade Pica dibalik Mahapraja Peninjoan.

Standard

Saat saya bermain ke Mahapraja di Br Puraja, desa Peninjoan, sungguh saya sangat beruntung. Karena saat itu sangat kebetulan sang pendiri Mahapraja, yakni pasangan suami -istri Pak Ketut Nuadi Indra Sastrawan dan Bu Luh Ade Pica sedang ada di tempat. Pak Ketut Nuadi adalah penggagas dan pembangun tempat ini, sedangkan Bu Ade Pica adalah pengelola sehari-hari tempat ini. Nah klop kan?. Tentu saya merasa sangat senang bisa bertemu dengan beliau-beliau ini.

Kesempatan ini tidak saya sia siakan begitu saja. Karena saya ingin tahu langsung dari beliau bagaimana sebuah tempat wisata baru dilahirkan. Bagi saya yang sehari hari bekerja sebagai seorang pemasar, ini serasa seperti akan mendengarkan cerita seorang pebisnis mendevelop dan melaunch sebuah brand baru. Jadi saya sangat tertarik pengen tahu dong ya.

Pak Ketut Nuadi bercerita kepada saya bahwa beliau adalah anak bungsu dari 7 bersaudara. Yatim sejak kelas 1 SD, tak membuat semangat Pak Ketut surut. Beliau melanjutkan sekolah dan berfokus karir di bidang pariwisata.

Sambil bekerja di Denpasar, setiap minggu beliau pulang ke Peninjoan. Menengok ibu dan keluarga tentunya. Dan setiap pulang beliau menyepi di sini. Duduk-diduk sambil berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk membangun Bangli, tanah kelahiran tercints. Lalu terbersitlah ide memanfaatkan tanah warisan keluarga untuk membangun tempat wisata ini. Walaupun pada awalnya tidak banyak yang percaya bahwa itu sebuah ide yang baik.

Banjar Puraja di desa Peninjoan berada di sebuah lokasi dengan akses yang sulit. Saking sulitnya, area ini pada jaman dahulu digunakan oleh pahlawan Kapten Mudita dan para pejuang lain sebagai tempat persembunyian dan basis bergerilya melawan Belanda.

Dengan demikian, jika tempat ini dijadikan tempat wisata, maka konsep wisata yang paling tepat adalah konsep wisata “hide-away” yang menawarkan fasilitas ketenangan dan kedamaian, untuk mereka yang jenuh dengan kesibukan dan hingar bingarnya kota.

Demikianlah Pak Ketut mulai menggagas konsep wisata ini. Mahapraja menawarkan nuansa yang trully pedesaan bukan kemewahan. Buat mereka yang memang ingin merasakan suasana alam pedesaan. Target konsumennya sangat jelas, mereka yang membutuhkan suasana tenang dan damai. Bisa sebagai individu ataupun corporate.

Mulai beroperasi sejak 2 tahun yang lalu, saat ini kebanyakan melayani aktifitas perusahaan yang mengadakan acara outing di sana.

Selain sebagai camping gound, tempat ini juga banyak dikunjungi orang yang ingin bermeditasi, melakukan pemotretan pre-wedding, hingga mereka yang hanya sekedar ingin berselfie. Setidaknya ada 2 anjungan selfie yang saya lihat disediakan di tempat ini.

Diluar dari apa yang terlihat tertata dengan sangat apik secara kasat mata, Pak Ketut juga sangat menyelaraskan pembangunan tempat ini dengan alam. Segala sesuatunya ditata dengan mempertimbangkan konsep Tri Hita Karana. Hubungan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya, antara manusia dengan Sang Pencipta. Selaras dan harmonis.

Nah…sekarang tempat ini sudah berdiri. Sebuah camping ground yang menarik, dilengkapi dengan 4 bungalow dan ratusan tenda camping. Tempat parkirpun mulai diperluas agar bisa menampung lebih banyak lagi pengunjung. Tentunya merupakan salah satu aset wisata penting bagi Kabupaten Bangli.

Menurut Pak Ketut, pemerintah Kabupaten Bangli telah cukup banyak membantu. Untuk itu Pak Ketut menyampaikan ucapan terimakasih.

