Category Archives: Brand & Marketing

Antara Telor Dan Ayam…

Standard

image

Karena pekerjaan yang menumpuk, suatu kali saya tidak sempat memasak buat makan malam keluarga. Selain itu kulkas di rumah juga sedang kosong. Ngga ada bahan yang bisa dimasak. Jadi saya mau order makanan jadi saja. Buka hape. Lihat-lihat  nomer contact  rumah makan dan restaurant dekat rumah.

Ah!. Ini dia!!. Ketemu nomor sebuah restaurant yang masakannya cocok di lidah saya dan keluarga. Saya lalu menelpon bermaksud menanyakan jam tutup restaurant. Seorang pria mengangkat telpon saya “Maaf ibu, saya sedang libur. Kalau mau order, silakan ibu langsung ke restaurant saja” sarannya. Ooh..rupanya itu nomer pribadi dari salah seorang karyawannya. Bukan nomer restaurant. Lho? Tapi mengapa sebelumnya mereka menggunakan nomer pribadi itu  di brosurnya ya? Kenapa bukan nomer resmi restaurantnya saja ?. Aneh!. Tapi tak apa apalah. Saya menanyakan jam tutup restaurant sekalian meminta nomer telpon resmi restaurant. Saya mendapatkan restaurant tutup jam 8.30. Lebih cepat dibanding restaurant-restaurant lain di Bintaro yang rata-rata tutup pukul 10 malam.

Saat itu pukul 7.25 malam. Saya sedang di jalan dan memasuki area Tanah Kusir. Jika jalanan lancar, saya akan tiba sekitar pukul 8.15. Terlalu mepet ya. Tapi jika saya order lewat telpon dan meminta mereka menyiapkan pesanan saya terlebih dahulu, tentu masih keburu. Nanti saya tinggal bayar saja.

“Selamat malam Mbak. Saya mau memesan”.
“Tapi kita tutupnya jam 8.30, ibu” kata suara di seberang.
“Ya Mbak. Saya tahu kalau restaurantnya tutup pukul 8.30. Masih sejam lagi.Jadi saya pesan dulu, biar Mbaknya bisa menyiapkan masakan untuk saya. Nanti saya ambil dan tinggal bayar saja. Sekarang saya masih di jalan” kata saya menjelaskan.
“Tapi ibu, biasanya jam 8.30 kita sudah tutup lho Bu. Kadang malah jam 8 saja kita sudah tutup dan pada pulang. Soalnya sepi” nada suara di seberang terdengar sangat enggan meladeni.
Saya sedang tidak dalam mood ingin berpanjang lebar, “Jadi, masih mau terima order atau tidak?”tanya saya to the point saja. “Ooh…masih sih Bu” katanya. “Ya udah kalau gitu saya mau pesan ini dan ini”. Saya menyebutkan pesanan saya dan porsinya. Si Mbak mencatat. Lalu menyelak karena salah satu pesanan saya tidak ada. “Sudah lama tidak bikin” katanya. Oke deh. Kalau gitu saya ganti dengan yang ada saja. Si Mbak mencatat lagi.

Setelah itu tibalah pada bagian menghitung. “Jadi total berapa harganya?” Tanya saya. “Mmmm…berapa ya?” Si Mbak kelihatan tidak menguasai harga, lalu terdengar bertanya kepada temannya dan menggantung telponnya. Agak lama. Saya pikir dia dan temannya sedang melakukan kalkulasi. Saya menunggu dengan sabar. Setelah beberapa menit, barulah ia  balik kembali ke telpon lagi. Tapi ia tidak langsung memberi saya informasi berapa total harganya. Ia hanya bergumam seperti sedang berhitung. “Jadi berapa Mbak?”tanya saya. “Mmm…untuk sate kan 3 porsi kali 40 000. Jadi…….” suaranya menggumam lagi. Saya nendengarkan. Lalu ia mengulang “Satenya aja 40 000 kan kali 3 porsi…jadi…”. Suaranya jeda lagi “120 000!” Jawab saya dengan tidak sabar. Lah… ngitung 3 x 40 000 kok lama banget sih?
“Jadi berapa harga totalnya, Mbak? “ tanya saya. “Harga satenya aja kan 40 000 x 3… ” katanya mengulang lagi “Terus pepesnya kan 2 porsi kali…aduuuh berapa ya ini harga pepesnya? “ Si Mbak terdengar sangat bingung. “Aduuhh.. ibu datang ke sini segera deh. Nanti dihitung di sini saja” katanya. Baiklah. Saya tertawa geli dalam hati. Tapi dari sana saya paham rupanya kemampuan berhitung si Mbak ini rada kurang. Atau barangkali ia karyawan baru yang panik ya? Tak ada gunanya saya nemaksa minta dihitungkan.
Sekitar 25 nenit sebelum jam yang disebutkan sebagai jam tutup toko, akhirnya saya sampai.
Si Mbak yang tadi ditelpon menyambut saya. “Ibu Andani ya?” Tanyanya. Saya mengiyakan. Restaurant itu memang sangat sepi. Tak ada satupun pembelinya. Saya hanya melihat dua orang Mbak penjaga di sana, termasuk yang menyambut saya dan segera ke kasir.  Sepi banget. Padahal masakannya enak. Ada sesuatu yang salah dengan cara memanage restaurant ini.
Lihatlah restaurant-restaurant di sekeliling. Halamannya pada penuh dg kendaraan parkir. Rata rata penuh hingga pukul 10 malam.
Mengapa restaurant  yang ini tutup cepat?
Sebelumnya si Mbak ada menjelaskan kalau mereka pengen cepat pulang karena restaurant sangat sepi pengunjung. Tapi mengapa restaurant ini sepi pengunjung? Salah satunya mungkin karena tutup sangat cepat.  Wah…bolak balik ya? Seperti telor dengan ayam. Yang mana duluan?

