Category Archives: Travelling

Bangli: Menikmati Sensasi Ketinggian Di Anjungan Tukad Melangit.

Standard

​​​​Seorang teman memasang status lokasi di facebook “Hi Bu! Saya sedang di kampung ibu ini di Bangli” tulisnya. Rupanya teman saya itu sedang berlibur dengan keluarganya di Bali. Dan dari foto foto yang diunggsh ke media sosial, salah satu acaranya adalah berkunjung ke desa traditional Penglipuran di Bangli. Wah… mendadak saya jadi kangen pengen pulang ke Bangli. 

Selain Desa Penglipuran, objek wisata di Bangli sebenarnya sangat banyak. Ada Penelokan, Museum Geology, Gunung Batur dan Danau Batur, desa Trunyan, pura Puncak Penulisan yang merupakan pura tertinggi di Bali, Tirta Sudamala, Cekeng, pura Kehen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Saat pulang terakhir beberapa waktu yang lalu saya sempat bermain ke Anjungan Tukad Melangit di Banjar Antugan di desa Jehem. Juga letaknya di Kabupaten Bangli. 

Tempat ini lagi happening banget. Banyak orang ke sini untuk melihat betapa dalamnya lembah yang terbentuk oleh aliran Tukad (sungai) Melangit ini dan betapa kerennya jika bisa menunjukkan keberanian berdiri di anjungan yang menjorok ke lembah itu dan berselfie di sana. Kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya tidak sesimple yang kita pikir. Karena bagi mereka yang tidak terbiasa, hanya untuk naik ke anjungan yang strukturnya terbuat dari bilah kayu dan ditopang oleh bambu itu saja sudah membutuhkan keberanian tersendiri. Belum lagi saat melihat ke bawah ke jurang di mana sungai Melangit mengalir di dasarnya. Bagi yang memiliki penyakit takut ketinggian tentu akan menjadi masalah besar.

Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak muda yang suka akan tantangan dan haus akan experience. Mampu berdiri di situ rasanya sesuatu banget. Seakan terasa betapa tabahnya kita mampu mengatasi rasa takut. Sensasinya sungguh berbeda!.Maka beramai-ramailah mereka berselfie ria dan menguploadnya ke media sosial untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka sangat percaya diri dan tak takut pada ketinggian. Jadi berwisata ke tempat ini adalah tentang ‘experiencing’ dan ‘enjoying’ sensasi saat berani mengambil keputusan untuk berdiri di sana dan menikmati keindahan alam yang ada.  

Saya sendiri juga mencoba naik. Tapi rasanya kok gamang sekali ya. Serasa ragu akankah bilah bilah kayu itu cukup aman menopang berat tubuh saya? Akankah kaki saya menginjak dengan tepat dan masih di dalam kontrol saya sendiri?  ha ha. 

Selain anjungan  yang menjorok ke lembah, di sana ada juga bangunan balai kayu yang dibuat tinggi agar pengunjung yang datang bisa memandang  ke sekeliling lembah dari atas. Semacam balai pandang begitu. Nah di sini saya sedikit agak lebih berani. 

​ Saya mencoba naik ke atas. Mencoba berselfie ria. Ha ha… ternyata sama gemetarnya. Rasanya kok mau jatuh ya. Harus berpegangan erat-erat nih.Takut terbang ditiup angin * hya ha ha.. tidak tahu dirimerasa ringan saja padahal berat badan jika tidak direm segera bisa mendekati sekarung beras ini.  Tapi serius, kalau di sini saya merasa agak sedikit lebih tenang, setidaknya saya masih melihat tanah. 

Beberapa saat kami bermain di sana. Dan sungguh kebetulan saya bertemu dengan Bapak Wayan Lendra sang penggagas yang akhirnya mengelola tempat wisata ini. Tentu saja saya manfaatkan kesempatan ini untuk ngobrol dengan beliau.

​Anjungan Tukad Melangit atau yang sering disingkat dengan nama ATM ini, berada di banjar Antugan di desa Jehem Kecamatan Tembuku kabupaten Bangli. Menurut Pak Wayan Lendra, tempat ini mulai ramai dikunjungi para wisatawan sejak setahun belakangan ini. 

Bagaimana asal muasalnya, mengapa tempat ini tiba-tiba menjadi hits ? Ternyata ada cerita menarik di baliknya. 
Pak Wayan bercerita, bahwa asal mulanya adalah sekumpulan anak muda yang senang duduk-duduk, berkumpul,  ngobrol ngalur ngidul sambil minum-minum di pinggir jalan. Kegiatan ini dilakukan karena minimnya hiburan di desa. Lama kelamaan, mungkin karena tidak enak hati mengingat ada banyak orang berlalu lalang melihat mereka minum-minum, tua muda, laki perempuan, anak-anak dan orang dewasa, maka mereka nemutuskan untuk membuat tempat kecil di tengah ladang di tepi jurang yang terbebas dari pandangan orang yang berlalu lalang.  Di sana mereka bisa bebas ngobrol, merokok, berkumpul dan minum-minum sepuasnya. 

Barangkali karena tempatnya nyaman, sepi dan pemandangannya indah,  lama lama semakin banyak anak-anak muda teman-teman mereka yang ikut juga suka  berkumpul ke sana. Beberapa orang lalu ada yang mengambil foto -foto selfie di sana dan menguploadnya ke media sosial yang kemudian memicu pembicaraan di Sosial Media. 

Menanggapi itu, Pak Wayan Lendra dan kawan kawan lalu berinisiatif mendirikan anjungan  sehingga pengunjung lebih mudah mengamati dan menikmati keindahan alam sekitar Tukad Melangit dari atas. Anak-anak muda banjar Antugan itupun memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih positive.  Mereka berhenti minum minum dan berniat membangun tempat itu dan menjadikannya sebagai Object berwisata dan latar belakang untuk  berselfie ria. Gagasan ini berkembang dan didukung oleh berbagai pihak. 

Semakin lama semakin banyak orang datang berkunjung. Semakin banyak orang-orang berselfie di anjungan kayu itu  dan semakin banyak yang mengupload foto-fotonya di media sosial. Demikianlah pesona Anjungan Tukad Melangit ini akhirnya menjadi viral di dunia maya. Semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan karena penasaran. 

Hmmm… cerita yang sangat menarik sekali. Dan sangat positive.  Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan cerita ini langsung dari Bapak Wayan Lendra.Salut pada para pemuda di Banjar Antugan yang layak dikasih jempol untuk keputusan dan semangatnya menjadikan tempat ini sebagai objek wisata. 

