Category Archives: Gardening

Bagaikan Jamur Di Musim Hujan.

Standard

Jamur 1“Bagaikan jamur di musim hujan”. Itu adalah salah satu pepatah yang sangat populer diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia saya ketika SD. Apa artinya? Ya..artinya ya… banyak aja tiba-tiba muncul.  Di musim hujan biasanya banyak jamur yang tumbuh. Oleh karenanya, maka tetua kita jaman dulu menyebut  segala sesuatuyang tadinya tidak terlalu banyak ada yang lalu tiba-tiba muncul banyak,  sebagai ‘bagaikan jamur di musim hujan’.

Pepatah itu sebenarnya sederhana. Tapi bagi saya, itu adalah pepatah yang sangat menantang saya untuk mencari pembuktian.  Jika musim hujan tiba, saya paling senang melihat-lihat ke rerumputan dan ke bawah batang pohon  untuk mencari-cari apakah benar ada banyak jamur yang muncul.

Rasanya sangat senang jika melihat ada tumbuhan kecil yang berdiri memakai payung di sana. Mulai dari Jamur Bulan (Gymnopus sp) yang ukurannya sangat besar hampir segede piring kecil, jamur kuping yang warnanya gelap dan bentuknya mirip kuping tikus, jamur kayu yang keras, dan sebagainya sampai jamur Dedalu yang selalu muncul tak jauh dari rumah rayap.

Kebetulan ada beberapa jenis jamur yang bisa dimakan juga suka muncul di musim hujan. Tapi saya perlu membedakannya dengan jamur yang  beracun. Secara umum saya diberi tahu bahwa jamur yang berwarna terang (mearh,orange,dst) jangan diambil.  Jamur yang jika dipotes batangnya berwarna biru, atau jika digosok payungnya menjadi kuning terang juga jangan diambil. Begitu juga dengan jamur yang memiliki cincin, harus hati-hati. Walaupun begitu, sampai dewasa tetap saja saya tidak bisa mengidentifikasi jamur dengan baik, keculai jamur bulan dan jamur kuping.

Di mata saya, Ibu saya adalah seorang pengidentifikasi jamur yang baik. Mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak.  Jika saya melihat jamur, selalu bertanya pada Ibu, apakah yang ini bisa dimakan? Ibu saya akan memberikan jawabannya. Jika bisa dimakan, biasanya Ibu saya akan memasak jamur itu.Kadang dibuat pepes, kadang ditumis. Seingat saya, Ibu saya paling sering memasak jamur dengan campuran daun Cemcem – sejanis kedondong tapi tidak berbuah. Daun Cemcem rasanya enak, segar dan asem.

Kebiasaan sejak kecil itu, tetap berlaku hingga sekarang. Saya tetap suka memeprhatikan rerumputan dan di bawah pohon untuk melihat apakah ada jamur tumbuh. Yang beda hanyalah Ibu saya sekarang sudah tiada. Jadi tidak ada tempat bagi saya untuk bertanya. Sehingga saya tidak pernah berani lagi mengambil jamur di alam untuk dimakan. Takut salah.

Sebagai penggantinya tentu harus browsing sendiri di internet. Walaupun informasi semakin mudah didapatkan dan jenis jamur yang masuk ke pasaran juga semakin banyak , saya malah semakin bingung.  ternyata mengidentifikasi jamur lebih complicated dari apa yang saya pikir waktu kecil. Ketika ingat akan jenis jamur yang dulu pernah saya makan waktu kecil, begitu melihat di internet ternyata ada juga yang mirip seperti itu tapi beracun. Nah lho? Saya menjadi semakin tidak percaya diri. Semakin tidak berani lagi memanfaatkan jamur yang tumbuh di sekitar untuk dimakan. Salah-salah nanti malah  berakibat fatal. Sudahlah! Lebih baik menonton saja jika menemukan jamur tumbuh. Kalau ingin dikonsumsi ya…. beli saja di pasar atau di super Market. Itu lebih aman.

Musim hujan ini, saya sempat memperhatikan beberapa jenis jamur yang bermunculan. Tapi seperti yang saya sampaikan, saya tidak mampu mengidentifikasinya dengan baik. Cukup dilihat-lihat saja gambarnya.  Ada banyak juga. Mulai dari jamur tiram, jamur kuping, jamur kayu, dan sebagainya jamur lain yang saya tidak tahu namanya.

Apakah diantara para sahabat ada yang bisa membantu saya mengidentifikasi jamur-jamur di gambar ini?

Yang Mekar Hari Ini.

Standard

Selagi di rumah, tentu kegiatan yang paling menyenangkan adalah memeriksa tanaman. Walaupun belakangan sempat agak terlantar, tidak sempat ngurus, tapi beberapa tanaman ini tetap berbunga. Saya ingin bercerita tentang bagaimana tanaman ini ada di rumah saya.

1/. Bromelia Merah.

Bromelia Merah

Bromelia merah ini saya dapatkan dari seorang tetangga. Waktu itu saya melihat seorang tetangga saya sedang berbersih bersih dan mencabuti semua pohon Bromelianya. Karena menurutnya, pohonnya jelek dan tak mau berbunga. Lalu saya kasih tahu barangkali lokasi menanamnya kena sinar matahari langsung. Tapi beliau sudah tidak mau menanamnya lagi dan bersiap akan membuangnya ke tempat sampah. Daripada terbuang percuma, maka saya minta saja dan saya tanam di bawah ceracapan atap rumah. Tidak kena sinar matahari langsung.  Mau deh berbunga.

2/. Kaktus Pear.

Kaktus Pear.

Kaktus Pear yang cukup sering berbunga ini ditanam oleh anak saya yang besar.  Sebenarnya saya agak kurang menyukainya di awal. Tapi karena ia merengek minta dibelikan saat diajak main ke tukang tanaman, akhirnya saya belikan juga. Ia tanam di dekat tembok yang kena sinar matahari. Sekarang pohon kaktusnyajadi besar dan ia rajin berbunga.

