Category Archives: Gardening

Buah Pare Yang Terlambat Dipanen.

Standard

Ditinggal kesibukan pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari, banyak yang terjadi pada Dapur Hidup saya. Pucuk pucuk selada yang memanjang, daunnya tidak sempat dipanen. Tanaman pakchoi yang juga segera perlu dipanen agar tak ketuaan.  Anakan pohon kemangi sudah bertumbuh dan sudah waktunya di re-potting. Demikian juga anakan pohon tomat cherry. Sudah mulai besar dan sebentar lagi butuh sandaran. Nah…yang paling menarik adalah buah-buah pare yang tidak sempat saya panen. Sudah terlalu tua, kuning dan beberapa diantaranya meledak. Memperlihatkan biji-bijinya yang merah merona.

Ah!. Sayang sekali tidak sempat dimanfaatkan untuk sayur. Padahal sebelumnya saya sempat berjanji kepada seorang teman akan membawakan hasil panen buah pare ini.
Sudah dua kali saya gagal membawakan buah pare buat teman saya itu.

Pertama, saat buah pare sedang banyak-banyaknya.Tapi sayang sekali ketika saya ingat akan memetik, rupanya buah pare sudah dipetik duluan oleh orang rumah dan dibagikan kepada tetangga yang mau. Keduluan deh.

Berikutnya, ya kali ini. Eh…karena tak sempat memetik, buah buah pare ini keburu matang di pohonnya dan meledak. Batal lagi deh saya membawakan buat teman saya.
Saya agak kecewa memikirkannya.Tapi kemudian saya nenghibur diri saya sendiri. Buah yang kematangan ini tetap bisa saya manfaatkan, saya ambil bijinya untuk bibit saja. Selain itu warna warni kuning, jingga dan merah ini juga cukup cantik menghiasi kebun. Kurang optimal memang, tetapi tidak apa apalah. Toh masih ada gunanya juga.

20160120_070458.jpgTapi pelajaran penting yang bisa saya tarik dari sini adalah bahwa segala sesuatu itu butuh “timing” yang tepat untuk mengeksekusi. Waktu yang tepat. Waktu yang pas. Seperti halnya dengan buah pare ini. Jika dipetik terlalu cepat, ukuran dan tekstur serta tingkat kerenyahan buah pare ini tentu belum optimal. Tapi jika kelewatan, dan terlambat memetiknya, bisa jadi sudah keburu dimanfaatkan oleh orang lain, atau mungkin juga sudah menjadi terlalu tua, meledak dan tidak bisa dimasak lagi. Nah… seperti halnya dalam memetik buah pare, dalam kehidupan sehari-hari juga berlaku hal yang sama. Ketepatan mengeksekusi sesuai dengan waktu, sangat dibutuhkan oleh setiap orang yang menginginkan hasil yang optimal.

Ingat akan waktu, saya jadi teringat akan konsep Desa-Kala-Patra (Tempat-Waktu-Situasi) yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Dimana “waktu” merupakan salah satu element penyusun konsep Desa-Kala-Patra ini yang sangat penting untuk dijadikan acuan dalam bertindak dan mengeksekusi sebuah rencana, selain juga elemen ruang dan situasi.

Untuk melakukan tindakan tertentu, setiap orang umumnya menggunakan patokan ini. Menyesuaikan dengan Desa (tempat dimana tindakan itu akan dilakukan), Kala (kapan tindakan itu akan dilakukan) dan Patra (bagaimana situasi/pattern /pola keadaan yang terjadi pada saat dan tempat itu), dengan harapan segala sesuatu prosesnya berjalan dengan baik dan mulus tanpa halangan yang berarti dan akhirnya berhasil dengan baik. Jika salah satu element dari Desa-Kala- Patra ini tidak dipertimbangkan, peluang untuk terjadinya masalah dan ketidaksuksesan tentu akan membesar. Bertindak tanpa memahami kondisi tempat kita berada, hasilnya akan tidak optimal. Bertindak tanpa memahami situasi yang terjadi juga sama. Demikisn juga jika kita tidak memahami waktu.

Salah satu contoh sederhana dalam kehidupan sehari hari, ya seperti apa yang ditunjukkan oleh pohon pare ini kepada saya. Saya tidak memetiknya pada waktu yang tepat. Sehingga buah pare ini keburu masak dan meledak.

Sebuah pengingat bagi diri saya sendiri untuk mengingat kembali Desa- Kala-Patra dalam setiap tindakan dan perbuatan saya.

Dapur Hidup: Kencur, Bumbu Dapur Multi Guna.

Standard
Kencur - tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Kencur – tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Salah satu tanaman bumbu dapur yang menarik untuk disiagakan di halaman rumah adalah Kencur (Kaempferia galanga). Dengan nama daerah Cekuh, bumbu dapur yang satu ini sangat populer penggunaannya di Bali.

