Category Archives: Life

Tangkai Kedondong Yang Patah.

Standard
Tangkai Kedondong Yang Patah.

Saya memindahkan pohon kedondong yang potnya telah kekecilan dan tak layak. Pohon ini sangat rajin berbuah dan banyak-banyak. Akarnya menembus block bata di halaman.

Sebenarnya agak nervous juga saya mrncabutnya, takut akar utamanya putus. Tapi saya tak punya pilihan lain. Pohon kedondong ini butuh pot yang lebih besar.

Rupanya saat saya menarik batangnya dengan sekuat tenaga, ternyata salah satu cabang yang buahnya lebat, patah tangkainya. O o!!!. Beberapa buah kedondong bahkan jatuh menggelinding di bawah. Saya sangat terkejut dan sedih dengan apa yang telah terjadi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Memanen buah kedondong yang tangkainya patah itu? Semuanya ada 14 buah. Rontok empat dan sisa 10 buah. Masih muda semuanya. Nanti saya jadikan jus kedondong saja. Seger!!!.

Atau apa coba saya biarkan saja ya?. Walaupun tangkainya patah, siapa tahu pohonnya masih bisa memberi nutrisi kepada buah-buah kedondong itu hingga tetap membesar dan matang. Nah..nanti setelah matanv barulah saya panen.

Akhirnya saya memilih option yang ke dua. Saya biarkan buah kedondong itu masih menggantung di tangkainya yang patah.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan buah kedondong itu pada layu dan kisut. Buahnya lembek. Saya tidak melihat kemajuan dari pertumbuhan buahnya. Yang terjadi malah kemunduran. Saya tahu buah kedondong ini tak akan pernah mencapai masa matangnya dengan baik. Mengapa? Karena tangkai yang patah tak mampu mengangkut nutrisi yang cukup lewat jaringannya untuk disupply ke buah muda yang masih butuh berkembang. Sehingga buah tak bisa berkembang dengan baik. Selain itu akar kedondong ini setidaknya juga agak terputus, sehingga ia harus berusaha mengais nutrisi dari lingkungannya yang baru dengan ujung akar yang sedikit berkurang jumlahnya. Untuk tetap segar, buah harus tetap terhubung dengan batang dan akarnya, dan akarnya tetap membumi. Jadi “koneksi” alias “keterhubungan” itulah jawabannya!. Dalam hal ini tangkai berfungsi sebagai conector.

Yah… saya pikir memang begitulah pada kenyataannya. Dan hal yang serupa juga terjadi dengan diri kita. Kita membutuhkan “keterhubungan” untuk menjaga diri kita tetap hidup dengan baik. Keterhubungan dengan pekerjaan sebagai sumber rejeki, keterhubungan dengan keluarga, sahabat dan orang orang yang kita cintai sebagai sumber kasih sayang, dan sebagainya hingga keterhubungan diri kita dengan Sang Parama Atma Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari sang diri alias Atma atau roh kita. Kita perlu menjaga keterhubungan ini dengan baik. Karena jika tidak, maka hidup kita tak ubahnya dengan buah buah kedondong yang patah tangkainya itu.

Saya tercenung sejenak mendapati pikiran saya menjalar ke mana mana.

Renungan di kebun.

Advertisements

Biji Duku Yang Tumbuh Di Dalam Perutku.

Standard

Flasback ke masa kecil : “Wah.gawat!!!. Kalau tertelan, biji duku ini nanti akan tumbuh di dalam tubuhmu” kata kakak sepupu saya. Astaga!!!!!🀀🀀🀀

Semalaman saya tak bisa tidur memikirkan kalimat itu setelah tanpa sengaja saya menelan biji duku. Saya menyangka, besok paginya biji duku itu akan keluar akar yang menjalar dan mungkin menembus perut saya. Tumbuh batang dan ranting yang mungkin menembus tenggorokan mulut, mata, hidung dan telinga saya. Whua…betapa mengerikannya 🀀😲😒😭

======================================

Kejadian masa kecil itu melintas kembali di ingatan saya pada suatu siang, ketika saya berada di sebuah studio foto dan tuan rumah menghidangkan buah duku.

Buat anak kecil, memakan buah duku bukanlah perkara yang mudah. Karena untuk membukanya saja, kulit buah ini terkadang bergetah dan pahit. Terutama jika buahnya kurang tua. Jadi harus pintar pintar memilih yang kulitnya empuk dan tua biar nggak bergetah.

Lalu setelah memilih buah yang tua dan manis, kita dihadapkan pada masalah biji duku. Tidak semua juring buah duku bebas biji. Beberapa bahkan ada yang bijinya besar. Dan jika tergigit rasanya sungguh pahit. Nah kita harus pelan pelan dan hati hati memakannya. Jika bijinya kecil, memang lebih praktis langsung telan saja πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Dari kesulitan itulah akhirnya banyak anak menelan biji duku baik sengaja maupun tak sengaja. Dan rupanya, banyak anak juga yang mengalami dibohongin kakaknya bahwa “nanti biji duku yang tertelan ini akan tumbuh di perut ” . Bukan saya saja. Ha ha

Sambil mengunyah buah duku, saya mikir mikir lagi. Mungkin sebagian ada benarnya juga, pernyataan bahwa biji duku itu nanti akan tumbuh dalam tubuh kita itu.

