Category Archives: Social & Culture

Film Inspiratif “LEBARAN DAMAI”

Standard

Satu lagi tulisan saya dengan latar belakang bulan Ramadhan & hari raya Idul Fitri dikembangkan menjadi film dengan judul “Lebaran Damai”.

Kali ini digarap oleh Sutradara Harry Ridho menjadi film 2 atau 3 episode (saya belum tahu – tetapi saya sudah dikirimi episode 1-nya).

Film “LEBARAN DAMAI” ini berkisah tentang Bayu dan Rini, sepasang suami istri dengan satu anak yang sesungguhnya harmonis. Saling menyayang dan mencinta. Sayangnya keharmonisan ini mulai terganggu sejak Bayu di-PHK karena perusahaannya terus merugi sejak pandemi. Ia menganggur dan susah mencari pekerjaan kembali. Ia pun menjadi sangat sensitive, mudah marah dan cepat tersinggung.

Rini berusaha menghibur suaminya dan tetap semangat berjualan sambil mengurus anak mereka. Keluh kesah Rini setiap hari, terkadang membuat Bayu merasa tidak nyaman. Saat Rini mengeluh capek dengan pekerjaannya, harga pada naik dan uang tidak cukup untuk menutup kebutuhan dapur, Bayu sering merasa disindir oleh istrinya itu, karena ia merasa diri sedang menganggur, hanya rebahan, tidak bekerja dan tidak mampu memberi uang kepada istrinya.

Semakin hari Bayu semakin perasa dengan keadaannya. Sementara Rini yang kurang peka akan perasaan suaminya tanpa sadar mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat Bayu semakin merasa disudutkan. Puncaknya , mereka bertengkar hebat, yang membuat Bayu keluar dari rumah. Meninggalkan anak dan istrinya. Ia merasa terluka. Merasa tidak berguna dan tidak dihargai.

Rini berusaha mencari tahu keberadaan suaminya. Tapi tidak ketemu. Rini merasa sangat bersalah. Harusnya ia lebih sensitive dan hati-hati berbicara saat suami sedang terpuruk.

Sementara itu Bayu yang meninggalkan rumah, akhirnya memutuskan untuk tidur sementara di sebuah mushola. Disana ia mendapat bantuan dari Marbot dan bertemu dengan Pak Haji yang memberinya pencerahan dan nasihat yang sangat menyejukkan.

Selama Ramadhan, Bayu mendapat pekerjaan, membantu mengurus rumah makannya Pak Haji yang kebetulan pegawai sebelumnya pulang kampung.

Saat bekerja di rumah makan itu, ia mulai menyadari bahwa bekerja berjualan makanan itu memang sangat melelahkan. Ia jadi teringat pada istrinya. Ia rindu pada istri dan anaknya. Merasa bersalah dan ingin kembali pulang. Akankah Lebaran mempersatukan mereka kembali ?

Film ini adalah Episode 1 dari Lebaran Damai, yang menceritakan bagaimana Bayu kena Pemutusan Hubungan Kerja , usahanya mencari pekerjaan baru yang gagal dan perasaannya yang mulai terganggu dan tidak nyaman sejak menjadi pengangguran.

Selamat menyimak. Mohon bantu like, share dan comnent atau subscribe ya. Terimakasih sebelumnya.

Film Inspiratif “Sedekah Gema Ramadhan” Episode 2

Standard
Film Sedekah Gema Ramadhan

Penasaran dengan BU LALA ?

Setelah di Episode sebelumnya diceritakan tentang Bu Lala yang setiap tahun selalu sukses menjadi koordinator & membujuk Ibu-Ibu Blok D agar ikut berpartisipasi dalam acara Derma Ramadhan, serta sukses mendapatkan nama sebagai orang yang paling Dermawan dan yang paling tulus ikhlas  se-kompleks perumahan,  di Episode ke 2 dari Film Web series SEDEKAH GEMA RAMADHAN ini,  diceritakan bahwa bulan Ramadhan datang kembali.

Kembali Bu Lala bersemangat mengajak Ibu-ibu Blok D agar berpartisipasi dalam acara Derma Ramadhan tahun ini.

Andani menerima telpon Bu Lala saat baru pulang kerja. Bu Lala mengajak Andani ikut berpartisipasi tahun ini, karena menurutnya  tahun lalu ia lupa  meminta Andani ikut bersedekah. Hal ini membuat Andani kesal dengan ucapan Bu Lala itu, karena ia selalu ikut bersedekah setiap Ramadhan. Kok dilupa-lupakan oleh Bu Lala? Tetapi kemudian ia sadar jika kita bersedekah dengan tulus, sebenarnya tak terlalu penting nama kita sebagai penyumbang diingat atau tidak, sepanjang apa yang kita sedekahkan diterima oleh orang yang seharusnya menerima.

Lalu Bu Lala memanas-manasi Andani agar menyumbang banyak dengan mengatakan bahwa Ibu-ibu yang lain sudah pada menyumbang minimal 10 paket Sembako. Andani ragu antara tidak ikhlas jika harus menyumbang sebanyak itu  dan perasaan malu serta tidak enak pada Bu Lala jika tidak mau memberi dalam jumlah yang disebut Bu Lala. Akhirnya Andani memutuskan untuk menyumbang seikhlas hatinya saja, karena menurutnya percuma juga menyumbang banyak tapi hati kesal dan tidak ikhlas saat menyumbang.

Esok paginya, Bu Lala mengeluh kepada Andani jika ibu-ibu yang lain tidak ada yang mau menyumbang kolektif lagi tahun ini. Sangat berbeda dengan pernyataan Bu Lala saat ditelpon yang mengatakan  bahwa ibu-ibu lain sudah menyumbang minimal 10 paket.

Sebenarnya ia kasihan juga pada Bu Lala yang sudah berbaik hati menjadi koordinator,  mengumpulkan sedekah, membelanjakan sembako , membungkus dan membagi-baikan serta memanggil orang kampung atas untuk menerima sembako. Tetapi karena Bu Lala kurang terbuka masalah pertanggungjawaban uang Ibu-ibu Blok D serta tidak jujur mengatakan kepada para penerima sembako bahwa sedekah itu adalah dari Ibu-ibu Blok D, maka ibu-ibu yang lain sudah tidak ada yang mau lagi menyalurkan sedekahnya lewat Bu Lala.

Banyak pelajaran dan hikmah  yang  ia dapatkan dari kejadian ini. Bahwa jika kita bersedekah, hendaklah dengan ikhlas.

1. Bersedekahlah semampu dan seikhlas hati kita. Jangan memaksakan diri bersedekah dalam jumlah yang kit atak mampu atau tak ikhlas hanya karena takut, malu, gengsi atau merasa tidak enak. 

