Tag Archives: Anak-anak

Inside Out – Gejolak Emosi Dibalik Personality Anak.

Standard
INSIDE OUT

INSIDE OUT

Akhir pekan. Sedang sibuk menata ulang halaman belakang agar bisa memuat lebih banyak tanaman, anak saya merengek minta nonton film “Inside Out”. Kalau menonton, biasanya anak saya pergi bersama teman-temannya atau anak tetangga dan didampingi oleh orang tua salah seorang temannya. Rupanya kali ini tidak ada temannya yang menonton. Jadilah dia menggeret-geret saya. Saya menghentikan pekerjaan saya dan mulai mengGoogle jadwal film XXI di Bintaro Plaza dan Bintaro X-Change. Akhirnya kami sepakat menonton jam 16.40 di Bintaro X-Change setelah saya usai merapikan tanaman.

Saya pikir film yang diproduksi Pixar Animation Studios dan direlease oleh Walt Disney Pictures ini menarik dan beda. Menjelaskan bagaimana emosi berperanan dalam membentuk kepribadian seseorang. Bagaimana  memori terbentuk dan disimpan dalam ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Barangkali sedikit agak berat dicerna untuk ukuran film kanak-kanak – terutama jika saya lihat ternyata ada cukup banyak Ibu-Ibu yang membawa anaknya yang masih balita untuk menonton film ini. Tetapi di satu sisi untuk anak-anak pra remaja, saya pikir film ini, justru sangat membantu memudahkan anak-anak untuk memahami sedikit neuro-science dan pyschology sederhana. Karena semuanya dikemas dengan simple dalam bentuk 3D animasi.

Barangkali ada yang belum sempat nonton filmnya – saya ceritakan garis besarnya.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley seorang anak perempuan kecil, hidup bahagia bersama ke dua orangtuanya. Seperti kita semua, Riley memiliki emosi di dalam dirinya sendiri yang mengendalikan ekspresinya ke dunia luar setiap hari. Ada Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger.  Kalau di “bahasa-gampang”kannya ya  Gembira, Sedih, Takut, Jijik/Muak, Marah. Walaupun semua emosi ini  mengambil peranan dalam hidup Riley, tetapi Joy alias kegembiraanlah yang mendominasi hidup Riley.

Riley banyak mengalami kejadian-kejadian yang menyenangkan dan membahagiakan dengan kedua orangtuanya, dengan teman-temannya, dengan lingkungan alam sekitarnya. Walaupun tentu saja ada juga hal-hal kecil yang menyedihkan, menakutkan, membuat ia jijik ataupun marah pernah melintas dalam kehidupannya.

Inside out3Misalnya nih… ia merasa sangat jijik akan brokoli, marah ketika ayahnya mengancam tidak akan memberikannya hidangan penutup yang manis jika tidak mau makan brokoli. Atau sedih ketika kalah bermain Hoki dan sebagainya. Tetapi secara umum hidupnya sangat bahagia. Semuanya itu disimpan dalam pulau-pulau memori yang hidup dan menyala. Ada pulau Canda, pulau Sahabat, pulau Kejujuran, pulau Keluarga.

Semua itu berubah ketika ayahnya mendapatkan pekerjaan baru dan mereka harus pindah dari Minnesota ke San Fransisco. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Tempat tinggal baru, sekolah baru dan suasana baru. Rumah yang besar dan kosong, tikus yang lewat, toko piza yang hanya menyediakan piza brokoli dan sebagainya. Di sini emosinya silih berganti menguasai dirinya. Joy masih mampu mendominasi.

Inside Out 4Perubahan sangat terasa ketika ia masuk ke Sekolah barunya. Teman-teman asing dan suasana asing. Terlebih ketika gurunya meminta ia menceritakan dirinya dan Minnesota kota kelahirannya. Ia tak mampu membendung kesedihannya dan menangis di depan kelas. Hal ini membuatnya tertekan. Demikian juga ketika berikutnya ia tak mampu bermain Hoki dengan baik. Semakin membuatnya tertekan. Orangtuanya berusaha membantu, tetapi Riley malah didominasi oleh kemarahan yang memicu kemarahan ayahnya. Satu per satu pulau-pulau memori yang indah dalam dirinyapun hancur. Tiada lagi pulau Canda. Pulau Hoki-nya juga hancur. Ia merasa kesepian. Tiada sahabat yang biasa ia ajak bicara. Pulau Sahabatnya pun hancur.

Ia sangat merindukan Minnesota dan memutuskan untuk kabur dari rumah dan kembali ke sana. Ia mencuri Credit card ibunya untuk membeli ticket bus ke Minnesota. Pulau Kejujurannya pun hancur juga. Kekacauan emosi semakin menjadi-jadi. Tapi seperti biasanya, sudah bisa ditebak kalau film ini pasti juga berakhir dengan Happy Ending. Sebelum pulau Keluarga hancur,  lima sekawan emosi ini plus Bing Bong, teman khayalan Riley waktu kecil berhasil membantu mengembalikan personality Riley seperti sedia kala.  Dimana Sadness yang selama ini dianggap mengganggu kebahagiaan Riley, justru sukses membawa Riley pulang kembali ke pelukan ayah ibunya.

Pada akhirnya, cinta,kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pada akhirnya, cinta, kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pesan moral yang saya tangkap adalah hidup itu memang penuh warna. Setiap emosi itu penting adanya dalam hidup seseorang – dalam hal ini hidup seorang anak. Ada kalanya emosi-emosi yang lain di luar kegembiraan berperanan juga untuk mengembalikan kebahagiaan anak. Ada kalanya kita perlu membiarkan emosi anak-anak kita disalurkan dengan baik. Dan yang lebih penting lagi adalah peranan keluarga dalam perkembangan emosi dan personality anak.  Betapa pentingnya kita sebagai orangtua membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta, perhatian, kehangatan dan kasih sayang. Karena pada akhirnya itulah fondasi yang sangat kuat yang akan membawa anak-anak kita ke dalam kestabilan emosi dan kejiwaannya. Tontonan yang menarik!.

Selain menarik, Film ini menjadi istimewa karena sudut pandang penceritaan diambil dari sudut internal emosi sang anak (Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger),  dan  bukan si anak itu sendiri (Riley), walaupun film ini berkisah tentang Riley. Jadi yang kita tonton, tokoh utamanya adalah Joy. Ia yang bertindak sebagai Subyek. Sedangkan Riley hanya sebagai obyek. Jadi dari sudut Cinematography-pun memang menarik.

 

Advertisements

Mencerna Ilmu, Mencerna Makanan.

Standard

Piza

Seorang teman anak saya pernah bercerita tentang kesulitannya mendapat nilai yang baik di sekolah. Saya mendengarkan cerita dan keluhannya dengan baik. Lalu saya memberi saran agar berusaha lebih memperhatikan penjelasan guru dengan lebih baik. Dan jangan pernah meninggalkan ruangan kelas, sebelum mengerti apa yang diajarkan oleh guru di hari itu juga. Karena menurut saya, pemahaman yang baik akan tersimpan lama di memory kepala kita ketimbang hapalan yang baik yang tersimpan sementara di otak kita.

