Category Archives: Social & Culture

Selamat Jalan, Penyair Agustina Thamrin.

Standard
Penyair Agustina Thamrin.

Hari ini saya mendapatkan berita duka kepergian sahabat saya, Penyair Agustina Thamrin ke alam baka. Walaupun saya tahu belakangan ini ia memang dirawat karena sakit, namun kepergiannya tetap saja tak mampu membendung tetes air mata saya.

Saya mengenalnya tanpa sengaja, lewat timeline Facebook seorang sahabat, Penulis Ersa Sasmitha. Kami saling berkomentar dan saya menyukai tulisan tulisannya. Kamipun berteman. Saling mendukung dan memberi semangat.

Dari sana saya sedikit mengetahui dirinya, bahwa ia adalah seorang penyair Kalimantan Selatan yang memiliki latar belakang sebagai seorang instruktur vokal/ paduan suara. Karya karyanya terbit dalam beberapa buku tunggal dan antologi bersama karya penyair penyair lain.

Dan berikutnya juga saya tahu bahwa ia sudah punya cucu dari anak pertamanya. Sungguh seorang Oma yang masih tetap semangat dan enerjik.

Suatu kali di tahun 2017, ia mengundang saya untuk menghadiri pertemuan penyair di Loksado, Kalimantan Selatan yang melahirkan Antologi Puisi Hutan Tropis.

Lah…tapi saya ini bukan seorang penyair. Saya hanya seorang penyuka puisi. “Tapi kan dirimu ini penulis” katanya ditelpon. “Biar ada jua yang menulis tentang Meratus dan Rimba Kalimantan” lanjutnya lagi.”Pasti akan ada banyak sekali bahan tulisan menarik di Loksado” Saya jadi mikir mikir.

Saya tertarik dengan semangat wanita ini. Bersama rekannya Budi, ia ingin sekali mewujudkan forum Sastra Nasional terselenggara di banua. Dan ia benar benar serius mempersiapkannya.

Akhirnya pada bulan Mei 2017, saya meminta ijin cuti dari pekerjaan dan menemui Agustina Thamrin di Banjar. Ia menjemput saya di Bandara. Itu pertama kalinya kami bertemu. Saya mengenalinya dari kejauhan. Ia melambaikan tangsn. Sosoknya yang tinggi langsing, sangat mudah dikenali. Kamipun mengobrol dan ia mengajak kami sarapan Soto Banjar sebelum melanjutkan perjalanan ke Loksado.

Selama di Loksado, ia menemani hari hari kami dengan event event Sastra dan Seni yang sangat menarik. Juga mengajak kami berkunjung langsung ke kampung suku Dayak Meratus, berbincang dengan para tetua adat Meratus. Ia seorang yang sangat ramah dan bersahabat.

Sungguh pengalaman mengikuti ajang sastra yang sangat berkesan yang dituan rumahi oleh para Penyair Kalimantan Selatan termasuk di dalamnya Agustina Thamrin.

Saya tahu itu hanyalah salah satu kegiatan Sastra yang pernah ia jalankan. Masih banyak lagi kegiatan- kegiatan Sastra lainnya yang ia jalani dan ikuti.

Tapi dari semua hal yang saya tahu tentang dirinya, saya sangat terkesan dengan semangat hidup Agustina Thamrin. Walaupun jika dari obrolan serta curhatannya pada saya, banyak masalah yang ia hadapi dan jalani, tetapi ia selalu berusaha kuat dan tegar. Ia tidak mau membiarkan dirinya terjebak dalam kesulitan. Ia tetap berkarya. Menulis dan terus menulis, bercanda dengan dunia. Dan bahkan saat terakhirnya iapun sempat bercanda pada dirinya “Seperti ayam tulang lunak. Diriku tak bertenaga” untuk menceritakan betapa lemahnya diri. Sungguh seorang wanita yang perkasa.

Pernah saya berpikir akan mengambil cuti lagi ingin kembali ke Banjar bertemu Agustina Thamrin. Tetapi dengan kepergiannya ini, tentu keinginan saya itu jadi ikut pupus.

Selamat jalan sahabatku, Agustina Thamrin. Puisi- pusimu akan terus bergema dari hutan hutan Kalimantan.

GUNG GARANTUNG.

Titir tujuh kali malam dibalut dupa.

Tarian menghentak tanah.

Gung aku menari dalam riang riang bumbung malam.

Gung aku memanah langit.

Petir menggodam akar menjadi sungsang tumbang.

Hujan turun menyeringai pada hutan lembab.

Air hitam beraroma payau merendam berpulau pulau.

Gung menyipat hiyang nining batara Maratus.

Penerang hati berselendang bunga bunga dupa dupa.

Nyanyian balai balai diceruk hadat Tambun Bungai.

Gung titir tujuh malam suara mengepung kota kota yang bersimbah darah.

Aku merintih lelah dengan sebatang ranting terakhir.

Kupungut dari rimbunan tulang belulang kematian.

Gung biarkan aku menari Tandik Ngayau menebas perikeadilan yang pupus dan yang lampus.

Banjarbaru, 2017. Agustina Thamrin.

Kwalitas Karbitan.

Standard

Saya membeli 2 sisir pisang Raja Sereh di pasar. Tampak sudah kuning. Harganya 15 ribu per sisir. Lebih murah dari biasanya. Karena situasi sedang wabah virus Corona, sayapun cepat cepat membayar tanpa menawar lagi dan langsung pergi.

Sampai di rumah, saya makan pisang itu. Ternyata isi pisang sangat kecil dan kurus. Rasanya agak sepet. Ooh.. sekarang saya sadar kemungkinan ini adalah pisang matang karbitan. Pisang yang masih muda, kecil dan hijau, sudah dipetik lalu diperam dengan menggunakan karbit (Calcium Carbida – CaC2) agar cepat matang.

Buah yang dikarbit, kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan optimal. Begitu dipotong, ukurannya tidak bertambah lagi. Ia tetap kecil. Rasanya masih bisa sedikit bertambah manis, namun sisa sisa rasa sepat terkadang belum hilang semua.

Beda dengan buah yang asli mateng bukan karbitan. Pisang ini akan tumbuh denganukuran dan rasa manis yang optimal. Namun sayang, matangnya biasanya tidak bersamaan. Tapi bertahap.

Sebaiknya jika membeli pisang, perhatikan keseluruhan pisang-pisang yang dipajang. Jika pisang dari satu tandan memiliki warna buah yang beragam, bagian atas kuning dan bagian bawah masih ijo, kemungkinan besar pisang itu matang alami.

