Category Archives: Gardening

Hydroponik Tanpa Listrik.

Standard

image

Saat ini hydroponik merupakan instalasi andalan saya dalam berkebun karena sangat praktis dan tak menguras tenaga. Sayangnya karena menggunakan listrik untuk menyalakan pompa airnya (walaupun kecil karena pompanya hanya pompa aquarium 35  watt) saya sering was-was jika rumah harus saya tinggalkan kosong dengan listrik tetap menyala.

Karenanya saya mulai memikirkan alternatif lain dalam berkebun hydroponik. Ada nggak ya cara berhydroponik tanpa listrik?.

Teringat jaman dulu di sekolah saya waktu SD, dinding sekolah dihiasi dengan tanaman sirih yang ditanam dalam media air dalam bola lampu yang sudah tidak dipakai. Barangkali cara menanam seperti itu bisa saya jadikan alternatif.

Sangat beruntung, saya melihat sebuah contoh hydroponik dengan menggunakan sumbu dari kain flanel untuk menaikkan air agar selalu basah. Mirip cara kerja lampu teplok. Sangat sederhana.  Peralatan yang dipakai hanyalah baskom untuk menampung air. Styrofoam untuk menutup wadah air dan menjadi tandalan tanaman. Lalu kain flanel bertindak sebagai pipa kapiler untuk mengangkat air dari baskonm ke akar tanaman. Dan tentunya mangkok hydroponik beserta rockwool sebagai media tanam.

image

Sayapun mulai mencoba membeli contoh dan peralatannya. Styrofoam dan alat pemotongnya. Pekerjaan memotong saya lakukan sendiri.  Juga membuat lubang tanam. Tidak sulit mengerjakannya. Di bagian pinggir styrofoam saya kikis sedemikian rupa agar tutup styrofoam tepat bisa nenutup baskom air dan tak mudah digeser. Untuk sumbu saya menggunakan flanel bekas prakarya anak-anak.

Bibit yang saya coba pakai adalah Sam Hong, sejenis sawi yang berdaun lebar berpelepah putih. Saya ambil sebutir biji lalu saya semai di dalam rockwool. Demikian seterusnya hingga saya dapat beberapa. Saya memajai wadah apa saja yang tersedia di rumah dan nganggur. Untuk penampung air, selain wadah air persegi, saya juga memanfaatkan baskom plastik bulat yang bibirnya sumbing dan tak terpakai lagi. Juga ember yang tak terpakai.

image

Seminggu kemudian biji tumbuh. Saya diamkan beberapa hari untuk memastikan daunnya telah tumbuh 3-4 lembar, lalu saya pindahkan ke wadah hydroponik tanpa listrik.

image

Hasilnya? Tidak kalah dengan yang di instalasi hydroponik berlistrik.

image

Daun daun Sam Hong satu per satu tumbuh membesar. Saya menambahkan pupuk cair organik seminggu sekali. Tanaman makin subur.

image

Dan saya tidak was- was lagi meninggalkan tanaman ini, entah karena urusan personal atau urusan kerja ke Bali, ke Jogja ataupun ke negeri tetangga selama beberapa hari, karena saya tidak menggunakan listrik. Yang perlu saya pastikan hanya level airnya saja harus penuh sebelum saya tinggalkan. System kapilaritas yang dilakukan oleh flanel sebagai sumbu akan tetap menjaga ketersediaan air bagi tanaman.

Demikian cerita Dapur Hidup saya kali ini. Yuk kita semangat berkebun hydroponik.  Tak usah khawatir jika tidak ada listrik. Bisa kok!.

Kisah Kol Yang Tidak Membulat.

Standard

image

Dalam setahun terakhir ini saya sudah berhasil menanam berbagai macam sayuran kebutuhan dapur seperti tomat, cabe, sawi hijau, pakchoi, timun, dan sebagainya di halaman rumah saya yang sempit. Lumayan.

Tapi ada juga sayuran yang belum pernah saya coba tanam di Jakarta sebelumnya. Yaitu kol. Karena setahu saya agar tumbuh optimal kol butuh temperatur yang dingin. Sedang Jakarta kita tahu lah ya, temperaturnya lumayan tinggi karena berada di dataran rendah dekat laut. Jadi pertumbuhan sayuran daerah dingin mungkin tak akan optimal di Jakarta.

Tapi tak apa apalah, saya tetap ingin coba.

image

Sayapun membeli bibit kol di toko Trubus. Nah… dapat nih. Cabbage. Brassica oleracea capitata.  Offenham 2. For spring greens or hearted cabbages. Dari Mr. Fothergill’s.

Sampai di rumah, mulai dong saya menyemai ya. Saya tebarkan biji biji kol ini dalam pot semai kecil. Seminggu kemudian ia tumbuh. Dan seminggunya kemudian lagi saya pindahkan ke polybag. Saya tidak menanamnya di instalasi hydroponik karena saya pikir yang namanya kol pasti nantinya akan membulat dan berat. Bisa limbung dan menggelundung jika saya paksakan di tanam di sana.