Jika kita paham,pasti kita akan bisa menjelaskan kembali. Tapi jika kita tidak paham dan hanya mengandalkan diri pada hapalan, belum tentu kita bisa menjelaskannya kembali dengan baik.Jadi pertama, pastikan kalau kita mengerti dulu,baru nanti kita hapalkan detailnya.” saran saya. Itulah sebabnya mengapa ada banyak anak-anak yang cerdas, bahkan malas belajar namun skor-nya di Sekolah selalu tinggi.Karena ia paham dengan baik. Sebaliknya ada banyak anak-anak yang sangat rajin namun skor-nya tidak mampu mengimbangi temannya yang cerdas namun pemalas itu. Mengapa?karena ia tidak memahami permasalahannya.Ia hanya rajin menghapal. “Ya! Itulah masalahnya Tante…aku sering tidak langsung paham apa yang disampaikan guru. Rasanya sulit sekali mencerna” keluhnya.

Walaupun obrolan dengan anak itu sangat pendek, namun saya terhenti sejenak untuk memikirkannya. Saya menyukai anak itu dan keterbukaannya.Jadi sungguh tidak keberatan untuk ikut memikirkan hal yang dianggapnya menjadi masalah.

Jadi, sebenarnya masalahnya adalah bagaimana mencerna dengan baik. Mencerna ilmu.Bukan mencerna makanan!. Tapi urusan cerna mencerna pada prinsipnya sama saja bukan? Jika makanan adalah untuk seluruh tubuh kita, maka ilmu adalah makanan untuk otak kita. Menurut saya prinsipnya sih sami mawon.

Yuk coba kita lihat bagaimana kita mencerna makanan dengan baik…

Semua tentu familiar dengan konsep makanan harus dikunyah dengan baik agar mudah dicerna oleh tubuh kita. Bahkan orangtua atau guru kita di sekolah mengajarkan agar sebaiknya kita mengunyah makanan 24x kunyahan sebelum menelannya. Maksudnya tentu agar makanan yang kita telan itu sudah benar-benar hancur dan menjadi serpihan kecil oleh gigi dan geraham kita,sehingga usus kita tidak perlu lagi bekerja keras karenanya. Karena tugas usus, bukanlah untuk menyobek atau memotong makanan menjadi kecil-kecil. Selain itu,dengan mengunyah makanan lebih sering sebeum ditelan, juga memberikan kesempatan kepada enzym-enzym  yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, yakni merubah amylum menjadi glukosa (enzym ptialin) maupun sakarida yang lebih sederhana (enzym amilase). Nah kemudian hasil kerjasama gigi dan kelenjar ludah inilah yang kita telan untuk dicerna lebih jauh di dalam usus kita, sebelum semua intisarinya siap diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh pembuluh darah.

Kalau kita perhatikan,bagaimana kita bisa mencerna dengan baik di tahap pertama,tidak lain dan tidak bukan adalah dengan memberikan kesempatan untuk gigi melakukannya berkali-kali (24 x mengunyah) dan memberi waktu untuk enzym-enzym itu bekerja. Jadi 2 kata kuncinya adalah waktu (time) dan berulang-ulang (repetition).  Ya..time & repetition!.

Saya pikir, dua hal ini sangat applicable dalam cara pembelajaran guru dan murid, untuk membantu murid agar lebih mudah mencerna ilmu yang diajarkan. Memberikan penjelasan yang berulang kepada murid. Jika sekali dijelaskan belum mengerti, barangkali penjelasan ke dua akan lebih mudah dipahami? Demikian seterusnya? Ibarat mengunyah, 24 x baru sempurna.  Atau setidaknya memberikan contoh-contoh yang beragam agar murid menangkap inti pelajarannya dengan lebih mudah.

Jika guru tidak melakukannya, anak juga sebenarnya bisa mengacungkan tangan dan mengatakan dengan terusterang bahwa ia belum paham dan meminta tolong guru untuk menjelaskannya kembali hingga ia benar-benar paham.

Penejelasan yang berkali-kali juga memberikan waktu bagi otak si anak untuk mencerna apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh guru.Informasi yang didapat akan disangkutkan ke sel otaknya satu per satu. Sehingga jika suatu saat nanti harus dikeluarkkan kembali saat Ulangan Umum maupun Ujian, pemahaman itu masih tersimpan dengan baik dan sangat mudah untuk dikeluarkan kembali untuk menjawab soal-soal ujian.

Ricci Cup XV: Mendorong Anak Untuk Berprestasi…

Standard

aldoSepulang kerja, saya menemukan anak saya yang kecil sangat sibuk. Biola, kardus, spidol, lem dan gunting bertebaran di lantai. “Lagi ngapaian, nak?” tanya saya pengen tahu dan melihat ke gambar Biola yang ia buat di atas kardus. Anak saya tidak menyahut seketika. Tangannya meneruskan garis dari spidol yang ia bentuk menjadi gagang biola dan matanya sesekali melirik biola sungguhan yang tergeletak di depannya. Saya berdiri menunggu. “Lagi bikin biola mainan, Ma” jawabnya ketika garisnya selesai. Saya menonton ia bekerja.

Lalu ia mulai menggunting. Saya pikir ia mengalami kesulitan, karena wajahnya meringis. Kardus itu agak tebal dan terlalu keras untuk tangannya yang mungil. “Mari Mama bantuin menggunting” saya menawarkan bantuan. Awalnya anak saya tidak mau menyerah pada kardus itu, tapi akhirnya ia menerima tawaran saya untuk membantunya meneruskan menggunting. Ia sendiri beralih membuat mahkota kepala dengan antena yang mirip antena belalang. Setelah saya selesaimenggunting, ia mulai menempel. Akhirnya jadilah biola dari kardus seperti yang ia design. Ha..lumayan bagus juga. “Untuk apa biola mainan ini?” tanya saya ingin tahu.

Anak saya bercerita kalau ia terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut Story Telling Competition dalam memperebutkan Ricci Cup XV. Dan ia butuh beberapa alat pendukung untuk pentasnya nanti. Ha?! Story Telling?? Mewakili Sekolah pula??

Anak saya yang kecil ini  berbahasa Inggris dengan baik, namun mata pelajaran Bahasa Inggris bukanlah favoritnya.  Agak berbeda dengan kakaknya yang memang sangat suka belajar Bahasa asing.  Sehingga ketika ia mengatakan terpilih mewakili Sekolahnya dalam kompetisi Story Telling, saya sendiri agak heran.  “Kapan?” tanya saya. “Dua hari lagi. Tapi besok aku di camp, untuk ikut acara sekolah yang lain. Jadi tidak sempat membuat persiapan ini lagi” katanya.

