Tag Archives: Alam

Genangan Air dan Dunia Di Dalamnya.

Standard

Genangan Air2Musim hujan!. Selalu memberi nuansa yang berbeda pada alam di sekeliling kita. Rerumputan mulai meninggi mencapai lutut. Daun-daun menghijau. Udara terasa lebih bersih, lebih sejuk dan lebih segar dari biasanya. Jika hujan reda, saya senang berjalan-jalan menikmati suasana sehabis hujan.

Seperti pagi ini. Saya berjalan di sekeliling perumahan. Udara terasa sangat bersih, barangkali karena debu-debu dan asap kendaraan yang biasanya mengambang di udara kini tersapu dan diendapkan hujan kembali ke tanah. Namun ada banyak genangan air dimana-mana. Tentu saja bekas hujan dini hari tadi. Saya melangkah berjingkat melewatinya. Sesekali harus melompati genangan agar sepatu kain saya tidak basah terciprat air. Saat melompati salah satu genangan air yang cukup besar, tiba-tiba saya tersadar akan bayangan pohon dan langit yang terpantul dari genangan air yang jernih itu. Ooh..alangkah indahnya! Saya terpesona.

Genangan air itu memantulkan bayangan pohon palem yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Agak di sudut sana, terlihat bayangan awan putih yang bergumpal dengan latar belakang langit yang biru. Semuanya sama dengan keadaan alam yang sebenarnya, hanya dalam posisi terbalik. Pohon-pohon yang harusnya mencuat ke atas, ini malah mencuat ke bawah. Genangan air ini sangat mirip dengan cermin alam yang bening. Ia merefleksikan  apapun yang ada di atas dan sekitarnya. Wow! Rupanya alam pun suka bercermin dan melihat dirinya sendiri.  Saya tersenyum sendiri memikirkan itu.

Lalu saya melihat lagi ke genangan -genangan air yang lainnya. Ya! Semua genangan air itu, baik genangan besar maupun genangan kecil memantulkan bayangan alam sekitar tanpa kecuali. Hanya saja, semakin bening air genangannya, kwalitas pantulannya semakin baik. Beberapa genangan kelihatan keruh, barangkali karena sudah diinjak orang ataupun dilindas oleh ban kendaraan yang melintas. Bayangannya agak butek dan tidak sejelas hasil pantulan di genangan air yang bening.

Alam merasa perlu melakukan refleksi diri. Demikian juga kita. Ada gunanya bagi kita untuk sesekali meluangkan waktu guna melihat kembali diri sendiri dan segala attribut yang menemani diri kita. Perasaan kita. Pikiran kita. Segala Perkataan kita dan juga Perbuatan kita. Yang namanya manusia, tentu kita tidak pernah luput dari kekurangan-kekurangan.

Genangan Air keruhDengan melakukan refleksi diri, kita bisa melihat bayangan kita sendiri. Apakah bayangan diri kita terlihat indah, terang dan bersih? Ataukah kotor dan terlihat kusam dan lusuh? Jika kusam, kotor dan lusuh, dimanakah noda yang kotor itu banyak mengumpul dan perlu kita bersihkan? Setidaknya kita tahu dimana letak kotoran itu sehingga jika kita berniat membersihkannya, kita tahu di bagian mana kita harus membersihkannya.

Hati kita sendiri laksana air. Semakin jernih, semakin menghasilkan kwalitas pantulan yang semakin baik.  Jika hati kita bening, akan lebih mudah bagi kita untuk melihat bayangan diri kita sendiri. Lebih mudah bagi kita untuk mengetahui, bagian mana dari atribut dalam diri kita yang bersih dan bagian mana yang banyak bernoda. Di dalam hati yang bersih, dunia terlihat terang benderang dan jelas, laksana bayangan di genangan air yang jernih.

Sebaliknya jika hati kita sendiri keruh, sulit bagi kita untuk melihat bayangan dengan baik. Walaupun bayangan tetap ada, namun semuanya terlihat sama saja, tidak terlalu jelas bedanya antara bagian diri kita yang bersih dan yang bernoda. Sehingga kita tidak tahu bagian mana yang perlu dibersihkan. Bahkan mungkin tidak tahu apakah perlu dibersihkan atau tidak, karena kita tak mampu melihat dan membedakannya dengan jelas. Di dalam hati yang kurang bersih, dunia terlihat kusam dan kurang jelas, laksana bayangan di genangan air yang keruh.

Akhirnya saya tiba di penghujung jalan. Sebuah genangan air yang paling besar saya lihat di sana. Rupanya tempat itu relatif lebih rendah dari area sekitarnya. Jadi air dalam volume yang cukup banyak terjebak di sana. Karena tak banyak orang berlalu lalang di sana, air genangan itu terlihat jernih. Saya melongokkan kepala saya ke dalam genangan air itu. Melihat bayangan pohon-pohon bambu diselingi pohon palma. Sangat hijau meneduhkan. Sementara bayangan matahari yang baru menanjak naik ke langit yang biru dihiasi bercak-bercak awan putih terlihat mengintip di sudut dari balik sebatang pohon palma. Beberapa ekor burung kecil tampak terbang melintas di atasnya. Alangkah indahnya dunia di dalam genangan air ini. Melihat ke dalamnya terasa seperti sedang berada di dalam negeri dongeng. Sangat teduh, namun tetap terasa hangat dan tanpa beban.

Sumber Kehidupan Bagi Mahluk Hidup Di Alam.

Standard

Bediri di pinggir kali. Membuat saya sadar, bahwa sesungguhnya Sang Pencipta menyediakan sumber makanan yang sangat cukup bagi mahluk hidup di sekitarnya. Tanaman yang hijau berdaun subur, berbunga, berbuah dan berbiji juga berumbi. Semua menjadi sumber makanan yang melimpah untuk serangga dan mahluk hidup lain di alam. Ketika serangga dan binatang kecil melimpah, sangat cukup untuk mengganjal kelaparan para pemangsa yang lebih besar. Keseimbangan ekosistem berlangsung sedemikian stabil jika tidak ada bencana alam, hingga manusia datang dan merusak keseimbangan itu.

