Category Archives: Gardening

Tidak Sabar Menunggu Selada Red Ava. 

Standard

Karena sudah beberapa kali menanam selada hijau, saya penasaran ingin mencoba menanam selada berwarna merah. Selada yang sering saya temukan dihidangkan sebagai campuran salad di hotel-hotel berbintang. Nah…saya pikir keren juga nih jika dapur saya juga bisa menghidangkan salad dengan campuran sayuran ala hotel berbintang gitu. Produksi sendiri pula. 

Bibitnya dari mana? Saya coba cari di toko Trubus dan toko hidroponik seputaran Bintaro, lagi kosong. Ah, tapi saya tak mau kehabisan akal. Toko hidroponik online!. 

Selada Red Ava, reference gambar dari hidroponikshop.com

Singkat cerita dapatlah saya biji selada merah Red Ava yang re-packing. Isinya 40 butir harganya Rp 7 000 kalau saya tak salah ingat. Saya coba menyemaikan 5 butir di aras rockwool.. Lumayan, dari 5 yang hidup 4. Not bad lah ya. 

Ketika sudah mulai membesar dengan jumlah daun 4 lembar, saya memindahkannya ke dalam box hidroponik dengan system sumbu. Kemudian saya letakkan di teras belakang. Selanjutnya saya hanya melihatnya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dan memberinya pupuk saat weekend saja. 

Tanaman selada ini tumbuh makin besar. Ada warna merah bersawang-sawang di ujung daunnya. Saya berharap warna merahnya semakin tampak seperti foto referens. Sekarang selada ini sudah berumur kira kira 15 hari. Tapi kok warna merahnya belum keluar banyak juga ya? Malah lebih dominan warna hijaunya. Ada yang salahkah? 

​​Selada merah Red Ava ini meninggalkan penasaran di hati saya. Tapi saya akan tetap menunggu perkembangannya seminggu dua minggu ke depan ini, berharap semburat pigmen merahnya keluar lebih banyak. 

Bertanam rupanya membutuhkan kesabaran untuk melihat hasil. Karena alam membutuhkan proses dan tidak menyediakan hasil instant. 

Dapur Hidup: Mengenal Si Penambang Daun.

Standard

Salah satu keuntungan dari kegiatan Dapur Hidup yang saya tekuni setahun terakhir ini adalah mendapatkan banyak pelajaran dan pengetahuan baru. Berhubung saya tidak memiliki latar belakang pendidikan Pertanian, pengetahuan tentang tanam menanam saya dapatkan satu persatu dengan cara “learning by doing” plus membaca buku serta memanfaatkan internet. Salah satu pengetahuan baru yang ingin saya share kali ini adalah tentang si Penambang Daun. 

Penambang Daun!. Kedengarannya aneh ya? . Ya memang. Karena saya menterjemahkannya langsung dari bahasa Inggris “Leaf Miners”. Saya tidak tahu apa nama hama tanaman yang menyerang daun ini dalam Bahasa Indonesianya, jadi saya terjemahkan saja menjadi Penambang Daun. 

​Sebenarnya sudah cukup lama saya melihat kejadian ini pada daun daun tanaman sayuran saya. Saya melihat ada jejak putih kadang lurus, kadang melingkar bahkan zigzag di daun cai sim yang saya tanam di polybag. Awalnya saya pikir itu jejak keong kecil yang kadang suka terlihat di tanah dekat tanaman. Tapi kenapa daunnya tidak bolong bolong ya? Jika ada keong yang melintas di sana, tentu sekalian ia nenggerogoti daun daun sayuran itu. Tapi ini tidak.

​Berikutnya saya lihat lagi jejak spiral di daun tomat. Lalu di daun kangkung.Saya mulai berpikir, apa jangan jangan itu bekas pupuk yang saya kasih ya. Saya tidak terlalu memikirkannya lagi. Hanya memotong daun yang terkena dan membuangnya. Tidak seberapa. Paling 1-max 2 lembar daun. Itupun jarang. 
​Sampai kemudian minggu yang lalu, saya menemukan jejak serupa pada daun benih Kailan yang saya tanam dengan system hydroponik. Nah… ini penyebabnta apa ya? Yang jelas bukan jejak keong karena tidak ada keong di situ. Dan juga bukan bekas pupuk. Wong benihnya masih kecil belum saya kasih pupuk sama sekali. Akhirnya saya penasaran dong, bongkar bongkar buku dan cari bantuan internet. 