Aduuuh. Kok mendadak begini ya? “Ya.Memang baru juga dikasih tahu Ibu Guru“katanya. Entah kenapa saya merasa was-was. Bagaimana anak saya akan melakukannya ya? Saya belum pernah melihatnya berlatih. Cerita apa yang akan dibawakannya? Bagaimana ia akan mengatur alur ceritanya? Volume suaranya? Mimiknya? Kostumenya? Dan sebagainya?  Aduuuh. Tapi saya harus mendukung anak saya untuk bertarung dengan baik. Karena menurut saya, kompetisi merupakan ajang yang sangat baik untuk mengasah kemampuan anak. Kompetisi memberikan kesempatan buat anak untuk menjajal kemampuannya dibandingkan dengan kemampuan anak-anak lain setingkatnya, sehingga ia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Kompetisi juga akan melatih jiwanya menjadi lebih sportif.

Saya lalu memintanya mencoba melakukan Story Telling di depan saya terlebih dahulu. Ingin tahu kesiapannya. Ia pun beraksi. Gaya berceritanya sangat jenaka. Kalimat demi kalimat meluncur dari mulutnya dengan sangat lancar. Sambil memperagakan adegan demi adegan antara sang Belalang dan Sang Semut silih berganti diikuti mimik mukanya yang sangat kocak. Saya terpingkal-pingkal dibuatnya. Sungguh ia seorang dalang yang baik.  Ooh..jadi ceritanya tentang “The Ants and The Grasshopper“.

Kini saya mengerti mengapa ia dipilih oleh gurunya untuk mewakili Sekolahnya ke ajang kompetisi. Ia bisa mengekspresikan peranan setiap character dengan cukup baik dan dengan Bahasa Inggris yang fasih.  Saya hanya memintanya untuk mempertajam nada suara antara character satu dengan yang lainnya.Selebihnya saya lihat semuanya sudah cukup bagus.  “Semoga menang!”, tentu saja itu harapan saya.  Saya ingin anak saya bangga dengan apa yang ia capai. Bangga akan prestasinya. Bangga akan dirinya sendiri. Dan bangga itu tidak sama dengan sombong.

Tibalah pada hari H-nya!.

Hari dimana dilangsungkan Ricci Cup XV untuk memperebutkan piala-piala di kompetisi Story Telling, Speech dan Solo Vocal. Diikuti oleh murid-murid perwakilan berbagai Sekolah di Jakarta. Anak saya yang besar bertugas menjadi MC acara Speech Contest di tingkat SMP. Ia bangun lebih cepat dari biasanya dan bergegas berangkat sekolah.  Karena kesibukan kantor yang tidak bisa saya alihkan, sayang sekali saya tidak bisa datang, walaupun jauh-jauh hari anak saya sudah memberi kode ” Parents can come”. Jadi saya hanya memberinya semangat saja.

Andri

Anak saya yang besar ini sudah cukup sering dipercayakan sekolahnya menjadi MC berbahasa Inggris. Jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Saya yakin ia tidak akan mengalami demam panggung lagi. Walaupun dalam acara ini tentu tamu-tamu, para undangan dan peserta kontes datang dari berbagai Sekolah. Semoga ia bisa me’manage’ dirinya sendiri.  Selain itu, menjadi MC dengan menjadi peserta kompetisi tentu tingkat ketegangannya berbeda.  Kali ini anak saya yang besar tidak ikut berkompetisi apapun juga. Hanya menjadi MC saja.  Jadi sedikit agak lebih santai. So…good luck, Nak! Semoga bisa melakukan job dengan baik dan sukses membawa nama baik Sekolah.

Halnya anak saya yang kecil, rupanya ia bertanding di ruang kelas yang lain. Bukan di ruang di mana kakaknya menjadi MC. Akibatnya sang kakak juga tidak sempat melihat adiknya beraksi di panggung. Syukurnya,  Ibu gurunya berbaik hati merekam anak  saya saat ber’Story Telling ” di atas panggung, lalu memberikan rekamannya kepada kami. Lumayan! Jadi saya bisa melihat aksi anak saya saat berlomba. Tampak bagus dan ia terlihat pede dengan aksinya. Ada 35 orang peserta yang datang dari berbagai sekolah di Jakarta.

Hari Senin, keluarlah pengumumannya. Horeee!!!!. Saya mendapat kabar dari gurunya,  ternyata anak saya berhasil menggondol Juara I dalam kontes Story Telling itu. Wah, hebat!.   Sungguh saya tidak menyangka sebelumnya, ia akan menjadi pemenang pertama dalam pertandingan antar sekolah ini. But he did it!. Ia mendapatkan piagam dan berhasil menggondol piala untuk sekolahnya. Melihat usaha, kreativitas dan kemampuannya, saya pikir ia memang layak mendapatkannya. He deserves for the best!.

Tentu saja saya bangga kepada kedua anak saya. Baik yang menjadi MC maupun yang mengikuti kompetisi Story Telling. Keduanya menunjukkan prestasinya dengan baik.

Kompetisi, mendorong anak untuk berprestasi!

 

 

 

Musik Dan Perkembangan Jiwa Anak-Anak.

Standard

HomeConcertBermain musik!. Adalah salah satu bentuk berkesenian yang tidak saya kuasai.  Walaupun demikian, saya sangat menyukai musik. Apapun jenisnya.Mulai dari yang traditional hingga modern. Mulai dari gamelan, hingga alat musik asing.  Dan saya selalu kagum kepada orang yang jago bermain musik. Karena menurut saya mereka adalah orang-orang yang mampu menghayati dan mengamalkan keharmonisan dengan sangat baik. Saya tak habis pikir. Bagaimana ya caranya orang bisa berkonsentrasi dengan nada suara di dalam alat musik yang digunakannya sendiri agar tidak bertabrakan panjang pendek, cepat lambat ataupun tinggi rendahnya. Belum lagi harus menyeimbangkan keharmonisan dengan nada suara alat musik lain. Atau bahkan menyesuaikan dengan suara sang penyanyi jika ada. Repot, bukan?

Oleh karena ketidak mampuan saya bermain musik, maka saya mendorong anak-anak saya bermain musik. Agar tidak sama dengan emaknya yang cuma tahu dung dang ding dong deng – tangga nada dalam musik traditional Bali – sejenis do re mi fa sol. Pada awalnya saya membawa anak-anak saya ke sekolah musik yang ada di Bintaro. Anak saya yang besar memutuskan untuk belajar Violin, sementara yang kecil belajar piano.   Namun karena satu hal, saya kemudian memuuskan untuk melanjutkan pendidikan musik bagi anak saya di tempat kursus  yang lebih private, dimana gurunya mempunyai waktu yang lebih banyak untuk membimbing anak-anak.

