Category Archives: Life

Sok Tahu…

Standard


Diantara jenis kacang-kacangan, saya sangat menyukai Kacang Macadamia. Sayangnya karena kacang itu jarang dijual di pasaran Jakarta dan jika adapun hanya di tempat tertentu saja dan harganya mahal, oleh karenanya saya hanya mampu menikmatinya sesekali saja. Paling banter 3-4 biji itupun saya dapat dari Mix Nut yang dijual di pasar. 

Dari informasi yang saya dapatkan di internet, kacang ini dibudidayakan di Australia. Karena dari 8 species yg ada, konon 7 adalah asli Australia  dan cuma 1 yang asli Sulawesi. Dan sayangnya, udah punya cuma 1 jenis, kelihatannya nggak ada pula orang kita  yang melirik dan menangkap peluang untuk  membudidayakan dan membisniskan kacang yang menurut saya super enak ini di Indonesia. Jadinya mahal deh jatuhnya….😢😢😢

Satu kali saya berhasil mendapatkan 1 kg kacang Macadamia mentah. Karena masih mentah, tentu harganya sedikit lebih miring dari yang sudah diroasted. Saya pikir saya akan panggang sendiri nantinya. “Gampanglah itu” pikir saya. 

Nah… tadi sore saya mulai menanaskan oven untuk memanggang kacang. Dengan riang gembira, saya menuang 1/2 kg kacang ini ke dalam tray dan meratakannya dengan maksud agar kacang -kacang ini mendapatkan pemanasan yang merata dan matang bersamaan. 

Karena baru pertama kali memanggang kacang, saya sebenarnya tidak tahu persis berapa lama dan berapa derajat seharusnya kacang ini dipanggang. Saya melirik sebentar. Rasanya kacangnya cukup tebal. Saya set pemanggangan di suhu 180° selama 20 menit. Cukup lama ya? Jadi kacangnya saya tinggal ke kamar dulu. “Ntar juga ovennya berbunyi sendiri jika sudah selesai” pikir saya. 

Sambil menunggu waktu, sayapun membuka buka Facebook, WA dan melihat lihat foto foto di Instagram. Jika main SosMed nggak terasa waktu berlalu. Penanda waktu oven berbunyi. Saya tidak bergegas. Masih mantengin Facebook untuk beberapa saat. Tiba-tiba saja tercium bau angit. Gosoong!!!. Waduuuh… kacang Macadamia saya gosong. 

Mama!Mama!. Kacangnya mama hangus” kata anak saya yang besar. Saya cepat bangkit dan berlari memeriksa pemanggangan. Benar saja. Gosong!. Aduuuh… sedihnya. 

Saya masih mencoba menyelamatkan beberapa biji yang terlihat agak kurang gosong diantara yang gosong gosong itu. Rasanya seperti menggigit biji kopi yang disangrai. Pahit pahit gimana gitu. Anak saya nyengir melihat kelakuan saya. 

Sedih banget sih. Tapi saya pikir saya masih punya 1/2 kg lagi. Jadi bisa saya coba panggang lagi ah. Mungkin waktu panggangnya harus saya kurangi sebentar. Saya tuang kira-kira 1/4 kg lagi di atas tray. Lalu saya masukan ke pemanggangan. Tadi kan 20 menit plus kira kira 5 menit sebelum tercium bau gosong. Coba kali ini saya set 15 menit. Mudah-mudahan aman. 

Saya tunggu 15 menit kemudian dan ternyata kacangnya…gosong lagi!. Ngwek ngwek ngwek ngwek…

Setelah kejadian itu barulah saya mencari tahu lewat  Google bagaimana caranya memanggang kacang macadamia. Ternyata kebanyakan menyarankan di suhu sekitar 100°-125°  selama 10-15 menit. Oooh! Jadi begitu ya. Pantesan kacang saya cepat gosong. Saya manggut-manggut dengan hati gundah gulana. 

Sekarang saya menyesali sikap “Sok Tahu” saya…

Untungnya (masih tetap untung juga😀😀😀), saya masih punya kacang mentah 1/4 kg lagi. Jadi besok saya harus lebih berhati-hati. 

Loksado Writers & Adventure 2017: Menuju Balai Adat Haruyan.

Standard

Setelah malam harinya  saya berkesempatan mengikuti diskusi hangat dalam temu muka para penyair dengan  para tetua adat suku Dayak Meratus, ketertarikan saya untuk mengunjungi pemukiman suku Dayak Meratus semakin meningkat. Walaupun saya belum pernah mengenal dekat suku Dayak sebelumnya, entah kenapa saya merasa sangat nyambung. Hati saya serasa terjalinkankan oleh sesuatu. 

Diskusi para peserta Loksado Writers dengan tetua adat Dayak Meratus. Foto milik Yulian Manan.

Saya coba memberi alasan logis kepada diri saya sendiri. Entah karena ada sebegitu banyak kosa kata dalam Bahasa Dayak yang diucapkan oleh para tetua adat itu yang sangat serupa dengan bahasa kampung saya. Mungkin itulah sebabnya mengapa saya merasa tersambung. 

Alasan yang lain, mungkin juga karena apa yang mereka paparkan, pengalaman, persoalan, peluang pariwisata serta kesulitan dan harapan yang mereka sampaikan serasa deja vu bagi saya yang lahir dan besar di daerah tujuan wisata. Serasa saya pernah berada di situasi itu. 

Malam itu ketika penyelenggara menawarkan pilihan untuk mengunjungi balai adat Malaris yang dekat dan mudah dijangkau, atau balai adat Haruyan yang berada di ujung dengan medan tempuh yang terjal serta tak bisa dilalui kendaraan roda empat, saya memilih untuk mengunjungi balai adat Haruyan.  Karena saya pikir saya akan lebih mudsh mengunjungi Malaris suatu saat nanti karena letaknya lebih dekat. 

Demikianlah esok paginya, kami berkendara dari Loksado melewati Loklahung menuju desa Malaris. Tepat di seberang desa Malaris kami turun, sebagian teman teman memilih menyeberang jembatan ke Malaris. Saya numpang ojek menuju Balai Adat Haruyan. Ada Pak Handrawan Nadesul, Pak Roymon Lemosol, Pak Hengky, Pak Trip Umiuki, Aldo (siapa lagi ya?). 

Jembatan gantung sempit di atas sungai Amandit dari arah sebaliknya. Pak Roymon Lemosol sedang menyeberang dengan motor. Foto milik Roymon Lemosol.

