Category Archives: Gardening

Dapur Hidup: Menanam Terong Bukan Karena “Milu-Milu Tuwung”.

Standard

20151116_072426.jpgSalah satu kiasan yang banyak digunakan dalam bahasa Bali adalah “Milu-milu tuwung” (artinya Ikut-ikutan kaya Terong). Kiasan ini digunakan untuk menggambarkan orang yang mengatakan atau melakukan sesuatu karena latah, tanpa alasan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya nih, ikut-ikutan mengcopy pendapat orang lain, padahal ia sendiri tidak terlalu paham apa makna sesungguhnya. Atau untuk orang-orang yang ikut melakukan apa yang orang lain lakukan, padahal ia sendiri tidak tahu mengapa dan apa gunanya ia melakukan hal itu. Tidak mengerti baik dan buruknya. Sehingga orang tua di Bali biasanya memberi petuah kepada anak cucunya,  dengan mengatakan “Sing dadi cening milu-milu tuwung” (terjemahan bebasnya: Jangan suka ikut-ikutan, nak!), dengan maksud agar  jika anak /cucunya mengatakan ataupun melakukan sesuatu, setidaknya ia punya alasan yang jelas mengapa ia mengatakan demikian atau berbuat demikian. Bukan karena sekedar ikut-ikutan.

Nah mengapa tiba-tiba saya teringat akan kiasan lama itu? Ini karena saya sedang memetik buah terung dari pohonnya yang saya tanam di halaman rumah. Terong atau terung dalam bahasa Balinya adalah Tuwung (Solanum melongena). Ketika saya ingat kata “Tuwung”berikutnya yang muncul di kepala saya adalah kiasan itu tadi.

Terong adalah salah satu tanaman yang saya coba tanam di pekarangan rumah. Tentunya bukan karena saya “milu-milu tuwung” atau latah ikut-ikutan orang lain,  tetapi karena saya mempunyai alasan bagus untuk itu. Pertama karena saya memang suka masakan yang berbahan dasar terong. Kedua, karena menurut referensi terong sangat berguna untuk kesehatan, terutama terong yang ungu, karena mengandung bioflavonoid serta Vitamin K yang tinggi.   Berguna untuk mencegah diabetes, mengontrol tekanan darah tinggi dan juga bagus untuk otak. Oleh karenanya, semakin semangatlah saya menanamnya.

Ada beberapa jenis yang saya tahu. Mulai dari terong lalap yang kecil kecil bulat atau lonjong, lalu ada yang bentuk dan ukurannya lebih besar dan gendut, lalu ada juga yang buahnya panjang. Warnanya juga bervariasi. Ada yang putih, hijau atau ungu.

Lalu di mana bisa membeli bibit terong? Saya pergi ke toko Trubus yang  kebetulan letaknya tak jauh dari rumah. Di sana ada beberapa jenis bibit terong yang dijual. Saya memutuskan membeli bibit terong sayur warna ungu. Isinya tidak terlalu banyak. Tapi sudah dicoating dengan baik untuk menghindarkan serangan jamur.  Begitu sampai di rumah, bibit langsung saya semaikan dalam box persemaian.

Dalam beberapa hari bibit tumbuh dengan baik. Setiap hari anakan pohon terong ini saya siram. Setelah daunnya menjadi 4 lembar kemudian saya pindahkan ke dalam polybag.  Saya sangat beruntung karena tanpa saya duga pohon terong ini tumbuh sangat subur. Daunnya lebar-lebar.  Kebetulan saya memiliki pot yang lebih permanen, lalu saya pindahkan lagi pohon-pohon terong ini ke dalam pot. Dalam waktu singkat iapun berbunga.

Seperti halnya tananaman Solanaceae lainnya, bunga tanaman terong berbentuk bintang. Warnanya ungu dengan benang sari berwarna kuning. Sebenarnya sangat menarik dilihat. Sayangnya kebanyakan mahkota  bunganya menunduk ke bawah. Sehingga sulit untuk untuk dilihat.

Tak lama kemudian, bunga bunga itupun menjadi buah. Mulai bergelantungan di sela-sela daunnya yang lebar. Dibutuhkan waktu yang tidak terlalu lamauntukmembuat buah terong ini menjadi besar. Sekarang saya mulai bisa memanennya satu per satu untuk keperluan dapur.

Lalu terong ungu ini bisa dimasak apa saja? Macam-macam sih. Misalnya bisa ditumis. Bisa juga dibuat sambel terong. Buat campuran sayur lodeh. Atau dibikin terong balado. Enak juga dibakar. Atau dibikin Beberok ala Lombok. Atau direbus saja, dijadikan teman lalapan dan dicoel-coel sambel terasi. Rasanya manis dan empuk.
Saya pikir cukup menyenangkan untuk memiliki pilihan sayuran lain dari halaman rumah sendiri selain pare, kangkung, bayam atau pakchoi. Sangat berguna ditanam sebagau selingan. Dengan demikian tanaman terong ini membuat Dapur Hidup saya semakin beragam.

