Category Archives: Social & Culture

Red Carpet of Happiness.

Standard

*Cerita senja dari sudut  Taipei*.

​​Suatu sore saya sedang berada di kota Taipei untuk sebuah urusan. Tentu saja mumpung lagi di sana, sekalian saya ambil kesempatan untuk melihat dan merasakan sekitar. 

Orang orang melintas. Ada yang berjalan sendiri, berpasangan atau bergroup. Ada yang bergandengan tangan, sambil ngobrol dan bahkan ada yang menyedot minumannya sambil berjalan. Semuanya terlihat riang. Entah kenapa saya merasa jatuh cinta pada kota ini. Jalanannya bersih. Penduduknya baik dan ramah. 

Saya lalu berjalan menyusuri pertokoan pinggir jalan. Tanpa terasa keluar dari jalan utama dan masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.

Hi! Ada karpet merah digelar di sini. Hm…Ada apa ya? Orang-orang berkerumun di kiri kanan. Semua terlihat bergembira. Tertawa riang, tersenyum dan menengok ke kiri dan kanan. Semuanya sibuk dengan hapenya dan mengambil ancang-ancang untuk mengambil foto. 

Di ujung sebelah sana, terlihat sebuah panggung dengan poster film besar. Dengan tulisan berhuruf mandarin. Saya tak bisa membacanya. 

Hm…serasa akan ada celebrity yang lewat. Siapa ya? Siapa ya? Mungkin bintang film itu. Tentu saja saya tidak tahu. Semua orang kelihatan sangat antusias. Saya ikut merasa senang. Menyeruak di tengah keramaian orang dan berusaha mengambil posisi sedekat mungkin dengan bentangan karpet merah itu. Lalu ikut-ikut mengeluarkan hape dan mengambil ancang-ancang untuk memotret. 

Teman seperjalanan saya juga sama. Ia bahkan naik ke bangku di tepi jalan agar bisa lebih leluasa mengambil foto dari ketinggian. Setidaknya di atas kepala orang-orang yang berkerumun. Walaupun sama tidak pahamnya dengan saya, ia juga tetap memasang pose siap membidik seandainya ada sesuatu yang  bergerak di atas karpet merah. Tetap bergembira.

​Suasana semakin seru ketika acara dibuka. Serombongan   pendekar memperagakan ilmunya di atas karpet merah. Orang -orang bertepuk tangan. Bergembira. Ha!. Rupanya akan ada “Meet n Greet” dengan bintang utama sebuah film Kungfu dari China yang sukses di Taiwan. Karena tak lama setelah itu, turunlah para bintang film itu ke Red Carpet. Mereka berjalan sambil sesekali melambaikan tangannya. Orang orang memotret dan saya juga. Rasanya senang sekali bisa menjadi bagian dari kegembiraan itu. Ingin ikut memanggil, tapi saya tidak tahu namanya. Ha ha. 

​Tapi kalau dipikir-pikir ini aneh juga. Kami tidak tahu bintang film itu. Siapa dia? Apa pencapaiannya? Bagaimana reputasinya? Tidak pula nenonton filmnya. Juga tidak mengerti bahasanya. Jadi sebenarnya kami sedang bergembira dan mengelu-elukan sesuatu yang kami tidak tahu. Ha ha. ha.. saya jadi tertawa geli memikirkannya. 

Tapi mengapa kami sedemikian gembiranya?  Padahal kan sebenarnya tidak tahu apa-apa?. Hmmm…saya baru ngeh. Ternyata kegembiraan itu bisa datang ke dalam diri kita bahkan dari hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami. Lalu dari mana sesungguhnya kegembiraan itu datang? 

Dari kerumunan di sekitar Red Carpet itu!. Dari orang-orang di sekeliling kita!. Ya!. Saya pikir manusia menangkap gelombang kegembiraan dan kebahagiaan yang dipancarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Lewat senyum, pancaran cahaya mata dan tingkah laku. Ketika kita menangkap pesan kebahagiaan itu dengan receptor yang ada dalam diri kita, seketika itu kita terstimulasi untuk ikut menyesuaikan pada gelombang kebahagiaan yang sama. Mungkin itulah sebabnya mengapa kita tetap bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh orang-orang lain, walaupun secara logika kita tidak mengerti apapun tentang penyebabnya. 

Karena kebahagiaan itu menular, berada di sekitar orang-orang berbahagia memungkinkan kita menerima gelombang kebahagiaan yang melimpah. Temukanlah karpet merah-karpet merah lain yang penuh dengan kebahagiaan sepanjang perjalanan hidup kita, sehingga hidup kita pun terbawa arus dan gelombang yang sama. 

Happy Lunar New Year!-Gemerlap Cahaya Jalanan Saigon .

Standard

GONG XI FA CHAI.

20160129_214533.jpgBeberapa hari yang lalu saya berada di kota Ho Chi Minh untuk urusan pekerjaan. Karena bukan perjalanan tamasya, tentu saja saya tak punya banyak waktu untuk melihat-lihat. Kalaupun ada sedikit, itu hanya di malam hari. Namun demikian, bagi saya kunjungan kali ini tetap saja sama berkesannya dengan kunjungan-kunjungan saya sebelumnya ke negara ini.

Saat melintas di jalan untuk acara makan malam, saya terkesima oleh pemandangan kota yang sedemikian indahnya. Cahaya terang benderang menghiasi sudut-sudut kota. Warni-warni. Ada yang pink, putih, hijau, kuning, jingga, biru dan sebagainya. Sangat meriah. Lampu-lampu jalanan ditata sedemikian rupa sehingga membentuk bunga-bunga yang bermekaran, pepohonan, kupu-kupu serta burung-burung yang beterbangan. Berdiri di tepi jalannya, membuat saya serasa sedang berada di negeri dongeng. Ada beberapa tulisan juga – tapi karena ditulis dalam Vietnam script, saya tak bisa membaca.

Karena penasaran sayapun bertanya, mengapa kota ini didandani sedemikian meriah? Pak Supir yang mengantar saya menjelaskan, bahwa kota ini didandanin untuk menyambut Lunar New Year alias Imlek pada tanggal 8 Feb 2016 (hari ini). Oohh… pantesan sedemikian meriahnya. Padahal waktu itu Imlek baru akan jatuh  minggu depannya lagi, tapi suasananya sudah sedemikian terasa.  Semua orang kelihatan semangat. Berbahagia. Senang menyambut hari raya yang segera datang. Saya pun jadi ikut senang melihat orang-orang senang.

Gong Xi Fa Chai, teman-teman !. Semoga di tahun yang akan datang ini kebahagiaan dan keberuntungan datang dari segala penjuru.

 

 

 

Bangli: Sarcophagus Dukuh Prayu Bunutin.

Standard

Wisata Sejarah- Bangli.

Melihat ketertarikan saya akan benda peninggalan sejarah Sarcophagus yang berada di desa adat cekeng, Sulahan kecamatan Susut, di Bangli, Komang Karwijaya bercerita bahwa sebenarnya Sarcophagus tidak hanya ditemukan di desa Cekeng saja lho, tapi di beberapa desa yang lain juga di Bangli.  Salah satunya adalah di desa Bunutin. Tepatnya di Dukuh Prayu. Nah, barangkali diantara para pembaca ada yang sama dengan saya, yakni memiliki ketertarikan untuk melakukan wisata sejarah, yuk kita merapat ke dukuh Prayu di desa Bunutin, Bangli.

