Wajah Dan Bagian-bagiannya Dalam Bahasa Bali.

Standard

Sejak tinggal di rantau, praktis penggunaan Bahasa Daerah saya berkurang frekwensinya. Saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari hari. Karenanya, saya jadi kangen berbahasa Bali.

Mungkin ada teman pembaca yang ingin ikut berbahasa Bali bersama saya?.

Kali ini saya mengambil topik tentang Wajah. Apa sih bahasa Balinya wajah? Dan bagaimana kita mengatakannya? Serta apa bahasa Bali bagian dari wajah seperti hidung, bibir, mulut dan sebagainya.

Sebelum masuk ke topik wajah, sedikit saya jelaskan dulu kalau dalam bahasa Bali, umumnya kita memiliki minimal 2 (terkadang 3, 4 atau 5) tingkatan bahasa berdasarkan kasar halusnya (sor -singgih).

Bahasa Sangat Kasar -untuk binatang/memaki.

Bahasa Kasar – bahasa gaul untuk teman/ adik.

Bahasa Halus – bahasa untuk orang yang kira tuakan/ hormati.

Bahasa Sangat Halus – untuk hal hal niskala dan spiritual.

Nah… dalam hal ini secara umum saya akan membahas bahasa kasar dan halusnya saja.

Wajah.

Wajah dalam bahasa Bali biasa disebut dengan Mua, Prerai.

Kasar = Mua (kata benda), Goba (kata keadaan – terkadang dipakai dalam kalinat teguran/marah)

Halus = Prerai.

Contoh penggunaan sebagai berikut:

Muane I Luh jegeg cara bulan. Wajahnya I Luh cantik bagaikan bulan.

Goban nyaine, judes sajaan!. Mukamu (perempuan), judes sekali.

Tiyang seneng nyingakin Prerain Ida. Saya senang mรจlihat wajahnya (orang yang saya hormati i.e ayah, ibu dsb).

Hidung.

Kasar = Cunguh.

Halus = Irung.

Mata

Kasar = Mata

Halus = Penyingakan.

Sangat Halus = Pengaksian, Soca.

Catatan: Soca juga sering digunakan untuk mata cincin dalam bahasa Bali sehari-hari. Socan bungkung = mata cincin.

Alis

Kasar = Alis

Halus = Rarik, Wimba.

Jidat

Kasar = Gidat

Halus = Lelata.

Mulut

Kasar sekali = Bungut.

Halus = Cangkem.

Bibir

Kasar = bibih.

Halus = Lambe.

Dagu

Kasar = Jagut

Halus = Jagut.

Pipi

Kasar = pipi

Halus = pipi.

Bulu mata

Kasar = bulun peningalan.

Halus = bulun penyingakan, ringring

Telinga

Kasar = Kuping.

Halus = Karna.

Leher

Kasar = Baong.

Halus = Kanta.

Janggut

Kasar = Jenggot.

Halus = Cerawis.

Rambut.

Kasar = Bok

Halus = Rambut.

Gigi

Kasar = Gigi

Halus = Untu.

Advertisements

Friend Requests!.

Standard

Saat sekarang, ber-sosial media rasanya sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian besar orang. Entah itu lewat Facebook, Instagram, WA dan sebagainya. Saya sendiri termasuk salah satu diantara orang yang senang berbagi cerita, photo, video atau sekedar melihat lihat status teman, sahabat dan keluarga di Sosial Media di saat senggang. Saya melihat lebih banyak manfaatnya ketimbang keburukannya. Berbagai pengalaman dan pengetahuan baru tentu juga saya dapatkan lewat media ini. Juga pertemanan.

Nah…salah satu pengalaman yang ingin saya share di sini adalah soal Friend Request!. Secara umum, kita meminta maupun menerima banyak pertemanan kepada atau dari orang orang yang memang kita krnal di dunia off line. Sangat jarang kita meminta pertemanan dengan orang yang tidak kita kenal. Kecuali jika orang itu artist, public figure atau idola kita.

Tapi jika ada diantara orang yang tidak kita kenal meminta pertemanan dengan kita, apa yang akan kita lakukan?.

Biasanya hal pertama yang saya lakukan adalah melihat mutual friends – nya dengan saya. Jika mutual friendsnya banyak berpuluh puluh jumlahnya, maka saya langsung accept tanpa mikir lagi. Minimal belasanlah. Kemungkinan vesar itu memang teman atau keluarga.

Jika mutual friendsnya ada tapi sedikit (bisa dihitung dengan jari), biasanya saya buka profilenya. Jika kira kira orang baik baik, tidak ada gambar gambar atau kalimat kalimat kurang sopan, umumnya saya accept. Tapi jika ada yang aneh aneh atau promo berlebihan, biasanya tidak saya terima.

