Category Archives: Travelling

Liburan Di Bali: Penglipuran.

Standard
Liburan Di Bali: Penglipuran.

Jalan-jalan lagi. Mumpung masih libur. Kemana lagi? ” Ke mana saja, yang penting jalan” kata anak saya. O ya, kita ke Penglipuran saja ya. Selain tempatnya sangat dekat dari rumah (paling 10 menit), juga saya dikasih tahu jika hari itu adalah hari terakhir “Penglipuran Village Festival 2017”. Festival yang berlangsung selama 2 minggu ini dipenuhi dengan agenda kesenian yang padat, mulai lomba tari, barong, peragaan busana dan sebagainya. Juga ada pameran kerajinan. Wah…harus kita kunjungi ini.

Baiklah, kita jalan-jalan ke Penglipuran ya. Sebelumnya saya sudah pernah mengajak anak-anak ke sini. Tapi mungkin karena waktu itu mereka masih kecil-kecil, sudah agak lupa lagi. Karenanya, kembali saya mengulang sedikit cerita tentang keistimewaan desa ini dibanding desa-desa lainnya di Bali. Desa ini masih mempertahankan tradisi aslinya dengan relatif sangat kuat, termasuk arsitektur dan penataan ruangnya yang srjalan denfan konsep Tri Hita Karana, sehingga jika kira ingin melihat potret desa-desa di Bali jaman dulu, kurang lebih mirip seperti tampilan Desa Penglipuran inilah kira-kira.

Selain itu di desa Penglipuran juga terdapat Taman Makam Pahlawan pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia hingga titik darah penghabisan.

Kami tiba di sana saat gerimis mereda. Matahari mulai menyembul malu malu. Membuat siang itu terasa cukup sejuk dan nyaman untuk jalan jalan.

Kali ini kami masuk dari bagian ujung atas desa. Baru tahu kalau di sini sekarang ada tempat parkir dan puntu masuk. Biasanya dari tengah. Lama tak pulang, jadi agak kurang update nihπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Saya membayar ticket masuk untuk 6 orang. Pengunjung sangat ramai. Kebanyakan wisatawan domestik dan berbaur dengan beberapa wisatawan asing juga. Nah kalau begini sulit percaya bahwa letusan Gunung Agung membuat jumlah kunjungan ke Bali berkurang. Wong ramenya kayak gini…

Tapi logika saya tempat-tempat wisata yang kenyataannya kebanyakan berada di luar radius 12 km dari Gunung Agung harusnya memang tidak kena pengaruh sih. Kan jauh banget jaraknya dari Gunung Agung. Pastinya aman dari dampak letusan.

Saya menunggu spot jalanan yang sedikit kurang rame agar bisa merekam kerapian dan kecantikan desa ini.

Kami menuruni jalanan yang bertingkat. Melihat lihat rumah-rumah penduduk dan jalanan yang tertata rapi dan nyaris seragam.

Bersih dan permai sekali desa ini. Bunga-bunga beraneka warna bermekaran mengundang puluhan kupu-kupu berbagai jenis berdatangan. Desa yang indah seperti dalam taman. Kedamaian yang tercermin dari kehidupan penduduknya yang memang tentram dan damai. Inilah Pedesaan Bali.

Beberapa rumah terlihat memajang barang dagangan berupa minuman khas daerah Bangli, yakni Loloh Cemcem dan Loloh Bungan Teleng serta Kue Kelepon. Kangen akan Loloh Cemcem, sayapun membeli sebotol. Kebetulan haus juga.

Dari sana kami kemudian melihat-lihat pameran. Ada banyak stand di sana menawarkan berbagai rupa barang. Mulai dari perhiasan, gelang, kalung, keben, sandal, sabun, makanan, pakaian, dan sebagainya, hingga stand merk kendaraan pun ada. Anak saya yang kebetulan suka musik tiup, melihat ada suling bambu dijajakan juga di sana dengan harga yang sangat masuk akal. “Mau beli yang ini. Karena saya belum punya yang model begini” kata anak saya sambil membayar. Iapun mencoba suling barunya dengan penuh ingin tahu.

Saya sendiri dan kakak saya tertarik untuk melihat-lihat di sebuah stand buku. Anak saya yang besar menyusul. Ada banyak buku-buku yang sulit saya temukan di toko -toko buku di Jakarta. Whuah… borong buku sajalah kalau gitu. Mumpung lagi ada di Bali. Bagi saya ini harta yang lebih berharga. Dan saya selalu berpikir tak pernah merugi jika uang habis dibelikan buku. Gara gara beli buku banyak, pak pedagang yang hatinya senang lalu memberi kami potongan harga dan mengajak selfie πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Sebenarnya saya ingin membeli keben dan antri karena melihat pedagang yang cantik sedang melayani pembeli yang lain, tapi karena kemudian anak saya yang kecil berbisik lapar, saya jadi lupa deh mampir lagi ke sana.

Seorang kawan kakak saya yang bertemu di sana, mengajak kami mencoba Be Jair Nyatnyat, masakan khas Bangli dengan ikan mujair Danau Batur. Benar. Sungguh enak masakannya. Bumbunya pas.

Mantap deh. Sayang sekali kami tak sempat menonton pertunjukan ataupun lomba yang berlangsung di sana. Mudah-mudahan tahun depan saya bisa pulang lebih lama lagi dan bisa ikut menonton Penglipuran Village Festival 2018, mengingat ini adalah ajang budaya tahunan bagi Bangli.

Terlepas dari seberapa suksesnya ajang “Penglipuran Village Festival” ini (saya tidak punya informasinya), saya pikir ini adalah salah satu bentuk event yang sangat baik untuk memasarkan pariwisata Bangli, terutamanya jika kita bisa memanfaatkan media dan digital dengan baik dan mencari cara agar para netizen ikut bergabung men”generate” content pemasaran tentang Penglipuran.

Hanya satu pertanyaan saya dalam hati, mengapa festival ini ditutup tanggal 30 December ya? Mengapa tidak tanggal 3 Januari saja misalnya? Bukankah pada tanggal tanggal setelah tgl 30 December itu kunjungan wisatawan justru meningkat karena kita tahu banyak orang datang ke Bali untuk bertahun baruan? Tanggung amat yak?. Padahal dari sudut pandang pemasaran, sisa 4-5 hari itu adalah “low hanging fruits” yang sangat mudah dipetik.

Di dalam pikiran saya nih, ada dua pilihan waktu untuk mengoptimalkan kunjungan wisatawan ke Penglipuran Village Festival.

Pilihan pertama adalah “ride on” waktu liburan yang memang biasanya dibanjiri wisatawan. Misalnya liburan sekolah, atau liburan tahun baru. Jangan ditutup sebelum tanggal 3 Januari misalnya. Sehingga kita bisa mengalihkan kunjungan wisatawan ke Penglipuran dengan lebih banyak. Karena selain wisata biasa mereka juga bisa melihat festival tahunan di Penglipuran. Ini memberi nilai kunjungan plus plus bagi wisatawan.

Pilihan kedua, adalah justru memanfaatkan “low season”, di musim dimana jumlah kunjungan biasanya menurun. Manfaatkan Festival sebagai daya tarik extra untuk membuat Desa Penglipuran “always on” dari sudut pandang wisatawan.

Atau jika dua pilihan itu tidak cocok, sekalian saja deh diselenggarakannya dalam rangka Hari Pahlawan. Kalau yang ini tentu tidak optimal dari sisi bisnis, tapi tetap baik dari sisi kebangsaan.

Ah… ini hanya pikiran saya saja yang tidak tahu persis latar belakang dan pertimbangannya. Tapi saya percaya panitia dan pemerintah desa/daerah tentu sebelumnya telah memikirkan tentang waktu pelaksanaan ini dengan baik. Dan apapun itu, pokoknya saya sudah senanglah dapat berkunjung lagi ke Penglipuran.

Love you, Penglipuran!. Semoga Bangli makin sukses dari tahun ke tahun!.

Advertisements

I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

Standard
I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

The Man Behind The Gun!. Tentu istilah itu tidak asing bagi kita semua. Yap!. Orang bilang, sukses tidaknya sebuah karya, tergantung dari siapa orang yang berada di baliknya. Saya setuju sekali dengan itu, karena melihat kenyataan banyak sekali usaha yang tadinya biasa biasa saja, ketika ditangani oleh orang tertentu yang memiliki kemampuan managerial sangat tinggi, maka usaha itupun menjadi maju dan sukses.