2 . Shodaqoh, derma, yadnya, punia atau apapun istilahnya sumbangan itu,  hanya akan berarti jika dijalankan dengan ketulusan dan keikhlasan hati untuk membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Bukan agar nantinya kita mendapat berkah atau rejeki yang lebih banyak. Karena jika begitu, itu namanya hitung-hitungan dagang.

Bukan pula untuk mendapatkan nama atau agar disebut sebagai Dermawan.

Karena begitu kita mengharapkan  berkah dari memberi,  maka saat itulah keikhlasan kita hilang.

3. Marilah kita memberi, karena kita ingin memberi. Dan mari kita membantu sesama, karena memang ingin membantu. Tanpa mengharapkan imbalan apa apa.

4. Mendapatkan kepercayaan itu susah. Maka jagalah kepercayaan, saat orang lain menitipkan rejekinya untuk disalurkan lewat tanganmu. Mencederai kepercayaan akan membuatmu dirimu tak dipetcayai seumur hidup.

Film web series Sedekah Gema Ramadhan ini diangkat dari sebuah kisah di buku “100 CERITA INSPIRATIF” Karya Ni Made Sri Andani dengan judul “Sedekah Seorang Ramadhan”.
https://wp.me/p1eHo4-2SC

https://youtu.be/ax5CeG4Wiao

Para Pemain:
Rima Marisa
Meisya Ratilaela
Riva
Dewi Ayu
Irma
Raisa Putri
Ecin
Iis Sumarni
Rossana
Hajah Ros
Chindi Aprianti
Kiki Putri

Executive Producer : A A Anom
Producer : Rudi Rukman
Director : Harry Ridho
DOP : Arif
Editor: Rashid Qawi
Make Up : Mey Mey
Art: Acil
Photographer: Rifky
Caneraman : Sarifudin
Lightingman: Ferdiansyah
Soundman: Rashid Qawi
Technical: H Dadan

KISAH TUPAI & BUAH MATOA.

Standard
Buah Matoa

Di taman perumahan tempat saya tinggal, ditanam 2 batang pohon matoa. Walaupun saya sering berada di rerumputan di bawah pohon matoa itu untuk memungut jamur liar, saya kurang nemperhatikan jika pohon matoa itu sedang berbuah.

Hingga suatu pagi saya melihat remah-remah kulit buah matoa berceceran di rumput taman. Wow! Saya mendongakkan kepala saya dan  melihat ternyata pohon itu sedang  berbuah. Masih muda-muda sih. Saya pikir mungkin itu perbuatan tupai. Barangkali tupai bisa menemukan buah yang tua diantara buah-buah muda itu, dan memakannya.

Aah ya. Sangat jelas itu perbuatan tupai. Saya menjadi sangat bersemangat. Bukan karena buah matoa itu. Tetapi karena kemungkinan saya akan bertemu dengan tupai. 

Tupai! Tupai! Sejak kecil saya senang sekali melihat tupai. Di Bali ada banyak tupai.  Tapi sayang, saya jarang melihat tupai sejak tinggal di TangSel. Melihat ada jejak gigitan tupai pada remah-remah  kulit buah matoa bertebaran di sana sini, rasanya sekarang saya jadi sangat bersemangat.

Bangun pagi, setelah matikan lampu taman dan sedikit persiapan  saya langsumg lari ke taman. Mata saya selalu tertuju ke pohon-pohon, berharap menemukan  tupai. Tak usah banyak lah. Seekor saja , sudah bakalan senang hati saya. 

Setiap pohon yang ada di taman saya periksa dengan mata saya. Saya teliti dari batang, cabang  ranting, hingga ke pucuk-pucuk daunnya. Saya tak berhasil menemukan tupai seekorpun. Tapi saya tidak berputus asa.

Esoknya saya datang lagi ke taman. Menemukan lagi remah – remah kulit buah matoa di remputan. Saya makin bersemangat mencari tupai. Tapi tidak ada hasilnya. Demikian setiap pagi….

Akhirnya pencarian saya berhenti, ketika suatu pagi, saya menemukan buah-buah matoa berserakan di rerumputan di bawah pohonnya. Seseorang pasti telah memukul-mukul buah matoa itu agat berjatuhan dari pohonnya.  Banyak banget.

Saya ambil sebuah dan saya buka.  Memang tidak sepat, tetapi masih muda.  Hmm… sayang banget jika buahnya disia-siakan begini ya.

Mungkin orang itu tidak paham. Mungkin ia menyangka buahnya sudah matang. Tetapi setelah dicoba ternyata masih muda. Jadi dibiarkan berserakan begini jadi sampah.  Sekarang saya tahu, pelakunya ternyata bukan tupai. Tetapi manusia .

Sayang banget. Memang pohon ini ada di taman. Bisa dibilang milik umum. Siapapun anggota perumahan boleh ngambil asal mau. Tetapi jika dipetik saat masih muda begini, dan dibiarkan berserakan di rerumputan kan sayang banget ya.

Waktu berlalu. Kembali saya jalan di taman. Kembali saya melihat ada banyak sekali buah matoa berserakan di rerumputan. Tentu semalam atau kemarin sore ada orang yang menggoyang-goyangkan pohon matoa ini lagi dengan galah. Sehingga buahnya berjatuhan sangat banyak.

Kali ini ukurannya sudah lebih besar-besar. Barangkali buah yang matang telah diambil. Sedangkan yang masih hijau dibiarkan berserakan di rerumputan. 

Seorang anak kecil turun dari sepeda. Ia bertanya, “Buah apa ini?”.
“Buah matoa” jawab saya.
“Bisa dimakan?”
“Bisa” kata saya.
“Coba,” katanya lagi.
“Kamu puasa nggak?”
“Nggak” jawabnya 

Saya ambil beberapa buah. Anak itu menunggu dan melihat ke arah saya. Barangkali ingin tahu apakah saya akan baik-baik saja setelah mencicipi buah itu. Saya buka dan manis juga rasanya. 

Wajahnya terlihat lega melihat saya ternyata baik-baik saja. Seolah berkata, buah matoa ini beneran tidak beracun .

Ia ikut mengambil sebuah dan memakannya. Ia mengacungkan jempolnya ke saya. Lalu ia mengambil beberapa buah lagi dan dimasukkan ke saku celananya.

Saya melanjutkan langkah saya. Olah raga jalan kaki pagi itu. Ketika kembali melewati jalan setapak di bawah pohon matoa itu, saya lihat sudah ada beberapa anak lain yang ikut memunguti buah itu dan memasukkannya ke kantong celananya.  Mungkin sebagian besar dari mereka itu sedang puasa. Tidak ikut makan.  Hanya sibuk memungut buah yang ukurannya besar-besar  untuk dibawa pulang.

