Category Archives: Life

Ketika Pedas Ketemu Air Hangat.

Standard

Saya sedang makan dengan lauk Telur Ceplok🍳 dan kecap beserta potongan cabe rawit 🌢🌢🌢. Entah karena jenis cabenya yang memang pedas atau jumlah cabenya yang banyak, tumben saya merasa sangat kepedesan sampai merasa perlu segera minum air untuk mengatasinya. Kebetulan sudah ada teh hangat di atas meja. Saya teguk, seketika rasa pedasnya berkurang banyak. Bahkan nyaris hilang sama sekali. Ajaib ya.

Saya jadi memikirkan kejadian ini. Pedas dikasih hangat, membuat pedas menghilang. Sebaliknya dulu saya pernah mencoba, pedas seperti ini dikasih minuman dingin.Teman-teman pembaca pernah mencoba nggak?. Apa yang terjadi ? .

Rasa pedas bukannya hilang, malah semakin menjadi jadi. Pedasnya makin kuat dan makin lama. Bener kan ?.

Jadi kesimpulannya jika kita merasa kepedasan dan ingin menguranginya atau menghilangkannya, jangan minum air dingin. Tapi minum air hangat!.

Saya menggenggam gelas berisi teh hangat dengan kedua belah telapak tangan saya. Merasakan kehangatannya. Dan takjub akan efeknya dalam menghilangkan kepedasan di mulut saya.

Saya membayangkan, rasa Hangat itu ibarat hawa yang ditimbulkan saat orang berkumpul dengan saudaranya, keluarganya , teman-teman ataupun sahabatnya, berbincang dan bersenda-gurau. Hangat dan nyaman.

Sebaliknya rasa Dingin itu, serupa dengan rasa sepi, seorang diri, sunyi, sepi, tiada teman atau saudara yang diajak berbicara maupun bercengkerama.

Membayangkan itu, tiba tiba saya berpikir bahw Fenomena Rasa Pedas bertemu Suhu Hangat dan Dingin ini sesungguhnya adalah salah satu cara Alam mengajarkan kita manusia bagaimana caranya memecahkan masalah dalam kehidupan kita. Lho! Kok bisa?.

Ya. Bisa!.

Coba kita bayangkan seperti ini. Kepedasan adalah sebuah masalah. Oleh karenanya kita mencari pemecahannya dengan minum minuman hangat biar hilang pedasnya. Bukan dengan minum minuman dingin.

Sama halnya dengan masalah (kepedasan) yang kita hadapi dalam kehidupan sehari hari. Jika kita mencari pemecahannya dengan menyendiri, merenungi nasib dan tidak berbuat apa apa, maka masalah hidup kita tidak akan bisa kita pecahkan begitu saja. Bahkan kita akan semakin terpuruk dan semakin dalam terpuruk lagi. Ibaratnya orang yang kepedasan diberi minum air es. Tambah pedas.

Sebaliknya jika kita mencari pemecahan masalah kita itu dengan mencoba sharing dengan sahabat, teman dan keluarga yang kita percayai, kita akan merasa lebih tenang, lebih nyaman dan mendapatkan bantuan pemikiran dan ide ide baru dari orang orang di sekeliling kita yang sangat mungkin membuat kita lebih mudah mendapatkan pemecahan masalahnya. Ibaratnya kita kepedasan diberi minum air hangat.

Tapi jangan terlalu lebay juga ceritakan masalah kita kepada semua orang yg kita kenal dan berharap semua orang membantu memecahkan masalah kita itu.

Pertama karena tidak semua punya keinginan, kemauan dan kemampuan untuk membantu kita.

Berikutnya tidak semua orang juga bersimpati terhadap masalah yang kita hadapi.

Jika ini yg kita lakukan, ibaratnya kita kepedasan lalu dikasih minum air panas mendidih. Bukannya sembuh, malah lidah kita yang terbakar 😊.

Ketika kita nerasakan “kepedasan” dalam hidup kita, carilah kehangatan dari para sahabat, keluarga dan orang orang yang kita percayai. Niscaya kepedasan hidup itu segera teratasi.

Advertisements

Sarang Tawon & Fire Rescue.

Standard

Di halaman rumah saya ada sarang Tawon jenis Tabuhan Sirah (Bhs Bali), alias Tawon Endas (Bhs Jawa). Sarang tawon ini membesar dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan, sarangnya sudah seukuran kepala orang dewasa, dan tiga bulan berikutnya sudah seukuran karung beras. Astaga !!!

Sangat mengkhawatirkan. Mengingat di sebelah rumah saya adalah lapangan tempat anak-anak bermain bola. Dan sangat sering anak-anak masuk mengejar bolanya yang tertendang melenceng jatuh ke halaman rumah. Selain itu, yang namanya anak- anak, ada saja yang iseng dan jahil.

Pernah suatu kali saya melihat sebatang batu bata merah nangkring di atas dahan pinus. Besar kemungkinan, ada yang melakukan usaha menimpuk sarang tawon itu dengan batu bata.

Saya sempat mengutarakan permasalahan ini dan meminta ide dari teman teman di sekitar dan juga di Facebook bagaimana cara mengatasi tawon ini. Ada banyak masukan, mulai dari mengasapi, membakar sarang tawon ini di malam hari, meminta bantuan Damkar, ada juga yang membantu dengan doa, agar tawonnya kalem dan tidak menyerang anak-anak. Dan sebagainya.

Bantuan Penyelamatan Tak Berbayar.

Setelah bertanya ke sana kemari, akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kita Tangerang Selatan untuk menangani sarang tawon besar ini. Awalnya saya nggak begitu yakin, takut ribet. Tapi ternyata sangat mudah. Karena respon team Rescue TangSel ini sangat baik dan cepat.

Dan bagusnya lagi, bantuan penyelamatan ini ternyata tidak berbayar. Saya hanya diminta menyiapkan 3 kaleng insektisida dan lakban coklat, setelah saya mengirimkan foto foto sarang tawon itu dan nemperkirakan ketinggiannya dari permukaan tanah, yakni sekitar 6 meter.

Team Resque datang sore hari menjelang gelap. Tetapi sarang tawon tidak langsung dieksekusi, mengingat masih banyak anak-anak yang bermain dan berseliweran di bawahnya. Jadi kami menunggu hari gelap dulu.

Vespa Affinis Yang Mematikan.