Beruntung sekali saya mendapat kesempatan bertemu dan berbincang dengan Bapak Ketut Mardjana saat beberapa hari yang lalu saya dan anak-anak bermain ke Toya Devasya, salah satu obyek pariwisata yang sedang naik daun di tepi danau Batur, di Bali. Pak Ketut adalah orang yang berada di balik kesuksesan tempat pariwisata Natural Hot Spring di tepi danau Batur ini.

Sebetulnya Toya Devasya sendiri sudah cukup lama berdiri. Kalau saya tidak salah ingat, mungkin sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Akan tetapi, perkembangan pesat baru hanya terjadi 2 tahun belakangan ini saat Pak Ketut terjun langsung menanganinya sendiri, setelah beliau pensiun.

Beliau melakukan banyak sekali perombakan, memperbaiki konsep, membangun corporate culture, mempertajam cara pemasaran, memperkuat network dan terus berinovasi untuk memastikan kesuksesan Toya Devasya. Untuk saat sekarang, menurut Pak Ketut selama weekdays saja jumlah rata-rata kunjungan per hari ke Toya Devasya mencapai sekitar 500 orang, di mana setengahnya terdiri atas wisatawan domestik dan setengahnya wisatawan asing. Jika weekend atau musim liburan, kunjungan bisa meningkat dua kali lipat dari biasanya. Selama liburan menjelang akhir tahun ini, jumlah pengunjung bahkan mencapi 1500 an orang, dan pengunjung saat weekdays berkisar 500- 700 orang per hari.

Wah… lumayan banyak juga ya. Penasaran dong saya jadinya, bagaimana cara beliau mengelola usahanya ini.

Beliau dan istri menemani saya ngobrol tentang Toya Devasya sambil makan rujak pada sebuah senja yang indah di tepi danau Batur.

Toya Devasya sebagai sebuah brand.

Bagi seorang pebisnis, brand atau merk tentu merupakan aset utama yang harus ditangani dengan hati hati – bahkan namanya pun tetap harus dipikirkan dengan baik. Toya Devasya, sebagai sebuah brand pariwisata, diciptakan Pak Ketut dengan menyerap element yang membangun tempat wisata itu sendiri yakni air (Toya).

Dulu, di tempat di mana Toya Devasya sekarang berdiri, terdapat mata air suci panas yang diyakini penduduk sekitar sebagai anugerah Tuhan (Devasya) memberikan efek penyembuhan dan pengobatan berbagai penyakit bagi orang yang percaya dan memohon kesembuhan. Jadi Toya Devasya (namanya mirip bahasa Jepang – kata teman saya lho), artinya dalam bahasa Bali / Sanskerta adalah Air Anugerah Tuhan.

Saat ini pada kenyataannya, kolam renang /swimming pool dengan air panas dari mata air alami ini adalah penyumbang terbesar pemasukan tempat wisata ini. Walaupun pengunjung banyak juga yang datang untuk menikmati fasilitas lain seperti spa, villa, restaurant, camping, hiking dan sebagainya. Menurut Pak Ketut saat ini Toya Devasya telah memiliki 6 kolam renang air panas, satu diantaranya Olympic size. Dua diantaranya berada tepat di sebelah danau. Walaupun sudah ada 6, namun pengunjung tetap ramai dan Pak Ketut berencana menambahkan 2 kolam renang baru lagi. Jadi nantinya akan ada 8 kolam renang. Sebuah strategy yang sangat briliant dengan tetap berfokus pada wisata air yang merupakan “bread & butter”nya Toya Devasya.

Gajah di Toya Devasya dan Filosofinya.

Secara berseloroh saya bertanya kepada Pak Ketut, mengapa sih ada banyak gajah di mana mana di Toya Devasya?. Gajah duduk, gajah berdiri, gajah berbaring, gajah mina, dan sebagainya. Pokoknya semuanya gajah. Apakah ada alasan khusus?.

Pak Ketut tertawa waktu saya menanyakan ini. Tentu ada alasan khususnya.

Pertama, kata Pak Ketut, gajah adalah lambang dari Ganesha, manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya membebaskan manusia dari segala aral yang melintang.

Alasan lain, gajah memiliki kebaikan-kebaikan yang patut ditiru oleh manusia. Contohnya?

Gajah memiliki telinga yang lebar, mengajarkan kita untuk selalu mendengarkan dengan baik, apa apa saja kebutuhan konsumen, apa keluhannya dan sebagainya sehingga kita bisa memberikan produk atau jasa yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Mulut gajah kecil, mengajarkan kita untuk tidak rakus. Mengambil seperlunya dan tetap menyisakan untuk yang lain. Gajah juga memiliki mata yang kecil dan tajam, mengajarkan kita untuk tetap fokus dan tidak ngawur. Gajah memiliki belalai yang panjang untuk menghirup air dan menyemprotkannya ke alam sekitar, mengajarkan manusia untuk hidup mencari rejeki bukan hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga agar berguna bagi orang orang dan masyarakat sekitar. Dan perut gendut gajah adalah lambang kesuksesan dan kebesaran, pak Ketut berharap semoga Toya Devasya bisa terus berkembang dan makin besar dari tahun ke tahun. Aiiiih… keren banget penjelasannya Pak Ketut ya.

Ungu adalah lambang spiritualitas.

Terus kalau warna ungunya ada penjelasannya juga nggak, Pak?. Ya!. Rupanya segala sesuatunya memang sudah dipikirkan oleh Pak Ketut sebelumnya. Warna ungu ternyata adalah warna spiritual. Orang Bali percaya, ungu adalah warna cakra yang terletak di ubun-ubun yang merupakan lokasi tertinggi pada tubuh manusia. Dan orang-orang yang memiliki warna aura ungu diyakini memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Jadi warna ungu dipilih oleh Pak Ketut bukan karena sebuah kebetulan.

Tempat Selfie di mana-mana.

Sebagai marketer yang peka, Pak Ketut sangat paham bahwa branding sangatlah penting. Beliau berhasil menangkap trend dan insight para netizen yang suka selfie dan mengupload foto ke media sosial. Pak Ketut memanfaatkannya untuk memperkuat branding Toya Devasya, dengan cara membangun pojok-pojok dan point point menarik untuk selfie. Dan…tentu saja super sukses!. Banyak sekali netizen yang mengupload foto selfie dengan latar belakang Toya Devasya seperti contoh foto di atas ke media sosial tanpa diminta. Jadi apa yang disebut oleh pak Ketut bahwa pasar sendirilah yang memasarkan Toya Devasya itu benar adanya. Sehingga tak heran jika sekarang Toya Devasya menjadi sangat memasyarakat. Terkenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Ah….sungguh seorang praktisi pemegang brand yang sangat handal!. Saya jadi banyak belajar ilmu memasarkan dari beliau ini.

Corporate Culture.

Sayapun larut dalam pembicaraan yang semakin menarik tentang organisasi, networking dan pemasaran hingga tentang Corporate Culture dari Toya Devasya yaitu CINTA KASIH.

Rupanya “Cinta Kasih” adalah singkatan dari 10 hal yang dijadikan budaya untuk setiap orang di Toya Devasya.

C = Customer Focus. Karyawan dituntut agar selalu focus untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Memahami kebutuhan konsumen dan berupaya keras untuk memenuhinya.

I = Integrity. Setiap karyawan dituntut untuk mendemonstrasikan integritas yang tinggi bagi diri sendiri maupun organisasi. Jujur dan komit. Mengatakan dengan jujur apa yang dilakukan atau diketahui dan berkomitment tinggi untuk melakukan apa yang telah dijanjikan akan dilakukan.

N = Networking. Pak Ketut sangat memahami betapa pentingnya networking dalam kesuksesan sebuah usaha. Untuk itu beliau sangat rajin memperluas jaringan, mebangun hubungan baik dan memanfaatkan jaringan yang ada sebagai perpanjangan tangan pemasaran.

T = Teamwork. Tan hana wong sakti sinunggal” kata Pak Ketut Mardjana. Saya terdiam sejenak. Tapi bener!. Tak ada orang yang bisa hebat sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita tak bisa bekerja sendiri. Harus saling bahu membahu dan bekerja sama untuk mencapai kesuksesan bersana.