Nah sekarang saya tahu. Rupanya jejak di daun tomat ini ditinggalkan oleh larva sejenis lalat (Liriomyza sativae). Larva ini menggali terowongan di dalam daun yang dari luar terlihat seperti jejak berkelok kelok. 

Apakah penyakit ini berbahaya? Saya lihat jawababnya di buku sih tidak. Tetapi jika banyak tentu saja akan membuat tanaman jadi kelihatan kurang cantik.  Selama ini apa yang saya lakukan dengan memetiki daun yang terinfestasi sudahlah benar. Karena jumlahnya sedikit. 

Nah bagaimana jika serangannya banyak? Dan kita tak punya waktu untuk memetikinya satu per satu?. Disarankan untuk menyemprot dengan pestisida alami daun Nem atau bisa juga dengan memanfaatkan serangga tertentu yang suka memangsa larva. Wah… mudah-mudahan serangannya tidak sering terjadi dan tidak banyak. 

Posisi (Memang Terbukti) Menentukan Prestasi.

Standard

Pasti sudah sering mendengar pepatah ini “Posisi Menentukan Prestasi”. Maksudnya tentulah bahwa prestasi yang dicapai seseorang itu sangat ditentukan oleh bagaimana posisi orang itu  saat melakukan eksekusi.  Semakin bagus posisinya, tentu semakin bagus prestasinya. Oleh karenanya    banyak orang berlomba-lomba mencari posisi yang terbaik.  

Saya sendiri, belum pernah memikirkan pepatah itu baik-baik, walaupun sering mendengarnya juga. Nah sekarang saya teringat, gara-gara melihat kenyataan itu sendiri terjadi di depan mata saya. 

​Saya menanam beberapa box kangkung dengan system hydroponik tanpa listrik. Karana jumlahnya cukup banyak sementara halaman saya sempit, terpikir oleh saya untuk membuat rak bertingkat yang terbuka yang bisa menampung box-box tanaman sayuran termasuk kangkung saya itu. 

Singkat cerita, rak itu sudah jadi dan box box berisi benih  sayuran itupun saya letakkan dengan rapi di dalamnya. Semua sayuran mengalami perlakuan yang sama dalam hal treatment air dan nutrisi. Benih yang kecil mulai tumbuh.

Beberapa hari kemudian, saya melihat terjadi perbedaan yang cukup signifikan atas pertumbuhan tanaman itu dari satu box ke box lainnya. Hmm…mengapa ya? 

​​Tanaman dari box yang diletakkan di sisi yang paling terekspose dengan cahaya matahari mengalami pertumbuhan yang paling pesat. 


​Sedangkan yang diletakkan di posisi lebih ke dalam (lebih jauh dari cahaya matahari) tampak lebih kecil dan lebih lambat pertumbuhannya. Posisi box tempat tanaman ini bertumbuh  sangat menentukan tingkat keberhasilannya dalam bertumbuh. 

Jadi memang benar ya pepatah “Posisi Menentukan Prestasi” itu?. Menurut pendapat saya iya. 
Setiap posisi, di manapun itu tentu memiliki “tetangga sebelah”samping kiri, samping kanan, depan, belakang, atas, bawah. Posisi tertentu, membuat kita terekspose pada tetangga tertentu yang bisa jadi berbeda jika posisi kita berbeda. 

Ibaratnya si tanaman kangkung yang tumbuh pesat karena bertetangga dengan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhannya, seseorang juga sangat mungkin maju pesat karena dia berada di lingkungan orang-orang sukses. Setidaknya usahanya untuk sukses lebih mudah ketimbang orang yang berada di lingkungan orang orang yang gagal. Mengapa? Karena ia mendapatkan pemahaman, dukungan dan motivasi serta networking yang baik dengan pusat-pusat kesuksesan. 

Demikian juga sebaliknya.Jika seseorang tidak terkespose dengan kesuksesan dan lebih banyak berada di lingkungan orang-orang yang gagal, maka usaha yang dikeluarkan agar bisa sukses menjadi lebih berat. Karena tak ada orang yang memberi informasi, dukungan dan pertolongan. Ia harus mencari tahu sendiri, mencoba dan berusaha keras agar sukses. 