Saat di sana saya disuguhi minuman traditional Air Kelapa Muda Jeruk Nipis. Whuaa… minuman alami yang sangat segar, mengingatkan saya pada waktu kecil. Selain minuman traditional ini, di tempat itu juga ada dagang Tipat Santok -sejenis gado-gado traditional Bali yang rasanya selalu ngangenin. Mantap banget deh. 

Nah teman teman, barangkali ada yang punya rencana ke Bali dalam waktu dekat ini, ada baiknya mampir ke Anjungan Tukad Melangit untuk merasakan sensasi ketinggian alami yang disajikan oleh sebuah bentang alam yang indah. 

Yuk, kita berkunjung ke Bangli!

Red Carpet of Happiness.

Standard

*Cerita senja dari sudut  Taipei*.

​​Suatu sore saya sedang berada di kota Taipei untuk sebuah urusan. Tentu saja mumpung lagi di sana, sekalian saya ambil kesempatan untuk melihat dan merasakan sekitar. 

Orang orang melintas. Ada yang berjalan sendiri, berpasangan atau bergroup. Ada yang bergandengan tangan, sambil ngobrol dan bahkan ada yang menyedot minumannya sambil berjalan. Semuanya terlihat riang. Entah kenapa saya merasa jatuh cinta pada kota ini. Jalanannya bersih. Penduduknya baik dan ramah. 

Saya lalu berjalan menyusuri pertokoan pinggir jalan. Tanpa terasa keluar dari jalan utama dan masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.

Hi! Ada karpet merah digelar di sini. Hm…Ada apa ya? Orang-orang berkerumun di kiri kanan. Semua terlihat bergembira. Tertawa riang, tersenyum dan menengok ke kiri dan kanan. Semuanya sibuk dengan hapenya dan mengambil ancang-ancang untuk mengambil foto. 

Di ujung sebelah sana, terlihat sebuah panggung dengan poster film besar. Dengan tulisan berhuruf mandarin. Saya tak bisa membacanya. 

Hm…serasa akan ada celebrity yang lewat. Siapa ya? Siapa ya? Mungkin bintang film itu. Tentu saja saya tidak tahu. Semua orang kelihatan sangat antusias. Saya ikut merasa senang. Menyeruak di tengah keramaian orang dan berusaha mengambil posisi sedekat mungkin dengan bentangan karpet merah itu. Lalu ikut-ikut mengeluarkan hape dan mengambil ancang-ancang untuk memotret. 

Teman seperjalanan saya juga sama. Ia bahkan naik ke bangku di tepi jalan agar bisa lebih leluasa mengambil foto dari ketinggian. Setidaknya di atas kepala orang-orang yang berkerumun. Walaupun sama tidak pahamnya dengan saya, ia juga tetap memasang pose siap membidik seandainya ada sesuatu yang  bergerak di atas karpet merah. Tetap bergembira.

​Suasana semakin seru ketika acara dibuka. Serombongan   pendekar memperagakan ilmunya di atas karpet merah. Orang -orang bertepuk tangan. Bergembira. Ha!. Rupanya akan ada “Meet n Greet” dengan bintang utama sebuah film Kungfu dari China yang sukses di Taiwan. Karena tak lama setelah itu, turunlah para bintang film itu ke Red Carpet. Mereka berjalan sambil sesekali melambaikan tangannya. Orang orang memotret dan saya juga. Rasanya senang sekali bisa menjadi bagian dari kegembiraan itu. Ingin ikut memanggil, tapi saya tidak tahu namanya. Ha ha. 

​Tapi kalau dipikir-pikir ini aneh juga. Kami tidak tahu bintang film itu. Siapa dia? Apa pencapaiannya? Bagaimana reputasinya? Tidak pula nenonton filmnya. Juga tidak mengerti bahasanya. Jadi sebenarnya kami sedang bergembira dan mengelu-elukan sesuatu yang kami tidak tahu. Ha ha. ha.. saya jadi tertawa geli memikirkannya. 

Tapi mengapa kami sedemikian gembiranya?  Padahal kan sebenarnya tidak tahu apa-apa?. Hmmm…saya baru ngeh. Ternyata kegembiraan itu bisa datang ke dalam diri kita bahkan dari hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami. Lalu dari mana sesungguhnya kegembiraan itu datang? 

Dari kerumunan di sekitar Red Carpet itu!. Dari orang-orang di sekeliling kita!. Ya!. Saya pikir manusia menangkap gelombang kegembiraan dan kebahagiaan yang dipancarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Lewat senyum, pancaran cahaya mata dan tingkah laku. Ketika kita menangkap pesan kebahagiaan itu dengan receptor yang ada dalam diri kita, seketika itu kita terstimulasi untuk ikut menyesuaikan pada gelombang kebahagiaan yang sama. Mungkin itulah sebabnya mengapa kita tetap bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh orang-orang lain, walaupun secara logika kita tidak mengerti apapun tentang penyebabnya. 

Karena kebahagiaan itu menular, berada di sekitar orang-orang berbahagia memungkinkan kita menerima gelombang kebahagiaan yang melimpah. Temukanlah karpet merah-karpet merah lain yang penuh dengan kebahagiaan sepanjang perjalanan hidup kita, sehingga hidup kita pun terbawa arus dan gelombang yang sama. 

Loloh, Minuman Segar dan Sehat dari Bangli.

Standard

image

Kalau mampir ke Bangli, rasanya ada yang tidak lengkap jika tidak minum loloh. Loloh Bangli. Diantara pembaca, tentu ada yang bertanya-tanya, ” Loloh itu apa? “.
Nah… bagi yang belum tahu sedikit saya jelaskan bahwa loloh adalah minuman tradisional Bali yang memiliki khasiat pencegahan ataupun pengobatan dan perbaikan fungsi tubuh. Ada loloh untuk mencegah sariawan, ada loloh untuk mengurangi batuk, ada yang menurunkan demam, menghilangkan sakit perut, untuk menghilangkan bau badan, untuk mengurangi sakit karena rematik, loloh untuk memecah batu ginjal dan sebagainya.  Terbuat dari ekstrak daun-daunan, akar, kulit batang, bunga atau buah tanaman tertentu. Mirip dengan jamu kalau di Jawa.

Rasanya? Ya… yang namanya obat atau jamu,  wajarlah kalau rasanya biasanya agak pahit sampai sangat pahit.
Walaupun demikian ada juga lho beberapa loloh yang rasanya tidak pahit. Justru enak atau segar. Saking enaknya terkadang orang lupa kalau loloh ini sebenarnya memiliki khasiat pengobatan dan bukan semata pelepas dahaga.

