Category Archives: Gardening

Melon: Sekali Berarti, Sesudah Itu Mati.

Standard

20151123_062001Salah satu potongan sajak yang saya ingat baik dari Chairil Anwar adalah “Sekali berarti, sesudah itu mati!“. Kalimat sang penyair itu terasa memaku kepala saya. Hidup cuma sekali dan sesudah itu kita mati. Jadi kita harus membuatnya berarti. Harus membuatnya bermakna baik bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang di sekitar kita. Barangkali demikian kira-kira maksudnya.

Kenapa tiba-tiba saya teringat kepada kalimat puitik itu?. Nah ..itu gara-gara pohon melon saya.

Saya punya sebatang pohon melon. Ditanam anak saya menumpang di sebuah pot pohon pandan yang tinggi. Ketika pohon melon itu baru tumbuh saya tidak terlalu memperhatikannya. Tetapi ketika ia tumbuh besar, saya mulai terkejut.Waduuh!! pohonnya bisa kemana-mana ini. Mana nanti jika seandainya berbuah,buahnya pasti berat sekali. Akan saya rambatkan ke mana ya?.  Karena takpunya ide yang lebih baik,akhirnya saya memutuskan untukmembiarkan saja pohon melon itu tumbuh. Saya jalarkan ke kawat jalaran pohon timun.

 

Suatu pagi saya lihat pohon itu berbunga.Warnanya kuning dan cantik. Tak seberapa lama bunga-bunga lain bermunculan. Tetapi yang sukses menjadi buah hanya satu. Saya mulai memperhatikan dan memeliharanya setiap pagi.  Buahnya makin hari semakin besar.Saya tetap memeriksa dan mengamati pertumbuhannya. Hingga beratnya tertentu, kawat jalaran timun tidak mampu lagi menyangga beban buahnya. Buahnya pun saya letakkan di pot tanaman pandan. “Tidak apa-apalah diletakkan di situ sambil menunggu buahnya matang“. Pikir saya.

Namun sayang sekali, beberapa hari setelah itu pohon melon saya tiba-tiba layu. Akarnya tercabut oleh anak-anak kucing kecil yang nakal dan bermain-main di dekat batangnya. Pohon melon itupun layu dan akhirnya mati. Yaah…sayang sekali. Saya pikir buahnya belum membesar dengan sempurna.Ia keburu layu dan mati. Saya menunggu sampai pohon itu benar-benar kering barulah akhirnya buahnya saya petik. Ternyata buahnya manis juga.

Pohon melon ini berbuah sekali, setelah itu mati. Ia membuat hidupnya berarti dan berguna bagi saya, sebelum akhirnya ia mati. Terimakasih Melon.

 

Dapur Hidup: Kejutan Dari Si Timun Putih.

Standard

Hai! Saya memanen timun dari halaman. Memanennya tanpa rencana. Gara gara saya baru ngeh kalau ada buah timun yang sudah cukup besar ternyata bergelantungan di tembok bagian atas ketutupan daun yang rimbun. Anak saya yang kecil yang pertama kali melihat dan memberi tahu saya.

Buah timun baru petik dari pohon. Lengkap dengan getah dan duri-durinya. Rasanya jauh lebih segar dari buah timun yang dibeli dari pasar maupun supermarket.

20151206_094050.jpg

Bagaimana ceritanya kok bisa nanem timun di halaman rumah?.  Terus terang sjak awal saya sangat tertarik pada tanaman cucurbitaceae. Timun, pare, oyong, melon, semangka, belewah, beligo, timun suri, labu siam, labu parang dan sebagainya.Saya suka melihat lihat dan  membaca-baca artikel tentang keluarga tanaman ini. Sayang sekali saya tidak punya lahan yang cukul luas agar bisa menanamnya. Tanaman ini butuh area yang luas karena merambat kemana mana. Sementara halaman rumah saya terbatas. Dan sudah penuh pila saya tanami dengan cabe, tomat, terong, pare, kemangi, bawang daun, jahe, kunyit, seledri dan lain lain kebutuhan dapur sehari-hari.

Tapi saya tidak mau menyerah. Jadi dimana akan  saya tanam biji timun ini?  Di pot yang akan saya letakkan di pinggir tembok. Dan saya rambatkan batangnya ke tembok. Mulailah saya membuat rambatan kawat ke tembok.
Tanam biji timun putih. Dua biji, dua biji di setiap lubang dekat kawat. Untuk antisipasi jika ternyata ada yang mati.
Hanya dalam beberapa hari sidah tumbuh. Dan tumbuh terus dengan cepat merambat di tembok. Hanya sayangnya setelah berbunga kok  pada rontok. Tak ada satupun yang saya lihat menjadi buah. Setiap hari saya periksa tapi kok pada rontok semua.

