Loksado Writers & Adventure 2017. Menyimak Buku Antologi Puisi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia”.

Standard

Buku Antologi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia”

Salah satu hal yang saya “setengah tahu” tentang Loksado Writers &Adventure 2017 adalah bahwa ternyata penyelenggara telah meminta karya karya para penyair yang diundang ke forum untuk dikumpulkan dan dijadikan buku Antologi Puisi Hutan Tropis yang berjudul “dari Loksado Untuk Indonesia” sebelum kami tiba di sana. Whuaaa…keren!. 
Maksud saya dengan setengah tahu adalah bahwa saya tahu ada beberapa penyair telah menuliskan puisinya dari timeline facebook Mbak Agustina Thamrin, tetapi saya tidak tahu jika ternyata itu diterbitkan sebagai sebuah buku. Saya pikir sebelumnya hanya untuk selebaran saja ha ha.. Maafkan pikiran saya yang pendek dan sempit. 

Nah, malam hari saat acara penyambutan dan ramah tamah dengan para pemuka adat suku Dayak Meratus, saya mendapatkan buku bersampul cantik ini. Yuk kita bahas!. 

Mulai dari sampulnya dulu ya. Design sampul dan lay out dari buku ini sungguh menarik dan “Catchy”. Berlatar belakang biru langit, bergambarkan pohon, burung-burung dan kupu-kupu. Tiga hal yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Dan tentunya sangat representatif mewakili hutan tropis pegunungan Meratus. Pohon itu sangat cantik berhiaskan motif Dayak yang indah dengan warna etnik yang menarik. Agak mendua, karena selain keindahan yang terpancar, serasa ada yang membara di sana. Design buku ini disiapkan oleh penyair Salimi Ahmad, yang salah satu tulisannya juga dimuat dalam Antologi Puisi ini.

Buku diisi oleh karya-karya indah dari 17 penyair. Yang semuanya mengambil latar belakang Loksado dan Pegunungan Meratus sekitarnya. Siapakah mereka dan karyanya? 

1/. Adri Darmadji Woko. Penyair dan Wartawan senior ini menuliskan puisi berjudul “Tarian Enggang”. 

2/. Agustina Thamrin. Penyair kelahiran Banjarbaru Kalimantan Selatan yang sekaligus juga instruktur vokal ini memuat 2 buah tulisannya yaitu Gung Garantung dan Ketika Rimba Menggugat.

3/. Arsyad Indradi. Penyair fenomenal kelahiran Barabai ini menulis 2 puisi panjang yakni Minyak Balian dan Kuasapkan Kemenyan Saat Balian Mati.

4/. Bambang Widiatmoko. Penyair kelahiran Yogya (sayang saya tidak berkesempatan mengenal beliau di Loksado) menulis puisi dengan judul Persinggahan 1 dan Persinggahan 2.

5/. Cornelia Endah Wulandari. Satu lagi penyair wanita dari Kalimantan yang lahir di Hulu Sungai Tengah. Menulis puisi Perempuan dan Kopi Hutan. Puisinya ini dipilih oleh Aldo anak saya untuk dibacakan di acara malam Loksado.

6/. El Trip Umiuki. Penyair kelahiran Yogyakarta yang berdomisili di Tangerang ini menulis puisi Meratus (Juga) Indonesia. 

7/. Handrawan Nadesul. Penyair yang juga berprofesi sebagai dokter ini menulis puisi Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi. 

8/. Handry TM. Rasanya saya tak bertemu penyair ini di Loksado. Tapi tulisannya yang berjudul Dari Kriyo Ke Panitiranggang di muat di buku ini. 

9/. Kurniawan Junaedhie. Penyair kelahiran Magelang ini membuat 2 buah puisi untuk dimuat di buku ini .  Judul yang pertama Bersama Arsyad, Suatu Hari, Di Loksado. Satunya lagi berjudul Anak Samosir Di Surga Meratus.

10/. Micky Hidayat. Penyair yang juga penulis esai sastra dan teater ini menuliskan  Reportase Dari Kaki Pegunungan Meratus. Pada saat acara malam penyambutan Loksado Writers 2017, penyair dan seniman Isuur Loeweng bersama Bagan membawakan puisi ini. 

11/. Prasetyohadi Prayitno. Pimpinan redaksi majalah Kicau Bintaro ini menuliskan Haiku Meratus. 

12/. Rini Intama. Pendidik dan penulis kelahiran Jawa Barat ini menulis 2 buah puisi berjudul Perempuan Di Lereng Meratus dan Sasirangan.

13/. Roymon Lemosol. Penyair dengan cerita keberangkatan yang spektakuler menuju Loksado dari Ambon ini menulis Narasi Hujan Puncak Meratus. 

14/. Salimi Ahmad. Asli Jakarta. Menuliskan puisi dengan judul Meratus, Gunung Besar Dan Hutan yang terdiri atas 3 fragment I, II, III.

15/. Setia Budhi alias Budhi Borneo, dosen di Universitas Lambung Mangkurat ini menulis puisi Perahu Kayu Dari Sungai Amandit dan Jejak Padi Meratus.

16/. Sulis Bambang. Wanita yang berwiraswasta dan pekerja sosial ini menulus puisi Pulang dan Kangen.

17/. Yahya Andi Saputra. Pencinta tradisi lisan Sohibul Hikayat ini menulis sebuah puisi untuk Loksado Writers berjudul Monolog Perempuan Meratus. 

Jika kita menyimak puisi puisi yang termuat dalam buku ini, sangat mudah menemukan benang merah yang menghubungkan antar satu puisi ke puisi yang lain. Semuanya berbicara soal yang sama. Tentang alam Meratus dan sekitarnya!. Yang tentunya dibidik dari beragam sudut pandang yang berbeda beda. 

Yang sangat mengesankan adalah, walaupun sebagian besar penulisnya mengaku bahwa belum pernah mengunjungi Loksado atau daerah pegunungan Meratus sebelumnya, dan hanya memahaminya lewat informasi yang disajikan oleh Google, tetapi bagi pembaca awam seperti saya puisi puisi itu terasa sangat nge-link dengan alam Meratus. Terasa banget ketika dibacakan dalam acara Loksado Writers 2017 yang diselenggarakan di tepi Sungai Amandit di Loksado.

Pak Setia Budhi menjelaskan bahwa rencananya Loksado Writers ini akan meliputi seluruh Kalimantan. Dan yang disebut dengan Dayak Meratus itu bertempat tinggal membentang dari selatan, timur, tengah dan barat Kalimantan. Itu sebabnya Meratus yang kita sebut tidak hanya Loksado, tetapi juga Dayak Maanyan, Paser, Dayak Bawo,  Dayak Bahau, Dayak Tunjooy.  

Oleh karena itu, backdrop acara Loksado Writers tempat buku Antologi Puisi ini direlease juga didesign cepat sedemikian rupa agar semua suku Dayak se Kalimantan terwakili di Loksado. Dayak di Brunei, Dayak di Sabah dan Sarawak juga akan terwakili.

