Category Archives: Gardening

Dapur Hidup: Air Pandan Arum Membuat Keringat Pun Ikut Wangi. 

Standard

Pandan Arum aluas Pandan Wangi.

Kalau lagi di rumah, kerjaan saya memeriksa tanaman dan melakukan sesuatu di kebun. Entah penanaman, pemupukan, penyiangan dan sebagainya. Selalu ada yang perlu dilakukan. 

Nah…kali ini saya memilih untuk memisahkan anakan pohon Pandan Arum (Pandanus Amaryllifolius).
Menanamnya dalam polybag siapa tahu ada teman yang ingin minta bibitnya. 

Tanaman ini sudah cukup lama saya miliki dan sering saya ambil daunnya entah untuk memberi rasa dan wangi pada kolak atau bubur kacang hijau. Saya menyukai wanginya. 

Air Daun Pandan

Sambil memindahkan tanaman, saya  melihat beberapa daun yang sudah cukup tua. Sangat layak untuk diambil. Jadi teringat, bahkan jika hanya direbus di air minum pun daun pandan arum memberikan aroma yang enak pada air minum. Dan jika sering meminumnya keringat kita pun lama-lama menjadi ikut wangi. Coba deh!

Advertisements

Tomat Beefsteak: Dari Halaman Ke Atas Meja Makan. 

Standard

“Manen tomat banyak-banyak buat apa sih?” Seorang teman bertanya.Ya… buat dipakai di dapur lah ya.Buat dimakan. Bisa buat sambel. Buat Jus tomat. Buat sayur. Bisa juga buat salad. 

Tomat Beefsteak

Tanaman tomat saya kali ini memang berbuah cukup banyak. 

Tomat Beefsteak

Kebetulan banyak yang matang saat bersamaan. Kalau saya biarkan di pohonnya khawatir nantinya saya lupa metik dan malah busuk sendiri. Jadi selagi ingat, saya petiklah tomat-tomat itu. 

Tomat Beefsteak

Sebenarnya apapun jenis sayuran yang kita panen dari halaman, selalu bermanfaat buat di dapur. Itulah sebabnya mengapa disebut Dapur Hidup.Bagaimana kita memanfaatkannya, sangat banyak pilihannya. Bisa dimasak khusus, bisa juga dicampur bahan lain. 

Salad

Malam ini saya memanfaatkan sayuran dari halaman dicampur dengan bahan-bahan lain yang saya beli dari tukang sayur untuk makan malam. 

Broccoli Tomato Shrimp.

Dapur Hidup: Tiga Jenis Tomat Yang Saya Tanam Di Halaman.

Standard

Salah satu tanaman Dapur Hidup yang sangat penting bagi saya adalah tomat. Karena tomat digunakan setiap hari dan pada banyak jenis masakan yang terhidang di meja makan saya. Dan terutamanya..sambal tomat. Setiap orang di keluarga saya menyukai sambal tomat. 

Ini adalah beberapa jenis tomat yang pernah /sedang saya tanam sebagai koleksi Dapur Hidup di halaman rumah saya.

1.Tomat Cherry Kampung.


Tomat Cherry Kampung

Tomat ini ukurannya sangat kecil-kecil. Kira-kira seukuran kelereng. Rasanya agak asam segar. Tetap sangat menarik untuk dimakan mentah ataupun dibuat sambal. Saya senang mencampurkannya dengan salad. 

Tomat Cherry Kampung

Mengapa namanya saya kasih embel-embel “kampung”?. Karena tomat ini banyak saya temukan di kampung saya di Bali dengan nama Tomat Gerongseng atau “Gereng-Gereng”. Dan karena kampung saya adalah penghasil tomat berkwalitas super dengan ukuran super besar,  tomat ini sering dipandang sebelah mata dan tidak dimanfaatkan. Dibiarkan saja liar dipinggiran tegalan tanpa ada yang peduli. 
Untuk tanaman yang di halaman ini pun saya mendapatkan bibitnya pertama kali dari kampung di Sukabumi.

