Category Archives: Social & Culture

Bedah Buku 100 CERITA INSPIRATIF Oleh Kritikus Sastra Indonesia Narudin Pituin.

Standard

Narudin Pituin, seorang Kritikus Sastra Indonesia membedah buku 100 CERITA INSPIRATIF dan menguploadnya di Sosmed.

Saya meminta ijin untuk bisa share tulisan beliau tentang buku pertama saya itu di bawah ini.

**********************************

VERSTEHEN 100 CERITA INSPIRATIF ANDANI:
PEMBACAAN HERMENEUTIKA

Oleh Narudin

Buku 100 Cerita Inspiratif (2021) karya Ni Made Sri Andani ini merupakan buku yang secara hermeneutik mengembangkan konsep memahami (verstehen). [1] Memahami yang dimaksud ialah bukan semacam pengetahuan atau sains, melainkan pandangan seorang manusia dalam usaha memahami keadaan sekitar yang bersifat individual dan sosial. Atau seperti dikutip dalam “Verstehen: The Sociology of Max Weber” (2011) oleh Frank Elwell, verstehen merupakan pemeriksaan menafsir atau ikut terlibat tentang fenomena sosial.

Andani tak melihat keadaan sekitar itu secara umum—ia menggunakan segala kemampuan bawaannya demi mengomentari keadaan alam sekitar itu secara khusus dan pribadi sifatnya, serta berupaya agar tulisan-tulisannya menginspirasi orang banyak.

Dari 1000 tulisan cerita inspiratif ia pilih menjadi 100 cerita inspiratif—yang berasal dari blog-nya selama 10 tahun. Dengan demikian 100 cerita inspiratif ini termasuk ke dalam jenis “sastra digital”—yang menghendaki keringkasan dan kebermanfaatan yang bersifat segera bagi “warga digital” pula.

Verstehen Andani disusun dalam suatu narasi atau cerita yang bersifat detail dan “idiosinkratik”, yakni ditulis khas sesuai pengetahuan dan keyakinan bawaannya. Kadang-kadang narasi-narasinya tak terduga dengan sekian tema yang banyak. Ambil beberapa cerita inspiratif ini, sekadar contoh: “Ketika Pedas Ketemu Air Hangat”, “Ada Sambal di Telpon Genggamku”, “Isah, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang Tinggal Selama Seminggu”, sampai cerita inspiratif “Kencing Kucing”.

Bagaimana masalah sederhana pedas yang berjumpa air hangat dipahami oleh Andani? Hangat dan pedas hampir sama, tetapi mengapa pedas bisa hilang akibat hangat? Ini suatu fakta sehari-hari, tetapi Andani menaikkan derajat yang nyata kepada hal yang mungkin (transcending the real into the possible), dalam tradisi teori Hermeneutika. Begitu pula dengan kasus ada sambal di telepon genggamnya—hal sepele, namun begitu mengganggu kenyamanan hidup. Teks ditulis oleh Andani, lalu ia menuangkan pengalaman, serta mengomunikasikannya kepada orang banyak, pada mulanya lewat blog, kemudian ia cetak dalam bentuk sebuah buku ini.

Andani pun menggunakan sudut pandang orang ketiga selain sudut pandang orang pertama, seperti dalam cerita inspiratif “Isah, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang Tinggal Selama Seminggu”. Cerita ini sederhana, tetapi disusun secara realis hingga faktanya terasa ke dalam lubuk hati pembaca dan turut bersimpati kepada tokoh Isah yang ususnya menderita. Hingga sampai pada kisah “Kencing Kucing” yang lucu, namun mengandung pesan yang bijaksana. Jangan dulu menyalahkan orang lain sebelum kita memeriksa kesalahan kita sendiri.

Sebagai penutup—ini cerita yang paling disukai oleh Andani, sesuai pengakuannya sendiri—yaitu berjudul “Di Bawah Langit di Atas Laut”, cerita ke-100 dalam buku ini.

Kisah ini sebuah perjalanan yang senantiasa diingat oleh Andani sebagai perjalanan tubuh dan roh atau tamasya jasmani dan rohani. Latar tempat dan latar waktu rupa-rupanya bukanlah hal yang utama dalam kisah ini, melainkan kisah renungan yang cukup dalam terhadap fenomena alam di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial sehari-hari. Andani mengagumi alam besar (makrokosmos) dan alam kecil (mikrokosmos). Keduanya dipahami (verstehen) oleh Andani sesuai dengan pengetahuan dan pengalamaan bawaannya.

Terhadap alam besar, ia merasa takjub dengan kebesaran penciptaannya. Ia mengatakan alam semesta berada di dalam-Nya. Ini pandangan panteistik. Pernah pula ilmuwan Ibnu Sina berkata bahwa alam semesta ini berada di dalam Tuhan sehingga menimbulkan dua istilah wujud: wujud mungkin ada (semua ciptaan-Nya) dan Wujud Wajib Ada (Tuhan). Lalu, Andani berpesan agar manusia bebas dari segala ikatan duniawi atau badan kasar, yang hanya menumpang saja di alam ini. Kebahagiaan sejati menurutnya ialah membebaskan roh dari segala ikatan duniawi—sebab setelah mati segala kemewahan atau jabatan atau kekayaan tak dibawa.

Terhadap alam kecil, Andani merasa dirinya mahakecil semacam butiran atom atau butiran yang kecil sekali. Ia memandang tak berbeda dirinya dari unsur kapal, samudra, dan benda-benda lainnya di alam ini pada level sub-atomik—dengan batasan tegas porsi dan komposisinya berbeda. Di lain pihak, ada pula perbedaan tingkat, tingkat bendawi, botani, hewani, hingga tingkat insani. Perbedaan ini menegaskan mana benda mati dan mana makhluk hidup—dan mana makhluk hidup yang punya pikiran dan perasaan, yaitu manusia.

Lalu Andani berkata, jika mati saya tiba, semua unsur pembentuk diri saya akan kembali lagi ke alam. Jadi apa yang harus aku takutkan jika mati tiba? Mati dan hidup hanyalah dipisahkan oleh sebuah kesadaran yang berbeda. Di lain pihak, dikatakan bahwa apa yang telah dikerjakan di alam ini akan di bawa pada alam berikutnya, yakni alam setelah mati.

Andani menutup ceritanya dengan menyebut perjalanan ini menyenangkan dan akan dikenang.

Verstehen (memahami) dalam 100 cerita inspiratif Andani dapat diambil segi baik manfaatnya. Dalam sastra ini disebut sebagai fungsi komunikatif. Sedangkan secara fungsi puitis, cerita-cerita ini dapat termasuk prosa sastra digital yang bersifat ringkas dan segera. Deskripsi cerita di dalamnya tak bisa disebut ringan jika sudah masuk ke wilayah transcending the real into the possible, seperti telah disinggung di atas.

