Category Archives: Liburan

Games Dalam Adat Pernikahan Punjabi.

Standard

Tinggal sebentar dengan keluarga Karan dan melihat keseluruhan upacara pernikahan adat Punjabi, saya merasa bahwa orang-orang Punjabi secara umum adalah orang-orang yang bahagia dan gembira. Seluruh rangkaian upacara diisi dengan kegembiraan. Banyak dancing dan games.

Salah satu acara gembira penuh gelak tawa yang saya lihat adalah Games yang diselenggarakan esok harinya setelah upacara di temple. Keluarga mengadakan acara “permainan” bagi suami -istri yang sarat dengan makna dan kegembiraan.

Keluarga besar, orang tua, om, tante, sepupu, ipar, keponakan semua berkumpul di ruang tengah. Permainan dipimpin oleh tetua keluarga dan diikuti oleh mempelai.

Ada 3 jenis permainan yang saya lihat.

Mengurai Ikatan Gelang Benang.

Permainan pertama adalah saling membuka gelang benang di tangan masing-masing mempelai. Kelihatannya sederhana, tetapi sesungguhnya tidak semudah yang terlihat. Perlu kesabaran dan ketekunan untuk mengurai ikatan benang yang kuat dan rumit itu.

Permainan ini mengandung pesan bahwa apapun permasalahan yang dihadapi dalan rumah tangga hendaknya diuraikan dengan baik . Bagus juga ya.

Mencari Cincin Di Air Susu.

Permainan yang ke dua adalah lomba mencari cincin dalam keruhnya air susu. Tetua keluarga mengisi baskom logam dengan bunga bunga dan air lalu menambahkan susu ke dalamnya. Sehingga air menjadi keruh dan sukar untuk melihat ada apa di dasar baskom itu.

Cincin dan saya pikir beberapa uang logam juga dimasukkan ke dalam baskom lalu ke dua mempelai diajak berlomba cepat-cepatan menemukan cincin yang dimaksud.

Kantung Uang

Permainan yang ke tiga adalah permainan mengambil uang. Di permainan ini, ayah Karan yang memimpin. Sekantung uang diletakan di hadapan mempelai sebagai simbol dari hasil usaha suami.

Mempelai wanita diminta untuk merogoh kantung uang dan mengambil sebanyak yang bisa digenggam tangannya. Lalu uang itu diberikan keseluruhannya kepada mempelai wanita. Ini adalah simbol bahwa pria bekerja untuk menafkahi istrinya dan istri berkewajiban mengelola dengan baik setiap rejeki yang diberikan suaminya

Uang dibagi menjadi 4 bagian. Seperempatnya diberikan kepada keluarga yang lebih muda sebagai simbol perhatian dan support.

Saya rasa mungkin sebenarnya ada lebih banyak lagi jenis games pernikahan yang lain, tetapi 3 jenis games ini sungguh sangat seru dan menghibur.

Advertisements

Bertemu Sang Penulis: Satria Mahardika.

Standard

Di hari ketibaan saya di Bali liburan kemarin, sahabat saya mengabarkan bahwa ada kemungkinan sastrawan Umbu Landu Paranggi akan ada di Puri Kilian, Bangli besok. Dan menyarankan saya juga datang ke Puri Kilian agar bisa bertemu, mengingat beberapa minggu sebelumnya Umbu ada menanyakan kabar saya. Saat itu saya sedang berada di Singapore dan untungnya dengan bantuan skype, saya dan Umbu sempat ngobrol juga. Nah sekarang, menurut sahabat saya, ada kesempatan bagi saya untuk benar-benar bisa bertemu langsung dengan beliau lagi di Puri Kilian. Tentu dengan senang hati saya akan datang.

Lalu teman saya juga mengabarkan bahwa jika mau, hari ini saya juga bisa bertemu dengan Satria Mahardika , sang penulis buku Merdeka Seratus Persen-Kapten TNI AAG Anom Muditha yang bukunya saya simak dan tulis di sini https://nimadesriandani.wordpress.com/2018/01/04/menyimak-buku-merdeka-100/

karena hari ini pun beliau ada di Puri Kilian. Wah…sungguh kabar yang baik. Saya mau ke Kilian sekarang kalau begitu. Selain tentunya karena saya juga sudah kangen dengan sahabat saya dan keluarga Puri Kilian.

Dengan senang hati sayapun ke Kilian membawa anak-anak dan keponakan. Sesampai di Kilian, saya disambut oleh Agung Karmadanarta, sahabat yang bagi saya sudah serupa dengan saudara sendiri. Agung Karmadanarta adalah salah seorang keponakan dari pahlawan AAG Anom Muditha. Sahabat saya ini adalah seorang pemusik yang pastinya sebuah kebetulan banget bagi anak-anak saya yang juga lagi getol banget belajar musik. Jadilah kesempatan ini digunakan oleh anak saya buat berguru. Mereka pun bermain gitar dan keyboard bergantian. Bahagia melihatnya.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kurus dengan rambut panjang yang digelung ke atas datang. Duduk dan menyalami saya. Ooh…rupanya beliau inilah sang penulis buku Merdeka Seratus Persen. Kami berbincang sesaat. Berkenalan dan menceritakan sedikit tentang diri kami. Penulis Satria Mahardika alias Saiful Anam ini adalah kelahiran Kroya ( Cilacap). Lalu ngobrol tentang buku. Rupanya buku Merdeka Seratus Persen adalah buku ketiga yang ditulis oleh Satria. Buku pertamanya adalah kumpulan puisi yang cukup tebal berjudul Suluk Mahardika. Wah… produjtif juga ya. Agak sulit untuk mengobrol panjang karenasambil ngobrol kami juga mendengarkan permainan musik Gung Karma dan anak saya. Sayang jika dilewatkan. Tiba tiba Satria Mahardika melemparkan ide. Bagaimana jika kita mengkolaborasikan puisi dengan musik?. Whua…. ide yang sangat bagus!. Satria Mahardika meminta saya membuka “any” halaman di buku Suluk Mahardika itu dan membacakan apapun puisi yang terpampang di halaman yang saya buka.

Sayapun membuka acak halaman buku yang tertutup itu dan mata saya tertumbuk pada puisi ” Satria Mahardika”. Saat itu saya belum ngeh kalau nama Sang Penulis adalah Satria Mahardika. Jadi sayapun membaca puisi itu tanpa ada link di pikiran saya kepada nama Sang Penulis. Belakangan; setelah pulang dari Puri Kilian saya baru terpikir akan hal itu πŸ˜€.

Membacakan puisi dadakan dan berkolaborasi dengan pemusik seperti itu rasanya beda banget. Semua terasa indah. Katrena sekarang, keindahan menjadi terasa berlipat ganda menembus dimensi lain dari panca indera kita.

Setelah itu giliran Satria Mahardika membacakan puisinya yang berjudul Aira. Tentu beda lah ya, jika sang penulis yang sekaligus membacakan sendiri karyanya. Bagai menyusur sebuah fragment perjalanan yang ia hapal betul kontur jalannya. Ia tahu di mana dan kapan harus menurun dan mendaki. Di mana harus berhenti sejenak untuk menarik nafas dan melihat view di sekitarnya untuk menikmati keseluruhan perjalanan dengan holistic. Tepuk tangan untuk Satria Mahardika. Keren ya!.

Di sini saya berhenti sejenak. Memandang anak anak dan para sahabat yang sedang menikmati keindahan yang sedang bergaung dalam jiwanya. Sebagaimana seorang mathematician menghayati keindahan angka-angka dan sang pelukis menghayati bias warna warna, demikianlah sang pemusik menghayati setiap tangga nada dan sang penyair menghayati keindahan setiap kata. Setiap element di alam semesta ini memiliki keindahan tersendiri bagi setiap orang yang mau dan berhasil menangkap esensinya dan menghayatinya.

Ah!. Bali memang tempat di mana seni tak pernah ada matinya. Terimakasih Satria Mahardika, Agung Karmadanarta, Agung Kartika Dewi, Agung Chocho dan anak anak keponakan yang mewujudkan keindahan kolaborasi ini. Liburan mendatang kita bertemu lagi yah..