Manusia membabat semak dan rumput benggala, menyebabkan burung-burung pemakan biji-bijian terganggu. Manusia membakar ladang dan pohon yang mengakibatkan puluhan burung-burung menjadi tunawisma.  Manusia juga memasang jebakan, menangkapi burung dan biawak sungai, membuang sampah sembarangan, menebang pepohonan yang mengakibatkan banjir bandang yang akhirnya juga mengikis tanah di pinggir kali dan merobohkan banyak pohon besar di pinggirnya. Banyak sekali hal  lain lagi yang telah dilakukan manusia, yang jika dipikirkan membuat dada saya terasa sesak, karena saya tak mampu mengatasi semua masalah itu seorang diri.

Di bawah ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di pinggir kali yang sangat mengesankan hati saya. Bagaimana alam menyediakan makanan yang melimpah untuk para burung, sesungguhnya demikian juga Ia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyediakan sumber kehidupan yang melimpah bagi mahluk lainnya, termasuk kita semua. Mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat dan kasih sayangNYA.

Ada banyak sekali jenis makanan yang disediakan alam yang menarik burung-burung ini berdatangan atau bahkan menetap di sini.

Buah Coccinia. 

Sebelumnya saya pernah menulis tentang buah Timun Padang (Coccinia grandis) yang tumbuh merambat di pagar perumahan di pinggir kali. Tanaman ini selain bisa dimakan oleh manusia dalam keadaan mentah dan enak juga disayur, rupanya juga merupakan sumber makanan favorit bagi burung-burung Cerukcuk. Tanaman yang disebut dengan nama lain Little gourd atau baby watermelon ini, berubah warna menjadi jingga lalu merah saat buahnya menua. Rasa daging buahnyapun manis, sehingga mengundang banyak burung pemakan buah datang berkunjung.  Saya sangat senang mengamati-amati burung di dekat tanaman ini.

Buah Kersen 

Buah Kersen atau buah Singapur (Muntingia calabura) adalah buah kecil-kecil yang bertangkai miripbuah cherry, sehingga kadang disebutkan salah kaprah dengan nama buah Cherry. Anak-anak sangat menyukai buah merah ranum yang terasa manis ini. Waktu kecil sayapun sangat suka memanjat pohon ini untuk mengambil buahnya. Namun ternyata bukan hanya anak-anak saja yang suka. Beberapa jenis burung juga sangat menyukainya. Setidaknya saya melihat burung ciblek, burung,burung prenjak, burung kutilang dan burung cerukcuk suka hinggap di dahan dan ranting pohon ini untuk memanen buah yang ranum.

Biji-bijian Untuk Keluarga Burung Pipit.

Rumput benggala banyak tumbuh di tepi kali. Biji-bijinya yang banyak sangat disukai oleh keluarga Burung Pipit. Saya melihat burung-burung ini datang silih berganti dan bergerombol menikmati bijinya. Atau sekedar menarik-narik dan memutus  tangkai atau daunnya untuk dijadikan bahan sarang. Ketika saya datang, burung-burung ini terbang menjauh. Namun tak lama kemudian datang kembali dengan teman-temannya. Senang sekali melihatnya menikmati kehidupan pagi.

Buah Pepaya Dan Burung pemakan Buah.

Tanaman pepaya kadang tumbuh sendiri karena kita membuang biji-bijinya di tepi sungai. Kalau beruntung tanaman ini bisa bersaing dengan baik melawan rerumputan dan gulma di sekitarnya. Tumbuh, berbunga dan berbuah. Tentu saja manusia bisa menikmatinya juga. Namun jika tidak ada yang memetik, burung-burung pemakan buahpun berdatangan ikut berpesta pora. Senang juga hati rasanya bisa  mengintipnya sedang mematuk buah pepaya.

Serangga dan Burung Pelatuk.

Di cabang atau ranting pohon yang mati, banyak tempayak dan serangga hidup di sana. Walaupun mati, pepohonan tetap menjadi penyumbang makanan bagi burung-burung pemakan serangga. Seperi burung Pelatuk kecil alias Caladi Tilik ini. ia selalu rajin datang setiap hari. Jika terdengar suara “terrrrr…terrrr…” saya langsung mendongak ke cabang pohon yang mati ini. Di sana pasti ada burung Pelatuk yang sedang makan atau bercanda dengan temannya.

Bunga Benalu Dan Bunga Lamtoro.

Bukan hanya buah dan biji-bijian, bnga-bungaan juga menjadi sumber makanan menarik bagi burung-burung. Lihatlah burung-burung pemakan madu ini, seperti misalnya Burung Madu ataupun burung Cabe.  Setiap pagi sangat sibuk mencari makan di bunga-bunga benalu yang hidup di pohon mangga, di bunga pohon pepaya ataupun di bunga-bunga pohon lamtoro.

Saya sangat senang melihat-lihat kembali photo-photo ini. Karena selalu mengingatkan saya kembali bahwa sumber penghidupan dan rejeki itu telah disediakan bagi mahluk hidup secukupnya. Tergantung bagaimana kita berusaha mencarinya saja. Seperti burung-burung di pinggir kali ini. Selalu mendapatkan rejeki yang cukup tanpa pernah ada yang mati kelaparan.

 

Kegembiraan Pagi Burung-Burung Di Sekitarku.

Standard

Hi! Dunia pinggir kali belakang rumah, apa khabar?

Rasanya belakangan ini saya banyak bepergian meninggalkan rumah dan jadi kangen juga pada kedamaian pagi kehidupan liar tepi kali belakang rumah. Walaupun hujan mulai turun sedikit-sedikit, namun jejak musim kemarau belum membuat air kali menjadi penuh. Tepi kali masih agak kering, tapi  kehidupan di dalamnya kelihatan masih tetap exist.

CerukcukSeekor Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)  hinggap di atas tembok perumahan. Menarik perhatian saya,  karena berada dalam jarak yang cukup dekat dengan tempat saya berdiri. Ia berkicau dengan merdunya. Seolah sedang bercengkrama dengan sinar pagi.

Cerukcuk 2Tak seberapa lama seekor Burung Cerukcuk lain hinggap sambil membawa makanan di paruhnya. Sobekan buah Coccinia yang sudah matang memerah, yang ia cabik dari pohonnya yang merambat di kawat tembok kali. Ia mendekat dan memamerkan makanan yang didapatnya pagi itu, seolah berkata kepada temannya “Mengapa  kau tak nikmati juga anugrah alam yang merah merekah ini?”

