Category Archives: Life

Selamat Jalan, Penyair Agustina Thamrin.

Standard
Penyair Agustina Thamrin.

Hari ini saya mendapatkan berita duka kepergian sahabat saya, Penyair Agustina Thamrin ke alam baka. Walaupun saya tahu belakangan ini ia memang dirawat karena sakit, namun kepergiannya tetap saja tak mampu membendung tetes air mata saya.

Saya mengenalnya tanpa sengaja, lewat timeline Facebook seorang sahabat, Penulis Ersa Sasmitha. Kami saling berkomentar dan saya menyukai tulisan tulisannya. Kamipun berteman. Saling mendukung dan memberi semangat.

Dari sana saya sedikit mengetahui dirinya, bahwa ia adalah seorang penyair Kalimantan Selatan yang memiliki latar belakang sebagai seorang instruktur vokal/ paduan suara. Karya karyanya terbit dalam beberapa buku tunggal dan antologi bersama karya penyair penyair lain.

Dan berikutnya juga saya tahu bahwa ia sudah punya cucu dari anak pertamanya. Sungguh seorang Oma yang masih tetap semangat dan enerjik.

Suatu kali di tahun 2017, ia mengundang saya untuk menghadiri pertemuan penyair di Loksado, Kalimantan Selatan yang melahirkan Antologi Puisi Hutan Tropis.

Lah…tapi saya ini bukan seorang penyair. Saya hanya seorang penyuka puisi. “Tapi kan dirimu ini penulis” katanya ditelpon. “Biar ada jua yang menulis tentang Meratus dan Rimba Kalimantan” lanjutnya lagi.”Pasti akan ada banyak sekali bahan tulisan menarik di Loksado” Saya jadi mikir mikir.

Saya tertarik dengan semangat wanita ini. Bersama rekannya Budi, ia ingin sekali mewujudkan forum Sastra Nasional terselenggara di banua. Dan ia benar benar serius mempersiapkannya.

Akhirnya pada bulan Mei 2017, saya meminta ijin cuti dari pekerjaan dan menemui Agustina Thamrin di Banjar. Ia menjemput saya di Bandara. Itu pertama kalinya kami bertemu. Saya mengenalinya dari kejauhan. Ia melambaikan tangsn. Sosoknya yang tinggi langsing, sangat mudah dikenali. Kamipun mengobrol dan ia mengajak kami sarapan Soto Banjar sebelum melanjutkan perjalanan ke Loksado.

Selama di Loksado, ia menemani hari hari kami dengan event event Sastra dan Seni yang sangat menarik. Juga mengajak kami berkunjung langsung ke kampung suku Dayak Meratus, berbincang dengan para tetua adat Meratus. Ia seorang yang sangat ramah dan bersahabat.

Sungguh pengalaman mengikuti ajang sastra yang sangat berkesan yang dituan rumahi oleh para Penyair Kalimantan Selatan termasuk di dalamnya Agustina Thamrin.

Saya tahu itu hanyalah salah satu kegiatan Sastra yang pernah ia jalankan. Masih banyak lagi kegiatan- kegiatan Sastra lainnya yang ia jalani dan ikuti.

Tapi dari semua hal yang saya tahu tentang dirinya, saya sangat terkesan dengan semangat hidup Agustina Thamrin. Walaupun jika dari obrolan serta curhatannya pada saya, banyak masalah yang ia hadapi dan jalani, tetapi ia selalu berusaha kuat dan tegar. Ia tidak mau membiarkan dirinya terjebak dalam kesulitan. Ia tetap berkarya. Menulis dan terus menulis, bercanda dengan dunia. Dan bahkan saat terakhirnya iapun sempat bercanda pada dirinya “Seperti ayam tulang lunak. Diriku tak bertenaga” untuk menceritakan betapa lemahnya diri. Sungguh seorang wanita yang perkasa.

Pernah saya berpikir akan mengambil cuti lagi ingin kembali ke Banjar bertemu Agustina Thamrin. Tetapi dengan kepergiannya ini, tentu keinginan saya itu jadi ikut pupus.

Selamat jalan sahabatku, Agustina Thamrin. Puisi- pusimu akan terus bergema dari hutan hutan Kalimantan.

GUNG GARANTUNG.

Titir tujuh kali malam dibalut dupa.

Tarian menghentak tanah.

Gung aku menari dalam riang riang bumbung malam.

Gung aku memanah langit.

Petir menggodam akar menjadi sungsang tumbang.

Hujan turun menyeringai pada hutan lembab.

Air hitam beraroma payau merendam berpulau pulau.

Gung menyipat hiyang nining batara Maratus.

Penerang hati berselendang bunga bunga dupa dupa.

Nyanyian balai balai diceruk hadat Tambun Bungai.

Gung titir tujuh malam suara mengepung kota kota yang bersimbah darah.

Aku merintih lelah dengan sebatang ranting terakhir.

Kupungut dari rimbunan tulang belulang kematian.

Gung biarkan aku menari Tandik Ngayau menebas perikeadilan yang pupus dan yang lampus.

Banjarbaru, 2017. Agustina Thamrin.

Kisah Pagi Di Sebuah ATM.

Standard

Pagi ini saya terpaksa keluar karena ada keperluan mendesak ke ATM dekat rumah. Mini Market tempat ATM ini sangat sepi. Hanya ada saya, 1 orang SPG dan kasir. Tidak ada pembeli. Tidak ada juga yang sedang mengambil uang atau mengantri. Ah, senangnya. Kesempatan yang jarang, karena biasanya antrian di ATM ini panjang.

Kesempatan ini akan saya pakai untuk bayar listrik dan bayar Iuran Satpam sekalian, selain mengambil uang tunai tentunya. Saya membayar listrik dulu. Lancar. Saya menengok ke belakang. Tidak ada yang ngantri. Aman. Lalu saya mentransfer uang iuran bulanan Satpam. Lancar juga Saya menengok ke belakang lagi. Masih belum ada orang yang ngantri. Jadi aman ya. Saya teruskan kalau begitu.