Tentu pertanyaan pertama saya adalah, sama nggak sih Sarcophagusnya? Karena kemungkinan besar sarcophagus-sarcophagus itu berasal dari kurun waktu yang sama,  kurang lebih sarcophagusnya serupa lah.  Tetapi saya mendapatkan keterangan yang sangat menarik juga tentang sarcophagus di dukuh Prayu ini.

Total sarcophagi ada 9 buah yang letaknya sesuai dengan mata angin.  Utara, Timur laut, Timur, Tenggara. Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut dan  di Tengah. Saya tidak mendapatkan informasi lebih jauh mengapa letaknya harus sedemikian rupa di sembilan arah mata angin?. Mirip posisi sembilan mata angin dari Dewata Nawa Sanga. Akan tetapi saya tidak yakin apakah ini ada kaitannya dengan Dewata Nawa Sanga, mengingat sarcophagi ini diduga sudah ada sejak jaman pra Hindu.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Menurut keterangan sebagian besar sarcophagus-sarcophagus itu pada saat ini tertutup tanah dan di atasnya berdiri pura. Yang lumayan terbuka dari tutupan tanah adalah yang posisinya di Timur. Sarcophagus ini masih kelihatan menempel di dinding tanah. Barangkali karena saking tuanya telah tertimbun tanah entah dari bekas letusan gunung ataupun humus yang memadat. Yang jelas sebagian masih tertutup tanah.  Sarcophagus kelihatan cukup utuh. Masih terdiri atas  bagian bawah (palungan) dan penutup (lid).  Hanya saja ada lubang di tengahnya. Diduga barangkali karena jaman dulu orang-orang yang pertama kali menemukan tidak begitu paham apa itu sarcophagus lalu penasaran ingin tahu ada apa di dalamnya. Mereka mungkin menemukan ternyata ada sisa-sisa kerangka manusia beserta  pernak pernik bekal kuburnya. Lalu karena takut terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki, masyarakat lalu cenderung membiarkan sarcophagus itu tetap berada di tempatnya dan setengah tertutup tanah. Bahkan membuat pura kecil di dekatnya untuk melakukan upacara mendoakan roh sang pemilik sarcophagus.

Yang menarik, sama dengan sarcophagus yang di Cekeng, sarcophagus inipun memiliki tonjolan pintu di depannya dengan ukiran yang menyerupai kura-kura. Sayangnya tonjolan yang bagian bawahnya kelihatan sudah putus.

Sarcophagus yang di Timur Laut kondisinya memprihatinkan karena pecah. Barangkali karena kurangnya pemahaman masyarakat jaman dulu yang pertama kali menemukan benda bersejarah ini sebagai sarcophagus.

Berikutnya saya juga diinformasikan bahwa yang berada di Tenggara, penutupnya juga sudah tidak ada.  Hanya tinggal palungan bagian bawah yang sudah kosong. Karena kosong dan posisinya tengadah, serta berada di alam terbuka, tentunya pada musim hujan, sarcophagus ini menjadi tempat penampungan air. Konon jaman dulu masyarakat memanfaatkannya untuk air minum ternak babi, dengan harapan ternaknya cepat hamil dan beranak. Jadi dalam hal ini sarcophagus dikaitkan dengan pembawa kesuburan. Tidak mengherankan, karena di beberapa tempat keberadaan sarcophagus juga dikaitkan dengan kesuburan sawah dan tanaman ladang juga.

Kemudian sarcophagus lain yang juga menarik ceritanya adalah yang posisinya di utara. Konon jaman dulu dari mata kura-kura hiasan tombol sarcophagus ini keluar minyak. Nah, bagaimana penjelasannya – saya kurang paham. Tetapi tentunya itu semua sangat menarik untuk diteliti lebih jauh.

Nah, itu adalah informasi tentang sarcophagus-sarcophagus yang ada di dukuh Prayu, desa Bunutin di Bangli, Bali. Saya ingin sekali ke sana. Ingin sekali melihat langsung dari dekat. Sayang saat ini masih belum punya kesempatan.

Para pembaca yang barangkali sedang berada di Bali atau sedang merencanakan liburan di Bali, bisa memasukkan desa Bunutin di Bangli sebagai salah satu tujuan wisata. Agar mengenal Bali dengan lebih dekat lagi.

Yuk kita berkunjung ke Bangli!.Kita pelajari sejarah dan cintai tanah air kita!.

Bangli: Sarcophagus Di Desa Adat Cekeng.

Standard

Wisata Sejarah Bangli.

Suatu kali Komang Karwijaya, seorang teman dari adik saya nge-tag sejumlah foto-foto menarik di time line media social. Foto-fotonya banyak. Tentang berbagai tempat dan hal-hal menarik di Bangli.  Salah satu yang menyedot perhatian saya adalah foto tentang keberadaan Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Kecamatan Susut, Bangli. Saya terkesima.

Seperti kita tahu Sarcophagus adalah salah satu peninggalan sejarah berupa kubur batu. Selama ini saya hanya mengetahuinya dari pelajaran sejarah. Sama sekali tidak pernah menduga jika di Bangli, daerah kelahiran saya juga menyimpan sisa peninggalan sejarah itu. Dan rupanya ada di beberapa desa juga. Salah satunya adalah yang berada di Desa Cekeng ini.

Sarcophagus pada umumnya merupakan cekung batu yang terdiri atas bagian wadah (palung) dan bagian atap. Didalamnya diletakkan tubuh sang meninggal dalam posisi meringkuk seperti bayi, dengan filosofi bahwa posisi saat meninggal disesuaikan dengan posisi saat bayi berada dalam kandungan ibu. Di dalamnya juga umumnya terdapat beal kubur berupa manik-manik dan perhiasan lain. Kubur batu ini kemudian ditutup. Pada bagian depan dan belakangnya biasanya terdapat tonjolan yang diukir dengan motif  kepala kura-kura atau wajah manusia.

Menurut informasi dari lembaga Pubakala yang sempat saya baca, cara mengubur dalam peti batu ini dilakukan oleh masyarakat bali pada Jaman Besi-Perunggu atau masa pra sejarah. Sekitar 200-500 tahun sebelum Masehi. Berarti tua banget ya…

Sesuai informasi Sarcophagus di desa Cekeng ini ada 2 buah.

Sarcophagus di Desa Adat cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Yang pertama letaknya di pura Puseh desa adat Cekeng. Ukurannya agak besar. Yang tersisa hanya palung batu bagian bawahnya saja. Penutupnya tidak ada. Demikian juga isinya. Pada bagian depan terdapat tonjolan yang mungkin berfungsi sebagai bagian dari pintu sarcophagus. Tonjolan itu diukir dengan wajah manusia yang mirip kura-kura. Sarcophagus ini diletakkan di sebuah bangunan kecil dan beratap.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus yang ke dua terdapat di tegalan. Juga tidak lengkap. Hanya tersisa bagian bawahnya saja. Ukurannya lebih kecil dari sarcophagus yang di Pura Puseh Cekeng. Karena tergeletak di udara terbuka di tegalan, sarcophagus ini agak lumutan dan tentunya menjadi penampung air jika hujan turun.

Kelihatannya sangat menarik dari apa yang saya lihat di foto dan sedikit penjelasan dari Komang.  Ini tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi jika suatu saat saya mendapatkan kesempatan berlibur.  Saya ingin datang dan melihat sendiri tempat ini dan peninggalan sejarahnya.  Saya pikir banyak orang lain juga pasti ingin berkunjung ke sini. Apalagi mereka yang menyukai wisata sejarah.  Yuk kita main ke desa Cekeng.