Jika account itu tidak saya kenal dan tak ada mutual teman yang saya kenal, biasanya saya berhati hati. Milih milih dan lihat lihat profile serta statusnya. Kadang saya terima kadang tidak.

Tapi ada lagi yang profilenya mencurigakan. Entah apa maksudnya, dia menggunakan foto orang lain sebagai foto profilenya dan namanya saya tak tahu apakah asli atau tidak. Biasanya menggunakan foto foto pria tampan dan berprofesi sebagai tentara, polisi, angkatan udara, pilot, dokter dan sebagainya.

Kalau begini langsung saya delete sajalah. Karena nggak ada gunanya juga meladeni orang yang aneh.

Ini adalah salah satu contoh Account yang meminta pertemanan dalam waktu 2 jam menggunakan foto profile yang sama, tetapi nama account yang berbeda. Masak jam 8 ngaku bernama Pedro Richard, terus jam 10 nya mengaku bernama Melvin Hertling. Baah… aneh banget dah ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ.

Yang macam begini biasanya saya delete..

Tapi setelah itu dapat notifikasilah dari Facebook ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€.

Ayo teman-teman, coba sharing bagaimana cara teman teman menyikapi Friend Requests di SosMed?

Membuat Sendiri: Telor Asin.

Standard

Telor Asin!. Siapa yang suka telor asin?. Saya sering terpikir ingin membuat sendiri telor asin. Tapi belum pernah sempat belajar bagaimana cara membuatnya. Sungguh beruntung, ketika sedang ke pasar bersama, Mbak yang bekerja di rumah saya bercerita bahwa ia bisa membuat. Wah, pucuk dicinta ulam tiba!. Saya bisa belajar dari si Mbak.

Seketika saya membeli bahan -bahan yang dibutuhkan. Diantaranya 10 butir telor bebek, 1 bungkus abu bakar dan sebungkus garam dapur.

Ayo! Mari kita coba bikin.

1/. Cuci bersih telor bebek. Gunakan kawat cuci untuk menggosok permukaan telor agar benar benar bersih dan pori- pori cangkangnya terbuka dengan baik.

2/. Campur abu gosok dengan garam. Lalu tambahkan sedikit air. Aduk aduk agar garam merata dan membentuk adonan.

3/. Balurkan adonan abu gosok asin ke sekeliling telor. Tempatkan pada talam atau box. Dan diamkan selama 2 minggu.

4/ . Setelah 2 minggu, telor asin bisa dipanen. Caranya dengan melepas baluran abu gosok dan mencucinya dengan air.

5/. Setelah telor bersih kembali, kita rebus sampai matang.

Lihatlah!. Kita sekarang memiliki telor asin dengan kwalitas yang bagus. Kuning telornya memerah dan berminyak, putih telornya menepung dengan baik. Tingkat rasa asin ditentukan oleh banyaknya jumlah garam yang kita campurkan ke dalam abu.

Nah… seandainya kita sedang nggak punya pekerjaan, mungkin membuat telor asin bisa kita jadikan salah satu usaha untuk mengais rejeki. Caranya gampang dan peralatan dan bahan bakunya juga sangat sederhana.

Golden Temple of Amritsar,Tempat Suci Dimana Kemanusiaan dan Persamaan Diutamakan.

Standard
Golden Temple of Amritsar,Tempat Suci Dimana Kemanusiaan dan Persamaan Diutamakan.

Golden Temple di kota Amritsar, Punjab, India adalah salah satu tempat yang ingin saya kunjungi. Selain karena sangat terkenal, Golden Temple merupakan tempat suci Sikh India terbesar, sangat tua dan utama, dimana puluhan hingga ratusan ribu peziarah dan tourist berkunjung ke tempat ini setiap harinya. Golden Temple dalam bahasa setempatnya bernama Harmandir Sahid atau Darbar Sahid, hanya karena bangunan utama Temple ini dilapisi emas murni, sehingga oleh pengunjung disebut dengan Golden Temple.

Saya tiba di Golden Temple sekitar pukul 11 siang di sebuah parkiran rooftop. Lalu berjalan kaki menyelusuri jalanan bebas kendaraan yang dikiri -kanannya penuh dengan toko kerajinan India. Susah untuk memaksa mata agar tidak menoleh kiri dan kanan melihat berbagai kain sulaman India dan sari dipajang.

