Category Archives: Travelling

Drama Kecil Di Pesawat.

Standard

Saya hendak pulang kampung. Sedikit mepet waktunya, saya buru-buru masuk ke pesawat. Nomor kursi saya 4B. Ditengah. Sebetulnya agak kurang suka. Tapi apa boleh buat. Nggak punya pilihan lain.

Saya menyimpan ransel saya di kabin atas, lalu segera duduk. Saat itu seorang pria sudah duduk di kursi 4A di sebelah saya di pojok dekat jendela. Pria itu tersenyum ramah pada saya. Tetapi saat saya memasang Seat-belt saya, pria itu tiba tiba mencari-cari seat beltnya dan bilang jika saya sedang mendudukinya.

Sayapun membuka Seatbelt saya dan berdiri. Oh, ternyata memang benar, Seatbeltnya nyasar ke kursi saya dan tanpa sengaja saya duduki. Kok bisa ya?. Bukankah dia sudah duduk sejak tadi dan mengapa belum nemasang Seatbeltnya segera?.

Sebenarnya agak merepotkan, karena saya yang sudah pasang Seatbelt harus buka seatbelt lagi, berdiri dan kemudian pasang seatbelt lagi.Tetapi nggak apa apalah. Mungkin karena dia sedang sibuk chat di WA dengan keluarganya menjelang terbang. Hati baik saya memaklumi.

Sayapun duduk kembali dengan santai dan membaca majalah yang ada di saku kursi.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba “gedubukkk!!!”. Aduuuuh!!!. Sakiiit. Hape pria itu jatuh menimpa lutut saya, lalu jatuh ke lantai pesawat. Sayapun ikut mencari-cari di bawah, karena jatuhnya miring ke arah posisi saya. Jadi di bawah kaki saya.

Kok bisa ya?. Hapenya jatuh saat dia pakai. Saya cuma heran saja, karena tangannya kekar kan harusnya dia bisa pegang erat. Tapi okelah. Hati baik saya memaafkan perbuatannya itu yang lumayan membuat lutut saya sakit. Tentunya dia tidak sengaja.

Dalam perjalanan dari Jakarta ke Denpasar saya tidur. Tak terasa sebentar lagi mendarat menurut pengumuman. Mata saya masih mengantuk. Jadi saya meneruskan tidur.

Excuse me!” Terdengar suara dari sebelah. Saya kaget. Ooh… rupanya pesawat sudah hampir sepi. Orang orang sudah sebagian keluar dari pesawat. Sementara saya tertidur. Aduuuh…malunya. Mungkin sebenarnya ia pengen cepat keluar, tapi terhalang oleh saya. Mungkin saya telah membuatnya kesal juga.

Cepat-cepat saya bangun. Berdiri dan sambil mengantuk membuka pintu kabin di atas. Bermaksud mengambil ransel saya. Semoga hati baiknya memaafkan saya.

Terlihat sebuah ransel hijau di tempat tadi saya meletakkannya. Nah ini dia!. Saya mengambil ransel itu, pria yang duduk di sebelah saya itu berusaha membantu saya. Berat. Tapi saya memang masukan beberapa lembar pakaian, tas kosmetik, dompet, laptop dan chargernya. Tapi ranselnya sudah keburu saya turunkan sendiri dan saya letakkan di bangku “Ooh …lumayan baik hati juga dia rupanya” pikir saya.

Saya mencangklongkan ransel saya di punggung dan bersiap-siap mau jalan. Tiba-tiba gerakan saya ditahan pria itu. “This is my backpack!” katanya ke saya. Lho??.

Saya memandang ransel yang saya pegang baik-baik. Warnanya hijau tua. Masak sih ransel ini milik dia?. Bukannya punya saya ya?. Saya memandangnya lebih dekat lagi. Sejujurnya saya juga mulai ragu. Karena ransel yang saya bawa adalah milik anak saya. Sehingga saya nggak ingat pasti detailnya. Lalu saya mendongak. Mencari cari apa ada ransel lain di atas. Oh..syukurlah. Agak ke dalam masih ada sebuah ransel lagi. Warnanya juga hijau. Oh…mungkin itu milik saya. Saya tarik dan benar. Itu memang ransel saya. Sayapun menoleh pada dia dan meminta maaf lalu melangkah pergi. Ia tersenyum ramah pada saya. Semoga hati baiknya memaafkan kesalahan saya.