Jadi baik dari segi ukuran, rasa dan bentuknya memang berbeda dengan tomat cherry yang sering kita beli dari Supermarket yang mana umumnya bijinya import. 

2. Tomat Mutiara

Tomat Mutiara

Tomat Mutiara adalah tomat berukuran sedang dengan bentuk bulat mulus berkilau bak mutiara. Nggak heran diberi nama Tomat Mutiara.

Tomat Mutiara

Benih tomat ini saya dapatkan dari toko Trubus.Dan ini adalah jenis tomat yang benihnya paling banyak saya lihat dijual. Juga paling banyak dijual di tukang sayur.
Rasanya lebih manis dibanding tomat cherry kampung. 

3. Tomat Beefsteak

Tomat Beefsteak.

Ini adalah tomat ukuran sedang yang belakangan ini paling sering saya upload di sosial media, baik di Facebook maupun di Instagram. 
Alasannya karena bentuk tomat ini mengingatkan saya akan jenis tomat jaman dulu yang ada di tanah air sebelum jenis tomat yang halus mulus seperti mutiara datang dan membuat tomat jadul itu kehilangan perhatian dan akhirnya lenyap dari pasar. Bentuknya berlobus lobus. Rasanya menurut saya malah lebih manis. 

Tomat Beefsteak hasil panen dari halaman.

Saya mendapatkan benihnya secara online. Menanamnya di dalam pot. Dan lumayan juga hasilnya. 
#tomat

Tips Dapur Hidup: Panen Berulangkali Dengan Pengguntingan Yang Tepat.

Standard

​Pada umumnya jaman sekarang ini kita membeli kangkung di pasar sekaligus sak akar-akarnya (Kangkung Cabut/kangkung darat  = sekali tanam langsung cabut, lalu tanam lagi untuk periode berikutnya).

Nah… berhubung waktu saya untuk mengurus tanaman juga sangatlah  sempit (saya mengerjakannya di sela-sela kesibukan  pekerjaan saya yang super padat), saya memilih menghemat waktu dengan cara sekali tanam panen berkali-kali. 

Caranya bagaimana? Saya menggunakan metode yang dilakukan petani kangkung  jaman dulu. Yakni dengan memotong batang kangkung dan menyisakannya sedikit batangnya agar kelak cabang kangkung bisa bersemi kembali. Hasil dari cara memanen seperti ini disebut dengan Kangkung Potong. Biasanya dilakukan pada tanaman kangkung yang dibudidayakan di air.

​Pemotongan harus dilakukan pada ruas batang yang ke dua atau yang ke tiga. Dengan demikian tunas yang baru bisa tumbuh daru ruas oertama tanaman itu dengan kokoh tanpa goyah karena dekat dengan akar. Selain itu, tanaman tidak perlu membuang-buang energi untuk memelihara batang yang panjang, sehingga bisa fokus untuk membesarkan tunas yang baru tumbuh.Yang paling penting, tanaman harus tersuply dengan air dan mendapatkan sinar matahari yang banyak.  Pemberian nutrisi yang cukup seminggu sekali juga sangat membantu membuat tanaman semakin sehat. 

​Dengan cara ini saya bisa melakukan panen 4-5 x sebelum saya ganti dengan tanaman baru lagi. Hasil panen juga tetap sehat-sehat dengan daun yang lebar-lebar dan batang yang gendut. Tidak kalah jika dibandingkan dengan hasil panen perdananya. 

Hemat waktu. Sangat cocok untuk ibu rumah tangga yang juga harus bekerja di luar. 

Mau mencoba? 

Hidup Adalah Tentang (Berusaha) Mewujudkan Mimpi.

Standard

*Dapur Hidup: Stacking, Menyiasati Pekarangan Sempit*.

