Category Archives: Gardening

Seusai Panen.

Standard

Panen! Semua orang sangat senang dengan musim ini. Musim dimana jerih payah kita menanam mulai terlihat dan menghasilkan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Tomat dan cabe memerah, buah pare, terong dan timun membesar, daun daun bayam, kangkung, pakcoi, caisim, pagoda, kailan dan sebagainya tumbuh subur dan lebar lebar menghijau. Semua senang.  Segar dan cerah sepanjang mata memandang. Bahkan yang tidak menanampun ikut senang jika melihat hasil panen.

Tapi adakah yang teringat bagaimana pemandangan setelah musim panen?  Tidak ada lagi hijau, merah , kuning ataupun ungu cemerlang. Yang ada hanya warna kuning, coklat melayu. Kering dan kusam. Saya rasa pemandangan ini lebih banyak menjadi keseharian para penanam ketimbang penikmat.

Saya membicarakan ini karena kebetulan saat ini instalasi hydroponik di halaman saya sudah melewati masa panen. Tampak kotor dengan sisa sisa batang yang habis dipetik, bekas-bekas akar, daun kering, bekas rockwool yang berlumut dan hydroponik cup yang kotor. Apa yang harus dilakukan?
Ya… saya harus membersihkan instalasi serta mendaur ulang penggunaan mangkok tanaman. Wah.. ini bagian “dirty job”nya yang saya pikir mungkin kebanyakan orang malas melakukannya. Semua pengen saat bagian panennya saja. Tapi karena saya masih pengen menanam sayur lagi, baiklah saya harus tekun  juga membersihkannya biar bisa dipakai lagi dengan baik.
Inilah biasanya yang saya lakukan seusai panen…

1/ Membersihkan instalasi hidroponik.

image

Instalasi ini perlu dibersihkan dan diperiksa secara berkala untuk memastikan semua aliran air berjalan lancar. Terutama jika kita menggunakan sekam sebagai media tanam dan untuk memegang system perakarannya, endapan sekam bisa jadi menyumbat aliran air.
Pertama angkat semua mangkok bekas tanaman. Bersihkan bagian dalam pipa dan angkat semua sisa sekam, sisa akar maupun lumut yang menempel. Semprot bagian dalam dengan selang dan buang airnya.
Sikat bagian luar dan bersihkan sisa sisa daun kering yang menempel di dinding pipa.Bilas dengan air bersih.

2/. Membersihkan mangkok tanaman. 

image

Mangkok tanaman hidroponik sangat penting peranannya dalam menunjang tanaman. Karena nenempel dengan rockwool dan akar tanaman, mangkok akan penuh dengan sisa-sisa akar, bekas potongan batang, daun kering dan bahkan lumut, rockwool ataupun sekam jika kita menggunakan sekam.
Keluarkan semua residu tanaman dan media dari dalam mangkok. Cuci di bawah air nengalir. Sikat kotoran dan lumut dengan sikat gigi bekas. Untuk membantu memastikan mangkok bersih dari bakteri dan jamur, setelah disikat bersih mangkok -mangkok hidroponik ini saya letakkan di ember lalu seduh dengan air panas. Saya rendam beberapa menit barulah kemudian saya angkat dan tiriskan hingga mangkok-mangkok itu kering. Nah sekarang mangkok-mangkok itu bersih deh dan siap digunakan untuk menanam lagi.

3/. Polybag.

image

Jika kita bertanam dalam polybag atau botol bekas dan sebagainya yang terbuat dari plastik, sebenarnya kita bisa melakukan hal yang sama jika kita mau.
Tergantung jenis tanamannya, menurut pengalaman saya rata-rata polybag masih bisa kita pakai berulang 3-4 x siklus tanam sebelum akhirnya getas, sobek dan menjadi sampah.
Cara yang saya lakukan sama saja. Saya keluarkan tanah dan bekas tanamannya. Lalu saya lipat rapi lagi atau kadang-kadang jika lagi rajin dan punya waktu saya cuci di air mengalir lalu keringkan. Lalu saya pakai untuk tanaman baru saat bibit sayuran baru sudah tersedia. Atau jika bibit sudah ada, saya langsung isi lagi dengan media baru dan bibit sayuran baru.

Saat ini saya masih belum bisa lepas dari penggunaan barang-barang berbahan dasar plastik. Tentu banyak alasannya. Mulai dari ketersediaan barang pengganti berbahan baku lain yang lebih ramah lingkungan yang  belum tentu ada hingga masalah biaya serta efisiensi. Tapi saya pikir, walaupun begitu saya masih bisa peduli terhadap lingkungan dengan cara lain.

Kita bisa membantu mengurangi sampah plastik tidak saja dengan mengurangi penggunaan plastik, tetapi juga dengan menggunakan benda benda plastik itu di sekitar kita itu berkali-kali.

Yuk kita cintai lingkungan hidup kita. Ciptakan lebih banyak ruang hijau. Lepaskan lebih banyak oksigen di halaman rumah dan recycle benda-benda berbahan dasar plastik.