Saya pikir, jika restaurant ini ingin maju… pihak management restaurant perlu memecah siklus antara telor dan ayam ini terlebih dahulu.
Dengan asumsi bahwa positioning dan Marketing Mix yang lain (rasa, harga, lokasi) sudah benar, maka restaurant ini perlu mereview kembali:
1/. Jam buka.
Dengan lokasi di Bintaro, di mana kebanyakan penduduknya adalah karyawan swasta yang berangkat pagi dan pulang malam –  rata-rata pukul 7 dan 8 malam, maka jam tutup restaurant pada pukul 8.30 sangatlah tidak nyaman bagi pengunjung. 
Karena di hari kerja pada siang hari mereka ada di kantor dan tidak mungkin balik ke area Bintaro hanya untuk makan siang. Jadi lupakan peluang untuk rame pada jam makan siang (kenyataannya saya beberapa kali ke restaurant ini pada siang hari, terutama Sabtu/Minggu juga tidak terlalu rame).  Mari kita fokus pada jam makan malam saja.  Bilanglah konsumen baru bisa datang ke restaurant pukul 8.00 malam. Melakukan pesanan, menunggu dihidangkan saja itu barangkali sudah memakan waktu 15 -30 menit tersendiri. Tentunya tidak nyaman sekali jika baru saja mulai suapan pertamanya, pengunjung sudah diberi woro-woro bahwa restaurant akan segera tutup.
2/. Ketersediaan menu sesuai dengan daftar menu.
Sungguh sangat mengganggu bagi konsumen jika mendapatkan kenyataan bahwa pesanan makanan kesukaannya ternyata tidak ada padahal di daftar menu ada.  Restaurant perlu mereview kembali secara berkala daftar menunya. Keluarkanlah masakan yang sudah tidak disediakan lagi dari daftar menu untuk menghindari kekecewaan publik.
3/. Pelayanan
Cara kita menerima konsumen, baik secara langsung maupun  lewat telephone sangatlah penting dalam membangun loyalitas terhadap restaurant yang dikelola, selain faktor lain seperti rasa masakan dan kebersihan. Kesan malas dan ogah -ogahan seolah tidak butuh pembeli sangatlah mengganggu  kesetiaan konsumen. Kecuali konsumen yang sangat militan, fanatik terhadap rasa masakan restaurant itu. Tapi berapa banyakkah jumlah pelanggan yang militan seperti itu? Sangat sedikit bukan?
4/. Skill
Berhitung dengan cepat, adalah salah satu skill yang sangat diperlukan ada pada setiap pramusaji restaurant. Dulu saya sering terkesan dengan kemampuan berhitung cepat pramusaji restaurant Bakmi GM. Begitu kita selesai menuliskan order hanya dalam hitungan kurang dari semenit kita sudah diberitahu berapa total harga yang harus kita bayarkan atas keseluruhan orderan kita. Sekarang mungkin tidak secepat jaman dulu, tetapi menurut saya tetap masih lebih cepat dibanding restaurant lain.

Saya pikir, minimal 4 hal itu yang perlu diperbaiki oleh pemilik restaurant ini jika ingin usahanya lebih maju. Karena jika mengandalkan cara beroperasi seperti sekarang ini, akan sangat sulit baginya untuk bersaing dengan restaurant -restaurant lain yang pengelolaannya jauh lebih professional.

Mengambil pelajaran atas pengalaman saya dengan restaurant itu, maka saya berpikir untuk diri saya sendiri;  Jika kita berada di lingkaran masalah  “telor, ayam mana duluan?”  seperti ini, maka sebaiknya posisikanlah diri sebagai telor saja.  Pro-activelah dengan cara memecahkan masalah dan perbaiki kekurangan diri sendiri terlebih dahulu. Jika semua masalah sudah  tuntas, barulah kita berharap timbal balik yang baik dari pihak lain.
Kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengalami berbagai hal dan kejadian, agar kita tak jemu jemu memetik pelajaran dan memperbaiki kwalitas diri.

Mengapa Kreatifitas Kita Berhenti?

Standard

KreatifitasSuatu kali, sepulang saya dari kantor anak saya yang kecil berkata “Ma… aku besok ada tugas dari Ibu Guru untuk membuat prakarya dari flanel“. Saya meletakkan tas kantor dan laptop saya di atas meja belajar. Hari sebenarnya sudah agak malam. “Terus, sudah bikin?” tanya saya. Saya ingat kami masih punya tumpukan flanel warna warni yang cukup banyak. Jadi ia tidak usah membeli lagi.  “Belum! Bikinnya besok di sekolah”katanya. Ooh..jadi tidak perlu terburu-buru ya. “Pengen latihan bikin dulu sekarang. Sama mama aja. Aku takut kalau sendiri nanti nggak bisa” katanya. Ya ampyuuuuun!. Hari sudah malam begini. Menunggu saya yang pulang malam, itu sebenarnya sama saja memangkas waktu untuk berkreatifitas. Padahal bikin, bikin aja dulu. Nanti  kalau ada yang kurang sreg kan bisa dibetulkan lagi.  Walaupun setelah saya katakan begitu,akhirnya anak saya bikin sendiri juga.

Pernah juga di lain kesempatan, seorang teman yang bekerja di sebuah Agency periklanan mengeluh jenuh dengan pekerjaannya. Belakangan ia sering merasa buntu idea. Setiap idea yang keluar terasa garing. Nggak ada sedikitpun kreatif-kreatifnya. Ia pun mulai menyalahkan banyaknya batasan yang diberikan berkenaan dengan positioning Brand yang dikelolanya. Ujung-ujungnya ia merasa kreatifitasnya mandek.

Kalau kita perhatikan, banyak sekali orang-orang di sekitar kita yang merasa kering kreatifitas. Macet dan tak tahu lagi bagaimana harus mencairkannya kembali. Mulai dari blogger yang mengeluh kehabisan idea menulis, pelukis yang catnya mengering sendiri karena lama tak dipakai lagi, pemasar yang kehabisan ide promosi,  dsb hingga ibu rumah tangga yang kehabisan idea memasak. Nah pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah, “Mengapa kreatifitas kita berhenti?”. Saya mencoba memikirkannya. Dan ini adalah beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya.

Pertama, adalah takut tidak bisa. Seperti dalam kasus anak saya. Ia berhenti berkreatifitas karena merasa takut tidak bisa (menjahit). Daripada mencari ide dan mencobanya sendiri dulu, ia lebih memilih menunggu mamanya pulang. Menunggu dan tidak melakukan apa-apa dalam rentang waktu tertentu, sudah pasti membuat kita tidak produktif. Nah..itu semuanya gara-gara perasaan takut tidak bisa. Takut hasilnya salah. Takut hasilnya kurang keren. Perasaan takut akan ‘tidak bisa’ ini sering membuat kita jadi ragu dan akhirnya benar-benar membuat kita tak mampu. Itulah sebabnya banyak yang memberi tahu kita sebagai orang tua untuk mengajarkan anak bahwa ia pasti bisa. Karena dengan mengubah keyakinan anak bahwa ia pasti bisa dalam melakukan sesuatu, akan membantu menumbuhkan semangat dan kepercayaan dirinya bahwa ia sesungguhnya bisa dan hasilnya memang pasti benar-benar bisa. Ayo, kamu pasti bisa!