Harapan Pak Ketut hanya gimana pemerintah selanjutnya bisa membantu memperbaiki akses ke tempat wisata itu dengan lebih baik lagi. Saat ini jalan ke Br Puraja, desa Peninjoan memang sudah ada, hanya saja jika memang tempat ini berikutnya akan menjadi tujuan wisata yang utama, maka akses jalan yang lebih besar dan lebih mudah sungguh sangat dibutuhkan. Ya… semoga saja pemerintah mendengarkan himbauan ini dan mengambil tindakan yang terbaik untuk memajukan pariwisata Bangli.

Selamat dan semoga makin sukses ya Pak Ketut dan Bu Ade Pica.

Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Standard
Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Awal tahun ini saya ada di rumah ortu di Bangli. Mengetahui saya libur, kakak saya mengajak bermain ke Mahapraja, sebuah tempat wisata baru yang sedang naik daun di Bangli. Wow! Penasaran dong saya ya… apa itu Mahapraja dan di mana pula letaknya?. Ikuuuut…

Mahapraja, letaknya di Banjar Puraja, desa Peninjoan, kecamatan Tembuku – Bangli. Di Bali. Jadi kalau dari Bangli, kita mengarah ke timur menuju kecamatan Tembuku. Di Tembuku kita menuju arah timur laut dengan mengikuti jalan raya Besakih hingga ke desa Undisan. Nah dari desa Undisan lalu kita mengarah ke utara. Ketemulah desa Peninjoan, dan selanjutnya dari sana kita mencari Banjar Puraja dimana tempat wisata Mahapraja ini berlokasi.

Kami memarkir kendaraan tak jauh dari jalan raya, lalu menuju gerbang Mahapraja yang di kiri kanannya adalah kebun jeruk 🍊🍊🍊 yang sedang berbuah lebat. Jadi ngiler melihat buah buah segar bergelantungan di pohonnya yang rendah. Belakangan saya dengar, ternyata kita juga bisa berwisata memetik buah-buahan di kebun sekeliling Mahapraja. Bahkan buksn hanya jeruk lho… ada pepaya, manggis, salak, duren…Waah…tau gitu tentu saya sangat bersemangat ikut memetik-metik πŸ˜€.

Sebuah pintu gerbang dengan aling aling Ganesha menyambut kami di Mahapraja.

Mahapraja Br Puraja desa Peninjoan, Tembuku Bangli.

Ganesha sering ditempatkan sebagai aling aling dalam pekarangan rumah di Bali sebagai permohonan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai pelindung dari kesulitan dan masalah (Ganesha). Demikian juga di dekat pintu masuk Mahapraja. Sehingga dengan memasang Ganesha di pintu masuk, pemilik rumah mendoakan keselamatan bagi semua orang yang berkunjung ke tempat itu.

Dari Ganesha ini kita bisa langsung ke hamparan tanah luas berumput hijau segar yang tepinya menurun dibatasi oleh pohon pohon kayu 🌳🌳🌳 yang rindang dan sungai Puraja. Ada balai balai bambu tempat duduk dan bercengkrama dengan teman atau keluarga.

Di seberangnya tampak hamparan rumput hijau yang cukup luas juga. Wow!. Tiba tiba seluruh tubuh, mata dan kepala terasa sangat segar. Sebuah tempat untuk me-recharge energy yang sangat menawan. Hijau royo royoπŸƒπŸƒπŸƒ dengan udara sejuk yang menyegarkan. Sangat tenang dan damai. Jauh dari keriuhan dan kepengapan kota. Beda banget dengan Jakarta.

Saya lihat ada 4 bungalow bambu sederhana beratap ilalang berjejer di sebelah kiri. Kayaknya asyik juga jika bisa menginap di sini menikmati suasana alam yang benar benar alami. Nanti deh…kalau dapat libur lagi saya pengen juga nginep di sini.

Mari kita lupakan sejenak kesibukan kota yang berbulan bulan menguras energy kita. Lupakan sejenak polusi dan kebisingannya. Duduklah di sini. Lepaskan kepenatan. Lupakan meeting dan target penjualan sejenak πŸ˜€. Dengarkan hanya suara angin dan nyanyian burungπŸ¦πŸ•Š. Dan wangi rerumputan. Tidak ada TV dan kalau perlu nggak ada jaringan internet. Hanya ada kita dan alam. Sehingga kita benar-benar tahu yang artinya menyepi dan mengisi energy kembali dari kekosongan.