Final Execution.

Standard

Hari ini libur. Yeiiii!.Benar benar libur. Saatnya melakukan hal yang menyenangkan dalam hidup. Mengurus tanaman di halaman. 
Ide ini sebenarnya sudah diniatkan sejak beberapa hari yang lalu. Gara garanya waktu itu saya ingin memotret cabe saya yang berbuah sangat lebat dan banyak yang memerah. Tapi malang nasib saya, begitu saya mengambil hape buat motret, lho???? Pada kemana ya buah cabe saya yang merah-merah itu kok pada menghilang dari pohonnya? Tinggal cuma sedikit yang tersisa…
Saya pun bertanya kepada orang rumah, siapakah yang sudah memetik cabe saya tanpa ijin? Tak seorangpun mengaku. Heran kan?
Setelah malam akhirnya teka tekinya terpecahkan. Ternyata pemetiknya adalah pak Supir yang setiap hari mengantarkan anak anak pulang pergi ke sekolah. Dengan muka tanpa dosa Pak Supir bilang “Saya Bu yang metik. Soalnya kasihan cabenya sudah merah-merah. Ketuaan.Ntar keburu jatuh atau dipatokin ayam. Semuanya sibuk. Jadi saya bantuin panen. Terus saya sudah simpan di dapur, Bu”. Yaaaah….gagal deh motret-motretnya.
Tapi memang benar sih, karena terlalu sibuk belakangan saya tidak sempat memetik hasil tanaman lagi. Melihat cabe berbuah banyak dan merah merah saya sangat senang dan membiarkannya begitu saja menjadi penghias halaman. Saya lupa kalau cabe dan tomat dan apapun itu di funia ini punya yang namanya batas waktu. Jika saya biarkan dan tidak petik-petik, akibatnya banyak tanaman saya yang kadaluwarsa….
Buah cabe yang kering di pohon atau jatuh ke tanah.

image

Buah tomat dengan nasib yang sama. Tua, kering dan keriput di pohon. Atau jatuh ke tanah.

image

Kangkung yang ketuaan. Batangnya menjalar kemana mana dan berbunga. Tentunya tidak ada diantara kita yang ingin masak bunga kangkung bukan?

image

Kailan juga mulai nenunjukkan putik bunganya. Aduuuh ketuaan ini.

image

Demikian juga pohon kemangi. Sudah tua tua. Banyak bunganya ketimbang daunnya.

image

Bayam telat memetik. Pada dimakanin ulat. Aduuuuh….

image

Tidak kalah kadaluwarsanya si timun padang. Pada merah merah dan berjatuhan di tanah.

image

Semua itu menyadarkan saya bahwa urusan memanen yang merupakan sebuah final execution dari sebuah proses berkebun,  kelihatannya sepele dan mudah, tetapi sebenarnya bisa mengakibatkan kegagalan dan kesia-siaan jika saya tak mampu mengeksekusinya dengan baik dan tepat waktu.

Sayuran, cabe, tomat, timun adalah bahan baku makanan. Menyia-nyiakannya dengan terlambat memanen sama saja dengan menyia-nyiakan makanan. Bukan perbuatan terpuji. Jika tak sempat memetik sendiri harusnya lain kali saya mempersilakan orang lain / tetangga untuk memetik dan memanfaatkannya.

Berikutnya, jika kita melihat kembali proses membibit, menanam, memelihara tanaman sayuran ini, maka sebenarnya saya sudah membuang-buang waktu saya selama ini dengan sia sia hanya gara gara kurang disiplin pada bagian akhir dari sebuah proses menanam. Karena ujung-ujungnya hasilnya tidak saya manfaatkan juga. Idealnya investasi waktu kita, jangan sampai sia sia hasilnya hanya gara gara kita terlambat mengeksekusi final prosesnya.

Sambil membersihkan instalasi hidroponik , saya berpikir-pikir. Dalam kehidupan serta pekerjaan sehari-hari pun sebenarnya hal ini berlaku juga. 
Sering sekali kita sudah memiliki gagasan yang menarik, sudah membuat perencanaan dengan baik, juga sudah mengeksekusinya dengan tidak kalah baiknya hingga hampir rampung. Di ujung tahap penyelesaian, mulailah kita lengah dan lupa daratan dan tidak mempush diri kita lagi untuk menyekesaikannya dengan baik. Apalagi jika sempat mrlihat hasilnya yang bagus pada saat 90% hampir rampung, kita menyangka bahwa hasil yang bagus itu akan berlanjut begitu saja. Padahal tidak ada yang menggaransi seperti itu. Untuk mendapat hasil yang bagus, kita harus mengeksekusi dengan sama baiknya di setiap tahap dari tahap awal hingga tahap final.

