Tag Archives: Air

Genangan Air dan Dunia Di Dalamnya.

Standard

Genangan Air2Musim hujan!. Selalu memberi nuansa yang berbeda pada alam di sekeliling kita. Rerumputan mulai meninggi mencapai lutut. Daun-daun menghijau. Udara terasa lebih bersih, lebih sejuk dan lebih segar dari biasanya. Jika hujan reda, saya senang berjalan-jalan menikmati suasana sehabis hujan.

Seperti pagi ini. Saya berjalan di sekeliling perumahan. Udara terasa sangat bersih, barangkali karena debu-debu dan asap kendaraan yang biasanya mengambang di udara kini tersapu dan diendapkan hujan kembali ke tanah. Namun ada banyak genangan air dimana-mana. Tentu saja bekas hujan dini hari tadi. Saya melangkah berjingkat melewatinya. Sesekali harus melompati genangan agar sepatu kain saya tidak basah terciprat air. Saat melompati salah satu genangan air yang cukup besar, tiba-tiba saya tersadar akan bayangan pohon dan langit yang terpantul dari genangan air yang jernih itu. Ooh..alangkah indahnya! Saya terpesona.

Genangan air itu memantulkan bayangan pohon palem yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Agak di sudut sana, terlihat bayangan awan putih yang bergumpal dengan latar belakang langit yang biru. Semuanya sama dengan keadaan alam yang sebenarnya, hanya dalam posisi terbalik. Pohon-pohon yang harusnya mencuat ke atas, ini malah mencuat ke bawah. Genangan air ini sangat mirip dengan cermin alam yang bening. Ia merefleksikan  apapun yang ada di atas dan sekitarnya. Wow! Rupanya alam pun suka bercermin dan melihat dirinya sendiri.  Saya tersenyum sendiri memikirkan itu.

Lalu saya melihat lagi ke genangan -genangan air yang lainnya. Ya! Semua genangan air itu, baik genangan besar maupun genangan kecil memantulkan bayangan alam sekitar tanpa kecuali. Hanya saja, semakin bening air genangannya, kwalitas pantulannya semakin baik. Beberapa genangan kelihatan keruh, barangkali karena sudah diinjak orang ataupun dilindas oleh ban kendaraan yang melintas. Bayangannya agak butek dan tidak sejelas hasil pantulan di genangan air yang bening.

Alam merasa perlu melakukan refleksi diri. Demikian juga kita. Ada gunanya bagi kita untuk sesekali meluangkan waktu guna melihat kembali diri sendiri dan segala attribut yang menemani diri kita. Perasaan kita. Pikiran kita. Segala Perkataan kita dan juga Perbuatan kita. Yang namanya manusia, tentu kita tidak pernah luput dari kekurangan-kekurangan.

Genangan Air keruhDengan melakukan refleksi diri, kita bisa melihat bayangan kita sendiri. Apakah bayangan diri kita terlihat indah, terang dan bersih? Ataukah kotor dan terlihat kusam dan lusuh? Jika kusam, kotor dan lusuh, dimanakah noda yang kotor itu banyak mengumpul dan perlu kita bersihkan? Setidaknya kita tahu dimana letak kotoran itu sehingga jika kita berniat membersihkannya, kita tahu di bagian mana kita harus membersihkannya.

Hati kita sendiri laksana air. Semakin jernih, semakin menghasilkan kwalitas pantulan yang semakin baik.  Jika hati kita bening, akan lebih mudah bagi kita untuk melihat bayangan diri kita sendiri. Lebih mudah bagi kita untuk mengetahui, bagian mana dari atribut dalam diri kita yang bersih dan bagian mana yang banyak bernoda. Di dalam hati yang bersih, dunia terlihat terang benderang dan jelas, laksana bayangan di genangan air yang jernih.

Sebaliknya jika hati kita sendiri keruh, sulit bagi kita untuk melihat bayangan dengan baik. Walaupun bayangan tetap ada, namun semuanya terlihat sama saja, tidak terlalu jelas bedanya antara bagian diri kita yang bersih dan yang bernoda. Sehingga kita tidak tahu bagian mana yang perlu dibersihkan. Bahkan mungkin tidak tahu apakah perlu dibersihkan atau tidak, karena kita tak mampu melihat dan membedakannya dengan jelas. Di dalam hati yang kurang bersih, dunia terlihat kusam dan kurang jelas, laksana bayangan di genangan air yang keruh.