Yuk kita menanam terong sayur di halaman. Kita bikin Dapur Hidup!.

Dapur Hidup: Tauge, Solusi Dapur Di Tanggal Tua.

Standard

image

Tanggal tua. Uang belanja dapur tinggal beberapa ribu rupiah lagi.  Tapi harus cukup untuk beberapa hari sampai suami gajian kembali. Bagaimana caranya bertahan? Mengeluh? Jangan! Komplain pada suami mengapa ia tidak kunjung memberi kita jatah uang dapur yang sedikit kebih besar? Jangan! Ntar dia tambah pusing mikirin kita. Kasihan!. Nah…usulan saya adalah, bagaimana kalau kita masak tauge setiap hari? . Ha ha…

image

Serius nih. Saya membeli kacang ijo 1/2 kg. Harganya Rp 7 000. Saya ingin membuat tauge sendiri.

image

Bagaimana caranya?
1/. Ambil 100g kacang ijo. Cuci bersih dan buang kotoran serta biji biji yang retak atau sobek.
2/. Rendam kacang ijo dalam air bersih sekitar satu hari (kurang lebih 12 jam. Jika ngerendamnya pagi yaa kira-kira sampai matagari tenggelam lah).
3/. Setelah direndam kacang ijo yang tadinya kecil dan kering biasanya agak membesar. Tiriskan. Masukkan ke dalam wadah saringan (saringan plastik atau kaleng dsb tergantung yang ada di rumah. Kalau jaman dulu ibu saya punyanya kukusan bambu). Tutup dengan plastik hitam atau kain hitam. Tempatkan di area dapur yang tidak kena matahari langsung. Gunanya adalah agar tauge yang tumbuh tidak sempat memproduksi clorophil. Agar tauge yang dihasilkam putih bersih. Bukan kehijauan atau kemerahan. Selain itu jika ditutup, perakaran tauge juga menjadi lebih cepat bertumbuhnya.
4/. Siram dan tiriskan setiap 4 jam sekali.
5/. Perhatikan perkembangan akar tauge untuk menentukan kapan saatnya kita panen.

image

Untuk ditumis atau campuran gado gado, soto, pelecing dan sebagainya, tauge bisa dipanen dalam waktu 2 hari. Tapi kalau perlu untuk rawon atau pepes kacang ijo, tauge bahkan sudah bisa dipanen keesokan harinya.
Karena akan saya tumis, saya memanennya setelah umur 2 hari. Lumayan. Dari 100g kira kira saya mendapat  tauge sekantong kresek. Berapakah kira kira harga tauge sebanyak ini jika kita beli di tukang sayur. Sekitar 10 -12 ribu rupiah. Cukup untuk 2x masak. Atau bahkan lebih.
Nah..jika kita punya uang belanja cuma Rp 7 000, kita belikan kacang ijo 500g dan ambil 100g, 100g, lima kali berturut turut lalu jadikan tauge, maka uang itu cukup untuk 5 hari makan keluarga yang kita cintai (bandingkan jika kita beli, biaya yang keluar akan menjadi 5x 10-12 ribu – minimal Rp 50 000. Lumayan kan bisa irit Rp 43 000 ?. Sayurnya tapi tauge terus. Ha ha…).

image

Ini bukan jurus emak-emak pelit lho! Tapi emak-emak irit. Beda kan ya antara pelit dengan irit?. Nah…kalau masih punya uang lebih, bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tannga yang lain.
Pointnya di sini adalah jika kita mau sedikit rajin sebagai ibu rumah tangga,
Saya pikir kita akan selalu bisa menyiasati tanggal tua tanpa harus mengeluh pada suami. 
Yuk kita bikin tauge. Kita bikin Dapur Hidup!

Dapur Hidup: Pare, Si Pahit Yang Ngangenin.

Standard

 

wpid-20151115_095608.jpgDi seberang jalan dekat Pasar Sapi di Sanglah, dulunya ada sebuah tempat makan yang sering saya kunjungi semasa nge-kost di Denpasar. Menu yang paling sering saya order adalah Nasi Campur. Lauknya saya masih ingat terdiri dari  Ayam suwir, Orak-arik Pare dan Telor Menyar (telor rebus dalam bumbu traditional Bali) serta sesendok sambel terasi. Saya sangat terkesan karena masakan Parenya sama sekali tidak pahit.
Terinspirasi oleh masakan di rumah makan itu lalu saya belajar mengolah pare agar tidak pahit. Ternyata caranya sangat sederhana yaitu meremasnya berkali-kali dengan sedikit garam hingga semua cairannya keluar. Pare menjadi  kering barulah di masak. Tentu saja tak perlu ditambahin garam lagi.
Masih terinspirasi oleh masakan di rumah makan yang sama, saya akhirnya mencoba menanam pare di pekarangan rumah saya. Masih dalam semangat membuat Dapur Hidup.
Pare atau Paya atau Bitter Gourd adalah salah satu tanaman sayuran merambat keluarga Cucurbitaceae (keluarga timun timunan) ysng buahnya umum dimasak di dapur Indonesia.

