Category Archives: Gardening

Bunga Merah Kacang Ucu Liar Dari Sumatera Barat.

Standard
Bunga Kacang Ucu berwarna Merah dari tepi jalan di Sumatera Barat.

Bunga Kacang Ucu berwarna Merah dari tepi jalan di Sumatera Barat.

Dalam sebuah perjalan dari arah Bukittinggi ke Padang, saya yang duduk di belakang  melihat-lihat pemandangan yang sangat menarik hati saya. Lembah dan ngarai yang berdinding batu dan tanaman. Diselingi dengan  pemandangan sawah dan rumah-rumah penduduk dan bangunan yang satu dua masih ada yang bertahan dengan bentuk atap tradisionalnya.  Sangat senang melihatnya.

Setelah melewati Padang Panjang dan saya pikir sekarang kami berada di wilayah Pariaman, mata saya tertuju ke semak-semak berbunga merah di pinggir jalan. Wild bush bean yang berbunga merah!. Wow!. Saya pernah melihat gambar bunga liar itu entah di mana, namun saya belum pernah melihatnya langsung di alam. bunganya sungguh cantik dan warnanya sangat menawan.

Saya ingat, saya pernah melihat bunga sejenis di tepi pantai Benoa di Bali yang saya tulis di sini sekitar dua setengah tahun yang lalu. Hanya saja, yang saya lihat di Bali itu adalah jenis yang berbunga hitam. Sebenarnya mungkin warnanya super merah gelap, namun saking gelapnya jadi terlihat berwarna hitam. Sementara yang di Sumatera Barat ini adalah jenis yang berbunga merah.

Bunga  kacang Ucu berwarna Hitam yang ditemukan di tepi Pantai Benoa di Bali

Bunga kacang Ucu berwarna Hitam yang ditemukan di tepi Pantai Benoa di Bali

Ah, seandainya saya bisa berhenti sejenak dan memotret bunga indah itu.  Ooh..betapa inginnya saya berhenti. Namun tentu saja saya tidak enak meminta teman saya yang menyetir kendaraan untuk berhenti begitu saja demi keinginan saya pribadi. Padahal kami di sana kan sedang dalam urusan pekerjaan kantor. Tentu tidak sepantasnya saya minta berhenti.  Akhirnya saya hanya diam saja.

Tepat ketika saya berpikir begitu, teman saya melambatkan kendaraannya, menyeberang dan kami berhenti di sebuah halaman rumah makan. Kiambang Raya.  “Kita berhenti dulu di sini. Sudah waktunya makan siang” kata teman saya. Ooh??!!. “Kenapa, Bu? Sudah lapar kan?” tanyanya.  Horeee!!! Saya girang bukan main. Lupa menjawab pertanyaannya, saya  minta ijin untuk menyeberang karena saya ingin memotret bunga Wild Bush Bean yang berwarna merah itu. Karena mengkhawatirkan keselamatan saya saat menyeberang, dengan mempertimbangkan lalulintas bus dan truck lintas Sumatera yang berkecepatan tinggi, seorang teman akhirnya mengikuti  saya menyeberang jalan. Dan mulai memotret motret di bawah terik matahari. Dan bunga -bunga itu memang luar biasa indah.

Bunga Kacang Ucu liar berwarna merah (Macroptilium lathyroides). Saya tidak tahu apa namanya dalam Bahasa Minang. Yang jelas tanaman ini agak kurang merambat dibanding saudara-saudaranya yang lain, dan bahkan pohonnya segikit agak bisa tegak. Namun unga dan buahnya sama denga jenis  Kacang Ucu  yang berbunga hitam.

Cantik-cantik bukan? Lihatlah warna merahnya yang menyala.  Walaupun ukurannya kecil, namun warnanya sangat memikat hati. Demikian juga bentuknya yang mirip kupu-kupu.  Terayun-ayun di tiup angin tepi jalan.

Jika saja ada orang yang serius membudidayakan kacang ucu ini, saya pikir tanaman ini sangat layak dijadikan tanaman hias .

Ini Dia Si Jali-Jali…

Standard

“Ini dia si jali-jali/Lagunya enak-lagunya enak merdu sekali/

Capek sedikit tidak perduli, sayang/ Asalkan dia, asalkan dia senang di hati…”

 

Jali jaliKebanyakan orang Indonesia  familiar dengan lagu Betawi yang indah dan jenaka itu. Saya sangat sering mendengarnya. Dan sering menyanyikannya ketika bermain ondel-ondelan dengan anak-anak saat mereka masih kecil. Tapi setelah mereka besar, tentu saja saya menjadi lebih jarang bermain ondel-ondelan lagi dengan mereka. Dan lagu Si jali-jali itupun mulai  jarang terdengar lagi di rumah, karena penyanyinya sibuk dengan urusan lain lagi.

Saya ingat pernah suatu kali anak saya bertanya,  Jali-Jali itu apa, Ma? Nama orang? Ha ha! Bang Jali, dong.. Bukan! kata saya. Lalu menjelaskan bahwa Jali-Jali itu adalah sejenis tanaman padi-padian yang  bijinya bisa dibikin bubur.  Rasanya enak juga.

Tapi ada juga jenis Jali-Jali yang bijinya keras ” Waktu kecil, bijinya yang tua  mama suka ambilin di pematang sawah buat bikin kalung dan gelang. Ceritanya itu manik-manik” kata saya. Anak saya tidak bisa membayangkan bagaimana bentuknya si jali-Jali itu. Saya ingin menunjukkannya dari internet, tapi selalu kelupaan.

Jali jali 1Ketika kapan hari sempat bermain di sawah yang tak terurus di belakang rumah, saya merasa senang karena melihat ada banyak pohon Jali-Jali ( Coix lacryma jobi) di sana.  Seseorang tentu telah menanamnya di sini dan meninggalkannya begitu saja saat sawah ini dibeli oleh pihak developer.

Tiba-tiba teringat akan pertanyaan anak saya waktu kecil . Jadi saya bisa menunjukkan pada anak saya. “Ini lho yang namanya tanaman Jali-Jali!” – walaupun barangkali ia sudah melupakan pertanyaannya itu. Anak saya terlihat mencoba mengingat-ingat, dimana barangkali ia pernah mendengar kata Jali-jali disebutkan. Lalu saya mengingatkan akan lagu Betawi itu. Barulah ia ingat kembali.

Kalu diperhatikan buah Jali-Jali ini menarik juga tampaknya. Bentuknya  mirip tetesan air mata yang terbalik. Oooh.. barangkali itu sebabnya, mengapa di dalam nama Bahasa Latyn-nya ada disebut kata Lacryma  (Lacrimal gland = kelenjar air mata) . Ha ha penyakit sok tahu saya mulai kambuh.