Sambil berjalan keluar pesawat saya merenung. Sungguh aneh kejadian ini. Dua kali ia melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggu saya dan dua kali saya melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggunya. Seperti saling membayarkan, walaupun tanpa sengaja. Karmaphala Cicih. Lunas ya?. Impasss!.

Untungnya saat ia melakukan perbuatan yang mengganggu, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Segera memaklumi dan memaafkan. Sehingga saat saya berbuat kesalahan tanpa sengaja, iapun tidak terlalu mempermasalahkan saya.

Sesungguhnya kita manusia tidaklah luput dari kesalahan setiap hari. Ketika ada orang lain berbuat kesalahan yang mengganggu kita, hendaklah kita segera memaklumi, memaafkan dan mengikhlaskan. Karena kita tak pernah tahu kapan kita melakukan kesalahan yang mungkin mengganggu orang lain.

Kesalahan Membeli Ticket Pesawat Online.

Standard

Bandara Ngurah Rai Denpasar.

Akhir pekan yang lalu saya pulang kampung ke Bali. Karena kesibukan, saya lupa jika saya belum sempat membeli ticket balik ke Jakarta. Hari Sabtu malam, adik bungsu saya bertanya, kapan saya mau balik ke Jakarta? Dan mengingatkan saya untuk membeli ticket agar harga tidak menjadi semakin mahal akibat waktu pembelian yang semakin mepet. Juga agar tidak keburu kehabisan ticket. Oh ya!.

Rencananya saya akan membeli secara on-line malam ini. Tapi hape lagi dicharge. “Sebentar lagi aja. Habis dicharge” kata saya. Adik saya lalu nyelonong ke kamarnya. Saya melanjutkan ngobrol dengan adik saya yang nomer tiga. Sebentar kemudian mata saya mulai terasa ngantuk, sayapun tertidur.

Jam 00 lewat 10 menit saya terbangun. Astaga!!. Saya belum beli ticket. Buru -buru saya mengambil hape saya.

Sambil ngantuk-ngantuk saya melakukan browsing di Skyscanner terlebih dahulu. Saya ingin mendapatkan ticket murah dari Denpasar ke Jakarta pada sekitar pukul 19.30 malam. Biar nggak terburu buru dan saya bisa lebih lama di rumah.

Saya mendapatkan calon ticket dari maskapai penerbangan Lion dari Denpasar ke Jakarta pada jam yang saya inginkan lewat Nusa Trip. Harganya 1 juta 400 ribuan. Ini oke lah. Lumayan murah dibanding Garuda. Setelah mengisi data data yang lengkap saya memproses pembayaran dengan kartu kredit. Jaringan berputar-putar dan tiba-tiba Ops!. Ticket sudah terjual habis.

Aduuh. Kecewa saya. Saya menyesali diri. Mengapa tadi saya tidak mendengarkan kata-kata adik saya agar membeli ticket lebih awal. Sekarang saya harus mengulang lagi melakukan browsing. Mencari jam penerbangan lain atau maskapai lain. Padahal mata saya masih terasa ngantuk.

Ooh… tapi ini tiba-tiba muncul suggestion untuk memilih penerbangan lain dari Tiket.com. Pop up di layar hape saya. Ada 2 suggestion. Yang pertama langsung menarik perhatian saya. Lion jam 19.45 dan harganya 840 ribuan. Lebih murah lagi. Aha!. Ini harga yang bagus dan jam yang bagus. Mengapa tidak nongol dari tadi aj ya?. Lalu sayapun meng-click pilihan penerbangan itu. Prosesnya cepat dan saya langsung membayar. Tidak seperti tadi. Done!. Selesai sudah 👏👏👏. Lega hati saya.

Karena masih terasa ngantuk, saya berbaring lagi sambil menunggu kiriman ticket lewat e-mail. Tak berapa lama akhirnya e-mail masuk. Konfirmasi ticket. Saya buka attachment-nya untuk memastikan ticketnya benar.