Sambil menunggu, saya sempat berbincang dengan Pak Darius dari team Rescue. Tawon Endas atau Vespa affinis, adalah jenis tawon predator yang sangat agresif dan sengatannya berbisa. Dalam beberapa kasus bahkan ada yang menyerang manusia hingga meninggal. Saya merasa gentar memikirkannya.

Untungnya sangat mudah mengenalinya. Karena tawon ini ukurannya relatif cukup besar dengan warna hitam dan bagian pantat memiliki gelang berwarna kuning jingga

Pohon Pinus dan Kebakaran.

Dari perbincangan ini saya baru sadar bahwa tindakan saya memanggil team Pemadam Kebakaran dan Rescue ini sangatlah tepat.

Sebelumnya saya nyaris mengiyakan ketika ada orang mengajukan penawaran dengan membakar sarangnya di malam hari. Saya lupa kalau sarang tawon itu bergantung di pohon pinus yang menghasilkan getah resin yang sangat mudah sekali terbakar. Nah, kebayang nggak sih kebakaran yang mungkin terjadi jika saya mengiyakan orang itu membakar sarang tawon di pohon pinus?. Lebih parah lagi, di halaman yang sama, saya juga memiliki 3 pohon pinus lain yang sama besarnya tumbuh berdekatan. Whuaa…kebakaran besar bisa merembet kemana mana. Jika kebakaran sampai terjadi, ujung-ujungnya saya juga harus memanggil team Pemadam Kebakaran. Sami mawon. Jadi lebih baik panggil sebelum terjadi kebakaran.

Setelah hari gelap, operasi penurunan sarang tawon dilakukan. Petugas mulai menurunkan peralatannya dari mobil. Lampu lampu dimatikan. Dan petugas meminta penghuni rumah masuk ke dalam dan menutup pintu untuk menghindari amukan tawon. Akibatnya saya tidak bisa meliput dengan baik aktifitas ini πŸ˜₯. Tapi baiklah, demi keselamatan diri.

Intinya, petugas yang sudah memakai pakaian pelindung memasang tangga di dahan pinus, lalu naik, nenyemprot sarang tawon dengan insektisida dan memasukkan sarang tawon itu ke dalam karung.

Sekarang halaman rumah saya sudah terbebas dari sarang Tawon Endas. Lega rasanya melihat anak anak bermain di lapangan tanpa khawatir disengat Tawon.

Terimakasih Team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan!!!.

Teamnya bagus, handal dan sigap πŸ‘πŸ‘πŸ‘

O ya bagi yang ingin tahu nomer telpon Dinas Pemadam Kebajkaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan ini ya 0811900074.

Di Batas Rasa Iba Dan Kebodohan.

Standard

Satu hari, saya mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan di sekitar area Pasar Seni, Kuala Lumpur. Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari di daerah sana dan sekitarnya. Mulai dari Pasar Kasturi – Central Market, Museum Textil, Taman Burung, Taman Kupu- Kupu, Masjid Negara, Islamic Art Center dan sebagainya.

Anak-anak memutuskan untuk menggunakan MRT saja. “Lebih murah, Ma. Kita bisa saving-saving duit cash kita“. Saran anak saya. Saya setuju. Terlebih karena stock ringgit di dompet saya juga sudah mulai menipis. Kamipun melangkah keluar hotel dan menuju stasiun.

Di stasiun kami menuju auto ticket counter guna membeli coin. Memilih milih Line kereta yang ada di menu, tiba tiba seorang pria yang berdiri di mesin ticket di sebelah saya bertanya dengan ramah. “Hai!. Kalian mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab, mau ke Pasar Seni.

Begitu mendengar jawaban saya, dengan sigap ia membantu anak saya. Ceklak ceklik… kami bayar dan coin ticket kereta pun keluar. Sangat cepat kejadiannya. Ooh tentu saja. Karena ia seorang pria lokal yang pastinya sudah hapal dengan jalur-jalur MRT maupun kereta lain di kota ini.

Saya berterimakasih. Orang itu mengangguk dengan sangat ramah. Lalu ia bertanya, apakah saya bersedia memberinya beberapa butir uang receh. Ia sedang kesulitan dan kehabisan uang. Oooh!. Saya memandang wajahnya dan merasa iba. Membayangkan jika saya berada di posisi dia.

Tentu saja saya tidak keberatan. Saya pun mengeluarkan semua uang logam yang ada di dompet saya. Dan memberikannya kepadanya. Ia mengucapkan terimakasih.

Lalu ia bercerita kalau sesungguhnya ia sedang bermasalah dengan kakinya. Ia menyingsingkan sedikit celana panjangnya dan saya melihat luka yang sangat serius. Oooh. Sungguh terkejut melihatnya. Luka yang besar yang tidak cukup hanya jika diobati dengan obat merah saja. Harus dibawa ke rumah sakit dan ditangani dengan serius. Bahkan mungkin perlu beberapa jahitan untuk menutup luka terbuka itu.

Saya pikir uang logam yang tadi saya berikan kepadanya tidak akan cukup. Lalu sayapun memberikan beberapa lembar uang kertas lagi agar bisa ia gunakan untuk mendapatkan perawatan yang baik dari rumah sakit. Saya menyerahkannya sembari berdoa dalam hati saya, semoga orang ini mendapatkan perawatan yang baik dan sembuh dari lukanya.

Tanpa saya duga, orang itu merunduk di hadapan saya, menyentuh kaki saya dengan tangan kanannya lalu mengusapkan tangannya itu di keningnya, sebanyak tiga kali. Saya terkesima dengan kelakuannya dan mencoba melarang ia berbuat begitu kepada saya. Tetapi ia keburu selesai. Setelah itu ia mengucapkan terimakasih dan saya melihat airmatanya mengambang sebelum ia melangkah pergi.

Mama apain orang itu?” anak saya yang rupanya melihat bagian akhir kejadian itu terheran -heran. Mengapa orang itu menunduk di depan saya dan menyentuh kaki saya, lalu menempelkannya ke keningnya. Saya bilang “Nggak Mama apain. Mama cuma kasih uang“, kata saya.

Anak saya terkejut. Rupanya ia tidak melihat kejadian saat saya memberikan uang pada orang itu. “Astaga, Mama!!!. Mengapa Mama berikan dia uang?. Itu sejenis…. scamming, Mama!!!“. Tegur anak saya yang sulung dengan suara tinggi. Saya terkejut akan reaksi anak saya yang tak terduga itu.

Mama ditipu!!!“. Lanjut anak saya yang bungsu lagi. Mereka seperti bersekutu mengkritik saya.