A = Accountable. Pak Ketut juga mengharapkan agar setiap orang dalam organisasinya bisa diandalkan dan bertanggungjawab atas pekerjaannya.

K= Knowledge. Karyawan diharapkan selalu mengasah diri, meningkatkan pengetahuan dan skillsnya.

A= Adaptive. Perubahan dunia yang sangat cepat juga menuntut karyawan untuk selalu mampu beradaptasi dengan setiap perubahan.

S = Spiritual. Walaupun aktifitas nyata yang dilakukan adalah kegiatan wisata, nsmun Pak Ketut tak melupakan unsur spiritual di dalamnya. Bahkan tak segan Pak Ketut pun memugar mata air panas suci dan menyediakan tempat melukat (menyucikan diri) bagi umat yang memang mau datang ke sana untuk tujuan itu.

I = Innovative. Seperti halnya di kategori apapun, konsumen sangatlah gampang bosan dan selalu mencari sesuatu yang baru. Apalagi ya yang baru sekarang? Nah, untuk itu Pak Ketut juga memastikan Toya Devasya selalu hadir dengan sesuatu yang baru setiap saat. Mulai dari kolam renang, lalu merambah ke restaurant, terus berlanjut ke villa, jumlah kolampun nambah, lalu bikin coffee house, camping, spa dan terus dan terus. Jadi selalu saja ada yang baru di Toya Devasya sehingga konsumen tidak bosan untuk datang dan datang lagi.

H = Harmony. Pak Ketut juga memastikan bahwa semua hal yang dijalankan agar berjalan dalam keseimbangan. Baik secara internal di Toya Devasya, maupun dengan lingkungan sekitarnya.

Pembentukan corporate culture yang baik, akan membangun organisasi yang professional, cepat berkembang dan tahan banting walau dalam kondisi apapun.

Nah…lumayan banget kan. Duduk hanya sebentar di Toya Devasya, tetapi mendapat pelajaran yang sangat penting dari seorang marketer senior yang sudah proven kesuksesannya di berbagai organisasi.

Terimakasih ya Pak Ketut, atas sharingnya. Saya jadi banyak belajar nih dari Pak Ketut tentang organisasi. Semoga Toya Devasya semakin berkembang ya.

Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Standard
Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Jika pulang ke Bali, biasanya saya hanya tinggal di rumah orang tua saya saja di Bangli. Rumah masa kecil yang selalu memberi rasa nyaman. Sesekali saya juga mampir ke rumah ibu saya di Banjar Pande atau ke rumah kakek saya di tepi danau Batur, atau bertemu keluarga ataupun teman yang ngajak saya mampir ke rumahnya. Sangat jarang kami pergi ke tempat wisata. Sebagai akibat, anak-anak saya tidak begitu nyambung jika teman-temannya bercerita tentang tempat- tempat wisata di Bali. “Rumah di Bali kok nggak tahu tempat wisata di Bali?”. Ya…karena kalau di Bali biasanya cuma di rumah saja.

Liburan kali ini saya mengajak anak anak jalan-jalan. Ke mana sajalah, termasuk salah satunya ke Toya Devasya, salah satu tempat wisata air panas di tepi danau Batur di Kintamani. Natural Hotspring!.

Toya Devasya ini bisa kita tempuh kurang lebih dalam 1.5 jam dari Denpasar. Arahnya ke utara, ke Kintamani. Naik teruuus… hingga kita tiba di Penelokan, di tepi kaldera gunung raksasa purba.

Penelokan. Sesuai namanya Penelokan (asal kata dari ” delok” artinya lihat/ tengok; Penelokan = tempat melihat pemandangan), dari sini kita bisa memandang ke dalam kaldera yang di dalamnya terdapat danau Batur dan Gunung Batur yang sungguh sangat indah.

Nah dari sana itu kita menuruni jalan yang ada menuju tepi danau. Tiba di desa Kedisan, kita berbelok ke kiri. Kembali menyusuri jalan sambil melihat-lihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Di kanan adalah danau biru dan bukit bukit yang menghijau. Lalu di sebelah kiri, gunung Batur dengan landscape batu batu lahar gunung berapi. Kira kira limabelas menit perjalanan, tibalah kita di Toya Bungkah, nama tempat di mana Toya Devasya ini berlokasi.

Walaupun sudah agak sore, Toya Devasya tampak ramai. Parkiran hampir penuh dengan kendaraan tamu-tamu yang entah menginap, sekedar makan di restaurant ataupun berenang. Saya dan 5 orang anak keponakanpun masuk ke sana.

Anak-anak dan keponakan yang kecil segera berenang. Ada 6 buah kolam renang di sana. Besar dan kecil. Melihat kolam renang sebanyak itu dan semuanya ramai, saya pikir besar kemungkinan orang-orang datang ke sini memang untuk berwisata air.

Keponakan saya yang lain sibuk hunting foto dan bermain drone di dekat danau.

Saya sendiri dan anak saya yang besar, melihat-lihat pemandangan sekitar. Dari anjungan Kintamani Coffee Housenya saya bisa melihat danau luas yang menghampar berdinding bukit. Di atasnya awan awan putih menutup Gunung Agung di belakangnya. Angin danau berhembus sejuk. Sungguh tenang, damai dan permai di sini. Tempat yang nyaman untuk hanya sekedar menikmati senja, membaca buku, ngopi-ngopi hingga bermain drone.

Kompleks Toya Devasya ini kelihatannya cukup luas. Dan terakhir kali saya kesini barangkali telah lebih dari 5 tahun yang lalu. Jadi penasaran juga, ingin tahu ada fasilitas apa saja di tempat wisata yang lagi naik daun di Danau Batur ini.

Mengikuti rasa ingin tahu, saya dan anak sayapun turun dari anjungan kopi, melihat lihat berkeliling sambil nunggu anak-anak selesai berenang. Kaypooo lah dikit ya πŸ˜€

Persis di bawah anjungan, ada kolam renang yang rupanya lebih banyak diminati oleh wisatawan asing. Patung patung gajah segala rupa menghiasi areal ini termasuk kolam renangnya. Yang menarik adalah, diantara sekian kolam renang yang ada, dua diantaranya berada persis di tepi danau. Memungkinkan kita untuk menikmati pemandangan danau sambil berenang ataupun berendam di air panas.

Tak jauh dari sana saya melihat counter untuk snack dan barbeque. Wah…ini penting, karena biasanya habis berenang renang perut terasa lapar πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Tapi saya membayangkan tempat ini juga bakalan penting jika kita bikin acara bakar bakaran bersama teman teman ataupun keluarga. Misalnya pas acara malam tahun baru gitu.

Saya berjalan lagi. Rupanya bagi yang ingin menghabiskan malam di tempat indah ini, Toya Devasya juga menyediakan Villa -villa yang dilengkapi dengan private hotspring pool.

The Ayu Villa. Waduuuh… keren ya.

Saya ditawarkan untuk menginap. Dan anak-anak juga pengen banget. Tapi sayang, besok paginya kebetulan ada acara adat yang harus kami ikuti. Jadi kami tak bisa menginap. Lain kali deh. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa menginap di sana.

Disisi barat tak jauh dari kolam renang, saya melihat ruangan restaurant yang juga dilengkapi degan fasilitas untuk ruang meeting dan bahkan panggung indoor.

Selain berenang dan menginap, Toya Devasya juga dilengkapi tempat melakukan Yoga dan Spa yang berfokus pada methode Ayurveda dengan menggunakan bahan-bahan alam. Saya sempat melongokkan kepala saya ke sana. Ada beberapa kamar therapy yang kelihatannya nyaman juga.

Tempat ini rupanya luas juga. Saya melihat ada tempat khusus untuk camping dengan tenda tenda yang disediakan (lupa motret). Saya membayangkan malam tahun baru yang seru di tempat ini. Lalu ada anjungan untuk olah raga air di danau seperti kayaking ataupun tour di danau.

Ada panggung terbuka di sana, yang biasa dipakai untuk pertunjukan pada malam malam istimewa.

Nah…tibalah kami di spot foto yang paling sering saya lihat diupload oleh orang-orang di sosmed. Saya tentu tak mau ketinggalan. Lalu ikut-ikut berphoto di sana. Sebetulnya ada beberapa photo yang diambil sih. Sayangnya sudah terlalu sore dan langit mulai redup. Jadi hasil fotonya tak ada yang bagus he he πŸ˜€.