Secara semiotik, [2] Andani telah mencoba mengomunikasikan pengalaman-pengalamannya kepada pihak pembaca dengan bahasa yang ia kuasai—masih perlu disunting. Dan memang tujuan buku ini, menurut Andani sendiri, agar memberi inspirasi pada banyak orang, dari pribadi dan pengalaman dia, dituangkan ke dalam teks atau cerita, lalu disampaikan kepada publik ramai.

***
Dawpilar, 15 Mei 2021

*) Kritik sastra di atas berasal dari acara bedah buku 100 Cerita Inspiratif (2021) di Kafe Sastra, Balai Pustaka, Jakarta, 19 Juni 2021.

CATATAN KAKI:

[1] Baca buku Narudin berjudul Epistemofilia: Dialektika Teori Sastra Kontemporer, Pasuruan: Qiara Media, 2020, halaman 24-27.

[2] Baca buku Narudin berjudul Semiotika Dialektis, Bandung: UPI Press, 2020, halaman 20-24.

Ni Made Sri Andani Sahadewa Warih Wisatsana Wayan Jengki Sunarta Darma Nyoman Putra Agoes Kaboet Soetra Jefta Atapeni  I Ketut Putrayasa Made Edy Arudi Idk Raka Kusuma Rini Intama Chye Retty Isnendes Tien Marni Rizka Amalia Dewa Gede Kumarsana Andi Mahrus Anwar Putra Bayu Ipit Saefidier Dimyati Imam Qalyubi Sunu Wasono Djoko Saryono M Tauhed Supratman Wannofri Samry Saifur Rohman Syahrul Udin Nani Syahriani Asfar Nur Kosmas Lawa Bagho Taba Heriyanto Giyanto Subagio Laora Laora Tika Supartika Na Dhien Kristy Setyo Widodo Tati Dian Rachmika Il Mustari Irawan Enung Nurhayati Elang Munsyi Hermawan An Endut Ahadiat Ermanto Yohanes Sehandi Shafwan Hadi Umry Salim Bella Pili Rafita Ribelfinza Gunoto Saparie  Nia Samsihono

*********************************

Terimakasih ulasannya Pak Narudin.

KETIBAN CECAK.

Standard

Aduuh…tadi saya ketiban cecak jatuh” cerita Siti kepada saya. “Apa ya Bu kira-kira artinya?” Lanjutnya bertanya dengan wajah agak khawatir. Saya nggak langsung menjawab karena sedang mengunyah buah.

Awalnya saya mau bilang, cecak jatuh kan wajar-wajar saja. Diantara sekian ekor cecak yang merayap di dinding atau di langit-langit sesekali kan pasti ada yang terpeleset dan jatuh juga. Terutama saat berlari atau meloncat mencoba menangkap nyamuk atau serangga kecil lainnya.  Sesuatu yang sangat wajar dan tidak usah terlalu dipikirin.

Tetapi kemudian saya ingat, jika di Bali cecak dipercaya sebagai lambang ilmu pengetahuan. Lambang  berkah dari Sang Hyang Aji Saraswathi, sebutan Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai penguasa Ilmu Pengetahuan.  Jika ketiban cecak ya artinya akan beruntung mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Akan tambah pintar   atau akan mengetahui sesuatu yang bermanfaat untuk kebaikan diri sendiri, keluarga ataupun masyarakat.

Juga sebagai lambang kebenaran informasi. Misalnya jija seseorang sedang menceritakan sesuatu kepada orang lain yang belum jelas kebenarannya dan tiba-tiba seekor cecak berbunyi “cek cek cek cek”, maka seketika bunyi cecak itu meningkatkan level kepercayaan si pendengar akan kebenaran dari cerita itu. Jadi, cecak memiliki posisi yang cukup tinggi di Bali. Tidak ada hal mengkhawatirkan tentang cecak. Semuanya baik.

Sayapun menceritakan kepercayaan Orang Bali tentang cecak ini. Sayangnya Siti tetap murung, walaupun sudah saya ceritakan tentang hal baik ini.
“Tetapi kalau di Jawa, orang percaya kalau kejatuhan cecak itu alamat buruk, Bu. Akan ada musibah yang menimpa” katanya semakin murung.  Saya jadi tertegun mendengarnya. Ooh sedihnya.  Bagaimana cara saya menghibur Siti kalau begini ya?. Saya sendiri bukan orang Jawa yang memahami kebudayaan dan kebiasaannya dengan baik.

Mengapa berbeda banget ya antara kepercayaan masyarakat di Jawa dengan di Bali tentang cecak?. Padahal binatangnya ya cuma itu-itu saja. Sama -sama cecak. Bukan kadal. Bukan buaya.

Cecak, hanyalah seekor binatang kecil pemburu serangga yang bernama latyn Hemidactylus frenatus, masuk ke dalam family Gekkonidae, Ordo Squamata, Class Reptilia dan Phylum Chordata – demikian jika dilihat dari sudut pandang seorang ahli taksonomi hewan. Ia berubah menjadi sebuah lambang ilmu pengetahuan dan kebenaran jika dilihat dari sudut pandang saya yang lahir dan besar di Bali. Dan berubah sebagai pembawa tanda musibah jika dilihat dari sudut pandang Siti, yang lahir dari keturunan Jawa dan besar di Jawa. Weeehhhh… binatang yang sama, tapi bisa beda-beda ya.

Semakin saya mikirin tentang cecak yang memiliki sudut pandang dan kepercayaan yang berbeda-beda ini, semakin banyak saya menemukan hal-hal lain yang juga memiliki perbedaan persepsi dan image, antara di pulau Jawa dengan di pulau Bali.

Contohnya adalah Bunga Kamboja. Jika di Jakarta, Bunga Kamboja sangat erat kaitannya sebagai Bunga Kuburan. Karena pohon Kamboja banyak ditanam di kuburan. Bunga kesedihan. Dan dianggap seram. Siti pun yang besar di Jawa mengatakan sama. “Bunga yang membuat takut”, katanya.

Sedangkan di Bali, bunga Kamboja dianggap sebagai bunga kebahagiaan hati. Justru ditanam di rumah atau di tempat suci. Bukan di kuburan. Sehingga tidak heran jika kita ke Bali, kita bisa melihat banyak wanita Bali dengan riang gembira menyelipkan bunga Kamboja di telinganya atau untuk menghiasi rambutnya. Selain dipakai sebagai hiasan rambut, bunganya dipakai sembahyang, untuk menari dan juga untuk pengharum ruangan. Bunga yang penuh dengan hal-hal positive.