Teringat obrolan dengan seorang sahabat saya. Sebenarnya, apapun yang kita makan, termasuk buah duku dan bijinya, masuk ke dalam perut kita, pada akhirnya akan dicerna juga dan dimanfaatkan untuk membangun tubuh kita sendiri. Walaupun tentu ampasnya dibuang oleh tubuh. Sari sari buah duku ini akhirnya menjadi tubuh saya. Betul bahwa ia ikut tumbuh dalam tubuh saya.

Buah duku ini telah mengorbankan dirinya dan jiwanya untuk menjadi bagian dari tubuh, tempat di mana jiwa saya bersemayam. Ia berkorban untuk saya. Ia berjasa bagi saya.

Oh…tapi mengapa saya tidak mengucapkan terimakasih saya kepada buah duku ini?. Dan faktanya sata tidak hanya makan buah duku saja selama hidup saya. Ups!!!!.

Saya juga makan beras/padi, makan kangkung, makan ayam, ikan, talas, singkong, dan sebagainya. Whuaaa…banyak sekali mahluk hidup yang saya makan. Ribuan, mungkin jutaan nyawa telah berkorban hanya untuk kepentingan satu nyawa. Yaitu nyawa saya sendiri. Mengapa saya tidak pernah ingat untuk berterimakasih pada semua mahluk hidup itu?????. Padahal mereka sudah sangat berjasa mengorbankan nyawanya untuk membangun tubuh saya.

Kalau sedang ingat, sebenarnya saya juga berdoa sebelum makan sih. Berdoa kepada Tuhan, berterimakasih sudah diberikan rejeki sehingga saya masih bisa makan hari itu. Berdoa agar makanan yang saya makan memberikan kesehatan yang baik untuk saya dan bukan membuat saya sakit. Kedengerannya cukup religius juga ya saya (kalau sedang ingat πŸ˜€) ha ha… Semua doa doa itu tentu sudah baik.

Akan tetapi, saya pikir sebenarnya berdoa seperti itu saja belum cukup. Akan lebih baik lagi jika saya juga selalu berterimakasih dan mengenang pengorbanan diri hewan-hewan dan para tanaman yang saya makan ini yang telah nengorbankan kelangsungan hidupnya, demi untuk mendukung kelangsungan hidup saya.

Sekarang jika ada orang yang bertanya kepada saya, siapakah saya?. Jawabannya, saya adalah kumpulan mahluk mahluk yang telah mengorbankan nyawanya dan kehidupannya untuk sebuah kehidupan lain.

Dari Grand Launching Safi. Perawatan Kulit dengan Konsep Halal, Natural & Teruji.

Standard
Dari Grand Launching Safi.  Perawatan Kulit dengan Konsep Halal, Natural & Teruji.

Hari Kamis yang lalu, kebetulan saya mendapat kesempatan menghadiri launching Safi, sebuah merk perawatan kulit ternama di Asia yang kini masuk ke pasaran Indonesia, di Mall Kota Kasablanka, Jakarta.

Di hadapan ratusan undangan yang hadir di acara itu, Mr Kumar Chander dari group Wipro Unza dalam sambutannya memberikan sedikit background tentang merk perawatan kulit ini. Bahwa Safi pada saat ini merupakan brand perawatan kulit no 1 di Malaysia.

Dengan didukung oleh Safi Research Institute, yang merupakan Halal Research Institute pertama di dunia, produk produk Safi dikembangkan dengan konsep HALAL, NATURAL dan TERUJI. Sehingga konsumen tidak perlu ragu lagi untuk menggunakannya. Mengingat kesuksesan demi kesuksesan yang telah diraih brand perawatan kulit ini di negara lain, Mr. Kumar Chander pun yakin jika konsumen Indonesia juga akan puas menggunakannya.

Dalam acara itu Ir. Hj. Muti Arintawati M.Si dari MUI juga memberikan penjelasan yang sangat detail tentang apa itu Skin Care yang halal dan apa saja persyaratannya untuk mendapatkan sertifikat halal.

Walaupun di Malaysia sendiri Safi telah mendapatkan Sertifikat Halal dari badan JAKIM Malaysia (setara dengan MUI), menurut Ibu Muti, untuk di Indonesia Safi tetap harus melalui proses pengujian dan evaluasi dan saat ini telah berhasil mendapatkan Sertifikat Halal kelas A. Dan dalam kesempatan itu juga dilakukan penyerahan sertifikat halal oleh MUI diwakili oleh Ibu Muti kepada Wipro -Unza sebagai produsen dari merk Safi yang diwakili oleh Mr. Kumar Chander didampingi oleh Mr. Neeraj Khatri.