Kencur atau cekuh ini bersama dengan Suna (bawang putih) merupakan bahan utama untuk bumbu standard masakan traditional khas Bali yang sangat lezat yang disebut dengan “Basa Suna Cekuh”. Ada banyak jenis masakan Bali yang menggunakan Basa Suna Cekuh. Mulai dari ikan cue atau pindang suna cekuh, ayam mebasa suna cekuh, lindung (belut) suna cekuh, kakul (keong) suna cekuh,  hingga nasi goreng bumbu suna cekuh. Walaupun judul bumbunya Suna-Cekuh, sebenarnya pembangun bumbu ini bukan hanya suna dan cekuh saja, tetapi juga ada bahan bumbu lain seperti kunyit, sedikit bawang merah, cabe dan garam serta daun salam. Hanya saja penggunaan Suna dan Cekuh itu dominan.

Berikutnya, jenis bumbu standard masakan traditional Bali lainnya yang menggunakan kencur adalah “Basa Gede”(bumbu besar). Bersama sama dengan bawang merah, bawang putih, cabe, lengkuas, jahe, kunyit dan garam serta rempah rempah lainnya, kencur juga ikut berperan di dalamnya. Di sini kencur tidak lagi menjadi pemain utama, tetapi keberadaannya sangat penting. Tanpa kencur rasa basa gede yang menjadi bumbu standard sebagian besar masakan Bali akan bubar. Banyak masakan Bali yang menggunakan Basa Gede sebagai bumbu standard misalnya lawar, be siap mekuah, jukut timbul, junkut nangka dan lain sebagainya. Nah..jadipenting ya keberadaan kencur ini?.

Selain sebagai bumbu dapur, kencur juga banyak dimanfaatkan untuk pengobatan traditional. diketahui bahwa kencur mengandung minyak atsiri dan alkaloid. Penggunaannya secara traditional misalnya untuk meredakan batuk,. Lalu ada juga yang menggunakannya untuk meredakan sakit perut dan kelebihan gas di lambung. Ada juga wanita dan ibu-ibu yang memanfaatkannya untuk meredakan rasa nyeri saat datang bulan.

Atas dasar pertimbangan itu, sayapun menanam kencur di halaman rumah. Untuk berjaga jaga jika perlu dan tukang sayur tidak punya. Saya pikir ini penting untuk meneruskan tradisi keluarga. Jaman dulu, Ibu saya juga menanam kencur di halaman. Dan saya masih ingat di rumah kakek saya dulu ditanam kencur dalam pongpongan (buah kelapa bulat yang jatuh dari pohonnya karena bolong akibat dimakan tupai) lalu digantung-gantung di pohon, kelihatan artistik dan natural juga.  Saat ini saya menanamnya di polybag saja. Ada 6 polybag. Lumayanlah.

Menanamnya cukup mudah. Saya hanya memanfaatkan  potongan kecil kencur sisa dapur. Lalu saya tanam rimpang kencur ini di tanah dalam polibag. Berikutnya saya hanya menyiramnya saja. Kelihatannya kencur ini suka tempat yang lembab.

Kencur sekarang siap untuk diambil daunnya untuk  lalap ataupun urab. Dan rimpangnya untuk bumbu dapur maupun obat. Nah… enak kan kalau punya pohon kencur  di halaman?.

Yuk kita  tanam kencur!. Bikin Dapur Hidup dan Apotik Hidup di halaman.

Dapur Hidup: Seledri Sayuran Multi Fungsi.

Standard

 

2015-12-24-18.19.08.jpg.jpegSeorang saudara saya (kakak) saya bertanya, “Hai gimana kabar tomat-tomatmu?“. Rupanya saudara saya itu ikut-ikutan semangat berkebun sayur. Ia mengatakan kalau ia juga terinspirasi oleh tulisan saya tentang Dapur Hidup dan mulai menanami areal-areal kosong di sekitarnya dengan cabe dan tomat. Bahkan berencana akan segera menanam kol juga. Ha ha..yes!. Saya senang.  Jadi lumayan dong ya..saya bisa mengajak-ajak untuk giat berDapur Hidup.

Menjawab soal tomat, saat ini di lahan sempit pekarangan saya sedang tidak ada tomat. Sudah habis. Karena setelah 7x panen pohonnya sudah menua dan meranggas. Saya memutuskan untuk mencabutnya saja. Dan baru mulai membibit lagi.  Tanaman sayuran hijau seperti pakchoi dan selada serta kangkung juga masih kecil-kecil dan belum siap panen. Lalu apa yang ada di halaman rumah kali ini?

Setidaknya hari ini  saya masih punya pare dan timun untuk dipanen  Juga masih ada banyak tanaman bumbu dapur. Apa saja sih?. Salah satunya adalah Seledri (Apium graveolens).

Di Bali orang cenderung menyebut Seledri dengan nama Suladri. Karena awalan kata Su berarti bagus/baik,maka mendengar nama Suladri terasa sangat nyaman di telinga. Kesannya seperti sesuatu yang mengakibatkan hal baik.

Pada kenyataannya, tanaman ini memang memegang peranan penting di dapur. Walaupun fungsinya sebagai pelengkap rasa, seledri dibutuhkan di banyak masakan. Bikin soto enak ditaburi  seledri. Bikin bubur ayam juga enak ditaburin seledri. Bikin perkedel kentang juga pakai seledri. Bikin bakwan jagung, bakwan sayur pakai seledri. Bikin sup pakai seledri. Dan masih banyak lagi jenis masakan, hingga ke kripik kripik pun ada yang pakai seledri.  Seledri dengan rasanya yang khas, memberikan sentuhan tersendiri pada masakan yang kita sajikan.

