Category Archives: Life

TERASI

Standard

Awal tahun baru.Hari Selasa. Seorang teman saya baru balik dari pulang kampung di Cirebon. Seperti biasanya ia sangat rajin membawa oleh oleh. Semua orang kebagian. Termasuk saya sendiri. “Khusus untuk ibuibu yang suka memasak, oleholehnya terasi“katanya dengan wajah sumringah. Sayapun ikut tertawa sambil berterimakasih. 

Malam hari menjelang pulang dari kantor, buru-buru saya memasukkan terasi itu ke dalam tas. Takut kelupaan dan ketinggalan di kantor. 

Di jalan saya membuat rencana akhir pekan akan memasak Plecing Kangkung dengan sambel terasi udang Cirebon yang konon sangat sedap dan gurih karena masih asli dan traditional cara pembuatannya. Tapi rencana itu baru akan saya lakukan beberapa hari lagi ya. Sabtu atau Minggu lah. 

Nggak apa-apalah. Yang penting terasinya saya bawa  pulang dulu. 

******

Hari Kamis malam. Handphone saya bermasalah. Tiba-tiba ngadat. Nggak bisa dibuka sama sekali. Saya sangat sedih. Waduuh .. gimana ini ya?. Saya putuskan untuk membawanya ke tukang service hape di perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan saya mencoba mencari counter service hape. Tapi yg banyak adanya counter penjualan hape. 

Akhirnya saya diberitahu untuk pergi ke Borobudur di Ciledug. Di lantai 3 isinya semua urusan jual beli dan service hape. Sayapun meluncur ke sana. 

Setiba di tempat parkir, saya bersiap untuk masuk. Saya tidak terlalu mengenal tempat ini. Saya pikir mungkin lebih baik jika laptopnya saya bawa saja. Karena saya tidak terlalu yakin keamanannya jika saya tinggal di dalam kendaraan. 

Untuk membantu meringankan beban di pundak, sayapun mengeluarkan barang barang lain yang kurang berharga dari dalam tas.  Mainya akan saya tinggal di kendaraan saja. Buku. Tas kosmetik. Parfum. Charger laptop. 

Ketika mengeluarkan benda-benda itu, tiba-tiba tercium bau yang kurang sedap.Waduuuh. Bau apa ini?. Saya curiga itu datangnya dari dalam tas saya. Jangan-jangan ada cicak mati ūüėß. Atau buah atau makanan busuk barangkali? .

Saya ubek-ubek tak kelihatan apa-apa. Kebetulan tempat parkirnya juga agak gelap. Terpaksa saya keluarkan dulu seluruh isi tas. Tentu nggak enak dong berbau busuk kalau berjalan- jalan ke pertokoan, melintas di depan banyak orang pula. 

Astagaaaa!!!!!Ternyata…terasi yang saya masukkan ke dalam tas beberapa hari yang lalu ūüėÖ. Lupa menurunkan.

Selamat Tahun Baru 2017.

Standard

‚ÄčTahun berganti lagi. Tak terasa kita sudah berada di tahun 2017. Saya sendiri tidak kemana-mana. Hanya di rumah bersama anak-anak. Tidak ada kembang api dan tidak ada perayaan apapun. Awalnya sih niat mau bakar-bakar jagung, dan sudah beli pula jagung dan arangnya. Tapi berhubung tidak ada yang berminat, akhirnya batal juga. Semuanya memilih kegiatannya masing masing. Ada yang kembali ke laptop, bermain games, leyeh-leyeh dan ada juga yang masih ngotot nggak mau diganggu  dengan prakaryanya. 

Tapi bagi saya tidak apa-apa juga. Karena menurut saya,  for the best benefits, melakukan sesuatu itu harus dengan hati senang. Saya sendiri sempat tertidur hingga anak saya masuk membuka pintu kamar  dan berujar “mommy… happy new year” katanya melihat saya terbangun. Rupanya tepat jam 12.00 malam. 

Sayapun duduk dan tiba -tiba terpikir. Ini sudah masuk tahun 2017. Dan sangat bersyukur saya ada di sini. Berarti saya masih diberi kesempatan hidup guna memperbaiki perbuatan saya. Mendadak pikiran saya jadi melayang kemana-mana. 

Jika setiap tahun baru kita anggap sebagai sebuah milestone alias tonggak kilometer seperti yang ada di pinggir jalan,  maka ini adalah milestones yang ke 52 yang pernah saya lalui. Lumayan sudah agak panjang juga ya perjalanan saya? Walau tentu jawabannya relatif. Karena sebenarnya tak pernahlah kita tahu berapa banyak milestones lagi yang akan kita lalui hingga akhirnya menemui batas akhir perjalanan hidup ini. Ketika maut menjemput dan membawa kita kembali kepadaNya. Mungkin saja hanya  tinggal sedikit lagi, atau mungkin juga masih sangat panjang atau bahkan lebih panjang dari apa yang telah kita lewati. Who knows? 

Walau jumlah milestones yang di sisa perjalanan mungkin berbeda,  namun semua kehidupan tujuan akhirnya adalah sama yakni kembali kepada Sang Maha Pencipta. Menyatu kembali kepadaNya.  Dumogi amor ring Acintya -semoga kembali kepada Ia Yang Maha Tak Terpikirkan -demikian orang Bali biasanya berkata.

