Category Archives: Traditional Balinese Song

Contains Tembang Rare, Sekar Alit, Sekar Madya and Sekar Agung – but focusing more on Tembang Rare.Tembang Rare is rhymes or songs commonly sung by Balinese Kids in the old days while playing. It created a lot of fun, especially when it played in the villages under the moonlight. Ussually the authors are unknown and lyrics and melodies could be slightly different from one village to others. The lyrics are sometime quite funny and some have rhymes, while the melodies are simple. Some of them are still singing in the nowdays.

Kuta: Kelelawar Yang Kesiangan.

Standard

kelelawar 6Kelelawar! Siapa yang tak kenal binatang malam yang menyerupai tikus dan bersayap mirip burung ini? Diperhatikan atau tidak, binatang ini banyak terbang berkeliaran di sekitar kita pada malam hari, terutama saat musim buah. Tentunya sebagian ada orang yang menyukai kelelawar dan ada pula yang tidak menyukainya. Bahkan ada juga yang mengait-kaitkannya dengan vampire, hanya karena diantara jenis kelelawar ini ada juga yang suka menghisap darah ternak.

Saya sendiri bukanlah orang yang tidak menyukai kelelawar. Walaupun memang, ketertarikan saya terhadap binatang ini tidak sebesar ketertarikan saya terhadap terhadap burung, kupu-kupu ataupun ikan. Saya cukup sering melihat kelelawar di sekitar halaman rumah saya. Hanya saja, sangat jarang saya melihatnya hinggap atau terbang sangat dekat. Terutama karena aktifnya pada malam, membuat saya juga menjadi kurang berminat memperhatikannya. Karena gelap. Susah melihatnya.

Nah, pada pagi hari menjelang matahari terbit ketika saya  sedang ada di Kuta, sangat beruntung saya melihat 2 ekor kelelawar yang sibuk berkejar-kejaran sangat dekat dengan tempat saya berdiri.  Pemandangan itu sangat memukau dan menggelitik keingintahuan saya akan binatang nokturnal ini.

Kelelawar yang pertama kelihatannya  ingin beristirahat. Ia menggantungkan kakinya di atap bangunan. Namun belum sempat ia memejamkan matanya, datanglah kelelawar kedua mengganggunya dan memaksanya terbang lagi mencari tempat yang lain. Ia terbang sambil bercericit dikejar temannya, lalu kembali lagi ke tempatnya bergantung semula di dekat saya. Kelelawar yang ke dua mengejar lagi.  Dua ekor kelelawar itu terus bergerak. Terbang dan bercericit,lalu bergelantung. Terbang lagi. Demikian seterusnya hingga hari mulai terang.

Terus terang, kelelawar adalah salah satu mamalia yang kurang saya kenal jenis dan tingkah lakunya.  Sehingga saya tidak langsung bisa menyebutkan jenisnya. Tidak banyak literatur ataupun buku yang bisa saya baca tentang kelelawar ini. namun demikian, saya tetap berusaha mencari tahu tentang jenis kelelawar yang saya lihat ini.

Yang jelas kelelawar yang saya lihat itu adalah dari jenis yang berukuran sedang. Barangkali sekitar 13-15 cm. Bukan dari jenis Kalong.  tapi dari jenis yang ukurannya lebih kecil. Di Bali disebut dengan Lelawah. Barangkali dalam bahasa daerah lainnya disebut dengan Codot. Warna sayapnya coklat gelap. Bulu di tubuhnya coklat muda keemasan. Matanya coklat dan beukuran besar dibandingkan dengan tubuhnya. Hidungnya biasa saja, bukan berbentuk tube, bukan yang pesek dan aneh aneh. Wajahnya mirip anjing. Telinganya tegak ,bagian dalamnya bergaris-garis rapi.

Yang saya herankan adalah bagaimana kelelawar ini bisa beristirahat di sini. Apakah karena kesiangan? Sehingga tidak sempat kembali pulang ke rumahnya di hutan, di pepohonan? Ataukah memang selalu bergelantung di bawah atap bangunan hotel ini? Apakah mereka tidak terganggu oleh langkah kaki karyawan hotel maupun para turis yang berlalu lalang di bawahnya?