Sebenarnya masih banyak juga sih yang berserakan  di rerumputan itu. Tapi entah kenapa hati saya merasa senang. Setidaknya sebagian dari buah yang sudah jatuh  berserakan itu ada yang memanfaatkan.

Pemberian alam. Sayang jika dibiarkan tersia-sia.

YANG PATAH TERJUNGKAL

Standard
Elang Bondol dan Salak Pondoh

Belakangan ini saya sering lewat di jalan tol Jakarta -Tangerang. Dan melihat ada sebuah landmark menarik di sisi jalan tol, yakni patung seekor Burung Elang yang terjungkal.

Awalnya saya bingung dengan patung burung itu, mengingat saya melihatnya pertama kali saat kendaraan melaju dengan cukup cepat. Saya pikir itu menggambarkan burung yang sedang menyambar sesuatu sambil terbang miring-miring. Dan apa pula benda yang disambar itu ya?

Setelah melihat kembali, barulah saya ngeh… oh itu rupanya patung Burung Elang Bondol yang sedang membawa buah Salak Pondoh, yang merupakan maskot DKI Jakarta. Kenapa miring?

Oooh… bagian patung yang bertugas menunjang agar Burung Elang Bondol itu bisa di posisi terbang yang enak, rupanya patah. Terjungkal miringlah burung itu. Kenapa ya bisa patah?

Entahlah.

Melihat patung burung yang patah itu, kok hati saya jadi terasa patah dan dunia jadi terlihat sendu kelabu ya ?

Sesuatu yang patah itu rasanya memang tidak ada yang nyaman. Entah itu tangkai bunga yang patah, semangat yang patah atau hati yang patah. Semua tak ada yang nyaman.

Semoga segera mendapatkan perbaikan.

TEBEKU.

Standard

Kami bertemu di Tebeku.
Tapi di mana dan apa itu Tebeku?

TEBEKU adalah  Teba milik Jro Gde Sujayasa, sahabat kami di desa Tusan, Banjarangkan, Klungkung, BALI.

Tebeku, berasal dari kata Teba + ku = Teba milik saya.  TEBA (dibaca tebe, huruf e dan a dibaca seperti membaca e dalam kata dekat), dalam Bahasa Bali artinya area atau kawasan paling rendah dari halaman rumah, yang berfungsi sebagai tempat cuci-cuci, bersih-bersih dan buang sampah serta kotoran. MCK – Mandi – Cuci – Kakus, istilahnya.

Tempat yang sebenarnya sangat umum dan semua rumah tangga di seluruh dunia pasti memilikinya. Karena aktifitas yang dilakukan penghuni rumah di kawasan Teba adalah aktifitas normal, regular dan manusiawi. Mungkin bedanya hanya di masalah pengaturan tata ruang saja.

Masyarakat Bali secara umum menganut konsep Tata Ruang yang disebut dengan  “Tri Mandala”  alias Tiga Wilayah. Dimana setiap ruang dibagi menjadi 3 mandala (area) yakni Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala. Konsep tata ruang Tri Mandala ini diimplementasikan di mana saja, mulai dari tingkat desa, banjar, pekarangan rumah, bakan kamar tidur maupun tempat tidur.

Utama Mandala, adalah areal yang utama, umumnya bertempat di hulu dan posisinya dibuat lebih tinggi. Area ini digunakan sebagai area suci, tempat memuja dan menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Jika itu pekarangan rumah, maka Utama Mandala adalah area dimana Merajan ataupun Sanggah tempat sembahyang keluarga terletak.

Madya Mandala, adalah areal tengah, di mana aktifitas sehari-hari manusia dilakukan. Di area ini ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, dapur dan ruang aktifitas lainnya terletak.

Nista Mandala, adalah areal yang paling rendah, dimana area TEBA yang saya jelaskan itu berada.

Menurut Jro Gede, walaupun Teba itu ada di wilayah paling nista, sebenarnya keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari Madya dan Utama Mandala. Bahkan peranannya sangat besar untuk mensupport dua mandala di atasnya itu.

Betapa tidak, selain berfungsi sebagai area cuci-cuci bersih-bersih, buang sampah dan kotoran, dan kandang binatang peliharaan, di Teba juga bertumbuh berbagai macam tanaman dan pepohonan yang bisa digunakan untuk keperluan upacara dan kebutuhan sehari-hari.

Mulai dari pohon Bambu, pohon Nangka, pohon Kelapa, pohon Duren, pohon Mangga, pohon Jambu, pohon Jerungka, pohon Manggis, pohon Melinjo, pohon Boni dan sebagainya.  Dan biasanya subur-subur, karena selain banyak pupuk alami, posisi Teba juga seringkali dekat dengan sungai.

Tanpa Teba, pekarangan rumah tidak akan seimbang.

Ya ya…benar juga kata sahabat saya ini. Sebelumnya saya tidak pernah memikirkan fungsi Teba dengan serius seperti ini.

Nah areal Teba di pekarangan JRo Gde Sujayasa inilah yang disulap menjadi Teba yang indah oleh sahabat saya ini. Lalu diberi nama TEBEKU.

Ha! Tempatnya asyik juga. Areal belakang rumah yang kosong. Berbatasan dengan Sungai dan Pangkung (jurang) yang tak terlalu dalam. Ditata rapi sedemikian rupa, dibuat taman, diberi dasar rumput jepang yang halus, ditanami dengan tanaman indah berbunga serta tanaman hias lain. 

Lalu ada Bale Bengong, Bale Lesung- tempat menumbuk Biji Kopi menjadi Bubuk Kopi dan Bale Paruman tempat ngobrol-ngobrol dan melakukan aktifitas lain. Sungguh artistik dan menarik.

“Teba jaman sekarang sudah beda dengan teba jaman dulu. Sekarang WC dan Kamar Mandi sudah dibuat dalam bangunan yang bersih, modern dan rapi. Sehingga Teba tidak lagi terlihat jorok dan kotor”.  Jelas Jro Gde Sujayasa. Ya sih. Jadi sisa lahan Teba yang ada bisa dibuat taman.

Begitulah cerita saya tentang TEBEKU. Teba cantik,  tempat bermain dan bercengkerama bersama para sahabat.

Bedah Buku 100 CERITA INSPIRATIF Oleh Kritikus Sastra Indonesia Narudin Pituin.

Standard

Narudin Pituin, seorang Kritikus Sastra Indonesia membedah buku 100 CERITA INSPIRATIF dan menguploadnya di Sosmed.

Saya meminta ijin untuk bisa share tulisan beliau tentang buku pertama saya itu di bawah ini.

