Category Archives: Liburan

Ginkgo Biloba, Sang Fossil Hidup.

Standard

Sudah lama saya menyukai tanaman ini. Bukan saja karena bentuk daunnya yang sangat indah seperti kipas Jepang, tetapi juga karena khasiat luarbiasanya yang banyak diceritakan orang.

Nah saat saya berkunjung ke Jepang, tanaman ini saya lihat sangat banyak tumbuh, baik di tepi jalan, taman -taman ataupun kuil-kuil. Sangat senang melihatnya. Maka saya ceritakan perihal tanaman ini ke anak saya.

“Apakah pernah mendengar atau membaca tentang Ginkgo?. Ginkgo Biloba?” tanya saya. Sangat ajaib, ternyata anak saya tahu tentang tanaman ini. “Tahu!. Yang bagus untuk memperbaiki memory, kan?” tanyanya. “Betul!. Nah, ini dia tanamannya“, kata saya menunjuk sebatang pohon Ginkgo Biloba. Anak saya sangat bersemangat melihat lihat daun Ginkgo yang cantik dan hijau segar, seolah-olah pengen ngelalapnya segera.

Ginkgo Biloba, adalah satu satunya spesies hidup yang tersisa dari keluarga Ginkgophyta, yang sudah ada semenjak jaman Jurasic. Dalam dunia kesehatan. extract daun Ginkgo dipergunakan dalam menangani berbagai kondisi gangguan memori, cardiovascular ataupun gangguan penglihatan.

Ketika memasuki halaman Osaka Castle, di Osaka, saya juga menemukan beberapa batang Ginkgo Biloba yang sedang berbuah. Nah…kesempatan lagi untuk mengajak anak saya mengamati amati buah Ginkgo. Buahnya bulat lonjong berwarna hijau dengan biji tunggal di dalamnya.

Advertisements

Tombori River Walk Experience.

Standard

Hari berikutnya di Osaka, kami berniat mencoba tour sungai dengan arah yang berbeda dan lebih jauh dari yang pernah kami alami di Dotonburi. Nah, ketemulah paket wisata sungai “Tombori River Walk”. Karena kami memiliki Osaka Pass, maka kami datang ke tempat di mana kami bisa mendaftar. Tempatnya di pinggir sungai di dekat jembatan Nipponbashi.

Rupanya kami tiba terlalu pagi. Tempat mendaftar itu masih sangat sepi. Nyaris tak ada orang. Hanya keluarga kami saja. Tapi tempat ini indah sekali. Ada tempat duduk -duduk di situ.

Saya masuk ke sebuah warung kecil yang satu satunya buka pagi itu. Oh, rupanya kami bisa book ticket di sana. Diinformasikan bahwa perahu akan tiba pukul 11.00 . Kamipun menunggu sambil duduk duduk dan minum jus.

Pukul 11 benar saja perahu tiba. Kami akan menyusuri sungai menuju dermaga yang dekat dengan Osaka Castle.

Perjalananpun di mulai.

Saya memandang ke kiri dan ke kanan sungai. Banyak gedung gedung dan bangunan lain. Juga bunga bunga yang cantik.

Sungai di sini sangat bersih. tak ada satupun sampah mengambang. Kesadaran warga akan kebersihan sangatlah tinggi. Tak ada satu orangpun yang membuang sampah sembarangan.

Sesekali burung air bermain di tepian sungai.

Apa yang menarik dari perjalanan ini?. Selain pemandangan yang indah, saya memperhatikan jika pemerintahan di Osaka ini sungguh sangat efisien dalam soal tata ruang. Contohnya, memanfaatkan sungai untuk jalur wisata / transportasi sungai, dan diatasnya sekalian ditumpangi dengan jalan raya dan atau rel kereta. Sehingga sarana transportasi tidak banyak memakan space.

Hal bagus lainnya adalah adanya pintu pintu sungai.

Saat menyusuri sungai ini, perahu tiba tiba berhenti. Oooh… mengapa?. Rupanya ada sebuah rintangan di depan. Mirip tembok atau bangunan memanjang yang menutup sungai. Terpaksa kami parkir dulu beberapa menit, menunggj pintu air itu dibuka pelan-pelan. Barulah kapal yang kami tumpangi bisa lewat. Setelah kami lewat, pintu air itu menutup kembali.