Kedua, adalah kepercayaan yang salah. Contohnya adalah pemahaman salah bahwa anak lelaki tidak bisa memasak. Anak perempuan tidak bisa memperbaiki atap rumah. Anak perempuan tidak bisa membetulkan kendaraan. Dan sebagainya ‘judgment masyarakat’ yang premature dan bisa jadi salah. Kalau kita percaya pada hal-hal seperti ini, besar kemungkinan akan melimitasi kreatifitas kita. Sebagai perempuan kita cenderung melimitasi diri kita sendiri untuk belajar urusan mesin mobil, karena merasa diri tidak berbakat atau tidak umum perempuan jago otomotif. Bagaimana pula mau disuruh kreatif ya? Wong kita sudah mencap diri kita sejak awal bahwa perempuan tidak berbakat di bidang otomotif? Nah..ujung-ujungnya jadi beneran deh itu kita tidak bisa.  Nah … kepada kedua anak laki-laki saya, saya tidak pernah mau anak saya berpikir bahwa anak laki-laki itu tidak bisa menjahit atau anak laki-laki itu tidak bisa memasak itu biasa. Harus belajar menjahit! Harus bisa memasak. Tidak ada urusan gender di sini.

Hal lain yang mungkin menjadi penyebab matinya kreatifitas adalah rasa khawatir dianggap nyeleneh bin aneh. Takut menjadi pencilan. Khawatir dikatakan sebagai anti-main stream. Datang dengan ide baru yang berbeda yang tidak biasa terkadang membuat seseorang merasa nggak nyaman sendiri dengan kreatifitasnya. Padahal cuek saja. Toh ide kreatif tidak akan membuat kita masuk penjara, sepanjang kreatifitas kita itu tidak melanggar hukum negara, norma agama dan tidak merugikan orang lain.

Atau ada pula teman saya yang sangat reluktan jika diminta membangun ide di atas ide orang lain yang sudah ada. Atau ide di atas idenya sendiri yang sudah dikeluarkan sebelumnya.  Ia merasa hasil kreatifitasnya kurang afdol. Padahal memang demikianlah mekanisme peradaban manusia itu bekerja. Banyak kreatifitas baru yang dibuat untuk memperbaiki kreatifitas yang sudah ada sebelumnya. Demikian juga banyak penemuan dan theory baru dibangun di atas theory lama yang barangkali sudah tidak relevan atau perlu diperbaiki.  Mencontek, menjiplak atau mengcopy ide/kreatifitas orang lain tentu itu tidak ethis. Tetapi jika kita datang dengan ide-ide dan kreatifitas baru yang lebih baik, atau merupakan perbaikan dari ide /kreatifitas orang lain tentu itu syah syah saja.

Ada satu lagi nih…yang menurut saya juga membuat limitasi terhadap kreatifitas kita. Yakni jika kita terlalu “terikat” akan sesuatu . Misalnya terikat akan aturan-aturan design tertentu, atau misalnya brand code – tidak boleh pakai warna tertentu tapi harus warna ini, ini dan itu saja.  Otomatis kreatifitas kita berkurang. Atau di perusahaan tertentu, sangat terikat akan kepercayaan tertentu. Dilarang menggunakan angka yang berakhir dengan 13, karena itu artinya sial atau angka 4 karena erat kaitannya dengan kata mati. Waduuhhh… nah kalau sudah begini, kita menjadi was-was duluan. Takut salah. Bagaimana pula mau menjadi kreatif dalam keadaan takut dan terbatas begini? Atau ada juga misalnya, keterikatan dengan kesuksesan masa lampau. “Dulu sukses lho waktu pakai iklan begini. jadi jangan rubah!“. Lah..tapi kan pasar berubah? Dunia berubah? Masyarakat berubah? Kita tidak bisa selalu memaksakan semua yang sukses di masa lalu. Karena apa yang sukses di masa lalu belum tentu tetap diterima pasar dengan baik saat ini juga.

Mungkin masih ada banyak penyebab mandeknya kreatifitas kita yang belum sempat keluar dari kepala saya. Tapi intinya, yuk kita move on! Terus berkreasi dan gali terus ide-ide baru!. Jangan biarkan segalaketakutan dan kekhawatiran itu membatasi kreatifitas kita.

Selamat pagi, teman-teman! Selamat berkreatiftas. Semoga sukses setiap hari!.

Kompetisi Tukang Rambutan.

Standard

Pak Jama vs Pak Maat.

Rambutan

Pagi tadi saya lewat di depan ruko dan menyapa tukang jamu yang asyik melayani langganannya. Seorang bapak tua menghampiri saya dan menyapa. “Neng! Ini Pak Jama yang dulu bekerja di sono noh” katanya menunjuk sebuah rumah. Siapa ya Pak Jama?  Saya tak mampu mengingat dimana saya mengenal nama itu. Tapi Bapak itu terus berbicara seolah sudah kenal lama dengan saya dan mendorong saya agar membeli jamu si Tukang Jamu. Aneh juga Bapak ini. Jadi saya cuek saja.

Saya mengalihkan perhatian saya pada tukang rambutan yang tidak jauh dari  situ. “Wah..rambuatan apa ini?” tanya saya. “Rambutan Rapi’ah“jawab si tukang rambutan. Saya melihat-lihat rambutan di atas sepedanya.  Kalau tidak salah ingat, yang disebut dengan Rapi’ah adalah Rambutan Gundul yang antara daging buah dan  bijinya tidak menempel  sama sekali.Tapi rambutan ini rambutnya agak panjang dan kurang gundul. Tukang rambutan meyakinkan saya kalau itu memang Rambutan Rapi’ah yang ngelotok bijinya. “Ya neng.Itu Rapi’ah. Tadi dia harusnya cukurin tuh rambutannya biar kelihatan gundul. Biasanya dia gitu” kata Pak Jama menyusul saya lagi ke tukang rambutan. Aduuuh…Bapak ini ikut campur aja urusan orang lain aja.  “Nggak. Yang ini kaga digundulin“kata tukang rambutan dengan kalem. Namanya Pak Maat.