Saya membantah kalimat anak-anak saya itu. Saya bukan tertipu. Saya kasihan padanya dan memang ingin memberinya bantuan uang. Saya sadar. Dan bahkan sangat sadar melakukannya karena rasa kasihan. Karena rasa iba. Bagainana mungkin kedua anak saya bisa mengatakan jika saya tertipu.

Berapa banyak uang yang Mama berikan kepadanya?” tanya anak saya yang sulung.

Saya tidak menjawab dengan tepat. Jawaban yang tidak menipu, tapi tidak bisa dibilang jujur juga. “Hanya beberapa ringgit” jawab saya. Jawaban yang mengambang. Siapakah yang tahu, berapa batas kata “beberapa” itu?. Banyakkah? Sedikitkah?.

Saya lalu memberikan pengertian kepada anak saya. Itu bukan penipuan. Tapi masalah rasa iba kepada orang lain yang sedang kesulitan. Sebagai sesama manusia, kita wajib membantu orang yang sedang kesulitan, jika posisi kita memungkinkan untuk membantu.

Tapi ke dua anak saya tetap tidak yakin bahwa orang itu tidak menipu saya. Saya lalu mengingatkan, bahwa kaki orang itu luka parah. Dan kami semua melihatnya. Bukankah itu bukti yang cukup bahwa orang itu tidak menipu?.

Anak anak saya tetap tidak setuju. Belum tentu itu luka beneran. Kesan luka bisa dibuat buat. Banyak seniman bisa membuat karya tiruan luka. Ooh…ya. Bisa juga sih jika diambil dari sudut pandang itu. Anak anak lalu memberi contoh fakta beberapa kejadian pengemis dengan luka palsu yang memang kami pernah lihat sendiri, saat anak anak masih kecil.

Sampai akhir hari, saya masih sulit untuk setuju dengan pendapat anak-anak saya bahwa orang itu telah menipu saya. Karena saya yakin telah melihat luka beneran dan saya melihat airmatanya mengambang saat mengucapkan terimakasih kepada saya sebelum pergi.

Sementara anak-anak saya tetap berpikir bahwa saya sudah melakukan kebodohan karena begitu mudah ditipu oleh orang itu. Masalah air mata mengambang itu kan bisa juga soal keahlian seseorang ber-acting yang sangat bisa dilatih. Yaaa…. bisa juga sih jika kita hubung-hubungkan ke situ.

Sungguh saya tidak tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Karena semuanya memberi kemungkinan yang sama untuk menjadi benar ataupun salah. Hanya Tuhan yang tahu kebenaran yang sesungguhnya. Hanya Tuhan pula yang tahu di mana batas antara rasa iba dan kebodohan manusia.

Saya tercenung. Aaah…. tidak usah saya pusingkan apa yang telah terjadi. Ibarat sedang menonton sebuah potret. Kita tak pernah tahu kejadian apa saja yang terjadi sebelum kamera menjepret kejadian di foto itu, dan juga kejadian apa saja yang terjadi setelah potret itu dibuat. Tak usah kita pusingkan dan pertanyakan. Cukup nikmati saja satu single moment saat potret itu dibuat.

Tidaklah begitu penting, apakah orang itu memberi keterangan benar atau menipu. Yang lebih penting adalah keikhlasan hati kita. Sehingga membuat apapun dan seberapapun yang kita keluarkan menjadi berharga. Setidaknya di hati kita.

Saya pun melenggang pergi dengan hati riang.

Night Parade di USJ – The Best Of Hollywood.

Standard

Berkeliling di Universal Studio Japan seharian tentu sangat melelahkan. Tapi entah kenapa anak dan para keponakan saya sepertinya tidak mengenal lelah sama sekali. Setelah itu mereka malah bilang akan stay di situ hingga malam karena jam 8.00 malam waktu setempat akan ada Universal Spectacle Night Parade – The Best of Hollywood. Astaga !!!!

Jadi kami akan stay di sini nih hingga malam. Mana angin dingin mulai diam diam bertiup. Saya bergegas mengenakan jacket saya. Untungnya Night Parade yang ditunggu tunggu itu memang sebuah pertunjukan yang luar biasa. Jadi nggak rugi juga nungguin.

Jadi intinya ini adalah parade film film terbaik dari Hollywood.

The Best of Hollywood. Night Parade USJ.

Parade dibuka dengan pertunjukan Minions di lapangan terbuka yang jalan di pinggirnya dihadikan lalu lintas arak- arakan dan peragaan dari the best of Holywood.

1/. Harry Potter.

Parade rupanya dimulai dengan Harry Potter.

Waah… senang sekali saya. Karena sangat kebetulan, saya adalah penggemar berat Harry Potter. Bukan saja filmnya, tetapi buku bukunya juga.

Parade Harry Potter ini dilengkapi dengan Kereta Api yang menuju Hogwarts, lengkap dengan gerbong yang mana kita bisa meligat Harty Potrer, Hermione ada di dalamnya. Lalu ada bendera Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw dan Hufflepuff. He ge he… tentu saja saya penggemar team Gryffindor.

2. Transformers.

Siapa penggemar Transformers?

Nah Parade ini pasti akan sangat membuat histeris para penggemar Transformers.

Betapa tidak, karena kita bisa melihat secara langsung bagaimana robot raksasa ini berubah menjadi mobil dan sebaliknya. Sesuatu yang kita lihat di film, tetapi ini nyata dan persis di depan mata kita.

Ada 2 robot yang lewat malam itu, yaitu Bumblebee, robot berwarna kuning yang malam itu menjadi maskotnya Transformers. Lalu disusul dengan Optimus Prime yang warnanya Biru dan Merah.

3. Jurasic Park.

Berikutnya adalah Parade Jurasic Park yang membawa penonton ke masa silam. Berbagai dinosaurus kita bisa lihat di sini.Ada jenus Raptor, Parasaurolophus, Stegosaurus dan lainnya.

Tetapi jagoannya tentu T- Rex sang pemakan daging yang mengerikan.

4. Minions.

Arak-arakan malam itu ditutup dengan parade yang cukup panjang dari dunia Minions.

Keseluruhan parade itu memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sungguh sangat mengesankan.

Kami pulang ke tempat penginapan dengan kaki super pegal dan perut mulai keroncongan.

Ondel-Ondelku Ke Mana?.