**********************************

VERSTEHEN 100 CERITA INSPIRATIF ANDANI:
PEMBACAAN HERMENEUTIKA

Oleh Narudin

Buku 100 Cerita Inspiratif (2021) karya Ni Made Sri Andani ini merupakan buku yang secara hermeneutik mengembangkan konsep memahami (verstehen). [1] Memahami yang dimaksud ialah bukan semacam pengetahuan atau sains, melainkan pandangan seorang manusia dalam usaha memahami keadaan sekitar yang bersifat individual dan sosial. Atau seperti dikutip dalam “Verstehen: The Sociology of Max Weber” (2011) oleh Frank Elwell, verstehen merupakan pemeriksaan menafsir atau ikut terlibat tentang fenomena sosial.

Andani tak melihat keadaan sekitar itu secara umum—ia menggunakan segala kemampuan bawaannya demi mengomentari keadaan alam sekitar itu secara khusus dan pribadi sifatnya, serta berupaya agar tulisan-tulisannya menginspirasi orang banyak.

Dari 1000 tulisan cerita inspiratif ia pilih menjadi 100 cerita inspiratif—yang berasal dari blog-nya selama 10 tahun. Dengan demikian 100 cerita inspiratif ini termasuk ke dalam jenis “sastra digital”—yang menghendaki keringkasan dan kebermanfaatan yang bersifat segera bagi “warga digital” pula.

Verstehen Andani disusun dalam suatu narasi atau cerita yang bersifat detail dan “idiosinkratik”, yakni ditulis khas sesuai pengetahuan dan keyakinan bawaannya. Kadang-kadang narasi-narasinya tak terduga dengan sekian tema yang banyak. Ambil beberapa cerita inspiratif ini, sekadar contoh: “Ketika Pedas Ketemu Air Hangat”, “Ada Sambal di Telpon Genggamku”, “Isah, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang Tinggal Selama Seminggu”, sampai cerita inspiratif “Kencing Kucing”.

Bagaimana masalah sederhana pedas yang berjumpa air hangat dipahami oleh Andani? Hangat dan pedas hampir sama, tetapi mengapa pedas bisa hilang akibat hangat? Ini suatu fakta sehari-hari, tetapi Andani menaikkan derajat yang nyata kepada hal yang mungkin (transcending the real into the possible), dalam tradisi teori Hermeneutika. Begitu pula dengan kasus ada sambal di telepon genggamnya—hal sepele, namun begitu mengganggu kenyamanan hidup. Teks ditulis oleh Andani, lalu ia menuangkan pengalaman, serta mengomunikasikannya kepada orang banyak, pada mulanya lewat blog, kemudian ia cetak dalam bentuk sebuah buku ini.

Andani pun menggunakan sudut pandang orang ketiga selain sudut pandang orang pertama, seperti dalam cerita inspiratif “Isah, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang Tinggal Selama Seminggu”. Cerita ini sederhana, tetapi disusun secara realis hingga faktanya terasa ke dalam lubuk hati pembaca dan turut bersimpati kepada tokoh Isah yang ususnya menderita. Hingga sampai pada kisah “Kencing Kucing” yang lucu, namun mengandung pesan yang bijaksana. Jangan dulu menyalahkan orang lain sebelum kita memeriksa kesalahan kita sendiri.

Sebagai penutup—ini cerita yang paling disukai oleh Andani, sesuai pengakuannya sendiri—yaitu berjudul “Di Bawah Langit di Atas Laut”, cerita ke-100 dalam buku ini.

Kisah ini sebuah perjalanan yang senantiasa diingat oleh Andani sebagai perjalanan tubuh dan roh atau tamasya jasmani dan rohani. Latar tempat dan latar waktu rupa-rupanya bukanlah hal yang utama dalam kisah ini, melainkan kisah renungan yang cukup dalam terhadap fenomena alam di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial sehari-hari. Andani mengagumi alam besar (makrokosmos) dan alam kecil (mikrokosmos). Keduanya dipahami (verstehen) oleh Andani sesuai dengan pengetahuan dan pengalamaan bawaannya.

Terhadap alam besar, ia merasa takjub dengan kebesaran penciptaannya. Ia mengatakan alam semesta berada di dalam-Nya. Ini pandangan panteistik. Pernah pula ilmuwan Ibnu Sina berkata bahwa alam semesta ini berada di dalam Tuhan sehingga menimbulkan dua istilah wujud: wujud mungkin ada (semua ciptaan-Nya) dan Wujud Wajib Ada (Tuhan). Lalu, Andani berpesan agar manusia bebas dari segala ikatan duniawi atau badan kasar, yang hanya menumpang saja di alam ini. Kebahagiaan sejati menurutnya ialah membebaskan roh dari segala ikatan duniawi—sebab setelah mati segala kemewahan atau jabatan atau kekayaan tak dibawa.

Terhadap alam kecil, Andani merasa dirinya mahakecil semacam butiran atom atau butiran yang kecil sekali. Ia memandang tak berbeda dirinya dari unsur kapal, samudra, dan benda-benda lainnya di alam ini pada level sub-atomik—dengan batasan tegas porsi dan komposisinya berbeda. Di lain pihak, ada pula perbedaan tingkat, tingkat bendawi, botani, hewani, hingga tingkat insani. Perbedaan ini menegaskan mana benda mati dan mana makhluk hidup—dan mana makhluk hidup yang punya pikiran dan perasaan, yaitu manusia.

Lalu Andani berkata, jika mati saya tiba, semua unsur pembentuk diri saya akan kembali lagi ke alam. Jadi apa yang harus aku takutkan jika mati tiba? Mati dan hidup hanyalah dipisahkan oleh sebuah kesadaran yang berbeda. Di lain pihak, dikatakan bahwa apa yang telah dikerjakan di alam ini akan di bawa pada alam berikutnya, yakni alam setelah mati.

Andani menutup ceritanya dengan menyebut perjalanan ini menyenangkan dan akan dikenang.

Verstehen (memahami) dalam 100 cerita inspiratif Andani dapat diambil segi baik manfaatnya. Dalam sastra ini disebut sebagai fungsi komunikatif. Sedangkan secara fungsi puitis, cerita-cerita ini dapat termasuk prosa sastra digital yang bersifat ringkas dan segera. Deskripsi cerita di dalamnya tak bisa disebut ringan jika sudah masuk ke wilayah transcending the real into the possible, seperti telah disinggung di atas.

Secara semiotik, [2] Andani telah mencoba mengomunikasikan pengalaman-pengalamannya kepada pihak pembaca dengan bahasa yang ia kuasai—masih perlu disunting. Dan memang tujuan buku ini, menurut Andani sendiri, agar memberi inspirasi pada banyak orang, dari pribadi dan pengalaman dia, dituangkan ke dalam teks atau cerita, lalu disampaikan kepada publik ramai.

***
Dawpilar, 15 Mei 2021

*) Kritik sastra di atas berasal dari acara bedah buku 100 Cerita Inspiratif (2021) di Kafe Sastra, Balai Pustaka, Jakarta, 19 Juni 2021.

