Category Archives: Social & Culture

Warna-Warni Dalam Bahasa Bali.

Standard

Gara gara seorang teman berkomentar pada sebuah post di timeline facebook, saya jadi kepikiran untuk mengajak teman-teman pembaca untuk bersama-sama mengenal warna-warni dalam Bahasa Bali. Dan sekaligus mengenal bagaimana masyarakat Bali memandang warna.

Dalam kehidupan sehari-hari di Bali, warna memegang peranan yang sangat penting, bukan saja dalam kaitannya dengan seni, misalnya warna warni pada lukisan, pakaian, namun juga pada warna warni makanan dan sebagainya.

Bahkan warna warni juga erat hubungannya dengan konsep keTuhanan, misalnya diterapkan dalam konsep Dewata Nawa Sanga, di mana Tuhan Yang Maha Esa diberikan nama tertentu sesuai dengan peranan Beliau, lokasi dalam mandala/ arah mata angin dan diberi kode warna tertentu juga.

Untuk diketahui, Warna dalam Bahasa Balinya sama saja dengan Bahasa Indonesia, yaitu “Warna” juga (dibaca “warne” . A dibaca e seperti membaca e dlm kata “dengan”). Tetapi apa saja jenis warna yang ada dalam perbendaharaan Bahasa Bali? Yuk kita simak bersama.

1/. Hitam.

Ireng, Cemeng (halus). Selem (standard). Badeng (kasar).

Contoh pemakaiannya; Tebu Ireng = tebu hitam/ tebu guak. Miana Cemeng = Miana hitam. Kayu Selem = kayu hitam. Kulitne badeng senged = kulitnya hitam legam.

Masyarakat Bali menempatkan warna hitam di utara. Dan hitam juga merupakan lambang Tuhan yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pemelihara (Wisnu)

2/. Biru.
Nila (halus). Pelung ( standard). Beru (standard).

Warna Biru ditempatkan di Timur Laut. Merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pencipta Kebahagiaan (Shambu).

3/. Putih.

Petak ( halus). Putih (standard).

Untune petak sekadi gamet = giginya putih seperti kapas.

Warna Putih ditempatkan di Timur. Juga merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penguasa Dunia (Iswara).

4/. Pink

Dadu (Halus/ Standard).

Warna Pink di tempatkan di Tenggara. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Besar (Maheswara).

5/. Merah.

Bang (halus). Barak (standard).

Contoh pemakaian:

Mesumpang nganggen Pucuk Bang = menghias rambut/telinga dengan menggunakan bunga kembang sepatu merah.

Warna merah ditempatkan di selatan. Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Sang Maha Pencipta (Brahma).

6/. Orange.

Kudrang (halus). Jingga (standard). Nasak Gedang (standard).

Warna Orange diletakkan di Barat Daya. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penghancur Kejahatan (Rudra).

7/. Kuning.

Jenar (halus). Kuning ( standard).

Kuning ditempatkan di Barat. Merupakan lambang Tuhan dalam fungsinya sebagai Sang Penguasa Tertinggi Alam Semesta (Mahadewa).

8/. Hijau

Wilis. Gadang. Ijo (standard).

Hijau ditempatkan di Barat Laut. Meruoakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penjaga Keharmonisan (Shangkara).

9/. Ungu.

Tangi (Halus/Standard).

10/. Coklat

Gading.

Contoh pemakaiannya :

– Bokne gading (rambutnya coklat/pirang).

– Kepundunge nasak gading (buah kepundung/menteng matang dan coklat muda).

– Nyuh Gading= kelapa ukuran kecil yang berwarna merah kecoklatan.

11. Abu.

Kelawu.

Itu adalah warna warna umum. Bagaimana jika kita ingin mengatakan ” ke….an”?. Misalnya nih… kecoklatan (brownish) kebiruan (bluish), kekuningan (yellowish)?. Dalam bahasa Bali, kecoklatan disebut dengan “lumlum gading”. Keputihan = lumlum petak. Jadi untuk mengatakan sesuatu yang ke+warna+an, cukup tambahkan kata “lumlum” di depan kata warna (lumlum+warna).

Cara lainnya adalah menambahkan kata “mesawang” di depan kata warna. Mesawang arti aslinya adalah terlihat/tampak. Contoh, “warnan ambarane pelung mesawang barak” artinya, warnanya langit biru agak kemerahan.

Selain itu ada istilah lain lagi yang berkaitan dengan warna.

1. Tri Kona = Tiga Warna = hitam, merah , kuning.

2. Panca Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Kuning.

3. Sanga Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Ungu, Kuning, Jingga, Pink, Hijau.

4. Berumbun = Warna campur-campur.

Nah…demikianlah kurang lebih bahasa Bali untuk mengatakan berbagai jenis Warna.

Advertisements

Awas Lintasan Rel Kereta!.

Standard

Saya paling takut menyeberang rel kereta. Karena beberapa kali saya mendengar cerita tentang kecelakaan yang terjadi di pintu lintasan kereta. Jadi, saya selalu merasa was-was.