Selain tetap fokus di final execution,  kita juga tetap perlu mengeksekusi dengan mempertimbangkan waktu. Ibaratnya hasil tanaman yang memiliki batas usia – dimana jika tidak cepat dipanen nanti keburu terlalu tua, kering, jatuh, atau busukvatau dimangsa mahluk lain – segala seduatu di dunia ini punya batas waktu yang menuntut kita untuk segera melakukan final eksekusi sebelum segala sesuatunya berubah. Entah itu perubahan karena jaman, karena trend maupun perubahan prilaku masyarakat di sekitar. Jika tidak kita eksekusi dengan baik pada waktu yang tepat di tahap final, tidak perduli betapapun bagusnya gagasan, perencanaan dan eksekusi di tahap awalnya, maka keseluruhan project itu tetap tidak akan berhasil dengan baik.

Dapur Hidup: Menanam Sendiri Sayuran Sawi Pagoda.

Standard

Salah satu tanaman sayuran  yang cukup menarik untuk dimasukkan dalam daftar tanaman Dapur Hidup adalah Tatsai. Tukang sayur menyebutnya dengan nama Sawi Pagoda atau terkadang Wuta.

image

Disebut begitu barangkali karena bentuknya memang lucu mirip pagoda terbalik.  Daun-daunnya melingkar tersusun rapi dari tengah makin ke pinggir makin tinggi.

image

Jenis sawi ini jika dimasak terasa lebih enak dibandingkan dengan sawi lain. Selain itu harganya juga mahal. Saya pernah membeli 1/2 kg diberikan harga Rp 20 000. Mahal kan?  Jadi saya memutuskan untuk mencoba menanamnya. Kebetulan sekali saat bermain ke sebuah kebun hidroponik di seputaran Bintaro, saya ada melihat biji sawi pagoda dijual juga. Jadi saya belilah bijinya.

image

Setelah bijinya tumbuh, sebagian ada yang saya tanam di polybag dan sebagian ada yang ditanam hydroponik. Sayangnya ketika saya teelalu sibuk, beberapa tanaman ini agak terganggu pertumbuhannya. Entah karena gangguan ulat, kekurangan nutrisi ataupun rusak dikoyak hujan yang terlalu deras. Tapi beberapa masih ada yang cukup sehat untuk meneridkan hidipnya hingga saat panen tiba.

 

 

 

 

 

 

Selagi sempat, kemarin saya membersihkan akar tanaman ini dari lumut, menambahkan pipik cair dan memberi tambahan rockwool di pangkalnya agar lebih kokoh dan tidak goyang saat diterpa hujan yang sering turun deras belakangan ini.
Saya senang menanam sayuran seperti ini. Selain sangat terkontrol, tentunya bebas pestisida.Lebih aman untuk dikonsumsi keluarga. Selain itu, lumayan banget buat mengurangi belanja dapur.
Kita tanam yuk!.

Urban Farming: Daun Pepaya Jepang.

Standard

Sekitar satu setengah tahun yang lalu saya pernah menulis tentang beberapa jenis sayuran yang relatif baru di dapur saya. Nah diantara sayuran yang belum lama saya kenal itu, saya ada menulis Daun Pepaya Jepang. Saya membayangkan pohonnya  tentu seperti pohon pepaya namun kecil-kecil. Saya tak pernah melihat sebelumnya.

Tak disangka, rupanya setahun setelah itu saya mulai menanam pohon Pepaya Jepang ini di halaman rumah saya dalam rangka menopang program ‘Dapur Hidup’ saya. Walaupun tinggal di daerah perkotaan dengan halaman sempit, saya tetap berusaha mengurangi ketergantungan akan kebutuhan dapur, jika tidak bisa disebut sebagai berupaya melakukan swa sembada kebutuhan dapur dari halaman sendiri.

Bagaimana asal muasalnya, mengapa saya bisa memilih tanaman ini sebagai salah satu penghuni Dapur Hidup saya?. Nah.. ini sebenarnya bermula dari sebuah ketidak sengajaan.

Pak Sopir yang mengantarkan saya tiba-tiba bertanya saat kami sedang di jalan “Ibu! Tahu nggak Ibu sayuran Daun Pepaya Jepang?” tanyanya. Ia memang suka mengajak saya ngobrol atau menanyakan pendapat saya tentang berbagai hal yang menarik perhatiannya. Tentang apa saja.

Oh? Saya yang sedang asyik bermain games di jok belakang langsung menutup hape saya. Tentu saja saya tahu. Saya adalah salah seorang ibu rumah tangga yang sangat terkesan akan sayuran itu. Bentuknya mirip daun pepaya tetapi kecil-kecil, sedangkan rasanya seperti daun singkong dan tidak pahit sama sekali. Jadi lumayan membantu banget kalau lagi pengen masak daun pepaya tapi nggak mau pahit.

Pak Supir lalu bercerita, bahwa neneknya yang tinggal seorang diri dulunya sering berjualan daun pepaya jepang untuk menyambung hidupnya. “Ooh? Sekarang masih?” tanya saya. “Sekarang sudah tidak lagi, Bu. Tapi pohonnya masih ada. Ibu mau? Nanti saya bawain” katanya menawarkan. Tentu saja saya langsung mengiyakan dengan senang hati. saya memang sudah lama penasaran akan wujud pohon pepaya Jepag ini.Karena yang saya tahu hanya daunnya dari tukang sayur.