Rupanya buah yang di batang bagian atas tidak kelihatan oleh saya, karena tertutup daunnya yang rimbun. Hari ini tiba tiba anak saya melihat ada buahnya. Benar-benar sebuah kejutan yang menyenangkan di hari Minggu.

Dengan semangat kamipun menyibak nyibak daun tanamam itu. Eh..ternyata ada lebih dari satu. Sebenarnya agak ketuaan sedikit kelihatannya. Kami lebih suka mengkonsumsi timun muda. Sayang waktu ukuran dan umurnya tepat untuk dipanen kami tidak melihatnya. Nggak apa apalah. Nggak terlalu tua juga kok.

Bagaimana cara memetiknya? Tinggi begitu. Anak saya mencoba memetik sebuah dengan galah. Tapi …prakkk! Timunnya retak karena jatuh ke halaman yang ditutup cone block. Yaaah…. sayang ya.
Oke. Anak saya tidak kehilangan akal. Pakai galah disambung serokan ikan yang sudah dicuci terlebih dahulu. Asyiiiik!.

Sekarang buah timun bisa dipetik tanpa pakai acara jatuh. Tapi ada juga sih yang karena ditarik, batangnya ikut tertarik ke bawah dan anak saya bisa menggapai dan memetiknya langsung dengan tangan.
Lumayan dapat 6 buah. Seneng banget hati saya.

Timun (Cucurbitae sp) adalah salah satu tanaman dari keluarga timun-timunan yang umum dikonsumsi manusia. Tanaman merambat ini memiliki daun yang lebar seukuran daun pohon labu siam. Batangnya merambat dengan bantuan sulur sulur. Bunganya kecil-kecil berwarna kuning. Yang sejak awal sudah terpisah mana yang jantan dan mana yang betina.

Buah timun paling enak dimakan mentah mentah. Buat lalapan, teman nasi goreng atau buat acar. Kalau siang hari dan panas panas begini enak juga diserut dibikin minuman. Tambah syrop gula sedikit. Jadilah es mentimun!. Hmmm….segarnya.

Manfaat lain dari timun…bisa juga digunakan untuk mengompres mata yang lelah. Atau digunakan untuk menyegarkan kulit wajah biar segar dan kinclong.

Selain itu mentimun juga berfungsi untuk kesehatan. Banyak orang menganjurkan penderita hypertensi untuk mengkonsumsi mentimun karena khasiatnya yang sangat baik untuk menurunkan tekanan darah.

Intinya, nggak rugilah menanam timun di pagar ataupun dirambatkan di tembok rumah. Banyak untungnya. Minimal mengurangi sedikit belanja dapur, menghijaukan halaman rumah dan sekaligus membantu meningkatkan kwalitas udara di lingkungan tempat tinggal kita. Go green.

Yuk kita tanam mentimun. Kita bikin Dapur Hidup!.

Dapur Hidup: Cukupkah Untuk Kebutuhan Setiap Hari?

Standard

 

20151116_071839.jpgGara gara belakangan ini saya sering mem-post tulisan dan foto-foto tentang Dapur Hidup, seorang teman rupanya penasaran. “Memang halaman rumahmu luas amat ya? Kok bisa nanem berbagai macam sayuran sih?“. Tentu saja tidak. Namanya juga tinggal di perumahan kecil, sudah pasti halaman rumah sayapun sempit. Tapi nyaris semuanya saya manfaatkan untuk berkebun sayur. Nah, kalau halamannya sempit, “Memang cukup ya hasilnya untuk keperluan dapur sehari-hari?“. Begitu pertanyaan berikutnya.

Sebenarnya agak sulit menjawab pertanyaannya. Cukup dan nggak cukup itu sangat relatif ukurannya. Karena ukuran “cukup” bagi si A, belum tentu sama banyaknya dengan ukuran “cukup” bagi si B. Selain itu tergantung juga dari seberapa banyak dan efektif serta efisien kita bisa memanfaatkan lahan sempit yang kita miliki.

Contohnya lahan pekarangan ukuran 3×2.5 meter, kalau kita mau manfaatkan,  akan muat untuk menampung sekitar 60 polybag. Jika ke 60 polybag itu kita tanami tomat semua, setelah 3 bulan tomat -tomat itu akan menghasilkan buah yang meranum untuk bisa kita petik bergantian setiap hari. Jadi jawabannya cukup. Cukup tomat untuk keperluan dapur kita sehari hari. Tapi keperluan dapur yang lain tetap masih perlu dibeli.