Cerukcuk 3

Melihat temannya makan dengan nikmat, maka burung Cerukcuk yang pertamapun ikut menclok di rambatan pohon Coccinia, lalu makan di sana.

Cerukcuk 1

Saya menggeser posisi saya berdiri agar bisa melihat burung itu dengan lebih jelas. Ia sibuk mencabik-cabik buah Coccinia yang matang. Kulitnya sobek dan memperlihatkan biji dan isinya yang berwarna jingga kemerahan. Rasanya tentu sangat manis.  Betapa riangnya mereka mencari makan di pagi hari. Sementara temannya yang sudah menghabiskan makanannya kini kembali berkicau riang. Ah.. rasa gembira itu  ikut menjalar ke dalam hati saya.

Cerukcuk 4

Saya terus memperhatikan tingkah lakunya hingga ia kenyang dan akhirnya  mereka terbang entah kemana. Kembalilah besok, wahai burung-burung!

Alam memberikan kelimpahan makanan bagi burung-burung dengan gratis. Alam memberikan kelimpahan kegembiraan bagi burung-burung dengan gratis.Alam juga memberikan kelimpahan kebahagiaan bagi hati saya  yang  melihat kegembiraan burung-burung itu… juga dengan gratis.

Betapa alam sesungguhnya mencintai kita manusia. Sekarang tergantung bagaimana kita memaknainya…

 

 

Situ Gunung: Keaneka-ragaman Tumbuhan.

Standard

Mengajak Anak Mengamati Tanaman.

Jalan menuju ke Situ Gunung berada di tengah hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.  Yang namanya hutan, tentu saja banyak jenis tanaman tumbuh di sana. Mulai dari pepohonan besar, perdu, semak, hingga rumput bahkan jamur dan lumut pun ada di sana.

Pohon Damar di Situ Gunung, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Pohon Damar di Situ Gunung, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Ini bagian yang paling menyenangkan bagi anak saya yang besar. Ia suka mempelajari tanaman. Sambil berjalan, sayapun sibuk menjelaskan, beberapa jenis tanaman liar yang berhasil saya kenali *tentu saja yang tidak mampu saya identify lebih banyak lagi jumlahnya*.  Saya mulai dari pohon Damar (Agathis alba) yang batangnya sangat besar-besar lebih dari sepelukan orang dewasa dan menjulang sangat tinggi. Bisa saya katakan, pohon damar ini adalah pembentuk hutan di kawasan Situ Gunung ini.

Getah damar keluar dari luka di kulit batang pohon damar. Jika dibiarkan terkena udara sejenak, akan membeku dan mengeras mirip kristal.

Getah damar keluar dari luka di kulit batang pohon damar. Jika dibiarkan terkena udara sejenak, akan membeku dan mengeras mirip kristal.

Menurut cerita seorang tukang ojek yang ada di sana, pohon-pohon damar ini telah ditanam sejak jaman Belanda. Dulunya ditanam untuk diambil getahnya yang disebut Resin  dan diperdagangkan sebagai bahan baku  berbagai industri.  Cukup menyenangkan bisa mengamati batang pohon damar ini untuk mencari-cari getahnya yang sudah kering dan mengeras.

Pohon besar berikutnya yang ada di sekitar danau adalah pohon Pinus (Pinus merkusii),  pohon yang selalu menjadi pertanda suhu yang dingin.

Pohon Palem di tepi danau / Situ Gunung

Pohon Palem di tepi danau / Situ Gunung

Lalu ada beberapa jenis pohon-pohon palem di sana. Termasuk di dalamnya pohon palem  kelopak merah  seperti yang banyak diperjual-belikan di tukang tanaman.

Pakis Monyet yang menawan

Pakis Monyet yang menawan

Lalu ada banyak sekali tanaman pakis monyet (Cibotium sp), seperti yang sedang marak diperjualbelikan dengan harga mahal. Saya merasa sangat bersyukur, tanaman ini tumbuh di kawasan Taman Nasional yang dilindungi, kalau tidak tentu sudah dibongkar dan diperdagangkan orang ke kota-kota besar.

Lalu ada berbagai jenis tanaman pakis yang tentunya berdaun sangat indah. Saya sangat senang memperhatikan bentuk daunnya yang beragam.

Yang sangat menarik adalah mengamati pohon kadaka yang tumbuh di habitatnya yang alami di dalam hutan. Ada yang hidup di batang-batang pohon yang besar, ada yang tumbuh pada liana yang  mirip tali-tali rambatan hutan, ada yang tumbuh bertingkat di atas dahan yang sama. Terlihat sangat artistik.

jamur kayuDi sebuah batang pohon yang mati saya juga melihat jamur tumbuh di sana. Lalu ada lagi jenis tanaman Kaliandra yang berbunga merah, jahe-jahean dan tentunya berbagai ragam tanaman lain lagi.

 

Juga tanaman berbuah yang cukup menjadi penyangga kehidupan berbagai mahluk yang ada di dalamnya.

Di dasar hutan, tentunya tumbuh juga berbagai rumput dan tanaman berbunga yang juga sangat menarik.

Berjalan-jalan di hutan dan mengajak anak berdiskusi tentang tumbuh-tumbuhan, memberi peluang kepada anak untuk mengenal tumbuhan, kegunaannya bagi manusia dan lingkungan sekitarnya dengan lebih cepat.

 

Bagaikan Jamur Di Musim Hujan.

Standard

Jamur 1“Bagaikan jamur di musim hujan”. Itu adalah salah satu pepatah yang sangat populer diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia saya ketika SD. Apa artinya? Ya..artinya ya… banyak aja tiba-tiba muncul.  Di musim hujan biasanya banyak jamur yang tumbuh. Oleh karenanya, maka tetua kita jaman dulu menyebut  segala sesuatuyang tadinya tidak terlalu banyak ada yang lalu tiba-tiba muncul banyak,  sebagai ‘bagaikan jamur di musim hujan’.