Setelah berjalan kaki beberapa saat, akhirnya tibalah kami di gerbang selatan dari Golden Temple. Melihat gerbangnya saja, saya sudah terkagum-kagum. Temple ini sangat besar sekali. Sayang kubah gerbang pintu selatannya sedang direnovasi. Merupakan salah satu peninggalan dengan gaya arsitektur jaman Mugal , Golden Temple dibangun oleh Guru Arjan (Guru ke 5 Sikh) dan diselesaikan oleh Guru Ram Das pada tahun 1577, di tempat di mana Guru Nanak (Guru pertama Sikh) bermeditasi dahulunya. Saat dibangun temple ini belum berlapis emas. Kemudian Maharaja Ranjit Singh melapisinya dengan emas.

Lepas Sepatu dan Pakai Tutup Kepala Bagi Semua Orang.

Di pojok sebelum memasuki gebang, penjaga memberi tahu bahwa kami tidak diperkenankan menggunakan alas kaki dan diwajibkan untuk menutup kepala. Berlaku sama, baik untuk pria maupun wanita. Sayapun segera menitipkan sepatu pada penjaga lalu bergegas menutup kepala saya dengan selendang.

Bertelanjang kaki saya berjalan ke arah gebang yang jaraknya lumayan jauh juga dari tempat penitipan sepatu. Sebelum memasuki gerbang, ada tempat pembersihan diri. Saya membasuh muka dan tangan saya. Lalu saya berjalan menerobos parit air yang dimaksudkan untuk mencuci kaki pengunjung yang masuk ke dalam Temple itu.

Temple di Tengah Danau.

Begitu memasuki gerbang, WOW!!!!. Saya terpesona oleh pemandangan di depan saya yang sangat menakjubkan. Di dalam bangunan bergerbang empat yang sekarang terlihat seperti benteng itu terdapat sebuah danau. Sebuah Temple warna emas berdiri dengan anggun di tengah sebuah danau buatan itu yang diberi nama Amrit Sarovar (Danau Amerta, atau Kolam Sari Nektar).

Sangat ramai sekali. Antrian untuk masuk ke dalam bangunan temple itu sendiri sangat berjejal dan panjang sekali. Ribuan orang banyaknya. Masalahnya yang hadir di sini bukan hanya umat yang ingin sembahyang tetapi juga banyak tourist yang datang untuk mengagumi keindahan Golden Temple ini. Perbandingan antara peziarah dan tourist saya dengar mencapai 75% vs 35%.

Saya berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa masuk ke bangunan itu dan berdoa di sana. Tapi akhirnya saya urungkan niat, karena pasti akan memakan waktu yang sangat lama. Bisa bisa sampai sore baru kebagian.

Sementara di luar bangunan, saya lihat orang orang yang datang seketika membungkuk memberi penghormatan lalu bersimpuh dan bersujud memanjatkan doa. Sayapun ikut bersimpuh di tepi kolam dan berdoa di sana saja.

Menerima Berkah Makanan.

Sekitar pukul 12.30 kami diajak makan siang di Temple. Saya dijelaskan bahwa Temple menyediakan makan untuk siapa saja yang berkunjung ke Golden Temple, tidak memandang apapun agama ataupun suku bangsanya. Dikasih semua. Atas dasar kemanusiaan, persaudaraan dan persamaan. Dan GRATIS !!!!!. Wow!!๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ฎ Bagaimana bisa ya? Kan jumlah pengunjung temple ini ada puluhan ribu jumlahnya setiap hari?. Sungguh sebuah Kedermawanan tingkat tinggi yang sedang ditunjukkan kepada saya, salah seorang pengunjungnya. Tak ada tempat suci lain yang seperti ini.

Akhirnya saya ikut arus ribuan orang yang bertelanjang kaki menuju dapur umum. Di sana kami mencuci kaki lagi dan tangan kami. Lalu menerima pembagian piring dan mangkuk untuk tempat air.

Saya memasuki ruangan besar beralaskan semen. Dimana orang orang duduk berbaris rapi menikmati hidangan yang dibagikan petugas. Mereka makan dengan tertib. Lalu berdiri dan berbaris keluar ketika sudah selesai. Meninggalkan barisan kosong yang segera diisi oleh orang lain yang baru masuk dengan tertib.

Saya duduk bersila di barisan yang panjang. Petugas menuangkan bubur putih dan dal, sejenis bubur yang terbuat dari kacang kacangan. Ada 3 jenis menu di piring saya. Saya pun makan dan minum dengan nikmat. Setelah usai, saya keluar.

Ada petugas lain lagi yang menerima piring dan sendok yang kotor . Saya sungguh tercengang melihat dan mengalami semua itu.

Pelayanan, Keikhlasan dan Ketulusan Hati.