​​Ketika kecil, saya sering bermimpi. Mimpi tinggal di sebuah rumah kecil yang di kelilingi ladang luas penuh buah-buah tomat yang merah ranum,  kentang, labu parang, semangka dan berbagai sayuran yang hijau segar. Serta kandang ayam petelor dengan kokok ayam jago yang membangunkan tidur saya di pagi hari. Rumah  ladang impian saya  itu dihiasi dengan bunga mawar pagar yang mekar super banyak berwarna pink dan wanginya semerbak  ke mana-mana. Romantis banget kan impian saya itu? 

Ketika saya dewasa, sebagian impian itu menjadi kenyataan. Saya tinggal di sebuah rumah kecil. Sama ya dengan mimpinya?. Juga dikelilingi tanaman sayuran. Sama juga dengan mimpi saya. 
Tapi bedanya, rumah saya dikelilingi halaman yang sempit (bukan ladang yang luas) yang tentunya tidak muat untuk menampung semua tanaman sayuran impian itu. Boro-boro kandang ayam petelor. Jauhlah dari mimpi. Dan bunga bunga mawar pagar yang pink romantis? Mmmm… lupakan lah itu, karena mimpi kanak-kanak saya tak pernah menjelaskan bahwa mawar pagar hanya tumbuh di ketinggian tertentu di atas permukaan laut. Hanya ada di kampung saya di Kintamani sana dan daerah pegunungan lainnya. Sementara sekarang saya tinggal di Jakarta (eh… sebenarnya TangSel deh…) di mana udaranya panas dan sudah pasti mimpi tentang bunga mawar pagar itu sudah terbang entah kemana. Sudah pernah saya tanam (Waktu itu batangnya saya ambil dari Puncak, Bogor). Tapi hanya batangnya saja yang memanjang dan gendut. Bunganya tiada kunjung muncul. Aah… tidak ada romantis-romantisnya amat tanaman ini ketika dibawa ke kota. 

Dengan kenyataan dunia ini,  apakah saya harus berhenti bermimpi? Oww…tentu tidaakkkk!!!!. Saya harus berusaha menikmati hidup sedekat mungkin dengan mimpi masa kecil saya itu. *Kedengeran agak keras kepala, agak ngeyel dan sedikit sombong ya?  

Ha ha… tentu saja karena kenyataannya lahan pekarangan saya sangat sempit saat ini (itu harus saya terima dengan penuh syukur), tapi saya harus mikir bagaimana caranya mengoptimalkan setiap centimeter pekarangan itu agar menghasilkan bahan makanan Sebanyak mungkin.

Saat ini hampir semua permukaan  terbuka di halaman saya tidak ada yang kosong. Full dengan tanaman.Mau diletakkan di ruangan, tanaman tidak dapat sinar matahari. Pertumbuhannya terganggu. Kerdil dan ‘nyalongcong’ kata teman saya yang orang Sunda. Tinggi langsing dan pucat pasi.  Jadi bagaimana akal? satu-satunya areal yang kosong adalah di udara!.  Ya…di udara adalah tempat yang paling memungkinkan bagi saya 2vesaat ini. 

Akhirnya saya berpikir untuk melakukan penumpukan box box tanaman itu ke atas saja selain menggantungnya di udara. Stacking!. Bisa menggunakan rak atau bisa juga memasang paku dan papan penyangga di dinding.

Stacking 4-5 tingkat ke atas, rasanya cukup banyak dan saya letakkan pada dinding. Dengan cara ini memungkinkan saya untuk memberi peluang yang sama kepada setiap tanaman untuk terpapar sinar matahari. Nah …setidaknya saya bisa memproduksi lebih banyak sayuran dengan cara begini. 

Rak ini memuat 3 box kangkung, 3 box selada. 3 box pak choi dan 1 box kailan dan 1 box tanaman sawi jenis lainnya. Lumayan banget ya buat Dapur Hidup berlahan sempit. 

Impian saya untuk hidup di tengah tanaman sayuran, sekarang satu langkah lebih mendekat. Walaupun lahan sangat sempit.

Hidup adalah tentang mewujudkan mimpi. Jangan pernah mau menyerah pada keterbatasan. Jika kenyataan hidup memberi banyak keterbatasan, cari cara agar impian kita semakin mendekat. Minimal mirip-miriplah.Yuk kita terus berusaha!!!.