Secara umum jiwa dan nafas dari puisi puisi di Antologi Puisi Hutan Tropis itu tetap menyatu dengan alam Meratus dan Kalimantan pada umumnya.  Puisi adalah expresi jiwa, pikiran dan ungkapan perasaan setiap penyair atas apa yang ia lihat, dengar ataupun alami yang dalam hal ini adalah apa yang mereka ekspresikan untuk Kalimantan secara umum. 

Secara pribadi saya tertarik menyimak karya karya penyair kelahiran bumi Borneo. Agustina Thamrin, Arsyad Indradi, Cornelia Endah Wulandari, Micky Hidayat, Setia Budhi. Tentu saja sebagai pembaca saya tergelitik untuk ikut menyibak apa yang ada di alam pikir mereka yang memang sejak kecil ada di pulau besar itu. Karena merekalah yang lebih tahu. 

Ada Kepedihan dan Penderitaan terefleksi dengan sangat kuat dalam tulisan tulisan tangan para penyair Kalimantan ini. Hampir di semua tulisan. Misalnya:

Gung, biarkan aku menari Tandik Ngayau menebas perikeadilan yang pupus dan yang lampus” Agustina Thamrin dalam Gung Garantung.

Hutan rimba dijarah menjadi padang anaksima., Gunung batubara runtuh menjadi danau kubangan bumburaya. Meranti, lanan, ulin, para dijajah kelapa sawit menjadi halimatak, Dayak terperangkap dalam perangkap kabibitak“. Arsyad Indradi dalam Kuasapkan Kemenyan Saat Balian Mati. 

“…Buah kopi hutan yang tumbuh terhimpit oleh hamparan sawit milik investor. Hatinya kelu bercampur pilu. Ia rindu pada aroma harumnya bunga kopi Meratus dan hutan tropis yang hangat yang pernah dipuja di seantero negeri“. Cornelia Endah Wulandari dalam Perempuan dan Kopi Hutan.

Lalu misalnya penggalan dari puisi Micky Hidayat dalam Reportase Dari Kaki Pegunungan Meratus ” Maka aku pun tak sanggup lagi bertanya tentang hari depanmu. Tersebab hari depanmu adalah buldoser, ekskavator, chainsaw, dump truk, trailer, tronton, kontiner, tongkang,ekspor non migas, dan mesin mesin peradaban. Karena hari depanmu telah menjelma virus teknologi yang bersemayam di jantungku. Karena hari depanmu hanyalah sebuah kehancuran:erosi, longsor, danaudanau raksasa pasca eksploitadi dan eksplorasi batu bara tanpa reklamasi, banjir bandang, kobaran api, kabut asap…..”

Hal yang senafa jika kita simak puisi Jejak Padi Meratus  tulisan Setia B. Borneo. “Riwayat Meratus dalam rimbun daun kini mengering. Terbakar di atas kekuasaan menebas tabir mimpi Balian di balai balai. Jerit tangisan burung Enggang dan gelegar mesin gergaji. Kepak sayap luruh tercabut di sela rumahnya yang roboh sebelum pohon lain sempat bertunas. OoiiPunai yang bersarang di rantingranting Tengkawang. Berlimpah darah perlawanan, jangan menyerah“.

Saya menangkap, kepedihan itu adalah refleksi perasaan mereka terhadap apa yang berlangsung di Meratus. Yang jika tidak salah saya tangkap adalah menipisnya hutan-hutan akibat penebangan liar, penjarahan isi hutan besar-besaran oleh pemilik modal besar, kebakaran hutan, tanah longsor dan memudarnya kearifan lokal dan melemahnya adat istiadat dan budaya masyarakat asli Kalimantan. Sungguh tulisan yang sangat menyentuh,  membukakan mata hati dan jiwa akan apa yang tengah berlangsung di sana yang tidak terlihat dengan mudah oleh mata awam. 

Berharap pesan pesan dalam tulisan tulisan ini yang disusun oleh para penyair Kalimantan dan didukung oleh tulisan tulisan penyair lain dari luar Kalimantan dengan nada serupa, pesannya bisa sampai kepada pihak terkait, para pengambil keputusan, penentu kebijakan dan pelaksananya baik di tingkat Kabupaten,  Provinsi maupun di tingkat Nasional. Agar keputusan dan kebijakan apapun yang diambil tetap mengedepankan kelestarian lingkungan pegunungan Meratus dan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat penghuninya.

Buku Antologi Puisi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia” ini bisa saya katakan sebagai buku yang sangat bagus sekali untuk menjadi bacaan kita semua. Sangat menarik dan sangat membukakan mata.  Salah satu bentuk kepedulian para penyair atas apa yang terjadi saat ini di Meratus. Karena mengutip apa yang disampaikan oleh Pak Setia Budhi sang koordinator dalam pengantarnya “… sastrawan berikut karya sastranya hendaklah tidak terasing dari persoalan yang ada di masyarakat….”.

Cuma memang jika ada pertanyaan dimana kita bisa membeli buku ini, saat ini saya belum tahu jawabannya. Apakah sudah didistribusikan di toko toko buku nasional atau belum. Nanti bisa saya tanyakan ke panityanya. 

Semoga masa depan Meratus bisa menjadi jauh lebih baik. Alamnya tetap lestari dan masyarakat aslinya bisa terus maju seiring dengan perkembangan jaman tanpa harus meninggalkan adat istiadat dan budaya aslinya.

Salam hangat dari saya. 

Loksado Writers & Adventure 2017: Empat Jam Menuju Loksado.

Standard

Sekitar pukul 8 pagi kami tiba di bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin. Semua peserta yang berangkat bersama saya pagi itu adalah orang-orang yang baru saja saya kenal subuh tadi di bandara Soetta di Jakarta. Kecuali Aldo, anak saya tentunya. Ada Pak Rachmat Ali beserta Bu Kartini istri beliau, yang tiba paling pagi karena takut terlambat. Lalu ada Pak Adri yang tadi subuhnya membagi-bagikan ticket untuk kami. Lalu Bang Salimi dan Bu Gantina, Pak Trip Umiuki, Bang Yahya, Pak Kurniawan Junaedhi dan Ibu Evi Manalu. Sejak awal pertemuan saya merasakan kekompakan team ini. Walaupun saya dan Aldo baru mengenal mereka. Keramahannya, kesetiaannya untuk  saling menunggu dan saling mengingatkan, juga kebersamaannya, semuanya memberi kesan yang mendalam di hati saya. 

Untuk beberapa saat kami menunggu bagasi keluar. Bang Salimi menyarankan agar saya dan Aldo bergantian saja ke rest room untuk menyegarkan diri. Semua ibu-ibu yang lain juga mengambil kesempatan untuk membersihkan diri. Udara terasa panas. Saya membuka jacket saya.  Tak sabar rasanya ingin cepat cepat bertemu dengan Mbak Agustine Thamrin. Orang yang mengundang saya datang ke Loksado Writers & Adventure 2017 ini. 

