Biji Duku Yang Tumbuh Di Dalam Perutku.

Standard

Flasback ke masa kecil : “Wah.gawat!!!. Kalau tertelan, biji duku ini nanti akan tumbuh di dalam tubuhmu” kata kakak sepupu saya. Astaga!!!!!🤤🤤🤤

Semalaman saya tak bisa tidur memikirkan kalimat itu setelah tanpa sengaja saya menelan biji duku. Saya menyangka, besok paginya biji duku itu akan keluar akar yang menjalar dan mungkin menembus perut saya. Tumbuh batang dan ranting yang mungkin menembus tenggorokan mulut, mata, hidung dan telinga saya. Whua…betapa mengerikannya 🤤😲😢😭

======================================

Kejadian masa kecil itu melintas kembali di ingatan saya pada suatu siang, ketika saya berada di sebuah studio foto dan tuan rumah menghidangkan buah duku.

Buat anak kecil, memakan buah duku bukanlah perkara yang mudah. Karena untuk membukanya saja, kulit buah ini terkadang bergetah dan pahit. Terutama jika buahnya kurang tua. Jadi harus pintar pintar memilih yang kulitnya empuk dan tua biar nggak bergetah.

Lalu setelah memilih buah yang tua dan manis, kita dihadapkan pada masalah biji duku. Tidak semua juring buah duku bebas biji. Beberapa bahkan ada yang bijinya besar. Dan jika tergigit rasanya sungguh pahit. Nah kita harus pelan pelan dan hati hati memakannya. Jika bijinya kecil, memang lebih praktis langsung telan saja 😀😀😀.

Dari kesulitan itulah akhirnya banyak anak menelan biji duku baik sengaja maupun tak sengaja. Dan rupanya, banyak anak juga yang mengalami dibohongin kakaknya bahwa “nanti biji duku yang tertelan ini akan tumbuh di perut ” . Bukan saya saja. Ha ha

Sambil mengunyah buah duku, saya mikir mikir lagi. Mungkin sebagian ada benarnya juga, pernyataan bahwa biji duku itu nanti akan tumbuh dalam tubuh kita itu.

Teringat obrolan dengan seorang sahabat saya. Sebenarnya, apapun yang kita makan, termasuk buah duku dan bijinya, masuk ke dalam perut kita, pada akhirnya akan dicerna juga dan dimanfaatkan untuk membangun tubuh kita sendiri. Walaupun tentu ampasnya dibuang oleh tubuh. Sari sari buah duku ini akhirnya menjadi tubuh saya. Betul bahwa ia ikut tumbuh dalam tubuh saya.

Buah duku ini telah mengorbankan dirinya dan jiwanya untuk menjadi bagian dari tubuh, tempat di mana jiwa saya bersemayam. Ia berkorban untuk saya. Ia berjasa bagi saya.

Oh…tapi mengapa saya tidak mengucapkan terimakasih saya kepada buah duku ini?. Dan faktanya sata tidak hanya makan buah duku saja selama hidup saya. Ups!!!!.

Saya juga makan beras/padi, makan kangkung, makan ayam, ikan, talas, singkong, dan sebagainya. Whuaaa…banyak sekali mahluk hidup yang saya makan. Ribuan, mungkin jutaan nyawa telah berkorban hanya untuk kepentingan satu nyawa. Yaitu nyawa saya sendiri. Mengapa saya tidak pernah ingat untuk berterimakasih pada semua mahluk hidup itu?????. Padahal mereka sudah sangat berjasa mengorbankan nyawanya untuk membangun tubuh saya.

Kalau sedang ingat, sebenarnya saya juga berdoa sebelum makan sih. Berdoa kepada Tuhan, berterimakasih sudah diberikan rejeki sehingga saya masih bisa makan hari itu. Berdoa agar makanan yang saya makan memberikan kesehatan yang baik untuk saya dan bukan membuat saya sakit. Kedengerannya cukup religius juga ya saya (kalau sedang ingat 😀) ha ha… Semua doa doa itu tentu sudah baik.

Akan tetapi, saya pikir sebenarnya berdoa seperti itu saja belum cukup. Akan lebih baik lagi jika saya juga selalu berterimakasih dan mengenang pengorbanan diri hewan-hewan dan para tanaman yang saya makan ini yang telah nengorbankan kelangsungan hidupnya, demi untuk mendukung kelangsungan hidup saya.

Sekarang jika ada orang yang bertanya kepada saya, siapakah saya?. Jawabannya, saya adalah kumpulan mahluk mahluk yang telah mengorbankan nyawanya dan kehidupannya untuk sebuah kehidupan lain.

Advertisements

Anakan Pohon Kari.

Standard

Kemarin, saya dan Asti – seorang sahabat saya, diantar pulang oleh supir dari sebuah acara kantor di Bogor. Rumah Asti lebih dekat. Jadi kami mengantar Asti dulu, baru saya. Karena ngantuk, sepanjang perjalanan saya tidur. Bangun bangun sudah di depan rumah Asti.

Begitu membuka mata, sungguh saya terpesona. Mata saya terbelalak. Whua… pohon Kari!!!. Lebat sekali daunnya. Ada bunga dan buahnya pula. Bahkan ada anakannya. Banyak sekali bertebaran di tanah.

Pohon Kari atau disebut dengan nama lain Pohon Salam Koja (Murraya sp), adalah salah satu tanaman yang daunnya umum dimanfaatkan untuk penyedap masakan sebagaimana halnya dengan daun Salam biasa. Rasanya sedikit berbeda tetapi sama sama sedap.

Sudah lama saya ingin menanam pohon kari. Sayangnya belum menemukan bibitnya. Sempat nanya ke tukang tanaman. Juga kurang beruntung. Tukang tanaman yang di dekat rumah tak punya bibit tanaman ini. Nah…tiba tiba melihat sedemikian banyaknya anakan pohon kari, tentu saja saya jadi girang dan tergeran heran.

Melihat saya terpesona, Asti langsung membaca pikiran saya. Seketika menawarkan, apakah saya mau anak pohon kari itu. Whuaa… tentu saja saya mau. Saya senang bukan alang kepalang. Mimpi saya punya pohon kari menjadi kenyataan.

Sekarang saya semakin yakin akan petuah para tetua “Mimpi akan menjadi kenyataan jika kita terus memfokuskan diri dan berusaha untuk meraihnya” he he he.