 

Saya membeli biji tanaman ini di Toko Trubus. Kalau tidak salah ingat harganya Rp 15 000 satu pack isinya 22 biji. Saya semaikan mati satu tinggal 21 batang yang tumbuh. Dari 21 pohon itu hanya 19 yang tumbuh dengan baik. Yang dua kurang bagus pertumbuhannya karena kurang mendapatkan sinar matahari.
Tukang Trubus mengatakan bahwa saya akan sudah bisa melihat pohon pare saya berbuah dalam waktu 3 bulan. Hmm…cepat juga ya.
Biji pare yang saya beli rupanya di-coating. Menurut keterangan tukang toko itu agar menjaga biji dari serangan jamur.

Biji pare pertama saya tabur di dalam pot. Dalam waktu 3 hari sudah berkecambah dan akhirnya tumbuh menjadi anakan pohon pare.
Dari sini lalu saya pindahkan ke pot-pot panjang terbuat dari semen  yang sudah saya pasangi kawat agar kelak ia bisa merambat ke pilar rumah.
Tanaman tumbuh subur. Merambat ke atas dengan kecepatan yang berbeda beda. Bahkan cukup signifikan perbedaannya. Walaupun mendapat perlakuan sama, tetapi ada yang tingginya  sudah mencapai 50 cm saat temannya yang lain masih 10 cm atau 15cm. Mengapa?

Apakah karena faktor genetika? Bisa jadi. Walaupun biji biji itu berasal dari bungkus yang sama dan logikanya berasal dari buah yang sama, tetapi variasi genetika dari individu yg sama tetap bisa terjadi. Selain itu tidak menutup kemungkinan jika biji biji ini berasal dari buah atau bahkan pohon yang berbeda. Atau mungkin saja disebabkan oleh fsktor lain di luar genetika.
Salah satunya barangkali karena faktor lokasi penempatan pot. Mendapat intensitas cahaya matahari yang bervariasi. Ada yang terlalu banyak, cukup atau barangkali ada yang kurang juga. Selain itu media yang saya gunakan juga berasal dari karung yang berbeda-beda. Bisa jadi kandungan hara dalam tanah itu berbeda-beda pula. Hmmm…sebenarnya sesuatu yang menarik juga untuk diteliti lebih lanjut.

 

Setelah beberapa minggu pohon pare saya mulai belajar berbunga. Pohon pare ini memiliki dua jenis bunga. Bunga jantan dan bunga betina. Sayangnya yang muncul duluan dan jauh lebih banyak jumlahnya adalah bunga jantan. Jadi begitu mekar lalu gugur. Sedangkan bunga betina baru muncul belakangan dan jumlahnya sangat sedikit.
Walaupun begitu saya tetap senang. Karena pilar-pilar kayu di halaman rumah saya menghijau oleh dedaunan dan penuh bunga kecil-kecil berwarna kuning.  Bunga terdiri atas 5 lembar mahkota dengan benang sari yang kelihatan membulat di tengahnya. Setiap pagi saya memandangi keindahannya dengan takjub. Tawon dan lebah juga mulsi datang berkunjung.

 

Bunga betina bentuknya berbeda dengan yang jantan. Ada bakal buah yang menggelembung di bawah mahkotanya. Bunga betina yang jumlahnya sedikit inu rupanya juga tidak selalu beruntung didatangi lebah pembantu penyerbukan. Jadi diantaranya cukup banyak juga yang gagal menjadi buah. Dan hanya segelintir yang sukses. Melihat fakta ini saya semakin mengerti kesulitan-kesulitan yang dihadapi para petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil panen.
Dapur hidup ini menjadi mirip laboratorium percobaan dimana anak anak bisa saya ajak belajar bersama untuk memahami lebih riil kehidupan tanaman dalam skala kecil dan membayangkannya jika kita menjalani kehidupan sebagai petan

i.

 

 

 

Sekarang mulai ada buah pare yang ukurannya cukup besar untuk bisa saya petik. Buahnya bergerigi berwarna hijau.
Benar kata tukang Trubus bahwa tanaman pare akan mulai bisa kita panen di umur sekitar 3 bulan.

Urban Farming: Hijaunya Selada.

Standard

 

Saya pernah heran mengapa tidak umum orang menumis selada? Padahal sawi jenis lain biasa ditumis orang. Ada yang memberi komentar karena harga selada relatif lebih mahal dibanding sawi jenis lain. Oh ya? Saya baru ngeh. Dan  setelah saya doule check memang benar sih lebih mahal. Tapi mengapa ia harus lebih mahal?  Nah…sekarang saya sedikit agak tahu jawabannya.