CATATAN KAKI:

[1] Baca buku Narudin berjudul Epistemofilia: Dialektika Teori Sastra Kontemporer, Pasuruan: Qiara Media, 2020, halaman 24-27.

[2] Baca buku Narudin berjudul Semiotika Dialektis, Bandung: UPI Press, 2020, halaman 20-24.

Ni Made Sri Andani Sahadewa Warih Wisatsana Wayan Jengki Sunarta Darma Nyoman Putra Agoes Kaboet Soetra Jefta Atapeni  I Ketut Putrayasa Made Edy Arudi Idk Raka Kusuma Rini Intama Chye Retty Isnendes Tien Marni Rizka Amalia Dewa Gede Kumarsana Andi Mahrus Anwar Putra Bayu Ipit Saefidier Dimyati Imam Qalyubi Sunu Wasono Djoko Saryono M Tauhed Supratman Wannofri Samry Saifur Rohman Syahrul Udin Nani Syahriani Asfar Nur Kosmas Lawa Bagho Taba Heriyanto Giyanto Subagio Laora Laora Tika Supartika Na Dhien Kristy Setyo Widodo Tati Dian Rachmika Il Mustari Irawan Enung Nurhayati Elang Munsyi Hermawan An Endut Ahadiat Ermanto Yohanes Sehandi Shafwan Hadi Umry Salim Bella Pili Rafita Ribelfinza Gunoto Saparie  Nia Samsihono

*********************************

Terimakasih ulasannya Pak Narudin.

KETIBAN CECAK.

Standard

Aduuh…tadi saya ketiban cecak jatuh” cerita Siti kepada saya. “Apa ya Bu kira-kira artinya?” Lanjutnya bertanya dengan wajah agak khawatir. Saya nggak langsung menjawab karena sedang mengunyah buah.

Awalnya saya mau bilang, cecak jatuh kan wajar-wajar saja. Diantara sekian ekor cecak yang merayap di dinding atau di langit-langit sesekali kan pasti ada yang terpeleset dan jatuh juga. Terutama saat berlari atau meloncat mencoba menangkap nyamuk atau serangga kecil lainnya.  Sesuatu yang sangat wajar dan tidak usah terlalu dipikirin.

Tetapi kemudian saya ingat, jika di Bali cecak dipercaya sebagai lambang ilmu pengetahuan. Lambang  berkah dari Sang Hyang Aji Saraswathi, sebutan Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai penguasa Ilmu Pengetahuan.  Jika ketiban cecak ya artinya akan beruntung mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Akan tambah pintar   atau akan mengetahui sesuatu yang bermanfaat untuk kebaikan diri sendiri, keluarga ataupun masyarakat.

Juga sebagai lambang kebenaran informasi. Misalnya jija seseorang sedang menceritakan sesuatu kepada orang lain yang belum jelas kebenarannya dan tiba-tiba seekor cecak berbunyi “cek cek cek cek”, maka seketika bunyi cecak itu meningkatkan level kepercayaan si pendengar akan kebenaran dari cerita itu. Jadi, cecak memiliki posisi yang cukup tinggi di Bali. Tidak ada hal mengkhawatirkan tentang cecak. Semuanya baik.

Sayapun menceritakan kepercayaan Orang Bali tentang cecak ini. Sayangnya Siti tetap murung, walaupun sudah saya ceritakan tentang hal baik ini.
“Tetapi kalau di Jawa, orang percaya kalau kejatuhan cecak itu alamat buruk, Bu. Akan ada musibah yang menimpa” katanya semakin murung.  Saya jadi tertegun mendengarnya. Ooh sedihnya.  Bagaimana cara saya menghibur Siti kalau begini ya?. Saya sendiri bukan orang Jawa yang memahami kebudayaan dan kebiasaannya dengan baik.

Mengapa berbeda banget ya antara kepercayaan masyarakat di Jawa dengan di Bali tentang cecak?. Padahal binatangnya ya cuma itu-itu saja. Sama -sama cecak. Bukan kadal. Bukan buaya.

Cecak, hanyalah seekor binatang kecil pemburu serangga yang bernama latyn Hemidactylus frenatus, masuk ke dalam family Gekkonidae, Ordo Squamata, Class Reptilia dan Phylum Chordata – demikian jika dilihat dari sudut pandang seorang ahli taksonomi hewan. Ia berubah menjadi sebuah lambang ilmu pengetahuan dan kebenaran jika dilihat dari sudut pandang saya yang lahir dan besar di Bali. Dan berubah sebagai pembawa tanda musibah jika dilihat dari sudut pandang Siti, yang lahir dari keturunan Jawa dan besar di Jawa. Weeehhhh… binatang yang sama, tapi bisa beda-beda ya.

Semakin saya mikirin tentang cecak yang memiliki sudut pandang dan kepercayaan yang berbeda-beda ini, semakin banyak saya menemukan hal-hal lain yang juga memiliki perbedaan persepsi dan image, antara di pulau Jawa dengan di pulau Bali.

Contohnya adalah Bunga Kamboja. Jika di Jakarta, Bunga Kamboja sangat erat kaitannya sebagai Bunga Kuburan. Karena pohon Kamboja banyak ditanam di kuburan. Bunga kesedihan. Dan dianggap seram. Siti pun yang besar di Jawa mengatakan sama. “Bunga yang membuat takut”, katanya.

Sedangkan di Bali, bunga Kamboja dianggap sebagai bunga kebahagiaan hati. Justru ditanam di rumah atau di tempat suci. Bukan di kuburan. Sehingga tidak heran jika kita ke Bali, kita bisa melihat banyak wanita Bali dengan riang gembira menyelipkan bunga Kamboja di telinganya atau untuk menghiasi rambutnya. Selain dipakai sebagai hiasan rambut, bunganya dipakai sembahyang, untuk menari dan juga untuk pengharum ruangan. Bunga yang penuh dengan hal-hal positive.

Contoh lain lagi adalah bunga Kenanga.  Saya sering mendengar teman-teman di Jakarta mengaitkan bunga Kenanga dengan hal-hal yang berbau mistis. Sedangkan di Bali, bunga ini dianggap sebagai perlambang wanita cantik yang bersikap baik sepanjang usianya. “Selayu-layu-layune miyik” -walau selayu/setua apapun tetap cantik dan harum namanya. Tidak ada kaitannya dengan dunia mistik sama sekali. Sedangkan di mata ahli parfum, bunga ini adalah penghasil ekstrak essential oils Cananga Odorata bahan pembuat parfum yang sangat mahal harganya.