Ayo Neng! Beli rambutan” bujuk Pak Jama . Ia menawarkan rambutan yang dipajang di atas gerobak tarik, di sebelah tukang rambutan. Saya pikir ia sekarang mempromosikan barang dagangannya tukang rambutan. Padahal baru saja ia mempromosikan barang dagangan tukang jamu. “Emang itu rambutan punya siapa?” tanya saya.  Sekarang saya melihat 2 jenis rambutan yang berbeda. Yang satu di dalam keranjang di atas sepeda, dan yang satunya di atas gerobak. Awalnya saya pikir sama “Punya saya” jawab Pak Jama. “Nyang eni lebih murah, Neng” katanya menunjuk rambutannya. Barulah saya sadar. Bapak Jama itu rupanya tukang rambutan juga. O ala…

Emang apa bedanya?Pak Jama menjelaskan bahwa  kedua  rambutan itu adalah rambutan jenis Aceh. “Yang satu Aceh Rapi’ah, yang satunya Aceh Lebak” katanya. Menurutnya rambutannya yang jenis Aceh Lebak yang dibawanya juga manis, walaupun tidak semanis Aceh Rapi’ah yang dibawa Pak Maat. “Nyang itu mah masih hijau juga sudah manis” jelasnya memuji rambutan Pak Maat. Ooh begitu. Saya lalu menanyakan harga Aceh Rapi’ah ke Pak Maat yang dari tadi lebih banyak diam saja. “Dua puluh lima rebu” katanya. Mendengar itu, Pak Jama langsung menjawab “Rambutanku lebih murah, Neng. Dua belas setengah rebu” katanya sambil tertawa. Lalu membujuk bujuk saya agar membeli rambutannya saja. Lebih murah dan toh manis juga.  Tapi saya lebih tertarik pada Rambutan Rapi’ah milik Pak Maat.

Pak Jama tak kehilangan akal, ia mengambil buah rambutan sebutir dan meminta saya mencobanya. “Manis, Neng! Coba aja. Kaga bakalan nyesel deh” katanya mendesak saya untuk mencoba. Saya tidak mau “Kaga apa-apa. Coba aja dulu. Perkara membeli mah nanti aja setelah mencoba“katanya. Melihatnya bersemangat, sayapun mencoba sebuah. Hmmm… memang manis juga  sih. Tapi saya masih penasaran akan Rapiah itu. Saya pikir barangkali saya akan membeli masing-masing seiket dari Pak  Jama dan Pak Maat .

Saya beralih ke Pak Maat terlebih dahulu “Ini harga nggak boleh dikurangin ya Pak?” tanya saya. Pak Maat berpikir sebentar, lalu ” Dua puluh rebu deh seiket” katanya. Mendengar itu Pak Jama langsung berkata “Kalau begitu, nyang eni sepuluh rebu deh seiket, Neng” katanya nggak mau kalah. Kocak juga. Bener-bener deh bapak tua ini. Nggak ada surutnya. Semangatnya tinggi amat. “Ya Pak. saya beli  dua iket dari Pak Jama dan seiket dari Pak Maat. Dua puluh ribu -dua puluh ribu deh masing-masing. Biar adil” kata saya. Mendengar itu Pak Jama girang sekali. Segera menyiapkan 2 ikat rambutan dan mengikatnya menjadi satu ikatan lebih besar.

No..kasih no si Ibu contoh biar dicoba” saran pak Jama kepada Pak Maat yang hanya diam saja dari tadi. Pak Maat memberi saya sebuah rambutan Rapiah untuk dicoba. Ya …rambutan Pak Maat memang lebih manis dan garing.  Saya membayar kepada ke dua tukang rambutan itu. Pak Jama menerima uang saya dengan sangat girang. ” Ya Allaaaah. Alhamdulilah. dikepret dulu…. dikepret dulu…. Buat penglaris….”katanya penuh syukur sambil mengibaskan uang itu di sisa barang dagangannya. Saya tersenyum geli melihat kelakuannya. Ya ampuuun…Bapak ini ada-ada saja.

Perseteruan dagang antara Pak Jama vs Pak Maat itupun berhenti sampai di situ. Keduanya berhasil memenangkan hati saya pembelinya. Yang satu saya pilih karena kwalitas produknya yang lebih baik, yang satunya lagi saya pilih karena element bauran pemasaran lainnya yang lebih menarik. Harganya lebih menarik,  service dan promosinya yang lebih menarik.

Saya menenteng rambutan itu pulang. Sampai di rumah, saya baru sadar, kalau rambutan yang saya beli jumlahnya kebanyakan. Ada 3 ikat, masing-masing terdiri lagi atas 3 ikatan kecil. Jadi sebenarnya total ada 9 ikatan kecil.

Jadilah saya membawa sebagian dari rambutan itu ke kantor…

The Reason…

Standard

???????????????????????????????Seorang teman baru kembali dari tugasnya di negeri seberang. Ia membawa oleh-oleh, snack-snack dan camilan lain yang ia gelar di meja yang kebetulan kosong.Sehingga semua orang yang ingin menikmati snack itu bisa mengambilnya dengan mudah.  Wow! Thanks! Banyak banget. Saya ikut melihat ada apa saja. Coklat, permen olive, crackers, dan melihat diantaranya ada  walnut.

Kacang yang berbentuk otak manusia itu jarang bisa saya temukan di tanah air. Kalaupun ada harganya sungguh sangat mahal. Sekitar  Rp 250 000 per kilonya. Sementara harga kacang tanah,  sepersepuluhnya barangkali tidak sampai. Lalu saya pun mencomot sedikit dan mencobanya. Sebenarnya rasanya sih nggak terlalu enak ya. Agak hambar malahan. Terutama jika kita bandingkan dengan jenis-jenis kacang yang biasa kita konsumsi. Tapi ya lumayanlah…nggak jelek-jelek amat.

Barangkali karena rasanya yang menurut saya hambar dan kurang enak itu, walnut itu menjadi kurang laku dibandingkan oleh-oleh yang lain. Orang-orang mengambil crackers, coklat, biscuit, permen dan sebagainya sehingga dalam waktu yang tidak lama, oleh-oleh itupun menipis.  Kecuali walnut itu. Tak ada seorangpun yang saya lihat mengambilnya lagi setelah mencoba sekali. Hingga suatu saat saya kembali lagi ke meja itu untuk mengambil sedikit walnut lagi.

Saya melihat seorang teman berdiri di dekat meja itu dan asyik memakani walnut. Lho? Kok tumben ada yang anteng makan walnut?  Sayapun ikut berdiri di situ, mengobrol dan memakan walnut bersamanya. Hanya kami berdua – karena yang lain tidak tertarik. Saya bertanya kepadanya, apakah ia benar-benar suka akan rasa kacang itu? Kok kelihatannya asyik amat? Ia tampak berpikir sebelum menjawab dan seketika saya mencurigai sesuatu. “Ha…! Aku tahu reasonnya!” kata saya. “Pasti bukan karena suka rasanya kan? Pasti karena walnut ini jarang ada di sini” kata saya menuduh sambil tertawa. “….dan mahal!” sambung teman saya tertawa dan mengakui bahwa ia memakan kacang itu bukan karena suka  akan rasanya. Tapi karena alasan lain. Kepalang kepergok. “Ibu juga, kan?“tanyanya. Ha ha.!.