Tapi yang takut melintas di rel kereta ternyata bukan saya saja. Belum lama ini Bapak supir yang setiap hari mengantar saya kemana mana bercerita.

Ibu. Tau nggak ? Tadi saya hampir saja ketabrak kereta?”.

Hah??!!” Kata saya sungguh terkejut. Pengen tahu dong di mana kejadiannya, dan kenapa bisa begitu?.

Ia bercerita kepada saya. Bermula dari sebuah kereta datang dari arah kiri, bel pintu kereta berbunyi dan palang pun turun menutup lintasan. Pak Supir menunggu dengan sabar di antrian. Tak lama kemudian kereta lewat. Tetapi bel pintu lintasan tiada henti berbunyi dan palang pintu juga tak terangkat. Ooh…rupanya ada kereta ke dua dari arah yang berlawanan melintas. Pak Supirpun menunggu lagi dengan sabar. Setelah kereta yang ke dua lewat, pintu lintasan terangkat, bel pintu kereta berhenti berbunyi.

Lalu lintas mulai bergerak kembali perlahan. Sangat lambat, karena arus dari seberang membludak. Saking membludaknya, bukan saja memenuhi jalurnya sendiri, tetapi juga memenuhi jalur yang harusnya diperuntukan dari arah yang berlawanan di mana Pak Supir berada. Sehingga jalan di jalur Pak Supir tertutup.

Pak Supir tidak bisa maju karena kendaraan di depannya tak bisa bergerak juga, akibat ada kendaraan yang dari arah berlawanan menyumbat jalurnya. Adu moncong kendaraan. Diikuti oleh kendaraan lain yang ikut-ikutan melanggar di jalur yang salah itu. Macet total. Juga tidak bisa mundur, karena di belakangnya antrian kendaraan juga sudah sangat padat. Tidak ada ruang lagi.

Masalah terjadi ketika tiba tiba ada kereta bergerak datang dari arah kiri lagi. Bel pintu pun berbunyi ning nong ning nong dan pintu perlahan bergerak menutup. Saat itu posisi kendaraan Pak Sopir baru memasuki lintasan kereta. Ia sangat panik. Maju tak bisa, sementara mundur pun tak bisa. Macet semacet-macetnya.

Orang orang yang melihat pada berteriak panik melihat kejadian itu. Dan Pak Supir bercerita jika ia sampai tidak bisa mendengar apa apa karena saking sangat banyaknya suara teriakan. Juga tak bisa berpikir apa apa karena rasa takut yang luar biasa.

Hingga akhirnya penjaga rel kereta datang, memberi arahan agar ia melintangkan kendaraan sejajar dengan pintu rel kereta. Iapun menggerakkan mobil dengan gugup dan gemetar. Sesegera mungkin. Tepat saat ia berhasil melintangkan kendaraannya di tepi rel, saat itu kereta melintas. Dan akhirnya ia pun selamat. Legaa…. Sungguh sebuah keajaiban Tuhan.

Ya ampuuun!. Mengerikan sekali. Saya merasa sangat tegang mendengar cerita itu. Sangat kasihan pada Pak Supir. Membayangkan bagaimana ia sangat panik dan ketakutan. Bukan maksudnya ia berada di situ. Tapi situasi yang menyebabkan ia demikian.

Saya tahu pasti, Pak Supir ini adalah salah satu orang yang sangat tertib berlalu lintas. Tetapi yang namanya di jalan raya, ketertiban tidak cukup dilakukan seorang diri. Para pengguna jalan raya yang lain juga harus ikut disiplin.

Contohnya dalam kasus ini, walaupun Pak Supir sendiri sudah tertib di jalan, mengantri dengan baik dan benar, menunggu saat kereta lewat, dan hanya masuk saat pintu kereta terbuka dan tidak terlihat ada kereta api. Tetapi, jika pengguna lalu lintas lain tidak disiplin, tidak sabar dan tidak tertib, menyerobot jalur orang lain sehingga lalu lintas jadi macet. Kendaraan yang harusnya bisa masuk dan keluar lintasan kereta dengan cepat, jadinya harus tertahan di dalam lintasan kereta hingga berpuluh-puluh menit sampai akhirnya jadwal kereta berikutnya datang lagi. Nah, ini jadi salah siapa?.

Sangat jelas di sini ketidak disiplinan orang orang di jalan rayalah yang telah mengakibatkan orang lain terjebak di rel keteta hingga nyaris terjadi kecelakaan. Bukankah itu jahat namanya?.

Pelanggaran lalu lintas di pintu lintasan kereta sangat sering saya lihat. Sebagai contoh, coba saja berdiri di pintu lintasan dekat Stasiun kereta di Poris- Tangerang. Dan amati apa yang terjadi. Pastinya kita akan terkejut dan geleng-geleng kepala.

Walau bel pintu kereta sudah berbunyi ning nong ning nong bertalu-talu memberi peringatan keras agar jangan lewat , tetap saja banyak sekali orang yang tetap berbondong-bondong menyeberangi rel kereta. Bahkan, walaupun badan kereta sudah tinggal 2 detik menyambar tubuhnya, tetap saja para jagoan jalanan ini melintas tanpa takut.