Tapi jika keseluruhan buah di tandan itu kuning semua, ada dua kemungkinan. 1/.Buah memang matang alami, jika ukuran buahnya normal, seukuran dengan jenisnya. Misalnya jika pisang Raja Sereh, normal ukurannya memang besar. Tapi jika itu pisang Mas, ukurannya kecil.

2/. Bisa juga karena karbitan. Jika semua kuning tapi kecil kecil dibanding jenisnya, sudah tentu itu matang karbitan. Rasa manisnya juga tidak optimal.

Demikianlah adanya pisang kwalitas karbitan. Tampangnya matang tapi ukuran dan rasanya tidak optimal.

Dan kwalitas karbitan ini sesungguhnya tidak terjadi hanya pada pisang, tetapi juga pada jenis buah- buahan lainnya, termasuk kwalitas manusia. Tentu ada juga manusia yang memiliki kwalitas matang alami dan ada juga yang memiliki kwalitas karbitan. Jabatan tinggi, tetapi kwalitas pemikiran kurang strategis dan mengeksekusi pun kurang proffesional.

Mari berenung diri dan seemoga kita tidak termasuk dalam sumber daya manusia yang berkwalitas karbitan.

Gerubug Corona Dan Nyepi.

Standard
Tapak Dara.

Gerubug, adalah Bahasa Bali untuk kata Wabah. Wabah yang menyebabkan kematian masal, baik untuk tanaman, binatang maupun manusia, tidak termasuk bencana alam di dalamnya. Ada tiga jenis Gerubug yang dikenal, yaitu:

1/. Merana, atau Gerubug Mrana adalah wabah penyakit yang menyerang tanaman. Contoh Merana yang dianggap sangat serius di Bali, misalnya Hama Wereng yang menyebakan ratusan hektar sawah rusak. Contoh lain adalah serangan Virus CVPD yang merusak perkebunan jeruk di Bali. Atau hama tikus yang merajalela dan mengakibatkan gagal panen.

2/. Gerubug Sasab, atau lebih sering disebut dengan Gerubug saja, adalah wabah penyakit yang menyerang hewan. Contohnya wabah pada ayam yang disebabkan oleh serangan Paramyxovirus alias penyakit Tetelo (Newcastle Disease). Penyebarannya sangat cepat, dan mortalitasnya pun sangat tinggi. Tiba tiba saja beratus ratus ayam mati di peternakan dan di kampung.

Lalu belakangan ini, ada lagi berita di koran tentang wabah pada ternak Babi. Dimana saya baca tiba tiba puluhan babi mendadak mati. Rupanya serangan African Swine Fever Virus yang sangat menular dan mematikan.

3/. Gerubug Gering, yakni wabah penyakit yang menyerang manusia. Contohnya, wabah diare/ disentri akibat serangan bakteri shigella atau amuba disentri. Banyak orang yang meninggal. Atau wabah demam berdarah, akibat gigitan nyamuk yang membawa Virus Dengue, juga menyebabkan banyak orang meninggal. Nah, sekarang muncul Gerubug baru lagi yang disebabkan oleh Virus Corona. Gerubug Corona. Artinya ya Wabah Corona.

Saya mencoba mengingat ingat apa yang biasanya orang Bali lakukan jika menghadapi Gerubug atau wabah. Tebtunya di luar penanganan medis yang biasa yang juga dilakukan.

Pertama adalah Tapak Dara. Simbul seperti tanda tambah berwarna putih ini dianggap sebagai simbul perlindungan. Saya ingat waktu kecil, ketika terjadi wabah disentri kolera di kampung saya, setiap orang nemasang tanda Tapak Dara ini di gerbang halaman rumahnya. Tuhan Yang Maha Esa akan melindungi.

Lalu ada beberapa upacara yang dilakukan dengan maksud pembersihan bumi dan isinya dari berbagai macam wabah penyakit dan bencana. Misalnya Prayascita – upacara pembersihan, Nangluk Merana – upacara penolak wabah hama tanaman, Labuh Gentuh yaitu upacara penyucian agar tercapai keharmonisan alam, Tawur – misalnya Tawur Kesanga – upacara pembersihan bumi dan alam semesta dari segala wabah dan penyakit. Yang diadakan sehari sebelum hari raya Nyepi.

Upacara “Tawur Kesanga” yang artinya membayar kembali apa yang telah kita ambil dari alam (tawur = bayar) yang dilakukan pada bulan ke sembilan (ke sanga), yakni satu hari sebelum hari raya Nyepi. Dengan demikian diharapkan alam akan kembali dibersihkan dari segala bentuk dosa kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, juga dari segala bentuk wabah peΓ±yakit yang membuat gerubug.

Rangkaian upacara dimulai dari prosesi melasti – pembersihan di tepi laut. Orang Bali percaya bahwa penyakit datang dari seberang lewat laut. Oleh karena itu pembersihanpun dilakukan dekat laut. Upacara ini melibatkan banyak orang. Hampir semua anggota keluarga mengikuti.

Sore hari menjelang malam, dilakukan upacara pengerupukan. Yakni beramai ramai mengusir segala bentuk wabah, penyakit, setan, sifat sifat buruk, angkara murka. Darimana? Tentunya pertama diusir dari diri sendiri dulu, lalu diusir dari pekarangan rumah ke jalan, lalu dari banjar diusir ke luar, berikutnya dari desa diusir lagi, demikian seterusnya sehingga semua bentuk penyakit itu bisa keluar dari Bali. Bentuk penyakit dan setan pengganggu itu dilambangkan dengan Ogoh-ogoh – raksasa buruk muka, yang biasanya dibakar seusai upacara. Sehingga yang tinggal setelahnya hanya ketenangan, kedamaian dan keselarasan dengan alam.

Esoknya tinggal Nyepi. Lock-down dalam arti yang sesungguhnya. Karena orang tidak keluar rumah dan tidak melakukan aktifitas yang berarti selama 24 jam.

Nah… sekarang berkaitan dengan wabah Corona ini, di mana sudah disarankan agar setiap orang merenggangkan jarak satu sama lain (Self Distancing) dan menjauhi keramaian agar terhindar dari resiko penularan, saya jadi terpikir bagaimana nanti saudara saudara saya di Bali akan melakukannya. Besar kemungkinan upacara melasti yang biasanya beramai ramai itu akan sulit dilakukan.

Demikian juga Upacara Pengrupukan. Upacara ini juga biasanya dipenuhi dengan keramaian. Sering kali orang satu banjar (ratusan kk) yang mengusung Ogoh-ogoh bertemu dengan banjar lainnya yang juga mengusung Ogoh ogoh di perempatan jalan. Persatuan masa yang membesar tentu terjadi dan tak bisa dihindarkan. Nah, jadi bagaimana dengan himbauan agar kita menjauhi keramaian?. Rasanya sangat sulit. Apalagi Pemda Bali menyatakan Bali sebagai Siaga Corona, besar kemungkinan pawai Ogoh-ogoh tidak bisa dilaksanakan.