Safi merupakan rangkaian produk perawatan yang sangat lengkap, terdiri atas perawatan wajah, tubuh dan bahkan perawatan rambut. Tak tanggung-tanggung Mashuri Sulaeman, Marketing Manager dari Safi Brand di Malaysia ikut hadir memberikan gambaran yang lengkap tentang brand Safi dan kesuksesannya di negara itu.

Untuk di Indonesia sendiri, menurut Diana Susiani, Senior Brand Manager Safi Indonesia, saat ini Safi hadir dalam 3 rangkaian yakni Safi White Expert, Safi Age Defy, dan Safi White Natural.

1/. Safi White Expert.

Rangkaian Safi White Expert, merupakan produk perawatan yang memanfaatkan keajaiban Habbatus Sauda dan Oxywhite Technology untuk membantu wanita mendapatkan kulit cerah optimal.

Habbatus Sauda diketahui memiliki kemampuan untuk melindungi kulit dari radikal bebas membantu kulit agar terasa lembut dan tetap terawat. Sedangkan Oxywhite Technology membantu membebaskan oksigen ke dalam kulit, menutrisi kulit, sehingga kulit tampak lebih cerah merata.

Dengan kemampuannya membantu meratakan rona kulit dan mencerahkan kulit kusam, rangkaian produk ini sangat memahami kebutuhan wanita berhijab dimana kulit wajah terkadang belang akibat sebagian terpapar matahari sementara sebagian lagi tertutup hijab. Selain membantu meratakan rona kulit dan mencerahkan kulit kusam, Safi White Expert juga membantu menghaluskan kulit, memberi perlindungan terhadap sinar UV, membantu memudarkan pigmentasi kulit, melundungi terhadap radikal bebas, meningkatkan elastisitas kulit, menjaga kelembaban dan kelembutan kulit. Sungguh 10 perfect actions!.

Saya berkeliling di sekitar untuk melihat lihat produk apa saja yang ada dalam rangkaian ini. Bisa kita temukan Purifying Cleanser, Deep Exfoliator, 2 in 1 Cleanser & Toner, Purifying Make Up Remover, Skin Refiner, Illuminating Day Cream SPF 15 PA++, Replenishing Night Cream, CC Cream SPF 24 OA ++ dan White Expert Ultimate Essence.

Wow!. Lengkap juga ya.

2/. Safi Age Defy.

Dari namanya kelihatan bahwa rangkaian produk ini berfungsi untuk membantu wanita mengembalikan kemudaan kulit. Wow!. Cocok banget untuk saya nih. Jika ditelusuri lebih jauh, rangkaian produk ini mengadung Ekstrak Emas yang dikenal sejak jaman dulu kala dipakai oleh para bangsawan untuk memelihara keremajaan dan kecantikan kulit , dan Protein Sutera dengan 18 jenis asam aminonya membantu membentuk lapisan perlindungan kulit, berfungsi memelihara kelembaban dan kehalusan kulit wajah agar terasa lembut bagai sutera.

Apa saja produk yang tersedia dalam rangkaian Age Defy ini? Saya lihat ada Cream Cleanser, Deep Exfoliator, Cream Cleanser Deep Moisturizer,Concentrated Serum, Skin Refiner, Day Emulsion SPF 25 PA ++, Renewal Night Cream, Eye Contour Treatment dan Age Defy Gold Water!. Wah…ini keren banget.

3/. Safi White Natural.

Ini rangkaian Whitening juga. Hanya yang ini lebih menekankan ke konsep natural.

Rangkaian ini ada yang mengandung Ekstrak Mangosteen (Manggis) yang membantu menjaga kelembaban alami kulit wajah serta memeliharanya tampak lebih cerah bercahaya. Dan ada juga yang mengandung Ekstrak Grapefruit dengan kandungan Vitamin C nya membantu melindungi kulit dari paparan radikal bebas dan membantu untuk mengontrol sebum agar kulit tampak lebih segar dan cerah.

Rangkaian produk Safi White Natural terdiri atas Brightening Cleanser Mangosteen Extract, Brightening Cream Mangosteen Extract, Brightening Cleanser Grapefruit Extract dan Brightening Cream Grapefruit Extract.

Cukup banyak dan lengkap juga ya produknya. Menarik untuk dicoba.

Bertemu Sang Penulis: Satria Mahardika.