Pilihan lain bisa juga kita tanami dengan berbagai macam tanaman lain keperluan dapur. Campur-campur. Misalnya cabe, terong, pare, tomat, kencur, seledri, kunyit, lengkuas, sereh, kemangi dan sebagainya. kalau dicampur begini,tentu  tidak setiap  hari kita bisa memetik buah tomat matang. Tapi sebagai penggantinya kita mungkin bisa memetik terong atau daun kemangi.  Cukupkah itu? Cukup sih nggak ya. Tetapi lumayan membantu mengurangi pengeluaran uang belanja dapur.

Sebagai gambaran saja, dari lahan halaman belakang yang berukuran sekitar 3x 2.5 meter itu yang saya tanami tomat, saya sempat memanen dalam jumlah yang lumayan sebanyak 3 x.

 

20151116_071115.jpgPertama tidak sempat saya timbang. Tapi saya pikir beratnya lebih dari 1 kg.

 

20151121_175345.jpgYang kedua jumlahnya lebih sedikit dan sempat saya timbang. Beratnya 700g.

20151127_091118.jpgPanen ke tiga kalinya  saya juga lupa menimbang. Dan lupa memotret semuanya. Tapi lumayan juga. Barangkali sekitar 700 -750g juga. Sebagian bahkan masih sempat saya bawa ke kantor. Nah..yang saya bawa ke kantor ini kebetulan sempat saya foto.

Itu diluar yang kadang-kadang saya petik tersendiri. Saat ini, pohon-pohon tomat saya masih berbuah cukup banyak, walaupun batangnya mulai menua dan meranggas. Tapi  buahnya masih banyak. Ada yang merah,ada yang sudah orange,kuning dan amsih banyak juga yang hijau. Saya sendiri sudah tidak betah ingin menggantinya dengan tanaman baru. Tapi sayang juga buahnya. Akhirnya saya akan tunggu untuk bisa saya panen sekali lagi.

20151116_073255.jpgJadi buat dapur saya, jumlah buah tomat yang bisa saya petik dari halaman itu cukuplah.

Kalau seandainya lahan yang kita manfaatkan hanya sedikit. Misalnya 3 meter x 20 cm dan mepet ke tembok, kita bisa menanam kurang lebih 15 pohon. Setelah berbuah dan matang,  barangkali kita bisa memetik 1-3 buah seminggu sekali. Cukup juga kan? Apalagi jika masak makanan yang berbasis tomat tidak setiap hari.

Dapur hidup berguna untuk menutupi keperluan dapur kita sehari-hari.  Jika kebutuhan dapur kita ingin tetap terjaga, semai kembali bibit tomat dari buah yang benar benar sudah matang sehingga menjadi tanaman yang siap berbuah 3 bulan ke depannya.  Dengan demikian keberlangsungan dapur hidup tetap terjaga.

 

20151116_072432.jpgDemikian juga jika halaman ukuran 3m x 2.5 meter itu kita tanami terong, cabe atau pun pare. Ceritanya mirip. Apapun yang kita tanam, ya itulah yang akan kita hasilkan kelak. Jika tomat yang kita tanam, ya tomatlah yang kita petik. Demikian juga jika terong yang kita tanam ya teronglah yang kita tuai. Dan sebagainya. Apa yang kita tuai adalah apa yang sebelumnya kita tanam.

Pertanyaan lagi, jika lahan kita terbatas, apakah lebih baik kita hanya menanam satu jenis tanaman sayur saja tapi banyak, atau berbagai jenis tapi sebatang-sebatang? Saya pikir itu sih terserah yang punya pekarangan. Tapi kalau saya yang punya halamannya, saya pikir halaman rumah sebaiknya ditanami dengan beragam tanaman sayur. Mixed Vegetable Gardening. Sehingga yang kita panen setiap hari berbeda. Selain itu kita juga jadi lebih semangat mengurusnya. Karena yang kita lihat selalu berbeda dan tidak membosankan.

Yuk kita galakkan kegiatan Dapur Hidup! Berdayakan dapur sekaligus menciptakan oksigen untuk kesegaran dan kesehatan lingkungan kita.
Hasilnya cukup kok!

Dapur Hidup: Menanam Terong Bukan Karena “Milu-Milu Tuwung”.

Standard

20151116_072426.jpgSalah satu kiasan yang banyak digunakan dalam bahasa Bali adalah “Milu-milu tuwung” (artinya Ikut-ikutan kaya Terong). Kiasan ini digunakan untuk menggambarkan orang yang mengatakan atau melakukan sesuatu karena latah, tanpa alasan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya nih, ikut-ikutan mengcopy pendapat orang lain, padahal ia sendiri tidak terlalu paham apa makna sesungguhnya. Atau untuk orang-orang yang ikut melakukan apa yang orang lain lakukan, padahal ia sendiri tidak tahu mengapa dan apa gunanya ia melakukan hal itu. Tidak mengerti baik dan buruknya. Sehingga orang tua di Bali biasanya memberi petuah kepada anak cucunya,  dengan mengatakan “Sing dadi cening milu-milu tuwung” (terjemahan bebasnya: Jangan suka ikut-ikutan, nak!), dengan maksud agar  jika anak /cucunya mengatakan ataupun melakukan sesuatu, setidaknya ia punya alasan yang jelas mengapa ia mengatakan demikian atau berbuat demikian. Bukan karena sekedar ikut-ikutan.