Tapi sungguh, buah tanaman ini sangat menyerupai tetes air mata. Warnanya hijau saat masih muda. kemudian berubah menjadi ungu dan akhirnya memutih dan mengeras. Pada ujung bakal buahnya muncul bunganya yang bertangkai dan terangguk-angguk di tiup angin senja.  Daunnya mirip daun jagung berukuran mini.

Anggrek Liar Di Batang Bunga Soka.

Standard

Anggrek liar 1Saya menemukan anggrek baru! Species baru! Setidaknya bagi saya. Karena sebelumnya saya tidak pernah melihat jenis anggrek ini dimanapun dalam hidup saya.

Itu terjadi pada suatu pagi, ketika saya memergoki anak saya yang kecil sedang mencoba mengait-ngait batang bunga Soka di halaman rumah ibu mertua saya di Sukabumi dengan sebilah bambu agar batangnya merunduk. “Pengen melihat sarang burung, Ma. Ada telornya nggak?” katanya ketika saya menegur mengapa ia melakukan itu. Tentu saja saya melarang ia melakukannya. “Jangan dikait-kait begitu. Nanti sarangnya jatuh. Kan  kasian anak-anak burung itu”  kata saya.

Di pohon bunga Soka itu memang ada dua buah sarang burung pipit. Setahu saya induk burung itu sudah mengeram di sarang itu sejak dua bulan yang lalu. Karena waktu itu saya sempat memotretnya di tengah hujan.  “Pengen lihat. Sebentar saja” bujuk anak saya. Saya lalu mendekati pohon Bunga Soka yang ada sarang burungnya  itu sambil berpikir, apakah jika saya letakkan kursi di bawah pohon itu anak saya akan bisa mengintip ke dalam sarang burung atau tidak.

Sedang menimbang-nimbang begitu, tiba-tiba pandangan saya terhenti di batang utama  bunga Soka itu. Sebatang anggrek tampak sedang berbunga. Cantik sekali. Warna mahkota bunganya putih seputih anggrek bulan dengan sapuan warna kuning tipis di pangkal mahkotanya. Tapi bentuknya panjang-panjang dan langsing berjumlah 5 buah.  Lidah dan putiknya berwarna merah tua bintik-bintik di atas putih.  Ukuran bunganya sangat mini.  Jika saya ukur,  paling banter  hanya sekitar 3 cm. Hampir seukuran anggrek merpati. Saya tidak tahu anggrek apa itu. Bunganya lumayan banyak juga.

Mencoba menebak-nebak sendiri. Kalau saya lihat pohon dan daunnya, kelihatan bahwa anggrek ini mestinya dari keluarga Phalaenopsis. Karena daunnya lebar dan tebal. Tumbuh dari pangkalnya. Persis seperti daun dan pohon anggrek bulan. Setidaknya sekeluarga dengan anggrek bulan. Tapi bunganya sangat jauh berbeda.

Saya lalu memperhatikan tangkai bunganya. Tidak sama dengan Anggrek Bulan. Bentuknya berbeda. Pendek dan kompak. Kadang malah terlihat seperti sisik binatang melata.  Setiap tangkai bunga hanya mengeluarkan sebuah bunga. rasanya saya pernah melihat anggrek dengan cara perbungaan seperti ini.Entah anggrek apa.Saya tak berhasil mengingatnya. Akhirnya saya coba-coba googling.  Sampai sekarang masih buntu!.

Kemungkinan saudaranya yang terdekat adalah Phalaenopsis cornu-cervi. Cuma semua jenis Phalaenopsis cornu-cervi yang saya lihat warnanya coklat, kuning atau belang (saya belum pernah melihat ada yang berwarna putih), dan bentuk mahkotanya juga relatif lebih lebar, bukan langsing dan panjang seperti ini.

Tentunya ini jenis baru. Saya tunjukkan ke ibu mertua saya barangkali beliau pernah melihat anggrek liar ini sebelumnya? Beliau hanya menggeleng dan mengatakan bahwa baru pertama kalinya melihat anggrek itu tumbuh di sana. Begitu juga suami saya dan kakak-kakak ipar saya. Tak ada yang tahu. Anak saya yang tadinya tertarik pada sarang burung,sekarang ikutan penasaran.

Bunga Anggrek  apa itu? New species?” tanyanya. Saya mengiyakan “Penemuan baru.  New Species” kata saya.  Lalu ia bertanya lagi., darimana asalnya mengapa ia ada di pohon bunga Soka di halaman rumah kita?. Saya menjawab “Barangkali di bawa burung. Bijinya ditengah hutan menempel di kaki burung. Lalu burung itu terbang dan menclok di pohon ini. Akhirnya jatuhlah biji anggrek itu dan menempel di batang pohon bunga Soka” kata saya mengira-ngira.  “Lah..kalau dibawa burung dari hutan ke sini, berarti bukan New Species dong!  Berarti anggrek ini sebenarnya sudah pernah ada sebelumnya di hutan” protes anak saya. ya ya..bener juga sih. Barangkali memang bukan new species dalam artian sebenarnya.  Mungkin hanya New Species to me! – saja. Karena saya belum pernah  tahu dan belum pernah melihat  sebelumnya.

Kalau saya memberi nama,  barangkali namanya akan menjadi Phalaenopsis cornu-cervi albus, karena warnanya putih.  Atau barangkali Phalaenopsis cornu-cervi stellata, karena bentuknya seperti bintang. Weleh! Ini sifat sok tahu saya mulai kambuh!.

Apakah diantara sahabat pembaca ada yang tahu apa nama anggrek liar ini? Mohon bantuannya untuk mengidentifikasi. Terimakasih sebelumnya.

 

Makasar: Bunga Mimosa Air.

Standard

Bunga Mimosa AirKetika berjalan-jalan di perkampungan di daerah Makasar, saya melihat ada sebuah bunga kuning yang menarik perhatian saya. Bunga itu tumbuh di lahan basah berawa-rawa. Warnanya kuning, sangat cerah. Mirip kemoceng mini. Imut sekali.  Bunga apa itu? Terus terang saya belum pernah melihat tanaman itu sebelumnya. Atau lebih tepatnya,belum pernah memperhatikannya.

Sekarang bunga itu menjadi sangat menarik perhatian saya. Karena setelah saya pikir-pikir, bunga dan daun tanaman itu sangat mirip dengan bunga kuning kecil yang kalau di Bali disebut dengan nama bunga Srikili (Mimosa Kuning). Bedanya, bunga Srikili hidup di darat, sedangkan bunga ini hidupnya di air. Selain itu, bunga Srikili juga berbatang tegak, sedangkan tanaman ini terlihat menyender dan rebah.  Jadi, sebenarnya agak berbeda.

Selain hidup di darat dan memiliki batang dan cabang yang kuat, bunga Srikili juga sangat wangi, sehingga sering digunakan untuk keperluan persembahyangan. Waktu saya kecil, saya sering melihat tanaman Srikili ini, walaupun belakangan ini saya tidak pernah melihatnya lagi.    Bunga ini juga mirip dengan tanaman Puteri Malu yang merambat, berduri dan berbunga ungu (Mimosa pudica).