Perjalanan menuju Haruyan sungguh sangat berkesan. Pertama kami harus menyeberang Sungai Amandit melalui sebuah jembatan sempit yang melengkung ke atas. Tak bisa papasan. Yang lewat harus gantian. Ketika motor lewat, jembatan itupun ikut berguncang-guncang. Huaaa…rasanya ingin memejamkan mata, membayangkan yang tidak tidak. Bagaimana jika motornya limbung, mungkinkah saya nyebur ke sungai? * Ooh pikiran kerdil dan negative, pergilah menjauh dariku!. Di saat begitu, saya hanya punya satu pilihan: pasrahlah dan percayakan pada sang pengemudi. 
Selepas jembatan, jalanan agak datar dan cukup nyaman dilalui, walaupun tidak rata, agak rusak dan bergelombang. Ada jembatan kayu kecil yang terlihat mulai merapuh. Saya melihat dua orang tourist manca negara yang melihat lihat di sekitar. 

Kami melewati pemukiman penduduk dan ladang-ladang hingga ke tepi hutan.  Setelah itu mulailah petualangan yang sesungguhnya. 

Bunga kacang kacangan yang sangat cantik dari hutam pegunungan Malaris. Photo milik He Benyamin.

Pemukiman lenyap digantikan pepohonan bambu, meranti,  pakis-pakisan, kayu manis, jahe jahean, cucurbitaceae, dsb. Ada juga pohon luwak (sejenis fig) yang buahnya super lebat memenuhi batang, dahan dan rantingnya. 

Juga ada banyak bunga liar yang indah di sana. Bunga kacang kacangan yang cantik berwarna putih dengan bercak merah di tengahnya. Bunga jahe jahean yang berearna merah diseling putih. Alangkah indahnya. Lalu bunga-bunga keluarga labu hutan yang kuning benderang menyongsong matahari. Bermunculan di tepi hutan dan semak. Rasanya saya ingin turun dan mengamatinya sejenak. Tapi sayang, saya mengejar waktu. Khawatir tertinggal oleh teman teman yang lain. 

Hanya bisa berdecak kagum akan kayanya bumi Kalimantan. 

Jalanan sungguh membuat jantung berkali kali ingin meloncat dari posisinya. Betapa tidak, naiiiiik, lalu turuuuuuuuun. Datar sebentar lalu naiiiiiiiiik lagi dan beloookk dengan terjalnya. Lalu turuuuuuuun lagi. Dan itu harus kami lalui dalam kondisi jalan yang banyak bopeng bopengnya. Terlebih lagi dengan berat badan saya yang nggak kira kira ini, kasihan abang pengemudinya jadi kepencet oleh tubuh saya setiap kali menurun. Saya berusaha menahan dengan bantuan kedua tangan saya…tapi tetap saja 😥😥😥 . 

Saya membayangkan kesulitan yang dihadapi penduduk setempat yang harus melewati jalan ini setiap harinya. Berharap pemerintah setempat memberi akses yang lebih baik bagi penduduk setempat dan juga para wisatawan yang ingin berkunjung ke sini. 

Untuk mengimbangi kecemasan saya selama di perjalanan, saya ngobrol ngalor ngidul dengan sang pengemudi. Tentang adat istiadat, tentang kehidupan, tentang masalah sosial  dan sebagainya. Banyak hal hal menarik dan baru yang saya dapatkan dari percakapan itu. 

Secara umum saya menangkap bahwa keinginan masyarakat untuk maju di sana sesungguhnya cukup tinggi. Hanya saja dibutuhkan perhatian dan akses yang lebih baik dari pemda setempat selain juga motivator pembangunan yang memahami dengan baik adat istiadat serta budaya setempat sehingga keberlangsungan pembangunan daerah itu bisa berjalan dengan sebaik-baiknya tanpa harus melemahkan adat istiadat dan budaya setempat. Mungkin sejenis Sustainable Development program yang kira-kira yang bisa menjamin kebersinambungan perkembangan daerah itu secara paralel bersama dengan adat istiadat dan budayanya sekaligus. 

Saking serunya ngobrol, sehingga tak terasa tibalah kami di balai adat Haruyan setelah melalui beberapa lagi jalanan terjal. 

Bapak Penghulu Adat Haruyan menerima kunjungan peserta Loksado Writers 2017. Foto milik Roymon Lemosol.

Kami disambut oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan dan ibu beserta keluarganya. Kami berbincang bincang sebentar. 

Berbincang dengan Penghulu Adat Haruyan, Dayak Meratus Bapak Aeni. Foto milik Roymon Lemosol.

Bapak-bapak mengobrol dengan Bapak Aeni Penghulu adat Haruyan.  

Ibu penghulu adat Haruyan, Dayak Meratus.

Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu penghulu adat dan putrinya tentang keluarga, upacara adat, kegiatan para wanita, perawatan kebersihan wanita sehari hari hingga tanaman dan hasil panen. Obrolan yang penuh tawa canda seolah kami ini sudah bersahabat bertahun tahun.  

Senangnya berada di Haruyan. 

Loksado Writers & Adventure 2017. Menyimak Buku Antologi Puisi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia”.

Standard

Buku Antologi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia”

Salah satu hal yang saya “setengah tahu” tentang Loksado Writers &Adventure 2017 adalah bahwa ternyata penyelenggara telah meminta karya karya para penyair yang diundang ke forum untuk dikumpulkan dan dijadikan buku Antologi Puisi Hutan Tropis yang berjudul “dari Loksado Untuk Indonesia” sebelum kami tiba di sana. Whuaaa…keren!. 
Maksud saya dengan setengah tahu adalah bahwa saya tahu ada beberapa penyair telah menuliskan puisinya dari timeline facebook Mbak Agustina Thamrin, tetapi saya tidak tahu jika ternyata itu diterbitkan sebagai sebuah buku. Saya pikir sebelumnya hanya untuk selebaran saja ha ha.. Maafkan pikiran saya yang pendek dan sempit. 

Nah, malam hari saat acara penyambutan dan ramah tamah dengan para pemuka adat suku Dayak Meratus, saya mendapatkan buku bersampul cantik ini. Yuk kita bahas!. 

Mulai dari sampulnya dulu ya. Design sampul dan lay out dari buku ini sungguh menarik dan “Catchy”. Berlatar belakang biru langit, bergambarkan pohon, burung-burung dan kupu-kupu. Tiga hal yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Dan tentunya sangat representatif mewakili hutan tropis pegunungan Meratus. Pohon itu sangat cantik berhiaskan motif Dayak yang indah dengan warna etnik yang menarik. Agak mendua, karena selain keindahan yang terpancar, serasa ada yang membara di sana. Design buku ini disiapkan oleh penyair Salimi Ahmad, yang salah satu tulisannya juga dimuat dalam Antologi Puisi ini.

Buku diisi oleh karya-karya indah dari 17 penyair. Yang semuanya mengambil latar belakang Loksado dan Pegunungan Meratus sekitarnya. Siapakah mereka dan karyanya? 

1/. Adri Darmadji Woko. Penyair dan Wartawan senior ini menuliskan puisi berjudul “Tarian Enggang”. 

2/. Agustina Thamrin. Penyair kelahiran Banjarbaru Kalimantan Selatan yang sekaligus juga instruktur vokal ini memuat 2 buah tulisannya yaitu Gung Garantung dan Ketika Rimba Menggugat.