Akhirnya esok harinya Pak Supir membawakanlah saya batang tanaman pepaya jepang ini ke rumah utnuksaya jadikan bibit.  Oooh..jadi begini bentuknya!. Saya mengamat-amati batang tanaman itu.

Bentuknya rupanya mirip dengan batang Ubi Kayu alias singkong. Tapi menurut Pak Supir tanaman ini tidak berumbi. Jadi tidak dibudidayakan orang untuk umbinya. Tidak pula berbuah seperti pepaya.  Hanya berbunga saja kecil-kecil mirip bunga tanaman Jarak mini (Jatropha) bentuknya. Tanaman yang aneh. Berdaun seperti pepaya (Carica) berbatang seperti singkong (Manihot) dan berbunga seperti jarak (Jatropha). Saya terheran-heran, bagaimana dua tanaman yang berada dalam 2 family yang berbeda bisa memiliki kesamaan daun seperti ini. Tapi setelah melihat batang dan bunganya, saya cenderung berkesimpulan bahwa tanaman ini lebih dekat ke  family Euphorbiaceae ketimbang ke family Caricaceae (pepaya).

Ada beberapa batang. Ada yang saya tanam di pot, dan ada juga yang saya tanam di polybag. Tidak ada perbedaan perlakuan ekstreem antara yang di pot dengan yang di polybag. Sama saja suburnya. Tetapi ternyata ada perbedaan kecepatan pertumbuhan antara yang diletakkan di halaman belakang  dengan yang diletakkan di halaman depan di dekat kolam. Yang di dekat kolam dan kecipratan air, ternyata lebih hijau dan subur,

Dalam beberapa minggu ternyata daun pepaya jepang ini sudah bisa dipanen. Lumayan kan buat nambah variasi masakan di dapur? Daunnya bisa ditumis, dimasak kuah santan, atau mau dijadikan botok, diurap, dikasih teri, atau direbus dijadikan lalap dan dicocol sambel terasi juga enak sekali. Tinggal petik segar-segar dari halaman. Diolah. Segar dan manis.

Itulah tanaman pepaya Jepang. Salah satu tanaman sayuran yang layak sekali masuk ke dalam daftar “Dapur Hidup”kita. Menanamnya mudah dan pemeliharaannya juga mudah.

Lumayan banget buat irit-irit belanja dapur.

 

Buah Pare Yang Terlambat Dipanen.

Standard

Ditinggal kesibukan pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari, banyak yang terjadi pada Dapur Hidup saya. Pucuk pucuk selada yang memanjang, daunnya tidak sempat dipanen. Tanaman pakchoi yang juga segera perlu dipanen agar tak ketuaan.  Anakan pohon kemangi sudah bertumbuh dan sudah waktunya di re-potting. Demikian juga anakan pohon tomat cherry. Sudah mulai besar dan sebentar lagi butuh sandaran. Nah…yang paling menarik adalah buah-buah pare yang tidak sempat saya panen. Sudah terlalu tua, kuning dan beberapa diantaranya meledak. Memperlihatkan biji-bijinya yang merah merona.

Ah!. Sayang sekali tidak sempat dimanfaatkan untuk sayur. Padahal sebelumnya saya sempat berjanji kepada seorang teman akan membawakan hasil panen buah pare ini.
Sudah dua kali saya gagal membawakan buah pare buat teman saya itu.

Pertama, saat buah pare sedang banyak-banyaknya.Tapi sayang sekali ketika saya ingat akan memetik, rupanya buah pare sudah dipetik duluan oleh orang rumah dan dibagikan kepada tetangga yang mau. Keduluan deh.

Berikutnya, ya kali ini. Eh…karena tak sempat memetik, buah buah pare ini keburu matang di pohonnya dan meledak. Batal lagi deh saya membawakan buat teman saya.
Saya agak kecewa memikirkannya.Tapi kemudian saya nenghibur diri saya sendiri. Buah yang kematangan ini tetap bisa saya manfaatkan, saya ambil bijinya untuk bibit saja. Selain itu warna warni kuning, jingga dan merah ini juga cukup cantik menghiasi kebun. Kurang optimal memang, tetapi tidak apa apalah. Toh masih ada gunanya juga.

20160120_070458.jpgTapi pelajaran penting yang bisa saya tarik dari sini adalah bahwa segala sesuatu itu butuh “timing” yang tepat untuk mengeksekusi. Waktu yang tepat. Waktu yang pas. Seperti halnya dengan buah pare ini. Jika dipetik terlalu cepat, ukuran dan tekstur serta tingkat kerenyahan buah pare ini tentu belum optimal. Tapi jika kelewatan, dan terlambat memetiknya, bisa jadi sudah keburu dimanfaatkan oleh orang lain, atau mungkin juga sudah menjadi terlalu tua, meledak dan tidak bisa dimasak lagi. Nah… seperti halnya dalam memetik buah pare, dalam kehidupan sehari-hari juga berlaku hal yang sama. Ketepatan mengeksekusi sesuai dengan waktu, sangat dibutuhkan oleh setiap orang yang menginginkan hasil yang optimal.