Tanaman kol ini bertumbuh dengan baik. Saya melihatnya setiap pagi. Daunnya yang tadinya cuma 4 lembar bertambah satu per satu. Mulai banyak dan membesar. Hijau royo royo. Tapi masalah saya cuma satu…

Setelah sebulan dua bulan berjalan, mengapa kol ini tidak membulat? Batangnya meninggi tapi tetap tidak mau membulat. Walaupun bentuknya indah seperti bunga besar berwarna hijau. Menggiurkan juga.

Akhirnya karena saya pikir kol ini tidak akan membulat dan saya sudah gagal, akhirnya di akhir bulan ke dua, satu per satu sayuran itu saya panen untuk ditumis, dilalap atau sekedar dicampur dengan mie goreng.

image

Belakangan saya baru ingat untuk mencari informasi mengenai “mengapa kol saya tidak membulat?”. Saya baru ngeh jika ternyata tanaman kol sebaiknya dipanen pada umur 4-5 bulan. Bukan umur 1-2 bulan. Hadeeehhhh!!. Kolnya sudah kepalang dipanen dan dimasak semua deh…

Jadi,  sebenarnya kol itu tidak membentuk bulatan/crops belum tentu karena ia tidak membentuk, tapi karena belum membentuk. Bisa jadi jika saya tunggu dulu dan tidak tergesa-gesa dipanen kol itu ada peluang untuk membentuk bulatan.
Dan kalau begitu, sebenarnya saya gagal karena saya pikir saya gagal. Bukan karena saya benar-benar gagal.

Nah itulah bahayanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang hal seperti itu terjadi juga pada diri kita.  Terkadang kita menyangka diri gagal. Pikiran mengatakan kita gagal, lalu seluruh anggota tubuh dan perasaan kita ikut mengkonfirmasi kegagalan itu. Rasa putus asa datang. Kita merasa tidak ada gunanya lagi meneruskan upaya yang telah kita lakukan sebelumnya. Karena toh gagal juga. Lalu kita berhenti berusaha. Dan mulai mempreteli satu per satu element element pendukungnya hingga rusak dan akhirnya memang benar benar  gagal.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pertama karena kita tidak cukup sabar mengikuti proses yang terjadi. Kita ingin instant sukses. Padahal kita tahu semua butuh proses. Tidak ada shortcut for succes.

Kedua, kita tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang hal yang sedang kita lakukan. Kita pikir apa yang kita lakukan sudah cukup, namun ternyata di luar itu masih ada hal-hal penting lain yang juga harus dilakukan.

Ketika kita menyangka semuanya telah berakhir dan gagal, ternyata ada jalan kesuksesan yang tak terlihat oleh kita, hanya karena kita kurang sabar dan kurang membekali diri dengan pemahaman yang memadai.

Dapur Hidup: Lengkio, Si Bawang Mini.

Standard

image

Suatu kali saya berbelanja di pasar traditional di daerah Ciledug. Saat membeli kebutuhan dapur saya melihat ada seikat tanaman kering tergantung. Mirip bawang merah.Tapi kok sangat kecil?. Dan warnanya juga bukan merah.

Mirip kucai, tapi ini kok dijual dengan umbi-umbinya?. Lagipula daunnya kelihatan berbeda juga dengan Kucai, walaupun sepintas kelihatan agak mirip juga. Sudah terlalu kering dan menghitam. Jadi saya sulit mencari perbedaannya. Tapi saya  yakin tanaman itu bukan Kucai.

Saya belum pernah melihat tanaman itu sebelumnya. “Apa itu?”tanya saya keheranan. “Ohhh… itu Lengkio, Bu” kata pedagang itu. Saya semakin heran. Karena belum pernah mendengar nama tanaman itu.

“Untuk apa?” tanya saya lagi. Ibu pedagang itu menjelaskan bahwa Lengkio bisa digunakan untuk campuran berbagai masakan. Misalnya buat asinan, mie goreng, nasi goreng dan sebagainya bahkan umum juga ditumis. Oooh…begitu ya. Saya belum pernah tahu sebelumnya.

Karena penasaran, saya menyatakan  keinginan  saya untuk membeli. Saya lihat masih ada sisa sisa kehidupan di tanaman kering itu. Saya pikir jika saya tanam lagi mungkin bisa. Buat nambah koleksi Dapur Hidup saya. Akhirnya tanaman yang sudah sangat sekarat itupun saya bersihkan dan tanam kembali di rumah.

Demikianlah ceritanya, bagaimana saya mendapatkan bibit Lengkio saya yang pertama. Sekarang saya memiliki beberapa rumpun tanaman Lengkio yang bisa saya ambil setiap saat saya membutuhkannya.

Lengkio atau  Lo kio, atau Chives (Allium Schoenoprasum) adalah keluarga bawang-bawangan yang berukuran mini. Memiliki umbi lapis yang serupa dengan bawang merah. Bedanya, bawang kecil ini berwarna putih kehijauan, sedangkan bawang merah jika kering lapis umbi terluarnya berwarna merah.

Daunnya panjang, sekitar 10-15 cm. Baru saya perhatikan, bentuk daunnya cylinder seperti daun bawang merah. Bukan pipih seperti jenis daun bawang putih. Nah jadi di sana letak bedanya dengan daun kucai. Daun kucai berbentuk panjang gepeng dan baunya juga lebih mirip bawang putih. Sedangkan Lengkio lebih dekat ke bawang merah.

Saya sudah pernah mencoba menumis. Rasanya lumayan juga sih. Enak.

