Category Archives: Gardening

Kisah Koloni Lebah Madu Yang Mampir 3 Jam di Halaman.

Standard

Akhir pekan, saya dan anak saya dibantu orang rumah membersihkan halaman. Menggemburkan tanah lalu menabur pupuk NPK secukupnya pada tanaman bunga agar rajin tumbuh kuncup dan makin sering berbunga.

Saat menyiangi tanaman di bawah pohon Spruce yang ditanam anak saya sekitar 10 tahun yang lalu, tak sengaja saya mendongak ke atas. Terlihat ada benda yang menggelantung di sana. Di salah satu cabang dan daunnya. Apa itu ya?. Sayapun berdiri dan mendekat agar bisa melihat dengan lebih seksama.

Wow!. Sebuah koloni Lebah Madu!. Saya sungguh sangat girang melihat pemandangan itu. Ribuan lebah kelihatan berkumpul di titik itu. Berkumpul membangun sarang baru. Dengan sangat kegirangan sayapun berteriak memanggil anak saya untuk menyaksikan kejadian langka ini.

Tapi anak saya kelihatan malah agak khawatir jika Lebah Madu itu membuat sarang di sana. “Takutnya ntar malah menyengat kita. Mendingan diusir sebelum mereka menetap di situ” kata anak saya. “Tidak!. Lebah tidak akan menyengat jika kita tidak mengganggunya” kata saya. Jadi biarkan saja di situ.

Saya lalu memberi pengertian pada anak saya bahwa kita harus membantu membiarkan lebah berkembang untuk menjaga keutuhan ekosistem. Lebah membantu penyerbukan tanaman kita. Biarkan lebah itu bersarang di tempat yang disukainya.

Halaman rumah kita adalah tempat yang nyaman buat Lebah Madu untuk bersarang, karena kita menyediakan makanan yang berlimpah untuk mereka, berupa bunga bunga yang mekar di halaman.

Anak saya merasa masih belum nyaman. Ia masih khawatir jika lebah- lebih ini mengamuk dan menyerang. Tapi saya tidak memperpanjang lagi kalimat saya. Terlalu malas berdebat. Sayapun melanjutkan pekerjaan saya memberi pupuk pada tanaman. Demikian juga anak saya kembali sibuk mencongkel umbi umbi bunga Lily Hujan / Zepyranthes yang bertebaran tak beraturan di halaman.

Beberapa saat kemudian, kembali saya menengok koloni Lebah Madu di pohon Ciprus itu. Astaga!!!. Ternyata koloni Lebah Madu itu telah menghilang begitu saja. Batang itu sekarang kosong dan bersih. Tak ada lagi ribuan lebah yang bergantung. Jangankan ribuan atau ratusan, ini seekorpun tidak tersisa. Sungguh saya heran dengan kejadian ini. Kemanakah gerangan mereka pergi?. Saya mencoba melihat lihat di pohon lain. Tidak ada. Tidak ada diantara kami yang mengetahuinya.

Pasti ada sesuatu yang tidak tepat, mengapa koloni Lebah Madu itu mengurungkan niat membuat sarang di halaman.

Entah kenapa saya merasa sangat sedih dan menyesal dengan kejadian ini. Saya pikir kami tidak menyambut kedatangan lebah lebah itu di halaman rumah kami dengan cukup baik.

Dan percaya atau tidak… alam sekitar mungkin mampu membaca hati kita. Membaca pikiran kita, lewat gelombang otak yang kita pancarkan. Walaupun lebah lebah itu tidak bisa berbicara dengan kita, tetapi sesungguhnya mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan kita. Mungkin mereka bisa menangkap energy dan gelombang yang kita pancarkan. Mereka membaca kekhawatiran anak saya dan bisa merasakan jika mereka tidak diterima dengan mulus untuk bersarang di halaman rumah ini. Mungkin saja itu penyebab mengapa koloni lebah itu pergi entah kemana. Saya sangat menyesal, tidak menutup percakapan saya dengan anak saya sebelumnya dengan baik. Harusnya saya tegaskan kepada anak saya bahwa koloni lebah ini akan kita terima dengan baik di sini.

Nah…itulah pentingnya berpikir dan berkata serta bertindak yang selalu positive terhadap mahluk lain. Saya harus minta maaf pada koloni lebah ini.