Nah mengapa tiba-tiba saya teringat akan kiasan lama itu? Ini karena saya sedang memetik buah terung dari pohonnya yang saya tanam di halaman rumah. Terong atau terung dalam bahasa Balinya adalah Tuwung (Solanum melongena). Ketika saya ingat kata “Tuwung”berikutnya yang muncul di kepala saya adalah kiasan itu tadi.

Terong adalah salah satu tanaman yang saya coba tanam di pekarangan rumah. Tentunya bukan karena saya “milu-milu tuwung” atau latah ikut-ikutan orang lain,  tetapi karena saya mempunyai alasan bagus untuk itu. Pertama karena saya memang suka masakan yang berbahan dasar terong. Kedua, karena menurut referensi terong sangat berguna untuk kesehatan, terutama terong yang ungu, karena mengandung bioflavonoid serta Vitamin K yang tinggi.   Berguna untuk mencegah diabetes, mengontrol tekanan darah tinggi dan juga bagus untuk otak. Oleh karenanya, semakin semangatlah saya menanamnya.

Ada beberapa jenis yang saya tahu. Mulai dari terong lalap yang kecil kecil bulat atau lonjong, lalu ada yang bentuk dan ukurannya lebih besar dan gendut, lalu ada juga yang buahnya panjang. Warnanya juga bervariasi. Ada yang putih, hijau atau ungu.

Lalu di mana bisa membeli bibit terong? Saya pergi ke toko Trubus yang  kebetulan letaknya tak jauh dari rumah. Di sana ada beberapa jenis bibit terong yang dijual. Saya memutuskan membeli bibit terong sayur warna ungu. Isinya tidak terlalu banyak. Tapi sudah dicoating dengan baik untuk menghindarkan serangan jamur.  Begitu sampai di rumah, bibit langsung saya semaikan dalam box persemaian.

Dalam beberapa hari bibit tumbuh dengan baik. Setiap hari anakan pohon terong ini saya siram. Setelah daunnya menjadi 4 lembar kemudian saya pindahkan ke dalam polybag.  Saya sangat beruntung karena tanpa saya duga pohon terong ini tumbuh sangat subur. Daunnya lebar-lebar.  Kebetulan saya memiliki pot yang lebih permanen, lalu saya pindahkan lagi pohon-pohon terong ini ke dalam pot. Dalam waktu singkat iapun berbunga.

Seperti halnya tananaman Solanaceae lainnya, bunga tanaman terong berbentuk bintang. Warnanya ungu dengan benang sari berwarna kuning. Sebenarnya sangat menarik dilihat. Sayangnya kebanyakan mahkota  bunganya menunduk ke bawah. Sehingga sulit untuk untuk dilihat.

Tak lama kemudian, bunga bunga itupun menjadi buah. Mulai bergelantungan di sela-sela daunnya yang lebar. Dibutuhkan waktu yang tidak terlalu lamauntukmembuat buah terong ini menjadi besar. Sekarang saya mulai bisa memanennya satu per satu untuk keperluan dapur.

Lalu terong ungu ini bisa dimasak apa saja? Macam-macam sih. Misalnya bisa ditumis. Bisa juga dibuat sambel terong. Buat campuran sayur lodeh. Atau dibikin terong balado. Enak juga dibakar. Atau dibikin Beberok ala Lombok. Atau direbus saja, dijadikan teman lalapan dan dicoel-coel sambel terasi. Rasanya manis dan empuk.
Saya pikir cukup menyenangkan untuk memiliki pilihan sayuran lain dari halaman rumah sendiri selain pare, kangkung, bayam atau pakchoi. Sangat berguna ditanam sebagau selingan. Dengan demikian tanaman terong ini membuat Dapur Hidup saya semakin beragam.

Yuk kita menanam terong sayur di halaman. Kita bikin Dapur Hidup!.

Dapur Hidup: Tauge, Solusi Dapur Di Tanggal Tua.