Ingat akan waktu, saya jadi teringat akan konsep Desa-Kala-Patra (Tempat-Waktu-Situasi) yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Dimana “waktu” merupakan salah satu element penyusun konsep Desa-Kala-Patra ini yang sangat penting untuk dijadikan acuan dalam bertindak dan mengeksekusi sebuah rencana, selain juga elemen ruang dan situasi.

Untuk melakukan tindakan tertentu, setiap orang umumnya menggunakan patokan ini. Menyesuaikan dengan Desa (tempat dimana tindakan itu akan dilakukan), Kala (kapan tindakan itu akan dilakukan) dan Patra (bagaimana situasi/pattern /pola keadaan yang terjadi pada saat dan tempat itu), dengan harapan segala sesuatu prosesnya berjalan dengan baik dan mulus tanpa halangan yang berarti dan akhirnya berhasil dengan baik. Jika salah satu element dari Desa-Kala- Patra ini tidak dipertimbangkan, peluang untuk terjadinya masalah dan ketidaksuksesan tentu akan membesar. Bertindak tanpa memahami kondisi tempat kita berada, hasilnya akan tidak optimal. Bertindak tanpa memahami situasi yang terjadi juga sama. Demikisn juga jika kita tidak memahami waktu.

Salah satu contoh sederhana dalam kehidupan sehari hari, ya seperti apa yang ditunjukkan oleh pohon pare ini kepada saya. Saya tidak memetiknya pada waktu yang tepat. Sehingga buah pare ini keburu masak dan meledak.

Sebuah pengingat bagi diri saya sendiri untuk mengingat kembali Desa- Kala-Patra dalam setiap tindakan dan perbuatan saya.

Dapur Hidup: Kencur, Bumbu Dapur Multi Guna.

Standard
Kencur - tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Kencur – tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Salah satu tanaman bumbu dapur yang menarik untuk disiagakan di halaman rumah adalah Kencur (Kaempferia galanga). Dengan nama daerah Cekuh, bumbu dapur yang satu ini sangat populer penggunaannya di Bali.

Kencur atau cekuh ini bersama dengan Suna (bawang putih) merupakan bahan utama untuk bumbu standard masakan traditional khas Bali yang sangat lezat yang disebut dengan “Basa Suna Cekuh”. Ada banyak jenis masakan Bali yang menggunakan Basa Suna Cekuh. Mulai dari ikan cue atau pindang suna cekuh, ayam mebasa suna cekuh, lindung (belut) suna cekuh, kakul (keong) suna cekuh,  hingga nasi goreng bumbu suna cekuh. Walaupun judul bumbunya Suna-Cekuh, sebenarnya pembangun bumbu ini bukan hanya suna dan cekuh saja, tetapi juga ada bahan bumbu lain seperti kunyit, sedikit bawang merah, cabe dan garam serta daun salam. Hanya saja penggunaan Suna dan Cekuh itu dominan.

Berikutnya, jenis bumbu standard masakan traditional Bali lainnya yang menggunakan kencur adalah “Basa Gede”(bumbu besar). Bersama sama dengan bawang merah, bawang putih, cabe, lengkuas, jahe, kunyit dan garam serta rempah rempah lainnya, kencur juga ikut berperan di dalamnya. Di sini kencur tidak lagi menjadi pemain utama, tetapi keberadaannya sangat penting. Tanpa kencur rasa basa gede yang menjadi bumbu standard sebagian besar masakan Bali akan bubar. Banyak masakan Bali yang menggunakan Basa Gede sebagai bumbu standard misalnya lawar, be siap mekuah, jukut timbul, junkut nangka dan lain sebagainya. Nah..jadipenting ya keberadaan kencur ini?.

Selain sebagai bumbu dapur, kencur juga banyak dimanfaatkan untuk pengobatan traditional. diketahui bahwa kencur mengandung minyak atsiri dan alkaloid. Penggunaannya secara traditional misalnya untuk meredakan batuk,. Lalu ada juga yang menggunakannya untuk meredakan sakit perut dan kelebihan gas di lambung. Ada juga wanita dan ibu-ibu yang memanfaatkannya untuk meredakan rasa nyeri saat datang bulan.

Atas dasar pertimbangan itu, sayapun menanam kencur di halaman rumah. Untuk berjaga jaga jika perlu dan tukang sayur tidak punya. Saya pikir ini penting untuk meneruskan tradisi keluarga. Jaman dulu, Ibu saya juga menanam kencur di halaman. Dan saya masih ingat di rumah kakek saya dulu ditanam kencur dalam pongpongan (buah kelapa bulat yang jatuh dari pohonnya karena bolong akibat dimakan tupai) lalu digantung-gantung di pohon, kelihatan artistik dan natural juga.  Saat ini saya menanamnya di polybag saja. Ada 6 polybag. Lumayanlah.