Standard

Di hari ketibaan saya di Bali liburan kemarin, sahabat saya mengabarkan bahwa ada kemungkinan sastrawan Umbu Landu Paranggi akan ada di Puri Kilian, Bangli besok. Dan menyarankan saya juga datang ke Puri Kilian agar bisa bertemu, mengingat beberapa minggu sebelumnya Umbu ada menanyakan kabar saya. Saat itu saya sedang berada di Singapore dan untungnya dengan bantuan skype, saya dan Umbu sempat ngobrol juga. Nah sekarang, menurut sahabat saya, ada kesempatan bagi saya untuk benar-benar bisa bertemu langsung dengan beliau lagi di Puri Kilian. Tentu dengan senang hati saya akan datang.

Lalu teman saya juga mengabarkan bahwa jika mau, hari ini saya juga bisa bertemu dengan Satria Mahardika , sang penulis buku Merdeka Seratus Persen-Kapten TNI AAG Anom Muditha yang bukunya saya simak dan tulis di sini https://nimadesriandani.wordpress.com/2018/01/04/menyimak-buku-merdeka-100/

karena hari ini pun beliau ada di Puri Kilian. Wah…sungguh kabar yang baik. Saya mau ke Kilian sekarang kalau begitu. Selain tentunya karena saya juga sudah kangen dengan sahabat saya dan keluarga Puri Kilian.

Dengan senang hati sayapun ke Kilian membawa anak-anak dan keponakan. Sesampai di Kilian, saya disambut oleh Agung Karmadanarta, sahabat yang bagi saya sudah serupa dengan saudara sendiri. Agung Karmadanarta adalah salah seorang keponakan dari pahlawan AAG Anom Muditha. Sahabat saya ini adalah seorang pemusik yang pastinya sebuah kebetulan banget bagi anak-anak saya yang juga lagi getol banget belajar musik. Jadilah kesempatan ini digunakan oleh anak saya buat berguru. Mereka pun bermain gitar dan keyboard bergantian. Bahagia melihatnya.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kurus dengan rambut panjang yang digelung ke atas datang. Duduk dan menyalami saya. Ooh…rupanya beliau inilah sang penulis buku Merdeka Seratus Persen. Kami berbincang sesaat. Berkenalan dan menceritakan sedikit tentang diri kami. Penulis Satria Mahardika alias Saiful Anam ini adalah kelahiran Kroya ( Cilacap). Lalu ngobrol tentang buku. Rupanya buku Merdeka Seratus Persen adalah buku ketiga yang ditulis oleh Satria. Buku pertamanya adalah kumpulan puisi yang cukup tebal berjudul Suluk Mahardika. Wah… produjtif juga ya. Agak sulit untuk mengobrol panjang karenasambil ngobrol kami juga mendengarkan permainan musik Gung Karma dan anak saya. Sayang jika dilewatkan. Tiba tiba Satria Mahardika melemparkan ide. Bagaimana jika kita mengkolaborasikan puisi dengan musik?. Whua…. ide yang sangat bagus!. Satria Mahardika meminta saya membuka “any” halaman di buku Suluk Mahardika itu dan membacakan apapun puisi yang terpampang di halaman yang saya buka.

Sayapun membuka acak halaman buku yang tertutup itu dan mata saya tertumbuk pada puisi ” Satria Mahardika”. Saat itu saya belum ngeh kalau nama Sang Penulis adalah Satria Mahardika. Jadi sayapun membaca puisi itu tanpa ada link di pikiran saya kepada nama Sang Penulis. Belakangan; setelah pulang dari Puri Kilian saya baru terpikir akan hal itu πŸ˜€.

Membacakan puisi dadakan dan berkolaborasi dengan pemusik seperti itu rasanya beda banget. Semua terasa indah. Katrena sekarang, keindahan menjadi terasa berlipat ganda menembus dimensi lain dari panca indera kita.

Setelah itu giliran Satria Mahardika membacakan puisinya yang berjudul Aira. Tentu beda lah ya, jika sang penulis yang sekaligus membacakan sendiri karyanya. Bagai menyusur sebuah fragment perjalanan yang ia hapal betul kontur jalannya. Ia tahu di mana dan kapan harus menurun dan mendaki. Di mana harus berhenti sejenak untuk menarik nafas dan melihat view di sekitarnya untuk menikmati keseluruhan perjalanan dengan holistic. Tepuk tangan untuk Satria Mahardika. Keren ya!.

Di sini saya berhenti sejenak. Memandang anak anak dan para sahabat yang sedang menikmati keindahan yang sedang bergaung dalam jiwanya. Sebagaimana seorang mathematician menghayati keindahan angka-angka dan sang pelukis menghayati bias warna warna, demikianlah sang pemusik menghayati setiap tangga nada dan sang penyair menghayati keindahan setiap kata. Setiap element di alam semesta ini memiliki keindahan tersendiri bagi setiap orang yang mau dan berhasil menangkap esensinya dan menghayatinya.

Ah!. Bali memang tempat di mana seni tak pernah ada matinya. Terimakasih Satria Mahardika, Agung Karmadanarta, Agung Kartika Dewi, Agung Chocho dan anak anak keponakan yang mewujudkan keindahan kolaborasi ini. Liburan mendatang kita bertemu lagi yah..