Rupanya harga biji selada (Lactuca sativa) jauh lebih mahal dibandingkan harga bibit sawi lain misalnya Caisim. Saya membeli sebungkus biji selada di Trubus harganya sama dengan harga sebungkus biji sawi Caisim. Tapi setelah dibuka,  ternyata jumlah biji selada di dalamnya cuma 1/4 atau bahkan 1/5 jumlah biji Caisim. jadi memang mahal.

Lalu setelah ditabur, hampir semua biji Caisim tumbuh. Tapi hanya sangat sedikit dari biji selada yang tumbuh.
Wah…kalau begini panteslah selada mahal. Terus berikutnya, pertumbuhan Caisim alangkah cepatnya. Sementara Selada lebih lambat.

Walau demikian, selada tetapbermanfaat ditanam.Dan saya tetap semangat mencoba menanamnya dengan system hidroponik. Satu dua mulai ada yang bisa dipanen. Daunnya hijau royo royo nenggiurkan. Terutama yang muda, sangat segar dan renyah. Bagus untuk lalap ataupun untuk bahan salad. siapa yang tidak mau menikmati sayuran  hijau segar langsung dari halaman?
Bertanam sayuran di halaman memang tak pernah ada ruginya.
Yuk kita bikin Dapur Hidup!.

Urban Farming: Tomat Mutiara (Yang Retak).

Standard

 

wpid-2015-11-11-09.54.02.jpg.jpegSetelah sebelumnya saya berhasil dengan Tomat Cherry alias Tomat Grongseng alias Gereng-gerengan yang kecil imut imut, saya ingin dong bisa sukses dengan lebih besar. Jadi apa yang lebih besar? Panennya yang tadinya cuma beberapa biji lalu menjadi berton-ton? Bukaaan!!!!!!. Panennya sih  masih tetap beberapa gelintir buah tomat juga.

Atau lahan perkebunan tomatnya yang tadinya cuma semeter dua meter persegi lalu sekarang menjadi satu hektar? Bukaaaaannn jugaaaa!!!!!!!. Tentu saja saya tidak punya lahan seluas itu. Ini masih tetap lahan yang sama, yang 1×2 meter itu. Letaknya masih di tempat yang sama. Di halaman belakang depan dapur. Contextnya masih sama yaitu Dapur Hidup. Masih memanfaatkan pekarangan yang seadanya untuk mengurangi pengeluaran dapur.

Loh? Lalu apanya yang menjadi lebih besar?.

Yang membesar adalah ukuran buah tomatnya. Ha ha ha. Sekarang saya menanam dan nemanen pohon tomat yang buahnya lebih besar dari jenis Tomat Cherry. Tomat ini adalah tomat yang sering kita beli di tukang sayur untuk nyambel. Tomat sambal. Ukurannya kira-kira segede telor ayam kampung. Disebutnya dengan nama Tomat Mutiara. Barangkali karena permukaan kulit tomat ini halus semulus mutiara.


Tentu saya sangat senang dengan hasil tanaman ini. Saat ini baru hanya beberapa belas buah yang masak menguning dan memerah. Sisanya masih hijau semua.  Tapi tidak apa. Justru bagus. Karena untuk sekali masak saya hanya perlu satu butir atau maksimum dua butir saja. Jika matangnya bergantian, harapannya setiap hari saya akan selalu mempunyai persediaan tomat di halaman untuk keperluan dapur. Duuuh…senangnya.

Mutiara yang retak.

wpid-2015-11-11-09.46.07.jpg.jpegTapi diluar itu, rasa senang rupanya selalu didampingi rasa sedih juga. Ternyata beberapa buah tomat yang tadinya halus mulus bak mutiara itu ada yang retak buahnya.  Kaget bercampur sedih. Galau pisanlah pokoknya. Mencoba mencari tahu dari Google sebab musababnya. Ternyata penyerapan air yang sangat cepat, terlalu banyak dan mendadak oleh pohon tomat membuat isi buah tomat cepat menggelembung tapi tidak diimbangi dengan kecepatan pertumbuhan kulit buahnya. Untuk itu saya bisa simpulkan kesalahannya terletak pada musim kemarau yang terlalu kering dan usaya saya nenyelamatkannya dari kekeringan dengan menyiram air yang terlalu banyak. Terjadilah keretakan pada kulit buah tomat. Harusnya jika menghadapi musim kering seperti itu, sebaiknya saya menyiramnya dengan volume air yang lebih sedikit tetapi lebih sering. Dengan demikian absorpsi air oleh pohon tomat itu hanya aksn sebatas yang ia butuhkan untuk mengembangkan isi dan kulit buah dengan berimbang, sehingga keretakan kulit tomat tidak terjadi.  Ooh..begitu.