Astaga!!!!!. Ticketnya salah!. Route penerbangannya terbalik. Dari Jakarta ke Denpasar. Bukan dari Denpasar ke Jakarta seperti yang seharusnya. Waduuuuh…. ticket ini nggak bisa saya pakai. Bagaimana cara saya terbang dari Jakarta , padahal saya sedang ada di Bali???.

Seketika saya melek. Hilang ngantuk saya. Mengapa bisa begini ya????. Saya mencoba menelusuri kesalahannya. Karena jelas-jelas tadi saya mengetik tujuan Jakarta dari Denpasar. Kok bisa berubah?. Sedih sekali hati saya. Karena keteledoran saya duit 840 ribuan melayang begitu saja. Saya merasa berdosa karena sudah menghambur -hamburkan uang begitu saja. Padahal jika saya sedikit saja lebih berhati-hati, mungkin uang itu bisa saya manfaatkan untuk saya sendiri ataupun untuk kebutuhan orang-orang yang saya cintai.

Akhirnya saya menghubungi pihak Tiket.com, untuk membatalkan dan merefund ticket. Saya diberitahu bahwa tiket bisa dicancel, tapi maximum refund hanya 50%. Secara umum sih pelayanannya cepat dan baik. Cuma ya itu….. refundnya itu kok cuma 50% ya?. Sayang saja uang saya melayang 420 ribu hanya dalam hitungan menit akibat kesalahan saya sendiri.

Setelah itu saya mengulang membeli tiket lagi yang benar. Dapat tiket dengan harga yang lebih mahal dan jam yang lebih awal. Apa boleh buat.

Pelajaran yang saya petik adalah:

1/. Jangan pernah membeli ticket online di tengah malam, saat kondisi mata mengantuk. Karena dalam keadaan mengantuk, tingkat ketelitian kita menurun.

2/. Selalu lakukan pemeriksaan 2 x terhadap data data dan informasi tentang tiket yang kita beli (rute penerbangan, tanggal penerbangan, data penumpang, alamat email, harga, biaya yang dicover termasuk apa saja i.e bagasi, meals dst) sebelum membayar.

3/. Berhati -hati terhadap Pop-Up Promo ataupun informasi yang muncul di tengah proses booking. Pastikan baca informasi dengan baik dan detail termasuk tanggal penerbangan dan rute penerbangan. Jangan tergiur oleh harga murah saja.

Saya rasa, saya bermasalah di sini karena berasumsi bahwa rute penerbangan yang ditawarkan adalah sama dengan yang saya ketik sebelumnya. Padahal yang ditawarkan oleh Tiket.com adalah rute peberbangan lain dengan harga yang lebih murah.

4/. Pesan tiket jauh jauh hari sebelumnya untuk memastikan ketersediaan tiket dan harga yang baik.

Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Standard
Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Berada di rumah untuk urusan adat dan upacara yang super padat, membuat anak saya bertanya. “Kapan kita main, Ma?. Kan sudah di Bali???”. Whuala anakku……, pikirannya kalau ke Bali cuma liburan. Kita ini pulang kampung. Untuk menghadiri upacara adat keluarga. Bukan liburan.

Anak saya tampak kecewa. Untunglah seorang teman akrab mengajak bermain ke DeBrokong. Tempat wisata baru di Bangli. Seketika wajahnya tampak bersemangat lagi.

Seusai upacara berangkatlah kami ke sana. Lokasinya ada di desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Gampang sih mencarinya. Dari rumah saya sebenarnya sangat dekat. Cuma 15 menit.

Waaah…ternyata tempatnya asyik banget. Berada di kebun belakang dengan pemandangan sawah yang sangat indah. Hijau royo-royo. Di sana terbentang 5 Zip lines melintasi sawah kurang lebih berjarak 100 meter di atas ketinggian 7.5 meter hingga 9.5 meter.

Wahana Flying Fox tetapi dengan standard keamanan international. Waah…keren banget.

Terlihat ada sebuah anjungan di sana. Kelihatannya enak nih duduk-duduk di sini sambil ngopi.