Selain buat masakan seledri secara traditional juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan perawatan. Sejak kecil kita sering mendengar jika air remasan daun seledri digunakan untuk keramas, dengan maksud untuk membantu menyuburkan rambut. Tak heran jika ada beberapa shampoo juga menggunakan extract seledri di dalamnya. Ada juga wanita yang memanfaatkan tumbukan daun seledri untuk memasker wajahnya agar halus dan cerah.

Seledri juga sangat disarankan untuk dikonsumsi untuk memperkuat penglihatan, karena kandungan Vitamin A-nya yang tinggi.  Lalu kita juga mendengar jika banyak orang memanfaatkan daun seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penurun kolesterol, sebagai diuretika dan sebagainya. Karena manfaatnya yang banyak, tentu akan sangat menguntungkan jika selalu kita siagakan di halaman rumah ya. Saya memasukkan seledri sebagai salah satu tanaman Dapur Hidup saya.

20151224_165551.jpgBenih berupa biji bisa kita dapatkan dari Toko Trubus. Biji seledri berukuran sangat kecil-kecil dan ringan. Dan mudah beterbangan jika kita tidak hati-hati  membukanya. Teksturnya mirip biji ketumbar. Tetapi jika biji ketumbar bentuknya bulat-bulat, biji seledri bentuknya lucu, melengkung lengkung.

Biji-biji ini saya taburkan di dalam pot tanaman hias Lidah Mertua yang tetap saya jaga kelembabannya. Masa tumbuhnya sangat lama. Kalau tidak salah saya harus menunggu selama 3-4  minggu. Tiada kunjung kelihatan gejala-gejala kehidupan sedikipun. Hingga nyaris saya pikir tidak berhasil hidup. Setelah kurang lebih sebulan barulah saya lihat ada titik-titik hijau muncul dipermukaan tanah.  Dan pertumbuhannya pun lambat juga. Sangat berbeda dengan biji tanaman lain seperti Caisim atau Pakchoy yang hanya dalam hitungan  1-2 hari atau maximum 3 hari sudah ada muncul putiknya.

 

 

20150907_073823.jpgSeledri membutuhkan air yang banyak. Jadi kita harus rajin-rajin menyiramnya dan menempatkannya di tempat yang teduh. Jangan dipanggang di bawah terik matahari.

Seledri ini menurut saya adalah tanaman yang sejak benih sudah indah. Saya sangat menyukai bentuk daun seledri. Berbentuk trisula tumpul dan bergerigi. Dan keindahannya ini sudah tampak bahkan sejak tanaman ini masih bayi.

Setelah daunnya minimal 4 buah, saya mulai memindahkannya satu per satu. Sebagian saya tanam di polybag dan sebagian lagi ada juga yang saya tanam dengan system Hydroponik.

SeledriUntuk yang di polybag membutuhkan perhatian khusus, karena harus rajin disiram. Pupuk humus atau pupuk kandang tentu sangat baik. Bisa juga kita menyiramnya dengan air  bekas cucian beras. Untuk hydroponik saya hanya memberikannya pupuk organik cair.

Beberapa minggu setelah itu, tanaman seledri saya sudah mulai bisa dipetik jika dibutuhkan untuk masak. Nggak perlu lagi membeli daun seledri dari tukang sayur. Karena kini saya sudah bisa memetik yang lebih segar dari halaman.

Nah.. membuat Dapur Hidup nggak pernah rugi kan!. Yuk kita semangat membuat Dapur Hidup sekaligus menghijaukan halaman rumah kita.

Go green yuk! Go green!.

Dapur Hidup: Timun, Panen Yang Ke Dua.

Standard

 

20151212_125656.jpgTimun di halaman rumah sungguh pandai membuat kejutan. Setelah minggu yang lalu saya panen – lumayan dapat 6 buah – hari Minggu pagi  saya melihat ada lagi buahnya yang bergelantungan. Tiba tiba kok sudah besar-besar. Cepat sekali.  Wah…terlambat manen lagi nih.

Sebenarnya suami saya sangat suka mentimun yang kecil-kecil dan muda untuk lalap. Kalau sudah sebongsor ini ya.. mulai kelihatan kurang appealing untuknya.

Tapi tidak apa apalah. Jika tidak dipetik sekarang ia akan menjadi semakin tua lagi dalam beberapa hari. Saya petik lagi buahnya satu persatu dengan menggunakan galah yang diujungnya disambung dengan jaring untuk memastikan buah tidak jatuh saat ditarik. Lumayan dapat 7 buah. Sayangnya yang satu keburu dimakan sehingga tak sempat difoto deh.

Kalau dipikir -pikir punya Dapur Hidup itu enak juga. Ada beberapa tanaman dapur hidup yang bisa dipanen berulang. Contohnya  tomat – saya sempat memanen buahnya dalam jumlah yang lumayan banyak (minmal 1/2 kg) sebanyak 7x  sebelum pohonnya tua dan meranggas dan akhirnya saya cabut. Demikian juga pare, terong, bayan, kangkung dan sebagainya. Saya bisa panen beberapakali.  Termasuk timun ini. Kita hanya perlu sekali menanam. Tetapi setelahnya kita bisa memanen beberapa kali.