Sebaliknya ada hal yang di Bali dihindari, di budaya lain dianggap biasa saja atau normal. Misalnya, orang Bali selalu menghindarkan menjemur pakaian tinggi-tinggi. Apalagi lewat di bawah jemuran. Itu benar-benar dianggap TABU.  Demikian juga meletakkan bantal di kaki, atau menginjak bantal. Itu sangat Tabu. Mengapa? Karena bantal adalah tempat meletakkan kepala. Dan kepala sendiri bagi orang Bali adalah sangat sakral sifatnya. Selain karena pusat pengendali pikiran ada di kepala, kepala dianggap sebagai hulu, dengan cakra Sahasrara di ubun-ubun yang memungkinkan keterhubungan dengan alam semesta dan Sang Maha Pencipta. Karenanya kepala dianggap sangat suci. Jangan sampai kesuluban jemuran. Apalagi jemuran pakaian dalam. BIG NO! NO!

Kalau kita gali, tentunya masih banyak lagi contoh-contoh lain dimana suatu hal/ benda bisa dipersepsikan positive di sekelompok masyarakat tertentu, tetapi dipersepsikan negative di kelompok masyarakat yang lain. Dan sebaliknya. (Tidak hanya terbatas di Jawa & Bali saja, tetapi juga mungkin suku dan bangsa lain yang berbeda). Lalu kelompok manakah yang lebih benar ?

Terus terang saya jadi tidak tahu jawabannya. Karena semua itu hanya kepercayaan saja. Kepercayaan lokal yang dibentuk barangkali oleh pengalaman, pengetahuan ataupun persepsi yang dibentuk oleh masyarakat lokal selama bertahun-tahun, puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun. Bisa jadi berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Kepercayaan. Namanya juga kepercayaan ya, hanya berlaku bagi orang-orang yang mempercayainya saja. Jika tidak percaya, ya otomatis itu bukan kepercayaan lagi namanya. Dan kita ini mahluk bebas merdeka. Boleh percaya boleh tidak. Believe it or not.

Perbedaan tidak harus membuat kita tercerai berai. Cukup kita tahu dan hormati kepercayaan orang lain.
Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangeruwa.

CERITA TEPI DANAU BATUR: PANYOROGAN.

Standard
Panyorogan, Desa Songan, Kintamani.

Panyorogan adalah sebuah tempat di Desa Songan yang letaknya persis di tepi Danau Batur. Di sanalah letak rumah kakek saya. Tanah di mana saya bisa membuka jendela dengan pemandangan langsung ke danau.

Halaman belakang rumah kami adalah sebidang tanah pertanian yang langsung bersentuhan dengan air danau, di mana ada sebuah mata air panas muncul di bawah akar Pohon Mangga dan membentuk parit kecil yang mengalir ke danau.

Di lepas danau, tak jauh dari pantainya ada sebuah Batu Besar yang selalu menjadi patokan kedalaman air. Nenek saya selalu bilang, jika anak-anak bermain atau berenang di danau, tidak boleh melewati Batu Besar itu, karena selewat Batu Besar kedalaman danau sudah terlalu dalam. Kami selalu ingat kata-kata Nenek.

Persis di sebelah rumah, ada jalan desa yang digunakan penduduk untuk ke danau. Entah sekedar untuk mengambil air, untuk mandi, atau pintu keluar masuknya penduduk desa yang bepergian dengan menggunakan sampan atau boat. Penyorogan adalah sebuah pelabuhan kampung di masa lalu.

Sejak dibukanya akses jalan aspal ke Desa Songan melalui batu cadas letusan Gunung Batur di tahun 1983-1984, penduduk lebih banyak menggunakan akses darat ketimbang angkutan danau jika ingin keluar desa. Akibatnya, pelabuhan perahu di Panyorogan jarang dipakai dan lama kelamaan tidak terpakai sama sekali.

Hal lain yang membuat Panyorogan berubah, adalah permukaan air danau yang semakin naik. Menenggelamkan Batu besar yang merupakan penanda kedalaman danau dan bahkan menenggelamkan sebagian besar ladang kakek yang di tepi danau. Membuat rumah kami semakin dekat posisinya dengan air.

Dua tahun terakhir ini, pemerintahan Desa mengambil keputusan untuk membuat jalan baru ke Hulundanu untuk membantu menguraikan kemacetan di jalan utama desa, akibat semakin meningkatnya kunjungan orang luar ke Pura Hulundanu Batur. Untuk mewujudkan upaya itu, maka pemilik tanah di tepi danau mesti merelakan sebagian tanahnya untuk dijadikan jalan. Nah.. itu membuat halaman belakang rumah kakek kami semakin habis dan sekarang malah menjadi halaman depan karena menghadap ke jalan baru.

Tak apalah, demi kepentingan masyarakat banyak.

Sisa tanah yang sangat dekat dengan air sekarang tidak terurus dan ditumbuhi semak air, tempat burung-burung air bersarang, bertelur dan membesarkan anaknya. Selain itu sebagian penduduk juga membuat keramba ikan. Membuat danau semakin berkurang keindahannya, tetapi semakin produktif.

Ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di sekitar Panyorogan.

Catatan. Dalam Bahasa Songan, kata Panyorogan sering dilafalkan sebagai “Panyorogang” dengan akhiran “ng” dan bukan “n”. Misalnya dalam percakapan ini.
Tanya : Cang ka jaa lajana jerone? (Memangnya kamu mau ke mana?).
Jawab: Cang ka Panyorogang (Akan ke Panyorogan).

Atau disebut dengan akhiran “i”. Bukan “an”.
Contoh:
A: Jaa lana kecaganga ubadi? (Dimana ketinggalan obatnya?).
B:. Di Panyorogi (Di Panyorogan).

Bagaimana Mengatakan Tidak Dalam Bahasa Bali.

Standard

Dalam sebuah percakapan entah dalam bahasa apapun, tidak selalu kita menyetujui apa yang diucapkan lawan bicara kita. Dan menyatakan ketidak setujuan tentu saja merupakan hal yang sah-sah saja.

Nah bagaimana cara kita mengucapkan ketidak setujuan kita dalam Bahasa Bali?.

Di dalam bahasa Bali kata “tidak” memiliki beberapa kata. Antara lain Sing atau Tusing, Ten atau Nenten. Dan jika diperluas lagi, kata tidak juga masih berkerabat dekat dengan kata Bukan (Boya) dan Tiada (Tuara).

1/. Sing.

Kata “Sing” berasal dari kata “Tusing” yang artinya “Tidak” dalam Bahasa Indonesia. Kata ini dianggap sebagai Bahasa kasar yang dipergunakan sehari hari untuk orang yang seumuran atau di bawah umur kita. Contohnya: Sing ada = Tidak ada. Sing nyak = tidak mau. Sing kengken = Tidak apa apa. Sing dadi = tidak boleh. Sing maan = tidak dapat. Sing taen = tidak pernah. Dan sebagainya.

Kta Sing bisa saja diganti dengan Tusing jika kita berbicara dengan lebih lambat. Sing ada berasal dari Tusing ada. Sing dadi berasal dari Tusing dadi.