Jadi pelajaran moral dari pohon tomat kali ini adalah bahwa jika kita ingin sukses dengan baik, maka selain kita perlu mempersiapkan konten yang baik kita juga perlu menyiapkan kontainer yang sama baiknya dengan konten yang kita sediakan itu.
Pelajaran lainnya adalah bahwa tidak ada shortcut untuk sukses yang sempurna. Semuanya butuh proses dan kesabaran. Instant proses akan menghasilkan kesuksesan partial dengan beberapa kekurangan yang tentu hasilnya tidak bisa kita bandingkan dengan jika kita mencapainya melalui tahapan-tahapan proses yang benar.

Namun demikian walaupun buah tomat saya ada yang retak, saya tetap bersemangat. Saya rasa bertanam sayuran di pekarangan rumah tetap menyenangkan.
Ayo kita bikin Dapur Hidup!!!

Urban Farming: Hidroponik Tahap Ke Dua.

Standard

wpid-20151101_104023.jpgSebelumnya saya sempat bercerita tentang berbagai masalah yang saya hadapi saat melakukan percobaan bertanam hidroponik. Mulai dari tanaman yg pucat pasi karena kurang sinar matahari, selang irigasi yang jebol hingga sumbatan sekam bakar di saluran irigasi.
Untungnya pengalaman saya itu sempat saya share di sini. Sehingga mendapat tanggapan dari teman-teman. Salah satunya adalah dari Mas Purple Garden yang menyarankan saya untuk menanam ulang.
Semua tanaman hidroponik yang kurang sukses itu saya turunkan. CUT-OFF!. Orang bilang agar bisa sukses melompat ke depan, kadang dibutuhkan sebuah langkar mundur untuk mengambil ancang-ancang.
Akhirnya saya coba kembali dari awal. Sangat kebetulan saya sudah menemukan tempat dimana saya bisa membeli rockwool. Jadi semua sekam bakar saya tiadakan dan ganti dengan rockwool. Saya menanam ulang. Kali ini saya bereksperimen dg beberapa jenis sayuran mix. Pakchoy, caisim, seledri, kangkung dan selada.
Saya memastikan semua aliran irigasi lancar. Tidak ada yang mampet. Pemupukan dengan pupuk cair hidroponik A&B saya lakukan dg disiplin seminggu sekali. Cahaya matahari juga optimal.

imageHasilnya ternyata lumayan. Tanamannya sehat dan lumayan subur. Hijau royo-royo. Saking hijau dan menggiurkannya, saat saya tinggal keluar kota,  si Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah,  ternyata sudah memanen sayuran-sayuran itu tanpa memberi isyarat kepada saya terlebih dahulu. Walaupun umurnya belum mencapai 25 hari. Yaah…

image

Tapi nggak apa apalah. Saya tetap senang karena upaya saya menghasilkan cukup sayuran sehat dari halaman rumah sendiri berhasil dengan cukup baik. Dengan memanfaatkan halaman sempit hanya 1 x 1.5 meter saya bisa memanen setiap 25 – 30 hari sekali. Dengan memiliki Dapur Hidup begini, lumayan bisa sedikit mengirit uang belanja dapur. Betul nggak, teman-teman?
Selain itu dengan bertanam sayuran di halaman saya juga ikut memproduksi oksigen bagi lingkungan di sekitar saya..
Banyak untungnya ya…
Yuk kita bertanam sayuran di halaman! Kita ikut berpartisipasi dalam menghijaukan lingkungan tempat tinggal kita.

Buah Gelombang Cinta Yang Membara.

Standard

image

Ada yang masih ingat tanaman Gelombang Cinta? Di sekitar tahun 2006-2008 tanaman Gelombang Cinta (Anthurium plowmanii) ini sempat bikin geger dengan harganya yang fantastik.
Tidak sedikit orang yang mendadak kaya karena Gelombang Cinta. Tapi tak sedikit juga cerita tentang orang orang yang merasa geram karena tanaman Gelombang Cintanya berpindah ke si tangan panjang. Walaupun halaman rumahnya sudah digembok dikunci.
Nah apa kabar Gelombang Cinta sekarang?  Tentu saja harganya sudah sangat sangat jatuh. Tak banyak lagi orang yang tertarik untuk memperdagangkannya.

image

Rupanya di halaman depan rumah saya juga masih ada satu tanaman Gelombang Cinta. Sisa koleksi suami saya di masa itu yang sekarang sudah rada terlantar. Ha ha ha.. saya ingat itu pemberian salah seorang kakak ipar yang tinggal di Malang yang juga kebetulan seorang pencinta tanaman hias.
Saya jadi teringat akan masa kejayaan tanaman ini, ketika suatu pagi mata saya tertumbuk pada onggokan merah di pangkal batang tanaman ini. Huiii…buah Gelombang Cinta. Warnanya merah metalik dan membara. Saya yang sebelumnya tak tertarik pada Gelombang Cinta sekarang jadi senang memperhatikan buah berwana merah itu. Rupanya jika sudah tua, biji-bijinya meletek keluar. Lucu juga ya.
Saya suka tampangnya yang tidak malu -malu.