Standard

image

Tanggal tua. Uang belanja dapur tinggal beberapa ribu rupiah lagi.  Tapi harus cukup untuk beberapa hari sampai suami gajian kembali. Bagaimana caranya bertahan? Mengeluh? Jangan! Komplain pada suami mengapa ia tidak kunjung memberi kita jatah uang dapur yang sedikit kebih besar? Jangan! Ntar dia tambah pusing mikirin kita. Kasihan!. Nah…usulan saya adalah, bagaimana kalau kita masak tauge setiap hari? . Ha ha…

image

Serius nih. Saya membeli kacang ijo 1/2 kg. Harganya Rp 7 000. Saya ingin membuat tauge sendiri.

image

Bagaimana caranya?
1/. Ambil 100g kacang ijo. Cuci bersih dan buang kotoran serta biji biji yang retak atau sobek.
2/. Rendam kacang ijo dalam air bersih sekitar satu hari (kurang lebih 12 jam. Jika ngerendamnya pagi yaa kira-kira sampai matagari tenggelam lah).
3/. Setelah direndam kacang ijo yang tadinya kecil dan kering biasanya agak membesar. Tiriskan. Masukkan ke dalam wadah saringan (saringan plastik atau kaleng dsb tergantung yang ada di rumah. Kalau jaman dulu ibu saya punyanya kukusan bambu). Tutup dengan plastik hitam atau kain hitam. Tempatkan di area dapur yang tidak kena matahari langsung. Gunanya adalah agar tauge yang tumbuh tidak sempat memproduksi clorophil. Agar tauge yang dihasilkam putih bersih. Bukan kehijauan atau kemerahan. Selain itu jika ditutup, perakaran tauge juga menjadi lebih cepat bertumbuhnya.
4/. Siram dan tiriskan setiap 4 jam sekali.
5/. Perhatikan perkembangan akar tauge untuk menentukan kapan saatnya kita panen.

image

Untuk ditumis atau campuran gado gado, soto, pelecing dan sebagainya, tauge bisa dipanen dalam waktu 2 hari. Tapi kalau perlu untuk rawon atau pepes kacang ijo, tauge bahkan sudah bisa dipanen keesokan harinya.
Karena akan saya tumis, saya memanennya setelah umur 2 hari. Lumayan. Dari 100g kira kira saya mendapat  tauge sekantong kresek. Berapakah kira kira harga tauge sebanyak ini jika kita beli di tukang sayur. Sekitar 10 -12 ribu rupiah. Cukup untuk 2x masak. Atau bahkan lebih.
Nah..jika kita punya uang belanja cuma Rp 7 000, kita belikan kacang ijo 500g dan ambil 100g, 100g, lima kali berturut turut lalu jadikan tauge, maka uang itu cukup untuk 5 hari makan keluarga yang kita cintai (bandingkan jika kita beli, biaya yang keluar akan menjadi 5x 10-12 ribu – minimal Rp 50 000. Lumayan kan bisa irit Rp 43 000 ?. Sayurnya tapi tauge terus. Ha ha…).

image

Ini bukan jurus emak-emak pelit lho! Tapi emak-emak irit. Beda kan ya antara pelit dengan irit?. Nah…kalau masih punya uang lebih, bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tannga yang lain.
Pointnya di sini adalah jika kita mau sedikit rajin sebagai ibu rumah tangga,
Saya pikir kita akan selalu bisa menyiasati tanggal tua tanpa harus mengeluh pada suami. 
Yuk kita bikin tauge. Kita bikin Dapur Hidup!

Dapur Hidup: Pare, Si Pahit Yang Ngangenin.

Standard

 

wpid-20151115_095608.jpgDi seberang jalan dekat Pasar Sapi di Sanglah, dulunya ada sebuah tempat makan yang sering saya kunjungi semasa nge-kost di Denpasar. Menu yang paling sering saya order adalah Nasi Campur. Lauknya saya masih ingat terdiri dari  Ayam suwir, Orak-arik Pare dan Telor Menyar (telor rebus dalam bumbu traditional Bali) serta sesendok sambel terasi. Saya sangat terkesan karena masakan Parenya sama sekali tidak pahit.
Terinspirasi oleh masakan di rumah makan itu lalu saya belajar mengolah pare agar tidak pahit. Ternyata caranya sangat sederhana yaitu meremasnya berkali-kali dengan sedikit garam hingga semua cairannya keluar. Pare menjadi  kering barulah di masak. Tentu saja tak perlu ditambahin garam lagi.
Masih terinspirasi oleh masakan di rumah makan yang sama, saya akhirnya mencoba menanam pare di pekarangan rumah saya. Masih dalam semangat membuat Dapur Hidup.
Pare atau Paya atau Bitter Gourd adalah salah satu tanaman sayuran merambat keluarga Cucurbitaceae (keluarga timun timunan) ysng buahnya umum dimasak di dapur Indonesia.