Akhirnya saya tiba di penghujung jalan. Sebuah genangan air yang paling besar saya lihat di sana. Rupanya tempat itu relatif lebih rendah dari area sekitarnya. Jadi air dalam volume yang cukup banyak terjebak di sana. Karena tak banyak orang berlalu lalang di sana, air genangan itu terlihat jernih. Saya melongokkan kepala saya ke dalam genangan air itu. Melihat bayangan pohon-pohon bambu diselingi pohon palma. Sangat hijau meneduhkan. Sementara bayangan matahari yang baru menanjak naik ke langit yang biru dihiasi bercak-bercak awan putih terlihat mengintip di sudut dari balik sebatang pohon palma. Beberapa ekor burung kecil tampak terbang melintas di atasnya. Alangkah indahnya dunia di dalam genangan air ini. Melihat ke dalamnya terasa seperti sedang berada di dalam negeri dongeng. Sangat teduh, namun tetap terasa hangat dan tanpa beban.

Pancuran Bambu Yang Terisi Kembali.

Standard

Andani-Pancuran Bambu4Saya mengajak anak-anak berjalan-jalan di sebuah taman. Di dalam taman itu terdapat sebuah kolam berdinding batu alami yang indah walaupun terlihat kurang terawat. Sumber air didapatkan dari sebuah parit, dimana setelah airnya menggenang di kolam yang dangkal untuk beberapa saat, kemudian dialirkan keluar lewat parit yang lain. Yang menarik perhatian anak saya rupanya adalah sebuah pancuran bambu yang bergerak ungkat-ungkit di kolam itu. Dengan segera mereka berjongkok dan mengamati pergerakan pancuran bambu itu. Tertarik akan cara kerjanya sehingga bisa bergerak ke atas dan ke bawah dengan otomatis. Betapa antusiasnya mereka mendiskusikan cara kerja pancuran bambu itu. Read the rest of this entry

Berkawan Dengan Air.

Standard

Ada hal yang paling saya takuti saat melakukan perjalanan jauh. Yaitu Sakit. Terutama jika perjalanan itu harus saya lakukan seorang diri. Walaupun pada akhirnya di tempat tujuan saya pasti akan ditemani oleh orang lain, namun tentu saja menjadi tidak mengenakkan jika kita harus membebani teman dengan keluhan kita. Oleh karenanya, saya benar-benar takut sakit. Read the rest of this entry

Rintik Hujan Yang Pertama.

Standard

Musim panas. Entah kenapa saya merasa musim panas tahun ini  berlangsung cukup panjang. Panjang dan mengenaskan. Walaupun di sana-sini saya masih melihat kehijauan, namun rasanya warna coklat gersang, mulai banyak menyergap mata saya.  Saya melihat beberapa pohon meranggas di tepi jalan. Entah sengaja menggugurkan daunnya, entah berguguran tanpa sengaja. Saya memandangnya dengan hati yang galau. Pohon itu sekarang tampak seolah meregang kehilangan nyawa. Kemanakah gerangan kehidupan itu pergi? Hanya tinggal batang, cabang dan ranting. Beberapa sarang burung yang tadinya terlindung di balik kerimbunan dedaunan, sekarang sudah nampak bertengger diantara ranting-ranting pohon yang telanjang. Read the rest of this entry

Air Kemasan Yang Tersisa.

Standard

Liburan ini saya berkunjung ke tempat salah satu kerabat di daerah  Cikidang di Sukabumi. Saya sempat melihat-lihat ke belakang rumahnya, di mana dulunya terdapat sebuah kolam ikan. Namun sayang saat ini kolam ikan itu tampak kering dan terlantar. Saya diberi penjelasan bahwa belakangan ini  sejak perkebunan karet diganti dengan kelapa sawit, mata air tidak lagi mengalir. Air tanah susut banyak, sehingga tidak cukup lagi untuk mengairi kolam.  Saya memandang ke luar. Matahari yang panas memanggang tanah yang coklat retak-retak. Hmm..sayang. Read the rest of this entry