Sementara saya memandang hamparan sawah sambil memperhatikan burung burung bangau yang terbang dan hinggap mencari makan di sawah, teman saya memesankan kopi dan Jaja Laklak (sejenis kue serabi dari tepung beras dengan topping kelapa parut dan disiram dengan gula merah cair yang rasanya sangat mantap). Jaja Laklak-nya sangat istimewa dan baru dibuat langsung. Jadi baru matang dan masih hangat. Enak banget. Sungguh. Selain itu teman saya juga memesankan kami Kacang Rebus. Whuesss… mantap banget buat teman nyantai dan nongkrong -nongkrong di sini.

Anak saya tidak sabaran untuk bermain di Zip lines yang kelihatan sangat menantang itu.

Melihat antusiasnya, I Dewa Gede Ngurah Widnyana, sang pengelola De Brokong pun tidak segan untuk turun tangan memberikan Safety Brief dan Teknik bermain yang benar pada anak saya. Saya ikut mendengarkan. Sangat detail dan hati hati di setiap tindakan yang diambil. Berkali-kali ia mengingatkan kepada anak saya agar selalu Focus dan Disiplin. Seketika saya paham.

Bedanya De Brokong dengan wisata outbond lokal yang punya flying fox lain adalah dari International Safety procedurenya yang diimplementasikan dengan sangat baik. Itu yang membuat saya sebagai orang tua merasa tenang akan keselamatan anak saya jika bermain di situ.

Menggelayut di Ziplines.

Ini adalah wahana yang paling menarik perhatian anak saya sejak pertama. Sekarang ia mulai memasang perangkat keamanannya. Dengan instruksi yang sangat jelas dari Dewa Gede.

Tapi ini di ketinggian dan anak saya akan meluncur di tali itu. Saya merasa sangat deg-degan. Nyaris nggak berani melihat. Hanya bisa berdoa untuk keselamatan anak saya. Melihat perangkat keamanan dan prosedurnya, akhirnya hati saya tenang kembali. Saya mulai bisa mengambil posisi untuk memotret anak saya.

Ia kelihatan tenang memindahkan cangklingannya dan menggenggam puley lalu…. zwiiiiiing…..ia pun meluncur di udara bebas. Oooh….. Tampak ia sangat menikmati perjalanan udaranya menuju tower di seberang dengan mulus. Ia pun mendarat dengan sukses di tower berbendera merah putih itu.

Setelah menikmati pemandangan sejenak dari tower di seberang, berikutnya anak saya kembali ke pangkalan dengan zipline yang berbeda.

Menurut teman saya, semua zipline akan landing dengan sempurna karena semua konstruksi dan pemasangan sudah menggunakan perhitungan fisika yakni derajat kemiringan dan mengandalkan grafitasi. Dengan demikian zipline sangat ramah lingkungan tanpa perlu bantuan daya listrik dan mesin penggerak. He he…benar juga ya.

Lalu bagaimana jika ternyata, entah karena gerakan kita yang salah ataupun penyebab lain kita nyangkut di tengah- tengah?. Tidak maju dan tidak mundur pula?. Jangan khawatir. Nanti akan ada petugas yang akan menjemput. Waah… keren ya.

Saya melanjutkan minum kopi, sementara anak saya masih terus ingin bermain…

Ginkgo Biloba, Sang Fossil Hidup.

Standard

Sudah lama saya menyukai tanaman ini. Bukan saja karena bentuk daunnya yang sangat indah seperti kipas Jepang, tetapi juga karena khasiat luarbiasanya yang banyak diceritakan orang.

Nah saat saya berkunjung ke Jepang, tanaman ini saya lihat sangat banyak tumbuh, baik di tepi jalan, taman -taman ataupun kuil-kuil. Sangat senang melihatnya. Maka saya ceritakan perihal tanaman ini ke anak saya.

“Apakah pernah mendengar atau membaca tentang Ginkgo?. Ginkgo Biloba?” tanya saya. Sangat ajaib, ternyata anak saya tahu tentang tanaman ini. “Tahu!. Yang bagus untuk memperbaiki memory, kan?” tanyanya. “Betul!. Nah, ini dia tanamannya“, kata saya menunjuk sebatang pohon Ginkgo Biloba. Anak saya sangat bersemangat melihat lihat daun Ginkgo yang cantik dan hijau segar, seolah-olah pengen ngelalapnya segera.