Selamat Tahun Baru 2018.

Standard
Selamat Tahun Baru 2018.

Selamat pagi teman- teman pembaca. Selamat Tahun Baru 2018!.

Tahun 2017 baru saja lewat. Tentu saja tahun itu memberi arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang menganggapnya sebagai tahun yang penuh dengan hal-hal baru yang menyenangkan, tahun tahun yang penuh dengan kebahagiaan dan kesuksesan, atau mungkin juga ada yang menganggap tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan kedukaan dan sebagainya.

Bagi saya sendiri, setelah saya tengok ke belakang, tahun 2017 adalah tahun yang paling kurang produktif. Baik secara pribadi maupun dalam aspek kehidupan saya yang lainnya. Tahun di mana saya hanya menghasilkan sedikit karya yang memuaskan hati saya.

Salah satu contohnya adalah dalam dunia blogging. Jumlah tulisan saya tahun ini sungguh turun drastis. Hanya 49 buah dalam setahun. Sebagai pembanding saya ambil tahun lain secara acak – misalnya tahun 2012, saya menghasilkan 201 tulisan dalam setahun!. Nah, bayangkan betapa kurang produktifnya saya di tahun 2017 lalu. Seperempat dari tahun 2012 pun tak ada. Sungguh terlalu!.

Contoh lain adalah dalam hal per”dapur hidup” an. Kegiatan saya dalam menanam kebutuhan dapur sehari-hari. Tahun 2017 ini panen saya sangat terbatas jika dibandingkan tahun sebelumnya. Terang saja, karena kegiatan menanam agak berkurang. Lho…kenapa bisa begitu ya?

Alasannya tentu banyak. Semua alasan bisa kita cari sebagai bentuk pembenaran atas kekurang berhasilan kita. Yang paling mudah adalah menyalahkan kondisi ekonomi di tahun 2017 yang lagi sulit πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€, yang menyita perhatian dan waktu saya lebih banyak, sehingga saya tak punya banyak waktu untuk berpikir dan menghasilkan sesuatu. Kedengeran agak masuk akal nggak?. Ha ha..πŸ˜ƒ πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Terlepas dari apapun yang saya sebut sebagai penyebabnya, namun di dalam hati saya tetap mengakui bahwa seandainya saja saya sedikit lebih semangat dan lebih rajin mengerahkan pikiran, daya upaya dan usaha saya, tentu hasilnya akan menjadi lebih baik dari itu.

Nah lho?! Jadi kesimpulan sebenarnya adalah, segala bentuk kesuksesan ataupun kekurang suksesan, jika mau jujur sangat ditentukan oleh seberapa jauh kita meletakkan semangat dan upaya kita untuk mencapainya diatas segala situasi yang ada.

Hari ini tahun 2018 telah hadir. Saya rasa ada baiknya saya gunakan sebagai tonggak batu, tonggak titik balik yang memompa semangat hidup saya kembali agar bisa lebih produktif lagi berkali lipat dibanding tahun 2017.

Orang bilang, ucapan adalah doa. Dan doa akan selalu berhasil terbaik jika dibarengi dengan upaya yang sepadan juga.

Baiklah teman-teman semuanya, sekali lagi Selamat Tahun Baru 2028. Semoga di tahun 2018 ini kita semua menjadi lebih produktif dan lebih sukses.

Siapa Yang Menabur Benih.

Standard

Musim hujan, membuat keriaan baru di alam sekitar. Pohon -pohon tumbuh subur dan biji-biji bersemaian di tanah. Demikianlah tiba-tiba saya mendapatkan banyak anakan bayam di halaman. Tumbuh di pot-pot dan tanah di sekitar tempat saya duluuuu bangeeeet pernah menanam bayam.

Rupanya ketika bayam itu menua, ia mulai berbunga dan berbuah. Biji bijinya jatuh ke tanah. Mereka tertidur di tanah hingga hujan membangunkannya kembali. Whua…senangnya dapat bibit gratisan πŸ˜€πŸ˜πŸ˜˜

Sayapun memindahkan bayam bayam itu ke pot dan ke bak hidroponik.

Kurang lebih tiga minggu kemudian, pohon-pohon bayam itu mulai membesar dan siap dipanen.

Saya senang dengan apa yang saya dapatkan. Bayam-bayam ini membuat saya merasa seperti mendapatkan durian runtuh. Tetutama karena saya sudah lama tidak menanam bayam, eeh…tiba-tiba nemu anakan bayam di sekitar tempat dulu saya pernah menanam bayam. Sungguh, saya tak pernah mengharapkan rejeki seperti ini menghampiri saya dengan mudah. Tak disangka, dari niat menanam bayam saat itu saja, saya mendapatkan hasil jangka panjang.