Satu lagi dari Dapur Hidupku.

Seusai Panen.

Standard

Panen! Semua orang sangat senang dengan musim ini. Musim dimana jerih payah kita menanam mulai terlihat dan menghasilkan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Tomat dan cabe memerah, buah pare, terong dan timun membesar, daun daun bayam, kangkung, pakcoi, caisim, pagoda, kailan dan sebagainya tumbuh subur dan lebar lebar menghijau. Semua senang.  Segar dan cerah sepanjang mata memandang. Bahkan yang tidak menanampun ikut senang jika melihat hasil panen.

Tapi adakah yang teringat bagaimana pemandangan setelah musim panen?  Tidak ada lagi hijau, merah , kuning ataupun ungu cemerlang. Yang ada hanya warna kuning, coklat melayu. Kering dan kusam. Saya rasa pemandangan ini lebih banyak menjadi keseharian para penanam ketimbang penikmat.

Saya membicarakan ini karena kebetulan saat ini instalasi hydroponik di halaman saya sudah melewati masa panen. Tampak kotor dengan sisa sisa batang yang habis dipetik, bekas-bekas akar, daun kering, bekas rockwool yang berlumut dan hydroponik cup yang kotor. Apa yang harus dilakukan?
Ya… saya harus membersihkan instalasi serta mendaur ulang penggunaan mangkok tanaman. Wah.. ini bagian “dirty job”nya yang saya pikir mungkin kebanyakan orang malas melakukannya. Semua pengen saat bagian panennya saja. Tapi karena saya masih pengen menanam sayur lagi, baiklah saya harus tekun  juga membersihkannya biar bisa dipakai lagi dengan baik.
Inilah biasanya yang saya lakukan seusai panen…

1/ Membersihkan instalasi hidroponik.

image

Instalasi ini perlu dibersihkan dan diperiksa secara berkala untuk memastikan semua aliran air berjalan lancar. Terutama jika kita menggunakan sekam sebagai media tanam dan untuk memegang system perakarannya, endapan sekam bisa jadi menyumbat aliran air.
Pertama angkat semua mangkok bekas tanaman. Bersihkan bagian dalam pipa dan angkat semua sisa sekam, sisa akar maupun lumut yang menempel. Semprot bagian dalam dengan selang dan buang airnya.
Sikat bagian luar dan bersihkan sisa sisa daun kering yang menempel di dinding pipa.Bilas dengan air bersih.

2/. Membersihkan mangkok tanaman. 

image

Mangkok tanaman hidroponik sangat penting peranannya dalam menunjang tanaman. Karena nenempel dengan rockwool dan akar tanaman, mangkok akan penuh dengan sisa-sisa akar, bekas potongan batang, daun kering dan bahkan lumut, rockwool ataupun sekam jika kita menggunakan sekam.
Keluarkan semua residu tanaman dan media dari dalam mangkok. Cuci di bawah air nengalir. Sikat kotoran dan lumut dengan sikat gigi bekas. Untuk membantu memastikan mangkok bersih dari bakteri dan jamur, setelah disikat bersih mangkok -mangkok hidroponik ini saya letakkan di ember lalu seduh dengan air panas. Saya rendam beberapa menit barulah kemudian saya angkat dan tiriskan hingga mangkok-mangkok itu kering. Nah sekarang mangkok-mangkok itu bersih deh dan siap digunakan untuk menanam lagi.

3/. Polybag.

image

Jika kita bertanam dalam polybag atau botol bekas dan sebagainya yang terbuat dari plastik, sebenarnya kita bisa melakukan hal yang sama jika kita mau.
Tergantung jenis tanamannya, menurut pengalaman saya rata-rata polybag masih bisa kita pakai berulang 3-4 x siklus tanam sebelum akhirnya getas, sobek dan menjadi sampah.
Cara yang saya lakukan sama saja. Saya keluarkan tanah dan bekas tanamannya. Lalu saya lipat rapi lagi atau kadang-kadang jika lagi rajin dan punya waktu saya cuci di air mengalir lalu keringkan. Lalu saya pakai untuk tanaman baru saat bibit sayuran baru sudah tersedia. Atau jika bibit sudah ada, saya langsung isi lagi dengan media baru dan bibit sayuran baru.

Saat ini saya masih belum bisa lepas dari penggunaan barang-barang berbahan dasar plastik. Tentu banyak alasannya. Mulai dari ketersediaan barang pengganti berbahan baku lain yang lebih ramah lingkungan yang  belum tentu ada hingga masalah biaya serta efisiensi. Tapi saya pikir, walaupun begitu saya masih bisa peduli terhadap lingkungan dengan cara lain.

Kita bisa membantu mengurangi sampah plastik tidak saja dengan mengurangi penggunaan plastik, tetapi juga dengan menggunakan benda benda plastik itu di sekitar kita itu berkali-kali.

Yuk kita cintai lingkungan hidup kita. Ciptakan lebih banyak ruang hijau. Lepaskan lebih banyak oksigen di halaman rumah dan recycle benda-benda berbahan dasar plastik.

Final Execution.