3/. Jempiring.

Kacapiring

Bunga Jempiring atau Kacapiring (Gardenia jasminoides) adalah bunga kesayangan ibu saya. Jika mendapat giliran untuk menyediakan Vas Bunga  untuk meja guru di sekolah dasar, ibu saya selalu menyarankan saya untuk memanfaatkan bunga ini. Selain sangat wangi, menurut saya bunga ini sangat simple dan elegant. Saya punya beberapa batang. Tanaman ini saya beli dari tukang tanaman di Bintaro. Walaupun ada juga yang batangnya saya bawa dari rumah di Bali.

4/. Lotus Putih.

Lotus Putih

Sebenarnya bunga ini belum layak disebut mekar.Karena baru setengah mekar, alias setengah kuncup. Ini adalah Lotus Putih Thailand dari jenis yang berkelopak banyak lapis.  Kalau mekar besar sekali. Segede piring makan yang besar. Saya mendapatkannya dari tukang tanaman di Graha Raya. Sebenarnya saya ingin mencari Lotus Putih lokal selapis yang sekarang malah sudah sangat sulit menemukannya. Tapi tidak apa-apalah.

5/. Lotus Pink.

Lotus Pink

Ini juga sama dengan Lotus yang putih. Belum mekar penuh. Dan Pink Lotus ini adalah jenis yang berkelopak banyak lapis dan berasal dari Thailand juga. Saya juga mendapatkannya dari Tukang Taman di Graha Raya. Lotus adalah bunga favorit saya.

6/. Anggrek Golden Shower.

Golden Shower

Anggrek yang berwarna kuning ini adalah pemberian dari Ibu Mertua saya yang penggemar tanaman hias. Oleh karenanya, tanaman ini sangat penting kedudukannya. Harus dirawat dengan baik. Jangan sampai mati atau layu. Salah-salah bisa dipecat jadi menantu he he. Saat ini saya tempelkan di batang pohon mangga.

7/ Anggrek Bulan.

Anggrek Bulan

Nah, kalau yang ini adalah hadiah dari kakak ipar saya di  Malang. Sama statusnya dengan anggrek Golden Shower. Karena dipecat menjadi ipar sama tidak enaknya dengan dipecat menjadi mantu. Sebenarnya saya juga dihadiahi anggrek jenis lain yang lebih sphisticated, sayangnya saat ini sedang tidak berbunga.Anggrek bulan ini saya tempelkan di batang pohon Tabebuia.

8/. Kembang Sepatu Kuning.

Kembang Sepatu Kuning

Ini adalah bunga saya yang paling rentan dengan serangan belalang. Entah apa sebabnya, belalang hoby banget menggerogoti kelopak bunganya. Tidak terjadi pada bunga Kembang sepatu yang berwarna lain. Saya punya dua batang. Sebatang saya tanam dibawah pohon Tabebuia dan sebatang lagi di bawah pohon mangga. Yang di bawah pohon mangga jarang sekali berbunga karena kurang mendapatkan cahaya matahari. Dapatnya dari tukang tanaman.

9/. Pucuk Arjuna /PucukBang Alit alias Kembang Sepatu Merah Kecil.

Pucuk Arjuna

Ini adalah bunga yang biasa diselipkan di telinga, di rambut atau diikat kepala orang Bali. Bunga ini saya dapatkan dari rumah orangtua saya di Bali.  Yang di rumah di Bali, aslinya berukuran sangat kecil, sehingga sangat pas jika disuntingkan di telinga. Entah kenapa saya tanam di Jakarta, kok menjadi agak besar. Dan makin ke sini malah makin membesar, walaupun tetap tidak sebesar kembang Sepatu Merah biasa. Saya pikir mungkin memang ada gen campurannya dengan Kembang Sepatu merah biasa.

10/. Kembang Sepatu Pink

Kembang Sepatu Pink

Ini  adalah tanaman yang sangat tangguh. Sudah pernah nyaris mati gara gara saya pindahkan dan akhirnya mati karena dimakan rayap, ternyata ada satu cabangnya yang sempat pingan dan tumbuh bertunas  kembali.Inilah sisanya. Luar biasa. Beli dari tukang tanaman di Bintaro.

11/. Kembang Sepatu Jingga

Kembang Sepatu Jingga

Ini jenis yang cukup rajin berbunga. Bunganya agak kurang jelas,karena saya memotret dari jarak yang agak jauh. Ini saya beli dari tukang tanaman di Daan Mogot.

12/. Kembang Sepatu Jingga bertingkat.

Kembang Sepatu Jingga bertingkat

Ini saya beli karena keunikannya.Bunganya bertingkat. Dan sangat rajin berbunga. Juga saya dapatkan dari tukang tanaman di Bintaro.

13/.Kembang Sepatu Merah Ganda.

Kembang Sepatu Merah ganda

Awalnya agak sulit membungakan ini. Tapi setelah saya pindahkan ke depan, dimana cahaya matahari penuh dan tanahnya juga agak kering,malah sangat rajin sekali berbunga. Saya membelinya dari seorang ibu-ibu yang berprofesi menjadi tukang taman. Sangat jarang ya?

14/. Kembang Sepatu Pink Ganda Medium.

Kembang Sepatu Pink Ganda Medium

Bunga ini punya cerita sendiri. Awalnya di tempat ini saya menanam Kembang Sepatu yang sama dengan jenis ini, namun dengan ukuran yang besar. Pohonnya mati ketika harus dipindahkan gara-gara pohon Tabebuia di tasnya tumbang waktu musim hujan angin. Akhirnya saya mencari penggantinya di tukang tanaman. Tukang taman ibu-ibu yang sama dengan Kembang Sepatu yang merah ganda. Tidak mendapatkan dengan bunga sebesar yang asli, namun ukuran bunganya sedang saja. Bunga ini adalah jenis bunga kembang sepatu kesayangan bapak saya. Kami dulu memiliki sebatang dengan bunga sebesar piring di halaman di Bali.