Saya mencoba bertanya kepada orang-orang di sekitar tentang nama tanaman air itu, namun tak ada yang tahu namanya. Akhirnya saya menduga sendiri barangkali ini adalah Srikili Air atau Mimosa Air. Saya pikir, nanti ketika bisa terhubung ke internet akan saya coba cari tahu lebih jauh.

Akhirnya saya mendapatkan clue-nya dari Wikipedia.

Bunga Mimosa Air 1Rupanya tanaman ini memang bernama Mimosa Air (Neptunia oleraceae).  Tanaman umum penghuni rawa-rawa. Jadi dugaan saya tidak salah.

Tanaman yang saya sangka gulma ini rupanya bisa menjadi tanaman pengganggu dan bisa jadi sumber makanan, tergantung bagaimana kita memandang dan  memanfaatkannya. Ada yang mengatakan ini adalah gulma yang perlu diperhatikan ketat, karena perkembangannya yang pesat dan batangnya yang busuk bisa jadi berperanan dalam proses pendangkalan rawa-rawa.

Namun di sisi lain rupanya tanaman air ini malah banyak dibudidayakan untuk dijadikan bahan sayur mayur di negara-negara Asia, seperti Thailand, Vietnam, Kamboja dsb.  Pucuknya dimakan, demikian juga akar dan bijinya.  oooh..kelihatannya enak juga. Saya tidak tahu apakah di Makasar dan di bagian lain Indonesia tanaman ini juga disayur. Saya belum pernah mendengarnya.

Saya sangat senang, karena kali ini pengetahuan saya tentang tanaman liar jadi bertambah satu.

 

Pilih Pilih Bekul, Yang Didapat Buah Bidara.

Standard

Buah Bekul (Bidara) 1Jika kita mendengarkan percakapan orang tua di Bali, terkadang kita mendengar ada pepatah “Pilih pilih bekul, patuh dogen ane bakat” terselip. (terjemahannya: Pilih-pilih buah bekul, sama saja yang didapat).  Atau kadang-kadang  pepatahnya  menjadi agak lebih lengkap ” Pilih-pilih bekul, bakat buah bangiang“. (terjemahannya: pilih-pilih buah bekul, yang didapat malah buah bangiang).Kedua pepatah itu mengandung kiasan yang sama yakni ” Terlalu pemilih, toh akhirnya yang didapat sama saja buruknya, atau malah lebih buruk lagi”.

Itu adalah nasihat orang tua, agar kadang-kadang kita jangan terlalu banyak membuang waktu untuk memilih jika yang dipilih kurang lebih sama kwalitasnya.  Toh bedanya tidak terlalu jauh. Konon bekul (buah bekul) itu kurang lebih sama saja satu sama lain, jadi yang manapun yang kita pilih…ya..kurang lebih samalah rasanya. Itulah sebabnya, percuma saja membuang waktu terlalu lama untuk memilih, toh ujung-ujungnya yang didapat sama saja.  Don’t be too picky!

Buah Bekul (Bidara) 2Kadang-kadang bahkan jika kita terlalu ‘picky’ malah bisa saja yang didapat justru buah bangiang, yang lebih buruk lagi dari yang diharapkan.

Saya sudah sangat paham akan maksud pepatah itu sejak kecil. Sehingga jika ada tetua atau kakak yang mengucapkan pepatah itu, saya tidak akan berani lagi membuang-buang waktu untuk memilih. Harus cepat mengambil keputusan. Tanpa ba bi bu lagi, dengan cepat segera ambil satu dan tak berani menoleh atau berpikir lagi.  Namun masalahnya adalah, saya tidak tahu yang manakah yang dimaksud dengan buah bekul atau buah bangiang itu.  Dua duanya saya tidak tahu.Saya belum pernah melihatnya, hingga siang itu di Lagoon BTDC Nusa Dua.

Saat sedang melihat-lihat burung di hutan mangrove di tepi Lagoon, pandangan saya tertumbuk pada sebuah semak mirip pohon apel, namun berduri. Daun dan batangnya mirip apel, demikian juga buahnya. Mirip apel kecil-kecil. Rasanya saya pernah melihat buah sejenis itu dijajakan di pinggir jalan di Hanoi. Ah! Tapi apa mungkin ya, buah yang sama? Saya mencoba menepis rasa sok tahu saya. Lalu sayapun bergumam “ Pohon apa ini ya?“. Saya tidak berhasil mengidentifikasinya.

Buah Bekul (Bidara) 3“Pohon bekul!” kata adik saya. Hah?! Jawaban adik saya membuat saya terperanjat. Bagaimana ia bisa lebih tahu tentang tanaman liar dibanding saya? Agak aneh. Biasanya saya yang lebih tahu. Saya merasa saya lebih penjelajah alam liar dibanding adik saya. “Ya! Tapi itu waktu kita kecil di Bangli. Saya kurang menjelajah waktu kecil. Tapi setelah di Denpasar, saya menjelajah lebih banyak. Dan karena pohon ini lebih banyak hidup di Badung, Kuta, dan sepanjang Jimbaran, jadi saya lebih tahu” kata adik saya. Saya pikir ia ada benarnya juga.  Buktinya ia yakin sekali akan pohon itu. “Kalau gitu bisa dimakan dong buahnya?”tanya saya.   “Bisa. Coba aja!” katanya. “Nggak mau ah! Takut mati” kata saya.

Rasanya agak kurang manis. Sepet dan agak asem. Makanya ada pepatah ‘pilih-pilih bekul’. Yang manapun yang dipilih ya..rasanya tetap begini. Mau yang muda tau yang tua , rasanya mirip-miriplah” katanya. Adik sayapun memetik  sebuah lalu menggigitnya. Saya menunggu,melihat dan memastikan tidak terjadi apa-apa pada adik saya. Melihat ia tenang-tenang saja, akhirnya sayapun ikut memetik sebuah dan memakannya.

Memang benar, rasanya agak asem dan sepet. Lumayan juga sih dimakan di siang hari yang terik. Enaknya mungkin dirujak ya.

Buah Bekul (Bidara) 4Sepulang dari lagoon maka sayapun mulai melakukan searching di internet dan ketemu bahwa buah bekul ini memang umum dimakan. Nama lainnya adalah Chinee Apple, Indian Plum, Jujube  (Ziziphus mauritania). Dan saya baru nyadar,banyak juga buah bekul yang dikeringkan dijual di negara negara lain dan kadang-kadang saya memang memakan dan membelinya. Tapi asli, saya sungguh tidak tahu namanya sebelumnya. Paling banter ada pedagang  yang pernah bilang itu  small plum. Dan rupanya bahasa Indonesianya adalah Bidara. Ya ampuuun! Saya sering mendengar nama Bidara, tapi malah tidak tahu kalau pohon Bekul itu sama dengan pohon Bidara.