Standard

Suatu malam sepulang kantor saya dan seorang teman memutuskan untuk makan di sebuah resto di Melia Walk. Kami parkir. Dari kejauhan saya melihat Ondel-ondel sedang beraksi di depan sebuah restaurant lain agak jauh di sana. Musik Betawi yang mengiringinya terdengar sayup-sayup. Saya hanya melirik sekilas karena jalanan agak gelap, lalu masuk ke dalam resto. Kami pun memesan makanan dan menunggu pesanan dihidangkan.

Tak seberapa lama saya mendengar suara musik Betawi semakin keras. Pertanda bahwa kelompok Ondel-Ondel yang tadi menari di kejauhan itu sekarang semakin mendekat. Benar saja. Terlihat seorang pemuda dari kelompok Ondel-ondel itu masuk ke dalam resto dan mengedarkan plastik untuk menampung sumbangan.

Saya berniat untuk menyumbang bagi pemain Ondel-Ondel ini. Alasannya karena saya adalah salah seorang pencinta Kesenian Tradisional Nusantara. Saya ingin melihat Ondel-ondel beraksi dan menari. Beberapa saat saya menunggu dan suara musik makin bertalu-talu. Tetapi Ondel-ondelnya tiada muncul. “Lho?! Kemana Ondel-ondelnya?” Tanya saya kepada pria peminta sumbangan. Pria itu kelihatan bingung. Matanya mencari-cari sang Ondel-ondel yang tak muncul muncul. Padahal suara musik sudah sedemikian kencang. Ditunggu-tunggu, ternyata Ondel-ondel tiada kunjung datang.

Saya melemparkan pandangan saya keluar. Astaga!!! Ternyata Ondel-ondelnya berjalan sendiri nun jauh di seberang sana!. Terpisah jarak lebih dari 300 meter dengan pemusiknya. Aduuuuh… ini mah judulnya nyaplir. Ondel-ondelnya kemana…, tukang musiknya ke mana🀣🀣🀣. Sungguh tidak sinkron sama sekali.

Melihat saya serius ingin melihat pertunjukan Ondel-ondel, pria itu tampak malu lalu menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya sambil tersenyum cengengesan. Mimiknya sangat lucu mirip topeng anonymous.

Ya sudahlah. Walau tak berhasil menonton pertunjukan Ondel-ondel, saya tetap mengulurkan sejumlah sumbangan juga. Pemain musik dan pengumpul sumbangan Ondel -ondel itupun pergi.

Tak berapa lama hidanganpun keluar. Saya mulai makan. Saat itu tiba tiba suara musik Jawa terdengar mendekat. Seorang pria dengan kostum traditional masuk dan memperagakan tariannya. Saya tidak tahu persis tari apa. Kelihatannya seperti tarian Ngremo – Jawa Timuran. Sang penari menari dengan lincah dan gemulai. Diiringi musik traditional yang walaupun sedikit mendayu tetapi tetap bertenaga. Mereka cuma berdua. Penari dan pemain musik. Kelihatan sangat harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Lalu sayapun merogoh sejumlah uang dan memberikan sumbangan seikhlas saya.

Seni Traditional Yang Kehilangan Panggung.

Melihat dua pertunjukan traditional ini berturut-turut, entah mengapa saya merasa cengeng. Sangat sedih. Memikirkan bahwa betapa Seni Traditional kita pada kenyataannya kini telah kehilangan panggung. Sementara generasi sekarang lebih menghargai seni asing, entah itu hip hop maupun k-pop lebih membuat mereka histeris dan bangga.

Tiada panggung yang bisa dan mau menampung mereka lagi. Hingga terpaksa menjadikan jalanan terbuka sebagai panggungnya. Para seniman traditional harus berjalan berkilo-kilo untuk mengais rejeki.

Pembinaan dan Apresiasi.

Selain itu, karena untuk menghidupi diri sendiri saja sudah sangat sulit, kelihatan sekali jika para seniman jalanan ini tidak ada yang membina. Tidak punya pembina. Mereka berjalan sendiri sendiri. Tidak ada yang mengarahkan. Tidak ada yang nengajarkan bagaimana berkesenian secara profesional. Sebagai contoh misalnya kedua kelompok kesenian yang baru saja saya tonton.

Bagaimana bisa dikatakan professional jika Ondel-ondelnya jalan sendiri dan menghilang jauuuh… sementara musiknya di sini dan meminta upah. Lha? Apanya yang harus dikasih upah, wong Ondel-ondelnya kabur?. Yang terjadi akhirnya masyarakat menyumbang karena rasa belas kasihan. Bukan karena mengapresiasi keindahan seninya. Dengan cara ini, baik seniman maupun masyarakat telah mendorong Seni Traditional ke dalam kegiatan “MENGEMIS lewat seni” , dan bukan “berkesenian” dengan baik.

Demikian juga jika kita perhatikan para pengamen di jalanan Jakarta. Mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan, tidak untuk menunjukkan kemampuannya berkarya seni, tetapi untuk mengemis. Karena baik sang seniman maupun masyarakat sama sama tidak menunggu sebuah lagu dinyanyikan dengan indah hingga selesai baru menerima upah sebagai bentuk apresiasi. Tetapi baru seperempat jalan, atau bahkan baru mulai sudah diburu buru selesai, diusir, atau cepat cepat dikasih uang agar segera pergi. Seniman diperlakukan tak bedanya dengan pengemis.

Apakah patra pengamen itu atau sang Ondel-ondel itu tahu apa artinya berkesenian secara pofessional?.

Syukurnya di beberapa daerah, seperti misalnya di Yogyakarta, Boyolali, dan sekitarnya para pengamen masih terlihat sangat profesional. Bermusik dan bernyanyi dengan tenang dan indah. Tidak tergiur uang atau terprovokasi untuk segera menghentikan musiknya oleh apa yang terjadi di sekitarnya. Uang hanya diterima di akhir pertunjukan sebagai apresiasi atas apa yang telah mereka persembahkan dengan indah. Nah…itu berkesenian dengan lebih profesional.

Saya berharap pemerintah terutama department terkait membina para seniman jalanan ini dengan lebih baik. Agar Kesenian traditional tetap mendapatkan tempat yang penting di hati masyarakat.

Nah…kalau untuk yang ini saya bisa berdoa dengan style-nya Neno Warisman πŸ˜€

Ya Tuhan, mohon bantu kami ikut melestarikan Kesenian Traditional kami. karena jika tidak, maka kami khawatir kesenian traditional kami ini akan semakin punah “.

Awas Lintasan Rel Kereta!.

Standard

Saya paling takut menyeberang rel kereta. Karena beberapa kali saya mendengar cerita tentang kecelakaan yang terjadi di pintu lintasan kereta. Jadi, saya selalu merasa was-was.