Semoga semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Upacara Tawur Kesanga yang bermaksud membersihkan bumi dan alam dari segala wabah penyakit bia tetap berjalan walaupun tanpa keramaian.

Selamat Menyongsong Hari Raya Nyepi, teman -teman. Semoga damai di hati, damai di bumi, damai alam semesta. Semoga kita semua terhindar dari bahaya Corona.

Libur Corona!.Tolong Diam Di Rumah Oyy!!!. Jangan Jalan-Jalan.

Standard
Sumber gambar, screenshot dr tayangan Indosiar

Saya mendapatkan Surat Pengumuman dari Sekolah anak saya bahwa Sekolah akan meliburkan murid-muridnya selama 2 minggu untuk mengantisipasi penularan virus Corona di Sekolah. Saya merasa sangat bersyukur, karena akhirnya Sekolah mengambil keputusan yang tepat di situasi darurat ini. Jadi anak saya akan tinggal di rumah dan tetap menerima pelajaran secara online.

Tak lama kemudian, saya juga mendapat informasi edaran tentang perusahaan- perusahaan yang memberlakukan system kerja dari rumah (Work From Home/WFH) untuk mengurangi kemungkinan penularan virus. Kantor saya sendiri tidak atau belum memberlakukan aturan itu.

Selain itu, pemerintah DKI juga memutuskan untuk menutup tempat tempat wisata di wilayah DKI Jakarta, seperti Ancol, Ragunan, TMII dan sebagainya. Ini untuk mencegah resiko penularan Corona. Kalau ini saya senang akan keputusan yang diambil Pak Anies, baik untuk meliburkan Sekolah dan menutup tempat keramaian.

Semua itu sangat jelas tujuannya. Untuk membuat agar masyarakat tetap “stay” di rumah dan tidak pergi pergi ke luar rumah. Karena jika kita semua berdiam diri di rumah, maka kontak fisik dengan orang ataupun benda benda yang terkontaminasi virus Corona bisa dikurangi.

Tetapi sungguh miris ketika melihat berita di TV. Begitu diberikan libur ternyata banyak orang Jakarta bukannya melakukan isolasi diri, tapi justru pergi liburan ke Puncak. Astaga !!!. Saya lihat di foto, memang macet banget kelihatannya.

Ya, memang hak setiap orang sih untuk memutuskan pergi atau tinggal di rumah selama liburan. Tetapi ya sebaiknya kita memahami apa tujuan pemerintah untuk memberikan kita/anak kita libur. Dan sebaiknya mengikuti himbauan pemerintah untuk berdiam diri di rumah, jika memang sudah diberikan ijin tidak ke kantor atau ke sekolah.

Penurunan kasus Corona dan pencegahan penularannya adalah tanggung jawab kita semua. Bukan semata tanggung jawab pemerintah.

Dibutuhkan kedisiplinan untuk merawat diri, membersihkan diri dan menjaga diri. Merawat diri dengan cara membersihkan tangan setiap saat, mencuci dengan sabun ataupun handwash atau dengan handsanitizer, setidaknya membantu mengurangi resiko penularan.

Jaga diri dengan meningkatkan stamina tubuh, bisa dengan bantuan Vitamin B ataupun Vitamin C.

Juga kita perlu menjaga diri kita dengan mengurangi bepergian ke tempat keramaian maupun ke tempat wisata. Cukup dengan berdiam diri di rumah, kita sudah membantu diri kita dan diri orang lain agar tidak tertular.

Kita harus bersatu, bersama-sama berperang terhadap Virus Corona. Karena wabah ini tidak akan betakhir jika hanya segelintir orang yang berusaha, sementara yang lain cuek dan tidak peduli. Yuk kita bersama-sama menerangi Virus Corona.

Salam bersatu kita teguh!!!.

Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali -Part II.

Standard

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya “Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Bagian II ini lebih membahas tentang ucapan Salam Umum yang tidak terikat dengan waktu ataupun sebuah kejadian, Ucapan buat sahabat atau kerabat yang sedang sakit atau kesusahan dan ucapan Bela Sungkawa jika ada sahabat atau kerabat yang meninggal dunia.

6/. Ucapan Salam saat Berjumpa

Saat berjumpa, kalimat salam pertama yang diucapkan oleh orang Bali adalah “Om Swasti Astu”. Ucapan ini adalah doa dari yang mengucapkan Salam agar orang yang diajak berbicara berada dalam keadaan baik, sehat dan bahagia. Karena kata Om adalah seruan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Swasti artinya dalam keadaan baik, dan Astu artinya Semoga.

Om Swasti Astu = Ya Tuhan, Semoga (orang yang saya ajak bicara ini) Engkau berikan dalam keadaan baik, sehat dan bahagia.

Ucapan Om Swasti Astu bisa dijawab dengan doa yang sama kembali, Om Swasti Astu. Bisa juga dijawab dengan Om Shanti Shanti Shanti. Shanti = damai.

Diucapkannya kata Shanti sebanyak 3 x adalah merepresentasikan doa pengucap agar kedamaian yang terjadi di 3 Strata mulai dari yang kecil hingga yang terbesar. Yaitu kedamaian di dalam Hati, kedamaian di Bumi dan kedamaian senantiasa di seluruh Alam Semesta.

Salam Om Swasti Astu juga umum digunakan sebagai pembuka pidato, rapat, tulisan. Dan sebagai penutup dari pidato, rapat ataupun tulisan juga diakhiri dengan Om Shanti Shanti Shanti.

Salam ini tidak mengenal waktu. Berlaku untuk kapan saja.

7/. Ucapan Buat Yang Sakit atau yang kena musibah.

Saat mendengar sahabat atau kerabat yang sakit, tentu saja yang kita ucapkan bukanlah selamat tetapi doa agar yang bersangkutan diberi kesembuhan. Jadi ucapannya adalah “Dumogi gelis kenak”. Semoga lekas sembuh. Atau “Dumogi gelis waras” Semoga lekas sehat.

Dan doa yang paling umum diucapkan adalah “Om Sarwa Wighna, Sarwa Klesa, Sarwa Lara Roga, Winasa ya Namah “. artinya “Ya Tuhan, kami mohon agar segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan Engkau binasakan ya Tuhan”.