Melamun begitu sambil menyeruput es kelapa muda dengan jeruk nipis, saya pikir, cocoknya tempat ini bernama Mahapraja Hide Away saja he he 😊. Tempat melarikan diri dari kepenatan kota.

Ternyata selain untuk menyepi dan menikmati suasana alam, tempat ini adalah sebuah Camping Ground yang lumayan juga. Bisa digunakan untuk acara outing dengan daya tampung +/- 600 orang pengunjung. Kalau gitu bisa dipakai untuk perusahaan kelas menengah dengan jumlah karyawan 400 – 600 orang ya…

Saya diberi informasi jika ingin menginap, Mahapraja memiliki 58 tenda camping πŸ• dengan daya tampung max 4 orang/ tenda. Nanti kalau saya balik ke Jakarta, saya info deh perusahaan tempat saya bekerja, kali kali aja mau mengadakan acara outing di tempat ini *muka penuh harap πŸ˜€.

Fungsi lain lagi… ternyata di tepi sungai di bawah tempat ini juga digunakan untuk mereka yang senang bermeditasi. Saya nggak sempat turun ke sungai , mengingat gerimis turun dan saya lupa bawa payung. Jadi saya hanya sempat melongok tangga turunnya doang.

Hari itu saya melihat cukup banyak juga orang yang berkunjung. Rata rata membawa keluarganya. Suatu saat saya pengen juga mengajak anak saya ke sini.

Nah…. siapa yang mau ikuttt???.

Resep Masakan: Serapah Kakul Gondang.

Standard
Resep Masakan: Serapah Kakul Gondang.

Senangnya pulang ke Bali. Apalagi pergi ke pasar di Bangli. Ada ada saja yang saya temukan yang membuat saya ingat akan masa kanak-kanak saya di kota kecil ini.

Kali ini saya menemukan seorang pedagang sedang menawarkan kangkung dan keong sawah. Waah… keong sawah!. Saya merasa sangat senang sekali.

Keong sawah atau dalam bahasa Balinya disebut dengan Kakul adalah salah satu bahan makanan umum untuk masyarakat agraris di pedesaan di Bali. Tetapi dengan berkurangnya sawah, dan penggunaan pestisida, tidak banyak lagi kita bisa menemukan pedagang keong di pasar.

Mumpung ketemu, akhirnya saya membeli sebanyak 2 telekos (telekos = wadah sederhana berbentuk segitiga dari daun pisang ). Harga per telekos = 3 000 rupiah. Rencananya saya mau goreng dengan bumbu Suna Cekuh.

Sampai di rumah, ternyata adik ibu saya datang dan memberi ide untuk membuat Serapah Kakul. Wah… ide yang keren. Dan juga sudah lama saya tidak menikmati hidangan yang bernama Serapah ini.

Serapah adalah hidangan traditional Bali yang terbuat dari bumbu yang terdiri atas bawang putih, kencur, kunyit, cabai besar dan kelapa ditumbuk / dihaluskan.

Cara membuat:

1/. Cuci bersih keong sawah. Potong ujung belakangnya.

2/.Rebus keong sawah. Keluarkan isi dari cangkangnya. Sisihkan.

3/. Ulek bawang putih, kencur, kunyit, cabe besar, garam untuk bumbu.

4/. Haluskan serundeng /kelapa parut.

5. Tumis bumbu halus sampai matang. Tambahkab air. Masukkan keong sawah yang sudah bersih. Panaskan hingga keong matang.

6. Tambahkan serundeng / kelapa parut yang sudah dihaluskan. Aduk -aduk hingga matang.

7. Hidangkan Serapah Kakul Gondang.

Yummy. Yuk kita coba !.

Julit, Binjulid, serta kisah I Belog dan Be Julit.

Standard

Saya mendengarkan sebuah obrolan. Dalam obrolan itu seorang teman menyebut kata “Julit”, lalu teman teman saya yang lain tertawa berderai karena penyebutan kata “Julit” itu. Sayapun penasaran akan artinya. Cukup sering mendengar kata itu tapi saya tak tahu persis artinya. Mengapa orang -orang pada tertawa?.

Saya mendapatkan penjelasan bahwa “Julit” itu adalah istilah untuk orang yang suka iri hati pada orang lain dan tak segan mengekspresikan ke-iri hati-annya itu dengan terus terang. Contoh Julit misalnya adalah para “haters” artis tertentu, misalnya Syahrini. Ooooh…..begitu ya.