Sungguh heran saya. Mengapa ya kok banyak orang seberani itu?. Apakah mereka sakti- sakti?. Atau tidak sabaran? Tidak disiplin?. Atau mungkin sedang sangat kebelet mau ke kamar kecil?.sehingga sampai berani mempertaruhkan nyawa?. Saya tidak mengerti.

Semoga kesadaran untuk tertib berlalu lintas semakin meningkat. Karena bukan saja berguna untuk keselamatan diri sendiri tetapi juga untuk keselamatan orang lain.

Menonton Drama Musikal “Kita Indonesia Milenial”.

Standard

Sabtu kemarin, saya berkesempatan hadir dalam pagelaran drama musik yang diselenggarakan sekolah Pembangunan Jaya. Mengambil tempat di Gedung Teater Global Jaya, pagelaran kolosal yang melibatkan siswa siswi Pembangunan Jaya dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA ini terlihat cukup grande.

Menurut pihak penyelenggara, ide datang dari fakta bahwa saat ini sekolah TK, SD, SMP dan SMA Pembangunan Jaya letaknya di lokasi yang terpisah pisah. Masing masing melakukan aktifitas sendiri sendiri. Bagaimana kalau sekali- sekali diadakan pentas gabungan ?. Hmm… ide yang menarik juga. Dan thema milenial yang diambil juga sangat menarik dan berlatar situasi yang dihadapi bangsa kita saat ini, yakni tentang ke-Bhineka Tunggal Ika -an. Rupanya Pembangunan Jaya ingin memperlihatkan peran dan partisipasi dalam memperat persatuan dan kesatuan bangsa lewat drama musikal ini.

Alur cerita.

Drama bercerita tentang anak perempuan yatim piatu bernama Putu Dini, berasal dari desa Penglipuran di Bali. Karena kedua orang tuanya sudah tiada, Putu lalu berangkat ke Jakarta untuk tinggal bersama Om dan Tantenya dan pindah belajar ke sekolah di SMA Pembangunan Jaya.

Di masa awal masuk sekolah, Putu mengalami beberapa masalah karena dibully oleh Gangs sekolah yang bandel dan suka bolos pelajaran. Ketika ibu guru memperkenalkannya sebagai anak baru, Putu diminta menari. Putupun menari Bali. Tetapi Gangs sekolah yang merasa lebih jago nge-dance mengatakan tari traditional seperti itu sudah tidak jaman lagi. Merekapun menunjukkan dance yang lebih modern yang lebih kekinian. Putu diejek sebagai kampungan.

Juga preman yang banyak berkeliaran suka memalak dan merampas hape yang baru saja diberikan oleh tantenya.

Hal ini membuat Putu merasa sangat sedih. Ia merasa ibu kota sangat jahat padanya. Dan ia rindu ingin pulang ke kampung halamannya yang tentram dan damai. Di sini kedamaian kampung Indonesia digambarkan apik dengan berbagai tarian daerah.

Tapi dengan berjalannya waktu, Putu akhirnya bertemu dengan teman teman yang mau menerimanya dengan baik dan mengajaknya ikut aktif dalam kegiatan ekskul nge-dance. Saat itu kebetulan sedang ada Pembangunan Jaya Dance Battle.

Beberapa group dance tampil. Termasuk gangs yang membully Putu sebelumnya.

Mereka semua bagus -bagus.

Nah…terakhir tampillah Putu dan groupnya. Mereka datang dengan Dance baru yang merupakan kombinasi Traditional Bali dance dengan tarian modern.

Ternyata tari baru ini bukan saja bagus dan penuh energi, tetapi juga mampu menunjukkan bahwa tarian Traditional pun bisa menjadi sangat bagus dan harmonis disandingkan dengan tarian modern. Team Putu menang.

Semuanya memberikan applaus dan selamat. Termasuk teman-teman yang sebelumnya membully Putu. Semuanya menerima Putu dengan baik.

Di akhir cerita, Putu dan teman-temannya saling berbagi pendapat bahwa kita semua adalah Bangsa Indonesia yang satu, tanpa harus membesar-besarkan perbedaan ras, suku ataupun agama yang dianut. Bhineka Tunggal Ika.

Overall alur cerita sangat menarik. Masing -masing anak juga menjalankan peranannya dengan baik. Dan pesan moral yang disampaikan untuk lebih mencintai budaya kita sendiri tersampaikan dengan sangat baik.

Musik dan Lagu.

Yang membuat drama ini menjadi semakin menarik adalah musik dan lagu yang digarap dengan serius. Tidak tanggung tanggung, minimal ada 3 group yang mensupport drama musikal ini.

Pertama adalah group musik traditional Bali yang berlokasi di sudut kanan penonton. Walaupun hanya terdiri atas beberapa gangsa, tapi musik ini diperlukan untuk mendukung adegan terutama saat pembukaan.