Tetapi jika kita ingin mendoakan si sakit dalam bahasa atau agama/kepercayaan masing-masing juga tidak masalah. umumnya masyarakat Bali sangat terbuka untuk menerima doa orang lain sepanjang niatnya baik. Jadi tidak ada doa baik yang haram hukumnya, walaupun itu diucapkan oleh orang berbangsa/bersuku/beragama lain ataupun dalam bahasa/ agama lain. Sama saja.

Jika kita mendengar ada berita tentang sahabat atau kerabat yang mengalami musibah lain yang tidak terkait dengan kesehatan tubuh i.e kehilangan, kecurian dsb maka ucapan kita adalah “Dumogi polih kerahayuan”

8/. Ucapan Bela Sungkawa.

Orang Bali mengucapkan kalimat “Dumogi amor ring Acintya” saat mendengar teman atau kerabat meninggal dunia. Yang artinya “Semoga bisa menyatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa”.

Atau mengucapkan doa “Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu. Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha” yang artinya ” Ya Tuhan, semoga atna yang menunggal mencapai surga, lalu menyatu denganMu, mencapai keheningan tanpa suka duka. Ampunilah ia, semoga segalanya disempurnakan atas kemahakuasaanMu.

Ini berkaitan dengan keyakinan bahwa setiap mahluk hidup memiliki Atma (roh) yang merupakan percikan suci dari Tuhan Yang Maha Esa (Paramatma).

Atma ini terlahir ke dunia (dan mungkin berkali kali) untuk membersihkan perbuatan perbuatan buruknya hingga kembali benar-benar bersih dan mampu menyatu kembali denganNYA dan tak perlu dilahirkan kembali lagi.

Ketika mahluk hidup meninggal, maka Atmanya akan lepas meninggalkan tubuh kasarnya. Ia akan melalui proses pengadilan yang membuatnya ke naraka atas perbuatan buruknya atau ke surga atas perbuatan baiknya. Tapi Surga ataupun Neraka bukanlah terminal terakhir. Setelah menjalani masa “rewarding” di surga ataupun neraka, jika Atma / roh belum benar benar bersih dengan perbuatannya maka ia dikasih kesempatan untuk lahir kembali guna memperbaiki dosa dosanya itu hingga ia benar- benar bersih dan menyatu kembali dengan Tuhan. Jadi Tuhan adalah terminal terakhir. Bukan Surga.

Itulah sebabnya mengapa doanya bukan “semoga mendapat tempat di sisiNYA”, karena objectivenya adalah untuk menyatu denganNYA, bukan terpisah dan berada di tempat yang berbeda (di sisiNYA).

Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Standard

Salah satu pertanyaan yang sering dialamatkan teman ke saya adalah “Selamat pagi, apa dalam Bahasa Balinya ya Bu?”. Ada juga yang bertanya, bagaimana cara mengucapkan “terimakasih” dalam Bahasa Bali. Karenanya saya tertarik untuk menuliskan di sini bagaimana cara kita menyampaikan dan membalas beberapa Salam dalam Bahasa Bali.

Salam adalah Doa.

Serupa dengan suku/bangsa lain di dunia ini, Masyarakat Bali mengucapkan salam dengan cara menyampaikan Doa untuk keselamatan dan kebaikan orang yang diajaknya berbicara. Itulah sebabnya kebanyakan Salam dimulai dengan kata Selamat.

Selamat dalam Bahasa Bali adalah “Rahayu” atau jika ditambahkan kata semoga (dumogi/dumadak) misalnya Dumogi Rahayu (Semoga Rahayu, semoga dalam keadaan baik/ selamat) , maka kata ini berubah menjadi “Rahajeng“. Dua-duanya artinya sama, yakni kondisi seseorang yang dalam keadaan baik, sehat, selamat dan aman dari gangguan apapun serta tidak dalam kekurangan apapun. Bedanya hanya dalam penggunaan.

Sehingga jika tidak merujuk pada waktu atau kejadian yang spesifik masyarakat Bali mengucapkan kata Rahajeng/ Rahayu dalam memberi Salam.

Contohnya “Rahajeng, Bli” atau “Dumogi Rahayu, Bli”. Rahajeng/ Rahayu = baik, selamat, sehat sentosa. Bli = kakak laki-laki.

Maksudnya adalah “Semoga berada dalam keadaan selamat dan baik baik saja ya Kak”.

1/. Selamat Pagi/Siang/Malam.

Pagi = Semeng. Selamat Pagi = Rahajeng Semeng.

Banyak juga yang membubuhkan akhiran “an” sehingga kata Semeng menjadi Semengan. Artinya sama saja.

Siang = Tengahi. Selamat Siang = Rahajeng Tengahi.

Malam = Wengi. Selamat Malam = Rahajeng Wengi.

Kata Rahayu tidak umum digunakan dalam konteks ini. Jadi tidak ada Rahayu Semeng atau Rahayu Wengi.

2/ Ucapan Selamat Khusus & Hari Raya.

Ulang Tahun = Wanti Warsa. Selamat Ulang Tahun = Rahajeng Wanti Warsa.

Tahun Baru = Warsa Anyar. Selamat Tahun Baru = Rahajeng Warsa Anyar.

Menyampaikan Selamat Hari Raya bisa dilakukan dengan mengucapkan kata Rahajeng Dina (Dina = Hari) lalu bubuhkan nama hari rayanya. Misalnya;

Rahajeng Dina Galungan (Selamat Hari Raya Galungan), Rahajeng Dina Kuningan, Rahajeng Dina Saraswati, Rahajeng Dina Pagerwesi dsb.

Atau bisa juga disederhanakan tanpa kata Dina. misalnya:

Rahajeng Galungan, Rahajeng Kuningan dan sebagainya.

3/. Lanjutan Salam.

Secara umum masyarakat Bali tidak berhenti dengan hanya mengucapkan Salam standard Rahajeng Semeng – Rahajeng Wengi saja, tetapi umumnya memberikan doa tambahan lagi atas ucapan salam ini (terurama jika tertulis).

misalnya “Rahajeng semeng. Dumogi sami rahayu”. (Selamat pagi. Semoga semua dalam keadaan baik).

Atau “Rahajeng Wanti Warsa Putu, dumogi setata kenak, bagya tur lantang yusa”. (Selamat Ulang Tahun Putu, semoga selalu sehat, bahagia dan panjang umur).

4/. Menjawab Salam.

Secara umum salam Rahajeng Semeng/ Wengi bisa dijawab singkat dengan mengucapkan salam yang sama “Rahajeng Semeng’/ Wengi) juga.

Tetapi jika salam yang disampaikan adalah berupa ucapan selamat misalnya, ulang tahun, atau hari Raya, maka salam bisa dijawab dengan terlebih dahulu mengucapkan terimakasih lalu dengan mengucapkan salam kembali.