3/. Arsyad Indradi. Penyair fenomenal kelahiran Barabai ini menulis 2 puisi panjang yakni Minyak Balian dan Kuasapkan Kemenyan Saat Balian Mati.

4/. Bambang Widiatmoko. Penyair kelahiran Yogya (sayang saya tidak berkesempatan mengenal beliau di Loksado) menulis puisi dengan judul Persinggahan 1 dan Persinggahan 2.

5/. Cornelia Endah Wulandari. Satu lagi penyair wanita dari Kalimantan yang lahir di Hulu Sungai Tengah. Menulis puisi Perempuan dan Kopi Hutan. Puisinya ini dipilih oleh Aldo anak saya untuk dibacakan di acara malam Loksado.

6/. El Trip Umiuki. Penyair kelahiran Yogyakarta yang berdomisili di Tangerang ini menulis puisi Meratus (Juga) Indonesia. 

7/. Handrawan Nadesul. Penyair yang juga berprofesi sebagai dokter ini menulis puisi Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi. 

8/. Handry TM. Rasanya saya tak bertemu penyair ini di Loksado. Tapi tulisannya yang berjudul Dari Kriyo Ke Panitiranggang di muat di buku ini. 

9/. Kurniawan Junaedhie. Penyair kelahiran Magelang ini membuat 2 buah puisi untuk dimuat di buku ini .  Judul yang pertama Bersama Arsyad, Suatu Hari, Di Loksado. Satunya lagi berjudul Anak Samosir Di Surga Meratus.

10/. Micky Hidayat. Penyair yang juga penulis esai sastra dan teater ini menuliskan  Reportase Dari Kaki Pegunungan Meratus. Pada saat acara malam penyambutan Loksado Writers 2017, penyair dan seniman Isuur Loeweng bersama Bagan membawakan puisi ini. 

11/. Prasetyohadi Prayitno. Pimpinan redaksi majalah Kicau Bintaro ini menuliskan Haiku Meratus. 

12/. Rini Intama. Pendidik dan penulis kelahiran Jawa Barat ini menulis 2 buah puisi berjudul Perempuan Di Lereng Meratus dan Sasirangan.

13/. Roymon Lemosol. Penyair dengan cerita keberangkatan yang spektakuler menuju Loksado dari Ambon ini menulis Narasi Hujan Puncak Meratus. 

14/. Salimi Ahmad. Asli Jakarta. Menuliskan puisi dengan judul Meratus, Gunung Besar Dan Hutan yang terdiri atas 3 fragment I, II, III.

15/. Setia Budhi alias Budhi Borneo, dosen di Universitas Lambung Mangkurat ini menulis puisi Perahu Kayu Dari Sungai Amandit dan Jejak Padi Meratus.

16/. Sulis Bambang. Wanita yang berwiraswasta dan pekerja sosial ini menulus puisi Pulang dan Kangen.

17/. Yahya Andi Saputra. Pencinta tradisi lisan Sohibul Hikayat ini menulis sebuah puisi untuk Loksado Writers berjudul Monolog Perempuan Meratus. 

Jika kita menyimak puisi puisi yang termuat dalam buku ini, sangat mudah menemukan benang merah yang menghubungkan antar satu puisi ke puisi yang lain. Semuanya berbicara soal yang sama. Tentang alam Meratus dan sekitarnya!. Yang tentunya dibidik dari beragam sudut pandang yang berbeda beda. 

Yang sangat mengesankan adalah, walaupun sebagian besar penulisnya mengaku bahwa belum pernah mengunjungi Loksado atau daerah pegunungan Meratus sebelumnya, dan hanya memahaminya lewat informasi yang disajikan oleh Google, tetapi bagi pembaca awam seperti saya puisi puisi itu terasa sangat nge-link dengan alam Meratus. Terasa banget ketika dibacakan dalam acara Loksado Writers 2017 yang diselenggarakan di tepi Sungai Amandit di Loksado.

Pak Setia Budhi menjelaskan bahwa rencananya Loksado Writers ini akan meliputi seluruh Kalimantan. Dan yang disebut dengan Dayak Meratus itu bertempat tinggal membentang dari selatan, timur, tengah dan barat Kalimantan. Itu sebabnya Meratus yang kita sebut tidak hanya Loksado, tetapi juga Dayak Maanyan, Paser, Dayak Bawo,  Dayak Bahau, Dayak Tunjooy.  

Oleh karena itu, backdrop acara Loksado Writers tempat buku Antologi Puisi ini direlease juga didesign cepat sedemikian rupa agar semua suku Dayak se Kalimantan terwakili di Loksado. Dayak di Brunei, Dayak di Sabah dan Sarawak juga akan terwakili.

Secara umum jiwa dan nafas dari puisi puisi di Antologi Puisi Hutan Tropis itu tetap menyatu dengan alam Meratus dan Kalimantan pada umumnya.  Puisi adalah expresi jiwa, pikiran dan ungkapan perasaan setiap penyair atas apa yang ia lihat, dengar ataupun alami yang dalam hal ini adalah apa yang mereka ekspresikan untuk Kalimantan secara umum. 

Secara pribadi saya tertarik menyimak karya karya penyair kelahiran bumi Borneo. Agustina Thamrin, Arsyad Indradi, Cornelia Endah Wulandari, Micky Hidayat, Setia Budhi. Tentu saja sebagai pembaca saya tergelitik untuk ikut menyibak apa yang ada di alam pikir mereka yang memang sejak kecil ada di pulau besar itu. Karena merekalah yang lebih tahu. 

Ada Kepedihan dan Penderitaan terefleksi dengan sangat kuat dalam tulisan tulisan tangan para penyair Kalimantan ini. Hampir di semua tulisan. Misalnya:

Gung, biarkan aku menari Tandik Ngayau menebas perikeadilan yang pupus dan yang lampus” Agustina Thamrin dalam Gung Garantung.

Hutan rimba dijarah menjadi padang anaksima., Gunung batubara runtuh menjadi danau kubangan bumburaya. Meranti, lanan, ulin, para dijajah kelapa sawit menjadi halimatak, Dayak terperangkap dalam perangkap kabibitak“. Arsyad Indradi dalam Kuasapkan Kemenyan Saat Balian Mati. 

“…Buah kopi hutan yang tumbuh terhimpit oleh hamparan sawit milik investor. Hatinya kelu bercampur pilu. Ia rindu pada aroma harumnya bunga kopi Meratus dan hutan tropis yang hangat yang pernah dipuja di seantero negeri“. Cornelia Endah Wulandari dalam Perempuan dan Kopi Hutan.

Lalu misalnya penggalan dari puisi Micky Hidayat dalam Reportase Dari Kaki Pegunungan Meratus ” Maka aku pun tak sanggup lagi bertanya tentang hari depanmu. Tersebab hari depanmu adalah buldoser, ekskavator, chainsaw, dump truk, trailer, tronton, kontiner, tongkang,ekspor non migas, dan mesin mesin peradaban. Karena hari depanmu telah menjelma virus teknologi yang bersemayam di jantungku. Karena hari depanmu hanyalah sebuah kehancuran:erosi, longsor, danaudanau raksasa pasca eksploitadi dan eksplorasi batu bara tanpa reklamasi, banjir bandang, kobaran api, kabut asap…..”