Kedua , di sebelah kiri penonton adalah Pembangunan Jaya music assembly yang mendukung banyak adegan dari drama musik itu.

Dan ke tiga, berdiri berjajar di kiri depan panggung adalah group paduan suara yang menghasilkan kwalitas lagu ysng baik dan indah.

Di luar itu drama music ini masih dilengkapi dengan permainan drum dan alat music bambu yang dimainkan anak anak.

Kombinasi permainan music dan lagu lagu ini membuat keseluruhan drama musikal ini menjadi lebih terlihat keren.

Tata gerak dan koreografi.

Gerak dan koregrafi drama musik ini juga terlihat cukup apik. Walaupun di sana sini juga sedikit berantakan, tapi saya tetap ingin ngasih jempol. Mengingat bahwa sangatlah tidak mudah mengelola ruang dan tata gerak para pemain yang jumlahnya sangat banyak, apalagi sebagian darinya adalah anak-anak TK dan SD yang tentunya sulit diatur. Tapi justru di situ letak kelucuannya yang alami, yang mengundang tawa dan senyum penonton. Yang penting di sini adalah bagaimana membuat anak-anak berani tampil di panggung.

Di luar itu masih ada lagi tata cahaya, permainan laser dan backstage display yang merupakan elemen penting untuk membuat keseluruhan pagelaran menjadi semakin hidup dan wah.

Begitulah pengamatan saya terhadap pagelaran kolosal ini. Semuanya berjalan dengan sangat bagus. Anak anak sangat percaya diri dan bangga dengan apa yang mereka lakukan.

Walaupun ada beberapa kekurangan kecil, tetapi tidaklah banyak. Seperti misalnya jika dilihat dari aspek Marketing, (Brand Imagery Building) – saya pikir jika dalam drama ditunjukkan figur ibu guru yang lebih serius dan tidak terkesan sangat sering meninggalkan kelas gara gara rapat (sampai murid sangat hapal alasannya: Raaapaaaat!!!), tentu citra sekolah Pembangunan Jaya akan berhasil dibangun dengan lebih baik.

Juga saat ketua murid membacakan pengumuman, mengapa semua murid harus membolos?. Karena adegan ini justru membuat kening penonton (orang tua murid) jadi berkerut. Saya pikir dengan adegan membully anak baru oleh beberapa anak nakal saat guru tidak ada, sebenarnya sudah cukup untuk membangun konteks. Nggak usah ditambahin.

Juga ada adegan saat menjelang battle dance tiba tiba serombongan ibu ibu ke sekolah, sehingga memicu keributan kecil yang memaksa sang pembawa acara harus meminta maaf kepada ibu ibu itu. Mungkin adegan ini sengaja diselipkan sebagai twist, untuk membangun kejenakaan tetapi treatment nya agak kurang pas. Sehingga dari unsur pendidikan terasa agak mengganggu.

Tapi …terlepas dari sedikit area yang sebetulnya masih bisa dibangun dengan lebih baik itu, secara keseluruhan pagelaran ini layak diacungi jempol yang banyak. Salut pada Pembangunan Jaya yang telah berusaha membangun kesadaran tentang kebhinekaan bangsa kita lewat drama musikal.

Salam sukses dari saya, untuk perguruan Pembangunan Jaya!.

Bumbu Dapur Dalam Bahasa Bali.

Standard

Setelah sebelumnya saya menulis tentang bahasa balinya wajah dan bagian-bagiannya, kali ini saya ingin mengajak teman pembaca untuk menengok dapur orang Bali dan mengenal bumbu dapur dalam Bahasa Bali.

Dapur dalam bahasa Bali disebut dengan “Paon”. Atau dalam bahasa halusnya disebut dengan kata “Pewaregan“. Dan Bumbu Dapur disebut dengan “Basa-basa” -dibaca Base base – dengan huruf a dibelakang kata dibaca sebagai “e ” seperti huruf e dalam kata “dengan” di bahasa Indonesia.

Oke!. Sekarang kita langsung mengenali apa saja yang ada di dalam nampan Basa -basa ya.

1/. Cabe = tabya.

2/. Garam = uyah (kasar), tasik (halus).

3/. Bawang merah = bawang.

4/. Bawang putih = suna / kesuna.

5/. Jahe = jae.

6/. Lengkuas = isen.

7/. Kencur = cekuh.

8/. Kunyit = kunyit.

9/. Asem = lunak.

10/. Merica = mica.

11/. Ketumbar = ketumbah.

12/. Lada = tabya bun.

13/. Pala = pala.

14/. Terasi = sera

15/. Pekak = Bungan lawang.

16/. Kecombrang = Kecicang.

17/. Kapulaga = kapulaga.

18/. Temu Kunci = kunci/ bekunci.

19/. Daun Salam = janggar ulam.

20/. Jeruk Limau = lemo.

21/. Jeruk nipis = juuk lengis.

22/. Gula Pasir = gula pasir.

23/. Gula Merah = gula barak/ gula ntal/gula Bali.