Berkunjung Ke Tugu Pahlawan Penglipuran.

Standard

Di ujung selatan desa adat Penglipuran, terdapat sebuah candi yang merupakan Tugu peringatan terhadap jasa pahlawan pejuang kemerdekaan yang dipimpin oleh Kapten TNI Anak Agung Gede Anom Muditha.

Walau gerimis turun dan saya tak membawa payung, saya menyempatkan diri berkunjung ke sana.

Saya merasa kunjungan saya ke sana kali ini penting, karena sebagai orang yang lahir dan besar di Bangli, tak banyak yang saya ingat tentang taman makam pahlawan ini. Walaupun dulu sering juga diajak oleh bapak/ ibu guru maupun kakak pembina pramuka ke sini. Jadi saya ingin merefresh kembali ingatan saya tentang tempat ini.

Selain itu, saya baru saja menerima kiriman buku tentang pahlawan Kapten TNI AAG Anom Muditha ini dari Anak Agung Made Karmadanarta, seorang sahabat saya yang merupakan keponakan dari sang pahlawan. Judulnya “Merdeka 100%” yang ditulis oleh Satria Mahardika. Terus terang karena kesibukan, saya belum sempat membacanya. Namun entah kenapa, hati saya terasa terpanggil untuk terlebih dahulu datang sendiri ke Tugu itu guna memberi penghormatan saya secara langsung kepada beliau. Setelah itu, saya akan membaca buku itu hingga selesai.

Demikianlah dalam gerimis saya berjalan ke sana. Segalanya masih tampak sama dengan ketika saya masih kecil. Saya masuk dari pintu gerbang di arah Selatan. Taman dengan tanah lapang dan Bale besar di sisi barat lapangan.

Di hulu lapangan terdapat candi bentar yang kecil, gerbang masuk ke dalam Tugu.

Di sebelahnya terdapat bangunan kecil di mana patung dada Kapten TNI AAG Anom Muditha ditempatkan. Baru kali ini saya memandang wajah beliau. Sangat gagah dan tenang.

Lalu saya menyusuri jalan setapak menuju pohon besar di sebelahnya. Di bawah tempat itu terdapat sebuah batu yang menurut catatan sejarah nerupakan tempat dimana darah sang pahlawan tumpah membasahi pertiwi dalam upayanya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan NICA yang ingin kembali menguasai Indonesia. Beliau tercatat gugur pada tanggal 20 November 1947.

Saya terdiam sebentar di sana. Mencoba membayangkan apa yang terjadi. Rasanya sangat teriris jika memikirkan betapa besarnya pengorbanan para pahlawan ini demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara generasi berikutnya yang tak ikut berjuang sibuk memperebutkan kekuasaan dan kepentingan politik, pribadi dan golongannya, dengan mudahnya memecah belah masyarakat.

Merasa paling berpengaruh, paling berkuasa dan paling berhak menentukan nasib negeri ini. Sementara yang lain dianggap minoritas dan nge-kost. Tak terasa air mata saya mengambang.

Entah sebuah bentuk pengaduan ataukah jeritan keperihan hati melihat kondisi negeri saat ini yang carut marut diterpa isu politik dan agama yang berpotensi memecah belah bangsa. Saya yakin, bukan kondisi berkebangsaan yang intolerant seperti sekarang inilah yang dicita-citakan oleh para pahlawan kita dulu.

Saya memandang tugu tugu kecil para pahlawan yang berjajar rapi di sebelahnya. Hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keselamatan bangsa.

Gerimis turun semakin deras. Sayapun bergegas pamit.

Liburan Di Bali: Penglipuran.

Standard
Liburan Di Bali: Penglipuran.

Jalan-jalan lagi. Mumpung masih libur. Kemana lagi? ” Ke mana saja, yang penting jalan” kata anak saya. O ya, kita ke Penglipuran saja ya. Selain tempatnya sangat dekat dari rumah (paling 10 menit), juga saya dikasih tahu jika hari itu adalah hari terakhir “Penglipuran Village Festival 2017”. Festival yang berlangsung selama 2 minggu ini dipenuhi dengan agenda kesenian yang padat, mulai lomba tari, barong, peragaan busana dan sebagainya. Juga ada pameran kerajinan. Wah…harus kita kunjungi ini.

Baiklah, kita jalan-jalan ke Penglipuran ya. Sebelumnya saya sudah pernah mengajak anak-anak ke sini. Tapi mungkin karena waktu itu mereka masih kecil-kecil, sudah agak lupa lagi. Karenanya, kembali saya mengulang sedikit cerita tentang keistimewaan desa ini dibanding desa-desa lainnya di Bali. Desa ini masih mempertahankan tradisi aslinya dengan relatif sangat kuat, termasuk arsitektur dan penataan ruangnya yang srjalan denfan konsep Tri Hita Karana, sehingga jika kira ingin melihat potret desa-desa di Bali jaman dulu, kurang lebih mirip seperti tampilan Desa Penglipuran inilah kira-kira.

Selain itu di desa Penglipuran juga terdapat Taman Makam Pahlawan pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia hingga titik darah penghabisan.

Kami tiba di sana saat gerimis mereda. Matahari mulai menyembul malu malu. Membuat siang itu terasa cukup sejuk dan nyaman untuk jalan jalan.

Kali ini kami masuk dari bagian ujung atas desa. Baru tahu kalau di sini sekarang ada tempat parkir dan puntu masuk. Biasanya dari tengah. Lama tak pulang, jadi agak kurang update nihπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Saya membayar ticket masuk untuk 6 orang. Pengunjung sangat ramai. Kebanyakan wisatawan domestik dan berbaur dengan beberapa wisatawan asing juga. Nah kalau begini sulit percaya bahwa letusan Gunung Agung membuat jumlah kunjungan ke Bali berkurang. Wong ramenya kayak gini…

Tapi logika saya tempat-tempat wisata yang kenyataannya kebanyakan berada di luar radius 12 km dari Gunung Agung harusnya memang tidak kena pengaruh sih. Kan jauh banget jaraknya dari Gunung Agung. Pastinya aman dari dampak letusan.

Saya menunggu spot jalanan yang sedikit kurang rame agar bisa merekam kerapian dan kecantikan desa ini.

Kami menuruni jalanan yang bertingkat. Melihat lihat rumah-rumah penduduk dan jalanan yang tertata rapi dan nyaris seragam.

Bersih dan permai sekali desa ini. Bunga-bunga beraneka warna bermekaran mengundang puluhan kupu-kupu berbagai jenis berdatangan. Desa yang indah seperti dalam taman. Kedamaian yang tercermin dari kehidupan penduduknya yang memang tentram dan damai. Inilah Pedesaan Bali.

Beberapa rumah terlihat memajang barang dagangan berupa minuman khas daerah Bangli, yakni Loloh Cemcem dan Loloh Bungan Teleng serta Kue Kelepon. Kangen akan Loloh Cemcem, sayapun membeli sebotol. Kebetulan haus juga.

Dari sana kami kemudian melihat-lihat pameran. Ada banyak stand di sana menawarkan berbagai rupa barang. Mulai dari perhiasan, gelang, kalung, keben, sandal, sabun, makanan, pakaian, dan sebagainya, hingga stand merk kendaraan pun ada. Anak saya yang kebetulan suka musik tiup, melihat ada suling bambu dijajakan juga di sana dengan harga yang sangat masuk akal. “Mau beli yang ini. Karena saya belum punya yang model begini” kata anak saya sambil membayar. Iapun mencoba suling barunya dengan penuh ingin tahu.

Saya sendiri dan kakak saya tertarik untuk melihat-lihat di sebuah stand buku. Anak saya yang besar menyusul. Ada banyak buku-buku yang sulit saya temukan di toko -toko buku di Jakarta. Whuah… borong buku sajalah kalau gitu. Mumpung lagi ada di Bali. Bagi saya ini harta yang lebih berharga. Dan saya selalu berpikir tak pernah merugi jika uang habis dibelikan buku. Gara gara beli buku banyak, pak pedagang yang hatinya senang lalu memberi kami potongan harga dan mengajak selfie πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Sebenarnya saya ingin membeli keben dan antri karena melihat pedagang yang cantik sedang melayani pembeli yang lain, tapi karena kemudian anak saya yang kecil berbisik lapar, saya jadi lupa deh mampir lagi ke sana.