Nah, sekarang  setelah melihat sendiri pohonnya dan juga mendapatkan informasi dari adik saya dan  Wiki, bertambahlah pengetahuan saya hari ini.

Pilih pilih buah Bekul, eeh..ketemunya buah Bidara!.  Sama saja!.

 

Menyaksikan Hukum Genetika Bekerja Pada Bunga Kembang Sepatu.

Standard

Kembang Sepatu JinggaTentunya banyak yang masih ingat akan pelajaran  dasar Genetika yang menjadi sub bagian pelajaran Biology di SMA ? Saya masih sedikit ingat dengan Hukum Mendel yang bercerita tentang bagaimana prinsip-prinsip genetika bekerja pada setiap individu. Lah?  Kenapa tiba-tiba saya berbicara soal Genetika dan  Hukum Mendel? Guru Biology bukan, Ilmuwan bukan, Biologist pun bukan. Ceritanya berawal dari sini.

Berada di rumah, menyebabkan saya memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekeliling rumah dengan lebih detail. Kali ini ada hal menarik yang saya lihat di bunga kembang sepatu saya yang berwarna  jingga.  Fotonya seperti di sebelah ini. Sepintas lalu tidak ada  yang terasa aneh. Bunganya cantik. Mahkotanya selapis, jumlahnya 5 dan berukuran sedang. Berwarna jingga dan sedikit bergelombang di tepinya. Di pangkal mahkotanya ada warna merah terang, dibatasi warna pink yang membaur dengan warna jingga muda. Lalu di tengahnya terdapat tangkai putik berwarna  putih, dilengkapi dengan benang-benang sari dan kepala sari yang berwarna kuning pucat. Nah! Lalu keanehannya di mana?

Kembang Sepatu Jingga bertingkatBunga ini barulah terasa aneh jika kita tahu bahwa tanaman Kembang Sepatu saya ini  sehari-harinya mengeluarkan bunga bertingkat seperti foto di sebelah ini. Sejak ia ditanam, barangkali entah ratusan atau bahkan ribuan kuntum bunga telah dihasilkannya. Semuanya bertingkat. Mahkotanya terdiri atas dua tingkat. Bagian bawah persis sama dengan yang pertama, yakni terdiri atas mahkota selapis berjumlah 5 lembar, dengan warna jingga muda. Bagian tengahnya berwarna merah dibatasi pink. Lalu ada tangkai putik yang berwarna putih.

Bedanya sebelum tumbuh benang sari, bermunculan mahkota-mahkota bunga di sekelilingnya yang berwarna jingga muda, menyusun bunga baru berimple dengan ukuran yang lebih kecil dari mahkota di bawahnya. Dari pusat mahkota bunga itulah kemudian keluar benang-benang sari dan kepala sarinya. Dengan demikian Kembang Sepatu jingga ini kelihatan bertumpang /bertingkat.  Cantik sekali.

Kembang Sepatu merah selapisSaya juga memiliki cerita serupa  denagn Kembang  Sepatu Merah saya ini.  Kembang Sepatu saya ini memiliki mahkota bunga  selapis berjumlah 5 buah berwarna merah terang .  Saya sangat menyukai warna merahnya yang terasa sangat merah sempurna. Merah semerah-merahnya. Merata dari ujung mahkotanya sampai ke pinggir.   Sebenarnya mungkin ada sedikit gradasi tingkat kegelapan dari warna merahnya terutama pada pangkalnya, namun nyaris tak terlihat. Mahkotanya melengkung ke bawah pada ujungnya dan berukuran sedang, karena Kembang Sepatu ini memang dari jenis yang berukuran sedang.

Tangkai putiknya panjang berwarna merah, dengan 5 kepala putik yang berwarna merah. Lalu ada banyak benang sari dan kepala sari  yang berwarna kuning. Begitulah saya menggambarkan bunga Kembang Sepatu saya ini.

Kembang Sepatu merah doubleNah, mari kita coba lihat bagaimana tampilan bunga Kembang Sepatu ini sehari-harinya. Fotonya seperti ini.  Beda sekali, bukan?

Warnanya nyaris sama. Merah semerah-merahnya. Tapi mahkota bunganya bukan selapis, namun double dan berimple. Ada banyak mahkota bunga yang tumbuh dari pangkal yang sama. Bergelombang semuanya dan sangat penuh. Sehingga alih-alih bentuknya  seperti bunga kembang sepatu klasik lainnya, kumpulan mahkota bunga kembang sepatu ini malah membulat nyaris membentuk bola.

Benang-benang sari dan kepala putiknya muncul dari sela-sela tumpukan mahkotanya. Kadang-kadang  arahnya tak jelas atau bahkan muncul di titik yang berbeda.

Kembang SepatukuKedua bunga yang  tampak berbeda ini muncul dari pohon yang sama dari cabang besar yang sama. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya bagi saya melihat kejadian ini terjadi pada tanaman kemabng Sepatu merah ini. Sebelumnya saya sudah sempat melihat kemunculan bunga selapisnya dua kali. Jadi buat saya sudah tidak aneh lagi. Namun memang sangat jarang terjadi. Padahal tanaman yang satu ini sangat rajin berbunga. Setiap hari  kuntum bunganya yang mekar antara 5 – 20 buah.

Kejadian itulah yang mengingatkan saya akan Hukum Mendel I yang disebut dengan  Hukum Segregasi, seperti yang diajarkan oleh Guru Biology saya di SMA dulu.  Dimana pada hukum ini disebutkan bahwa setiap induk (individu) memiliki pasangan Gen yang disebut dengan Alel. Pada saat terjadinya perkawinan dengan individu yang lain, Alel-Alel ini akan memisah dari individu induknya dan bergabung dengan Alel pasangannya di dalam individu baru (anak).

Bagi yang menyukai pelajaran Biology tentu ingat bahwa Alel-Alel ini ada yang bersifat Dominant (Terlihat) dan ada yang bersifat Resesif (kurang/tidak terlihat) pada anaknya. Alel yang Dominant akan selalu tampak dengan nyata – misalnya Alel bertingkat pada bunga  Kembang Sepatu jingga  saya ini tentulah bersifat Dominant, karena ia selalu terlihat bertingkat pada hampir setiap kuntum bunganya selama bertahun-tahun. Baru sekali ini saya melihatnya berbunga selapis dan tidak bertingkat (Alel Resesif). Barangkali saja ia pernah mengeluarkan 1 – 2 kuntum bunga selapis tak bertingkat seperti ini sebelumnya,  namun mungkin tidak sempat saya lihat karena kesibukan.