Sekarang mengambil uang Cash untuk keperluan bayar bayar juga dalam bentuk cash. Saya memasukkan nomer PIN. Sambil menunggu instruksi berikutnya, sudut mata saya menangkap sesuatu.

Tiba tiba ada seorang wanita datang dari arah samping kanan agak belakang saya. Persis di depan ATM Bank lain. Tapi anehnya ia berdiri miring dan melihat ke arah saya. Kelihatannya seperti ngantri ke ATM yang sama dengan yang sedang saya gunakan.

Bukan ke ATM Bank lain yang ada di depannya “Ooh ok. Mungkin mau ke ATM ini….tapi kok ngantrinya di situ ya” bathin saya sambil berusaha cepat cepat menyelesaikan transaksi yang terakhir. Harusnya kan ia berdiri di belakang saya ya dg jarak +/- 1 meter. Tapi oke lah.

Tapi astaga!!!. Ternyata mesin ATM ini kehabisan uang. Dia tidak bisa melayani pengambilan uang untuk saya. Waduh.. gimana ya. Saya lagi butuh banget. Akhirnya saya coba lagi masukkan nomer PIN saya lalu menoleh ke orang yang sedang ngantri itu dan kasih kode ringan minta maaf karena saya mau coba ulang lagi mengambil uang dengan jumlah yang lebih kecil. Siapa tahu bisa. Wanita itu tidak menjawab kode saya karena lagi sibuk membuka dompetnya. Sayapun melanjutkan kegiatan saya.

Tiba tiba orang itu maju dan berdehem kencang “hemmm!!!”. Saya kaget dan menoleh. Waduuuh. Walaupun wajahnya tertutup oleh masker dan kerudung, tapi sorot matanya yang tajam kelihatan kalau ia marah dan tidak suka pada saya. Saya merasa nggak nyaman.

Lalu saya jelaskan padanya bahwa mesin ATM ini tidak mengeluarkan uang. Dan transaksi pengambilan uang saya tadi gagal. Jadi saya coba ulang dengan ukuran yang lebih kecil. Mohon pengertiannya juga.

Wanita itu tidak menjawab. Kelihatan masih tetap kesal pada saya. Saya tetap melanjutkan usaha saya untuk mengambil uang. Dan ternyata tetap tidak keluar juga. Ya sudah. Saya menyerah. Mungkin duit di mesin ATM ini memang habis.

Sayapun berlalu. Mengambil pasta gigi dan pembalut lalu membayar di kasir dengan sisa uang yang sebelumnya menang ada di dompet. Sambil menunggu kasir, saya menoleh ke mesin ATM di mana wanita tadi masih berdiri. Kedengaran ia mengomel sendiri dan mengetuk- ngetuk mesin ATM dengan jarinya dengan tidak sabar. Berulang ulang. Dengan tidak sabar. Saya lihat Mbak Kasir pun menoleh sebentar ke orang itu, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Dalam hati saya heran. Kan memang uangnya habis. Sudah saya kasih tahu sebelumnya. Tapi ia tidak menggubris. Mana bisa uangnya keluar. Ditendangpun mesin ATM itu jika nemang uangnya habis, ya tetap tidak akan mengeluarkan uang.

Beberapa saat kemudian, orang itu keluar dari toko. Ia lewat di belakang saya karena posisi kasir di dekat pintu. Dan entah kenapa pula, saya kok refleks menoleh. Apesnya, rupanya ia juga sedang melihat ke arah saya. Tatapan matanya marah dan mengancan. Lho?!. Saya jadi bingung dan heran dengan orang ini. Maksudnya apa ya kok jadi marah besar ke saya gitu?. Untungnya ia keluar setelahnya.

Saya menarik nafas panjang dan menghibur diri saya agar tidak terlalu galau. Rasanya memang sangat tidak nyaman diperlakukan begitu. Saya menelisiki perbuatan saya, barangkali ada kesalahan saya yang telah saya perbuat yang membuat orang lain sampai sedemikian marahnya kepada saya.

1/. Mungkin dia marah karena saya kelamaan di mesin ATM. Saya melakukan 2 x transaksi non tunai dan sukses, lalu2 x transaksi tunai tapi gagal karena uang tidak ada. Saya melakukan multiple transaction karena sebelumnya toko itu sepi. Tidak ada yang ngantri di ATM. Dia muncul saat saya melakukan transaksi non tunai yg gagal itu. Lalu marah karena saya mencoba mengulang lagi. Padahal kan saya sudah ngasih kode minta maaf karena saya harus nengulang transaksi lagi. Dianya sendiri tidak merespon.

Ya… kalau saya cari cari kesalahan saya, mungkin dalam hal ini saya ada setengah salah juga. Mungkin harusnya, saat transaksi saya gagal, saya berhenti dulu, mundur dan mempersilakan dia dulu dan saya mengantri di belakang dia. Jadi untuk kasus ini saya kasih score kesalahan saya 50%.

2/. Mungkin dia marah karena uang cash tidak keluar setelah ia coba coba beberapa kali. Lah ?? Ini jelas bukan kesalahan saya. Kan tidak mungkin uang itu habis karena saya yang mengambilnya semua dan tidak menyisakan untuk dia. Lah, siapa pula saya ini, sisa uang di kartu ATM saya juga tidak seberapa. Selain itu sayapun gagal juga mengambilnya. Dalam kasus ini saya yakin kesalahan saya 0%. Lalu mengapa dia marah?

Ah!!!. Saya merasa capek memikirkannya. Rasanya tidak bisa saya jelaskan dengan akal sehat saya. Saya tidak kenal orang itu sebelumnya dan ia cuma lewat sepintas lalu dalam hidup saya. Mengapa saya biarkan ia merusak kebahagiaan hidup saya.