Matahari terbenam. Malampun tiba. Pak Ketut Mardjana, sang pemilik Toya Devasya beserta istri, mengajak kami makan malam bersama di anjungan Coffee Shop.

Hidangan khas Kintamani yang selalu ngangenin. Ikan Mujair Nyatnyat, Telor Goreng Crispy, Kacang Tanah Goreng, Soup Ikan Kecut… wah…mantap sekali. Makanannya sangat enak. Semua makan dengan lahap. Apalagi anak-anak yang baru habis berenang.

Malam semakin larut, kamipun pamit membawa kenangan indah akan tepi danau Batur dan Toya Devasya.

Terimaksih banyak Pak Ketut dan ibu atas keramahannya. Lain kali kami berkunjung lagi😊.

Ticket Pulang Kampung.

Standard

Liburan akhir tahun tiba. Saatnya melupakan kesibukan ibukota dan kembali menikmati kehidupan pribadi. Pulang kampunglah ya. Habis mau ke mana lagi?. Nggak ada tempat yang lebih nyaman dari yang namanya rumah.

Musim liburan begini, biasanya memberi kesulitan bagi saya untuk pulang kampung ke Bali. Harga ticket pesawat menuju Bali biasanya melambung tinggi nggak kira kira. Padahal nyari waktu bersama anak-anak di luar liburan sekolah juga susah.

Tapi menurut berita, liburan kali ini diperkirakan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali menurun akibat Gunung Agung meletus. Berarti ticket pesawat ke Bali mungkin akan melimpah ya, karena tak bakalan banyak yang beli dan harganyapun pasti murah.

Jadi, minggu terakhir kerja, saya belum membeli ticket juga. Agak santai karena saya pikir masih akan ada banyak sisa ticket pesawat ke Bali, selain memang kesibukan kantor yang masih menyita waktu.

Hanya setelah mengintip banyak ticket penerbangan ke Denpasar mulai terjual dan harganya yang makin melambung naik, saya mulai panik. Harga ticket Garuda per sekali jalan hanya Jakarta -Denpasar (bukan bolak balik lho!)/orang, mulai merangkak menuju ke angka Rp 4 juta rupiah! Gile!. Mahal kaleeee!. 3-4 kali lipat harga normal. Rupanya karena tinggal itu satu-satunya penerbangan Garuda yang ticketnya masih tersedia ke Bali untuk tanggal itu. Ticketnya sudah pada habis.

Sementara ticket dari maskapai lain juga sudah pada habis. He he…kirain kali ini penerbangan ke Bali sepi. Ternyata habis ludes. Yang tersisa tinggal 2 penerbangan lagi dengan seat terbatas. Dan harganya, walau tak semahal Garuda namun tetap membuat kantong meneteskan air mata duka 😒😒😒.

Jadi sama aja ya. Ada Gunung meletus ataupun tidak, tetap saja ticket pesawat laris manis dan yang tersisa hanya yang mahal mahal saja.

Akhirnya saya berhasil membeli 3 ticket, untuk saya dan 2 orang anak saya. Rencananya nanti, setiba di Bali, kakak saya yang akan menjemput di bandara. Kebetulan, keponakan saya juga berencana pulang pada malam yang sama dan telah membeli ticket dari maskapai penerbangan lain. Jadwal penerbangannya lebih awal sejam dari jadwal saya. Jadi sekalianlah kakak saya jemput anak, adik dan keponakannya.

Pada hari H, saya berangkat ke Cengkareng lebih awal. Hujan hujan. Biasanya jalanan macet. Lebih baik berangkat lebih cepat daripada telat. Tiba tiba keponakan saya menelpon mengatakan supir taksinya nggak bawa e-toll card, sementara tak bisa bayar cash. Jadinya mereka muter jalan dan besar kemungkinan telat.Alhasil keponakan saya telat tiba di bandara. Dan ketinggalan pesawat!. Eaduuh! Saya langsung dekdekan. Karena kemarin saja jumlah ticket yang tersisa sudah terbatas. Apalagi sekarang.

Mencoba mempropose penerbangan berikutnya ke petugas di bandara ternyata sudah habis. Coba balik lagi ke toko online yang menjual ticket, ternyata penerbangan memang sudah habis semua.

Lalu saya coba ke counter maskapai penerbangan lain di bandara. Siapa tahu masih ada ticket yang tersisa atau ada orang yang membatalkan penerbangan ke Denpasar.

Ternyata habis semua juga!. Tak ada satupun yang tersisa.Bahkan yang super mahalpun sudah habis.

Jika mau, ditawarkan penerbangan ke kota lain. Ooh!. Tapi kami kan bukan mau berwisata, kami mau pulang kampung. Jadi tak bisa pindah tujuan ke kota lain. Karena kampungnya tidak bisa dipindahkan.

Malam itu saya dan 2 anak saya pulang. Sementara keponakan saya terpaksa menginap di bandara untuk menunggu penerbangan yang tersedia esok siangnya.

Apa daya !.

Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Membaca puisi di Minggu Raya Banjarbaru.

Saya penyuka karya sastra. Dan puisi termasuk di dalamnya. Atas kesukaan saya itu, ketika remaja, saya rajin mengikuti forum dan panggung lomba-lomba baca puisi yang diselenggarakan di kota saya. Saya akui bahwa forum dan panggung-panggung sastra seperti itu sangat mendongkrak kemajuan sastra di Bali. Karena minat remaja akan sastra menjadi sangat tinggi. Sayang sekali, aktifitas seperti itu, belakangan saya dengar tidak banyak lagi dilakukan pada saat ini. 
Dengan latar belakang seperti itu, saya tiba tiba terpikir untuk mengajak anak saya yang remaja untuk ikut ke Loksado Writers & Adventure 2017. Tentu dengan catatan jika panitya mengijinkan. Dan ternyata syukurnya memang diijinkan!. Saya senang sekali. Tujuan saya adalah untuk memperkenalkan anak saya dunia sastra dengan cara yang lebih baik lagi *menurut saya* ketimbang hanya dari apa yang ia dapat dari sekolahnya. 

Saya tahu, anak saya tentu mendapat pelajaran sastra dengan cukup baik dari sekolahnya. Tetapi akan sangat berbeda jika ia mendapatkan kesempatan terekspose langsung dengan forum sastra dan bertemu dengan para sastrawan senior di komunitasnya yang tepat. 

Demikianlah ceritanya saya membawa anak saya ikut ke Loksado. Ia sendiri setuju, walaupun ketika diawal ia mau karena tertarik melihat foto orang bermain rakit di sungai Amandit. 

1. Paparan Sastra

Sejak tiba di Bandara Sorkarno-Hatta di Jakarta, anak saya mulai berkenalan dan diterima dengan baik oleh para sastrawan senior yang kebetulan berangkat satu pesawat dengan kami subuh itu. Gap usia yang cukup jauh syukurnya tidak membuat anak saya terasing. Ia kelihatan biasa saja. Bahkan terlihat berusaha ngobrol dan bergaul. Saya cukup lega. Setidaknya ia bisa membawa diri. 

Antologi puisi. Dari Loksado Untuk Indonesia.

Berikutnya, ketika panitya membagikan buku Antologi puisi. Ia melihat sepintas lalu mulai membaca puisi puisi yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ditanya cukup satu buku baca gantian dengan mama, anak saya ingin memiliki buku Antologi puisi itu sendiri. Dan.. ia serius membacanya. Nah..kini saya tahu minimal ia suka. 

Yang lebih penting adalah, karena ini adalah sebuah forum sastra, tentu banyak sekali diskusi dan pembahasan tentang puisi dan karya sastra lain sepanjang acara itu, baik yang formal maupun yang tidak formal. Ia juga mendengar tentang Haiku. Tentang Senryu . Dan tentang format format karya sastra yang lain.  Hal ini tentu menambah khasanah, wawasan dan cara pandang anak saya terhadap karya karya sastra. 

Baca puisi di Loksado Writers & Adventure 2017.

Di forum itu, anak saya juga terekspose dengan pembacaan puisi dengan berbagai gaya yang dilakukan oleh para sastrawan yang hadir di sana. Bisa saya pastikan ini sangat menginspirasi anak saya. Bagaimana membacakan puisi dengan baik, bagaimana berdeklamasi dan bahkan belajar memahami bahwa karya sastra pun bisa berfusi dengan karya seni lain seperti vokal, seni gerak tubuh dan sebagainya. Anak saya terlihat sangat terkesan misalnya saat seniman Isuur Loeweng berkolaborasi dengan Bagan Topenk Dayak membawakan sebuah puisi dengan luar biasa mengesankannya. Tak habis habisnya kami membicarajan dan memujinya. 