Tiba di Banjarmasin -foto Agustine Thamrin

Selepas pemeriksaan bagasi, akhirnya bertemulah saya dengan Mbak Agustine yang menyambut kami semua dengan sangat ramah. Wanita cantik bertubuh tinggi langsing itupun menyalami dan memeluk saya dengan akrab. Seolah kami sudah bersahabat bertahun tahun. Padahal saya baru bertemu dengannya pagi itu. Lega rasanya. Kesan saya Mbak Agustine ini memang memang sangat ramah dan baik, dan rupanya memang sudah mengenal dekat teman teman penyair dalam rombongan saya itu. 
Setelah pintu keluar, saya diperkenalkan dengan Pak Budhi Borneo sang penggagas acara Loksado Writers & Adventure 2017, juga dengan Mbak Lena seorang peserta lain dari Yogya yang rupanya tadi satu pesawat dengan kami dari Jakarta. Juga di luar menunggu  Pak dr Handrawan Nadesul (Pak Hans) yang sudah lebih dulu mendarat dengan pesawat lain. 

Dari sana Pak Budhi lalu mengatur keberangkatan. Saya dan Aldo ikut rombongan Pak Budhi bersama dengan Mbak Lena dan Pak Hans. Kami bermaksud mengisi perut dulu di warung Soto Banjar tak jauh dari airport. Walaupun dekat, ternyata rombongan yang lain sempat agak lewat juga. Ha ha…terlambatlah mereka tiba di tempat sarapan. Memang pekerjaan mengatur orang banyak itu tidaklah mudah. Dan tentunya merepotkan. Tapi saya lihat para peserta dan panitya semangat sekali. Membuat saya merasa senang bertemu dengan mereka. 

Soto Banjar.

Soto Banjar

Warung Soto Banjar dekat bandara itu pada dasarnya menyajikan 2 menu yakni Soto Banjar yang disajikan dengan ketupat, dan Rawon Sapi yang disajikan dengan nasi putih. Saya sendiri memesan Soto Banjar. Alasannya karena selain saya memang tidak mengkonsumsi daging sapi, saya sudah pernah makan Soto Banjar sebelumnya dan saya menyukainya. Lagipula Soto Banjar, sesuai dengan namanya adalah makanan khas Kalimantan Selatan. Ngapain pula sudah jauh-jauh ke sini tidak menikmati masakan khasnya? 
Bagi yang penasaran seperti apakah Soto Banjar? Saya cerita sedikit ya..     

Soto Banjar  serupa tampilannya dengan soto lain. Terdiri atas soun (glass noodle) yang direbus, suiran daging ayam dengan bumbu kuah. Yang beda, kuahnya agak manis dan biasanya dihidangkan dengan ketupat. Bukan nasi. Sempat saya bertanya kepada tukang warung tentang bumbunya, rupanya selain bawang merah, bawang putih, lada, kapulaga dan pala juga dilengkapi dengan kayu manis dan cengkeh. Oh..pantesan rasanya agak lebih berempah ya. Tapi enak dan segar. 

Di tempat itu kamipun diperkenalkan dengan Isuur dan teman teman penyair dari komunitas Kalimantan Selatan. Bersama sama kami berangkat menuju Loksado. Beriring-iringan. Akan tetapi karena ada rombongan yang  juga menjemput Ibu Sulis Bambang dan Roymon di penginapan maka kamipun berpisah  dan berjanji bertemu di Haur Kuning. 

Haur Kuning & Kemegahan Namanya. 

Di manakah Haur Kuning? Penasaran dong ya. Menurut Pak Budhi Haur Kuning adalah tempat yang biasa untuk janjian jika mau bepergian bersama ke suatu tempat. Sejenis ‘meeting point ‘ begitulah kira kira. Mengapa Haur Kuning? Ya karena lokasi itu mudah dijangkau dan semua penduduk Banjarmasin tahu letaknya. Kami mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Pak Budhi. Saya membayangkan sebuah tempat dengan tugu besar berwarna kuning yang mudah terlihat oleh semua orang. 

Setiba di Haur Kuning ternyata tak terlihat oleh saya adanya  tugu besar berwarna kuning. Sayapun bertanya dalam hati. Tak seberapa lama saya dengar Pak Hans bertanya kepada Pak Budhi, “Yang mana haur kuningnya?”.  Pak Budhi menjawab “Yang itu, Pak” sambil menunjuk dua rumpun bambu kecil di pinggir jalan.  * haur kuning = bambu kuning.  Nyaris tak terlihat oleh mata. Oalah…ya ampuun. Hanya dua rumpun bambu kuning kecil, tapi namanya sangat terkenal. Lalu mengapa bambu sekecil itu bisa menjadi sangat terkenal?. Saya rasa karena bambu kuning tidak umum ditanam di tepi jalan. Dan orang-orang memanfaatkan ketidak-umumannya ini sebagai penanda tempat. Mudah dikenali karena ia berbeda. Namanya lebih tenar dari pohonnya sendiri.  Nah…pelajaran moralnya adalah kecil bukan berarti harus membuat kita minder dan patah arang.  Walaupun kecil, jika kita bisa membuat diri kita unik dan tidak biasa biasa saja, maka akan lebih mudah bagi kita untuk membuat hidup kita menjadi bermakna. 

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya berangkatlah kami menuju Loksado melalui kota Martapura. Sepanjang jalan saya menikmati pemandangan yang indah. Pohon pohon yang hijau, sungai sungai yang mengalir, rumah rumah penduduk yang berdiri macam panggung,  lahan lahan yang luas banyak yang belum tergarap dengan baik. Oh..alangkah luasnya pulau Borneo ini. Dan alangkah kaya rayanya. Hati saya sangat bangga dan terharu. Indahnya tanah airku. 

Sepanjang jalan kami mengobrol. Mulai dari soal durian hingga ke pohon jengkol. Juga tentang sungai sungai yang mengalir dan  intan yang didulang dari sungai tertentu. Lalu tentang jalur khusus pertambangan yang terlihat berliku di bawah sana. Saya menyimak baik-baik cerita Pak Budhi. Juga cerita Pak Hans. Tentang masa mudanya, bagaimana beliau berkarya dan berkumpul dengan penyair penyair senior seperti Putu Wijaya, Sutardji, Pak Adri dan sebagainya. Membuat puisi, prosa dan artikel untuk menghidupi dirinya. Cerita jaman dulu saat semua karya harus diketik dan diserahkan sendiri ke kantor redaksi. Lalu bagaimana beliau menyelenggarakan kegiatan sastra Negeri Poci di Tegal setiap tahunnya. Saya sangat terkesan dengan pengalaman beliau itu. Walaupun menjadi dokter yang terkenal, tetapi beliau tetap mendedikasikan dirinya untuk sastra. Sungguh saya merasa salut. Pak Budhi tetap menyetir sambil sesekali ngobrol. Sementara Mbak Lena sibuk dengan hapenya lalu kemudian tertidur. Demikian juga Aldo yang duduk di belakang. 