Standard

Hari ini libur. Yeiiii!.Benar benar libur. Saatnya melakukan hal yang menyenangkan dalam hidup. Mengurus tanaman di halaman. 
Ide ini sebenarnya sudah diniatkan sejak beberapa hari yang lalu. Gara garanya waktu itu saya ingin memotret cabe saya yang berbuah sangat lebat dan banyak yang memerah. Tapi malang nasib saya, begitu saya mengambil hape buat motret, lho???? Pada kemana ya buah cabe saya yang merah-merah itu kok pada menghilang dari pohonnya? Tinggal cuma sedikit yang tersisa…
Saya pun bertanya kepada orang rumah, siapakah yang sudah memetik cabe saya tanpa ijin? Tak seorangpun mengaku. Heran kan?
Setelah malam akhirnya teka tekinya terpecahkan. Ternyata pemetiknya adalah pak Supir yang setiap hari mengantarkan anak anak pulang pergi ke sekolah. Dengan muka tanpa dosa Pak Supir bilang “Saya Bu yang metik. Soalnya kasihan cabenya sudah merah-merah. Ketuaan.Ntar keburu jatuh atau dipatokin ayam. Semuanya sibuk. Jadi saya bantuin panen. Terus saya sudah simpan di dapur, Bu”. Yaaaah….gagal deh motret-motretnya.
Tapi memang benar sih, karena terlalu sibuk belakangan saya tidak sempat memetik hasil tanaman lagi. Melihat cabe berbuah banyak dan merah merah saya sangat senang dan membiarkannya begitu saja menjadi penghias halaman. Saya lupa kalau cabe dan tomat dan apapun itu di funia ini punya yang namanya batas waktu. Jika saya biarkan dan tidak petik-petik, akibatnya banyak tanaman saya yang kadaluwarsa….
Buah cabe yang kering di pohon atau jatuh ke tanah.

image

Buah tomat dengan nasib yang sama. Tua, kering dan keriput di pohon. Atau jatuh ke tanah.

image

Kangkung yang ketuaan. Batangnya menjalar kemana mana dan berbunga. Tentunya tidak ada diantara kita yang ingin masak bunga kangkung bukan?

image

Kailan juga mulai nenunjukkan putik bunganya. Aduuuh ketuaan ini.

image

Demikian juga pohon kemangi. Sudah tua tua. Banyak bunganya ketimbang daunnya.

image

Bayam telat memetik. Pada dimakanin ulat. Aduuuuh….

image

Tidak kalah kadaluwarsanya si timun padang. Pada merah merah dan berjatuhan di tanah.

image

Semua itu menyadarkan saya bahwa urusan memanen yang merupakan sebuah final execution dari sebuah proses berkebun,  kelihatannya sepele dan mudah, tetapi sebenarnya bisa mengakibatkan kegagalan dan kesia-siaan jika saya tak mampu mengeksekusinya dengan baik dan tepat waktu.

Sayuran, cabe, tomat, timun adalah bahan baku makanan. Menyia-nyiakannya dengan terlambat memanen sama saja dengan menyia-nyiakan makanan. Bukan perbuatan terpuji. Jika tak sempat memetik sendiri harusnya lain kali saya mempersilakan orang lain / tetangga untuk memetik dan memanfaatkannya.

Berikutnya, jika kita melihat kembali proses membibit, menanam, memelihara tanaman sayuran ini, maka sebenarnya saya sudah membuang-buang waktu saya selama ini dengan sia sia hanya gara gara kurang disiplin pada bagian akhir dari sebuah proses menanam. Karena ujung-ujungnya hasilnya tidak saya manfaatkan juga. Idealnya investasi waktu kita, jangan sampai sia sia hasilnya hanya gara gara kita terlambat mengeksekusi final prosesnya.

Sambil membersihkan instalasi hidroponik , saya berpikir-pikir. Dalam kehidupan serta pekerjaan sehari-hari pun sebenarnya hal ini berlaku juga. 
Sering sekali kita sudah memiliki gagasan yang menarik, sudah membuat perencanaan dengan baik, juga sudah mengeksekusinya dengan tidak kalah baiknya hingga hampir rampung. Di ujung tahap penyelesaian, mulailah kita lengah dan lupa daratan dan tidak mempush diri kita lagi untuk menyekesaikannya dengan baik. Apalagi jika sempat mrlihat hasilnya yang bagus pada saat 90% hampir rampung, kita menyangka bahwa hasil yang bagus itu akan berlanjut begitu saja. Padahal tidak ada yang menggaransi seperti itu. Untuk mendapat hasil yang bagus, kita harus mengeksekusi dengan sama baiknya di setiap tahap dari tahap awal hingga tahap final.

Selain tetap fokus di final execution,  kita juga tetap perlu mengeksekusi dengan mempertimbangkan waktu. Ibaratnya hasil tanaman yang memiliki batas usia – dimana jika tidak cepat dipanen nanti keburu terlalu tua, kering, jatuh, atau busukvatau dimangsa mahluk lain – segala seduatu di dunia ini punya batas waktu yang menuntut kita untuk segera melakukan final eksekusi sebelum segala sesuatunya berubah. Entah itu perubahan karena jaman, karena trend maupun perubahan prilaku masyarakat di sekitar. Jika tidak kita eksekusi dengan baik pada waktu yang tepat di tahap final, tidak perduli betapapun bagusnya gagasan, perencanaan dan eksekusi di tahap awalnya, maka keseluruhan project itu tetap tidak akan berhasil dengan baik.