 

Saya membeli biji tanaman ini di Toko Trubus. Kalau tidak salah ingat harganya Rp 15 000 satu pack isinya 22 biji. Saya semaikan mati satu tinggal 21 batang yang tumbuh. Dari 21 pohon itu hanya 19 yang tumbuh dengan baik. Yang dua kurang bagus pertumbuhannya karena kurang mendapatkan sinar matahari.
Tukang Trubus mengatakan bahwa saya akan sudah bisa melihat pohon pare saya berbuah dalam waktu 3 bulan. Hmm…cepat juga ya.
Biji pare yang saya beli rupanya di-coating. Menurut keterangan tukang toko itu agar menjaga biji dari serangan jamur.

Biji pare pertama saya tabur di dalam pot. Dalam waktu 3 hari sudah berkecambah dan akhirnya tumbuh menjadi anakan pohon pare.
Dari sini lalu saya pindahkan ke pot-pot panjang terbuat dari semen  yang sudah saya pasangi kawat agar kelak ia bisa merambat ke pilar rumah.
Tanaman tumbuh subur. Merambat ke atas dengan kecepatan yang berbeda beda. Bahkan cukup signifikan perbedaannya. Walaupun mendapat perlakuan sama, tetapi ada yang tingginya  sudah mencapai 50 cm saat temannya yang lain masih 10 cm atau 15cm. Mengapa?

Apakah karena faktor genetika? Bisa jadi. Walaupun biji biji itu berasal dari bungkus yang sama dan logikanya berasal dari buah yang sama, tetapi variasi genetika dari individu yg sama tetap bisa terjadi. Selain itu tidak menutup kemungkinan jika biji biji ini berasal dari buah atau bahkan pohon yang berbeda. Atau mungkin saja disebabkan oleh fsktor lain di luar genetika.
Salah satunya barangkali karena faktor lokasi penempatan pot. Mendapat intensitas cahaya matahari yang bervariasi. Ada yang terlalu banyak, cukup atau barangkali ada yang kurang juga. Selain itu media yang saya gunakan juga berasal dari karung yang berbeda-beda. Bisa jadi kandungan hara dalam tanah itu berbeda-beda pula. Hmmm…sebenarnya sesuatu yang menarik juga untuk diteliti lebih lanjut.

 

Setelah beberapa minggu pohon pare saya mulai belajar berbunga. Pohon pare ini memiliki dua jenis bunga. Bunga jantan dan bunga betina. Sayangnya yang muncul duluan dan jauh lebih banyak jumlahnya adalah bunga jantan. Jadi begitu mekar lalu gugur. Sedangkan bunga betina baru muncul belakangan dan jumlahnya sangat sedikit.
Walaupun begitu saya tetap senang. Karena pilar-pilar kayu di halaman rumah saya menghijau oleh dedaunan dan penuh bunga kecil-kecil berwarna kuning.  Bunga terdiri atas 5 lembar mahkota dengan benang sari yang kelihatan membulat di tengahnya. Setiap pagi saya memandangi keindahannya dengan takjub. Tawon dan lebah juga mulsi datang berkunjung.

 

Bunga betina bentuknya berbeda dengan yang jantan. Ada bakal buah yang menggelembung di bawah mahkotanya. Bunga betina yang jumlahnya sedikit inu rupanya juga tidak selalu beruntung didatangi lebah pembantu penyerbukan. Jadi diantaranya cukup banyak juga yang gagal menjadi buah. Dan hanya segelintir yang sukses. Melihat fakta ini saya semakin mengerti kesulitan-kesulitan yang dihadapi para petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil panen.
Dapur hidup ini menjadi mirip laboratorium percobaan dimana anak anak bisa saya ajak belajar bersama untuk memahami lebih riil kehidupan tanaman dalam skala kecil dan membayangkannya jika kita menjalani kehidupan sebagai petan

i.

 

 

 

Sekarang mulai ada buah pare yang ukurannya cukup besar untuk bisa saya petik. Buahnya bergerigi berwarna hijau.
Benar kata tukang Trubus bahwa tanaman pare akan mulai bisa kita panen di umur sekitar 3 bulan.

Urban Farming: Hijaunya Selada.

Standard

 

Saya pernah heran mengapa tidak umum orang menumis selada? Padahal sawi jenis lain biasa ditumis orang. Ada yang memberi komentar karena harga selada relatif lebih mahal dibanding sawi jenis lain. Oh ya? Saya baru ngeh. Dan  setelah saya doule check memang benar sih lebih mahal. Tapi mengapa ia harus lebih mahal?  Nah…sekarang saya sedikit agak tahu jawabannya.

Rupanya harga biji selada (Lactuca sativa) jauh lebih mahal dibandingkan harga bibit sawi lain misalnya Caisim. Saya membeli sebungkus biji selada di Trubus harganya sama dengan harga sebungkus biji sawi Caisim. Tapi setelah dibuka,  ternyata jumlah biji selada di dalamnya cuma 1/4 atau bahkan 1/5 jumlah biji Caisim. jadi memang mahal.