Mulailah saya mencongkel tanah di sekitar anakan pohon kari untuk memastikan akarnya ikut tercabut. Lumayan dapat 5 anakan. Sayangnya 2 diantaranya putus akar tunggangnya.

Sampai di rumah, karena hari sudah mulai gelap dan saya tak sempat langsung menanamnya, saya rendam dulu akarnya dengan air biar tetap segar. Besoknya baru saya tanam di pot sambil berdoa dalam hati, semoga bisa tumbuh dengan baik.

Sekarang tanaman ini sudah di potnya dan kelihatan tetap segar. Syukurlah.

Terimakasih Asti.

Petualangan: Sendiri Di Tengah Hutan.

Standard

Pernahkah teman pembaca berada di tengah hutan? Sendirian? Tanpa ada satu manusiapun di sekeliling kita?Hanya kesunyian dan suara hutan?.

Saya sering melamun berada dalam suasana seperti itu. Indah, tenang dan damai dalam bayangan saya. Menyatu dengan alam. Tapi ketika lamunan itu menjadi kenyataan, dan saya sungguh -sungguh berada sendirian di tengah hutan, ternyata saya ngeper juga. Tak seindah yang saya bayangkan!.

Kejadiannya adalah ketika saya mengajak adik, anak dan 2 keponakan saya bermain ke Pondok Halimun di kaki Gunung Gede. Rencana awalnya sih cuma mau foto foto di kebun teh dan bermain di kali. Tetapi anak saya ingin mengajak kami naik ke lereng Gunung Gede menuju Curug Cibeureum.Waduwww… tentu saja saya tidak setuju, karena selain jauh, matahari juga sudah mulai sedikit miring ke barat.

Tahun sebelumnya ia sudah ke sana dan seingat saya, bolak balik membutuhkan waktu tidak kurang dari 4 jam.

Penyebab lain karena kami tidak dalam keadaan siap untuk mendaki dan memasuki hutan. Keponakan saya yang perempuan menggunakan sandal high heel, sementara keponakan yang laki, kakinya sedang luka kena pecahan keramik sehari sebelumnya. Sementara saya sendiri sangat mudah terserang kram kalau kelelahan.

Tapi tanpa menunggu persetujuan saya, anak dan 2 keponakan saya sudah melesat jauh di depan. Langkah mereka sangat ringan dan cepat. Tak punya pilihan, terpaksa saya dan adik saya mengekor di belakang.

Kami memasuki pos penjagaan pertama, menuliskan identitas dan mulai berjalan memasuki areal Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jalanan cukup landai dengan semak terbuka di sana sini. Sedikit demi sedikit jalanan yang dilapisi batu kali itu mulai menanjak. Saya berjalan sambil melihat lihat pemandangan sekitar. Pohon pohon dan belukar. Semak semak dan air sungai serta kali kecil yang mengalir jernih di sela bebatuan. Indah.

Bunga bunga liar dan kupu kupu aneka warna. Juga belalang dan capung. Saya terus melangkah. Jalanan semakin menanjak. Entah karena saya terlalu banyak memperhatikan kupu kupu dan bunga bunga liar, atau entah karena langkah kaki saya memang lambat, sekarang adik saya sudah berada sekitar 15 meter di depan saya.

Kaki yang kram

Jalanan berbelok dan menanjak. Saya mulai merasakan tanda tanda kelelahan pada kaki saya. Kram kaki!. Inilah yang saya takutkan.

Saya berhenti sejenak. Melatih kaki kanan saya dan menenangkannya agar tidak kram lagi. Beberapa saat kemudian, kaki saya bisa digerakkan dengan baik kembali. Sayapun melanjutkan perjalanan. Adik saya sudah tak tampak lagi di depan. Jalanan kembali menanjak dan sekarang saya melihat ada lahan terbuka tempat camping ground yang kelihatannya kurang terpelihara. Saya melintas. Aduuh kaki kanan saya kram lagi. Untung cuma sebentar.

Saya terus berjalan. Berusaha menyusul adik saya. Tetapi tak kelihatan sama sekali. Mungkin sudah terlalu jauh. Saya tetap melangkahkan kaki saya pelan pelan di jalanan yang menanjak itu.

Papan Petunjuk Yang Ada.

Sekarang saya melihat papan petunjuk. Ke kiri arah pendakian Gunung Gede, ke kanan ke arah air terjun Cibeureum. Saya jadi tahu jika saya harus ambil jalan ke kanan.

Saya berjalan ke kanan sesuai dengan petunjuk. Mendaki lalu menurun. Astaga! Kaki saya kram kembali. Kali ini saya paksa tetap berjalan. Mengingat jarak saya tertinggal sudah semakin jauh. Saya seret kaki saya dengan rasa salit yang amat sangat. Akhirnya saya tiba di sebuah area terbuka. Mungkin bekas camping ground. Saya melihat ada bangunan baru yang belum selesai dikerjakan. Saya berharap bertemu manusia di sana. Minimum buruh bangunan yang bekerja. Tapi kelihatannya tidak ada seorangpun di situ. Mungkin para pekerja sudah mulai libur karena puasa menjelang Ramadhan.

Tidak ada jaringan seluler sama sekali.

Saya berhenti agak lama di sana karena kaki kram saya sangat membandel. Melintir dan tak mau diatur. Sekarang malah ke dua duanya. Kiri dan kanan. Saya pijit pijit dan tepuk tepuk kaki saya. Stretching kiri kanan ke deoan ke belakang. Saya mencoba menelpon adik saya. Astaga! Saya baru sadar, ternyata di sini tidak ada jaringan sama sekali. Jadi????

Pikiran saya tiba tiba bergerak buruk. Saya menoleh ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang. Tak ada satu bayangan manusiapun di situ. Bagaimana jika ? Ooh pikiran saya sangat buruk. Seandainya ada seseorang berbuat jahat pada saya saat itu.. merampok, memperkosa atau membunuh saya di tempat itu… siapakah yang akan tahu? Fuiih… saya cepat cepat menghapus pikiran buruk itu dari kepala saya. Lalu sayapun berjingkat. Terus berjalan. Saya harus berani. Demi anak saya yang sudah jauh berlari di depan.