Bagaimana cara mengakses tempat ini? Cukup mudah. Kita bisa mengaksesnya lewat Desa Penglipuran. (Tahu dong, Desa Penglipuran? Adalah salah satu Desa Traditional di Bali yang masih mempertahankan tradisi Bali asli. Saat ini merupakan salah satu desa tujuan wisata Bali). Kira-kira jaraknya sekitar 45 – 50 km dari Denpasar.  Cara lain kita juga bisa mengaksesnya dari banjar Alis Bintang, desa Susut – kecamatan Susut Bangli.

Selain Sarcophagus ini, saya denger desa cekeng juga memiliki peninggalan-peninggalan lain yang tak kalah menariknya untuk dilihat. Gapura Agung dan bangunan-bangunan suci lainnya yang penuh dengan ornamen kuno. Di sana kita juga masih bisa melihat alat penumbuk padi jaman dulu.

Yuk kita berkunjung ke desa Cekeng!

Kita kenali sejarah kita dan cintai tanah air kita!.

Wayang Di Tepi Kali Opak.

Standard

Di depan restaurant kali Opak di tempat saya makan siang di daerah Klaten, ada sebuah workshop. Saya diberitahu bahwa di sana saya bisa menonton wayang. Karena informasi itu, sayapun ke sana hendak melihat-lihat.
Sesampai di sana tanpa diduga saya melihat seorang bapak sedang tekun memahat kulit untuk dijadikan wayang. Saya tertegun melihatnya. Walaupun  semasa kecil saya di Bali saya sering menonton wayang, seumur hidup, baru kali ini saya melihat bagaimana benda seni ini dibuat.

Pak Nono,pembuat wayang dari tepi kali Opak.

Pak Nono,pembuat wayang dari tepi kali Opak.

Saya meminta ijin untuk mengambil gambar. Bapak pembuat wayang itu setuju. Beliau memperkenalkan dirinya sebagai Pak Nono. Selain membuat wayang kulit,beliau sendiri adalah seorang dalang.  Di Bali, seorang dalang wayang kulit memiliki kedudukan penting dalam masyarakat dan tentunya sangat dihormati. Karena dianggap menguasai filosofi kehidupan dengan sangat baik. Saya pikir barangkali tidak terlalu berbeda dengan di Jawa.

Saya lalu melihat-lihat apa yang telah beliau ciptakan. Ada beragam wayang kulit di situ. Kebanyakan dari seri Mahabharata.

Gunungan

Gunungan

Pertama yang menarik hati saya adalah Gunungan. Gunungan atau dalam Wayang Kulit Bali ini setara dengan Kayon. Hanya saja kalau di Bali seingat saya bentuknya  lonjong lebih mirip daun. Gunungan, seperti namanya berbentuk seperti gunung. Bentuknya sangat khas, dengan ujung yang runcip di atasnya. Di bawahnya saya lihat ada gambar rumah, hutan serta isinya. Berfungsi sebagai  pembuka dan penutup pertunjukan. Juga pemilah adegan. Gunungan ini merupakan refleksi dari lingkungan alam sekitar yang menjadi tempat tinggal segala mahluk di alam semesta. Termasuk mahluk-mahluk yang digambarkan dalam lakon wayang ini.

Berikutnya yang menarik perhatian saya adalah wayang-wayang dari seri Maha Bharata. Karena kisah ini bertutur tentang perjalanan hidup keluarga Bharata,  keturunan dari dua orang kakak beradik Prabhu Pandu & Drestarasta  yang mengakhiri persengketaan mereka dengan perang besar yang disebut dengan Bharata Yudha di padang Kurukshetra. Putra Pandu dengan Dewi Kunti disebut dengan (Panca) Pandhawa. Sedangkan keturunan Prabhu Drestarastadengan Dewi Gandari disebut dengan (Satus) Kaurawa.

Putra-putra Pandu yang jumlahnya ada lima, dikenal memiliki budi pekerti yang sangat baik dan merupakan pembela kebenaran. DharmawangsaYang paling tua bernama Yudisthira alias Dharmawangsa. Nama ini diberikan karena Yudisthira adalah seseorang yang selalu menjalankan ajaran dharma (kebaikan dan kebenaran) hingga akhir hayatnya. Dikenal dengan sifatnya yang sangat penyayang, penuh welas asih, jujur, adil  dan bijaksana. Yudisthira memimpin adik adik dan keluarganya dalam masa penyamaran.
Ketika berbicara tentang Yudisthira, yang paling saya ingat adalah penggalan ceritanya saat ia mendaki puncak Himalaya bersama anjingnya.

BimaPutra Pandu yang ke dua bernama Bima. Bima adalah seorang ksatria yang sangat gagah berani. satya wacana serta Satya Laksana.Tidak ada satupun musuh yang ditakutinya. Senjatanya gada. Mempunyai putra bernama Gatotkaca dari perkawinannya dengan Dewi Arimbi. Cerita yang paling saya ingat tentang Bima adalah ketika ia mencari Tirtha Amerta Kamandalu mengikuti perintah Drona, gurunya yang bersikap curang dan ingin mencelakannya. Ia melakukan perintah gurunya dengan taat,walaupun haris menyabung nyawanya bertempur dengan raksasa, naga basuki ataupun ombak lautan yang ganas.Pada akhirnya ia berhasilmendapatkan Tirtha amertha itu dengan pertolongan Dewa Ruci. Bima memberi kita contoh akan sikap ksatria yang perlu ditiru. Berani, setia pada ucapan dan setia pada pelaksanaan.

 

Arjuna

Arjuna

Putra ketiga Pandu bernama Arjuna. Ksatria yang tersohor karena kepiawaiannya memanah. Selalu tepat sasaran tanpa pernah meleset. Arjuna juga terkenal akan kegantengannya. Wanita tergila gila padanya. Penggalan kisah Arjuna banyak yang menarik menurut saya. Diantaranya adalah ketika Arjuna bertapa di Gunung Indrakila dalam upayanya untuk mencari kesaktian dan akhirnya mendapatkan anugerah panah Pasupati. Tapi yang lebih menarik lagi adalah saat menjelang perang  besar Bharata Yudha. Dikisahkan bahwa Arjuna sempat berhati lemah dan ragu untuk melakukan perang dan menceritakan kegundahannya pada Krishna. Pembicaraan antara Krishna dengan Arjuna itu penuh dengan pemahaman keTUHANan yang dirangkum dalam kitab suci Bhagawad Githa. Bhagawad Githa = Nyanyian Tuhan.

Nakula - SahadewaAdik Arjuna yang keempat dan ke lima adalah dua anak kembar yang bernama Nakula dan Sahadewa. Dua kesatria kembar ini merupakan adik tiri (adik satu bapak – Pandu tapi beda ibu – DewiMadri) dari Yudisthira,Bima dan Arjuna.Namun demkian, ketiga kakaknya tidak pernah membeda-bedakannya.

Sebenarnya masih banyak lagi wayang-wayang karya Pak Nono yang diletakkan di tempat itu. Setidaknya ada anggota Kaurawa seperti Duryodhana, Dususana, Citraksa, Citraksi, juga dewi Kunti, Dewi Banowati dan sebagainya. Juga tokoh-tokoh dari kisah Ramayana seperti Rama, Sintha, Anuman dan lainnya.

Saya sangat terkesan. Bukan karena banyaknya jumlah wayang yang bisa saya lihat di sana, tetapi kepada rasa heran dan kagum – saya beruntung bisa bertemu dengan  salah satu orang yang mencintai budayanya sendiri dan melestraikannya.

Lima Tahun Menjadi Blogger.