Urban Farming: Tomat Cherry Kampung Yang Terabaikan.

Standard

 

wpid-20151031_091514.jpgSalah satu tanaman yang menarik hati untuk saya tanam di halaman rumah saya yang sempit adalah Tomat Cherry. Tomat Cherry yang saya maksudkan ini bukan yang biasa kita temui di Supermarket ataupun di toko toko buah lho. Tapi Tomat Cherry yang biasa kita temukan liar dan terbuang di kampung. Mengapa terbuang? Karena dengan diameter 2-3mm, tomat ini terlalu kecil dan dianggap tidak punya nilai ekonomi. Jadi biasanya diabaikan saja oleh para petani yang biasanya menanam tomat dengan ukuran minimal segede telor ayam atau bahkan lebih besar dari telapak tangan.

Nah tomat jenis ini kalau di kampung saya di Bali disebut dengan Tomat Grongseng. Dan kalau di kampung saya di tepi danau Batur, tomat imut-imut ini disebut dengan Gereng-Gerengan. Di masa kecil saya sering menjadikannya mainan karena mirip kelereng.
Selain  itu rasa tomat ini juga agak lebih asam dibanding tomat buah. Jadi mungkin lebih cocok jika dibuat sambal. Tapi buat saya tanaman yang buahnya bulat ini sangat menarik tampilannya. Dan tentunya menarik untuk di tanam di halaman. Saya pikir masih cukup enak juga dijadikan salad.

Saya mendapatkan bibit tanaman ini dari desa Cikidang di Sukabumi, berupa buah matang dari sebuah tanaman terlantar di bawah pohon pisang yang tak seorangpun perduli. Saya ambil buahnya yang tua dan saya jadikan bibit. Ada banyak sekali bibit tanaman yang tumbuh tapi sayangnya halaman saya yang sempit tidak cukup untuk menampung semuanya. Akhirnya hanya beberapa saja yang saja tanam.  Ada yang di pot dekat tembok pagar ada juga yang hanya saya tanam di polybag. Senang rasanya melihat tanaman ini tumbuh, lalu berbunga dan berbuah. Mulai dari butir kecil berwarna hijau, lalu membesar dan kemudian memiliki semburat pigment kuning, jingga lalu merah ranum. Tidak terlalu banyak masalah saat nenumbuhkannya. Walaupun ada sedikit gangguan serangan kutu putih, tapi saya atasi secara manual. Karena saya berkomitment  tidak menggunakan pestisida untuk semua tanaman di pekarangan rumah saya.

 

Hampir tiga bulan kemudian, pohon Tomat Cherry di halaman saya sudah berbuah dan mulai ranum satu per satu. Hati saya sangat senang. Saya pikir mulai hari ini dan berikutnya saya mulai bisa memanfaatkan buah tanaman ini untuk keperluan dapur. Ini termasuk salah satu upaya saya melanjutkan proggram “Dapur Hidup”.

Yuk kita bertanam sayuran di halaman!

Urban Farming: Bayam – Berpacu Dengan Ulat.

Standard

bayam 3Berkebun sayuran,  rasanya tidak lengkap jika tidak menanam Bayam.  Bayam (Amaranthus sp) adalah sayuran daun yang barangkali menempati ranking ke dua yang saya sukai setelah kangkung. Mungkin karena bayam ini sering dijadikan campuran Jukut Kables /pelecing, Tipat Santok (sejenis Gado-Gado ala Bali) ataupun Urab Bali yang sering saya makan semasa kecil. Itu sebab mengapasaya jadi suka bayam.

Jadi, bayam sudah pasti perlu saya tanam sebagai bagian dari proggram “Dapur Hidup” saya.  Mengingat lahan yang sempit, tentu saja jumlahnya sangat terbatas ya. Cuma beberapa polybag saja. Tapi jika nanti panen, cukuplah kira-kira buat sekali masak.

Bayam ini saya semai dari bijinya yang sangat kecil-kecil sekecil telor kutu. Cukup cepat tumbuhnya. Hampir berimbanglah dengan kecepatan tumbuh biji jenis sawi-sawian. Setelah tumbuh dipersemaian, begitu daunnya mulai berjumlah 4 lembar, saya mulai memindahkannya ke polybag satu per satu. Tak berapa lama, tumbuh dan berkembanglah tanaman itu.

????????????

Ulat kecil di balik daun bayam.

Sejak niat bertani sayuran (maksudnya di halaman), saya memutuskan untuk tidak menggunakan pestisida sama sekali. Hidup lebih sehat dengan sayuran tanpa pestisida, bukan? Akibatnya, setiap bangun pagi saya perlu melototin daun-daun tanaman kesayangan saya agar jangan sampai dimakan ulat atau diserang kutu putih. Memang agak susah sih. Karena jika halaman rumah penuh tanaman, dengan sendirinya akan mengundang kupu-kupu datang untuk sekedar singgah atau bahkan diam-diam bertelor di balik daun tanaman kita. Itulah yang terjadi dengan tanaman bayam saya.