Dapur Hidup: Menanam Sendiri Sayuran Sawi Pagoda.

Standard

Salah satu tanaman sayuran  yang cukup menarik untuk dimasukkan dalam daftar tanaman Dapur Hidup adalah Tatsai. Tukang sayur menyebutnya dengan nama Sawi Pagoda atau terkadang Wuta.

image

Disebut begitu barangkali karena bentuknya memang lucu mirip pagoda terbalik.  Daun-daunnya melingkar tersusun rapi dari tengah makin ke pinggir makin tinggi.

image

Jenis sawi ini jika dimasak terasa lebih enak dibandingkan dengan sawi lain. Selain itu harganya juga mahal. Saya pernah membeli 1/2 kg diberikan harga Rp 20 000. Mahal kan?  Jadi saya memutuskan untuk mencoba menanamnya. Kebetulan sekali saat bermain ke sebuah kebun hidroponik di seputaran Bintaro, saya ada melihat biji sawi pagoda dijual juga. Jadi saya belilah bijinya.

image

Setelah bijinya tumbuh, sebagian ada yang saya tanam di polybag dan sebagian ada yang ditanam hydroponik. Sayangnya ketika saya teelalu sibuk, beberapa tanaman ini agak terganggu pertumbuhannya. Entah karena gangguan ulat, kekurangan nutrisi ataupun rusak dikoyak hujan yang terlalu deras. Tapi beberapa masih ada yang cukup sehat untuk meneridkan hidipnya hingga saat panen tiba.

 

 

 

 

 

 

Selagi sempat, kemarin saya membersihkan akar tanaman ini dari lumut, menambahkan pipik cair dan memberi tambahan rockwool di pangkalnya agar lebih kokoh dan tidak goyang saat diterpa hujan yang sering turun deras belakangan ini.
Saya senang menanam sayuran seperti ini. Selain sangat terkontrol, tentunya bebas pestisida.Lebih aman untuk dikonsumsi keluarga. Selain itu, lumayan banget buat mengurangi belanja dapur.
Kita tanam yuk!.

Urban Farming: Daun Pepaya Jepang.

Standard

Sekitar satu setengah tahun yang lalu saya pernah menulis tentang beberapa jenis sayuran yang relatif baru di dapur saya. Nah diantara sayuran yang belum lama saya kenal itu, saya ada menulis Daun Pepaya Jepang. Saya membayangkan pohonnya  tentu seperti pohon pepaya namun kecil-kecil. Saya tak pernah melihat sebelumnya.

Tak disangka, rupanya setahun setelah itu saya mulai menanam pohon Pepaya Jepang ini di halaman rumah saya dalam rangka menopang program ‘Dapur Hidup’ saya. Walaupun tinggal di daerah perkotaan dengan halaman sempit, saya tetap berusaha mengurangi ketergantungan akan kebutuhan dapur, jika tidak bisa disebut sebagai berupaya melakukan swa sembada kebutuhan dapur dari halaman sendiri.

Bagaimana asal muasalnya, mengapa saya bisa memilih tanaman ini sebagai salah satu penghuni Dapur Hidup saya?. Nah.. ini sebenarnya bermula dari sebuah ketidak sengajaan.

Pak Sopir yang mengantarkan saya tiba-tiba bertanya saat kami sedang di jalan “Ibu! Tahu nggak Ibu sayuran Daun Pepaya Jepang?” tanyanya. Ia memang suka mengajak saya ngobrol atau menanyakan pendapat saya tentang berbagai hal yang menarik perhatiannya. Tentang apa saja.

Oh? Saya yang sedang asyik bermain games di jok belakang langsung menutup hape saya. Tentu saja saya tahu. Saya adalah salah seorang ibu rumah tangga yang sangat terkesan akan sayuran itu. Bentuknya mirip daun pepaya tetapi kecil-kecil, sedangkan rasanya seperti daun singkong dan tidak pahit sama sekali. Jadi lumayan membantu banget kalau lagi pengen masak daun pepaya tapi nggak mau pahit.

Pak Supir lalu bercerita, bahwa neneknya yang tinggal seorang diri dulunya sering berjualan daun pepaya jepang untuk menyambung hidupnya. “Ooh? Sekarang masih?” tanya saya. “Sekarang sudah tidak lagi, Bu. Tapi pohonnya masih ada. Ibu mau? Nanti saya bawain” katanya menawarkan. Tentu saja saya langsung mengiyakan dengan senang hati. saya memang sudah lama penasaran akan wujud pohon pepaya Jepag ini.Karena yang saya tahu hanya daunnya dari tukang sayur.

Akhirnya esok harinya Pak Supir membawakanlah saya batang tanaman pepaya jepang ini ke rumah utnuksaya jadikan bibit.  Oooh..jadi begini bentuknya!. Saya mengamat-amati batang tanaman itu.