Dan pada tanaman Kembang Sepatu merah yang saya miliki , tentunya mahkota ganda dan berimple merupakan sifat yang lebih Dominant ketimbang sifat mahkota selapisnya yang bersifat lebih Resesif.

Ah! Saya berpikir barangkali ada baiknya saya panggil anak saya untuk ikut melihat kejadian ini dan belajar  Biology langsung dari contoh kejadiannya secara langsung. Sayapun memanggil anak saya.

Ia sangat tertarik dengan Hukum Mendel ini. Lalu berkomentar. “Very interesting!. Aku sudah pernah membaca sebelumnya dan mengerti general idea dari Genetic Transformation itu. Tapi yang aku ingin tahu, bagaimana rumus persisnya, kapan dan berapa banyak masing-masing kasus dominant dan resesif itu terjadi?“. Aduuuuuh! Saya malah nggak siap dengan jawabannya. harus baca-baca literatur lagi atau ngacak-acak Google dulu nih minta informasi.

Sambil menunggu saya mencari-cari jawaban, anak saya terus nyerocos menceritakan kepada saya games-games yang menurutnya sangat menarik tentang bagaimana kita mengotak-atik gen dan menciptakan individu baru yang bisa kita rekayasa sendiri agar memiliki gen unggul seperti yang kita inginkan. Dengan fasih ia menyebut kata-kata genetic engineering, genetic transformations, biotechnology, genome manipulations dan sebagainya. Semuanya ia dapatkan dari games dan internet. Dunia seperti berputar  cepat di kepala saya, membuat saya merasa pening.

Betapa teknology dan  informasi merasuk ke dalam otak anak-anak sedemikian cepatnya dan meninggalkan otak para orangtua yang bergerak lebih lambat…

Bagaikan Jamur Di Musim Hujan.

Standard

Jamur 1“Bagaikan jamur di musim hujan”. Itu adalah salah satu pepatah yang sangat populer diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia saya ketika SD. Apa artinya? Ya..artinya ya… banyak aja tiba-tiba muncul.  Di musim hujan biasanya banyak jamur yang tumbuh. Oleh karenanya, maka tetua kita jaman dulu menyebut  segala sesuatuyang tadinya tidak terlalu banyak ada yang lalu tiba-tiba muncul banyak,  sebagai ‘bagaikan jamur di musim hujan’.

Pepatah itu sebenarnya sederhana. Tapi bagi saya, itu adalah pepatah yang sangat menantang saya untuk mencari pembuktian.  Jika musim hujan tiba, saya paling senang melihat-lihat ke rerumputan dan ke bawah batang pohon  untuk mencari-cari apakah benar ada banyak jamur yang muncul.

Rasanya sangat senang jika melihat ada tumbuhan kecil yang berdiri memakai payung di sana. Mulai dari Jamur Bulan (Gymnopus sp) yang ukurannya sangat besar hampir segede piring kecil, jamur kuping yang warnanya gelap dan bentuknya mirip kuping tikus, jamur kayu yang keras, dan sebagainya sampai jamur Dedalu yang selalu muncul tak jauh dari rumah rayap.

Kebetulan ada beberapa jenis jamur yang bisa dimakan juga suka muncul di musim hujan. Tapi saya perlu membedakannya dengan jamur yang  beracun. Secara umum saya diberi tahu bahwa jamur yang berwarna terang (mearh,orange,dst) jangan diambil.  Jamur yang jika dipotes batangnya berwarna biru, atau jika digosok payungnya menjadi kuning terang juga jangan diambil. Begitu juga dengan jamur yang memiliki cincin, harus hati-hati. Walaupun begitu, sampai dewasa tetap saja saya tidak bisa mengidentifikasi jamur dengan baik, keculai jamur bulan dan jamur kuping.

Di mata saya, Ibu saya adalah seorang pengidentifikasi jamur yang baik. Mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak.  Jika saya melihat jamur, selalu bertanya pada Ibu, apakah yang ini bisa dimakan? Ibu saya akan memberikan jawabannya. Jika bisa dimakan, biasanya Ibu saya akan memasak jamur itu.Kadang dibuat pepes, kadang ditumis. Seingat saya, Ibu saya paling sering memasak jamur dengan campuran daun Cemcem – sejanis kedondong tapi tidak berbuah. Daun Cemcem rasanya enak, segar dan asem.

Kebiasaan sejak kecil itu, tetap berlaku hingga sekarang. Saya tetap suka memeprhatikan rerumputan dan di bawah pohon untuk melihat apakah ada jamur tumbuh. Yang beda hanyalah Ibu saya sekarang sudah tiada. Jadi tidak ada tempat bagi saya untuk bertanya. Sehingga saya tidak pernah berani lagi mengambil jamur di alam untuk dimakan. Takut salah.

Sebagai penggantinya tentu harus browsing sendiri di internet. Walaupun informasi semakin mudah didapatkan dan jenis jamur yang masuk ke pasaran juga semakin banyak , saya malah semakin bingung.  ternyata mengidentifikasi jamur lebih complicated dari apa yang saya pikir waktu kecil. Ketika ingat akan jenis jamur yang dulu pernah saya makan waktu kecil, begitu melihat di internet ternyata ada juga yang mirip seperti itu tapi beracun. Nah lho? Saya menjadi semakin tidak percaya diri. Semakin tidak berani lagi memanfaatkan jamur yang tumbuh di sekitar untuk dimakan. Salah-salah nanti malah  berakibat fatal. Sudahlah! Lebih baik menonton saja jika menemukan jamur tumbuh. Kalau ingin dikonsumsi ya…. beli saja di pasar atau di super Market. Itu lebih aman.

Musim hujan ini, saya sempat memperhatikan beberapa jenis jamur yang bermunculan. Tapi seperti yang saya sampaikan, saya tidak mampu mengidentifikasinya dengan baik. Cukup dilihat-lihat saja gambarnya.  Ada banyak juga. Mulai dari jamur tiram, jamur kuping, jamur kayu, dan sebagainya jamur lain yang saya tidak tahu namanya.

Apakah diantara para sahabat ada yang bisa membantu saya mengidentifikasi jamur-jamur di gambar ini?

Yang Mekar Hari Ini.

Standard

Selagi di rumah, tentu kegiatan yang paling menyenangkan adalah memeriksa tanaman. Walaupun belakangan sempat agak terlantar, tidak sempat ngurus, tapi beberapa tanaman ini tetap berbunga. Saya ingin bercerita tentang bagaimana tanaman ini ada di rumah saya.

1/. Bromelia Merah.

Bromelia Merah

Bromelia merah ini saya dapatkan dari seorang tetangga. Waktu itu saya melihat seorang tetangga saya sedang berbersih bersih dan mencabuti semua pohon Bromelianya. Karena menurutnya, pohonnya jelek dan tak mau berbunga. Lalu saya kasih tahu barangkali lokasi menanamnya kena sinar matahari langsung. Tapi beliau sudah tidak mau menanamnya lagi dan bersiap akan membuangnya ke tempat sampah. Daripada terbuang percuma, maka saya minta saja dan saya tanam di bawah ceracapan atap rumah. Tidak kena sinar matahari langsung.  Mau deh berbunga.

