Tag Archives: ana

Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Membaca puisi di Minggu Raya Banjarbaru.

Saya penyuka karya sastra. Dan puisi termasuk di dalamnya. Atas kesukaan saya itu, ketika remaja, saya rajin mengikuti forum dan panggung lomba-lomba baca puisi yang diselenggarakan di kota saya. Saya akui bahwa forum dan panggung-panggung sastra seperti itu sangat mendongkrak kemajuan sastra di Bali. Karena minat remaja akan sastra menjadi sangat tinggi. Sayang sekali, aktifitas seperti itu, belakangan saya dengar tidak banyak lagi dilakukan pada saat ini. 
Dengan latar belakang seperti itu, saya tiba tiba terpikir untuk mengajak anak saya yang remaja untuk ikut ke Loksado Writers & Adventure 2017. Tentu dengan catatan jika panitya mengijinkan. Dan ternyata syukurnya memang diijinkan!. Saya senang sekali. Tujuan saya adalah untuk memperkenalkan anak saya dunia sastra dengan cara yang lebih baik lagi *menurut saya* ketimbang hanya dari apa yang ia dapat dari sekolahnya. 

Saya tahu, anak saya tentu mendapat pelajaran sastra dengan cukup baik dari sekolahnya. Tetapi akan sangat berbeda jika ia mendapatkan kesempatan terekspose langsung dengan forum sastra dan bertemu dengan para sastrawan senior di komunitasnya yang tepat. 

Demikianlah ceritanya saya membawa anak saya ikut ke Loksado. Ia sendiri setuju, walaupun ketika diawal ia mau karena tertarik melihat foto orang bermain rakit di sungai Amandit. 

1. Paparan Sastra

Sejak tiba di Bandara Sorkarno-Hatta di Jakarta, anak saya mulai berkenalan dan diterima dengan baik oleh para sastrawan senior yang kebetulan berangkat satu pesawat dengan kami subuh itu. Gap usia yang cukup jauh syukurnya tidak membuat anak saya terasing. Ia kelihatan biasa saja. Bahkan terlihat berusaha ngobrol dan bergaul. Saya cukup lega. Setidaknya ia bisa membawa diri. 

Antologi puisi. Dari Loksado Untuk Indonesia.

Berikutnya, ketika panitya membagikan buku Antologi puisi. Ia melihat sepintas lalu mulai membaca puisi puisi yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ditanya cukup satu buku baca gantian dengan mama, anak saya ingin memiliki buku Antologi puisi itu sendiri. Dan.. ia serius membacanya. Nah..kini saya tahu minimal ia suka. 

Yang lebih penting adalah, karena ini adalah sebuah forum sastra, tentu banyak sekali diskusi dan pembahasan tentang puisi dan karya sastra lain sepanjang acara itu, baik yang formal maupun yang tidak formal. Ia juga mendengar tentang Haiku. Tentang Senryu . Dan tentang format format karya sastra yang lain.  Hal ini tentu menambah khasanah, wawasan dan cara pandang anak saya terhadap karya karya sastra. 

Baca puisi di Loksado Writers & Adventure 2017.

Di forum itu, anak saya juga terekspose dengan pembacaan puisi dengan berbagai gaya yang dilakukan oleh para sastrawan yang hadir di sana. Bisa saya pastikan ini sangat menginspirasi anak saya. Bagaimana membacakan puisi dengan baik, bagaimana berdeklamasi dan bahkan belajar memahami bahwa karya sastra pun bisa berfusi dengan karya seni lain seperti vokal, seni gerak tubuh dan sebagainya. Anak saya terlihat sangat terkesan misalnya saat seniman Isuur Loeweng berkolaborasi dengan Bagan Topenk Dayak membawakan sebuah puisi dengan luar biasa mengesankannya. Tak habis habisnya kami membicarajan dan memujinya. 

Hal lain yang ia pelajari adalah, bahwa puisi tidak hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai sekedar karya sastra yang indah saja, tapi sangat mungkin menjadi media penyalur pesan sosial dan aspirasi masyarakat yang selama ini mungkin buntu atau terpinggirkan. Terlebih ketika ia juga ikut diajak berkunjung dan berbaur dengan masyarakat setempat, dengan sendirinya ia pun belajar. Melihat, mendengar dan menangkap fakta untuk kemudian ia proses dalam alam pikir dan jiwanya untuk kemudian ia sambungkan sendiri dengan puisi. 

2. Pengalaman Sastra

Pak HE Benyamin, sang motivator.