Jika tujuan akhirnya ujung-ujungnya sama dan jelas, maka yang lebih penting sekarang adalah bagaimana kita bisa membuat perjalanan dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas?. Berkwalitas maksud saya disini adalah perjalanan hidup yang  lebih bahagia dan yang menurut kita lebih bermakna. 

Ada yang merasa bahagia ketika sebagian besar hasrat indra fisiknya terpenuhi.Memiliki sesuatu yang indah untuk dilihat dan didengar, sesuatu yang wangi untuk dicium, sesuatu yang enak untuk dirasakan dan  sesuatu yang nyaman untuk disentuh. Yang kemudian diterjemahkan sebagai hasrat makan, hasrat untuk minum, hasrat sexual dan sebagainya.

Ada  yang merasa bahagia ketika mampu meningkatkan strata sosialnya dengan mengumpulkan dan membangun kekayaan materi dan kekuasaan. Entah semata untuk dirinya atau juga sebagian untuk menyenangkan keluarganya atau orang lain. 

Ada juga yang merasa bahagia ketika setiap saat mampu tetap melangkah di jalan dharma. Selalu bisa berbuat baik  dan membantu sesama mahluk ciptaanNYa. 

Dan ada lagi yang merasa bahagia dalam pencarian makna hidup dan spiritual dalam perjalanannya untuk kembali kepadaNya. 

Walaupun pada kenyataannya mungkin ada orang yang kebahagiaannya lebih ditrigger oleh hanya salah satu aspek saja, sementara  aspek yang lain tak mampu membuatnya tergetar, namun sesungguhnya kebahagiaan yang dipicu oleh pemenuhan hasrat duniawi dan materi  sifatnya hanya sesaat dan tidak kekal.  Sementara kebahagiaan yang ditrigger oleh pemenuhan diri dalam menjalankan perbuatan-perbuatan baik bagi sesama mahluk ciptaanNya serta dalam upaya mendekatkan diri kepadaNYa selalu lebih long last dan abadi. 

Di sinilah letak tantangannya. Bagaimana kita bisa mencapai kebahagiaan yang lebih kekal atau sedikitnya mem”balanced” kebahagiaan itu sehingga setiap saat dalam perjalanan kita dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas. 

Selamat tahun baru 2017!.

You’ve Broken My Heart…

Standard

‚Äč‚Äč‚ÄčOrang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

‚Äč‚ÄčIa menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. ‚ÄčTerseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

‚Äč

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

‚Äč

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

‚ÄčDan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

‚ÄčTapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

‚ÄčAduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu. 

Mohammad Nasucha: Pemahaman Utuh, Serta Kemandirian Bangsa. 

Standard

Mohammad Nasucha (dok.pribadi milik M. Nasucha).

‚ÄčKerapkali kita mendengar pertanyaan sejenis begini dalam obrolan sehari-hari : “Tinggi banget penetrasi mobile phone di Indonesia, tapi kok masih import semua ya?.

Atau, “Pasar kendaraan di Indonesia segitu gedenya, tapi kok merk luar semua ya ?”.  

Terus dilanjutkan dengan statement nyinyir yang tidak menolong macam begini” Ya iya lah. Wong peniti aja masih import, boro boro bisa bikin handphone sendiri

Tentu saja, merupakan suatu hal penting bisa mengidentifikasi kelemahan diri sendiri. Namun jika tidak dibarengi dengan kemampuan melihat kekuatan dan membaca peluang-peluang  yang ada serta resikonya, maka kelemahan akan tetap menjadi kelemahan yang abadi. Oleh karena itu saya lebih senang membicarakan hal-hal positive yang memberi pencerahan, memberi pemecahan masalah dan terobosan baru daripada mengeluh. Juga salut dan bangga bisa mengenal orang-orang yang mau bekerja keras dan terus menerus meletakkan semangatnya untuk perbaikan dan pembaharuan. 

Dok. milik M. Nasucha.

‚ÄčBerkaitan dengan pertanyaan seputar “Mengapa kita masih saja mengimport nyaris semua barangbarang teknologi tanpa mampu menciptakan dan memproduksinya sendiri ?”, saya ingat beberapa waktu yang lalu saya pernah terlibat dalam pembicaraan sepintas dengan teman saya Mohammad Nasucha, seorang yang mendalami Digital System termasuk Robotics yang saat ini menjadi lecturer di sebuah Universitas di Jakarta.

Saat itu, sambil makan di foodcourt di Bintaro Xchange, kami sedang mengobrolkan robot. Menurut Pak Nash (panggilan para mahasiswanya), saat ini sudah cukup banyak  orang Indonesia yang memiliki kemampuan merakit robot.  Tetapi sebenarnya, belum ada yang benar-benar mampu membuat robot dalam artian sebenarnya. Mengapa? Karena kita belum mampu membuat sendiri spare parts-nya. Sebagai akibatnya, kita jadi terpaksa mengimport spare part -spare part itu, lalu merakitnya di sini.Kita tergantung pada pihak luar yang menyediakan spare parts. Lho? Mengapa begitu? 