Di tempat baru ini kedua anak saya mengambil kelas piano classic. Baru kelas persiapan dan grade 1. Masih jauh sekali ya hingga bisa menjadi pemusik yang pro? Tidak apa-apa.  Kalau ingin menjadi yang pro tentu harus sabar dan tekun belajar dari mulai yang mudah dan sederhana terlebih dahulu. Kalau terus berlatih dengan tekun tentu suatu saat bisa menjadi pro juga. Saya cukup senang anak-anak saya menyukai apa yang ia pelajari.  Selain itu di sekolahnya, anak saya yang kecil juga belajar Gamelan Jawa. Saya mendorongnya untuk mempelajari musik traditional juga. Home concert

Beberapa hari yang lalu mereka ikut Home Concert yang diselenggarakan oleh tempat kursusnya yang dihadiri sekitar 30-an penoton. Ada sekitar 17 peserta yang menampilkan Solo, selain ada juga performance gabungan. Anak saya yang kecil membawakan “Long Long Ago” karya komposer Inggris,  Thomas Haynes Bayly. Sementara anak saya yang besar, untuk penampilan piano classic  solo-nya ia membawakan dua buah lagu, dua-duanya karya Ludwig van Beethoven, komposer dan pianis Jerman. Lagu pertamanya adalah Alegro in G, dan yang kedua adalah  Fur Elise. Selain itu ia juga melakukan performance gabungan bersama seorang guru. Saya sangat senang melihat penampilan anak-anak saya. Rasanya tidak sia-sia mendorongnya untuk belajar.

Jadi teringat kembali masa-masa dimana ia baru saja mencoba menggunakan alat musiknya yang saya belikan untuk pertama kali dengan suara yang belepotan dan amburadul. Ngak ngik ngok. Tak terasa sekarang mereka telah mulai besar dan mulai lebih terlatih…

belajar musik

Mengapa bagi saya musik menjadi sedemikian pentingnya untuk anak-anak?

Musik  yang bagus memberikan keteduhan jiwa bagi siapapun pendengarnya. Mendorong anak-anak untuk mendengarkan musik atau bermain musik, sama dengan mendorongnya menuju ke keteduhan jiwa dan mental yang damai.

Belajar musik juga memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami dengan lebih mudah akan pentingnya harmony dalam setiap langkah kehidupannya. Anak-anak akan menjadi lebih peka bahwa untuk membuat dirinya harmony, ia harus mengatur beberapa hal dengan baik secara internal, dan sekaligus bisa paham bahwa ia pun perlu menyelaraskan diri dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Musik juga membantu anak dalam mengasah “rasa”. Mengatur tempo,tekanan dan nada. Dan juga menjadi obat mujarab untuk mengobati kebosanan.

Yuk kita dorong anak-anak untuk belajar bermain musik – apapun jenisnya!.

 

Melepas Anak Bermain Ice Skating.

Standard

Ice Skating.Sudah sejak lama anak-anak menyampaikan keinginannya untuk bermain Ice Skating kepada saya.  Karena dua hal, saya belum bisa memenuhinya. Pertama, karena saya sendiri tidak bisa bermain Ice Skate, sehingga tidak bisa menemani. Dan yang ke dua, saat liburan sekolah begini, saya masih cukup sibuk di kantor, sehingga belum  punya waktu untuk menemani mereka. Namun anak-anak  tidak kehilangan akalnya. Merasa cita-citanya tidak kesampaian ditemani bermain Ice Skating oleh saya, mereka rupanya menitipkan diri pada seorang tetangga yang kebetulan anaknya yang bernama Matthew  adalah sahabat karib mereka. Mamanya  Matt meninggalkan pesan di telpon genggam saya, bahwa mereka sedang bermain Ice Skating di Bintaro X-change. Sepulangnya   mereka berceloteh betapa menyenangkannya bermain Skate di atas lapangan yang berlapis es.

Beruntungnya punya tetangga yang juga sekaligus ibu dari teman-teman bermainnya anak-anak. Jika sibuk, jadi kami bisa bergantian menemani anak-anak melakukan aktifitasnya. Karena minggu kemarin saya kebetulan di rumah, dan anak-anak  minta bermain Ice Skating lagi, tentu  kali ini giliran saya untuk menemani mereka. Yang bermain ada empat orang anak.

Tiba di Bintaro X-change pukul dua siang. Anak-anak memesan ticket yang harganya sedikit lebih mahal karena weekend. Ticketnya seharga Rp 70 000/orang pada saat weekend. Dan saya mengingatkan agar anak-anak juga mengenakan glove agar tidak kedinginan saat berada di ruangan es dan menyewa sebuah locker untuk menyimpan barang bawaannya.

Lapangan terlihat sangat penuh. Maklum musim liburan sekolah. Katanya Ice Skating ring yang ada di dekat rumah ini adalah Ice skating yang terbaik dan terluas di Indonesia. Saya tidak tahu kebenarannya. Namun bisa jadi sih. Rasanya lapangan es yang saya lihat di Malaysia, agak lebih kecil dari yang ini.

Saat akan masuk, petugas menginformasikan bahwa setengah jam  lagi  akan dilakukan pelapisan es. Proses pelapisan es akan memakan waktu setengah jam sendiri. Ia menyarankan agar anak-anak masuk sekitar jam tiga saja.  Saya melongokkan kepala saya ke lapangan es dan memang lapangan itu mulai kelihatan mencair. Saya setuju dan menjelaskan keadaan itu pada anak-anak. Merekapun setuju untuk menunda masuk, lalu mengisi waktu dengan bermain games di  counter Hawaii. Saya memutuskan untuk duduk di Food Exchange satu lantai di atas Ice Skating ring itu dan melihat proses pelapisan es dilakukan oleh petugas.

Pukul tiga sore, anak-anak turun ke ring. Ke dua anak saya kelihatan belum bisa bermain dengan baik. Namun atas bantuan Matt yang kelihatan lebih percaya diri dan lebih jago, perlahan-lahan yang kecil  mulai bisa bergerak sedikit ke tengah. Mulai melepaskan pegangannya di tepi ring.

Ia mulai berjalan pelan-pelan. Sempat terjatuh sekali, lalu bangkit lagi. Kelihatan tidak patah semangat sama sekali. Berdiri dan mencoba bergerak lagi. Kali ini lebih stabil. Ia melepaskan tangannya sama sekali dari ring dan berjalan ke tengah dituntun Matt. Saya melihat betapa tinggi tingkat kesabaran  si Matt dalam menuntun dia agar bisa lepas berjalan sendiri di tengah-tengah lapangan es. Beberapa saat kemudian ia sudah mulai bisa bergerak sendiri, meluncur dan melakukan aktifitas seperti halnya orang-orang lain di lapangan es itu. Ah, big thanks to Matt!. Ketika anak saya mulai bergerak sendiri,Matt tetap mengikuti dengan pandangannya dan sesekali mendekat untuk memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. Sehingga ia sendiri mengorbankan waktunya sendiri untuk bersenang-senang demi memastikan sahabatnya bisa meluncur sendiri.  Hanya setelah lebih dari dua jam dan anak saya memutuskan untuk berhenti bermain,barulah Matt kelihatan  meluncur sendiri  dengan kecepatan yang tinggi,menikmati permainannya sendiri dan enjoy life!.  Saya terharu melihat persahanatan luar biasa yang ditawarkan Matt kepada Aldo, anak saya.