Kami sempat mampir sebentar di Banuang untuk membeli Neo Remacyl guna berjaga jaga karena kaki saya sering kramp. Agak aneh juga, di provinsi sebesar ini ternyata jumlah Apotik yang kami lihat tidaklah banyak. Selain itu sebagian juga tutup karena kebetulan hari itu tanggal merah, karena hari Waisak. 

Mampir di Kota Kandangan.

Di sebuah rumah makan di kota Kandangan – photo Yulian Manan.

Pukul 2 siang kami tiba di kota Kandangan. Mampir di sebuah rumah makan setelah sempat tersesat dan berputar jalan akibat salah petunjuk. Hari panas terik. Tak heran karena dekat dengan garis katulistiwa. 

Bersama Abah Arsyad, Dr Handrawan Nadesul dan Isuur Loeweng

Di rumah makan ini saya dan Aldo berkenalan dengan Abah Arsyad beserta istri. Menurut cerita teman teman yang lain, Abah ini adalah penyair yang sangat eksentrik dengan penampilannya yang selalu bikin heboh penontonnya. Dulunya juga selalu rajin menghadiri acara temu sastra di manapun di seluruh Indonesia. Hanya saja belakangan ini beliau lebih banyak jaga kandang saja di Kal Sel. Juga di tempat ini saya berkenalan dengan Mbak Cornelia Wulandari yang sajaknya pernah saya baca di timelinenya Mbak Agustine Thamrin. Juga sempat ngobrol panjang lebar dengan penyair Isuur Loeweng tentang usaha penggemukan sapi. Sayang sekali ada satu kendarasn yang membawa rombongan Pak Rahmat Ali dan ibu serta Bang Yahya yang rupanya langsung menuju Loksado tanpa sempat mampir di Kandangan. 

Makanan yang disajikan di rumah makan ini enak sekali. Ada ayam, itik dan ikan yang disajikan dengan sambel lalapan daun ubi rebus, timun dan kacang panjang. Nikmat sekali. 

Setelah kenyang dan beristirahat sebentar, barulah kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Loksado. 

Kali ini udara mulai menyejuk. Kiri kanan mulai tampak pohon pohon besar. Rumah rumah penduduk pun berkurang. Kami mulai memasuki kawasan hutan pegunungan Meratus. Jalanan sangat sepi. 

Salah satu pemandangan Loksado. Hijau royo royo.

Pemandangan yang luarbiasa. Puncak puncak bukit Meratus terkadang tampak dikelilingi kabut. Di sekelilingnya hutan menghampar hijau. Pohon kayu manis, pohon durian, pohon pakis, pohon luwak, pohon jahe jahean melengkapi vegetasi hutan itu. Suara nyanyian cycada menyambut sore ditingkahi suara burung hutan. Alangkah indahnya alam pegunungan Meratus. Hati saya terasa riang dan bahagia berada di tempat itu. Sayang saya hanya bisa memotret dari balik jendela kendaraan yang melaju. 

Amandit River Lodge

Tak terasa setengah jam telah berlalu. Pak Budhi terus menyetir, membawa kami ke jalan yang semakin sepi dan semakin jauh memasuki kawasan hutan Meratus. Akhirnya tibalah kami di Amandit River Lodge, tempat kami menginap di tepi Sungai Amandit. 

Lama perjalanan yang dibutuhkan dari Banjarmasin ke Loksado seharusnya cuma 4 jam. Tetapi rupanya kami menempuhnya dengan lebih lama karena kami singgah singgah untuk sarapan, menunggu di Haur Kuring, lalu mampir di Apotik dan lama ngobrol di Kandangan. Namun demikian perjalanan tetap terasa menyenangkan. 

 

Loksado Writers & Adventure 2017. Pertemuan Sastrawan, Gagasan & Pesonanya.

Standard

Loksado!Nama itu telah memikat hati saya bahkan sebelum saya mengenal tempat sejuk yang sangat indah di lereng Pegunungan Meratus itu. Entah kenapa terdengar sangat menarik bak nama sebuah negeri di atas awan. Sungguh sangat beruntung, suatu hari penyair Agustina Thamrin mengajak saya untuk mengikuti acara “Loksado Writers & Adventure 2017” di Loksado. Tanpa ba bi bu saya langsung “Yes” saja, walaupun awalnya agak kurang yakin akan bisa cuti, mengingat banyaknya urusan kantor yang mengambil waktu di bulan Mei ini. Tapi seperti kata pepatah, “Di mana ada kemauan, di sana ada jalan”, maka berhasillah saya tiba di Loksado. 

Bertemu Dengan Para Penulis Kondang.

Sebagian peserta Loksado Writers & Adventure baru mendarat di bandara Banjarmasin – photo oleh Agustine Thamrin)

Loksado Writers & Adventure 2017, sungguh sangat luar biasa bagi saya. Pertama karena ajang sastra nasional yang diselenggarakan di tempat ini memungkinkan saya bertemu langsung dengan para sastrawan senior yang selama ini cuma saya kenal lewat koran, majalah, tv ataupun wikipedia. Nah..tiba tiba saya bisa mengenalnya langsung di sini. Misalnya saja Dr Handrawan Nadesul. Siapa tak kenal beliau? Beliau adalah seorang dokter yang sering menjadi nara sumber berbagai acara kesehatan populer yang  juga mendedikasikan dirinya pada dunia sastra dan penulisan. Persis 2 hari sebelum saya berangkat, kakak saya kebetulan menshare tulisan dr Handrawan di group WA keluarga. Dengan bangga saya langsung bilang, saya dong lusa mau ketemu langsung dengan dr Handrawan he he. Dan benar saja, saya memang harus bangga karena sepanjang perjalanan dari Banjarmasin ke Loksado saya banyak menimba ilmu dari pengalaman beliau yang dituturkan kepada kami (kebetulan saya satu kendaraan dengan beliau). 
Selain itu ada Pak Adri Darmadji Woko. Siapa pula tak kenal penyair senior seangkatan Putu Wijaya, Sutardji K. B dsb ini?. Sudah lama saya ingin bertatap muka langsung dengan beliau. 

Saya juga bertemu dengan Pak Prasetyohadi. Siapakah beliau? Ternyata orang yang berada di balik Majalah Kicau Bintaro!. Majalahnya selalu saya baca, tetapi orangnya baru saya kenal hari itu. 

Lalu ada Abah Arsyad, penyair Kalimantan yang fenomenal. Ada Pak Rachmat Ali beserta Ibu Kartini, Pak Salimi Ahmad beserta ibu Gantina dari Jakarta, Ibu Sulis dari Semarang, Pak Trip Umiuki dari Tangerang, Bang Yahya dari Betawi,  Pak Hengki, Ibu Lena dari Yogyakarta, Pak Roymon Lemosol dari Ambon, Pak Kutniawan Junaedhi, Mbak Evi Manalu. Yang semuanya adalah pelaku sastra dan pencinta sastra yang baik. 