Contoh lain lagi adalah bunga Kenanga.  Saya sering mendengar teman-teman di Jakarta mengaitkan bunga Kenanga dengan hal-hal yang berbau mistis. Sedangkan di Bali, bunga ini dianggap sebagai perlambang wanita cantik yang bersikap baik sepanjang usianya. “Selayu-layu-layune miyik” -walau selayu/setua apapun tetap cantik dan harum namanya. Tidak ada kaitannya dengan dunia mistik sama sekali. Sedangkan di mata ahli parfum, bunga ini adalah penghasil ekstrak essential oils Cananga Odorata bahan pembuat parfum yang sangat mahal harganya.

Sebaliknya ada hal yang di Bali dihindari, di budaya lain dianggap biasa saja atau normal. Misalnya, orang Bali selalu menghindarkan menjemur pakaian tinggi-tinggi. Apalagi lewat di bawah jemuran. Itu benar-benar dianggap TABU.  Demikian juga meletakkan bantal di kaki, atau menginjak bantal. Itu sangat Tabu. Mengapa? Karena bantal adalah tempat meletakkan kepala. Dan kepala sendiri bagi orang Bali adalah sangat sakral sifatnya. Selain karena pusat pengendali pikiran ada di kepala, kepala dianggap sebagai hulu, dengan cakra Sahasrara di ubun-ubun yang memungkinkan keterhubungan dengan alam semesta dan Sang Maha Pencipta. Karenanya kepala dianggap sangat suci. Jangan sampai kesuluban jemuran. Apalagi jemuran pakaian dalam. BIG NO! NO!

Kalau kita gali, tentunya masih banyak lagi contoh-contoh lain dimana suatu hal/ benda bisa dipersepsikan positive di sekelompok masyarakat tertentu, tetapi dipersepsikan negative di kelompok masyarakat yang lain. Dan sebaliknya. (Tidak hanya terbatas di Jawa & Bali saja, tetapi juga mungkin suku dan bangsa lain yang berbeda). Lalu kelompok manakah yang lebih benar ?

Terus terang saya jadi tidak tahu jawabannya. Karena semua itu hanya kepercayaan saja. Kepercayaan lokal yang dibentuk barangkali oleh pengalaman, pengetahuan ataupun persepsi yang dibentuk oleh masyarakat lokal selama bertahun-tahun, puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun. Bisa jadi berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Kepercayaan. Namanya juga kepercayaan ya, hanya berlaku bagi orang-orang yang mempercayainya saja. Jika tidak percaya, ya otomatis itu bukan kepercayaan lagi namanya. Dan kita ini mahluk bebas merdeka. Boleh percaya boleh tidak. Believe it or not.

Perbedaan tidak harus membuat kita tercerai berai. Cukup kita tahu dan hormati kepercayaan orang lain.
Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangeruwa.

CERITA TEPI DANAU BATUR: PANYOROGAN.

Standard
Panyorogan, Desa Songan, Kintamani.

Panyorogan adalah sebuah tempat di Desa Songan yang letaknya persis di tepi Danau Batur. Di sanalah letak rumah kakek saya. Tanah di mana saya bisa membuka jendela dengan pemandangan langsung ke danau.

Halaman belakang rumah kami adalah sebidang tanah pertanian yang langsung bersentuhan dengan air danau, di mana ada sebuah mata air panas muncul di bawah akar Pohon Mangga dan membentuk parit kecil yang mengalir ke danau.

Di lepas danau, tak jauh dari pantainya ada sebuah Batu Besar yang selalu menjadi patokan kedalaman air. Nenek saya selalu bilang, jika anak-anak bermain atau berenang di danau, tidak boleh melewati Batu Besar itu, karena selewat Batu Besar kedalaman danau sudah terlalu dalam. Kami selalu ingat kata-kata Nenek.

Persis di sebelah rumah, ada jalan desa yang digunakan penduduk untuk ke danau. Entah sekedar untuk mengambil air, untuk mandi, atau pintu keluar masuknya penduduk desa yang bepergian dengan menggunakan sampan atau boat. Penyorogan adalah sebuah pelabuhan kampung di masa lalu.

Sejak dibukanya akses jalan aspal ke Desa Songan melalui batu cadas letusan Gunung Batur di tahun 1983-1984, penduduk lebih banyak menggunakan akses darat ketimbang angkutan danau jika ingin keluar desa. Akibatnya, pelabuhan perahu di Panyorogan jarang dipakai dan lama kelamaan tidak terpakai sama sekali.

Hal lain yang membuat Panyorogan berubah, adalah permukaan air danau yang semakin naik. Menenggelamkan Batu besar yang merupakan penanda kedalaman danau dan bahkan menenggelamkan sebagian besar ladang kakek yang di tepi danau. Membuat rumah kami semakin dekat posisinya dengan air.

Dua tahun terakhir ini, pemerintahan Desa mengambil keputusan untuk membuat jalan baru ke Hulundanu untuk membantu menguraikan kemacetan di jalan utama desa, akibat semakin meningkatnya kunjungan orang luar ke Pura Hulundanu Batur. Untuk mewujudkan upaya itu, maka pemilik tanah di tepi danau mesti merelakan sebagian tanahnya untuk dijadikan jalan. Nah.. itu membuat halaman belakang rumah kakek kami semakin habis dan sekarang malah menjadi halaman depan karena menghadap ke jalan baru.

Tak apalah, demi kepentingan masyarakat banyak.

Sisa tanah yang sangat dekat dengan air sekarang tidak terurus dan ditumbuhi semak air, tempat burung-burung air bersarang, bertelur dan membesarkan anaknya. Selain itu sebagian penduduk juga membuat keramba ikan. Membuat danau semakin berkurang keindahannya, tetapi semakin produktif.

Ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di sekitar Panyorogan.

Catatan. Dalam Bahasa Songan, kata Panyorogan sering dilafalkan sebagai “Panyorogang” dengan akhiran “ng” dan bukan “n”. Misalnya dalam percakapan ini.
Tanya : Cang ka jaa lajana jerone? (Memangnya kamu mau ke mana?).
Jawab: Cang ka Panyorogang (Akan ke Panyorogan).

Atau disebut dengan akhiran “i”. Bukan “an”.
Contoh:
A: Jaa lana kecaganga ubadi? (Dimana ketinggalan obatnya?).
B:. Di Panyorogi (Di Panyorogan).

Bagaimana Mengatakan Tidak Dalam Bahasa Bali.

Standard

Dalam sebuah percakapan entah dalam bahasa apapun, tidak selalu kita menyetujui apa yang diucapkan lawan bicara kita. Dan menyatakan ketidak setujuan tentu saja merupakan hal yang sah-sah saja.

Nah bagaimana cara kita mengucapkan ketidak setujuan kita dalam Bahasa Bali?.

Di dalam bahasa Bali kata “tidak” memiliki beberapa kata. Antara lain Sing atau Tusing, Ten atau Nenten. Dan jika diperluas lagi, kata tidak juga masih berkerabat dekat dengan kata Bukan (Boya) dan Tiada (Tuara).