Iya. Menurutnya, itu karena kita memiliki kelemahan  dalam pemahaman fundamental electronics yang utuh dan menyeluruh. Padahal pemahaman yang utuh ini  sangat dibutuhkan dan menjadi syarat bagi seseorang untuk bisa membuat produk termasuk memproduksi spare parts-nya.

Diam-diam saya merasa takjub mendengarkan pemaparannya. Sebagai orang awam di bidang teknologi, saya belum pernah memikirkan aliran hulu-hilir produksi benda-benda teknologi ini. Jadi saat itu saya hanya manggut manggut saja mendengarkan Pak Nash bicara.  

Tersirat dari pembicaraan itu, kalau  Pak Nash memiliki mimpi untuk melihat sebagian dari generasi muda kita suatu saat bisa menjadi ilmuwan dan praktisi sepintar para ilmuwan dan praktisi Jerman atau Jepang yang mampu membuat perangkat-perangkat berbasis IT  berlandaskan penguasaan ilmu yang utuh.

Saya tidak berkomentar apa-apa karena tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, walaupun dalam hati saya merasa seiring dengan pemikiran Bapak ini. 

Pada saat ini, tradisi pengajaran di dinas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah maupun Pendidikan Tinggi di Indonesia  masih berupa pembelajaran dengan materi yang terpotong-potong. Tradisi  seperti ini tidak mampu menjelaskan kepada “students”, tentang hubungan antara satu muatan dengan muatan-muatan lain yang terkandung dalam potongan-potongan pembelajaran itu. Padahal untuk memgembangkan dan memproduksi sebuah perangkat yang baik, seseorang harus memahami  siklus lengkap dari sebuah “product development”. 

Sementara, siklus lengkap dari ‘product development” hanya bisa dikuasai oleh generasi muda kita, jika dalam system pembelajaran ini para students dibimbing olah pengajar yang benar-benar menguasai  bidangnya serta mampu menunjukkan benang merah yang menghubungkan  setiap element yang ada di dalamnya. 

Beliau berharap suatu waktu punya kesempatan membimbing ratusan anak muda yang berdeterminasi tinggi. Dan bagi anak muda yang secara khusus tertarik dengan Digital System, Pak Nash akan membimbing mereka menjadi orang-orang hebat yang mampu berproduksi sendiri, yang akan menjadi role model untuk generasi muda lainnya yang bergerak di bidang lain. 

Belakangan saya tahu bahwa ternyata Pak Nash bukan saja memotori upaya -upaya pembuatan  robot dan perangkat ekektronik lainnya (bukan hanya sekedar merakit mainan), namun Pak Nash ternyata adalah orang yang berada di balik semangat penciptaan mobil listrik ramah lingkungan  Rinus  C1  yang dibuat anak-anak SMA Pembangunan Jaya di Jakarta -diberitakan di TV pada tahun 2013. *Mudah-mudahan saya punya kesempatan, ingin sekali mengulas tentang mobil listrik ini di tulisan berikutnya suatu saat nanti. 

                     *****

Mohammad Nasucha. Saya mengenal sosok ini melalui proses yang tak pernah saya duga sebelumnya.Bermula dari cerita anak saya bahwa salah seorang guru sekolahnya memperkenalkannya pada seorang  sosok  yang menurut anak saya super keren. Beliau adalah seorang yang mendalami sistem digital termasuk robotics, dan sekaligus juga adalah dosen di sebuah Universitas di Jakarta. “Jago banget, Ma. Namanya Pak Nash“. Saya mendengarkan anak saya dengan khidmat. 

Kali berikutnya ia mengutarakan keinginannya untuk bisa belajar dan mendapat mentoring langsung dari pria yang menyihir perhatiannya itu. “Sebenarnya Pak Nash sangat sibuk. Bener-bener nggak punya waktu.Tapi  masih mau ngasih waktunya yang sudah sangat sedikit itu hanya untuk ngajarin aku. Tidak ada kesempatan lebih baik lagi dari ini, Ma“. Jelas anak saya. Saya hanya mikir, bagaimana mungkin seorang dosen mau membuang waktunya untuk anak saya yang masih baru di SMA ini. Tapi anak saya sangat yakin “I want you to meet him, please…“lanjutnya meminta. Wah..ini mengingatkan saya akan cerita- cerita Kho Ping Ho. Murid dan Suhu yang cocok itu memang mirip jodoh. Mereka saling mencari.  Biasanya karena mereka memiliki persamaan value dan vision dalam hidupnya.

Lalu saya mulai men-search namanya di Google, bermaksud mengenalnya lebih jauh. Saya menemukan sebuah articlenya tentang robot. Cukup memberi indikasi kepada saya tentang sosok yang dimaksudkan oleh anak saya. 

Demikianlah akhirnya saya dan suami bertemu dengan Pak Nash. Kami mengobrol dan beliau banyak bercerita tentang pandangan pandangannya dalam bidang science dan plannya dalam membimbing anak kami. Sebenarnya saya sudah banyak lupanya dan tentunya kurang update lagi di bidang science dan technology. Tapi untungnya kami masih bisa nyambung ngobrol. 