24/. Kecap = kecap (tidak umum dalam masakan traditional Bali, tetapi untuk masakan kontemporer, terkadang disediakan kecap di dapur).

25/. Bawang Daun = don pre.

26/. Seledri = seladri.

27/. Wijen = lenga.

28/. Pandan Wangi = pandanarum.

29/. Daun Suji = don kayu sugih.

30/. Kemangi = kecarum.

31/. Selasih = sulasih.

32/. Kemiri = tingkih.

33/. Sereh = serai.

34/. Keluwek = pangi.

35/. Kelapa = nyuh.

36/. Minyak kelapa = lengis nyuh.

37/. Tomat = tomat.

38/. Belimbing buluh = belimbing wuluh.

Demikian kurang lebih jenis basa basa yang mungkin ada di dapur orang Bali.

Friend Requests!.

Standard

Saat sekarang, ber-sosial media rasanya sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian besar orang. Entah itu lewat Facebook, Instagram, WA dan sebagainya. Saya sendiri termasuk salah satu diantara orang yang senang berbagi cerita, photo, video atau sekedar melihat lihat status teman, sahabat dan keluarga di Sosial Media di saat senggang. Saya melihat lebih banyak manfaatnya ketimbang keburukannya. Berbagai pengalaman dan pengetahuan baru tentu juga saya dapatkan lewat media ini. Juga pertemanan.

Nah…salah satu pengalaman yang ingin saya share di sini adalah soal Friend Request!. Secara umum, kita meminta maupun menerima banyak pertemanan kepada atau dari orang orang yang memang kita krnal di dunia off line. Sangat jarang kita meminta pertemanan dengan orang yang tidak kita kenal. Kecuali jika orang itu artist, public figure atau idola kita.

Tapi jika ada diantara orang yang tidak kita kenal meminta pertemanan dengan kita, apa yang akan kita lakukan?.

Biasanya hal pertama yang saya lakukan adalah melihat mutual friends – nya dengan saya. Jika mutual friendsnya banyak berpuluh puluh jumlahnya, maka saya langsung accept tanpa mikir lagi. Minimal belasanlah. Kemungkinan vesar itu memang teman atau keluarga.

Jika mutual friendsnya ada tapi sedikit (bisa dihitung dengan jari), biasanya saya buka profilenya. Jika kira kira orang baik baik, tidak ada gambar gambar atau kalimat kalimat kurang sopan, umumnya saya accept. Tapi jika ada yang aneh aneh atau promo berlebihan, biasanya tidak saya terima.

Jika account itu tidak saya kenal dan tak ada mutual teman yang saya kenal, biasanya saya berhati hati. Milih milih dan lihat lihat profile serta statusnya. Kadang saya terima kadang tidak.

Tapi ada lagi yang profilenya mencurigakan. Entah apa maksudnya, dia menggunakan foto orang lain sebagai foto profilenya dan namanya saya tak tahu apakah asli atau tidak. Biasanya menggunakan foto foto pria tampan dan berprofesi sebagai tentara, polisi, angkatan udara, pilot, dokter dan sebagainya.

Kalau begini langsung saya delete sajalah. Karena nggak ada gunanya juga meladeni orang yang aneh.

Ini adalah salah satu contoh Account yang meminta pertemanan dalam waktu 2 jam menggunakan foto profile yang sama, tetapi nama account yang berbeda. Masak jam 8 ngaku bernama Pedro Richard, terus jam 10 nya mengaku bernama Melvin Hertling. Baah… aneh banget dah 🤣🤣🤣.

Yang macam begini biasanya saya delete..

Tapi setelah itu dapat notifikasilah dari Facebook 😀😀😀.

Ayo teman-teman, coba sharing bagaimana cara teman teman menyikapi Friend Requests di SosMed?

Karmaphala dan Tuker Kado 50 Ribu Rupiah.

Standard

Awal tahun ini teman teman saya berinisiatif mengadakan acara tukar kado dan potluck. Buat seru seruan aja. Harga kado sudah ditetapkan 50 ribu rupiah. Oke. Baiklah!.

Sayapun membeli kado seharga yang ditetapkan. Agak susah nyarinya dengan harga yang pas 50 ribu karena hari sudah malam. Akhirnya saya mendapatkan sebuah barang yang harganya sedikit di atas 50 ribu. Sebuah box tempat makanan yang di dalamnya dibagi menjadi 5 kotak. Ya…kurang lebih lah ya. Sampai di rumah, saya dibantu membungkus kado dengan koran sama Mbak Siti. Rapilah pokoknya.

Esok paginya saya bawa kado itu ke kantor. Seorang teman yang jadi panitya menerima dan memberi code. Saya sendiri tidak terlalu memperhatikan.

Kira kira pukul 9.30 acara dimulai. Setiap orang mendapatkan kesempatan untuk mengambil nomer undian. Termasuk saya. Ah!. Saya mendapat nomer 17.

Panitya memanggil pemegang undian dari nomer 1, 2, 3, dan seterusnya untuk mengambil kado yang dimenangkan. Tak sabar rasanya saya menunggu nomer 17 dipanggil.