2/. Kaktus Pear.

Kaktus Pear.

Kaktus Pear yang cukup sering berbunga ini ditanam oleh anak saya yang besar.  Sebenarnya saya agak kurang menyukainya di awal. Tapi karena ia merengek minta dibelikan saat diajak main ke tukang tanaman, akhirnya saya belikan juga. Ia tanam di dekat tembok yang kena sinar matahari. Sekarang pohon kaktusnyajadi besar dan ia rajin berbunga.

3/. Jempiring.

Kacapiring

Bunga Jempiring atau Kacapiring (Gardenia jasminoides) adalah bunga kesayangan ibu saya. Jika mendapat giliran untuk menyediakan Vas Bunga  untuk meja guru di sekolah dasar, ibu saya selalu menyarankan saya untuk memanfaatkan bunga ini. Selain sangat wangi, menurut saya bunga ini sangat simple dan elegant. Saya punya beberapa batang. Tanaman ini saya beli dari tukang tanaman di Bintaro. Walaupun ada juga yang batangnya saya bawa dari rumah di Bali.

4/. Lotus Putih.

Lotus Putih

Sebenarnya bunga ini belum layak disebut mekar.Karena baru setengah mekar, alias setengah kuncup. Ini adalah Lotus Putih Thailand dari jenis yang berkelopak banyak lapis.  Kalau mekar besar sekali. Segede piring makan yang besar. Saya mendapatkannya dari tukang tanaman di Graha Raya. Sebenarnya saya ingin mencari Lotus Putih lokal selapis yang sekarang malah sudah sangat sulit menemukannya. Tapi tidak apa-apalah.

5/. Lotus Pink.

Lotus Pink

Ini juga sama dengan Lotus yang putih. Belum mekar penuh. Dan Pink Lotus ini adalah jenis yang berkelopak banyak lapis dan berasal dari Thailand juga. Saya juga mendapatkannya dari Tukang Taman di Graha Raya. Lotus adalah bunga favorit saya.

6/. Anggrek Golden Shower.

Golden Shower

Anggrek yang berwarna kuning ini adalah pemberian dari Ibu Mertua saya yang penggemar tanaman hias. Oleh karenanya, tanaman ini sangat penting kedudukannya. Harus dirawat dengan baik. Jangan sampai mati atau layu. Salah-salah bisa dipecat jadi menantu he he. Saat ini saya tempelkan di batang pohon mangga.

7/ Anggrek Bulan.

Anggrek Bulan

Nah, kalau yang ini adalah hadiah dari kakak ipar saya di  Malang. Sama statusnya dengan anggrek Golden Shower. Karena dipecat menjadi ipar sama tidak enaknya dengan dipecat menjadi mantu. Sebenarnya saya juga dihadiahi anggrek jenis lain yang lebih sphisticated, sayangnya saat ini sedang tidak berbunga.Anggrek bulan ini saya tempelkan di batang pohon Tabebuia.

8/. Kembang Sepatu Kuning.

Kembang Sepatu Kuning

Ini adalah bunga saya yang paling rentan dengan serangan belalang. Entah apa sebabnya, belalang hoby banget menggerogoti kelopak bunganya. Tidak terjadi pada bunga Kembang sepatu yang berwarna lain. Saya punya dua batang. Sebatang saya tanam dibawah pohon Tabebuia dan sebatang lagi di bawah pohon mangga. Yang di bawah pohon mangga jarang sekali berbunga karena kurang mendapatkan cahaya matahari. Dapatnya dari tukang tanaman.

9/. Pucuk Arjuna /PucukBang Alit alias Kembang Sepatu Merah Kecil.

Pucuk Arjuna

Ini adalah bunga yang biasa diselipkan di telinga, di rambut atau diikat kepala orang Bali. Bunga ini saya dapatkan dari rumah orangtua saya di Bali.  Yang di rumah di Bali, aslinya berukuran sangat kecil, sehingga sangat pas jika disuntingkan di telinga. Entah kenapa saya tanam di Jakarta, kok menjadi agak besar. Dan makin ke sini malah makin membesar, walaupun tetap tidak sebesar kembang Sepatu Merah biasa. Saya pikir mungkin memang ada gen campurannya dengan Kembang Sepatu merah biasa.

10/. Kembang Sepatu Pink

Kembang Sepatu Pink

Ini  adalah tanaman yang sangat tangguh. Sudah pernah nyaris mati gara gara saya pindahkan dan akhirnya mati karena dimakan rayap, ternyata ada satu cabangnya yang sempat pingan dan tumbuh bertunas  kembali.Inilah sisanya. Luar biasa. Beli dari tukang tanaman di Bintaro.

11/. Kembang Sepatu Jingga

Kembang Sepatu Jingga

Ini jenis yang cukup rajin berbunga. Bunganya agak kurang jelas,karena saya memotret dari jarak yang agak jauh. Ini saya beli dari tukang tanaman di Daan Mogot.

12/. Kembang Sepatu Jingga bertingkat.

Kembang Sepatu Jingga bertingkat

Ini saya beli karena keunikannya.Bunganya bertingkat. Dan sangat rajin berbunga. Juga saya dapatkan dari tukang tanaman di Bintaro.

13/.Kembang Sepatu Merah Ganda.

Kembang Sepatu Merah ganda

Awalnya agak sulit membungakan ini. Tapi setelah saya pindahkan ke depan, dimana cahaya matahari penuh dan tanahnya juga agak kering,malah sangat rajin sekali berbunga. Saya membelinya dari seorang ibu-ibu yang berprofesi menjadi tukang taman. Sangat jarang ya?

14/. Kembang Sepatu Pink Ganda Medium.

Kembang Sepatu Pink Ganda Medium

Bunga ini punya cerita sendiri. Awalnya di tempat ini saya menanam Kembang Sepatu yang sama dengan jenis ini, namun dengan ukuran yang besar. Pohonnya mati ketika harus dipindahkan gara-gara pohon Tabebuia di tasnya tumbang waktu musim hujan angin. Akhirnya saya mencari penggantinya di tukang tanaman. Tukang taman ibu-ibu yang sama dengan Kembang Sepatu yang merah ganda. Tidak mendapatkan dengan bunga sebesar yang asli, namun ukuran bunganya sedang saja. Bunga ini adalah jenis bunga kembang sepatu kesayangan bapak saya. Kami dulu memiliki sebatang dengan bunga sebesar piring di halaman di Bali.