Terimakasih = Matur Suksma. Atau cukup dengan “Suksma” saja.

misalnya “Suksma. Rahajeng Mewali” yang maksudnya adalah ” Terimakasih. Saya mengucapkan doa yang sama baiknya untukmu juga”.

Atau bisa juga menjawab “Suksma. Dumogi rahayu sareng sami”. Artinya “Terimakasih. Semoga semua orang dalam keadaan baik”.

5/. Membalas berita bahagia.

Terkadang kita mendengar informasi/berita dari teman/kerabat tentang rencana pernikahan anaknya, atau akan menyelenggarakan upacara di rumahnya atau di kampungnya. Bagaimana cara kita mengucapkan selamat?. Cara nembalasnya adalah dengan mengucapkan doa agar pelaksanaan acaranya sukses.

Dumogi memargi antar” (semoga berjalan dengan baik tanpa rintangan).

“Dumogi labda karya” Semoga pekerjaannya berhasil.

“Dumogi labda karya sida sidaning don” Semoga pekerjaannya berhasil sesukses suksesnya.

Atau jika ingin mendoakan pengantin

Dumogi langgeng ngantos riwekasan”. Semoga langgeng hingga ke depannya terus.

Beli Jagung Depan Kuburan.

Standard

Awalnya saya tidak ingin bercerita tentang kejadian ini, khawatir orang-orang menyangka saya tidak logis, tidak rasional, atau mengalami Halu πŸ˜€. Karena kejadian ini rada-rada nggak masuk akal, tapi ini sungguh kisah nyata yang saya alami sendiri.

Saya pulang malam dari kantor. Di tengah jalan saya merasa sangat lapar. Saking laparnya sampai perut saya perih dan saya mual. Saya berniat membeli camilan di pinggir jalan. “Jangan gorengan ya Bu. Nggak sehat”, kata Pak Supir yang mengantar saya pulang. “Oke”, kata saya.

Saya lalu mikir, apa yang sehat ya? “Kacang rebus atau jagung rebus. Nanti kalau ada di pinggir jalan kita berhenti” kata saya. Pak supir melambatkan laju kendaraan sambil mencari-cari dagangnya di pinggir jalan. Apesnya, hingga setengah jam lewat belum terlihat ada tanda tanda tukang kacang rebus – jagung rebus.

Kendaraan terus melaju pelan. Gerimis mulai turun. Jalanan terasa sepi. Semakin pupus harapan saya untuk bisa membeli kacang atau jagung rebus.

Tiba- tiba Pak Supir menghentikan kendaraan “Kayaknya itu ada tukang jagung bakar. Mau Bu?” tanyanya sambil memundurkan kendaraan tanpa menunggu jawaban saya. Dagang jagungnya sudah terlewat bebetapa ratus meter. Ya ya…tentu saja saya mau.

Saya pun turun. Sekarang saya baru sadar, ternyata posisi dagang jagung bakar ini tepat di pintu gerbang Pemakaman Umum. Agak gelap dan hanya ada satu lampu kecil. Ada 2 dagang di situ. Seorang ibu yang menjual jagung bakar. Dan 2 orang anak muda yang menjual kepiting. Saya memesan beberapa buah jagung untuk saya dan Pak Supir – barangkali ia mau juga buat istri atau anaknya.

Karena sepi, tidak ada pembeli lain lagi, si ibu penjual jagung langsung meladeni permintaan saya. Saya berdiri di bawah payung sambil menonton si ibu mengipas bara dan membolak -balik jagung. Bagus juga baranya dan tidak terpengaruh oleh gerimis. Saya mendongak ke atas. Oooh.. rupanya pembakaran ini ada di bawah pohon rindang. Pantas terlindung dari hujan. Baranya stabil. Asapnya menebar ke udara.

Tiba tiba saya mencium wangi semerbak keluar dari pembakaran jagung. Wangi Kemenyan Arab yang dibakar!. Wah… apa nggak salah penciuman saya ini?. Saya coba hirup lebih dalam. Tapi sekarang wanginya hilang.

Namun beberapa saat kemudian, wangi Kemenyan itu muncul lagi. Bahkan jauh lebih kencang dari sebelumnya dan lamaaaa sekali. Saya membayangkan jika itu sebuah parfum, tentu dosagenya tidak kurang dari 25% dalam larutan ethanol.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan wangi Kemenyan. Kemenyan atau Olibanum atau Frankincense, adalah aromatic resin atau getah dari pohon-pohon jenis Boswelia/ Styrax. Merupakan bahan baku penting dalam industri parfum dunia. Kemenyan juga banyak digunakan dalam pengobatan, berbagai ritual keagamaan ataupun budaya berbagai bangsa, mulai dari Arab, Eropa hingga Asia. Namanya sangat positive dan harum.

Hanya di Indonesia saja Kemenyan ini mendapatkan nama buruk karena dikait-kaitkan dengan hal mistik πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Sehingga banyak orang Indonesia yang takut pada wangi Kemenyan.

Walaupun saya orang Indonesia, tetapi sebagai orang yang bekerja di industri parfum dan memahami apa sebenarnya Kemenyan, tentu saja saya tidak takut pada wangi Kemenyan. Saya cuma heran saja, bagaimana bisa kok wangi Kemenyan keluar dari asap pembakaran jagung???. Tidak normal!!!. Kecuali jika ada orang yang memasukkan Kemenyan ke dalam pembakaran ini.

Atau apakah ada orang lain yang membakar menyan di balik tembok kuburan itu?. Tapi rasa saya wanginya kelyar dari pembajaran jagung ini deh. Sangat dekat dan kenceng.

Saking penasarannya, saya lalu bertanya pada ibu tukang jagung, “Ibu ada memasukan kemenyan ke dalam arang pembakaran jagung ini nggak Bu?. Kok saya mencium wangi kemenyan ya? “.

Si ibu tampak terkejut, lalu agak kesal pada saya. “Demi Allah Bu, saya tidak seperti pedagang lain yang menggunakan penglaris biar dagangannya laku” . Jawabnya.

Saya hanya mendengarkan. Oh…mengapa ia mengaitkan kemenyan dengan penglaris?. Sebenarnya bukan itu maksud saya. Tapi ya sudahlah. Ntar dia malah makin tersinggung. Selain itu, dua orang anak muda yang menjual kepiting itu juga tiba tiba mengemas daganganya buru- buru, mematikan lampu dan pulang. Lah?. Kok kabur?. Jadi gelap sekali sekarang di sini.

Si ibu tukang jagung lalu mencari cari saklar dan menyalakan lampunya sendiri.