2/. Ten atau Nenten.

Sama dengan Sing, kata Ten juga berarti Tidak. Ten berasal sari kata Nenten yang artinya Tidak. Tapi kata Ten dalam bahasa Bali memiliki tingkatan yang lebih halus dari kata Sing. Kata ini diucapkan jika lawan bicara kita lebih tua dari kita, atau seseorang yang kita hormati. Kata Ten juga sering digunakan dalam keluarga yang dalam kesehariannya memang biasa menggunakan kata kata halus.

Karena kata Ten ini sifatnya halus, maka kata penyertanya juga harus halus. Contoh penggunaannya misalnya, Ten wenten = tidak ada, Ten dados = tidak boleh/ tidak bisa, Ten purun =tidak berani/tidak mau (jika yg bersangkutan yg tidak mau), Ten kayun = tidak mau (jika pihak ke tiga atau pihak ke dua yg tidak mau), Ten napi = tidak apa apa, Ten polih = tidak dapat, ten naenin = tidak pernah.

3/. Boya.

Kata “boya” artinya tidak atau bukan. Digunakan jika kita ingin menyangkal atau tidak menyetujui perkataan lawan bicara kita. Contoh penggunaannya misalnya, “Boya ja tiang ngerereh uratian ida dane, niki tiyang nak wantah ngortiang sane kasujatiane”. Artinya, bukannya saya mencari perhatian anda semua, saya hanya menyampaikan kebenarannya saja. Atau contoh lain, ” Eda ja ngalih gae ane boya boya” artinya janganlah mencari kerjaan yang tidak tidak.

4/. Tuara

Tuara dalam Bahasa Bali sebenarnya memiliki arti kata “tiada”, tetapi kerap juga diartikan sebagai “tidak”. Contoh penggunaan, “Tuara ngelah apa” artinya tidak punya apa apa. Contoh lain, Tuara ngidaang = tidak mampu, tuara dingeh = tidak dengar.

5/. Eda.

Kata ” Eda” sebenarnya berarti jangan atau Tidak boleh aluas dilarang. Eda ngambul = jangan ngambek atau tidak boleh ngambek, Eda ngeling = jangan nangis, tidak boleh nangis, Eda merunyuh = jangan resek atau tidak boleh resek.

DemikiNlah sedikit ulasan tentang kata Tidak dalam Bahasa Bali. Semoga berguna bagi yang tertarik belajar Bahasa Bali sehari-hari.

Menyimak Art Fusion Di Buku “Gajah Mina”.

Standard

Saya diperkenalkan dengan buku Gajah Mina ini, oleh Mas Hartanto, yang rupanya adalah salah satu penggerak terbitnya buku ini. Buku yang merupakan kumpulan puisi, lukisan dan sketsa karya Dokter Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan ini, memang sudah terlihat istimewa di mata saya, bahkan hanya dengan melirik covernya saja.

KONSEP & INTERPRETASI.

Konsep. Sebagai sebuah konsep penerbitan, kolaborasi seni lukis dan puisi dalam buku ini sangat menarik dan bermanfaat. Mengintegrasikan dua jenis karya seni yang berbeda, memang bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi jika itu bisa terintegrasi dengan baik, maka upaya ini akan berhasil meng-enhance idea atau pesan yang ingin disampaikan oleh senimannya kepada audience. Pembaca akan jauh lebih mudah mengerti, karena bisa menangkapnya secara audio dan visual sekaligus.

Jikapun objective itu tak tercapai, setidaknya upaya ini akan mampu menambah jumlah audience. Karena yang tertarik, bukan hanya mereka yang berminat pada seni sastra saja, tetapi penyuka seni lukispun akan ikut tertarik juga.

Saya lihat, kolaborasi ini telah terjadi, dan tereksekusi di buku ini dengan sangat indah.

Interpretasi. Seorang pembaca atau penikmat karya seni, baik puisi, sketsa ataupun lukisan, tentunya tidak mampu memahami 100% apa yang ada di benak penulis atau pelukisnya saat menciptakan karyanya. Paling banter hanya bisa menebak atau menginterpretasikan sesuai dengan signal-signal yang tertangkap dari karya itu, plus latar belakang dan pengalaman personal dari penikmat karya seni itu masing-masing. Demikian juga saya.

Saya menuliskan pendapat saya tentang karya-karya di buku ini, tentu berdasarkan apa yang saya tangkap saat membaca puisi dan menonton gambar-gambar buku ini, bercampur dengan latar belakang dan pengalaman hidup saya secara pribadi, yang kemudian membentuk tafsir alias interpretasi. Jadi belum tentu juga sesuai dengan apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis atau pelukisnya 😀

GAJAH MINA.

Sesuai dengan judulnya, cover buku ini bergambar mahluk mitology yang bernama Gajah Mina, yakni seekor Mina (Ikan) yang berkepala Gajah. Di dalam kepercayaan Hindu, Gajah Mina adalah tunggangan Sang Hyang Baruna sang penguasa lautan. Lukisan akrilik di atas kanvas ini sungguh menawan hati saya. Gajah Mina digambarkan dengan sangat bagus dan representative. Terlihat bagai raksasa berwarna krem keemasan diantara ikan-ikan lainnya di lautan biru. Sepintas lalu, lukisan ini terlihat seperti umumnya lukisan traditional Bali bergaya Kamasan, dengan penggunaan elemen-elemen klasik dan warna broken white yang dieksekusi pada wajah gajah, sirip dan ekornya. Tapi jika ditelisik lebih jauh, ada elemen-elemen baru yang tidak umum ada pada lukisan traditional Bali menyelusup di sini. Dan entah mengapa, ajaibnya elemen asing ini terasa membaur, dan berfusi di dalamnya tanpa ada pemberontakan yang berarti. Asyik-asyik saja. Saya mulai berpikir, mungkin di sinilah letak kepiawaian Made Gunawan dalam mengekspresikan gagasannya. Keren euy!

Selain sangat terkagum pada lukisannya, tentu saja saya sangat tertarik akan apa yang kira-kira diceritakan penulisnya tentang Gajah Mina yang menjadi judul dari buku ini. Namun rupanya puisi dan lukisan Gajah Mina ini baru muncul di halaman 82-83. Tak apalah.

Saat membaca puisi “Gajah Mina”, entah mengapa saya merasa seakan puisi ini mengundang kita untuk ikut dalam perjalanan pencarian rahasia kehidupan dan alam semesta yang tak terjangkau oleh orang biasa, melalui Gajah Mina tunggangan Dewa Baruna, Sang Penguasa Laut. Dan dalam konteks Hindu, Dewa adalah percikan sinar suci dari Brahman, Tuhan Yang Maha Tunggal. Menarik!. Ajakan untuk meneruskan pencarian manusia tentang Tuhan dan Alam Semesta hingga bertemu diri sendiri. Mencapai kesadaran diri yang tertinggi. Siwoham!.