15/. Kembang Air mata Pengantin

Kembang Airmata Pengantin

Kembang airmata pengantin atau Coral vine adalah tanaman dengan bunga paling romantis yang saya tahu. Saya tak punya rambatan khusus untuk tanaman ini, jadi saya rambatkan saja di pohon Tabebuia. jadi keindahannya agak kurang optimal. Saya mendapatkannya dari tukang tanaman di Graha Raya Bintaro.

16/ Bunga Torenia Ungu.

Bunga Ungu

Pertama kali menanam pohon ini, saya membawa bijinya dari Bali.Tumbuh beberapa musim, tapi karena saya kurang telaten menyimpan bijinya lalu hilang. sempat mebeli lagi dari tukang tanaman yang berwarna lain (pink,putih), nasibnya sama.  Tiba-tiba saja ada yang tumbuh lagi setelah lama sekali dormant.

17/. Mawar Jingga.

Mawar Jingga

Ini tanaman yang cukup tangguh juga. Asal muasalnya, tanaman ini digunakan untuk shooting sebuah iklan. Agak patah karena terinjak-injak oleh crew film dan tak dipakai lagi. Lalu saya minta dan tanam di halaman. Sempat rajin berbunga. Sayangnya kemarin ketika menebang pohon pucuk merah, batangnya patah tertimpa salah satu cabang pohon itu. Untung cabangnya yang sedang ada bunga mekarnya tidak patah.

18/. Jepun Cenana

Jepun Cenana

Jepun Cenana atau Kamboja Kuning yang wangi ini saya bawa dari Bali. Bunga ini sangat penting artinya, karena selalu digunakan untuk menghias rambut saat saya menari ketika saya kecil dulu. Belakangan ini, terkadang ada juga tukang pungut entah darimana yang mampir ke halaman rumah, mengambil bunga-bunga yang jatuh di rermputanuntuk dikumpulkan,dikeringkan dan dijual untuk bahan potpouri.

19/ Jepun Putih Alit.

Jepun Alit

Sama seperti saudaranya yang kuning, bunga kembang kamboja mini inipun saya bawa dari Bali juga. Ukuran bunganya sangat kecil imut imut. Bunga ini cocok untuk menghias telinga.

20/.Bunga Jatropha

Bunga JatrophaSaya suka tanaman ini karena  paling sering didatangi kupu-kupu besar. Sayangnya sangat rentan dengan serangan kutu putih. Jika kita ingin halaman rumah kita sering dikunjungi kupu-kupu sedang – besar, tanaman ini jangan sampai terlewatkan. Saya mendapatkannya dari tukang tanaman di Graha Raya Bintaro.

Sebenarnya masih bnayak lagi tanaman lain yang juga berbunga.  Namun 20 bunga di atas sudah sangat membuat saya senang. Walaupun kurang diurus belakangan ini,namun masih tetap ingat untuk mekar.

Pohonku, Maaf Kau Kutebang.

Standard

Masih dalam edisi Liburan. Walaupun stock liburnya tinggal  sedikit lagi. Sebentar lagi  anak-anak harus balik ke sekolah. Dan saya juga harus balik lagi tenggelam dengan urusan kantor. Banyak yang sudah dilakukan. Main ke sana ke mari. Menemani anak-anak. Dan juga melakukan hobby diri sendiri. Banyak yang seru dan semuanya menyenangkan. Tapi  rasanya liburan tidak pernah cukup. Selalu terasa kurang.  Mau ngapain lagi hari ini? Masa pergi lagi? Mendingan di rumah saja.

Suami saya tiba-tiba mencetuskan ide yang sangat diluar dugaan. Menebang pohon! Hah?  Pohon mana yang mau ditebang? Tentu saja itu bukan ide yang baik. Saya garuk-garuk kepala. Meragukan apakah saya akan bisa menyetujui ide gilanya itu. Tapi setelah mendengarkan baik-baik penjelasannya, akhirnya saya mengerti mengapa ia ingin menebang pohon.

Pohon Pucuk Merah Sebelum DitebangPohon Cemara, Pohon Pinus dan Pohon Rambutan bersama dengan Pohon Pucuk Merah sebelum ditebang.

Suami saya ingin menebang sebatang pohon pucuk merah alias Zyzygium yang memang batangnya sudah terlalu besar dan daunnya terlalu rimbun. Saking rimbunnya sehingga halaman rumah kami menjadi sangat gelap. Ooh!.Selain itu rumput di bawahnya pun menjadi gundul karena tidak terkena sinar matahari. Ooh!. Suami saya menambahkan, belum lagi sekarang musim hujan. Banyak angin. Kita harus mengantisipasi jika pohon tumbang. Ooh!. Belum lagi akarnya yang kemana-mana. Ooh!. Intinya, halaman rumah kami kesempitan karena kami menanam terlalu banyak pohon.  OOh! Ya udah deh!.Akhirnya saya mengangguk-angguk. Tak bisa tidak menyetujui. Suami sayapun akhirnya memanggil tukang potong tanaman.

Memang sih saya akui, kami terlalu banyak menanam pohon di halaman yang sangat sempit.   Saya menanam dua batang pohon mangga yang bibitnya dikasih hadiah oleh seorang sahabat saya. Mangga Harum Manis dan Manalagi.  Dua batang pohon rambutan. Dulunya teman saya juga memberikan sebatang pohon Jambu Air, tapi mati saat dipindahkan. Lalu suami saya yang penyuka conifer menanam  3 batang pohon Pinus dan dua batang pohon Pucuk Merah. Kemudian  saya menambah dengan sebatang pohon Kenanga alias Ylang-Ylang. Anak saya yang besar menanam sebatang Cypres, dan yang kecil menanam sebatang Cemara. Dari  pihak developer dulu memang setiap rumah ada diberikan sebatang pohon Tabebuia. Lalu ada tetangga yang tidak mau pohon Tabebuia dan memberikan lagi ke saya.  Jadi ada 2 batang pohon Tabebuia. Lalu dalam rangka Dapur Hidup saya menanam  2 batang pohon Jeruk (Limau, dan Jeruk Nipis) – tadinya ada 3 dengan sebatang pohon Jeruk Purut – tapi sudah mati kena virus. Terus ada pohon Durian yang masih kecil tumbuh sendiri. Juga sebatang pohon Salam. Juga tumbuh sendiri. Nah! Bisa dibayangkan bagaimana berimpit-impitannya para pepohonan itu. Mirip hutan. Belum lagi berbagai jenis tanaman bunga dan dapur hidup serta apotik hidup. Komplit deh. Halaman rumah saya benar-benar seperti hutan mini yang pengap dengan pepohonan.

Menebang PohonMenebang Pohon Pucuk Merah.

Setelah memeriksa sejenak, dan memastikan tidak ada sarang burung yang berisi telor/anak burung, maka bapak tukang tebang pohon pun beraksi.  Hanya ada beberapa sarang yang sudah kosong  dan tak berpenghuni. yang penting tidak ada mahluk hidup yang merasa kehilangan rumahnya.