1/. Sing.

Kata “Sing” berasal dari kata “Tusing” yang artinya “Tidak” dalam Bahasa Indonesia. Kata ini dianggap sebagai Bahasa kasar yang dipergunakan sehari hari untuk orang yang seumuran atau di bawah umur kita. Contohnya: Sing ada = Tidak ada. Sing nyak = tidak mau. Sing kengken = Tidak apa apa. Sing dadi = tidak boleh. Sing maan = tidak dapat. Sing taen = tidak pernah. Dan sebagainya.

Kta Sing bisa saja diganti dengan Tusing jika kita berbicara dengan lebih lambat. Sing ada berasal dari Tusing ada. Sing dadi berasal dari Tusing dadi.

2/. Ten atau Nenten.

Sama dengan Sing, kata Ten juga berarti Tidak. Ten berasal sari kata Nenten yang artinya Tidak. Tapi kata Ten dalam bahasa Bali memiliki tingkatan yang lebih halus dari kata Sing. Kata ini diucapkan jika lawan bicara kita lebih tua dari kita, atau seseorang yang kita hormati. Kata Ten juga sering digunakan dalam keluarga yang dalam kesehariannya memang biasa menggunakan kata kata halus.

Karena kata Ten ini sifatnya halus, maka kata penyertanya juga harus halus. Contoh penggunaannya misalnya, Ten wenten = tidak ada, Ten dados = tidak boleh/ tidak bisa, Ten purun =tidak berani/tidak mau (jika yg bersangkutan yg tidak mau), Ten kayun = tidak mau (jika pihak ke tiga atau pihak ke dua yg tidak mau), Ten napi = tidak apa apa, Ten polih = tidak dapat, ten naenin = tidak pernah.

3/. Boya.

Kata “boya” artinya tidak atau bukan. Digunakan jika kita ingin menyangkal atau tidak menyetujui perkataan lawan bicara kita. Contoh penggunaannya misalnya, “Boya ja tiang ngerereh uratian ida dane, niki tiyang nak wantah ngortiang sane kasujatiane”. Artinya, bukannya saya mencari perhatian anda semua, saya hanya menyampaikan kebenarannya saja. Atau contoh lain, ” Eda ja ngalih gae ane boya boya” artinya janganlah mencari kerjaan yang tidak tidak.

4/. Tuara

Tuara dalam Bahasa Bali sebenarnya memiliki arti kata “tiada”, tetapi kerap juga diartikan sebagai “tidak”. Contoh penggunaan, “Tuara ngelah apa” artinya tidak punya apa apa. Contoh lain, Tuara ngidaang = tidak mampu, tuara dingeh = tidak dengar.

5/. Eda.

Kata ” Eda” sebenarnya berarti jangan atau Tidak boleh aluas dilarang. Eda ngambul = jangan ngambek atau tidak boleh ngambek, Eda ngeling = jangan nangis, tidak boleh nangis, Eda merunyuh = jangan resek atau tidak boleh resek.

DemikiNlah sedikit ulasan tentang kata Tidak dalam Bahasa Bali. Semoga berguna bagi yang tertarik belajar Bahasa Bali sehari-hari.

Menyimak Art Fusion Di Buku “Gajah Mina”.

Standard

Saya diperkenalkan dengan buku Gajah Mina ini, oleh Mas Hartanto, yang rupanya adalah salah satu penggerak terbitnya buku ini. Buku yang merupakan kumpulan puisi, lukisan dan sketsa karya Dokter Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan ini, memang sudah terlihat istimewa di mata saya, bahkan hanya dengan melirik covernya saja.

KONSEP & INTERPRETASI.

Konsep. Sebagai sebuah konsep penerbitan, kolaborasi seni lukis dan puisi dalam buku ini sangat menarik dan bermanfaat. Mengintegrasikan dua jenis karya seni yang berbeda, memang bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi jika itu bisa terintegrasi dengan baik, maka upaya ini akan berhasil meng-enhance idea atau pesan yang ingin disampaikan oleh senimannya kepada audience. Pembaca akan jauh lebih mudah mengerti, karena bisa menangkapnya secara audio dan visual sekaligus.

Jikapun objective itu tak tercapai, setidaknya upaya ini akan mampu menambah jumlah audience. Karena yang tertarik, bukan hanya mereka yang berminat pada seni sastra saja, tetapi penyuka seni lukispun akan ikut tertarik juga.

Saya lihat, kolaborasi ini telah terjadi, dan tereksekusi di buku ini dengan sangat indah.

Interpretasi. Seorang pembaca atau penikmat karya seni, baik puisi, sketsa ataupun lukisan, tentunya tidak mampu memahami 100% apa yang ada di benak penulis atau pelukisnya saat menciptakan karyanya. Paling banter hanya bisa menebak atau menginterpretasikan sesuai dengan signal-signal yang tertangkap dari karya itu, plus latar belakang dan pengalaman personal dari penikmat karya seni itu masing-masing. Demikian juga saya.

Saya menuliskan pendapat saya tentang karya-karya di buku ini, tentu berdasarkan apa yang saya tangkap saat membaca puisi dan menonton gambar-gambar buku ini, bercampur dengan latar belakang dan pengalaman hidup saya secara pribadi, yang kemudian membentuk tafsir alias interpretasi. Jadi belum tentu juga sesuai dengan apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis atau pelukisnya 😀

GAJAH MINA.

Sesuai dengan judulnya, cover buku ini bergambar mahluk mitology yang bernama Gajah Mina, yakni seekor Mina (Ikan) yang berkepala Gajah. Di dalam kepercayaan Hindu, Gajah Mina adalah tunggangan Sang Hyang Baruna sang penguasa lautan. Lukisan akrilik di atas kanvas ini sungguh menawan hati saya. Gajah Mina digambarkan dengan sangat bagus dan representative. Terlihat bagai raksasa berwarna krem keemasan diantara ikan-ikan lainnya di lautan biru. Sepintas lalu, lukisan ini terlihat seperti umumnya lukisan traditional Bali bergaya Kamasan, dengan penggunaan elemen-elemen klasik dan warna broken white yang dieksekusi pada wajah gajah, sirip dan ekornya. Tapi jika ditelisik lebih jauh, ada elemen-elemen baru yang tidak umum ada pada lukisan traditional Bali menyelusup di sini. Dan entah mengapa, ajaibnya elemen asing ini terasa membaur, dan berfusi di dalamnya tanpa ada pemberontakan yang berarti. Asyik-asyik saja. Saya mulai berpikir, mungkin di sinilah letak kepiawaian Made Gunawan dalam mengekspresikan gagasannya. Keren euy!