Ini mirip yang terjadi dengan hidup. Ketika kita berbuat baik kepada mahluk-mahluk di sekitar kita tanpa mengharapkan hasil apapun, tanpa disangka suatu saat kebaikan pun datang kepada kita dengan caranya sendiri, walaupun kita telah melupakannya. Itulah hukum Karma Pala. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik ataupun buruk akan selalu ada hasilnya, entah jangka pendek ataupun jangka panjang .

Alam membuat catatan tentang baik buruknya perbuatan kita, dan kelak akan mengembalikannya kepada kita.

Jika kebaikan yang kita tanam kepada orang lain dan mahluk sekitar, baik pula yang akan kita tuai. Sebaliknya jika keburukan yang kita tanam kepada orang dan mahluk lain di sekitar, maka keburukan jugalah yang akan kita panen suatu saat nanti.

Saya sangat percaya akan hal ini.

Bakpia Yang Tak Utuh.

Standard

Suatu kali, di tengah malam saya merasa agak lapar. Mau makan buah melon dan mangga potong yang ada di kulkas, tapi rasanya kok perut saya agak dingin ya. Jadi saya mencari alternatif lain.

Nah… ketemu box kertas bakpia pathok. Walaupun disimpan di kulkas juga, mungkin yang ini bisa jadi pilihan yang lebih baik. Karena tak berair.

Saya ambil box bakpia itu. Berharap masih ada 1-2 buah isinya yang tersisa. Tidak dihabiskan oleh anak-anak. Lalu saya buka. Astaga!!!. Betapa terkejutnya saya melihat isinya.

Bakpia tidak utuh dan kelihatan seperti bekas gigitan lalu dimasukan kembali ke dalam box. Tidak bundar seperti seharusnya. Sebagian tak beraturan, sebagian mirip bulan sabitπŸ™„πŸ™„πŸ™„

Aduuuh… siapakah yang melakukan perbuatan ini?. Iseng banget. Mungkinkah anak-anak? Tapi mengapa mereka melakukan hal konyol ini? Sekarang mereka sudah besar-besar, sudah tumbuh remaja. Masak begitu ya?. Kalau dulu waktu masih play group mereka begitu saya mungkin bisa mengerti. Tapi kalau sekarang? Hadeuuuh…

Saya tidak bertanya apa-apa karena kedua anak saya sudah tidur nyenyak. Sayapun lalu ikut tidur.

Esok paginya saya bertanya kepada anak saya mengapa ada bakpia yang terpotong potong bekas tergigit dimasukkan kembali ke dalam boxnya di kulkas? The moon crescent cake?.

Anak saya yang kecil segera mengatakan tidak. Bukan ia pelakunya. Dan ia juga ikut heran, mengapa ada kue bekas gigitan disimpan kembali di kulkas.

Lalu anak saya yang besar keluar dari kamar. “The explanation is….” katanya

Sebelumnya ada semut yang masuk ke dalam box bakpia itu. Untuk memastikan kalau semutnya tidak menginvestasi ke dalam kue, jadinya kuenya kupecah pecah. Aku periksain satu per satu. Tapi karena semutnya nggak ada, kupikir kuenya masih bisa dimakan. Jadi, kumasukkanlah lagi ke dalam box dan kutaruh di kulkas” kata anak saya.

Oalah…πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Jadi itu ya penjelasan tentang kue terpotong-potong itu. Ya…masuk akal juga sih. Tapi tanpa penjelasan itu tentu tak seorangpun mau memakan potongan-potongan kue itu karena menyangka itu kue bekas gigitan. Untung saja kue itu tidak saya buang ke tong sampah semalam.

Ya ya!. Memahami keseluruhan permasalahan itu sangat penting gunanya agar kita tidak salah mengambil kesimpulan dan tidak salah mengambil tindakan.

Kayanya sering terjadi juga dalam kehidupan kita sehari-hari ya? Seringkali kita melihat sesuatu, agak aneh menurut pandangan kita. Tanpa bertanya, entah karena enggan, malu atau tidak tahu bagaimana caranya bertanya atau kepada siapa bertanya, kita jadi cenderung menduga-duga sendiri apa yang terjadi.

Walaupun ketika kita tahu keseluruhan ceritanya, ternyata sangat jauh dari apa yang kita pikirkan atau sangkakan sebelumnya.

Kita jadi sering under-estimate orang lain atau over-estimate orang lain. Kadang berburuk sangka pada hal yang sebenarnya baik. Atau kebalikannya, terlalu berbaik sangka pada apa yang terlihat sangat indah padahal sebenarnya banyak motivasi buruk dibaliknya.

Selamat hari Minggu siang, teman-teman semuanya.

Catatan Dari Malioboro: Dika dan Gitar Tuanya.

Standard

Malam itu saya menyelusuri jalanan di Malioboro. Ikut arus orang banyak, lalu mampir di sebuah angkringan. Memesan sebungkus Nasi Sambal Teri beserta lauknya dan segelas es teh. Saya mencari tempat yang nyaman untuk ‘ndeprok’ di pinggir trotoar. Lalu mulai makan.