Ketika giliran nomer saya tiba, panitya menyerahkan sebuah bungkusan bernomer 17. Bentuknya kotak. Apa ya isinya kira kira? Sayapun membuka bungkusnya. Dan isinya….. jreng! Jreng!.

Box makanan!. Dengan 5 kotak di dalamnya!. Astagaaa!!!. Ini kan kado saya sendiri. Whua ha ha ha 🤣🤣🤣🤣.

Sungguh perustiwa langka. Jadi sebenarnya bisa dibilang saya memberi kado untuk diri saya sendiri he he he.

Teman teman saya menyarankan untuk menukarkan saja dengan kado yang didapat oleh teman lain. Saya hampir setuju. Tapi kemudian saya berpikir, peristiwa seperti ini sangat jarang terjadi. Dan alam semesta mungkin sedang mengingatkan saya akan adanya hukum Karmaphala yang abadi.

Bahwa sesungguhnya apapun yang engkau berikan kepada mahluk lain, pada akhirnya akan berbalik kepada dirimu sendiri, nett nett seharga yang telah engkau keluarkan. Tidak lebih dan tidak kurang. Jika kebaikan yang engkau berikan, maka kebaikanlah yang akan datang padamu. Sebaliknya jika keburukan yang engkau tebarkan, maka keburukan juga yang akn datang padamu. Jika 50 ribu yang engjau berikan, maka 50 ribu juga yang akan engkau terima.

Mungkin ada suatu waktu kita menerima lebih dan memberikan kurang. Sementara di lain waktu kitalah yang memberikan lebih dan menerima kurang. Tapi ujung ujungnya kita akan menerima tepat seperti apa yang kita berikan. Itulah hukum karmaphala yang kekal dan abadi.

Mengingat semua itu, akhirnya saya bilang kepada teman saya. “Nggak usahlah ditukar. Saya senang mendapatkan kado dari diri saya sendiri. Memang undiannya hasilnya begitu”. Dan sungguh…. saya sangat senang dan bahagia.

Menyadari diri saya adalah bagian dari semesta dan mengikuti hukum hukumnya. Walau sekecil apapun perbuatan yang saya lakukan, sepenuhnya mengikuti mekanisne alam semesta.

Games Dalam Adat Pernikahan Punjabi.

Standard

Tinggal sebentar dengan keluarga Karan dan melihat keseluruhan upacara pernikahan adat Punjabi, saya merasa bahwa orang-orang Punjabi secara umum adalah orang-orang yang bahagia dan gembira. Seluruh rangkaian upacara diisi dengan kegembiraan. Banyak dancing dan games.

Salah satu acara gembira penuh gelak tawa yang saya lihat adalah Games yang diselenggarakan esok harinya setelah upacara di temple. Keluarga mengadakan acara “permainan” bagi suami -istri yang sarat dengan makna dan kegembiraan.

Keluarga besar, orang tua, om, tante, sepupu, ipar, keponakan semua berkumpul di ruang tengah. Permainan dipimpin oleh tetua keluarga dan diikuti oleh mempelai.

Ada 3 jenis permainan yang saya lihat.

Mengurai Ikatan Gelang Benang.

Permainan pertama adalah saling membuka gelang benang di tangan masing-masing mempelai. Kelihatannya sederhana, tetapi sesungguhnya tidak semudah yang terlihat. Perlu kesabaran dan ketekunan untuk mengurai ikatan benang yang kuat dan rumit itu.

Permainan ini mengandung pesan bahwa apapun permasalahan yang dihadapi dalan rumah tangga hendaknya diuraikan dengan baik . Bagus juga ya.

Mencari Cincin Di Air Susu.

Permainan yang ke dua adalah lomba mencari cincin dalam keruhnya air susu. Tetua keluarga mengisi baskom logam dengan bunga bunga dan air lalu menambahkan susu ke dalamnya. Sehingga air menjadi keruh dan sukar untuk melihat ada apa di dasar baskom itu.

Cincin dan saya pikir beberapa uang logam juga dimasukkan ke dalam baskom lalu ke dua mempelai diajak berlomba cepat-cepatan menemukan cincin yang dimaksud.

Kantung Uang

Permainan yang ke tiga adalah permainan mengambil uang. Di permainan ini, ayah Karan yang memimpin. Sekantung uang diletakan di hadapan mempelai sebagai simbol dari hasil usaha suami.

Mempelai wanita diminta untuk merogoh kantung uang dan mengambil sebanyak yang bisa digenggam tangannya. Lalu uang itu diberikan keseluruhannya kepada mempelai wanita. Ini adalah simbol bahwa pria bekerja untuk menafkahi istrinya dan istri berkewajiban mengelola dengan baik setiap rejeki yang diberikan suaminya

Uang dibagi menjadi 4 bagian. Seperempatnya diberikan kepada keluarga yang lebih muda sebagai simbol perhatian dan support.

Saya rasa mungkin sebenarnya ada lebih banyak lagi jenis games pernikahan yang lain, tetapi 3 jenis games ini sungguh sangat seru dan menghibur.

Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Standard
Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Ini adalah saat yang ditunggu -tunggu. Pernikahan sahabat saya Karanjit Singh dengan Shela. Mengambil tempat di sebuah Sikh Temple yang berlokasi di kota kecil Pathankot, tidak jauh dari Amritsar di wilayah Punjab. Pasti pada penasaran dong ya, seperti apa upacara pernikahan adat India di Sikh Temple?.

Bentuk bangunan Temple ini sekilas tampak serupa dengan bangunan masjid. Terutama karena kubah dan lengkung pintu masuknya. Tak heran karena kota Pathankot ini tidak jauh letaknya dengan perbatasan Pakistan, negara yang kebetulan memang kebanyakan penduduknya memeluk agama Islam. Padahal jika kita dalami lebih jauh ternyata arsitektur seperti ini bukanlah berkaitan dengan agana tertentu, tetapi lebih berkaitan dengan wilayah tertentu.

Walaupun tampak kecil dari luar, tetapi di dalamnya ternyata cukup lebar juga.

Saya masuk ke Temple ini sebelum pengantin datang. Mencuci tangan, melepas sepatu dan memastikan kepala dan rambut saya tertutup dengan baik. Tentunya untuk menghargai umat Sikh yang bersembahyang di tempat itu. Pasalnya semua Sikh Temple menetapkan peraturan bagi setiap orang yang memasuki wilayah Temple diwajibkan untuk menutup kepala dan rambutnya, terlepas dari apakah ia pria ataupun wanita. Pokoknya sama sama harus menutup kepalanya.

Saya memasuki ruang utama Temple itu dan mengikuti tata cara yang seharusnya. Memberi penghormatan dengan mencakupkan ke dua belah tangan, lalu sujud dan mengakhirinya dengan nencakupkan kedua belah tangan lagi.

Sayapun menepi dan mengambil posisi duduk di sayap sebelah kanan bersama para wanita dari keluarga Karan. Sementara rombongan pria duduk berkumpul di sayap bangunan sebelah kiri.

Dua pemain musik tradisional tabla masuk. Mereka mengambil posisi di depan saya. Merapikan duduknya dan mulai bernyanyi dengan diiringi alunan musik yang ceria.

Lalu kedua pengantin memasuki ruangan. Melakukan upacara penghormatan yang sama lalu bersimpuh di depan altar yang isinya kitab suci.

Pemuka agama melantunkan doa doa yang panjang dengan irama dan suara yang sangat merdu. Tak sepotongpun saya mengerti artinya. Tetapi saya pikir pastinya berisi tentang permohonan agar kedua mempelai diberkahi dengan kebahagiaan yang langgeng sampai akhir hayat.

Saya disarankan duduk di belakang pengantin. Sayapun bergeser posisi. Pendeta kembali melantunkan doa doa yang panjang dan merdu. Saya ikut mendoakan kebahagiaan buat kedua pengantin. Semoga langgeng seterusnya.

Setelah beberapa saat, pemuka agama memberikan aba-aba kepada pengantin untuk berkeliling altar yang isinya kitab suci.

Kedua pengantin pun bangkit dari duduknya dan berjalan berkeliling. Lalu menghadap kembali ke altar dan duduk serta memberikan penghormatan kembali.

Pendeta melantunkan doa doa. Lalu menyuruh pengantin untuk bangun dan berjalan mengelilingi kitab suci lagi.

Demikian seterusnya hingga empat kali berkeliling.

Pemuka agama kembali dengan doa dan wejangan yang saya pikir isinya adalah nasihat- nasihat tentang bagaimana berumah tangga yang baik. Dan pernikahanpun disyahkan.

Upacara lalu ditutup dengan pembagian sejenis penganan yang manis mirip dodol kepada hadirin semua sebagai tanda kehidupan yang manis.

Hadirin berdiri dan memberi selamat kepada pengantin dan keluarganya.

Selamat nenempuh hidup baru ya Karan dan Shela!. Semoga langgeng dan bahagia sampai seterusnya 😘😘😘

Melepas Pengantin Pria.

Standard
Melepas Pengantin Pria.

Seusai acara mendoakan kemakmuran bagi pengantin pria dan berfoto bersama, kini saatnya keluarga mengiringi pengantin pria keluar rumah untuk berangkat ke Temple.

Saya mendapat informasi, biasanya pengantin pria akan berangkat untuk menjemput pengantin wanita di kediamannya, lalu mereka berangkat bersana ke Temple.

Nah…karena kali ini sang pengantin wanita berasal dari Indonesia, tentu rombongan tak bisa menjemput pengantin wanita ke Indonesia karena jarak yang sangat jauh kan…jadi upacara cukup dilakukan di depan rumah sang pengantin pria dan nanti pengantin pria akan bertemu dengan pengantin wanita di Temple saja.

Begitu keluar dari rumah, dengan wajah yang ditutup tirai mutiara dari turbannya, sang pengantin pria langsung ditunggu seekor kuda putih yang sangat gagah.