Mari kita pikirkan hal hal lain yang lebih membuat hati bahagia” ajak saya kepada diri saya sendiri.

Kwalitas Karbitan.

Standard

Saya membeli 2 sisir pisang Raja Sereh di pasar. Tampak sudah kuning. Harganya 15 ribu per sisir. Lebih murah dari biasanya. Karena situasi sedang wabah virus Corona, sayapun cepat cepat membayar tanpa menawar lagi dan langsung pergi.

Sampai di rumah, saya makan pisang itu. Ternyata isi pisang sangat kecil dan kurus. Rasanya agak sepet. Ooh.. sekarang saya sadar kemungkinan ini adalah pisang matang karbitan. Pisang yang masih muda, kecil dan hijau, sudah dipetik lalu diperam dengan menggunakan karbit (Calcium Carbida – CaC2) agar cepat matang.

Buah yang dikarbit, kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan optimal. Begitu dipotong, ukurannya tidak bertambah lagi. Ia tetap kecil. Rasanya masih bisa sedikit bertambah manis, namun sisa sisa rasa sepat terkadang belum hilang semua.

Beda dengan buah yang asli mateng bukan karbitan. Pisang ini akan tumbuh denganukuran dan rasa manis yang optimal. Namun sayang, matangnya biasanya tidak bersamaan. Tapi bertahap.

Sebaiknya jika membeli pisang, perhatikan keseluruhan pisang-pisang yang dipajang. Jika pisang dari satu tandan memiliki warna buah yang beragam, bagian atas kuning dan bagian bawah masih ijo, kemungkinan besar pisang itu matang alami.

Tapi jika keseluruhan buah di tandan itu kuning semua, ada dua kemungkinan. 1/.Buah memang matang alami, jika ukuran buahnya normal, seukuran dengan jenisnya. Misalnya jika pisang Raja Sereh, normal ukurannya memang besar. Tapi jika itu pisang Mas, ukurannya kecil.

2/. Bisa juga karena karbitan. Jika semua kuning tapi kecil kecil dibanding jenisnya, sudah tentu itu matang karbitan. Rasa manisnya juga tidak optimal.

Demikianlah adanya pisang kwalitas karbitan. Tampangnya matang tapi ukuran dan rasanya tidak optimal.

Dan kwalitas karbitan ini sesungguhnya tidak terjadi hanya pada pisang, tetapi juga pada jenis buah- buahan lainnya, termasuk kwalitas manusia. Tentu ada juga manusia yang memiliki kwalitas matang alami dan ada juga yang memiliki kwalitas karbitan. Jabatan tinggi, tetapi kwalitas pemikiran kurang strategis dan mengeksekusi pun kurang proffesional.

Mari berenung diri dan seemoga kita tidak termasuk dalam sumber daya manusia yang berkwalitas karbitan.

Serba- Serbi Corona: Uang Kembalian.

Standard

Semenjak wabah Corona merebak, masyarakat jadi mulai was was. Orang-orang menggunakan masker, mencuci tangan sesering mungkin dan jalananpun terasa sepi. Saya ikut-ikutan parno, selalu merasa was was jika menyentuh benda-benda yang bekas dipegang orang lain, yang bisa jadi tangannya habis mengelap ingus atau menutup batuk. Seperti misalnya gagang pintu toilet umum, pegangan troley di Supermarket dan terakhir… uang kembalian.

Ceritanya begini. Suatu kali saya ke Guardian untuk membeli Aiken Hand Sanitiser. Sayang habis. Saya disuruh nencoba mencari di Hero. Tapi tetap tidak ada. Saya langsung keluar. Supir saya tidak ada. Saya cari cari, ooh rupanya sedang membeli bakso di samping Hero. Ada dua pedagang kaki lima di situ, tukang bakso dan tukang ketoprak. Tapi sepi. Tak ada pembeli.

Daripada menunggu nggak ngapa-ngapain, saya ikut nimbrung memesan ketoprak. Dibungkus aja, buat dibawa pulang. Setelah selesai, saya membayar. Tukang Ketoprak memberikan saya uang kembaliannya. Entah kenapa tiba tiba pikiran saya buruk. “Bagaimana jika uang ini terkontaminasi Virus Corona?” Waduw!.Mana kita tahu, sebelum Bapak Tukang Ketoprak ini, siapa saja yang pernah memegang uang-uang ini?. Ada nggak yang sempat menggunakan tangannya untuk menutup bersin atau menutup batuk sebelum nemegang uang ini?. Ada nggak yang bisa menjamin kalau uang ini bersih dan tidak terkontaminasi ?. Tidak ada !!!.

Hal yang sama terjadi juga seandainya saya tadi mendapatkan uang kembalian dari Supermarket, atau bahkan mengambil uang dari mesin ATM. Siapa yang pernah tahu, perjalanan uang ysng akhirnya jatuh ke tangan kita itu sudah melewati siapa saja.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya ambil uang kembalian itu, saya letakkan di dompet dan begitu sampai di kendaraan, cepat cepat saya semprot tangan saya dengan parfum, lalu saya gosok-gosok. Saya pikir, dalam keadaan darurat di mana kita sulit mendapatkan hand sanitiser, kita bisa menggantikan fungsinya dengan parfum yang mengandung alkohol 70% lebih. Alkohol 70% tentu efektif membunuh kuman.

Suami saya tertawa mendengar cerita tentang ketakutan saya pada uang kembalian. Ia menganggap saya terlalu parno. Lalu ia bercerita jika ia barusan datang dari bengkel. Saat membayar ongkos servicenya , sang pemilik bengkel bercerita kepadanya jika sekarang ini orang orang pada sangat was- was dan parno gara gara wabah Corona.