Belakangan saya mengetahui ternyata kata “Julit” ini berasal dari kosa kata bahasa Sunda “Binjulid” untuk menggambarkan orang yang sifatnya kekanakan dan suka iri hati atas kesuksesan orang lain.

Ha ha… itu berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran saya sebelumnya. Saya yang dibesarkan dengan budaya Bali, mengenal kata “Julit” yang mengingatkan saya pada kebodohan (kurang positive juga) dan kejenakaan.

Julit dalam bahasa Bali adalah nama sejenis ikan tertentu yang tubuhnya panjang seperti belut tetapi bersirip. Ikan Sidat dalam bahasa Indonesianya. Habitatnya di palung palung sungai yang dalam sehingga termasuk susah ditangkap orang.

Be Julit. Be = ikan. Be Julit = Ikan Julit. Lah… nama ikan itu kan sesuatu yang baik dan menyenangkan. Lalu di mana letak hubungannya dengan kebodohan dan kelucuan? Begini ceritanya…

Alkisah jaman dulu ada seorang pemuda bodoh yang bernama “I Belog”. (Kisah lain tentang I Belog ini juga pernah saya ceritakan dalam tulisan I Belog dan bebeknya dan juga tulisan I Belog pergi ke Kuta sebelumnya.).

Suatu kali I Belog pergi memancing ke sungai. Dan sungguh sangat beruntung kali ini ia berhasil menangkap ikan (Be)Julit yang panjang dan besar. Maka pulanglah ia dengan wajah berseri-seri ke rumahnya.

Sesampai di rumah, I Belog bermaksud untuk memasak Be Julit itu. Waaah… bakalan makan enak nih nanti malam. I Belogpun mulai membersihkan ikannya yang besar dan panjang itu dan seketika ia menyadari bahwa ia tidak memiliki alat masak yang memadai untuk memasak ikan Be Julit itu. Cepat ia berlari mengetuk pintu tetangga. “Me Made, punya panci panjang nggak? Saya ingin pinjam buat memasak?” Begitu tanya I Belog kepada tetangganya. Me Made menggeleng. Ia tak punya panci panjang. Maka ditawarkanlah kepada I Belog panci biasa yang dimilikinya. I Belog menggeleng, lalu pergi dan mengetuk pintu rumah tetangganya yang lain” Mbok Wayan, punya panci panjang nggak? Saya mau pinjam” Mbok Wayan menggeleng. Ia tak punya panci panjang yang bisa ia pinjamkan buat I Belog. “Adanya panci biasa. Mau nggak?”. I Belog menggeleng dan mengucapkan terimakasih. Kalau panci biasa ia juga punya.

Demikianlah I Belog mencoba lagi meminjam pada tetangganya yang lain, Luh Putu, Sak Ketut, Dayu Komang, Dewa Gede dan sebagainya. Tak satupun diantaranya memiliki panci panjang. I Belog merasa kecewa karenanya.

Aha! Lalu dia ingat… kalau panci panjang tak ada, bagaimana kalau penggorengan panjang? Merasa punya ide yang lebih baik, dengan semangat kembali ia mendatangi tetangganya satu per satu dan bertanya apakah ada yang punya penggorengan panjang? Dan kembali lagi jawaban para tetangganya tidak ada yang punya.

Saking heran dan penasarannya, tetangganya lalu bertanya” Hai Belog!Untuk apa sih, kenapa kamu membutuhkan panci panjang atau penggorengan panjang???”

I Belog menyahut “Untuk saya pakai memasak Be Julit yang panjang” jawab I Belog dengan sedih. Para tetangganya terkejut. “Astaga, Belog!!!. Kenapa tidak kamu potong potong saja Be Julitnya baru dimasak? Jadi kamu tidak perlu panci panjang ataupun penggorengan panjang“. Ha ha ha….

Moral ceritanya: Kadang kita perlu menyesuaikan diri kita sendiri agar “pas” dengan lingkungan, karena tak selamanya lingkungan bisa “pas” untuk kita.

Nah…ternyata dalam kemasan yang kocak dan bodoh, terselip pesan pesan luhur dari para tetua untuk generasi penerusnya.

Selamat pagi kawan!

Bertemu Sang Penulis: Satria Mahardika.