Untuk melayani ribuan pengunjung yang datang ke sana, ada puluhan atau mungkin ratusan orang yang menyumbangkan tenaganya untuk mengupas bawang, mengolah kacang, memasak , melayani membagikan piring, membagikan makanan, membagikan air, mengumpulkan peralatan makan yang kotor, dan mencucinya. Semuanya swadaya. Dan menurut seorang yang mengabdikan tenaganya di situ, walau sebanyak apapun pengunjung yang datang, selama ini tak pernah ada yang tidak kebagian makanan. Bahkan pada saat ada perayaan pun di mana 200 000 peziarah datang untuk sembahyang di sana, makanan tetap cukup. Luar biasa !.

Saya pulang dengan rasa kagum dan hormat yang tinggi. Bahagia sekali karena sudah diberi kesempatan untuk berkunjung dan berdoa di sana. Lebih bahagia sekali karena melihat dan mengalami sendiri, bagaimana di tempat suci itu, asas kemanusiaan dan persamaan lebih diutamakan di atas hal lain. Sungguh tidak ada ego dan fanatisme agama yang berlebih. Yang ada hanya ketulusan dalam memberi, keikhlasan dalam menerima kunjungan dan persamaan dalam menangani pengunjung tanpa memandang agama, suku maupun gendernya. Semua dilayani sama.

Di jalan, banyak sekali saya menemukan orang- orang yang sudah sepuh membawa buntelan (mungkin isinya pakaian dan barang keperluan sehari hari lain) kelihatannya datang dari jauh dengan berjalan kaki guna bisa berdoa di sana. Haru!.

Sambal Bunga Kecicang Hutan.

Standard
Sambal Bunga Kecicang Hutan.

Saya mendapatkan sekuntum Bunga Kecicang pemberian seorang teman. Warnanya lebih merah dari biasanya. Aah… saya tahu ini jenis Kecicang Hutan. Karena yang umum dibudidayakan adalah yang berwarna lebih pink. Tapi rasanya sama saja. Kecicang dalam bahasa Bali = Kecombrang (Jawa), Honje (Sunda).

Karena Bunganya sudah mekar dan ukurannya cukup besar, saya menggunakan sebagian Kecicang ini untuk Sambal dan sebagian lagi untuk memasak Ayam Kecicang.

Untuk membuat Sambal Bunga Kecicang, kita cuci bersih Bunga Kecicang ini. Lalu lepaskan kelopak bunganya satu per satu. Sampai habis.

Iris Bawang Merah dan Cabe Rawit tipis tipis.

Tumis Bawang Merah, Cabe dan Terasi hingga harum. Lalu masukkan Bunga Kecicang. Aduk aduk sebentar.

Angkat dari penggorengan dan hidangkan dalam mangkok saji.

Tumis Pedas Jamur Liar Daun Cemcem.

Standard
Tumis Pedas Jamur Liar Daun Cemcem.

Musim hujan. Membawa berkah dari langit. Berupa titik titik air yang membasuh bumi dan membangunkan biji biji dan benih yang tertidur di dalamnya. Terbangun untuk mewujudkan mimpi-mimpinya agar berkembang. Tak terbilang benih rerumputan, sayuran, perdu dan sebagainya yang tumbuh. Dan termasuk jamur pun bermunculan.

Di sela sela rumput halaman rumah saya pun bermunculan berbagai jenis jamur liar. Diantaranya ada jamur Barat yang bisa dimakan. Lumayan banyak juga, tapi sebagian ada yang sudah mekar kemarinnya. Tidak saya ambil yang begini. Hanya yang masih segar saja saya panen dan bawa ke dapur.

Dimasak apa jamur liar ini? . Karena memetik jamur liar adalah kenangan masa kanak-kanak waktu di kampung halaman di Bali, maka kali ini sayapuningin mengenang masa kecil dengan memasak jamur liar ini dengan bumbu traditional Bali, yakni Daun Cemcem.

Kebetulan banget ada daun Cemcem di halaman. Jadi bisa saya petik sedikit untuk masak.

Bagi teman teman yang belum tahu tentu penasaran, apa itu Daun Cemcem ya. Cemcem adalah tanaman sekeluarga dengan Kedondong. Tapi saya belum pernah melihatnya berbuah. Rasa daunnya asem seger mirip rasa buah Kedondong.

Di Bali orang menggunakan Daun Cemcem sebagai bumbu dapur atau sayuran untuk memberi rasa segar terutama pada masakan jamur, belut, siput , ayam dan sebagainya. Tapi karena pohonnya makin susah dicari, makin jarang orang masak dengan daun Cemcem.

Daun Cemcem juga banyak dijadikan jus ( Loloh Daun Cemcem) karena rasanya yang sangat segar.

Gimana cara memasaknya? Ya …sama seperti menumis sayuran lain.

1/. Bersihkan jamur. Lalu suir suir.

2/. Iris bawang merah, bawang putih dan cabe rawit.

3/. Petik daun Cemcem. Bersihkan.