Anak saya mencoba mencari penyebab lain dengan mengatakan bahwa koloni Lebah Madu itu mulai bergerak pergi sedikit demi sedikit sejak ia menyalakan mesin kendaraan yang di parkirnya di bawah pohon Ciprus itu. Bisa jadi. Mungkin karena bising. Sehingga Lebah pun tidak merasa nyaman.

Whua ha ha… mungkin saya terlalu melankolis. Mungkin anak saya benar, bahwa suara mesin kendaraanlah yang membuat Lebah Madu itu merasa kurang nyaman. Kelihatannya ini yang lebih logis dan masuk di akal.

Bawang Daun Hasil Daur Ulang Limbah Dapur.

Standard
Bawang Daun Hasil Daur Ulang Limbah Dapur.

Bawang Daun (Leek), sangat kita butuhkan sehari hari untuk di dapur. Sebenarnya mudah juga sih kita dapatkan di tukang sayur. Tetapi adakalanya saat bikin dadar telor atau masak mie instan pengen nambahin irisan daun bawang ini… buka kulkas…eh stok lagi habis. Melorot deh semangat masaknya. Nyari kemana? Sementara tukang sayur sudah tidak ada.

Tapi sebenarnya kita bisa menyimpan stok Bawang Daun dalam posisi hidup lho!. Caranya? Ya..kita tanam sendiri di halaman.

Kalau membersihkan Bawang Daun, biasanya kita memotong bagian akarnya lalu kita buang. Gunanya untuk memudahkan pembersihan.

Bawang daun

Nah kali ini, bagian akar ini jangan kita buang. Kita potong sedikit agak lebih panjang dari biasany, lalu coba tanam di pot ataupun di tanah. Jangan lupa disiram agar tidak kekeringan.

Tak berapa lama bawang ini akan memberikan daunnya kembali pada kita.

Kita tinggal ngambil seperlunya saat kita butuh.

Selebihnya biar alam sendiri yang menjaganya.

Jika kita sedikit cermat, ada banyak hal yang bisa dimanfaatkan dari limbah dapur. Bukan hanya limbah Bawang Daun ini saja, kangkung, seledri, dan sebagainya… semuanya bisa ditanam ulang kembali.

Yuk kita bikin Dapur Hidup!.

Tangkai Kedondong Yang Patah.

Standard
Tangkai Kedondong Yang Patah.

Saya memindahkan pohon kedondong yang potnya telah kekecilan dan tak layak. Pohon ini sangat rajin berbuah dan banyak-banyak. Akarnya menembus block bata di halaman.

Sebenarnya agak nervous juga saya mrncabutnya, takut akar utamanya putus. Tapi saya tak punya pilihan lain. Pohon kedondong ini butuh pot yang lebih besar.

Rupanya saat saya menarik batangnya dengan sekuat tenaga, ternyata salah satu cabang yang buahnya lebat, patah tangkainya. O o!!!. Beberapa buah kedondong bahkan jatuh menggelinding di bawah. Saya sangat terkejut dan sedih dengan apa yang telah terjadi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Memanen buah kedondong yang tangkainya patah itu? Semuanya ada 14 buah. Rontok empat dan sisa 10 buah. Masih muda semuanya. Nanti saya jadikan jus kedondong saja. Seger!!!.

Atau apa coba saya biarkan saja ya?. Walaupun tangkainya patah, siapa tahu pohonnya masih bisa memberi nutrisi kepada buah-buah kedondong itu hingga tetap membesar dan matang. Nah..nanti setelah matanv barulah saya panen.

Akhirnya saya memilih option yang ke dua. Saya biarkan buah kedondong itu masih menggantung di tangkainya yang patah.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan buah kedondong itu pada layu dan kisut. Buahnya lembek. Saya tidak melihat kemajuan dari pertumbuhan buahnya. Yang terjadi malah kemunduran. Saya tahu buah kedondong ini tak akan pernah mencapai masa matangnya dengan baik. Mengapa? Karena tangkai yang patah tak mampu mengangkut nutrisi yang cukup lewat jaringannya untuk disupply ke buah muda yang masih butuh berkembang. Sehingga buah tak bisa berkembang dengan baik. Selain itu akar kedondong ini setidaknya juga agak terputus, sehingga ia harus berusaha mengais nutrisi dari lingkungannya yang baru dengan ujung akar yang sedikit berkurang jumlahnya. Untuk tetap segar, buah harus tetap terhubung dengan batang dan akarnya, dan akarnya tetap membumi. Jadi “koneksi” alias “keterhubungan” itulah jawabannya!. Dalam hal ini tangkai berfungsi sebagai conector.