Yang namanya bayam, daunnya sangat empuk. Tentu sangat menggiurkan bagi para ulat. Rasanya kok saya jadi balapan ya, cepat-cepatan dengan ulat. Siapa yang duluan bisa memakani daun empuk dan lezat hijau royo-royo ini. Saya atau ulat? Waduuuh!. Sebenarnya bayam-bayamini belum cukup besar untuk dipanen.Jadi sayang rasanya  jika gara-gara ulat,  sayuran ini saya panen sebelum waktunya.  Jadi untuk tahap awal saya coba tanggulangi dengan hanya menggunting daun-daun yang rombeng akibat gigitan ulat itu. Berharap sekalian ulatnya juga nangkring di daun yang saya potong itu.

Bayam 5Walaupun semua daun daun yang rombeng sudah saya gunting dan buang, eh..seminggunya kemudian masih ada lagi daun di tanaman bayam lain yang berlubang-lubang digerogoti ulat.  Saya mulai memeriksa tanaman itu satu per satu. Daunnya helai demi helai. Memang ada beberapa ekor ulat kecil berwarna hijau yang bersembunyi di balik daun-daun bayam itu. Entah ada kupu-kupu lain lagi yang bertandang saat saya sedang tidak di rumah, atau kah seekor dua ekor sisa ulat minggu lalu ada yang berhasil sembunyi di bawah daun-daun bayam. Wah..kalau saya biarkan, lama-lama bisa habis deh daun bayam saya.

Apa boleh buat, sekarang saya tidak punya pilihan.Terpaksa adu cepat dengan ulat. Ambil gunting, lalu saya panenlah daun-daun bayam itu. Lumayan dapat seikat. Saya rasa cukup untuk sekali masak tumis bayam. Rupanya ada sebatang bayam yang memiliki daun rombeng yang ikut serta. Anak saya protes. “Tenang! Daun sayuran yang rombeng digerogoti ulat menandakan bahwa sayuran itu tidak terkontaminasi pestisida” kata saya, sambil melihat-lihat dan memastikan tidak ada seekor ulatpun terbawa serta ke dalam wajan.

Happy gardening!

 

Urban Farming: Belajar Bertanam Hidroponik.

Standard

Trial & Error. Percobaan Yang Belum Sukses  Juga.

Hydroponik 1Di toko Trubus saya melihat ada instalasi Hidroponik ditawarkan. Ukurannya 1 x 1 meter. Dilengkapi dengan bibit tanaman dan pupuk. Harganya 3.5 juta. Mahal tidak ya? Saya sangat tertarik. Suami saya mengatakan  gampang dan murah jika membuat sendiri instalasi itu. “Paralon murah. Yang mahal paling hanya pompa airnya saja” katanya. Dan ia berjanji akhir pekan akan membuatkannya untuk saya.

Akhir pekan berlalu, suami saya rupanya terlalu sibuk  dan benar-benar tak sempat memenuhi janjinya.  Apa boleh buat. Akhirnya saya memanggil tukang bangunan yang biasa memperbaiki atap bocor atau masalah lain di rumah untuk membuatkan instalasi hidroponik. Saya mengajaknya pergi ke Toko Bahan Bangunan * Semangat baja*. Ngapain? Ya membeli paralon dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk membuat instalasi air itu. Ya… kelihatannya memang jauh lebih murah kalau buat sendiri.  Pak Tukangpun mulai mengukur-ukur dan memotong.

Sementara tukang mulai bekerja, saya pergi ke Toko Aquarium membeli pompa air.  Pemilik toko Aquarium memberi saya informasi, pompa yang paling banyak digunakan orang untuk Hidroponik adalah yang 38 watt. Kalau 25 watt terlalu kecil. Banyak yang sudah membeli, tidak puas dan ingin mengembalikan -tapi tentunya pihak toko tidak mau terima kembali. Karena takut salah, akhirnya saya membeli yang sesuai dengan advise tukang Aquarium sajalah. Harganya tidak sampai Rp 300 ribu. Setelah itu berikutnya lalu membeli ember besar buat wadah air.  Nah..sekarang tinggal menunggu tukang selesai bekerja.

Keberatan beban.

Pak tukang membuat instalasi berukuran 1meter x 1.5 meter. Tidak bertingkat. Flat. Satu lantai saja. Karena ini baru belajar, saya tidak ingin membuatnya complicated dulu.