Hal lain yang ia pelajari adalah, bahwa puisi tidak hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai sekedar karya sastra yang indah saja, tapi sangat mungkin menjadi media penyalur pesan sosial dan aspirasi masyarakat yang selama ini mungkin buntu atau terpinggirkan. Terlebih ketika ia juga ikut diajak berkunjung dan berbaur dengan masyarakat setempat, dengan sendirinya ia pun belajar. Melihat, mendengar dan menangkap fakta untuk kemudian ia proses dalam alam pikir dan jiwanya untuk kemudian ia sambungkan sendiri dengan puisi. 

2. Pengalaman Sastra

Pak HE Benyamin, sang motivator.

Adalah HE Benyamin, sastrawan Kalimantan Selatan yang berhasil menyentil keberanian anak saya untuk tampil membaca puisi di panggung forum itu. Awalnya saya bujuk -bujuk tidak mau. Tetapi berkat kalimat-kalimat motivasi Pak HE Benyamin yang menyihir, eeh….. anak saya nekat maju ke panggung. Sayapun kaget dan terharu. Luar biasa!. Bayangkan! Di hadapan sekian banyak sastrawan dan seniman sastra baik dari Kal Sel maupun dari berbagai daerah Indonesia itu, anak saya berdiri. Membacakan puisi untuk pertama kalinya. Puisi yang juga baru pertama kali ia lihat dan baca.  Judulnya ” Perempuan Dan Kopi Hutan”. Karya Cornelia Endah Wulandari. 

Membacakan puisi Perempuan & Kopi Hutan. Karya Cornelia Endah Wulandari.

Hasilnya?. Saya harus mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak HE Benyamin untuk proses pergulatan keyakinan diri yang dialami anak saya hingga akhirnya berani maju dan bergata di depan panggung. 

Perempuan & Kopi Hutan. Cornelia Endah Wulandari. Foto milik Agustina Thamrin.

Dan tentu saja pastinya buat Mbak Cornelia Endah Wulandari yang puisinya menjadi batu loncatan pertama bagi anak saya untuk menyebur ke dunia sastra. 

3. Tantangan Dan Ujian Sastra

Berhasil membacakan puisi karya HE Benyamin di Minggu Raya Banjar baru. Bersama Pak HE Benyamin.

Tak selesai sampai di sana, bahwa Loksado telah memberikan kesempatan kepada anak saya untuk terekspose dengan dunia sastra dan sekaligus memberi ‘new experience’ baginya. Menjelang kepulangan kami ke daerah mading-masing, teman teman Kalimantan mengajak kami mampir di Minggu Raya. 
Awalnya saya tak mengerti. Karena tempat itu kelihatannya hanya tempat nongkrong-nongkrong saja di tepi jalan dengan suara deru motor yang meraung raung. Ternyata kembali Pak HE Benyamin memberi tantangan kepada kami semua (termasuk anak saya), untuk menguji nyali. Beranikah dan mampukah membaca puisi di tepi jalan? Di tonton orang yang berlalu lalang? Dan diantara suara kendaraan yang menggelegar?. 

Syukurlah, anak saya pun mau mengambil tantangan itu. Mau, bisa dan berani!. Horeeee!. Akhirnya luluslah ia di forum sastra Kalimantan Selatan yang unik itu. Sesuatu hal yang membanggakan tentunya. Bagi dirinya sendiri dan saya sebagai orangtuanya. 

Aku sudah membaca puisi. Minggu raya Banjar baru.

Anak saya mendapatkan pin tanda kelulusan.  Saya juga ikut membaca dan mendapat pin yang sama. 

Buku Antologi Puisi HE Benyamin. Pohon Tanpa Hutan.

Dan juga hadiah buku Antologi Puisi “Pohon Tanpa Hutan” langsung dari Pak HE Benyamin – penulisnya. Aduuuh…senang & bangganya. 
Nah! Untuk segala apa paparan, pengalaman, tantangan dan ujian sastra yang diterima anak saya yang remaja ini, tentunya saya sebagai orangtua sangat berterimakasih kepada semua rekan rekan sastrawan yang hadir baik dari Kalimantan Selatan maupun dari daerah lain, kepada Pak Budhi dan Mbak Agustine serta masyarakat Loksado. 

Sudah menjadi cita cita kita bersama agar Sastra dan penulisan terus berjaya di negeri kita, dan tentunya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua untuk memupuk minat dan kecintaan  anak anak dan remaja kita terhadap sastra sejak dini.  Seperti kata pepatah, jika tak kenal maka tak sayang. Oleh karenanya kita perlu meperkenalkannya dengan baik. 

Besar harapan saya, kecintaan anak saya terhadap sastra dan penulisan, kelak semakin meningkat. Jikapun tidak, maka sebagai ibu saya sudah berusaha meletakkan dasar yang sebaik-baiknya yang bisa saya lakukan. 

Salam Sastra. 

Menyimak “Motion in Transparancy” Dalam Karya-Karya Hester Van Dapperen.

Standard
Menyimak “Motion in Transparancy” Dalam Karya-Karya Hester Van Dapperen.

Entah suatu kebetulan,  minggu lalu saya menginap di sebuah hotel kecil di pinggiran kota Amsterdam yang sedang menggelar karya seni kontemporer di lobbynya. Dari sekian banyaknya karya-karya yang dipajang, mata saya tertumbuk seketika pada lukisan lukisan karya Hester Van Dapperen. 

Sangat menarik hati saya,  karena karya karya Hester ini di mata saya  terlihat sangat unik dan baru. Saya belum pernah melihat lukisan di atas media transparant seperti ini. Terlebih Double Canvas. Technique lukis baru dimana, dua canvas transparant dilukis dan ditumpuk  jadi satu  dengan jarak tertentu. Teqhnique ini memberikan efek “kedalaman” yang sangat baik. Dimensi yang lebih kaya. 

Memandangnya, entah kenapa saya melihat Hester seolah memotret pergerakan manusia di perkotaan yang riuh, bersosialisasi namun juga  sekaligus dingin dan individualistik. Barangkali juga karena pilihan warna yang dipakai yang terkesan dingin, didominasi hitam, putih dan kelabu dengan sedikit sentuhan pink pucat. Berkesan seakan meninggalkan pesan tersembunyi.  Yuk kita simak beberapa diantaranya. 

1/. Lopen.

Lopen/Walking. Hester Van Dapperen.

Dilukis dengan cat acrylic di atas materi transparant double canvas. Sesuai dengan judulnya “Lopen” alias Walking, kita melihat sosok sosok tinggi yang bergerak serasa di jalan kota. Di latar belakangnya kumpulan burung dara bertengger di kawat listrik dan orang orang yang berjalan dengan arah yang berseberangan. Menarik sekali. 

2/. Mijn Schaduw.

Mijn Schaduw. Hester Van Dapperen.

Dengan materi yang sama, Hester menggambarkan bayangan manusia yang sedang bergerak. Arah sinar entah datang dari mana mana dengan derajat berbeda beda pula, sehingga bayanganpun terlihat berbaring ke beragam arah. Teqhnique double canvas di sini memberikan dampak pluralisme yang semakin membaur dan tak teratur. Tidak seoptimal pada lukisan lain, misalnya pada Lopen. Namun demikian, secara umum lukisan ini tetap tampak menarik dan sesuai dengan judulnya Mijn Schaduw (My Shadow).
3/.Transparant in Roze, Grijs en Zilver.

Transparant in Roze, Grijs en Silver.

Pada lukisan ini  Hester menerapkan warna tambahan rossy pink  dan silver yang membuat overall tampilannya menjadi lebih feminine dan berbahagia ketimbang lukisan-lukisannya  yang lain. Saya suka komposisi warna ini. Keanggunan terpancar keluar tanpa harus dijelaskan. 

4/. Witte Dansers in Het Park.

Witte Dansers in Het Park. Hester Van Dapperen.

Karya ini penuh dengan muatan seni.  Betapa tidak. Selain komposisi dan paduan warnanya yang baik, karya ini seolah  juga menunjukkan gerakan-gerakan yang indah dari para penari dan busananya yang menarik. 