Selain sangat terkagum pada lukisannya, tentu saja saya sangat tertarik akan apa yang kira-kira diceritakan penulisnya tentang Gajah Mina yang menjadi judul dari buku ini. Namun rupanya puisi dan lukisan Gajah Mina ini baru muncul di halaman 82-83. Tak apalah.

Saat membaca puisi “Gajah Mina”, entah mengapa saya merasa seakan puisi ini mengundang kita untuk ikut dalam perjalanan pencarian rahasia kehidupan dan alam semesta yang tak terjangkau oleh orang biasa, melalui Gajah Mina tunggangan Dewa Baruna, Sang Penguasa Laut. Dan dalam konteks Hindu, Dewa adalah percikan sinar suci dari Brahman, Tuhan Yang Maha Tunggal. Menarik!. Ajakan untuk meneruskan pencarian manusia tentang Tuhan dan Alam Semesta hingga bertemu diri sendiri. Mencapai kesadaran diri yang tertinggi. Siwoham!.

LUKISAN DAN SKETSA.

Ada sebanyak 43 lukisan dan sketsa Made Gunawan yang ditampung buku ini. Didominasi oleh thema ikan tentunya, yang in-line dengan tajuk buku ini.

Yang nenarik dari lukisan-lukisan Made Gunawan ini adalah selalu menempatkan pemeran utamanya, baik itu ikan ataupun kayon sebagai sebuah rumah, daratan ataupun bumi yang berada diantara lautan ataupun benda lain di alam semesta.

Dalam lukisan Gajah Mina atau Raja Ikan ataupun misalnya Tree of Life, kita melihat bahwa Ikan ataupun Kayon itu sebagai sebuah dunia, tempat kita beraktifitas sehari-hari, duduk-duduk merenung, bermain ayunan, menari ataupun beemain barong. Itulah dunia sehari-hari kita. Dunia yang harmonis dengan kehidupan bahagia, tentram dan damai. Dan di luar itu adalah semesta yang maha luas yang tanpa batas, tapi terpaksa dibatasi oleh akhir dari kanvas itu sendiri.

Di luar thema ikan, thema Kayon juga kelihatannya nyaris ikut mendominasi dalam buku ini. Entah sebuah kebetulan, atau memang pelukisnya memiliki ketertarikan mendalam terhadap Kayon. Saya pikir ya. Seperti yang dituliskan dalam pengantarnya, beliau adalah putra seorang Dalang dari Apuan. Dan tentunya setiap orang di Bali tahu, jika Kayon memiliki peranan penting dalam sebuah pagelaran Wayang. Tak heran jika Made Gunawan mengambil Kayon dalam banyak lukisannya. Kayon adalah perwujudan Kalpataru, atau Dewa Daru, alias pohon kehidupan yang dalam kisah-kisah Dewata dalam Bhagawata Purana, digambarkan sebagai pohon yang memberikan kehidupan bagi manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Pohon kehidupan alias Tree of Life ini diyakini muncul dari ekstraksi Lautan Susu (Samudera Mantana) beserta dengan para apsara, Kamandhanu, Aerawata, Onceswara, berbagai jenis permata, serta pohon pohon ajaib lainnya. Sumber inspirasi yang sangat baik.

Jika kita telaah dari sudut gaya lukisannya, secara umum Made Gunawan mencampurkan unsur modernitas dan barat ke dalam basic lukisan traditional Bali. Sedangkan sketsa-sketsanya totally sangat berbeda dari sketsa traditional dimana ia cenderung menggunakan pendekatan kanak-kanak dalam tarikan garisnya.

Yang menarik bagi saya, ia juga tanpa segan menggunakan media apa saja yang tersedia, seperti amplop bekas, bekas mailer Super Market, toko unggas, label Starbucks dan sebagainya, tanpa harus conflicting dengannya. Ini membuatnya unik.

PUISI DAN PUISI.

Saya mencoba membayangkan bagaimana Dokter Sahadewa mencoba merenung dan berdialog setelah melihat lukisan dan sketsa-sketsa dari Made Gunawan dan menuangkan isi alam pikirnya itu ke dalam bentuk puisi.

Jadi puisi-puisi di sini adalah hasil tafsir Dokter Sahadewa terhadap lukisan dan Sketsa Made Gunawan. Dan sebagai pembaca, saya pun mencoba menafsirkan kembali tafsir -tafsir itu. Jadi sebuah tafsir on tafsir, ha ha 😀.

Tentang sketsa-sketsa serial ikan itu, Dokter Sahadewa menulis tentang bagaimana Made Gunawan telah memberi jiwa pada ikan-ikan itu. Membuatnya menjadi hidup dan berperan besar dalam kehidupan ini.

Ada pula ia menulis tentang Sang Raja Ikan, yang bertugas membawa bahtera ke ujung samudera, agar anak-anak terus bahagia. Sayangnya, kita para orang dewasa, sudah lama sekali tak bertemu dengan Raja Ikan ini, karena ia bermukim sangat jauh di samudera rahasia bersama anak-anak. Terus terang, saya merenung agak lama untuk memahami content puisi ini. Apakah itu, sesuatu yang membahagiakan anak-anak dan tetap bersama anak-anak, tetapi sudah menghilang dari kehidupan orang dewasa? Apakah itu maksudnya “Permainan?” Karena waktu kecil kita sering bermain, tapi setelah dewasa kita sangat jarang atau bahkan mungkin tak pernah bermain lagi?. Ataukah yang dimaksud kepolosan kanak-kanak? Keluguan?. Entahlah

Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah puisi tentang “Sop Kepala Ikan”. Sebuah puisi ironis, yang membuat saya merasa ingin tertawa sekaligus haru dan ingin menangis. Terutama pada bagian, “Maka seluruh ikan pagi ini/ berkerumun berdoa/ agar cukup/ semangkuk sop kepala ikan/ yang panas berasap/bagi siapa saja/ yang lapar//. Ooh sungguh puisi yang mengaduk-aduk peri ke-ikanan, tentang ikan yang tahu takdirnya adalah untuk memuaskan hasrat manusia yang tak pernah habis.

Di luar puisi-puisi tentang Ikan, mengikuti thema lukisan yang ada, maka Dokter Sahadewa pun berbicara tentang pohon-pohon. Tentang pohon tua yang hitam, memanggil rohnya untuk pulang, namun yang datang justru mesin-mesin penggergaji. Habislah kedamaian. Juga ada tulisan tentang pohon kehidupan, tentang sang pemburu yang menggigil melihat bayang wajahnya sendiri di air kolam, walau sesungguhnya ia tak mendengar auman seringai taring sang macan.

Di luar itu ada juga puisi khusus Ciwaratri terinspirasi dari kisah Lubdaka yang diskets oleh Made Gunawan.