Lalu setelah ditabur, hampir semua biji Caisim tumbuh. Tapi hanya sangat sedikit dari biji selada yang tumbuh.
Wah…kalau begini panteslah selada mahal. Terus berikutnya, pertumbuhan Caisim alangkah cepatnya. Sementara Selada lebih lambat.

Walau demikian, selada tetapbermanfaat ditanam.Dan saya tetap semangat mencoba menanamnya dengan system hidroponik. Satu dua mulai ada yang bisa dipanen. Daunnya hijau royo royo nenggiurkan. Terutama yang muda, sangat segar dan renyah. Bagus untuk lalap ataupun untuk bahan salad. siapa yang tidak mau menikmati sayuran  hijau segar langsung dari halaman?
Bertanam sayuran di halaman memang tak pernah ada ruginya.
Yuk kita bikin Dapur Hidup!.

Urban Farming: Tomat Mutiara (Yang Retak).

Standard

 

wpid-2015-11-11-09.54.02.jpg.jpegSetelah sebelumnya saya berhasil dengan Tomat Cherry alias Tomat Grongseng alias Gereng-gerengan yang kecil imut imut, saya ingin dong bisa sukses dengan lebih besar. Jadi apa yang lebih besar? Panennya yang tadinya cuma beberapa biji lalu menjadi berton-ton? Bukaaan!!!!!!. Panennya sih  masih tetap beberapa gelintir buah tomat juga.

Atau lahan perkebunan tomatnya yang tadinya cuma semeter dua meter persegi lalu sekarang menjadi satu hektar? Bukaaaaannn jugaaaa!!!!!!!. Tentu saja saya tidak punya lahan seluas itu. Ini masih tetap lahan yang sama, yang 1×2 meter itu. Letaknya masih di tempat yang sama. Di halaman belakang depan dapur. Contextnya masih sama yaitu Dapur Hidup. Masih memanfaatkan pekarangan yang seadanya untuk mengurangi pengeluaran dapur.

Loh? Lalu apanya yang menjadi lebih besar?.

Yang membesar adalah ukuran buah tomatnya. Ha ha ha. Sekarang saya menanam dan nemanen pohon tomat yang buahnya lebih besar dari jenis Tomat Cherry. Tomat ini adalah tomat yang sering kita beli di tukang sayur untuk nyambel. Tomat sambal. Ukurannya kira-kira segede telor ayam kampung. Disebutnya dengan nama Tomat Mutiara. Barangkali karena permukaan kulit tomat ini halus semulus mutiara.


Tentu saya sangat senang dengan hasil tanaman ini. Saat ini baru hanya beberapa belas buah yang masak menguning dan memerah. Sisanya masih hijau semua.  Tapi tidak apa. Justru bagus. Karena untuk sekali masak saya hanya perlu satu butir atau maksimum dua butir saja. Jika matangnya bergantian, harapannya setiap hari saya akan selalu mempunyai persediaan tomat di halaman untuk keperluan dapur. Duuuh…senangnya.

Mutiara yang retak.

wpid-2015-11-11-09.46.07.jpg.jpegTapi diluar itu, rasa senang rupanya selalu didampingi rasa sedih juga. Ternyata beberapa buah tomat yang tadinya halus mulus bak mutiara itu ada yang retak buahnya.  Kaget bercampur sedih. Galau pisanlah pokoknya. Mencoba mencari tahu dari Google sebab musababnya. Ternyata penyerapan air yang sangat cepat, terlalu banyak dan mendadak oleh pohon tomat membuat isi buah tomat cepat menggelembung tapi tidak diimbangi dengan kecepatan pertumbuhan kulit buahnya. Untuk itu saya bisa simpulkan kesalahannya terletak pada musim kemarau yang terlalu kering dan usaya saya nenyelamatkannya dari kekeringan dengan menyiram air yang terlalu banyak. Terjadilah keretakan pada kulit buah tomat. Harusnya jika menghadapi musim kering seperti itu, sebaiknya saya menyiramnya dengan volume air yang lebih sedikit tetapi lebih sering. Dengan demikian absorpsi air oleh pohon tomat itu hanya aksn sebatas yang ia butuhkan untuk mengembangkan isi dan kulit buah dengan berimbang, sehingga keretakan kulit tomat tidak terjadi.  Ooh..begitu.

Jadi pelajaran moral dari pohon tomat kali ini adalah bahwa jika kita ingin sukses dengan baik, maka selain kita perlu mempersiapkan konten yang baik kita juga perlu menyiapkan kontainer yang sama baiknya dengan konten yang kita sediakan itu.
Pelajaran lainnya adalah bahwa tidak ada shortcut untuk sukses yang sempurna. Semuanya butuh proses dan kesabaran. Instant proses akan menghasilkan kesuksesan partial dengan beberapa kekurangan yang tentu hasilnya tidak bisa kita bandingkan dengan jika kita mencapainya melalui tahapan-tahapan proses yang benar.