Menurut cerita si pemilik bengkel, baru saja ia merasa sangat kesal dengan seorang langganannya. Pasalnya, langganan yang barusan selesai service kendaraannya dianggapnya terlalu lebay. Saat membayar, sangat menjaga jarak saat menyerahkan uangnya. Baiklah, bisa dimengerti. Tetapi jika jaraknya sampai sangat jauh di atas 1 meter, lengkap dengan gaya yang berjingkat mengulurkan tangannya dari jarak jauh dengan ekspresi muka yang seolah olah sedang menghadapi seorang yang sedang membawa penyakit menular. Gaya mengambil uang kembaliannya pun sama Begitu juga.

Sang pemilik bengkel pun tersinggung “Saya ini sehat lho!. Masak caranya membayar itu seolah saya ini orang penyakitan yang sudah pasti akan menularkan penyakit virus Korona ke dia“.

Ha ha saya jadi ikut tertawa mendengarnya. Ya. Ada benarnya juga sih pendapat Bapak Tukang Bengkel itu. Walaupun kita harus selalu hati-hati, sebaiknya kita memang tidak perlu terlalu parno, sampai bersikap berlebihan yang membuat orang lain tersinggung.

Saya jadi mikir, apakah tadi saat saya menerima uang kembalian dari Tukang Ketoprak, saya bersikap sama menyebalkannya dengan pelanggan yang diceritakan Bapak Bengkel itu? .

Uuf. Rasanya sih tidak. Saat itu saya hanya berpikir tentang perpindahan uang itu dari satu tangan ke tangan-tangan berikutnya sebelum nyampai ke tangan saya. Pandangan saya ke uang. Bukan ke Bapak Tukang Ketoprak. Jadi seharusnya ekspresi tidak membuat orang lain tersinggung ya. Tetapi jikapun tanpa sengaja saya telah membuat Bapak Tukang Ketoprak itu tersinggung, mudah- mudahan Tuhan mengampuni kesalahan saya.

Ayo teman-teman kita tetap berhati-hati tanpa harus berlebihan.

Jerit Hati Seorang Ibu.

Standard
Induk bebek

Saya mendengarkan sebuah video pengumuman dari Menteri Luar negeri kita tentang kebijakan menutup lalu lintas masuk ke negara Indonesia. Saya mendengarkan dengan seksama ketika ibu mentri menyarankan warga yang sedang berada di luar agar segera pulang sebelum transportasi semakin memburuk. Tak terasa air mata saya menetes ke pipi.

Saya teringat akan anak saya yang sedang menempuh pendidikan di Ankara. Kampusnya sendiri sebenarnya sudah libur untuk 3 minggu lamanya. Dan Universitas juga sudah membatasi lalu lintas yang masuk ke kampus. Ia sendiri sudah melakukan self quarantine sejak itu. Sebenarnya sudah cukup baik usaha yang dilakukan.

Tetapi ketika saya melihat data lonjakan penderita Covid-19 di Turki secara tiba-tiba, hati saya mulai ketar ketir.

Jauh di dalam hati saya menginginkan anak saya pulang. Saya ingin ia ada di rumah dan berada dalam pantauan saya. Tetapi saya pikir-pikir lagi, jika saya minta dia pulang, mungkin resikonya malah lebih besar. Karena sekarang ia harus keluar dari karantinanya sendiri, berjalan menuju bandara yang mungkin berkontak dengan banyak orang, lalu duduk bersebelahan dengan entah siapa di pesawat, lalu harus transit lagi di bandara International lainnya. Aduuuh… panjang dan malah mungkin saja anak saya mendapat penularan dalam perjalanannya.

Akhirnya setelah diskusi, kami sepakat lebih baik ia jangan pulang dulu. Tetap di dormitorinya saja dulu hingga wabah berlalu. Saya berusaha tegar dengan kenyataan ini, walau hati saya menjerit. Ingin menangis rasanya. Yang bisa saya lakukan hanya memantau saja dan meminta agar ia disiplin mengupdate keadaannya. Saya menguatkan hati saya, ia pasti bisan dan terhibdar dari virus itu.

Hari ini, ketika saya membuka Face Book, seorang sahabat saya menulis status di timelinenya, tentang dirinya yang sedang bekerja dari rumah (sahabat saya ini adalah seorang dosen Fak. Kedokteran), tetapi kedua orang anaknya yang dokter tetap harus bekerja melayani para pasien Corona.

Walaupun tidak ada keluhan yang explisit dari statusnya itu, tetapi saya menangkap nada trenyuh dalam kalimat kalimatnya itu. Kepedihan, kekhawatiran yang dalam, walaupun bercampur kebanggaan karena anaknya mengabdi dan mempertaruhkan nyawanya untuk masyarakat. Sebuah kepahlawanan. Tetapi auranya tetap terlihat murung.

Saya membayangkan jika saya yang berada di posisinya. Mengikhlaskan anak kita berada di garda depan dalam oerang melawan Corona ini, di mana nyawa taruhannya. Air mata saya menetes memikirkan kedua anak teman saya itu. Saya mengenal mereka sejak masih kecil, hingga keduanya kini sudah menjadi dokter.

Para pelaku medis dan para medis adalah mereka yang berada di garda depan. Mereka yang berjuang dan bekerja keras untuk kesembuhan masyarakat dari Corona. Saya pikir, cobaan yang dihadapi teman saya ini lebih berat dari cobaan yang saya hadapi. Jadi harusnya saya tak perlu secengeng itu.

Ini saatnya kita bersama-sama memberantas Corona. Cengeng tidak memecahkan masalah. Dibutuhkan keberanian, ketegaran dan keikhlasan. Oleh karenanya mari kita lakukan apapun yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk memberantas penyakit virus ini. Di manapun posisi kita. Jika posisi kita sebagai masyarakat awam, berdiam dirilah di rumah, jauhilah tempat kerumunan. Jika posisi kita sebagai karyawan perusahaan yang memproduksi masker atau hand sanitiser., dimana bekerja dari rumah tidak memungkinkan, ya ikutilah peraturan perusahaan bekerja dengan ikhlas, tetapi berusaha terus menjaga diri. Jika kita berada di garda depan misalnya sebagai tenaga medis, sabar dan ikhlaslah – saat ini bangsa kita membutuhkanmu.