Sayang waktu saya cuma sedikit, sehingga tidak punya kesempatan untuk mengamatinya lebih jauh lagi.

Saya hanya sempat mengamatinya sebentar. Melihat bagaimana mereka terbang, bercericit dan kemudian bergantung di langit-langit atap. Sesekali mereka bertengkar dan menyerang.  Saya sendiri tidak terlalu yakin, apakah mereka bertengkar? Ataukah justru sedang berpasangan?  Saya tidak terlalu jelas.

Saya yakin di Indonesia ini mestinya ada banyak jenis kelelawar. Sayang sekali, yang saya ketahui hanya 4 jenis, hanya berdasarkan ukurannya saja *dalam bahasa Bali pula*.

Kelelawar jenis yang pertama yang saya ketahui disebut dengan Bukal. Bukal adalah jenis kelelawar besar yang suka memakan buah. Mungkin dalam bahasa Indonesianya disebut dengan Kalong.  Bukal berwarna coklat gelap. Sangat sering datang saat musim jambu berbuah di halaman rumah saya. Kepakan sayapnya yang besar terdengar cukup keras hingga ke dalam rumah. Jenis kelelawar ini lebih jarang muncul dibanding dengan yang ukurannya lebih kecil.

Kelelawar jeniskedua disebut dengan Lelawah, kalau di Bali. Setahu saya yang disebut dengan Lelawah ini, adalah yang ukuranya sedang, warnanya coklat gelap, makanannya buah atau serangga. Paling banyak dan umum ditemukan di sekitar perumahan. Ukurannya lebih kecil dari Bukal. Saya pikirdalam bahasa Indonesia, Lelawah mungkin disebut dengan Kelelawar saja.Atau barangkali ada yang menyebutnya dengan nama Codot. Tapi jika yang memakan buah itu disebut dengan Codot, lalu jenis yang memakan serangga dan tinggal di gua-gua itu disebut dengan apa ya dalam bahasa Indonesianya? Terus terang saya sendiri bingung. Karena di Bali, baik yang makan buah maupun yang makan serangga setahu saya disebutnya sama saja,yakni : Lelawah. Atau barangkali pengetahuan saya tentang Kelelawar ini memang sangat minim.

Lalu berikutnya ada jenis yang bernama Jempiit – ini adalah jenis kelelawar kecil. Biasanya berwarna lebih gelap. Beberapa kali saya pernah melihatnya sedang beristirahat di gulungan daun pisang yang masih muda. Mungkin karena bentuk gulungan itu mirip seperti gua yang panjang, sehingga Jempiit suka bersembunyi di sana pada siang hari. Saya pikir Jempiit dalam bahasa Indonesianya disebut dengan Kampret. Di sebuah sumber di internet,  juga ada yang menyebut kelawar yang suka di pohon pisang ini dengan nama Lasiwen.

Nah, ada satu jenis lagi yang disebut dengan Tenge-Tenge.  Pemahaman saya, Tenge-tenge  adalah jenis kelelawar yang super kecil dan lebih kecil lagi dari Jempiit. Sebenarnya saya tak terlalu jelas mana kelelawar yang disebut dengan Tenge-tenge ini. Karena beberapa kali saya pernah melihat kelelawar yang sangat kecil yang jatuh di halaman rumah saat saya menyapu, saya sendiri ragu apakah itu benar-benar Tenge-Tenge atau anak kelelawar?.

Di Bali sendiri ada sebuah rima/rhyme (satu frase lagu dolanan kanak-kanak)  yang menyebut jenis-jenis kelelawar, dari ukuran yang terbesar hingga yang terkecil:

Bukal, Lelawah

Jempiit, Tenge-Tenge.

Uling pidan Kakne pawah?

Uling cenik suba kene.”

terjemahannya

Kalong, Kelelawar

Kampret, Tenge-tenge.

Sejak kapan Kakek ompong?

Sejak kecil memang sudah ompong begini“.

Mendengar frase lagu itu, saya berasumsi, bahwa Bukal lebih besar dari Lelawah, lalu Lelawah lebih besar dari Jempiit, dan Jempiit lebih besar dari Tenge-Tenge. Thanks to the song!.