Sebenarnya jujur saja Bu. Setiap malam saya berjualan di sini hingga jam 1 malam. Kadang- kadang memang gitu, Bu. Tiba tiba kecium bau wangiiii. Atau bau busuk. Malah sering juga suara cewek ketawa. Saat malam sepi dan nggak ada pembeli”, katanya.

Lalu ia bercerita. Ia terpaksa berjualan di situ, karena tak mampu membayar sewa lapak di tempat yang lebih baik. Tak punya pilihan lain. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia harus menghidupi 5 orang anak yang masih kecil-kecil dan masih sekolah. Dan saat ini, ia sendiri sebenarnya sedang menderita sakit jantung. Untunglah 2 orang anaknya yang besar sekarang sudah bekerja dan menikah.

Ya apa jadinya ya Bu, jika umur saya tidak ada lagi. Gimana nanti nasib anak-anak saya?”, katanya dengan sangat sedih. Saya jadi ikut terbawa kesedihannya. Lalu saya besarkan hatinya bahwa ia pasti bisa melewati semua masalah itu dan saya doakan agar ibu itu membaik kesehatannya dan kuat serta lancar rejekinya. Lalu saya pamit.

Saya lihat mata ibu itu berkaca-kaca saat menerima uang dari saya. Sekali lagi saya berdoa dengan sungguh-sungguh untuk kebahagiaan ibu tukang jagung itu. Semoga Tuhan memberikan kesehatan yang baik, rejeki yang banyak dan makin banyak pembeli yang mampir ke sini. Lalu saya kembali ke kendaraan.

Begitu duduk di dalam mobil. Tiba-tiba bulu kuduk saya merinding. Aneh sekali perasaan saya ini. Tadi padahal saya tidak merinding, kenapa tiba tiba sekarang?. Saya pikir saya sedang merasakan takut. Lihat ke sebelah dan jok belakang. Tidak ada apa apa. Tapi saya semakin merinding.

Nyaris putus asa dengan perasaan ini, akhirnya saya berkata kepada entah siapa “Jangan mengganggu saya. Karena niat saya selalu baik. Saya hanya membeli jagung karena perut saya lapar. Berhenti gentayangan. Saya doakan agar kamu bertemu jalan untuk kembali kepadaNYa“. Saya lalu berdoa dengan khusuk agar jika memang ada arwah, atau mahluk lain di sekitar saya (selain Pak Supir tentunya), agar kembali kepadaNYA dan berbahagia.

Setelah itu rasa merinding saya perlahan berkurang. Nah…. sekarang tinggal jagungnya. Apa yang harus saya lakukan dengan jagung ini sekarang?. Makan atau jangan?. Jangan jangan jagung bakar aroma Kemenyan. Saya cium. Ternyata wanginya tetap wangi jagung bakar biasa. Tidak ada tercampur dengan wangi Kemenyan πŸ˜€.

Tapi anehnya pikiran saya berkembang makin buruk. Bagaimana jika tiba tiba keluar darah dari jagung ini saat saya gigit?. Atau jika tiba-tiba batang jagung ini berubah jadi tulang manusia?. Seperti di cerita-cerira horor. Saya bergidik. Ngeri banget memikirkannya. Mungkin ini yang namanya Super Halu. Saya jadi galau dan mikir-mikir.

Setelah saya timbang timbang, akhirnya saya putuskan untuk memakan jagung itu saja.

1/. Alasan logis, tadi saya beli jagung karena saya lapar. Sekarang jagung sudah di tangan saya. Ya harus saya makanlah, agar perut saya tidak perih lagi.

2/. Tidak baik membuang makanan. Banyak orang lain yang kelaparan dan tak mampu.

3/. Selain itu, saya beli jagung ini dari gaji hasil kerja saya. Masak dibuang?. Rejeki akan seret datangnya jika kita menyia-nyiakan rejeki yang sudah di tangan kita sendiri.

4/. Tanaman jagung itu sendiri tentu akan sangat sedih jika saya menyia nyiakannya. Karena ia sudah bersusah payah mengekstrak zat kehidupan dari tanah dan mengalirkannya ke dalam biji-bijinya guna keberlangsungan kehidupan generasi berikutnya. Tapi kita manusia mengambil buahnya dan membakarnya. Dan setelah dibakar tidak pula kita makan, alangkah berdosanya saya ini pada pohon jagung.

Akhirnya ” nyuam nyuam” saya makan jagung itu setelah sebelumnya saya berdoa, agar jagung ini memberi kesehatan dan kekuatan untuk tubuh saya dan bukan penyakit. Saya juga berdoa memohon agar tubuh saya dilapisi dan dilindungi dengan kekuatan jika seandainya ada pengaruh atau energi buruk dalam jagung yang saya makan itu.

Ha ha .. tidak terjadi apa apa tuh. Jagungnya ya tetap jagung biasa saja. Tidak ada darah ataupun berubah jadi tulang belulang πŸ˜€

Setiba di depan rumah, entah kenapa saya merasakan ada seseorang yang mengikuti langkah saya kelyar dari mobil, walaupun saat saya tengok kiri, kanan, depan, belakang tidak ada satu orangpun. Daripada daripada, sebelum membuka pintu rumah, saya membalikkan badan saya lalu berbicara entah kepada siapa ” Kamu jangan ikut masuk. Cukup sampai di sini saja. Pulanglah! Jangan gentayangan. Terimakasih sudah ikut mengantar”, kata saya. Terasa sangat bodoh. Ngomong sendiri πŸ˜€. Tapi serius, itu ngefek lho. Setidaknya memberi dampak psikologis kepada perasaan saya bahwa sekarang saya sudah aman. Setelah saya ngomong gitu, tidak ada lagi perasaan ada sesuatu atau seseorang yang sedang membuntuti saya.

Lalu saya masuk ke dalam rumah. Di sini tenang, nyaman dan damai.

Demikianlah cerita saya sesuai dengan kejadian nyata yang saya alami. Mungkin sebagian teman pembaca mentertawakan dan menganggap saya tidak rasional atau menyebut saya Halu. Tetapi sebagian lain mungkin bisa memahami atau bahkan pernah mengalami kejadian yang serupa ini. Tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan secara rasional.

Tidak apa apa. Setiap orang punya pengalaman dan sudut pandang masing-masing. Terimakasih sudah membaca.

Spirit of Wipro Run 2019 – Indonesia. Further Together.

Standard

Musim berlari telah datang!.

Bersamaan dengan lebih dari 50 negara lain di dunia, Spirit of Wipro Run diselenggarakan kembali Minggu pagi tanggal 22 September ini. Di Indonesia, pelaksanaannya di lakukan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta dan di Salatiga.

Nah, saya hadir di Ancol, dimana lokasi Start dan Finishnya itu dilakukan di area Pasar Seni lalu keluar menyusuri pantai dan kembali lagi sejauh 5 km.