Hal yang senafa jika kita simak puisi Jejak Padi Meratus  tulisan Setia B. Borneo. “Riwayat Meratus dalam rimbun daun kini mengering. Terbakar di atas kekuasaan menebas tabir mimpi Balian di balai balai. Jerit tangisan burung Enggang dan gelegar mesin gergaji. Kepak sayap luruh tercabut di sela rumahnya yang roboh sebelum pohon lain sempat bertunas. OoiiPunai yang bersarang di rantingranting Tengkawang. Berlimpah darah perlawanan, jangan menyerah“.

Saya menangkap, kepedihan itu adalah refleksi perasaan mereka terhadap apa yang berlangsung di Meratus. Yang jika tidak salah saya tangkap adalah menipisnya hutan-hutan akibat penebangan liar, penjarahan isi hutan besar-besaran oleh pemilik modal besar, kebakaran hutan, tanah longsor dan memudarnya kearifan lokal dan melemahnya adat istiadat dan budaya masyarakat asli Kalimantan. Sungguh tulisan yang sangat menyentuh,  membukakan mata hati dan jiwa akan apa yang tengah berlangsung di sana yang tidak terlihat dengan mudah oleh mata awam. 

Berharap pesan pesan dalam tulisan tulisan ini yang disusun oleh para penyair Kalimantan dan didukung oleh tulisan tulisan penyair lain dari luar Kalimantan dengan nada serupa, pesannya bisa sampai kepada pihak terkait, para pengambil keputusan, penentu kebijakan dan pelaksananya baik di tingkat Kabupaten,  Provinsi maupun di tingkat Nasional. Agar keputusan dan kebijakan apapun yang diambil tetap mengedepankan kelestarian lingkungan pegunungan Meratus dan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat penghuninya.

Buku Antologi Puisi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia” ini bisa saya katakan sebagai buku yang sangat bagus sekali untuk menjadi bacaan kita semua. Sangat menarik dan sangat membukakan mata.  Salah satu bentuk kepedulian para penyair atas apa yang terjadi saat ini di Meratus. Karena mengutip apa yang disampaikan oleh Pak Setia Budhi sang koordinator dalam pengantarnya “… sastrawan berikut karya sastranya hendaklah tidak terasing dari persoalan yang ada di masyarakat….”.

Cuma memang jika ada pertanyaan dimana kita bisa membeli buku ini, saat ini saya belum tahu jawabannya. Apakah sudah didistribusikan di toko toko buku nasional atau belum. Nanti bisa saya tanyakan ke panityanya. 

Semoga masa depan Meratus bisa menjadi jauh lebih baik. Alamnya tetap lestari dan masyarakat aslinya bisa terus maju seiring dengan perkembangan jaman tanpa harus meninggalkan adat istiadat dan budaya aslinya.

Salam hangat dari saya. 

Selamat Jalan & Terimakasih Ibu Guruku Tersayang. 

Standard

Kemarin saya mendapatkan kabar duka berpulangnya Ibu Anak Agung Ayu Anom Alit, ibu guru saya waktu Taman Kanak-Kanak. Dumogi Amor ring Acintya. Om Swargantu, Moksantu, Suryantu. Semoga atmannya menyatu kembali dengan Brahman. 

Berita itu saya terima lewat Whatsapp ketika saya sedang rapat di kantor. Tak mampu menyimpan rasa duka, sayapun berbisik kepada teman di sebelah saya tentang kedukaan hati saya. “Ooh guru waktu TK. Masih ingat, Bu?”komentar teman saya. Ya. Guru TK saya. Tentu saja saya masih ingat dan sangat berterimakasih atas jasa beliau dalam mendidik saya. 

Ibu Anom adalah Kepala Taman Kanak-Kanak Bhayangkari Bangli pada masa saya kecil. Bersama dengan Ibu Raden Roro Sri Imari (Bu Erna) dan Bu Pember, Bu Anom adalah guru pertama yang mendidik saya setelah ke dua orang tua saya. Kebetulan sekali ke tiga ibu guru kami ini adalah ibunda dari sahabat-sahabat baik saya. Bu Anom adalah ibunda dari Gung Swasta Wibawa, Bu Erna adalah ibunda dari Erna dan Bu Pember adalah ibunda dari Putu Purwanthi. Oleh karenanya, kedekatanpun kian terasa. 

Ketika pertama kali saya mengenal sosok “Guru” dalam hidup saya,  maka Bu Anom Alit inilah yang saya tahu dan sebut namanya pertama, beserta Bu Erna dan Bu Pember. Beliau memberikan dasar-dasar kepercayaan diri, tata krama, kedisiplinan, dasar-dasar pemahaman garis, bidang dan ruang serta mendorong saya untuk membuka serta mengasah bakat dan kemampuan saya. 

Tentu saja banyak kenangan yang tertinggal di hati saya tentang ibu guru kami ini. Kenangan yang indah tentunya. 

Dahulu, ada sebatang pohon Wani (Kemang) di depan halaman sekolah. Disanalah detiap pagi kami menunggu kedatangan Ibu guru. Jika sudah ada yang terlihat kami langsung mengelu-elukan dengan nyanyian:

Ibune sampun rawuhibune sampun rawuuuhibune sampun rawuuuh…” berulang -ulang dengan riang gembira.  Bu Anom akan mengembangkan senyumnya dan melambaikan tangannya pada kami. 

Setelah itu Bu Anom, Bu Erna dan Bu Pember akan meminta kami semua berbaris, siap grak, lencang kanan, lencang kiri dan berhitung sebelum masuk ke dalam kelas. Semuanya harus rapi dan semuanya harus disiplin. 

Belajar disiplin nggak selesai sampai di situ. Setelah masuk kami harus duduk dengan tertib di bangku masing-masing. Dan itupun ada ceremoninya. Sayang saya lupa lagunya. Tapi intinya dimulai dengan sikap duduk yang baik, dengan kedua tangan disilangkan di depan dada (sidakep). Dua tangan atas, lalu dibentangkan ke samping lalu silang. Barulah pelajaran di mulai. Mengenal garis lurus garis lengkung, bernyanyi, berdoa, menari dan sebagainya. 

Atas dorongan Bu Anom juga saya berani tampil untuk pertamakalinya di atas panggung dalam lomba menyanyi tunggal di Balai Masyarakat Bangli (sekarang bangunannya sudah tidak ada lagi dan berganti menjadi pasar senggol). Dan pertamakalinya juga saya tahu rasanya berkompetisi dan menang mendapatkan juara pertama dengan hadiah boneka ikan berwarna hijau yang sangat besar untuk ukuran tubuh saya saat itu. Saya masih memainkan boneka itu hingga sekitar kelas 4 SD. Dan saya tetap mengenang peristiwa itu di dalam hati saya. Beliau telah membangun kepercayaan diri saya. 