Jadi alasan kenapa teman saya *dan saya*  asyik memakan walnut ini memang bukan karena kami suka akan rasanya. Tapi karena walnut ini jarang ditemui dan mahal pula harganya di sini. Jadi mumpung ada yang gratis dan yang lain tidak suka, kenapa tidak kami makanin saja? Saya pikir lebih baik makan walnut daripada makan coklat atau snack biasa yang sudah terlalu biasa dan mudah dicari di sini. Karena jika kacang ini habis, besok saya tidak akan menemukannya lagi. Sementara jika coklat itu habis, besok saya masih bisa membelinya lagi. Ha ha ..Itu namanya jurus aji mumpung.

Perbuatan serupa juga pernah saya lakukan untuk Buah Naga. Pada jaman ketika Buah Naga masih sangat jarang dan harganya mahal di sini, setiap kali ada kesempatan tugas kantor keluar dan sarapan pagi di hotel tempat saya menginap, saya selalu fokus memakan buah naga ketimbang memakan buah pepaya, semangka,melon atau nenas. Kenapa? Bukan karena saya suka akan rasa buah naga itu, tapi lebih karena saya pikir saya jarang mendapatkan kesempatan memakan buah naga ini di Jakarta waktu itu. Kalau pepaya, semangka atau nenas sih gampang. Kapan saja saya mudah mendapatkannya. Dan murah pula. Sekarang ketika buah naga semakin mudah didapatkan dan harganya lebih rendah ketimbang dulu, saya berhenti melakukan itu. Karena sekarang saya merasa tidak perlu lagi.

Saya rasa hampir semua dari kita melakukan sebuah perbuatan karena alasan tertentu  *walaupun terkadang ada juga sih perbuatan yang kita lakukan tanpa kita pikirkan sebelumnya kenapa dan mengapanya*. Mengapa kita melakukan perbuatan A dan bukan perbuatan B?

Jika kita simak baik-baik apa yang terjadi dengan setiap tindakan kita dan alasan yang memicunya, sebenarnya tidak semua alasan itu terlihat dengan gamblang di depan mata. Banyak sekali alasan-alasan lain yang sebenarnya menjadi pemicu utama, namun tidak selalu terlihat di permukaan.  Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan memahami keseluruhan persoalan itu beserta konteksnya. Contohnya dalam kasus kenapa teman saya memakani walnut, tapi tidak mau memilih memakan coklat. Jika kita melihat sepintas lalu saja, tentu kita akan mengambil kesimpulan bahwa teman saya itu adalah penggemar walnut. Padahal kenyataannya ia seorang penggemar coklat.Bukan penggemar walnut!. Kita baru bisa membaca alasannya, hanya jika kita memahami konteks keberadaan walnut itu di Indonesia (terutama di Jabodetabek) dan memahami harganya yang sangat mahal untuk ukuran kacang-kacangan. Sekarang kita baru paham, apa yang memicu ia mengkonsumsi walnut lebih banyak dari coklat.

Demikian juga jika kita bekerja sebagai seorang pemasar. Memahami tingkah laku konsumen, kebiasaan konsumen dalam menggunakan sebuah kategori tertentu serta memahami market landscape-nya, akan sangat membantu kita untuk mengetahui alasan sesungguhnya *yang belum tentu dikemukakan oleh konsumen ke permukaan* mengapa konsumen mengkonsumsi kategori itu. Apakah karena memang benar-benar membutuhkannya karena alasan mendasar ataukah karena alasan lain. Pemahaman ini akan sangat membantu kita dalam meracik marketing mix yang baik untuk memenangkan pertarungan pasar dengan lebih baik.

Motivasi Sebagai Sebuah Pembeda.

Standard

Rujak Kuah Pindang 1Dalam sebuah kesempatan pulang kampung saya diajak menengok seorang teman yang sedang sakit oleh sahabat-sahabat saya. Rencananya kami akan berangkat bersama dan karenanya saya diminta agar berkumpul di Warung Prajna yang letaknya  di Jalan Badak Agung di kawasan Renon, Denpasar. Sayapun diantar adik saya ke sana. Beberapa teman sudah menunggu di sana.

Sambil menunggu yang lain, teman-teman menyarankan saya untuk memesan minuman atau mencoba makanan yang disajikan di sana. Seorang teman yang sudah duluan memesan mengangsurkan daftar menu ke saya.

Makanan Yang Unik.

Saya baru pertama kali ke situ. Warungnya  simple. Ada  cukup banyak jenis makanan traditional yang unik-unik ditawarkan disana. Diantaranya adalah Rujak Kuah Pindang. Sejenis Rujak Traditional Bali, yang bahan dasarnya sama dengan jenis Rujak lainnya, dibuat dari campuran irisan buah-buahan, namun yang membedakannya adalah bumbunya yang menggunakan kaldu ikan (kuah pindang). Itulah sebabnya mengapa Rujak ini disebut dengan Rujak Kuah Pindang. Tentu rasanya unik, karena campuran pedas, asam, manis dan asin khas kuah pindang. Enak dan beda! Sudah lama saya tidak makan Rujak Kuah Pindang.

Tipat Kuah set

 

Lalu teman-teman juga mendorong saya untuk mencicipi  Tipat Kuah (Ketupat Kuah) karena menurut mereka Tipat Kuah di sana enak. Wah..lagi-lagi ini makanan unik yang berbeda. Jika ketupat umum yang dikenal di Bali adalah Tipat Cantok (dibuat dari potongan ketupat,  sayuran (kangkung, tauge, kacang panjang atau bayam) diaduk dengan bumbu kacang – mirip Gado-Gado kalau di Jakarta, Tipat Kuah  memiliki perbedaan yang mencolok.  Terbuat dari potongan ketupat, ditambah dengan Jukut Cantok (sejenis sayuran berbumbu kacang mirip sayuran dalam gado-gado), Be Siap Mepelalah (ayam suir berbumbu) plus Kuah Be Siap (sejenis kuah Soto Ayam). Rasanya enak, mengingatkan rasa masa kecil. Saya suka Ketupat Kuah ini.

Sebenarnya masih ada beberapa jenis makanan yang jarang-jarang saya lihat lagi di tempat lain, seperti  Nasi Baas Barak (Nasi beras merah),Tipat Plecing,Plecing Kabyos, Bulung, dan sebagainya. Namun tentunya saya tidak bisa mencicipi semuanya sekaligus.

Pesan-Pesan Yang Menarik.