Seperti biasa acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (saya sangat suka bagian yang ini – setidaknya mengingatkan kita semua akan tanah air kita Indonesia tercinta ini), dilanjutkan dengan sambutan dari Chief Executive Wipro Unza Indonesia, Mr Amit Dawn, lalu sedikit pemanasan sebelum berlari.

Yang saya suka dari kegiatan Spirit of Wipro Run ini adalah kebersamaannya. Kami bertemu dengan teman -teman sesama karyawan dan keluarganya. Saling mengenal satu sama lain. Dan yang paling penting lagi adalah memperkenalkan kepada anak -anak di perusahaan mana orang tuanya bekerja.

Seperti tahun -tahun sebelumnya, Spirit of Wipro Run menggunakan thema yang berbeda-beda tergantung agenda yang sedang di-push oleh group Wipro. Tahun ini thema yang digunakan adalah “Further Together”, di mana Wipro Group mendorong karyawannya untuk bekerjasama dengan lebih erat lagi dalam melakukan usaha-usaha untuk mencapai kesuksesan dalam menerapkan value dari perusahaan yang disebut dengan Spirit of Wipro:

1. Be passionate about client’s success.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menunjukkan usaha, upaya dan semangatnya dalam membangun kesuksesan pelanggan. Karena kesuksesan pelanggan adalah kesuksesan kita.

2. Treat each person with respect.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menghargai dan menghormati orang lain, terlepas dari jabatannya, usianya,gendernya, suku bangsanya, agamanya, strata ekonomi dan sosialnya, dan sebagainya. Setisp orang harus diperlakukan sama.

3. Be global and responsible.

Wipro juga berharap agar setiap karyawan berpandangan luas dan global serta bertanggungjawab terhadap perkataan dan perbuatannya.

4. Unyielding integrity in everything we do.

Terakhir Wipro juga meminta agar setiap karyawan berlaku jujur dan kukuh dalam memegang prinsip prinsip kejujuran dan moral yang tinggi.

Terus terang seiring dengan bertambahnya usia, saya tidak lagi bisa berlari kencang apalagi berharap menjadi pemenang. Kaki saya kram melulu jika dibawa lari. Jadi saya lebih banyak berjalan saja. Fun Walking πŸ˜€. Untungnya di perjalanan saya bertemu dengan Mbak Ika yang menemami saya sambil ngobrol.

Walaupun pake nyasar masuk ke garis finishnya, yang paling penting adalah kami berhasil melewati 3 Meet point yang ditetapkan tanpa melakukan kecurangan. Saya diberikan gelang berbeda warna sebagai bukti telah melewati titik titik itu.

Saya telah berlari

Bagi saya ini bukanlah soal menangnya, tapi bagaimana kita bisa berkomitmen melakukannya tanpa kecurangan dan tidak menyerah.

Saya dan Mbak Ika mengambil foto di setiap titik. Untuk mengenang bahwa kami telah berhasil melewatinya dengan baik.

Rajapisuna. Fitnah dalam Pandangan Seorang Wanita Bali.

Standard

Beberapa hari terakhir ini, masyarakat Bali dihebohkan oleh pemberitaan tentang seorang wanita bernama Lisa Marlina yang mengatakan lewat account Twitternya @lisaboedi , kalau di Bali itu nggak ada pelecehan sexual, karena kalau dilecehkan ya senang-senang saja. Selain itu ia juga mengatakan kalau di Bali itu pelacur dan pelacurannya available di setiap jengkal.

Sontak kicauan wanita ini membuat para wanita Bali terkejut dan heran.

Wanita Bali senang-senang saja kalau dilecehkan?????

Pelacuran di setiap jengkal tanah Bali?????”.

Dari mana datanya?. Apakah Lisa sudah datang ke tanah Bali dan check faktanya di lapangan?. Dan menemukan bahwa statementnya itu mengandung kebenaran atau tidak?

Keterkejutan dan respon diberikan dari para netizen baik di Bali maupun dari luar Bali. Ujung-ujungnya Ni Luh Djelantik, seorang wanita designer sepatu asal Bali mengadukan kasus ini ke Kepolisian.

Sebagai seorang Wanita Bali, tentu saja saya sama heran dan terkejutnya dengan Wanita Bali yang lain, akan apa yang dikatakan oleh Lisa Marlina di dunia maya. Karena sebagai Wanita Bali yang tumbuh dan besar di Bali (walau sekarang sebagian besar saya tinggal di Jakarta dan hanya bolak balik saja pulang ke Bali), saya tidak setuju jika kami Wanita Bali disebut senang jika dilecehkan. Karena kenyataannya tidak.

Kemudian sebagai orang Bali, saya juga tidak setuju dengan pernyataan Lisa Marlina, jika di Bali ada sedemikian banyaknya pelacur dan pelacuran, saking banyaknya hingga setiap jengkal tanah Bali pun ada. Karena kenyataannya tidak. Dan saya ingin Lisa membuktikan kepada saya ucapannya itu.

Karena menurut saya apa yang dilakukan oleh Lisa Marlina ini termasuk dalam perbuatan fitnah besar, alias RAJAPISUNA dalam Bahasa Balinya.

Rajapisuna (Fitnah, Memfitnah) adalah memberikan sebuah pernyataan buruk tentang orang lain yang tidak terbukti kebenarannya.

Rajapisuna dan Sad Atatayi – Enam Bentuk Kejahatan Manusia.

Rajapisuna ini dalam tatanan masyarakat Bali yang sebagian besar beragama Hindu dan sangat cinta akan kedamaian termasuk salah satu dari enam point SAD ATATAYI (Enam Bentuk Kejahatan, Sad= enam, Atatayi = Kejahatan), yang sangat dilarang untuk dilakukan.

Enam Kejahatan dalam Sad Atatayi itu adalah:

1/. Agnida – membakar, meledakkan, nge- bom milik orang lain.

2/. Wisada – meracuni orang dan mahluk lain.

3/. Atharwa – menggunakan ilmu hitam untuk menyerang /menyengsarakan orang lain.

4/. Sastraghna – mengamuk, membunuh orang dan mahluk lain.

5/. Dratikrama – melecehkan, memperkosa orang lain.

6/. Rajapisuna – memfitnah orang lain.

Sangat jelas, bahwa melakukan Rajapisuna merupakan salah satu kejahatan yang dianggap serius di Bali, karena termasuk di dalam daftar SAD ATATAYI.