Standard

Di hari ketibaan saya di Bali liburan kemarin, sahabat saya mengabarkan bahwa ada kemungkinan sastrawan Umbu Landu Paranggi akan ada di Puri Kilian, Bangli besok. Dan menyarankan saya juga datang ke Puri Kilian agar bisa bertemu, mengingat beberapa minggu sebelumnya Umbu ada menanyakan kabar saya. Saat itu saya sedang berada di Singapore dan untungnya dengan bantuan skype, saya dan Umbu sempat ngobrol juga. Nah sekarang, menurut sahabat saya, ada kesempatan bagi saya untuk benar-benar bisa bertemu langsung dengan beliau lagi di Puri Kilian. Tentu dengan senang hati saya akan datang.

Lalu teman saya juga mengabarkan bahwa jika mau, hari ini saya juga bisa bertemu dengan Satria Mahardika , sang penulis buku Merdeka Seratus Persen-Kapten TNI AAG Anom Muditha yang bukunya saya simak dan tulis di sini https://nimadesriandani.wordpress.com/2018/01/04/menyimak-buku-merdeka-100/

karena hari ini pun beliau ada di Puri Kilian. Wah…sungguh kabar yang baik. Saya mau ke Kilian sekarang kalau begitu. Selain tentunya karena saya juga sudah kangen dengan sahabat saya dan keluarga Puri Kilian.

Dengan senang hati sayapun ke Kilian membawa anak-anak dan keponakan. Sesampai di Kilian, saya disambut oleh Agung Karmadanarta, sahabat yang bagi saya sudah serupa dengan saudara sendiri. Agung Karmadanarta adalah salah seorang keponakan dari pahlawan AAG Anom Muditha. Sahabat saya ini adalah seorang pemusik yang pastinya sebuah kebetulan banget bagi anak-anak saya yang juga lagi getol banget belajar musik. Jadilah kesempatan ini digunakan oleh anak saya buat berguru. Mereka pun bermain gitar dan keyboard bergantian. Bahagia melihatnya.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kurus dengan rambut panjang yang digelung ke atas datang. Duduk dan menyalami saya. Ooh…rupanya beliau inilah sang penulis buku Merdeka Seratus Persen. Kami berbincang sesaat. Berkenalan dan menceritakan sedikit tentang diri kami. Penulis Satria Mahardika alias Saiful Anam ini adalah kelahiran Kroya ( Cilacap). Lalu ngobrol tentang buku. Rupanya buku Merdeka Seratus Persen adalah buku ketiga yang ditulis oleh Satria. Buku pertamanya adalah kumpulan puisi yang cukup tebal berjudul Suluk Mahardika. Wah… produjtif juga ya. Agak sulit untuk mengobrol panjang karenasambil ngobrol kami juga mendengarkan permainan musik Gung Karma dan anak saya. Sayang jika dilewatkan. Tiba tiba Satria Mahardika melemparkan ide. Bagaimana jika kita mengkolaborasikan puisi dengan musik?. Whua…. ide yang sangat bagus!. Satria Mahardika meminta saya membuka “any” halaman di buku Suluk Mahardika itu dan membacakan apapun puisi yang terpampang di halaman yang saya buka.

Sayapun membuka acak halaman buku yang tertutup itu dan mata saya tertumbuk pada puisi ” Satria Mahardika”. Saat itu saya belum ngeh kalau nama Sang Penulis adalah Satria Mahardika. Jadi sayapun membaca puisi itu tanpa ada link di pikiran saya kepada nama Sang Penulis. Belakangan; setelah pulang dari Puri Kilian saya baru terpikir akan hal itu πŸ˜€.

Membacakan puisi dadakan dan berkolaborasi dengan pemusik seperti itu rasanya beda banget. Semua terasa indah. Katrena sekarang, keindahan menjadi terasa berlipat ganda menembus dimensi lain dari panca indera kita.

Setelah itu giliran Satria Mahardika membacakan puisinya yang berjudul Aira. Tentu beda lah ya, jika sang penulis yang sekaligus membacakan sendiri karyanya. Bagai menyusur sebuah fragment perjalanan yang ia hapal betul kontur jalannya. Ia tahu di mana dan kapan harus menurun dan mendaki. Di mana harus berhenti sejenak untuk menarik nafas dan melihat view di sekitarnya untuk menikmati keseluruhan perjalanan dengan holistic. Tepuk tangan untuk Satria Mahardika. Keren ya!.