 

By the way, lepas dari urusan perkelelawaran, frase sederhana dari lagu jenaka itu sebenarnya bermakna sangat dalam. Membuat kita tersenyum dan sekaligus juga menyadari, bahwa tidak perlu terlalu khawatir menjadi ompong  saat kita tua, karena toh sebenarnya kita sudah pernah mengalaminya saat kita masih kecil/baru lahir.  Inti ceritanya adalah, jangan takut menjadi tua. Hadapilah dengan jenaka. Menjadi tua hanyalah sebuah cyclus kehidupan.

Saya mendongak melihat ke arah Kelelawar kesiangan yang bergelantungan di atap itu sekali lagi. Masih bertengkar dengan temannya. Entah bagaimana ia membawa pikiran saya  ke urusan menghadapi “masa tua” kelak. Seolah membantu saya untuk  mere-set pemahaman dan mengevaluasi kembali image saya tentang apa yang dimaksudkan dengan “tua”.  Saya tersenyum di dalam hati, atas pemahaman baru saya tentang arti kata “tua’ itu.

Grow old gracefully…

 

Kuta, pagi hari yang indah.

 

 

 

Tembang Bali = Iring Iring Silak Siluk (Sekar Madya)= Lyrics

Standard

Tembang  Bali =  Iring Iring Silak Siluk (Sekar Madya)= Lyrics

Iring –iring silak siluk.

Awan ikang menggah.

Miyata di dukuh rame.

Ingambal-ambalang watu.

Cara carannya abra murub.

Kang katingalan asri.

Tahen kencana ngrembun.

Ronnya nuntun aneng lemah.

Parijata angreronce.

Wunga tambang, wunga wari.

Ajajar lan andong ijo.

Sulasih miyana ijo.

Maduluran bayem luhur.

Melok- melok ana bang, ana putih.

Angraras tinon.

Tembang ini saya pelajari saat saya kecil dari seorang kompyang (nenek buyut) saya yang bernama Jero Nengah Pande,  yang di kemudian hari ayah saya membantu  mengajarkan saya untuk menyempurnakan cara menembangkannya agar lebih halus. Sebenarnya saya tidak tahu persis, apakah benar tembang ini masuk ke dalam kategori Sekar Madya. Karena yang jelas, ini bukan Sekar Rare, bukan Sekar Alit dan bukan pula Sekar Agung. Saya hanya mengira-ngira saja  dengan menggunakan logika dari kontennya. Barangkali jika ada rekan-rekan yang lebih tahu, bisa membantu memperbaiki pengetahuan saya tentang tembang ini saya akan sangat berterimakasih.

Karena tembang ini menggunakan Bahasa Bali Kuno, saya hanya menangkap sebagian saja dari arti lyrics lagu ini.  Beberapa kata-katanya juga sebenarnya saya tidak mengerti. Namun kurang lebih, tembang ini menceritakan tentang sebuah tempat yang sangat indah, terang dan ramai namun terlihat sangat asri. Pohon pohon emas tumbuh subur, daunnya menjuntai hingga ke tanah, buahnya banyak berjuntai juntai, bunganya pun sungguh indah. Tanaman hiasnya pun sangat banyak, ada pohon andong hijau yang indah, pohon sulasih, pohon miyana yang daunnya berwarna warni , kembang bayam raja serta bunga melok melok baik yang merah maupun putih semuanya ada, sehingga keseluruhan tempat bak taman bunga itu sangat memukau mata yang memandangnya.

Sedikit cerita mengenai  awal mulanya saya mulai menyukai tembang Bali.