Guru TK adalah guru yang meletakkan pondasi pengetahuan pada setiap anak untuk dibangun berikutnya oleh guru guru sekolah lanjutan dan dosen beserta dengan orang tua dan masyarakat dengan melibatkan si anak itu sendiri.

Dan pastinya itulah yang telah dilakukan oleh Bu Anom Alit terhadap diri saya dan teman teman sehingga sekarang kami bisa mandiri dalam menjalani kehidupan. 

Selamat jalan Bu. Saya sangat berterimakasih. Berharap Ibu masih nendengarkan ucapan terimakasih saya dari atas sana. Kenangan tentang ibu akan selalu hidup di hati saya. 

TERASI

Standard

Awal tahun baru.Hari Selasa. Seorang teman saya baru balik dari pulang kampung di Cirebon. Seperti biasanya ia sangat rajin membawa oleh oleh. Semua orang kebagian. Termasuk saya sendiri. “Khusus untuk ibuibu yang suka memasak, oleholehnya terasi“katanya dengan wajah sumringah. Sayapun ikut tertawa sambil berterimakasih. 

Malam hari menjelang pulang dari kantor, buru-buru saya memasukkan terasi itu ke dalam tas. Takut kelupaan dan ketinggalan di kantor. 

Di jalan saya membuat rencana akhir pekan akan memasak Plecing Kangkung dengan sambel terasi udang Cirebon yang konon sangat sedap dan gurih karena masih asli dan traditional cara pembuatannya. Tapi rencana itu baru akan saya lakukan beberapa hari lagi ya. Sabtu atau Minggu lah. 

Nggak apa-apalah. Yang penting terasinya saya bawa  pulang dulu. 

******

Hari Kamis malam. Handphone saya bermasalah. Tiba-tiba ngadat. Nggak bisa dibuka sama sekali. Saya sangat sedih. Waduuh .. gimana ini ya?. Saya putuskan untuk membawanya ke tukang service hape di perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan saya mencoba mencari counter service hape. Tapi yg banyak adanya counter penjualan hape. 

Akhirnya saya diberitahu untuk pergi ke Borobudur di Ciledug. Di lantai 3 isinya semua urusan jual beli dan service hape. Sayapun meluncur ke sana. 

Setiba di tempat parkir, saya bersiap untuk masuk. Saya tidak terlalu mengenal tempat ini. Saya pikir mungkin lebih baik jika laptopnya saya bawa saja. Karena saya tidak terlalu yakin keamanannya jika saya tinggal di dalam kendaraan. 

Untuk membantu meringankan beban di pundak, sayapun mengeluarkan barang barang lain yang kurang berharga dari dalam tas.  Mainya akan saya tinggal di kendaraan saja. Buku. Tas kosmetik. Parfum. Charger laptop. 

Ketika mengeluarkan benda-benda itu, tiba-tiba tercium bau yang kurang sedap.Waduuuh. Bau apa ini?. Saya curiga itu datangnya dari dalam tas saya. Jangan-jangan ada cicak mati 😧. Atau buah atau makanan busuk barangkali? .

Saya ubek-ubek tak kelihatan apa-apa. Kebetulan tempat parkirnya juga agak gelap. Terpaksa saya keluarkan dulu seluruh isi tas. Tentu nggak enak dong berbau busuk kalau berjalan- jalan ke pertokoan, melintas di depan banyak orang pula. 

Astagaaaa!!!!!Ternyata…terasi yang saya masukkan ke dalam tas beberapa hari yang lalu 😅. Lupa menurunkan.

Selamat Tahun Baru 2017.

Standard

​Tahun berganti lagi. Tak terasa kita sudah berada di tahun 2017. Saya sendiri tidak kemana-mana. Hanya di rumah bersama anak-anak. Tidak ada kembang api dan tidak ada perayaan apapun. Awalnya sih niat mau bakar-bakar jagung, dan sudah beli pula jagung dan arangnya. Tapi berhubung tidak ada yang berminat, akhirnya batal juga. Semuanya memilih kegiatannya masing masing. Ada yang kembali ke laptop, bermain games, leyeh-leyeh dan ada juga yang masih ngotot nggak mau diganggu  dengan prakaryanya. 

Tapi bagi saya tidak apa-apa juga. Karena menurut saya,  for the best benefits, melakukan sesuatu itu harus dengan hati senang. Saya sendiri sempat tertidur hingga anak saya masuk membuka pintu kamar  dan berujar “mommy… happy new year” katanya melihat saya terbangun. Rupanya tepat jam 12.00 malam. 

Sayapun duduk dan tiba -tiba terpikir. Ini sudah masuk tahun 2017. Dan sangat bersyukur saya ada di sini. Berarti saya masih diberi kesempatan hidup guna memperbaiki perbuatan saya. Mendadak pikiran saya jadi melayang kemana-mana. 

Jika setiap tahun baru kita anggap sebagai sebuah milestone alias tonggak kilometer seperti yang ada di pinggir jalan,  maka ini adalah milestones yang ke 52 yang pernah saya lalui. Lumayan sudah agak panjang juga ya perjalanan saya? Walau tentu jawabannya relatif. Karena sebenarnya tak pernahlah kita tahu berapa banyak milestones lagi yang akan kita lalui hingga akhirnya menemui batas akhir perjalanan hidup ini. Ketika maut menjemput dan membawa kita kembali kepadaNya. Mungkin saja hanya  tinggal sedikit lagi, atau mungkin juga masih sangat panjang atau bahkan lebih panjang dari apa yang telah kita lewati. Who knows? 

Walau jumlah milestones yang di sisa perjalanan mungkin berbeda,  namun semua kehidupan tujuan akhirnya adalah sama yakni kembali kepada Sang Maha Pencipta. Menyatu kembali kepadaNya.  Dumogi amor ring Acintya -semoga kembali kepada Ia Yang Maha Tak Terpikirkan -demikian orang Bali biasanya berkata.

Jika tujuan akhirnya ujung-ujungnya sama dan jelas, maka yang lebih penting sekarang adalah bagaimana kita bisa membuat perjalanan dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas?. Berkwalitas maksud saya disini adalah perjalanan hidup yang  lebih bahagia dan yang menurut kita lebih bermakna. 

Ada yang merasa bahagia ketika sebagian besar hasrat indra fisiknya terpenuhi.Memiliki sesuatu yang indah untuk dilihat dan didengar, sesuatu yang wangi untuk dicium, sesuatu yang enak untuk dirasakan dan  sesuatu yang nyaman untuk disentuh. Yang kemudian diterjemahkan sebagai hasrat makan, hasrat untuk minum, hasrat sexual dan sebagainya.