Sebenarnya saya tidak tahu persis apa gunanya pintu air ini. Saya pikir mungkin ada hubungannya dengan pengaturan volume air. Tapi apapun itu, saya rasa bagus juga untuk membantu operasi pengawasan lalu lintas sungai. Misalnya nih, jika ada seorang penjahat kabur lewat sungai, maka pintu air ini bisa dimanfaatkan untuk nencegat perjalanan si penjahat (he he…ini mungkin efek kebanyakan menghayal 😀😀😀).

Kami terus berperahu hingga sampai di dermaga yang tak jauh dari stasiun Osaka-jokoen dekat Osaka Castle.

Hokoku Shrine di Osaka.

Standard

Di seberang pintu gerbang Osaka Castle, terdapat sebuah Shrine yang menarik hati saya. Kelihatan sangat simple dan elegan. Rasanya mengundang saya untuk masuk.

Di tengah halaman terdapat patung seorang samurai dengan pedangnya. Rupanya itu adalah Toyotomi Hideyoshi.

Jadi Shrine atau tempat suci ini memang didedikasikan husus untuk Toyotomi Hideyoshi.

Ragam Bunga Pecah Seribu di Negeri Sakura.

Standard

Jepang, sangat terkenal dengan bunga Sakuranya. Saat musim bunga, berbondong- bondong tourist datang untuk menyaksikan keindahannya. Saat saya berkunjung, Sakura telah berhenti berbunga. Bunganya telah gugur dan sebagian menjadi buah cherry kecil kecil. Pertanyaannya, jika bunga Sakura telah gugur apakah tak ada bunga lain yang menarik lagi di Jepang?.

Jawabannya tentu banyak. Setidaknya ada 2 jenis bunga lagi yang sangat dominant di lanskap taman-taman di Jepang, yakni Azalea dan Hydrangea alias Bunga Pecah Seribu.

Di Indonesia kita bisa menemukan Kembang Pecah Seribu ini di berbagai area berudara dingin, seperti misalnya Malang, Puncak, Bedugul, Dieng dan sebagainya. Jenis yang umum di Indonesia adalah yang berwarna biru (paling banyak) , warna pink (jarang).

Nah, saat bermain ke Jepang, saya menemukan banyak sekali jenis jenis Bunga Pecah Seribu. Warnanya memang seputaran biru, pink dan putih, tetapi variantnya ternyata banyak sekali.

Ini adalah sebagian variant bunga Pecah Seribu dalam berbagai warna biru. Semuanya dalam gradasi warna biru. Tapi ada yang biru keputihan, biru kehijauan, ada yang biru keunguan, ada yang biru murni. Lalu ada yang binganya bergerombol, ada yang menyendiri, dan bahkan ada juga yang mempunyai putik dan benang sari terpisah. Orang Jepang mrnyebutnya dengan Hidrangea Pegunungan. Sungguh sangat cantik-cantik.

Ada juga yang berwarna pink. Dan berbagai varisnt warna pink. Sungguh cantik cantik. Pengen rasanya bawa ke Indonesia.

Dan yang baru saya lihat adalah variant yang berwarna putih. Inipun beragam juga. Ada yang benang sarinya benar benar putih, ada yang biru dan ada juga yang campuran.

Kisah Kekuasaan Dan Perang di Osaka Castle.

Standard
Kisah Kekuasaan Dan Perang di Osaka Castle.

Seringkali saat membuka sosial media, kita disuguhin iklan travel agent “Terbang murah ke Osaka “, lengkap dengan gambar sebuah kastil berwarna hijau, yang terlihat sangat artistik dan ikonik. Nah kastil digambar itulah yang bernama Osaka Castle yang terkenal itu.

Karena Osaka Castle ini merupakan ikonnya kota Osaka, rasanya saya sangat rugi jika tidak mengunjunginya saat berada di kota ini. Jadi pagi pagi dan dengan semangat tinggi kami pun berangkat ke sana dengan menggunakan train ke stasiun Tanimachi Yonchome dan berjalan kaki ke Osaka Castle yang tidak terlalu jauh dari sana.

Saat kami tiba, matahari masih belum terlalu tinggi dan tidak terlalu menyengat. Kami masuk dengan mudah karena menggunakan kartu pass paket yang dibelikan keponakan saya sehari sebelumnya.

Osaka Castle tampak megah menjulang dengan kombinasi warna putih dan genteng hijau , dengan ornamen warna emas di sana sini. Di lantai atas terlihat gambar macan emas dengan latar belakang warna hitam yang menjadi ciri khas istana ini.