MotivasiYang menarik perhatian saya selain makanannya yang unik dan beda adalah dinding warung itu. Saya sering melihat warung-warung makan memajang testimoni para artis atau pejabat terkenal yang pernah mampir di warung itu. Itu umum. Tapi yang dipajang di warung ini adalah beberapa pesan-pesan motivasi yang menggelitik. Kebanyakan mengutip semangat Pak Andre Wongso. Misalnya di sebuah bagian dinding saya membaca :

Mulai dari diri sendiri. Kita seringkali  mencoba dan berusaha untuk mengubah dunia dan orang lain, tetapi….jauh lebih penting adalah kita mengubah dunia yang ada di dalam diri kita sendiri

Saya termenung membacanya – sangat benar apa yang dikatakannya. Seketika saya jadi ikut termotivasi untuk memperbaiki diri saya sendiri.  Lalu di bagian dinding di sebelahnya, saya melihat pesan motivasi yang lain.

Tetap Tersenyum. Kita tersenyum saat kehidupan berjalan sukses dan menyenangkan,itu hal yang biasa. Tetapi saat kehidupan kita menghadapi rintangan, tantangan dan tidak memuaskan,namun kita tetap bisa tersenyum itu baru luar biasa”

Wah.. memang benar-benar luar biasa! Masih banyak pesan -pesan motivasi yang lain lagi. Karena warung ini berbeda, sebagai seorang pemasar, tentu saja saya menjadi tertarik untuk menyimaknya lebih lanjut.  Mengapa pemiliknya memutuskan untuk menggantung pesan-pesan motivasi itudi sana? Kepada siapa pesan -pesan itu disampaikan? Apakah untuk dirinya sendiri? Ah..tentunya kepada pengunjung warung lah ya. Tapi apa relevant? Memang siapa target marketnya?

Motivasi 2Kawasan Renon merupakan kawasan perkantoran, dimana para karyawan menghabiskan jam istirahat/makan siang di warung-warung makan yang banyak bertebaran di daerah itu.  Dan tentunya kita tahu, yang namanya karyawan tentu kondisi mentalnya sangat beragam pada saat memasuki warung itu – ada yang sedang senang karena baru saja mendapatkan promosi jabatan, ada yang sedang galau karena proposalnya belum kunjung juga disetujui, ada yang sedang bersedih karena baru saja habis didamprat boss-nya, atau ada yang lagi ‘down’ karena diuber-uber cicilan utang. Macam-macamlah isi pikirannya. Dan pemilik warung ini menangkap dengan jeli, bahwa konsumen yang masuk ke warung ini dengan segala macam kegundahgulanaan, harus keluar dengan penuh semangat kembali. Dan siap kembali bekerja ke kantor dengan penuh motivasi diri.

Saya mendapatkan cerita bahwa pada awalnya, sang pemilik warung, drh Dewa Made Dwi Saputra  selalu menyelipkan pesan-pesan motivasi di dalam bungkusan makanan setiap kali ada orang yang memesan. Lama kelamaan cerita tentang warung yang memberi motivasi itu menjalar dari mulut ke mulut, sehingga makin banyaklah orang yang pengen tahu dan penasaran untuk datang dan makan di tempat itu. Hmm…cerita yang menarik!.

Sangat jelas saya melihat, bahwa pemiliknya sangat jeli untuk memanfaatkan situasi konsumen dan menjadikan “Motivasi” sebagai pembeda warungnya dengan warung-warung lain yang ada. Walaupun warungnya sederhana, namun motivasinya sangat terasa kuat.

Differentiation, selalu  merupakan salah satu faktor penting  dalam mensukseskan upaya pemasaran.

Jangan Malas Berlari!

Standard

???????????????????????????????Piala Dunia 2014 telah berakhir beberapa saat yang lalu.  Jika kita perhatikan, topik yang paling sering dibicarakan berkaitan dengan Piala Dunia 2014 adalah soal kekalahan Brazil melawan Jerman di babak semi final. Hampir semua orang membicarakannya.  Banyak media yang membahasnya. Walaupun sebenarnya saya bukan penggemar sepakbola, namun tetap saja sesekali ikut mendengarkan tanpa sengaja percakapan-percakapan teman-teman saya tentang kekalahan Brazil itu.

Demikian juga hari Jumat yang lalu. Kembali saya mendengarkan soal kekalahan team Brazil itu lagi. Dibahas disebuah acara malam yang dilakukan Frontier Consulting Group dan Majalah Marketing di Hotel Mulia, Senayan. Kebetulan saya hadir di sana  untuk mewakili team saya menerima penghargaan Top Brand Award bagi kesuksesan salah sebuah brand dari perusahaan tempat saya bekerja. Tentu saja saya mendengarkan dan menyimak dengan baik.

Nah, lalu kenapa saya sampai niat banget menuliskannya kembali? Karena menurut saya kali ini pembahasan soal kekalahan team Brazil ini cukup menarik. Dibahas dari sudut pandang dunia pemasaran oleh sang pakar marketing Pak Handi Irawan, yang juga merupakan boss-nya Frontier.

Pak Handi memulai pembicaraannya dengan menunjukkan skor 7-1, yang mengacu pada kemenangan Jerman vs Brazil. Lalu mengajak audience  untuk berada pada titik start yang sama, dengan pertanyaan yang membuat kita mikir: Mengapa Brazil bisa kalah melawan Jerman?

Pertanyaan ini tentu sangat menggelitik, mengingat bahwa: 1/ team Brazil selama ini dianggap tangguh, 2/ team Brazil bermain di kandangnya sendiri pula. Banyak orang menganalisa bahwa itu terjadi akibat lemahnya teamwork Brazil dan keinginannya yang sangat kuat untuk dominant sebagai tuan rumah – sehingga mungkin saja membuatnya menjadi over pede.

Nah ternyata Pak Handi punya jawabannya sendiri. Pak Handi mengaitkan kekalahan itu dengan kenyataan bahwa team Brazil lebih malas berlari dibandingkan dengan team Jerman. Hah? Malas berlari? Darimana tahunya?

Pak Handi bercerita tentang 2 merek sepatu yakni Adidas dan Nike. Soal pertarungan Nike vs Adidas dalam Piala Dunia 2014 ini sebenarnya cukup kerap juga diberitakan  di media-media – namun saya tidak pernah membaca detailnya soal sepatu ini. Menurut cerita Pak Handi, Nike memiliki sepatu Nike plus dengan sensor yang memberi tahu penggunanya berapa target kalori yang dibakar, apakah targetnya tercapai atau tidak,dsb.

Tak mau kalah Adidas pun mengeluarkan sepatu yang juga memiliki sensor yang baik untuk mengetahui tingkat kelelahan penggunanya – tentu dengan cara mendeteksi “heel compression” dan “heart rate signal”. Dari sanalah diketahui bahwa konon para pemain Brazil  rata-rata hanya berlari sebanyak 7.7 km sedangkan pemain di team lain berlari lebih banyak dari itu – pemain Belanda misalnya rata-rata berlari sebanyak 12 km selama pertandingan. Nah…bagian yang ini saya tidak pernah dengar sebelumnya. Sangat menarik!.