Pepatah itu sebenarnya sederhana. Tapi bagi saya, itu adalah pepatah yang sangat menantang saya untuk mencari pembuktian.  Jika musim hujan tiba, saya paling senang melihat-lihat ke rerumputan dan ke bawah batang pohon  untuk mencari-cari apakah benar ada banyak jamur yang muncul.

Rasanya sangat senang jika melihat ada tumbuhan kecil yang berdiri memakai payung di sana. Mulai dari Jamur Bulan (Gymnopus sp) yang ukurannya sangat besar hampir segede piring kecil, jamur kuping yang warnanya gelap dan bentuknya mirip kuping tikus, jamur kayu yang keras, dan sebagainya sampai jamur Dedalu yang selalu muncul tak jauh dari rumah rayap.

Kebetulan ada beberapa jenis jamur yang bisa dimakan juga suka muncul di musim hujan. Tapi saya perlu membedakannya dengan jamur yang  beracun. Secara umum saya diberi tahu bahwa jamur yang berwarna terang (mearh,orange,dst) jangan diambil.  Jamur yang jika dipotes batangnya berwarna biru, atau jika digosok payungnya menjadi kuning terang juga jangan diambil. Begitu juga dengan jamur yang memiliki cincin, harus hati-hati. Walaupun begitu, sampai dewasa tetap saja saya tidak bisa mengidentifikasi jamur dengan baik, keculai jamur bulan dan jamur kuping.

Di mata saya, Ibu saya adalah seorang pengidentifikasi jamur yang baik. Mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak.  Jika saya melihat jamur, selalu bertanya pada Ibu, apakah yang ini bisa dimakan? Ibu saya akan memberikan jawabannya. Jika bisa dimakan, biasanya Ibu saya akan memasak jamur itu.Kadang dibuat pepes, kadang ditumis. Seingat saya, Ibu saya paling sering memasak jamur dengan campuran daun Cemcem – sejanis kedondong tapi tidak berbuah. Daun Cemcem rasanya enak, segar dan asem.

Kebiasaan sejak kecil itu, tetap berlaku hingga sekarang. Saya tetap suka memeprhatikan rerumputan dan di bawah pohon untuk melihat apakah ada jamur tumbuh. Yang beda hanyalah Ibu saya sekarang sudah tiada. Jadi tidak ada tempat bagi saya untuk bertanya. Sehingga saya tidak pernah berani lagi mengambil jamur di alam untuk dimakan. Takut salah.

Sebagai penggantinya tentu harus browsing sendiri di internet. Walaupun informasi semakin mudah didapatkan dan jenis jamur yang masuk ke pasaran juga semakin banyak , saya malah semakin bingung.  ternyata mengidentifikasi jamur lebih complicated dari apa yang saya pikir waktu kecil. Ketika ingat akan jenis jamur yang dulu pernah saya makan waktu kecil, begitu melihat di internet ternyata ada juga yang mirip seperti itu tapi beracun. Nah lho? Saya menjadi semakin tidak percaya diri. Semakin tidak berani lagi memanfaatkan jamur yang tumbuh di sekitar untuk dimakan. Salah-salah nanti malah  berakibat fatal. Sudahlah! Lebih baik menonton saja jika menemukan jamur tumbuh. Kalau ingin dikonsumsi ya…. beli saja di pasar atau di super Market. Itu lebih aman.

Musim hujan ini, saya sempat memperhatikan beberapa jenis jamur yang bermunculan. Tapi seperti yang saya sampaikan, saya tidak mampu mengidentifikasinya dengan baik. Cukup dilihat-lihat saja gambarnya.  Ada banyak juga. Mulai dari jamur tiram, jamur kuping, jamur kayu, dan sebagainya jamur lain yang saya tidak tahu namanya.

Apakah diantara para sahabat ada yang bisa membantu saya mengidentifikasi jamur-jamur di gambar ini?

Burung Prenjak Di Pohon Petai Cina.

Standard

PrenjakBurung Prenjak!. Ini adalah salah satu burung favorit saya. Burungnya kecil tapi suaranya itu lho.Sibuk banget  pindah dari satu cabang pohon ke cabang yang lain.Mencari makan dan bermain-main di tanaman perdu yang rendah. Meloncat loncat sambil bercinglar-cinglar setiap pagi. Mendekat lalu menjauh.Mendekat lagi lalu terbang entah kemana. Kedengarannya di telinga saya seperti  cing larr, cing larrr, cing larr…. cing larr, cing larr, cing larrr…. begitu terus berulang ulang.  Tapi sayangnya walaupun burung ini sangat sering mampir ke rumah saya, sangat jarang sekali saya bisa memotretnya. Kalau pun bisa fotonya selalu sangat kecil dan blur karena saya mengambilnya dari jarak yang jauh.

Namun suatu hari saya bisa berada dalam jarak yang cukup dekat dengan burung ini.  Ia datang bermain di pohon petai cina di belakang tembok rumah. Lumayanlah akhirnya saya dapat memiliki beberapa buah fotonya.

Burung Prenjak atau Taylor Bird (Orthotomus sutorius), kalau di kampung saya di Bali disebut dengan nama Kedis (burung) Kecinglar, barangkali karena suaranya  yang terdengar cing larr cing larr itu. Di Jakarta, kelihatannya sering juga disebut dengan nama Ciblek atau Cinenen.  Burung ini berukuran kecil,kurang lebih 10 cm atau mungkin sedikit lebih besar dibandingkan dengan Burung Madu. Makanannya terutama ulat. Itulah sebabnya ia sangat rajin mengunjungi perdu dan pohon-pohon rendah di taman-taman perumahan dimana ada banyakKupu-kupu bertelor dan menetas menjadi ulat.

Burung ini memiliki warna mahkota agak kemerah-merahan, demikian juga sisi kepala bagain atasnya. Pipinya berwarna putih suram dengan tanda hitam di leher sisi sampingnya.  Tengkuknya berwarna coklat, sayap dan punggungnya berwarna hijau zaitun.Ekor bagian atas berwarna hijau zaitun dengan sapuan warna putih pada bagian bawahnya. Kaki dan paruhnya berwarna merah.