Kemarin, ketika kami jalan berdua, anak saya berkata “Mommy, thanks“. Saya heran “…thanks for what? Tanya saya. “Thanks for your support!. Sudah mengijinkan aku bertemu dan dimentoring sama Pak Nash. Pak Nash itu sangat baik, sangat reasonable dan sangat pintar, Ma. Persis seperti gambaran  guru ideal dalam pikiranku” katanya. Saya terharu mendengar kalimat anak saya. Kemudian saya menepuk punggungnya. Anak yang baik. Selalu ingat bersyukur dan berterimakasih. Anak yang penuh semangat sudah selayaknya mendapat support terbaik. 

Indonesia membutuhkan sosok guru yang membangun mental mandiri pada anak didiknya. Karena mental mandiri pada setiap generasi muda akan mengantarkan bangsa kita menuju pada kemandirian dan tak selalu harus bergantung pada bangsa lain. Dan saya melihat hal ini pada sosok Pak Nash. 

Pak Nash menunjukkan pada kita bahwa complaint saja tidak cukup. Tapi lakukanlah sesuatu. Dalam bentuk apapun!. Walau sekecil apapun!. Untuk membangun kemandirian kita sebagai bangsa.Produksi sendiri dan ajarkan orang lain agar bisa mandiri.

Hidup Adalah Tentang (Berusaha) Mewujudkan Mimpi.

Standard

*Dapur Hidup: Stacking, Menyiasati Pekarangan Sempit*.

‚Äč‚ÄčKetika kecil, saya sering bermimpi. Mimpi tinggal di sebuah rumah kecil yang di kelilingi ladang luas penuh buah-buah tomat yang merah ranum,  kentang, labu parang, semangka dan berbagai sayuran yang hijau segar. Serta kandang ayam petelor dengan kokok ayam jago yang membangunkan tidur saya di pagi hari. Rumah  ladang impian saya  itu dihiasi dengan bunga mawar pagar yang mekar super banyak berwarna pink dan wanginya semerbak  ke mana-mana. Romantis banget kan impian saya itu? 

Ketika saya dewasa, sebagian impian itu menjadi kenyataan. Saya tinggal di sebuah rumah kecil. Sama ya dengan mimpinya?. Juga dikelilingi tanaman sayuran. Sama juga dengan mimpi saya. 
Tapi bedanya, rumah saya dikelilingi halaman yang sempit (bukan ladang yang luas) yang tentunya tidak muat untuk menampung semua tanaman sayuran impian itu. Boro-boro kandang ayam petelor. Jauhlah dari mimpi. Dan bunga bunga mawar pagar yang pink romantis? Mmmm… lupakan lah itu, karena mimpi kanak-kanak saya tak pernah menjelaskan bahwa mawar pagar hanya tumbuh di ketinggian tertentu di atas permukaan laut. Hanya ada di kampung saya di Kintamani sana dan daerah pegunungan lainnya. Sementara sekarang saya tinggal di Jakarta (eh… sebenarnya TangSel deh…) di mana udaranya panas dan sudah pasti mimpi tentang bunga mawar pagar itu sudah terbang entah kemana. Sudah pernah saya tanam (Waktu itu batangnya saya ambil dari Puncak, Bogor). Tapi hanya batangnya saja yang memanjang dan gendut. Bunganya tiada kunjung muncul. Aah… tidak ada romantis-romantisnya amat tanaman ini ketika dibawa ke kota. 

Dengan kenyataan dunia ini,  apakah saya harus berhenti bermimpi? Oww…tentu tidaakkkk!!!!. Saya harus berusaha menikmati hidup sedekat mungkin dengan mimpi masa kecil saya itu. *Kedengeran agak keras kepala, agak ngeyel dan sedikit sombong ya?  

Ha ha… tentu saja karena kenyataannya lahan pekarangan saya sangat sempit saat ini (itu harus saya terima dengan penuh syukur), tapi saya harus mikir bagaimana caranya mengoptimalkan setiap centimeter pekarangan itu agar menghasilkan bahan makanan Sebanyak mungkin.

Saat ini hampir semua permukaan  terbuka di halaman saya tidak ada yang kosong. Full dengan tanaman.Mau diletakkan di ruangan, tanaman tidak dapat sinar matahari. Pertumbuhannya terganggu. Kerdil dan ‘nyalongcong’ kata teman saya yang orang Sunda. Tinggi langsing dan pucat pasi.  Jadi bagaimana akal? satu-satunya areal yang kosong adalah di udara!.  Ya…di udara adalah tempat yang paling memungkinkan bagi saya 2vesaat ini. 

Akhirnya saya berpikir untuk melakukan penumpukan box box tanaman itu ke atas saja selain menggantungnya di udara. Stacking!. Bisa menggunakan rak atau bisa juga memasang paku dan papan penyangga di dinding.

Stacking 4-5 tingkat ke atas, rasanya cukup banyak dan saya letakkan pada dinding. Dengan cara ini memungkinkan saya untuk memberi peluang yang sama kepada setiap tanaman untuk terpapar sinar matahari. Nah …setidaknya saya bisa memproduksi lebih banyak sayuran dengan cara begini. 