Lebih penting lagi, saya akhirnya bisa kopdar dengan Agustina Thamrin, penyair yang sebelumnya sudah saya kenal di facebook lewat Pak Ersa Sasmita yang buku kumpulan puisinya pernah saya tulis di sini. Juga dengan Pak Setia Budhi (Budhi Borneo), mereka berdua adalah penggagas dan penyelenggara kegiatan ini. Juga saya bertemu dengan sastrawan dan seniman beserta semua crew Banjar seperti Mbak Cornelia Wulandari, Pak He Benyamin, Isuur, Bagan, Yulian Manan, Mbak Widya, Salleh, Nopri dan Mbak Dewi.

Bagi saya ini adalah pertemuan yang sangat luar biasa. Bukan saja karena saya bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka, tetapi juga karena banyaknya ilmu dan pengetahuan baru yang bisa saya timba dari mereka. Juga nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan yang mereka tawarkan kepada saya dan peserta lainnya. 

Kedua, ajang sastra ini ternyata juga bukan hanya sekedar indoor forum, tetapi juga dilengkapi dengan kegiatan outdoor yang memberi saya pengalaman baru dan tentunya inspirasi baru yang sangat kaya baik karena pesona alam Loksado dengan pegunungan Meratusnya itu sendiri, maupun karena adat istiadat dan budaya penduduk setempat, yakni suku Dayak Meratus.

Gagasan Loksado Writers & Adventure.

Pak Budhi & Agustina Thamrin penggagas Loksado Writers & Adventure 2017 bersama Bang Salimi . Photo Yulian Manan.

Dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Loksado saya sempat bertanya ke Pak Setia Budhi tentang bagaimana Loksado Writers ini diadakan. Pak Budhi bercerita bahwa awalnya Pak Budhi dan mahasiswanya banyak melakukan penelitian di Loksado dan seputar pegunungan Meratus. Mereka bolak balik ke sana dan berinteraksi dengan alam Meratus dan penduduknya yakni suku Dayak Meratus. Banyak hal menarik di sana yang mungkin menjadi sumber inspirasi tulisan bagi siapapun yang suka menulis. 
Selain itu, Pak Budhi juga terkesan dengan ide dari Ubud Writers yang secara teratur diselenggarakan di Ubud, Bali. Forum ini skalanya International, dan tentunya agak mahal serta berbahasa asing. Saat ini belum ada yang berskala National Indonesia.

Dari sini kemudian muncul gagasan mengapa tidak diselenggarakan saja forum serupa yang berskala nasional dan bertempat di Kalimantan Selatan. Untuk itu Pak Budhi lalu menghubungi Agustina Thamrin yang segera menyambut ide ini dan berdua mereka menggodoknya serta mendiskusikannya dengan sastrawan senior lain yaitu Pak Adri Darmadji Woko dan Bang Salimi Achmad, maka lahirlah “Loksado Writers & Adventure 2017“. 

Saya terkesan akan cerita Pak Budhi ini. Acara yang hebat selalu dimulai dari gagasan yang hebat dan eksekusi yang hebat dan penuh semangat. Dan sungguh, acara ini memang meninggalkan kesan yang luarbiasa di hati pedertanya. Ibaratnya jika saja jempol saya ada 20, maka keduapuluhnya akan saya berikan untuk kesuksesan acara ini.  Lebih kerennya lagi, acara Loksado Writers ini rencananya akan berlangsung setiap tahun. 

Penasaran dong ya, kegiatan apa saja yang kami lakukan selama di Loksado Writers & Adventure 2017? 

Sesuai judulnya acara ini merupakan gabungan forum sastra dan petualangan. Lho kok pakai petualangan segala? Lha iya dong. Tujuannya adalah untuk memberi experience baru bagi para peserta sehingga bisa merekam alam sekitarnya dengan segenap panca indra dan perasaannya dan mengolahnya menjadi inspirasi inspirasi baru bagi kelahiran puisi, prosa, artikel dan bentuk bentuk tulisan lain. Yahuuud banget kan?

Ini kurang lebih rundown acaranya.

Hari 1 Loksado Writers & Adventure 2017. Photo mix Yulian Manan

Hari pertama. Saya berangkat dari Jakarta pukul 5.45 pagi dan tiba di Banjarmasin pukul 8 pagi. Kami diajak mampir sarapan Soto Banjar lalu melanjutkan perjalanan ke Loksado. Istirahat sebentar untuk makan siang di kota Kandangan, sampailah kami di Amandit River Log di Loksado pada pukul 4 sore. Istirahat sebentar lalu makan malam dan acara penyambutan yang dihadiri juga oleh para pemuka adat Dayak Meratus. Acara juga diisi dengan pembacaan puisi. 

Mengunjungi balai adat Haruyan, malam acara Loksado Writers 2027

Hari kedua, kami mengunjungi perkampungan Dayak Meratus di pagi hari. Sebagian ada yang ke balai adat Malaris dan sebagian ada yang mengunjungi balai adat Haruyan. Sepulang dari sana kami kembali ke penginapan. Lanjut dengan acara Loksado Writers yang dihadiri pejabat Kabupaten setempat, pertunjukan kesenian tari kreasi Dayak dan tari Kurung-kurung. Malam hari dilanjutkan lagi dengan suguhan tari Kanjar dan pembacaan puisi. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata provinsi mewakili Bapak Gubernur Kalimantan Selatan yang kebetulan berhalangan hadir.

Hari ketiga Loksado Writers & Adventure Bamboo Rafting dan Aku Telah Baca Puisi

Hari ketiga kami menikmati bamboo rafting alias naik rakit menyusuri Sungai Amandit, makan siang di kota Kandangan, lalu mampir di pasar Martapura untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin. Sore hari kami melanjutkan acara “Aku Telah Membaca Puisi” di Mingguraya Banjarmasin yang digelar teman teman sastrawan Banjar. Malam terakhir kami menginap di Banjarmasin.

Pasar Terapung Lok Baintan.

Hari keempat, acara dimulai dini hari untuk menikmati perjalanan sungai Martapura menuju pasar terapung Lok Baintan. Setelah puas di sana barulah kami kembali ke hotel, bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta. 
Banyak sekali yang kami lihat, dengar dan alami. Semuanya mengisi relung relung hati dan jiwa kami. Menenuhinya dengan segala kenangan indah yang menjelma menjadi puisi dan mimpi. 

Loksado, rasanya pengen kembali lagi ke sana!. Terimakasih Mbak Agustina Thamrin dan Pak Budhi dan teman teman semua di Banjarmasin. 

Garden Art – Koleksi Kebun Dapur Hidup Saya.

Standard

Koleksi Dapur Hidupku.