Ginkgo Biloba, adalah satu satunya spesies hidup yang tersisa dari keluarga Ginkgophyta, yang sudah ada semenjak jaman Jurasic. Dalam dunia kesehatan. extract daun Ginkgo dipergunakan dalam menangani berbagai kondisi gangguan memori, cardiovascular ataupun gangguan penglihatan.

Ketika memasuki halaman Osaka Castle, di Osaka, saya juga menemukan beberapa batang Ginkgo Biloba yang sedang berbuah. Nah…kesempatan lagi untuk mengajak anak saya mengamati amati buah Ginkgo. Buahnya bulat lonjong berwarna hijau dengan biji tunggal di dalamnya.

Tombori River Walk Experience.

Standard

Hari berikutnya di Osaka, kami berniat mencoba tour sungai dengan arah yang berbeda dan lebih jauh dari yang pernah kami alami di Dotonburi. Nah, ketemulah paket wisata sungai “Tombori River Walk”. Karena kami memiliki Osaka Pass, maka kami datang ke tempat di mana kami bisa mendaftar. Tempatnya di pinggir sungai di dekat jembatan Nipponbashi.

Rupanya kami tiba terlalu pagi. Tempat mendaftar itu masih sangat sepi. Nyaris tak ada orang. Hanya keluarga kami saja. Tapi tempat ini indah sekali. Ada tempat duduk -duduk di situ.

Saya masuk ke sebuah warung kecil yang satu satunya buka pagi itu. Oh, rupanya kami bisa book ticket di sana. Diinformasikan bahwa perahu akan tiba pukul 11.00 . Kamipun menunggu sambil duduk duduk dan minum jus.

Pukul 11 benar saja perahu tiba. Kami akan menyusuri sungai menuju dermaga yang dekat dengan Osaka Castle.

Perjalananpun di mulai.

Saya memandang ke kiri dan ke kanan sungai. Banyak gedung gedung dan bangunan lain. Juga bunga bunga yang cantik.

Sungai di sini sangat bersih. tak ada satupun sampah mengambang. Kesadaran warga akan kebersihan sangatlah tinggi. Tak ada satu orangpun yang membuang sampah sembarangan.

Sesekali burung air bermain di tepian sungai.

Apa yang menarik dari perjalanan ini?. Selain pemandangan yang indah, saya memperhatikan jika pemerintahan di Osaka ini sungguh sangat efisien dalam soal tata ruang. Contohnya, memanfaatkan sungai untuk jalur wisata / transportasi sungai, dan diatasnya sekalian ditumpangi dengan jalan raya dan atau rel kereta. Sehingga sarana transportasi tidak banyak memakan space.

Hal bagus lainnya adalah adanya pintu pintu sungai.

Saat menyusuri sungai ini, perahu tiba tiba berhenti. Oooh… mengapa?. Rupanya ada sebuah rintangan di depan. Mirip tembok atau bangunan memanjang yang menutup sungai. Terpaksa kami parkir dulu beberapa menit, menunggj pintu air itu dibuka pelan-pelan. Barulah kapal yang kami tumpangi bisa lewat. Setelah kami lewat, pintu air itu menutup kembali.

Sebenarnya saya tidak tahu persis apa gunanya pintu air ini. Saya pikir mungkin ada hubungannya dengan pengaturan volume air. Tapi apapun itu, saya rasa bagus juga untuk membantu operasi pengawasan lalu lintas sungai. Misalnya nih, jika ada seorang penjahat kabur lewat sungai, maka pintu air ini bisa dimanfaatkan untuk nencegat perjalanan si penjahat (he he…ini mungkin efek kebanyakan menghayal 😀😀😀).

Kami terus berperahu hingga sampai di dermaga yang tak jauh dari stasiun Osaka-jokoen dekat Osaka Castle.

Hokoku Shrine di Osaka.

Standard

Di seberang pintu gerbang Osaka Castle, terdapat sebuah Shrine yang menarik hati saya. Kelihatan sangat simple dan elegan. Rasanya mengundang saya untuk masuk.

Di tengah halaman terdapat patung seorang samurai dengan pedangnya. Rupanya itu adalah Toyotomi Hideyoshi.

Jadi Shrine atau tempat suci ini memang didedikasikan husus untuk Toyotomi Hideyoshi.

Ragam Bunga Pecah Seribu di Negeri Sakura.