Standard

2015-12-09-12.51.31.png.pngHari ini saya mendapatkan notifikasi dari WordPress. Five Years Anniversary Achievement sebagai blogger dengan dukungan WordPress. Yayyy!!! Senangnya menyadari itu. Jadi tanpa terasa saya sudah menulis di dunia maya selama 5 tahun!. Tepat tanggal 9 Desember lima tahun yang lalu saya mulai.

Apa yang saya capai selama 5 tahun menjadi penulis? Intip-intip statistik dulu yaa….

Published Posts             850

Followers                    3 593

Hits                       1 644 462

Visit average (Last 3 m)  : 51 500 visits/month.

Ternyata, dalam 5 tahun rupanya saya sudah menulis dan mem-published tepat 850 buah tulisan/artikel. Jika dirata-ratakan, menjadi 170 tulisan/tahun. Atau 14 -15 tulisan/bulan. Hampir dua hari sekali menulis ya?. Kenyataannya sih, kalau lagi rajin saya bisa nulis setiap hari menjelang tidur. Tapi kalau lagi malas atau sibuk urusan pekerjaan, saya nggak nulis berhari-hari juga.

BlogDengan tulisan sejumlah itu,  blog saya memiliki follower sebanyak  3.593 orang.  Sementara total jumlah kunjungan ke blog saya per saat ini  adalah 1 644 462 kali. Jika kita lihat 3 bulan terakhir, blog saya mendapatkan kunjungan rata-rata 51 500 kali/bulan. Dengan pertumbuhan pengunjung tahun ini 5.5% dibanding tahun yang lalu. Terimakasih kepada para pembaca setia tulisan saya!.

Terus terang saya tidak tahu apa artinya angka-angka pencapaian  saya itu dibandingkan dengan blog-blog yang lain.  Besarkah angka itu? Baguskah? Kurang bagus? Saya tidak tahu persis. Tapi saya juga tidak terlalu memikirkannya. Toh saat ini saya belum memanfaatkan Blog ini untuk tujuan komersial. Hingga saat ini saya  masih menggunakan platform gratisan dari WordPress. Terimakasih WordPress!.

Karena tidak ada commercial achievementnya, 5 tahun ngeblog bagi saya hanyalah sebuah perjalanan. Just a journey. Sebuah perjalanan seorang penulis di dunia maya. Tulisan-tulisan saya di Blog ini, kebanyakan bercerita tentang apa yang saya lakukan dan alami serta pelajari dari kejadian sehari-hari. Saya sengaja menghindarkan diri menulis tentang urusan pekerjaan. Pekerjaan sudah menyita sebagian besar waktu dalam hidup saya. Jadi sebaiknya saya menulis hal-hal lain yang menyenangkan hati sebagai penyeimbang hidup saya. Biar hidup saya tidak membosankan.

Tiga puluh delapan persen (38%), tulisan saya bercerita tentang kehidupan dan kejadian sehari-hari yang memberi saya inspirasi baru, pelajaran kehidupan (20%), pengingat maupun memberi dorongan serta motivasi (24%) bagi diri saya agar bisa tetap semangat, bersikap baik dan positive dalam menghadapi kehidupan. Pelajaran, inspirasi dan motivasi bisa saya dapatkan dari mana-mana. Bisa dari orang-orang di sekitar saya, saudara, keluarga, sahabat, teman-teman, tetangga, lingkungan sekitar. Bahkan pelajaran-pelajaran berharga juga saya dapatkan dari tumbuhan, dari hewan-hewan, dari sungai, dari laut dari gunung dan alam sekitar saya.  Saya adalah orang yang senang belajar dari alam dan lingkungan. Sehingga ketika saya merasa menangkap pelajarannya, saya tulis di blog dengan pikiran barangkali ada gunanya bagi orang lain juga. Jika tidak atau kurang berguna, ya tidak apa-apa juga sih.

Selain tentang kehidupan, renungan, inspirasi dan motivasi, tulisan tulisan saya juga banyak bercerita tentang Social & Culture (18%). Masalah pergaulan sosial sehari-hari yang berkaitan dengan kebiasaan, adat dan budaya Indonesia yang beragam.

Berikutnya adalah tulisan yang berkaitan dengan Bali (16%), tanah kelahiran saya dan tempat saya dibesarkan. Sebagai perempuan Bali, tentu pengetahuan dan pemahaman saya tentang kehidupan dilatarbelakangi oleh budaya, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat Bali. Akibatnya tulisan sayapun banyak bercerita tentang Bali atau dengan latar belakang Bali.

Tulisan -tulisan lain yang juga cukup banyak adalah tentang Gardening (15%). Saya suka berkebun. Karenanya saya suka menulis tentang tanaman-tanaman. Bunga-bunga maupun sayur-sayuran.Belakangan saya sedang giat dengan Dapur Hidup saya.

Saya juga banyak menuliskan kecintaan saya pada dunia hewan. Dengan latar belakang pendidikan Kedokteran Hewan, semakin memperkuat bahwa dunia binatang adalah dunia saya. Kemanapun saya pergi mata saya tertarik pada satwa di sekitar saya.Pada burung, pada kucing, pada kupu-kupu, pada biawak dan sebagainya. Tak heran tulisan saya banyak yang brcerita tentang binatang (14%).

Tulisan berthema Moherhood (12%) juga lumayan banyak saya tulis. Sebagai ibu, selalu bangga rasanya memegang peranan itu dan tentunya sangat bangga pula bisa menuliskannya.
Berikutnya yang lumayan banyak juga adalah tulisan tentang Travelling (12%) tentang perjalanan dan tempat-tempat wisata. Lalu kadang-kadang saya juga menuliskan sesuatu tentang masakan dan resepnya (9%). Ada sangat sedikit tulisan yang berkaitan dengan dunia bisnis dan pemasaran dan juga tentang jewellery.

Pada hari pertama saya ngeblog, 5 tahun yang lalu, saya memposting 2 tulisan. Yang pertama adalah tentang Bunga Padma dan yang ke dua adalah tentang Potpouri.  Hari berikutnya saya memposting 22 buah tulisan. Hah? banyak sekali ya… Tentu saja. Karena tulisan-tulisan itu sudah saya buat sebelum saya punya blog dan tinggal saya upload saja.  Sehingga dalam bulan December 5 tahun yang lalu totalnya saya ada mengupload 85 tulisan.

Saya juga membuat page-page tentang Tropical Garden,  Pets & Wild Animals, Culiner, Art & Handicraft, Jewellery. Lengkap dengan icon-icon gambarnya yang diambil dari photo saya yang dibagus-bagusin  ha ha ha. Tadinya  saya akan isi dengan  photo-photo gallery  yang berkaitan dengan masing-masing page itu. Tapi lama kelamaan, karena photonya terlalu banyak, malas juga saya mengisinya.

Setelah itu perjalanan saya sebagai blogger mulai. Sedikit demi sedikit pengunjung datang dan membaca tulisan-tulisan saya. Lalu satu per satu mulai ada yang memfollow  tulisan tulisan saya.  
Dan kemudian , dunia saya berubah ketika pertama kali ada seorang blogger lain berkunjung ke blog saya dan meninggalkan komentarnya di tulisan saya. Sejak itulah saya baru mengenal dunia blog dengan lebih baik. Blogger pertama yang berkunjung dan menjadi sahabat saya adalah Mbak Evi. Dari sana saya kemudian bisa mengenal blogger-blogger yang lainnya juga.