Menanamnya cukup mudah. Saya hanya memanfaatkan  potongan kecil kencur sisa dapur. Lalu saya tanam rimpang kencur ini di tanah dalam polibag. Berikutnya saya hanya menyiramnya saja. Kelihatannya kencur ini suka tempat yang lembab.

Kencur sekarang siap untuk diambil daunnya untuk  lalap ataupun urab. Dan rimpangnya untuk bumbu dapur maupun obat. Nah… enak kan kalau punya pohon kencur  di halaman?.

Yuk kita  tanam kencur!. Bikin Dapur Hidup dan Apotik Hidup di halaman.

Dapur Hidup: Seledri Sayuran Multi Fungsi.

Standard

 

2015-12-24-18.19.08.jpg.jpegSeorang saudara saya (kakak) saya bertanya, “Hai gimana kabar tomat-tomatmu?“. Rupanya saudara saya itu ikut-ikutan semangat berkebun sayur. Ia mengatakan kalau ia juga terinspirasi oleh tulisan saya tentang Dapur Hidup dan mulai menanami areal-areal kosong di sekitarnya dengan cabe dan tomat. Bahkan berencana akan segera menanam kol juga. Ha ha..yes!. Saya senang.  Jadi lumayan dong ya..saya bisa mengajak-ajak untuk giat berDapur Hidup.

Menjawab soal tomat, saat ini di lahan sempit pekarangan saya sedang tidak ada tomat. Sudah habis. Karena setelah 7x panen pohonnya sudah menua dan meranggas. Saya memutuskan untuk mencabutnya saja. Dan baru mulai membibit lagi.  Tanaman sayuran hijau seperti pakchoi dan selada serta kangkung juga masih kecil-kecil dan belum siap panen. Lalu apa yang ada di halaman rumah kali ini?

Setidaknya hari ini  saya masih punya pare dan timun untuk dipanen  Juga masih ada banyak tanaman bumbu dapur. Apa saja sih?. Salah satunya adalah Seledri (Apium graveolens).

Di Bali orang cenderung menyebut Seledri dengan nama Suladri. Karena awalan kata Su berarti bagus/baik,maka mendengar nama Suladri terasa sangat nyaman di telinga. Kesannya seperti sesuatu yang mengakibatkan hal baik.

Pada kenyataannya, tanaman ini memang memegang peranan penting di dapur. Walaupun fungsinya sebagai pelengkap rasa, seledri dibutuhkan di banyak masakan. Bikin soto enak ditaburi  seledri. Bikin bubur ayam juga enak ditaburin seledri. Bikin perkedel kentang juga pakai seledri. Bikin bakwan jagung, bakwan sayur pakai seledri. Bikin sup pakai seledri. Dan masih banyak lagi jenis masakan, hingga ke kripik kripik pun ada yang pakai seledri.  Seledri dengan rasanya yang khas, memberikan sentuhan tersendiri pada masakan yang kita sajikan.

Selain buat masakan seledri secara traditional juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan perawatan. Sejak kecil kita sering mendengar jika air remasan daun seledri digunakan untuk keramas, dengan maksud untuk membantu menyuburkan rambut. Tak heran jika ada beberapa shampoo juga menggunakan extract seledri di dalamnya. Ada juga wanita yang memanfaatkan tumbukan daun seledri untuk memasker wajahnya agar halus dan cerah.

Seledri juga sangat disarankan untuk dikonsumsi untuk memperkuat penglihatan, karena kandungan Vitamin A-nya yang tinggi.  Lalu kita juga mendengar jika banyak orang memanfaatkan daun seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penurun kolesterol, sebagai diuretika dan sebagainya. Karena manfaatnya yang banyak, tentu akan sangat menguntungkan jika selalu kita siagakan di halaman rumah ya. Saya memasukkan seledri sebagai salah satu tanaman Dapur Hidup saya.

20151224_165551.jpgBenih berupa biji bisa kita dapatkan dari Toko Trubus. Biji seledri berukuran sangat kecil-kecil dan ringan. Dan mudah beterbangan jika kita tidak hati-hati  membukanya. Teksturnya mirip biji ketumbar. Tetapi jika biji ketumbar bentuknya bulat-bulat, biji seledri bentuknya lucu, melengkung lengkung.

Biji-biji ini saya taburkan di dalam pot tanaman hias Lidah Mertua yang tetap saya jaga kelembabannya. Masa tumbuhnya sangat lama. Kalau tidak salah saya harus menunggu selama 3-4  minggu. Tiada kunjung kelihatan gejala-gejala kehidupan sedikipun. Hingga nyaris saya pikir tidak berhasil hidup. Setelah kurang lebih sebulan barulah saya lihat ada titik-titik hijau muncul dipermukaan tanah.  Dan pertumbuhannya pun lambat juga. Sangat berbeda dengan biji tanaman lain seperti Caisim atau Pakchoy yang hanya dalam hitungan  1-2 hari atau maximum 3 hari sudah ada muncul putiknya.