15/. Kembang Air mata Pengantin

Kembang Airmata Pengantin

Kembang airmata pengantin atau Coral vine adalah tanaman dengan bunga paling romantis yang saya tahu. Saya tak punya rambatan khusus untuk tanaman ini, jadi saya rambatkan saja di pohon Tabebuia. jadi keindahannya agak kurang optimal. Saya mendapatkannya dari tukang tanaman di Graha Raya Bintaro.

16/ Bunga Torenia Ungu.

Bunga Ungu

Pertama kali menanam pohon ini, saya membawa bijinya dari Bali.Tumbuh beberapa musim, tapi karena saya kurang telaten menyimpan bijinya lalu hilang. sempat mebeli lagi dari tukang tanaman yang berwarna lain (pink,putih), nasibnya sama.  Tiba-tiba saja ada yang tumbuh lagi setelah lama sekali dormant.

17/. Mawar Jingga.

Mawar Jingga

Ini tanaman yang cukup tangguh juga. Asal muasalnya, tanaman ini digunakan untuk shooting sebuah iklan. Agak patah karena terinjak-injak oleh crew film dan tak dipakai lagi. Lalu saya minta dan tanam di halaman. Sempat rajin berbunga. Sayangnya kemarin ketika menebang pohon pucuk merah, batangnya patah tertimpa salah satu cabang pohon itu. Untung cabangnya yang sedang ada bunga mekarnya tidak patah.

18/. Jepun Cenana

Jepun Cenana

Jepun Cenana atau Kamboja Kuning yang wangi ini saya bawa dari Bali. Bunga ini sangat penting artinya, karena selalu digunakan untuk menghias rambut saat saya menari ketika saya kecil dulu. Belakangan ini, terkadang ada juga tukang pungut entah darimana yang mampir ke halaman rumah, mengambil bunga-bunga yang jatuh di rermputanuntuk dikumpulkan,dikeringkan dan dijual untuk bahan potpouri.

19/ Jepun Putih Alit.

Jepun Alit

Sama seperti saudaranya yang kuning, bunga kembang kamboja mini inipun saya bawa dari Bali juga. Ukuran bunganya sangat kecil imut imut. Bunga ini cocok untuk menghias telinga.

20/.Bunga Jatropha

Bunga JatrophaSaya suka tanaman ini karena  paling sering didatangi kupu-kupu besar. Sayangnya sangat rentan dengan serangan kutu putih. Jika kita ingin halaman rumah kita sering dikunjungi kupu-kupu sedang – besar, tanaman ini jangan sampai terlewatkan. Saya mendapatkannya dari tukang tanaman di Graha Raya Bintaro.

Sebenarnya masih bnayak lagi tanaman lain yang juga berbunga.  Namun 20 bunga di atas sudah sangat membuat saya senang. Walaupun kurang diurus belakangan ini,namun masih tetap ingat untuk mekar.

Pohonku, Maaf Kau Kutebang.

Standard

Masih dalam edisi Liburan. Walaupun stock liburnya tinggal  sedikit lagi. Sebentar lagi  anak-anak harus balik ke sekolah. Dan saya juga harus balik lagi tenggelam dengan urusan kantor. Banyak yang sudah dilakukan. Main ke sana ke mari. Menemani anak-anak. Dan juga melakukan hobby diri sendiri. Banyak yang seru dan semuanya menyenangkan. Tapi  rasanya liburan tidak pernah cukup. Selalu terasa kurang.  Mau ngapain lagi hari ini? Masa pergi lagi? Mendingan di rumah saja.

Suami saya tiba-tiba mencetuskan ide yang sangat diluar dugaan. Menebang pohon! Hah?  Pohon mana yang mau ditebang? Tentu saja itu bukan ide yang baik. Saya garuk-garuk kepala. Meragukan apakah saya akan bisa menyetujui ide gilanya itu. Tapi setelah mendengarkan baik-baik penjelasannya, akhirnya saya mengerti mengapa ia ingin menebang pohon.

Pohon Pucuk Merah Sebelum DitebangPohon Cemara, Pohon Pinus dan Pohon Rambutan bersama dengan Pohon Pucuk Merah sebelum ditebang.

Suami saya ingin menebang sebatang pohon pucuk merah alias Zyzygium yang memang batangnya sudah terlalu besar dan daunnya terlalu rimbun. Saking rimbunnya sehingga halaman rumah kami menjadi sangat gelap. Ooh!.Selain itu rumput di bawahnya pun menjadi gundul karena tidak terkena sinar matahari. Ooh!. Suami saya menambahkan, belum lagi sekarang musim hujan. Banyak angin. Kita harus mengantisipasi jika pohon tumbang. Ooh!. Belum lagi akarnya yang kemana-mana. Ooh!. Intinya, halaman rumah kami kesempitan karena kami menanam terlalu banyak pohon.  OOh! Ya udah deh!.Akhirnya saya mengangguk-angguk. Tak bisa tidak menyetujui. Suami sayapun akhirnya memanggil tukang potong tanaman.