Sayapun teringat kepada kakak saya yang setiap hari bergelut dengan pasien gigi. Bermain dengan gusi dan gigi dan pastinya bersentuhan dengan air liur pasien. Siapa yang bisa menjamin bahwa diantara pasiennya itu sehat semua dan tidak ada yang terpapar virus Corona. Berdegup jantung saya. Betapa rawannya posisinya saat ini. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu melindunginya.

Semoga wabah virus Corona ini segera berlalu. Dan saya berdoa untuk kesehatan dan keselamatan para team medis yang sedang berjuang di garda depan.

Gerubug Corona Dan Nyepi.

Standard
Tapak Dara.

Gerubug, adalah Bahasa Bali untuk kata Wabah. Wabah yang menyebabkan kematian masal, baik untuk tanaman, binatang maupun manusia, tidak termasuk bencana alam di dalamnya. Ada tiga jenis Gerubug yang dikenal, yaitu:

1/. Merana, atau Gerubug Mrana adalah wabah penyakit yang menyerang tanaman. Contoh Merana yang dianggap sangat serius di Bali, misalnya Hama Wereng yang menyebakan ratusan hektar sawah rusak. Contoh lain adalah serangan Virus CVPD yang merusak perkebunan jeruk di Bali. Atau hama tikus yang merajalela dan mengakibatkan gagal panen.

2/. Gerubug Sasab, atau lebih sering disebut dengan Gerubug saja, adalah wabah penyakit yang menyerang hewan. Contohnya wabah pada ayam yang disebabkan oleh serangan Paramyxovirus alias penyakit Tetelo (Newcastle Disease). Penyebarannya sangat cepat, dan mortalitasnya pun sangat tinggi. Tiba tiba saja beratus ratus ayam mati di peternakan dan di kampung.

Lalu belakangan ini, ada lagi berita di koran tentang wabah pada ternak Babi. Dimana saya baca tiba tiba puluhan babi mendadak mati. Rupanya serangan African Swine Fever Virus yang sangat menular dan mematikan.

3/. Gerubug Gering, yakni wabah penyakit yang menyerang manusia. Contohnya, wabah diare/ disentri akibat serangan bakteri shigella atau amuba disentri. Banyak orang yang meninggal. Atau wabah demam berdarah, akibat gigitan nyamuk yang membawa Virus Dengue, juga menyebabkan banyak orang meninggal. Nah, sekarang muncul Gerubug baru lagi yang disebabkan oleh Virus Corona. Gerubug Corona. Artinya ya Wabah Corona.

Saya mencoba mengingat ingat apa yang biasanya orang Bali lakukan jika menghadapi Gerubug atau wabah. Tebtunya di luar penanganan medis yang biasa yang juga dilakukan.

Pertama adalah Tapak Dara. Simbul seperti tanda tambah berwarna putih ini dianggap sebagai simbul perlindungan. Saya ingat waktu kecil, ketika terjadi wabah disentri kolera di kampung saya, setiap orang nemasang tanda Tapak Dara ini di gerbang halaman rumahnya. Tuhan Yang Maha Esa akan melindungi.

Lalu ada beberapa upacara yang dilakukan dengan maksud pembersihan bumi dan isinya dari berbagai macam wabah penyakit dan bencana. Misalnya Prayascita – upacara pembersihan, Nangluk Merana – upacara penolak wabah hama tanaman, Labuh Gentuh yaitu upacara penyucian agar tercapai keharmonisan alam, Tawur – misalnya Tawur Kesanga – upacara pembersihan bumi dan alam semesta dari segala wabah dan penyakit. Yang diadakan sehari sebelum hari raya Nyepi.

Upacara “Tawur Kesanga” yang artinya membayar kembali apa yang telah kita ambil dari alam (tawur = bayar) yang dilakukan pada bulan ke sembilan (ke sanga), yakni satu hari sebelum hari raya Nyepi. Dengan demikian diharapkan alam akan kembali dibersihkan dari segala bentuk dosa kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, juga dari segala bentuk wabah peรฑyakit yang membuat gerubug.

Rangkaian upacara dimulai dari prosesi melasti – pembersihan di tepi laut. Orang Bali percaya bahwa penyakit datang dari seberang lewat laut. Oleh karena itu pembersihanpun dilakukan dekat laut. Upacara ini melibatkan banyak orang. Hampir semua anggota keluarga mengikuti.

Sore hari menjelang malam, dilakukan upacara pengerupukan. Yakni beramai ramai mengusir segala bentuk wabah, penyakit, setan, sifat sifat buruk, angkara murka. Darimana? Tentunya pertama diusir dari diri sendiri dulu, lalu diusir dari pekarangan rumah ke jalan, lalu dari banjar diusir ke luar, berikutnya dari desa diusir lagi, demikian seterusnya sehingga semua bentuk penyakit itu bisa keluar dari Bali. Bentuk penyakit dan setan pengganggu itu dilambangkan dengan Ogoh-ogoh – raksasa buruk muka, yang biasanya dibakar seusai upacara. Sehingga yang tinggal setelahnya hanya ketenangan, kedamaian dan keselarasan dengan alam.

Esoknya tinggal Nyepi. Lock-down dalam arti yang sesungguhnya. Karena orang tidak keluar rumah dan tidak melakukan aktifitas yang berarti selama 24 jam.

Nah… sekarang berkaitan dengan wabah Corona ini, di mana sudah disarankan agar setiap orang merenggangkan jarak satu sama lain (Self Distancing) dan menjauhi keramaian agar terhindar dari resiko penularan, saya jadi terpikir bagaimana nanti saudara saudara saya di Bali akan melakukannya. Besar kemungkinan upacara melasti yang biasanya beramai ramai itu akan sulit dilakukan.