Tentunya masih ada banyak puisi-puisi yang lain yang menarik untuk disimak. Ada 27 puisi totalnya. Saya rasa pembaca yang lainpun akan sangat menyukai puisi-puisi ini.

Setelah melihat dan membaca isi dari buku ini, komentar saya cuma satu yakni Buku ini sungguh sangat menarik untuk dibaca dan disimak. Saya pikir pelukis, penulis dan penerbit sudah melakukan tugas yang luar biasa untuk menggabungkan unsur seni sastra dan seni lukis dengan baik dan proporsional, sehingga tercipta sebuah hidangan fusion yang nikmat bagi audience.

Saya ucapkan selamat kepada Dokter Dewa Putu Sahadewa, Made Gunawan dan Mas Hartanto atas penerbitan buku ini. Salam kreatif dan semoga sukses selalu.

MEMILIH DALAM GELAP.

Standard

Hari Pemilihan Kepala Daerah.

Cukup sering kita menemukan berita miring yang menyedihkan tentang Kepala Daerah, entah Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota dan sebagainya, entah itu tertangkap KPK karena kasus inilah, itulah. Terus ramai ramai menghujat dan membully. Ya, sudah pasti itu kesalahan sang pelaku yang memang terbukti melakukan hal yang melanggar hukum.

Tapi sebenarnya kalau dipikir, sekian % ada juga sih kesalahan kita sebagai masyarakat. Siapa juga ya yang dulu memilihnya?. Walaupun bisa jadi sebelumnya orang itu tidak punya reputasi buruk, namun tidak menutup kemungkinan, barangkali orang yang kita pilih itu memang dari sono sudah ada bibit bibit nakalnya. Tapi kita pilih juga. Terus saat ia terbukti melakukan sesuatu yang akhirnya diendus oleh KPK kita menggerutu sendiri,”Sialan tuh orang !”.

Nah…disinilah letak permasalahannya….

Saya sudah memenuhi kewajiban saya untuk memilih Kepala Daerah di tempat tinggal saya hari ini. Dalam pikiran saya, saya ingin memilih seorang Kepala Daerah yang memiliki Integritas yang tinggi, memiliki Leadership yang kuat, Managerial Skill yang juga mumpuni yang akan membawa daerah tempat tinggal saya mengalami kemajuan yang berarti baik dari sisi pembangunan mental dan fisik.

Tapi sejujurnya saya tidak mengenal satupun diantara kandidat itu, bagaimana kiprah dan performance-nya di posisinya sekarang dan bagaimana potensi kejujuran dan kesungguhannya dalam bekerja dan memimpin daerah. Ada 6 orang (3pasang pemimpin dan wakil) di kartu yang harus saya coblos.

Saya termenung sejenak. Ibu Hajjah ini, itu siapa? Bapak Haji anu itu siapa?? Bapak Drs ono itu siapa lagi???? Bingung!!!! Tak kenal, tak sayang dan memang nggak tahu.
Yang mana diantaranya yang memang terbukti punya reputasi bagus, terkenal kecerdasannya sejak jaman sekolah hingga kini, selalu menjadi bintang dan pemenang karena ide ide canggihnya dalam memecahkan masalah dan menggagas inovasi baru ?. Nggak kedengeran.

Atau siapa yang diantara 6 orang ini terkenal track recordnya memiliki kemampuan memimpin team yang bagus, sehingga setiap team yg dipimpinnya selalu kompak mampu mendeliver apa yang ditargetkan untuk mereka? Nggak kedengeran juga.

Atau ada nggak diantara 6 orang ini yang memang terkenal bersih, sederhana, humble dan fokus dan serius dengan pekerjaannya ketimbang yang flamboyan, nggak jelas juntrungannya, sibuk dengan pencitraan diri?. Nggak tahu juga.

Oke deh…atau setidaknya ada nggak diantara 6 orang ini yang terkenal dengan pandangan besarnya dalam bernegara di atas kepentingan daerah ataupun wilayahnya? Mampu mngedepankan kepentingan bangsanya ketimbang golongannya sendiri?Aah…nggak tahu juga saya.

Saya rasa semuanya tidak cukup melakukan sosialisasi diri pada masyarakat setempat. Saya tidak tahu siapa calom pemimpin saya. Serasa mencoblos dalam gelap.

Dan saya pikir orang yang seperti saya cukup banyak. Inilah masa mengambang yang sangat rentan terhadap penyuapan dan penyogokan. Dan tentunya semua kembali ke hati nurani masing- masing. Semoga Pilkada kali ini bersih.

Akan halnya saya, dalam kebutaan informasi, akhirnya saya hanya mengandalkan rekomendasi dari teman dan tetangga yang saya anggap memiliki reputasi bersih dan objective dalam kesehariannya. Semoga pilihan saya kali ini benar.

Selamat Mencoblos teman teman.
Mari kita ciptakan iklim pilkada yang sehat dan bersih.

Jiir Jra….. Jiir Jraa….

Standard

Bagi yang tahu istilah ini tentu tertawa. Tapi bagi yang tidak tahu arti “Jiir Jra” baiklah saya jelaskan sedikit, biar bisa ikut tertawa bersama.

“Jiir Jra” adalah kata kata ejekan atau sebuah bentuk bullying yang dilontarkan oleh teman teman di kota Bangli kepada anak-anak dari desa Songan, atau yang orangtuanya berasal dari desa Songan – Kintamani , macam saya ini.

Kata “Jiir Jra ” sebenarnya tidak ada. Tidak exist. Karena kata “Jiir Jra” adalah lafal salah yang diucapkan teman teman saat meniru para pedagang Ikan Mujair di Pasar Bangli yang berasal dari desa Songan dan sekitar tepi Danau Batur, saat menawarkan ikan dagangannya kepada khalayak ramai, yang sebenarnya berbunyi “Jair Jero, Jsir Jero….” yang artinya “Ikan Mujairnya Pak /Bu”. 🐟🐟.

Tapi karena mereka mungkin sulit meniru pengucapan “Jair Jero” itu (Orang Songan melogatkan huruf i dalam kata “Jair” dengan kemurnian i yang tinggi, benar benar i, tanpa campuran huruf e spt huruf i dalam kata mImpI. Sedangkan dalam logat Bali kebanyakan, huruf i dalam kata Jair diucapkan antara huruf i dan e huruf O seperti pengucapan huruf i dalam kata aIr. Demikian juga kata Jero. Disini dalam logat Songan diucapkan spt O dalam kata tOmat, sedangkan dalam logat bahasa Bali biasa huruf O di sini diucapkan seperti huruf O dalam kata dOremi). Perbedaan logat itulah yang dijadikan bahan tertawaan dan ditiru salah, maka jadilah yang keluar Jiir Jra … Jiir Jraaa..😀😀😀. Salah. Padahal orang Songan sendiri tidak ada yang mengatakan Jiir Jra.