Memang sih saya akui, kami terlalu banyak menanam pohon di halaman yang sangat sempit.   Saya menanam dua batang pohon mangga yang bibitnya dikasih hadiah oleh seorang sahabat saya. Mangga Harum Manis dan Manalagi.  Dua batang pohon rambutan. Dulunya teman saya juga memberikan sebatang pohon Jambu Air, tapi mati saat dipindahkan. Lalu suami saya yang penyuka conifer menanam  3 batang pohon Pinus dan dua batang pohon Pucuk Merah. Kemudian  saya menambah dengan sebatang pohon Kenanga alias Ylang-Ylang. Anak saya yang besar menanam sebatang Cypres, dan yang kecil menanam sebatang Cemara. Dari  pihak developer dulu memang setiap rumah ada diberikan sebatang pohon Tabebuia. Lalu ada tetangga yang tidak mau pohon Tabebuia dan memberikan lagi ke saya.  Jadi ada 2 batang pohon Tabebuia. Lalu dalam rangka Dapur Hidup saya menanam  2 batang pohon Jeruk (Limau, dan Jeruk Nipis) – tadinya ada 3 dengan sebatang pohon Jeruk Purut – tapi sudah mati kena virus. Terus ada pohon Durian yang masih kecil tumbuh sendiri. Juga sebatang pohon Salam. Juga tumbuh sendiri. Nah! Bisa dibayangkan bagaimana berimpit-impitannya para pepohonan itu. Mirip hutan. Belum lagi berbagai jenis tanaman bunga dan dapur hidup serta apotik hidup. Komplit deh. Halaman rumah saya benar-benar seperti hutan mini yang pengap dengan pepohonan.

Menebang PohonMenebang Pohon Pucuk Merah.

Setelah memeriksa sejenak, dan memastikan tidak ada sarang burung yang berisi telor/anak burung, maka bapak tukang tebang pohon pun beraksi.  Hanya ada beberapa sarang yang sudah kosong  dan tak berpenghuni. yang penting tidak ada mahluk hidup yang merasa kehilangan rumahnya.

Pohon Pucuk Merah  DitebangPohon Pucuk Merah Ditebang.

Bapak itu mulai menggergaji cabangnya satu per satu.  Saya hanya melihat dari jauh. Sebenarnya sih sedih melihatnya. Tapi ya sudahlah.   Maaf ya, pohon!. Tak beberapa lama akhirnya  pohon itupun tertebang sudah. Tinggal sebatang. Tapi memang sekarang halaman rumah saya sedikit agak terang.

Pucuk MerahPucuk daunnya berwarna merah atau orange – itulah sebabnya disebut dengan Pucuk Merah.

Pohon Pucuk Merah (Zyzygium oleana) di rumah saya ini sebenarnya agak salah pilih. Karena niat awalnya sebenarnya kami ingin membeli yang jenis kerdil/bonsai, namun entah kenapa  begitu kami tanam di halaman, ia tumbuh dengan riang gembira seperti di hutan. Dalam beberapa tahun saja, tingginya sudah melebihi atap rumah. Pohon ini cantik, karena ujung daunnya berwarna merah atau jingga, sehingga disebut dengan Pucuk Merah. Saya suka karena mengingatkan saya akan Bapak saya dan tanaman cengkehnya.  Batangnya keras dan kering. Mirip batang pohon cengkeh.  Hanya saja baunya berbeda.Saya duga, tanaman ini mungkin saja mengandung minyak juga. Entah kenapa saya berpikir begitu. Saya teringat dulu waktu kecil jika disuruh oleh Bapak saya membakar  batang atau daun-daun cengkeh yang kering atau rontok di halaman rumah, api akan sangat membesar karena kandungan minyak di tanaman cengkeh sangat tinggi dan mudah terbakar.

Bunga Pucuk Merah.Bunga Pohon Pucuk Merah.

Pohon pucuk merah juga berbunga. Agak mirip dengan bunga jambu air.  Namun kecil-kecil berwarna putih. Waktu ditebang kuncup bunganya sedang banyak sekali. Suami saya membiarkan  batangnya tersisa.

Setelah selesai menebang pohon kayu merah itu, saya sekalian meminta tolong si Bapak untuk memangkaskan cabang bunga Jepun Cenana (Kamboja Bali  yang berbunga kuning)  alias Frangipani yang juga sudah kebesaran dan kepanjangan, sehingga mengganggu lalu lintas  di halaman rumah. Sekalian. Mungkin memang sudah waktunya untuk bebersih-bersih. Tanaman-tanaman saya memang sudah banyak yang gondrong. Waktunya untuk prunning!.

Memangkas Pohon FrangipaniSekalian minta tolong memangkaskan cabang pohon Jepun Cenana. 

Walaupun belum selesai membersihkan semuanya, tapi sekarang lumayan agak bersih dan terang di area bawah pohon pucuk merah itu dan di area dekat pohon Frangipani.  Lalu lintas  di halaman menjadi sedikit lebih lega. Jadi pengen nambah libur lagi.

HalamanNah, sekarang halaman rumah tampak sedikit lebih rapi dibanding sebelumnya.

Kigelia Pinnata, Si Pohon Sosis.

Standard

Buah Kigelia PinnataKali ini saya ingin bercerita tentang pohon Sosis (Kigelia pinnata).  Mungkin bagi sebagian orang, tanaman ini bukanlah tanaman asing, namun bagi saya, saat pertama kali melihat tanaman ini sekitar 2 tahun yang lalu saya sempat terbengong-bengong. Pohon ini memiliki buah yang sangat aneh bentuknya.  Silinder memanjang dan menggantung dengan tangkai yang panjang ke bawah dari dahannya yang tinggi.  Di batang pohon itu saya lihat ditulis namanya: Kigelia pinnata.  Orang menyebutnya dengan pohon Sosis. Sebenarnya sih bentuknya tidak seperti  sosis yang sering kita beli di Supermarket . Lebih mirip sosis yang besar dan gendut,macam Bockwurst begitulah.  Terus terang saya belum pernah melihatnya saat itu. Membuat saya banyak bertanya kepada penjaga taman di tempat itu. Jadi benar-benar menarik perhatian saya.

Seperti apa di dalam buahnya? Penjaga taman mengatakan jika dipotong, buah itu di dalamnya seperti labu. Menurut keterangan buahnya beracun.   Jika dimakan, bisa menyebabkan bibir melepuh seketika.  Jadi,  tidak ada yang pernah memakannya – kata penjaga. Di tempat itu ada 4 batang pohon saya lihat. Salah satunya tidak ada buahnya. Padahal pohonnya paling besar, rindang dan banyak bunganya. Rupanya penjaga taman selalu memetiki buahnya. Karena di bawah pohon itu banyak kendaraan parkir. Ternyata  buah ini cukup berat juga. Bisa mencapai 5-10 kg – lumayan juga jika menimpa kaca atau atap  mobil. Penyok deh.