Anak saya yang gede kelihaannya tidak mengalami kemajuan sebaik adiknya. Kerjanya hanya nempel dan berpegangan di pinggir ring saja. Namun demikian ketika saya tanya apakah ia ketakutan, putus asa atau masih tertarik untuk bermain Ice Skating? Iia mengatakan ia bahwa ia masih tetap ingin mencoba. Melihat itu semua saya berpikir lain kali saya  akan mencarikan coach yang benar untuk mengajarkan anak saya agar bisa bermain Ice Skating dengan baik dan benar.

Pelajaran yang saya ambil dalam menemani anak bermain Ice Skating ini antara lain:

1/.  Karena lapangan es cukup licin, dibutuhkan keberanian dan kesiapan mental untuk jatuh, dan kesediaan untuk bangun kembali. Dorong anak yang memang tertarik dan memiliki minat besar untuk bermain Ice Skating. Jika anak mengatakan takut untuk mencoba sejak awal, sebaiknya jangan dipaksa. Omong-omong, bermain Ice Skating ini juga cukup bagus untuk keberanian dan melatih mental siap jatuh bangun dari anak.

2/.  Anak yang belum sukses pada hari pertama, bukan berarti tidak akan sukses di kali berikutnya. Jika ia menyatakan tetap berminat, perlu dibantu oleh orang yang sudah lebih pengalaman dan berani. Atau jika tidak ada, mencarikannya seorang coach bisa jadi merupakan hal yang tepat.

3/ Sahabat merupakan orang yang tepat bagi anak untuk diajak bersama bermain.Mereka bisa saling mendukung dan saling menyemangati.

4/. Pastikan anak-anak berpakaian dengan cukup baik agar tidak mudah kedinginan. Sarung tangan dan kaus kaki bisa disewa, tapi jika sering bermain,  lebih baik bawa sendiri dari rumah.  Cegah anak bermain Ice Skating dalam keadaan flu. Karena dingin es akan menambah beban pada hidungnya.

Dan pelajaran terakhir yang sangat menyentuh hati saya kali ini adalah tentang persahabatan yang tulus pada anak-anak – dimana saya bisa melihat sebuah bentuk kebersamaan dan dukungan penuh terhadap sahabat yang berada diatas kepentingan sendiri yang ditunjukkan oleh Matt kepada saya. Sekali lagi, thanks to Matt for the inspiration!.

 

Menyikapi Perkelahian Anak II: Peran Seorang Kakak.

Standard

Kakak AdikMelanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang Menyikapi Perkelahian Anak I, sebelumnya saya mengatakan bahwa reaksi yang muncul akibat perkelahian anak saya ini tentu berbeda dari saya sebagai ibunya  dengan reaksi bapaknya.   Seorang Ibu secara otomatis akan meletakkan fokus pada penderitaan anaknya, lalu memastikan apakah kesalahan tidak dilakukan oleh anaknya atau tidak. Sedangkan seorang Bapak akan otomatis mencari tahu penyebabnya lalu beralih ke soal membangun harga diri dan kepercayaan diri anaknya.

Reaksi Seorang Bapak.

Reaksi pertama  saya adalah  “Bagian mana yang dipukul? Sakit tidak? Parah tidak?”…lalu… “Mengapa dipukul? Apakah melakukan kesalahan?” .

Tapi reaksi pertama dari bapaknya : “Mengapa dipukul? Mengapa tidak pukul balik saja? Mengapa kakak tidak belain adik? .

Mendapat pertanyaan dari bapaknya, anak saya yang kecil tidak bisa menjawab dengan baik. Ia menangis sesenggukan merasa tidak berdaya.. Ia hanya menjelaskan bahwa temannya itu emosian dan mau menang sendiri. Tidak mau dibalas berhore-hore, padahal ia juga melakukan itu sebelumnya. Bahkan lebih parah, pakai acara mengejek-ejek segala.

Namun anak saya yang besar menjawab pertanyaan Bapaknya dengan tenang dan jelas. Mengapa ia tidak membela adiknya, padahal ia ada di sana saat kejadian sedang berlangsung? Bahwa suasananya sudah sangat panas. Dan ia tidak mau membuat suasana tambah panas lagi dengan membela adiknya begitu saja. Walaupun menurutnya ia tahu bahwa dalam kejadian ini, adiknya bukan dipihak yang salah. “Anak itu memang sangat emosional. Sudah sering begitu. Kalau aku ikut panas, suasananya akan jadi sangat panas , Pa. Bisa meledak nanti. Kan malu sama papa mama dan oma-nya. Juga sama tetangga yang lain.  Jadi harus ada orang yang tenang dan melerai. Makanya aku tidak mau ikut terbawa emosi dan marah di situ. Apalagi mukul. Aku nggak mau . Aku hanya kasih peringatan dia bahwa itu jangan lagi dilakukan. ” katanya menjelaskan. Ia bahkan melarang adiknya memukul kembali dan mengajaknya pulang.  Bapaknya kelihatan puas dengan jawaban anaknya. Lalu ia keluar dan tidak memperpanjang pertanyaannya lagi.

Anak saya yang besar lalu melanjutkan ceritanya ke saya “Orang emosian seperti itu, tidak bisa dibalas dengan emosi dong , Ma!“.  Ia menceritakan beberapa contoh kasus berhubungan dengan teman-temannya yang memiliki beragam kepribadian, termasuk diantaranya ada juga yang suka emosian. Dan bagaimana caranya ia mengatasi itu dan keluar dengan baik-baik saja.  Entah kenapa tiba-tiba saya melihat anak saya tumbuh dewasa begitu cepat. Pemikiran dan emosinya jauh lebih dewasa dari umurnya.

Saya sangat menyetujui pendapatnya. Masalahnya adalah bukan bagaimana caranya membalas dan merasa impas hanya dengan berhasil memukul kembali atau balas menyemprotkan kemarahan, namun lebih kepada bagaimana cara kita menghadapi teman-teman yang memiliki emosi beragam dan kita tetap bisa menguasai situasi dengan baik.  Tetap tenang dan mengendalikan emosi. Apa yang kelihatannya mengalah, sebenarnya tidak selalu berarti kalah.

Saya setuju. Setuju banget dengan pendapat anak saya itu. Menurut saya, ia telah melakukan sikap yang tepat menghadapi situasi itu.  Kasihan juga ia mendapat teguran dari bapaknya. Seorang kakak harus bisa menjaga adiknya dengan baik. Tentu saja, karena standarnya dimana-mana begitu ya.