Standard

Jepang, sangat terkenal dengan bunga Sakuranya. Saat musim bunga, berbondong- bondong tourist datang untuk menyaksikan keindahannya. Saat saya berkunjung, Sakura telah berhenti berbunga. Bunganya telah gugur dan sebagian menjadi buah cherry kecil kecil. Pertanyaannya, jika bunga Sakura telah gugur apakah tak ada bunga lain yang menarik lagi di Jepang?.

Jawabannya tentu banyak. Setidaknya ada 2 jenis bunga lagi yang sangat dominant di lanskap taman-taman di Jepang, yakni Azalea dan Hydrangea alias Bunga Pecah Seribu.

Di Indonesia kita bisa menemukan Kembang Pecah Seribu ini di berbagai area berudara dingin, seperti misalnya Malang, Puncak, Bedugul, Dieng dan sebagainya. Jenis yang umum di Indonesia adalah yang berwarna biru (paling banyak) , warna pink (jarang).

Nah, saat bermain ke Jepang, saya menemukan banyak sekali jenis jenis Bunga Pecah Seribu. Warnanya memang seputaran biru, pink dan putih, tetapi variantnya ternyata banyak sekali.

Ini adalah sebagian variant bunga Pecah Seribu dalam berbagai warna biru. Semuanya dalam gradasi warna biru. Tapi ada yang biru keputihan, biru kehijauan, ada yang biru keunguan, ada yang biru murni. Lalu ada yang binganya bergerombol, ada yang menyendiri, dan bahkan ada juga yang mempunyai putik dan benang sari terpisah. Orang Jepang mrnyebutnya dengan Hidrangea Pegunungan. Sungguh sangat cantik-cantik.

Ada juga yang berwarna pink. Dan berbagai varisnt warna pink. Sungguh cantik cantik. Pengen rasanya bawa ke Indonesia.

Dan yang baru saya lihat adalah variant yang berwarna putih. Inipun beragam juga. Ada yang benang sarinya benar benar putih, ada yang biru dan ada juga yang campuran.

Kisah Kekuasaan Dan Perang di Osaka Castle.

Standard
Kisah Kekuasaan Dan Perang di Osaka Castle.

Seringkali saat membuka sosial media, kita disuguhin iklan travel agent “Terbang murah ke Osaka “, lengkap dengan gambar sebuah kastil berwarna hijau, yang terlihat sangat artistik dan ikonik. Nah kastil digambar itulah yang bernama Osaka Castle yang terkenal itu.

Karena Osaka Castle ini merupakan ikonnya kota Osaka, rasanya saya sangat rugi jika tidak mengunjunginya saat berada di kota ini. Jadi pagi pagi dan dengan semangat tinggi kami pun berangkat ke sana dengan menggunakan train ke stasiun Tanimachi Yonchome dan berjalan kaki ke Osaka Castle yang tidak terlalu jauh dari sana.

Saat kami tiba, matahari masih belum terlalu tinggi dan tidak terlalu menyengat. Kami masuk dengan mudah karena menggunakan kartu pass paket yang dibelikan keponakan saya sehari sebelumnya.

Osaka Castle tampak megah menjulang dengan kombinasi warna putih dan genteng hijau , dengan ornamen warna emas di sana sini. Di lantai atas terlihat gambar macan emas dengan latar belakang warna hitam yang menjadi ciri khas istana ini.

Setelah mengantri sejenak, saya memutuskan untuk menaiki tangga secara manual daripada menggunakan eskalator. Bukan karena sok kuat menaiki tangga istana yang tinggi ini, tetapi saya ingin menikmati apa yang disuguhkan di setiap lantai istana ini. Walaupun tidak semuanya bisa saya ambil fotonya karena di beberapa tempat ada larangan menggunakan kamera.

Osaka Castle dibangun pada tahun 1583 oleh Toyotomi Hideyoshi, seorang Damyo yang sangat mashyur pada jamannya. Istana terditi dari sebuah bangun bertingkat yang berdiri di atas pondasi batu, dikelilingi oleh parit penuh air untuk menghalangi musuh agar tidak mudah menyerang.

Menutut catatan, istana ini pernah hancur saat diserang oleh Tokugawa Ieyasu pada tahun 1615 yang sekaligus mengakhiri kekuasaan garis keturunan Toyotomi di Jepang. Dan digantikan oleh Trah Tokugawa.