5/. Vroege Vogels

Vroege Vogels. Hester van Dapperen.

Karya yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi berjudul “Early Birds” ini, menceritakan sebuah ketergesaan. Orsng orang yang bergegas ke tempat kerja di pagi hari. 

Demikianlah karya karyanya yang terlihat oleh saya. Terlihat sangat indah dan anggun. Potret dinamika kehidupan urban dengan kehidupan modern. Ua menggambarkannya dengan sangat apik. Belakangan saya tahu bahwa Hester van Dapperen sang Contemporary Visual Artist itu ternyata juga adalah seorang Fashion Designer. Ooh…pantaslah saya seolah menangkap jejak jejak fashion dalam karya-karyanya itu. 

Keren!. 

Loksado Writers & Adventure 2017 : Jangan Santan Umbut Kelapa.

Standard

Berkunjung ke Loksado sungguh memberi banyak pengetahuan baru bagi saya. Bukan saja tentang hal yang baru saya lihat, baru saya alami dan rasakan, baru saya dengar dan bahkan baru pertama kali saya kecap. Agak lebay kah saya? Tentu tidak!. 

Jangan Santan Umbut Kelapa.

Serius. Bagi saya Loksado itu ternyata membawa pengalaman baru kuliner juga. Selain Soto Banjar yang kesohor itu, ternyata ada lagi makanan yang sungguh mati saya doyan banget. Namanya Jangan Santan Umbut Kelapa. Nah..ikut penasaran kan?. 
Awalnya saya menyangka itu Sayur Lodeh biasa. Bukan. Kata Ibu yang masak. Namanya “Jangan Santan” katanya. Oh. Oke. Buat saya malah lebih mudah. Karena kata Sayur pun dalam bahasa Bali halus disebut dengan “Jangan” juga. Jadi Jangan Santan = Sayur Santan. Oke. Oke. Ini gampang buat saya mengingat.

Kemudian saya melihat ada irisan benda putih putih di dalamnya. Apa itu? Rebung bambu kah? . Saya cicip. Waah… enak banget. Bukan rebung. Lebih enak dari rebung malah. Tapi apa ini? 

Ini namanya Umbut Kelapa. Saya tetap heran dan penasaran. Umbut Kelapa ? Apa itu? Lalu saya dijelaskan oleh ibu itu bahwa Umbut Kelapa adalah pucuk pohon kelapa yang akan tumbuh jadi daun daun kelapa. Biasanya diambil dari pohon kelapa yang ditebang. Ooh!. Saya terkejut bukan alang kepalang. Waduuh… agar bisa diambil umbutnya, sebuah pohon kelapa harus ditebang dulu ya. Pasti sangat mahal harganya. “Ya..memang mahal. Sekilonya bisa lima puluh ribu atau lebih” jelas ibu itu.  Saya manggut manggut. 

Lalu memasaknya gimana? Rupanya serupa juga dengan Sayur Lodeh biasa. Bawang merah, bawang putih, terasi, garam diulek. Lalu digeprek lengkuas, sereh dan daun salam. Dan tentunya Santan ya…buat kuahnya. 

Sungguh. Sayur ini enak banget. Habis sepiring oleh saya. Terasa kurang. Bolehkah saya nambah ya? Sebenarnya tak ada yang melarang. Tapi ini bersantan. Apa-apa nggak ya jika makan sayur santan ini banyak? Terlalu banyak lemak nggak ya? 

Lalu saya melirik ke piring dokter Handrawan Nadesul yang kebetulan duduk di samping saya. Kelihatannya beliau juga sangat menikmati sayur bersantan itu. Anteng menyuap dan mengunyah dengan pelan.  Sayapun merasa tenang. 

Kalau beliau yang seorang dokter ahli kesehatan yang umurnya dibatas saya,  terlihat baik-baik dan santai saja menikmati apapun yang dihidangkan tanpa terlihat berpantang, mungkin nggak apa-apa juga barangkali buat saya makan Jangan Santan Umbut Kelapa ini sedikit agak banyak. 

Hiyaaa… mari kita nambah 😍😍😍😍😍

Yuk kita wisata Kuliner ke Kalimantan Selatan. Cintai masakan Indonesia!. 

Loksado Writers & Adventure 2017: Salungkui dan Tengkuluk.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Salungkui dan Tengkuluk.

Dari perjalanan ke Loksado, tentu saja saya membawa banyak kenangan dan potrat potret. Nah diantara kenangan itu, yang belakangan jadi topik hangat dan diinisiasi oleh Bu Sulis Bambang adalah “Salungkui”. 

Wanita Dayak Meratus mengenakan Salungkui untk menutup kepalanya saat pergi ke ladang.

Saya rasa diantara teman teman pembaca sebagian tentu sudah tahu, dan sebagian lagi barangkali  penasaran ya apa itu Salungkui?. Bagi yang belum tahu, bisa saya jelaskan sedikit bahwa Salungkui adalah penutup kepala terbuat dari kain yang dilipat ke belakang yang umum digunakan oleh wanita Dayak. Saya temukan umum digunakan di daerah pegunungan Meratus. Nah jika Salungkui ini digunakan untuk kaum wanita, kaum pria Dayak juga memiliki penutup kepala yang disebut dengan Laung. 

Saya mengenakan Salungkui bersama Bang Hengky yang mengenakan Laung di Balai Adat Haruyan.

Merasa diri memiliki foto sedang mengenakan Salungkui, saya upload dong ya ke time line face book saya.  Biar keren. Ada beberapa foto sih. Karena kebetulan saya sempat memakai Salungkui ini 3 x selama kunjungan saya di Loksado. Pertama, di malam acara pertemuan dengan para pemuka adat Dayak Meratus, Bapak Penghulu Adat mencotohkan bagaimana caranya memasang Salungkui. Lalu kesempatan ke dua, Ibu Penghulu Adat mengenakan Salungkui sebelum kami diijinkan memasuki balai adat Haruyan. Dan yang terakhir, kembali saya dipasangkan Salungkui oleh Ibu Penghulu Adat saat menghadiri pertemuan dengan pemda Kalimantan Selatan di Penginapan Amandit.  He he..lumayan ya. Terimakasih banget saya atas kesempatan berharga itu. 

Saya memakai Salungkui bersama Pak Adri dan Pak Handrawan memakai Laung.

Nah yang menarik adalah salah seorang teman yang melihat saya mengenakan kain penutup kepala itu  berkomentar ” De, ne mara adane nak Bali asli” katanya (terjemahannya : De, ini baru namanya orang Bali asli). Mungkin teman saya itu tidak membaca contextnya secara keseluruhan dan mengira saya sedang nenggunakan “Tengkuluk”  yaitu penutup kepala traditional yang umum dan banyak digunakan oleh perempuan Bali pada jaman dulu. Sehingga timbullah dalam pikirannya, jika saya benar benar terlihat asli seperti perempuan Bali saat mengenakan apa yang dipikirnya oleh teman saya itu sebagai sebuah ‘tengkuluk’.  Ha ha.. saya tersenyum geli membaca komentar itu. 

Mengapa saat menggunakan Salungkui tutup kepala Kalimantan Selatan ini tiba tiba ada teman yang justru melihat tampilan saya sebagai “Bali banget?”. Jawabannya adalah karena kemiripan Salungkui dengan Tengkuluk Bali.

Di Bali, Tengkuluk atau sering juga disebut dengan Tengkiluk atau Lelunakan, sangat umum dipakai. Terutama di tahun-tahun saat saya masih kecil hingga remaja. Ibu ibu menutup kepalanya dengan tengkuluk adalah pemandangan sehari hari di pasar atau di jalanan. Bahkan hingga kini barangkali masih tersisa. 

Tengkuluk digunakan wanita di Bali untuk melindungi kepala dari sinar matahari ataupun debu, kotoran dsb mengingat banyak wanita yang bekerja di sawah ataupun ladang bahkan bangunan ataupun jalanan. Saya rasa mirip juga dengan wanita Dayak Meratus yang juga banyak bekerja di ladang. Selain itu, tengkuluk juga berfungsi sebagai alas beban mengingat wanita Bali senang membawa/mengangkat benda dengan menjunjungnya di kepala. Jika kita memakai Tengkuluk, dengan sendirinya tengkuluk bisa berfungsi ganda sebagai “sunan” juga alias bantalan kepala saat menjunjung. Membawa benda di kepalapun terasa lebih nyaman. 