…saya jadi teringat kepada kakak kandung saya. Dulu, waktu saya kecil, saya juga sangat bandel. Suka bermain ke sana kemari, lari, ke sungai, ke jurang,  bersepeda ke sana kemari,  memanjat pohon hingga pernah nyungsang, nyaris kecelakaan, kaki nyangkut di cabang pohon, sementara kepala menggelantung ke bawah, suka melanggar peraturan yang dibuat orang tua kami. Tapi beberapa kali ketika saya melakukan kebandelan dan nyaris celaka, bukan hanya saya saja yang dimarah oleh bapak saya, tapi juga kakak saya. kakak saya ditegur karena dianggap tidak becus menjaga adik saat ditinggal orang tua. Sehingga pernah suatu kali kakak saya berkata “ Mengapa ya, yang nakal itu kamu, kok  aku juga ikut dimarahin” ya.. benar sih. Kakak saya sangat tertib, rapi dan tidak pernah bandel. Seharusnya ia memang tidak ikut dimarahin atas kebandelan yang saya perbuat. Saya tidak tahu jawabannya….Yah, barangkali itulah swadharma-nya menjadi seorang kakak…

Mungkin begitu juga beban yang ditanggung oleh anak saya yang besar ini. Karena menjadi seorang kakak, dengan sendirinya ia menerima ekspektasi agar bersikap sebagai pelindung dan penjaga adiknya.  Saya melihat bahwa anak saya yang besar telah membuktikan bahwa seorang kakak, bukan semata harus menjaga adiknya secara fisik, namun juga menyelamatkannya secara emosional. Ia mengambil alih situasi dan membimbing adiknya bagaimana harus menguasai diri, agar bisa menguasai situasi dengan lebih baik lagi ke depannya. Saya tahu, dengan posturnya yang bongsor, tinggi besar, tentu akan mudah bagi anak saya untuk memukul anak yang badannya lebih kecil. Tapi toh ia tidak mau melakukannya. Ia mengutamakan hubungan ke depannya, dengan menasihati adiknya bagaimana seharusnya lain kali menguasai situasi seperti itu.

Saya keluar kamar dan duduk di sebelah suami saya yang sedang membaca di kursi. “Anaknya ternyata sudah dewasa pemikirannya ya” kata suami saya berkomentar. Saya mengiyakan sambil tetap berpikir, kekerasan pada anak adalah satu hal yang memang patut dijadikan perhatian oleh para orang tua.  Kita sebagai orang tua sebaiknya selalu memantau tindak tanduk anak-anak kita dan memberikan teguran, jika melakukan hal yang sebaiknya jangan dilakukan oleh anak.Apalagi jika anak melakukan tindak kekerasan dengan memukul anak yang lain. Idealnya barangkali saya perlu berbicara dengan orang tua dari anak itu, namun karena anak saya menjelaskan bahwa orang tuanya sudah tahu kejadian itu, sudah tahu bahwa anak itulah yang salah dan sudah menegurnya juga atas kejadian itu, maka saya memutuskan untuk tidak memperpanjang lagi masalah ini.

Yah..kembali lagi. Namanya anak-anak. Bermain dan berantem adalah bagian dari hidup. Besok juga baik kembali…

Menyikapi Perkelahian Anak I: Tentang Kaya Dan Miskin.

Standard

Kakak-AdikSabtu sore. Saya tertidur. Lelah juga. Suara anak-anak yang  berbisik-bisik namun saling berargumentasi, membuat saya terbangun. Diantaranya terselip kata-kata bahwa anak saya yang kecil dipukul oleh teman bermainnya. Tentu saja saya terhenyak kaget. Akibatnya suami saya pun jadi ikut masuk ke kamar dan  mencari tahu ada apa.

Reaksi pertama yang muncul ke permukaan dari seorang ibu tentu “Bagian mana yang dipukul? Sakit tidak? Parah tidak?”…lalu… “Mengapa dipukul? Apakah melakukan kesalahan?” .  Dan reaksi pertama dari bapaknya tentu saja: “Mengapa dipukul? Mengapa tidak pukul balik saja? Mengapa kakak tidak belain adik? .   Typical reaksi yang memang selalu berbeda jika dikeluarkan seorang perempuan dan seorang laki-laki. Seorang Ibu secara otomatis akan meletakkan fokus pada penderitaan anaknya, lalu memastikan apakah kesalahan tidak dilakukan oleh anaknya atau tidak. Sedangkan seorang Bapak akan otomatis mencari tahu penyebabnya lalu beralih ke soal membangun harga diri dan kepercayaan diri anaknya.

Reaksi Seorang Ibu.

Anak saya yang kecil sambil sesenggukan bercerita bahwa ia dipukul teman bermainnya yang emosi karena temannya itu kalah bermain. Menurutnya, sebelumnya  ia kalah. Temannya itu berhore-hore ria  atas kemenanganya dan mengejeknya habis-habisan. Maka saat giliran menang, anak saya membalas berhore-hore ria juga, walaupun tidak pakai mengejek. Rupanya sang teman emosi dan merasa dipanas-panasin, lalu memukulnya. Ia menunjukkan lengan kanannya yang sakit. Saya memeriksanya sebentar. Kelihatannya tidak apa-apa. Tidak ada luka. Tidak ada memar atau  biru.  Sakit sedikit. Jadi saya tidak terlalu khawatir.  Dipukul dan memukul adalah hal biasa pada anak laki-laki. Sepanjang tidak cedera serius. Nanti juga mereka baikan kembali.

Sayapun menjelaskan kepada anak saya, bahwa dalam setiap permainan itu dituntut sportifitas yang tinggi. Mental yang siap untuk kalah dan menang. Kalau menang jangan sombong dan kalau kalah jangan ngambek. Apalagi memukul.

Kalau kalah sekarang,  justru harus digunakan untuk melatih diri dengan lebih baik lagi, agar lain kali bisa menang kata saya. Anak saya mengatakan bahwa ia tidak melakukan itu. Ia justru menjadi korban emosi temannya itu yang memang selalu emosian.

Kakaknya menasihati, “Aku sudah hapal,  orangnya memang sering emosian. Makanya, orang seperti itu jangan dipanas-panasin. Santai aja” nasihat kakaknya.  Menghadapi orang yang tidak sportif dan suka emosian, perlu cara yang berbeda. “Orang seperti itu justru perlu dikasihani. Bukan dibalas dan dipanas-panasin” lanjut kakaknya lagi. Anak saya yang kecil kelihatannya tidak terlalu setuju dengan pendapat kakaknya. Ia tidak setuju jika dilarang untuk membalas berhore-hore ria.  Kenapa temannya boleh berhore-hore ria dan mengejeknya, sementara ia tidak boleh? Ia juga tidak mengerti, mengapa yang salah harus dikasihani.

Akhirnya saya memeluk anak saya yang kecil yang segera  menyusupkan kepalanya ke perut saya dan sesenggukan.

Orang di dunia ini, ada yang kaya dan miskin” kata saya memulai cerita. Lalu saya mulai mengajaknya berpikir tentang orang yang kaya. Bagaimana orang kaya dalam pikirannya itu? Orang kaya banyak uangnya. Rumahnya bagus. Makanannya enak-enak. Bajunya bagus. Mobilnya mahal. Liburan ke luar negeri terus. Mainannya mahal-mahal. Hidupnya enak ya. Sangat menyenangkan jadi orang kaya. Lalu orang miskin? Tidak punya uang. Atau punya sedikit. Rumahnya kurang bagus. Atapnya bocor-bocor. Atau mungkin tidak punya rumah. Makanannya juga tidak mahal. Yang murah-murah. Atau mungkin sulit untuk bisa makan karena tidak punya uang. Bajunya jelek, tidak bisa beli yang bagus-bagus. Judulnya kasihan!. Kalau dibandingkan dengan yang kaya.