(*saat bercerita tentang 2 merek sepatu itu, saya jadi terkenang masa-masa di tahun 90-an saat saya bekerja sebagai Sales Supervisor di PT Mitra Adi Perkasa yang banyak menjual sepatu sport dan alat-alat sport lainnya. Jadi saya bisa membayangkan jika kedua brand itu mengembangkan teknologi canggih yang diaplikasikan pada sepatu keluaran terakhirnya).

Nah..nett-nett dari cerita ini adalah bahwa ; Malas berlari!!! Itulah yang menyebabkan team Brazil kalah dibandingkan dengan team German.  Berlari bukan hanya membuat kita menjadi lebih cepat, namun juga membuat otot-otot kita terlatih dan anggota tubuh kita memiliki stamina yang lebih baik dibandingkan jika kita tidak melatih diri berlari. Demikian juga ‘berlari’ dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah ilustrasi yang bagus. Saya tersenyum mendengarkan bagaimana Pak Handi kemudian menganalogikan kekalahan Brazil ini dengan kekalahan brand yang para pemasarnya juga malas berinovasi. Oleh karena itu, jika tidak mau kalah bersaing ya…jangan malas berlari. Pak Handi lalu melanjutkan ceritanya dengan beberapa pesan pemasaran lain. Wah..thanks to Pak Handi atas ceritanya.

Tentu saja cerita di atas sangat relevan bagi para pemasar. Karena memang pada prinsipnya apa yang dikatakan pak Handi itu benar adanya. Keterlambatan membawa inovasi baru ke pasar adalah salah satu penyebab terkuat, mengapa sebuah merk dagang bisa terpuruk dilindas pesaingnya. Di dunia pemasaran, pada akhirnya memang, bukan yang besar yang akan memakan yang kecil. Tapi yang cepatlah yang akan memakan yang lambat. Oleh karena itu, jangan malas berlari.

Bahkan jika kita pikir lebih jauh, petuah untuk “JANGAN MALAS BERLARI” ini juga bukan hanya relevan untuk para pemasar. Juga sangat relevan untuk kita semua dalam kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari.

Misalnya dalam posisi saya sebagai ibu rumah tangga,  petuah jangan malas berlari ini pun terasa sangat relevant. Kita jangan malas berlari ‘mencari cara dan terobosan baru’ dalam mendidik anak, memahami perkembangan anak dan tuntutan lingkungannya, sehingga kita mampu  mempersiapkan anak kita agar bisa menghadapi dunia pengetahuan dan arus informasi yang berlari dengan cepat. Anak-anak jaman sekarang tentu tidak bisa disamakan kondisinya dengan saat kita masih kanak-kanak dahulu. Oleh karena itu, sebagaiorang tua kita perlu sedikit lebih smart untuk bisa menyiapkan anak-anak kita dengan baik.

Nah… barangkali petuah “jangan malas berlari’ inipun relevant juga buat penulis blog seperti saya ini. Jika malas menggali ide baru, mengembangkan ide baru dan menjadikannya tulisan-tulisan baru yang segar dan bervariasi, bisa-bisa para pembaca  blog saya ini  mati kebosanan membaca tulisan saya yang itu-itu saja. Kupu-kupu lagi, kupu-kupu lagi. Atau kalau tidak, burung lagi , burung lagi. Ha ha…

 

 

 

Cerita Si Tukang Bubur Ayam.

Standard

Bubur ayamPagi ini, karena sisa nasi semalam yang dijadikan Nasi Goreng jumlahnya tidak memadai untuk dikonsumsi olehseluruh keluarga, maka saya memutuskan untuk sarapan bubur ayam saja.  Belinya tentu di tukang bubur ayam yang lewat di depan rumah. Sebenarnya di sekitar tempat tinggal saya, ada 2 orang tukang bubur ayam. Yang pertama adalah yang manteng di depan ruko. Yang satunya lagi adalah yang berkeliling dengan sepeda motor.

Tukang bubur yang pertama,  sudah manteng  di perumahan ini barangkali sejak 5 tahun terakhir ini. Model buburnya mirip dengan bubur ayam Cirebon. Terdiri atas Bubur, kuah, kacang kedelai goreng, suwir ayam, irisan daun bawang -seledri, kecap, kerupuk dan sambal. Terus ada sate hati-rempela- usus- telor puyuh. Saya tidak terlalu nge-fans dengan bubur ini. Terutama pada kuah dan sambelnya. Menurut saya banyak Bubur Cirebon lain yang jauh lebih enak dari bubur ini. Walaupun harus saya akui, bahwa pelanggan tukang bubur ini sebenarnya lumayan banyak juga.  Berarti sebenarnya enak kan?

Lalu tukang bubur yang ke dua. Yang berputar-putar setiap pagi dari satu blok ke blok yang lain di perumahan, adalah tukang bubur yang sudah berjualan di sini sejak lebih dari  15 tahun. Mungkin mendekati 20 tahun.  Buburnya berbeda. Komposisinya kurang lebih begini: bubur,ayam suwir, tongcai, irisan cakwe, irisan daun seledri, sambal dan kerupuk. Sambelnya adalah sambel kacang yang enak yang membuat keseluruhan rasa bubur ini menjadi lebih enak dari bubur yang pertama – tentu saja ini menurut saya lho ya. Belum tentu menurut orang lain.

Sambil menunggu ia menyiapkan, saya bertanya kepadanya,dimanakah ia tinggal? “Di Bekasi, Bu” jawabnya. Hah??!!. Alangkah terkejutnya saya. Wow! Bekasi! Jauh banget ya?  Pantesan ia selalu mengenakan bandana batik segitiga yang dikalungkan di lehernya. Rupanya itu dipakai untuk menutup hidungnya agar tidak terlalu banyak menghirup polusi udara saat berkendara melintasi  Jakarta dari arah Bekasi ke Tangerang.

Ada semacam perasaan tidak enak di hati saya. Mengapa setelah nyaris dua puluh tahun mengenalnya, saya baru bertanya. Kelihatan betapa cuek dan tidak perdulinya saya terhadap lingkungan sekitar saya.  Tapi entah kenapa saya merasa pernah tahu bahwa tukang bubur ini tinggalnya tak jauh-jauh dari perumahan ini juga. Lalu pelan-pelan saya bertanya  “Dulu bukannya tinggal di dekat sini ya? Atau dari dulu memang tinggal di Bekasi?” tanya saya. “Ya, Bu. Dulu waktu belum berkeluarga saya ngontrak di dekat sini. Tapi setelah berkeluarga, saya  pindah ke Bekasi ke rumah istri saya” katanya. Oooh. Saya merasa sedikit lebih lega. Setidaknya saya tidak secuek bebek.