Burung ini suka membuat sarangnya dengan cara menjahit beberapa lembar daun dan melapisinya dengan serat kapas dan rerumputan,sehingga dikenal juga sebagai burung penjahit. Saya pernah menemukan sarangnya di pohon Kacapiring di halaman rumah saya. Padahal pohon Kacapiring itu tidak terlalu tinggi.  Paling banter hanya 2 meteran dari tanah. Awalnya saya pikir itu sarang semut yang agak besar. Tapi setelah saya periksa ternyata itu sarang burung. Telurnya ada 3 butir dengan warna kehijauan.

Burung ini kelihatannya tersebar dengan baik di pulau Jawa dan Bali. Saya tidak perhatikan apakah di luar dua pulau itu juga ada. Namun sayang sekali, burung ini termasuk salah satu burung yang cukup banyak diuber oleh pemburu burung untuk dipelihara dan  diperjualbelikan, walaupun mungkin harganya tidak terlalu mahal. Penyebabnya adalah karena suara burung ini sangat kencang dan merdu.

Saya juga sangat menyukai suara burung ini. Suaranya yang riang selalu mengingatkan saya akan pagi. Pagi yang penuh semangat dan suka cita. Namun saya lebih menyukai suaranya  terdengar di udara yang bebas, dari burung yang bebas merdeka di alam.

Merekam Keindahan Alam Dengan Kuas.

Standard

Menggambar alamSeorang kakak sepupu saya menulis pesan – Lagi ngapain? – tanyanya.  Saya menjawab pendek – lagi menggambar. Lalu ia menulis lagi  – ngambar apa?. Saya menjawab – Nggambar burung. Kok suka sekali sama burung? Tanya kakak saya lagi.  Entahlah. Saya memang suka banget pada burung, selain kupu-kupu, bunga dan ikan.  Lalu ia meminta saya mengirimkan gambar saya kepadanya. Sayapun memotretnya dan mengirimkannya kepada kakak saya itu.  Ia bilang bagus. Saya tertawa senang. Tentu saja ia bilang bagus, wong yang menggambar adiknya sendiri. Kalau adiknya orang lain yang menggambar, belum tentu ia akan mengatakan bagus.  Tapi apapun alasannya, saya senang kakak saya  menyemangati saya.

Ketika berjalan-jalan di luar rumah, banyak hal yang menarik perhatian saya. Orang-orang yang berlalu lalang, air sungai yang mengalir dengan tenang, pepohonan yang daunya melambai, atau akar udaranya menggantung membentuk tirai hidup yang sangat alami, ikan-ikan yang meloncat  atau berkerimit di bawah permukaan air sungai, capung yang beterbangan,  kupu-kupu yang hinggap di rerumputan serta burung-burung yang bernyanyi riang menyemarakkan pagi.  Hampir setiap ada waktu di pagi hari libur saya menyempatkan diri  untuk berjalan-jalan di bantaran kali. Atau duduk-duduk  di di atas tembok rendah yang menjadi pembatas bantaran dengan kali  sambil meBurungmandang keindahan alam yang tentunya tak mungkin saya nikmati dari balik ruangan kantor.

Alam dan kehijauannya, rasanya selalu membawa lebih banyak oksigen bagi saya untuk bisa  lebih segar kembali menghadapi hari hari kerja berikutnya yang melelahkan. Bukan hanya itu, alam juga memberikan inspirasi  yang menarik untuk ditangkap oleh mata dan diserap oleh jiwa kita.  Itulah sebabnya terkadang saya suka menuangkannya dalam gambar.

Seperti saat saya  memandang burung-burung madu sriganti yang sibuk  mencari makan di tanaman benalu, atau sedang bermain-main di pohon petai cina dan semak-semak bambu. Saya senang sekali melihatnya. Saya suka kegembiraanya dalam menghadapi hidup. Saya suka gerakannya yang lincah dan fleksibilitasnya dalam melakukan manuver terbang maju mundur, ke atas  ke bawah. Sangat mirip gerakan burung kolibri. Sungguh burung yang tak mengenal lelah dan tak mengenal kata patah semangat.  Sayapun tertarik untuk menuangkan hal yang saya lihat ke dalam gambar.

Seimbangkan hidup dari penatnya pekerjaan dengan melakukan aktifitas-aktifitas yang menyenangkan yang menyegarkan jiwa.

Menggambar, yuk!.

 

Mengenal Alam Pedesaan Di Pedalaman India.

Standard

Selama beberapa hari saya berada di Camp Pegasus yang jika saya lihat di Google Map berada di daerah yang bernama Vassanthanahalli, dekat desa Kallukote, di wilayah Karnataka, India.  Tempat dan kegiatan yang sangat menyenangkan. Berada di atas tanah yang cukup luas dan penuh dengan pepohonan.  Saya melihat ada pohon asam, sawo, ceremai, jambu biji, banyak pohon jati dan sebagainya ditanam di tempat itu.  Sangat teduh.Sementara di bawahnya di tanam berbagai macam sayuran, seperti kubis,tomat, terong dan sebagainya. Mengingatkan saya akan masa kecil saat aktif di Pramuka, melakukan camping, tidur di tenda, makan dengan beralaskan daun dan sebagainya. Benar-benar kehidupan yang sangat dekat dengan alam.

Ini adalah tenda dimana saya tidur selama berada di sana.

Ini adalah tenda dimana saya tidur selama berada di sana.

Mungkin karena kesenangan saya akan alam, maka saya memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di sela-sela kesibukan untuk menikmati alam sekitarnya.  Demikian juga sore itu.  Dua orang teman India saya  mengajak berjalan-jalan keluar Camp. “Dani! jalan-jalan yuk! ” ajaknya begitu melihat saya usai dengan kegiatan saya sore itu.  Sayapun segera menyimpan alat-alat tulis saya dan mengambil kamera saku di tenda lalu segera berlari ke arah teman saya itu. “Kemana?” tanya saya. “Kemanapun kamu mau, akan kuantar” kata teman saya itu. Yes!! teman yang sangat baik!. Sayapun mengutarakan keinginanan saya untuk pergi ke danau. “Iwant to take some pictures” kata saya. Teman saya setuju. Mendengar itu, dua orang teman saya yang berkebangsaan Inggris pun mau ikut juga. Maka berangkatlah kami berlima menuju danau.

Tanah ladang yang berwarna merah sehabis di olah dan siap untuk ditanami kembali.