4/. Masukan minyak untuk menumis ke wajan. Tunggu sampai panas.

5/. Masukkan bumbu iris, dan sefikit terasi, lalu masukkan jamur.

6/. Tambahkan sedikit air. Begitu mendidih, masukkan daun Cemcem. Aduk aduk. Tambahkan garam seperlunya.

7/. Angkat, pindahkan ke piring saji dan hidangkan.

Keselek Tulang Ikan Patin.

Standard

Saya ikut acara makan malam bersama yang diselenggarakan kantor di sebuah restaurant di daerah Sentul, Bogor. Untuk mempercepat waktu, teman panitya mengedarkan daftar menu sebelum kami berangkat, sehingga kita bisa memesan lebih awal. Saya sendiri memesan Ikan Gurami bakar hasil mencontek dari teman sebelah.

Jam 19.15 kamipun berangkat menuju restaurant yang dimaksud. Karena jumlah kami banyak, restaurant itu tetap saja keteteran. Ada pesanan yang dihidangkan lebih cepat dan ada juga yang lama. Orderan saya termasuk yang lama datangnya.

Karena sudah lapar, dan pesanan belum datang, maka teman-teman yang pesanannya sudah datang menawarkan untuk berbagi saja. Semua makanan yang ada di atas meja kita sharing saja. Di depan saya terhidang sebuah makanan unik “Ikan Patin dalam Bambu”. Orderan teman yang duduk di depan saya.

Waah… hidangan apa ini ya?. Saya tidak tahu banyak tentang Ikan Patin. Pernah sih diajak makan pindang Ikan Patin oleh teman saat sedang kunjungan kerja ke daerah Sumatera.

Masakan Patin dalam bambu ini lebih mirip dengan pepes. Banyak bumbu rempahnya, dibungkus daun pisang dan dimasak dalam bambu. Sayapun mencoba sesendok. Enak!. Karena ikan gurami pesanan saya sendiri sudah datang, maka saya lanjutkan makan dengan ikan gurami bakar. Sambil saya sharing juga ke teman teman lain.

Karena masih banyak, teman saya yang di sebelah menawarkan lagi ikan patinnya. Dia juga ngorder ikan patin dengan bumbu yang sama di dalam bambu.

Menurut saya, sebenarnya yang bikin enak adalah bumbunya. Ikannya sih biasa saja, jadi saya ambil bagian yang dekat ekornya dimana bumbunya kelihatan tebal dan menumpuk. Saya ambil sesendok dan pindahkan ke piring saya.

Oooh!. Saya baru nyadar ikan patin ini ada banyak durinya juga. Duri berupa tulang ikan yang kecil dan tipis. Sebelumnya saya tidak tahu kalau Ikan Patin ini memiliki duri banyak. Terbersit dalam pikiran saya jika duri tertelan dan nyangkut, pasti bakalan repot banget deh. Jadi saya singkirkan durinya dan makan sedikit dagingnya serta bumbunya.

Saat menelan suapan pertama tiba tiba saya sadari, ada duri ikan nyangkut di kerongkongan saya. Waduww!. Kok secepat ini kejadiannya ya?. Baru saja saya bayangkan, tiba tiba saja sudah terjadi dalam hitungan menit atau bahkan mungkin detik. Tulang ikan nyangkut di kerongkongan saya!. Makanya, jangan suka berpikir buruk. Konon otak kita bekerja seperti magnet raksasa. Ia menarik apapun yang kita pikirkan ๐Ÿ˜€.

Terus terang saya panik. Berusaha batuk untuk mengeluarkan duri itu. Tapi duri tidak bergerak. Saya rasa dia nancap di pangkal tenggorokan saya. Saya minum teh hangat banyak banyak. Tapi tidak menolong.

Teman teman yang melihat kejadian itu berusaha menolong dan menyarankan makan nasi bulat bulat tanpa dikunyah. Saya ikuti. Tapi tak berhasil. Yang ada saya malah mual mual.

Akhirnya saya ke toilet. Mau melihat di kaca dengan bantuan senter hape. Siapa tahu tulangnya bisa kelihatan dan bisa saya ambil. Ternyata tidak kelihatan apa apa. Saya terus berusaha batuk- batuk dan muntah, siapa tahu tulangnya bisa bergerak keluar. Tapi ternyata tidak bisa. Dia tetap di situ dan sangat sakit. Saya pikir kerongkongan saya mulai terluka sekarang.

Saya kembali ke teman teman saya. Dan coba lagi cara- cara yang disarankan oleh teman teman saya. Banyak – banyakin minum yang panas, telan nasi bulat bulat. Tetap tidak berhasil. Kerongkongan saya makin sakit.