Apa mimpimu, kawan? 

Patah Oleh Hujan. 

Standard

​Hari Sabtu kemarin, seharusnya saya sudah mulai agak senggang.  Harusnya punya waktu untuk menulis, eh saya malah ketiduran. Bangun bangun, hujan rupanya sangat deras turun di halaman. Saya jadi tertarik menonton hujan yang menimpa tanaman sayuran saya di halaman belakang rumah. Kangkung, bayam, sawi dan tomat terangguk-angguk diterpa bulir bulir hujan.

Tapi hujan rupanya terlalu deras tak mengenal lelah. Curah air sangat berlebih hingga tumpah ruah dari pot pot tanaman. Saya mulai khawatir. Hujan sangat dibutuhkan tanaman. Tapi jika terlalu banyak, juga bisa mengganggu. 

Benar saja!. Barangkali karena tanah sekarang menjadi terlalu lembek, sementara batang dan daunnya semakin berat, tanaman cabe saya merunduk dan semakin merunduk. Dan…akhirnya kraaakkkk…. tumbang. Doyong ke kanan  hampir  menyentuh tanah. Menimpa tanaman cabe di sebelahnya yang kemudian ikut juga doyong dan menimpa lagi tanaman cabe berikutnya. Aduuuh…ini mirip efek domino. Saya hanya bisa memandang dengan hati gundah.

Setelah hujan reda, saya mencoba membantu menopang tanaman saya sedapatnya. Beberapa rantingnya patah. Sedih hati saya bukan kepalang. Tapi sebagian cabangnya masih bisa diselamatkan. Saya ikat ke penopang bambu dengan kawat kabel.Lumayanlah setidaknya masih bisa berdiri sebagian. 

Tanpa rencana, akhirnya saya terpaksa memetik buah -buah cabe dari ranting-ranting yang patah itu. Daripada terbuang percuma. Kebetulan mulai pada merah. Memang sudah waktunya dipetik. Lumayan juga sih. Cukup untuk beberapa kali nyambel. 

Yaah..begitulah. Suka dukanya bertanam. Membayangkan kejadian seperti ini terjadi pada petani, sekarang saya semakin mengerti, mengapa pada saat-saat tertentu harga cabe menjadi sangat mahal. 

Tidak Sabar Menunggu Selada Red Ava. 

Standard

Karena sudah beberapa kali menanam selada hijau, saya penasaran ingin mencoba menanam selada berwarna merah. Selada yang sering saya temukan dihidangkan sebagai campuran salad di hotel-hotel berbintang. Nah…saya pikir keren juga nih jika dapur saya juga bisa menghidangkan salad dengan campuran sayuran ala hotel berbintang gitu. Produksi sendiri pula. 

Bibitnya dari mana? Saya coba cari di toko Trubus dan toko hidroponik seputaran Bintaro, lagi kosong. Ah, tapi saya tak mau kehabisan akal. Toko hidroponik online!. 

Selada Red Ava, reference gambar dari hidroponikshop.com

Singkat cerita dapatlah saya biji selada merah Red Ava yang re-packing. Isinya 40 butir harganya Rp 7 000 kalau saya tak salah ingat. Saya coba menyemaikan 5 butir di aras rockwool.. Lumayan, dari 5 yang hidup 4. Not bad lah ya. 

Ketika sudah mulai membesar dengan jumlah daun 4 lembar, saya memindahkannya ke dalam box hidroponik dengan system sumbu. Kemudian saya letakkan di teras belakang. Selanjutnya saya hanya melihatnya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dan memberinya pupuk saat weekend saja. 

Tanaman selada ini tumbuh makin besar. Ada warna merah bersawang-sawang di ujung daunnya. Saya berharap warna merahnya semakin tampak seperti foto referens. Sekarang selada ini sudah berumur kira kira 15 hari. Tapi kok warna merahnya belum keluar banyak juga ya? Malah lebih dominan warna hijaunya. Ada yang salahkah? 