Memberi peluang kepada anak-anak dan  orang-orang yang kita sayangi di sekeliling kita untuk terekspose dengan hal-hal positive yang mendukung kesuksesannya di kemudian hari sangatlah penting. 

Cangkang Yang Membatasi Pertumbuhan

Standard

​Kemarin ini ceritanya saya sedang memeriksa biji biji tanaman kangkung yang saya semaikan di atas media rockwool.Sudah pada tumbuh.Angka persemaiannya nyaris 100%. Tampak sehat-sehat.Sebagian besar sudah mulai menunjukkan 4 lembar daun. Sudah di stage yang siap dipindahkan. Tapi beberapa ada juga yang daunnya masih 2 lembar, ada yang  masih kelihatan seperti kecambah saja, ada juga yang daunnya belum keluar semua, ujungnya masih terbalut cangkang bijinya.Saya membantu melepaskan cangkang itu satu per satu biar daunnya mengembang, dengan harapan agar tanaman ini bisa melakukan fotosintesis lebih cepat sehingga pertumbuhannya pun lebih cepat. Sslangatlah mudah melepaskan cangkang biji kangkung ini. Tinggal tarik, daunnya langsung mengembang dengan mulus.

Tapi dari sekian banyak yang saya bantu, ada satu tanaman kangkung  yang tampak aneh. Tangkai daunnya sudah sangat panjang, tapi cangkang bijinya masih melekat erat. Dibilang kecambah bukan, tapi jika disebut pohon Kangkung juga belum layak. Saya coba bantu lepaskan tapi  keras.Waduuh!. Akhirnya saya pecahkan cangkangnya dan paksa sedikit agar daunnya bisa keluar. Bisa sih… tapi daunnya kelihatan keriting dan kurus, karena terlalu lama terlipat dan digencet cangkangnya sendiri. Padahal daun teman-teman di sebelahnya jauh lebih besar dan lebar serta tetap teratur bentuknya walaupun sudah tidak diatur oleh cangkang. 

Jadi tanaman ini sebenarnya terlambat tumbuh akibat terbelenggu cangkangnya sendiri. 

Saya jadi membayangkan embrio ayam yang berada didalam cangkang telurnya. Embrio ini mengalami pertumbuhan dari hari ke hari. Semakin membesar setiap hari. Hingga ketika pertumbuhannya sudah optimal di hari ke 21 ia harus memecahkan cangkangnya sendiri agar bisa keluar menjadi anak ayam dan selanjutnta berkembang menjadi ayam dewasa. Karena cangkangnya sendiri sudah tidak muat. Apa yang terjadi jika embrio ayam ini tidak memecahkan cangkangnya ? Niscaya ia tidak akan bisa tumbuh lagi dan lama lama tentu akan mati. 

Alam rupanya sudah menetapkan mekanisne “jika ingin tumbuh pesat,  harus berani memecahkan cangkang sendiri”  itu untuk semua mahluk hidup. Berlaku untuk kangkung, berlaku untuk ayam dan bahkan menurut saya berlaku untuk semua mahluk hidup termasuk manusia.

Cangkang! Adalah icon alam untuk segala yang membatasi. 

Pandangan yang sempit adalah cangkang yang membatasi kita untuk melihat dunia kehidupan dengan lebih baik. Kita pikir apa yang terlihat oleh kitalah yang paling indah, hanya karena kita tak bisa melihat kehidupan yang indah lainnya di luar jarak pandang kita. 

Pikiran yang sempit adalah cangkang yang membatasi kita untuk memahami bahwa sesungguhnya sedemikian luasnya ilmu pengetahuan di luar sana yang belum terpikirkan oleh kita. 

Kefanatikan terhadap sesuatu, juga adalah cangkang yang membelenggu keyakinan kita yang membuat kita menyangka bahwa apa yang kita yakini adalah yang paling benar tanpa memberi kesempatan diri kita untuk mengetahui bahwa di luar sana sedemikian luasnya kebenaran yang tak tertangkap oleh mata bathin kita. 

Kekhawatiran dicap sok tahu dan menggurui, adalah cangkang yang membuat kita tak berani mengemukajan pendapat dan gagasan-gagasan kita. 