(Sebagai catatan, orang Songan adalah orang-orang Bali asli pegunungan yang memiliki bahasa yg berbeda dengan Bahasa Bali pada umumnya. Saya pikir sekitar 40 – 45% kosa katanya berbeda dengan Bahasa Bali biasa yg berasal dari Jawa. Jadi jika 2 orang Songan bercakap cakap dalam Bahasa kampungnya, tanpa penterjemah, besar kemungkinan orang Bali lain tidak menangkap maksudnya).

Dan kata Jiir Jra selalu dipakai untuk membully saya, saudara dan sepupu sepupu saya, karena kami orang orang dari desa Songan, dan memang dari Songan banyak pedagang Ikan Mujair. Jadi sepertinya Orang Songan identik dengan Ikan Mujair.Belakangan saya tahu bahwa ternyata yang sering dibully dengan kata kata Jiir Jra bukan hanya anak anak dari desa Songan saja. Tetapi juga dari semua desa desa yang letaknya di tepian Danau Batur.

Sebagai anak kecil, saat itu saya merasa sangat sedih setiap kali dibully dengan kata “JiirJra”. Karena yang melontarkan itu bukan hanya anak anak kecil saja, tetapi juga termasuk orang dewasa.
Saya mengadu kepada ibu saya. Tapi Ibu saya hanya tertawa. Demikian juga Bapak saya, sepertinya tidak mengindahkan ejekan Jiir Jra itu. Lama lama akhirnya saya sangat kesal, marah dan malu juga dihubung-hubungkan dengan Ikan Mujair dan dikata-katain Jiir Jra….Jiir Jra…. 😀😀😀

Tapi kemudian ada juga yang membuat saya bangga dengan ikan Mujair ini. Karena saya perhatikan, ada banyak saudara, sepupu sepupu dan keluarga saya dan orang orang Songan yang memegang ranking 1, 2. 3 di sekolah sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan kuliah. Mereka disebut sebut memiliki Otak Mujair.

Ada banyak yang merupakan lulusan terbaik fakultasnya. Mereka juga disebut Otak Mujair.

Dan saya lihat ada banyak juga orang orang dari desa Songan yg meraih gelar Professor ataupun menduduki kursi kursi penting di kantor pemerintahan ataupun di perusahaan perusahaan swasta. Mereka disebut memiliki Otak Mujair.

Saya jadi mulai menyukai kata “Otak Mujair”. Dan senang sekali jika ulangan dapat skor 100, guru saya bilang “Bagus sekali. Benar benar Otak Mujair”. Saya senang walaupun teman teman saya ada yang teriak dari belakang, Jiir Jra. ..Jiir Jra. 😀😀😀

Nah….kan berarti sebenarnya Jair itu sesuatu yang bagus ya. Dan saya sekarang tidak keberatan lagi diteriakin Jiir Jra …Jiir Jra.

Nah itulah cerita saya tentang Ikan Mujair.
Ikan Mujair alias Mozambique tilapia (oreochromis mossambicus), adalah ikan air tawar yang banyak terdapat di danau Batur, Kintamani. Ikan ini bagus untuk dikonsumsi karena setiap 100 gramnya mengandung 26 gram protein, selain Vit B3, Niasin, Selenium dan Kalium. Sangat bagus untuk pertumbuhan otak bagi kanak- kanak dan untuk memaintain kesehatan otak bagi orang dewasa dan lanjut usia.
Jiir Jra…. Jiir Jra…😀😀😀

(Cerita ini saya tulis, karena hari ini saya ingin memasak Ikan Mujair Nyatnyat, tapi stock Ikan Mujairnya di Tukang Sayur kosong, yang ada hanya Ikan Gurami. Saya jadi teringat akan masa kecil saya dan ikan Mujair).🐟🐟🐟

Denpasar versus Badung.

Standard

Semasa kanak-kanak, saya tinggal di Bangli, sebuah kota kecil di tengah pulau Bali. Jaman saya itu, kebanyakan dari kami berbahasa Bali sebagai bahasa utama, dan jika bisa berbahasa Indonesia, rasanya sudah keren banget 👌👌👌. Karena banyak banget orang (bahkan orang dewasa) di jaman itu belum bisa berbahasa Indonesia.

Jadi saya sering menggunakan dua bahasa itu dalam percakapan sehari- hari. Berbahasa Bali, lalu pindah berbahasa Indonesia, tergantung situasi dan lawan bicara. Setiap kata dalam Bahasa Bali pasti ada terjemahan Bahasa Indonesianya. Tiang =Saya, Sampun = Sudah, Durung =Belum , Nggih = Ya, dan seterusnya.

Nah yang konyol adalah, waktu kecil itu saya menyangka jika Denpasar adalah Bahasa Indonesia daripada Badung.
“Tiang luwas ke Badung”, maka terjemahannya adalah “Saya pergi ke Denpasar”.

Saya tidak pernah mengatakan “Tiang luwas ke Denpasar” ataupun “Saya pergi ke Badung”. Karena padanan bahasanya tidak klop menurut saya 😀.

Walaupun pergi ke tempat yang sama, pokoknya kalau pake Bahasa Bali sebut kata Badung, tapi jika pake Bhs Indonesia, ganti jadi Denpasar 😀😀😀.

Sungguh saya tidak tahu jika waktu itu Denpasar adalah Ibukota Kabupaten Badung. Bukan Bahasa Indonesia dari Badung. Saya baru tahu setelah belajar Geography di SD. Jadi saya salah besar selama itu.

Dan bahkan sekarang Denpasar adalah sebuah Kotamadya tersendiri. Sedangkan Badung adalah sebuah Kabupaten tersendiri juga, yang sejak tahun 2009, ibu kotanya menjadi Mangupura.

Adakah teman teman yang punya pengalaman serupa dengan saya? Pemahaman masa kecil yang ternyata salah 😀😀😀

Selamat Jalan, Penyair Agustina Thamrin.

Standard
Penyair Agustina Thamrin.

Hari ini saya mendapatkan berita duka kepergian sahabat saya, Penyair Agustina Thamrin ke alam baka. Walaupun saya tahu belakangan ini ia memang dirawat karena sakit, namun kepergiannya tetap saja tak mampu membendung tetes air mata saya.

Saya mengenalnya tanpa sengaja, lewat timeline Facebook seorang sahabat, Penulis Ersa Sasmitha. Kami saling berkomentar dan saya menyukai tulisan tulisannya. Kamipun berteman. Saling mendukung dan memberi semangat.

Dari sana saya sedikit mengetahui dirinya, bahwa ia adalah seorang penyair Kalimantan Selatan yang memiliki latar belakang sebagai seorang instruktur vokal/ paduan suara. Karya karyanya terbit dalam beberapa buku tunggal dan antologi bersama karya penyair penyair lain.