Rak ini memuat 3 box kangkung, 3 box selada. 3 box pak choi dan 1 box kailan dan 1 box tanaman sawi jenis lainnya. Lumayan banget ya buat Dapur Hidup berlahan sempit. 

Impian saya untuk hidup di tengah tanaman sayuran, sekarang satu langkah lebih mendekat. Walaupun lahan sangat sempit.

Hidup adalah tentang mewujudkan mimpi. Jangan pernah mau menyerah pada keterbatasan. Jika kenyataan hidup memberi banyak keterbatasan, cari cara agar impian kita semakin mendekat. Minimal mirip-miriplah.Yuk kita terus berusaha!!!.

Apa mimpimu, kawan? 

Laptopku Belahan Jiwaku.

Standard

Ini cerita tentang laptop saya. Milik kantor maksudnya. Umurnya sudah lebih  dari 5 tahun. Sudah usang dimakan usia dan compal-compel tampangnya. Beberapa bautnya sudah copot. Demikian juga penutup kabel di lipatannya. Tapi masih bagus fungsinya.Saya sangat sayang kepadanya.  

‚ÄčKarena sudah tua, tahun yang lalu perusahaan membelikan saya laptop yang baru. Lalu saya ditanya oleh teman saya yang di IT,” Ibu, kapan mau diganti laptopnya? Barangnya sudah ada“. Mmmm… bukan saya tidak ingin laptop baru itu, tapi saat ini sedang terlalu banyak pekerjaan  yang urgent sehingga tidak punya waktu untuk memback up data dari laptop yang lama. Jikapun saya dibantu memback-up data tetap saja saya tak bisa menggunakannya minimal 1 hari. Jadi penukarannya saya tunda. 

Bulan berikutnya, saya ditanya lagi pertanyaan yang sama”Ibu, kapan mau ganti laptopnya?”. Ooh… sudah sebulan ya. Sungguh tak terasa. Tapi kali ini kebetulan saya juga sedang sangat sibuk. Jadi saya minta tunda ke bulan berikutnya. Demikian berkali-kali hingga berbulan-bulan lewat. Saya masih menggunakan laptop saya yang usang. 

Suatu hari, teman saya bertanya apakah boleh memberikan laptop baru yang belum saya ambil-ambil juga itu kepada rekan kerja saya yang lain? Kebetulan laptopnya rusak dan butuh laptop baru dengan spec yang serupa dengan saya. Teman saya itu berkata bahwa laptop penggantinya akan segera dibelikan dan diserahkan kepada saya. Ya saya setuju. 

Ketika laptop baru penggantinya datang, saya ditanya lagi kapan akan menukar laptop saya yang usang dengan yang baru. Sungguh apes, saat ditanya lagi-lagi saya sedang sangat sibuk waktu itu dan benar benar tidak sempat. Jadi saya meminta waktu lagi. Demikianlah sampai teman saya bosan  dan berhenti bertanya. 

Suatu kali ketika saya mengikuti sebuah meeting regional di Malaysia. Duduk di sebelah saya seorang teman yang dulunya pernah bertugas di Indonesia. Jadi ia sudah hapal betul perkara laptop tua saya itu. “Hi, you really love your notebook“, komentarnya neligat komputer saya yang semakin compang camping.  Saya cuma nyengir.Tapi boss saya yang duduk di sisi kanan saya rupanya ikut mendengar. Lalu melirik laptop saya dan berkata”Bukannya sudah ada yang baru?” *rada sensitive, soalnya menyangkut harga diri unit kerja.he he. Ya. Saya pikir setelah balik ke Indo laptopnya akan segera saya ganti dengan yang baru agar tidak malu-maluin.

Setelah pulang, saya lupa lagi dengan urusan menukar laptop ini. Bahkan hingga quarter berikutnya saya harus datang lagi ke meeting regional di negara yang sama, laptop tua saya itu belum juga tergantikan. 

Hingga beberapa minggu yang lalu. Sebuah email masuk menanyakan kapan saya akan menukar laptop. Saya menjanjikan sebuah tanggal tapi ternyata kemudian saya tidak bisa lagi karena persis di tanggal itu, laptop tua itu harus saya bawa dan perlukan untuk urusan pekerjaan di Taiwan. 

Pagi ini saya akan berangkat ke kantor. Semua keperluan sudah masuk ke dalam tas dan saya tinggal berangkat. Tiba tiba mendapat kenyataan kalau pak supir yang biasa mengantar saya kerja tidak datang. Padahal saya ada meeting super penting hari ini. 

Suami saya setuju akan mengantarkan saya ke kantor, tetapi saya harus menunggu sebentar karena ia sedang dalam perjalanan mengantar anak saya ke sekolah. Sementara menunggu, saya membuka laptop untuk membaca-baca materi yang akan dipresentasikan oleh team saya hari ini. Beberapa belas menit kemudian, suami saya datang. Saya bergegas nenutup laptop, memakai sepatu dan berlari menenteng tas saya langsung masuk kendaraan. 