Dalam kenyataannya, memang terjadi beberapa kasus pelanggaran dan tindakan kejahatan juga yang dilakukan oleh orang Bali, tetapi jumlahnya relatif sangat kecil dibandingkan dengan yang disiplin mengamalkan pelarangan Sad Atatayi ini. Saya rasa kita juga bisa melihat data di Kepolisian, berapa % yang dilakukan orang Bali dan berapa % yang dilakukan pendatang.

Sad Ripu – Enam Musuh Dalam Diri Manusia.

Nah, bagaimana seseorang bisa melakukan perbuatan jahat yang termasuk dalam daftar Sad Atatayi ini?. Sebatas apa yang saya pahami dalam agama Hindu, bahwa perbuatan ini terjadi jika kita kurang mampu mengendalikan musuh -musuh yang ada di dalam diri kita sendiri yang disebut dengan SAD RIPU yaitu:

1/. KAMA – nafsu

2/. LOBHA – loba, serakah.

3/. KRODHA – amarah

4/. MADA – mabuk, kegila-gilaan.

5/. MOHA – kebingungan, keangkuhan.

6/. MATSARYA – iri hati, dengki.

Orang Bali, tidak percaya bahwa jika ada orang yang berbuat buruk itu karena dipengaruhi setan (mahluk lain di luar dirinya). Tetapi yakin jika perbuatan jahat itu disebabkan oleh kemampuan diri orang itu sendiri yang rendah dalam menaklukkan sifat sifat buruk yang ada dalam dirinya itu sendiri (Sad Ripu). Jadi tidak menyalahkan Setan.

Nah dalam kasus Rajapisuna di atas, perbuatan memfitnah orang lain bisa terjadi karena kelemahan manusia dalam mengendalikan Sad Ripu, misalnya karena Krodha (Amarah) dalam dirinya, dan atau karena Matsarya (Irihati, dengki), atau mungkin juga karena Moha dan sebagainya.

Itu pandangan saya, sebagai salah seorang Bali tentang kasus Lisa Marlina ini.

Lalu bagaimana kita menanggapinya?.

Menurut saya, karena Ni Luh Djelantik, seorang Wanita Bali telah mengambil inisiatif melaporkannya ke pihak Kepolisian, ya biarkanlah pihak kepolisian yang memprosesnya hingga selesai. Walaupun akhirnya Lisa Marlina telah mengucapkan maaf (- tentu dimaafkan), dan mengaku itu mistypo, tetapi proses hukum tentu tetap berlanjut.

Selain proses hukum duniawi, ada juga Hukum Kharma- Phala yang berlaku. Setiap orang yang melakukan perbuatan (Kharma) baik maupun buruk, pasti akan mendapatkan buah dari perbuatannya itu dengan setimpal (Phala). Hukum Kharma-Phala itu berlaku untuk semua mahluk di seluruh alam semesta, tak peduli di manapun ia sembunyi.

Dan tentunya kita tak perlu ikut marah marah juga, karena jika kita marah, itu artinya Lisa Marlina telah berhasil dan sukses menggeret kita untuk kalah melawan Sad Ripu, yakni membiarkan Krodha (amarah), yang ada di dalam diri kita sendiri menjadi menguat dan menguasai diri kita.

Mari kita sikapi dengan tenang dan damai. Jangan biarkan Sad Atatayi orang lain ikut mencemari kebersihan hati dan pikiran kita. Jangan biarkan Rajapisuna, membuat kita tak mampu mengendalikan Krodha amarah dalam diri kita. Tetaplah tenang, damai dan terkendali.

Ragadi musuh meparo, ri ati ya tonggwaniya tan madoh ring awak….

(Musuh yang sesungguhnya itu ada di dalam diri kita, di hati tempatnya, tak jauh dari tubuh kita sendiri).

Mari kita berdamai dengan diri kita sendiri.

Om Shanti, Shanti, Shanti.

Semoga semua mahluk selalu merasakan damai di hati, damai di bumi dan damai seluruh alam semesta.

Ondel-Ondel,

Standard

Jalur saya dari kantor ke rumah, adalah jalur perkampungan Betawi. Dengan demikian, saya menjadi beruntung karena hampir setiap malam sepulang kerja ada saja Ondel-Ondel yang saya lihat melintas di jalur itu.

Malam kemarin juga. Saat hendak mengisi bensin, saya lihat ada Ondel-Ondel sedang menari-nari di pomp bensin. Karena sangat dekat, saya berniat untuk menonton dan sekalian ngasih sumbangan. Sayapun turun dan mulai memotret sang Ondel-Ondel. Niat saya juga ingin merekam Ondel – Ondel ini. Walaupun gerakannya sederhana dan tanpa pakem, hanya maju, goyang ke kiri, goyang ke kanan atau beputar putar, tarian Ondel-Ondel ini cukup jenaka juga.

Baru saja sempat sekali menjepret sang Ondel-Ondel itu, seorang perempuan berlari sambil menunjukkan kaleng sambil memberi kode kepada saya agar saya segera memberi sumbangan uang.

Saya melihat ke arah perempuan itu dan berpikir, mungkin ini istri dari pria yang berada di balik Ondel Ondel itu. Dan ia setia ikut suaminya berjalan jauh untuk mencari nafkah.

“Ah!. Saya nggak mau ngasih uang sekarang, ntar kalau saya kasih uang pasti Ondel-Ondelnya langsung kabur, Mbak. Wong saya mau memvideokan Ondel Ondel ini” kata saya.

Si Mbak tertawa mendengar komentar saya. Lalu ia memanggil sang Ondel-Ondel dan menyuruhnya menari di dekat saya.

Waah… lumayan leluasa saya memotret dan memvideokannya. Karena sang Ondel Ondel sekarang mau menari dengan baik. Bukan menari ala kadarnya dan kabur.

Setelah cukup, lalu saya memberikan sumbangan kepada si Mbak. Dia tersenyum. Dan betul saja, begitu uangnya diterima, mereka langsung pergi. Berjalan lagi.

Saya tertawa. Nah inilah yang seharusnya disadari oleh teman teman seniman jalanan kita untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah.

Mengamen di jalanan, menurut saya adalah sebuah pilihan profesi juga. Akan tetapi, untuk meningkatkan minat orang menonton dan mengapresiasi serta membayar, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan:

1/. para seniman jalanan meningkatkan kwalitas pertunjukannya agar lebih baik dan menarik, misalnya dengan menciptakan gerakan baru, melatih gerakan dan lebih menyrimbangkan dengan musik yang dipilih.

2/. Melakukan pertunjukan dengan bersungguh sungguh hingga selesai, barulah meminta sumbangan/ bayaran dari masyarakat yang menonton. Jangan hanya menari ala kadarnya, lalu buru buru minta sumbangan dan segera kabur setelah uang diberi.