Namun 5 tahunnya kemudian (1620), putra Tokugawa Ieyasu yang bernama Tokugawa Hidetada memperbaiki kembali istana ini, namun sayangnya, menara istananya tersambar petir pada tahun 1665. Dan tampilan istana seperti yang bisa kita lihat hari ini sesungguhnya adalah hasil renovasi pada tahun 1997, di mana istana ini sekarang sudah dilengkapi dengan eskalator dan dijadikan museum yang dibuka untuk publik.

Saya yang memilih untuk naik ke atas lewat tangga biasa menemukan berbagai hal menarik mulai dari lantai dasar.

1/. Lantai Dasar.

Di sini saya melihat ada information center dan toko cinderamata.

2/. Lantai Dua .

Berisi fakta-fakta dan figur tentang Osaka Castle.

Begitu tiba di lantai dua, kami disuguhi pemandangan seekor Macan emas (Fusetora) dan seekor ikan lumba lumba emas legendaris ( Shachi). Dua mahluk ini kelihatannya penting artinya vagi istana Osaka, sebab digunakan juga sebagai hiasan di atap dan dinding atas istana dan bisa dilihat dari luar istana.

Dilantai ini juga dijelaskan tentang sejarah Osaka Castle.

3/. Lantai Tiga.

Ini adalah lantai yang dimana penggunaan kamera dilarang. Isinya adalah pameran benda benda peninggalan kerajaan dan peralatan perang. Jenis jenis anak panah, pedang samurai, tempat anak panah, penutup kepala kuda dan sebagainya.

Ada juga model dari Osaka Castle.

4/. Lantai Empat.

Sama halnya dengan lantai 3, di lantai 4 ini pun kami dilarang memotret. Berisi tentang Hideyoshi Toyotomi pada jamannya. Ada artifak artifak yang dipamerkan. Ada pakaian perang yang saya rasa sangat berat jika dipakai.

Lalu informasi tentang Osaka Castle Hystory – saat direkonstruksi oleh Shogun Tokugawa.

5/. Lantai Lima.

Di lantai ini saya menemukan kisah kekuasaan trah Toyotomi sejak Osaka Castle ini berdiri, hingga trah Tokugawa yang berkuasa silih berganti hingga lebih dari 200 tahun. Panjang juga ya.

Disini dipertontonkan ” The Summer War in Osaka” lewat panorama vision. Menceritakan peperangan sengit antara pasukan Yukimura Sanada dan Tadanao Matsudaira. Nah… siapa pula ini?.

Lalu ada juga diagram bendera bendera pasukan mana berperang dengan mana. Tambah bingung saya ha ha.

Saya yang sesungguhnya tidak menyukai perang dan sangat tidak tertarik akan perang, sungguh sangat sulit untuk mencerna kisah pilu ini. Jadi saya lewati saja, walau hati saya kepalang teriris memikirkan pedihnya perang.

6/. Lantai Enam.

Tidak terbuka untuk umum.

7/. Lantai Tujuh.

Isinya diorama tentang kehidupan Hideyoshi Toyotomi yang membangun Osaka Castle dan berhasil menyatukan bangsa Jepang.

Lalu ada Osaka Castle History saat periode Ishiyama Honganji.

8/. Lantai Delapan.

Ini adalah Observation Deck. Dari ketinggian lantai 8 istana ini (kurang lebih 50 meter di atas tanah), kita bisa melihat pemandangan luar istana Osaka beserta pait paritnya. Dan juga di kejauhan keseluruhan kota Osaka yang indah.

Naik ke lantai ini ternyata lumayan gempor juga. Tapi senang juga karena melihat ada banyak cerita sejarah yang bisa saya cerna dari istana ini.

Yam Seng Dalam Pernikahan Adat Cantonese.

Standard

Saya baru pertama kalinya menghadiri pernikahan adat Cantonese. Ini terjadi beberapa hari yang lalu, di mana kebetulan seorang teman menikah dan saya diundang datang ke pestanya di sebuah restaurant di Damansara, Kuala Lumpur, Malaysia.