Perjalanan ke kantor memakan waktu kurang lebih 45 menit. Tapi pagi ini sangat macet.Jadi saya nikmati saja sambil ngobrol dengan suami.Tibalah kami di kantor. Saya mengangkat tas saya. Heran. Kok tumben ringan sekali ya?. Sayapun curiga…  Astaga!!!. Komputer saya ketinggalan di rumah. Saya panik. Suami saya menegur keteledoran saya dan mengatakan tidak punya waktu lagi untuk mengambilkan dan mengantarkan laptop saya karena iapun sudah terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya sendiri. Saya sangat mengerti dan melangkah masuk ke kantor dengan lunglai.

Dalam keadaan begitu, saya berpikir akan meminjam laptop cadangan dari IT dan meminta copy semua bahan presentasi hari itu kepada team saya. Teman saya yang di IT mendengarkan cerita saya dan berkata “Ibu pakai saja laptop baru yang memang sudah dibelikan untuk ibu sejak lama“. 

‚ÄčHa!. Karena keadaan memaksa,  akhirnya saya terpaksa menggunakan laptop baru yang sudah nangkring berbulan -bulan lamanya di sana.  

Sekarang saya tak punya pilihan, harus mengganti laptop saya yang sudah renta dan compang camping itu dengan yang muda, segar dan lebih kinclong. Tentu saja saya sangat berterimakasih padanya, yang telah merekam perjalanan aktifitas pekerjaan dan pemikiran saya selama lebih dari 5 tahun terakhir ini. 

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Walaupun kita terlalu malas untuk mengikuti perubahan, rupanya selalu ada mekanisme alam yang mendorong kita terpaksa melakukan pembaharuan. 

Red Carpet of Happiness.

Standard

*Cerita senja dari sudut  Taipei*.

‚Äč‚ÄčSuatu sore saya sedang berada di kota Taipei untuk sebuah urusan. Tentu saja mumpung lagi di sana, sekalian saya ambil kesempatan untuk melihat dan merasakan sekitar. 

Orang orang melintas. Ada yang berjalan sendiri, berpasangan atau bergroup. Ada yang bergandengan tangan, sambil ngobrol dan bahkan ada yang menyedot minumannya sambil berjalan. Semuanya terlihat riang. Entah kenapa saya merasa jatuh cinta pada kota ini. Jalanannya bersih. Penduduknya baik dan ramah. 

Saya lalu berjalan menyusuri pertokoan pinggir jalan. Tanpa terasa keluar dari jalan utama dan masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.

Hi! Ada karpet merah digelar di sini. Hm…Ada apa ya? Orang-orang berkerumun di kiri kanan. Semua terlihat bergembira. Tertawa riang, tersenyum dan menengok ke kiri dan kanan. Semuanya sibuk dengan hapenya dan mengambil ancang-ancang untuk mengambil foto. 

Di ujung sebelah sana, terlihat sebuah panggung dengan poster film besar. Dengan tulisan berhuruf mandarin. Saya tak bisa membacanya. 

Hm…serasa akan ada celebrity yang lewat. Siapa ya? Siapa ya? Mungkin bintang film itu. Tentu saja saya tidak tahu. Semua orang kelihatan sangat antusias. Saya ikut merasa senang. Menyeruak di tengah keramaian orang dan berusaha mengambil posisi sedekat mungkin dengan bentangan karpet merah itu. Lalu ikut-ikut mengeluarkan hape dan mengambil ancang-ancang untuk memotret. 

Teman seperjalanan saya juga sama. Ia bahkan naik ke bangku di tepi jalan agar bisa lebih leluasa mengambil foto dari ketinggian. Setidaknya di atas kepala orang-orang yang berkerumun. Walaupun sama tidak pahamnya dengan saya, ia juga tetap memasang pose siap membidik seandainya ada sesuatu yang  bergerak di atas karpet merah. Tetap bergembira.

‚ÄčSuasana semakin seru ketika acara dibuka. Serombongan   pendekar memperagakan ilmunya di atas karpet merah. Orang -orang bertepuk tangan. Bergembira. Ha!. Rupanya akan ada “Meet n Greet” dengan bintang utama sebuah film Kungfu dari China yang sukses di Taiwan. Karena tak lama setelah itu, turunlah para bintang film itu ke Red Carpet. Mereka berjalan sambil sesekali melambaikan tangannya. Orang orang memotret dan saya juga. Rasanya senang sekali bisa menjadi bagian dari kegembiraan itu. Ingin ikut memanggil, tapi saya tidak tahu namanya. Ha ha. 

‚ÄčTapi kalau dipikir-pikir ini aneh juga. Kami tidak tahu bintang film itu. Siapa dia? Apa pencapaiannya? Bagaimana reputasinya? Tidak pula nenonton filmnya. Juga tidak mengerti bahasanya. Jadi sebenarnya kami sedang bergembira dan mengelu-elukan sesuatu yang kami tidak tahu. Ha ha. ha.. saya jadi tertawa geli memikirkannya. 

Tapi mengapa kami sedemikian gembiranya?  Padahal kan sebenarnya tidak tahu apa-apa?. Hmmm…saya baru ngeh. Ternyata kegembiraan itu bisa datang ke dalam diri kita bahkan dari hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami. Lalu dari mana sesungguhnya kegembiraan itu datang? 