Setelah mengantri sejenak, saya memutuskan untuk menaiki tangga secara manual daripada menggunakan eskalator. Bukan karena sok kuat menaiki tangga istana yang tinggi ini, tetapi saya ingin menikmati apa yang disuguhkan di setiap lantai istana ini. Walaupun tidak semuanya bisa saya ambil fotonya karena di beberapa tempat ada larangan menggunakan kamera.

Osaka Castle dibangun pada tahun 1583 oleh Toyotomi Hideyoshi, seorang Damyo yang sangat mashyur pada jamannya. Istana terditi dari sebuah bangun bertingkat yang berdiri di atas pondasi batu, dikelilingi oleh parit penuh air untuk menghalangi musuh agar tidak mudah menyerang.

Menutut catatan, istana ini pernah hancur saat diserang oleh Tokugawa Ieyasu pada tahun 1615 yang sekaligus mengakhiri kekuasaan garis keturunan Toyotomi di Jepang. Dan digantikan oleh Trah Tokugawa.

Namun 5 tahunnya kemudian (1620), putra Tokugawa Ieyasu yang bernama Tokugawa Hidetada memperbaiki kembali istana ini, namun sayangnya, menara istananya tersambar petir pada tahun 1665. Dan tampilan istana seperti yang bisa kita lihat hari ini sesungguhnya adalah hasil renovasi pada tahun 1997, di mana istana ini sekarang sudah dilengkapi dengan eskalator dan dijadikan museum yang dibuka untuk publik.

Saya yang memilih untuk naik ke atas lewat tangga biasa menemukan berbagai hal menarik mulai dari lantai dasar.

1/. Lantai Dasar.

Di sini saya melihat ada information center dan toko cinderamata.

2/. Lantai Dua .

Berisi fakta-fakta dan figur tentang Osaka Castle.

Begitu tiba di lantai dua, kami disuguhi pemandangan seekor Macan emas (Fusetora) dan seekor ikan lumba lumba emas legendaris ( Shachi). Dua mahluk ini kelihatannya penting artinya vagi istana Osaka, sebab digunakan juga sebagai hiasan di atap dan dinding atas istana dan bisa dilihat dari luar istana.

Dilantai ini juga dijelaskan tentang sejarah Osaka Castle.

3/. Lantai Tiga.

Ini adalah lantai yang dimana penggunaan kamera dilarang. Isinya adalah pameran benda benda peninggalan kerajaan dan peralatan perang. Jenis jenis anak panah, pedang samurai, tempat anak panah, penutup kepala kuda dan sebagainya.

Ada juga model dari Osaka Castle.

4/. Lantai Empat.

Sama halnya dengan lantai 3, di lantai 4 ini pun kami dilarang memotret. Berisi tentang Hideyoshi Toyotomi pada jamannya. Ada artifak artifak yang dipamerkan. Ada pakaian perang yang saya rasa sangat berat jika dipakai.

Lalu informasi tentang Osaka Castle Hystory – saat direkonstruksi oleh Shogun Tokugawa.

5/. Lantai Lima.

Di lantai ini saya menemukan kisah kekuasaan trah Toyotomi sejak Osaka Castle ini berdiri, hingga trah Tokugawa yang berkuasa silih berganti hingga lebih dari 200 tahun. Panjang juga ya.

Disini dipertontonkan ” The Summer War in Osaka” lewat panorama vision. Menceritakan peperangan sengit antara pasukan Yukimura Sanada dan Tadanao Matsudaira. Nah… siapa pula ini?.

Lalu ada juga diagram bendera bendera pasukan mana berperang dengan mana. Tambah bingung saya ha ha.

Saya yang sesungguhnya tidak menyukai perang dan sangat tidak tertarik akan perang, sungguh sangat sulit untuk mencerna kisah pilu ini. Jadi saya lewati saja, walau hati saya kepalang teriris memikirkan pedihnya perang.

6/. Lantai Enam.

Tidak terbuka untuk umum.

7/. Lantai Tujuh.

Isinya diorama tentang kehidupan Hideyoshi Toyotomi yang membangun Osaka Castle dan berhasil menyatukan bangsa Jepang.

Lalu ada Osaka Castle History saat periode Ishiyama Honganji.

8/. Lantai Delapan.