Bulu Tengkuk Yang Merinding

Ada bangunan bangunan tua yang sudah rusak di situ. Batu batu yang cukup besar. Mungkin dulunya tempat ini adalah camping ground juga. Atau bangunan penjagaan team Konservasi Hutan barangkali . Saya tak tahu persis. Kaki saya mulai agak membaik. Langkah kaki saya lebih ringan.

Sekarang saya memasuki jalan setapak yang dinaungi oleh dahan dahan dan ranting pohon dari kiri kanan jalan setapak. Cahaya matahari meredup. Senja temaram di bawah kanopi hutan. Bulu tengkuk saya sedikit meremang.

Saya mengunci pikiran saya dan mensugesti diri saya sendiri bahwa saya tidak boleh takut dan tidak ada apapun yang boleh menguasai diri saya selain saya sendiri. Perlahan saya mulai sedikit tenang.

Apakah Saya Tersesat?

Namun ternyata itu hanya sebentar saja. Saya melihat tiang lapuk penunjuk jalan yang tak ada keterangannya. Rasa ragu ternyata sulit dibendung. Benarkah jalan yang saya lalui ini menuju Curug Cibeureum?. Bagaimana kalau saya tersesat? Ke mana anak dan keponakan saya pergi? Ke mana adik saya?. Saya sangat khawatir akan keselamatan anak-anak di depan. Rasa galau yang amat sangat menguasai hati saya.

Akhirnya saya berteriak memanggil manggil nama anak saya. Berharap suara saya bergema di seluruh hutan dan gunung itu dan terdengar oleh anak saya. Namun tak ada satupun yang menyahut. Hanya kesunyian dan suara hutan. Saya merasa sangat hampa. Semoga anak-anak baik baik saja.

Kekhawatiran akan nasib anak anak membuat saya kuat kembali. Demi anak anak. Saya tak boleh berhenti. Berjalan lagi, tibalah saya di tepi sebuah sungai.

Menyeberang Sungai.

Ada batu penyeberangan yang bisa saya injak satu per satu agar aman tak terbawa arus. Kalau saja ini pagi hari

Lewat sungai jalanan menanjak. Kaki saya mulai terasa lelah lagi. Ada pohon tumbang. Saya meloncatinya. Lalu berjalan lagi sambil berteriak memanggil manggil nama anak saya.

Saya menguatkan hati saya. Saya harus terus berjalan.

Oh… ada sungai lagi. Rasa ingin membuang air kecil tak tertahankan. Saya menyeberang dan akhirnya memutuskan membuang air seni di sana dengan sebelumnya memohon maaf. Ha ha… saya merasa di manapun berada tetap harus bersopan santun. Huh. Daripada daripada….

Medan Yang Semakin Sulit.

Selepas sungai, jalanan menanjak lagi. Disebelahnya jurang. Kanan…kiri..kanan.. Aduhai… medannya makin sulit. Batu batu di jalanan licin berlumut. Menanjak dan terus menanjak makin curam. Saya melangkah dengan sangat hati hati agar tidak tergelincir. Langkah saya makin berat.

Di atas ada tanah agak longsor di tepi jalan yang terjal. Saya melewatinya dengan sulit.

Saya Menyerah!!!

Kali ini kaki saya tiba pada bagian kram yang sangat serius. Rasa sakit menjalar sampai ke pangkal paha. Ke dua kaki saya tak bisa saya koordinasikan. Memelintir dan sakit tak terperi. Saya berusaha tetap merangkak ke atas. Perlahan lahan. Batu demi batu. Akhirnya saya tiba pada puncak kesakitan dan kelelahan. Saya menyerah!!!

Keringat saya mengucur. Jantung saya terasa berdegup lebih kencang. Saya memutuskan untuk duduk dan diam. Sambil meluruskan kaki saya. Baru saya sadari, saya sangat haus. Dan apesnya saya tidak membawa bekal air minum.

Dalam kelelahan saya mulai ragu. Apakah jalan yang saya lalui ini benar menuju Air Terjun? Kalau iya, masih seberapa jauh lagikah? Mengapa tidak ada plang penunjuk jalan yang menyebutkan Air Terjun sekian kilometer lagi, misalnya?. Saya menengok ke atas, kelihatannya puncak tinggal sedikit lagi. Tapi di manakah air terjun itu?.

Bagaimana jika jalan ini ternyata tidak menuju air terjun? Semakin jauh saya berjalan tentu saya semakin tersesat. Sementara matahari semakin temaram. Sudah pukul setengah empat sore. Jika saya salah jalan, tentu akan lebih sulit buat saya pulang dengan kondisi kaki seperti ini. Hari akan segera gelap. Melanjutkan perjalanan bukanlah pilihan saya saat ini.

Tapi saya percaya, adik saya yang di depan menyusul anak-anak adalah seorang wanita pemberani. Saya mengenalnya sejak kecil. Dan saya tahu ia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan anak-anak kami.

Saya menunggu dan berteriak lagi memanggil nama anak saya. Suara saya seperti tertelan dalam kesunyian rimba. Tiba- tiba ada suara bergerusak di pepohonan di sisi kiri saya. Saya terkejut. Gentar juga. Saya waspada dan menunggu. Ternyata tidak ada apa apa. Oooh! Lega rasanya.

Tetapi kejadian itu membuat saya menjadi lebih peka. Teringat bahwa di sini masih berkeliaran Macan Tutul yang walaupun sebenarnya pemalu, tetapi jika kepepet bisa menyerang manusia juga. Bagaimana jika tiba tiba ada Macan datang dan menyergap saya di sini? Atau lihatlah pohon pohon yang batang dan rantingnya melambai itu. Bagaimana jika ada ular besar tiba tiba memagut dan menelan saya hidup hidup di sini? Whua..😭 Bergidik saya memikirkan kemungkinan itu.

Ternyata sendirian di tengah hutan itu tidaklah seindah dan setenteram yang saya bayangkan.

Saya mengirim pesan kepada adik saya dan anak saya, walaupun saya tahu jaringan tidak ada. Saya akan turun. Tak ada gunanya meneruskan perjalanan ataupun menunggu sendiri di situ. Karena hari sudah gelap juga. Siapa tahu ada muzizat dan pesan saya ini terkirim kepadanya. Saya hanya bisa berdia semoga mereka baik baik saja semyanya dan nenikmati petualangannya ke Curug Cibeureum.

Serangan Pacet.