Intinya, saya senang menjadi seorang blogger. Walaupun saya bukan blogger top dan gaul yang banyak dikenal orang, dan tidak pernah pula hadir atau berbicara di acara bloggers gathering atau forum forum bloggers lainnya (boro-boro Celebrity dunia maya), tapi saya sangat senang dengan  kegiatan tulis menulis ini.
Dan untuk sementara saya masih tetap berada di jalur non commercial. Saya menulis dan akan tetap menulis karena saya memang senang menulis. Saya menulis untuk catatan pribadi saya, agar saya ingat pelajaran-pelajaran yang saya petik dalam hidup saya dan sekaligus berbagi dengan pembaca. Barangkali apa yang saya tulis dan share disini ada gunanya bagi yang lain.

Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak kepada para pembaca setia tulisan saya.

 

 

 

 

 

 

Musibah Di Jalan Raya.

Standard

KecelakaanHari Rabu minggu yang lalu saya pulang agak malam dari kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Memasuki Jalan Daan Mogot, saya berhenti sebentar hendak membeli Jeruk di mobil pick-up yang parkir di pinggir jalan. Belum sempat memilih, tiba-tiba sebuah kecelakaan sepeda motor terjadi persis di depan mata saya. Sang pengendara terlempar keras ke trotoar. Penabraknya lari dengan kecepatan tinggi. Ulu hati saya seketika terasa nyeri melihat pemandangan itu. Tanpa berpikir panjang saya berlari menghampiri korban. Berusaha memeriksa keadaannya  dengan hanya dibantu cahaya kendaraan yang lewat, karena pinggir jalan cukup gelap. Syukurlah ia sadar dan bisa bangun lagi. Tangan, siku dan kakinya luka. Celana panjangnya sobek sepanjang kakinya. Kelihatannya ia bermasalah dengan leher, punggung dan bahunya karena kebentur trotoar. Saya tidak tahu seberapa parah, karena gelap. Tapi ia mengeluh kepala dan lehernya sakit. “Kalau tidak pakai helm, tidak tahu deh Bu, bagaimana jadinya kepala saya kebentur trotoar” katanya tetap bersyukur.

Saya pikir  saya harus membawanya ke rumah sakit terdekat.Tapi pria itu tidak mau. Ia merasa masih cukup kuat. Akhirnya saya tanya di mana rumahnya? Ia bilang di Kebon Nanas. Saya menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, karena melihat motornya yang terlihat ringsek. Beberapa pemotor lain yang lewat berhenti dan bersimpati kepada korban. Semuanya menawarkan pertolongan. Semuanya tidak ada yang keberatan jika harus mengantar pulang atau ikut mendorong motornya hingga ke bengkel terdekat. Dari mereka saya tahu,bahwa sang penabrak itu memang sudah menunjukkan ugal-ugalan di jalan sejak awal. Zig Zag dan mengendarakan motor dengan super cepat. Ada beberapa pemotor lain yang marah mengejar penabrak itu. Tapi rupanya kalah cepat dari sang penabrak.

Seorang teman kantor yang melihat saya di sana, juga ikut berhenti.  “Kenapa Bu?” tanyanya khawatir. Saya lalu bercerita apa yang terjadi. Yang mengalami masalah bukan saya. Tapi pria di depan saya itu.

Karena korban tidak mau diantar ke rumah sakit, saya berusaha memberinya pertolongan pertama dengan membersihkan dan memberi obat luka-lukanya. Sangat beruntung ada obat merah di kendaraan saya. Dan teman saya juga kebetulan sedang membawa alkohol untuk membersihkan luka, perban dan plaster. Ada juga yang memberikan air mineral. Jadi lumayanlah kami bisa membantu menutup lukanya yang terbuka untuk sementara. Kelihatan ia masih sangat gemetar, dan menahan sakit. Beberapa orang motoris menyarankan ia segera melatih menggerak-gerakkan persendiannya agar tidak keburu kaku. Ia pun menurut. Setelah agak lama, ia  mulai terlihat agak tenang dan menguasai dirinya kembali. Ia bilang kalau motornya hidup, mungkin ia masih bisa pulang naik motor.

Coba di start tidak mau hidup. Dicoba lagi berkali-kali tetap tidak mau hidup.  Saya menyarankan agar ia menitipkan di pos Satpam terdekat. Tapi teman saya dan yang lain masih mencoba memperbaiki dan menyambung kabel-kabel motor itu. Yang lain mencoba membantu memberi cahaya dengan hape-nya. Setelah beberapa lama akhirnya motor berhasil hidup kembali.  Syukurlah. Saya merasa sangat terharu.  Ternyata sangat banyak orang peduli akan sesama yang mengalami musibah.

Pria itu lalu  mencoba kendaraannya. Setelah kelihatannya Ok ia pamit dan mengucapkan terimakasih. Kamipun bubar. Saya kembali ke tukang jeruk.

Musibah di jalan raya. Tidak seorangpun ingin mengalaminya.Tapi terkadang tidak bisa kita hindarkan juga. Kita sudah berusaha hati-hati, belum tentu  orang lain juga begitu. Ada saja yang urakan di jalan dan tidak perduli akan keselamatan dirinya sendiri serta keselamatan orang lain. Jadi mesti waspada dan selalu pastikan kita menggunakan perlindungan yang maksimal. Minimal pakai helm. Kalau bisa pakai pakaian yang tebal dan sepatu yang kuat.  Lumayan untuk menghindari kejadian yang lebih parah. Seperti korban kecelakaan yang saya lihat itu. Kepalanya terbentur di trotoar, tapi untungnya masih terlindung oleh helm. Setidaknya,  lukanya bisa berkurang.

Seorang teman lain yang mendengar cerita saya itu bertanya  “Ibu nggak apa-apa? Nggak dikeroyok orang? Hati-hati lho di Jakarta ini. Kadang-kadang menolong orang kecelakaan malah disangka kita yang nabrak. Apalagi jika masa melihat hanya mobil kita satu-satunya yang ada di situ. Bisa-bisa kita yang digebukin masa” katanya. Hmm… saya jadi mikir juga sedikit. Ya sih. Sebelumnya saya pernah juga mendengar cerita begitu. Tapi nggak juga  sih. Orang lain tahu kok kalau bukan saya yang menabrak. Saya hanya bermaksud menolong.

Sebelumnya saya juga pernah mendengar peringatan, agar  hati-hati menolong orang kecelakaan di Jakarta. Mengantarkan orang kecelakaan ke rumah sakit, maksud kita baik tapi  resikonya cukup merepotkan juga. Jika kita yang membawanya ke rumah sakit, terkadang pihak rumah sakit malah membebankan biaya pengobatan kepada kita yang membawanya ke sana. Hmm..masak sih? Saya tidak tahu kebenarannya. Saya pikir seharusnya setiap rumah sakit tentu punya dana x% yang disisihkan untuk membantu  memberi pertolongan orang-orang yang kena musibah seperti ini. Demi kemanusiaan.

Terus ada juga yang cerita, maksud kita menolong malah kita jadi repot dipanggil polisi sebagai saksi. O ya.. menurut saya itu memang bisa saja terjadi. Karena memang kita melihat kejadian itu. Tentu wajarlah kalau polisi memanggil kita menjadi saksi.

Menurut hemat saya, atas nama kemanusiaan apapun resikonya sebaiknya kita tetap perlu berusaha menolong orang lain yang sedang mengalami musibah. Tentu saja sedapatnya kita. Karena  jika semua orang takut dan khawatir membantu orang lain, tentu kasihan sekali para korban kecelakaan itu. Bisa jadi telat mendapatkan pertolongan. Dan jika parah tentu fatal akibatnya.  Syukurnya yang saya lihat tidak begitu. Faktanya kejadian malam itu, banyak kok warga Jabodetabek yang masih peduli sesama. Banyak yang menyatakan kesediaannya untuk menolong. Semoga tetap seperti itu seterusnya.