Sembari makan saya ngobrol dengan teman teman saya. Seorang seniman menawarkan kepada kami jasanya membuat silhouette. Lalu seorang lain juga menawarkan jasa penyewaan motor atau mobil yang barangkali kami butuh.

Kota ini memang tidak ada duanya. Kehidupan berdegup di sini dalam kebersahajaan. Penuh pengunjung tanpa harus menjunjung hedonism. Tetap bergeliat dalam kerendah-hatian. Saya sangat menyukainya.

Seorang anak kecil mendekat. Duduk berjongkok di dekat saya dan langsung bernyanyi tanpa diminta. Jemari mungilnya memetik senar gitar kecil bersnar tiga dengan penuh semangat. Suaranya seperti menguap di udara. Di tingkah suara group pengamen dewasa yang menyanyi di dekat angkringan sebelah dengan lebih keras dan lebih profesional. Saya tertawa melihat semangatnya.

Dika namanya. Ia mengaku kelas 4 SD dan setiap malam mengamen di situ hingga pukul 10 malam. Jika malam akhir pekan atau menjelang libur lainnya ia pulang pukul 12 malam. Tak ada kekhawatiran sedikitpun di wajahnya.

Menurutnya, sebagai pengamen jalanan penghasilannya tidak menentu. Tetapi paling seringnya sekitar Rp 50 000 setiap malamnya. Uangnya ia kumpulkan. Sebagian untuk jajan. Sebagian untuk membayar uang sekolah.

Dika belajar menyanyi dan bermain gitar sendiri tanpa ada yang mengajari, ceritanya sambil wajanya memandang gitar kecil itu tetapi kelihatannya matanya menerawang jauh. Seolah ada yang ia kenang. Saya pikir ia sedang mengingat seseorang atau sebuah kenangan yang cukup berarti dalam hidupnya.

Sayapun bertanya siapa pemilik gitar itu?. “Orang yang sudah meninggal”. Katanya dengan ekspressi datar. Oooh. Tentu seseorang yang berperanan penting dalam hidupnya. Saya mulai berhati-hati dengan pertanyaan saya. Takutnya menyinggung hal-hal yang sensitif bagi perasaannya yang masih muda belia. Akhirnya saya hanya menunggu ia bercerita tentang siapa pemilik gitar tua itu tanpa melontarkan pertanyaan baru.

“Mertuaku” katanya tiba-tiba . Hah???!!!. Saya kaget. Masa mertua sih? Kok kecil-kecil sudah punya mertua?. Lalu ia tertawa berderai. Merasa salah nyebut. “Eh salah!. Salah!. Maksudnya.. Mbahku. Mbahku” katanya. Sayapun ikut tertawa. Anak ini lucu sekali.

Dika bercerita bahwa pemilik gitar itu adalah Mbahnya yang sudah meninggal. Mbahnya sebetulnya ada banyak sih. Ia menyebut beberapa tempay di Yogya dan juga di Wonogiri. Tapi yang punya gitar ini adalah Mbahnya yang dulu tinggal bersamanya. Mbahnya dulu juga pengamen. Ibunya juga pengamen. Dan semua keluarganya mengamen secara turun temurun.

Saya mendengarkan dengan baik. Ia punya seorang bapak dan seorang ayah. Ooh.. saya bisa memahami maksudnya. Maksudnya adalah bahwa kedua orangtuanya bercerai, lalu masing-masing menikah lagi. Bapaknya seorang tukang becak yang juga sesekali mengamen. Dan ia ikut ibunya yang menikah lagi dengan seorang satpam. Mereka tinggal di rumah kontrakan tak jauh dari situ.

Kamipun bercakap cakap lebih jauh. Tentang sekolahnya, mata pelajarannya, hobby dan cita-citanya menjadi pemain sepakbola. Saya senang melihat cahaya matanya yang berpendar-pendar ketika ia menceritakan permainan sepakbola dengan teman-teman sepermainannya. Dan menurutnya ia adalah yang paling jago mencetak goal. Ceritanya dengan bangga. Saya jadi ikut membayangkan kebahagiaan hatinya itu. Menjadi yang terbaik di kelasnya adalah impian setiap orang.

Saya memandang ke mata kanak-kanaknya yang bening. Ia tersenyum. Lalu menari-nari kecil ketika musik dari angkringan sebelah terdengar lagi. “Kamu bisa menari ya, Dika?” Tanya saya. Ia menggeleng. “Tidak bisa!. Joget baru bisa” katanya penuh senyum. Lalu ia menggerak-gerakkan tangannya kembali mengikuti irama musik.