Lalu saya mengingatkan bahwa itu adalah jika kita lihat orang kaya dan miskin dari sisi uang. Dari sisi harta.

Tapi kalau kita pandang dari sisi mental, budi pekerti dan tingkah laku, juga ada orang yang kaya dan miskin lho!” kata saya. Anak saya terdiam sejenak.  Mulai mengerti ke mana arah pembicaraan saya.  Orang yang kaya secara mental dan budi pekerti, akan berusaha selalu berbuat baik. Suka menolong orang lain. Selalu berusaha mengontrol emosinya.  Tidak pemarah. Tidak suka menghina orang lain.  Sportif!. Kalau bermain, tidak terlalu menyombongkan kemenangannya dan mengejek orang lain yang kalah. Suka memaafkan orang lain yang berbuat salah padanya. Dan banyak lagi perbuatan baik lainnya. Nah itu namanya orang kaya! Banyak orang yang suka padanya. Sangat menyenangkan ya  hidupnya! Anak saya setuju.

Lalu bagaimana dengan orang yang miskin secara mental dan budi pekerti? Ia pemarah. Suka menghina dan mengejak orang lain. Mem-bully orang. Memukul.  Membalas keburukan orang lain dengan keburukan yang lebih buruk lagi.   Dan sebagainya hal yang buruk lagi. Banyak orang yang tidak suka padanya. Kurang menyenangkan ya hidupnya? Kasihan ya hidupnya!.  Ia perlu dibantu dan dikasih tahuin agar sikapnya berubah.

Sekarang anak saya mulai terlihat mengerti. Jadi mudah bagi saya untuk mengatakan agar ia segera melupakan kejadian itu dan memaafkan temannya yang sudah memukulnya itu.  “Menjadi kaya secara mental dan budi pekerti itu jauh lebih penting, daripada kaya harta tapi miskin mental dan budi pekerti”, kata saya. Tapi saya tidak mau terlalu mendesaknya untuk menerima kalimat saya. Saya biarkan saja pikirannya berjalan dan bekerja sendiri untuk mencerna situasi.

Akhirnya iapun mengusap airmatanya dan terlihat riang kembali. Semoga ia benar-benar bisa memaafkan teman yang memukulnya itu.  Belajar membaca situasi dan merespon situasi dengan lebih baik. Atau bahkan bisa membantu merubah sikap temannya itu dengan caranya sendiri. Lagipula tentu saja sebagai orang tua saya tidak mau memperpanjang permasalahan. Namanya juga anak-anak. Ya memang begitulah. Sebentar bermain, sebentar berantem. Tapi nett nett – ketika mereka dewasa, mereka akan memahami indahnya persahabatan yang terjalin diantara mereka sejak kecil. Lengkap dengan suka dukanya.

Menemani Anak Bermain Di Sungai.

Standard

Bermain di Sungai _ Liburan!  Yiiiiiihaaaah!!!!. Mau ngapain ya, biar seru?   Kali ini saya mengajak anak-anak dan keponakan saya mengisinya dengan bermain-main di sungai. Tentu saja yang airnya masih bersih dan jernih.   Kebetulan saya sedang berada di kota Sukabumi.  Saya ingat ada sebuah tempat bersungai yang menarik untuk dikunjungi.  Letaknya tidak jauh dari tempat saya tinggal di Sukabumi. Namanya Pondok Halimun.   Halimun, seperti kita tahu artinya adalah Kabut.  Jadi Pondok Halimun maksudnya adalah Rumah Kabut. Dinamakan demikian,karena tempat itu letaknya di kaki Gunung Gede – Gunung Pangrango yang seringkali diselimuti kabut.  Terutama pada sore hari yang dingin menggigil.

Untuk mencapai Pondok Halimun, dari tempat tinggal saya di kota Sukabumi kita perlu  melewati Jalan  Bhayangkara, lalu berbelok masuk ke  Jalan Sela Bintana. Menjelang tempat wisata Sela Bintana, kita berbelok ke kiri, masuk ke daerah perkebunan. Lurus terus sampai  sampai ke Perkebunan Teh Goal Para (PT Perkebunan Nusantara VIII).  Di sana ada pos penjagaan  – kita berbelok ke kanan lalu ke kiri melintas di depan Rumah Kabayan (apakah ada yang masih ingat serial TV  Si Kabayan pada jaman dahulu? – rumah ini adalah tempat shooting Si Kabayan ), kita  terus mengikuti jalan dan tibalah di Pondok Halimun.

Sesungguhnya 2.5 km (kira-kira 1-1.5 jam berjalan kaki menanjak)  dari sana terdapat Air Terjun Cibeureum yang menjadi tujuan wisata banyak orang. Tapi saya dan anak-anak hanya bermaksud bermain di sungai saja.  Sungai yang dangkal berbatu-batu, dengan air jernih pegunungan  yang bebas polusi.  Saya pikir, di daerah-daerah lain tentunya juga banyak yang memiliki berbagai sungai jernih seperti ini.  Nah, mengapa ke sungai? Mengajak anak bermain ke sungai pegunungan menurut saya memberi banyak sisi pembelajaran non formal dan tak langsung yang bisa dipahami anak dengan cepat tanpa harus  merasa terbebani dengan kata ‘belajar’.  Karena ia bisa mendapatkannya sambil bermain-main.

1. Belajar bentang alam. Ketika pada mata pelajaran  science di sekolah anak-anak diajarkan oleh gurunya mengenai berbagai jenis bentang alam dengan melihat pada gambar-gambar yang ada. Di alam, anak anak secara mudah akan bisa memahami bentang alam sungai – mana yang disebut dengan sungai, jurang ataupun lembah sungai. Di sini anak-anak  juga sekaligus  bisa memahami dengan cepat mengenai bentang alam pegunungan- mana yang disebut dengan gunung, bukit ataupun lembah.

2.  Memahami perbedaan suhu udara akibat perbedaan ketinggian dari permukaan laut.  Menurut informasi, Pondok Halimun memiliki ketinggian sekitar  1050 meter di atas permukaan laut – memiliki suhu yang berkisar antara 16 – 20 derajat Celcius. Sangat berbeda dengan Jakarta yang berada rata-rata 7 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara berkisar antara 27-29 derajat C.  Anak-anak tentu dengan cepat bisa menghubungkannya saat merasakan udara dingin menyergap kulitnya.

3. Memahami biodiversity sungai dan lingkungannya. Sambil mencelupkan kaki di air sungai yang dingin anak-anak bisa diajak untuk melihat-lihat binatang apa saja yang hidup di sungai dan sekitarnya.  Ikan-ikan kecil yang mudah terlihat, tentu saja.  Lalu anak-anak juga mengamati udang sungai dan gerakannya yang  menurut mereka sangat aneh dan menakjubkan. Anak-anak juga bisa kita ajak untuk mengamat-amati kumbang air yang bergerak berulang-ulang di atas permukaan air. Di pinggir sungai, tentu saja dengan mudah kita bisa menemukan berbagai jenis burung dan kupu-kupu indah warna warni yang beterbangan.