Di sini saya berhenti sejenak. Memandang anak anak dan para sahabat yang sedang menikmati keindahan yang sedang bergaung dalam jiwanya. Sebagaimana seorang mathematician menghayati keindahan angka-angka dan sang pelukis menghayati bias warna warna, demikianlah sang pemusik menghayati setiap tangga nada dan sang penyair menghayati keindahan setiap kata. Setiap element di alam semesta ini memiliki keindahan tersendiri bagi setiap orang yang mau dan berhasil menangkap esensinya dan menghayatinya.

Ah!. Bali memang tempat di mana seni tak pernah ada matinya. Terimakasih Satria Mahardika, Agung Karmadanarta, Agung Kartika Dewi, Agung Chocho dan anak anak keponakan yang mewujudkan keindahan kolaborasi ini. Liburan mendatang kita bertemu lagi yah..

Menyimak Buku Merdeka 100%.

Standard
Menyimak Buku Merdeka 100%.

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan kiriman buku menarik dari Agung Karmadanarta, seorang sahabat saya. Buku itu berjudul”Merdeka Seratus Persen” tulisan dari Satria Mahardika. Bercerita tentang perjalanan hidup Kapten TNI AAG Anom Muditha, seorang pahlawan pejuang kemerdekaan yang gugur mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tentara NICA yang ingin merebut kembali Indonesia.

Beliau adalah pahlawan yang saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya yakni “Berkunjung Ke Tugu Pahlawan Penglipuran“.

Terus terang, walaupun nama pahlawan AAG Anom Muditha ini telah saya kenal sejak kecil, namun sesungguhnya saya baru tahu lebih banyak tentang beliau dari buku ini. Di mana rumahnya, siapa keluarganya, bagaimana perjalanan hidup beliau, dan sebagainya. Ternyata ada banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan dari buku ini.

Sangat salut pada penulisnya yang berhasil memaparkan perjalanan sang pahlawan dengan sedemikian detail dan komprehensif, membantu pembaca supaya mampu memahami lebih dalam. Juga memberi konteks yang jelas agar bisa mencerna nilai-nilai luhur seorang ksatria sejati yang tak segan menyabung nyawa demi membela negaranya.

Satria Mahardika dalam pengantarnya mengatakan bahwa beliau merampungkan buku ini dalam waktu 7 bulan, dengan bantuan team yang terdiri atas AAG Bagus Ardana, AA Anom Suartjana, AA Made Karmadanarta, dan AA Bagus Krisna Adipta W. Jika tidak ada tekad bersama yang kuat, tak terbayang bagi saya bagaimana caranya mengumpulkan semua detail informasi yang digunakan untuk membangun buku ini.

Salah satu yang sangat menarik adalah pernyataan AA Gde Bagus Ardana, adik kandung sang pahlawan, tentang tekadnya untuk menuliskan semua kejadian yang tersimpan dalam ingatan beliau dan termasuk informasi lain yang beliau dapatkan. Karena jika tidak, maka kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini yang memakan banyak korban akan tetap terkubur dan akhirnya lenyap ditelan jaman.

Bersyukurlah keinginan beliau itu akhirnya tercapai.

Buku yang terdiri atas 244 halaman ini, ditulis dalam 6 Bab, yang secara umum berjalan linear, walaupun saat dibutuhkan, cerita terkadang berjalan paralel.

Di awal buku ini, pembaca diperkenalkan dengan masa kecil Kapten Muditha, dengan orang tuanya, kakak dan adik-adiknya di Puri Kilian beserta kerabat lainnya. Sekilas pembaca juga bisa menangkap system pemerintahan yang berlaku pada masa itu, di mana Bangli dipimpin oleh seorang Regent, sementara ayah Kapten Muditha sendiri adalah seorang Punggawa Kota.

Dari sini kita bisa mengikuti pendidikan yang ditempuh Kapten Mudita mulai dari Holland Inlandsche School (HIS) di Klungkung , lalu ke Handles Vak School (HVS) di Surabaya, berlanjut ke Malangse Handle School (MHS) hingga kemudian menapak kariernya di bidang Militer.

Mula mula beliau menjadi tentara Koninklijk Nederlandch Indiesche Leger (KNIL) dengan pangkat Sersan Satu. Kemudian beliau menerima pendidikan militer Kaderschool di Magelang. Pada tahun 1942 ketika Jepang mulai masuk, beliau mulai diterjunkan ke medan tempur dan sempat menjadi tahanan militer di Cilacap setelah Belanda kalah dan menyerah.