Tapi yang takut melintas di rel kereta ternyata bukan saya saja. Belum lama ini Bapak supir yang setiap hari mengantar saya kemana mana bercerita.

Ibu. Tau nggak ? Tadi saya hampir saja ketabrak kereta?”.

Hah??!!” Kata saya sungguh terkejut. Pengen tahu dong di mana kejadiannya, dan kenapa bisa begitu?.

Ia bercerita kepada saya. Bermula dari sebuah kereta datang dari arah kiri, bel pintu kereta berbunyi dan palang pun turun menutup lintasan. Pak Supir menunggu dengan sabar di antrian. Tak lama kemudian kereta lewat. Tetapi bel pintu lintasan tiada henti berbunyi dan palang pintu juga tak terangkat. Ooh…rupanya ada kereta ke dua dari arah yang berlawanan melintas. Pak Supirpun menunggu lagi dengan sabar. Setelah kereta yang ke dua lewat, pintu lintasan terangkat, bel pintu kereta berhenti berbunyi.

Lalu lintas mulai bergerak kembali perlahan. Sangat lambat, karena arus dari seberang membludak. Saking membludaknya, bukan saja memenuhi jalurnya sendiri, tetapi juga memenuhi jalur yang harusnya diperuntukan dari arah yang berlawanan di mana Pak Supir berada. Sehingga jalan di jalur Pak Supir tertutup.

Pak Supir tidak bisa maju karena kendaraan di depannya tak bisa bergerak juga, akibat ada kendaraan yang dari arah berlawanan menyumbat jalurnya. Adu moncong kendaraan. Diikuti oleh kendaraan lain yang ikut-ikutan melanggar di jalur yang salah itu. Macet total. Juga tidak bisa mundur, karena di belakangnya antrian kendaraan juga sudah sangat padat. Tidak ada ruang lagi.

Masalah terjadi ketika tiba tiba ada kereta bergerak datang dari arah kiri lagi. Bel pintu pun berbunyi ning nong ning nong dan pintu perlahan bergerak menutup. Saat itu posisi kendaraan Pak Sopir baru memasuki lintasan kereta. Ia sangat panik. Maju tak bisa, sementara mundur pun tak bisa. Macet semacet-macetnya.

Orang orang yang melihat pada berteriak panik melihat kejadian itu. Dan Pak Supir bercerita jika ia sampai tidak bisa mendengar apa apa karena saking sangat banyaknya suara teriakan. Juga tak bisa berpikir apa apa karena rasa takut yang luar biasa.

Hingga akhirnya penjaga rel kereta datang, memberi arahan agar ia melintangkan kendaraan sejajar dengan pintu rel kereta. Iapun menggerakkan mobil dengan gugup dan gemetar. Sesegera mungkin. Tepat saat ia berhasil melintangkan kendaraannya di tepi rel, saat itu kereta melintas. Dan akhirnya ia pun selamat. Legaa…. Sungguh sebuah keajaiban Tuhan.

Ya ampuuun!. Mengerikan sekali. Saya merasa sangat tegang mendengar cerita itu. Sangat kasihan pada Pak Supir. Membayangkan bagaimana ia sangat panik dan ketakutan. Bukan maksudnya ia berada di situ. Tapi situasi yang menyebabkan ia demikian.

Saya tahu pasti, Pak Supir ini adalah salah satu orang yang sangat tertib berlalu lintas. Tetapi yang namanya di jalan raya, ketertiban tidak cukup dilakukan seorang diri. Para pengguna jalan raya yang lain juga harus ikut disiplin.

Contohnya dalam kasus ini, walaupun Pak Supir sendiri sudah tertib di jalan, mengantri dengan baik dan benar, menunggu saat kereta lewat, dan hanya masuk saat pintu kereta terbuka dan tidak terlihat ada kereta api. Tetapi, jika pengguna lalu lintas lain tidak disiplin, tidak sabar dan tidak tertib, menyerobot jalur orang lain sehingga lalu lintas jadi macet. Kendaraan yang harusnya bisa masuk dan keluar lintasan kereta dengan cepat, jadinya harus tertahan di dalam lintasan kereta hingga berpuluh-puluh menit sampai akhirnya jadwal kereta berikutnya datang lagi. Nah, ini jadi salah siapa?.

Sangat jelas di sini ketidak disiplinan orang orang di jalan rayalah yang telah mengakibatkan orang lain terjebak di rel keteta hingga nyaris terjadi kecelakaan. Bukankah itu jahat namanya?.

Pelanggaran lalu lintas di pintu lintasan kereta sangat sering saya lihat. Sebagai contoh, coba saja berdiri di pintu lintasan dekat Stasiun kereta di Poris- Tangerang. Dan amati apa yang terjadi. Pastinya kita akan terkejut dan geleng-geleng kepala.

Walau bel pintu kereta sudah berbunyi ning nong ning nong bertalu-talu memberi peringatan keras agar jangan lewat , tetap saja banyak sekali orang yang tetap berbondong-bondong menyeberangi rel kereta. Bahkan, walaupun badan kereta sudah tinggal 2 detik menyambar tubuhnya, tetap saja para jagoan jalanan ini melintas tanpa takut.

Sungguh heran saya. Mengapa ya kok banyak orang seberani itu?. Apakah mereka sakti- sakti?. Atau tidak sabaran? Tidak disiplin?. Atau mungkin sedang sangat kebelet mau ke kamar kecil?.sehingga sampai berani mempertaruhkan nyawa?. Saya tidak mengerti.

Semoga kesadaran untuk tertib berlalu lintas semakin meningkat. Karena bukan saja berguna untuk keselamatan diri sendiri tetapi juga untuk keselamatan orang lain.

Aku Bukan Pemeran Utama.

Standard

Dari group WA orang tua murid, saya mengetahui bahwa anak-anak akan menggelar Drama Musikal di gedung teater sebuah sekolah international. Dan wali kelas menawarkan ticket menonton bagi orang tua murid, max 1 ticket per siswa. Ibu ibu pun pada berlomba lomba membeli. Maklum… namanya anak kita yang manggung ya, tentu setiap ibu pengen melihatnya 😊.