Terdiri atas 11 batang paralon 1 meter masing-masing dilengkapi dengan 6 buah lubang tanam. Jadi totalnya ada 66 buah lubang tanam. Pipa-pipa paralon disambungkan. Diletakkan di atas tiang penyangga yang terbuat dari paralon berdiameter lebih kecil.  System pemasukan air dengan slang dan pembuangan kembali ke ember pun diatur. Pompa sudah dipasang. Sempat terjadi kebocoran di selang-selang kecil di tiap batang paralon tapi kemudian bisa diatasi denga lem. Sekarang instalasi Hydroponik siap digunakan.

Saya membeli media tanam dan pupuk khusus Hidroponik.  Karena rockwool mahal dan stocknya sedang tidak ada, saya disarankan menggunakan Sekam Bakar saja untuk media tanam.  Saya punya bibit Caisim manis dan Pakcoy yang saya tempatkan di wadah gelas plastik air mineral yang dilubangi agar air dan pupuk bisa keluar masuk. Begitu semua tanaman diletakkan di lubang tanam, pompa air dinyalakan. Tak berapa lama tiba-tiba paralon penyangga  agak meleot pada bagian tengahnya. Bocor dan banjir lagi. Hyaaa!!!!.

Rupanya keberatan beban air. 50 liter air dipompakan ke atas, plus sekam. Tidak mampu disangga dengan baik. Hitungan matematikanya dapat score 0 besar. Untung tidak sedang Ujian Nasional. Ha ha ha.  Terpaksalah masing-masing diberi tambahan paralon lagi untuk menyangga agar lebih kuat.

Daun Yang Kuning Muda.

Hari-hari berlalu. Saya menambahkan pupuk Hidroponik A+B ke dalam ember. Tanaman tumbuh dengan cukup baik.  Tapi lama-lama kok daunnya menjadi pucat kuning muda warnanya. Klorofilnya mana? Whuaaaa…! Saya salah meletakkan instalasi hidroponik itu. Di tempat yang kurang sinar matahari. Mana bagian atasnya tertutup pula. Padahal harusnya kena paparan sinar matahari minimal 4 jam sehari ya?. Mengapa kebodohan seperti ini bisa saya lakukan ya? (*garuk-garuk kepala).

Sudahlah. Tak usah meratapi nasib. Segera perbaiki kesalahan. Akhirnya dengan meminta tolong orang-orang di rumah, saya menggotong instalasi air itu  ke tempat yang memungkinkan buat tanaman ini bisa terpapar sinar matahari pagi. Beberapa hari kemudian sebagian daun-daun tanaman sayuran itu mulai ada yang membaik. Level klorofilnya meningkat. Sekarang mulai sedikit menghijau. Walaupun belum royo-royo.

Aliran Air Mampet.

Ujian rupanya tidak cukup sampai di sini. Sekarang saya menghadapi masalah baru.  Aliran air kurang lancar. Penyebabnya Sekam Bakar yang dijadikan sebagai media tanam, keluar dari gelas plastik. Barangkali karena lubangnya kebesaran. Sekam lalu dihanyutkan air dan membuat pompa macet. Pompa harus dibersihkan berkali-kali. Bukan saja merepotkan tetapi juga membuat pertumbuhan tanaman terganggu. Waduuh!. Mungkin saya harus mengganti gelas-gelas plastik ini dengan yang baru, dengan lubang-lubang yang lebih kecil.

Hydroponik 13Pilihan lainnya adalah mencari pengganti media tanam. Kembali saya berkonsultasi ke Trubus. Jika tidak ada rockwool, apalagi media alternatif yang bisa saya pakai?  Sesuatu yang berserat dan porous. Yang penting bisa menyimpan air lebih banyak dan memungkinkan akar bisa tembus. Barangkali serabut kelapa. Tapi di mana saya mencari serabut kelapa?  Aha! Akhirnya saya terpikir akan Dacron.

Bagaimana dengan Dacron? Bukankah Dacron juga porous dan bisa menyimpan banyak air?. Dacron adalah sejenis bahan sintetis mirip kapas yang biasanya digunakan untuk mengisi  bantal, guling, boneka, bed cover atau kerajinan quilting. Saya ada menyimpan sedikit Dacron juga di rumah.  “Coba aja Bu” kata orang Trubus.

Dacron ini tidak akan terbawa arus air. Harapan saya dengan mengganti sekam bakar dengan dacron, air akan menjadi lebih bersih tanpa residu.

Kemarin saya coba mengganti media sebagian dari tanaman itu dengan Dacron. Untuk percobaan saja dulu. Jika tanaman tidak layu dan bisa survive, akan saya lanjutkan kemudian pada tanaman berikutnya. Dalam sehari masih belum kelihatan hasilnya. Tanaman kelihatan kurang segar, tapi tidak layu.

Belum sukses -sukses juga. Banyak kekurangan. Trial & error.

Saya melirik tanaman yang di polybag. Kelihatan jauh lebih segar dan lebih cepat tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Pantang berputus asa.  Tetap semangat dan berusaha terus memperbaikinya.  Semoga kali ini saya berhasil dengan lebih baik.