Bunga Kigelia PinnataBunganya juga sangat menarik. Berukuran besar, berwarna merah padam. Warna yang eksotis namun misterius.  Muncul dari tangkai bunga yang juga menggelantung, memiliki beberapa kuncup bunga yang mekar bergantian.

Bunganya sendiri terdiri atas 4 kelopak besar yang menyatu satu sama lain pada pangkalnya. Memiliki4 benang sari dan kepala putik di tengahnya berwarna hijau kekuningan. Walaupun cantik, namun bau bunganya kurang enak menurut saya. Namun saya perhatikan banyak juga jenis kupu-kupu yang tertarik mampir di pohon ini.  Kebanyakan kupu-kupu dari jenis Delias dan ngengat yang mampir.

Pohon ini berasal dari Afrika. Di negara asalnya tanaman ini banyak dimanfaatkan untuk pengobatan, terutama yang berkaitan dengan masalah -maslah kulit. Mulai untuk mengobati eksim, gatal-gatal, luka hingga untuk mengobati jerawat. Juga dignakan oleh para wanita Afrika untuk mengencangkan kembali payudaranya yang kendur. Belakangan, buah dari pohon ini juga banyak diteliti untuk keperluan kosmetika.

Bunga Kigelia Pinnata 1

Karena berasal dari Afrika, saya pikir pohon ini memang sangat jarang di Indonesia.  Namun sepengetahuan saya, setidaknya di Indonesia pohon ini ada di dua tempat yakni di Hotel Novus di Pucak, Bogor dan di sebuah halaman hotel di Solo – saya lupa nama hotelnya.   Saya pernah mengambil foto-foto bunga dan buah pohon ini dari kedua tempat yang saya sebutkan di atas.

Saya tidak tahu, apakah minim pengetahuan tentang pohon ini hanya terjadi dengan saya? Mungkin ada juga di tempat lain yang belum pernah saya datangi. Atau memang karena pohon ini memang sangat jarang di Indonesia?

Coccinia, Si Timun Padang Penurun Gula Darah.

Standard

CocciniaSuatu ketika saya melihat sejenis tanaman merambat di pagar perumahan di belakang rumah saya.  Tanaman itu memiliki daun yang bentuknya seperti daun labu mini. Batangnya merambat dan memiki sulur yang benar-benar membuatnya semakin mirip dengan labu siam. Bunganya berwarna putih bermahkota 5 lembar – serupa dengan bunga labu parang – namun warnanya putih bukan kuning.

Yang menarik adalah buahnya. Bentuknya mirip mentimun, kecil-kecil berwarna hijau dengan garis-garis memanjang berwarna putih.  Namun disebelahnya saya juga melihat  buahnya yang matang berwarna merah menyala, Menarik sekali warnanya. Beberapa buah yang matang terlihat terbuka memperlihatkan daging buahnya yang merah merekah dan biji-bijinya. Mirip buah pare merekah yang merah. Mungkin rasanya manis juga seperti pare matang. Barangkali buah itu pada dimakanin burung saking manisnya.

Coccinia 1Saya pikir ini tentunya salah satu anggota keluarga mentimun (Cucurbitaceae). Barangkali sejenis pare liar. Saya ingin mencoba mencicipi buahnya. Kelihatan menarik. Tapi karena takut beracun,maka saya mengurungkan niat saya untuk mencicipi.

Karena tidak tahu dan penasaran, saya mencoba bertanya kepada orang-orang di sekitar, barangkali ada yang tahu tanaman apa itu. Ternyata tidak ada seorangpun yang tahu. Saya coba  search di Google, namun karena tidak tahu kata kuncinya, susah juga mencarinya. Akhirnya saya lupa akan buah itu.

Beberapa bulan kemudian,ketika saya sedang memasuki sebuah supermarket di India, saya melihat buah ini dipajang di bagian sayur-mayur. Dan melihat nama Coccinia disebut sebagai namanya. Ooh..jadi namanya Coccinia ya. Dan rupanya memang sejenis sayuran. Jadi tidak beracun, seperti sangkaan saya selama ini.

Coccinia

Minggu yang lalu ketika saya bermain ke kali, saya mencoba mencari-cari tanaman itu kembali. Barangkali masih ada.  Awalnya saya tidak menemukannya. Namun ketika saya sedang memotret kupu-kupu yang hinggap di bunga bougenville, saya melihat tanaman itu kembali. Batangnya melilit batang Bougenville.  Ada beberapa buahnya menggelayut di sana. Beberapa ada juga yang matang. Saya memetik beberapa buah. Mencicipi yang matang – rasanya manis.  Yang muda akan saya masak jadikan sayur.

Dengan berbekal sedikit pengetahuan bahwa tanaman itu bernama Coccinia, akhirnya saya mulai searching di Google.  Coccinia grandis atau disebut dengan Ivy Gourd dalam bahasa Inggrisnya.  Dalam bahasa Indianya disebut dengan Tandora. Ternyata tanaman ini bukanlah tanaman asing di Indonesia. Memang sejenis sayuran. Walah..rupanya cuma saya saja yang tidak tahu. Ada yang menyebut namanya  dengan nama buah Papasan, buah Kemarong atau ada juga yang menyebut dengan nama Timun Padang. Coccinia grandis, kaya akan beta carotene. Dan hebatnya, nenek moyang kita sudah mengetahui bahwa tanaman ini bisa dimanfaatkan untuk menurunkan gula darah.

Tumis Buah Papasan

Saya membaca beberapa rtikel ilmiah mengenai buah ini dan  merasa sangat takjub.  Banyak sekali efek farmakology yang dimilikinya, antara lain:

1. Efek Antibakterial.Ekstrak dari daun dan batang tanaman ini, rupanya efektif terhadap baik bakteri gram positive (seperti bakteri Bacillus cereus, Corynebacterium diphteria, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes) maupun gram negative (Salmonella typhi, Eschericia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa, Proteus myrabillis, dan Shigella boydii).