Wanita Bali dengan Tengkuluk Handuk di kepalanya. Photo milik Jero Gede Partha Wijaya.

Mungkin sedikit bedanya dengan di Kalimantan Selatan di mana cara memakai Salungkui lebih standard, di Bali gaya wanita nemakai Tengkuluk lebih suka suka hatinya sendiri. Ada yang menutup penuh kepalanya dengan kain, ada yang melilit rambutnya sebagian, ada yang menggulung kainnya di kepala dsb.  Tidak ada yang terlalu standard. Hanya lipat lipat kain saja di atas kepala atau membungkus kepala. Dan bahannya pun sering suka suka. Selendang, pashmina, kain traditional, bahkan handuk mandi pun boleh -boleh saja. 

Salah satu cara pemakaian Tengkuluk atau Lelunakan yang mudah dilihat adalah pada busana penari Tenun yang sering dipentaskan di panggung panggung traditional di Bali. 

Nah…kembali lagi kita  pada Sangkului, yang setahu saya cukup seragam cara pemakaiannya, berikut adalah step by step  menggunakan Salungkui sebagaimana saya diajarkan oleh Ibu Penghulu Adat Haruyan:.

1/. Siapkan kain tapih/ kain panjang. 

2/.  Buka kain panjang dengan bagian memanjang ke atas dan ke bawah. Posisikan di depan wajah kita. 

3/. Dari arah depan tutup kepala kita dengan kain panjang itu hingga kurang lebih 1/5 kain ada di bagian belakang kepala, 1/5 di bagian atas kepala dan 3/5 berada di depan wajah memanjang ke bawah. 

4/. Tarik ujung kain yang ada di bagian belakang kepala. Bawa ke depan dan lipat ke kiri dan ke kanan. Untuk memperkuat, sebenarnya saya lebih suka mengikat saja ujung ujungnya di atas dahi saya biar nggak mudah copot. Tapi Ibu Penghulu Adat tidak menyarankan. “Tidak usah. Memang sedikit longgar, tapi tidak lepas” kata beliau. Jadi saya menurut sajalah kata beliau. 

5/. Setelah ujung kain yang dibelakang sekarang terlipat kiri kanan di atas dahi, tarik sisa kain yang menggantung ke bawah di depan wajah kita dan bawa ke belakang. 

6/. Rapikan agar bentuknya bertambah cantik. 

Selesai deh. 

Yuk kita coba pakai Salungkui. Kita cintai budaya di tanah air kita!. 

Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kami diterima dengan baik oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan beserta ibu, keluarga dan warga setempat. Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu Penghulu adat dan putrinya. Ngalor ngidul tentang banyak hal, terasa sangat menyenangkan. Sementara Bapak bapak mengobrol dengan Bapak Penghulu Adat.

Berbincang dengan Bapak Penghulu Adat Haruyan.

Dari tempat kami ngobrol, saya memandang sekeliling. Senang berada di tempat ini. Pemukiman itu terdiri atas beberapa rumah di halaman yang sangat luas dengan Balai Adat Haruyan terletak di tengah tengahnya. Berupa bangunan persegi terbuat dari kayu. Berada di atas panggung dengan pintu masuk bertangga juga terbuat dari kayu. Di sekelilingnya rumah-rumah penduduk yang sebagian masih berbahan kayu dan sebagian lagi sudah menggunakan material modern. Balai adat itu kelihatan sepi karena pada saat itu sedang tidak ada upacara. 

Balai Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Menurut Ibu Penghulu Adat rata rata mereka mengadakan upacara 2x setahun. Yang pertama adalah saat  padi mulai berisi dan yang ke dua adalah saat panen terakhir tahun itu yang disebut dengan upacara Aruh Ganal. Upacara adat itu merupakan ungkapan rasa terimakasih dan rasa syukur atas keberhasilan panen padi. Hanya setelah diupacarai,  barulah padi hasil panen itu boleh dikonsumsi. 

Semua padi padi hasil panen itu disimpan di lumbung.  Bahkan padi dari hasil panen 10 tahun yang lalu pun masih ada. Luar biasa. Saya mendapat penjelasan, bahwa mereka tidak menjual padi/beras, sekalipun panen nereka melimpah dan mereka memiliki persediaan padi yang banyak. Semua hanya untuk konsumsi warga saja.  Mengapa demikian?. Karena mereka perlu memastikan tetap memuliki bahan pangan bahkan saat panen gagal. Walaupun demikian, mereka tidak keberatan untuk berbagi dengan orang luar, dan bahkan sangat senang jika ada  warga luar kampung yang ikut pesta adat nereka.  Saya kagum dengan prinsip mereka ini dalam memastikan ketahanan pangan. 

Lalu bagaimana caranya menopang keperluan hidup sehari hari jika tidak menjual padi?. Oh..rupanya penduduk masih bisa mendapatkan penghasilan dari usaha lain seperti misalnya dari kayu manis, bertanam cabe, palawija dll. Menarik sekali.

Kami diijinkan melihat ke dalam balai adat dan melihat contoh gerakan tari traditional suku Dayak yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal dilangsungkan. Namun sebelum memasuki balai adat, kami dipersyaratkan untuk memakai tutup kepala yang jika untuk pria disebut dengan Laung, sementara untuk wanita disebut dengan Salungkui. 

Bersama Ibu Penghulu Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Ibu Penghulu Adat memasangkan salungkui di kepala saya. Dibentuk dari kain/tapih yang dilipat dan ujungnya diarahkan ke belakang lalu dirapikan. Saya senang sekali. Praktis dan bentuknya menarik. Salungkui ini tentu sangat berguna untuk melindungi kepala dari panasnya sinar matahari, debu maupun kotoran lainnya.  Ini mirip juga dengan “tengkuluk” yang biasa dipakai di kampung saya. 

Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung.

Sementara saya dipasangkan Salungkui oleh Ibu Penghulu Adat, Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung pada tamu-tamu pria. Setelah itu barulah kami diajak memasuki Balai Adat. 

Balai Adat Haruyan itu ukurannya cukup luas. Saya membayangkan seluruh penghuni kampung itu barangkali bisa ditampung sekaligus jika masuk semuanya. Lantainya terbuat dari papan kayu yang kuat dengan tiang tiang penyangga yang sangat kokoh. 

Di tengah tengah bangunan terdapat tempat upacara bertiang tinggi dengan lantai yang sedikit lebih rendah di selilingnya. Tampak janur mengering sisa perayaan yang telah usai. Ini tempat suci. 

Memanjatkan doa untuk keselamatan kita semua.

Bapak Penghulu Adat dan seorang pemuka adat yang lain memanjatkan doa untuk memohon ijin serta memohonkan keselamatan bagi semua yang hadir di situ,   warga Dayak dan termasuk juga kami yang bertamu ke sana. Saya mendengarkan doa doa itu dengan khidmat dan rasa haru. Betapa jalinan rasa persaudaraan itu dengan mulus menjalar ke hati kami.  Lalu dalam hati saya ikut menyatukan doa saya bersama untuk kesejahteraan, keselamatan dan kemajuan masa depan warga Haruyan. 

Bapak Penghulu Adat menunjukkan gerakan tarian Kanjar

Setelah doa-doa selesai, Bapak Penghulu Adat bersedia menunjukkan kepada kami gerakan gerakan tarian Kanjar yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal. 

Ikut nenari Kanjar.

Para tamu priapun diajak ikut serta bakanjar. Dengan diiringi alat musik tunggal sebagai contoh, semuanya menari mengelilingi tempat upacara. Gerakannya simple dan mudah ditiru, sehingga setiap orang bisa ikut riang gembira menari Kanjar bersama sama. Sebagai refleksi hati yang penuh syukur atas anugerah panen yang luar biasa. 
Seusai para pria menarikan tarian Kanjar, Ibu Penghulu Adat mengajari saya menari Babangsai. Rupanya tari Babangsai ini adalah versi wanita dari tari Kanjar. Saya dan para wanita yang lain pun segera turun ikut menari dengan senang. Mengayunkan tangan dan mengatur gerakan kaki mengikuti ketukan musik. Menariknya, tari Babangsai ini juga ada 2 versi lagi. Yakni versi cepat dan versi lambat. Ibu Penghulu Adat menunjukkan keahliannya menari kedua duanya. Saya hanya mengikuti. 