Seorang kawan kakak saya yang bertemu di sana, mengajak kami mencoba Be Jair Nyatnyat, masakan khas Bangli dengan ikan mujair Danau Batur. Benar. Sungguh enak masakannya. Bumbunya pas.

Mantap deh. Sayang sekali kami tak sempat menonton pertunjukan ataupun lomba yang berlangsung di sana. Mudah-mudahan tahun depan saya bisa pulang lebih lama lagi dan bisa ikut menonton Penglipuran Village Festival 2018, mengingat ini adalah ajang budaya tahunan bagi Bangli.

Terlepas dari seberapa suksesnya ajang “Penglipuran Village Festival” ini (saya tidak punya informasinya), saya pikir ini adalah salah satu bentuk event yang sangat baik untuk memasarkan pariwisata Bangli, terutamanya jika kita bisa memanfaatkan media dan digital dengan baik dan mencari cara agar para netizen ikut bergabung men”generate” content pemasaran tentang Penglipuran.

Hanya satu pertanyaan saya dalam hati, mengapa festival ini ditutup tanggal 30 December ya? Mengapa tidak tanggal 3 Januari saja misalnya? Bukankah pada tanggal tanggal setelah tgl 30 December itu kunjungan wisatawan justru meningkat karena kita tahu banyak orang datang ke Bali untuk bertahun baruan? Tanggung amat yak?. Padahal dari sudut pandang pemasaran, sisa 4-5 hari itu adalah “low hanging fruits” yang sangat mudah dipetik.

Di dalam pikiran saya nih, ada dua pilihan waktu untuk mengoptimalkan kunjungan wisatawan ke Penglipuran Village Festival.

Pilihan pertama adalah “ride on” waktu liburan yang memang biasanya dibanjiri wisatawan. Misalnya liburan sekolah, atau liburan tahun baru. Jangan ditutup sebelum tanggal 3 Januari misalnya. Sehingga kita bisa mengalihkan kunjungan wisatawan ke Penglipuran dengan lebih banyak. Karena selain wisata biasa mereka juga bisa melihat festival tahunan di Penglipuran. Ini memberi nilai kunjungan plus plus bagi wisatawan.

Pilihan kedua, adalah justru memanfaatkan “low season”, di musim dimana jumlah kunjungan biasanya menurun. Manfaatkan Festival sebagai daya tarik extra untuk membuat Desa Penglipuran “always on” dari sudut pandang wisatawan.

Atau jika dua pilihan itu tidak cocok, sekalian saja deh diselenggarakannya dalam rangka Hari Pahlawan. Kalau yang ini tentu tidak optimal dari sisi bisnis, tapi tetap baik dari sisi kebangsaan.

Ah… ini hanya pikiran saya saja yang tidak tahu persis latar belakang dan pertimbangannya. Tapi saya percaya panitia dan pemerintah desa/daerah tentu sebelumnya telah memikirkan tentang waktu pelaksanaan ini dengan baik. Dan apapun itu, pokoknya saya sudah senanglah dapat berkunjung lagi ke Penglipuran.

Love you, Penglipuran!. Semoga Bangli makin sukses dari tahun ke tahun!.

I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

Standard
I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

The Man Behind The Gun!. Tentu istilah itu tidak asing bagi kita semua. Yap!. Orang bilang, sukses tidaknya sebuah karya, tergantung dari siapa orang yang berada di baliknya. Saya setuju sekali dengan itu, karena melihat kenyataan banyak sekali usaha yang tadinya biasa biasa saja, ketika ditangani oleh orang tertentu yang memiliki kemampuan managerial sangat tinggi, maka usaha itupun menjadi maju dan sukses.

Beruntung sekali saya mendapat kesempatan bertemu dan berbincang dengan Bapak Ketut Mardjana saat beberapa hari yang lalu saya dan anak-anak bermain ke Toya Devasya, salah satu obyek pariwisata yang sedang naik daun di tepi danau Batur, di Bali. Pak Ketut adalah orang yang berada di balik kesuksesan tempat pariwisata Natural Hot Spring di tepi danau Batur ini.

Sebetulnya Toya Devasya sendiri sudah cukup lama berdiri. Kalau saya tidak salah ingat, mungkin sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Akan tetapi, perkembangan pesat baru hanya terjadi 2 tahun belakangan ini saat Pak Ketut terjun langsung menanganinya sendiri, setelah beliau pensiun.

Beliau melakukan banyak sekali perombakan, memperbaiki konsep, membangun corporate culture, mempertajam cara pemasaran, memperkuat network dan terus berinovasi untuk memastikan kesuksesan Toya Devasya. Untuk saat sekarang, menurut Pak Ketut selama weekdays saja jumlah rata-rata kunjungan per hari ke Toya Devasya mencapai sekitar 500 orang, di mana setengahnya terdiri atas wisatawan domestik dan setengahnya wisatawan asing. Jika weekend atau musim liburan, kunjungan bisa meningkat dua kali lipat dari biasanya. Selama liburan menjelang akhir tahun ini, jumlah pengunjung bahkan mencapi 1500 an orang, dan pengunjung saat weekdays berkisar 500- 700 orang per hari.

Wah… lumayan banyak juga ya. Penasaran dong saya jadinya, bagaimana cara beliau mengelola usahanya ini.

Beliau dan istri menemani saya ngobrol tentang Toya Devasya sambil makan rujak pada sebuah senja yang indah di tepi danau Batur.

Toya Devasya sebagai sebuah brand.

Bagi seorang pebisnis, brand atau merk tentu merupakan aset utama yang harus ditangani dengan hati hati – bahkan namanya pun tetap harus dipikirkan dengan baik. Toya Devasya, sebagai sebuah brand pariwisata, diciptakan Pak Ketut dengan menyerap element yang membangun tempat wisata itu sendiri yakni air (Toya).

Dulu, di tempat di mana Toya Devasya sekarang berdiri, terdapat mata air suci panas yang diyakini penduduk sekitar sebagai anugerah Tuhan (Devasya) memberikan efek penyembuhan dan pengobatan berbagai penyakit bagi orang yang percaya dan memohon kesembuhan. Jadi Toya Devasya (namanya mirip bahasa Jepang – kata teman saya lho), artinya dalam bahasa Bali / Sanskerta adalah Air Anugerah Tuhan.

Saat ini pada kenyataannya, kolam renang /swimming pool dengan air panas dari mata air alami ini adalah penyumbang terbesar pemasukan tempat wisata ini. Walaupun pengunjung banyak juga yang datang untuk menikmati fasilitas lain seperti spa, villa, restaurant, camping, hiking dan sebagainya. Menurut Pak Ketut saat ini Toya Devasya telah memiliki 6 kolam renang air panas, satu diantaranya Olympic size. Dua diantaranya berada tepat di sebelah danau. Walaupun sudah ada 6, namun pengunjung tetap ramai dan Pak Ketut berencana menambahkan 2 kolam renang baru lagi. Jadi nantinya akan ada 8 kolam renang. Sebuah strategy yang sangat briliant dengan tetap berfokus pada wisata air yang merupakan “bread & butter”nya Toya Devasya.

Gajah di Toya Devasya dan Filosofinya.

Secara berseloroh saya bertanya kepada Pak Ketut, mengapa sih ada banyak gajah di mana mana di Toya Devasya?. Gajah duduk, gajah berdiri, gajah berbaring, gajah mina, dan sebagainya. Pokoknya semuanya gajah. Apakah ada alasan khusus?.

Pak Ketut tertawa waktu saya menanyakan ini. Tentu ada alasan khususnya.

Pertama, kata Pak Ketut, gajah adalah lambang dari Ganesha, manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya membebaskan manusia dari segala aral yang melintang.