Adalah HE Benyamin, sastrawan Kalimantan Selatan yang berhasil menyentil keberanian anak saya untuk tampil membaca puisi di panggung forum itu. Awalnya saya bujuk -bujuk tidak mau. Tetapi berkat kalimat-kalimat motivasi Pak HE Benyamin yang menyihir, eeh….. anak saya nekat maju ke panggung. Sayapun kaget dan terharu. Luar biasa!. Bayangkan! Di hadapan sekian banyak sastrawan dan seniman sastra baik dari Kal Sel maupun dari berbagai daerah Indonesia itu, anak saya berdiri. Membacakan puisi untuk pertama kalinya. Puisi yang juga baru pertama kali ia lihat dan baca.  Judulnya ” Perempuan Dan Kopi Hutan”. Karya Cornelia Endah Wulandari. 

Membacakan puisi Perempuan & Kopi Hutan. Karya Cornelia Endah Wulandari.

Hasilnya?. Saya harus mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak HE Benyamin untuk proses pergulatan keyakinan diri yang dialami anak saya hingga akhirnya berani maju dan bergata di depan panggung. 

Perempuan & Kopi Hutan. Cornelia Endah Wulandari. Foto milik Agustina Thamrin.

Dan tentu saja pastinya buat Mbak Cornelia Endah Wulandari yang puisinya menjadi batu loncatan pertama bagi anak saya untuk menyebur ke dunia sastra. 

3. Tantangan Dan Ujian Sastra

Berhasil membacakan puisi karya HE Benyamin di Minggu Raya Banjar baru. Bersama Pak HE Benyamin.

Tak selesai sampai di sana, bahwa Loksado telah memberikan kesempatan kepada anak saya untuk terekspose dengan dunia sastra dan sekaligus memberi ‘new experience’ baginya. Menjelang kepulangan kami ke daerah mading-masing, teman teman Kalimantan mengajak kami mampir di Minggu Raya. 
Awalnya saya tak mengerti. Karena tempat itu kelihatannya hanya tempat nongkrong-nongkrong saja di tepi jalan dengan suara deru motor yang meraung raung. Ternyata kembali Pak HE Benyamin memberi tantangan kepada kami semua (termasuk anak saya), untuk menguji nyali. Beranikah dan mampukah membaca puisi di tepi jalan? Di tonton orang yang berlalu lalang? Dan diantara suara kendaraan yang menggelegar?. 

Syukurlah, anak saya pun mau mengambil tantangan itu. Mau, bisa dan berani!. Horeeee!. Akhirnya luluslah ia di forum sastra Kalimantan Selatan yang unik itu. Sesuatu hal yang membanggakan tentunya. Bagi dirinya sendiri dan saya sebagai orangtuanya. 

Aku sudah membaca puisi. Minggu raya Banjar baru.

Anak saya mendapatkan pin tanda kelulusan.  Saya juga ikut membaca dan mendapat pin yang sama. 

Buku Antologi Puisi HE Benyamin. Pohon Tanpa Hutan.

Dan juga hadiah buku Antologi Puisi “Pohon Tanpa Hutan” langsung dari Pak HE Benyamin – penulisnya. Aduuuh…senang & bangganya. 
Nah! Untuk segala apa paparan, pengalaman, tantangan dan ujian sastra yang diterima anak saya yang remaja ini, tentunya saya sebagai orangtua sangat berterimakasih kepada semua rekan rekan sastrawan yang hadir baik dari Kalimantan Selatan maupun dari daerah lain, kepada Pak Budhi dan Mbak Agustine serta masyarakat Loksado. 

Sudah menjadi cita cita kita bersama agar Sastra dan penulisan terus berjaya di negeri kita, dan tentunya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua untuk memupuk minat dan kecintaan  anak anak dan remaja kita terhadap sastra sejak dini.  Seperti kata pepatah, jika tak kenal maka tak sayang. Oleh karenanya kita perlu meperkenalkannya dengan baik. 

Besar harapan saya, kecintaan anak saya terhadap sastra dan penulisan, kelak semakin meningkat. Jikapun tidak, maka sebagai ibu saya sudah berusaha meletakkan dasar yang sebaik-baiknya yang bisa saya lakukan. 

Salam Sastra. 

Hati hati Melepas Anak Ke Kolam Renang Sendirian.

Standard

Sore tadi saya menemani anak saya  berenang di kolam renang di dekat rumah saya.  Setelah cukup lama membiarkan anak saya bermain air dan melatihnya berenang, udara di sekitar kolam mulai terasa dingin. Matahari rupanya mulai terbenam. Cepat-cepat saya mengajak anak saya naik dan membilas diri di ruang bilas yang tersedia.

Saat itu saya melihat seorang gadis kecil berbusana renang merah sedang berdiri di bawah pancuran air sambil menangis. Beberapa orang ibu terlihat membujuk & mengajaknya bicara. Mulanya saya tidak terlalu memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi. Saya pikir ibu-ibu itu adalah  ibu, tante atau kerabat gadis kecil itu.  Tapi ketika saya melintas di depan anak itu untuk menuju ke ruang ganti pakaian, mulailah saya mengetahui, bahwa ternyata gadis kecil itu bukan keluarganya.