Tak terasa matahari menanjak naik. Tiba tiba sudah tengah hari. Kami harus segera kembali ke Loksado untuk mengikuti acara berikutnya. Sayapun pamit dan kembali berada di atas motor. Menyusuri jalanan Haruyan -Malaris yang berliku, menanjak dan menukik. 

Haruyan, Loksado. Daerah ini memiliki potensi pariwisata  tinggi yang  belum tergali dengan baik. Alamnya, adat istiadatnya, budayanya, makanannya. Semuanya menarik untuk dilihat dan dikunjungi.

Berharap pemerintah segera membantu memperbaiki akses  yang ada, agar roda perekonomian berputar dengan lebih cepat. Dan tentunya akan lebih mudah lagi bagi para wisatawan untuk datang berkunjung. 

Di seberang desa Malaris, di tepi sungai Amandit saya turun. Membawa kenangan saya akan Haruyan.  Rasanya masih tertinggal hati saya di sana. Suatu saat saya ingin mendapatkan jesempatan untuk berkunjung kembali ke tempat ini. 

Yuk kita berkunjung ke Haruyan! Kita cintai tanah air kita.

Loksado Writers & Adventure 2017: Menuju Balai Adat Haruyan.

Standard

Setelah malam harinya  saya berkesempatan mengikuti diskusi hangat dalam temu muka para penyair dengan  para tetua adat suku Dayak Meratus, ketertarikan saya untuk mengunjungi pemukiman suku Dayak Meratus semakin meningkat. Walaupun saya belum pernah mengenal dekat suku Dayak sebelumnya, entah kenapa saya merasa sangat nyambung. Hati saya serasa terjalinkankan oleh sesuatu. 

Diskusi para peserta Loksado Writers dengan tetua adat Dayak Meratus. Foto milik Yulian Manan.

Saya coba memberi alasan logis kepada diri saya sendiri. Entah karena ada sebegitu banyak kosa kata dalam Bahasa Dayak yang diucapkan oleh para tetua adat itu yang sangat serupa dengan bahasa kampung saya. Mungkin itulah sebabnya mengapa saya merasa tersambung. 

Alasan yang lain, mungkin juga karena apa yang mereka paparkan, pengalaman, persoalan, peluang pariwisata serta kesulitan dan harapan yang mereka sampaikan serasa deja vu bagi saya yang lahir dan besar di daerah tujuan wisata. Serasa saya pernah berada di situasi itu. 

Malam itu ketika penyelenggara menawarkan pilihan untuk mengunjungi balai adat Malaris yang dekat dan mudah dijangkau, atau balai adat Haruyan yang berada di ujung dengan medan tempuh yang terjal serta tak bisa dilalui kendaraan roda empat, saya memilih untuk mengunjungi balai adat Haruyan.  Karena saya pikir saya akan lebih mudsh mengunjungi Malaris suatu saat nanti karena letaknya lebih dekat. 

Demikianlah esok paginya, kami berkendara dari Loksado melewati Loklahung menuju desa Malaris. Tepat di seberang desa Malaris kami turun, sebagian teman teman memilih menyeberang jembatan ke Malaris. Saya numpang ojek menuju Balai Adat Haruyan. Ada Pak Handrawan Nadesul, Pak Roymon Lemosol, Pak Hengky, Pak Trip Umiuki, Aldo (siapa lagi ya?). 

Jembatan gantung sempit di atas sungai Amandit dari arah sebaliknya. Pak Roymon Lemosol sedang menyeberang dengan motor. Foto milik Roymon Lemosol.

Perjalanan menuju Haruyan sungguh sangat berkesan. Pertama kami harus menyeberang Sungai Amandit melalui sebuah jembatan sempit yang melengkung ke atas. Tak bisa papasan. Yang lewat harus gantian. Ketika motor lewat, jembatan itupun ikut berguncang-guncang. Huaaa…rasanya ingin memejamkan mata, membayangkan yang tidak tidak. Bagaimana jika motornya limbung, mungkinkah saya nyebur ke sungai? * Ooh pikiran kerdil dan negative, pergilah menjauh dariku!. Di saat begitu, saya hanya punya satu pilihan: pasrahlah dan percayakan pada sang pengemudi. 
Selepas jembatan, jalanan agak datar dan cukup nyaman dilalui, walaupun tidak rata, agak rusak dan bergelombang. Ada jembatan kayu kecil yang terlihat mulai merapuh. Saya melihat dua orang tourist manca negara yang melihat lihat di sekitar. 

Kami melewati pemukiman penduduk dan ladang-ladang hingga ke tepi hutan.  Setelah itu mulailah petualangan yang sesungguhnya. 

Bunga kacang kacangan yang sangat cantik dari hutam pegunungan Malaris. Photo milik He Benyamin.

Pemukiman lenyap digantikan pepohonan bambu, meranti,  pakis-pakisan, kayu manis, jahe jahean, cucurbitaceae, dsb. Ada juga pohon luwak (sejenis fig) yang buahnya super lebat memenuhi batang, dahan dan rantingnya. 

Juga ada banyak bunga liar yang indah di sana. Bunga kacang kacangan yang cantik berwarna putih dengan bercak merah di tengahnya. Bunga jahe jahean yang berearna merah diseling putih. Alangkah indahnya. Lalu bunga-bunga keluarga labu hutan yang kuning benderang menyongsong matahari. Bermunculan di tepi hutan dan semak. Rasanya saya ingin turun dan mengamatinya sejenak. Tapi sayang, saya mengejar waktu. Khawatir tertinggal oleh teman teman yang lain. 

Hanya bisa berdecak kagum akan kayanya bumi Kalimantan. 

Jalanan sungguh membuat jantung berkali kali ingin meloncat dari posisinya. Betapa tidak, naiiiiik, lalu turuuuuuuuun. Datar sebentar lalu naiiiiiiiiik lagi dan beloookk dengan terjalnya. Lalu turuuuuuuun lagi. Dan itu harus kami lalui dalam kondisi jalan yang banyak bopeng bopengnya. Terlebih lagi dengan berat badan saya yang nggak kira kira ini, kasihan abang pengemudinya jadi kepencet oleh tubuh saya setiap kali menurun. Saya berusaha menahan dengan bantuan kedua tangan saya…tapi tetap saja πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯ . 

Saya membayangkan kesulitan yang dihadapi penduduk setempat yang harus melewati jalan ini setiap harinya. Berharap pemerintah setempat memberi akses yang lebih baik bagi penduduk setempat dan juga para wisatawan yang ingin berkunjung ke sini. 

Untuk mengimbangi kecemasan saya selama di perjalanan, saya ngobrol ngalor ngidul dengan sang pengemudi. Tentang adat istiadat, tentang kehidupan, tentang masalah sosial  dan sebagainya. Banyak hal hal menarik dan baru yang saya dapatkan dari percakapan itu. 

Secara umum saya menangkap bahwa keinginan masyarakat untuk maju di sana sesungguhnya cukup tinggi. Hanya saja dibutuhkan perhatian dan akses yang lebih baik dari pemda setempat selain juga motivator pembangunan yang memahami dengan baik adat istiadat serta budaya setempat sehingga keberlangsungan pembangunan daerah itu bisa berjalan dengan sebaik-baiknya tanpa harus melemahkan adat istiadat dan budaya setempat. Mungkin sejenis Sustainable Development program yang kira-kira yang bisa menjamin kebersinambungan perkembangan daerah itu secara paralel bersama dengan adat istiadat dan budayanya sekaligus. 

Saking serunya ngobrol, sehingga tak terasa tibalah kami di balai adat Haruyan setelah melalui beberapa lagi jalanan terjal. 

Bapak Penghulu Adat Haruyan menerima kunjungan peserta Loksado Writers 2017. Foto milik Roymon Lemosol.

Kami disambut oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan dan ibu beserta keluarganya. Kami berbincang bincang sebentar. 

Berbincang dengan Penghulu Adat Haruyan, Dayak Meratus Bapak Aeni. Foto milik Roymon Lemosol.

Bapak-bapak mengobrol dengan Bapak Aeni Penghulu adat Haruyan.  

Ibu penghulu adat Haruyan, Dayak Meratus.

Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu penghulu adat dan putrinya tentang keluarga, upacara adat, kegiatan para wanita, perawatan kebersihan wanita sehari hari hingga tanaman dan hasil panen. Obrolan yang penuh tawa canda seolah kami ini sudah bersahabat bertahun tahun.  

Senangnya berada di Haruyan.