Akhirnya dengan mengikhlaskan dan memasrahkan diri kepadaNYA, sayapun berjalan turun. Ternyata dengan berat badan yang lumayan, berjalan turun juga bukan pekerjaan yang mudah 😀.

Turunan demi turunan, kelokan demi kelokan. Saya menyeberang balik dua sungai yang sebelumnya saya seberangi. Menembus jalanan sempit yang dipenuhi semak dan rumput. Saya berjalan terus dengan cepat sambil menunduk. Bulu kuduk saya meremang.

Tiba tiba ada yang terasa gatal dan nggak nyaman di betis saya. Astaga !!!. Ternyata kaki saya dikerubungi pacet!!!. Lintah yang hidup di dedaunan. Menempel dan mulai mengisap darah saya. Saya sangat panik dan berusaha melepaskan pacet pacet itu. Semakin panik, ternyata semakin sulit dilepas. Lepas dari kaki malah ada yg langsung menempel di tangan saya.

Waduuuh… ini lah masalah riil yang benar benar saya hadapi di hutan ini. PACET!!. Bukan hantu, pemerkosa, macan ataupun ular. Pacet ini benar-benar gila. Menempel, melubangi kulit dan mengisap darah saya. Dan saya rasa itu juga yang ia lakukan jika bertemu dengan mamalia lain yang melintas di sini.

Akhirnya setelah menenangkan diri saya mulai bisa mencabut pacet itu satu per satu dari kaki saya. Darah saya tetap mengucur keluar dari bekas gigitannya.

Setelah tenang saya melanjutkan jalan menurun. Cahaya senja makin meredup. Kembali melewati jalanan yg ditutupi ranting ranting pohon. Agak gelap di sini. Suara tupai. Dan anak burung Kedasih.

Sekarang saya mulai menikmati kesunyian hutan ini. Apa yang saya takuti? Mengapa saya harus terus menunduk dan takut? Bukankah seharusnya saya menikmati kedamaian ini?.Saya memotret bunga bunga liar dan daun daun pakis di sekeliling. Alangkah indahnya flora hutan yang beragam ini.

Ketakutan datang ketika kita mengambil jarak dan membiarkan diri kita menjadi orang asing di lingkungan itu. Namun jika kita menebas jarak dan membiarkan diri menjadi bagiannya, ketakutan itu ternyata menghilang.

Akhirnya saya tiba di pos penjagaan. Akhirnya bertemu dengan manusia. Bertemu dengan Igor, pria yang mengabdikan waktunya untuk konservasi fauna di taman nasional itu. Saya berbincang dengannya tentang berbagai jenis ular yang hidup di hutan itu sambil menunggu anak anak yang akhirnya pulang setelah berhasil mencapai Curug Cibeureum.

Sungguh sebuah perjalanan yang menarik!.

Ketupat Merang Sukabumi.

Standard

Ketupat! Secara umum identik dengan hari raya Idul Fitri. Walaupun di beberapa daerah di Indonesia, ketupat memiliki makna adat yang lain.

Kali ini saya cuma ingin menuliskan bagaimana orang di Sukabumi menyiapkan ketupatnya untuk hari raya Lebaran. Sedikit berbeda dengan kebiasaan membuat ketupat di kampung halaman saya di Bali. Karena itu saya ingin menuliskannya.

1. Pembuatan Kulit Ketupat (Cangkang)

Ini bisa dilakukan sendiri dari janur. Tapi jaman sekarang, hanya sedikit orang yang bisa dan punya waktu untuk membuat sendiri. Kebanyakan membeli kulit ketupat yang sudah jadi di pasar.

2. Menyiapkan Beras.

Beras dicuci bersih, ditiriskan lalu dicampur dengan sedikit garam dan air kapur sirih. Garam ditambahkan agar ada rasa dan berfungsi sebagai pengawet. Kapur berfungsi agar textur ketupat menjadi kenyal.

3. Memasukkan beras ke dalam kulit ketupat.

Kulit ketupat diisi dengan beras bersih yang sudah dicampur dengan garam dan air kapur. Setiap kulit ketupat diisi setengah lebih sedikit ( sekitar 60%) dari ruang ketupatvyang tersedia, untyk memastikan agar ketupat memiliki kepadatan yang tepat dan tidak mudah basi. Jika kurang dari 60% umumnya ketupat akan terlalu lembek dan mudah rusak. Sebaliknya jika lebih dari 60% ketupat akan menjadi terlalu padat dan keras texturnya sehingga kenikmatannya berkurang.

4. Merang.

Untuk mendapatkan ketupat dengan warna coklat yang menarik, maka ketupat direbus dengan air merang padi. Selain itu air merang padi juga memberikan aroma wangi khas pada ketupat.

Cara menyiapkannya, merang padi dibakar . Setelah dibungkus dengan kain kasa, lalu dimadukkan ke dalam air untuk merebus ketupat.

5. Merebus Ketupat.

Ketupat direbus sekitar 8 jam lamanya dengan api sedang. Baru diangkat dan digantung gantung agar airnya tiris dan ketupat kering.

Selamat menyambut hari raya Idul Fitri teman teman!. Mohon maaf lahir dan bathin.

S O L I T A I R E.

Standard

Solitaire! Sebagian besar pembaca seumuran saya tentu masih ingat games kartu ini. Games sederhana yang umum diawal awal kita mengenal gadget.Karena di jaman itu tak banyak ada games, sehingga yang saya mainkan ya games yang itu itu saja. Yang paling sering adalah Tetris dan Solitaire ini.

Tentu agak beda dengan games yang lebih complex yang umum dikenal anak anak jaman sekarang. Sehingga ketika anak saya melihat saya memainkan games ini ia ikut tertarik dan bertanya gimana cara mainnya?.

Saya tidak serta merta menjawab, karena hanya dengan melihatnya saja dengan mudah ia mengerti bagaimana cara memainkannya. Tetapi setelah ia pergi saya jadi mikir sendiri….

Bermain games ini sebenarnya mirip dengan nenjalani kehidupan. Kita bisa sukses memainkan games ini sebagian karena faktor keberuntungan, namun sebagian lagi tak lepas dari upaya kita memikirkan dan mengatur strategy untuk memenangkannya.

Ketika mesin mengocok kartu dan menempatkannya secara acak, kita hanya bisa pasrah menerima kartu kartu yang telah diatur acak untuk kita. Kadang kita beruntung mendapatkan kartu kartu yang berurutan sehingga dengan sendirinya games berakhir dengan cepat dan score yang tinggi untuk kita. Kita tidak bisa memilih kartu dan urutannya.