Bentuknya rupanya mirip dengan batang Ubi Kayu alias singkong. Tapi menurut Pak Supir tanaman ini tidak berumbi. Jadi tidak dibudidayakan orang untuk umbinya. Tidak pula berbuah seperti pepaya.  Hanya berbunga saja kecil-kecil mirip bunga tanaman Jarak mini (Jatropha) bentuknya. Tanaman yang aneh. Berdaun seperti pepaya (Carica) berbatang seperti singkong (Manihot) dan berbunga seperti jarak (Jatropha). Saya terheran-heran, bagaimana dua tanaman yang berada dalam 2 family yang berbeda bisa memiliki kesamaan daun seperti ini. Tapi setelah melihat batang dan bunganya, saya cenderung berkesimpulan bahwa tanaman ini lebih dekat ke  family Euphorbiaceae ketimbang ke family Caricaceae (pepaya).

Ada beberapa batang. Ada yang saya tanam di pot, dan ada juga yang saya tanam di polybag. Tidak ada perbedaan perlakuan ekstreem antara yang di pot dengan yang di polybag. Sama saja suburnya. Tetapi ternyata ada perbedaan kecepatan pertumbuhan antara yang diletakkan di halaman belakang  dengan yang diletakkan di halaman depan di dekat kolam. Yang di dekat kolam dan kecipratan air, ternyata lebih hijau dan subur,

Dalam beberapa minggu ternyata daun pepaya jepang ini sudah bisa dipanen. Lumayan kan buat nambah variasi masakan di dapur? Daunnya bisa ditumis, dimasak kuah santan, atau mau dijadikan botok, diurap, dikasih teri, atau direbus dijadikan lalap dan dicocol sambel terasi juga enak sekali. Tinggal petik segar-segar dari halaman. Diolah. Segar dan manis.

Itulah tanaman pepaya Jepang. Salah satu tanaman sayuran yang layak sekali masuk ke dalam daftar “Dapur Hidup”kita. Menanamnya mudah dan pemeliharaannya juga mudah.

Lumayan banget buat irit-irit belanja dapur.

 

Buah Pare Yang Terlambat Dipanen.

Standard

Ditinggal kesibukan pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari, banyak yang terjadi pada Dapur Hidup saya. Pucuk pucuk selada yang memanjang, daunnya tidak sempat dipanen. Tanaman pakchoi yang juga segera perlu dipanen agar tak ketuaan.  Anakan pohon kemangi sudah bertumbuh dan sudah waktunya di re-potting. Demikian juga anakan pohon tomat cherry. Sudah mulai besar dan sebentar lagi butuh sandaran. Nah…yang paling menarik adalah buah-buah pare yang tidak sempat saya panen. Sudah terlalu tua, kuning dan beberapa diantaranya meledak. Memperlihatkan biji-bijinya yang merah merona.

Ah!. Sayang sekali tidak sempat dimanfaatkan untuk sayur. Padahal sebelumnya saya sempat berjanji kepada seorang teman akan membawakan hasil panen buah pare ini.
Sudah dua kali saya gagal membawakan buah pare buat teman saya itu.

Pertama, saat buah pare sedang banyak-banyaknya.Tapi sayang sekali ketika saya ingat akan memetik, rupanya buah pare sudah dipetik duluan oleh orang rumah dan dibagikan kepada tetangga yang mau. Keduluan deh.

Berikutnya, ya kali ini. Eh…karena tak sempat memetik, buah buah pare ini keburu matang di pohonnya dan meledak. Batal lagi deh saya membawakan buat teman saya.
Saya agak kecewa memikirkannya.Tapi kemudian saya nenghibur diri saya sendiri. Buah yang kematangan ini tetap bisa saya manfaatkan, saya ambil bijinya untuk bibit saja. Selain itu warna warni kuning, jingga dan merah ini juga cukup cantik menghiasi kebun. Kurang optimal memang, tetapi tidak apa apalah. Toh masih ada gunanya juga.

20160120_070458.jpgTapi pelajaran penting yang bisa saya tarik dari sini adalah bahwa segala sesuatu itu butuh “timing” yang tepat untuk mengeksekusi. Waktu yang tepat. Waktu yang pas. Seperti halnya dengan buah pare ini. Jika dipetik terlalu cepat, ukuran dan tekstur serta tingkat kerenyahan buah pare ini tentu belum optimal. Tapi jika kelewatan, dan terlambat memetiknya, bisa jadi sudah keburu dimanfaatkan oleh orang lain, atau mungkin juga sudah menjadi terlalu tua, meledak dan tidak bisa dimasak lagi. Nah… seperti halnya dalam memetik buah pare, dalam kehidupan sehari-hari juga berlaku hal yang sama. Ketepatan mengeksekusi sesuai dengan waktu, sangat dibutuhkan oleh setiap orang yang menginginkan hasil yang optimal.

Ingat akan waktu, saya jadi teringat akan konsep Desa-Kala-Patra (Tempat-Waktu-Situasi) yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Dimana “waktu” merupakan salah satu element penyusun konsep Desa-Kala-Patra ini yang sangat penting untuk dijadikan acuan dalam bertindak dan mengeksekusi sebuah rencana, selain juga elemen ruang dan situasi.