Nah..yang mau saya tunjukkan di sini adalah bahwa bercocok tanam itu sebenarnya tidak terlalu repot. Hanya sekali saja kok. Dan jika kita sibuk bekerja, kita bisa melakukannya di akhir pekan. Ya…sisanya paling nyiram saja. Jika musim kemarau. Jika musim hujan, alampun ikut membantu kita menyiram.

Jika kita rajin menanam, maka kita bisa rajin memanen juga. Dan apa yang kita tanam, itu juga yang kita hasilkan.Jika kita menanam tomat, tentu kta akan memanen tomat yang berlimpah.Jika yang kita tanam adalah terung,  kelak yang akan kita panen adalah terong. Sangat mirip dengan perbuatan kita sehari-hari ya. Jika kita banyak tersenyum kepada orang lain, maka akan banyak pula senyum yang kita dapatkan kembali.  Jika kita ramah terhadap orang lain, niscaya keramahan juga yang akan banyak kita terima. Menanam perbuatan baik, akan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya jikakeburukan yang kita tanam,makayang kita dapat adalah keburukan juga.

Yuk kita menanam hal-halyang baik!.

Dunia Pinggir Kali: Bayam Liar Yang Segar.

Standard

 

2015-12-13-22.15.52.jpg.jpegSudah lama saya tidak bermain ke tepi kali belakang rumah. Kesibukan pekerjaanlah yang membuat begitu. Nah..mumpung agak senggang, saya memanfaatkan kesempatan.

Rupanya tetangga saya sudah selesai merenovasi rumahnya. Dan juga sekaligus memperbaiki pagar tepi kali yang mulai doyong. Temboknya tinggi juga. Untungnya masih dibuatkan pintu sehingga saya bisa nerobos keluar pagar jika ingin mengamati kehidupan burung-burung liar. Whuiii!!. Bantaran kali sekaligus juga sudah dibersihkan. Terimakasih tetangga!.

Rumput-rumput liar dicabutin dan sampah dibakar. Tanah di bantaran kali jadi lumayan terang. Rumput Benggala sudah tidak ada. Pohon jarak, pohon lamtoro dan pohon pisang ditebang. Tanaman oyong yang sebelumnya merambat di sana juga sudah tidak ada. Terang benderang!. Sebagian tanah masih kelihatan gundul tanpa penutup. Tanah di sekitar sini warnanya agak merah.

Karena hujan turun, rupanya biji-biji rerumputan dan tanaman mulai berkecambah. Ada banyak anak-anak tanaman baru. Senang melihat bantaran kali seperti ini. Sebentar lagi,  anak-anak tanaman dan rumput ini tentu akan tinggi lagi. Musim hujan membuatnya menjadi sangat subur. Selain di bantaran kali ini sangat jarang orang lewat. Tanaman-tanaman ini akan liar dan merajalela tanpa seorangpun yang peduli, hingga populasinya dibatasi oleh pertumbuhan mereka sendiri.

Agak ke sana saya melihat banyak rerumputan mulai tumbuh dan ada banyak sekali anakan bayam liar di sela-selanya. Puluhan jumlahnya. Daunnya besar besar, lebar dan subur. Wah…sebentar lagi tentu banyak ulat yang akan datang tergiur oleh kegendutan pohon-pohon bayam ini. Bayam-bayam itu menyebar di area sekitar 2 meter persegi.  Ya…saya ingat sebelumnya di sana ada pohon bayam liar yang besar dan berbunga banyak. Rupanya saat dibersihkan biji-bijinya yang halus sempat menyebar di situ. Sekarang tumbuh dan mulai besar. Sebentar lagi tentu akan tumbuh bunga.

Selain daunnya yang lebih lebar-lebar, bayam jenis ini rasanya jauh lebih enak dari jenis bayam cabut. Jaman dulu, sebelum jenis bayam cabut diperkenalkan di pasar,saya selalu menanam jenis bayam ini yang sekarang menjadi liar karena tidak umum dibudidayakan lagi.

Sebelum keduluan ulat, maka bayam itu saya petik sebagian. Saya ambil daunnya yang lebar-lebar saja.Lumayan saya mendapat sekeranjang penuh daun bayam liar segar. Bisa buat masak 2-3 kali.

Rejeki dari pinggir kali.

Melon: Sekali Berarti, Sesudah Itu Mati.

Standard

20151123_062001Salah satu potongan sajak yang saya ingat baik dari Chairil Anwar adalah “Sekali berarti, sesudah itu mati!“. Kalimat sang penyair itu terasa memaku kepala saya. Hidup cuma sekali dan sesudah itu kita mati. Jadi kita harus membuatnya berarti. Harus membuatnya bermakna baik bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang di sekitar kita. Barangkali demikian kira-kira maksudnya.

Kenapa tiba-tiba saya teringat kepada kalimat puitik itu?. Nah ..itu gara-gara pohon melon saya.

Saya punya sebatang pohon melon. Ditanam anak saya menumpang di sebuah pot pohon pandan yang tinggi. Ketika pohon melon itu baru tumbuh saya tidak terlalu memperhatikannya. Tetapi ketika ia tumbuh besar, saya mulai terkejut.Waduuh!! pohonnya bisa kemana-mana ini. Mana nanti jika seandainya berbuah,buahnya pasti berat sekali. Akan saya rambatkan ke mana ya?.  Karena takpunya ide yang lebih baik,akhirnya saya memutuskan untukmembiarkan saja pohon melon itu tumbuh. Saya jalarkan ke kawat jalaran pohon timun.