LUKISAN DAN SKETSA.

Ada sebanyak 43 lukisan dan sketsa Made Gunawan yang ditampung buku ini. Didominasi oleh thema ikan tentunya, yang in-line dengan tajuk buku ini.

Yang nenarik dari lukisan-lukisan Made Gunawan ini adalah selalu menempatkan pemeran utamanya, baik itu ikan ataupun kayon sebagai sebuah rumah, daratan ataupun bumi yang berada diantara lautan ataupun benda lain di alam semesta.

Dalam lukisan Gajah Mina atau Raja Ikan ataupun misalnya Tree of Life, kita melihat bahwa Ikan ataupun Kayon itu sebagai sebuah dunia, tempat kita beraktifitas sehari-hari, duduk-duduk merenung, bermain ayunan, menari ataupun beemain barong. Itulah dunia sehari-hari kita. Dunia yang harmonis dengan kehidupan bahagia, tentram dan damai. Dan di luar itu adalah semesta yang maha luas yang tanpa batas, tapi terpaksa dibatasi oleh akhir dari kanvas itu sendiri.

Di luar thema ikan, thema Kayon juga kelihatannya nyaris ikut mendominasi dalam buku ini. Entah sebuah kebetulan, atau memang pelukisnya memiliki ketertarikan mendalam terhadap Kayon. Saya pikir ya. Seperti yang dituliskan dalam pengantarnya, beliau adalah putra seorang Dalang dari Apuan. Dan tentunya setiap orang di Bali tahu, jika Kayon memiliki peranan penting dalam sebuah pagelaran Wayang. Tak heran jika Made Gunawan mengambil Kayon dalam banyak lukisannya. Kayon adalah perwujudan Kalpataru, atau Dewa Daru, alias pohon kehidupan yang dalam kisah-kisah Dewata dalam Bhagawata Purana, digambarkan sebagai pohon yang memberikan kehidupan bagi manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Pohon kehidupan alias Tree of Life ini diyakini muncul dari ekstraksi Lautan Susu (Samudera Mantana) beserta dengan para apsara, Kamandhanu, Aerawata, Onceswara, berbagai jenis permata, serta pohon pohon ajaib lainnya. Sumber inspirasi yang sangat baik.

Jika kita telaah dari sudut gaya lukisannya, secara umum Made Gunawan mencampurkan unsur modernitas dan barat ke dalam basic lukisan traditional Bali. Sedangkan sketsa-sketsanya totally sangat berbeda dari sketsa traditional dimana ia cenderung menggunakan pendekatan kanak-kanak dalam tarikan garisnya.

Yang menarik bagi saya, ia juga tanpa segan menggunakan media apa saja yang tersedia, seperti amplop bekas, bekas mailer Super Market, toko unggas, label Starbucks dan sebagainya, tanpa harus conflicting dengannya. Ini membuatnya unik.

PUISI DAN PUISI.

Saya mencoba membayangkan bagaimana Dokter Sahadewa mencoba merenung dan berdialog setelah melihat lukisan dan sketsa-sketsa dari Made Gunawan dan menuangkan isi alam pikirnya itu ke dalam bentuk puisi.

Jadi puisi-puisi di sini adalah hasil tafsir Dokter Sahadewa terhadap lukisan dan Sketsa Made Gunawan. Dan sebagai pembaca, saya pun mencoba menafsirkan kembali tafsir -tafsir itu. Jadi sebuah tafsir on tafsir, ha ha 😀.

Tentang sketsa-sketsa serial ikan itu, Dokter Sahadewa menulis tentang bagaimana Made Gunawan telah memberi jiwa pada ikan-ikan itu. Membuatnya menjadi hidup dan berperan besar dalam kehidupan ini.

Ada pula ia menulis tentang Sang Raja Ikan, yang bertugas membawa bahtera ke ujung samudera, agar anak-anak terus bahagia. Sayangnya, kita para orang dewasa, sudah lama sekali tak bertemu dengan Raja Ikan ini, karena ia bermukim sangat jauh di samudera rahasia bersama anak-anak. Terus terang, saya merenung agak lama untuk memahami content puisi ini. Apakah itu, sesuatu yang membahagiakan anak-anak dan tetap bersama anak-anak, tetapi sudah menghilang dari kehidupan orang dewasa? Apakah itu maksudnya “Permainan?” Karena waktu kecil kita sering bermain, tapi setelah dewasa kita sangat jarang atau bahkan mungkin tak pernah bermain lagi?. Ataukah yang dimaksud kepolosan kanak-kanak? Keluguan?. Entahlah

Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah puisi tentang “Sop Kepala Ikan”. Sebuah puisi ironis, yang membuat saya merasa ingin tertawa sekaligus haru dan ingin menangis. Terutama pada bagian, “Maka seluruh ikan pagi ini/ berkerumun berdoa/ agar cukup/ semangkuk sop kepala ikan/ yang panas berasap/bagi siapa saja/ yang lapar//. Ooh sungguh puisi yang mengaduk-aduk peri ke-ikanan, tentang ikan yang tahu takdirnya adalah untuk memuaskan hasrat manusia yang tak pernah habis.

Di luar puisi-puisi tentang Ikan, mengikuti thema lukisan yang ada, maka Dokter Sahadewa pun berbicara tentang pohon-pohon. Tentang pohon tua yang hitam, memanggil rohnya untuk pulang, namun yang datang justru mesin-mesin penggergaji. Habislah kedamaian. Juga ada tulisan tentang pohon kehidupan, tentang sang pemburu yang menggigil melihat bayang wajahnya sendiri di air kolam, walau sesungguhnya ia tak mendengar auman seringai taring sang macan.

Di luar itu ada juga puisi khusus Ciwaratri terinspirasi dari kisah Lubdaka yang diskets oleh Made Gunawan.

Tentunya masih ada banyak puisi-puisi yang lain yang menarik untuk disimak. Ada 27 puisi totalnya. Saya rasa pembaca yang lainpun akan sangat menyukai puisi-puisi ini.

Setelah melihat dan membaca isi dari buku ini, komentar saya cuma satu yakni Buku ini sungguh sangat menarik untuk dibaca dan disimak. Saya pikir pelukis, penulis dan penerbit sudah melakukan tugas yang luar biasa untuk menggabungkan unsur seni sastra dan seni lukis dengan baik dan proporsional, sehingga tercipta sebuah hidangan fusion yang nikmat bagi audience.

Saya ucapkan selamat kepada Dokter Dewa Putu Sahadewa, Made Gunawan dan Mas Hartanto atas penerbitan buku ini. Salam kreatif dan semoga sukses selalu.