Untuk melakukan tindakan tertentu, setiap orang umumnya menggunakan patokan ini. Menyesuaikan dengan Desa (tempat dimana tindakan itu akan dilakukan), Kala (kapan tindakan itu akan dilakukan) dan Patra (bagaimana situasi/pattern /pola keadaan yang terjadi pada saat dan tempat itu), dengan harapan segala sesuatu prosesnya berjalan dengan baik dan mulus tanpa halangan yang berarti dan akhirnya berhasil dengan baik. Jika salah satu element dari Desa-Kala- Patra ini tidak dipertimbangkan, peluang untuk terjadinya masalah dan ketidaksuksesan tentu akan membesar. Bertindak tanpa memahami kondisi tempat kita berada, hasilnya akan tidak optimal. Bertindak tanpa memahami situasi yang terjadi juga sama. Demikisn juga jika kita tidak memahami waktu.

Salah satu contoh sederhana dalam kehidupan sehari hari, ya seperti apa yang ditunjukkan oleh pohon pare ini kepada saya. Saya tidak memetiknya pada waktu yang tepat. Sehingga buah pare ini keburu masak dan meledak.

Sebuah pengingat bagi diri saya sendiri untuk mengingat kembali Desa- Kala-Patra dalam setiap tindakan dan perbuatan saya.

Dapur Hidup: Kencur, Bumbu Dapur Multi Guna.

Standard
Kencur - tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Kencur – tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Salah satu tanaman bumbu dapur yang menarik untuk disiagakan di halaman rumah adalah Kencur (Kaempferia galanga). Dengan nama daerah Cekuh, bumbu dapur yang satu ini sangat populer penggunaannya di Bali.

Kencur atau cekuh ini bersama dengan Suna (bawang putih) merupakan bahan utama untuk bumbu standard masakan traditional khas Bali yang sangat lezat yang disebut dengan “Basa Suna Cekuh”. Ada banyak jenis masakan Bali yang menggunakan Basa Suna Cekuh. Mulai dari ikan cue atau pindang suna cekuh, ayam mebasa suna cekuh, lindung (belut) suna cekuh, kakul (keong) suna cekuh,  hingga nasi goreng bumbu suna cekuh. Walaupun judul bumbunya Suna-Cekuh, sebenarnya pembangun bumbu ini bukan hanya suna dan cekuh saja, tetapi juga ada bahan bumbu lain seperti kunyit, sedikit bawang merah, cabe dan garam serta daun salam. Hanya saja penggunaan Suna dan Cekuh itu dominan.

Berikutnya, jenis bumbu standard masakan traditional Bali lainnya yang menggunakan kencur adalah “Basa Gede”(bumbu besar). Bersama sama dengan bawang merah, bawang putih, cabe, lengkuas, jahe, kunyit dan garam serta rempah rempah lainnya, kencur juga ikut berperan di dalamnya. Di sini kencur tidak lagi menjadi pemain utama, tetapi keberadaannya sangat penting. Tanpa kencur rasa basa gede yang menjadi bumbu standard sebagian besar masakan Bali akan bubar. Banyak masakan Bali yang menggunakan Basa Gede sebagai bumbu standard misalnya lawar, be siap mekuah, jukut timbul, junkut nangka dan lain sebagainya. Nah..jadipenting ya keberadaan kencur ini?.

Selain sebagai bumbu dapur, kencur juga banyak dimanfaatkan untuk pengobatan traditional. diketahui bahwa kencur mengandung minyak atsiri dan alkaloid. Penggunaannya secara traditional misalnya untuk meredakan batuk,. Lalu ada juga yang menggunakannya untuk meredakan sakit perut dan kelebihan gas di lambung. Ada juga wanita dan ibu-ibu yang memanfaatkannya untuk meredakan rasa nyeri saat datang bulan.

Atas dasar pertimbangan itu, sayapun menanam kencur di halaman rumah. Untuk berjaga jaga jika perlu dan tukang sayur tidak punya. Saya pikir ini penting untuk meneruskan tradisi keluarga. Jaman dulu, Ibu saya juga menanam kencur di halaman. Dan saya masih ingat di rumah kakek saya dulu ditanam kencur dalam pongpongan (buah kelapa bulat yang jatuh dari pohonnya karena bolong akibat dimakan tupai) lalu digantung-gantung di pohon, kelihatan artistik dan natural juga.  Saat ini saya menanamnya di polybag saja. Ada 6 polybag. Lumayanlah.

Menanamnya cukup mudah. Saya hanya memanfaatkan  potongan kecil kencur sisa dapur. Lalu saya tanam rimpang kencur ini di tanah dalam polibag. Berikutnya saya hanya menyiramnya saja. Kelihatannya kencur ini suka tempat yang lembab.

Kencur sekarang siap untuk diambil daunnya untuk  lalap ataupun urab. Dan rimpangnya untuk bumbu dapur maupun obat. Nah… enak kan kalau punya pohon kencur  di halaman?.

Yuk kita  tanam kencur!. Bikin Dapur Hidup dan Apotik Hidup di halaman.

Dapur Hidup: Seledri Sayuran Multi Fungsi.

Standard

 

2015-12-24-18.19.08.jpg.jpegSeorang saudara saya (kakak) saya bertanya, “Hai gimana kabar tomat-tomatmu?“. Rupanya saudara saya itu ikut-ikutan semangat berkebun sayur. Ia mengatakan kalau ia juga terinspirasi oleh tulisan saya tentang Dapur Hidup dan mulai menanami areal-areal kosong di sekitarnya dengan cabe dan tomat. Bahkan berencana akan segera menanam kol juga. Ha ha..yes!. Saya senang.  Jadi lumayan dong ya..saya bisa mengajak-ajak untuk giat berDapur Hidup.