 

Suatu pagi saya lihat pohon itu berbunga.Warnanya kuning dan cantik. Tak seberapa lama bunga-bunga lain bermunculan. Tetapi yang sukses menjadi buah hanya satu. Saya mulai memperhatikan dan memeliharanya setiap pagi.  Buahnya makin hari semakin besar.Saya tetap memeriksa dan mengamati pertumbuhannya. Hingga beratnya tertentu, kawat jalaran timun tidak mampu lagi menyangga beban buahnya. Buahnya pun saya letakkan di pot tanaman pandan. “Tidak apa-apalah diletakkan di situ sambil menunggu buahnya matang“. Pikir saya.

Namun sayang sekali, beberapa hari setelah itu pohon melon saya tiba-tiba layu. Akarnya tercabut oleh anak-anak kucing kecil yang nakal dan bermain-main di dekat batangnya. Pohon melon itupun layu dan akhirnya mati. Yaah…sayang sekali. Saya pikir buahnya belum membesar dengan sempurna.Ia keburu layu dan mati. Saya menunggu sampai pohon itu benar-benar kering barulah akhirnya buahnya saya petik. Ternyata buahnya manis juga.

Pohon melon ini berbuah sekali, setelah itu mati. Ia membuat hidupnya berarti dan berguna bagi saya, sebelum akhirnya ia mati. Terimakasih Melon.

 

Dapur Hidup: Kejutan Dari Si Timun Putih.

Standard

Hai! Saya memanen timun dari halaman. Memanennya tanpa rencana. Gara gara saya baru ngeh kalau ada buah timun yang sudah cukup besar ternyata bergelantungan di tembok bagian atas ketutupan daun yang rimbun. Anak saya yang kecil yang pertama kali melihat dan memberi tahu saya.

Buah timun baru petik dari pohon. Lengkap dengan getah dan duri-durinya. Rasanya jauh lebih segar dari buah timun yang dibeli dari pasar maupun supermarket.

20151206_094050.jpg

Bagaimana ceritanya kok bisa nanem timun di halaman rumah?.  Terus terang sjak awal saya sangat tertarik pada tanaman cucurbitaceae. Timun, pare, oyong, melon, semangka, belewah, beligo, timun suri, labu siam, labu parang dan sebagainya.Saya suka melihat lihat dan  membaca-baca artikel tentang keluarga tanaman ini. Sayang sekali saya tidak punya lahan yang cukul luas agar bisa menanamnya. Tanaman ini butuh area yang luas karena merambat kemana mana. Sementara halaman rumah saya terbatas. Dan sudah penuh pila saya tanami dengan cabe, tomat, terong, pare, kemangi, bawang daun, jahe, kunyit, seledri dan lain lain kebutuhan dapur sehari-hari.

Tapi saya tidak mau menyerah. Jadi dimana akan  saya tanam biji timun ini?  Di pot yang akan saya letakkan di pinggir tembok. Dan saya rambatkan batangnya ke tembok. Mulailah saya membuat rambatan kawat ke tembok.
Tanam biji timun putih. Dua biji, dua biji di setiap lubang dekat kawat. Untuk antisipasi jika ternyata ada yang mati.
Hanya dalam beberapa hari sidah tumbuh. Dan tumbuh terus dengan cepat merambat di tembok. Hanya sayangnya setelah berbunga kok  pada rontok. Tak ada satupun yang saya lihat menjadi buah. Setiap hari saya periksa tapi kok pada rontok semua.

Rupanya buah yang di batang bagian atas tidak kelihatan oleh saya, karena tertutup daunnya yang rimbun. Hari ini tiba tiba anak saya melihat ada buahnya. Benar-benar sebuah kejutan yang menyenangkan di hari Minggu.

Dengan semangat kamipun menyibak nyibak daun tanamam itu. Eh..ternyata ada lebih dari satu. Sebenarnya agak ketuaan sedikit kelihatannya. Kami lebih suka mengkonsumsi timun muda. Sayang waktu ukuran dan umurnya tepat untuk dipanen kami tidak melihatnya. Nggak apa apalah. Nggak terlalu tua juga kok.

Bagaimana cara memetiknya? Tinggi begitu. Anak saya mencoba memetik sebuah dengan galah. Tapi …prakkk! Timunnya retak karena jatuh ke halaman yang ditutup cone block. Yaaah…. sayang ya.
Oke. Anak saya tidak kehilangan akal. Pakai galah disambung serokan ikan yang sudah dicuci terlebih dahulu. Asyiiiik!.

Sekarang buah timun bisa dipetik tanpa pakai acara jatuh. Tapi ada juga sih yang karena ditarik, batangnya ikut tertarik ke bawah dan anak saya bisa menggapai dan memetiknya langsung dengan tangan.
Lumayan dapat 6 buah. Seneng banget hati saya.