Berkebun sayuran 🌱🌱🌱menjadi kegiatan favorit saya setahun dua tahun ini. Ya..  membuat Dapur Hidup! Saking senangnya, saya sampai jarang punya waktu untuk melakukan kegiatan favorit lain di luar jam kantor seperti menulis, menggambar, jahit menjahit ataupun mencoba coba resep cemilan untuk anak-anak. Blog sayapun mulai setengah terlantar. Ya..okelah. setiap orang memang cuma diberi jatah waktu 24 jam, nggak kurang dan nggak lebih. Jadi memang harus memilih, bagaimana caranya menghabiskan waktu yang 24 jam itu dengan cara terbaik menurut kita masing-masing. 

Tapi beberapa hari belakangan ini, tiba-tiba saya mendapat ide untuk membuat kumpulan sketsa hitam putih tanaman sayuran  yang ada atau pernah saya tanam di kebun Dapur Hidup saya. Selain menyenangkan hati, juga untuk mengingatkan saya kelak,  eeh…sayuran ini pernah saya tanam lho di kebun saya. Ada di album “My Garden Collection”. Siapa tahu kehabisan ide untuk menanam apa lagi. Karena lahan pekarangan rumah saya sempit, tanaman sayuran itu kebanyakan memang saya tanam silih berganti. 

Alasan lain adalah, saya lihat kebanyakan orang membuat lukisan , gambar ataupun sketsa bunga atau tanaman hias. Lebih jarang orang membuat gsmbar atau sketsa sayuran. Jadi saya pilih untuk menggambar isi kebun sayuran🌱🌱🌱 saja lah kalau begitu. Biar beda πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ.

Untuk koleksi Dapur Hidup ini, saya memilih menggambar dengan pensil di atas kertas gambar warna putih. Hitam putih saja. Kelihatannya lebih menarik dan klasik. Nah.. ini adalah 6 gambar pertama yang saya buat untuk koleksi Dapur Hidup saya. 

1/. Artemisinin

Artemisinin, alias Kenikir obat  adalah tanaman Dapur Hidup yang sekaligus Apotik Hidup. Karena daun tanaman ini basa digunakan orang untuk pecel, tetapi juga memiliki benefit pengobatan.  Daunnya sangat indah dan keriwil. Sangat menarik untuk digambar. Ukurannya yang kecil memberi tantangan tersendiri saat menggambar, tetapi saya mengakalinya dengan membuatnya menjadi lebih besar.
2/. Sawi Pagoda alias Tatsoi.

Tatsoi adalah ratunya Dapur Hidup di halaman rumah saya. Tampilannya yang cantik dan anggun selalu mendapat komentar dari teman teman yang melihat fotonya ataupun melihat langsung saat berkunjung ke rumah saya “waah.. kalau cantik begini sayang dimasaknya. Jadikan pajangan saja” begitu rata rata komentar teman. Jadi layak banget diabadikan dengan pensil ya. Challengenya adalah bagaimana caranya menggambar  tumpukan daun daunnya yang melingkar membentuk pagoda itu dengan rapi dan tidak tumpang tindih dengan amburadul satu sama lain. 

3/. Sawi Putih alias Pitchay

Pitchay atau Pitsai atau Sawi Putih, tananan sawi jenis lain yang juga sering saya tanam di halaman. Tanaman ini daunnya mengenbang seperti rosette pada awalnya, kemudian menekuk ke dalam dan memadat di tengah pada akhirnya. Terlihat gendut dan lucu. Menarik juga untuk digambar. Challengenya adalah, bagaimana membuat daun-daunnya kelihatan menggelung ke dalam dan terlihat padat.  Yang saya gambar ini adalah tanaman yang masih muda  yang berada di stage baru mulai menggelung daun -daun tengahnya. 

4/. Pare.

Pare adalah tanaman yang dari sononya sudah artistik. Batangnya merambat dengan daun keriting dan sulur sulur yang banyak membuatnya terlihat sangat cantik tanpa diapa-apain. Challengenya seupa dengan menggambar Artemisinin. Bagaimana caranya menggambar bagian kecil kecil kemriwil itu dengan tetap halus. 

5/. Rosemary.

Sekalian keblenger dengan menggambae element tanaman yang kecil kecil, sekalianlah saya menggambar Rosemary. Daunnya kecil kecil banget. Aah…perbesar saja dikit.  Rosemary adalah tanaman bumbu yang baru saya pelihara kurang dari setahun.  Saya sangat suka dengan wangi daunnya. Enak untuk ditabur di atas kentang goreng. 

6/. Sawi Sendok alias Pakchoy

Tanaman ini juga sangat menarik karena pangkal tangkai daunnya yang cekung dan gendut mirip sendok bebek. Juga merupakan tanaman yang paling sering saya tanam di halaman. Karena enak πŸ˜ƒ. Challengenya adalah bagaimana membuat pangkal tangkai daunnya ini benar benar terlihat cekung di dalam dan cembung keluar. 

Tapi apapun challenge-nya, menggambar sayuran selalu menarik dan menyenangkan. 

Sapo Tahu Dengan Sawi Pagoda.

Standard

Hari ini saya bangun lebih siang. Badan saya terasa agak lebih sehat dibanding kemarin pagi. “Siang ini mau masak apa Bu?” tanya si Mbak. Rasanya kok sangat malas berpikir ya. “Yang ada di tukang sayur sajalah” kata saya. Tapi lalu saya keingetan tanaman sayuran di halaman.🌱🌱🌱 Beberapa mungkin harus dipetik segera biar tak ketuaan atau kepalang tumbuh bunga. 

Sayapun ke halaman melihat-lihat sayuranπŸ€. Kebanyakan masih kecil kecil. Tapi ada juga beberapa sisa sisa yang masih bisa dipanen. Ada Kailan dan Daun Pepaya Jepang. Ada juga sisa-sisa Sawi Pagoda yang penghabisan. Dipanen ah!.

Dimasak apa ya? Buka kulkas. Kebetulan masih punya sisa  tofu dan cumi. Ah!. Cukuplah. Mau dimasak Sapo Tahu Sayuran saja. 

Masaknya sederhana saja. 

1/ Sawi Pagoda dibersihkan dan daunnya dipetik satu per satu. Cuci bersih lalu tiriskan. 

2/. Potong-potong  tofu, goreng hingga matang. 

3/. Cumi dibersihkan, dipotong potong dan dicuci lalu digoreng. 

4/. Parut bawang putih, ditumis dengan irisan bawang bombay dan jahe hingga harum. Masukan irisan paprika (kebetulan ada di kulkas). 

5/. Masukkan tepung maizena yang sudah dilarutkan dengan air. Tambahkan sedikit garam dan gula. 

6/. Masukkan cumi dan tofu goreng.  Dimasak kembali dengan api sedang.  Tambahkan sedikit minyak wijen dan kecap inggris. 

7/. Terakhir masukkan Sawi Pagoda kesayangan. Masak dengan api besar lalu angkat. 

8/. Hidangkan panas-panas. 🍜🍜🍜

Sawi Pagodanya sangat enak dan empuk. 