​​Selada merah Red Ava ini meninggalkan penasaran di hati saya. Tapi saya akan tetap menunggu perkembangannya seminggu dua minggu ke depan ini, berharap semburat pigmen merahnya keluar lebih banyak. 

Bertanam rupanya membutuhkan kesabaran untuk melihat hasil. Karena alam membutuhkan proses dan tidak menyediakan hasil instant. 

Dapur Hidup: Mengenal Si Penambang Daun.

Standard

Salah satu keuntungan dari kegiatan Dapur Hidup yang saya tekuni setahun terakhir ini adalah mendapatkan banyak pelajaran dan pengetahuan baru. Berhubung saya tidak memiliki latar belakang pendidikan Pertanian, pengetahuan tentang tanam menanam saya dapatkan satu persatu dengan cara “learning by doing” plus membaca buku serta memanfaatkan internet. Salah satu pengetahuan baru yang ingin saya share kali ini adalah tentang si Penambang Daun. 

Penambang Daun!. Kedengarannya aneh ya? . Ya memang. Karena saya menterjemahkannya langsung dari bahasa Inggris “Leaf Miners”. Saya tidak tahu apa nama hama tanaman yang menyerang daun ini dalam Bahasa Indonesianya, jadi saya terjemahkan saja menjadi Penambang Daun. 

​Sebenarnya sudah cukup lama saya melihat kejadian ini pada daun daun tanaman sayuran saya. Saya melihat ada jejak putih kadang lurus, kadang melingkar bahkan zigzag di daun cai sim yang saya tanam di polybag. Awalnya saya pikir itu jejak keong kecil yang kadang suka terlihat di tanah dekat tanaman. Tapi kenapa daunnya tidak bolong bolong ya? Jika ada keong yang melintas di sana, tentu sekalian ia nenggerogoti daun daun sayuran itu. Tapi ini tidak.

​Berikutnya saya lihat lagi jejak spiral di daun tomat. Lalu di daun kangkung.Saya mulai berpikir, apa jangan jangan itu bekas pupuk yang saya kasih ya. Saya tidak terlalu memikirkannya lagi. Hanya memotong daun yang terkena dan membuangnya. Tidak seberapa. Paling 1-max 2 lembar daun. Itupun jarang. 
​Sampai kemudian minggu yang lalu, saya menemukan jejak serupa pada daun benih Kailan yang saya tanam dengan system hydroponik. Nah… ini penyebabnta apa ya? Yang jelas bukan jejak keong karena tidak ada keong di situ. Dan juga bukan bekas pupuk. Wong benihnya masih kecil belum saya kasih pupuk sama sekali. Akhirnya saya penasaran dong, bongkar bongkar buku dan cari bantuan internet. 

Nah sekarang saya tahu. Rupanya jejak di daun tomat ini ditinggalkan oleh larva sejenis lalat (Liriomyza sativae). Larva ini menggali terowongan di dalam daun yang dari luar terlihat seperti jejak berkelok kelok. 

Apakah penyakit ini berbahaya? Saya lihat jawababnya di buku sih tidak. Tetapi jika banyak tentu saja akan membuat tanaman jadi kelihatan kurang cantik.  Selama ini apa yang saya lakukan dengan memetiki daun yang terinfestasi sudahlah benar. Karena jumlahnya sedikit. 

Nah bagaimana jika serangannya banyak? Dan kita tak punya waktu untuk memetikinya satu per satu?. Disarankan untuk menyemprot dengan pestisida alami daun Nem atau bisa juga dengan memanfaatkan serangga tertentu yang suka memangsa larva. Wah… mudah-mudahan serangannya tidak sering terjadi dan tidak banyak. 

Posisi (Memang Terbukti) Menentukan Prestasi.

Standard

Pasti sudah sering mendengar pepatah ini “Posisi Menentukan Prestasi”. Maksudnya tentulah bahwa prestasi yang dicapai seseorang itu sangat ditentukan oleh bagaimana posisi orang itu  saat melakukan eksekusi.  Semakin bagus posisinya, tentu semakin bagus prestasinya. Oleh karenanya    banyak orang berlomba-lomba mencari posisi yang terbaik.  