Kemarin saya pergi ke Pasar Bangli dan sempat menemukan 3 buah loloh ini ditawarkan di pasar.

1/. Loloh Cemcem.

image

Loloh Cemcem adalah salah satu loloh khas Bangli. Sesuai namanya, loloh ini dibuat dengan cara meremas-remas daun Cemcem untuk mendapatkan ekstraknya lalu disaring dan dibuang ampasnya. Rasanya asam segar mirip rasa buah Kedondong. Cemcem (Spondias sp) adalah tanaman sejenis Kedondong tapi umumnya pendek seperti perdu dan biasa ditanam di pagar rumah, sawah atau tegalan.  Pohonnya tidak sebesar pohon kedondong. Ditanam orang untuk diambil pucuk daunnya yang masih muda dan berwarna hijau kemerahan.

Secara traditional, loloh daun Cemcem yang tinggi kandungan Vitamin C-nya ini dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlancar sirkulasi darah. Waktu kecil saya sering juga disuruh memetik pucuk daun cemcem ini dari pagar untuk dijadikan loloh atau untuk bumbu masak  pepes.

Selain sebagai loloh tunggal (hanya ekstrak daun cemcem saja), loloh cemcem juga sering ditambahkan ekstrak lain seperti misalnya daun dadap untuk membantu menurunkan demam, atau daun jarak untuk membantu mengurangi gatal kulit atau mencegah sariawan atau daun sirih untuk mencegah infeksi. Ada juga yang nenambahkan gula merah, atau kelapa muda dan sebagainya sehingga fungsi sebagai pemuas dahaganya semakin menguat.

Karena banyak dijual di Desa Penglipuran di Bangli, loloh Cemcem saat ini seakan ikut memperkuat citra Penglipuran sebagai desa traditional yang unik di dunia.

2/. Loloh Bungan Teleng.

image

Loloh cantik yang satu ini sebenarnya cukup unik. Karena sangat jarang dijual orang. Biasanya hanya dibuat sesekali di level rumah tangga. Jadi saya sangat beruntung karena tanpa sengaja menemukannya di pasar. Sesuai namanya loloh itu dibuat dari hasil perasan kembang Telang  atau yang di Bali disebut dengan Bungan Teleng.

Bunga Telang dikenal dengan khasiatnya sebagai obat mata. Orang tua di Bali sejak jaman dulu memanfaatkannya untuk mempertajam penglihatan. Ada yang menggunakannya langsung sebagai pencuci mata, ada juga yang menggunakannya sebagai loloh.

Untuk  obat haus, hasil perasan kembang telang dibubuhi dengan sedikit perasan jeruk nipis atau lemon plus gula batu. Wah…rasanya mantap. Sejuk dan menyegarkan.

Yang nenarik lagi adalah warna loloh ini. Ungu biru terang seperti warna bunganya.

3/. Loloh Kunyit.

image

Nah kalau loloh kunyit saya rasa sudah banyak orang yang tahu. Sama dengan jamu kunyit yang saya temukan di pedagang jamu Jawa yang keliling perumahan di Jakarta. Fungsinya sebagai antibiotik. Banyak dimanfaatkan para wanita untuk mencegah keputihan dan merawat tubuh dan mengurangi bau badan.
Kadang-kadang loloh kunyit juga dikombinasi dengan perasan asam dan atau daun sirih untuk menjaga kesehatan area kewanitaan.

Nah itulah cerita saya tentang beberapa dari jenis loloh yang ada secara turun temurun  dalam tradisi masyarakat Bali, khususnya di Bangli dan yang kebetulan kemarin saya temukan dijual di pasar Bangli.

Sebenarnya masih banyak jenis loloh lain lagi yang ada dalam tradisi masyarakat Bangli, tapi tidak umum diperjualbelikan. Seperti misalnya loloh don kayu manis untuk menenangkan alat pencernaan, loloh don sambilata untuk mengatasi infeksi dan penyakit kulit, loloh akah pule  untuk mengatasi infeksi pencernaan,  loloh don dapdap untuk menurunkan demam, loloh don j untuk menurunkan demam, batuk dan pilek, loloh don sembung bikul untuk mencegah batu ginjal, loloh biyu batu untuk  mengatasi panas dalam, loloh baas cekuh untuk meningkatkan stamina, loloh don beluntas untuk menghilangkan bau badan dan sebagainya masih banyak lagi.

Walaupun jaman dulu belum banyak dokter, rupanya para leluhur kita tetap mampu mempertahankan kesehatannya dengan obat-obatan tradisional semacam loloh ini.

Mampir ke Bangli yuuuk…

Maksud Hati Hendak Membantu…

Image

imageIni kisah yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Saya dan seorang teman baru kembali dari sebuah perjalanan dinas di negeri tetangga. Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Soekarno -Hatta. Senang dan amat bersyukurlah hati saya. Karena penumpang penuh, saya tidak buru-buru bangkit setelah pesawat berhenti. Tapi teman saya yang berdiri mengambil tas-tas kami dari kabin sambil menunggu pintu pesawat dibuka.

Seorang bapak tua berdiri di sebelah teman saya mencoba menggapai sebuah tas dari kabin. Karena tubuhnya agak pendek, beliau mengalami kesulitan. Menyadari itu teman saya yang kebetulan posturnya tinggi menawarkan bantuan kepada Bapak tua itu untuk mengambilkan tasnya.

Yang mana punya bapak? Yang ini bukan?” tanya teman saya dalam Bahasa Inggris (teman saya bukan WNI). Bapak itu menggeleng. “Bukan!“katanya.Teman saya memperlihatkan tas lain di sebelahnya. “Ini bukan?” tanyanya. Bapak itu masih menggeleng.”Bukan!” katanya. Bapak tua itu mengatakan kalau tasnya adalah ransel (backpack). Lalu teman saya mencari-cari di kabin dan menunjukkan sebuah ransel. “Ini bukan?” tanyanya  Bapak tua itu mengiyakan. Teman saya lalu mengangkat dan memberikan tas ransel itu kepada si Bapak Tua. Penumpang mulai bergerak meninggalkan pesawat satu per satu. Saya pun berdiri, menggendong ransel saya sendiri dan keluar dari pesawat. Dalam hati diam-diam saya mengagumi kebaikan sederhana yang dilakukan teman saya itu. Membantu orang tua yang mengalami kesulitan mengambil tasnya dari dalam kabin. Saya pikir sebenarnya setiap hari selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, tapi tidak semua dari kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil guna membantu orang-orang lain di sekitar kita.