Yah… saya pikir memang begitulah pada kenyataannya. Dan hal yang serupa juga terjadi dengan diri kita. Kita membutuhkan “keterhubungan” untuk menjaga diri kita tetap hidup dengan baik. Keterhubungan dengan pekerjaan sebagai sumber rejeki, keterhubungan dengan keluarga, sahabat dan orang orang yang kita cintai sebagai sumber kasih sayang, dan sebagainya hingga keterhubungan diri kita dengan Sang Parama Atma Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari sang diri alias Atma atau roh kita. Kita perlu menjaga keterhubungan ini dengan baik. Karena jika tidak, maka hidup kita tak ubahnya dengan buah buah kedondong yang patah tangkainya itu.

Saya tercenung sejenak mendapati pikiran saya menjalar ke mana mana.

Renungan di kebun.

Anakan Pohon Kari.

Standard

Kemarin, saya dan Asti – seorang sahabat saya, diantar pulang oleh supir dari sebuah acara kantor di Bogor. Rumah Asti lebih dekat. Jadi kami mengantar Asti dulu, baru saya. Karena ngantuk, sepanjang perjalanan saya tidur. Bangun bangun sudah di depan rumah Asti.

Begitu membuka mata, sungguh saya terpesona. Mata saya terbelalak. Whua… pohon Kari!!!. Lebat sekali daunnya. Ada bunga dan buahnya pula. Bahkan ada anakannya. Banyak sekali bertebaran di tanah.

Pohon Kari atau disebut dengan nama lain Pohon Salam Koja (Murraya sp), adalah salah satu tanaman yang daunnya umum dimanfaatkan untuk penyedap masakan sebagaimana halnya dengan daun Salam biasa. Rasanya sedikit berbeda tetapi sama sama sedap.

Sudah lama saya ingin menanam pohon kari. Sayangnya belum menemukan bibitnya. Sempat nanya ke tukang tanaman. Juga kurang beruntung. Tukang tanaman yang di dekat rumah tak punya bibit tanaman ini. Nah…tiba tiba melihat sedemikian banyaknya anakan pohon kari, tentu saja saya jadi girang dan tergeran heran.

Melihat saya terpesona, Asti langsung membaca pikiran saya. Seketika menawarkan, apakah saya mau anak pohon kari itu. Whuaa… tentu saja saya mau. Saya senang bukan alang kepalang. Mimpi saya punya pohon kari menjadi kenyataan.

Sekarang saya semakin yakin akan petuah para tetua “Mimpi akan menjadi kenyataan jika kita terus memfokuskan diri dan berusaha untuk meraihnya” he he he.

Mulailah saya mencongkel tanah di sekitar anakan pohon kari untuk memastikan akarnya ikut tercabut. Lumayan dapat 5 anakan. Sayangnya 2 diantaranya putus akar tunggangnya.

Sampai di rumah, karena hari sudah mulai gelap dan saya tak sempat langsung menanamnya, saya rendam dulu akarnya dengan air biar tetap segar. Besoknya baru saya tanam di pot sambil berdoa dalam hati, semoga bisa tumbuh dengan baik.

Sekarang tanaman ini sudah di potnya dan kelihatan tetap segar. Syukurlah.

Terimakasih Asti.

Siapa Yang Menabur Benih.

Standard

Musim hujan, membuat keriaan baru di alam sekitar. Pohon -pohon tumbuh subur dan biji-biji bersemaian di tanah. Demikianlah tiba-tiba saya mendapatkan banyak anakan bayam di halaman. Tumbuh di pot-pot dan tanah di sekitar tempat saya duluuuu bangeeeet pernah menanam bayam.

Rupanya ketika bayam itu menua, ia mulai berbunga dan berbuah. Biji bijinya jatuh ke tanah. Mereka tertidur di tanah hingga hujan membangunkannya kembali. Whua…senangnya dapat bibit gratisan 😀😍😘

Sayapun memindahkan bayam bayam itu ke pot dan ke bak hidroponik.

Kurang lebih tiga minggu kemudian, pohon-pohon bayam itu mulai membesar dan siap dipanen.