Lalu ia bilang ” Saya mau menyanyi lagi” katanya. Kembali memetik gitarnya dan menyanyi kencang kencang. Tanpa beban. Tanpa peduli suaranya bagus atau tidak. Ia melakukannya saja. Saya tersenyum dibuatnya. Seusai menyanyi, ia berkata bahwa kali ini ia ingin membeli layangan dari kelebihan hasil ngamennya. Ia ingin bermain. Seperti anak kecil lainnya.

Ia pun pamit sambil menggendong gitar tuanya itu.

Saya menyukai anak itu. Semangatnya yang tinggi. Ketenangannya dalam mengatasi beratnya beban kehidupan. Ia jalani kehidupan apa adanya. Tetap berusaha tanpa menyerah. Ia reguk kebahagiaan di mana ia bisa dapatkan tanpa harus menjadi larut dalam kesulitan. Seolah -olah ia berkata “Seberat apapun itu beban, jika kita tak memandangnya sebagai beban, tentu tak akan pernah terasa berat”.

Bagai Membeli Apel Dalam Busa.

Standard

Teman teman pembaca tentu tidak asing lagi dengan pepatah, “Bagaikan membeli kucing dalam karung”. Dari luar terdengar suara kucingnya mengeong dengan sangat merdu, sehingga melambungkan impian sang pembeli akan seekor kucing cantik yang bersih, terawat dan menggemaskan. Ketika sudah dibeli dan dibayar, karung dibuka, eh….ternyata yang keluar kucing kotor buruk rupa yang budukan pula kulitnya. Kecewalah pembeli ya?

Itu pula yang terjadi pada saya kemarin sore saat membeli apel di pasar. Saya lihat hamparan buah apel yang merah ranum tampak segar-segar menyembul dari busa styrofoam pembungkusnya. Saya tertarik untuk membeli sekilo. Biasanya jika membeli, saya membuka pembungkus itu satu per satu dan memeriksa isi buahnya dengan teliti. Takut ada yang busuk.

Kemarin pun saya melakukan hal yang sama. Membuka pembungkus buah itu satu persatu.

Nah…sampai di rumah saya baru tahu, ternyata saya telah memilih satu buah apel busuk di antaranya. Lho, kok bisa?

Rupanya saat memeriksa buah apel itu, saya hanya melihat sepintas dan jika kelihatannya oke, langsung saya masukkan ke dalam plastik. Saya kurang teliti dan tidak memutar-mutar buahnya untuk memastikan tidak ada bagian yang cacat ataupun busuk. Dan bagian busuk itu rupanya tersembunyi di bawah, sedangkan saya hanya melihat permukaannya saja dan merasa diri sudah cukup mengamati. Padahal sebetulnya pengamatan saya sama sekali jauh belum cukup. “Saya terburu-buru karena anak saya menunggu” itu jawaban pembenaran saya atas keteledoran saya ini.

Sound familiar? Ya…itu sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya bagi ibu rumah tangga dalam merekrut pembantu rumah tangga, bagi calon pekerja dalam melamar masuk ke sebuah perusahaan, bagi perusahaan dalam merekrut karyawannya, bagi calon suami dalam mencari calon istrinya, dan lain sebagainya.

Terutama jika itu menyangkut pemilihan akan hal yang sangat penting artinya dalam perjalanan hidup kita, kita benar-benar harus super teliti dalam melakukan seleksi. Kita mesti luangkan waktu yang cukup untuk itu. Mesti letakkan fokus perhatian kita untuk memeriksa secara menyeluruh segala sesuatu yang seharusnya bisa kita periksa. Periksa lebih jauh lagi jika ada indikasi yang kurang baik.

Begitulah teman-teman, pelajaran kehidupan yang bisa saya petik buat diti saya sendiri dari kasus apel busuk ini.

Selamat menjalani kehidupan dan menetapkan pilihan yang tepat dalam setiap persimpangan jalan 😊

Garden Update: Cincau Perdu.

Standard

Sudah lama nggak sempat ngupdate kebun halaman saya. Kemarau panjang dan serangan penyakit karat serta kutu putih membuat kebun menjadi merana. Jadi saya memilih untuk mengistirahatkannya sebentar untuk membantu memutus penularan penyakit-penyakit itu.

Namun demikian, masih ada beberapa tanaman dapur hidup yang tetap produktif. Misalnya pohon Cincau Hijau. Tetap berdaun lebat. Ever green.

Ada 3 jenis yang saya tanam dan ke tiganya lumayan lebat daunnya. Jadi harus dimanfaatkanlah ya. Kalau tidak toh akan tetap menguning dan layu juga pada akhirnya.

Nah ini adalah salah satunya. Daun Cincau Perdu (Premna oblongifolia). Daun Cincau yang saya baru tahu sejak saya tinggal di Jakarta, karena jenis cincau ini tidak dibudidayakan di Bali.

Daunnya lebar-lebar dan sesuai namanya tanaman ini batangnya tidak merambat, tapi tegak seperti layaknya Perdu. Saya menanamnya dari stek batang yang diberikan oleh salah seorang sahabat.