Alasan lain, gajah memiliki kebaikan-kebaikan yang patut ditiru oleh manusia. Contohnya?

Gajah memiliki telinga yang lebar, mengajarkan kita untuk selalu mendengarkan dengan baik, apa apa saja kebutuhan konsumen, apa keluhannya dan sebagainya sehingga kita bisa memberikan produk atau jasa yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Mulut gajah kecil, mengajarkan kita untuk tidak rakus. Mengambil seperlunya dan tetap menyisakan untuk yang lain. Gajah juga memiliki mata yang kecil dan tajam, mengajarkan kita untuk tetap fokus dan tidak ngawur. Gajah memiliki belalai yang panjang untuk menghirup air dan menyemprotkannya ke alam sekitar, mengajarkan manusia untuk hidup mencari rejeki bukan hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga agar berguna bagi orang orang dan masyarakat sekitar. Dan perut gendut gajah adalah lambang kesuksesan dan kebesaran, pak Ketut berharap semoga Toya Devasya bisa terus berkembang dan makin besar dari tahun ke tahun. Aiiiih… keren banget penjelasannya Pak Ketut ya.

Ungu adalah lambang spiritualitas.

Terus kalau warna ungunya ada penjelasannya juga nggak, Pak?. Ya!. Rupanya segala sesuatunya memang sudah dipikirkan oleh Pak Ketut sebelumnya. Warna ungu ternyata adalah warna spiritual. Orang Bali percaya, ungu adalah warna cakra yang terletak di ubun-ubun yang merupakan lokasi tertinggi pada tubuh manusia. Dan orang-orang yang memiliki warna aura ungu diyakini memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Jadi warna ungu dipilih oleh Pak Ketut bukan karena sebuah kebetulan.

Tempat Selfie di mana-mana.

Sebagai marketer yang peka, Pak Ketut sangat paham bahwa branding sangatlah penting. Beliau berhasil menangkap trend dan insight para netizen yang suka selfie dan mengupload foto ke media sosial. Pak Ketut memanfaatkannya untuk memperkuat branding Toya Devasya, dengan cara membangun pojok-pojok dan point point menarik untuk selfie. Dan…tentu saja super sukses!. Banyak sekali netizen yang mengupload foto selfie dengan latar belakang Toya Devasya seperti contoh foto di atas ke media sosial tanpa diminta. Jadi apa yang disebut oleh pak Ketut bahwa pasar sendirilah yang memasarkan Toya Devasya itu benar adanya. Sehingga tak heran jika sekarang Toya Devasya menjadi sangat memasyarakat. Terkenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Ah….sungguh seorang praktisi pemegang brand yang sangat handal!. Saya jadi banyak belajar ilmu memasarkan dari beliau ini.

Corporate Culture.

Sayapun larut dalam pembicaraan yang semakin menarik tentang organisasi, networking dan pemasaran hingga tentang Corporate Culture dari Toya Devasya yaitu CINTA KASIH.

Rupanya “Cinta Kasih” adalah singkatan dari 10 hal yang dijadikan budaya untuk setiap orang di Toya Devasya.

C = Customer Focus. Karyawan dituntut agar selalu focus untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Memahami kebutuhan konsumen dan berupaya keras untuk memenuhinya.

I = Integrity. Setiap karyawan dituntut untuk mendemonstrasikan integritas yang tinggi bagi diri sendiri maupun organisasi. Jujur dan komit. Mengatakan dengan jujur apa yang dilakukan atau diketahui dan berkomitment tinggi untuk melakukan apa yang telah dijanjikan akan dilakukan.

N = Networking. Pak Ketut sangat memahami betapa pentingnya networking dalam kesuksesan sebuah usaha. Untuk itu beliau sangat rajin memperluas jaringan, mebangun hubungan baik dan memanfaatkan jaringan yang ada sebagai perpanjangan tangan pemasaran.

T = Teamwork. Tan hana wong sakti sinunggal” kata Pak Ketut Mardjana. Saya terdiam sejenak. Tapi bener!. Tak ada orang yang bisa hebat sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita tak bisa bekerja sendiri. Harus saling bahu membahu dan bekerja sama untuk mencapai kesuksesan bersana.

A = Accountable. Pak Ketut juga mengharapkan agar setiap orang dalam organisasinya bisa diandalkan dan bertanggungjawab atas pekerjaannya.

K= Knowledge. Karyawan diharapkan selalu mengasah diri, meningkatkan pengetahuan dan skillsnya.

A= Adaptive. Perubahan dunia yang sangat cepat juga menuntut karyawan untuk selalu mampu beradaptasi dengan setiap perubahan.

S = Spiritual. Walaupun aktifitas nyata yang dilakukan adalah kegiatan wisata, nsmun Pak Ketut tak melupakan unsur spiritual di dalamnya. Bahkan tak segan Pak Ketut pun memugar mata air panas suci dan menyediakan tempat melukat (menyucikan diri) bagi umat yang memang mau datang ke sana untuk tujuan itu.

I = Innovative. Seperti halnya di kategori apapun, konsumen sangatlah gampang bosan dan selalu mencari sesuatu yang baru. Apalagi ya yang baru sekarang? Nah, untuk itu Pak Ketut juga memastikan Toya Devasya selalu hadir dengan sesuatu yang baru setiap saat. Mulai dari kolam renang, lalu merambah ke restaurant, terus berlanjut ke villa, jumlah kolampun nambah, lalu bikin coffee house, camping, spa dan terus dan terus. Jadi selalu saja ada yang baru di Toya Devasya sehingga konsumen tidak bosan untuk datang dan datang lagi.

H = Harmony. Pak Ketut juga memastikan bahwa semua hal yang dijalankan agar berjalan dalam keseimbangan. Baik secara internal di Toya Devasya, maupun dengan lingkungan sekitarnya.

Pembentukan corporate culture yang baik, akan membangun organisasi yang professional, cepat berkembang dan tahan banting walau dalam kondisi apapun.

Nah…lumayan banget kan. Duduk hanya sebentar di Toya Devasya, tetapi mendapat pelajaran yang sangat penting dari seorang marketer senior yang sudah proven kesuksesannya di berbagai organisasi.

Terimakasih ya Pak Ketut, atas sharingnya. Saya jadi banyak belajar nih dari Pak Ketut tentang organisasi. Semoga Toya Devasya semakin berkembang ya.

Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Standard
Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Jika pulang ke Bali, biasanya saya hanya tinggal di rumah orang tua saya saja di Bangli. Rumah masa kecil yang selalu memberi rasa nyaman. Sesekali saya juga mampir ke rumah ibu saya di Banjar Pande atau ke rumah kakek saya di tepi danau Batur, atau bertemu keluarga ataupun teman yang ngajak saya mampir ke rumahnya. Sangat jarang kami pergi ke tempat wisata. Sebagai akibat, anak-anak saya tidak begitu nyambung jika teman-temannya bercerita tentang tempat- tempat wisata di Bali. “Rumah di Bali kok nggak tahu tempat wisata di Bali?”. Ya…karena kalau di Bali biasanya cuma di rumah saja.

Liburan kali ini saya mengajak anak anak jalan-jalan. Ke mana sajalah, termasuk salah satunya ke Toya Devasya, salah satu tempat wisata air panas di tepi danau Batur di Kintamani. Natural Hotspring!.

Toya Devasya ini bisa kita tempuh kurang lebih dalam 1.5 jam dari Denpasar. Arahnya ke utara, ke Kintamani. Naik teruuus… hingga kita tiba di Penelokan, di tepi kaldera gunung raksasa purba.

Penelokan. Sesuai namanya Penelokan (asal kata dari ” delok” artinya lihat/ tengok; Penelokan = tempat melihat pemandangan), dari sini kita bisa memandang ke dalam kaldera yang di dalamnya terdapat danau Batur dan Gunung Batur yang sungguh sangat indah.