Saya sendiri tentu tertarik juga untuk menonton anak saya manggung. Tapi yang mengherankan adalah mengapa ia tidak ada bercerita tentang Drama Musikal ini sebelumnya yang ternyata digarap dengan seserius ini. Sambil meminta tolong anak saya membelikan ticket, sayapun bertanya. Anak saya menjawab sepintas, bahwa ia tidak bermain Drama. Hanya bernyanyi saja. Ooh, oke!. Mungkin itu sebabnya mengapa ia tidak bercerita sebelumnya. Karena tidak bermain drama. Sayapun tidak bertanya lebih jauh. Saya tahu ia senang bernyanyi dan bermain musik.

Pada hari H, dimana pegelaran akan berlangsung. Anak saya bangun lebih pagi. Karena mau gladi resik dulu.

Saya berdadah-dadah ria dengannya. ” Oke!. Sampai ketemu nanti di sana ya. Nanti mama akan nenonton” kata saya.

Lalu ia berkata “Tapi nanti aku bukan pemeran utama, Ma. Cuma jadi penyanyi latar ya “. Ucapnya pelan, terdengar seperti woro-woro untuk mengantisipasi, khawatir mamanya kecewa karena ia tidak menjadi pemeran utama atau bahkan tidak menemukannya di tengah panggung karena hanya menjadi penyanyi latar.

Oooh!. Saya membesarkan hatinya ” Tidak apa-apa. Kan tidak di setiap panggung kita harus jadi bintang utamanya” kata saya.

Dalam sebuah panggung, kenyataannya bukanlah tentang seberapa besarnya peranan kita, tetapi tentang seberapa baik kita menghayati dan memainkan peranan itu. Karenanya, kita tidak selalu harus menjadi pemeran utama di setiap panggung.

Saya bercerita. Waktu di SMP dan SMA, saya juga beberapa kali manggung dan hanya mendapatkan peranan kecil, peranan latar atau peranan massal, seperti menjadi dayang-dayang, menjadi kijang, menjadi laut dan sebagainya. Peranan yang seandainya saya nggak adapun, drama atau sendratari tetap akan berlangsung dengan baik.

Sampai Bapak sayapun berkelakar soal peranan-peranan saya itu” “Yaah.. dapat peranannya kok nggak jauh jauh dari jadi dayang-dayang, jadi bidadari yang tidak bernama, jadi hutan, jadi angin…. Kapan ini dapat peran jadi Dewi Sitha, atau jadi Putri Candra Kirana, De?”. Ha ha ha… tapi kelakar Bapak saya itu tidak membuat saya berhenti berkesenian. Pernah juga sih mendapat peran utama, tapi itu sangat jarang sekali. Mungkin dari belasan kali manggung, cuma 2 atau 3 kali rasanya memegang peran penting.

Saya tahu, sesungguhnya saya bukan siapa -siapa di panggung itu. Tetapi saya sadar keberadaan saya dibutuhkan untuk membuat keseluruhan pegelaran nenjadi lebih baik, lebih grande dan lebih top deh pada akhirnya.

Menjadi pemeran utama wanita di sebuah panggung teater.dengan setting sebuah penjara.

Saya terus bersemangat di panggung, tanpa mempedulikan besar kecilnya skala panggung dan penontonnya, mau itu panggung sekolah, panggung bale banjar atau televisi. Juga tak peduli akan besar kecilnya peranan saya dalam naskah drama itu. Mau jadi dagang kopi kek, jadi nyonya besar, jadi pembantu dan sebagainya. Lakoni saja dengan bahagia πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saya berperan menjadi dagang kopi, dalam sebuah panggung penyuluhan di sebuah Bale Banjar.

Anak saya ikut tertawa mendengar cerita saya . Sekarang tampaknya ia sudah tambah lega. Lalu ia berangkat dengan riang.

Begitu ia berangkat, saya terjatuh dalam renungan. Bukankah dalam kehidupan sehari -hari pada dasarnya juga begitu?.

Dalam suatu kejadian, mungkin kitalah yang menjadi pemeran utamanya dan yang lain memegang pemeran pembantu dan figuran. Saat demikian, alur cerita kitalah yang menentukan bagaimana drama kehidupan ini akan berakhir. Happy ending kah?. Semoga saja.

Tapi di kejadian lain, barangkali teman kita atau saudara kitalah yang memegang peran utama. Dan kita cukup menjadi pemeran pembantu atau bahkan figuran. Tak mengapalah. Kan tidak mungkin kita mengambil alih pemeran utama dalam panggung drama orang lain.

Nah… kita tak perlu khawatir jadi pemeran utama, pemeran pembantu atau figuran. Yang paling penting kita harus berperan dengan baik. Apapun peranan kita.

Friend Requests!.

Standard

Saat sekarang, ber-sosial media rasanya sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian besar orang. Entah itu lewat Facebook, Instagram, WA dan sebagainya. Saya sendiri termasuk salah satu diantara orang yang senang berbagi cerita, photo, video atau sekedar melihat lihat status teman, sahabat dan keluarga di Sosial Media di saat senggang. Saya melihat lebih banyak manfaatnya ketimbang keburukannya. Berbagai pengalaman dan pengetahuan baru tentu juga saya dapatkan lewat media ini. Juga pertemanan.

Nah…salah satu pengalaman yang ingin saya share di sini adalah soal Friend Request!. Secara umum, kita meminta maupun menerima banyak pertemanan kepada atau dari orang orang yang memang kita krnal di dunia off line. Sangat jarang kita meminta pertemanan dengan orang yang tidak kita kenal. Kecuali jika orang itu artist, public figure atau idola kita.

Tapi jika ada diantara orang yang tidak kita kenal meminta pertemanan dengan kita, apa yang akan kita lakukan?.

Biasanya hal pertama yang saya lakukan adalah melihat mutual friends – nya dengan saya. Jika mutual friendsnya banyak berpuluh puluh jumlahnya, maka saya langsung accept tanpa mikir lagi. Minimal belasanlah. Kemungkinan vesar itu memang teman atau keluarga.

Jika mutual friendsnya ada tapi sedikit (bisa dihitung dengan jari), biasanya saya buka profilenya. Jika kira kira orang baik baik, tidak ada gambar gambar atau kalimat kalimat kurang sopan, umumnya saya accept. Tapi jika ada yang aneh aneh atau promo berlebihan, biasanya tidak saya terima.

Jika account itu tidak saya kenal dan tak ada mutual teman yang saya kenal, biasanya saya berhati hati. Milih milih dan lihat lihat profile serta statusnya. Kadang saya terima kadang tidak.