Sambil mengganti pakaian, saya menyimak pembicaraan ibu-ibu itu. Rupanya gadis itu sedang kehilangan  tas yang berisi handuk, pakaian pengganti, perlengkapan mandinya, alkitab serta sejumlah uang.  Rupanya ia ke kolam renang seorang diri  tanpa teman. Dan ketika selesai berenang barulah menyadari ternyata ia kehilangan tasnya.  Ia mencari ditempat ia meletakkannya, namun tidak berhasil. Beberapa ibu-ibu yang mengantarkan anaknya berenangpun mulai berkerumun dan membantu. Semua tempat dan sudut di kolam renang itu pun diteliti, namun tetap tidak berhasil.  Sedemikian banyaknya pengunjung kolam renang, sulit rasanya untuk mengetahui siapa yang telah mengambil tas anak itu baik sengaja maupun tidak sengaja. Sebagian ibu-ibu itu menyalahkan orangtua si gadis yang membiarkan anaknya berenang  sendiri  tanpa teman. Petugas yang berusaha membantu dari tadi akhirnya menyerah juga.   Memang agak sulit untuk menyalahkan siapa-siapa dalam kondisi seperti itu. Kolam renang terlalu ramai dengan pengunjung. Karena sudah sore, akhirnya satu persatu pengunjung kolam renangpun  pergi meninggalkan anak kecil itu menangis ketakutan di bawah pancuran. Sebentar lagi pintu kolam renang tentu akan ditutup oleh petugas.

Dengan perasaan kasihan lalu saya dekati anak itu dan mengajaknya ngobrol. Sambi menggigil kedinginan dan tetap menangis, ia bercerita bahwa ia berenang sejak pukul 10 pagi sepulang dari gereja.  Menurut ceritanya,  ia juga sempat bertemu dua orang temannya yang juga berenang di sana namun sudah pulang duluan. Ia meninggalkan tasnya yang berwarna pink dengan gambar Barbie di tepi kolam renang. Lalu sadar bahwa tasnya sudah tidak ada ketika sore hari ia bermaksud berhenti berenang. Jelas ia terlalu lama bermain di kolam renang. Sayapun  menanyakan namanya dan dimana rumahnya.

Yang cukup membuat saya tenang adalah bahwa anak itu tahu rumahnya. Dan ia yakin bisa pulang sendiri, walaupun rumahnya cukup jauh dari kolam renang. Ia mengaku hanya takut & malu berjalan pulang  dengan pakaian renang yang basah. Dan juga takut dimarahi orang tuanya karena telah menghilangkan pakaian. Matanya sangat merah dan sembab. Saya sangat bisa memahami perasaannya. Merasa kasihan, saya akhirnya menawarkan handuk saya untuk ia pakai. Namun ia tetap malu kalau harus pulang dengan berbalut handuk. Lalu saya tanya, apakah ia mau ikut ke rumah saya yang tidak jauh dari situ. “Nanti kamu boleh gunakan pakaian anak saya” kata saya menawarkan. Rumah saya tidak lebih dari 100 meter jaraknya dengan kolam renang. Saya pikir, tentu tidaklah  masalah kalau ia berjalan sedikit dengan berbalut handuk ke rumah saya. Ia pun setuju. Saya lalu menyampaikan maksud saya kepada petugas kolam renang untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk yang mungkin terjadi. Sepengetahuan petugas lalu saya mengajak anak kecil itu ke rumah saya.

Sesampai di rumah, saya minta ia mengeringkan tubuhnya, lalu saya membongkar kaos dan celana anak saya yang kira-kira sesuai dengan ukuran tubuhnya. Walaupun anak saya laki-laki, saya pikir kaos dan celana pendek tentu bisa juga dipakai oleh anak perempuan. Setelah menyisir rambutnya, anak itupun segera mengucapkan terimakasih dan berpamitan. Awalnya saya tawarkan untuk mengantarnya ke rumah, namun anak itu tidak mau dan yakin bisa pulang sendiri. Akhirnya saya bekali dengan sedikit uang agar bisa ia manfaatkan untuk transportasi ke rumahnya jika diperlukan.

Melihatnya keluar dari pintu halaman saya, membuat saya merasa miris. Kasihan sekali. Anak sekecil itu harus menghadapi musibah sendirian. Tidak ada ayah ibunya atau seorangpun kerabatnya yang dewasa menjaganya. Tak terbayangkan perasaannya jika  saya yang menjadi ibunya. Ya, memang ada baiknya kita sebagai orangtua lebih berhati-hati  melepas anak kita yang masih kecil untuk ke kolam renang atau ke tempat-tempat umum sendirian. Masalah dan musibah bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Kita tidak pernah tahu apakah anak kita sudah cukup siap menghadapi keramaian dan orang banyak dengan segala kemungkinannya. Mudah-mudahan kisah anak kecil di kolam renang ini ada manfaatnya bagi kita semua.