Selamat Jalan & Terimakasih Ibu Guruku Tersayang.Β 

Standard

Kemarin saya mendapatkan kabar duka berpulangnya Ibu Anak Agung Ayu Anom Alit, ibu guru saya waktu Taman Kanak-Kanak. Dumogi Amor ring Acintya. Om Swargantu, Moksantu, Suryantu. Semoga atmannya menyatu kembali dengan Brahman. 

Berita itu saya terima lewat Whatsapp ketika saya sedang rapat di kantor. Tak mampu menyimpan rasa duka, sayapun berbisik kepada teman di sebelah saya tentang kedukaan hati saya. “Ooh guru waktu TK. Masih ingat, Bu?”komentar teman saya. Ya. Guru TK saya. Tentu saja saya masih ingat dan sangat berterimakasih atas jasa beliau dalam mendidik saya. 

Ibu Anom adalah Kepala Taman Kanak-Kanak Bhayangkari Bangli pada masa saya kecil. Bersama dengan Ibu Raden Roro Sri Imari (Bu Erna) dan Bu Pember, Bu Anom adalah guru pertama yang mendidik saya setelah ke dua orang tua saya. Kebetulan sekali ke tiga ibu guru kami ini adalah ibunda dari sahabat-sahabat baik saya. Bu Anom adalah ibunda dari Gung Swasta Wibawa, Bu Erna adalah ibunda dari Erna dan Bu Pember adalah ibunda dari Putu Purwanthi. Oleh karenanya, kedekatanpun kian terasa. 

Ketika pertama kali saya mengenal sosok “Guru” dalam hidup saya,  maka Bu Anom Alit inilah yang saya tahu dan sebut namanya pertama, beserta Bu Erna dan Bu Pember. Beliau memberikan dasar-dasar kepercayaan diri, tata krama, kedisiplinan, dasar-dasar pemahaman garis, bidang dan ruang serta mendorong saya untuk membuka serta mengasah bakat dan kemampuan saya. 

Tentu saja banyak kenangan yang tertinggal di hati saya tentang ibu guru kami ini. Kenangan yang indah tentunya. 

Dahulu, ada sebatang pohon Wani (Kemang) di depan halaman sekolah. Disanalah detiap pagi kami menunggu kedatangan Ibu guru. Jika sudah ada yang terlihat kami langsung mengelu-elukan dengan nyanyian:

Ibune sampun rawuhibune sampun rawuuuhibune sampun rawuuuh…” berulang -ulang dengan riang gembira.  Bu Anom akan mengembangkan senyumnya dan melambaikan tangannya pada kami. 

Setelah itu Bu Anom, Bu Erna dan Bu Pember akan meminta kami semua berbaris, siap grak, lencang kanan, lencang kiri dan berhitung sebelum masuk ke dalam kelas. Semuanya harus rapi dan semuanya harus disiplin. 

Belajar disiplin nggak selesai sampai di situ. Setelah masuk kami harus duduk dengan tertib di bangku masing-masing. Dan itupun ada ceremoninya. Sayang saya lupa lagunya. Tapi intinya dimulai dengan sikap duduk yang baik, dengan kedua tangan disilangkan di depan dada (sidakep). Dua tangan atas, lalu dibentangkan ke samping lalu silang. Barulah pelajaran di mulai. Mengenal garis lurus garis lengkung, bernyanyi, berdoa, menari dan sebagainya. 

Atas dorongan Bu Anom juga saya berani tampil untuk pertamakalinya di atas panggung dalam lomba menyanyi tunggal di Balai Masyarakat Bangli (sekarang bangunannya sudah tidak ada lagi dan berganti menjadi pasar senggol). Dan pertamakalinya juga saya tahu rasanya berkompetisi dan menang mendapatkan juara pertama dengan hadiah boneka ikan berwarna hijau yang sangat besar untuk ukuran tubuh saya saat itu. Saya masih memainkan boneka itu hingga sekitar kelas 4 SD. Dan saya tetap mengenang peristiwa itu di dalam hati saya. Beliau telah membangun kepercayaan diri saya. 

Guru TK adalah guru yang meletakkan pondasi pengetahuan pada setiap anak untuk dibangun berikutnya oleh guru guru sekolah lanjutan dan dosen beserta dengan orang tua dan masyarakat dengan melibatkan si anak itu sendiri.

Dan pastinya itulah yang telah dilakukan oleh Bu Anom Alit terhadap diri saya dan teman teman sehingga sekarang kami bisa mandiri dalam menjalani kehidupan. 

Selamat jalan Bu. Saya sangat berterimakasih. Berharap Ibu masih nendengarkan ucapan terimakasih saya dari atas sana. Kenangan tentang ibu akan selalu hidup di hati saya. 

Tomat Yang Retak.

Standard

Melakukan segala sesuatu tentu ada sisi suka dan dukanya. Begitu juga ketika saya berkebun. Selalu ada bagian yang menyenangkan dan bagian yang menyedihkannya. Bagian yang menyenangkannya sudah pastilah saat melihat tanaman sehat, sayuran hijau segar, cabe memerah dan tomat juga merekah.Bagian yang menyedihkannya adalah ketika melihat tanaman diserang penyakit, daunnya keriting, layu dan akhirnya mati.

Hal lain yang juga menyedihkan adalah ketika sudah menunggu lama dan berharap banyak, tiba tiba buah tomat pada retak-retak. Akibatnya juga jadi busuk dan kurang layak dikonsumsi. 

Saya mencoba mencari tahu penyebabnya. Rupanya itu bisa terjadi jika pohon tomat sempat terexpose terlalu lama di bawah matahari hinggak kering kekurangan air, lalu tiba-tiba menerima pengairan yang berlebih baik itu lewat penyiraman maupun karena hujan lebat yang tiba tiba. Dua keadaan yang extreem. Kalau sudah begini, saya hanya bisa menarik nafas panjang guna melapangkan dada saya. Semoga besok saya lebih pintar bercocok tanam. 

                                  *****

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan keadaan ini. Segala sesuatu yang terekspose dengan kondisi extreem tentu sangat mungkin akan mengalami keretakan.

Memikirkan ini tiba tiba saya merasa prihatin dengan kondisi kebangsaan kita belakangan ini. Situasinya sangat mirip dengan situasi buah tomat ini. 

Sebagai masyarakat yang memang dari awalnya terdiri atas beragam suku, ras dan agama, leluhur kita telah mengikrarkan diri menjadi satu bangsa yang bertanah air satu yaitu Indonesia. Dan karenanya setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memelihara ke Indonesiaan kita ini. Tidak ada yang mendapatkan lebih dan tidak ada yang mendapatkan kurang. Dalam bernegara hak dan kewajiban kita sama. Tidak ada yang mayor dan tidak ada yang minor. 

 Jika saja setiap warga negara sadar akan ini tentu keIndonesiaan kita akan berkembang dengan baik. Bak buah tomat yang sehat, ia pun akan tumbuh dan berkembang dengan baik hingga matang ranum dengan halus mulus. 