Dari kerumunan di sekitar Red Carpet itu!. Dari orang-orang di sekeliling kita!. Ya!. Saya pikir manusia menangkap gelombang kegembiraan dan kebahagiaan yang dipancarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Lewat senyum, pancaran cahaya mata dan tingkah laku. Ketika kita menangkap pesan kebahagiaan itu dengan receptor yang ada dalam diri kita, seketika itu kita terstimulasi untuk ikut menyesuaikan pada gelombang kebahagiaan yang sama. Mungkin itulah sebabnya mengapa kita tetap bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh orang-orang lain, walaupun secara logika kita tidak mengerti apapun tentang penyebabnya. 

Karena kebahagiaan itu menular, berada di sekitar orang-orang berbahagia memungkinkan kita menerima gelombang kebahagiaan yang melimpah. Temukanlah karpet merah-karpet merah lain yang penuh dengan kebahagiaan sepanjang perjalanan hidup kita, sehingga hidup kita pun terbawa arus dan gelombang yang sama. 

Coretanku: Bentangkan Sayapmu. 

Standard

‚Äč

*pencils on paper.

Bentangkan sayapmu lebar lebar, sayang. 
Laksana kupu-kupu, hanya jika sayapmu kau bentangkan kau akan merasa ringan, hilang letih duka nestapa. Hanya jika sayapmu kau bentangkan, jantungmu kan segera memompakan semangat, yang membuatmu siap menghadapi kehidupan.Dan hanya jika sayapmu terbentang, kau akan bisa terbang. Menari diantara bunga-bunga di taman, melintasi savana dan mencium lidah awan. 

Bentangkanlah sayapmu. Karena hanya jika sayapmu terbentang,  dunia ikut tersenyum bahagia bisa menyaksikan keindahan pernak pernik warnamu. 

Aduuuh! Saya Kejeblos.

Standard

‚Äč‚ÄčMalam hari sepulang dari kantor saya diantar suami pergi ke apotik di depan perumahan untuk membeli obat demam.Anak saya juga mau ikut. Kami parkir di tepi jalan dekat gerbang perumahan dan bukan di halaman apotik. Karena menurut suami saya, nanti ribet lagi kalau harus muter kendaraan masuk ke perumahan. Mendingan parkir saja di sini dan saya disuruh jalan kaki saja sedikit ke apotik. Toh hujan juga sudah reda. Ya sih. Suami saya ada benarnya juga. Jadi saya patuhlah ya  sama apa kata suami dan lalu segera membuka pintu kendaraan. 

Begitu turun,  saya melihat ternyata ada genangan lumpur di depan saya. Bekas galian kabel listrik PLN. Waduuh… panjang juga ya. Rasanya sulit deh lewat sini untuk beejalanke depan.   Saya bermaksud melompat, tapi takut terpeleset karena licin bekas hujan selain lubangnya cukup panjang juga. Pilihannya ya muter lewat belakang kendaraan. Tapi rasanya kok males ya berkeliling. 

Saya berbalik melihat lubang galian itu sejenak sambil mikir-mikir barangkali  saya bisa melompat saja agar lebih cepat sampai di apotik ketimbang harus muter ke belakang.

Dalam kegelapan malam saya melihat samar-samar ada bagian yang padat di tengah lubang itu yg dikelilingi genangan air dan lumpur. Saya pikir mungkin itu batu, dan jika saya coba meloncat dengan menginjakkan satu kaki saya pada benda padat itu, mungkin saja saya bisa lewat di sana dengan cukup mudah.  Lalu sayapun berjingkat. Hap!. JEBBBB! Aduuuh! Saya kejeblos!.Kaki kiri saya masuk jauh ke dalam lumpur. 

Tak terkira kagetnya. Kejeblos hampir selutut dalamnya.Tak saya sangka. Aduuh. Dan lebih apesnya lagi, saya tak mampu menarik kaki saya dengan mudah dari lumpur itu. Timbunan lumpur di atas kaki saya terasa sangat berat dan lengket. Saya mencoba menarik kaki saya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Berkali kali. Tidak berhasil. 

Anak saya berusaha nembantu menarik tangan saya. Tapi masalah saya bukan di tangan. Tapi di kaki. Kemudian saya sadari kalau saya sulit mengangkat kaki saya karena saya berusaha mengangkat kaki beserta sandal jepit yang saya pakai. Jadi yang susah ditarik itu rupanya si sandal jepit. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menarik kaki saya dan meninggalkan sebelah sandal jepit itu terkubur di dalam lubang galian itu.  Nah!Ternyata memang lebih mudah. Sekarang kaki kiri saya bisa keluar.Tapi tentu saja penuh lumpur hingga ke lutut. 

Esok paginya saya berangkat ke kantor dan melihat jejak kaki saya di dalam lumpur. Ha ha…lucu juga cetakannta. Saya geli atas kebodohan saya sendiri.Apa yang saya pikir batu itu ternyata hanya gundukan tanah gembur, yang akan sangat lembek saat digenangi air hujan. Menjadikannya sebagai tumpuan kaki tentu saja bukan ide yang baik. Tapi itulah yang telah terjadi. 