Nah dari sana itu kita menuruni jalan yang ada menuju tepi danau. Tiba di desa Kedisan, kita berbelok ke kiri. Kembali menyusuri jalan sambil melihat-lihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Di kanan adalah danau biru dan bukit bukit yang menghijau. Lalu di sebelah kiri, gunung Batur dengan landscape batu batu lahar gunung berapi. Kira kira limabelas menit perjalanan, tibalah kita di Toya Bungkah, nama tempat di mana Toya Devasya ini berlokasi.

Walaupun sudah agak sore, Toya Devasya tampak ramai. Parkiran hampir penuh dengan kendaraan tamu-tamu yang entah menginap, sekedar makan di restaurant ataupun berenang. Saya dan 5 orang anak keponakanpun masuk ke sana.

Anak-anak dan keponakan yang kecil segera berenang. Ada 6 buah kolam renang di sana. Besar dan kecil. Melihat kolam renang sebanyak itu dan semuanya ramai, saya pikir besar kemungkinan orang-orang datang ke sini memang untuk berwisata air.

Keponakan saya yang lain sibuk hunting foto dan bermain drone di dekat danau.

Saya sendiri dan anak saya yang besar, melihat-lihat pemandangan sekitar. Dari anjungan Kintamani Coffee Housenya saya bisa melihat danau luas yang menghampar berdinding bukit. Di atasnya awan awan putih menutup Gunung Agung di belakangnya. Angin danau berhembus sejuk. Sungguh tenang, damai dan permai di sini. Tempat yang nyaman untuk hanya sekedar menikmati senja, membaca buku, ngopi-ngopi hingga bermain drone.

Kompleks Toya Devasya ini kelihatannya cukup luas. Dan terakhir kali saya kesini barangkali telah lebih dari 5 tahun yang lalu. Jadi penasaran juga, ingin tahu ada fasilitas apa saja di tempat wisata yang lagi naik daun di Danau Batur ini.

Mengikuti rasa ingin tahu, saya dan anak sayapun turun dari anjungan kopi, melihat lihat berkeliling sambil nunggu anak-anak selesai berenang. Kaypooo lah dikit ya πŸ˜€

Persis di bawah anjungan, ada kolam renang yang rupanya lebih banyak diminati oleh wisatawan asing. Patung patung gajah segala rupa menghiasi areal ini termasuk kolam renangnya. Yang menarik adalah, diantara sekian kolam renang yang ada, dua diantaranya berada persis di tepi danau. Memungkinkan kita untuk menikmati pemandangan danau sambil berenang ataupun berendam di air panas.

Tak jauh dari sana saya melihat counter untuk snack dan barbeque. Wah…ini penting, karena biasanya habis berenang renang perut terasa lapar πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Tapi saya membayangkan tempat ini juga bakalan penting jika kita bikin acara bakar bakaran bersama teman teman ataupun keluarga. Misalnya pas acara malam tahun baru gitu.

Saya berjalan lagi. Rupanya bagi yang ingin menghabiskan malam di tempat indah ini, Toya Devasya juga menyediakan Villa -villa yang dilengkapi dengan private hotspring pool.

The Ayu Villa. Waduuuh… keren ya.

Saya ditawarkan untuk menginap. Dan anak-anak juga pengen banget. Tapi sayang, besok paginya kebetulan ada acara adat yang harus kami ikuti. Jadi kami tak bisa menginap. Lain kali deh. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa menginap di sana.

Disisi barat tak jauh dari kolam renang, saya melihat ruangan restaurant yang juga dilengkapi degan fasilitas untuk ruang meeting dan bahkan panggung indoor.

Selain berenang dan menginap, Toya Devasya juga dilengkapi tempat melakukan Yoga dan Spa yang berfokus pada methode Ayurveda dengan menggunakan bahan-bahan alam. Saya sempat melongokkan kepala saya ke sana. Ada beberapa kamar therapy yang kelihatannya nyaman juga.

Tempat ini rupanya luas juga. Saya melihat ada tempat khusus untuk camping dengan tenda tenda yang disediakan (lupa motret). Saya membayangkan malam tahun baru yang seru di tempat ini. Lalu ada anjungan untuk olah raga air di danau seperti kayaking ataupun tour di danau.

Ada panggung terbuka di sana, yang biasa dipakai untuk pertunjukan pada malam malam istimewa.

Nah…tibalah kami di spot foto yang paling sering saya lihat diupload oleh orang-orang di sosmed. Saya tentu tak mau ketinggalan. Lalu ikut-ikut berphoto di sana. Sebetulnya ada beberapa photo yang diambil sih. Sayangnya sudah terlalu sore dan langit mulai redup. Jadi hasil fotonya tak ada yang bagus he he πŸ˜€.

Matahari terbenam. Malampun tiba. Pak Ketut Mardjana, sang pemilik Toya Devasya beserta istri, mengajak kami makan malam bersama di anjungan Coffee Shop.

Hidangan khas Kintamani yang selalu ngangenin. Ikan Mujair Nyatnyat, Telor Goreng Crispy, Kacang Tanah Goreng, Soup Ikan Kecut… wah…mantap sekali. Makanannya sangat enak. Semua makan dengan lahap. Apalagi anak-anak yang baru habis berenang.

Malam semakin larut, kamipun pamit membawa kenangan indah akan tepi danau Batur dan Toya Devasya.

Terimaksih banyak Pak Ketut dan ibu atas keramahannya. Lain kali kami berkunjung lagi😊.

Catatan Dari Malioboro: Dika dan Gitar Tuanya.

Standard

Malam itu saya menyelusuri jalanan di Malioboro. Ikut arus orang banyak, lalu mampir di sebuah angkringan. Memesan sebungkus Nasi Sambal Teri beserta lauknya dan segelas es teh. Saya mencari tempat yang nyaman untuk ‘ndeprok’ di pinggir trotoar. Lalu mulai makan.

Sembari makan saya ngobrol dengan teman teman saya. Seorang seniman menawarkan kepada kami jasanya membuat silhouette. Lalu seorang lain juga menawarkan jasa penyewaan motor atau mobil yang barangkali kami butuh.

Kota ini memang tidak ada duanya. Kehidupan berdegup di sini dalam kebersahajaan. Penuh pengunjung tanpa harus menjunjung hedonism. Tetap bergeliat dalam kerendah-hatian. Saya sangat menyukainya.

Seorang anak kecil mendekat. Duduk berjongkok di dekat saya dan langsung bernyanyi tanpa diminta. Jemari mungilnya memetik senar gitar kecil bersnar tiga dengan penuh semangat. Suaranya seperti menguap di udara. Di tingkah suara group pengamen dewasa yang menyanyi di dekat angkringan sebelah dengan lebih keras dan lebih profesional. Saya tertawa melihat semangatnya.

Dika namanya. Ia mengaku kelas 4 SD dan setiap malam mengamen di situ hingga pukul 10 malam. Jika malam akhir pekan atau menjelang libur lainnya ia pulang pukul 12 malam. Tak ada kekhawatiran sedikitpun di wajahnya.

Menurutnya, sebagai pengamen jalanan penghasilannya tidak menentu. Tetapi paling seringnya sekitar Rp 50 000 setiap malamnya. Uangnya ia kumpulkan. Sebagian untuk jajan. Sebagian untuk membayar uang sekolah.

Dika belajar menyanyi dan bermain gitar sendiri tanpa ada yang mengajari, ceritanya sambil wajanya memandang gitar kecil itu tetapi kelihatannya matanya menerawang jauh. Seolah ada yang ia kenang. Saya pikir ia sedang mengingat seseorang atau sebuah kenangan yang cukup berarti dalam hidupnya.

Sayapun bertanya siapa pemilik gitar itu?. “Orang yang sudah meninggal”. Katanya dengan ekspressi datar. Oooh. Tentu seseorang yang berperanan penting dalam hidupnya. Saya mulai berhati-hati dengan pertanyaan saya. Takutnya menyinggung hal-hal yang sensitif bagi perasaannya yang masih muda belia. Akhirnya saya hanya menunggu ia bercerita tentang siapa pemilik gitar tua itu tanpa melontarkan pertanyaan baru.