Setelah berembug dengan teman teman, akhirnya saya diantar ke UGD rumah sakit terdekat di Bogor. Perawat dan dokter di sana menerima saya dengan sangat ramah. Menanyakan kasus saya dan mulai pemeriksaan dengan seksama. Tapi dokter UGD tudak menemukan tulang di area kerongkongan yang bisa terlihat. Hanya iritasi dan kemerahan karena luka. Apakah durinya sudah nggak ada? Tapi kok masih terasa mengganjal dan sakit ya?. Mungkin posisi duri ikannya agak turun saja, tapi masih tetap di situ. Dokter UGD cuma bilang, jika besok masih terasa sakit sebaiknya saya ke dokter specialist THT. Dan beruntung banget saya tidak dikasih bayar di UGD bahkan satu rupiahpun tidak. Jadi saya melenggang ke luar dengan penuh terimakasih pada dokter dan perawat UGD rumah sakit itu.

Di hotel saya terus berusaha mendorong tulang ikan itu dengan pisang dan minum banyak banyak. Rasa sakit terus menyerang setiap kali saya menelan ludah atau menengok ke kanan. Leher saya terasa mulai menghangat temperaturnya.

Lelah dengan usaha itu, saya mulai berdoa. Semoga Tuhan meringankan penderitaan saya dan mengangkat keluar duri ikan itu. Oh ya.. sekarang saya baru ingat bahwa tadi sebelum makan, saya lupa berdoa agar apapun yang saya makan menyehatkan tubuh saya dan tidak menjadikan saya sakit.

Saya juga lupa berterimakasih pada ikan patin itu yang telah mengorbankan nyawanya sendiri demi kelangsungan hidup mahluk lain. Yaitu saya. Ooh….maafkan saya ikan.

Siang ini saya ke dokter THT. Entah keajaiban datang dari mana, sementara menunggu dokter tiba-tiba rasa mengganjal di kerongkongan saya hilang. Rasa sakit masih tetap ada, tapi rasa ganjal menusuk itu sudah tak ada. Ooh…saya merasa sangat bersemangat. Semoga tulang itu sudah turun ke usus saya. Dan rasa sakit itu hanya dari luka goresan. Dan setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, dokterpun mengkonfirmasi bahwa sudah tidak ada lagi benda asing di sekitar tenggorokan saya. Jadi harusnya saya aman.

Terimakasih Tuhan. Atas perlindungan dan keselamatan yang Engkau berikan.

Saya hanya bisa menasihati diri saya sendiri:

1. Berhati- hatilah kalau makan.

2. Kenalilah dengan baik apa yang engkau makan.

3. Berterimakasihlah kepada setiap mahluk yang telah mengorbankan nyawanya demi keberlangsungan hidup kita dan merelakan dirinya menjadi bagian dari tubuh kita sang pemakannya.

4. Berterimakasihlah kepada Tuhan atas makanan yang kita makan. Dan berdoalah semoga makanan ini memberi kesehatan dan kekuatan untuk tubuh kita dan tidak menjadi penyakit.

Resep Masakan: Black Mushroom Vegietofu.

Standard

Black Mushroom Vegietofu!. Alias Tahu Sayuran dengan Jamur Kuping. Ini cemilan yang sumpah enaaaak bangetz. Setidaknya menurut saya.

Awalnya saya mengenal camilan ini dari seorang pembantu rumah tetangga. Bossnya sering membuat dan menjual kue yang membutuhkan banyak penggunaan Kuning Telor.

Nah…lalu Putih Telornya di kemanain? Si Mbak lalu dengan kreatif membuat Putih Telor ini sebagai campuran tahu sayuran. Nah.. dari sini terciptalah itu camilan yang enaknya bikin tetangga ketagihan. Si Mbak menjual tahu jamur kuping ini ke tetangga. Termasuk ke saya.

Sayangnya setelah si boss wafat, si Mbak tidak lagi membuat kue dan tahu sayuran. Ia tidak lagi bekerja di sana. Ia beralih profesi menjadi Tukang Nasi Uduk. Dan sayapun kehilangan tahu sayur jamur kuping buatan si Mbak.

Untuk mengurangi kangen, sesekali saya membuat sendiri camilan ini dengan meminta resep.pada si Mbak.

Bahan yang diperlukan:

Tahu putih 1bh (pilih yang empuk dan masih baru), putih telor 3 butir, jamur kuping sebungkus ( kira kira isi 4-5 buah), wortel 1 buah, bawang bombay 1/2, bawang daun 1 batang, seledri 1 tangkai, garam, gula, minyak wijen secukupnya.

Cara Membuat:

1/. Cuci bersih semua bahan. Remas/ulek tahu putih hingga hancur.