2. Efek Hepato-protective. Tanaman ini juga memberikan efek perlindungan yang sangat baik terhadap hati. Terbukti dari penelitian yang dilakukan cukup efektif menurunkan level SGOT

3. Efek Antidiabetik – penurun gula darah. Juice dari akar dan daunnya banyak digunakan untuk pengobatan diabetes. Daunnya dimanfaatkan juga untuk pengobatan koreng pada kulit. Juga dipergunakan untuk pengobatan Gonorrhea. Ekstrak tanaman ini mempunyai efek  hypoglycaemic dan antihyperglycaemic. Berperanan dalam mengatur kadar gula darah.  Kandungannya menghambat enzyme glucose -6- phosphate.

Buah papasan

4. Anti pyretic – Tanaman ini juga digunakan untuk obat demam.

5. Antelmenthic & larvicidal  – obat cacing & pengobatan terhadap larva.

6. Anti inflamatory – untuk mengatasi peradangan.

7. Analgesic .- pengurang rasa sakit.

Bagian yang banyak dimanfaatkan untuk pengobatan adalah daun dan akarnya. Sayapun mencoba tumis buah papasan alias coccinia ini. Dan  ternyata rasanya enak sekali.  Segar dan sedikit ada rasa manis asemnya. Sekarang saya tidak sabar menunggu buah liar ini menjadi tua untuk saya semai kembali bijinya.

References:

1. http://www.pharmacophorejournal.com/May-June2012-article3.pdf

2.http://www.diabetes.org/news-research/research/access-diabetes-research/kuriyan-coccinia-cordifolia-and-diabetic-patients.html

3. http://www.apjtb.com/zz/2011s2/34.pdf

Markisa, Buah Dari Pinggir Kali.

Standard

MarkisaDi pinggir kali,  banyak hal yang menarik hati saya.  Setelah sebelumnya saya menulis tentang Oyong, sayuran dari pinggir kali, berikutnya saya mau bercerita mengenai Markisa, buah yang  tumbuh merambat di belakang rumah saya.

Pohon markisa ini, terus terang saya tidak tahu siapa yang menanamnya. Tapi ia tumbuh di belakang halaman rumah saya. Seperti biasanya, tanaman ini tidak ada yang merawat tapi tumbuh subur. Menjalar di dinding hingga memanjat ke pohon mangga tetangga.

Markisa atau yang disebut juga dengan nama Passion fruit (Passiflora edulis), merupakan tanaman yang banyak kita temukan di darah daerah tertentu,  misalnya di Medan, Sulawesi  atau di Bali. Buahnya  yang matang ada yang kuning, dan ada juga yang ungu. Saya pikir yang tumbuh di belakang rumah adalah jenis yang ungu.  Saat ini belum ada buahnya yang matang dan bisa dimakan, tapi sudah banyak yang bermunculan dan bergelantungan. Bulat-bulat berwarna hijau.  Di Medan & Sulawesi kita tahu kalau buah ini dikebunkan secara komersial untuk dijadikan syrop.  Saya selalu membeli syrop ini tiap kali saya ke Medan. Hm..syrop markisa saya paling suka.

Kalau di Bali, biasanya hanya dijual sebagai buah-buahan biasa saja. Banyak kita temukan di daerah Kintamani. Namun anehnya di Bali kok disebut dengan nama buah Anggur ya?  Anggur besar – karena anggur yang kecilpun disebut dengan anggur juga.  Saya coba mengira-ngira sendiri, darimana  ya asal muasal  nama Anggur ini. Mungkin karena warnanya sama-sama ungu? Tapi di Bali banyak juga yang berwarna kuning.  Jadi tidak ada hubungannya dengan warna. Atau barangkali karena tanaman ini merambat seperti anggur? Entahlah. Saya tidak tahu persis, tapi mungkin saja dari sana asal muasalnya.

Yang menarik dari tanaman ini adalah selain buahnya yang matang  memang sangat menggiurkan, bunganya juga sangat cantik. Bundar seperti cakram yang tersusun dari 10  lembar kelopak bunga berwarna putih , lalu dilapisi dengan mahkota benang-benang  yang panjang berwarna ungu tua bergradasi ke putih ke arah luar. Bentuknya bergelombang dan keriting pada ujungnya, dan jumlahnya banyak menghampar di atas kelopak bunganya.  Lalu putiknya yang berwarna hijau kekuningan, dengan tangkai putik yang agak besar, memiliki tangkai sari dan sari yang terlihat seperti antena alien.  Lucu juga tampangnya.  Saya sangat suka melihatnya.

Buah bulat sebesar telor ayam dan membesar menjadi sebesar telor angsa. Warnanya mulai dari hijau lalu bergerak ke ungu atau ke arah kuning dan jingga. Jika kita belah,di dalamnya terdapat biji-biji yang banyak mirip kecebong di dalam cairannya  yang berwarna kuning. Wanginya sangat menggiurkan. Rasanya sangat manis.

Daunnya berwarna hijau segar lebar-lebar dengan tiga bagian yang membentuk trisula. batangnya merambat.

 

Serangan Kutu Putih Pada Kembang Sepatu.

Standard

Serangan Kupu Putih 1Kutu putih!  Belakangan ini  gerombolan kutu putih kembali  menyerang tanaman-tanaman di halaman rumah saya. Serangga berwarna putih yang punggungnya mirip undur-undur namun berwarna putih ini menyerang tanaman kembang sepatu hingga bunganya pada menciut, cacat dan bentuknya tak menentu. Tidak ada lagi bunga kembang sepatu indah yang mekar sumringah menyambut pagi. Semuanya tampak malu-malu dan mengkeret seolah-olah kurang percaya diri untuk tampil.  Semua kepercyaan dirinya telah dirampas oleh kutu putih.