“Mertuaku” katanya tiba-tiba . Hah???!!!. Saya kaget. Masa mertua sih? Kok kecil-kecil sudah punya mertua?. Lalu ia tertawa berderai. Merasa salah nyebut. “Eh salah!. Salah!. Maksudnya.. Mbahku. Mbahku” katanya. Sayapun ikut tertawa. Anak ini lucu sekali.

Dika bercerita bahwa pemilik gitar itu adalah Mbahnya yang sudah meninggal. Mbahnya sebetulnya ada banyak sih. Ia menyebut beberapa tempay di Yogya dan juga di Wonogiri. Tapi yang punya gitar ini adalah Mbahnya yang dulu tinggal bersamanya. Mbahnya dulu juga pengamen. Ibunya juga pengamen. Dan semua keluarganya mengamen secara turun temurun.

Saya mendengarkan dengan baik. Ia punya seorang bapak dan seorang ayah. Ooh.. saya bisa memahami maksudnya. Maksudnya adalah bahwa kedua orangtuanya bercerai, lalu masing-masing menikah lagi. Bapaknya seorang tukang becak yang juga sesekali mengamen. Dan ia ikut ibunya yang menikah lagi dengan seorang satpam. Mereka tinggal di rumah kontrakan tak jauh dari situ.

Kamipun bercakap cakap lebih jauh. Tentang sekolahnya, mata pelajarannya, hobby dan cita-citanya menjadi pemain sepakbola. Saya senang melihat cahaya matanya yang berpendar-pendar ketika ia menceritakan permainan sepakbola dengan teman-teman sepermainannya. Dan menurutnya ia adalah yang paling jago mencetak goal. Ceritanya dengan bangga. Saya jadi ikut membayangkan kebahagiaan hatinya itu. Menjadi yang terbaik di kelasnya adalah impian setiap orang.

Saya memandang ke mata kanak-kanaknya yang bening. Ia tersenyum. Lalu menari-nari kecil ketika musik dari angkringan sebelah terdengar lagi. “Kamu bisa menari ya, Dika?” Tanya saya. Ia menggeleng. “Tidak bisa!. Joget baru bisa” katanya penuh senyum. Lalu ia menggerak-gerakkan tangannya kembali mengikuti irama musik.

Lalu ia bilang ” Saya mau menyanyi lagi” katanya. Kembali memetik gitarnya dan menyanyi kencang kencang. Tanpa beban. Tanpa peduli suaranya bagus atau tidak. Ia melakukannya saja. Saya tersenyum dibuatnya. Seusai menyanyi, ia berkata bahwa kali ini ia ingin membeli layangan dari kelebihan hasil ngamennya. Ia ingin bermain. Seperti anak kecil lainnya.

Ia pun pamit sambil menggendong gitar tuanya itu.

Saya menyukai anak itu. Semangatnya yang tinggi. Ketenangannya dalam mengatasi beratnya beban kehidupan. Ia jalani kehidupan apa adanya. Tetap berusaha tanpa menyerah. Ia reguk kebahagiaan di mana ia bisa dapatkan tanpa harus menjadi larut dalam kesulitan. Seolah -olah ia berkata “Seberat apapun itu beban, jika kita tak memandangnya sebagai beban, tentu tak akan pernah terasa berat”.

Loksado Writers & Adventure 2017: Salungkui dan Tengkuluk.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Salungkui dan Tengkuluk.

Dari perjalanan ke Loksado, tentu saja saya membawa banyak kenangan dan potrat potret. Nah diantara kenangan itu, yang belakangan jadi topik hangat dan diinisiasi oleh Bu Sulis Bambang adalah “Salungkui”. 

Wanita Dayak Meratus mengenakan Salungkui untk menutup kepalanya saat pergi ke ladang.

Saya rasa diantara teman teman pembaca sebagian tentu sudah tahu, dan sebagian lagi barangkali  penasaran ya apa itu Salungkui?. Bagi yang belum tahu, bisa saya jelaskan sedikit bahwa Salungkui adalah penutup kepala terbuat dari kain yang dilipat ke belakang yang umum digunakan oleh wanita Dayak. Saya temukan umum digunakan di daerah pegunungan Meratus. Nah jika Salungkui ini digunakan untuk kaum wanita, kaum pria Dayak juga memiliki penutup kepala yang disebut dengan Laung. 

Saya mengenakan Salungkui bersama Bang Hengky yang mengenakan Laung di Balai Adat Haruyan.

Merasa diri memiliki foto sedang mengenakan Salungkui, saya upload dong ya ke time line face book saya.  Biar keren. Ada beberapa foto sih. Karena kebetulan saya sempat memakai Salungkui ini 3 x selama kunjungan saya di Loksado. Pertama, di malam acara pertemuan dengan para pemuka adat Dayak Meratus, Bapak Penghulu Adat mencotohkan bagaimana caranya memasang Salungkui. Lalu kesempatan ke dua, Ibu Penghulu Adat mengenakan Salungkui sebelum kami diijinkan memasuki balai adat Haruyan. Dan yang terakhir, kembali saya dipasangkan Salungkui oleh Ibu Penghulu Adat saat menghadiri pertemuan dengan pemda Kalimantan Selatan di Penginapan Amandit.  He he..lumayan ya. Terimakasih banget saya atas kesempatan berharga itu. 

Saya memakai Salungkui bersama Pak Adri dan Pak Handrawan memakai Laung.

Nah yang menarik adalah salah seorang teman yang melihat saya mengenakan kain penutup kepala itu  berkomentar ” De, ne mara adane nak Bali asli” katanya (terjemahannya : De, ini baru namanya orang Bali asli). Mungkin teman saya itu tidak membaca contextnya secara keseluruhan dan mengira saya sedang nenggunakan “Tengkuluk”  yaitu penutup kepala traditional yang umum dan banyak digunakan oleh perempuan Bali pada jaman dulu. Sehingga timbullah dalam pikirannya, jika saya benar benar terlihat asli seperti perempuan Bali saat mengenakan apa yang dipikirnya oleh teman saya itu sebagai sebuah ‘tengkuluk’.  Ha ha.. saya tersenyum geli membaca komentar itu. 

Mengapa saat menggunakan Salungkui tutup kepala Kalimantan Selatan ini tiba tiba ada teman yang justru melihat tampilan saya sebagai “Bali banget?”. Jawabannya adalah karena kemiripan Salungkui dengan Tengkuluk Bali.

Di Bali, Tengkuluk atau sering juga disebut dengan Tengkiluk atau Lelunakan, sangat umum dipakai. Terutama di tahun-tahun saat saya masih kecil hingga remaja. Ibu ibu menutup kepalanya dengan tengkuluk adalah pemandangan sehari hari di pasar atau di jalanan. Bahkan hingga kini barangkali masih tersisa. 

Tengkuluk digunakan wanita di Bali untuk melindungi kepala dari sinar matahari ataupun debu, kotoran dsb mengingat banyak wanita yang bekerja di sawah ataupun ladang bahkan bangunan ataupun jalanan. Saya rasa mirip juga dengan wanita Dayak Meratus yang juga banyak bekerja di ladang. Selain itu, tengkuluk juga berfungsi sebagai alas beban mengingat wanita Bali senang membawa/mengangkat benda dengan menjunjungnya di kepala. Jika kita memakai Tengkuluk, dengan sendirinya tengkuluk bisa berfungsi ganda sebagai “sunan” juga alias bantalan kepala saat menjunjung. Membawa benda di kepalapun terasa lebih nyaman. 

Wanita Bali dengan Tengkuluk Handuk di kepalanya. Photo milik Jero Gede Partha Wijaya.

Mungkin sedikit bedanya dengan di Kalimantan Selatan di mana cara memakai Salungkui lebih standard, di Bali gaya wanita nemakai Tengkuluk lebih suka suka hatinya sendiri. Ada yang menutup penuh kepalanya dengan kain, ada yang melilit rambutnya sebagian, ada yang menggulung kainnya di kepala dsb.  Tidak ada yang terlalu standard. Hanya lipat lipat kain saja di atas kepala atau membungkus kepala. Dan bahannya pun sering suka suka. Selendang, pashmina, kain traditional, bahkan handuk mandi pun boleh -boleh saja. 