 

 

Ceritaku Di Kereta Api.

Standard

Kereta ApiSelama ini Kereta Api, adalah alat transportasi yang paling kurang familiar buat saya. Masalah utamanya adalah karena tidak ada kereta api di kampung saya di Bali sana. Jadi saya tidak pernah naik kereta api semasa kecil. Pertama kali naik kereta terjadi saat saya SMA. Waktu itu saya mau ikut perkemahan Pramuka di Cibubur. Dari Bali kami menumpang bis. Lalu menyebrangi Selat Bali dengan kapal laut ke Banyuwangi. Kemudian kembali naik bis sampai ke Surabaya. Barulah dari Surabaya saya naik kereta api. Saya ingat kala itu naiknya dari Stasiun Gubeng.

Setelah itu saya memang pernah naik kereta api keluar kota beberapa kali lagi. Tapi sangat jarang. Belum pernah menggunakannya sebagai alat angkut ke kantor. Barangkali karena ada alat angkutan alternatif yang bisa saya pakai sehari-hari. Selain itu jalur lintasan Kereta api yg ada tidak praktis juga ke arah kantor saya. Nah bagaimana kalau sekarang saya mencoba menjadikan kereta api sebagai alat transportasi alternatif?

Gara-garanya, saya tertarik mendengar cerita teman saya yang pulang kerja naik kereta api. Kedengarannya seru. Saya memutuskan untuk ikut mencoba.  Ternyata memang sebuah pengalaman yang sangat menarik buat saya. Teman-teman saya langsung menebak..”Pasti ntar ditulis  di blog...” kata mereka. “Pasti ntar blognya penuh dengan tulisan tentang Kereta Api” kata yang lain.  Hi hi…Ya iyalah. Kan setiap pengalaman yang menarik perlu ditulis. Termasukperjalanandengan kereta api ini. Biar nanti bisa saya kenang atau ambil intisari pelajarannya.

Transportasi Super Duper Murah.

Hari pertama saya naik Kereta Api, saya ikut teman-teman. Naik dari Stasiun Sudirman (Duku Atas), lalu mengganti kereta di Stasiun Duri dan turun di Stasiun Poris. Kurang lebih sejam lamanya perjalanan. Dari Stasiun Sudirman, kereta yang saya tumpangi sangat bagus dan bersih. Dinginnya AC terasa.  Penumpangnya kebanyakan para karyawati kantor yang masih bersih dan cukup wangi. Jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Jadi saya bisa duduk. Tapi begitu bertukar kereta di Stasiun Duri, bedanya jauuuh banget. Empet-empetan berdiri sampai sulit mencari ruang untuk berpegangan.  Tapi saya tak perlu khawatir akan jatuh jika tak berpegangan. Karena saking padatnya penumpang, jika misalnya pun keretanya ngerem mendadak, saya yakin saya tidak akan jatuh tapi tetap berdiri.  Mengapa?Ya… karena badan saya sudah terjepit dengan pas dari depan, dari belakang, dari samping kiri, samping kanan. Seperrti di-press begitu. Bagaimana mungkin jatuh ya?

Ya okelah soal berdiri himpit-himpitan. Tapi yang benar-benar menakjubkan adalah ongkosnya!. Saya membeli karcis di Stasiun Sudirman seharga Rp 12 000. Setelah keluar dari Stasiun Poris, ternyata karcis saya itu bisa dire-fund Rp 10 000.  Lah?! Jadi ongkosnya cuma Rp 2 000? Sejauh itu? Melintas berapa stasiun itu ya?. Nggak salah inih? Serius, hitungannya saya cuma bayar Rp 2 000. Padahal jarak tempuhnya sejauh itu ya? Coba bandingkan dengan naik taxi yang mungkin jika perjalanannya panjang begini bisa habis beberapa ratus ribu rupiah sekali naik. Top banget deh.  Sebaiknya jumlah Kereta Api ditambah dong, biar lebih memadai dan tak perlu berhimpit-himpitan.

The Beauty of Being…Gendut.

Kemaren adalah hari ke dua.  Pulang melakukan urusan kerjaan di daerah Jatinegara, saya naik kereta lagi. Berangkat dari Stasiun Manggarai, ganti kereta di Stasiun Tanah Abang lalu turun di Stasiun JurangMangu. Dari Stasiun Manggarai saya berangkat dengan seorang teman saya. Tapi saya turun untuk mengganti kereta di Stasiun Tanah Abang, sementara teman saya meneruskan perjalanannya hingga ke Stasiun Duri. Jadi yang ini lebih keren ya. Pertama kali lewat jalur ini dan seorang diri!.

Karena ini pengalaman pertama, saya memutuskan untuk ikut arus saja sambil bertanya ke petugas yang ada, bagaimanakah caranya jika saya ingin pergi ke Bintaro.? Ternyata saya disarankan mengambil platform no 5 atau 6 dan berhenti di Stasiun Jurang Mangu yang lokasinya berdekatan dengan Bintaro X-Change.

Kereta Api di plaform no 6 ternyata sangat penuh sekali. Saya memutuskan untuk mengambil yang di platform 5 saja. Kereta baru saja berhenti menurunkan sebagian penumpang. Saya menunggu di depan pintu Gerbong pertama.  Sangat sesak. Orang-orang pada berebut dan berdesakan. Baik yang mau naik maupun yang mau turun sama aggresif-nya. Pria dan wanita sama gagahnya kalau sudah memperjuangkan posisi berdiri di kereta.

Seorang wanita muda yang berbadan kekar mendorong orang-orang di sekitarnya dengan menggunakan sikunya. Sangat percaya diri, berani dan terkesan galak. Saya hanya bisa melihatnya dengan takjub. Orang-orang yang lainpun ikut mendorong-dorong juga. Nggak mau kalah.  Tiba-tiba siku anak perempuan itu mengenai perut saya tanpa sengaja. Refleks saya melindungi diri dengan melintangkan tangan di depan perut dan dada saya. Ia melihat saya dan tiba-tiba mukanya yang tadinya sangar berubah menjadi pucat pasi seketika.

Aduuuuh.. maaf ya Bu..maaf ya Bu…. Nggak sengaja.” katanya dengan gugup. Hmmm??##!?# Saya sendiri bingung. Mengapa tiba-tiba ia sepucat dan sugugup itu?. Mengapa ia meminta maaf kepada saya? Bukankah ia menyikut semua orang lain juga? Kenapa meminta maafnya hanya kepada saya?. Dan lebih aneh lagi, kerumunanpun tiba-tiba terasa agak mengendor. Saya bengong.

Mudah-mudahan nggak apa-apa perutnya, Bu?” tanya seorang Ibu lain di sebelah saya. “Hati-hati, Bu” nasihat yang lainnya. Saya kaget.  Lalu tertawa sendiri di dalam hati. Huaa ha ha..sekarang saya mengerti. Rupanya orang itu menyangka saya sedang hamil muda. Ya ampuuun..rupanyanya saya segendut itu sampai orang-orang menyangka saya sedang hamil. Dan kombinasi tubuh yang gendut dan sikap refleks melindungi perut ketika didesak, semakin memperkuat dugaan bahwa saya memang sedang hamil.  Hualaa….