Saat itu ayah saya mengajak saya  dan kakak serta adik-adik saya untuk membantu memanen kopi di ladang di sebuah desa kecil bernama Alis Bintang, di wilayah Kecamatan Susut, Bangli. Ladang itu terletak di dekat jurang. Saat itulah saya mendengarkan sebuah tembang yang dinyanyikan dengan sangat indah sekali dari seberang jurang. Suara penembang itu benar-benar indah serasa seperti  suara peri yang diterbangkan angin. Para pemetik kopi mengatakan, itu suara seorang pencari kayu bakar yang juga sekaligus berprofesi sebagai pregina  arja (seniman tari/teater traditional Bali).  Sungguh ia sangat menguasai bagaimana mengatur nafas dengan baik, memenggal kata demi kata dan membuat cengkok lagu dengan sempurna. Setelah dewasa dan saya mendengarkan suara indah luar biasa dari penyanyi  Sarah Brightman , saya jadi sering teringat akan suara pregina itu. Kedua seniman itu mendapat tempat yang sama baiknya di hati saya. Namun  saya  mulai berpikir – berapa banyak lagikah generasi muda di Bali saat ini yang masih mencintai tembang Bali? Kalau suatu saat  saya duduk duduk lagi di tepi jurang,  apakah saya masih akan mendengar suara tembang dari seberang jurang? Semoga pikiran saya yang  terlalu berlebihan.

Teratai Putih Kecil..

Standard

Ring purwa, tunjunge putih, Hyang Iswara dewatanya

Ring papusuhan pernahira, alinggih sira kalihan

Pantesta kembange petak, ring tembe lamun dumadi

Suka sugih tur rahayu, dana punya stiti bhakti”

Itu sepenggal dari salah satu kidung Aji Kembang, yang umum dinyanyikan saat upacara keagamaan di Bali. Lyric kidung ini jelas sekali menunjukkan betapa pentingnya kedudukan bunga teratai/bunga tunjung (dalam hal hal ini Teratai Putih) dalam kehidupan masyarakat & aktifitas keagamaan di Bali.

Teratai Putih  kecil atau Tunjung Putih  (Nimphaea Alba) merupakan bentuk mini dari teratai putih besar yang umum dijumpai di kolam-kolam umum. karena ukurannya yang mini, maka teratai putih kecil ini sangat sesuai jika ditanam dalam pot batu/pot tanah kecil yang diperuntukkan bagi tanaman air.

Pot dapat ditempatkan di halan depan rumah, atau di sebelah pintu masuk. Di Bali banyak yang menempatkannya di dekat pintu merajan atau sanggah yang membuat keseluruhan tampilan pekarangan jadi tampak lebih artistik.

Merawat Teratai Putih Kecil, sama dengan merawat teratai lainnya, yakni  cukup dengan pemupukan secara berkala & rajin menyiangi daunnya yang sudah tua kekuningan, maka teratai akan selalu tampak segar & rajin berbunga. Media yang terbaik untuk digunakan adalah lumpur kolam/lumpur sawah dan air. Bila tak mempunyai lumpur kolam/sawah, tanah biasa juga bisa digunakan.

Balinese Wind Chime… Mendengarkan Suara Angin.

Standard

Salah satu cara untuk bersantai di akhir minggu atau saat musim liburan begini, adalah dengan duduk –duduk di teras rumah sambil membaca buku, minum teh ataupun hanya sekedar bermalas-malasan sambil mendengarkan music kesayangan kita.  Bagi saya yang menyukai alam bebas, mendengarkan suara kliningan angin membuat saya merasa sedang dibawa ke alam bebas. Mengingatkan akan suara pada pondok-pondok bambu beratap ilalang yang kadang dibangun orang di pojok sawah sebagai tempat istirahat para petani atau untuk mengusir burung-burung pipit.

Kliningan angin atau wind chime dibuat orang untuk menikmati musik sederhana di sawah atau tegalan dengan cara memperkuat suara angin. Di Bali, kliningan angin umumnya  dibuat dari buluh bambu dan batok kelapa dengan sebuah pemukul di tengahnya. Nada diciptakan dengan cara mengatur panjang pendeknya bambu. Kliningan angin umumnya digantungkan di pojok atap pondok/bale atau di dahan pohon dimana dirasa di tempat itu banyak tiupan angin yang lewat. Kliningan akan berbunyi meninggalkan nada-nada yang alami tergantung kencang lemahnya tiupan angin dan arah angin yang bertiup.  Rasanya damai dan tenteram mendengarkan suaranya.