Tapi ada lagi yang profilenya mencurigakan. Entah apa maksudnya, dia menggunakan foto orang lain sebagai foto profilenya dan namanya saya tak tahu apakah asli atau tidak. Biasanya menggunakan foto foto pria tampan dan berprofesi sebagai tentara, polisi, angkatan udara, pilot, dokter dan sebagainya.

Kalau begini langsung saya delete sajalah. Karena nggak ada gunanya juga meladeni orang yang aneh.

Ini adalah salah satu contoh Account yang meminta pertemanan dalam waktu 2 jam menggunakan foto profile yang sama, tetapi nama account yang berbeda. Masak jam 8 ngaku bernama Pedro Richard, terus jam 10 nya mengaku bernama Melvin Hertling. Baah… aneh banget dah 🀣🀣🀣.

Yang macam begini biasanya saya delete..

Tapi setelah itu dapat notifikasilah dari Facebook πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Ayo teman-teman, coba sharing bagaimana cara teman teman menyikapi Friend Requests di SosMed?

Keselek Tulang Ikan Patin.

Standard

Saya ikut acara makan malam bersama yang diselenggarakan kantor di sebuah restaurant di daerah Sentul, Bogor. Untuk mempercepat waktu, teman panitya mengedarkan daftar menu sebelum kami berangkat, sehingga kita bisa memesan lebih awal. Saya sendiri memesan Ikan Gurami bakar hasil mencontek dari teman sebelah.

Jam 19.15 kamipun berangkat menuju restaurant yang dimaksud. Karena jumlah kami banyak, restaurant itu tetap saja keteteran. Ada pesanan yang dihidangkan lebih cepat dan ada juga yang lama. Orderan saya termasuk yang lama datangnya.

Karena sudah lapar, dan pesanan belum datang, maka teman-teman yang pesanannya sudah datang menawarkan untuk berbagi saja. Semua makanan yang ada di atas meja kita sharing saja. Di depan saya terhidang sebuah makanan unik “Ikan Patin dalam Bambu”. Orderan teman yang duduk di depan saya.

Waah… hidangan apa ini ya?. Saya tidak tahu banyak tentang Ikan Patin. Pernah sih diajak makan pindang Ikan Patin oleh teman saat sedang kunjungan kerja ke daerah Sumatera.

Masakan Patin dalam bambu ini lebih mirip dengan pepes. Banyak bumbu rempahnya, dibungkus daun pisang dan dimasak dalam bambu. Sayapun mencoba sesendok. Enak!. Karena ikan gurami pesanan saya sendiri sudah datang, maka saya lanjutkan makan dengan ikan gurami bakar. Sambil saya sharing juga ke teman teman lain.

Karena masih banyak, teman saya yang di sebelah menawarkan lagi ikan patinnya. Dia juga ngorder ikan patin dengan bumbu yang sama di dalam bambu.

Menurut saya, sebenarnya yang bikin enak adalah bumbunya. Ikannya sih biasa saja, jadi saya ambil bagian yang dekat ekornya dimana bumbunya kelihatan tebal dan menumpuk. Saya ambil sesendok dan pindahkan ke piring saya.

Oooh!. Saya baru nyadar ikan patin ini ada banyak durinya juga. Duri berupa tulang ikan yang kecil dan tipis. Sebelumnya saya tidak tahu kalau Ikan Patin ini memiliki duri banyak. Terbersit dalam pikiran saya jika duri tertelan dan nyangkut, pasti bakalan repot banget deh. Jadi saya singkirkan durinya dan makan sedikit dagingnya serta bumbunya.

Saat menelan suapan pertama tiba tiba saya sadari, ada duri ikan nyangkut di kerongkongan saya. Waduww!. Kok secepat ini kejadiannya ya?. Baru saja saya bayangkan, tiba tiba saja sudah terjadi dalam hitungan menit atau bahkan mungkin detik. Tulang ikan nyangkut di kerongkongan saya!. Makanya, jangan suka berpikir buruk. Konon otak kita bekerja seperti magnet raksasa. Ia menarik apapun yang kita pikirkan πŸ˜€.

Terus terang saya panik. Berusaha batuk untuk mengeluarkan duri itu. Tapi duri tidak bergerak. Saya rasa dia nancap di pangkal tenggorokan saya. Saya minum teh hangat banyak banyak. Tapi tidak menolong.

Teman teman yang melihat kejadian itu berusaha menolong dan menyarankan makan nasi bulat bulat tanpa dikunyah. Saya ikuti. Tapi tak berhasil. Yang ada saya malah mual mual.

Akhirnya saya ke toilet. Mau melihat di kaca dengan bantuan senter hape. Siapa tahu tulangnya bisa kelihatan dan bisa saya ambil. Ternyata tidak kelihatan apa apa. Saya terus berusaha batuk- batuk dan muntah, siapa tahu tulangnya bisa bergerak keluar. Tapi ternyata tidak bisa. Dia tetap di situ dan sangat sakit. Saya pikir kerongkongan saya mulai terluka sekarang.

Saya kembali ke teman teman saya. Dan coba lagi cara- cara yang disarankan oleh teman teman saya. Banyak – banyakin minum yang panas, telan nasi bulat bulat. Tetap tidak berhasil. Kerongkongan saya makin sakit.

Setelah berembug dengan teman teman, akhirnya saya diantar ke UGD rumah sakit terdekat di Bogor. Perawat dan dokter di sana menerima saya dengan sangat ramah. Menanyakan kasus saya dan mulai pemeriksaan dengan seksama. Tapi dokter UGD tudak menemukan tulang di area kerongkongan yang bisa terlihat. Hanya iritasi dan kemerahan karena luka. Apakah durinya sudah nggak ada? Tapi kok masih terasa mengganjal dan sakit ya?. Mungkin posisi duri ikannya agak turun saja, tapi masih tetap di situ. Dokter UGD cuma bilang, jika besok masih terasa sakit sebaiknya saya ke dokter specialist THT. Dan beruntung banget saya tidak dikasih bayar di UGD bahkan satu rupiahpun tidak. Jadi saya melenggang ke luar dengan penuh terimakasih pada dokter dan perawat UGD rumah sakit itu.

Di hotel saya terus berusaha mendorong tulang ikan itu dengan pisang dan minum banyak banyak. Rasa sakit terus menyerang setiap kali saya menelan ludah atau menengok ke kanan. Leher saya terasa mulai menghangat temperaturnya.

Lelah dengan usaha itu, saya mulai berdoa. Semoga Tuhan meringankan penderitaan saya dan mengangkat keluar duri ikan itu. Oh ya.. sekarang saya baru ingat bahwa tadi sebelum makan, saya lupa berdoa agar apapun yang saya makan menyehatkan tubuh saya dan tidak menjadikan saya sakit.