Ini adalah Observation Deck. Dari ketinggian lantai 8 istana ini (kurang lebih 50 meter di atas tanah), kita bisa melihat pemandangan luar istana Osaka beserta pait paritnya. Dan juga di kejauhan keseluruhan kota Osaka yang indah.

Naik ke lantai ini ternyata lumayan gempor juga. Tapi senang juga karena melihat ada banyak cerita sejarah yang bisa saya cerna dari istana ini.

Dotonburi di Malam Hari.

Standard

Sepulang dari Nara, kami memutuskan mencari makan malam di Dotonburi. Sebuah area yang sangat gemerlap dengan lampu lampu neon warna warni yang sangat ramai dikunjungi tourist.

Di tempat ini sangat banyak tersedia restaurant ataupun tempat rempat jajan yang enak enak dengan harga yang juga terjangkau. Setelah malam itu, kami juga datang ke Dotonburi beberapa kali lagi saat kami tinggal di Osaka.

Malam itu keponakan saya mengajak makan sushi. Tetapi sebelum ke tempat Sushi kami mampir dulu di toko yang menjual Takoyaki. Astaga !!!. Ramainya minta ampun. Orang orang berjubel mengantri makanan yang terbuat dari daging gurita itu.

Ditambah lagi dengan tumpukan orang yang mengantri naik kapal, jalanan di tepi sungai itu semakin sulit dilewati.

Untungnya anak dan keponakan saya memang sangat doyan Takoyaki, sehingga cukup bergunalah kami mengantri lama di situ.

Setelah puas mencicipi Takoyaki, kami lalu berjalan jalan di sepanjang Dotonburi, naik jembatan dan melihat seorang seniman yang bermain musik dengan menggunakan sepedanya. Sungguh kreatif. Ada ada saja idenya.

Puas berjalan jalan, kami pun mengantri makan malam di tempat orang jual Sushi. Aduuuh… antriannya panjang banget. Mana gerimis turun pula. Tapi sushinya enak dan memang agak murah harganya.

Di lain hari kami ke Dotonburi juga untuk ikut River Cruise. Pengen nikmati wisata sungai saja. Dotonburi cruise ini muter mulai dari Nippon-bashi hingga Ebisubashi. Senang juga menikmati pemandangan lampu lampu gedung dan toko serta restaurant di pinggir sungai yang menyala berwarna warni indah.

Kebetulan banget pas kami ikut River Cruise itu, kami bertemu dengan orang Indonesia yang bernama Maya asli berasal dari Bogor yang bekerja menjadi leader di kapal Cruise. Senangnya bukan main. Mbak Maya ini rupanya kuliah juga sambil kerja di kota ini. Waah….salut saya sama Mbak Maya ini. Semoga sukses selalu ya Mbak.

Sehari di Kota Nara, Bisa Lihat Apa Saja?

Standard

Kota Nara, terkenal sebagai kota tua dengan banyak sekali memiliki peninggalan sejarah peradaban Jepang, terutama kuil-kuil Budhist.

Saking banyaknya tempat tempat menarik yang bisa dikunjungi di Nara, sesungguhnya kunjungan sehari ke kota ini tidaklah cukup untuk melihat semuanya. Jadi kita harus memilih yang mana yang memungkinkan kita kunjungi dalam sehari.

Kami memilih Nara Park dan area sekitarnya (area yang berwana hijau di peta di atas) untuk kami kunjungi dalam sehari. Karena menurut Nara Sightseeing Map yang saya dapatkan Kintetsu – Nara Station Tourist Information Center, ada cukup banyak tempat menarik dengan lokasi yang berdekatan di tempat itu.

Kami berangkat dari Osaka sekitar jam 9 pagi dan tiba di Kintetsu Station di Nara setengah jamnya kemudian. Lalu apa saja yang bisa kami lihat dalam sehari di Nara?:

1/. Kofukuji Temple.

Kofukuji Temple adalah sebuah kompleks Kuil Budha yang luas yang terdiri atas beberapa bangunan antara lain sebuah Pagoda bertumpang lima yang merupakan simbol dari kota Nara. Dibangun di abad ke 7. walaupun pernah direkonstruksi beberapa kali misalnya pada tahun 1426.

2/. Taman Rusa.

Ada beberapa tempat di Nara Park ini yang dipenuhi dengan rusa. Mulai dari sekitar Kofukuji Temple , tak jauh dari Nara National Museum hingga sekitar Todaiji Temple.