Saya senang dengan apa yang saya dapatkan. Bayam-bayam ini membuat saya merasa seperti mendapatkan durian runtuh. Tetutama karena saya sudah lama tidak menanam bayam, eeh…tiba-tiba nemu anakan bayam di sekitar tempat dulu saya pernah menanam bayam. Sungguh, saya tak pernah mengharapkan rejeki seperti ini menghampiri saya dengan mudah. Tak disangka, dari niat menanam bayam saat itu saja, saya mendapatkan hasil jangka panjang.

Ini mirip yang terjadi dengan hidup. Ketika kita berbuat baik kepada mahluk-mahluk di sekitar kita tanpa mengharapkan hasil apapun, tanpa disangka suatu saat kebaikan pun datang kepada kita dengan caranya sendiri, walaupun kita telah melupakannya. Itulah hukum Karma Pala. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik ataupun buruk akan selalu ada hasilnya, entah jangka pendek ataupun jangka panjang .

Alam membuat catatan tentang baik buruknya perbuatan kita, dan kelak akan mengembalikannya kepada kita.

Jika kebaikan yang kita tanam kepada orang lain dan mahluk sekitar, baik pula yang akan kita tuai. Sebaliknya jika keburukan yang kita tanam kepada orang dan mahluk lain di sekitar, maka keburukan jugalah yang akan kita panen suatu saat nanti.

Saya sangat percaya akan hal ini.

Apotik Hidup: Yuk Kita Tanam Kunyit!.

Standard

Hari ini saya mencongkel sedikit rimpang kunyit dan mengambil daunnya. Lumayan buat masak.

Kunyit alias Turmeric atau Curcuma, adalah salah satu bumbu dapur yang saya tanam di halaman selain Kencur dan Jahe Merah. Alasannya adalah karena tanaman ini memang serbaguna.

Yang pertama, sudah pasti gunanya sebagai bumbu dapur. Di Bali, Kunyit digunskan di sebagian besar masakan dan bumbu traditional dalam jumlah sedikit. Mulai dari Basa Suna Cekuh (kadang dikasih sedikit Kunyit agar tak pucat warnanya), lalu Basa Gede dan Basa Genep. Pastinya sangat berguna dalam pembuatan Nasi Kuning dan Tumpeng Kuning, Jukut Urab, Sate Lilit, Sate Lembat, Lawar dan sebagainya. Gunanya selain sebagai penyeimbang rasa, juga penetralisir keasaman lambung akibat dari campuran bahan makanan lain. Saya rasa demikian juga pada jenis masakan traditional nusantara lainnya.

Selain untuk bumbu dapur, rimpang kunyit secara traditional banyak dimanfaatkan untuk perawatan kesehatan dan pengobatan karena kemampuannya bekerja sebagai natural antiseptik.

Kunyit banyak dimanfaatkan oleh para wanita untuk membuat Loloh ( Jamu) guna membantu mengurangi rasa sakit perut terutama pada saat menstruasi. Juga digunakan untuk pengobatan luka, sakit lambung, untuk menghaluskan kulit dan juga mengurangi bau badan.

Selain rimpangnya, daun kunyit juga bisa dimanfaatkan untuk masakan. Bisa diiris iris tipis buat campuran Telor Dadar atau Nasi Goreng. Bisa juga buat ditumis ataupun untuk masakan lain.

Yuk kita tanam Kunyit!.

Dapur Hidup : Daun Pepaya Jepang.

Standard

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”

=Koes Plus=

Jika ada yang bertanya kepada saya tentang tanaman sayuran apa yang sebaiknya ditanam di halaman jika tak punya waktu untuk merawatnya, maka jawaban saya akan sangat cepat dan pasti : Daun Pepaya Jepang. Beneran!. Ini kayak yang dibilang sama Koes Plus. Tancepin batangnya, pasti jadi tanaman 😀😀😀

Tancapkanlah beberapa batang pepaya Jepang di mana saja di halaman. Asalkan ada sejumput tanah, maka iapun akan hidup dan tumbuh dengan baik. Dan ketersediaan sayuran di dapurpun terjamin.

Ini adalah beberapa dari tanaman pepaya jepang saya yang tumbuh di setiap pojok halaman rumah. Setiap ada sesenti tanah yang nganggur saya tancepin batang tanaman ini. Lumayan banget…

Garden Update: Cincau Perdu.