Ketakutan  untuk gagal, kekhawatiran akan diomongkan orang lain, kebiasaan mengandalkan orang lain dan sebagainya masih banyak lagi, adalah jenis-jenis cangkang dalam kehidupan sehari-hari  yang membatasi kita untuk berkembang. 

Laksana cangkang pada telor ayam dan pada biji tanaman, cangkang kehidupan  selalu  kita butuhkan di tahap awal untuk melindungi dan membantu kita semua agar lebih disiplin dan tertib. Namun begitu mencapai tingkat pertumbuhan dan pemahaman yang kuat, kita perlu memberanikan diri untuk memecahkan cangkang yang membelenggu diri dan pemikiran kita agar bisa berkembang lebih lanjut. Karena jika tidak, maka kita hanya akan berakhir di sini dengan keadaan seperti saat ini. 

Lepaskan cangkang yang membelenggu, buka peluang yang luas bagi diri kita sendiri untuk mampu berkembang sebaik-baiknya. 

Biji Kangkung Dan Persemaiannya.

Standard

​​Saya punya sebungkus biji kangkung. Saya beli sekitar tahun lalu. Isinya banyak. Tapi karena lahan saya untuk menanam sangat terbatas hanya di halaman, biji kangkung ini pun belum habis juga. Belakangan saya perhatikan kok yang tumbuh tidak sebanyak dulu ya?.Padahal dulu -dulu rasanya berapapun biji kangkung  yang saya tabur, ya sebanyak itulah yang tumbuh. Jika tidak bisa dibilang semuanya, ya paling tidak sebagian besar pastilah tumbuh.  Apa jangan- jangan sudah kelamaan? Sudah expired?. Buru-buru saya memeriksa kemasannya. Oh!. Ternyata bukan!. Masa expiry datenya masih jauh. March 2017. Jadi apa permasalahannya?. 

Saya mencoba memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Apa yang berbeda?.Apa karena cara saya menyemaikan kini berbeda dengan sebelum-sebelumnyanya? Dulu saya menaburkan biji biji di tanah dan memindahkannya ke polybag jika sudah tumbuh. Sekarang saya lebih banyak menanam dengan cara hidroponik. Jadi saya menyemainya di atas rockwool yang basah. Apa barangkali cara menanam saya yang berubah ini yang menyebabkan terjadinya penurunan tingkat persemaian biji kangkung ini ya? 

Daripada penasaran, saya pun melakukan percobaan sederhana dan melakukan pengamatan setiap hari terhadap biji biji kangkung yang saya semai dengan 3 macam perlakuan yang berbeda:

1/. Biji langsung ditabur di tanah dalam pot.

2/.Biji diletakkan di atas rockwool basah.

3/. Biji direndam semalam dalam air lalu ditiriskan di atas wadah saringan. 

Saya nenempatkan ketiga perlakuan ini pada tempat yang sama, bersebelahan satu sama lain untuk meminimalisir pengaruh cahaya dan lingkungan. 

​Biji biji kangkung inipun mulai tumbuh. Saya melakukan penghitungan. Hasilnya:
1/. Tingkat keberhasilan persemaian pada perlakuan 1 (langsung di tanah dalam.pot) =27.5%.

2/. Tingkat keberhasilan persemaian pada perlakuan 2 (rockwool) = 25%.

3/. Tingkat keberhasilan persemaian pada perlakuan 3 (rendam dan semai di atas saringan) = 13.3%. 

Hasilnya tidak terlalu jauh berbeda antara perlakuan 1 &2. Hanya pada perlakuan 3 yang cukup besar perbedaannya. Tapi hasilnya buruk semua. Karena tingkat persemaian sangat rendah di ketiga perlakuan ini.  semuanya jauh di bawah 95%. Belum mampu menjawab rasa penasaran saya dengan baik. 

Saya masih curiga jika bibit ini sedungguhnya sudah mulai kadaluwarsa.Walaupun jemasannya mengatakan tidak. 

 Akhirnya saya pergi ke toko Trubus untuk membeli biji biji baru. Sambil membayar sayapun ngobrol dengan petugasnya. Menceritakan tentang biji kangkung saya yang tingkat persemaiannya menurun. Saya mendapat masukan jika sebaiknya saya menyimpan biji biji sayuran dalam kondisi yang di”seal” rapat rapat kembali. Jangan dibiarkan terlalu lama kontak dengan udara luar. Saya mendengarkan masukan ini untuk pembelajaran saya dalam menanam sayuran. 