Kutu putih atau yang disebut juga dengan mealybugs  mengisap tanaman dengan cara yang sangat merusak. Sungguh kasihan saya melihat tanaman-tanaman itu.  Selain itu serangga ini juga rupanya vektor dari virus kuning yang menyebabkan kuning daun di usia muda.

Sebenarnya ini bukan serangan yang pertama kalinya. Beberapa tahun yang lalu, serangga ini pernah juga menyerang tanaman-tanaman saya dengan sangat ganas.  Yang menjadi korban saat  itu selainkembang sepatu juga tanaman frangipani, jatropha, hingga morning glory. Semuanya diserangnya  tanpa ampun. Saya coba basmi dengan menggunakan air sabun,namun ternyata kurang efektif.  Saya coba cara  manual,menyikatnya satu persatu , ternyata juga sangat tidak praktis dan memakan waktu. Hilang satu tumbuh seribu. Sangat susah dibasmi, karena saya juga tidak mau menggunakan diazinone maupun insektisida lain untuk membasmi hama tanaman itu. Selain khawatir akan kemananan anak saya – takutnya anak-anak bermain di sekitar tanaman, juga saya khawatir banyak burung dan serangga lain yang tak berdosa ikut kena musibah racun serangga ini. Setelah lama berpikir, akhirnya saya memutuskan untuk memangkasnya pada bagian yang terserang hama lalu membiarkan daun-daun barunya tumbuh kembali.  Dan ternyata, saya bisa memulihkan kesehatan tanaman-tanaman itu kembali tanpa perlu menggunakan pestisida. Namun semuanya memang butuh kesabaran.

Tahun ini saya mendapat kunjungan kembali dari gerombolan kutu putih ini.  Dan kemungkinan saya harus dengan tega memangkas tanaman-tanaman saya kembali.  Apa boleh buat!! Terkadang kita terpaksa harus memotong sebuah jari tangan kita yang membusuk untuk menyelamatkan empat jari lainnya yang masih sehat.

Menikmati Alam Cigelong: Bunga Rumput Liar.

Standard

Apakah ada yang pernah tahu atau pernah mendengar nama Cigelong?  Tempat itu adanya di wilayah Sukabumi. Jika kita datang dari arah Jakarta, sebelum mencapai kota Sukabumi, kita akan bertemu daerah yang bernama Parung Kuda. Di sana kita belok kanan, ambil arah ke Citarik (tempat wisata Arung Jeram).  Kita jalan terus menuju daerah Cipetir, lalu Cikidang dan masuk ke area Cigelong.  Ke sanalah saya pergi selama liburan.  Walaupun tempatnya agak jauh dari kota Sukabumi ( bahkan mungkin sudah lebih dekat ke Pelabuhan Ratu), saya senang berjalan ke sana,karena sepanjang jalan saya bisa melihat -lihat pemandangan. Hamparan tanah perkebunan, yang dulunya penuh dengan kebun teh dan kebun karet kini sudah diganti dengan kelapa sawit.  banyak sekali bunga-bunga liar yang sedang bermekaran saya temukan di tepi jalan – walaupun tidak semuanya sempat saya abadikan. Lantana Di Pojok Ladang Kembang Lanting Landa alias Lantana camara ini terlihat sungguh romantis terangguk-angguk di tiup angin di sudut ladang. Bunganya yang berwarna pink  bercampur jingga tampak  ceria menghibur hari.  Barangkali karena syaraf mata terhubung sedemikian eratnya dengan syaraf ingatan, melihat kembang Lantana  camara ini, saya teringat pada Prof  AA Ressang dan mata kuliah Patologi Penyakit Baliziekte pada sapi, terutama pada sapi bali.  Si cantik jelita berbunga indah ini mengandung senyawa Lantadene  yang merupakan racun yang bersifat hepatotoksik ,  sering mengakibatkan gangguan parah – luka-luka dan nekrosa  pada kulit sapi jika sapi digembalakan secara liar dan dibiarkan memakan tanaman ini. Namun dibalik keburukannya itu, biji-biji lantana adalah makanan yang umum disukai burung punai. Saya tidak pernah membaca catatan ataupun laporan mengenai keracunan biji tanaman ini pada burung punai.  Namun apapun itu, bunga tanaman ini sungguh sangat menarik untuk dilihat.