Demikian juga Upacara Pengrupukan. Upacara ini juga biasanya dipenuhi dengan keramaian. Sering kali orang satu banjar (ratusan kk) yang mengusung Ogoh-ogoh bertemu dengan banjar lainnya yang juga mengusung Ogoh ogoh di perempatan jalan. Persatuan masa yang membesar tentu terjadi dan tak bisa dihindarkan. Nah, jadi bagaimana dengan himbauan agar kita menjauhi keramaian?. Rasanya sangat sulit. Apalagi Pemda Bali menyatakan Bali sebagai Siaga Corona, besar kemungkinan pawai Ogoh-ogoh tidak bisa dilaksanakan.

Semoga semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Upacara Tawur Kesanga yang bermaksud membersihkan bumi dan alam dari segala wabah penyakit bia tetap berjalan walaupun tanpa keramaian.

Selamat Menyongsong Hari Raya Nyepi, teman -teman. Semoga damai di hati, damai di bumi, damai alam semesta. Semoga kita semua terhindar dari bahaya Corona.

Kisah Dua Box Buah Plum Yang Asam.

Standard

Saya penggemar buah plum. Sayangnya buah ini masih mahal di Indo. Saya coba menanamnya di Jakarta, sudah beberapa tahun tapi belum berbuah.

Minggu lalu tiba tiba saya menemukan buah ini sangat murah dijual di sebuah mini market. Rp 10 000 per box, yang isinya 5 – 6 buah. Waduuuh… kaget dan senang saya. Biasanya harganya bisa mencapai Rp 60 000 an per kilonya (isi sekitar 8 buah).

Jadi beli 2 box saja.

Sampai di rumah, saya coba. Waduuuh ..uasyeeeem bingits. Beneran. Asem banget. Saya sampai nggak sanggup lagi memakannya. Pantas harganya murah. Tapi terus gimanain ini sekarang ?.

Dimakan nggak bisa menikmati, kalau dibuang sayang. Akhirnya saya memutuskan untuk mengolahnya menjadi selai dan juice.

Selai

Ini mudah dibuat. Caranya:

1/. Pertama kupas dulu buah plum lalu potong kecil kecil.

2/. Rebus potongan buah plum bersama gula hingga lembek.

3/. Tambahkan kayu manis bubuk untuk mendapatkan aroma selai yang wangi. Aduk aduk hingga matang dan airnya nyusut.

4/. Tambahkan sedikit tepung maizena untuk meningkatkan kekentalan.

Nah… jadilah selai buah plum.

Tinggal dimasukkan ke dalam stoples dan disimpan untuk diambil sedikit demi sedikit buat teman makan roti.

Selai buah Plum juga enak dipakai sebagai isian Lumpia buah. Caranya juga mudah, yaitu ambil selembar kulit lumpia.

Isi dengan Selai Plum, lipat sedikit ujungnya. Lalu gulung perlahan. Rekatkan ujung lipatan kulit lumpia dengan putih telur. Lakukan hal yang sama untuk kulit lumpia berikutnya hingga habis.

Kita bisa menyimpannya di kulkas untuk digireng kapan dibutuhkan.

Sungguh lumpia yang sangat enak.

Jus.

Sisa buah plum akhirnya saya bikin juice saja.

Ditambahkan dengan sedikit gula, lumayan meredam kekecutan rasanya. Enak dan segar juga rasanya.

Sangat lega rasanya, uang yang terpakai untuk membeli buah plum yang ternyata sangat kecut akhirnya terbayar dengan selai dan juice yang enak.

Sekarang saya mengerti. Sekecut apapun rejeki dan nasib yang menghampiri kita, jika kita sabar dan telaten mengolahnya pastinya akan berbuah manis.

Corona Virus Dan Kita.

Standard

Per tanggal 8 Maret kemarin pemerintah mengumumkan dengan resmi sudah ada 6 kasus positive Corona Virus di Indonesia.

Walaupun sebagian ada yang tenang-tenang saja, tetapi sebagian besar merasa was was hingga merasa harus selalu menggunakan masker kemana mana, selalu waspada jika harus bersalaman dengan orang lain dan menghindari tempat-tempat keramaian.

Lebih parah lagi adalah mereka yang tiba tiba panik memborong Mie Instant dan beras dari Supermarket begitu mendengar pengumuman pemerintah tentang kasus Corona pertama di Indonesia. Mereka khawatir kehabisan bahan pangan jika diborong orang lain yang juga panik. Padahal yang memborong adalah mereka sendiri, sehingga orang lain tidak kebagian ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€.

Jika saya baca, angka mortalitas virus yang biasa disebut COVID -19 ini sesungguhnya tidaklah terlalu tinggi. Pada tanggal 3 Maret 2020, WHO mengatakan hanya 3.4%. Angka ini jauh dibawah angka mortalitas wabah wabah virus yang mendunia sebelumnya. SARS & MERS contohnya memiliki angka mortalitas antara 10%-35%. Sedangkan virus Ebola memiliki angka mortalitas yang jauh lebih tinggi lagi yakni 25% – 90% tergantung outbreaknya.

Poin saya di sini adalah ketakutan dan kepanikan kita ini sesungguhnya jauh di atas yang seharusnya.

Namun demikian memang tidak ada salahnya untuk tetap waspada dan menjaga diri dengan baik. Mengingat bahwa tingkat penyebaran virus ini sangat cepat dan luas. Terutama bagi mereka yang dalam kegiatannya sehari-hari berhubungan dengan orang asing terutama yang berasal dari negara-negara dengan tingkat jangkitan COVID -19 yang tinggi.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan antara lain :

1/. Pertama, ya jangan panik. Borong sembako bukanlah pilihan yang tepat. Karena selain membuat orang lain yang membutuhkan jadi nggak kebagian, juga membuat harga sembako jadi meningkat nggak perlu.