Ini serupa dengan hidup kita. Kita tidak bisa memilih siapa ibu bapak kita, saudara kita, sepupu kira dan keadaan ekonomi mereka saat kita dilahirkan. Mau nggak mau harus kita terima. Beruntung jika kita lahir di lingkungan keluarga bahagia, secara finansial oke dan mensupport perkembangan kita dengan baik. Secara umum, kemungkinan kita untuk meraih sukses peluangnya menjadi lebih besar. Sebaliknya jika kita terlahir di lingkungan keluarga miskin, serba kekurangan, tentunya effort kita untuk meraih sukses secara umum harus ditingkatkan.

Nah kembali lagi ke urusan games. Diluar kartu yang diacak dari sononya, sebenarnya masih ada celah celah yang bisa kita mainkan untuk meningkatkan peluang kita meraih sukses dalam permainan. Kita bisa menunda click pada suatu kartu atau memoercepatnya. Jika kita kelewatan atau kelupaan ngeclick sebuah kartu yang berpotensi berurutan nomernya, bisa jadi peluang kita untuk sukses jadi hilang. Atau bisa juga sebaliknya, ngeclick suatu kartu yang tepat bisa mengakibatkan kita berpeluang untuk menyocokkan nomer dengan kartu yang akan datang berikutnya.

Ini juga serupa dengan dalam kehidupan. Di luar faktor nasib tadi, seberapa besar usaha kita dan bagaimana upaya kita memecahkan permasalahan juga sangat menentukan sukses gagalnya kita.

Dari Grand Launching Safi. Perawatan Kulit dengan Konsep Halal, Natural & Teruji.

Standard
Dari Grand Launching Safi.  Perawatan Kulit dengan Konsep Halal, Natural & Teruji.

Hari Kamis yang lalu, kebetulan saya mendapat kesempatan menghadiri launching Safi, sebuah merk perawatan kulit ternama di Asia yang kini masuk ke pasaran Indonesia, di Mall Kota Kasablanka, Jakarta.

Di hadapan ratusan undangan yang hadir di acara itu, Mr Kumar Chander dari group Wipro Unza dalam sambutannya memberikan sedikit background tentang merk perawatan kulit ini. Bahwa Safi pada saat ini merupakan brand perawatan kulit no 1 di Malaysia.

Dengan didukung oleh Safi Research Institute, yang merupakan Halal Research Institute pertama di dunia, produk produk Safi dikembangkan dengan konsep HALAL, NATURAL dan TERUJI. Sehingga konsumen tidak perlu ragu lagi untuk menggunakannya. Mengingat kesuksesan demi kesuksesan yang telah diraih brand perawatan kulit ini di negara lain, Mr. Kumar Chander pun yakin jika konsumen Indonesia juga akan puas menggunakannya.

Dalam acara itu Ir. Hj. Muti Arintawati M.Si dari MUI juga memberikan penjelasan yang sangat detail tentang apa itu Skin Care yang halal dan apa saja persyaratannya untuk mendapatkan sertifikat halal.

Walaupun di Malaysia sendiri Safi telah mendapatkan Sertifikat Halal dari badan JAKIM Malaysia (setara dengan MUI), menurut Ibu Muti, untuk di Indonesia Safi tetap harus melalui proses pengujian dan evaluasi dan saat ini telah berhasil mendapatkan Sertifikat Halal kelas A. Dan dalam kesempatan itu juga dilakukan penyerahan sertifikat halal oleh MUI diwakili oleh Ibu Muti kepada Wipro -Unza sebagai produsen dari merk Safi yang diwakili oleh Mr. Kumar Chander didampingi oleh Mr. Neeraj Khatri.

Safi merupakan rangkaian produk perawatan yang sangat lengkap, terdiri atas perawatan wajah, tubuh dan bahkan perawatan rambut. Tak tanggung-tanggung Mashuri Sulaeman, Marketing Manager dari Safi Brand di Malaysia ikut hadir memberikan gambaran yang lengkap tentang brand Safi dan kesuksesannya di negara itu.

Untuk di Indonesia sendiri, menurut Diana Susiani, Senior Brand Manager Safi Indonesia, saat ini Safi hadir dalam 3 rangkaian yakni Safi White Expert, Safi Age Defy, dan Safi White Natural.

1/. Safi White Expert.

Rangkaian Safi White Expert, merupakan produk perawatan yang memanfaatkan keajaiban Habbatus Sauda dan Oxywhite Technology untuk membantu wanita mendapatkan kulit cerah optimal.

Habbatus Sauda diketahui memiliki kemampuan untuk melindungi kulit dari radikal bebas membantu kulit agar terasa lembut dan tetap terawat. Sedangkan Oxywhite Technology membantu membebaskan oksigen ke dalam kulit, menutrisi kulit, sehingga kulit tampak lebih cerah merata.

Dengan kemampuannya membantu meratakan rona kulit dan mencerahkan kulit kusam, rangkaian produk ini sangat memahami kebutuhan wanita berhijab dimana kulit wajah terkadang belang akibat sebagian terpapar matahari sementara sebagian lagi tertutup hijab. Selain membantu meratakan rona kulit dan mencerahkan kulit kusam, Safi White Expert juga membantu menghaluskan kulit, memberi perlindungan terhadap sinar UV, membantu memudarkan pigmentasi kulit, melundungi terhadap radikal bebas, meningkatkan elastisitas kulit, menjaga kelembaban dan kelembutan kulit. Sungguh 10 perfect actions!.

Saya berkeliling di sekitar untuk melihat lihat produk apa saja yang ada dalam rangkaian ini. Bisa kita temukan Purifying Cleanser, Deep Exfoliator, 2 in 1 Cleanser & Toner, Purifying Make Up Remover, Skin Refiner, Illuminating Day Cream SPF 15 PA++, Replenishing Night Cream, CC Cream SPF 24 OA ++ dan White Expert Ultimate Essence.

Wow!. Lengkap juga ya.

2/. Safi Age Defy.