Bunga Ilalang

Bunga Rumput Pennisetum polystachyon alias rumput gajah yang sangat mirip dengan  rumput ilalang. Awalnya saat saya lihat dari jauh,  saya pikir itu rumput alang-alang. Tapi kemudian ketika saya dekati ternyata bunganya bukan putih berkilau, namun coklat kuning keemasan.  hanya ada satu kata yang terucap mengomentari tanaman ini  “Indah!”. Memandang bunga rumput ini membuat saya teringat pada angin.  Karena bunga rumput ini akan terlihat semakin indah ketika ia menari-nari disapa angin. Semak Bunga Ratna Putih  Liar Bunga berikutnya yang sangat menarik perhatian saya adalah Bunga Ratna Liar yang berwarna putih. Bunga Ratna ini kalau ditempat lain biasanya disebut Kembang Kenop liar  atau Gomphrena celosioides. Salah satu anggota dari keluarga bayam-bayaman ( Amaranthaceae). Tidak habis pikir saya, bagaimana bisa bunga-bunga putih yang cantik ini bertebaran ribuan jumlahnya menghampar di pinggir jalan dengan indahnya. Kenopnya yang putih menyembul dari sana sini ditopang oleh tangkainya yang panjang dan langsing. Kalau ada waktu,mungkin akan saya cabuti bunga liar  itu satu persatu, akan saya jadikan rangkaian bunga untuk menghias pojok ruangan saya. Rumput Pecut Kuda Biru Pernah dengan Rumput Pecut Kuda?  Rumput Pecut Kuda atau Stachytharpheta jamaicensis adalah rumput liar yang sangat mudah kita temukan di mana-mana. Setahu saya, ada 3 variant warna bunganya. Yang biru seperti dalam gambar ini, yang putih dan yang pink. Terus terang saya baru pernah lihat yang biru dan putih saja.  Secara tradisional, konon rebusan tanaman ini digunakan sebagai obat untuk mengurangi radang tenggorokan, hepatitis, untuk amandel bahkan ada yang bilang bagus untuk menurunkan tekanan darah. Namun di satu sisi ada juga yang mengatakan bahwa tanaman ini beracun.  Saya tidak tahu kebenarannya, karena  belum pernah mencoba.  Tapi bunga mungil dari rumput pecut kuda ini sungguh menawan. Tergantung pada seutas tangkai bunga yang memang mirip pecut, sehingga tidaklah mengherankan jika diberi nama Pecut Kuda. Blue floss Ada lagi rumput yang sebanrnya sangat menarik bunganya. Namanya Rumput Bandotan (Ageratum conyzoides) . Warnanya ada yang putih, ada yang pink dan ada yang biru. Yang saya temukan kali ini kebetulan yang berwarna biru – sehingga sering juga disebut dengan Blue Floss . Terus terang bunganya indah sekali. Dan diluar sebenarnya juga banyak yang dibudidayakan sebagai tanaman hias. Entah kenapa di Indonesia kok pangkatnya hanya sebatas gulma, tanaman pengganggu saja ya. Saya membayangkan seandainya rrumput ini berbunga semua pada saat yang bersamaan, tentu keseluruhan ladang akan tampak berwarna biru. Bunga Kering Ada lagi pemandangan yang menarik. Kali ini bukan bunga segar, namun bunga kering dari Rumput Bandotan. Walaupun sudah tua dan mati,namun tetap meninggalkan keindahananya untuk ditatap mata manusia. Alam selalu memberikan keindahan, jikakita ingin melihatnya.

Labu Siam Putih, Penurun Tekanan Darah Tinggi.

Standard

Labu Siam PutihLabu Siam (Sechium edule)! Sebagian besar dari kita tentu tahu atau setidaknya pernah mendengar tentang Labu Siam. Atau bahkan banyak diantaranya yang malah menyukainya? Tanaman merambat ini merupakan salah satu flora yang umum bisa kita temukan dari ujung barat ke ujung timur tanah air kita.  Di mana-mana ada. Selain dibudidayakan untuk diambil buah dan pucuk daunnya untuk sayuran, juga banyak dimanfaatkan untuk mengobati tekanan darah tinggi  dan arteriosklerosis.

Ya.. walaupun namanya Labu Siam, namun di Indonesia labu ini benar-benar merupakan  tanaman yang sangat merakyat.Saya tidak tahu persis, mengapa Labu ini disebut dengan nama Labu Siam. Apakah karena berasal dari negeri Siam? Mungkin saja.  Walaupun bagi saya penamaan ini sangat membingungkan. Karena di Bali, Labu ini malah dikenal dengan nama Jepang. Apakah karena orang Bali jaman dulu menyangka bahwa tanaman ini berasal dari Jepang? Buah Jepang. Sayur Jepang. Nah lho? ! Bingung kan? Yang jelas Jepang dan Siam itu adalah dua negara yang berbeda. Namun apapun namanya, bagi saya Labu ini adalah tanaman rakyat Indonesia.

Umumnya, Labu Siam yang kita kenal itu berwarna hijau segar. Namun  kali ini yang saya lihat di rumah salah seorang kerabat suami saya adalah variant yang berwarna putih mulus. Awalnya saya melihatnya di antara salah satu hidangan makan siang yang disuguhkan. Sangat menarik. Dihidangkan sebagai lalapan yang dimakan bersama dengan sambel terasi. Namun ketika saya tanya,  rupanya sayuran ini adalah hasil memetik dari halaman belakang.

Sayapun segera menengok ke halaman belakang. Benar saja, di sana ada tanaman Labu Siam yang merambat di tiang rambatan dan juga menjulur terus ke pohon di sebelahnya. Ada banyak bunga putih yang menyembul mungil di balik dedaunan yang rimbun. Juga ada banyak buah-buah kecil dan juga besar bergelantungan di sana. Tapi semua warnanya memang putih mulus. Menarik sekali. Dan langka.  Beberapa orang kerabat mengatakan kepada saya bahwa jenis labu siam putih ini dipercaya malah lebih ampuh dalam mengatasi penyakit tekanan darah tinggi.

Maka sayapun dihadiahi sebutir buah Labu Siam Putih yang siap tanam untuk saya bawa pulang. Semoga saya bisa menanamnya dengan baik.

Violces Ibu Mertuaku.

Standard

Violces 3Ada dua hal yang selalu mengingatkan saya akan Ibu mertua saya. Yakni Rajutan dan  Bunga Violces. Mengapa bunga Violces? Karena ketika kami baru menikah dan suami saya sering mengajak saya pulang ke rumahnya, saya melihat ibu mertua saya menyiram,membersihkan daun-daun violces ini dan menggeser-geser potnya di teras depan. Sebagai mantu baru, sayapun ikut berjongkok membantu ibu mertua saya melakukan aktifitas hariannya itu. Saya ingat ada belasan atau puluhan pot-pot kecil dengan bunga-bunga Violces berwarna-warni yang dipelihara. Ada yang berbunga ungu, biru, pink,putih, pink tua dan sebagainya. Ada yang mahota bunganya polos selapis, ada juga yang berlapis. Jenis daunnya ada yang kecil dan ada yang sedikit lebih lebar. Ada yang polos, ada yang kelihatan berkerut, ada yang agak bertulang. Namun semuanya terlihat indah. Lebih sering trelihat berbunga banyak dibanding tidak berbunga. Selama bertahun-tahun  pemandangan Violces berbunga ini menghiasi teras depan, sehingga saya hapal. Read the rest of this entry