Ada  yang merasa bahagia ketika mampu meningkatkan strata sosialnya dengan mengumpulkan dan membangun kekayaan materi dan kekuasaan. Entah semata untuk dirinya atau juga sebagian untuk menyenangkan keluarganya atau orang lain. 

Ada juga yang merasa bahagia ketika setiap saat mampu tetap melangkah di jalan dharma. Selalu bisa berbuat baik  dan membantu sesama mahluk ciptaanNYa. 

Dan ada lagi yang merasa bahagia dalam pencarian makna hidup dan spiritual dalam perjalanannya untuk kembali kepadaNya. 

Walaupun pada kenyataannya mungkin ada orang yang kebahagiaannya lebih ditrigger oleh hanya salah satu aspek saja, sementara  aspek yang lain tak mampu membuatnya tergetar, namun sesungguhnya kebahagiaan yang dipicu oleh pemenuhan hasrat duniawi dan materi  sifatnya hanya sesaat dan tidak kekal.  Sementara kebahagiaan yang ditrigger oleh pemenuhan diri dalam menjalankan perbuatan-perbuatan baik bagi sesama mahluk ciptaanNya serta dalam upaya mendekatkan diri kepadaNYa selalu lebih long last dan abadi. 

Di sinilah letak tantangannya. Bagaimana kita bisa mencapai kebahagiaan yang lebih kekal atau sedikitnya mem”balanced” kebahagiaan itu sehingga setiap saat dalam perjalanan kita dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas. 

Selamat tahun baru 2017!.

You’ve Broken My Heart…

Standard

​​​Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

​​Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. ​Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

​Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

​Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

​Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu. 

Mohammad Nasucha: Pemahaman Utuh, Serta Kemandirian Bangsa. 

Standard

Mohammad Nasucha (dok.pribadi milik M. Nasucha).

​Kerapkali kita mendengar pertanyaan sejenis begini dalam obrolan sehari-hari : “Tinggi banget penetrasi mobile phone di Indonesia, tapi kok masih import semua ya?.

Atau, “Pasar kendaraan di Indonesia segitu gedenya, tapi kok merk luar semua ya ?”.  

Terus dilanjutkan dengan statement nyinyir yang tidak menolong macam begini” Ya iya lah. Wong peniti aja masih import, boro boro bisa bikin handphone sendiri

Tentu saja, merupakan suatu hal penting bisa mengidentifikasi kelemahan diri sendiri. Namun jika tidak dibarengi dengan kemampuan melihat kekuatan dan membaca peluang-peluang  yang ada serta resikonya, maka kelemahan akan tetap menjadi kelemahan yang abadi. Oleh karena itu saya lebih senang membicarakan hal-hal positive yang memberi pencerahan, memberi pemecahan masalah dan terobosan baru daripada mengeluh. Juga salut dan bangga bisa mengenal orang-orang yang mau bekerja keras dan terus menerus meletakkan semangatnya untuk perbaikan dan pembaharuan. 

Dok. milik M. Nasucha.

​Berkaitan dengan pertanyaan seputar “Mengapa kita masih saja mengimport nyaris semua barangbarang teknologi tanpa mampu menciptakan dan memproduksinya sendiri ?”, saya ingat beberapa waktu yang lalu saya pernah terlibat dalam pembicaraan sepintas dengan teman saya Mohammad Nasucha, seorang yang mendalami Digital System termasuk Robotics yang saat ini menjadi lecturer di sebuah Universitas di Jakarta.

Saat itu, sambil makan di foodcourt di Bintaro Xchange, kami sedang mengobrolkan robot. Menurut Pak Nash (panggilan para mahasiswanya), saat ini sudah cukup banyak  orang Indonesia yang memiliki kemampuan merakit robot.  Tetapi sebenarnya, belum ada yang benar-benar mampu membuat robot dalam artian sebenarnya. Mengapa? Karena kita belum mampu membuat sendiri spare parts-nya. Sebagai akibatnya, kita jadi terpaksa mengimport spare part -spare part itu, lalu merakitnya di sini.Kita tergantung pada pihak luar yang menyediakan spare parts. Lho? Mengapa begitu? 

Iya. Menurutnya, itu karena kita memiliki kelemahan  dalam pemahaman fundamental electronics yang utuh dan menyeluruh. Padahal pemahaman yang utuh ini  sangat dibutuhkan dan menjadi syarat bagi seseorang untuk bisa membuat produk termasuk memproduksi spare parts-nya.

Diam-diam saya merasa takjub mendengarkan pemaparannya. Sebagai orang awam di bidang teknologi, saya belum pernah memikirkan aliran hulu-hilir produksi benda-benda teknologi ini. Jadi saat itu saya hanya manggut manggut saja mendengarkan Pak Nash bicara.  

Tersirat dari pembicaraan itu, kalau  Pak Nash memiliki mimpi untuk melihat sebagian dari generasi muda kita suatu saat bisa menjadi ilmuwan dan praktisi sepintar para ilmuwan dan praktisi Jerman atau Jepang yang mampu membuat perangkat-perangkat berbasis IT  berlandaskan penguasaan ilmu yang utuh.

Saya tidak berkomentar apa-apa karena tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, walaupun dalam hati saya merasa seiring dengan pemikiran Bapak ini. 

Pada saat ini, tradisi pengajaran di dinas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah maupun Pendidikan Tinggi di Indonesia  masih berupa pembelajaran dengan materi yang terpotong-potong. Tradisi  seperti ini tidak mampu menjelaskan kepada “students”, tentang hubungan antara satu muatan dengan muatan-muatan lain yang terkandung dalam potongan-potongan pembelajaran itu. Padahal untuk memgembangkan dan memproduksi sebuah perangkat yang baik, seseorang harus memahami  siklus lengkap dari sebuah “product development”. 

Sementara, siklus lengkap dari ‘product development” hanya bisa dikuasai oleh generasi muda kita, jika dalam system pembelajaran ini para students dibimbing olah pengajar yang benar-benar menguasai  bidangnya serta mampu menunjukkan benang merah yang menghubungkan  setiap element yang ada di dalamnya. 

Beliau berharap suatu waktu punya kesempatan membimbing ratusan anak muda yang berdeterminasi tinggi. Dan bagi anak muda yang secara khusus tertarik dengan Digital System, Pak Nash akan membimbing mereka menjadi orang-orang hebat yang mampu berproduksi sendiri, yang akan menjadi role model untuk generasi muda lainnya yang bergerak di bidang lain. 

Belakangan saya tahu bahwa ternyata Pak Nash bukan saja memotori upaya -upaya pembuatan  robot dan perangkat ekektronik lainnya (bukan hanya sekedar merakit mainan), namun Pak Nash ternyata adalah orang yang berada di balik semangat penciptaan mobil listrik ramah lingkungan  Rinus  C1  yang dibuat anak-anak SMA Pembangunan Jaya di Jakarta -diberitakan di TV pada tahun 2013. *Mudah-mudahan saya punya kesempatan, ingin sekali mengulas tentang mobil listrik ini di tulisan berikutnya suatu saat nanti. 