Kliningan angin juga bisa kita pasang di halaman rumah, baik untuk digantungkan di dahan pohon maupun pada salah satu pojok atap, atau  jika anda memiliki bangunan kecil misalnya gazebo atau jineng sebagai pemanis element taman.

Jangan Berhenti Belajar..

Standard

Bulan Desember tahun ini  saya memiliki liburan yang panjang. Memberikan kesempatan yang sangat baik bagi saya untuk melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan sejak lama. Pertama, pasti menikmati peran sebagai ibu dari 2 anak laki-laki yang sedang tumbuh besar,  lalu pergi ke salon buat merawat diri, merawat tanaman, memasak makanan kesukaan,  pergi ke pasar, pergi ke toko buku , dsb hingga membuat personal blog.  Dan tidak lupa saya memasukkan kegiatan  menambah ilmu apa saja yang berkaitan dengan bisnis, belajar nyetir lagi dan belajar desain grafis ke dalam daftar rencana saya.

Begitu hari pertama libur datang, saya segera melaksanakan rencana saya  sesuai list tersebut. Tiap kali usai melakukan satu kegiatan, saya segera centrang agar saya bisa memfokuskan diri pada rencana kegiatan berikutnya dengan disiplin.  Habis mengikuti business conference saya centrang. Habis mengikuti training business coach saya centrang lagi. Demikian seterusnya. Hingga tibalah pada daftar dimana sekarang  saatnya saya harus mulai belajar menyetir lagi.

Menyetir kendaraan merupakan kelemahan saya selama ini.  Belasan tahun nyaris tak pernah menyetir lagi, membuat saya tak memiliki kepercayaan diri lagi membawa kendaraan.  Terlebih  jika melihat kondisi lalu lintas di Jakarta yang penuh kendaraan motor bersliweran sekarang ini, menambah kegamangan hati saya. Tapi bulan ini saya sudah bertekad harus berani menyetir lagi. Saya tak mau selalu menggantungkan diri saya pada supir. Saya harus mengalahkan perasaan takut saya. Harus  mengembalikan kepercayaan diri saya di jalan raya!.Bagaimanapun caranya. Harus! Harus! Dan harus!. Memikirkan itu, maka saya memutuskan untuk datang ke salah satu sekolah menyetir mobil di bilangan Bintaro, agar dekat dari rumah.

Saat saya datang ke kantor sekolah itu, dua orang penjaga counternya segera berdiri dari duduknya menyambut saya dengan ramah dan mempersilakan saya duduk. Dengan muka berseri seri, salah seorang darinya menyodorkan saya list program, hari, guru, paket peserta – apakah ingin private sendiri atau oke dengan paket bersama peserta lain dan termasuk harganya masing-masing. Setelah melihat list, jenis mobilnya serta harga dan timingnya, saya lalu menyetujui untuk mengambil salah satu paketnya. Sang penjaga counter terlihat senang karena pagi-pagi sudah berhasil mendapatkan klien baru. Segera ia mengeluarkan form dan mengisinya .

Siapa Bu, nama putranya yang akan belajar nyetir? “ tanyanya. Semula saya agak terperangah mendengar pertanyaannya, sehingga ia menegaskannya kembali dengan kalimat lain.

Ini putranya kan ya Bu, yang mau belajar nyetir?” tanyanya dengan polos dan tetap ramah. Lho? Wah, ini salah menebak pasti, bathin saya.

Bukan, Mbaaak… saya yang mau belajar menyetir” Jawab saya kemudian sambil tersenyum.

Ooh.. maaf, Bu. Kirain…” Katanya tersipu-sipu. Lalu segera menanyakan data pribadi saya dan mengisi formulir dengan cepat serta meminta saya membubuhkan tanda tangan di sana.  Saya melakukan pembayaran dan mulai hari itu saya langsung belajar menyetir dan setelah 6 jam pelajaran dalam 4x pertemuan dengan guru saya, saya lalu dinyatakan lulus. Lumayanlah. Sekarang saya mulai pede menyetir lagi. Paling tidak untuk pergi ke pasar atau ke salon yang dekat. Tidak lupa saya centrang lagi rencana kegiatan dalam daftar saya itu.