Awalnya saya menyangka pesta ini biasa saja , yang isinya makan-makan dan hiburan biasa. Tapi kemudian ada yang menarik dan unik serta belum pernah saya lihat dalam pesta pesta pernikahan yang pernah saya hadiri, di mana MC meminta kita untuk melakukan Yam Seng. Yakni bersulang dan meneriakkan kata “Yaaaaaaaaaaaaaaam” dan ” Seng” sebanyak 3 x.

Setelah itu kedua pemgantin mendatangi meja undangan satu per satu dan melakukan Yam Seng lagi masing masing sebanyak 3x dan berkompetisi kencang kencangan dan panjang panjangan seruannya. Nah…kebayang nggak jika di restaurant itu ada 50 meja (saya tidak tahu persis berapa jumlahnya, bisa jadi lebih dari 50 meja) dan masing masing meja terdiri atas 10 orang…terbayanglah ya, bagaimana ramenya. Ha ha… seru juga.

Karena unik banget, maka sayapun bertanya itu acara apa. Rupanya Yam Seng adalah adat Cantonese yang umum dilakukan untuk mendoakan kebahagiaan penganten, agar terus langgeng dan cepat punya momongan.

Yam Seng biasanya dilakukan dengan meneriakkan kata “Yaaaaam” sepanjang panjangnya. Lalu ditutup dengan ” seng” yang pendek. Dilakukan 3 x dengan tujuan sebagai berikut:

1. Mendoakan kebahagiaan pengantin agar langgeng terus hingga akhir hayat.

2. Mendoakan pengantin agar cepat punya anak.

3. Ucapan terimakasih dan mendoakan tamu- tamu undangan yang hadir agar juga selalu bahagia dan sukses.

Sungguh budaya yang sangat baik. Karena baru kali ini saya mendengar pihak tuan rumah menyelipkan doa untuk tamu undangan. Biasanya paling ucapan terimakasih biasa, bukan doa khusus seperti itu. Biasanya doanya hanya untuk pengantin saja.

Waaah… luarbiasa ya.

Dotonburi di Malam Hari.

Standard

Sepulang dari Nara, kami memutuskan mencari makan malam di Dotonburi. Sebuah area yang sangat gemerlap dengan lampu lampu neon warna warni yang sangat ramai dikunjungi tourist.

Di tempat ini sangat banyak tersedia restaurant ataupun tempat rempat jajan yang enak enak dengan harga yang juga terjangkau. Setelah malam itu, kami juga datang ke Dotonburi beberapa kali lagi saat kami tinggal di Osaka.

Malam itu keponakan saya mengajak makan sushi. Tetapi sebelum ke tempat Sushi kami mampir dulu di toko yang menjual Takoyaki. Astaga !!!. Ramainya minta ampun. Orang orang berjubel mengantri makanan yang terbuat dari daging gurita itu.

Ditambah lagi dengan tumpukan orang yang mengantri naik kapal, jalanan di tepi sungai itu semakin sulit dilewati.

Untungnya anak dan keponakan saya memang sangat doyan Takoyaki, sehingga cukup bergunalah kami mengantri lama di situ.

Setelah puas mencicipi Takoyaki, kami lalu berjalan jalan di sepanjang Dotonburi, naik jembatan dan melihat seorang seniman yang bermain musik dengan menggunakan sepedanya. Sungguh kreatif. Ada ada saja idenya.

Puas berjalan jalan, kami pun mengantri makan malam di tempat orang jual Sushi. Aduuuh… antriannya panjang banget. Mana gerimis turun pula. Tapi sushinya enak dan memang agak murah harganya.

Di lain hari kami ke Dotonburi juga untuk ikut River Cruise. Pengen nikmati wisata sungai saja. Dotonburi cruise ini muter mulai dari Nippon-bashi hingga Ebisubashi. Senang juga menikmati pemandangan lampu lampu gedung dan toko serta restaurant di pinggir sungai yang menyala berwarna warni indah.

Kebetulan banget pas kami ikut River Cruise itu, kami bertemu dengan orang Indonesia yang bernama Maya asli berasal dari Bogor yang bekerja menjadi leader di kapal Cruise. Senangnya bukan main. Mbak Maya ini rupanya kuliah juga sambil kerja di kota ini. Waah….salut saya sama Mbak Maya ini. Semoga sukses selalu ya Mbak.