Tanah ladang yang berwarna merah sehabis di olah dan siap untuk ditanami kembali.

Perjalanan ke danau cuma makan beberapa puluh menit. Melewati ladang-ladang penduduk . Banyak tanah ladang yang terbuka dan kelihatannya baru habis diolah dan siap ditanami kembali. Tanahnya yang merah terlihat sangat indah diterpa matahari sore yang hangat. Sambil berjalan, saya melihat-lihat ke kiri dan kanan.

Suara burung terdengar riuh sekali bercericit dan berkicau dari arah semak-semak. Burung-burung  Pipit Benggala (Amandava amandava) yang sangat banyak populasinya.  Masih sekeluarga dengan pipit di tempat kita, namun warnanya merah  dengan bintik-bintik yang indah.  Sayang saya tak membawa kamera yang baik untuk menangkap gambar burung-burung itu. Juga banyak sekali burung Gagak di sana. Ukurannya sangat besar. Saya pikir burung-burung itu lebih besar dari ukuran tubuh seekor kucing. Membuat saya berpikir keras, apakah burung ini termasuk Raven atau Crow?  Bulunya yang  kusam dan paruhnya yang agak pendek membuat saya berpikir bahwa itu adalah gagak Crow. Sedangkan ukuran badannya yang sedemikian besar membuat saya berpikir bahwa itu adalah gagak Raven. Di Indonesia, baik Raven maupun Crow keduanya disebut dengan Gagak. Juga sangat jinak. Suaranya berkaok-kaok, hinggap di pepohonan, di tiang bahkan di tanah tanpa memperdulikan orang yang lewat. Barangkali karena tak pernah diganggu manusia, sehingga burung-burung itu merasa aman , tentram dan damai tanpa terusik.

Burung gagak berukuran besar sedang bertengger di atas batu pagar camp

Burung gagak berukuran besar sedang bertengger di atas batu pagar camp

Selain melihat-lihat burung,saya juga sekalian melihat bunga-bunga liar yang tumbuh di kiri kanan ladang. Banyak sekali. Salah satu yang membuat saya terkejut kegirangan, di sana saya menemukan pohon Kayu Tiblun. Dulu waktu saya kecil, bunga Tiblun ini selalu ada setiap hari raya Galungan. Bersama-sama dengan Bunga Padang Kasna (Edelweiss), bunga Tiblun selalu menjadi pertanda datangnya hari raya di Bali. Sudah lama saya tidak melihat bunga itu lagi di pasaran, tergantikan dengan bunga-bunga yang dibudidayakan manusia. Sehingga pernah berpikir jangan-jangan tanaman Kayu Tiblun itu sudah punah. Namun kali ini tiba-tiba saja tanaman itu ada di depan mata saya dan sedang berbunga pula.  Alangkah girangnya!.

Pohon Kayu Tiblun yang sedang berbunga

Pohon Kayu Tiblun yang sedang berbunga

Yang menarik hati lagi adalah lapisan batu-batu tua dari jaman precambrium yang sangat banyak yang mencuat ke permukaan tanah.  Sangat mencengangkan, karena area area yang terbuka yang tadinya saya pikir tanah tandus yang tak bisa ditanami ternyata setelah saya dekati adalah hamparan batu  besar yang sangat luas. Seringkali sama luasnya dengan ladang. Oh,pantas saja tak ada tanaman yang tumbuh diatasnya.

Tanah itu ternyata adalah batu yang sangat luas dari jaman precambium.

Tanah itu ternyata adalah batu yang sangat luas dari jaman precambium.

Namun demikian, di sela-sela lapisan batu-batu itu, selalu ada sedikit lapisan tanah yang cukup subur bagi peladang walaupun lapisannya sangatlah tipis dibanding luasnya lapisan batu yang ada di situ. Penduduk memanfaatkannya untuk untuk bertanam bawang putih, kentang, jagung, kacang dan sebagainya.  Sangat hijau dan subur.

Ladang bawang putih yang mengingatkan saya akan kampung halaman saya, desa Songan di tepi danau Batur Kintamani di Bali.

Ladang bawang putih yang mengingatkan saya akan kampung halaman saya, desa Songan di tepi danau Batur Kintamani di Bali.

Kami terus berjalan. Akhirnya mencapai sebuah persimpangan. beberapa orang penduduk terlihat berjalan pulang dari ladang. Ada seorang wanita yang menggiring sapinya yang terlihat kurus agak kurang makan. Saya sempat bertanya, untuk apa penduduk memelihara sapi,bukankah sebagian besar penduduk India tidak mengkonsumsi daging sapi? jawabannya adalah untuk membantu mereka bekerja di ladang dan diperah susunya. Teman saya yang bisa berbahasa setempat menanyakan dimana letak danau. kamipun diberi petujuk jalan yang tersingkat. Sungguh sangat beruntung memiliki teman yang mengerti, sehingga saya merasa sangat aman bersamanya dan tidak khawatir tresesat.

Danau di Vassanthanahalli

Akhirnya kami berbelok, tidak lagi mengikuti jalanan kampung itu, tapi masuk dan berjalan di pinggir ladang yang baru saja ditanami kacang.  Danau tampak kecil. Saya pikir debit airnya kurang karena kemarau yang panjang.  Namun rupanya saya hanya melihat sebagian kecil saja dari sisi barat danau itu.  Saya dan teman-teman turun ke danau. Banyak kerang air tawar  bertebaran di pantainya. Sayapun mengambil beberapa gambar.  Hari semakin sore. Matahari perlahan lahan tenggelam dan danau itupun  menjadi gelap.

Danau kecil di Vassanthanahalli

Danau kecil di Vassanthanahalli

Kamipun kembali pulang ke Camp. kembali menyusuri jalan setapak dan ladang-ladang yang sekarang telah gelap. Merekam semua ini ke dalam ingatan saya dan mengenang teman-teman yang bersama saya dalam perjalanan ini. Kebersamaan yang indah.

 

Menikmati Alam Cigelong: Bunga Rumput Liar.