2/. Iris iris tipis lalu cincang jamur kuping. Masukkan ke dalam adonan tahu.

3/. Parut halus wortel. Masukkan ke dalam adonan.

4/. Cincang Bawang Bombay, Bawang Daun dan Seledri. Masukan ke dalam adonan.

5/. Masukkan garam, gula pasir dan minyak wijen secukupnya ke dalam adonan. Tambahkan bumbu penyedap.lain jika suka.

6/. Aduk aduk adonan. Lalu tambahkan putih telor dari 3 butir telor ayam. Aduk aduk.lagi hingga merata.

7/. Masukkan adonan tahu jamur kuping ke dalam loyang. Kukus dengan api sedang.

8/. Setelah tahu matang, keluarkan loyang. Biarkan hingga dingin.

9/. Potong potong tahu dengan ukuran sedusi selera.

10/. Gulingkan tahu di dalam.kocokan telor. Lalu goreng.

11/. Hidangkan tahu dalam keadaan hangat hangat. Bisa juga ditemani dengan cabe rawit hijau.

Kisah Koloni Lebah Madu Yang Mampir 3 Jam di Halaman.

Standard

Akhir pekan, saya dan anak saya dibantu orang rumah membersihkan halaman. Menggemburkan tanah lalu menabur pupuk NPK secukupnya pada tanaman bunga agar rajin tumbuh kuncup dan makin sering berbunga.

Saat menyiangi tanaman di bawah pohon Spruce yang ditanam anak saya sekitar 10 tahun yang lalu, tak sengaja saya mendongak ke atas. Terlihat ada benda yang menggelantung di sana. Di salah satu cabang dan daunnya. Apa itu ya?. Sayapun berdiri dan mendekat agar bisa melihat dengan lebih seksama.

Wow!. Sebuah koloni Lebah Madu!. Saya sungguh sangat girang melihat pemandangan itu. Ribuan lebah kelihatan berkumpul di titik itu. Berkumpul membangun sarang baru. Dengan sangat kegirangan sayapun berteriak memanggil anak saya untuk menyaksikan kejadian langka ini.

Tapi anak saya kelihatan malah agak khawatir jika Lebah Madu itu membuat sarang di sana. “Takutnya ntar malah menyengat kita. Mendingan diusir sebelum mereka menetap di situ” kata anak saya. “Tidak!. Lebah tidak akan menyengat jika kita tidak mengganggunya” kata saya. Jadi biarkan saja di situ.

Saya lalu memberi pengertian pada anak saya bahwa kita harus membantu membiarkan lebah berkembang untuk menjaga keutuhan ekosistem. Lebah membantu penyerbukan tanaman kita. Biarkan lebah itu bersarang di tempat yang disukainya.

Halaman rumah kita adalah tempat yang nyaman buat Lebah Madu untuk bersarang, karena kita menyediakan makanan yang berlimpah untuk mereka, berupa bunga bunga yang mekar di halaman.

Anak saya merasa masih belum nyaman. Ia masih khawatir jika lebah- lebih ini mengamuk dan menyerang. Tapi saya tidak memperpanjang lagi kalimat saya. Terlalu malas berdebat. Sayapun melanjutkan pekerjaan saya memberi pupuk pada tanaman. Demikian juga anak saya kembali sibuk mencongkel umbi umbi bunga Lily Hujan / Zepyranthes yang bertebaran tak beraturan di halaman.

Beberapa saat kemudian, kembali saya menengok koloni Lebah Madu di pohon Ciprus itu. Astaga!!!. Ternyata koloni Lebah Madu itu telah menghilang begitu saja. Batang itu sekarang kosong dan bersih. Tak ada lagi ribuan lebah yang bergantung. Jangankan ribuan atau ratusan, ini seekorpun tidak tersisa. Sungguh saya heran dengan kejadian ini. Kemanakah gerangan mereka pergi?. Saya mencoba melihat lihat di pohon lain. Tidak ada. Tidak ada diantara kami yang mengetahuinya.

Pasti ada sesuatu yang tidak tepat, mengapa koloni Lebah Madu itu mengurungkan niat membuat sarang di halaman.

Entah kenapa saya merasa sangat sedih dan menyesal dengan kejadian ini. Saya pikir kami tidak menyambut kedatangan lebah lebah itu di halaman rumah kami dengan cukup baik.

Dan percaya atau tidak… alam sekitar mungkin mampu membaca hati kita. Membaca pikiran kita, lewat gelombang otak yang kita pancarkan. Walaupun lebah lebah itu tidak bisa berbicara dengan kita, tetapi sesungguhnya mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan kita. Mungkin mereka bisa menangkap energy dan gelombang yang kita pancarkan. Mereka membaca kekhawatiran anak saya dan bisa merasakan jika mereka tidak diterima dengan mulus untuk bersarang di halaman rumah ini. Mungkin saja itu penyebab mengapa koloni lebah itu pergi entah kemana. Saya sangat menyesal, tidak menutup percakapan saya dengan anak saya sebelumnya dengan baik. Harusnya saya tegaskan kepada anak saya bahwa koloni lebah ini akan kita terima dengan baik di sini.