Timun (Cucurbitae sp) adalah salah satu tanaman dari keluarga timun-timunan yang umum dikonsumsi manusia. Tanaman merambat ini memiliki daun yang lebar seukuran daun pohon labu siam. Batangnya merambat dengan bantuan sulur sulur. Bunganya kecil-kecil berwarna kuning. Yang sejak awal sudah terpisah mana yang jantan dan mana yang betina.

Buah timun paling enak dimakan mentah mentah. Buat lalapan, teman nasi goreng atau buat acar. Kalau siang hari dan panas panas begini enak juga diserut dibikin minuman. Tambah syrop gula sedikit. Jadilah es mentimun!. Hmmm….segarnya.

Manfaat lain dari timun…bisa juga digunakan untuk mengompres mata yang lelah. Atau digunakan untuk menyegarkan kulit wajah biar segar dan kinclong.

Selain itu mentimun juga berfungsi untuk kesehatan. Banyak orang menganjurkan penderita hypertensi untuk mengkonsumsi mentimun karena khasiatnya yang sangat baik untuk menurunkan tekanan darah.

Intinya, nggak rugilah menanam timun di pagar ataupun dirambatkan di tembok rumah. Banyak untungnya. Minimal mengurangi sedikit belanja dapur, menghijaukan halaman rumah dan sekaligus membantu meningkatkan kwalitas udara di lingkungan tempat tinggal kita. Go green.

Yuk kita tanam mentimun. Kita bikin Dapur Hidup!.

Dapur Hidup: Cukupkah Untuk Kebutuhan Setiap Hari?

Standard

 

20151116_071839.jpgGara gara belakangan ini saya sering mem-post tulisan dan foto-foto tentang Dapur Hidup, seorang teman rupanya penasaran. “Memang halaman rumahmu luas amat ya? Kok bisa nanem berbagai macam sayuran sih?“. Tentu saja tidak. Namanya juga tinggal di perumahan kecil, sudah pasti halaman rumah sayapun sempit. Tapi nyaris semuanya saya manfaatkan untuk berkebun sayur. Nah, kalau halamannya sempit, “Memang cukup ya hasilnya untuk keperluan dapur sehari-hari?“. Begitu pertanyaan berikutnya.

Sebenarnya agak sulit menjawab pertanyaannya. Cukup dan nggak cukup itu sangat relatif ukurannya. Karena ukuran “cukup” bagi si A, belum tentu sama banyaknya dengan ukuran “cukup” bagi si B. Selain itu tergantung juga dari seberapa banyak dan efektif serta efisien kita bisa memanfaatkan lahan sempit yang kita miliki.

Contohnya lahan pekarangan ukuran 3×2.5 meter, kalau kita mau manfaatkan,  akan muat untuk menampung sekitar 60 polybag. Jika ke 60 polybag itu kita tanami tomat semua, setelah 3 bulan tomat -tomat itu akan menghasilkan buah yang meranum untuk bisa kita petik bergantian setiap hari. Jadi jawabannya cukup. Cukup tomat untuk keperluan dapur kita sehari hari. Tapi keperluan dapur yang lain tetap masih perlu dibeli.

Pilihan lain bisa juga kita tanami dengan berbagai macam tanaman lain keperluan dapur. Campur-campur. Misalnya cabe, terong, pare, tomat, kencur, seledri, kunyit, lengkuas, sereh, kemangi dan sebagainya. kalau dicampur begini,tentu  tidak setiap  hari kita bisa memetik buah tomat matang. Tapi sebagai penggantinya kita mungkin bisa memetik terong atau daun kemangi.  Cukupkah itu? Cukup sih nggak ya. Tetapi lumayan membantu mengurangi pengeluaran uang belanja dapur.

Sebagai gambaran saja, dari lahan halaman belakang yang berukuran sekitar 3x 2.5 meter itu yang saya tanami tomat, saya sempat memanen dalam jumlah yang lumayan sebanyak 3 x.

 

20151116_071115.jpgPertama tidak sempat saya timbang. Tapi saya pikir beratnya lebih dari 1 kg.

 

20151121_175345.jpgYang kedua jumlahnya lebih sedikit dan sempat saya timbang. Beratnya 700g.

20151127_091118.jpgPanen ke tiga kalinya  saya juga lupa menimbang. Dan lupa memotret semuanya. Tapi lumayan juga. Barangkali sekitar 700 -750g juga. Sebagian bahkan masih sempat saya bawa ke kantor. Nah..yang saya bawa ke kantor ini kebetulan sempat saya foto.

Itu diluar yang kadang-kadang saya petik tersendiri. Saat ini, pohon-pohon tomat saya masih berbuah cukup banyak, walaupun batangnya mulai menua dan meranggas. Tapi  buahnya masih banyak. Ada yang merah,ada yang sudah orange,kuning dan amsih banyak juga yang hijau. Saya sendiri sudah tidak betah ingin menggantinya dengan tanaman baru. Tapi sayang juga buahnya. Akhirnya saya akan tunggu untuk bisa saya panen sekali lagi.

20151116_073255.jpgJadi buat dapur saya, jumlah buah tomat yang bisa saya petik dari halaman itu cukuplah.

Kalau seandainya lahan yang kita manfaatkan hanya sedikit. Misalnya 3 meter x 20 cm dan mepet ke tembok, kita bisa menanam kurang lebih 15 pohon. Setelah berbuah dan matang,  barangkali kita bisa memetik 1-3 buah seminggu sekali. Cukup juga kan? Apalagi jika masak makanan yang berbasis tomat tidak setiap hari.