Saya sendiri, belum pernah memikirkan pepatah itu baik-baik, walaupun sering mendengarnya juga. Nah sekarang saya teringat, gara-gara melihat kenyataan itu sendiri terjadi di depan mata saya. 

​Saya menanam beberapa box kangkung dengan system hydroponik tanpa listrik. Karana jumlahnya cukup banyak sementara halaman saya sempit, terpikir oleh saya untuk membuat rak bertingkat yang terbuka yang bisa menampung box-box tanaman sayuran termasuk kangkung saya itu. 

Singkat cerita, rak itu sudah jadi dan box box berisi benih  sayuran itupun saya letakkan dengan rapi di dalamnya. Semua sayuran mengalami perlakuan yang sama dalam hal treatment air dan nutrisi. Benih yang kecil mulai tumbuh.

Beberapa hari kemudian, saya melihat terjadi perbedaan yang cukup signifikan atas pertumbuhan tanaman itu dari satu box ke box lainnya. Hmm…mengapa ya? 

​​Tanaman dari box yang diletakkan di sisi yang paling terekspose dengan cahaya matahari mengalami pertumbuhan yang paling pesat. 


​Sedangkan yang diletakkan di posisi lebih ke dalam (lebih jauh dari cahaya matahari) tampak lebih kecil dan lebih lambat pertumbuhannya. Posisi box tempat tanaman ini bertumbuh  sangat menentukan tingkat keberhasilannya dalam bertumbuh. 

Jadi memang benar ya pepatah “Posisi Menentukan Prestasi” itu?. Menurut pendapat saya iya. 
Setiap posisi, di manapun itu tentu memiliki “tetangga sebelah”samping kiri, samping kanan, depan, belakang, atas, bawah. Posisi tertentu, membuat kita terekspose pada tetangga tertentu yang bisa jadi berbeda jika posisi kita berbeda. 

Ibaratnya si tanaman kangkung yang tumbuh pesat karena bertetangga dengan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhannya, seseorang juga sangat mungkin maju pesat karena dia berada di lingkungan orang-orang sukses. Setidaknya usahanya untuk sukses lebih mudah ketimbang orang yang berada di lingkungan orang orang yang gagal. Mengapa? Karena ia mendapatkan pemahaman, dukungan dan motivasi serta networking yang baik dengan pusat-pusat kesuksesan. 

Demikian juga sebaliknya.Jika seseorang tidak terkespose dengan kesuksesan dan lebih banyak berada di lingkungan orang-orang yang gagal, maka usaha yang dikeluarkan agar bisa sukses menjadi lebih berat. Karena tak ada orang yang memberi informasi, dukungan dan pertolongan. Ia harus mencari tahu sendiri, mencoba dan berusaha keras agar sukses. 

Memberi peluang kepada anak-anak dan  orang-orang yang kita sayangi di sekeliling kita untuk terekspose dengan hal-hal positive yang mendukung kesuksesannya di kemudian hari sangatlah penting. 

Cangkang Yang Membatasi Pertumbuhan

Standard

​Kemarin ini ceritanya saya sedang memeriksa biji biji tanaman kangkung yang saya semaikan di atas media rockwool.Sudah pada tumbuh.Angka persemaiannya nyaris 100%. Tampak sehat-sehat.Sebagian besar sudah mulai menunjukkan 4 lembar daun. Sudah di stage yang siap dipindahkan. Tapi beberapa ada juga yang daunnya masih 2 lembar, ada yang  masih kelihatan seperti kecambah saja, ada juga yang daunnya belum keluar semua, ujungnya masih terbalut cangkang bijinya.Saya membantu melepaskan cangkang itu satu per satu biar daunnya mengembang, dengan harapan agar tanaman ini bisa melakukan fotosintesis lebih cepat sehingga pertumbuhannya pun lebih cepat. Sslangatlah mudah melepaskan cangkang biji kangkung ini. Tinggal tarik, daunnya langsung mengembang dengan mulus.