Saya mencoba mengingat-ingat. Dari sekian kali membuka dan menabur biji biji kangkung ini, rasanya saya memang tidak selalu disiplin  menyimpannya dengan baik. 

Biji kangkung yang baru saya beli segera saya semaikan di atas rockwool yang basah. Dan tingkat persemaiannya mencapai 99%. 

Jadi pelajarannya dalam mengelola biji biji sayuran buat saya adalah memastikan masa kadaluwarsa adalah satu hal penting.Namun lebih penting lagi adalah bagaimana menangani dan menyimpan benih yang tersisa agar bisa digunakan dengan optimal di kemudian hari. Intisarinya, benih baik yang belum sempat disemai perlu disimpan dengan baik agar tidak kekeringan dan terkontaminasi. 

Dan jika dinalogikan ke dalan kehidupan kita, ini serupa dengan pelajaran bahwa jika kita memiliki benih-benih pemikiran maupun ide ide yang baik yang belum sempat kita utarakan, alangkah baiknya jika kita simpan di tempat yang baik dan rapat kemurniannya agar tidak keburu hilang, menguap ataupun terkontaminasi pemikiran lain yang lebih buruk. Harapannya, suatu saat jika ada kesempatan untuk membukanya, maka ide ide dan pemikiran baik ini akan berguna bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga bagi orang orang di sekeliling kita. 

Coretanku: Urban Garden with Limited Space.

Standard

image

Urban Garden.
There are many good reasons for growing food, no matter how small the scale of production.

Keterbatasan, tidak akan jadi halangan berarti jika ada niat dan kesungguhan hati untuk mengerjakannya.
* Pencils on paper.

Coretanku: Massed Flowers Tumbling Down The Slope.

Standard

image

Tangga yang sama untuk mendaki atau menurun, tergantung dari arah mana kita memandangnya.

Jika kita pikirkan jumlah anak tangga dan kesulitannya, maka hanya kelelahan yang kita dapatkan sepanjang perjalanan.

Tapi jika sambil berjalan kita perhatikan keindahan bunga-bunga liar di kiri kanannya, maka kebahagiaan akan selalu menyertai perjalanan kita.

*pencils on paper.

Hydroponik Tanpa Listrik.

Standard

image

Saat ini hydroponik merupakan instalasi andalan saya dalam berkebun karena sangat praktis dan tak menguras tenaga. Sayangnya karena menggunakan listrik untuk menyalakan pompa airnya (walaupun kecil karena pompanya hanya pompa aquarium 35  watt) saya sering was-was jika rumah harus saya tinggalkan kosong dengan listrik tetap menyala.

Karenanya saya mulai memikirkan alternatif lain dalam berkebun hydroponik. Ada nggak ya cara berhydroponik tanpa listrik?.

Teringat jaman dulu di sekolah saya waktu SD, dinding sekolah dihiasi dengan tanaman sirih yang ditanam dalam media air dalam bola lampu yang sudah tidak dipakai. Barangkali cara menanam seperti itu bisa saya jadikan alternatif.

Sangat beruntung, saya melihat sebuah contoh hydroponik dengan menggunakan sumbu dari kain flanel untuk menaikkan air agar selalu basah. Mirip cara kerja lampu teplok. Sangat sederhana.  Peralatan yang dipakai hanyalah baskom untuk menampung air. Styrofoam untuk menutup wadah air dan menjadi tandalan tanaman. Lalu kain flanel bertindak sebagai pipa kapiler untuk mengangkat air dari baskonm ke akar tanaman. Dan tentunya mangkok hydroponik beserta rockwool sebagai media tanam.

image

Sayapun mulai mencoba membeli contoh dan peralatannya. Styrofoam dan alat pemotongnya. Pekerjaan memotong saya lakukan sendiri.  Juga membuat lubang tanam. Tidak sulit mengerjakannya. Di bagian pinggir styrofoam saya kikis sedemikian rupa agar tutup styrofoam tepat bisa nenutup baskom air dan tak mudah digeser. Untuk sumbu saya menggunakan flanel bekas prakarya anak-anak.