Turun dari pesawat, kami naik bis yang disediakan untuk mengantar ke terminal. Saya memilih duduk di dekat pak Supir. Sementara teman saya memilih berdiri di dekat pintu masuk. Setelah penumpang penuh, pak supir bersiap-siap mau berangkat.

Tiba-tiba seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan kekar, berlari masuk ke dalam bis. Berteriak-teriak sambil memaki kepada semua orang yang ada di dalam bis. Wajahnya sangar penuh amarah. Membuat saya khawatir.  Jantung saya berdebar kencang.Saya tidak tahu apa yang membuat orang itu marah. Kicauannya sangat mengganggu, cepat dan tak jelas. Disela-sela umpatan kemarahannya saya ada mendengar kata-kata “Mana dia? Mana orangnya?”  Ada apa ya? Di tengah ketidakmenentuan, semua orang yang berada di dalam bis terdiam dan menahan nafas. Tidak ada seorangpun yang berani bergerak. Pria itu terus marah marah sambil matanya liar mencari-cari. Dan akhirnya berteriak “Ini diaa!!!” katanya menunjuk  dan menarik sebuah tas ransel yang tergeletak di lantai bis. Saya terkejut. Itu kan tas ransel yang dibawa oleh Bapak tua yang sebelumnya ditolong oleh teman saya tadi.

Ini dia orangnya!” teriak pria itu lagi sambil menuding Bapak tua yang kelihatan polos itu sebagai pencuri. Bapak tua itu hanya diam saja.Tidak membela diri. Sulit menebak, apakah Bapak itu memang bersalah atau tidak. Pria itu terus mengumpat-umpat dan memaki. Diantaranya  ia ada mengatakan bahwa usia tua dan wajah yang pura-pura polos, tidak menjadi jaminan bahwa orang itu hatinya baik.

Saya melihat ke teman saya yang juga melihat ke arah saya dengan pandangan penuh tanda tanya. Gagal paham. Saya sendiri juga bingung. Jika Bapak itu memang benar pencuri, apakah teman saya jadi ikut bersalah?  Saya tahu ia hanya bermaksud menolong orang tua itu semata. Perbuatan yang sangat baik dan mulia. Tentu ia tak pernah menyangka akan begini jadinya. Atau  ia salah ambil?.  Tidak! Bukan salah ambil.Saya ingat betul, teman saya selalu bertanya setiap kali akan menurunkan tas yang di kabin “Ini bukan?“. Dan ia hanya mengambilkan tas ketika Bapak tua itu mengkonfirmasi bahwa tas yang dimaksudkan adalah  memang miliknya.

Saya melihat ke teman saya. Mencoba menenangkannya dan memberi kode bahwa ia tidak bersalah. Saya akan berada di sisinya dan pasang badan jika terjadi sesuatu.Bapak tua itu masih tetap berdiri di sana seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak kelihtan bersalah. Tapi tidak melakukan pembelaan diri juga. Sementara pria kekar itu masih terus berkata kasar, sinis, dan mengumpat-umpat. Seluruh penumpang masih terdiam. Pak Supir kemudian menutup pintu bis dan bersiap-siap berangkat.

Tepat sebelum bis berangkat, ada lagi orang datang berteriak-teriak. Berlari dan mengacungkan tangannya ke bis. Pintu bis pun dibuka kembali. Orang itu terengah-engah menunjukkan sebuah ransel yang kelihatan tipis dan ringan sambil menjelaskan, bahwa ada ransel yang ketinggalan dipesawat.”Ini milik siapa?” tanyanya. Orang-orang mulai pada berbisik dan berbicara dengan teman di sebelahnya. Dan ternyata tas ransel yang baru ketemu itu memang milik Bapak Tua itu. Ya ampuuun.. rupanya memang salah ambil. Kedua tas ransel itu memang sangat mirip bentuk dan warnanya. Hanya saja yang satu kempes dan yang satu gendut karena isinya penuh.

Bapak itu kelihatan sangat senang dan lega menerima tasnya kembali.Wajahnya penuh syukur. Diusap-usapnya tas  itu lalu dicangklongkan ke bahunya. Ia seperti tidak peduli dengan sekian pasang mata yang menatapnya dengan heran. Pria yang tadi marah-marah itupun melihat kejadian itu dan langsung menghentikan omelannya. Saya melihat kelegaan di wajah setiap orang. Senang dan bersyukur rasanya akhirnya semua berjalan dengan damai.  Bis pun berangkat dari areal landasan terbang ke terminal.

Di terminal saya turun dan berjalan di sebelah teman saya yang kelihatan masih kaget dengan kejadian yang baru saja kami lewati. Sehari-harinya ia tidak berbahasa Indonesia, barangkali ia tidak menangkap 100% arti umpatan-umpatan pria itu, tapi saya rasa ia memahami garis besar kejadian itu.

Tetaplah berbuat baik, walaupun tidak ada jaminan, bahwa perbuatan baik kita akan selalu langsung instant jelas kelihatan hasilnya.

 

 

 

Happy Lunar New Year!-Gemerlap Cahaya Jalanan Saigon .

Standard

GONG XI FA CHAI.

20160129_214533.jpgBeberapa hari yang lalu saya berada di kota Ho Chi Minh untuk urusan pekerjaan. Karena bukan perjalanan tamasya, tentu saja saya tak punya banyak waktu untuk melihat-lihat. Kalaupun ada sedikit, itu hanya di malam hari. Namun demikian, bagi saya kunjungan kali ini tetap saja sama berkesannya dengan kunjungan-kunjungan saya sebelumnya ke negara ini.

Saat melintas di jalan untuk acara makan malam, saya terkesima oleh pemandangan kota yang sedemikian indahnya. Cahaya terang benderang menghiasi sudut-sudut kota. Warni-warni. Ada yang pink, putih, hijau, kuning, jingga, biru dan sebagainya. Sangat meriah. Lampu-lampu jalanan ditata sedemikian rupa sehingga membentuk bunga-bunga yang bermekaran, pepohonan, kupu-kupu serta burung-burung yang beterbangan. Berdiri di tepi jalannya, membuat saya serasa sedang berada di negeri dongeng. Ada beberapa tulisan juga – tapi karena ditulis dalam Vietnam script, saya tak bisa membaca.