Dari namanya kelihatan bahwa rangkaian produk ini berfungsi untuk membantu wanita mengembalikan kemudaan kulit. Wow!. Cocok banget untuk saya nih. Jika ditelusuri lebih jauh, rangkaian produk ini mengadung Ekstrak Emas yang dikenal sejak jaman dulu kala dipakai oleh para bangsawan untuk memelihara keremajaan dan kecantikan kulit , dan Protein Sutera dengan 18 jenis asam aminonya membantu membentuk lapisan perlindungan kulit, berfungsi memelihara kelembaban dan kehalusan kulit wajah agar terasa lembut bagai sutera.

Apa saja produk yang tersedia dalam rangkaian Age Defy ini? Saya lihat ada Cream Cleanser, Deep Exfoliator, Cream Cleanser Deep Moisturizer,Concentrated Serum, Skin Refiner, Day Emulsion SPF 25 PA ++, Renewal Night Cream, Eye Contour Treatment dan Age Defy Gold Water!. Wah…ini keren banget.

3/. Safi White Natural.

Ini rangkaian Whitening juga. Hanya yang ini lebih menekankan ke konsep natural.

Rangkaian ini ada yang mengandung Ekstrak Mangosteen (Manggis) yang membantu menjaga kelembaban alami kulit wajah serta memeliharanya tampak lebih cerah bercahaya. Dan ada juga yang mengandung Ekstrak Grapefruit dengan kandungan Vitamin C nya membantu melindungi kulit dari paparan radikal bebas dan membantu untuk mengontrol sebum agar kulit tampak lebih segar dan cerah.

Rangkaian produk Safi White Natural terdiri atas Brightening Cleanser Mangosteen Extract, Brightening Cream Mangosteen Extract, Brightening Cleanser Grapefruit Extract dan Brightening Cream Grapefruit Extract.

Cukup banyak dan lengkap juga ya produknya. Menarik untuk dicoba.

Sambel Pangi.

Standard

Ketika kita ingat akan “sesuatu”, eh… ternyata sesuatu itu tiba tiba muncul di depan kita. Pernahkah teman teman mengalami kejadian seperti itu?. Saya pernah.

Barusan saja seorang sahabat saya mengirimkan sebuah artikel tentang Kluwek dan bertanya bagaimana rasanya, apakah benar beracun dan sebagainya -karena rupanya ia belum pernah mencicipi Kluwek. Eh…pas habis itu tiba tiba saya melihat buah Kluwek di tukang sayur. Kebetulan atau bagaimana ini ya? Jadilah akhirnya saya membelinya.

Kluwek atau Kepayang, dalam bahasa Bali disebut dengan Pangi. Salah satu yang saya ingat pernah dibuat di dapur ibu saya adalah Sambel Pangi. Sangat jarang sih… tapi ngangenin juga. Buat yuk!

Selagi nemu buahnya 😀

Cara membuatnya sangat mudah.

1/. Pecahkan cangkang buah Pangi. Ambil isinya yang berwarna hitam.

2/. Ambil bawang merah, bawang putih dan cabe. Ulek bersama isi buah Pangi.

3/. Tumis dengan sedikit minyak. Tambahkan garam dan sedikit gula jika suka.

Jadi deh…

Sambel Pangi siap disantap untuk menemani lauk yang lain.

Tips Ibu Bekerja: Membuat Stock Lumpia Beku.

Standard
Tips Ibu Bekerja: Membuat Stock Lumpia Beku.

Sebagai seorang ibu, tak semua dari kita beruntung bisa mengurus anak-anak dengan exclusive di rumah. Banyak juga yang terpaksa harus bekerja meninggalkan anak di rumah. Pemecahannya, kebanyakan orang merekrut asistent rumah tangga yang handal untuk menangani urusan domestik termasuk memasak.

Tapi sayangnya hidup tak selalu semudah itu. Terkadang asistent rumah tanggapun tak ada. Atau kadang kadang masakan si Mbsk nggak cocok dengan selera anak anak dan suami.

Lalu bagaimana?.Ya…harus meras otak ya. Bikin sendiri masakan yang disukai anak-anak.

Dalam keadaan seperti itu, saya butuh hal hal yang cepat dan praktis. Salah satu yang bisa dilakukan adalah membuat makanan beku yang bisa disimpan beberapa hari dan siap dimasak lagi jika dibutuhkan.

Nah..bagaimana kalau kita membuat stock Lumpia? Ini makanan cukup mudah dibuat dan bisa kita simpan beberapa hari dalam kondisi beku. Bikinnya tentu di hari libur. Sabtu atau Minggu sehingga bisa dimanfaatkan saat hari kerja.

Kali ini saya membuat stock Lumpia hingga 70 buah. Lumayan banyak ya. Jika sekali menggoreng menghabiskan 15-20 lumpia, maka stock ini cukuplah buat nambah nambah lauk ataupun cemilan selama hari kerja.

Lumpia Udang.

Yang dibutuhkan adalah Kulit lumpia, dada ayam, udang , wortel, daun kucai / daun bawang, seledri, bawang bombai, bawang putih, garam , merica, gula, minyak wijen, kecap inggris, telor ayam. Sedikit minyak untuk menumis.

Cara membuatnya:

1/. Cuci dada ayam dan udang hingga bersih, lalu cincang halus.

2/. Siapkan bumbu rajang halus : bawang bombai, bawang putih, daun bawang /kucai, seledri. Parut wortel.

3/. Tumis ayam dan udang cincang dengan bumbu yang sudah disiapkan halus. Gunakan api kecil.

4/. Tambahkan garam, gula, merica halus, kecap inggris, minyak wijen. Aduk hingga matang lalu angkat buat isian lumpia.

5/. Bentangkan kulit lumpia. Isi dengan adonan ayam dan udang pada salah satu ujungnya, lalu lipat dan gulung.

6/. Rekatkan ujung kulit lumpia dengan telor kocok atau putih telor.

7/. Tata dalam box makanan dan masukan ke dalam Freezer.

Ambil sesuai dengan kebutuhan. Tinggal goreng saja. Biasanya stock segitu habis dalam 3 -4 hari.

Lumayan kan? Irit waktu dan irit pengeluaran.

Bertemu Sang Penulis: Satria Mahardika.

Standard

Di hari ketibaan saya di Bali liburan kemarin, sahabat saya mengabarkan bahwa ada kemungkinan sastrawan Umbu Landu Paranggi akan ada di Puri Kilian, Bangli besok. Dan menyarankan saya juga datang ke Puri Kilian agar bisa bertemu, mengingat beberapa minggu sebelumnya Umbu ada menanyakan kabar saya. Saat itu saya sedang berada di Singapore dan untungnya dengan bantuan skype, saya dan Umbu sempat ngobrol juga. Nah sekarang, menurut sahabat saya, ada kesempatan bagi saya untuk benar-benar bisa bertemu langsung dengan beliau lagi di Puri Kilian. Tentu dengan senang hati saya akan datang.