Standard

Apakah ada yang pernah tahu atau pernah mendengar nama Cigelong?  Tempat itu adanya di wilayah Sukabumi. Jika kita datang dari arah Jakarta, sebelum mencapai kota Sukabumi, kita akan bertemu daerah yang bernama Parung Kuda. Di sana kita belok kanan, ambil arah ke Citarik (tempat wisata Arung Jeram).  Kita jalan terus menuju daerah Cipetir, lalu Cikidang dan masuk ke area Cigelong.  Ke sanalah saya pergi selama liburan.  Walaupun tempatnya agak jauh dari kota Sukabumi ( bahkan mungkin sudah lebih dekat ke Pelabuhan Ratu), saya senang berjalan ke sana,karena sepanjang jalan saya bisa melihat -lihat pemandangan. Hamparan tanah perkebunan, yang dulunya penuh dengan kebun teh dan kebun karet kini sudah diganti dengan kelapa sawit.  banyak sekali bunga-bunga liar yang sedang bermekaran saya temukan di tepi jalan – walaupun tidak semuanya sempat saya abadikan. Lantana Di Pojok Ladang Kembang Lanting Landa alias Lantana camara ini terlihat sungguh romantis terangguk-angguk di tiup angin di sudut ladang. Bunganya yang berwarna pink  bercampur jingga tampak  ceria menghibur hari.  Barangkali karena syaraf mata terhubung sedemikian eratnya dengan syaraf ingatan, melihat kembang Lantana  camara ini, saya teringat pada Prof  AA Ressang dan mata kuliah Patologi Penyakit Baliziekte pada sapi, terutama pada sapi bali.  Si cantik jelita berbunga indah ini mengandung senyawa Lantadene  yang merupakan racun yang bersifat hepatotoksik ,  sering mengakibatkan gangguan parah – luka-luka dan nekrosa  pada kulit sapi jika sapi digembalakan secara liar dan dibiarkan memakan tanaman ini. Namun dibalik keburukannya itu, biji-biji lantana adalah makanan yang umum disukai burung punai. Saya tidak pernah membaca catatan ataupun laporan mengenai keracunan biji tanaman ini pada burung punai.  Namun apapun itu, bunga tanaman ini sungguh sangat menarik untuk dilihat.

Bunga Ilalang

Bunga Rumput Pennisetum polystachyon alias rumput gajah yang sangat mirip dengan  rumput ilalang. Awalnya saat saya lihat dari jauh,  saya pikir itu rumput alang-alang. Tapi kemudian ketika saya dekati ternyata bunganya bukan putih berkilau, namun coklat kuning keemasan.  hanya ada satu kata yang terucap mengomentari tanaman ini  “Indah!”. Memandang bunga rumput ini membuat saya teringat pada angin.  Karena bunga rumput ini akan terlihat semakin indah ketika ia menari-nari disapa angin. Semak Bunga Ratna Putih  Liar Bunga berikutnya yang sangat menarik perhatian saya adalah Bunga Ratna Liar yang berwarna putih. Bunga Ratna ini kalau ditempat lain biasanya disebut Kembang Kenop liar  atau Gomphrena celosioides. Salah satu anggota dari keluarga bayam-bayaman ( Amaranthaceae). Tidak habis pikir saya, bagaimana bisa bunga-bunga putih yang cantik ini bertebaran ribuan jumlahnya menghampar di pinggir jalan dengan indahnya. Kenopnya yang putih menyembul dari sana sini ditopang oleh tangkainya yang panjang dan langsing. Kalau ada waktu,mungkin akan saya cabuti bunga liar  itu satu persatu, akan saya jadikan rangkaian bunga untuk menghias pojok ruangan saya. Rumput Pecut Kuda Biru Pernah dengan Rumput Pecut Kuda?  Rumput Pecut Kuda atau Stachytharpheta jamaicensis adalah rumput liar yang sangat mudah kita temukan di mana-mana. Setahu saya, ada 3 variant warna bunganya. Yang biru seperti dalam gambar ini, yang putih dan yang pink. Terus terang saya baru pernah lihat yang biru dan putih saja.  Secara tradisional, konon rebusan tanaman ini digunakan sebagai obat untuk mengurangi radang tenggorokan, hepatitis, untuk amandel bahkan ada yang bilang bagus untuk menurunkan tekanan darah. Namun di satu sisi ada juga yang mengatakan bahwa tanaman ini beracun.  Saya tidak tahu kebenarannya, karena  belum pernah mencoba.  Tapi bunga mungil dari rumput pecut kuda ini sungguh menawan. Tergantung pada seutas tangkai bunga yang memang mirip pecut, sehingga tidaklah mengherankan jika diberi nama Pecut Kuda. Blue floss Ada lagi rumput yang sebanrnya sangat menarik bunganya. Namanya Rumput Bandotan (Ageratum conyzoides) . Warnanya ada yang putih, ada yang pink dan ada yang biru. Yang saya temukan kali ini kebetulan yang berwarna biru – sehingga sering juga disebut dengan Blue Floss . Terus terang bunganya indah sekali. Dan diluar sebenarnya juga banyak yang dibudidayakan sebagai tanaman hias. Entah kenapa di Indonesia kok pangkatnya hanya sebatas gulma, tanaman pengganggu saja ya. Saya membayangkan seandainya rrumput ini berbunga semua pada saat yang bersamaan, tentu keseluruhan ladang akan tampak berwarna biru. Bunga Kering Ada lagi pemandangan yang menarik. Kali ini bukan bunga segar, namun bunga kering dari Rumput Bandotan. Walaupun sudah tua dan mati,namun tetap meninggalkan keindahananya untuk ditatap mata manusia. Alam selalu memberikan keindahan, jikakita ingin melihatnya.

Menemani Anak Bermain Di Sungai.

Standard

Bermain di Sungai _ Liburan!  Yiiiiiihaaaah!!!!. Mau ngapain ya, biar seru?   Kali ini saya mengajak anak-anak dan keponakan saya mengisinya dengan bermain-main di sungai. Tentu saja yang airnya masih bersih dan jernih.   Kebetulan saya sedang berada di kota Sukabumi.  Saya ingat ada sebuah tempat bersungai yang menarik untuk dikunjungi.  Letaknya tidak jauh dari tempat saya tinggal di Sukabumi. Namanya Pondok Halimun.   Halimun, seperti kita tahu artinya adalah Kabut.  Jadi Pondok Halimun maksudnya adalah Rumah Kabut. Dinamakan demikian,karena tempat itu letaknya di kaki Gunung Gede – Gunung Pangrango yang seringkali diselimuti kabut.  Terutama pada sore hari yang dingin menggigil.