Karena penasaran sayapun bertanya, mengapa kota ini didandani sedemikian meriah? Pak Supir yang mengantar saya menjelaskan, bahwa kota ini didandanin untuk menyambut Lunar New Year alias Imlek pada tanggal 8 Feb 2016 (hari ini). Oohh… pantesan sedemikian meriahnya. Padahal waktu itu Imlek baru akan jatuh  minggu depannya lagi, tapi suasananya sudah sedemikian terasa.  Semua orang kelihatan semangat. Berbahagia. Senang menyambut hari raya yang segera datang. Saya pun jadi ikut senang melihat orang-orang senang.

Gong Xi Fa Chai, teman-teman !. Semoga di tahun yang akan datang ini kebahagiaan dan keberuntungan datang dari segala penjuru.

 

 

 

Songan, Kampung Halamanku Ketika Aku Pulang.

Standard

image

Ini sebetulnya hanya catatan kecil dari acara pulang kampung sehari. Sangat singkat. Sangat padat.  Tak sempat mampir ke mana-mana. Hanya pulang ke desa Songan di Kintamani, Bangli. Jadi sebenarnya tidak ada sesuatu yang aneh dan baru bagi saya.

Walaupun demikian, begitu memasuki wilayah kaldera dan menyaksikan hamparan danau biru nan luas beserta gunung Batur di sebelahnya, tetap saja saya merasa takjub terkagum-kagum akan keindahannya.

Berdiri di hulu danau dan melihat pemandangan desa yang sangat memukau, membuat saya berkali kali mengucapkan rasa syukur atas anugerahNYA. Ikan-ikan kecil berkerumun di bawah permukaan air dekat tepian danau.  Sesekali meloncat dengan riangnya, membuat cipratan kecil yang berkilau diterpa sinar matahari.

2016-01-13-07.50.09.jpg.jpegBurung -burung bangau beterbangan dan hinggap di atas flora mengambang di permukaan danau sambil mencari makan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Lalu ada keramba ikan. Nelayan yang asyik di atas perahunya. Dan ladang ladang sayur yang subur. Pemandangan danau dengan latar belakang bukit bukit yang hijau di satu sisi dan atau Gunung Batur yang kemerahan, membuat desa saya itu sedemikian indah bak lukisan dari negeri entah di mana. Saya mengambil beberapa kali gambar dengan kamera ponsel saya untuk mengenang wajah desa  ketika saya pulang kali ini.

Di sini kehidupan terasa berjalan tenang dan damai. Tanah yang begitu subur, diperkaya dengan berbagai mineral dan nutrisi yang dihadiahkan oleh debu vulkanik Gunung Batur membuat daerah itu menjadi kawasan pertanian sayur mayur dengan hasil yang melimpah di setiap musimnya. Tinggal sedikit usaha menyingsingkan lengan baju, olah tanah dan rawat tanaman, hasil panen pasti akan segera menghapus kelelahan. Begitu suburnya tanah di area ini, walaupun di sana-sini juga dihiasi dengan batu lahar hasil letusan Gunung.

image

Begitu juga danau yang biru. Seolah tak rela penduduknya kelaparan, tak hentinya menyediakan ikan yang berlimpah. Jika lapar, tak punya lauk untuk di masak, tinggal ambil pancing atau jala. Kami menangkap ikan. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Demikianlah danau dan gunung Batur menyayangi orang-orang di kampung kami. Semoga setiap orang menyadari dan hanya mengambil secukupnya dari apa yang dianugerahkan tanpa harus merusak lingkungan sekitarnya.

image

Setiap orang memiliki kampung halaman dan mencintainya. Demikian juga saya. walau akhirnya tinggal jauh, rasanya memang tiada tempat yang lebih damai selain di kampung halaman sendiri. Semoga desaku selalu tenang dan damai.

Bangli: Sarcophagus Dukuh Prayu Bunutin.

Standard

Wisata Sejarah- Bangli.

Melihat ketertarikan saya akan benda peninggalan sejarah Sarcophagus yang berada di desa adat cekeng, Sulahan kecamatan Susut, di Bangli, Komang Karwijaya bercerita bahwa sebenarnya Sarcophagus tidak hanya ditemukan di desa Cekeng saja lho, tapi di beberapa desa yang lain juga di Bangli.  Salah satunya adalah di desa Bunutin. Tepatnya di Dukuh Prayu. Nah, barangkali diantara para pembaca ada yang sama dengan saya, yakni memiliki ketertarikan untuk melakukan wisata sejarah, yuk kita merapat ke dukuh Prayu di desa Bunutin, Bangli.

Tentu pertanyaan pertama saya adalah, sama nggak sih Sarcophagusnya? Karena kemungkinan besar sarcophagus-sarcophagus itu berasal dari kurun waktu yang sama,  kurang lebih sarcophagusnya serupa lah.  Tetapi saya mendapatkan keterangan yang sangat menarik juga tentang sarcophagus di dukuh Prayu ini.

Total sarcophagi ada 9 buah yang letaknya sesuai dengan mata angin.  Utara, Timur laut, Timur, Tenggara. Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut dan  di Tengah. Saya tidak mendapatkan informasi lebih jauh mengapa letaknya harus sedemikian rupa di sembilan arah mata angin?. Mirip posisi sembilan mata angin dari Dewata Nawa Sanga. Akan tetapi saya tidak yakin apakah ini ada kaitannya dengan Dewata Nawa Sanga, mengingat sarcophagi ini diduga sudah ada sejak jaman pra Hindu.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Menurut keterangan sebagian besar sarcophagus-sarcophagus itu pada saat ini tertutup tanah dan di atasnya berdiri pura. Yang lumayan terbuka dari tutupan tanah adalah yang posisinya di Timur. Sarcophagus ini masih kelihatan menempel di dinding tanah. Barangkali karena saking tuanya telah tertimbun tanah entah dari bekas letusan gunung ataupun humus yang memadat. Yang jelas sebagian masih tertutup tanah.  Sarcophagus kelihatan cukup utuh. Masih terdiri atas  bagian bawah (palungan) dan penutup (lid).  Hanya saja ada lubang di tengahnya. Diduga barangkali karena jaman dulu orang-orang yang pertama kali menemukan tidak begitu paham apa itu sarcophagus lalu penasaran ingin tahu ada apa di dalamnya. Mereka mungkin menemukan ternyata ada sisa-sisa kerangka manusia beserta  pernak pernik bekal kuburnya. Lalu karena takut terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki, masyarakat lalu cenderung membiarkan sarcophagus itu tetap berada di tempatnya dan setengah tertutup tanah. Bahkan membuat pura kecil di dekatnya untuk melakukan upacara mendoakan roh sang pemilik sarcophagus.