Saya juga lupa berterimakasih pada ikan patin itu yang telah mengorbankan nyawanya sendiri demi kelangsungan hidup mahluk lain. Yaitu saya. Ooh….maafkan saya ikan.

Siang ini saya ke dokter THT. Entah keajaiban datang dari mana, sementara menunggu dokter tiba-tiba rasa mengganjal di kerongkongan saya hilang. Rasa sakit masih tetap ada, tapi rasa ganjal menusuk itu sudah tak ada. Ooh…saya merasa sangat bersemangat. Semoga tulang itu sudah turun ke usus saya. Dan rasa sakit itu hanya dari luka goresan. Dan setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, dokterpun mengkonfirmasi bahwa sudah tidak ada lagi benda asing di sekitar tenggorokan saya. Jadi harusnya saya aman.

Terimakasih Tuhan. Atas perlindungan dan keselamatan yang Engkau berikan.

Saya hanya bisa menasihati diri saya sendiri:

1. Berhati- hatilah kalau makan.

2. Kenalilah dengan baik apa yang engkau makan.

3. Berterimakasihlah kepada setiap mahluk yang telah mengorbankan nyawanya demi keberlangsungan hidup kita dan merelakan dirinya menjadi bagian dari tubuh kita sang pemakannya.

4. Berterimakasihlah kepada Tuhan atas makanan yang kita makan. Dan berdoalah semoga makanan ini memberi kesehatan dan kekuatan untuk tubuh kita dan tidak menjadi penyakit.

Kisah Koloni Lebah Madu Yang Mampir 3 Jam di Halaman.

Standard

Akhir pekan, saya dan anak saya dibantu orang rumah membersihkan halaman. Menggemburkan tanah lalu menabur pupuk NPK secukupnya pada tanaman bunga agar rajin tumbuh kuncup dan makin sering berbunga.

Saat menyiangi tanaman di bawah pohon Spruce yang ditanam anak saya sekitar 10 tahun yang lalu, tak sengaja saya mendongak ke atas. Terlihat ada benda yang menggelantung di sana. Di salah satu cabang dan daunnya. Apa itu ya?. Sayapun berdiri dan mendekat agar bisa melihat dengan lebih seksama.

Wow!. Sebuah koloni Lebah Madu!. Saya sungguh sangat girang melihat pemandangan itu. Ribuan lebah kelihatan berkumpul di titik itu. Berkumpul membangun sarang baru. Dengan sangat kegirangan sayapun berteriak memanggil anak saya untuk menyaksikan kejadian langka ini.

Tapi anak saya kelihatan malah agak khawatir jika Lebah Madu itu membuat sarang di sana. “Takutnya ntar malah menyengat kita. Mendingan diusir sebelum mereka menetap di situ” kata anak saya. “Tidak!. Lebah tidak akan menyengat jika kita tidak mengganggunya” kata saya. Jadi biarkan saja di situ.

Saya lalu memberi pengertian pada anak saya bahwa kita harus membantu membiarkan lebah berkembang untuk menjaga keutuhan ekosistem. Lebah membantu penyerbukan tanaman kita. Biarkan lebah itu bersarang di tempat yang disukainya.

Halaman rumah kita adalah tempat yang nyaman buat Lebah Madu untuk bersarang, karena kita menyediakan makanan yang berlimpah untuk mereka, berupa bunga bunga yang mekar di halaman.

Anak saya merasa masih belum nyaman. Ia masih khawatir jika lebah- lebih ini mengamuk dan menyerang. Tapi saya tidak memperpanjang lagi kalimat saya. Terlalu malas berdebat. Sayapun melanjutkan pekerjaan saya memberi pupuk pada tanaman. Demikian juga anak saya kembali sibuk mencongkel umbi umbi bunga Lily Hujan / Zepyranthes yang bertebaran tak beraturan di halaman.

Beberapa saat kemudian, kembali saya menengok koloni Lebah Madu di pohon Ciprus itu. Astaga!!!. Ternyata koloni Lebah Madu itu telah menghilang begitu saja. Batang itu sekarang kosong dan bersih. Tak ada lagi ribuan lebah yang bergantung. Jangankan ribuan atau ratusan, ini seekorpun tidak tersisa. Sungguh saya heran dengan kejadian ini. Kemanakah gerangan mereka pergi?. Saya mencoba melihat lihat di pohon lain. Tidak ada. Tidak ada diantara kami yang mengetahuinya.

Pasti ada sesuatu yang tidak tepat, mengapa koloni Lebah Madu itu mengurungkan niat membuat sarang di halaman.

Entah kenapa saya merasa sangat sedih dan menyesal dengan kejadian ini. Saya pikir kami tidak menyambut kedatangan lebah lebah itu di halaman rumah kami dengan cukup baik.

Dan percaya atau tidak… alam sekitar mungkin mampu membaca hati kita. Membaca pikiran kita, lewat gelombang otak yang kita pancarkan. Walaupun lebah lebah itu tidak bisa berbicara dengan kita, tetapi sesungguhnya mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan kita. Mungkin mereka bisa menangkap energy dan gelombang yang kita pancarkan. Mereka membaca kekhawatiran anak saya dan bisa merasakan jika mereka tidak diterima dengan mulus untuk bersarang di halaman rumah ini. Mungkin saja itu penyebab mengapa koloni lebah itu pergi entah kemana. Saya sangat menyesal, tidak menutup percakapan saya dengan anak saya sebelumnya dengan baik. Harusnya saya tegaskan kepada anak saya bahwa koloni lebah ini akan kita terima dengan baik di sini.

Nah…itulah pentingnya berpikir dan berkata serta bertindak yang selalu positive terhadap mahluk lain. Saya harus minta maaf pada koloni lebah ini.

Anak saya mencoba mencari penyebab lain dengan mengatakan bahwa koloni Lebah Madu itu mulai bergerak pergi sedikit demi sedikit sejak ia menyalakan mesin kendaraan yang di parkirnya di bawah pohon Ciprus itu. Bisa jadi. Mungkin karena bising. Sehingga Lebah pun tidak merasa nyaman.

Whua ha ha… mungkin saya terlalu melankolis. Mungkin anak saya benar, bahwa suara mesin kendaraanlah yang membuat Lebah Madu itu merasa kurang nyaman. Kelihatannya ini yang lebih logis dan masuk di akal.