 

 

20150907_073823.jpgSeledri membutuhkan air yang banyak. Jadi kita harus rajin-rajin menyiramnya dan menempatkannya di tempat yang teduh. Jangan dipanggang di bawah terik matahari.

Seledri ini menurut saya adalah tanaman yang sejak benih sudah indah. Saya sangat menyukai bentuk daun seledri. Berbentuk trisula tumpul dan bergerigi. Dan keindahannya ini sudah tampak bahkan sejak tanaman ini masih bayi.

Setelah daunnya minimal 4 buah, saya mulai memindahkannya satu per satu. Sebagian saya tanam di polybag dan sebagian lagi ada juga yang saya tanam dengan system Hydroponik.

SeledriUntuk yang di polybag membutuhkan perhatian khusus, karena harus rajin disiram. Pupuk humus atau pupuk kandang tentu sangat baik. Bisa juga kita menyiramnya dengan air  bekas cucian beras. Untuk hydroponik saya hanya memberikannya pupuk organik cair.

Beberapa minggu setelah itu, tanaman seledri saya sudah mulai bisa dipetik jika dibutuhkan untuk masak. Nggak perlu lagi membeli daun seledri dari tukang sayur. Karena kini saya sudah bisa memetik yang lebih segar dari halaman.

Nah.. membuat Dapur Hidup nggak pernah rugi kan!. Yuk kita semangat membuat Dapur Hidup sekaligus menghijaukan halaman rumah kita.

Go green yuk! Go green!.

Dapur Hidup: Timun, Panen Yang Ke Dua.

Standard

 

20151212_125656.jpgTimun di halaman rumah sungguh pandai membuat kejutan. Setelah minggu yang lalu saya panen – lumayan dapat 6 buah – hari Minggu pagi  saya melihat ada lagi buahnya yang bergelantungan. Tiba tiba kok sudah besar-besar. Cepat sekali.  Wah…terlambat manen lagi nih.

Sebenarnya suami saya sangat suka mentimun yang kecil-kecil dan muda untuk lalap. Kalau sudah sebongsor ini ya.. mulai kelihatan kurang appealing untuknya.

Tapi tidak apa apalah. Jika tidak dipetik sekarang ia akan menjadi semakin tua lagi dalam beberapa hari. Saya petik lagi buahnya satu persatu dengan menggunakan galah yang diujungnya disambung dengan jaring untuk memastikan buah tidak jatuh saat ditarik. Lumayan dapat 7 buah. Sayangnya yang satu keburu dimakan sehingga tak sempat difoto deh.

Kalau dipikir -pikir punya Dapur Hidup itu enak juga. Ada beberapa tanaman dapur hidup yang bisa dipanen berulang. Contohnya  tomat – saya sempat memanen buahnya dalam jumlah yang lumayan banyak (minmal 1/2 kg) sebanyak 7x  sebelum pohonnya tua dan meranggas dan akhirnya saya cabut. Demikian juga pare, terong, bayan, kangkung dan sebagainya. Saya bisa panen beberapakali.  Termasuk timun ini. Kita hanya perlu sekali menanam. Tetapi setelahnya kita bisa memanen beberapa kali.

Nah..yang mau saya tunjukkan di sini adalah bahwa bercocok tanam itu sebenarnya tidak terlalu repot. Hanya sekali saja kok. Dan jika kita sibuk bekerja, kita bisa melakukannya di akhir pekan. Ya…sisanya paling nyiram saja. Jika musim kemarau. Jika musim hujan, alampun ikut membantu kita menyiram.

Jika kita rajin menanam, maka kita bisa rajin memanen juga. Dan apa yang kita tanam, itu juga yang kita hasilkan.Jika kita menanam tomat, tentu kta akan memanen tomat yang berlimpah.Jika yang kita tanam adalah terung,  kelak yang akan kita panen adalah terong. Sangat mirip dengan perbuatan kita sehari-hari ya. Jika kita banyak tersenyum kepada orang lain, maka akan banyak pula senyum yang kita dapatkan kembali.  Jika kita ramah terhadap orang lain, niscaya keramahan juga yang akan banyak kita terima. Menanam perbuatan baik, akan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya jikakeburukan yang kita tanam,makayang kita dapat adalah keburukan juga.

Yuk kita menanam hal-halyang baik!.

Dunia Pinggir Kali: Bayam Liar Yang Segar.

Standard

 

2015-12-13-22.15.52.jpg.jpegSudah lama saya tidak bermain ke tepi kali belakang rumah. Kesibukan pekerjaanlah yang membuat begitu. Nah..mumpung agak senggang, saya memanfaatkan kesempatan.

Rupanya tetangga saya sudah selesai merenovasi rumahnya. Dan juga sekaligus memperbaiki pagar tepi kali yang mulai doyong. Temboknya tinggi juga. Untungnya masih dibuatkan pintu sehingga saya bisa nerobos keluar pagar jika ingin mengamati kehidupan burung-burung liar. Whuiii!!. Bantaran kali sekaligus juga sudah dibersihkan. Terimakasih tetangga!.