3/. Yoshikien Garden.

Taman cantik yang dulunya merupakan cabang dari Kofukuji Temple ini menyajikan pemandangan taman khas jepang dengan memasukkan unsur kolam, bunga Azalea, Pinus Jepang , kerikil dan lumut.

4/. Todaiji Temple.

Ini adalah kuil yang samgat terkenal di mana ditempatkan sebuah patung Budha Vairocana yang sangat besar yang dikenal dengan Daibutsu (Great Budha).

5/. Nandaimon.

Nandaimon adalah Gerbang Selatan dari Todaiji Hall yang ukurannya sangat luar biasa. Dan merupakan gerbang terbesar yang ada di Jepang.

Sebenarnya masih banyak sekali yang belum sempat kami kunjungi di Nara, seperti misalnya Kasuga Taisha Shrine yang lokasinya sebenarnya masih di sekitar Nara Park juga, tapi karena keburu sore ksmi tak sempat mampir.

Lalu ada Isuien Garden, Heijo Palace, The Garden of Kasuga, Taisha Shrine, Nara City Museum of Art, Toshodaiji Temple, Yakushiji Temple, Naramachi Traditional Townhouse, Gongoji Temple, Nara National Museum, Narakogei-kan Craft Museum. Sugioka Kason Calligraphy Museum, Naramachi Toy Museum, dan sebagainya masih banyak lagi.

Kelihatannya perlu tinggal beberapa hari agar bisa melihat berbagai tempat menarik di kota tua ini.

Nandaimon.

Standard

Bangunan yang menarik hati saya saat mengunjungi Todai-ji Temple di Nara adalah sebuah pintu gerbang raksasa yang disebut dengan Nandaimon. Jika diterjemahkan artinya adalah Gerbang Besar Selatan (Great South Gate). Disebut begitu karena pintu gerbang yang besar ini memang merupakan pintu gerbang selatan dari Todaiji temple. Dan saya mendapat informasi bahwa Nandaimon ini adalah pintu gerbang yang terbesar yang ada di Jepang.

Terbuat dari kayu yang sangat kokoh, gerbang ini memiliki 3 pintu yang sama ukurannya.

Di bagian kiri kanan pintu ini ditempatkan 2 patung raksasa dari dewa pelindung yang disebut Kongorikishi.

Walaupun umurnya sangat tua, gerbang kayu tua ini terlihat sangat antik dan tetap gagah.

Mengunjungi Todai-ji Temple di Nara.

Standard

Selepas menikmati keindahan taman di Yoshikien Garden, kami melangkah keluar menyusuri jalan di perumahan di kota Nara untuk menuju ke Todaiji Temple.

Menurut peta, harusnya letaknya tidak terlalu jauh dari Yoshikien Garden ini. Jadi kami yakin bisa ke sana tanpa tersesat.

Setelah berjalan kira kira 15 menit, sampailah kami di gerbang kuil Todaiji ini. Sempat melihat-lihat dari luar. Keponakan saya ragu apa kita perlu masuk atau tidak. Setelah dicheck ternyata ticketnya tak seberapa mahal. 500 yen per orang jika hanya ingin mengunjungi Templenya saja. Atau 800 yen jika ingin mengunjungi Temple + Museum.

Karena sudah agak sore, kami memutuskan untuk berkunjung ke templenya saja.

Saya berjalan ke arah Budha Hall, mampir ke tempat air untuk membersihkan tangan dan wajah saya, lalu ke tempat pedupaan dan menyalakan dupa sebentar sebelum memasuki ruangan.

Templenya sendiri berupa satu ruangan yang sangat besar di mana sebuah patung Budha Vairocana ditempatkan di sana. Sehingga ruangan itu sering juga disebut dengan Budha Hall atau Daibutsuden.

Patung Budha ini sungguh sangat besar. Berdasarkan informasi beratnya 550 ton. Tingginya ada sekitar 15 meter. Di sekeliling belakang kepalanya terdapat lingkaran cahaya emas.

Ditempatkan di atas kelopak bunga Padma (lotus)

Saya menyempatkan diri untuk merenung dan berdoa sejenak di tempat itu.

Selain patung Budha yang sangat besar ini, di kiri kanan Budha juga ditempatkan 2 buah patung Dewa, yakni Kokuzo Bosatsu (Dewa Ruang).