Menjawab soal tomat, saat ini di lahan sempit pekarangan saya sedang tidak ada tomat. Sudah habis. Karena setelah 7x panen pohonnya sudah menua dan meranggas. Saya memutuskan untuk mencabutnya saja. Dan baru mulai membibit lagi.  Tanaman sayuran hijau seperti pakchoi dan selada serta kangkung juga masih kecil-kecil dan belum siap panen. Lalu apa yang ada di halaman rumah kali ini?

Setidaknya hari ini  saya masih punya pare dan timun untuk dipanen  Juga masih ada banyak tanaman bumbu dapur. Apa saja sih?. Salah satunya adalah Seledri (Apium graveolens).

Di Bali orang cenderung menyebut Seledri dengan nama Suladri. Karena awalan kata Su berarti bagus/baik,maka mendengar nama Suladri terasa sangat nyaman di telinga. Kesannya seperti sesuatu yang mengakibatkan hal baik.

Pada kenyataannya, tanaman ini memang memegang peranan penting di dapur. Walaupun fungsinya sebagai pelengkap rasa, seledri dibutuhkan di banyak masakan. Bikin soto enak ditaburi  seledri. Bikin bubur ayam juga enak ditaburin seledri. Bikin perkedel kentang juga pakai seledri. Bikin bakwan jagung, bakwan sayur pakai seledri. Bikin sup pakai seledri. Dan masih banyak lagi jenis masakan, hingga ke kripik kripik pun ada yang pakai seledri.  Seledri dengan rasanya yang khas, memberikan sentuhan tersendiri pada masakan yang kita sajikan.

Selain buat masakan seledri secara traditional juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan perawatan. Sejak kecil kita sering mendengar jika air remasan daun seledri digunakan untuk keramas, dengan maksud untuk membantu menyuburkan rambut. Tak heran jika ada beberapa shampoo juga menggunakan extract seledri di dalamnya. Ada juga wanita yang memanfaatkan tumbukan daun seledri untuk memasker wajahnya agar halus dan cerah.

Seledri juga sangat disarankan untuk dikonsumsi untuk memperkuat penglihatan, karena kandungan Vitamin A-nya yang tinggi.  Lalu kita juga mendengar jika banyak orang memanfaatkan daun seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penurun kolesterol, sebagai diuretika dan sebagainya. Karena manfaatnya yang banyak, tentu akan sangat menguntungkan jika selalu kita siagakan di halaman rumah ya. Saya memasukkan seledri sebagai salah satu tanaman Dapur Hidup saya.

20151224_165551.jpgBenih berupa biji bisa kita dapatkan dari Toko Trubus. Biji seledri berukuran sangat kecil-kecil dan ringan. Dan mudah beterbangan jika kita tidak hati-hati  membukanya. Teksturnya mirip biji ketumbar. Tetapi jika biji ketumbar bentuknya bulat-bulat, biji seledri bentuknya lucu, melengkung lengkung.

Biji-biji ini saya taburkan di dalam pot tanaman hias Lidah Mertua yang tetap saya jaga kelembabannya. Masa tumbuhnya sangat lama. Kalau tidak salah saya harus menunggu selama 3-4  minggu. Tiada kunjung kelihatan gejala-gejala kehidupan sedikipun. Hingga nyaris saya pikir tidak berhasil hidup. Setelah kurang lebih sebulan barulah saya lihat ada titik-titik hijau muncul dipermukaan tanah.  Dan pertumbuhannya pun lambat juga. Sangat berbeda dengan biji tanaman lain seperti Caisim atau Pakchoy yang hanya dalam hitungan  1-2 hari atau maximum 3 hari sudah ada muncul putiknya.

 

 

20150907_073823.jpgSeledri membutuhkan air yang banyak. Jadi kita harus rajin-rajin menyiramnya dan menempatkannya di tempat yang teduh. Jangan dipanggang di bawah terik matahari.

Seledri ini menurut saya adalah tanaman yang sejak benih sudah indah. Saya sangat menyukai bentuk daun seledri. Berbentuk trisula tumpul dan bergerigi. Dan keindahannya ini sudah tampak bahkan sejak tanaman ini masih bayi.

Setelah daunnya minimal 4 buah, saya mulai memindahkannya satu per satu. Sebagian saya tanam di polybag dan sebagian lagi ada juga yang saya tanam dengan system Hydroponik.

SeledriUntuk yang di polybag membutuhkan perhatian khusus, karena harus rajin disiram. Pupuk humus atau pupuk kandang tentu sangat baik. Bisa juga kita menyiramnya dengan air  bekas cucian beras. Untuk hydroponik saya hanya memberikannya pupuk organik cair.

Beberapa minggu setelah itu, tanaman seledri saya sudah mulai bisa dipetik jika dibutuhkan untuk masak. Nggak perlu lagi membeli daun seledri dari tukang sayur. Karena kini saya sudah bisa memetik yang lebih segar dari halaman.

Nah.. membuat Dapur Hidup nggak pernah rugi kan!. Yuk kita semangat membuat Dapur Hidup sekaligus menghijaukan halaman rumah kita.

Go green yuk! Go green!.