Yang menarik, sama dengan sarcophagus yang di Cekeng, sarcophagus inipun memiliki tonjolan pintu di depannya dengan ukiran yang menyerupai kura-kura. Sayangnya tonjolan yang bagian bawahnya kelihatan sudah putus.

Sarcophagus yang di Timur Laut kondisinya memprihatinkan karena pecah. Barangkali karena kurangnya pemahaman masyarakat jaman dulu yang pertama kali menemukan benda bersejarah ini sebagai sarcophagus.

Berikutnya saya juga diinformasikan bahwa yang berada di Tenggara, penutupnya juga sudah tidak ada.  Hanya tinggal palungan bagian bawah yang sudah kosong. Karena kosong dan posisinya tengadah, serta berada di alam terbuka, tentunya pada musim hujan, sarcophagus ini menjadi tempat penampungan air. Konon jaman dulu masyarakat memanfaatkannya untuk air minum ternak babi, dengan harapan ternaknya cepat hamil dan beranak. Jadi dalam hal ini sarcophagus dikaitkan dengan pembawa kesuburan. Tidak mengherankan, karena di beberapa tempat keberadaan sarcophagus juga dikaitkan dengan kesuburan sawah dan tanaman ladang juga.

Kemudian sarcophagus lain yang juga menarik ceritanya adalah yang posisinya di utara. Konon jaman dulu dari mata kura-kura hiasan tombol sarcophagus ini keluar minyak. Nah, bagaimana penjelasannya – saya kurang paham. Tetapi tentunya itu semua sangat menarik untuk diteliti lebih jauh.

Nah, itu adalah informasi tentang sarcophagus-sarcophagus yang ada di dukuh Prayu, desa Bunutin di Bangli, Bali. Saya ingin sekali ke sana. Ingin sekali melihat langsung dari dekat. Sayang saat ini masih belum punya kesempatan.

Para pembaca yang barangkali sedang berada di Bali atau sedang merencanakan liburan di Bali, bisa memasukkan desa Bunutin di Bangli sebagai salah satu tujuan wisata. Agar mengenal Bali dengan lebih dekat lagi.

Yuk kita berkunjung ke Bangli!.Kita pelajari sejarah dan cintai tanah air kita!.

Bangli: Sarcophagus Di Desa Adat Cekeng.

Standard

Wisata Sejarah Bangli.

Suatu kali Komang Karwijaya, seorang teman dari adik saya nge-tag sejumlah foto-foto menarik di time line media social. Foto-fotonya banyak. Tentang berbagai tempat dan hal-hal menarik di Bangli.  Salah satu yang menyedot perhatian saya adalah foto tentang keberadaan Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Kecamatan Susut, Bangli. Saya terkesima.

Seperti kita tahu Sarcophagus adalah salah satu peninggalan sejarah berupa kubur batu. Selama ini saya hanya mengetahuinya dari pelajaran sejarah. Sama sekali tidak pernah menduga jika di Bangli, daerah kelahiran saya juga menyimpan sisa peninggalan sejarah itu. Dan rupanya ada di beberapa desa juga. Salah satunya adalah yang berada di Desa Cekeng ini.

Sarcophagus pada umumnya merupakan cekung batu yang terdiri atas bagian wadah (palung) dan bagian atap. Didalamnya diletakkan tubuh sang meninggal dalam posisi meringkuk seperti bayi, dengan filosofi bahwa posisi saat meninggal disesuaikan dengan posisi saat bayi berada dalam kandungan ibu. Di dalamnya juga umumnya terdapat beal kubur berupa manik-manik dan perhiasan lain. Kubur batu ini kemudian ditutup. Pada bagian depan dan belakangnya biasanya terdapat tonjolan yang diukir dengan motif  kepala kura-kura atau wajah manusia.

Menurut informasi dari lembaga Pubakala yang sempat saya baca, cara mengubur dalam peti batu ini dilakukan oleh masyarakat bali pada Jaman Besi-Perunggu atau masa pra sejarah. Sekitar 200-500 tahun sebelum Masehi. Berarti tua banget ya…

Sesuai informasi Sarcophagus di desa Cekeng ini ada 2 buah.

Sarcophagus di Desa Adat cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Yang pertama letaknya di pura Puseh desa adat Cekeng. Ukurannya agak besar. Yang tersisa hanya palung batu bagian bawahnya saja. Penutupnya tidak ada. Demikian juga isinya. Pada bagian depan terdapat tonjolan yang mungkin berfungsi sebagai bagian dari pintu sarcophagus. Tonjolan itu diukir dengan wajah manusia yang mirip kura-kura. Sarcophagus ini diletakkan di sebuah bangunan kecil dan beratap.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus yang ke dua terdapat di tegalan. Juga tidak lengkap. Hanya tersisa bagian bawahnya saja. Ukurannya lebih kecil dari sarcophagus yang di Pura Puseh Cekeng. Karena tergeletak di udara terbuka di tegalan, sarcophagus ini agak lumutan dan tentunya menjadi penampung air jika hujan turun.

Kelihatannya sangat menarik dari apa yang saya lihat di foto dan sedikit penjelasan dari Komang.  Ini tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi jika suatu saat saya mendapatkan kesempatan berlibur.  Saya ingin datang dan melihat sendiri tempat ini dan peninggalan sejarahnya.  Saya pikir banyak orang lain juga pasti ingin berkunjung ke sini. Apalagi mereka yang menyukai wisata sejarah.  Yuk kita main ke desa Cekeng.

Bagaimana cara mengakses tempat ini? Cukup mudah. Kita bisa mengaksesnya lewat Desa Penglipuran. (Tahu dong, Desa Penglipuran? Adalah salah satu Desa Traditional di Bali yang masih mempertahankan tradisi Bali asli. Saat ini merupakan salah satu desa tujuan wisata Bali). Kira-kira jaraknya sekitar 45 – 50 km dari Denpasar.  Cara lain kita juga bisa mengaksesnya dari banjar Alis Bintang, desa Susut – kecamatan Susut Bangli.

Selain Sarcophagus ini, saya denger desa cekeng juga memiliki peninggalan-peninggalan lain yang tak kalah menariknya untuk dilihat. Gapura Agung dan bangunan-bangunan suci lainnya yang penuh dengan ornamen kuno. Di sana kita juga masih bisa melihat alat penumbuk padi jaman dulu.