Dan satunya lagi adalah Nyoirin Kannon ( Dewa Keberuntungan).

Jika kita berjalan mengelilingi aula, di bagian samping agak pojok belakang, kita juga menemukan 2 buah patung raksasa yang merupakan dewa dewa penjaga.

Dewa dewa ini diyakini menjaga Budha dari hal hal yang buruk.

Mereka adalah Koumokutan ( Dewa Barat).

Dan Tenmontan ( Dewa Utara). Patung dewa dewa ini terbuat dari kayu balok yang diukir dengan sangat indahnya.

O ya, hampir lupa bercerita, di dekat patung Dewa Tenmontan ini terdapat sebuah pilar denganlubang di tengahnya. Kelihatannya sangat sempit, tetapi saya lihat ternyata ada beberapa orang yang bisa lolos masuk ke dalamnya. Baik anak kecil maupun orang dewasa.

Yoshikien Garden di Nara.

Standard

Ada banyak sekali Garden di Nara. Yoshikien Garden adalah salah satu yang sempat saya kunjungi. Garden ini sangat indah, terdiri dari 3 bagian, yakni taman yang ada kolamnya, bangunan tempat minum teh dan taman lumut.

Awalnya saya pikir kami akan membayar jika masuk ke garden ini. karena itu yang saya tangkap di plang depan taman ini. Kami juga diminta untuk menunjukkan passpor kami kepada petugas. Tetapi entah kenapa, mereka tidak memungut bayaran dari kami.

Ooh…tentu saja kami sangat berterimakasih kepada petugas itu. Kamipun masuk ke dalamnya melalui sebuah tangga kecil.

Begitu masuk terlihat pemandangan menakjubkan dari sebuah kolam yang posisinya agak dibawah.

Dikelilingi oleh bunga bunga Azalea yang cantik dan pohon pinus jepang yang bentuknya sangat artistik. Seorang petugas gardening kelihatan sedang memangkas tanaman dan merapikan taman.

Saya sungguh merasa takjub dengan pohon pinus di situ. Mirip bonsai yang dibentuk tangan manusia, tetapi dalam ukuran besar.

Hujan turun gerimis. Saya berteduh sebentar di emperan bangunan sambil melongokkan kepala melihat melalui jendela kaca.

Selembar kertas tertempel di situ. Rupanya jendela kaca bangunan itu terbuat secara traditional dari hadmade glass. Bukan kaca pabrikan. Waaah!!!. Luarbiasa ya.

Di pojok taman ada sebuah parit yang cukup dalam dan di seberangnya tampak sebuah pagoda bertumpang 13 yang menurut saya sangat mirip dengan meru. Keseluruhan landscape taman itu tampak sangat cantik dan menarik.

Setelah reda, saya berjalan menyusuri jembatan kecil dan jalan setapak yang menanjak.

Ada sebuah bangunan kecil di atas sana. Kelihatannya tempat orang minum teh. Jika kita memandang tepat ke pintunya, di seberang sana tampak sebuah taman lain yang indah. Sayang pengunjung tidak diperkenankan masuk ke sana.

Didepannya ada sebuah tempat air. Mungkin sebelum masuk ke ruangan suci itu, tamu diharapkan mencuci tangan atau kaki di sana.

Saya mengambil jalan memutar untuk sampai ke taman di seberang sana. Tempat yang sangat indah. sejuk. dan terasa sangat tenang dan damai.

Sebagai catatan, sesuai dengan yang tertera di pintu gerbang, di taman Yoshikien ini rupanya pada suatu masa adalah lokasi dari cabang Kofukuji Temple yang disebut dengan “Manishuin”. Ini menurut mereka berdasarkan foto lama dari Kofukuji Temple. Namun ketika Jepang memasuki periode Meiji (1868 – 1912), tempat ini dimiliki oleh perorangan. Setelah konstruksi dari bangunan dan taman tang sekarang pada tahun 1919, tempat ini kemudia sering dimanfaatkan untuk menerima tamu tamu VIP dari perusahaan swasta. Pada tahun 1980, Nara Perfecture mengambil alih tempat ini dan dibuka untuk publik.

Sebagai informasi, taman ini terbuka untuk umum dari jam 9 pagi hingga jam 17.00. Pintu masul terbuka hingga pukul 16. 30. Jadi kalau teman teman pembaca ada yang ingin berkunjung ke sini, jangan terlalu sore.