Saya bertumpu pada benda yang salah. Saya tak mampu melihat perbedaan batu yang memang asli padat dengan tanah yang terlihat padat. Semua terjadi karena saya memaksakan diri untuk melihat dalam kegelapan dan sebenarnya saya tidak sungguh-sungguh memastikan bahwa itu memang batu sebelum saya meloncat.

Lalu saya mencoba untuk bangkit dan menarik kaki saya yang kejeblos (masih untung saya punya semangat). Berusaha menarik kaki beserta sandalnya sekaligus, tanpa berpikir sandal jepit itu justru menjadi beban tambahan yang menyulitkan bagi kaki saya untuk  bergerak naik. 

Hmmm…..sound familiar ya? 

Memang demikianlah adanya perkara kejeblos itu. Kejeblos apapun juga dan di manapun juga. Mau kejeblos dalam lumpur, kejeblos urusan keuangan, kejeblos urusan karir hingga kejeblos urusan asmara dan sebagainya. Urusannya sama saja. Penyebabnya pasti tidak jauh dari hal-hal ini :  Kurang Hati-Hati, Mengikuti Emosi, Kurang Perhitungan, Kurang Waspada, Mata Gelap. 

Lalu jika kita ingin bangkit kembali dari keterpurukan, masalah yang membuat beban berat bagi kita untuk bangkit lagi juga biasanya adalah hal-hal kecil yang sesungguhnya tidak super penting amat untuk dipertahankan. Mungkin sebaiknya kita cut, buang dan ikhlaskan saja, agar tidak mengganduli langkah kita ke depan yang lebih baik. 

Posisi (Memang Terbukti) Menentukan Prestasi.

Standard

Pasti sudah sering mendengar pepatah ini “Posisi Menentukan Prestasi”. Maksudnya tentulah bahwa prestasi yang dicapai seseorang itu sangat ditentukan oleh bagaimana posisi orang itu  saat melakukan eksekusi.  Semakin bagus posisinya, tentu semakin bagus prestasinya. Oleh karenanya    banyak orang berlomba-lomba mencari posisi yang terbaik.  

Saya sendiri, belum pernah memikirkan pepatah itu baik-baik, walaupun sering mendengarnya juga. Nah sekarang saya teringat, gara-gara melihat kenyataan itu sendiri terjadi di depan mata saya. 

‚ÄčSaya menanam beberapa box kangkung dengan system hydroponik tanpa listrik. Karana jumlahnya cukup banyak sementara halaman saya sempit, terpikir oleh saya untuk membuat rak bertingkat yang terbuka yang bisa menampung box-box tanaman sayuran termasuk kangkung saya itu. 

Singkat cerita, rak itu sudah jadi dan box box berisi benih  sayuran itupun saya letakkan dengan rapi di dalamnya. Semua sayuran mengalami perlakuan yang sama dalam hal treatment air dan nutrisi. Benih yang kecil mulai tumbuh.

Beberapa hari kemudian, saya melihat terjadi perbedaan yang cukup signifikan atas pertumbuhan tanaman itu dari satu box ke box lainnya. Hmm…mengapa ya? 

‚Äč‚ÄčTanaman dari box yang diletakkan di sisi yang paling terekspose dengan cahaya matahari mengalami pertumbuhan yang paling pesat. 


‚ÄčSedangkan yang diletakkan di posisi lebih ke dalam (lebih jauh dari cahaya matahari) tampak lebih kecil dan lebih lambat pertumbuhannya. Posisi box tempat tanaman ini bertumbuh  sangat menentukan tingkat keberhasilannya dalam bertumbuh. 

Jadi memang benar ya pepatah “Posisi Menentukan Prestasi” itu?. Menurut pendapat saya iya. 
Setiap posisi, di manapun itu tentu memiliki “tetangga sebelah”samping kiri, samping kanan, depan, belakang, atas, bawah. Posisi tertentu, membuat kita terekspose pada tetangga tertentu yang bisa jadi berbeda jika posisi kita berbeda. 

Ibaratnya si tanaman kangkung yang tumbuh pesat karena bertetangga dengan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhannya, seseorang juga sangat mungkin maju pesat karena dia berada di lingkungan orang-orang sukses. Setidaknya usahanya untuk sukses lebih mudah ketimbang orang yang berada di lingkungan orang orang yang gagal. Mengapa? Karena ia mendapatkan pemahaman, dukungan dan motivasi serta networking yang baik dengan pusat-pusat kesuksesan. 

Demikian juga sebaliknya.Jika seseorang tidak terkespose dengan kesuksesan dan lebih banyak berada di lingkungan orang-orang yang gagal, maka usaha yang dikeluarkan agar bisa sukses menjadi lebih berat. Karena tak ada orang yang memberi informasi, dukungan dan pertolongan. Ia harus mencari tahu sendiri, mencoba dan berusaha keras agar sukses. 

Memberi peluang kepada anak-anak dan  orang-orang yang kita sayangi di sekeliling kita untuk terekspose dengan hal-hal positive yang mendukung kesuksesannya di kemudian hari sangatlah penting.