Yuk kita berkunjung ke desa Cekeng!

Kita kenali sejarah kita dan cintai tanah air kita!.

Sleman: Mengunjungi Candi Prambanan.

Standard

Candi PrambananMumpung ada di Yogyakarta saya berusaha mengoptimalkan hari Sabtu saya dengan mengunjungi candi candi yang bertebaran di sekitar area itu.  Saya senang melihat-lihat dan mengenang kejayaan peradaban yang pernah dicapai oleh bangsa kita di masa lampau. Walaupun saat ini hanya reruntuhannya saja yang tersisa.

Saat itu sepulang dari kunjungan ke Istana Ratu Boko, saya tiba kembali di halaman Candi Prambanan sekitar pukul 10 pagi. Matahari bersinar kuat. Berjalan sedikit sudah cukup membuat saya berkeringat. Pengunjung cukup ramai pagi itu. Selain pengunjung umum, ada rombongan anak-anak sekolah yang diantar para guru. Lalu ada juga kesibukan orang orang  yang mempersiapkan kunjungan pejabat yang katanya akan datang siang ini. Saya melenggang ke halaman luar yang penuh dengan reruntuhan candi. Beberapa orang pekerja tampak sedang  sibuk merekonstruksi candi. Rasa trenyuh hati saya memandangnya. Terlebih ketika melihat gambar bagaimana dulunya bentuk dan susunan kompleks candi itu yang sedemikian besar  dan luas.

Berdiri di tengah-tengah reruntuhan candi ini, yang menurut keterangan harusnya berjumlah 240 candi, membuat saya sadar bahwa tempat ini sangat serupa dengan tempat – tempat suci di Bali. Pembangunan candi ini juga menerapkan concept Tri Mandala, yakni   nista, madya dan utama.

Di Nista Mandala yakni latar paling bawah yang luasnya 390 meter persegi tidak saya lihat ada bangunan apapun. hanya taman beserta tanaman.

Di Madya Mandala yang merupakan latar tengah ada  banyak reruntuhan candi candi kecil yang dianggap sebagai candi pengiring. Semuanya berada dalam keadaan runtuh. Menurut keterangan, candi-candi ini berjumlah 224 buah. Jika berdiri, candi-candi ini memiliki ukuran sama, yakni 4 meter persegi dengan tinggi 14 meter. Luas Madya Mandala adalah 222 meter persegi.

Candi Prambanan 5Di Utama Mandala  yang luasnya 110 meter persegi, berdiri Candi Tri Murti (Brahma,Wisnu Siwa) dengan Siwa sebagai fokus utamanya.  Candi Trimurti ini masing-masing didampingi dengan Candi Wahana, yakni Candi Nandi, candi Garuda dan Candi Angsa.  Kemudian ada  2 buah Candi Pengapit  yang berdiri diujung Selatan dan ujung Utara dari Utama Mandala ini. Di luar itu, ada lagi 8 candi kecil yang disebut dengan Candi Kelir yang berada di delapan penjuru mata angin.  Sungguh maha karya yang sangat indah dan besar. Saya merasa kagum dan sangat hormat kepada siapapun arsiteknya.

Saya hanya sempat masuk ke dalam Candi Siwa yang merupakan Candi Utama dari gususan Candi Prambanan ini. Om Namah Shiwaya. Pertama saya masuk dengan menaiki anak tangga ke ruang utama, di mana arca  Siwa Mahadewa  berdiri di sana.  Dalam Hindu, Siwa Mahadewa adalah sinar suci  dari Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai penguasa alam semesta dan perubahan dan pelebur agar semuanya bisa kembali ke asalnya dalam semesta. Arca ini menghadap ke timur, berseberangan pintu dengan Candi Nandi. Di bagian ruang utara dari Candi Siwa ini saya  melihat arca Durga  yang di dalam Hindu merupakan  sakti dari Siwa yang menguasai kematian. Lalu di bagian ruang barat saya melihat arca Ganesha, yang juga turunan Siwa yang merupakan manifestasi  Tuhan Yang Maha Esa dalam menguasai  segala kesulitan. Orang-orang memuja Tuhan Yang Maha Esa melalui Ganesha dalam memohon agar terhindarkan dari segala aral yang melintang. Dan di ruang yang terakhir yang menghadap ke selatan saya melihat arca Siwa Maha Guru  manifestasi Tuhan Yang maha Esa dalam menguasai segala wahyu dan pengetahuan. Pada intinya Candi utama ini adalah pemujaan Umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam  manifestasinya sebagai Siwa.

Jika kita melakukan pradaksina, yaitu berdoa sambil mengelilingi candi  searah jarum jam,  kita akan  bisa mengamati relief pada candi yang bercerita tentang kisah Ramayana.  Kita juga bisa melihat pemandangan kemegahan candi candi Brahma, Wisnu dan candi candi wahana serta candi apit yang indah dari Candi Siwa. Sungguh maha karya yang luar biasa. Menurut catatan sejarah, candi ini berdiri pada abad ke IX. Didirikan oleh raja raja Dinasti Sanjaya yakni Rakai Pikatan dan diteruskan oleh Rakai Belitung pada tahun 856 Masehi-sesuai dengan prasasti Ciwagraha.

Candi Prambanan 11Buat saya, kunjungan saya kali ini ke Prambanan memberikan kesempatan bagi diri saya untuk mengenang kembali serta menghargai karya seni dan spititual yang merupakan  refleksi kejayaan peradaban yang pernah dimiliki oleh nenek moyang kita. Senang mengingat pelajaran sejarah kembali.

Yuk kita berkunjung ke Jawa Tengah! Kita cintai tanah air kita.

Yogyakarta: Keraton Ratu Boko.

Standard

Gapura Keraton Ratu BokoSelagi di Yogyakarta, saya berusaha  mengoptimalkan hari Sabtu saya dengan mengujungi situs-situs purbakala yang ada di sekitar daerah itu. Saya menjelaskan kepada Mas Tara, sopir yang mengantarkan saya bahwa saya ingin mengunjungi candi-candi kecil di luar Prambanan dan Borobudur. Karena saya sudah pernah beberapa kali berkunjung ke dua candi besar itu sebelumnya.  Jadi saya ingin tahu yang lain.  Mas Tara menyarankan, sebaiknya saya tetap mengambil Candi Prambanan, atau Borobudur (salah satu)  karena di sekitar candi itu masih banyak ada candi-candi bertebaran. Saya setuju. Akhirnya memilih jalur Candi Prambanan.