Salah satu cara pemakaian Tengkuluk atau Lelunakan yang mudah dilihat adalah pada busana penari Tenun yang sering dipentaskan di panggung panggung traditional di Bali. 

Nah…kembali lagi kita  pada Sangkului, yang setahu saya cukup seragam cara pemakaiannya, berikut adalah step by step  menggunakan Salungkui sebagaimana saya diajarkan oleh Ibu Penghulu Adat Haruyan:.

1/. Siapkan kain tapih/ kain panjang. 

2/.  Buka kain panjang dengan bagian memanjang ke atas dan ke bawah. Posisikan di depan wajah kita. 

3/. Dari arah depan tutup kepala kita dengan kain panjang itu hingga kurang lebih 1/5 kain ada di bagian belakang kepala, 1/5 di bagian atas kepala dan 3/5 berada di depan wajah memanjang ke bawah. 

4/. Tarik ujung kain yang ada di bagian belakang kepala. Bawa ke depan dan lipat ke kiri dan ke kanan. Untuk memperkuat, sebenarnya saya lebih suka mengikat saja ujung ujungnya di atas dahi saya biar nggak mudah copot. Tapi Ibu Penghulu Adat tidak menyarankan. “Tidak usah. Memang sedikit longgar, tapi tidak lepas” kata beliau. Jadi saya menurut sajalah kata beliau. 

5/. Setelah ujung kain yang dibelakang sekarang terlipat kiri kanan di atas dahi, tarik sisa kain yang menggantung ke bawah di depan wajah kita dan bawa ke belakang. 

6/. Rapikan agar bentuknya bertambah cantik. 

Selesai deh. 

Yuk kita coba pakai Salungkui. Kita cintai budaya di tanah air kita!. 

Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kami diterima dengan baik oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan beserta ibu, keluarga dan warga setempat. Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu Penghulu adat dan putrinya. Ngalor ngidul tentang banyak hal, terasa sangat menyenangkan. Sementara Bapak bapak mengobrol dengan Bapak Penghulu Adat.

Berbincang dengan Bapak Penghulu Adat Haruyan.

Dari tempat kami ngobrol, saya memandang sekeliling. Senang berada di tempat ini. Pemukiman itu terdiri atas beberapa rumah di halaman yang sangat luas dengan Balai Adat Haruyan terletak di tengah tengahnya. Berupa bangunan persegi terbuat dari kayu. Berada di atas panggung dengan pintu masuk bertangga juga terbuat dari kayu. Di sekelilingnya rumah-rumah penduduk yang sebagian masih berbahan kayu dan sebagian lagi sudah menggunakan material modern. Balai adat itu kelihatan sepi karena pada saat itu sedang tidak ada upacara. 

Balai Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Menurut Ibu Penghulu Adat rata rata mereka mengadakan upacara 2x setahun. Yang pertama adalah saat  padi mulai berisi dan yang ke dua adalah saat panen terakhir tahun itu yang disebut dengan upacara Aruh Ganal. Upacara adat itu merupakan ungkapan rasa terimakasih dan rasa syukur atas keberhasilan panen padi. Hanya setelah diupacarai,  barulah padi hasil panen itu boleh dikonsumsi. 

Semua padi padi hasil panen itu disimpan di lumbung.  Bahkan padi dari hasil panen 10 tahun yang lalu pun masih ada. Luar biasa. Saya mendapat penjelasan, bahwa mereka tidak menjual padi/beras, sekalipun panen nereka melimpah dan mereka memiliki persediaan padi yang banyak. Semua hanya untuk konsumsi warga saja.  Mengapa demikian?. Karena mereka perlu memastikan tetap memuliki bahan pangan bahkan saat panen gagal. Walaupun demikian, mereka tidak keberatan untuk berbagi dengan orang luar, dan bahkan sangat senang jika ada  warga luar kampung yang ikut pesta adat nereka.  Saya kagum dengan prinsip mereka ini dalam memastikan ketahanan pangan. 

Lalu bagaimana caranya menopang keperluan hidup sehari hari jika tidak menjual padi?. Oh..rupanya penduduk masih bisa mendapatkan penghasilan dari usaha lain seperti misalnya dari kayu manis, bertanam cabe, palawija dll. Menarik sekali.

Kami diijinkan melihat ke dalam balai adat dan melihat contoh gerakan tari traditional suku Dayak yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal dilangsungkan. Namun sebelum memasuki balai adat, kami dipersyaratkan untuk memakai tutup kepala yang jika untuk pria disebut dengan Laung, sementara untuk wanita disebut dengan Salungkui. 

Bersama Ibu Penghulu Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Ibu Penghulu Adat memasangkan salungkui di kepala saya. Dibentuk dari kain/tapih yang dilipat dan ujungnya diarahkan ke belakang lalu dirapikan. Saya senang sekali. Praktis dan bentuknya menarik. Salungkui ini tentu sangat berguna untuk melindungi kepala dari panasnya sinar matahari, debu maupun kotoran lainnya.  Ini mirip juga dengan “tengkuluk” yang biasa dipakai di kampung saya. 

Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung.

Sementara saya dipasangkan Salungkui oleh Ibu Penghulu Adat, Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung pada tamu-tamu pria. Setelah itu barulah kami diajak memasuki Balai Adat. 

Balai Adat Haruyan itu ukurannya cukup luas. Saya membayangkan seluruh penghuni kampung itu barangkali bisa ditampung sekaligus jika masuk semuanya. Lantainya terbuat dari papan kayu yang kuat dengan tiang tiang penyangga yang sangat kokoh. 

Di tengah tengah bangunan terdapat tempat upacara bertiang tinggi dengan lantai yang sedikit lebih rendah di selilingnya. Tampak janur mengering sisa perayaan yang telah usai. Ini tempat suci. 

Memanjatkan doa untuk keselamatan kita semua.

Bapak Penghulu Adat dan seorang pemuka adat yang lain memanjatkan doa untuk memohon ijin serta memohonkan keselamatan bagi semua yang hadir di situ,   warga Dayak dan termasuk juga kami yang bertamu ke sana. Saya mendengarkan doa doa itu dengan khidmat dan rasa haru. Betapa jalinan rasa persaudaraan itu dengan mulus menjalar ke hati kami.  Lalu dalam hati saya ikut menyatukan doa saya bersama untuk kesejahteraan, keselamatan dan kemajuan masa depan warga Haruyan. 

Bapak Penghulu Adat menunjukkan gerakan tarian Kanjar

Setelah doa-doa selesai, Bapak Penghulu Adat bersedia menunjukkan kepada kami gerakan gerakan tarian Kanjar yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal. 

Ikut nenari Kanjar.

Para tamu priapun diajak ikut serta bakanjar. Dengan diiringi alat musik tunggal sebagai contoh, semuanya menari mengelilingi tempat upacara. Gerakannya simple dan mudah ditiru, sehingga setiap orang bisa ikut riang gembira menari Kanjar bersama sama. Sebagai refleksi hati yang penuh syukur atas anugerah panen yang luar biasa. 
Seusai para pria menarikan tarian Kanjar, Ibu Penghulu Adat mengajari saya menari Babangsai. Rupanya tari Babangsai ini adalah versi wanita dari tari Kanjar. Saya dan para wanita yang lain pun segera turun ikut menari dengan senang. Mengayunkan tangan dan mengatur gerakan kaki mengikuti ketukan musik. Menariknya, tari Babangsai ini juga ada 2 versi lagi. Yakni versi cepat dan versi lambat. Ibu Penghulu Adat menunjukkan keahliannya menari kedua duanya. Saya hanya mengikuti. 

Tak terasa matahari menanjak naik. Tiba tiba sudah tengah hari. Kami harus segera kembali ke Loksado untuk mengikuti acara berikutnya. Sayapun pamit dan kembali berada di atas motor. Menyusuri jalanan Haruyan -Malaris yang berliku, menanjak dan menukik. 