Dapur hidup berguna untuk menutupi keperluan dapur kita sehari-hari.  Jika kebutuhan dapur kita ingin tetap terjaga, semai kembali bibit tomat dari buah yang benar benar sudah matang sehingga menjadi tanaman yang siap berbuah 3 bulan ke depannya.  Dengan demikian keberlangsungan dapur hidup tetap terjaga.

 

20151116_072432.jpgDemikian juga jika halaman ukuran 3m x 2.5 meter itu kita tanami terong, cabe atau pun pare. Ceritanya mirip. Apapun yang kita tanam, ya itulah yang akan kita hasilkan kelak. Jika tomat yang kita tanam, ya tomatlah yang kita petik. Demikian juga jika terong yang kita tanam ya teronglah yang kita tuai. Dan sebagainya. Apa yang kita tuai adalah apa yang sebelumnya kita tanam.

Pertanyaan lagi, jika lahan kita terbatas, apakah lebih baik kita hanya menanam satu jenis tanaman sayur saja tapi banyak, atau berbagai jenis tapi sebatang-sebatang? Saya pikir itu sih terserah yang punya pekarangan. Tapi kalau saya yang punya halamannya, saya pikir halaman rumah sebaiknya ditanami dengan beragam tanaman sayur. Mixed Vegetable Gardening. Sehingga yang kita panen setiap hari berbeda. Selain itu kita juga jadi lebih semangat mengurusnya. Karena yang kita lihat selalu berbeda dan tidak membosankan.

Yuk kita galakkan kegiatan Dapur Hidup! Berdayakan dapur sekaligus menciptakan oksigen untuk kesegaran dan kesehatan lingkungan kita.
Hasilnya cukup kok!

Dapur Hidup: Menanam Terong Bukan Karena “Milu-Milu Tuwung”.

Standard

20151116_072426.jpgSalah satu kiasan yang banyak digunakan dalam bahasa Bali adalah “Milu-milu tuwung” (artinya Ikut-ikutan kaya Terong). Kiasan ini digunakan untuk menggambarkan orang yang mengatakan atau melakukan sesuatu karena latah, tanpa alasan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya nih, ikut-ikutan mengcopy pendapat orang lain, padahal ia sendiri tidak terlalu paham apa makna sesungguhnya. Atau untuk orang-orang yang ikut melakukan apa yang orang lain lakukan, padahal ia sendiri tidak tahu mengapa dan apa gunanya ia melakukan hal itu. Tidak mengerti baik dan buruknya. Sehingga orang tua di Bali biasanya memberi petuah kepada anak cucunya,  dengan mengatakan “Sing dadi cening milu-milu tuwung” (terjemahan bebasnya: Jangan suka ikut-ikutan, nak!), dengan maksud agar  jika anak /cucunya mengatakan ataupun melakukan sesuatu, setidaknya ia punya alasan yang jelas mengapa ia mengatakan demikian atau berbuat demikian. Bukan karena sekedar ikut-ikutan.

Nah mengapa tiba-tiba saya teringat akan kiasan lama itu? Ini karena saya sedang memetik buah terung dari pohonnya yang saya tanam di halaman rumah. Terong atau terung dalam bahasa Balinya adalah Tuwung (Solanum melongena). Ketika saya ingat kata “Tuwung”berikutnya yang muncul di kepala saya adalah kiasan itu tadi.

Terong adalah salah satu tanaman yang saya coba tanam di pekarangan rumah. Tentunya bukan karena saya “milu-milu tuwung” atau latah ikut-ikutan orang lain,  tetapi karena saya mempunyai alasan bagus untuk itu. Pertama karena saya memang suka masakan yang berbahan dasar terong. Kedua, karena menurut referensi terong sangat berguna untuk kesehatan, terutama terong yang ungu, karena mengandung bioflavonoid serta Vitamin K yang tinggi.   Berguna untuk mencegah diabetes, mengontrol tekanan darah tinggi dan juga bagus untuk otak. Oleh karenanya, semakin semangatlah saya menanamnya.

Ada beberapa jenis yang saya tahu. Mulai dari terong lalap yang kecil kecil bulat atau lonjong, lalu ada yang bentuk dan ukurannya lebih besar dan gendut, lalu ada juga yang buahnya panjang. Warnanya juga bervariasi. Ada yang putih, hijau atau ungu.

Lalu di mana bisa membeli bibit terong? Saya pergi ke toko Trubus yang  kebetulan letaknya tak jauh dari rumah. Di sana ada beberapa jenis bibit terong yang dijual. Saya memutuskan membeli bibit terong sayur warna ungu. Isinya tidak terlalu banyak. Tapi sudah dicoating dengan baik untuk menghindarkan serangan jamur.  Begitu sampai di rumah, bibit langsung saya semaikan dalam box persemaian.

Dalam beberapa hari bibit tumbuh dengan baik. Setiap hari anakan pohon terong ini saya siram. Setelah daunnya menjadi 4 lembar kemudian saya pindahkan ke dalam polybag.  Saya sangat beruntung karena tanpa saya duga pohon terong ini tumbuh sangat subur. Daunnya lebar-lebar.  Kebetulan saya memiliki pot yang lebih permanen, lalu saya pindahkan lagi pohon-pohon terong ini ke dalam pot. Dalam waktu singkat iapun berbunga.