Pohon Pucuk Merah  DitebangPohon Pucuk Merah Ditebang.

Bapak itu mulai menggergaji cabangnya satu per satu.  Saya hanya melihat dari jauh. Sebenarnya sih sedih melihatnya. Tapi ya sudahlah.   Maaf ya, pohon!. Tak beberapa lama akhirnya  pohon itupun tertebang sudah. Tinggal sebatang. Tapi memang sekarang halaman rumah saya sedikit agak terang.

Pucuk MerahPucuk daunnya berwarna merah atau orange – itulah sebabnya disebut dengan Pucuk Merah.

Pohon Pucuk Merah (Zyzygium oleana) di rumah saya ini sebenarnya agak salah pilih. Karena niat awalnya sebenarnya kami ingin membeli yang jenis kerdil/bonsai, namun entah kenapa  begitu kami tanam di halaman, ia tumbuh dengan riang gembira seperti di hutan. Dalam beberapa tahun saja, tingginya sudah melebihi atap rumah. Pohon ini cantik, karena ujung daunnya berwarna merah atau jingga, sehingga disebut dengan Pucuk Merah. Saya suka karena mengingatkan saya akan Bapak saya dan tanaman cengkehnya.  Batangnya keras dan kering. Mirip batang pohon cengkeh.  Hanya saja baunya berbeda.Saya duga, tanaman ini mungkin saja mengandung minyak juga. Entah kenapa saya berpikir begitu. Saya teringat dulu waktu kecil jika disuruh oleh Bapak saya membakar  batang atau daun-daun cengkeh yang kering atau rontok di halaman rumah, api akan sangat membesar karena kandungan minyak di tanaman cengkeh sangat tinggi dan mudah terbakar.

Bunga Pucuk Merah.Bunga Pohon Pucuk Merah.

Pohon pucuk merah juga berbunga. Agak mirip dengan bunga jambu air.  Namun kecil-kecil berwarna putih. Waktu ditebang kuncup bunganya sedang banyak sekali. Suami saya membiarkan  batangnya tersisa.

Setelah selesai menebang pohon kayu merah itu, saya sekalian meminta tolong si Bapak untuk memangkaskan cabang bunga Jepun Cenana (Kamboja Bali  yang berbunga kuning)  alias Frangipani yang juga sudah kebesaran dan kepanjangan, sehingga mengganggu lalu lintas  di halaman rumah. Sekalian. Mungkin memang sudah waktunya untuk bebersih-bersih. Tanaman-tanaman saya memang sudah banyak yang gondrong. Waktunya untuk prunning!.

Memangkas Pohon FrangipaniSekalian minta tolong memangkaskan cabang pohon Jepun Cenana. 

Walaupun belum selesai membersihkan semuanya, tapi sekarang lumayan agak bersih dan terang di area bawah pohon pucuk merah itu dan di area dekat pohon Frangipani.  Lalu lintas  di halaman menjadi sedikit lebih lega. Jadi pengen nambah libur lagi.

HalamanNah, sekarang halaman rumah tampak sedikit lebih rapi dibanding sebelumnya.

Kigelia Pinnata, Si Pohon Sosis.

Standard

Buah Kigelia PinnataKali ini saya ingin bercerita tentang pohon Sosis (Kigelia pinnata).  Mungkin bagi sebagian orang, tanaman ini bukanlah tanaman asing, namun bagi saya, saat pertama kali melihat tanaman ini sekitar 2 tahun yang lalu saya sempat terbengong-bengong. Pohon ini memiliki buah yang sangat aneh bentuknya.  Silinder memanjang dan menggantung dengan tangkai yang panjang ke bawah dari dahannya yang tinggi.  Di batang pohon itu saya lihat ditulis namanya: Kigelia pinnata.  Orang menyebutnya dengan pohon Sosis. Sebenarnya sih bentuknya tidak seperti  sosis yang sering kita beli di Supermarket . Lebih mirip sosis yang besar dan gendut,macam Bockwurst begitulah.  Terus terang saya belum pernah melihatnya saat itu. Membuat saya banyak bertanya kepada penjaga taman di tempat itu. Jadi benar-benar menarik perhatian saya.

Seperti apa di dalam buahnya? Penjaga taman mengatakan jika dipotong, buah itu di dalamnya seperti labu. Menurut keterangan buahnya beracun.   Jika dimakan, bisa menyebabkan bibir melepuh seketika.  Jadi,  tidak ada yang pernah memakannya – kata penjaga. Di tempat itu ada 4 batang pohon saya lihat. Salah satunya tidak ada buahnya. Padahal pohonnya paling besar, rindang dan banyak bunganya. Rupanya penjaga taman selalu memetiki buahnya. Karena di bawah pohon itu banyak kendaraan parkir. Ternyata  buah ini cukup berat juga. Bisa mencapai 5-10 kg – lumayan juga jika menimpa kaca atau atap  mobil. Penyok deh.

Bunga Kigelia PinnataBunganya juga sangat menarik. Berukuran besar, berwarna merah padam. Warna yang eksotis namun misterius.  Muncul dari tangkai bunga yang juga menggelantung, memiliki beberapa kuncup bunga yang mekar bergantian.

Bunganya sendiri terdiri atas 4 kelopak besar yang menyatu satu sama lain pada pangkalnya. Memiliki4 benang sari dan kepala putik di tengahnya berwarna hijau kekuningan. Walaupun cantik, namun bau bunganya kurang enak menurut saya. Namun saya perhatikan banyak juga jenis kupu-kupu yang tertarik mampir di pohon ini.  Kebanyakan kupu-kupu dari jenis Delias dan ngengat yang mampir.

Pohon ini berasal dari Afrika. Di negara asalnya tanaman ini banyak dimanfaatkan untuk pengobatan, terutama yang berkaitan dengan masalah -maslah kulit. Mulai untuk mengobati eksim, gatal-gatal, luka hingga untuk mengobati jerawat. Juga dignakan oleh para wanita Afrika untuk mengencangkan kembali payudaranya yang kendur. Belakangan, buah dari pohon ini juga banyak diteliti untuk keperluan kosmetika.

Bunga Kigelia Pinnata 1

Karena berasal dari Afrika, saya pikir pohon ini memang sangat jarang di Indonesia.  Namun sepengetahuan saya, setidaknya di Indonesia pohon ini ada di dua tempat yakni di Hotel Novus di Pucak, Bogor dan di sebuah halaman hotel di Solo – saya lupa nama hotelnya.   Saya pernah mengambil foto-foto bunga dan buah pohon ini dari kedua tempat yang saya sebutkan di atas.

Saya tidak tahu, apakah minim pengetahuan tentang pohon ini hanya terjadi dengan saya? Mungkin ada juga di tempat lain yang belum pernah saya datangi. Atau memang karena pohon ini memang sangat jarang di Indonesia?