Haruyan, Loksado. Daerah ini memiliki potensi pariwisata  tinggi yang  belum tergali dengan baik. Alamnya, adat istiadatnya, budayanya, makanannya. Semuanya menarik untuk dilihat dan dikunjungi.

Berharap pemerintah segera membantu memperbaiki akses  yang ada, agar roda perekonomian berputar dengan lebih cepat. Dan tentunya akan lebih mudah lagi bagi para wisatawan untuk datang berkunjung. 

Di seberang desa Malaris, di tepi sungai Amandit saya turun. Membawa kenangan saya akan Haruyan.  Rasanya masih tertinggal hati saya di sana. Suatu saat saya ingin mendapatkan jesempatan untuk berkunjung kembali ke tempat ini. 

Yuk kita berkunjung ke Haruyan! Kita cintai tanah air kita.

Loksado Writers & Adventure 2017: Menuju Balai Adat Haruyan.

Standard

Setelah malam harinya  saya berkesempatan mengikuti diskusi hangat dalam temu muka para penyair dengan  para tetua adat suku Dayak Meratus, ketertarikan saya untuk mengunjungi pemukiman suku Dayak Meratus semakin meningkat. Walaupun saya belum pernah mengenal dekat suku Dayak sebelumnya, entah kenapa saya merasa sangat nyambung. Hati saya serasa terjalinkankan oleh sesuatu. 

Diskusi para peserta Loksado Writers dengan tetua adat Dayak Meratus. Foto milik Yulian Manan.

Saya coba memberi alasan logis kepada diri saya sendiri. Entah karena ada sebegitu banyak kosa kata dalam Bahasa Dayak yang diucapkan oleh para tetua adat itu yang sangat serupa dengan bahasa kampung saya. Mungkin itulah sebabnya mengapa saya merasa tersambung. 

Alasan yang lain, mungkin juga karena apa yang mereka paparkan, pengalaman, persoalan, peluang pariwisata serta kesulitan dan harapan yang mereka sampaikan serasa deja vu bagi saya yang lahir dan besar di daerah tujuan wisata. Serasa saya pernah berada di situasi itu. 

Malam itu ketika penyelenggara menawarkan pilihan untuk mengunjungi balai adat Malaris yang dekat dan mudah dijangkau, atau balai adat Haruyan yang berada di ujung dengan medan tempuh yang terjal serta tak bisa dilalui kendaraan roda empat, saya memilih untuk mengunjungi balai adat Haruyan.  Karena saya pikir saya akan lebih mudsh mengunjungi Malaris suatu saat nanti karena letaknya lebih dekat. 

Demikianlah esok paginya, kami berkendara dari Loksado melewati Loklahung menuju desa Malaris. Tepat di seberang desa Malaris kami turun, sebagian teman teman memilih menyeberang jembatan ke Malaris. Saya numpang ojek menuju Balai Adat Haruyan. Ada Pak Handrawan Nadesul, Pak Roymon Lemosol, Pak Hengky, Pak Trip Umiuki, Aldo (siapa lagi ya?). 

Jembatan gantung sempit di atas sungai Amandit dari arah sebaliknya. Pak Roymon Lemosol sedang menyeberang dengan motor. Foto milik Roymon Lemosol.

Perjalanan menuju Haruyan sungguh sangat berkesan. Pertama kami harus menyeberang Sungai Amandit melalui sebuah jembatan sempit yang melengkung ke atas. Tak bisa papasan. Yang lewat harus gantian. Ketika motor lewat, jembatan itupun ikut berguncang-guncang. Huaaa…rasanya ingin memejamkan mata, membayangkan yang tidak tidak. Bagaimana jika motornya limbung, mungkinkah saya nyebur ke sungai? * Ooh pikiran kerdil dan negative, pergilah menjauh dariku!. Di saat begitu, saya hanya punya satu pilihan: pasrahlah dan percayakan pada sang pengemudi. 
Selepas jembatan, jalanan agak datar dan cukup nyaman dilalui, walaupun tidak rata, agak rusak dan bergelombang. Ada jembatan kayu kecil yang terlihat mulai merapuh. Saya melihat dua orang tourist manca negara yang melihat lihat di sekitar. 

Kami melewati pemukiman penduduk dan ladang-ladang hingga ke tepi hutan.  Setelah itu mulailah petualangan yang sesungguhnya. 

Bunga kacang kacangan yang sangat cantik dari hutam pegunungan Malaris. Photo milik He Benyamin.

Pemukiman lenyap digantikan pepohonan bambu, meranti,  pakis-pakisan, kayu manis, jahe jahean, cucurbitaceae, dsb. Ada juga pohon luwak (sejenis fig) yang buahnya super lebat memenuhi batang, dahan dan rantingnya. 

Juga ada banyak bunga liar yang indah di sana. Bunga kacang kacangan yang cantik berwarna putih dengan bercak merah di tengahnya. Bunga jahe jahean yang berearna merah diseling putih. Alangkah indahnya. Lalu bunga-bunga keluarga labu hutan yang kuning benderang menyongsong matahari. Bermunculan di tepi hutan dan semak. Rasanya saya ingin turun dan mengamatinya sejenak. Tapi sayang, saya mengejar waktu. Khawatir tertinggal oleh teman teman yang lain. 

Hanya bisa berdecak kagum akan kayanya bumi Kalimantan. 

Jalanan sungguh membuat jantung berkali kali ingin meloncat dari posisinya. Betapa tidak, naiiiiik, lalu turuuuuuuuun. Datar sebentar lalu naiiiiiiiiik lagi dan beloookk dengan terjalnya. Lalu turuuuuuuun lagi. Dan itu harus kami lalui dalam kondisi jalan yang banyak bopeng bopengnya. Terlebih lagi dengan berat badan saya yang nggak kira kira ini, kasihan abang pengemudinya jadi kepencet oleh tubuh saya setiap kali menurun. Saya berusaha menahan dengan bantuan kedua tangan saya…tapi tetap saja πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯ . 

Saya membayangkan kesulitan yang dihadapi penduduk setempat yang harus melewati jalan ini setiap harinya. Berharap pemerintah setempat memberi akses yang lebih baik bagi penduduk setempat dan juga para wisatawan yang ingin berkunjung ke sini. 

Untuk mengimbangi kecemasan saya selama di perjalanan, saya ngobrol ngalor ngidul dengan sang pengemudi. Tentang adat istiadat, tentang kehidupan, tentang masalah sosial  dan sebagainya. Banyak hal hal menarik dan baru yang saya dapatkan dari percakapan itu. 

Secara umum saya menangkap bahwa keinginan masyarakat untuk maju di sana sesungguhnya cukup tinggi. Hanya saja dibutuhkan perhatian dan akses yang lebih baik dari pemda setempat selain juga motivator pembangunan yang memahami dengan baik adat istiadat serta budaya setempat sehingga keberlangsungan pembangunan daerah itu bisa berjalan dengan sebaik-baiknya tanpa harus melemahkan adat istiadat dan budaya setempat. Mungkin sejenis Sustainable Development program yang kira-kira yang bisa menjamin kebersinambungan perkembangan daerah itu secara paralel bersama dengan adat istiadat dan budayanya sekaligus. 

Saking serunya ngobrol, sehingga tak terasa tibalah kami di balai adat Haruyan setelah melalui beberapa lagi jalanan terjal. 

Bapak Penghulu Adat Haruyan menerima kunjungan peserta Loksado Writers 2017. Foto milik Roymon Lemosol.

Kami disambut oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan dan ibu beserta keluarganya. Kami berbincang bincang sebentar. 

Berbincang dengan Penghulu Adat Haruyan, Dayak Meratus Bapak Aeni. Foto milik Roymon Lemosol.

Bapak-bapak mengobrol dengan Bapak Aeni Penghulu adat Haruyan.  

Ibu penghulu adat Haruyan, Dayak Meratus.

Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu penghulu adat dan putrinya tentang keluarga, upacara adat, kegiatan para wanita, perawatan kebersihan wanita sehari hari hingga tanaman dan hasil panen. Obrolan yang penuh tawa canda seolah kami ini sudah bersahabat bertahun tahun.  

Senangnya berada di Haruyan.