Lalu teman saya juga mengabarkan bahwa jika mau, hari ini saya juga bisa bertemu dengan Satria Mahardika , sang penulis buku Merdeka Seratus Persen-Kapten TNI AAG Anom Muditha yang bukunya saya simak dan tulis di sini https://nimadesriandani.wordpress.com/2018/01/04/menyimak-buku-merdeka-100/

karena hari ini pun beliau ada di Puri Kilian. Wah…sungguh kabar yang baik. Saya mau ke Kilian sekarang kalau begitu. Selain tentunya karena saya juga sudah kangen dengan sahabat saya dan keluarga Puri Kilian.

Dengan senang hati sayapun ke Kilian membawa anak-anak dan keponakan. Sesampai di Kilian, saya disambut oleh Agung Karmadanarta, sahabat yang bagi saya sudah serupa dengan saudara sendiri. Agung Karmadanarta adalah salah seorang keponakan dari pahlawan AAG Anom Muditha. Sahabat saya ini adalah seorang pemusik yang pastinya sebuah kebetulan banget bagi anak-anak saya yang juga lagi getol banget belajar musik. Jadilah kesempatan ini digunakan oleh anak saya buat berguru. Mereka pun bermain gitar dan keyboard bergantian. Bahagia melihatnya.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kurus dengan rambut panjang yang digelung ke atas datang. Duduk dan menyalami saya. Ooh…rupanya beliau inilah sang penulis buku Merdeka Seratus Persen. Kami berbincang sesaat. Berkenalan dan menceritakan sedikit tentang diri kami. Penulis Satria Mahardika alias Saiful Anam ini adalah kelahiran Kroya ( Cilacap). Lalu ngobrol tentang buku. Rupanya buku Merdeka Seratus Persen adalah buku ketiga yang ditulis oleh Satria. Buku pertamanya adalah kumpulan puisi yang cukup tebal berjudul Suluk Mahardika. Wah… produjtif juga ya. Agak sulit untuk mengobrol panjang karenasambil ngobrol kami juga mendengarkan permainan musik Gung Karma dan anak saya. Sayang jika dilewatkan. Tiba tiba Satria Mahardika melemparkan ide. Bagaimana jika kita mengkolaborasikan puisi dengan musik?. Whua…. ide yang sangat bagus!. Satria Mahardika meminta saya membuka “any” halaman di buku Suluk Mahardika itu dan membacakan apapun puisi yang terpampang di halaman yang saya buka.

Sayapun membuka acak halaman buku yang tertutup itu dan mata saya tertumbuk pada puisi ” Satria Mahardika”. Saat itu saya belum ngeh kalau nama Sang Penulis adalah Satria Mahardika. Jadi sayapun membaca puisi itu tanpa ada link di pikiran saya kepada nama Sang Penulis. Belakangan; setelah pulang dari Puri Kilian saya baru terpikir akan hal itu 😀.

Membacakan puisi dadakan dan berkolaborasi dengan pemusik seperti itu rasanya beda banget. Semua terasa indah. Katrena sekarang, keindahan menjadi terasa berlipat ganda menembus dimensi lain dari panca indera kita.

Setelah itu giliran Satria Mahardika membacakan puisinya yang berjudul Aira. Tentu beda lah ya, jika sang penulis yang sekaligus membacakan sendiri karyanya. Bagai menyusur sebuah fragment perjalanan yang ia hapal betul kontur jalannya. Ia tahu di mana dan kapan harus menurun dan mendaki. Di mana harus berhenti sejenak untuk menarik nafas dan melihat view di sekitarnya untuk menikmati keseluruhan perjalanan dengan holistic. Tepuk tangan untuk Satria Mahardika. Keren ya!.

Di sini saya berhenti sejenak. Memandang anak anak dan para sahabat yang sedang menikmati keindahan yang sedang bergaung dalam jiwanya. Sebagaimana seorang mathematician menghayati keindahan angka-angka dan sang pelukis menghayati bias warna warna, demikianlah sang pemusik menghayati setiap tangga nada dan sang penyair menghayati keindahan setiap kata. Setiap element di alam semesta ini memiliki keindahan tersendiri bagi setiap orang yang mau dan berhasil menangkap esensinya dan menghayatinya.

Ah!. Bali memang tempat di mana seni tak pernah ada matinya. Terimakasih Satria Mahardika, Agung Karmadanarta, Agung Kartika Dewi, Agung Chocho dan anak anak keponakan yang mewujudkan keindahan kolaborasi ini. Liburan mendatang kita bertemu lagi yah..

Menyimak Buku Merdeka 100%.

Standard
Menyimak Buku Merdeka 100%.

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan kiriman buku menarik dari Agung Karmadanarta, seorang sahabat saya. Buku itu berjudul”Merdeka Seratus Persen” tulisan dari Satria Mahardika. Bercerita tentang perjalanan hidup Kapten TNI AAG Anom Muditha, seorang pahlawan pejuang kemerdekaan yang gugur mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tentara NICA yang ingin merebut kembali Indonesia.

Beliau adalah pahlawan yang saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya yakni “Berkunjung Ke Tugu Pahlawan Penglipuran“.

Terus terang, walaupun nama pahlawan AAG Anom Muditha ini telah saya kenal sejak kecil, namun sesungguhnya saya baru tahu lebih banyak tentang beliau dari buku ini. Di mana rumahnya, siapa keluarganya, bagaimana perjalanan hidup beliau, dan sebagainya. Ternyata ada banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan dari buku ini.

Sangat salut pada penulisnya yang berhasil memaparkan perjalanan sang pahlawan dengan sedemikian detail dan komprehensif, membantu pembaca supaya mampu memahami lebih dalam. Juga memberi konteks yang jelas agar bisa mencerna nilai-nilai luhur seorang ksatria sejati yang tak segan menyabung nyawa demi membela negaranya.