2/. Usahakan mengurangi kebiasaan menyentuh hidung, mulut dan mengusap mata. Daerah wajah, terutama saluran pernafasan adalah pintu masuk virus ke dalam tubuh kita.

3/. Sering sering cuci tangan dengan Sabun Pencuci Tangan ataupun dengan Hand Sanitizer. Karena pada dasarnya Virus akan rusak oleh bahan pelarut lemak seperti misalnya sabun, alkohol dan sebagainya.

4/. Minimalisir kontak langsung dengan teman dari negara yang berkasus Corona. Jika ada meeting atau pertemuan lain dengan teman dari negara lain yang positif sebaiknya diundur jika memungkinkan. Saya juga melakukan hal ini.

Jika pertemuan tidak bisa dibatalkan, mungkin ada hal lsin yang bisa dihindarkan. Seperti pelukan, cipika-cipiki dan ada baiknya juga tidak bersalaman. Mengisolasi diri bukan berarti diskriminasi. Menghindari salaman juga bukan berarti kita sombong dan meningikan diri.

Salah seorang kenalan saya yang datang dari Amerika bulan lalu, juga tidak menyalami saya seperti biasanya. Hanya mencakupkan tangannya dan mengucapkan “Namaste”. Tidak apa apa. Saya tidak tersinggung, justru senang dengan caranya untuk berusaha ikut menghindarkan kita semua dari kemungkinan tertular virus.

Di Bali pun biasanya kami tidak bersalaman jika bertemu orang lain. Cukup mencakupksn kedua tangan di dada dan mengucapkan salam ” Om Swastiastu”. Nah salam jenis begini memang ada baiknya juga dalam mengurangi potensi tertular virus.

5/. Minimalisir atau tunda perjalanan ke/melalui negara yang memiliki kasus Corona tinggi.

Nah… bagaimana jika kita kepalang kontak dengan teman dari negara yang kasus Corona nya tinggi sementara kita tidak tahu teman kita itu terjangkit atau tidak?.

Seorang teman saya mengalami kejadian itu. Ia menerima seorang tamu kantor dari negara yang punya kasus positive Corona, ia sempat duduk bersamanya dalam sebuah meeting dan kemudian ia juga pergi bersamanya untuk melihat lihat pasar di Jakarta. Apa yang teman saya lakukan untuk memastikan bahwa ia tidak tertular virus Corona?.

Baik teman saya dan tamunya itu sepakat untuk saling mengabari apakah masing-masing ada mengalami gejala-gejala umum Corona, seperti demam, batuk dan rasa sesak . Mereka terus saling berkabar dan tidak berhenti sebelum masa inkubasi Covid -19 itu terlewati.

Saya tertawa mendengar cerita teman saya itu. Tetapi dalam hati saya membenarkan apa yang ia lakukan itu.

Begitulah serba-serbi virus Corona. Semoga kita semua terhindar dari serangannya.

Salam sehat untuk kita semua.

Kencing Kucing.

Standard

Saya dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Bandung. Rencananya naik CT Trans turun di Bintaro. Sungguh beruntung, seorang keponakan yang berdomisili di Bandung mau mengantar dan menemani menunggu keberangkatan.

Ternyata saya tiba di pangkalan Travel Agent lebih cepat dari yang saya jadwalkan. Untuk mengisi waktu, maka kami memutuskan untuk makan malam terlebih dulu di sebuah warung makanan Sunda tak jauh dari situ. Pengunjungnya agak rame. Saya meletakkan tas pakaian dan laptop saya di belakang samping. Masih terjangkau pandangan keponakan saya.

Setelah orderan datang, kami ngobrol ngalor ngidul tentang keadaan kami masing masing, tentang keluarga, tentang pekerjaan dan sebagainya. Usai makan kamipun balik.

Saya menenteng tas laptop sementara keponakan saya menenteng tas pakaian saya dan oleh oleh Bandung yang ia belikan untuk anak saya.

Seusai makan, kami kembali ke pangkalan mobil travel. Mencari bangku yang kosong dan duduk. Sepintas saya mencium sesuatu. Tetapi hilang kembali. Tiba tiba keponakan saya berkata ” Tante, kok bau kencing kucing ya?” Tanyanya sambil mengendus endus udara di sekitarnya.

Saya setuju. Memang bau kencing kucing. Tapi dari mana asalnya ya? Kayanya di sekitar bangku yang kami duduki. Waduh…. kayaknya ada kucing yang sempat kencing di sekitar bangku ini. Tanpa pikir panjang, saya mengajak keponakan saya pindah tempat saja.

Tengak tengok kiri kanan. Tidak ada bangku yang kosong untuk dua orang. Karenanya terpaksa kami bertahan duduk di bangku itu. Tak apalah. Lagipula bau kencing kucing itu sekarang sudah hilang.

Tak berapa lama, tiba tiba bau kencing kucing itu muncul lagi. Saya dan keponakan sibuk kembali mengendus endus. Penasaran dari mana sumber bau itu.

Tanteeeee!!!!. Ternyata tas ini yang bau”. Kata keponakan saya sambil menunjuk Tas pakaian saya yang dipangkunya. Astagaa!!!. Kok bisa bau kencing kucing???.

Oooh rupanya keponakan saya memang sempat melihat ada kucing di sekitar tempat saya meletakkan tas tadi di restaurant saat makan malam. Tapi tak menyangka jika kucing itu kencing di situ. Seketika saya pun mencium tas laptop saya, mengingat tadi saya taruh bertumpuk dengan tas pakaian.

Benar saja. Ternyata tas laptop sayapun berbau kencing kucing dan masih terasa sedikit basah.