Nah…itulah pentingnya berpikir dan berkata serta bertindak yang selalu positive terhadap mahluk lain. Saya harus minta maaf pada koloni lebah ini.

Anak saya mencoba mencari penyebab lain dengan mengatakan bahwa koloni Lebah Madu itu mulai bergerak pergi sedikit demi sedikit sejak ia menyalakan mesin kendaraan yang di parkirnya di bawah pohon Ciprus itu. Bisa jadi. Mungkin karena bising. Sehingga Lebah pun tidak merasa nyaman.

Whua ha ha… mungkin saya terlalu melankolis. Mungkin anak saya benar, bahwa suara mesin kendaraanlah yang membuat Lebah Madu itu merasa kurang nyaman. Kelihatannya ini yang lebih logis dan masuk di akal.

Karmaphala dan Tuker Kado 50 Ribu Rupiah.

Standard

Awal tahun ini teman teman saya berinisiatif mengadakan acara tukar kado dan potluck. Buat seru seruan aja. Harga kado sudah ditetapkan 50 ribu rupiah. Oke. Baiklah!.

Sayapun membeli kado seharga yang ditetapkan. Agak susah nyarinya dengan harga yang pas 50 ribu karena hari sudah malam. Akhirnya saya mendapatkan sebuah barang yang harganya sedikit di atas 50 ribu. Sebuah box tempat makanan yang di dalamnya dibagi menjadi 5 kotak. Ya…kurang lebih lah ya. Sampai di rumah, saya dibantu membungkus kado dengan koran sama Mbak Siti. Rapilah pokoknya.

Esok paginya saya bawa kado itu ke kantor. Seorang teman yang jadi panitya menerima dan memberi code. Saya sendiri tidak terlalu memperhatikan.

Kira kira pukul 9.30 acara dimulai. Setiap orang mendapatkan kesempatan untuk mengambil nomer undian. Termasuk saya. Ah!. Saya mendapat nomer 17.

Panitya memanggil pemegang undian dari nomer 1, 2, 3, dan seterusnya untuk mengambil kado yang dimenangkan. Tak sabar rasanya saya menunggu nomer 17 dipanggil.

Ketika giliran nomer saya tiba, panitya menyerahkan sebuah bungkusan bernomer 17. Bentuknya kotak. Apa ya isinya kira kira? Sayapun membuka bungkusnya. Dan isinya….. jreng! Jreng!.

Box makanan!. Dengan 5 kotak di dalamnya!. Astagaaa!!!. Ini kan kado saya sendiri. Whua ha ha ha ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ.

Sungguh perustiwa langka. Jadi sebenarnya bisa dibilang saya memberi kado untuk diri saya sendiri he he he.

Teman teman saya menyarankan untuk menukarkan saja dengan kado yang didapat oleh teman lain. Saya hampir setuju. Tapi kemudian saya berpikir, peristiwa seperti ini sangat jarang terjadi. Dan alam semesta mungkin sedang mengingatkan saya akan adanya hukum Karmaphala yang abadi.

Bahwa sesungguhnya apapun yang engkau berikan kepada mahluk lain, pada akhirnya akan berbalik kepada dirimu sendiri, nett nett seharga yang telah engkau keluarkan. Tidak lebih dan tidak kurang. Jika kebaikan yang engkau berikan, maka kebaikanlah yang akan datang padamu. Sebaliknya jika keburukan yang engkau tebarkan, maka keburukan juga yang akn datang padamu. Jika 50 ribu yang engjau berikan, maka 50 ribu juga yang akan engkau terima.

Mungkin ada suatu waktu kita menerima lebih dan memberikan kurang. Sementara di lain waktu kitalah yang memberikan lebih dan menerima kurang. Tapi ujung ujungnya kita akan menerima tepat seperti apa yang kita berikan. Itulah hukum karmaphala yang kekal dan abadi.

Mengingat semua itu, akhirnya saya bilang kepada teman saya. “Nggak usahlah ditukar. Saya senang mendapatkan kado dari diri saya sendiri. Memang undiannya hasilnya begitu”. Dan sungguh…. saya sangat senang dan bahagia.

Menyadari diri saya adalah bagian dari semesta dan mengikuti hukum hukumnya. Walau sekecil apapun perbuatan yang saya lakukan, sepenuhnya mengikuti mekanisne alam semesta.