Standard

Sudah lama nggak sempat ngupdate kebun halaman saya. Kemarau panjang dan serangan penyakit karat serta kutu putih membuat kebun menjadi merana. Jadi saya memilih untuk mengistirahatkannya sebentar untuk membantu memutus penularan penyakit-penyakit itu.

Namun demikian, masih ada beberapa tanaman dapur hidup yang tetap produktif. Misalnya pohon Cincau Hijau. Tetap berdaun lebat. Ever green.

Ada 3 jenis yang saya tanam dan ke tiganya lumayan lebat daunnya. Jadi harus dimanfaatkanlah ya. Kalau tidak toh akan tetap menguning dan layu juga pada akhirnya.

Nah ini adalah salah satunya. Daun Cincau Perdu (Premna oblongifolia). Daun Cincau yang saya baru tahu sejak saya tinggal di Jakarta, karena jenis cincau ini tidak dibudidayakan di Bali.

Daunnya lebar-lebar dan sesuai namanya tanaman ini batangnya tidak merambat, tapi tegak seperti layaknya Perdu. Saya menanamnya dari stek batang yang diberikan oleh salah seorang sahabat.

Garden Update: Curly Kale.

Standard

Setelah beberapa minggu sejak ditanam, hari ini saya memanen cukup banyak daun Kale keriting dari halaman. Karena daun-daunnya sudah terlalu rimbun dan menutupi tanaman lain di dekatnya. 

Sayang setelah dipanen, nggak sempat langsung dimasak. Kebetulan hari ini ada pekerjaan lain yang tak bida ditinggal. 
Kale keriting, adalah salah satu tanaman yang sangat baik dimasukan ke dalan koleksi dapur hidup kita. Sangat mudah disemai, cukup toleran terhadap cuaca panas seperti di Jakarta dan tentunya rasanya juga enak. Selain itu bentuk daunnya yang keriting sangat dekoratif. Selalu tampak cantik dan segar. 

Dapur Hidup: Metik Daun Katu Berbonus Daun Cincau.

Standard
Dapur Hidup: Metik Daun Katu Berbonus Daun Cincau.

Pohon Katunya batangnya sudah nyampai ke atap. Sudah mulai mengganggu” tegur suami saya ketika kami sedang duduk-duduk di halaman belakang. Saya mendongak. Ya. Bener juga. Daun daun Katu itu tampak menyentuh langit-langit beranda. Juga menutupi tanaman Pakchoy putih dan Spearmint saya dan membuatnya terhalang sinar matahari. “Besok saya panen” janji saya. Dan begitulah…..

Hari ini saya memangkas pohon katu yang tinggi itu. Hasilnya lumayan juga setelah dipilah-pilah dan dipilih-pilih. Walaupun lebih banyak yang ketuaan atau menguning. 

Sebaiknya saya memangkas tanaman ini atau mengambil daunnya secara berkala. Misalnya sebulan sekali atau 2 bulan sekali. Nah…saya luput melakukannya. Tapi nggak apa-apalah. Lebih baik telat daripada sama sekali tidak. 

Nah..selagi memilah milah itulah tiba tiba saya sadar saya telah ikut memutus satu tangkai pohon Cincau Hijau saat memangkas batang pohon Katu. Rupanya pohon Cincau itu ada yang melilit batang pohon Katu  jadi ikut terpotong deh saat ditarik. Kasihan amat. 

Sejenak saya terdiam. Hati saya kelu. Tapi akhirnya saya pikir selagi  terpotong tanpa sengaja, biarlah saya manfaatkan saja daun-daunnya. Saya petiki daun-daunnya satu per satu. Nanti akan saya buat minuman Cincau saja.  Segar juga!. Pikir saya.

Sementara daun Katu bisa dimasak dengan berbagai cara. Direbus dicocol sambal terasi, dimasak bening, ditumis atau dibyat campuran Bubur Kalimoto. 


Dan batangnya saya potong-potong, siap untuk ditanam kembali agar kelak semakin banyak daun Katu yang bisa dipetik dari halaman. 

Sedikit untuk mengenang sejarah keberadaan tanaman ini di rumah, saya mendapatkan stek batangnya pertama kali dari papanya Wilsa. Kebetulan saat itu saya diajak mampir ke rumah papanya oleh Wilsa teman saya itu. Papanya itu penggemar tanaman. Dan memenuhi halaman depannya dengan tabaman tanaman bermanfaat. Salah satunya adalah tanaman Katu ini. Terimakasih papa Wilsa.