                     *****

Mohammad Nasucha. Saya mengenal sosok ini melalui proses yang tak pernah saya duga sebelumnya.Bermula dari cerita anak saya bahwa salah seorang guru sekolahnya memperkenalkannya pada seorang  sosok  yang menurut anak saya super keren. Beliau adalah seorang yang mendalami sistem digital termasuk robotics, dan sekaligus juga adalah dosen di sebuah Universitas di Jakarta. “Jago banget, Ma. Namanya Pak Nash“. Saya mendengarkan anak saya dengan khidmat. 

Kali berikutnya ia mengutarakan keinginannya untuk bisa belajar dan mendapat mentoring langsung dari pria yang menyihir perhatiannya itu. “Sebenarnya Pak Nash sangat sibuk. Bener-bener nggak punya waktu.Tapi  masih mau ngasih waktunya yang sudah sangat sedikit itu hanya untuk ngajarin aku. Tidak ada kesempatan lebih baik lagi dari ini, Ma“. Jelas anak saya. Saya hanya mikir, bagaimana mungkin seorang dosen mau membuang waktunya untuk anak saya yang masih baru di SMA ini. Tapi anak saya sangat yakin “I want you to meet him, please…“lanjutnya meminta. Wah..ini mengingatkan saya akan cerita- cerita Kho Ping Ho. Murid dan Suhu yang cocok itu memang mirip jodoh. Mereka saling mencari.  Biasanya karena mereka memiliki persamaan value dan vision dalam hidupnya.

Lalu saya mulai men-search namanya di Google, bermaksud mengenalnya lebih jauh. Saya menemukan sebuah articlenya tentang robot. Cukup memberi indikasi kepada saya tentang sosok yang dimaksudkan oleh anak saya. 

Demikianlah akhirnya saya dan suami bertemu dengan Pak Nash. Kami mengobrol dan beliau banyak bercerita tentang pandangan pandangannya dalam bidang science dan plannya dalam membimbing anak kami. Sebenarnya saya sudah banyak lupanya dan tentunya kurang update lagi di bidang science dan technology. Tapi untungnya kami masih bisa nyambung ngobrol. 

Kemarin, ketika kami jalan berdua, anak saya berkata “Mommy, thanks“. Saya heran “…thanks for what? Tanya saya. “Thanks for your support!. Sudah mengijinkan aku bertemu dan dimentoring sama Pak Nash. Pak Nash itu sangat baik, sangat reasonable dan sangat pintar, Ma. Persis seperti gambaran  guru ideal dalam pikiranku” katanya. Saya terharu mendengar kalimat anak saya. Kemudian saya menepuk punggungnya. Anak yang baik. Selalu ingat bersyukur dan berterimakasih. Anak yang penuh semangat sudah selayaknya mendapat support terbaik. 

Indonesia membutuhkan sosok guru yang membangun mental mandiri pada anak didiknya. Karena mental mandiri pada setiap generasi muda akan mengantarkan bangsa kita menuju pada kemandirian dan tak selalu harus bergantung pada bangsa lain. Dan saya melihat hal ini pada sosok Pak Nash. 

Pak Nash menunjukkan pada kita bahwa complaint saja tidak cukup. Tapi lakukanlah sesuatu. Dalam bentuk apapun!. Walau sekecil apapun!. Untuk membangun kemandirian kita sebagai bangsa.Produksi sendiri dan ajarkan orang lain agar bisa mandiri.

Hidup Adalah Tentang (Berusaha) Mewujudkan Mimpi.

Standard

*Dapur Hidup: Stacking, Menyiasati Pekarangan Sempit*.

​​Ketika kecil, saya sering bermimpi. Mimpi tinggal di sebuah rumah kecil yang di kelilingi ladang luas penuh buah-buah tomat yang merah ranum,  kentang, labu parang, semangka dan berbagai sayuran yang hijau segar. Serta kandang ayam petelor dengan kokok ayam jago yang membangunkan tidur saya di pagi hari. Rumah  ladang impian saya  itu dihiasi dengan bunga mawar pagar yang mekar super banyak berwarna pink dan wanginya semerbak  ke mana-mana. Romantis banget kan impian saya itu? 

Ketika saya dewasa, sebagian impian itu menjadi kenyataan. Saya tinggal di sebuah rumah kecil. Sama ya dengan mimpinya?. Juga dikelilingi tanaman sayuran. Sama juga dengan mimpi saya. 
Tapi bedanya, rumah saya dikelilingi halaman yang sempit (bukan ladang yang luas) yang tentunya tidak muat untuk menampung semua tanaman sayuran impian itu. Boro-boro kandang ayam petelor. Jauhlah dari mimpi. Dan bunga bunga mawar pagar yang pink romantis? Mmmm… lupakan lah itu, karena mimpi kanak-kanak saya tak pernah menjelaskan bahwa mawar pagar hanya tumbuh di ketinggian tertentu di atas permukaan laut. Hanya ada di kampung saya di Kintamani sana dan daerah pegunungan lainnya. Sementara sekarang saya tinggal di Jakarta (eh… sebenarnya TangSel deh…) di mana udaranya panas dan sudah pasti mimpi tentang bunga mawar pagar itu sudah terbang entah kemana. Sudah pernah saya tanam (Waktu itu batangnya saya ambil dari Puncak, Bogor). Tapi hanya batangnya saja yang memanjang dan gendut. Bunganya tiada kunjung muncul. Aah… tidak ada romantis-romantisnya amat tanaman ini ketika dibawa ke kota. 

Dengan kenyataan dunia ini,  apakah saya harus berhenti bermimpi? Oww…tentu tidaakkkk!!!!. Saya harus berusaha menikmati hidup sedekat mungkin dengan mimpi masa kecil saya itu. *Kedengeran agak keras kepala, agak ngeyel dan sedikit sombong ya?  

Ha ha… tentu saja karena kenyataannya lahan pekarangan saya sangat sempit saat ini (itu harus saya terima dengan penuh syukur), tapi saya harus mikir bagaimana caranya mengoptimalkan setiap centimeter pekarangan itu agar menghasilkan bahan makanan Sebanyak mungkin.

Saat ini hampir semua permukaan  terbuka di halaman saya tidak ada yang kosong. Full dengan tanaman.Mau diletakkan di ruangan, tanaman tidak dapat sinar matahari. Pertumbuhannya terganggu. Kerdil dan ‘nyalongcong’ kata teman saya yang orang Sunda. Tinggi langsing dan pucat pasi.  Jadi bagaimana akal? satu-satunya areal yang kosong adalah di udara!.  Ya…di udara adalah tempat yang paling memungkinkan bagi saya 2vesaat ini. 

Akhirnya saya berpikir untuk melakukan penumpukan box box tanaman itu ke atas saja selain menggantungnya di udara. Stacking!. Bisa menggunakan rak atau bisa juga memasang paku dan papan penyangga di dinding.