Keraton Ratu BokoKami berangkat pagi-pagi dan disarankan menuju Prambanan pertama untuk menghindari panas matahari yang menyengat. Alasan Mas Tara adalah karena Candi Prambanan sangat luas dan tidak ada pohon di dekat-dekat candi.Sedangkan candi lain yang lebih kecil ada banyak pohon di sekitarnya.Jadi kalau kepanasan, kita bisa cepat-cepat bernaung. Sekali lagi saya menurut. Karena jarak dari hotel tempat saya menginap tidak seberapa, sebentar kemudian sampailah kami di Candi Prambanan. Ketika mengantri untuk membeli ticket, saya diinformasikan bahwa ada ticket terusan ke Istana Ratu Boko. Dan disediakan shuttle bus pulang pergi ke sana. Dengan senang hati saya memilih membeli ticket terusan itu.

Gapura Keraton Ratu Boko

Gapura Keraton Ratu Boko

Istana atau Keraton Ratu Boko berada di sebuah perbukitan di bagian selatan Candi Prambanan. Merupakan sebuah kompleks bangunan peninggalan purbakala yang luasnya sekitar 25 hektar. Benar-benar berada di puncak sebuah bukit. Dari tempat pemberhentian shuttle bus, saya masih harus menempuh jalan menanjak berjalan kaki. Untungnya jalannya sudah rapi. Sesekali saya berhenti untuk menenangkan nafas sambil melihat-lihat pemandangan kemarau yang gersang di sekitarnya.

Berita tentang keberadaan Keraton ini agak simpang siur adanya.Tetapi saya lebih mempercayai catatan sejarah yang ada buktinya. Bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah Wihara seperti yang disebutkan dalam prasasti Abhaya Giri tahun 792 yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran dari kerajaan Medang (Mataram Hindu).  Berikutnya seorang raja bawahan yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni mengubahnya menjadi istana.

Di kompleks ini dtemukan sisa-sisa gapura, sebuah candi putih, candi pembakaran, pendopo, keputren, dua buah gua pertapaan. Disebutkan juga bahwa di tempat ini ditemukan artefak Hindu (Durga, Ganesha, Garuda, Lingga, Yoni) dan juga artefak Budha (Stupa, Budha Dyani). Selain itu, menurut keterangan  juga ditemukan pecahan keramik, plakat emas bertuliskan “Om  Rudra ya namah swaha“. Jelas sekali pada jaman itu kehidupan toleransi beragama dikalangan leluhur kita tentulah sangat tinggi. Ajaran Hindu -Budha masih sangat menyatu. Saya sendiri tidak heran mendengar keberadaan artefak itu, karena  bahkan hingga saat inipun doa seperti Om Nama Ciwa ya, Om Nama Budha ya – masih diucapkan di kalangan penganut Hindu. Apalagi di masa itu, para leluhur kita menganut Ciwa Budha.

Batu-batu kuno penyusun jalan ke gapura Ratu BokoSaat saya berkunjung, masih sedang dilakukan penggalian situs. Yang menarik perhatian saya  adalah kenyataan bahwa pada jaman itu leluhur kita sudah memiliki kebudayaan dan pengetahuan teknik dan arsitek yang sangat tinggi. Terlihat ketika lapisan tanah dikelupas, batu-batuan yang datar disusun sedemikian rupa membentuk jalan lebar menuju pintu gapura.

Gapura sendiri dibangun dalam dua lapis berbentuk paduraksa yang terbuat dari batu andesit. Pagar dibuat dari batu putih.  Saya memperhatikan sisa-sisa ukiran yang sudah aus di beberapa bagian gapura. Tidak jauh dari style ukiran yang biasa saya temukan di Bali. Tapi kelihatan memang sudah sangat tua sekali.

Tidak jauh dari gapura saya melihat bekas parit yang kering.Wah jaman itu saja parit sudah ada ya. *Saya jadi teringat dengan Jabodetabek yang parit alias selokannya kadang ada kadang tidak*.   Nah, di sini malah ditemukan bukan saja parit yang bagus, tapi juga  sumur suci yang disebut Amerta Mantana. Juga kolam pemandian. Saya melihat banyak orang sedang bekerja menggali kolam yang baru ditemukan itu. Tak ada lelahnya di bawah sinar matahari pagi namun sudah sangat terik itu. O ya, di sana saya mendapatkan keterangan bahwa biasanya penganut Hindu mengambil air sumur itu terutama menjelang hari raya Nyepi. Mereka mengambilnya dengan kendi lalu dibawa ke halaman Candi Prambanan tempat dilaksanakannya upacara Tawur Agung.

Candi Putih di Keraton Ratu Boko

Candi Putih di Keraton Ratu Boko

Di sebelah gapura ada Candi yang disebut dengan candi Putih.  Disebut demikian karena terbuat dari batu putih. Saya tidak tahu persis digunakan untuk apa Candi Putih itu.

Candi pembakaran di Keraton Ratu BokoSaya tertarik akan candi pembakaran yang posisinya berada di atas Candi Putih. Saya naik ke atas untuk melihat ada apa  dan bagaimana rasanya berada di atas.  Tidak ada apa-apa. Hanya sebuah lubang persegi di tengahnya. Saya tidak tahu persis gunanya untuk apa. Dinamai candi Pembakaran rupanya karena ditemukan abu bekas pembakaran di tempat itu. Hal ini mengakibatkan terjadi simpang siur dugaan apakah Candi ini sebenarnya tempat kremasi atau penyimpanan abu jenasah raja. Tetapi setelah diteliti kembali, ternyata abu yang ditemukan itu hanyalah abu kayu. Tidak ditemukan indikasi abu dari pembakaran tulang.  Jadi masih terbuka kemungkinan jika di candi itu juga dilaksanakan upacara api yang lain.

Karena kompleks itu sangat luas, dan kaki saya yang pernah keseleo mulai kambuh, maka untuk memudahkan bagi saya memahami lay out istana itu, maka saya memaksakan diri naik ke punggung bukit yang tak jauh dari Candi Pembakaran. Dari sini kelihatan lebih jelas, seberapa luas Keraton itu dan ada sisa bangunan apa saja yang tertinggal.

Bagus sekali pemandangannya dari sini. Walaupun sedih juga tidak bisa melihat dari dekat, setidaknya saya bisa melihat dari kejauhan reruntuhan Pendopo seperti yang ada di keterangan.

Yuk kita berkunjung ke Yogyakarta!. Cintai tanah air kita