Walau agak kesal, saya jadi tertawa geli, mengingat tadi saya mengajak keponakan saya untuk pindah duduk ke tempat lain karena menyangka bau kencing kucing itu berasal dari bangku yang kami duduki. Sekarang baru tahu bahwa bau kencing kucing itu ternyata dari tas yang kami gendong gendong.

Jika seandainya tadi kami pindah duduk, bau kencing kucing itu bukannya hilang, tapi malah akan mengikuti. Haha..jadi pindah duduk tidak memecahkan masalah. Harusnya tadi saya mencari tahu persis sumber dari bau itu terlebih dahulu.

Jadi pelajaran yang saya petik dari kejadian ini adalah bahwa jika kita mengalami masalah, hendaknya selalu periksa dulu kesalahan diri kita sendiri, sebelum memeriksa kesalahan orang lain.

Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali -Part II.

Standard

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya “Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Bagian II ini lebih membahas tentang ucapan Salam Umum yang tidak terikat dengan waktu ataupun sebuah kejadian, Ucapan buat sahabat atau kerabat yang sedang sakit atau kesusahan dan ucapan Bela Sungkawa jika ada sahabat atau kerabat yang meninggal dunia.

6/. Ucapan Salam saat Berjumpa

Saat berjumpa, kalimat salam pertama yang diucapkan oleh orang Bali adalah “Om Swasti Astu”. Ucapan ini adalah doa dari yang mengucapkan Salam agar orang yang diajak berbicara berada dalam keadaan baik, sehat dan bahagia. Karena kata Om adalah seruan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Swasti artinya dalam keadaan baik, dan Astu artinya Semoga.

Om Swasti Astu = Ya Tuhan, Semoga (orang yang saya ajak bicara ini) Engkau berikan dalam keadaan baik, sehat dan bahagia.

Ucapan Om Swasti Astu bisa dijawab dengan doa yang sama kembali, Om Swasti Astu. Bisa juga dijawab dengan Om Shanti Shanti Shanti. Shanti = damai.

Diucapkannya kata Shanti sebanyak 3 x adalah merepresentasikan doa pengucap agar kedamaian yang terjadi di 3 Strata mulai dari yang kecil hingga yang terbesar. Yaitu kedamaian di dalam Hati, kedamaian di Bumi dan kedamaian senantiasa di seluruh Alam Semesta.

Salam Om Swasti Astu juga umum digunakan sebagai pembuka pidato, rapat, tulisan. Dan sebagai penutup dari pidato, rapat ataupun tulisan juga diakhiri dengan Om Shanti Shanti Shanti.

Salam ini tidak mengenal waktu. Berlaku untuk kapan saja.

7/. Ucapan Buat Yang Sakit atau yang kena musibah.

Saat mendengar sahabat atau kerabat yang sakit, tentu saja yang kita ucapkan bukanlah selamat tetapi doa agar yang bersangkutan diberi kesembuhan. Jadi ucapannya adalah “Dumogi gelis kenak”. Semoga lekas sembuh. Atau “Dumogi gelis waras” Semoga lekas sehat.

Dan doa yang paling umum diucapkan adalah “Om Sarwa Wighna, Sarwa Klesa, Sarwa Lara Roga, Winasa ya Namah “. artinya “Ya Tuhan, kami mohon agar segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan Engkau binasakan ya Tuhan”.

Tetapi jika kita ingin mendoakan si sakit dalam bahasa atau agama/kepercayaan masing-masing juga tidak masalah. umumnya masyarakat Bali sangat terbuka untuk menerima doa orang lain sepanjang niatnya baik. Jadi tidak ada doa baik yang haram hukumnya, walaupun itu diucapkan oleh orang berbangsa/bersuku/beragama lain ataupun dalam bahasa/ agama lain. Sama saja.

Jika kita mendengar ada berita tentang sahabat atau kerabat yang mengalami musibah lain yang tidak terkait dengan kesehatan tubuh i.e kehilangan, kecurian dsb maka ucapan kita adalah “Dumogi polih kerahayuan”

8/. Ucapan Bela Sungkawa.

Orang Bali mengucapkan kalimat “Dumogi amor ring Acintya” saat mendengar teman atau kerabat meninggal dunia. Yang artinya “Semoga bisa menyatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa”.

Atau mengucapkan doa “Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu. Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha” yang artinya ” Ya Tuhan, semoga atna yang menunggal mencapai surga, lalu menyatu denganMu, mencapai keheningan tanpa suka duka. Ampunilah ia, semoga segalanya disempurnakan atas kemahakuasaanMu.

Ini berkaitan dengan keyakinan bahwa setiap mahluk hidup memiliki Atma (roh) yang merupakan percikan suci dari Tuhan Yang Maha Esa (Paramatma).

Atma ini terlahir ke dunia (dan mungkin berkali kali) untuk membersihkan perbuatan perbuatan buruknya hingga kembali benar-benar bersih dan mampu menyatu kembali denganNYA dan tak perlu dilahirkan kembali lagi.

Ketika mahluk hidup meninggal, maka Atmanya akan lepas meninggalkan tubuh kasarnya. Ia akan melalui proses pengadilan yang membuatnya ke naraka atas perbuatan buruknya atau ke surga atas perbuatan baiknya. Tapi Surga ataupun Neraka bukanlah terminal terakhir. Setelah menjalani masa “rewarding” di surga ataupun neraka, jika Atma / roh belum benar benar bersih dengan perbuatannya maka ia dikasih kesempatan untuk lahir kembali guna memperbaiki dosa dosanya itu hingga ia benar- benar bersih dan menyatu kembali dengan Tuhan. Jadi Tuhan adalah terminal terakhir. Bukan Surga.

Itulah sebabnya mengapa doanya bukan “semoga mendapat tempat di sisiNYA”, karena objectivenya adalah untuk menyatu denganNYA, bukan terpisah dan berada di tempat yang berbeda (di sisiNYA).