Usai  menamatkan sekolah menyetir, saya lalu mencari informasi untuk belajar desain grafis. Kenapa desain grafis? Karena sejak kecil saya sangat suka menggambar & melukis. Bertahun-tahun bekerja dengan rekan Graphic Designer di kantor membuat saya gatal pengen juga memiliki kemampuan seperti itu. Tentu saja bukan untuk bersaing dengannya atau mengkudeta  posisinya, namun untuk menyalurkan hobby saya menggambar. Sejak dulu pengen belajar, namun karena kesibukan baik di kantor maupun di rumah, keinginan itu belum pernah kesampaian. Nah sekaranglah saatnya.

Karena tidak tahu tempatnya, pertama saya search di internet terbih dahulu. Tidak saya temukan kursus Graphic Design di daerah Bintaro. Adanya di Kramat Jati. Weh..jauh!.  Lalu saya memutuskan untuk menelusuri jalanan di Bintaro untuk  melihat lihat papan reklame di pinggir jalan, barangkali ada yang memasang pengumuman menerima murid untuk belajar desain grafis. Usaha saya juga tidak membuahkan hasil. Terakhir saya coba masuk ke tempat-tempat kursus biasa. Ternyata banyak diantaranya yang menyediakan jasa kursus computer & Graphic Design walaupun di papan reklamenya tidak ada. Hampir sama dengan di tempat kursus mengemudi, saya langsung dberi penjelasan mengenai paketnya ( programnya apa saja, berapa kali pertemuan, berapa jam dan berapa biayanya) dan lalu saya setuju. Mengingat sebentar lagi libur Natal dan Tahun Baru, petugas administrasi lalu  mengatur  schedule  kursusnya .

Memang putranya  libur sampai kapan ,Bu?”  tanyanya sambil membuka buka kalender. Seketika saya menyadari arah pertanyaannya. Pasti disangkanya saya sedang mendaftarkan kursus buat anak saya. Bukan buat saya sendiri.

Kenapa menanyakan sampai kapan anak saya libur?” Tanya saya sambil tertawa geli.

Loh? Yang mau kursus?” tanyanya sambil heran, sambil memandang saya dengan tatapan tidak yakin.  Saya lalu menjelaskan bahwa yang mau belajar grafis adalah saya, bukan anak saya.  Si Mbak petugas lalu meminta maaf sambil membela diri” Soalnya, yang biasanya ngambil kursus kan anak-anak sekolah atau mahasiswa, Bu..” katanya. Saya jadi ikut tertawa geli  mendengarnya. Namun sempat membuat saya merenung juga. Apakah saya terlalu tua untuk  belajar? Mengapa wanita, atau ibu-ibu , atau orang  seumur saya tidak banyak yang mau belajar menyetir  maupun  menggambar grafis, sehingga membuat saya menjadi aneh kalau mulai belajar di usia ini? Apanya yang salah?

Dua kejadian itu menunjukkan dengan jelas bahwa saya memang dianggap terlalu tua untuk belajar (mengambil kursus). Padahal dalam hati, saya merasa belum tua. Wah.. bagaimana ini?

Kepala saya jadi penuh pertanyaan, mengapa banyak orang cenderung  mengira  bahwa belajar adalah hak & kewajiban orang yang muda  saja, sedangkan orang yang lebih tua dianggap tidak umum memiliki hak & kewajiban itu?. Bukankah  belajar adalah hak & kewajiban sepanjang hayat dikandung badan? Jadi hak & kewajiban setiap orang di usia berapapun. Proses belajar seharusnya tak pernah berhenti hingga kita mati.

Bila mengingat kembali pesatnya perkembangan bayi hingga deawasa saya jadi takjub. Mulai sejak lahir dan tak berdaya, lalu dalam usia hanya beberapa bulan, bayi  mulai bisa tengkurap & menegakkan lehernya,  usia 6 bulan mulai berceloteh,  usia 9 bulan sudah bisa berbicara dan merangkak, lalu umur setahun mulai bisa berjalan, kemudian berlari, bercakap-cakap, bermain, bernyanyi, membaca dan berhitung…dan seterusnya. Lalu tanpa kita sadari tiba-tiba ia sudah menjadi besar dan pintar mendebat kita!. Hanya dalam hitungan beberapa tahun! Alangkah banyaknya ilmu yang bisa dipelajari manusia jika terus  belajar seperti bayi dan kanak-kanak.  Alangkah pesatnya pertumbuhan pengetahuan manusia. Dan pesatnya pertumbuhan itu terus berlangsung selama orang bersekolah.