Bibit yang saya coba pakai adalah Sam Hong, sejenis sawi yang berdaun lebar berpelepah putih. Saya ambil sebutir biji lalu saya semai di dalam rockwool. Demikian seterusnya hingga saya dapat beberapa. Saya memajai wadah apa saja yang tersedia di rumah dan nganggur. Untuk penampung air, selain wadah air persegi, saya juga memanfaatkan baskom plastik bulat yang bibirnya sumbing dan tak terpakai lagi. Juga ember yang tak terpakai.

image

Seminggu kemudian biji tumbuh. Saya diamkan beberapa hari untuk memastikan daunnya telah tumbuh 3-4 lembar, lalu saya pindahkan ke wadah hydroponik tanpa listrik.

image

Hasilnya? Tidak kalah dengan yang di instalasi hydroponik berlistrik.

image

Daun daun Sam Hong satu per satu tumbuh membesar. Saya menambahkan pupuk cair organik seminggu sekali. Tanaman makin subur.

image

Dan saya tidak was- was lagi meninggalkan tanaman ini, entah karena urusan personal atau urusan kerja ke Bali, ke Jogja ataupun ke negeri tetangga selama beberapa hari, karena saya tidak menggunakan listrik. Yang perlu saya pastikan hanya level airnya saja harus penuh sebelum saya tinggalkan. System kapilaritas yang dilakukan oleh flanel sebagai sumbu akan tetap menjaga ketersediaan air bagi tanaman.

Demikian cerita Dapur Hidup saya kali ini. Yuk kita semangat berkebun hydroponik.  Tak usah khawatir jika tidak ada listrik. Bisa kok!.

Kisah Kol Yang Tidak Membulat.

Standard

image

Dalam setahun terakhir ini saya sudah berhasil menanam berbagai macam sayuran kebutuhan dapur seperti tomat, cabe, sawi hijau, pakchoi, timun, dan sebagainya di halaman rumah saya yang sempit. Lumayan.

Tapi ada juga sayuran yang belum pernah saya coba tanam di Jakarta sebelumnya. Yaitu kol. Karena setahu saya agar tumbuh optimal kol butuh temperatur yang dingin. Sedang Jakarta kita tahu lah ya, temperaturnya lumayan tinggi karena berada di dataran rendah dekat laut. Jadi pertumbuhan sayuran daerah dingin mungkin tak akan optimal di Jakarta.

Tapi tak apa apalah, saya tetap ingin coba.

image

Sayapun membeli bibit kol di toko Trubus. Nah… dapat nih. Cabbage. Brassica oleracea capitata.  Offenham 2. For spring greens or hearted cabbages. Dari Mr. Fothergill’s.

Sampai di rumah, mulai dong saya menyemai ya. Saya tebarkan biji biji kol ini dalam pot semai kecil. Seminggu kemudian ia tumbuh. Dan seminggunya kemudian lagi saya pindahkan ke polybag. Saya tidak menanamnya di instalasi hydroponik karena saya pikir yang namanya kol pasti nantinya akan membulat dan berat. Bisa limbung dan menggelundung jika saya paksakan di tanam di sana.

Tanaman kol ini bertumbuh dengan baik. Saya melihatnya setiap pagi. Daunnya yang tadinya cuma 4 lembar bertambah satu per satu. Mulai banyak dan membesar. Hijau royo royo. Tapi masalah saya cuma satu…

Setelah sebulan dua bulan berjalan, mengapa kol ini tidak membulat? Batangnya meninggi tapi tetap tidak mau membulat. Walaupun bentuknya indah seperti bunga besar berwarna hijau. Menggiurkan juga.

Akhirnya karena saya pikir kol ini tidak akan membulat dan saya sudah gagal, akhirnya di akhir bulan ke dua, satu per satu sayuran itu saya panen untuk ditumis, dilalap atau sekedar dicampur dengan mie goreng.

image

Belakangan saya baru ingat untuk mencari informasi mengenai “mengapa kol saya tidak membulat?”. Saya baru ngeh jika ternyata tanaman kol sebaiknya dipanen pada umur 4-5 bulan. Bukan umur 1-2 bulan. Hadeeehhhh!!. Kolnya sudah kepalang dipanen dan dimasak semua deh…

Jadi,  sebenarnya kol itu tidak membentuk bulatan/crops belum tentu karena ia tidak membentuk, tapi karena belum membentuk. Bisa jadi jika saya tunggu dulu dan tidak tergesa-gesa dipanen kol itu ada peluang untuk membentuk bulatan.
Dan kalau begitu, sebenarnya saya gagal karena saya pikir saya gagal. Bukan karena saya benar-benar gagal.