Nah, pertanyaan berikutnya, mengapa ia tidak mencari pelanggan baru saja di daerah Bekasi sana saja? Ngapain jauh-jauh dari Bekasi ke TangSel sini  hanya untuk berjualan bubur?

Ia lalu bercerita bahwa jumlah pelanggannya sudah terlalu banyak di wilayah Bintaro dan sekitarnya sini dan ia tidak mau meninggalkan pelanggannya begitu saja. “Mereka sudah cocok dengan rasa bubur ayam saya. Dan saya juga sudah hapal selera mereka.   Ada yang suka banyak sambal, ada yang tidak suka pedas, ada yang mau cakwenya yang banyak, ada juga yang mau buburnya yang banyak. Beda-bedalah Bu. Jumlahnya juga sudah sangat banyak. Tidak mungkin saya menghilang begitu saja dari Bintaro. Soalnya kalau tidak jualan sehari saja, banyak yang menanyakan.” katanya sambil menambahkan sambel ke bubur pesanan saya. Ooh..rupanya ada semacam ikatan emosi antara pelanggan dan tukang bubur ini. Ikatan yang tidak mau saling kehilangan.

“Mencari pembeli baru di Bekasi mungkin sebenarnya tidak telalu sulit, Bu.  Tapi perlu waktu lama untuk membuat pembeli di Bekasi mau berlangganan kepada saya.  Jadi, di Bekasi saya punya pembeli, tapi kalau di Bintaro saya punya pelanggan. Kalau saya muter-muter di Bintaro sini, sudah pasti dagangan saya akan habis sebelum tengah hari. Kalau di bekasi belum tentu.  Makanya demi pelanggan, lebih baik saya berangkat ke sini setiap pagi . Buat saya melayani pelanggan yang sudah lebih pasti membeli lebih penting daripada mencari pembeli baru” tambahnya.

Lebih lanjutnya si Tukang Bubur bercerita kepada saya bahwa setiap hari ia bangun pukul dua dinihari untuk mempersiapkan dagangan sehingga bisa berangkat jam 4 subuh-subuh dari Bekasi agar bisa sampai di Bintaro sekitar jam setengah enam atau jam enam pagi. Itu dilakoninya setiap hari. Wow!  Setelah saya membayar, tukang bubur itupun pergi dengan motor bebeknya.

Sambil memandangi punggungnya dari kejauhan, saya jadi memikirkan kata-katanya itu. Sangat jelas terlihat bahwa ia memang sangat memahami pelanggannya. Dan sangat mengutamakan pelanggannya.

Pembeli memang beda dengan Pelanggan. Mencari pembeli bisa saja mudah, namun mengubahnya menjadi pelanggan belum tentu pekerjaan mudah. Oleh karena itu, mempertahankan pembeli yang sudah menjadi pelanggan setia kita jauh lebih penting daripada mencari pembeli baru dan membuatnya menjadi pelangggan kita.

Sekarang saya baru tahu, mengapa tukang bubur ini selalu membunyikan klakson setiap kali ia lewat di depan rumah saya. Ia selalu tersenyum ramah, tak perduli saya membeli ataupun tidak. Dan jika saya membeli, tanpa perlu saya sebutkan lagi, ia selalu hapal bahwa saya memerlukan sambal lebih banyak. Demikianlah caranya ia membuat saya senang dan suka membeli bubur ayamnya. Barangkali saya adalah salah satu orang yang dihitungnya sebagai salah satu pelanggannya.

 

 

Kebingungan Tukang Ketoprak.

Standard

tkg ketoprak“Bang, pesan Ketoprak 3 dong! Yang satu pedas, banyakin bawang putihnya, nggak pakai bihun, kecap manisnya sedikit aja ya..; yang satunya lagi nggak pedas, nggak pakai ketupat, pakai bihun, banyakin kecapnya; dan yang satunya lagi biasa biasa saja, semuanya pakai, tapi tahu & krupuknya ditambah“.

Tukang Ketoprak”?????.  “Bu, boleh nggak diulang lagi pesanannya satu persatu?” dengan muka kebingungan he he.. Read the rest of this entry

Memberi Konsumen Alasan Yang Cerdas .

Standard

BANNER-EVIINDRAWANTO1Setiap pemasar di dunia ini, selalu menginginkan produknya mudah diterima oleh konsumen dengan baik. Namun mengingat konsumen yang semakin cerdas dari waktu ke waktu, tentu pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah dilakukan. Itulah sebabnya, mengapa setiap pemasar selalu mencari akal guna meyakinkan konsumen bahwa merknya adalah yang lebih layak untuk dipilih ketimbang merk orang lain di kategori yang sama. Berbagai survey dan research telah dilakukan oleh para pemasar untuk memahami kebutuhan dan keinginan terdalam di hati konsumen.  Karena dengan memahami apa yang ada di hati konsumen, memudahkan pemasar untuk mengembangkan konsep produknya  yang sesuai untuk segment  konsumen yang ditargetkan. Read the rest of this entry

Mendengar Kisah Kesuksesan Starbucks Langsung Dari Howard Schultz.

Standard

Howard Schultz 1Saya merasa sungguh beruntung ketika Rabu kemarin pagi, saya bisa ikut breakfast meeting di auditorium Kementrerian Perdagangan. Acara yang dibuka oleh Menteri Perdagangan Gita Wiryawan itu menghadirkan Howard Schultz, Chairman, President &CEO dari Starbucks Coffee Company untuk sharing tentang kunci kesuksesannya dalam mengelola brand Starbucks.  Walaupun saya duduk agak jauh di belakang, namun saya melihat banyak pejabat dan pengusaha yang menghadiri acara itu termasuk diantaranya Peter Gonta dan Ketua Kadin Suryo B Sulistio. Dari kejauhan saya juga melihat Mr V P Sharma, mantan boss saya sewaktu masih bekerja di Mitra Adiperkasa. Beliau terlihat sangat sibuk, sehingga saya tidak melihat kesempatan untuk menyapanya. Acara itu memang diprakarsai oleh MAP sebagai pemegang merk Starbucks di Indonesia.

Saya merasa sangat terkesan akan sharing yang dilakukan oleh Howard Schultz .  Ia memberi  dua rahasia sukses sebuah bisnis yang menurutnya tidak pernah diajarkan di sekolah maupun di buku-buku bisnis, yakni “Love & Humanity”.Sangat inspiratif dan sangat memotivasi. Itulah sebabnya saya ingin menulisnya. Read the rest of this entry