Seperti halnya tananaman Solanaceae lainnya, bunga tanaman terong berbentuk bintang. Warnanya ungu dengan benang sari berwarna kuning. Sebenarnya sangat menarik dilihat. Sayangnya kebanyakan mahkota  bunganya menunduk ke bawah. Sehingga sulit untuk untuk dilihat.

Tak lama kemudian, bunga bunga itupun menjadi buah. Mulai bergelantungan di sela-sela daunnya yang lebar. Dibutuhkan waktu yang tidak terlalu lamauntukmembuat buah terong ini menjadi besar. Sekarang saya mulai bisa memanennya satu per satu untuk keperluan dapur.

Lalu terong ungu ini bisa dimasak apa saja? Macam-macam sih. Misalnya bisa ditumis. Bisa juga dibuat sambel terong. Buat campuran sayur lodeh. Atau dibikin terong balado. Enak juga dibakar. Atau dibikin Beberok ala Lombok. Atau direbus saja, dijadikan teman lalapan dan dicoel-coel sambel terasi. Rasanya manis dan empuk.
Saya pikir cukup menyenangkan untuk memiliki pilihan sayuran lain dari halaman rumah sendiri selain pare, kangkung, bayam atau pakchoi. Sangat berguna ditanam sebagau selingan. Dengan demikian tanaman terong ini membuat Dapur Hidup saya semakin beragam.

Yuk kita menanam terong sayur di halaman. Kita bikin Dapur Hidup!.

Dapur Hidup: Tauge, Solusi Dapur Di Tanggal Tua.

Standard

image

Tanggal tua. Uang belanja dapur tinggal beberapa ribu rupiah lagi.  Tapi harus cukup untuk beberapa hari sampai suami gajian kembali. Bagaimana caranya bertahan? Mengeluh? Jangan! Komplain pada suami mengapa ia tidak kunjung memberi kita jatah uang dapur yang sedikit kebih besar? Jangan! Ntar dia tambah pusing mikirin kita. Kasihan!. Nah…usulan saya adalah, bagaimana kalau kita masak tauge setiap hari? . Ha ha…

image

Serius nih. Saya membeli kacang ijo 1/2 kg. Harganya Rp 7 000. Saya ingin membuat tauge sendiri.

image

Bagaimana caranya?
1/. Ambil 100g kacang ijo. Cuci bersih dan buang kotoran serta biji biji yang retak atau sobek.
2/. Rendam kacang ijo dalam air bersih sekitar satu hari (kurang lebih 12 jam. Jika ngerendamnya pagi yaa kira-kira sampai matagari tenggelam lah).
3/. Setelah direndam kacang ijo yang tadinya kecil dan kering biasanya agak membesar. Tiriskan. Masukkan ke dalam wadah saringan (saringan plastik atau kaleng dsb tergantung yang ada di rumah. Kalau jaman dulu ibu saya punyanya kukusan bambu). Tutup dengan plastik hitam atau kain hitam. Tempatkan di area dapur yang tidak kena matahari langsung. Gunanya adalah agar tauge yang tumbuh tidak sempat memproduksi clorophil. Agar tauge yang dihasilkam putih bersih. Bukan kehijauan atau kemerahan. Selain itu jika ditutup, perakaran tauge juga menjadi lebih cepat bertumbuhnya.
4/. Siram dan tiriskan setiap 4 jam sekali.
5/. Perhatikan perkembangan akar tauge untuk menentukan kapan saatnya kita panen.

image

Untuk ditumis atau campuran gado gado, soto, pelecing dan sebagainya, tauge bisa dipanen dalam waktu 2 hari. Tapi kalau perlu untuk rawon atau pepes kacang ijo, tauge bahkan sudah bisa dipanen keesokan harinya.
Karena akan saya tumis, saya memanennya setelah umur 2 hari. Lumayan. Dari 100g kira kira saya mendapat  tauge sekantong kresek. Berapakah kira kira harga tauge sebanyak ini jika kita beli di tukang sayur. Sekitar 10 -12 ribu rupiah. Cukup untuk 2x masak. Atau bahkan lebih.
Nah..jika kita punya uang belanja cuma Rp 7 000, kita belikan kacang ijo 500g dan ambil 100g, 100g, lima kali berturut turut lalu jadikan tauge, maka uang itu cukup untuk 5 hari makan keluarga yang kita cintai (bandingkan jika kita beli, biaya yang keluar akan menjadi 5x 10-12 ribu – minimal Rp 50 000. Lumayan kan bisa irit Rp 43 000 ?. Sayurnya tapi tauge terus. Ha ha…).

image

Ini bukan jurus emak-emak pelit lho! Tapi emak-emak irit. Beda kan ya antara pelit dengan irit?. Nah…kalau masih punya uang lebih, bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tannga yang lain.
Pointnya di sini adalah jika kita mau sedikit rajin sebagai ibu rumah tangga,
Saya pikir kita akan selalu bisa menyiasati tanggal tua tanpa harus mengeluh pada suami. 
Yuk kita bikin tauge. Kita bikin Dapur Hidup!