Rumput-rumput liar dicabutin dan sampah dibakar. Tanah di bantaran kali jadi lumayan terang. Rumput Benggala sudah tidak ada. Pohon jarak, pohon lamtoro dan pohon pisang ditebang. Tanaman oyong yang sebelumnya merambat di sana juga sudah tidak ada. Terang benderang!. Sebagian tanah masih kelihatan gundul tanpa penutup. Tanah di sekitar sini warnanya agak merah.

Karena hujan turun, rupanya biji-biji rerumputan dan tanaman mulai berkecambah. Ada banyak anak-anak tanaman baru. Senang melihat bantaran kali seperti ini. Sebentar lagi,  anak-anak tanaman dan rumput ini tentu akan tinggi lagi. Musim hujan membuatnya menjadi sangat subur. Selain di bantaran kali ini sangat jarang orang lewat. Tanaman-tanaman ini akan liar dan merajalela tanpa seorangpun yang peduli, hingga populasinya dibatasi oleh pertumbuhan mereka sendiri.

Agak ke sana saya melihat banyak rerumputan mulai tumbuh dan ada banyak sekali anakan bayam liar di sela-selanya. Puluhan jumlahnya. Daunnya besar besar, lebar dan subur. Wah…sebentar lagi tentu banyak ulat yang akan datang tergiur oleh kegendutan pohon-pohon bayam ini. Bayam-bayam itu menyebar di area sekitar 2 meter persegi.  Ya…saya ingat sebelumnya di sana ada pohon bayam liar yang besar dan berbunga banyak. Rupanya saat dibersihkan biji-bijinya yang halus sempat menyebar di situ. Sekarang tumbuh dan mulai besar. Sebentar lagi tentu akan tumbuh bunga.

Selain daunnya yang lebih lebar-lebar, bayam jenis ini rasanya jauh lebih enak dari jenis bayam cabut. Jaman dulu, sebelum jenis bayam cabut diperkenalkan di pasar,saya selalu menanam jenis bayam ini yang sekarang menjadi liar karena tidak umum dibudidayakan lagi.

Sebelum keduluan ulat, maka bayam itu saya petik sebagian. Saya ambil daunnya yang lebar-lebar saja.Lumayan saya mendapat sekeranjang penuh daun bayam liar segar. Bisa buat masak 2-3 kali.

Rejeki dari pinggir kali.

Melon: Sekali Berarti, Sesudah Itu Mati.

Standard

20151123_062001Salah satu potongan sajak yang saya ingat baik dari Chairil Anwar adalah “Sekali berarti, sesudah itu mati!“. Kalimat sang penyair itu terasa memaku kepala saya. Hidup cuma sekali dan sesudah itu kita mati. Jadi kita harus membuatnya berarti. Harus membuatnya bermakna baik bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang di sekitar kita. Barangkali demikian kira-kira maksudnya.

Kenapa tiba-tiba saya teringat kepada kalimat puitik itu?. Nah ..itu gara-gara pohon melon saya.

Saya punya sebatang pohon melon. Ditanam anak saya menumpang di sebuah pot pohon pandan yang tinggi. Ketika pohon melon itu baru tumbuh saya tidak terlalu memperhatikannya. Tetapi ketika ia tumbuh besar, saya mulai terkejut.Waduuh!! pohonnya bisa kemana-mana ini. Mana nanti jika seandainya berbuah,buahnya pasti berat sekali. Akan saya rambatkan ke mana ya?.  Karena takpunya ide yang lebih baik,akhirnya saya memutuskan untukmembiarkan saja pohon melon itu tumbuh. Saya jalarkan ke kawat jalaran pohon timun.

 

Suatu pagi saya lihat pohon itu berbunga.Warnanya kuning dan cantik. Tak seberapa lama bunga-bunga lain bermunculan. Tetapi yang sukses menjadi buah hanya satu. Saya mulai memperhatikan dan memeliharanya setiap pagi.  Buahnya makin hari semakin besar.Saya tetap memeriksa dan mengamati pertumbuhannya. Hingga beratnya tertentu, kawat jalaran timun tidak mampu lagi menyangga beban buahnya. Buahnya pun saya letakkan di pot tanaman pandan. “Tidak apa-apalah diletakkan di situ sambil menunggu buahnya matang“. Pikir saya.

Namun sayang sekali, beberapa hari setelah itu pohon melon saya tiba-tiba layu. Akarnya tercabut oleh anak-anak kucing kecil yang nakal dan bermain-main di dekat batangnya. Pohon melon itupun layu dan akhirnya mati. Yaah…sayang sekali. Saya pikir buahnya belum membesar dengan sempurna.Ia keburu layu dan mati. Saya menunggu sampai pohon itu benar-benar kering barulah akhirnya buahnya saya petik. Ternyata buahnya manis juga.

Pohon melon ini berbuah sekali, setelah itu mati. Ia membuat hidupnya berarti dan berguna bagi saya, sebelum akhirnya ia mati. Terimakasih Melon.