Nah itulah bahayanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang hal seperti itu terjadi juga pada diri kita.  Terkadang kita menyangka diri gagal. Pikiran mengatakan kita gagal, lalu seluruh anggota tubuh dan perasaan kita ikut mengkonfirmasi kegagalan itu. Rasa putus asa datang. Kita merasa tidak ada gunanya lagi meneruskan upaya yang telah kita lakukan sebelumnya. Karena toh gagal juga. Lalu kita berhenti berusaha. Dan mulai mempreteli satu per satu element element pendukungnya hingga rusak dan akhirnya memang benar benar  gagal.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pertama karena kita tidak cukup sabar mengikuti proses yang terjadi. Kita ingin instant sukses. Padahal kita tahu semua butuh proses. Tidak ada shortcut for succes.

Kedua, kita tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang hal yang sedang kita lakukan. Kita pikir apa yang kita lakukan sudah cukup, namun ternyata di luar itu masih ada hal-hal penting lain yang juga harus dilakukan.

Ketika kita menyangka semuanya telah berakhir dan gagal, ternyata ada jalan kesuksesan yang tak terlihat oleh kita, hanya karena kita kurang sabar dan kurang membekali diri dengan pemahaman yang memadai.

Dapur Hidup: Lengkio, Si Bawang Mini.

Standard

image

Suatu kali saya berbelanja di pasar traditional di daerah Ciledug. Saat membeli kebutuhan dapur saya melihat ada seikat tanaman kering tergantung. Mirip bawang merah.Tapi kok sangat kecil?. Dan warnanya juga bukan merah.

Mirip kucai, tapi ini kok dijual dengan umbi-umbinya?. Lagipula daunnya kelihatan berbeda juga dengan Kucai, walaupun sepintas kelihatan agak mirip juga. Sudah terlalu kering dan menghitam. Jadi saya sulit mencari perbedaannya. Tapi saya  yakin tanaman itu bukan Kucai.

Saya belum pernah melihat tanaman itu sebelumnya. “Apa itu?”tanya saya keheranan. “Ohhh… itu Lengkio, Bu” kata pedagang itu. Saya semakin heran. Karena belum pernah mendengar nama tanaman itu.

“Untuk apa?” tanya saya lagi. Ibu pedagang itu menjelaskan bahwa Lengkio bisa digunakan untuk campuran berbagai masakan. Misalnya buat asinan, mie goreng, nasi goreng dan sebagainya bahkan umum juga ditumis. Oooh…begitu ya. Saya belum pernah tahu sebelumnya.

Karena penasaran, saya menyatakan  keinginan  saya untuk membeli. Saya lihat masih ada sisa sisa kehidupan di tanaman kering itu. Saya pikir jika saya tanam lagi mungkin bisa. Buat nambah koleksi Dapur Hidup saya. Akhirnya tanaman yang sudah sangat sekarat itupun saya bersihkan dan tanam kembali di rumah.

Demikianlah ceritanya, bagaimana saya mendapatkan bibit Lengkio saya yang pertama. Sekarang saya memiliki beberapa rumpun tanaman Lengkio yang bisa saya ambil setiap saat saya membutuhkannya.

Lengkio atau  Lo kio, atau Chives (Allium Schoenoprasum) adalah keluarga bawang-bawangan yang berukuran mini. Memiliki umbi lapis yang serupa dengan bawang merah. Bedanya, bawang kecil ini berwarna putih kehijauan, sedangkan bawang merah jika kering lapis umbi terluarnya berwarna merah.

Daunnya panjang, sekitar 10-15 cm. Baru saya perhatikan, bentuk daunnya cylinder seperti daun bawang merah. Bukan pipih seperti jenis daun bawang putih. Nah jadi di sana letak bedanya dengan daun kucai. Daun kucai berbentuk panjang gepeng dan baunya juga lebih mirip bawang putih. Sedangkan Lengkio lebih dekat ke bawang merah.

Saya sudah pernah mencoba menumis. Rasanya lumayan juga sih. Enak.

Satu lagi dari Dapur Hidupku.