Selain fauna, juga banyak bisa kita temukan berbagai macam tanaman yang jarang dilihatnya di perkotaan. Keluarga pohon pakis tinggi  yang liar adalah tanaman pertama yang menarik perhatian anak saya. “Seperti di Jurasic Park!” kata anak saya. Seorang saudara dari Singaraja yang ikut berjalan bersama kami dan kebetulan banyak bergaul dengan tanaman hias menceritakan kepada anak saya bahwa itu adalah tanaman Pakis Monyet (Cybotium sp) dan harga per batangnya mencapai 2- 3 juta rupiah. “Wow!” anak saya yang kecil lalu mulai berhitung kira-kira berapa duit yang akan dihasilkan jika seluruh tanaman Pakis Monyet di sana dijual semua ke kota.  Lalu ada juga banyak pohon damar (Agathis dammara), lalu pohon honje hutan (Etlingera hemisphaerica) , pohon pucuk merah (Syzygium sp), pohon pinus (Pinus merkusii) dan masih banyak lagi tentunya. Hey! Ada yang ingat pelajaran Biology tentang Lumut Hati, tidak? Anak saya yang besar mengangguk. Lalu sayapun menunjukkan  contoh tanamannya yang tumbuh di dinding tebing. Lumut Hati (Marchantia polymorpha) memang sungguh jenis tanaman yang sangat menarik untuk dilihat.

4. Memperhatikan  batu-batu kali yang berserakan besar-besar, halus dan licin , anak-anak bisa memahami bahwa air yang mengalir secara terus menerus, memberikan dampak pengikisan dan membuat permukaan batu kalipun  menjadi halus dan membulat.

5. Bermain di kali Juga sekaligus memberikan kekuatan  pada anak untuk mengembangkan syaraf-syaraf motoriknya dengan cara naik, turun dan meloncat di atas batu. Beberapa kali jatuh terpeleset tidak apa-apa. Anak akan cepat bangun dan naik kembali.  Kita orangtua, hanya perlu mengawasinya saja dari dekat, untuk memberi pertolongan jika terjadi sesuatu yang membahayakan. Namun secara umum, bermain di sungai yang dangkal, bukanlah sesuatu yang berbahaya.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa dipelajari oleh anak-anak sambil bermain. Dan lebih dari semuanya itu, bermain di sungai memberi anak kegembiraan yang tiada tara, yang tidak bisa ia dapatkan dari permainan games-nya di Laptop maupun di kartu Vanguard.

Jika kita menyadarinya, alam memberikan kebahaigiaan yang tak bisa dibeli dengan uang ke dalam hati manusia.

Aesop’s Fable: Seekor Banteng Dan Seekor Kambing.

Standard

The bull and the goatPada suatu ketika,  adalah seekor banteng yang sedang dikejar oleh seekor singa.  Ia melarikan diri ke dalam sebuah gua, di mana seekor kambing liar tinggal di sana. Kambing  itu adalah seekor makhluk yang kasar. Melihat kedatangan banteng itu, ia sama sekali tidak bersikap ramah. Malah mulai menyerang banteng itu dengan cara menyerudukkan tanduknya ke tubuh banteng itu. “Kalau  sekarang aku hanya bersikap diam seperti ini…” kata sang  banteng “..jangan pikir itu karena aku takut padamu.  Setelah singa  itu pergi, aku akan segera menunjukkan padamu, perbedaan antara seekor banteng dengan seekor kambing” katanya.

*****

Terkadang keangkuhan membuat kita menjadi buta, tidak mampu mengenali potensi yang ada pada diri orang lain, sehingga kita menyangka bahwa diri kitalah yang paling kuat, paling berkuasa, paling mampu dan paling berpengetahuan.  Kita tidak tahu bahwa banyak sekali orang di luar sana yang memiliki kelebihan jauh diatas yang kita miliki. Memiliki harta yang jauh lebih banyak dari apa yang kita miliki. Menguasai ilmu pengetahuan yang lebih luas dari pada apa yang kita kuasai. Menyimpan kebijaksanaan yang lebih tinggi dari apa yang kita simpan.

Orang yang diam, bukan berarti tidak memiliki pengetahuan.  Orang yang rendah hati bukan berarti  tidak mampu.  Jangan pernah bersikap merendahkan kemampuan orang lain.  dan juga jangan pernah mengganggu orang yang sedang kesusahan.

Kisah Seekor Banteng Dan Seekor Kambing ini saya terjemahkan dari buku Aesop’s Fables yang dikumpulkan dan diadaptasikan oleh Jack Zipes.

Aesop’s Fable: Seekor Rubah Dan Buah Anggur.

Standard

the fox and grapesSeekor rubah yang sedang kelaparan mengendap-endap ke kebun anggur, dimana terdapat banyak sekali buah anggur manis dan matang dengan tampilan yang sangat menggiurkan tergantung di tiang-tiang rambatan yang tinggi.  Dalam usahanya untuk mendapatkan buah yang menerbitkan air liurnya itu, maka iapun melompat dan melompat berkali-kali, tapi gagal dalam semua usahanya.  Ketika akhirnya harus mengakui kegagalannya, ia mundur dan bergumam pada dirinya sendiri “Ah, nggak penting amat! Toh buah anggur itu masam!”.

*****

Anak saya tertawa mendengar kisah itu.  Saya bertanya kepada mereka, mengapa tertawa?  Apanya yang lucu? “ Rubah yang bodoh! Kenapa anggurnya yang disalahkan? Dibilang masam!“ kata anak saya yang kecil.  Jadi harusnya bagaimana? “Harusnya dia berusaha lagi dengan cara lain !”.  katanya lagi.  Anak saya yang besar menyetujui pendapat adiknya.  “Ia gagal, tapi tidak mau mencari tahu kelemahannya dan memperbaikinya. Malah menimpakan kegagalan itu ke buah anggur”.

Menarik membahas kasus ini, karena tidak asing dengan kejadian sehari-hari yang kita alami di sekitar kita. Dimana orang yang gagal, tidak mau mencari tahu kelemahannya sendiri dan melakukan perbaikan, tetapi malah mencari pembenaran atas kegagalannya itu dengan menunjuk kelemahan orang lain.

Contoh sehari-harinya adalah, Ibu rumah tangga yang tidak bisa memasak kare ayam dengan baik, namun tidak mau mengakui kelemahannya malah mengatakan bahwa  toh kare bukan makanan favorit anak-anak dan suaminya. Anak sekolah yang malas belajar sehingga mendapatkan nilai matematika yang rendah, mengatakan bahwa  nilai matematika teman-temannya malah lebih jelek lagi dari dirinya.  Seorang anak yang kalah bermain gangsing, mengatakan bahwa toh permainan gangsing itu tidak menggunakan banyak otak juga .  Dan masih banyak contoh- contoh lainnya lagi.

It is easy to despise what you cannot get!.

Catatan:

Kisah rubah ini saya tejemahkan dari  buku Aesop’s Fables –hasil kumpulan dan pilihan dari Jack Zipes