Namun demikian walaupun buah tomat saya ada yang retak, saya tetap bersemangat. Saya rasa bertanam sayuran di pekarangan rumah tetap menyenangkan.
Ayo kita bikin Dapur Hidup!!!

Urban Farming: Hidroponik Tahap Ke Dua.

Standard

wpid-20151101_104023.jpgSebelumnya saya sempat bercerita tentang berbagai masalah yang saya hadapi saat melakukan percobaan bertanam hidroponik. Mulai dari tanaman yg pucat pasi karena kurang sinar matahari, selang irigasi yang jebol hingga sumbatan sekam bakar di saluran irigasi.
Untungnya pengalaman saya itu sempat saya share di sini. Sehingga mendapat tanggapan dari teman-teman. Salah satunya adalah dari Mas Purple Garden yang menyarankan saya untuk menanam ulang.
Semua tanaman hidroponik yang kurang sukses itu saya turunkan. CUT-OFF!. Orang bilang agar bisa sukses melompat ke depan, kadang dibutuhkan sebuah langkar mundur untuk mengambil ancang-ancang.
Akhirnya saya coba kembali dari awal. Sangat kebetulan saya sudah menemukan tempat dimana saya bisa membeli rockwool. Jadi semua sekam bakar saya tiadakan dan ganti dengan rockwool. Saya menanam ulang. Kali ini saya bereksperimen dg beberapa jenis sayuran mix. Pakchoy, caisim, seledri, kangkung dan selada.
Saya memastikan semua aliran irigasi lancar. Tidak ada yang mampet. Pemupukan dengan pupuk cair hidroponik A&B saya lakukan dg disiplin seminggu sekali. Cahaya matahari juga optimal.

imageHasilnya ternyata lumayan. Tanamannya sehat dan lumayan subur. Hijau royo-royo. Saking hijau dan menggiurkannya, saat saya tinggal keluar kota,  si Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah,  ternyata sudah memanen sayuran-sayuran itu tanpa memberi isyarat kepada saya terlebih dahulu. Walaupun umurnya belum mencapai 25 hari. Yaah…

image

Tapi nggak apa apalah. Saya tetap senang karena upaya saya menghasilkan cukup sayuran sehat dari halaman rumah sendiri berhasil dengan cukup baik. Dengan memanfaatkan halaman sempit hanya 1 x 1.5 meter saya bisa memanen setiap 25 – 30 hari sekali. Dengan memiliki Dapur Hidup begini, lumayan bisa sedikit mengirit uang belanja dapur. Betul nggak, teman-teman?
Selain itu dengan bertanam sayuran di halaman saya juga ikut memproduksi oksigen bagi lingkungan di sekitar saya..
Banyak untungnya ya…
Yuk kita bertanam sayuran di halaman! Kita ikut berpartisipasi dalam menghijaukan lingkungan tempat tinggal kita.

Buah Gelombang Cinta Yang Membara.

Standard

image

Ada yang masih ingat tanaman Gelombang Cinta? Di sekitar tahun 2006-2008 tanaman Gelombang Cinta (Anthurium plowmanii) ini sempat bikin geger dengan harganya yang fantastik.
Tidak sedikit orang yang mendadak kaya karena Gelombang Cinta. Tapi tak sedikit juga cerita tentang orang orang yang merasa geram karena tanaman Gelombang Cintanya berpindah ke si tangan panjang. Walaupun halaman rumahnya sudah digembok dikunci.
Nah apa kabar Gelombang Cinta sekarang?  Tentu saja harganya sudah sangat sangat jatuh. Tak banyak lagi orang yang tertarik untuk memperdagangkannya.

image

Rupanya di halaman depan rumah saya juga masih ada satu tanaman Gelombang Cinta. Sisa koleksi suami saya di masa itu yang sekarang sudah rada terlantar. Ha ha ha.. saya ingat itu pemberian salah seorang kakak ipar yang tinggal di Malang yang juga kebetulan seorang pencinta tanaman hias.
Saya jadi teringat akan masa kejayaan tanaman ini, ketika suatu pagi mata saya tertumbuk pada onggokan merah di pangkal batang tanaman ini. Huiii…buah Gelombang Cinta. Warnanya merah metalik dan membara. Saya yang sebelumnya tak tertarik pada Gelombang Cinta sekarang jadi senang memperhatikan buah berwana merah itu. Rupanya jika sudah tua, biji-bijinya meletek keluar. Lucu juga ya.
Saya suka tampangnya yang tidak malu -malu.