Namun bagaimana jika sebagian dari kita ada yang merasa memiliki hak yang lebih dibanding warga negara yang lain? Lalu berkata dan bertindak semena-mena menghakimi dan mengurangi hak orang lain sebagai warga negara hanya karena tidak satu suku dengannya? Tidak seagama dengannya? Bukankah itu sama dengan memapar keIndonesiaan kita pada kondisi extreem? Yang ujung-ujungnya berpotensi keretakan bangsa? 

Yuk kita yang masih cinta pada Indonesia, kita jaga baik baik persatuan bangsa kita. Nggak usah ngupload status yang aneh-aneh yang berpotensi merusak hubungan kita sebagai bangsa Indonesia!. 

*Renungan di bawah pohon tomat.

Bubuh Kalimoto, Bubur Sehat Saat Flu dan Musim Hujan.

Standard

Bubuh Kalimoto

Bali memiliki beberapa jenis bubur di dalam daftar di dapurnya. Tapi yang paling populer adalah jenis Bubur Sayur. Dan bubur sayur sendiri setahu saya setidaknya ada 2 jenis. Yaitu Bubuh Urab dengan kuah santan yang sangat umum dan mudah kita temukan di pasar pasar traditional di Bali. Satunya lagi adalah Bubuh Kalimoto. Bubuh =bubur dalam Bahasa Bali.

Bubuh Kalimoto adalah bubur yang terbuat dari beras dimasak dengan daun Kayu Manis (bahasa Bali untuk Daun Katu). Toppingnya biasanya diberi kacang kedelai goreng yang empuk dan renyah dan atau ikan teri goreng. Sambelnya terasi bakar yang diulek dengan cabe rawit pedas dan sedikit garam.

Bubur Kalimoto biasanya dibuat di dapur penduduk. Jarang dijual. Sangat umum dibuat saat musim hujan atau jika ada anggota keluarga yang kena flu. Biasanya seluruh isi rumah ikut makan bubur yang sedap ini. Daun Kayu Manis dipercaya secara traditional merupakan obat yang baik untuk mengatasi flu. 

Melihat daun Kayu Manis, kali ini saya membuat Bubuh Kalimoto. Untuk mengenang cinta dan kasih sayang ibu saya kepada kami anak-anaknya. Selain itu….memang kangen rasanya juga. 

Ada yang mau mencoba?.

Dapur Hidup: Cerita Saya Tentang Lobak Lalap.

Standard

Lobak Lalap

Tentunya semua tahu yang namanya Lobak kan? Itu lho sayuran umbi yang mirip wortel tapi warnanya putih. Masih sekeluarga sama beet. Biasanya saya lihat dijadikan campuran soto.  

Saya sendiri sebenarnya kurang menyukai rasa umbi lobak. Tapi begitu mendengar daun lobak untuk lalap, saya mendadak menjadi suka. Nah saya mau cerita tentang tanaman lobak saya. 

Benih lobak saya lupa dapat dari mana. Rasanya sih beli online. Makanya saya hanya punya beberapa biji saja. 

Biji lobak ukurannya agak besar ketimbang rata rata biji sesawi. Tumbuh cukup mudah juga, walaupun saya tidak punya banyak. Paling banter ada 8 pohon yang saya punya. Saya tanam di polybag.

Tumbuh dengan subur. Daunnya banyak dan hijau royo royo. Senang melihatnya. 

Pangkal akar Lobak sudah mulai terlihat menggembung.

Saya melihat pangkal akarnya juga mulai menggembung. Terlihat putih membenam di tanah.  Wah.. tak sabar rasanya menunggu. Pengen tahu.  

Tanaman Lobak sedang berbunga.

Saya membiarkan tanaman ini tumbuh. Tak berapa lama mulailah bunganya bermunculan. 

Bunga Lobak.

Cantik. Kecil kecil berwarna ungu. Mahkota bunganya ada 4. Mirip bunga sawi sih. Tapi kalau sawi biasanya bunganya kuning. Lobak ini bunganya ungu pucat. Saya senang sekali. Dan berniat membiarkannya hingga menjadi buah.

Buah Lobak.

Sebenarnya proses menjadi buahnya cepat. Tapi saya ingin menunggu buahnya menjadi tua dan kering. 

Nah kemarin saat hujan deras, tiba tiba saya keingetan akan tanaman lobak saya. Sayapun menengoknya. Rupanya sudah layu. Sebelum membusuk segera saya cabut tanamannya dan penasaran melihat umbinya.

Lobak

Tada!!. Beginilah umbinya. Kok kecil banget ya?  Hi hi… ternyata hasilnya jauh dari bayangan saya. Mungkin ada yang salah dari cara saya merawatnya. Atau jangan jangan jenis yang saya tanam itu memang yang jenis berumbi kecil?. Saya menghibur diri.

Tapi nggak apa apa. Saya tetap semangat. Saya petik buahnya.

Buah Lobak

Saya ingin mengambil biji bijinya untuk saya semai kembali. 

Biji Lobak

Saya akan coba tabur lagi di halaman. Siapa tahu bisa tumbuh kembali. 
Selalu semangat untuk berdapur hidup. 

Kali Ini Bukan Tomat Lagi. Tapi Bayam.Β 

Standard

Ah, jangan minta angpao dari Bu Dani. Ntar dikasihnya tomat“. Gurau seorang teman saat beberapa waktu yang lalu saya mengucapkan Gong Xi Fa Chai. Ha ha ha. Saya tertawa geli mendengarnya yang disusul oleh derai tawa teman teman saya yang lain. Tentu tahu dari mana datangnya, mengapa teman saya itu berkomentar seperti itu. Pasti karena belakamgan ini saya sering memposting status atau photo photo tomat. Jadi tomat seolah sudah menjadi symbol perwakilan diri saya. Ha ha.

Nah biar lebih beragam dan tidal melulu tentang tomat, kali ini saya memposting tentang sayuran lain saja. Bayam. Mengapa bayam? Begini ceritanya nih…

Saat ini saya di sebagian instalasi hidroponik saya sedang ditanami bayam. Sebenarnya sudah sempat dipanen sekali. Tapi karena memanennya dengan dipotong dan bukan dicabut, cabang cabang kecil yang tertinggalnyapun akhirnya tumbuh lagi dan 2 minggu kemudian menjadi bayam seukuran yang layak di panen. 

Entah karena kesibukan atau apa, lha saya lupa memanen bayam bayam baru itu. Ada 2 box yang sudah kepalang menjadi berbunga. Tentu nggak mantap lagi jika dipanen dan dijadikan sayur. 

Bayam Dapur Hidup.

Untungnya masih ada sebagian yang masih sangat layak panen.
Ini dia hasil panen bayam saya pagi ini. Lumayan ya. Seger seger. Setidaknya lebih seger dari yang di tukang sayur. 

Bayam Dapur Hidup

Memang punya Dapur Hidup itu nggak pernah ada ruginya.