Stacking 4-5 tingkat ke atas, rasanya cukup banyak dan saya letakkan pada dinding. Dengan cara ini memungkinkan saya untuk memberi peluang yang sama kepada setiap tanaman untuk terpapar sinar matahari. Nah …setidaknya saya bisa memproduksi lebih banyak sayuran dengan cara begini. 

Rak ini memuat 3 box kangkung, 3 box selada. 3 box pak choi dan 1 box kailan dan 1 box tanaman sawi jenis lainnya. Lumayan banget ya buat Dapur Hidup berlahan sempit. 

Impian saya untuk hidup di tengah tanaman sayuran, sekarang satu langkah lebih mendekat. Walaupun lahan sangat sempit.

Hidup adalah tentang mewujudkan mimpi. Jangan pernah mau menyerah pada keterbatasan. Jika kenyataan hidup memberi banyak keterbatasan, cari cara agar impian kita semakin mendekat. Minimal mirip-miriplah.Yuk kita terus berusaha!!!.

Apa mimpimu, kawan? 

Laptopku Belahan Jiwaku.

Standard

Ini cerita tentang laptop saya. Milik kantor maksudnya. Umurnya sudah lebih  dari 5 tahun. Sudah usang dimakan usia dan compal-compel tampangnya. Beberapa bautnya sudah copot. Demikian juga penutup kabel di lipatannya. Tapi masih bagus fungsinya.Saya sangat sayang kepadanya.  

​Karena sudah tua, tahun yang lalu perusahaan membelikan saya laptop yang baru. Lalu saya ditanya oleh teman saya yang di IT,” Ibu, kapan mau diganti laptopnya? Barangnya sudah ada“. Mmmm… bukan saya tidak ingin laptop baru itu, tapi saat ini sedang terlalu banyak pekerjaan  yang urgent sehingga tidak punya waktu untuk memback up data dari laptop yang lama. Jikapun saya dibantu memback-up data tetap saja saya tak bisa menggunakannya minimal 1 hari. Jadi penukarannya saya tunda. 

Bulan berikutnya, saya ditanya lagi pertanyaan yang sama”Ibu, kapan mau ganti laptopnya?”. Ooh… sudah sebulan ya. Sungguh tak terasa. Tapi kali ini kebetulan saya juga sedang sangat sibuk. Jadi saya minta tunda ke bulan berikutnya. Demikian berkali-kali hingga berbulan-bulan lewat. Saya masih menggunakan laptop saya yang usang. 

Suatu hari, teman saya bertanya apakah boleh memberikan laptop baru yang belum saya ambil-ambil juga itu kepada rekan kerja saya yang lain? Kebetulan laptopnya rusak dan butuh laptop baru dengan spec yang serupa dengan saya. Teman saya itu berkata bahwa laptop penggantinya akan segera dibelikan dan diserahkan kepada saya. Ya saya setuju. 

Ketika laptop baru penggantinya datang, saya ditanya lagi kapan akan menukar laptop saya yang usang dengan yang baru. Sungguh apes, saat ditanya lagi-lagi saya sedang sangat sibuk waktu itu dan benar benar tidak sempat. Jadi saya meminta waktu lagi. Demikianlah sampai teman saya bosan  dan berhenti bertanya. 

Suatu kali ketika saya mengikuti sebuah meeting regional di Malaysia. Duduk di sebelah saya seorang teman yang dulunya pernah bertugas di Indonesia. Jadi ia sudah hapal betul perkara laptop tua saya itu. “Hi, you really love your notebook“, komentarnya neligat komputer saya yang semakin compang camping.  Saya cuma nyengir.Tapi boss saya yang duduk di sisi kanan saya rupanya ikut mendengar. Lalu melirik laptop saya dan berkata”Bukannya sudah ada yang baru?” *rada sensitive, soalnya menyangkut harga diri unit kerja.he he. Ya. Saya pikir setelah balik ke Indo laptopnya akan segera saya ganti dengan yang baru agar tidak malu-maluin.

Setelah pulang, saya lupa lagi dengan urusan menukar laptop ini. Bahkan hingga quarter berikutnya saya harus datang lagi ke meeting regional di negara yang sama, laptop tua saya itu belum juga tergantikan. 

Hingga beberapa minggu yang lalu. Sebuah email masuk menanyakan kapan saya akan menukar laptop. Saya menjanjikan sebuah tanggal tapi ternyata kemudian saya tidak bisa lagi karena persis di tanggal itu, laptop tua itu harus saya bawa dan perlukan untuk urusan pekerjaan di Taiwan. 

Pagi ini saya akan berangkat ke kantor. Semua keperluan sudah masuk ke dalam tas dan saya tinggal berangkat. Tiba tiba mendapat kenyataan kalau pak supir yang biasa mengantar saya kerja tidak datang. Padahal saya ada meeting super penting hari ini. 

Suami saya setuju akan mengantarkan saya ke kantor, tetapi saya harus menunggu sebentar karena ia sedang dalam perjalanan mengantar anak saya ke sekolah. Sementara menunggu, saya membuka laptop untuk membaca-baca materi yang akan dipresentasikan oleh team saya hari ini. Beberapa belas menit kemudian, suami saya datang. Saya bergegas nenutup laptop, memakai sepatu dan berlari menenteng tas saya langsung masuk kendaraan. 

Perjalanan ke kantor memakan waktu kurang lebih 45 menit. Tapi pagi ini sangat macet.Jadi saya nikmati saja sambil ngobrol dengan suami.Tibalah kami di kantor. Saya mengangkat tas saya. Heran. Kok tumben ringan sekali ya?. Sayapun curiga…  Astaga!!!. Komputer saya ketinggalan di rumah. Saya panik. Suami saya menegur keteledoran saya dan mengatakan tidak punya waktu lagi untuk mengambilkan dan mengantarkan laptop saya karena iapun sudah terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya sendiri. Saya sangat mengerti dan melangkah masuk ke kantor dengan lunglai.

Dalam keadaan begitu, saya berpikir akan meminjam laptop cadangan dari IT dan meminta copy semua bahan presentasi hari itu kepada team saya. Teman saya yang di IT mendengarkan cerita saya dan berkata “Ibu pakai saja laptop baru yang memang sudah dibelikan untuk ibu sejak lama“. 

​Ha!. Karena keadaan memaksa,  akhirnya saya terpaksa menggunakan laptop baru yang sudah nangkring berbulan -bulan lamanya di sana.  

Sekarang saya tak punya pilihan, harus mengganti laptop saya yang sudah renta dan compang camping itu dengan yang muda, segar dan lebih kinclong. Tentu saja saya sangat berterimakasih padanya, yang telah merekam perjalanan aktifitas pekerjaan dan pemikiran saya selama lebih dari 5 tahun terakhir ini. 

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Walaupun kita terlalu malas untuk mengikuti perubahan, rupanya selalu ada mekanisme alam yang mendorong kita terpaksa melakukan pembaharuan.