Dan kemudian apabila kita amati berikutnya, setelah berhenti sekolah,  maka peningkatan pengetahuan orang cenderung lebih lambat,  makin lama makin lambat lagi,  atau bahkan berkurang karena pikun. Jika kita bayangkan perkembangan pengetahuan sejak bayi hingga tua itu, saya rasa sangat mirip dengan kurva dengan garis yang meningkat cepat  diawal hingga usia 22-23 tahun lalu mendatar setelahnya. Mengapa itu terjadi?

Menurut pikiran saya, hal itu terjadi karena setelah usai masa kuliah, orang cenderung berhenti belajar. Orang hanya menyerap informasi secara pasif dan tidak terbuka untuk mengksplorasi hal-hal  diluar pengetahuannya secara  aktif. Penyebabnya tentu sangat beragam, mulai dari tingkat kesibukan yang mulai meningkat untuk mencari nafkah, tidak ada system yang mewajibkan untuk belajar lagi, merasa tidak memerlukan pelajaran lebih banyak lagi, dsb, dsb hingga karena memang tidak pernah memikirkan dan tidak menyadarinya.  Itulah sebabnya mengapa kurva pertumbuhan pengetahuan kita mendatar.

Untuk membuat kurva itu meningkat lagi, maka yang perlu kita lakukan adalah belajar lagi dan terus belajar hingga akhir hayat kita. Belajar apa saja. Hal-hal yang menarik hati kita. Hal –hal yang belum kita ketahui. Atau hal-hal yang menurut kita penting & berguna  untuk memudahkan hidup kita. Apa saja! Tak perlu merasa malu bila harus mempelajari hal-hal yang umumnya dipelajari anak-anak kecil atau yang jauh lebih muda dari kita. Jangan pernah merasa diri terlalu tua untuk belajar. Ilmu itu tiada batasnya. Semakin banyak yang kita tahu, semakin kita tahu bahwa banyak yang belum kita ketahui.

Memikirkan ini saya jadi teringat akan sebuah pupuh Ginada, lagu kanak-kanak yang saya pelajari saat di bangku Sekolah Dasar dulu di Bali. Begini lyrics-nya:

Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin

Geginane buka nyampat, anak sai tumbuh luu.

Ilang luu, ebuk katah.

Wyadin ririh, enu liyu pelajain

Artinya kurang lebih:

(Jangan pernah mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.

Ibaratnya menyapu, setiap saat sampah pasti muncul kembali

Bila sampah bisa kita hilangkan, debupun tetap banyak

Walau telah pintar, masih banyak yang perlu dipelajari)

Sungguh sebuah nasihat bagi kita untuk selalu belajar dan belajar kembali sepanjang hayat. Belajar apa saja. Yang penting belajar!

Jadi mengapa kita  berhenti belajar?

Tembang Rare – Kedis Perit Petingan Bondol – Lyrics

Standard

Kedis perit, petingan, bondol.

Gelatike ngenceg di wangan.

Saget titiran ngetengkung.

Dara, putehe mecanda.

Mewangsit ngajakin luwas.

Luwas meninggal desa.

Selat pasih arungan dalem.

Saget rawuh I Bagus Nyoman.

Layak layak di segara.

Tembang Rare – I Nyoman – Lyrics

Standard

Sabilang peteng I Nyoman mekeliyeng.

Sabilang peteng I Nyoman mekeliyeng.

Nyawenin Jangkrik ane suba metabing.

Barak selem kampidne, dongkang kipa batisne.

Megadang peteng lemah.

 

I Nyoman, I Nyoman, bilang ulangan bengong.

Buka jangkrike lonjong, sinah gigine ompong.

I Nyoman, I Nyoman, buka jangkrik kilinin.

Krik krik krik, krik krik krik, ngulangunin.