Ibu-ibu di sebelah kiri dan kanan memberikan saya  jalan dan ikut membantu saya naik ke kereta duluan. Saya tidak apa-apa mengantri. Saya ngaku aja kepada mereka jika saya tidak sedang hamil kok. Cuma memang gendut saja.. Sebenarnya agak malu juga sih mengaku begitu. Tapi ya..mau bagaimana lagi ya….Memang begitu sih keadaannya.  Dan kembali lagi kalau lihat dari sisi positive-nya saja…. ya.. justru itulah the beauty of being gendut. Disangka hamil dan diberikan prioritas oleh penumpang lain.. Ha ha…!.

Tapi saya senang dampaknya. Orang-orang sekarang lebih tenang dan tertib mengantri. Tidak seperti di awal tadi.

Penemuan saya dari kejadian kecil itu adalah, bahwa ternyata masih banyak warga Jakarta yang peduli terhadap sesama. Dan terutama peduli terhadap wanita hamil yang dianggap lemah dan tak berdaya.

 

Siapakah Saya ? I Am…

Standard

I am Happy

Saya menerima sebuah pesan lewat ‘message box’-nya face book. Saya tidak mengenal namanya. Tapi karena informasi pekerjaan dan lokasinya sangat familiar dengan saya maka sayapun membrowsing timeline-nya juga. Kelihatan informasinya cukup dapat dipercaya. Agar lebih aman, saya juga menanyakan ke beberapa orang teman dan saudara, barangkali ia juga mengenal orang itu . Respon teman dan saudara saya cukup baik. Maka sayapun menjawab message-nya. Saya menanyakan tentang dirinya, ia menjelaskan nama aslinya (tidak sama dengan namanya di facebook), dan ia ada menyebut bahwa ia kenal beberapa orang teman saya juga. Singkat kata bertemanlah kami.

Karena merasa sudah berteman, sekarang saya jadi sedikit lebih berani kaypo dong ya….

Saya bertanya,mengapa ia menggunakan nama samaran di media sosial, dan bukan namanya sendiri. Bukankah jika memakai nama sendiri, teman-teman akan lebih mudah mengenali diri kita?.  Ia menjawab, bahwa alasannya adalah agar lebih trendy. Ya ya.. alasan yang cukup bagus. Saya lihat nama online-nya cukup keren juga. Saya mengerti dari foto-foto yang diuploadnya rupanya yang bersangkutan punya hobby menyanyi. Ooh..mungkin itulah sebabnya mengapa namanya diganti dengan nama lain, lalu ditambahkan kata “Star” di belakangnya. Boleh juga idenya. Cukup aspiratif.

Rasanya sih nggak ada salahnya juga, kalau membuat akun dengan nama aspiratif begitu. Tetapi karena peristiwa itu, saya jadi tertarik memperhatikan beberapa orang yang mengganti atau menambah nama on-linenya dengan sesuatu  yang aspiratif. Misalnya nih,  Ranii Shiii Cuantieq, ZhieManiez, Wawan Okeh, Ria The Star, Ariez KeRen, Yudi Cool, GunkAyu ZiCuaem, IfanWongKEraton dan sebagainya yang keren-keren.

Ada juga sih yang menyebut dirinya dengan pengakuan yang netral – misalnya nih…. I am Chepy, Meera ituuwww Mira, Lily Luph Iwan Celalu, Maria Sukhahejo, DeeChayanknaAguz dan sebagainya. Ya..oke. Lumayan kreatif dan mungkin apa adanya.

Nah..tapi ada juga nama-nama yang saya nggak habis pikir  membacanya. Misalnya ada yang membuat namanya kaya begini : Heri Susakaya, Oki Siplagiatz, DaniarStrez, BayuSiZeleks, YoyokStupidz, GagalManing, SiCebongsLinglung, Aldea Error, AgungCulun, Crazy Sensitive, DexWatiBodoh, Mizkin Tapi Norak, dan sebagainya.

Note: Semua nama-nama diatas saya plintir sedikit, bukan nama sebenarnya – semoga tidak  menyinggung – saya hanya menyebut contoh untuk memperjelas point saya. Minta maaf jika ada yang kurang berkenan.

Nah… kembali lagi ke point saya tadi adalah, mengapa ya mengganti nama di dunia maya dengan nama yang kurang aspiratif begitu? Saya pikir mau di dunia nyata maupun di dunia maya, nama itu hakikatnya sama saja. Yaitu jati diri kita. Siapa diri kita? Nama merefleksikan banyak hal,termasuk pikiran,perasaan kita juga.

Buat saya,  jika saya menggunakan nama di dunia digital, pilihan pertama saya adalah menggunakan nama asli sendiri. Atau minimal menggunakan nama panggilan. Atau mungkin nama kecil atau nama kesayangan kita yang juga umum dikenal orang lain. Mengapa? Karena nama yang diberikan oleh orangtua biasanya bermakna bagus. Dan pasti sudah penuh dengan doa-doa baik orangtua kita agar kita sehat walafiat, selamat, sentosa dan sebagainya yang bagus-bagus.  Saya yakin sangat sangat jarang sekali (atau jangan-jangan tidak ada) ada orang tua yang memberikan anaknya nama yang buruk atau yang bermakna buruk.

Jika kita merasa tak perlu menggunakan nama kita sendiri, pilihan keduanya adalah mengganti nama dengan sesuatu yang baik atau aspiratif. Misalnya ya seperti nama-nama di kelompok pertama yang saya sebut itulah.. seperti dengan tambahan the Star-lah, atau Si Cuantikz, atau Si Guanteng, ZiiBaekhati dan lain sebagainya yang berkonotasi positive dan baik baik begitu (soal gaya menulis ya terserahlah ya..suka-suka sendiri sepanjang tidak melanggar hukum).  Atau minimal seperti gaya yang di kelompok ke dua yang mengatakan dirinya apa adanya I am…

Khusus yang kelompok ke tiga… walaupun ya memang sih, itu kan suka-suka yang punya nama- *kok repot sih?…  terus terang sangat bingung. Misalnya nih… memberi sebutan kepada diri sendiri sebagai si Susakaya alias Susah kaya..kok di telinga saya rasanya seperti mendoakan diri sendiri agar tetap miskin. Atau menyebut diri sendiri dengan nama ZiiGagalManing… sami mawon itu buat saya.. Kok seperti mendoakan diri menjadi gagal terus menerus. Lah kapan suksesnya kalau seperti ini? Demikian juga dengan kata Stress, Pandir, Bego, Error dan sebagainya yang tidak berkonotasi positive.  Orang bilang nama itu adalah doa ya..Semakin sering kita sebut, semakin cepat ia datang ke diri kita. Semakin sering kita menyebut diri kita sendiri Bodoh, Bodoh, Bodoh…ya semakin kejadian deh itu, kita jadi beneran Bodoh. Karena kata bodoh itu sekarang menancap ke dalam diri kita dan bekerja dengan sangat cepat membuat keseluruhan diri kita menjadi Bodoh.

Saya pikir  cara kita menyebut diri,  memberi dampak terhadap diri kita sendiri. Coba saja perhatikan apa jawaban kita – misalnya ketika menjawab pertanyaan “Siapakah kamu?”alias “Who Are You?“. Misalnya kita menjawab dengan kata “I am (a) very happy (person)” atau  “Saya bahagia banget ” atawa “Saya orang yang bahagia banget“. Pikirkanlah sejenak kata bahagia itu, lalu rasakan apa yang ada di hati kita? Bahagia!.  Beneran, bahagia. Atau misalnya yang terlintas di kepala kita adalah jawaban “I am (a) lucky (person)” alias “Saya beruntung” atawa “Saya orang yang beruntung“. Lalu pikirkan dan rasakan apa yang ada di hati saat kita mengucapkan kata itu. Saya yakin perasaan kita juga bahagia dan senang, karena kita merasakan keberuntungan yang kita miliki.