Satria Mahardika dalam pengantarnya mengatakan bahwa beliau merampungkan buku ini dalam waktu 7 bulan, dengan bantuan team yang terdiri atas AAG Bagus Ardana, AA Anom Suartjana, AA Made Karmadanarta, dan AA Bagus Krisna Adipta W. Jika tidak ada tekad bersama yang kuat, tak terbayang bagi saya bagaimana caranya mengumpulkan semua detail informasi yang digunakan untuk membangun buku ini.

Salah satu yang sangat menarik adalah pernyataan AA Gde Bagus Ardana, adik kandung sang pahlawan, tentang tekadnya untuk menuliskan semua kejadian yang tersimpan dalam ingatan beliau dan termasuk informasi lain yang beliau dapatkan. Karena jika tidak, maka kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini yang memakan banyak korban akan tetap terkubur dan akhirnya lenyap ditelan jaman.

Bersyukurlah keinginan beliau itu akhirnya tercapai.

Buku yang terdiri atas 244 halaman ini, ditulis dalam 6 Bab, yang secara umum berjalan linear, walaupun saat dibutuhkan, cerita terkadang berjalan paralel.

Di awal buku ini, pembaca diperkenalkan dengan masa kecil Kapten Muditha, dengan orang tuanya, kakak dan adik-adiknya di Puri Kilian beserta kerabat lainnya. Sekilas pembaca juga bisa menangkap system pemerintahan yang berlaku pada masa itu, di mana Bangli dipimpin oleh seorang Regent, sementara ayah Kapten Muditha sendiri adalah seorang Punggawa Kota.

Dari sini kita bisa mengikuti pendidikan yang ditempuh Kapten Mudita mulai dari Holland Inlandsche School (HIS) di Klungkung , lalu ke Handles Vak School (HVS) di Surabaya, berlanjut ke Malangse Handle School (MHS) hingga kemudian menapak kariernya di bidang Militer.

Mula mula beliau menjadi tentara Koninklijk Nederlandch Indiesche Leger (KNIL) dengan pangkat Sersan Satu. Kemudian beliau menerima pendidikan militer Kaderschool di Magelang. Pada tahun 1942 ketika Jepang mulai masuk, beliau mulai diterjunkan ke medan tempur dan sempat menjadi tahanan militer di Cilacap setelah Belanda kalah dan menyerah.

Setelah beristirahat sejenak, beliau sempat menjadi Jumpo (Polisi Jepang) dan menjadi Pelatih Sekolah Polisi Jepang di Singaraja, namun kemudian berhenti karena sakit.

Setelah kesehatannya berangsur membaik, Kapten Muditha mulai aktif menjalankan dharma bhaktinya sebagai putra bangsa. Dengan gigih beliau membangun Badan Keamanan Rakyat daerah Bangli, mengkoordinir Markas Besar Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia wilayah Bali Timur dan memimpin perang gerilya melawan NICA untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dari sini kemudian kisah gerilya mulai bergulir. Berbagai aktifitas latihan kemiliteran dan pembangunan kamp militer dilakukan. Mula mula untuk melawan tentara Jepang , kemudian sebagai bagian dari team pahlawan I Gusti Ngurah Rai, Kapten Muditha memimpin perjuangan wilayah Bali Timur melawan tentara NICA setelah Jepang kalah.

Pertempuran demi pertempuran terjadi secara gerilya. Mulai dari daerah Penulisan, hingga desa desa sekitar Gunung Agung bersama Gusti Ngurah Rai. Mereka berjuang dengan perlengkapan seadanya, makanan seadanya, menahan letih, haus dan lapar dengan hanya bermodalkan tekad yang bulat dan dukungan penduduk.

Sungguh, membaca perjuangan mereka yang demikian gigih, rasanya malu jika kita generasi penerusnya tidak mampu mengisi kemerdekaan ini dengan baik.

Bahkan setelah Letkol I Gusti Ngurah Rai gugur dalam pertempuran di Marga pada tanggal 20 November 1946, Kapten Muditha tetap berjuang. Beliau tetap bergerilya dan menata perjuangan dari Buleleng, lalu berpindah ke Bangli untuk melawan tentara NICA. Segala sesuatunya sangat sulit dan berkali kali harus menyamar, mengirim utusan dan mengatur ulang strategy sesuai dengan perkembangan situasi dan musuh. Hingga akhirnya beliaupun gugur di Penglipuran pada tanggal 20 November 1947. Tepat setahun sepeninggal I Gusti Ngurah Rai. Beliau telah menjalankan dharmanya sebagai seorang ksatria.

Merdeka Seratus Persen!” Adalah pekikan terakhir beliau sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibu pertiwi disirami darah salah satu putra terbaiknya. Darah putranya yang mengikrarkan kemerdekaan 100% bagi bangsanya.

Tulisan diakhiri dengan penjabaran makna dari pekikan Kapten Muditha tentang Merdeka 100% itu yang diulas dengan sangat baik oleh sang penulis. Merdeka 100% mempunyai makna yang sangat mendalam. Bisa diartikan sebagai sebuah kemuliaan yang terbangun utuh dalam kesatuan hidup, baik secara skala maupun niskala.

Sungguh sebuah buku perjuangan yang membukakan hati. Sangat layak untuk kita baca agar kita bisa lebih memahami makna perjuangan pahlawan kita, lebih menghargai apa arti kemerdekaan yang diwariskannya kepada kita.

Merdeka 100%, itulah cita cita beliau sebagai bangsa. Merdeka penuh. Merdeka untuk semuanya dan dengan totalitas. Yang artinya setiap anak bangsa ini semuanya merdeka tanpa kecuali. Mempunyai hak dan kewajiban yang sama, setara dan adil dengan yang lainnya, tanpa dikurangi haknya ataupun dilebihkan terlepas dari apapun suku, ras, agama dan golongannya.

Bukan berkebangsaan atas azas ego sendiri, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi maupun kaumnya sendiri ketimbang bangsa dan negaranya. Merasa diri lebih berhak atas tanah air ini melebihi suku lain, melebihi agama lain, melebihi golongan politik lain, dan sebagainya, sementara yang lain dianggap nge-kost.

Saya rasa bukan model berkebangsaan seperti itu yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh para pahlawan dan pendiri bangsa ini.

Sekali lagi, ini sebuah buku yang sangat baik untuk dibaca dan dijadikan referensi sejarah. Semoga kita bisa lebih menghargai petjuangan mereka. Dan mampu lebih baik lagi memaknai keIndonesiaan kita.