Tapi dari sekian banyak yang saya bantu, ada satu tanaman kangkung  yang tampak aneh. Tangkai daunnya sudah sangat panjang, tapi cangkang bijinya masih melekat erat. Dibilang kecambah bukan, tapi jika disebut pohon Kangkung juga belum layak. Saya coba bantu lepaskan tapi  keras.Waduuh!. Akhirnya saya pecahkan cangkangnya dan paksa sedikit agar daunnya bisa keluar. Bisa sih… tapi daunnya kelihatan keriting dan kurus, karena terlalu lama terlipat dan digencet cangkangnya sendiri. Padahal daun teman-teman di sebelahnya jauh lebih besar dan lebar serta tetap teratur bentuknya walaupun sudah tidak diatur oleh cangkang. 

Jadi tanaman ini sebenarnya terlambat tumbuh akibat terbelenggu cangkangnya sendiri. 

Saya jadi membayangkan embrio ayam yang berada didalam cangkang telurnya. Embrio ini mengalami pertumbuhan dari hari ke hari. Semakin membesar setiap hari. Hingga ketika pertumbuhannya sudah optimal di hari ke 21 ia harus memecahkan cangkangnya sendiri agar bisa keluar menjadi anak ayam dan selanjutnta berkembang menjadi ayam dewasa. Karena cangkangnya sendiri sudah tidak muat. Apa yang terjadi jika embrio ayam ini tidak memecahkan cangkangnya ? Niscaya ia tidak akan bisa tumbuh lagi dan lama lama tentu akan mati. 

Alam rupanya sudah menetapkan mekanisne “jika ingin tumbuh pesat,  harus berani memecahkan cangkang sendiri”  itu untuk semua mahluk hidup. Berlaku untuk kangkung, berlaku untuk ayam dan bahkan menurut saya berlaku untuk semua mahluk hidup termasuk manusia.

Cangkang! Adalah icon alam untuk segala yang membatasi. 

Pandangan yang sempit adalah cangkang yang membatasi kita untuk melihat dunia kehidupan dengan lebih baik. Kita pikir apa yang terlihat oleh kitalah yang paling indah, hanya karena kita tak bisa melihat kehidupan yang indah lainnya di luar jarak pandang kita. 

Pikiran yang sempit adalah cangkang yang membatasi kita untuk memahami bahwa sesungguhnya sedemikian luasnya ilmu pengetahuan di luar sana yang belum terpikirkan oleh kita. 

Kefanatikan terhadap sesuatu, juga adalah cangkang yang membelenggu keyakinan kita yang membuat kita menyangka bahwa apa yang kita yakini adalah yang paling benar tanpa memberi kesempatan diri kita untuk mengetahui bahwa di luar sana sedemikian luasnya kebenaran yang tak tertangkap oleh mata bathin kita. 

Kekhawatiran dicap sok tahu dan menggurui, adalah cangkang yang membuat kita tak berani mengemukajan pendapat dan gagasan-gagasan kita. 

Ketakutan  untuk gagal, kekhawatiran akan diomongkan orang lain, kebiasaan mengandalkan orang lain dan sebagainya masih banyak lagi, adalah jenis-jenis cangkang dalam kehidupan sehari-hari  yang membatasi kita untuk berkembang. 

Laksana cangkang pada telor ayam dan pada biji tanaman, cangkang kehidupan  selalu  kita butuhkan di tahap awal untuk melindungi dan membantu kita semua agar lebih disiplin dan tertib. Namun begitu mencapai tingkat pertumbuhan dan pemahaman yang kuat, kita perlu memberanikan diri untuk memecahkan cangkang yang membelenggu diri dan pemikiran kita agar bisa berkembang lebih lanjut. Karena jika tidak, maka kita hanya akan berakhir di sini dengan keadaan seperti saat ini. 

Lepaskan cangkang yang membelenggu, buka peluang yang luas bagi diri kita sendiri untuk mampu berkembang sebaik-baiknya.