Sebaliknya jika kita menjawab dengan kata yang berkonotasi buruk seperti tadi “I am StupiDz“, nah..saya rasa diri kita langsung merasa StupiDz dan diri kita juga langsung memberikan konfirmasi bahwa kita memang StupiDz. Atau kalaupun  belum bisa memberi konfirmasi segera,  maka ia akan mencari-cari sampai benar-benar ketemu bahwa kita memang StupiDz.

Begitulah saya rasa.  Karena nama adalah doa, yuk kita doakan diri kita agar selalu baik-baik. Stop menyebut diri kita dengan nama buruk dan stop mendoakan diri kita dengan hal-hal yang kurang positive.

 

 

Kerukunan Di Hari Raya.

Standard
Hantaran Hari Raya

Hantaran Hari Raya

Tetangga saya yang sudah sepuh selalu mengirimkan kue setiap kali hari raya Idul Fitri tiba. Dan biasanya saya juga mengirimkan sesuatu untuk beliau dan keluarganya juga. Melihat kiriman kue-kue itu saya jadi terkenang akan masa kecil saya di Bali dulu.

Keluarga kami tinggal di area dekat dengan kantor-kantor pemerintahan dan perumahan dinas Kabupaten di Bangli, seperti misalnya rumah dinas Bupati, Sekda, DanDim, Jaksa, Kapolres, Kepala Pertanian, Puskesmas, Dokabu dan sebagainya.  Juga berdekatan dengan asrama polisi.

Sebagai rumah penduduk yang terdekat dengan kompleks itu, rumah keluarga saya selalu menjadi titik stop ibu-ibu tetangga yang membutuhkan bantuan atau mencari informasi tentang ini dan itu. Perlu daun sirih, daun pandan, daun suji, daun kelapa, daun pisang, batang bambu, minta bunga dan sebagainya. Karena kebetulan semuanya ada di halaman, biasanya para tetangga ya dipersilakan ambil saja sendiri -sendiri.

Seperti kebanyakan rumah-rumah di Bali, pintu gerbang halaman rumah kami memang  tidak pernah punya pintu penutup. Tentu saja semua orang bisa masuk ke halaman rumah kami karena memang gerbangnya selalu terbuka dan tak berpintu. Demikian juga para tetangga sering datang dan duduk ngadem di halaman.

Banyak dari para tetangga kami itu  yang berpindah-pindah tugas. Paling menetap selama 2 -5 tahun, lalu ganti lagi. Akibatnya, tetangga kami memiliki latar belakang suku dan agama yang beragam. Ada yang Jawa, Batak, Menado, Makasar, Ambon dan lain sebagainya. Selain banyak yang memang asli Bali juga tentunya.  Pokoknya orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke lah. Demikian juga hari rayanya berbeda-beda.  Tapi buat kami, hari raya agama apapun selalu tetap menyenangkan.

Jika menjelang hari raya Galungan & Kuningan, ibu saya selalu membuat kue-kue dan masakan yang lebih banyak agar bisa kami bagikan kepada tetangga-tetangga kami yang beragama lain. Biasanya mereka akan datang berkunjung ke rumah, mengucapkan selamat hari raya dan mengobrol sejenak dengan Bapak dan Ibu saya.

Juga setiap kali hari raya Idul Fitri datang. Keluarga kami pasti menerima pembagian kue-kue dan hasil masakan hari raya Lebaran. Ibu dan bapak saya -kadang anak-anak juga ikut – bersilaturahmi ke rumah tetangga yang merayakan Lebaran. Semuanya berbahagia.

Demikian juga dengan tetangga kami yang merayakan Natal. Sama juga, keluarga kami juga mendapatkan kiriman kue-kue dan masakan hari raya Natal. Kami juga berkunjung  dan semuanya bersuka cita.

Tidak terlalu penting siapa yang merayakan hari besar keagamaan, sama saja, kami selalu bahagia dan senang. Sedemikian damai dan rukunnya kehidupan bertetangga orang tua kami di jaman itu. Dan kami anak-anaknya tentu saja ketularan rukun.

Walaupun kami anak-anak lahir dari orangtua dengan keyakinan yang berbeda-beda, tetapi kami tidak pernah punya masalah. Malahan saling berbagi & bertukar cerita dan pemahaman sesuai dengan apa yang diajarkan orang tua kami masing-masing.  Dan semuanya kok ya terdengar indah dan bagus. Kerapkali kami juga ikut menyerap apa yang diceritakan bagus oleh teman kami.

Saya sangat senang mendengarkan pelajaran agama dan kebaikan-kebaikan yang diceritakan teman-teman saya yang agamanya berbeda. Sehingga rasanya inti kebaikan setiap agama tiada asing lagi bagi saya. Saya mendengarkan kisah-kisah tentang Yesus Kristus dari sahabat karib saya di TK. Juga mendengarkan cerita tentang hari Kiamat versi muslim, tentang Malaikat Jibril,  tentang kebaikan Sholat dan sebagainya dari sahabat saya yang lain lagi saat di SD. Sementara teman-teman saya itu juga kelihatan senang, saat saya bercerita tentang  Dharma, tentang Tri Kaya  Parisudha, Tat Twam Asi, dan berbagai prinsip lain dan kisah-kisah dalam agama Hindu dan Buddha sesuai dengan yang diajarkan kepada saya baik oleh guru maupun orang tua saya. Tentu saja semuanya diceritakan dengan pikiran dan cara bertutur kami yang masih kecil  dan masih sangat bening. Diceritakannya juga  sambil memanjat pohon jambu. Atau duduk-duduk di tepi lapangan habis bersepeda. Atau di pematang sawah sambil melihat capung. Atau saat berteduh menunggu hujan reda. Tidak ada keinginan dan pikiran untuk mengatakan bahwa keyakinan saya lebih bagus dari keyakinan kamu. Tidak juga ada keinginan untuk mempengaruhi.  Hanya senang bercerita dan senang mendengarkan saja. Sudah. Itu saja. Sehingga yang ada dalam keseluruhan hati dan pikiran kita adalah sesuatu yang sangat bersih dan sangat indah.

Sekarang, terus terang saya sering sedih dan kaget setiap kali membaca berita dan status di media sosial orang-orang yang saling menyudutkan agama dan keyakinan orang lain. Saling membenci dan saling menghujat. Saling mengkritik dan saling menyindir. Bahkan untuk saling mengucapkan Selamat Hari Raya pun merasa berat. Kemana ya perginya kerukunan yang dulu? Kemana perginya budaya silaturahmi lintas agama dan keyakinan yang dulu selalu ada?

Hantaran kue-kue kering itu masih menggeletak terdiam di atas meja makan. Saya memandangnya dan merasa terharu.  Senang sekali rasanya. Bukan saja karena menerima kiriman kue Lebaran. Tetapi lebih dari itu, setidaknya saya masih melihat ada seorang Oma yang melanjutkan budaya mengantarkan kue-kue dan makanan kepada tetangganya yang berbeda keyakinan saat hari raya seperti ini.

Hmm…jangan-jangan masih banyak juga keluarga lain yang tetap menggalang kerukunan lintas keyakinan seperti  yang dilakukan Oma tetangga ini. Ah!. Dan  barangkali hanya kebetulan saya saja yang tidak melihatnya. Semoga!.

Saya membuka tutupnya satu per satu dan memanggil anak-anak saya untuk ikut mencicipinya.  Kebahagiaan hari raya, semoga selalu menjadi kebahagiaan semua orang.