Dan berikutnya juga saya tahu bahwa ia sudah punya cucu dari anak pertamanya. Sungguh seorang Oma yang masih tetap semangat dan enerjik.

Suatu kali di tahun 2017, ia mengundang saya untuk menghadiri pertemuan penyair di Loksado, Kalimantan Selatan yang melahirkan Antologi Puisi Hutan Tropis.

Lah…tapi saya ini bukan seorang penyair. Saya hanya seorang penyuka puisi. “Tapi kan dirimu ini penulis” katanya ditelpon. “Biar ada jua yang menulis tentang Meratus dan Rimba Kalimantan” lanjutnya lagi.”Pasti akan ada banyak sekali bahan tulisan menarik di Loksado” Saya jadi mikir mikir.

Saya tertarik dengan semangat wanita ini. Bersama rekannya Budi, ia ingin sekali mewujudkan forum Sastra Nasional terselenggara di banua. Dan ia benar benar serius mempersiapkannya.

Akhirnya pada bulan Mei 2017, saya meminta ijin cuti dari pekerjaan dan menemui Agustina Thamrin di Banjar. Ia menjemput saya di Bandara. Itu pertama kalinya kami bertemu. Saya mengenalinya dari kejauhan. Ia melambaikan tangsn. Sosoknya yang tinggi langsing, sangat mudah dikenali. Kamipun mengobrol dan ia mengajak kami sarapan Soto Banjar sebelum melanjutkan perjalanan ke Loksado.

Selama di Loksado, ia menemani hari hari kami dengan event event Sastra dan Seni yang sangat menarik. Juga mengajak kami berkunjung langsung ke kampung suku Dayak Meratus, berbincang dengan para tetua adat Meratus. Ia seorang yang sangat ramah dan bersahabat.

Sungguh pengalaman mengikuti ajang sastra yang sangat berkesan yang dituan rumahi oleh para Penyair Kalimantan Selatan termasuk di dalamnya Agustina Thamrin.

Saya tahu itu hanyalah salah satu kegiatan Sastra yang pernah ia jalankan. Masih banyak lagi kegiatan- kegiatan Sastra lainnya yang ia jalani dan ikuti.

Tapi dari semua hal yang saya tahu tentang dirinya, saya sangat terkesan dengan semangat hidup Agustina Thamrin. Walaupun jika dari obrolan serta curhatannya pada saya, banyak masalah yang ia hadapi dan jalani, tetapi ia selalu berusaha kuat dan tegar. Ia tidak mau membiarkan dirinya terjebak dalam kesulitan. Ia tetap berkarya. Menulis dan terus menulis, bercanda dengan dunia. Dan bahkan saat terakhirnya iapun sempat bercanda pada dirinya “Seperti ayam tulang lunak. Diriku tak bertenaga” untuk menceritakan betapa lemahnya diri. Sungguh seorang wanita yang perkasa.

Pernah saya berpikir akan mengambil cuti lagi ingin kembali ke Banjar bertemu Agustina Thamrin. Tetapi dengan kepergiannya ini, tentu keinginan saya itu jadi ikut pupus.

Selamat jalan sahabatku, Agustina Thamrin. Puisi- pusimu akan terus bergema dari hutan hutan Kalimantan.

GUNG GARANTUNG.

Titir tujuh kali malam dibalut dupa.

Tarian menghentak tanah.

Gung aku menari dalam riang riang bumbung malam.

Gung aku memanah langit.

Petir menggodam akar menjadi sungsang tumbang.

Hujan turun menyeringai pada hutan lembab.

Air hitam beraroma payau merendam berpulau pulau.

Gung menyipat hiyang nining batara Maratus.

Penerang hati berselendang bunga bunga dupa dupa.

Nyanyian balai balai diceruk hadat Tambun Bungai.

Gung titir tujuh malam suara mengepung kota kota yang bersimbah darah.

Aku merintih lelah dengan sebatang ranting terakhir.

Kupungut dari rimbunan tulang belulang kematian.

Gung biarkan aku menari Tandik Ngayau menebas perikeadilan yang pupus dan yang lampus.

Banjarbaru, 2017. Agustina Thamrin.

Kwalitas Karbitan.

Standard

Saya membeli 2 sisir pisang Raja Sereh di pasar. Tampak sudah kuning. Harganya 15 ribu per sisir. Lebih murah dari biasanya. Karena situasi sedang wabah virus Corona, sayapun cepat cepat membayar tanpa menawar lagi dan langsung pergi.

Sampai di rumah, saya makan pisang itu. Ternyata isi pisang sangat kecil dan kurus. Rasanya agak sepet. Ooh.. sekarang saya sadar kemungkinan ini adalah pisang matang karbitan. Pisang yang masih muda, kecil dan hijau, sudah dipetik lalu diperam dengan menggunakan karbit (Calcium Carbida – CaC2) agar cepat matang.

Buah yang dikarbit, kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan optimal. Begitu dipotong, ukurannya tidak bertambah lagi. Ia tetap kecil. Rasanya masih bisa sedikit bertambah manis, namun sisa sisa rasa sepat terkadang belum hilang semua.

Beda dengan buah yang asli mateng bukan karbitan. Pisang ini akan tumbuh denganukuran dan rasa manis yang optimal. Namun sayang, matangnya biasanya tidak bersamaan. Tapi bertahap.

Sebaiknya jika membeli pisang, perhatikan keseluruhan pisang-pisang yang dipajang. Jika pisang dari satu tandan memiliki warna buah yang beragam, bagian atas kuning dan bagian bawah masih ijo, kemungkinan besar pisang itu matang alami.

Tapi jika keseluruhan buah di tandan itu kuning semua, ada dua kemungkinan. 1/.Buah memang matang alami, jika ukuran buahnya normal, seukuran dengan jenisnya. Misalnya jika pisang Raja Sereh, normal ukurannya memang besar. Tapi jika itu pisang Mas, ukurannya kecil.

2/. Bisa juga karena karbitan. Jika semua kuning tapi kecil kecil dibanding jenisnya, sudah tentu itu matang karbitan. Rasa manisnya juga tidak optimal.

Demikianlah adanya pisang kwalitas karbitan. Tampangnya matang tapi ukuran dan rasanya tidak optimal.

Dan kwalitas karbitan ini sesungguhnya tidak terjadi hanya pada pisang, tetapi juga pada jenis buah- buahan lainnya, termasuk kwalitas manusia. Tentu ada juga manusia yang memiliki kwalitas matang alami dan ada juga yang memiliki kwalitas karbitan. Jabatan tinggi, tetapi kwalitas pemikiran kurang strategis dan mengeksekusi pun kurang proffesional.

Mari berenung diri dan seemoga kita tidak termasuk dalam sumber daya manusia yang berkwalitas karbitan.