Untuk mencapai Pondok Halimun, dari tempat tinggal saya di kota Sukabumi kita perlu  melewati Jalan  Bhayangkara, lalu berbelok masuk ke  Jalan Sela Bintana. Menjelang tempat wisata Sela Bintana, kita berbelok ke kiri, masuk ke daerah perkebunan. Lurus terus sampai  sampai ke Perkebunan Teh Goal Para (PT Perkebunan Nusantara VIII).  Di sana ada pos penjagaan  – kita berbelok ke kanan lalu ke kiri melintas di depan Rumah Kabayan (apakah ada yang masih ingat serial TV  Si Kabayan pada jaman dahulu? – rumah ini adalah tempat shooting Si Kabayan ), kita  terus mengikuti jalan dan tibalah di Pondok Halimun.

Sesungguhnya 2.5 km (kira-kira 1-1.5 jam berjalan kaki menanjak)  dari sana terdapat Air Terjun Cibeureum yang menjadi tujuan wisata banyak orang. Tapi saya dan anak-anak hanya bermaksud bermain di sungai saja.  Sungai yang dangkal berbatu-batu, dengan air jernih pegunungan  yang bebas polusi.  Saya pikir, di daerah-daerah lain tentunya juga banyak yang memiliki berbagai sungai jernih seperti ini.  Nah, mengapa ke sungai? Mengajak anak bermain ke sungai pegunungan menurut saya memberi banyak sisi pembelajaran non formal dan tak langsung yang bisa dipahami anak dengan cepat tanpa harus  merasa terbebani dengan kata ‘belajar’.  Karena ia bisa mendapatkannya sambil bermain-main.

1. Belajar bentang alam. Ketika pada mata pelajaran  science di sekolah anak-anak diajarkan oleh gurunya mengenai berbagai jenis bentang alam dengan melihat pada gambar-gambar yang ada. Di alam, anak anak secara mudah akan bisa memahami bentang alam sungai – mana yang disebut dengan sungai, jurang ataupun lembah sungai. Di sini anak-anak  juga sekaligus  bisa memahami dengan cepat mengenai bentang alam pegunungan- mana yang disebut dengan gunung, bukit ataupun lembah.

2.  Memahami perbedaan suhu udara akibat perbedaan ketinggian dari permukaan laut.  Menurut informasi, Pondok Halimun memiliki ketinggian sekitar  1050 meter di atas permukaan laut – memiliki suhu yang berkisar antara 16 – 20 derajat Celcius. Sangat berbeda dengan Jakarta yang berada rata-rata 7 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara berkisar antara 27-29 derajat C.  Anak-anak tentu dengan cepat bisa menghubungkannya saat merasakan udara dingin menyergap kulitnya.

3. Memahami biodiversity sungai dan lingkungannya. Sambil mencelupkan kaki di air sungai yang dingin anak-anak bisa diajak untuk melihat-lihat binatang apa saja yang hidup di sungai dan sekitarnya.  Ikan-ikan kecil yang mudah terlihat, tentu saja.  Lalu anak-anak juga mengamati udang sungai dan gerakannya yang  menurut mereka sangat aneh dan menakjubkan. Anak-anak juga bisa kita ajak untuk mengamat-amati kumbang air yang bergerak berulang-ulang di atas permukaan air. Di pinggir sungai, tentu saja dengan mudah kita bisa menemukan berbagai jenis burung dan kupu-kupu indah warna warni yang beterbangan.

Selain fauna, juga banyak bisa kita temukan berbagai macam tanaman yang jarang dilihatnya di perkotaan. Keluarga pohon pakis tinggi  yang liar adalah tanaman pertama yang menarik perhatian anak saya. “Seperti di Jurasic Park!” kata anak saya. Seorang saudara dari Singaraja yang ikut berjalan bersama kami dan kebetulan banyak bergaul dengan tanaman hias menceritakan kepada anak saya bahwa itu adalah tanaman Pakis Monyet (Cybotium sp) dan harga per batangnya mencapai 2- 3 juta rupiah. “Wow!” anak saya yang kecil lalu mulai berhitung kira-kira berapa duit yang akan dihasilkan jika seluruh tanaman Pakis Monyet di sana dijual semua ke kota.  Lalu ada juga banyak pohon damar (Agathis dammara), lalu pohon honje hutan (Etlingera hemisphaerica) , pohon pucuk merah (Syzygium sp), pohon pinus (Pinus merkusii) dan masih banyak lagi tentunya. Hey! Ada yang ingat pelajaran Biology tentang Lumut Hati, tidak? Anak saya yang besar mengangguk. Lalu sayapun menunjukkan  contoh tanamannya yang tumbuh di dinding tebing. Lumut Hati (Marchantia polymorpha) memang sungguh jenis tanaman yang sangat menarik untuk dilihat.

4. Memperhatikan  batu-batu kali yang berserakan besar-besar, halus dan licin , anak-anak bisa memahami bahwa air yang mengalir secara terus menerus, memberikan dampak pengikisan dan membuat permukaan batu kalipun  menjadi halus dan membulat.

5. Bermain di kali Juga sekaligus memberikan kekuatan  pada anak untuk mengembangkan syaraf-syaraf motoriknya dengan cara naik, turun dan meloncat di atas batu. Beberapa kali jatuh terpeleset tidak apa-apa. Anak akan cepat bangun dan naik kembali.  Kita orangtua, hanya perlu mengawasinya saja dari dekat, untuk memberi pertolongan jika terjadi sesuatu yang membahayakan. Namun secara umum, bermain di sungai yang dangkal, bukanlah sesuatu yang berbahaya.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa dipelajari oleh anak-anak sambil bermain. Dan lebih dari semuanya itu, bermain di sungai memberi anak kegembiraan yang tiada tara, yang tidak bisa ia dapatkan dari permainan games-nya di Laptop maupun di kartu Vanguard.

Jika kita menyadarinya, alam memberikan kebahaigiaan yang tak bisa dibeli dengan uang ke dalam hati manusia.