Setelah beristirahat sejenak, beliau sempat menjadi Jumpo (Polisi Jepang) dan menjadi Pelatih Sekolah Polisi Jepang di Singaraja, namun kemudian berhenti karena sakit.

Setelah kesehatannya berangsur membaik, Kapten Muditha mulai aktif menjalankan dharma bhaktinya sebagai putra bangsa. Dengan gigih beliau membangun Badan Keamanan Rakyat daerah Bangli, mengkoordinir Markas Besar Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia wilayah Bali Timur dan memimpin perang gerilya melawan NICA untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dari sini kemudian kisah gerilya mulai bergulir. Berbagai aktifitas latihan kemiliteran dan pembangunan kamp militer dilakukan. Mula mula untuk melawan tentara Jepang , kemudian sebagai bagian dari team pahlawan I Gusti Ngurah Rai, Kapten Muditha memimpin perjuangan wilayah Bali Timur melawan tentara NICA setelah Jepang kalah.

Pertempuran demi pertempuran terjadi secara gerilya. Mulai dari daerah Penulisan, hingga desa desa sekitar Gunung Agung bersama Gusti Ngurah Rai. Mereka berjuang dengan perlengkapan seadanya, makanan seadanya, menahan letih, haus dan lapar dengan hanya bermodalkan tekad yang bulat dan dukungan penduduk.

Sungguh, membaca perjuangan mereka yang demikian gigih, rasanya malu jika kita generasi penerusnya tidak mampu mengisi kemerdekaan ini dengan baik.

Bahkan setelah Letkol I Gusti Ngurah Rai gugur dalam pertempuran di Marga pada tanggal 20 November 1946, Kapten Muditha tetap berjuang. Beliau tetap bergerilya dan menata perjuangan dari Buleleng, lalu berpindah ke Bangli untuk melawan tentara NICA. Segala sesuatunya sangat sulit dan berkali kali harus menyamar, mengirim utusan dan mengatur ulang strategy sesuai dengan perkembangan situasi dan musuh. Hingga akhirnya beliaupun gugur di Penglipuran pada tanggal 20 November 1947. Tepat setahun sepeninggal I Gusti Ngurah Rai. Beliau telah menjalankan dharmanya sebagai seorang ksatria.

Merdeka Seratus Persen!” Adalah pekikan terakhir beliau sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibu pertiwi disirami darah salah satu putra terbaiknya. Darah putranya yang mengikrarkan kemerdekaan 100% bagi bangsanya.

Tulisan diakhiri dengan penjabaran makna dari pekikan Kapten Muditha tentang Merdeka 100% itu yang diulas dengan sangat baik oleh sang penulis. Merdeka 100% mempunyai makna yang sangat mendalam. Bisa diartikan sebagai sebuah kemuliaan yang terbangun utuh dalam kesatuan hidup, baik secara skala maupun niskala.

Sungguh sebuah buku perjuangan yang membukakan hati. Sangat layak untuk kita baca agar kita bisa lebih memahami makna perjuangan pahlawan kita, lebih menghargai apa arti kemerdekaan yang diwariskannya kepada kita.

Merdeka 100%, itulah cita cita beliau sebagai bangsa. Merdeka penuh. Merdeka untuk semuanya dan dengan totalitas. Yang artinya setiap anak bangsa ini semuanya merdeka tanpa kecuali. Mempunyai hak dan kewajiban yang sama, setara dan adil dengan yang lainnya, tanpa dikurangi haknya ataupun dilebihkan terlepas dari apapun suku, ras, agama dan golongannya.

Bukan berkebangsaan atas azas ego sendiri, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi maupun kaumnya sendiri ketimbang bangsa dan negaranya. Merasa diri lebih berhak atas tanah air ini melebihi suku lain, melebihi agama lain, melebihi golongan politik lain, dan sebagainya, sementara yang lain dianggap nge-kost.

Saya rasa bukan model berkebangsaan seperti itu yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh para pahlawan dan pendiri bangsa ini.

Sekali lagi, ini sebuah buku yang sangat baik untuk dibaca dan dijadikan referensi sejarah. Semoga kita bisa lebih menghargai petjuangan mereka. Dan mampu lebih baik lagi memaknai keIndonesiaan kita.