Sebagai catatan, upacara ini merupakan ritual adat sejak jaman dulu dimana kuda merupakan akat transportasi utama pada jaman itu. Dan tentunya, hanya kaum bangsawan dan kaya raya saja yang mampu memiliki kuda tunggangan pada janan itu.

Dengan diiringi musik yang gegap gempita, mempelai pria pun naik ke punggung kuda putih itu.

Selagi pasukan musik mendendangkan lagu lagu bahagia, satu persatu keluarga memberikan restunya kepada sang pengantin pria dengan cara membuka tirai mutiara yang menutup wajahnya dan menyampirkannya di atas turban. Mulai dari sang ayah, om, kakak dan kakak ipar.

Sementara anggota keluarga yang lain pun ikut bergembira dan menari nari bersama.

Dan tentunya sayapun ikut menari nari juga sebagai bagian dari keluarga Karan.

Rombongan pengantin pria yang diiringi musik dan tarian para anggota keluarga yang bergembira berjalan kira kira beberapa puluh meter ke depan. Samgat seru. Karena di luar video dan tivi baru kali ini saya melihat langsung para wanita India, tua dan muda menari-nari di jalan.

Kemudian mempelai pria turun dan melambaikan tangannya kepada semua hadirin. Rombongan lalu berangkat ke Temple Sikh ysng letaknya tak terlalu jauh dari rumah sang pengantin pria.

Turban.

Standard
Turban.

Bangun di pagi hari di kota kecil Pathankot sungguh menyegarkan. Udara di sini sangat sejuk dan saya sangat bersemangat karena siang ini kami akan pergi ke Temple untuk menyaksikan upacara pernikahan Karan dengan Shela. Bergegas mandi dan berdandan yang pantas untuk pergi ke tempat suci.

Sebelum pergi, kami berkumpul dulu di rumah Karan untuk sarapan bersama dan menyaksikan persiapan yang dilakukan oleh pengantin pria.

Karan memilih untuk menggunakan pakaian berwarna krem dengan turban dan selendang berwarna merah. Sungguh pantas dan menawan. Baru pertama kali saya melihat Karan dalam busana adat seperti itu.

Diantara busananya itu yang paling menarik untuk dibicarakan adalah tentang Turban. Karena Turban yang digunakan oleh pria Sikh ini sangat menarik dan unik bentuknya.

Secara adat, pria Sikh umumnya tidak memotong rambut, jenggot maupun cambangnya. Rambut yang panjang ini kemudian digelung ke atas dan ditutup dengan kain yang disebut dengan Turban. Saya lihat, di daerah Punjab ini bahkan anak-anakpun sudah menggunakan penutup kepala yang berupa sapu tangan atau ikat kepala yang dicepol di ubun ubun.

Selain mempunyai fungsi sebagai penutup kepala, Turban juga berkaitan dengan keyakinan. Jika kita bayangkan, mungkin fungsinya sama dengan “Blangkon” dalam adat Jawa atau “Iket” dalam adat Sunda atau “Udeng” dalam adat Bali.

Turban bisa berwarna macam macam. Ada yang hitam, merah, hijau, kuning dan sebagainya tergantung selera sang pemakai. Walaupun saya pernah dengar kalau jaman dulu warna turban juga dihubungkan dengan kelompok masyarakat tertentu. Saya tidak tahu apakah hal itu masih berlaku sekarang, yang jelas saya tahunya Turban sangat penting artinya dalam kehidupan orang Sikh.

Berbincang dengan Ravindra, salah seorang kakak Karan, Turban merupakan salah satu busana yang khas untuk pria Sikh guna menutupi rambut yang merupakan salah satu dari 5 hal penting dalam keyakinan orang Sikh yakni:

1. Kesh = Rambut (yang biasanya tidak dipotong).

2. Kaccha = Pakaian Dalam khusus yang terbuat dari bahan katun.

3. Kara = Gelang (biasanya terbuat dari baja).

4. Kanga = Pedang (yang biasanya panjang dan terbuat dari baja).

5. Kirpan = Sisir (yang biasanya terbuat dari kayu).

Saya sangat beruntung karena saat pemakaian turban di kepala pengantin pria, saya ada di tempat itu dan ikut menyaksikan.

Sebenarnya agak rumit bagi saya, tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa memakai atau memakaikan tentu saja ini sangat mudah.

Pemasangan turban di kepala Karan berlangsung cepat dan lancar. Tahu tahu sudah jadi saja.

Busana pengantin pria Sikh

Sekarang dengan ditambahkan dengan untaian mutiara sebagai penutup wajah dan kalung serta pedang panjang, pakaian pengantin pria terasa semakin lengkap dan mantap.

Pagi itu acara di dalam rumah ditutup dengan upacara memutar – mutarkan uang di atas kepala pengantin pria oleh papa, mama, om, tante, saudara dan keluarga serta sahabat Karan (termasuk saya) dengan harapan kelak rejeki sang pengantin pria terus berlimpah. Semoga.

Lalu kami berfoto bersama. Sungguh keluarga yang bahagia.